Anda di halaman 1dari 18

Kasus:

HIV Exposed Infant

OLEH :
Muhamad Syaiful bin Samingan 11 2013 194
Dokter Pembimbing : dr. Melanie R. Mantu, Sp.A
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD TARAKAN JAKARTA PUSAT
BAGIAN PAEDIATRIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
2015

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Otitis media pada anak-anak sering kali disertai dengan infeksi pada
saluran pernapasan atas. Epidemiologi seluruh dunia terjadinya otitis media pada
anak berusia 1 thn sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 thn sekitar 83%.
Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode
otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya
tiga kali atau lebih.7
Diperkirakan kira-kira lebih dari 80% anak pernah mengalami paling
sedikit 1 kali episode otitis media (OM) menjelang umur 3 tahun. Waktu
kemuncak yang paling sering terjadinya OM adalah pada 2 tahun pertama
kehidupan
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tubaeustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. otitis media terbagi
atas otitis mediasupuratif dan non-supuratif, dimana masing-masing memiliki
bentuk akut dan kronis. Otitis media akut termasuk kedalam jenis otitis media
supuratif. Selain itu, terdapat juga jenis otitis media spesifik, yaitu otitis media
tuberkulosa, otitis media sifilitik, dan otitismedia adhesiva.1
1.2 Batasan Masalah
Referat ini membahas mengenai otitis media akut yang meliputi
penatalaksanaan, dan komplikasi otits media akut.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah untukk memahami mengenai
penatalaksanaan, dan komplikasi otits media akut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Otitis media akut ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.1
2.2. Etiologi
1. Disfungsi atau sumbatan tuba eustachius merupakan penyebab utama
dari otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa
tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam
telinga tengah juga akan terganggu.1
2. ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), inflamasi jaringan di sekitarnya
(misal : sinusitis, hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi (misalkan rhinitis
alergika). Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar
kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA
dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak
horisontal.1
3. Bakteri
Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut
penelitian, 65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya
melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah.
Kasus lain tergolong sebagai non-patogenik karena tidak ditemukan
mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab otitis media
tersering

adalah

Streptococcus

pneumoniae

(40%),

diikuti

oleh

Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%).


Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti
Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus,
dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus dan organisme gram
negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat
inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak

balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama
dengan yang dijumpai pada anak-anak.1
4. Virus Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat
dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik
yang lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak,
yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau
adenovirus

(sebanyak

30-40%).

Kira-kira

10-15%

dijumpai

parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus. Virus akan


membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius,
menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi bakteri,
menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu
mekanisme

farmakokinetiknya

(Kerschner,

2007).

Dengan

menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan virus


specific enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA), virusvirus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang
menderita OMA pada 75% kasus.2

Penyebab anak lebih mudah diserang OMA


Dipercayai bahwa anak lebih mudah terserang OMA dibanding dengan orang
dewasa. Ini karena pada anak dan bayi, tuba lebih pendek, lebih lebar dan
kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa, sehingga infeksi saluran
pernapasan atas lebih mudah menyebar ke telinga tengah. Panjang tuba orang
dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah umur 9 bulan adalah 17,5 mm (Djaafar,
2007). Ini meningkatkan peluang terjadinya refluks dari nasofaring menganggu
drainase melalui tuba Eustachius. Insidens terjadinya otitis media pada anak yang
berumur lebih tua berkurang, karena tuba telah berkembang sempurna dan
diameter tuba Eustschius meningkat, sehingga jarang terjadi obstruksi dan
disfungsi tuba. Selain itu, sistem pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga
mudah terkena ISPA lalu terinfeksi di telinga tengah. Adenoid merupakan salah
satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh. Pada
4

anak, adenoid relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid yang
berdekatan dengan muara tuba Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat
mengganggu terbukanya tuba Eustachius. Selain itu, adenoid dapat terinfeksi
akibat ISPA kemudian menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius.1,2
2.3 Patogenesis
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti
radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran
Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan
infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran,
tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri.
Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka
sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu
pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang
dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika
lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena
gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan
organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan
pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun
cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45
desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.
Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat
merobek gendang telinga karena tekanannya. OMA dapat berkembang menjadi
otitis media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini
berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat,
pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik.1
2.4 Stadium
OMA memiliki beberapa stadium berdasarkan pada gambaran membran
timpani yang diamati melalui liang telinga luar yaitu stadium oklusi, stadium
hiperemis, stadium supurasi, stadium perforasi dan stadium resolusi.1

Gambar 1: Membran timpani normal

Pada stadium oklusi

Tuba Eustachius perdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan


negatif di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Membran timpani berwarna
normal atau keruh pucat dan sukar dibedakan dengan otitis media serosa virus.
terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes
hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl
efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau
dewasa. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan
antibiotik.1

