Anda di halaman 1dari 41

Penyebab Gangguan Kelenjar Ludah

DEFINISI
Terdapat tiga pasang besar kelenjar ludah di dalam mulut. Sepasang kelenjar ludah yang
paling besar, disebut kelenjar parotid, terletak persis di belakang sudut pada mulut, di bawah
dan di depan mata. Dua pasang yang lebih kecil, kelenjar sublingual dan kelenjar
submandibular, terletak di dalam lantai mulut. Sebagai tambahan kelenjar besar ini, banyak
kelenjar ludah kecil yang terbagi-bagi sepanjang mulut. Semua kelenjar tersebut
menghasilkan ludah, yang membantu mencerna makanan sebagai bagian proses pencernaan.
Berbeda dibandingkan kanker, dua jenis besar gangguan yang mempengaruhi kelenjar ludah :
satu yang mengakibatkan kerusakan kelenjar ludah, dimana tidak cukup ludah dihasilkan, dan
satu lagi mengakibatkan pembengkakan kelenjar ludah. Ketika aliran ludah tidak mencukupi
atau hampir tidak ada, mulut terasa kering. Keadaan ini disebut mulut kering (xerostomia).

PENYEBAB
Kerusakan kelenjar ludah : penyakit dan gangguan tertentu, sama seperti obat-obatan tertentu,
bisa menyebabkan kelenjar ludah menjadi rusak dan dengan demikian mengurangi produksi
ludah.
Penyakit-penyakit termasuk penyakit Parkinson, infeksi virus penurunan kekebalan tubuh
manusia (HIV), sindrom sjogren, depresi, dan nyeri kronis. Obat-obatan yang menurunkan
produksi ludah termasuk antidepresan tertentu, antihistamin, antipsikotis, sedativ, metildopa,
dan
diuretik.
Kelenjar ludah seringkali rusak setelah seseorang menjalani kemoterapi atau radiasi kepala
dan leher untuk pengobatan kanker. Mulut kering biasanya disebabkan radiasi sementara,
khususnya jika radiasi tersebut berdosis tinggi, yang biasanya disebabkan kemoterapi
sementara.
Meskipun begitu, tidak semua kasus pada mulut kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar
ludah. Terlalu sedikit minum dan pernafasan melalui mulut bisa mengeringkan mulut. Gelisah
atau stress bisa juga mengakibatkan mulut kering. Mulut bisa juga kering mengikuti usia
seseorang, meskipun hal ini kemungkinan lebih beasr disebabkan penggunaan obat yang
menyebabkan
mulut
kering
dibandingkan
proses
penuaan
itu
sendiri.
Karena ludah memberikan perlindungan alami melawan kerusakan gigi, jumlah ludah yang
tidak mencukupi menyebabkan pelubangan lebih-khususnya pada akar gigi. Mulut kering,
jika berat, bisa juga menyebabkan kesulitan berbicara dan menelan. Pada kasus yang langka,
kelenjar ludah menghasilkan terlalu banyak ludah. Peningkatan kelenjar ludah biasanya
sangat cepat dan terjadi dalam reaksi makan makanan tertentu, seperti makanan asam.
Kadangkala bahkan memikirkan mengenai makan makanan ini bisa meningkatkan produksi
ludah.

Pembengkakan kelenjar ludah : pembengkakan kelenjar ludah bisa terjadi pada pembuluh
yang membawa ludah dari kelenjar ludah menuju mulut terhalang. Nyeri bisa terjadi,
khususnya selama makan. Penyebab yang paling umum penyumbatan adalah batu. Batu
kelenjar ludah paling umum pada orang dewasa; 25 % batu-batuan tersebut lebih dari satu.
Batu bisa terbentuk dari garam yang terkandung di dalam ludah. Penyumbatan membuat
ludah kembali ke dalam empedu, menyebabkan kelenjar ludah membengkak. Penyumbatan
pembuluh dan kelenjar terisi dengan ludah yang mandek bisa terinfeksi dengan bakteri.
Gejala-gejala khas pada pembuluh ludah yang tersumbat adalah pembengkakan yang
memburuk hanya sebelum waktu makan atau terutama sekali ketika seseorang makan acar
(rasa acar asam merangsang aliran ludah, tetapi jika pembuluh tersumbat, ludah tersebut tidak
mempunyai
tempat
dan
kelenjar
tersebut
bengkak)
Penyakit gondok, infeksi bakteri tertentu, dan penyakit-penyakit lainnya (seperti AIDS,
sindrom sjorgren, diabetes mellitus, dan sarcoidosis) kemungkinan disertai oleh
pembengkakan pada kelenjar ludah besar. Pembengkakan bisa juga terjadi dari kanker atau
tumor pada kelenjar ludah. Pembengkakan terjadi dari tumor biasanya lebih kuat
dibandingkan dengan infeksi. Jika tumor tersebut adalah kanker, kelenjar tersebut bisa terasa
seperti batu keras dan kemungkinan tetap kuat mengelilingi jaringan. Kebanyakan tumor
tidak
bersifat
kanker
bisa
diangkat.
Luka pada bibir bagian atas-misal, tidak sengaja tergigit-bisa membahayakan kelenjar ludah
kecil yang ditemukan di sana dan menyumbat aliran ludah. Akibatnya, kelenjar yang terkena
bisa bengkak dan membentuk kecil, gumpalan lembek (mucocele) yang tampak kebiruan.
Gumpalan tersebut biasanya muncul dengan sendirinya dalam beberapa minggu.

DIAGNOSA
Tidak ada tes kuantitatif yang baik untuk mendiagnosa kerusakan kelenjar ludah. Meskipun
begitu, kelenjar ludah tersebut bisa diperas (milked) dan pembuluh diamati untuk aliran
ludah. Pembengkakan menyebabkan tersumbatnya pembuluh ludah didiagnosa karena
berhubungan dengan nyeri di waktu makan. Untuk mendiagnosa penyebab lain
pembengkakan, seorang dokter gigi atau dokter bisa melakukan biopsi untuk memperoleh
contoh
jaringan
kelenjar
ludah
dan
meneliti
di
bawah
mikroskop.

PENGOBATAN
Jika pembuluh ludah tersumbat oleh batu, seorang dokter gigi bisa kadangkala mendorong
batu tersebut keluar dengan menekan kedua sisi pembuluh. Jika hal itu gagal, alat seperti
kawat yang halus bisa digunakan untuk mendorong keluar batu tersebut. Sebagai jalan
terakhir,
batu
tersebur
bisa
diangkat
secara
operasi.
Mucocele yang tidak muncul dengan sendirinya bisa diangkat secara operasi jika

mengganggu. Dengan cara yang sama, baik tumor kelenjar ludah yang bersifat kanker dan
bukan kanker biasanya bisa diangkat secara operasi. Pengobatan pada kasus yang lainnya
pada
pembengkakan
kelenjar
ludah
bervariasi
berdasarkan
kasusnya.
Siapapun yang mengalami gangguan atau menggunakan obat yang mengeringkan mulut
harus melakukan kesehatan mulut rutin dengan teliti (menggosok, flossing, dan dibilas
dengan fluoride); menghindari gula; dan menjalani pemeriksaan gigi, pembersihan, dan
pengobatan
fluoride
setiap
3
sampai
4
bulan
sekali.
Ketika pengobatan khusus tidak tersedia, pengganti ludah secara garis besar sangat
membantu, salah satu obat yang dapat membantu beberapa orang adalah pilocarpine, tetapi
obat tersebut seringkali tidak efektif jika kelenjar ludah telah mengalami kerusakan karena
radiasi.
Manusia memiliki kelenjar saliva yang terbagi menjadi kelenjar saliva mayor dan
minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari sepasang kelenjar parotis, submandibula
dan sublingual. Kelenjar saliva minor jumlahnya ratusan dan terletak di rongga
mulut. Kelenjar saliva mayor berkembang pada minggu ke-6 sampai ke-8 kehidupan embrio
dan berasal dari jaringan ektoderm. Kelenjar saliva minor berasal dari jaringan ektoderm
oral serta endoderm nasofaring dan membentuk sistem tubuloasiner sederhana. Kelenjar
saliva berfungsi memproduksi saliva yang bermanfaat untuk membantu pencernaan,
mencegah mukosa dari kekeringan, memberikan perlindungan pada gigi terhadap karies serta
mempertahankan homeostasis.
Kelenjar ini juga tidak terlepas dari penyakit. Penyakit yang banyak mengenai
kelenjar ludah disebabkan oleh infeksi, inflamasi, trauma, kondisi imun, serta tumor. Untuk
menegakkan diagnosa penyakit pada kelenjar air ludah, perlu dilakukan anamnesa,
pemeriksaan obyektif, serta pemeriksaan penunjang yang dapat membantu penegakan
diagnosa. Selain itu, perlu diketahui tindakan apa yang paling sesuai untuk penanganan
penyakit pada glandula salivarius.
1.