Gambar 2: Otitis Media Stadium oklusi

Pada stadium hiperemis

Pembuluh darah tampak lebar dan edema pada membran timpani. Sekret yang
telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar
terlihat. diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Antibiotik yang
6

diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan
kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan
penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi
mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan
kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila alergi terhadap
penisilin maka diberikan eritromisin. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100
mg/KgBB,

amoksisilin

4x40

mg/KgBB/hari,

atau

eritromisin

4x40

mg/kgBB/hari.1

Gambar 3: Otitis Media Stadium Hiperemis

Pada stadium supurasi

Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superfisila serta terbentuk eksudat purulen di kavum timpani menyebabkan
membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pasien tampak
sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga tambah hebat.
Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia.
Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lembek dan
berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi ruptur. Selain antibiotik, pasien
harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh.
Selain itu, analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang. Miringotomi
ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, agar terjadi drenase sekret
dari telinga tengah ke liang telinga luar.1

Gambar 4: Otitis Media Stadium Supurasi, Membran Timpani Bulging


dengan Pus Purulen

Pada stadium perforasi

Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi


kuman yang tinggi maka dapat menyebabkan membran timpani ruptur. Keluar
nanah dari telinga tengah ke telinga luar. Anak yang tadinya gelisah akan menjadi
lebih tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. sering terlihat sekret
banyak keluar dan kadang terlihat sekret keluar secara berdenyut. Diberikan obat
cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3
minggu.1

Gambar 5: Membran Timpani Peforasi

Pada stadium resolusi

Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering. Resolusi dapat
terjadi tanpa pengobatan bila virulensi rendah dan daya tahan tubuh baik.1

2.5 Diagnosis
2.5.1 Anamnesis
Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di
dalam telinga, keluhan disamping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat
riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau pada orang
dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh
di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA
ialah suhu tubuh tinggi dapat sampai 39,5oC (pada stadium supurasi), anak gelisah
dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang dan terkadang
anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka
sekret mengalir ke liang telinga luar, suhu tubuh turun dan anak mulai tertidur
dengan tenang.1
Pada penelitian dikatakan bahwa anak-anak dengan OMA biasanya hadir
dengan riwayat onset yang cepat dan gejala seperti otalgia, rewel pada bayi atau
balita, otorrhea, dan/atau demam6,8. Dalam sebuah survei di antara 354 anak-anak
yang mengunjungi dokter untuk penyakit pernapasan, demam, sakit telinga, dan
menangis yang berlebihan sering didapatkan dengan OMA (90%). Namun, gejala
ini juga terdapat pada anak tanpa OMA (72%). Gejala lain dari infeksi virus
pernapasan atas, seperti batuk dan hidung tersumbat, sering mendahului atau
menyertai OMA dan tidak spesifik juga. Dengan demikian, sejarah klinis saja
tidak bisa untuk menilai adanya OMA, terutama pada anak muda.8
2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Visualisasi dari membran timpani dengan identifikasi dari perubahan dan
inflamasi diperlukan untuk menegakkan diagnosis dengan pasti. Untuk melihat
membran timpani dengan baik adalah penting bahwa serumen yang menutupi
membran timpani harus dibersihkan dan dengan pencahayaan yang memadai.
Temuan pada otoskop menunjukkan adanya peradangan yang terkait dengan
OMA telah didefinisikan dengan baik. Penonjolan (bulging) dari membran
timpani sering terlihat dan memiliki nilai prediktif tertinggi untuk kehadiran
OMA. Penonjolan (bulging) juga merupakan prediktor terbaik dari OMA.9
9

Kekeruhan juga merupakan temuan yang konsisten dan disebabkan oleh


edema dari membran timpani. Kemerahan dari membran timpani yang disebabkan
oleh peradangan mungkin hadir dan harus dibedakan dari eritematosa ditimbulkan
oleh demam tinggi. Ketika kehadiran cairan telinga bagian tengah sulit untuk
menentukan, penggunaan timpanometri dapat membantu dalam membangun
diagnosis.10
2.5.3 Pemeriksaan Penunjang
Efusi telinga tengah juga dapat dibuktikan dengan timpanosentesis
(penusukan terhadap gendang telinga). Namun pemeriksaan ini tidak dilakukan
pada sembarang anak. Indikasi perlunya timpanosentesis anatara lain OMA pada
bayi berumur di bawah 6 minggu dengan riwayat perawatan intensif di rumah
sakit, anak dengan gangguan kekebalan tubuh, anak yang tidak member
respon pada beberapa pemberian antibiotik atau dengan gejala sangat berat dan
komplikasi.(8) Untuk menilai keadaan adanya cairan di telinga tengah juga
diperlukan pemeriksaan timpanometeri pada pasien.1
2.6 Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada
stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian
antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. Tujuan pengobatan
pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakranial dan
ekstrakranial yang mungkin terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba
Eustachius, menghindari perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem
imum lokal dan sistemik.5
Pada stadium oklusi tuba, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba
Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes
hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12
tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas

10

12 tahun pada orang dewasa. Sumber infeksi harus diobati dengan pemberian
antibiotic. 6
Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan
analgesik. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin.
Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau
sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar
konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis
terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan.
Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi tehadap penisilin,
diberikan eritromisin. Pada anak, diberikan ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang
terbagi dalam empat dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50
mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis.6
Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk untuk
melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat
hilang dan tidak terjadi ruptur. 6
Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak
ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret
mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Antibiotik
dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila keadaan ini berterusan, mungkin telah
terjadi mastoiditis .
Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik.
Observasi dapat dilakukan. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam
dua sampai tiga hari, atau ada perburukan gejala. Ternyata pemberian antibiotik
yang segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinya komplikasi supuratif
seterusnya. Masalah yang muncul adalah risiko terbentuknya bakteri yang resisten
terhadap antibiotik meningkat.1,2,3,4

11

Usi

Diagnosis

(certain)

pasti Diagnosis
meragukan
(uncertain)

Kurang dari 6 bulan

Antibiotik

Antibiotik

6 bulan sampai 2 tahun

Antibiotik

Antibiotik
gejala

jika
berat,

observasi jika gejala


ringan
2 tahun ke atas

Antibiotik jika gejala Observasi


berat, observasi jika
gejala ringan

Tabel 1: Kriteria Terapi Antibiotik dan Observasi pada Anak dengan OMA
Menurut American Academic of Pediatric (2004), amoksisilin merupakan firstline terapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai terapi antibiotik awal
selama lima hari. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae. Jika
pasien alergi ringan terhadap amoksisilin, dapat diberikan sefalosporin seperti
cefdinir. Second-line terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap
Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, termasuk Streptococcus
penumoniae. Pneumococcal 7-valent conjugate vaccine dapat dianjurkan untuk
menurunkan prevalensi otitis media. 2
2. Pembedahan
Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA rekuren,
seperti miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan adenoidektomi.

Miringotomi

Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, supaya
terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Syaratnya adalah
harus dilakukan secara dapat dilihat langsung, anak harus tenang sehingga
membran timpani dapat dilihat dengan baik. Lokasi miringotomi ialah di kuadran
12

posterior-inferior. Bila terapi yang diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak


perlu dilakukan, kecuali jika terdapat pus di telinga tengah.Indikasi miringostomi
pada anak dengan OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti
paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat.
Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan
terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA. Salah satu tindakan
miringotomi atau timpanosintesis dijalankan terhadap anak OMA yang respon
kurang

memuaskan

terhadap

terapi

second-line,

untuk

menidentifikasi

mikroorganisme melalui kultur.6

Gambar 6: Operasi Miringotomi.

Timpanosintesis

Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani, dengan analgesia


lokal

supaya

mendapatkan

sekret

untuk

tujuan

pemeriksaan.

Indikasi

timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak memuaskan, terdapat komplikasi


supuratif, pada bayi baru lahir atau pasien yang sistem imun tubuh rendah. Pipa
timpanostomi dapat menurun morbiditas OMA seperti otalgia, efusi telinga
tengah, gangguan pendengaran secara signifikan dibanding dengan plasebo dalam
tiga penelitian prospertif, randomized trial yang telah dijalankan.3,4,5

13

Gambar 7: Operasi Timpanosisntesis

Adenoidektomi

Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media dengan efusi
dan OMA rekuren, pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi
tuba timpanosintesis, tetapi hasil masih tidak memuaskan. Pada anak kecil dengan
OMA rekuren yang tidak pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan
adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis
rekuren.1,2,3,4

Gambar 8: Letak Adenoid

14

2.7 Komplikasi
Komplikasi dari OMA dapat terjadi melalui beberapa mekanisme, yaitu melalui
erosi tulang, invasi langsung dan tromboflebitis. Komplikasi ini dibagi menjadi
komplikasi intratemporal dan intrakranial.1, 2, 4
Komplikasi intratemporal terdiri dari:

mastoiditis akut
petrositis
labirintitis
perforasi pars tensa
atelektasis telinga tengah
paresis fasialis
gangguan pendengaran.