ANATOMI KELENJAR SALIVA

Kelenjar saliva merupakan suatu kelenjar eksokrin yang berperan penting dalam
mempertahankan kesehatan jaringan mulut. Kelenjar saliva merupakan organ yang terbentuk
dari sel-sel khusus yang mensekresi saliva ke dalam rongga mulut. Saliva terdiri dari cairan
encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus. Menurut struktur
anatomis dan letaknya, kelenjar saliva dapat dibagi dalam dua kelompok besar
yairu kelenjar salivamayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor dan
minor menghasilkan saliva yang berbeda-beda menurut rangsangan yang diterimanya.
Rangsangan ini dapat berupa rangsangan mekanis (mastikasi), kimiawi (manis,asam, asin dan
pahit), neural, psikis (emosi dan stress), dan rangsangan sakit. Macam-macam kelenjar ludah:
i.
Kelenjar saliva utama/mayor

Kelenjar-kelenjar saliva mayor terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan
melalui duktusnya kedalam rongga mulut. Kelenjar saliva mayor sangat memegang peranan
penting dalam proses mengolah makanan. Kelenjar saliva mayor terdiri dari :
Kelenjar parotis
Terletak dibagian bawah telinga dibelakang ramus mandibula (antara prossesus mastoideus
dan ramus mandibula)
sekresi encer. Pada anak-anak masih mengandung kelenjar mucous. Saliva terdiri dari
25% sekresi kelenjar parotisMengandung sejumlah besar enzim antara lain amilase lisozim,
fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase. Merupakan kelenjar serous pada manusia dewasa,
kaya akan air

Merupakan kelenjar terbesar dibandingkan dengan kelenjar saliva lainnya dengan


berat 20-30 gram, panjang duktus 35-40 mm, dengan diameter 3 mm

Terletak dibagian bawah telinga dibelakang ramus mandibula meluas ke lengkung


zygomaticum di depan telinga dan mencapai dasar dari musculus masseter

Duktus parotis yakni duktus Stensen yang berjalan menyilang permukaan otot
masseter. Duktus kelenjar ini berjalan menembus pipi dan bermuara pada vestibulum oris
pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapan molar 2 atas

Kelenjar Submandibularis
Terletak di bawah ramus mandibula
Merupakan kelenjar saliva terbesar ke dua berat 8-10 gram

Bentuk oval seperti kacang, terletak di trigonum submandibular

Duktus submandibular disebut duktus Wharton

Duktus muncul dari permukaan bagian dalam kelenjar dan berjalan sampai mencapai
dasar mulut, kemudian bermuara pada caruncula sublingualis di dekat frenulum lidah

Panjang duktus 40-50 mm, diameter lebih kecil dari kelenjar parotis

Kelenjar submandibula 75% bersifat serous dan 25% mucous

Kelenjar Sublingualis

Terletak dibawah lidah dan dibawah membran mukosa mulut


Merupakan kelenjar terkecil dari kelenjar saliva mayor

Kelenjar ini bentuknya memanjang dengan berat 2-3 gram

Duktus kelenjar ini yaitu duktus Bartholin

Kelenjar sublingual hampir seluruhnya mucous dengan sedikit serous

Gambar 1. Glandula salivarius mayor; (1) glandula parotis; (2) glandula submandibula; (3) glandula
sublingual

Gambar 2. Duktus glandula salivarius mayor

ii.

Kelenjar ludah tambahan/ minor

Kebanyakan kelenjar ludah merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam mukosa
atau submukosa (hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam) yang
diberi nama lokasinya atau nama pakar yang menemukannya. Semua kelenjar ludah
mengeluarkan sekretnya kedalam rongga mulut. Kelenjar saliva minor tediri dari:

Kelenjar labial (glandula labialis) terdapat pada bibir atas dan bibir bawah dengan
asinus-asinus seromukus

Kelenjar bukal (glandula bukalis) terdapat pada mukosa pipi, dengan asinus-asinus
seromukus

Kelenjar Bladin-Nuhn (Glandula lingualis anterior) terletak pada bagian bawah ujung
lidah disebelah menyebelah garis, median, dengan asinus-asinus seromukus

Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland = albuminous gland) terletak pada pangkal
lidah, dnegan asinus-asinus murni serus. Kelenjar Weber yang juga terdapat pada pangkal
lidah dengan asinus-asinus mucus. Kelenjar Von Ebner dan Weber disebut juga glandula
lingualis posterior

Kelenjar-kelenjar pada pallatum dengan asinus mukus


2.

JENIS-JENIS PENYAKIT GLANDULA SALIVA

A.

Non Neoplastik Disorder

1.

Infeksi

a.

Infeksi akut

Manifestasi infeksi akut yang biasa terjadi pada kelenjar ludah biasanya berupa parotitis
akut. Beberapa kelompok virus dan bakteri merupakan penyebab umum terjadinya
ketidaknormalan produksi kelenjar ludah. Sebagian besar infeksi bakteri kemungkinan
berasal dari kavitas oral dan berhubungan dengan penurunan aliran ludah. Selain itu beberapa
pasien dengan kondisi lemah dan imunosupresan memiliki resiko untuk terkena sialedenitis
akut.
1.

Infeksi Bakteri

a.
Acute suppurative Sialedenitis merupakan suatu kondisi akut dan nyeri difus pada
keadaan awal penyakit glandula parotis. Kelenjar mengalami pembesaran, terasa sakit, dan
terdapat eksudat purulen yang terlihat pada orifice bukal duktus Stensen. Penyakit ini
biasanya terjadi pada pasien dengan kondisi kesehatan lemah, dehidrasi, dengan oral hygiene
yang buruk. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus
aureus, Streptococcus
viridans, S. pneumoniae, Haemophilus
influenzae, Streptococcus
pyogenes, and Escherichia coli. Limfonodi parotis dan intraparotis biasanya akan terlibat
sebagai reaksi inflamasi. Treatment of choice penyakit ini adalah dengan terapi antibiotik.
Selain pada glandula parotis, acute suppurative sialedenitis juga dapat menyerang pada
region submandibula.

b.
Suppurative parotitis. Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir, biasanya
pada bayi yang lahir prematur (35-40%) dengan dehidrasi sebagai faktor predisposisi. Onset
biasanya terjadi sekitar 7-14 hari dan terdapat eritema pada kulit di sekitar kelenjar
parotis. Penyebab
umum
infeksi
antara
lain Staphylococcus, Pseudomonas,
Streptococcus, Pneumococcus, and Escherichia. Terapi hidrasi dan antibiotic biasanya
digunakan untuk merawat infeksi. Pasien yang salah terdiagnosis atau yang tidak terobati
sempurna terkadang dapat berkembang menjadi abses intraglandular.
c.
Sialodochitis merupakan inflamasi yang terjadi baik pada duktus Warthon maupun
Stensen. Biasanya terjadi dilatasi pada obstruksi distal. Pembesaran duktus dapat berbentuk
fusiform atau berantai menghasilkan area ductal stenosis.
2.

Infeksi Virus

Kasus paling umum yaitu viral parotitis (mumps) yang disebabkan oleh RNA virus dari
kelompok paramyxovirus. Pada tahap awal infeksi melibatkan kelenjar parotis namun juga
dapat berkembang di kelenjar submandibula maupun sublingual. Diagnosis biasanya
berdasarkan pada penyakit epidemik dan ditegakkan dengan uji titer antibody. Periode
inkubasi diantara 2-3 minggu, dengan keterlibatan kelenjar parotis secara unilateral pada 2033,3% kasus. Agen virus lain yang dapat menyebabkan parotitis antara laincoxsackie viruses,
parainfluenza viruses (types I and III), influenza virus type A, herpes virus, echo virus, and
choriomeningitis virus.
b.

Infeksi Kronis

Inflamasi kronis merupakan penyakit umum kelenjar ludah yang disebabkan oleh
rekurensi infeksi bakteri atau infeksi dari agen lain. Kondisi non infeksi disebabkan oleh
iradiasi, penyakit autoimun, dan kasus idiopatik.
1.
Mycobacteria
Epidemiologi menyatakan bahwa infeksi mycobacteria dapat menyerang kelenjar parotis
(70% kasus), kelenjar submandibula (27%), dan kelenjar sublingualis (3%). Sebagian besar
penyakit yang disebabkan infeksi ini berkembang dari tonsi maupun gigi yang menjadi fokal
infeksi kemudian menyebar ke kelenjar melalui limfonodi. Sarcoidosis, merupakan penyakit
sistemik infeksius yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada berbagai system organ
dan biasanya disebabkan oleh infeksi mycobacteria. Sekitar 83% kasus pasien mengalami
pembesaran kelenjar parotis bilateral dan penurunan aliran saliva. Beberapa pasien, juga
mengalami gejala xerostomia akibar kelenjar ludah minor ikut terinfeksi. Sebagian besar
pasien tidak mengalami rasa sakit, dan terjadi pembesaran kronis pada kelenjar yang terlibat
dengan penambakan multinodular dan terlihat seperti keganasan.

2.

Syphilis

Syphilis biasanya jarang terjadi pada kelenjar parotis, namun ketika penyakit ini muncul,
distribusi dan penampakannya sama seperti pada infeksi TB dengan gambaran yang hamper
mirip dengan sarcoidosis.
3.
Cat-Scratch Disease disebabkan oleh infeksi bakteri gram negatif, riketsia dan
menyebabkan limfadenitis regional. Penyakit ini biasa menyerang pada anak-anak dan

remaja. Radiografik menunjukkan adanya pembesaran limfonodi intraparotid yang meluas


dan tidak spesifik dan hal ini mirip pada infeksi sarcoidosis dan infeksi TB sehingga sering
terjadi kesalahan diagnosis.
4.
Toxoplasmosis merupakan infeksi protozoa yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii.
Penyakit ini merupakan infeksi yang umum terjadi yaitu sekitar 5-95% populasi tergantung
dari lokasi geografis.
5.
Actinomycosis disebabkan oleh infeksi bakteri gram positif anaerob, Actinomyces
iszraelli, mengakibatkan infeksi orofaring. Limfonodi parois dan submandibular dapat
menjadi lokasi infeksi sekunder yang disebarkan melalui perluasan perluasan infeksi kronis
mandibula. Jaringan ikat sekitar mengalami infiltrate inflamasi dan terkadang infeksi kelenjar
parotis dapat menyebar hingga masticator space. Infeksi bakteri ini pada kelenjar parotis
dapat akut, dengan gejala rasa sakit, pembengkakan, abses, dan pembentukan fistula. Infeksi
kronik memiliki gambaran hamper mirip seperti infeksi TB yang termanifestasi sebagai masa
parotid yang tidak sakit.
2.

Inflamasi

a. Sialolithiasis, sebagian besar terjadi pada kelenjar submandibula (80-90%), kelenjar parotis
(10-20%), dan sekitar 1-7% terjadi di kelenjar ludah sublingual. Keterlibatan kelenjar ludah
minor sangatlah jarang, meskipun juga bias terjadi pada mukosa bukal dan bibir atas. Sekitar
75% batu berbentuk solid dan tunggal, namun 25% diantaranya memiliki batu kelenjar
multiple. Pada pasien dengan sialodenitis kronis, setidaknya terdapat kalkulus pada du pertiga
kasus dan pada gambaran radiograf batu tampak sebagai lesi radiopak. Sebanyak 85% batu
kelenjar submandibula terjadi di dalam duktus Warthon, 30% di dekat ostium duktus, dan
20% diantaranya pada pertengahan duktus.
Terapi Sialolithiasis:
a.Tanpa
pembedahan
Pengobatan klasik silolithiasis (medical treatment) adalah penggunaan antibiotik dan anti
inflamasi, dengan harapan batu keluar melalui caruncula secara spontan.Pada beberapa kasus
dimana batu berada di wharton papillae, dapat dilakukan tindakan marsupialization
(sialodochoplasty). Sering kali batu masih tersisa terutama bila berada di bagian posterior
Wartons
duct,
sehingga
pendekatan
konservatif
sering
diterapkan.
b.
Pembedahan
Sebelum teknik endoskopi dan lithotripsi berkembang pesat, terapi untuk mengeluarkan batu
pada sialolithiasis submandibula delakukan dengan pembedahan, terutama pada kasus dengan
diameter batu yang besar (ukuran terbesar sampai 10 mm), atau lokasi yang sulit. Bila lokasi
batu di belakang ostium duktus maka bisa dilakukan tindakan simple sphincterotomy dengan
anestesia lokal untuk mengeluarkannya. Pada batu yang berada di tengah-tengah duktus harus
dilakukan diseksi pada duktus dengan menghindari injury pada n. lingualis. Hal ini bisa
dilakukan dengan anestesi lokal maupun general, tapi sering menimbulkan nyeri berat post
operative. Harus dilakukan dengan anestesi general, bila lokasi batu berada pada gland's
pelvis. Pada kasus ini harus dilalakukan submaxilectomy dengan tingkat kesulitan yang
tinggi,
karena
harus
menghindari
cabang-cabang
dari
n.
facialis.
c.
Minimal
invasive

Lithotripsi
Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) merupakan terapi dengan pendekatan non
invasive yang cukup efektif pada sialolithiasis. Setelah berhasil untuk penanganan batu di
saluran kencing dan pankreas, ESWL menjadi alternatif penanganan batu pada saluran saliva,
dimulai tahun 1990- an. Tujuan ESWL untuk mengurangi ukuran calculi menjadi fragmen
yang kecil sehingga tidak mengganggu aliran seliva dan mengurangi simptom. Diharapkan
juga fragmen calculi bisa keluar spontan mengikuti aliran saliva. Indikasi ESWL bisa
dilakukan pada semua sialolithiasis baik dalam glandula maupun dalam duktus, kecuali posisi
batu yang dekat dengan struktur n. facialis. Inflamasi akut merupakan kontra indikasi lokal
dan inflamasi kronis bukan merupakan kontra indikasi, sedangkan kelainan pembekuan darah
(haemorrhagic diathesis), kelainan kardiologi, dan pasien dengan pacemaker merupakan
kontraindikasi
umum
ESWL.
Metode ini tidak menimbulkan nyeri dan tidak membutuhkan anestesia, pasien duduk
setengah berbaring (semi-reclining position) seperti terlihat pada Gb.(a). Shockwave benarbenar fokus dengan lebar 2,5 mm dan kedalaman 20mm sehingga lesi jaringan sekitarnya
sangat minimal. Energi yang digunakan disesuaikan dengan batu pada kelenjar saliva, yaitu
antara 5 30 mPa. Tembakan dilakukan 120 impacts per menit, bisa dikurangi sampai 90
atau 60 impacts per menit. Setiap sesion sekitar 1500 + / - 500 impacts dan antar sesion
terpisah minimal satu bulan.
Keberhasilan ESWL tergantung pada dimensi, lokasi, dan jumlah calculi. Ketepatan
posisi (pinpointing) calculi bisa dipandu dengan ultrasonography, echography probe 7,5 Mhz.
Calculi dengan ukuran > 10 mm sulit dipecah menjadi fragmen. Beberapa penelitian telah
melakukan pengamatan dan follow up atas keberhasilan penggunaan ESWL, antara lain
Escidier et al mengamati 122 kasus dimana 68% pasien terbebas dari simptom setelah
difollow up selama 3 tahun, Cappaccio et al dengan 322 kasus melaporkan 87,6% pasien
terbebas dari simptom setelah diamati 5 tahun sejak pengoabatan menggunakan ESWL.
Sialendoskopi
Sialendoskopi merupakan teknik endoskopi untuk memeriksa duktus kelenjar saliva. Teknik
ini termasuk minimal invasive terbaru yang dapat digunakan untuk diagnosis sekaligus
manajemen terapi pada ductal pathologies seperti obstruksi, striktur, dan sialolith. Prosedur
yang dapat dilakukan dengan Sialendoskopi merupakan complete exploration ductal system
yang
meliputi
duktus
utama,
cabang
sekunder
dan
tersier.
Indikasi diagnostik dan intervensi dengan Sialendoskopi adalah semua pembengkakan
intermitten pada kelenjar saliva yang tidak jelas asalnya.
Koch et al lebih khusus menjelaskan indikasinya, antara lain untuk 1) deteksi sialolith
yang samar, 2) deteksi dini pemebentukan sialolith (mucous or fibrinous plugs) dan
profilaksis pembentukan batu, 3) pengobatan stenosis post inflamasi dan obstruksi karena
sebab lain, 4) deteksi dan terapi adanya variasi anatomi atau malformasi, 5) diagnosis dan
pemahaman baru terhadap kelaianan autoimun yang melibatkan kelenjar saliva, 6) sebagai
alat follow up dan kontrol keberhasilan terapi. Tidak ada kontra indikasi khusus, karena
merupakan teknik minimal invasive yang hanya membutuhkan enestesi lokal dan cukup
rawat jalan saja, baik pada anak-anak, dewasa maupun usia lanjut.
Teknik
Intervensi
Sialendoskopi.
Sialendoskopi dilakukan dengan anestesi lokal, papila untuk mencapai kelenjar diinjeksi