Komplikasi intrakranial:

meningitis,
encefalitis
hidrosefalus otikus
abses otak
abses epidural
empiema subdural
trombosis sinus lateralis

Komplikasi tersebut umumnya sering ditemukan sewaktu belum adanya


antibiotik, tetapi pada era antibiotik semua jenis komplikasi itu biasanya
didapatkan sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronik (OMSK).
Penatalaksanaan OMA dengan komplikasi ini yaitu dengan menggunakan
antibiotik spektrum luas, dan pembedahan seperti mastoidektomi.

BAB III
KESIMPULAN

15

Otitis Media Akut (OMA) merupakan peradangan sebagian atau seluruh


bagian mukosa telinga tengah, tuba Eusthacius, antrum mastoid dan sel-sel
mastoid yang berlangsung mendadak yang disebabkan oleh invasi bakteri maupun
virus ke dalam telinga tengah baik secara langsung maupun secara tidak langsung
sebagai akibat dari infeksi saluran napas atas yang berulang.
Diagnosis pasti dari OMA memenuhi semua 3 kriteria: onset cepat, tandatanda efusi telinga tengah yang dibuktikan dengan memperhatikan tanda
mengembangnya membran timpani, terbatas/tidak adanya gerakan membran
timpani, adanya bayangan cairan di belakang membran timpani, cairan yang
keluar dari telinga, tanda-tanda peradangan telinga bagian tengah, kemerahan
pada membran timpani dan nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas
normal(14). Visualisasi dari membran timpani dengan identifikasi dari perubahan
dan inflamasi diperlukan, temuan pada otoskopi menunjukkan adanya peradangan
yang terkait dengan OMA, penonjolan (bulging) juga merupakan prediktor terbaik
dari OMA.
Harus dapat membedakan antara OMA dan OME, OME terbatas pada
keadaan dimana terdapat efusi dalam kavum timpani dengan membran timpani
tanpa radang. Bila efusi tersebut berbentuk pus, membran timpani utuh dan
disertai tanda radang disebut OMA.
Penatalaksanaan pada OMA terdapat sebuah kriteria untuk antibakteri
Perawatan atau Observasi pada Anak Dengan OMA, apabila anak <6 tahun dapat
diberi antibiotik walaupun diagnosis belum pasti, usia 6 bulan-2 tahun kalau
sudah pasti diagnosisnya OMA dapat diberi antibakteri dan kalau belum pasti bisa
diberi antibakteri apabila gejala makin berat dan observasi bila gejala ringan.
Untuk usia >2tahun, bisa diberi antibakteri bila gejala makin berat dan observasi
jika gejala ringan, dan apabila diagnosis belum pasti bisa di observasi dahulu.
Pilihan observasi untuk OMA mengacu untuk menunda pengobatan
antibakteri pada anak-anak yang dipilih untuk 48 sampai 72 jam. Keputusan untuk
mengamati atau mengobati didasarkan pada usia anak, kepastian diagnostik, dan

16

tingkat keparahan penyakit. Pilihan pertama pemberian antibiotik pada OMA


adalah dengan amoxycilin.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nelson Textbook of Paediatric, 19th edition, chapter 632: Otitis Media, pg
2199-2213
17

2. Kerschner, J.E., 2007. Otitis Media. In: Kliegman, R.M., ed. Nelson
Textbook of Pediatrics. 18th ed. USA: Saunders Elsevier, 2632-2646
3. Bluestone, C.D., Klein, J.O., 1996. Otitis Media, Atelektasis, and
Eustachian Tube Dysfunction. In Bluestone, Stool, Kenna eds. Pediatric
Otolaryngology. 3rd ed. London: WB Saunders, Philadelphia, 388-582.
4. Buchman, C.A., Levine, J.D., Balkany, T.J., 2003. Infection of the Ear. In:
Lee, K.J., ed. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 8th ed.
USA: McGraw-Hill Companies, Inc., 462-511.
5. Titisari, H., 2005. Prevalensi dan Sensitivitas Haemophilus Influenzae
pada Otitis Media Akut di PSCM dan RSAB Harapan Kita. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
6. Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi
kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 49-62
7. Diagnosis and management of acute otitis media. Pediatrics. 2004.
Available

at

http://pediatrics.aappublications.org/content/113/5/1451.full.html
8. Niemela M, Uhari M, Jounio-Ervasti K, Luotonen J, Alho OP, Vierimaa E.
Lack of specific symptomatology in children with acute otitis media.
Pediatr Infect Dis J.1994;13 :765 768
9. Pelton SI. Otoscopy for the diagnosis of otitis media. Pediatr Infect Dis
J.1998;17 :540 543
10. Klein JO, McCracken GH Jr. Introduction: current assessments of

diagnosis and management of otitis media. Pediatr Infect Dis J.1998;17 :


539

18