dengan bahan anestesi (xylocaine 1% dengan epinephrine 1:200000). Papila dilebarkan


bertahap dengan probe yang bertambah besar sampai sesuai dengan diameter sialendoskop.
Kemudian sialendoskop dimasukkan ke dalam duktus kelenjar saliva diikuti pembilasan
dengan cairan isotonik melalui probe. Pembilasan ini dimaksudkan untuk dilatasi duktus dan
irigasi debris. Duktus kelenjar saliva ini dioservasi mulai dari duktus utama sampai cabang
tersier hingga probe tidak bisa masuk lagi, dengan catatan menghindari trauma dan perforasi
dinding duktus.
Bila didapatkan obstruksi, kita bisa menggunakan beberapa teknik untuk
mengatasinya. Untuk pengambilan batu dengan diameter < 4 mm pada kelenjar submandibula
atau < 3mm pada klenjar parotis, kita dekatkan sialendoskop ke sialolith kemudian kita
masukkan ke dalam working chanel sebuah forsep penghisap yang fleksibel dengan diameter
1 mm atau stone extractor (wire basket forcep). Berikutnya batu dihisap dan sialendoskop
ditarik dengan forcep penghisapnya.
Pada kasus dengan batu yang lebih besar, kita memasukkan probe laser helium ke
dalam working chanel dan batu dipecah menjadi beberapa bagian kecil-kecil. Kemudian
bagian kecil tersebut ambil (removed) dengan teknik yang sama. Sedangkan pada kasus
mucus plug, sekret yang lengket dimobilisasi dengan pembilasan dan penghisapan.
Setelah intervensi Sialendoskopi, dilakukan stenting pada duktus submandibula
menggunakan stent plastik (sialostent) selama 2 sampai 4 minggu dengan tujuan 1)
menghindari striktur, 2) mencegah obstruksi karena udema sekitar orifisium, dan 3) sebagai
saluran irigasi partikel-partikel batu kecil oleh aliran saliva. Pemberian hydrocortisone 100
mg injeksi intraductal atau langsung pada daerah striktur juga dapat mempercepat proses
penyembuhan
pasca
sialoendokopi.
d. Decision
Tree
Pada tindakan minimal invasive terdapat beberapa pilihan diagnostik maupun terapi untuk
managemen sebuah kasus dengan gejala klinis adanya obstruksi pada saluran kelenjar saliva.
Bila didapatkan batu ukuran kecil (< 4 mm submandibular atau < 3 mm parotis) maka dapat
diintervensi dengan Wire Basket Extraxion. Pada batu dengan ukuran > 4 mm submandibula
atau > 3 mm parotis, batu harus dipecah menjadi bagian yang lebih kecil menggunakan Laser
Lithotripsy kemudian dikeluarkan dengan Wire Basket Extraxion. Sedangkan stenosis pada
sistem duktus cukup dilakukan dilatasi menggunakan metalic dilator (main duct) atau dengan
balloon catheter bila stenosis terjadi pada cabang duktus.
Komplikasi:
Segala bentuk intervensi pada sialolithiasis, baik pembedahan terbuka maupun minimally
invasive dapat menimbulkan komplikasi antara lain: 1) kerusakan saraf, terutama n. Lingualis
dan n. Hipoglosus 2) perdarahan post operative, 3) striktur sistem duktal, 4) pembengkakan
kelenjar yang menimbulkan nyeri, 5) cutaneus hematoma sering dijumpai pada pasien post
extracorporeal therapy, dan 6) residual lithiasis terjadi pada sekitar 40%-50% pasien. Teknik
minimal invasive yang benar dengan Sialendoskopi, lebih memungkinkan untuk
meminimalisir terjadinya komplikasi tersebut di atas.
b. Chronic Reccurent Sialodenitis, merupakan pembengakakan difus maupun terlokalisasi pada
kelenjar ludah, dan terasa sakit. Penyakit ini biasanya diasosiasikan dengan obstruksi tidak
sempurna pada sistem duktus, walaupun biasanya terjadi variasi.

c. Sialodochitis Fibrinosa (Kussmauls Disease), merupakan pembengkakan rekuren, akut, dan


bias terasa nyeri maupun tidak nyeri pada kelenjar parotis atau submandibula. Penampakan
klinis berupa penyumbatan pada pintu masuk duktus Stensen atau duktus Warthon. Penyakit
ini biasanya terjadi padan pasien dengan kondisi lemah dan dehidrasi perawatan dapat berupa
pemijatan pada glandulam penggunaan secretogogeus untuk menghilangkan sumbatan,
dilatasi pintu masuk duktus untuk mencegah rekurensi, dan bila dimungkinkan dilakukan
rehidrasi.
d. Hiperlipidemia, dikarakteristikkan sebagai peningkatan level trigliserid dan atau kolesterol
total plasma. Beberapa pasien dengan hiperlipidemia mengalami pembesaran kelenjar parotis
dengan infiltrate lipid yang seragam yang terlihat pada MRI. Peningkatan kadar trigliserid
plasma berkorelasi dengan pembengkakan parotis, dan berakibat pada penurunan aliran saliva
yang semakin parah. Kelenjar submandibula juga dapat terlibat namun insidensinya lebih
rendah.
e. Sialosis, merupakan pembesaran kelenjar parotis yang rekuren maupun kronik, nonneoplastik,
non inflamatori, dan tidak terasa sakit. Kelenjar submandibula, sublingual, dan kelenjar ludah
minor juga ada kemungkinan terlibat. Pembengkakan parotis biasanya bilateral dan simetrik
namun juga bias unilateral dan atau simetris. Onset biasanya tidak terlalu terlihat, karena
tidak ada simptom maupun inflamasi.
Sialosis diasosiasikan dengan berbagai penyakit endokrin, status gizi, dan medikasi.
Sialosis ditemukan pada penderita diabetes, kelainan kelenjar tiroid, kelainan pankreas, dan
akromegali. Sekitar 26-86% kasus ditemukan pada pecandu alkohol kronis dan sirosis hati
akibat alkohol, juga pada penderita dengan status malnutrisi. Kondisi lain meliputi hipertensi,
hiperlipidemia, kegemukan, kehamilan, brucellosis, disentri, penyakit Chaga, karsinoma
esophagealm ankylostomiasis, dan penyakit celiac. Beberapa medikasi yang dapat memacu
terjadinya sialosis antara lain phenylbutazone, oxyphenbutazone, sulfisoxazole, iodide,
isoproterenol, atropine, imipramine, chloramphenicol, oxytetracycline, phenothiazides,
benzodiazepines, monoamine oxidase (MAO) inhibitors, reserpine, guanethidine, logam
berat, methimazole, dan thiocyanates.

3.

Trauma

a. Mucoceles, merupakan istilah klinis yang mendeskripsikan pembengkakan yang disebabkan


oleh akumulasi saliva pada sisi yang terkena trauma maupun daerah yang mengalami
pemnyumbatan pada duktus glandula saliva minor. Mucocele diklasifikasikan menjadi tipe
retensi dan ekstravasasi.

Gambar 3. Mucocele pada bibir bawah sebelah kanan


b. Ranula, merupakan mucocele yang terletak di dasar mulut. Ranula kemungkinan merupakan
fenomena ekstravasasi mucus maupun retensi mucus dan sebagian besar terjadi pada duktus
glandula saliva sublingual. Pembentukan ranula biasanya terjadi karena trauma. Penyebab
lain yaitu penyumbatan pada kelenjar saliva atau aneurism duktus.

Gambar 4. Ranula pada dasar mulut

Penatalaksanaan Ranula
Dalam kasus ranula, dokter spesialis bedah mulut dapat merekomendasikan marsupialisasi
atau eksisi, dimana ranula diinsisi untuk membuat outlet pada kista retensi kelenjar ludah
sehingga cairan dapat dikeluarkan. Berikut ini merupakan tahap-tahap prosedur
marsupialisasi serta komplikasi yang ditimbulkan :
Menjelang operasi
a.
Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan
dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari
penderita untuk dilakukan operasi. (Informed consent).
b.

Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.

c.

Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi.

d.
Antibiotika profilaksis, Cefazolin atau Clindamycin kombinasi dengan Garamycin,
dosis menyesuaikan untuk profilaksis.

Tahapan operasi
a.
Dilakukan dalam kamar operasi, penderita dalam narkose umum dengan intubasi
nasotrakheal kontralateral dari lesi, atau kalau kesulitan bisa orotrakeal yang diletakkan pada
sudut mulut serta fiksasinya kesisi kontralateral, sehingga lapangan operasi bisa bebas.
b.
Posisi penderita telentang sedikit head-up (20-25 0) dan kepala menoleh kearah
kontralateral, ekstensi (perubahan posisi kepala setelah didesinfeksi).
c.

Desinfensi intraoral dengan Hibicet setelah dipasang tampon steril di orofaring.

d.

Desinfeksi lapangan operasi luar dengan Hibitane-alkohol 70% 1:1000

e.
Mulut dibuka dengan menggunakan spreader mulut, untuk memudahkan
mengeluarkan lidah/ dijulurkan maka bisa dipasang teugel pada lidah dengan benang sutera
0/1.

f.
Lakukan eksisi bentuk elips pada mukosa dasar mulut yang membesar akibat kista
tersebut dan pilih yang paling sedikit vaskularisasinya, kemudian rawat perdarahan yang
terjadi, lakukan sondase atau palpasi, sebab kadang ada sedimentasi/ sialolithiasis, atau sebab
lain sehingga menimbulkan sumbatan pada saluran kelenjar liur sublingual. Tepi eksisi dijahit
marsupialisasi dengan Dexon 0/3 agar tidak menutup lagi.

g.
Apabila masih teraba kista maka bisa dilakukan memecahkan septa yang ada sehingga
isinya bisa ter-drainase.Pada kista yang cukup besar setelah dievaluasi tidak ada kista lagi
maka bisa dipasang tampon pita sampai keujungnya dipertahankan sampai 5 hari sebagai
tuntunan epitelialisasi pada permukaan kista tadi dan tidak obliterasi lagi.
h.
Apabila didapat sebagian ranula dibawah m. milohioid, maka memerlukan
pendekatan yang lebih bagus dari ekstra oral. Dan yang perlu diperhatikan adalah preservasi
nervus hipoglossus, nervus lingualis. Pasang redon drain apabila melakukan pendekatan
ekstra oral.
i.

Evaluasi ulang untuk perdarahan yang terjadi.

j.
Lapangan operasi dicuci dengan kasa-PZ steril, luka operasi yang diluar ditutup
dengan kasa steril dan di hipafiks.
k.

Tampon orofaring diambil, sebelum ekstubasi.

l.

Buat laporan operasi dan surat pengantar untuk pemeriksaan PA.

Komplikasi operasi

Perdarahan

Kerusakan nervus hipoglosus atau nervus lingualis

Infeksi

Fistel orokutan pada operasi yang pendekatannya intra dan extra oral

Residif

Perawatan Pasca Bedah


Infus Ringer Lactate dan Dextrose 5% dengan perbandingan 1 : 4 (sehari)
Setelah sadar betul bisa dicoba minum sedikit-sedikit, setelah 6 jam tidak mual bisa
diberi makan.

Pada penderita yang terpasang drain redon dilepas jika produksinya < 10 cc/24 jam.

Luka operasi dirawat dan ganti perban pada hari ke-3.

Pada penderita yang dipasang kasa dengan tampon steril pada saat operasi pada bekas
kista sublingual maka tampon dipertahankan sampai hari ke 5, dan kemudian dicabut
sehingga mengurang kemungkinan tertutup lagi kista kelenjar liur tersebut.

Penderita dipulangkan sehari setelah angkat drain dan tampon, anjurkan dan angkat
jahitan pada hari ke-7 setelah operasi.

Follow-Up iiap minggu sampai luka operasi sembuh baik


4.

Kondisi Imun dan Medikasi yang Menginduksi Disfungsi Kelenjar Saliva

a.

Benign Lymphoepithelial Lesion (Mikuliczs Disease)

Etiologi penyakit ini masih belum diketahui dan diperkirakan akibat kondisi auto imun,
virus, maupun faktor genetik dengan predominan pada wanita di usia pertengahan. Gejala
umum yaitu pembengkakan kelenjar ludah unilateral atau bilateral akibat infiltrate limfoid
benigna, serta penurunan produksi saliva bila terjadi infeksi. Diagnosis banding penyakit ini
yaitu Sjorgen syndrome, sarcoidosis, limfoma, dan penyakit lain yang diasosiasikan dengan
pembesaran kelenjar ludah.
b.
Sjorgen Syndrome
Sjorgen Syndrome merupakan penyakit kronis autoimun yang dikarakteristikkan
dengan kekeringan mukosa oral dan okular, infiltrat limfosit, dan dekstrusi eksokrin.
Manifestasi oral pasien ini sangat luas sebagai hasil dari penurunan fungsi kelenjar ludah.
Hampir semua pasien mengeluhkan mulut kering dan membutuhkan asupan cairan. Mulut
kering menyebabkan kesulitan dalam mengunyah, menelan, dan berbicara jika tidak diberi
tambahan cairan. Pasien dengan SS dapat mengalami pembesaran kronis pada kelenjar ludah
dan juga dapat terjadi infeksi pada kelenjar.
B.

Tumor Kelenjar Ludah

Sebagian besar tumor kelenjar ludah terjadi pada kelenjar parotis (80%), sekitar 1015% terjadi pada kelenjar submandibula, dan sisanya pada sublingual maupun pada kelenjar

ludah minor. Sekitar 80% tumor parotis dan 50% tumor submandibula merupakan tumor
jinak. Sebaliknya lebih dari 60% tumor yang terjadi pada kelenjar sublingual maupun
kelenjar ludah minor merupakan tumor ganas. Resiko keganasan akan meningkat sesuai
dengan bertambahnya ukuran tumor. Sekitar 80% tumor terjadi pada usia dewasa. Tumor
pada anak-anak biasanya terletak pada kelen jar parotis, dan sekitar 65% tumor anak-anak
bersifat jinak.
1. Tumor Jinak
a. Adenoma Pleomorfik
Adenoma pleomorfik merupakan tumor kelenjar liur yang paling banyak ditemukan,
berkisar 60%-80% dari seluruh tumor jinak di kelenjar liur. Sekitar 85% terdapat di kelenjar
parotis. pada kedua lobus.
Adenoma pleomorfik paling sering ditemukan pada usia dekade keempat sampai
keenam, jarang ditemukan pada anak, dengan frekuensi lebih tinggi pada wanita dengan
perbandingan wanita dengan pria 3:2.Bangsa kulit putih lebih tinggi risiko mendapat
adenoma pleomorfik dibanding dengan kulit berwarna.
b. Monomorphic Adenoma
Monomorphic adenoma merupakan tumor dengan penampakan sel yang sama dan
seragam.
c. Papillary Cystadenoma Lymphomatosum
Papillary Cystadenoma Lymphomatosum juga dikenal dengan tunor Warthin, merupakan
tumor kedua yang paling sering muncul di kelenjar parotis. Predileksi tumor ini pada laki-laki
pada decade ke lima dan delapan. Tumor ini besifat bilateral pada 6-12% kasus. Secara klinis,
tumor ini bersifat lambat pertumbuhannya, berbatas tegas, tidak nyeri kecuali terjadi
superinfeksi.
d. Oncocytoma
Oncocytoma merupakan tunor benigna yang jarang terjadi yaitu sekitar 1% neoplasma
kelenjar saliva. Tumor biasanya terjadi pada kelenjar ludah baik pada laki-laki maupun
wanita pada dekade ke enam. Oncocytoma merupaka tumor solid, bulat, yang terlihat pada
kelenjar ludah mayor namun jarang di intraoral serta bersifat bilateral.
e. Basal Cell Adenoma
Tumor ini bersfat tumbuh lambat, berupa massa yang tidak sakit dan insidensinya hanya
1-2% dari keseluruhan kasus tumor kelenjar ludah. Predileksi lesi pada laki-laki dengan
perbandingan 5 :1. Sekitar 70% lesi terjadi di kelenjar parotis, dan apabila terjadi pada
kelenjar ludah minor biasanya terjadi pada bibir atas.
f. Canalicular Adenoma
Lesi ini bersifat predominan pada usia lebih dari 50 tahun dan biasanya terjadi pada
wanita. Sekitar 80% terjadi pada bibir bawah dengan pertumbuhan lesi yang lambat, mobil,
dan asimtomatik.
g. Myoepithelioma
Lesi ini biasanya terjadi pada kelenjar parotis dan palatum merupakan lokasi yang sering
terjadi. Tidak terdapat predileksi berdasarkan jenis kelamin, dan biasanya terjadi pada dewasa
di usia sekitar 53 tahun. Lesi berbatas tegas, asimptomatik, dengan pertumbuhan lambat.
h. Adenoma Sebasea

Lesi jenis ini jarang terjadi dan muncul dari glandula sebasea yang terdapat di dalam
jaringan kelenjar ludah. Kelenjar parotis merupakan lokasi yang sering kali terlibat.
i. Ductal Papiloma
Ductal papiloma merupakan subset tumor jinak yang muncul dari duktus ekskretori,
predominan pada kelenjar ludah minor. Terdapat tiga bentuk dari tumor ini yaitu simple
ductal papiloma, inverted ductal papiloma, dan sialadenoma papiliferum.
2. Tumor Ganas
a. Mucoepidermoid Carcinoma
Mucoepidermoid carcinoma merupakan kondisi malignant yang biasan terjadi di
kelenjar parotis, dan kedua pada kelenjar submandibula dengan palatum sebagai lokasi yang
paling umum terjadi. Insidensi tertinggi terjadi pada decade ketiga hingga kelima kehidupan.
Laki-laki dan perempuan memiliki persentase yang sama untuk mengalami insidensi.
Lesi terdiri atas sel mucus dan epidermal dan tingkat keparahannya didasarkan pada
rasio sel epidermal terhadap sel mukus. Gejala klinis yang biasanya terjadi adalah adanya
rasa sakit dalam jangka waktu yang lama, ulserasi pada jaringan yang melapisi, dan jika
nervus fasialis terlibat, terdapat kemungkinan terjadi facial palsy.
b. Adenoid Cystic Carcinoma
Lesi ini mencakup 6% dari seluruh kasus tumor kelenjar ludah dan merupakan lesi
ganas yang sering terjadi padakelenjar submandibula maupun kelenjar ludah minor. Lesi
dapat terjadi baik pada pria maupun wanita pada decade kelima kehidupan.
Secara klinik lesi merupakan massa unilobular, sakit, dan pada tumor parotis dapat
menyebabkan paralisi nervus fasialis pada sebagian kecil penderita. Lesi ini berkembang
lambat yang menyebabkan tertundanya diagnosis hingga beberapa tahun. Secara radiografik,
lesi berkembang hingga merusak tulang sekitar. Metastase hingga ke paru-paru sering terjadi
dibandingkan ke limfonodi regional.
c. Acinic Cell Carcinoma
Acinic cell carcinoma biasanya terdapat pada jaringan parotis yaitu sekitar 90-95%,
dengan frekuensi terjadi pada wanita di decade kelima kehidupan. Lesi ini merupakan
karsinoma kelenjar ludah kedua terbanyak pada anak-anak.
Lesi bersifat tumbuh lambat, dengan rasa nyeri. Lobus superficial dan inferior pole
kelenjar parotis merupakan area yang paling sering terlibat. Keterlibatan kelenjar secara
bilateral dilaporkan hanya terjadi pada sekitar 3% kasus.
d. Carcinoma Ex Pleomorphic Adenoma
Carcinoma ex pleomorphic adenoma merupakan tumor maligna yang timbul di dalam
pleomorphic adenoma dan berasal dari epitel. Lesi bersifat tumbuh lambat, dan biasanya
terjadi 15-20 tahun sebelum lesi mengalami pertumbuhan ukuran. Lesi biasa terjadi pada
adenoma pleomorfik yang tidak terawat dalam jangka waktu lama.
e. Adenocarcinoma
Adenocarcinoma terjadi pada epitel duktus salivarious. Kelompok neoplasma ini dibagi
berdasarkan struktur dan karakteristiknya. Tipe lesi ditegakkan dengan uji histologis untuk
menunjang diagnosis dan perawatan yang tepat.
f. Limfoma

Limfoma primer dideskripsikan sebagai situasi dari manifestasi suatu penyakit yang
kemungkinan muncul dari jaringan limfe di dalam kelenjar ludah. Penyakit limfoma yang
paling umum yaitu non-Hodgins limfoma yang biasan terjadi pada pasien dengan autoimun.
Kelenjar parotis merupakan lokasi yang paling sering terlibat diikuti dengan kelenjar
submandibular, dan secara klinis dikarakteristikkan sebagai pembesaran kelenjar tanpa rasa
nyeri atau adenopati.
3.

PENEGAKAN DIAGNOSA PENYAKIT KELENJAR LUDAH

a.

Pemeriksaan Radiologis

Teknik radiografi yang banyak digunakan adalah teknik radiograf oklusal dan panoramik
(OPG), namun tidak semua sialolith dapat terlihat melalui pemeriksaan radiografis
konvensional karena sebagian kecil batu saliva tersebut mengalami hipomineralisasi dan
superimposisi dengan jaringan lain yang bersifat radiodense.
b.
Sialografi
Sialografi merupakan pemeriksaan untuk melihat kondisi duktus dengan menggunakan
kontras. Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengidentifikasi adanya iregularitas pada dinding
duktus, identifikasi adanya polip, mucous plug atau fibrin, serta area granulomatosa. Selain
itu dapat pula diidentifikasi adanya kemungkinan obstruksi duktus maupun stenosis.
Pemeriksaan dimulai dengan melakukan identifikasi terhadap duktus Stensen dan Wharton.
Langkah selanjutnya adalah dilakukan dilatasi duktus. Saat dilatasi duktus sudah maksimal,
maka dapat dimasukkan kateter sialografi. Pada pemeriksaan sialografi ini digunakan kontras,
yang bisa berupa etiodol atau sinografin.
Sialografi dapat memberikan pemandangan yang jelas pada duktus secara keseluruhan
dan dapat memberikan informasi mengenai area yang tidak dapat dijangkau dengan
sialoendoskop, misalnya pada area di belakang lekukan yang tajam dan striktur. Kekurangan
dari pemeriksaan sialografi adalah paparan radiasi dan hasil positif palsu pada pemeriksaan
batu karena adanya air bubble (gelembung udara).
c.

Tomografi computer

Pemeriksaan ini merupakan salah satu pilihan untuk mengevaluasi sistem duktus dan
parenkim pada kelenjar saliva. Identifikasi dapat dilakukan pada potongan aksial, koronal
maupun sagital. Dengan pemeriksaan ini dapat diidentifikasi adanya iregularitas pada dinding
duktus dengan melihat adanya penebalan dan penyangatan pada dinding duktus. Pada
obstruksi yang disebabkan karena batu, kalsifikasi dapat dilihat berupa masa hiperdens tanpa
penyangatan pada pemeriksaan tomografi komputer. Adanya penyangatan dapat merupakan
indikasi adanya obstruksi sialodenitis akut.
d.

Sialografi tomografi komputer

Pemeriksaan ini merupakan kombinasi antara pemeriksaan sialografi dengan


menggunakan kontras dan pemeriksaan tomografi komputer. Pemeriksaan dilakukan dengan
memasukkan kateter pada duktus, kemudian mengisinya dengan kontras, lalu dilakukan
pemeriksaan tomografi komputer. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi parenkim
secara detail.

e.

Magnetic resonance imaging dan magnetic resonance sialography

Pemeriksaan dengan MRI juga dapat mengidentifikasi adanya kelainan pada kelenjar
saliva. Dengan pemeriksaan ini akan tampak perbedaan antara struktur duktus dan parenkim.
Pemeriksaan Magnetic Resonance Sialography dapat digunakan untuk mengidentifikasi
struktur duktus pada kelenjar parotis dan submandibula dengan melakukan sialografi dengan
menggunakan kontras Magnetic Resonance.
f.

Ultrasonografi

Dalam mendiagnosis kelainan pada kelenjar saliva terkadang diperlukan pemeriksaan


ultrasonografi dengan resolusi tinggi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi bermanfaat dalam
mengidentifikasi massa dan membedakan konsistensi massa tersebut, apakah padat atau
kistik. Ultrasonografi yang digunakan pada pemeriksaan kelenjar saliva adalah ultrasonografi
dengan transduser beresolusi tinggi, yaitu 7,5-10,0 MHz. Pada kasus abses atau massa kistik
kelenjar saliva terkadang dilakukan aspirasi jarum halus. Pada kasus ini, ultrasonografi dapat
dimanfaatkan untuk menjadi panduan dalam aspirasi. Pemeriksaan ultrasonografi juga
penting dilakukan untuk melihat adanya kelokan atau cabang-cabang duktus, yang bisa
menimbulkan komplikasi pada proses obstruksi.
Kekurangan pada pemeriksaan dengan ultrasonografi adalah, alat ini tidak dapat
memvisualisasi kelenjar saliva secara keseluruhan. Pada penegakan kelainan obstruksi
kelenjar saliva menggunakan ultrasonografi sering sulit untuk menentukan ukuran batu secara
tiga dimensi begitu juga dengan struktur stenosisnya. Selain itu, pemeriksaan dengan alat ini
tidak dapat memberikan informasi yang cukup jelas mengenai diameter bagian distal
obstruksi sehingga sulit memastikan apakah duktusnya cukup lebar dan lurus sehingga
memungkinkan masuknya instrumen pada endoskopi terapeutik.
4.

TREATMENT PADA PENYAKIT GLANDULA SALIVA

Selama fase akut, terapi yang dibutuhkan adalah terapi suportif. Perawatan dasar pada
kelainan glandula saliva meliputi pemberian analgesik, antibiotik, dan antipiretik apabila
dibutuhkan. Selain itu, terapi pada glandula salivarius dapat dilakukan dengan cara:
1.
Sialolith yang berada pada atau dekat dengan orifice duktus dapat dihilangkan dengan
cara meminta pasien untuk minum air yang dicampur dengan tetesan jeruk nipis atau lemon
sehingga terjadi peningkatan aliran saliva, kemudian dokter gigi dapat memijat glandula
saliva dengan pelembab yang hangat dan mendorong batu agar keluar dari duktus (Vorvick,
2011). Namun, apabila sialolith terletak lebih dalam dari orifice duktus, maka dapat
dilakukan operasi untuk pengambilan sialolith. Sialolith yang terletak pada intraglandula,
maka perawatan yang dianjurkan adalah dengan mengambil seluruh glandula saliva yang
terkena.
2.

Eksisi

Tindakan ini merupakan terapi pilihan untuk mukokel. Namun, apabila hanya dilakukan
aspirasi cairan, maka hasil yang diberikan tidak memberikan kesembuhan dalam waktu yang
lama karena akan terjadi rekurensi, sehingga tindakan yang paling baik untuk mukokel adalah
pengambilan mukokel beserta glandula saliva yang terlibat untuk mencegah rekurensi. Terapi

pilihan untuk ranula juga berupa eksisi lesi beserta glandula yang terlibat, sehingga rekurensi
tidak terjadi.
3.
Marsupialisasi
Merupakan terapi yang paling tua yang digunakan untuk menangani ranula. Rerata kegagalan
terapi ini sebesar 61-89% dengan rekurensi setelah 6-12 minggu setelah operasi.
Penekanan/kompresi pada bagian bawah kista yang berasal dari lidah menyebabkan
timbulnya penutupan kista secara prematur. Hal ini menyebabkan ranula terbentuk kembali
dan terjadi rekurensi. Menutup kavitas kista dengan gauze/kassa selama 7-10 hari dapat
meningkatkan tingkat keberhasilan perawatan.
4.
Pemberian antibiotik
Apabila terdapat kelainan pada glandula saliva yang diakibatkan oleh infeksi bakteri yang
menghasilkan pus atau demam, contohnya pada sialadenitis. Antibiotik yang diberikan
pertamakali (first line) harusnya antibiotik dengan spektrum yang luas (broad spectrum)
seperti golongan Penicillin. Antibiotik yang termasuk ke dalam golongan penicillin yaitu
Ampicilin dan Amoksisilin yang aktif melawan bakteri gram negatif dan positif. Untuk
pemberian oral, amoksisilin merupakan obat pilihan karena diabsorbsi lebih baik daripada
ampisilin. Dosis yang umumnya digunakan adalah 500 mg tiap 8 jam dengan waktu
pengobatan minimal 5 hari. Antibiotik yang lain adalah golongan Clindamycin yang efektif
terutama terhadap bakteri gram negatif. Pada 48 jam pertama diberikan melalui intravena
dengan dosis 900 mg/8 jam, kemudian dilanjutkan pemberian secara oral dengan dosis 300
mg/8 jam. Apabila terapi antibiotik belum berhasil, dapat diberikan antibiotik golongan lain
yaitu sefalosporin. Second line terapi antibiotik adalah dengan kultur sensitifitas untuk
mengetahui nama bakteri spesifik penyebab infeksi dan antibiotik yang sensitif terhadap
bakteri tersebut.
5.

Radioterapi

Terapi radiasi pada umumnya diberikan pada pembengkakan glandula salivarius dan lesi-lesi
maligna. Pada pembengkakan glandula parotis yang disebabkan oleh infeksi HIV diberikan
terapi radiasi eksternal dengan dosis 24 Gy.
6.
Laser CO2
Keuntungan dari perawatan ini adalah perdarahan dan jaringan parut minimal, visualisasi
selama prosedur baik, dan komplikasi post-operatif minimal. Terapi ini banyak dipilih untuk
menangani sialolithiasis dan mukokel (Ata-Ali dkk., 2010).
7.
Extra-corporeal shock wave lithotripsy (ESWL)
Terapi ini merupakan terapi dengan invasi minimal untuk pengambilan sialolith dengan
memanfaatkan gelombang dari alat yang disebut lithotripter yang memiliki sumber
elektromagnetik berbentuk silinder yang menghasilkan gelombang bertekanan, yang apabila
difokuskan pada sialolith dapat memecah sialolith menjadi berukuran < 2 mm sehingga
memungkinkan keluarnya sialolith secara spontan (DeBurgh Norman dan McGurk, 1995).
Setelah ESWL dilakukan, dilanjutkan dengan ultrasound kontinyu (7,5 MHz) 5 kali
seminggu selama 30 menit. Setelah itu difollow-up setelah 1 minggu dan 1, 3, 6, dan 12 bulan
(Capaccio dkk., 2002). Selama proses ESWL, sialogouesdan/atau pemijatan glandula dapat
dilakukan untuk membantu pengeluaran fragmen sialolith dari duktus (Siddiqui, 2002).

Gambar 5. Mesin liptotripsi untuk sialolith

1.

SIALOLITHIASIS

Pasien wanita berusia 55 tahun datang dengan keluhan nyeri dan pembengkakan ekstraoral
pada regio posterior kiri rahang bawah selama 6 hari (Gambar 6).

Gambar 6. Terlihat pembengkakan ekstraoral pada corpus mandibula sebelah kiri


Pasien menceritakan bahwa pembengkakan telah terjadi selama 6 bulan dan terasa
sakit, namun rasa sakit dapat hilang dengan sendirinya. Pembengkakan ini juga mengganggu
proses pengunyahan pasien, tidak terdapat cairan pada ekstraoral maupun intraoral. Pasien
mendatangi praktek dokter, kemudian diberikan obat (pasien lupa obat apa saja yang

diberikan) dan pembengkakannya mengecil. Namun, 6 hari belakangan pasien merasakan


nyeri yang sama pada lokasi yang sama. Pemeriksaan obyektif menunjukkan bahwa tidak
terdapat asimetri pada wajah bagian atas hingga tengah. Pembengkakannya berbentuk oval
dan meluas hingga symphisis mandibula pada bagian anterior dan angulus mandibula pada
bagian posterior. Perluasan pada bagian superior tidak terlalu terlihat dan pada bagian
inferior, pembengkakan tidak melewati midline. Regio submental terlihat normal. Kulit pada
permukaan pembengkakan terlihat normal dan tidak tertarik. Pada palpasi, tidak didapatkan
peningkatan suhu dan tulangnya keras serta dapat digerakkan. Pembengkakan ini tidak
melekat pada struktur dibawahnya dan tidak terdapat sensasi kesemutan/parestesia. Basis
mandibula tampak intak dan tidak terdapat kliking pada TMJ atau deviasi pada saat
bergerak,tidak terdapat pergerakan yang berlebihan atau pembengkakan sendi. Pembukaan
mulut tidak terganggu, limfonodi submandibula sebelah kiri membesar, teraba, dengan
konsistensi yang agak keras. Muara duktus Stensen normal dengan aliran saliva yang juga
normal. Namun, ketika dilakukan pemeriksaan pada duktus Warthon tampak kering dengan
aliran saliva yang sedikit.

Gambar 7. Aliran saliva tampak sedikit pada pemeriksaan muara duktus Warthon
Palpasi bimanual pada glandula submandibula kiri menimbulkan rasa nyeri tekan pada
intraoral. Kemudian dilakukan foto rontgen oklusal pada rahang bawah dan memperlihatkan
adanya lesi radiopaque dengan dinding berbatas tegas, diameter 1 mm dan terletak pada
anterior dasar mulut.

Gambar 8. Rontgen oklusal memperlihatkan adanya sialolith pada rahang bawah sebelah kiri
Sialolith diambil dengan eksisi dari intraoral dengan anestesi lokal dan tampak berwarna
putih kekuningan. Tidak dilaporkan adanya kontraindikasi post-operatif.

Gambar 9. Eksisi dari intraoral

Gambar 10. Sialolith yang telah diambil


2.
RANULA
Seorang wanita usia 16 tahun datang ke Klinik San Paolo, Brazil dengan keluhan
adanya pembengkakan pada dasar mulut selama 28 hari yang mengganggu proses bicara dan
mengunyah. Sebelumnya, pasien pernah menjalani insisi dan drainase pada lesi yang sama 14
hari sebelumnya. Tidak terdapat perubahan pada kondisi sitemik. Pada pemeriksaan intraoral
didapatkan pembengkakan pada dasar mulut sebelah kiri yang meluas dari midline mandibula
hingga regio molar pertama, konsistensi kunak, permukaan halus, kebiruan dengan diameter
3,5 cm. Ada riwayat trauma yang menyebabkan retensi glandula saliva, sehingga dokter
mendiagnosa lesi tersebut sebagai ranula (Gambar 11).
Terapi yang dipilih adalah marsupialisasi dengan anestesi lokal. Membrana yang
menutupi pembengkakan di eksisi dan semua cairan mukus yang ada diekstravasasi (Gambar
12), kemudian dijahit menggunakan benang Poligalaktina 910 dengan ukuran 4-0 (Vicryl)
(Gambar 13 dan 14). Jaringan yang diambil dikirim ke bagian patologi anatomi dan
dipastikan bahwa lesi tersebut adalah ranula. Daerah yang dijahit dirawat hingga mengalami
resorbsi benang yang komplit. Tidak dikeluhkan adanya komplikasi post-operasi dan tidak
ada rekurensi setelah 1 tahun operasi dilakukan.

Gambar 11. Ranula pada dasar mulut sebelah kiri; Gambar 12. Drainase cairan mukus
Gambar 13. Diseksi pada area yang terlibat menggunakan shears rhomb

Gambar 14. Area yang telah mengalami marsupialisasi


Gambar 15. Empat belas hari setelah post-operatif

3.

ADENOMA PLEOMORFIK PAROTIS

Seorang wanita umur 55 tahun, datang ke poliklinik THT RS.Dr.M.Djamil Padang tanggal 22
Juli 2009 (No.MR.65 34 70) kiriman dokter spesialis THT-KL dengan diagnosis tumor
campur parotis dan hasil BAJAH terlampir. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama
benjolan di bawah telinga kiri yang makin lama makin besar sejak 16 tahun yang lalu.
Benjolan tidak nyeri dan tidak merah, tidak panas, tidak disertai demam. Telinga kiri kadangkadang berdengung. Tidak ada kesulitan membuka mulut, mulut tidak terasa kering. Tidak
dikeluhkan wajah mencong atau kesulitan menutup mata. Riwayat penyakit asam urat tidak
ada. Riwayat hidung tersumbat, hidung berdarah, dan penglihatan ganda tidak ada. Benjolan
lain di leher tidak ada. Tidak terdapat penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum baik, kesadaran komposmentis kooperatif. Pada pemeriksaan
telinga, hidung dan tenggorok tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan pendengaran dengan
penala dalam batas normal. Regio parotis sinistra didapatkan benjolan ukuran 12x10x8 cm,
kenyal padat, tidak ada bagian yang fluktuatif, tidak nyeri tekan, tidak terdapat tanda-tanda
radang, permukaan licin, terfiksir pada jaringan disekitarnya (gambar 16).

Gambar 16. Pasien sebelum operasi


Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada pemeriksaan wajah tandatanda kelumpuhan saraf fasialis tidak ditemukan. Hasil BAJAH tanggal 21 Juli 2009 dengan

register no S.853.09, kesannya adalah tumor campur kelenjar liur dan tidak tampak sel-sel
ganas (gambar 17).

Gambar 17. Sitologi tumor campur kelenjar liur


Saat itu ditegakkan diagnosis tumor campur (mixed tumor) parotis sinistra. Rencana
dilakukan pemeriksaan CT Scan, pemeriksaan darah rutin, kimia darah, fungsi hati, dan
ginjal, Rontgen torak PA, EKG, untuk persiapan parotidektomi dalam narkose umum. Pada
tanggal 25 Juli 2009 didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium darah didapatkan hasil yang
normal yaitu; haemoglobin 14,8gr%, leukosit 8.300/mm3, trombosit 210.000, hematokrit
45%, PT 10,5 APTT 33,5, Gula darah random 153mg/dl, SGOT/SGPT 28/26 u/l, alkali
fosfatase 213, ureum 36 mg/dl, kreatinin 0,7 mg/dl, natrium (Na+) 143nmol/L, kalium (K+)
4,3 nmol/L, chlorida (Cl-) 101 nmol/L. Dari CT Scan parotis terlihat
massa isoden inhomogen dengan batas tegas, tepi irreguler disertai kalsifikasi, massa meluas
ke daerah parafaring dan subkutis. Tidak nampak pembesaran kelenjar limfa leher. Kesan
adalah tumor parotis (Gambar 18).

Gambar 18. CT Scan parotis potongan koronal

Direncanakan untuk dilakukan parotidektomi. Berdasarkan konsul dengan bagian Penyakit


Dalam saat ini dapat dilakukan tindakan operasi dalam narkose dengan risiko rendah. Tanggal
25 Agustus 2009 dilakukan operasi pengangkatan tumor parotis dalam narkose.
Laporan operasi:
Pasien tidur telentang di meja operasi dalam narkose
Dilakukan aseptik antiseptik pada daerah operasi.
Dibuat insisi kulit pada daerah preaurikuler setinggi tragus dari kranial ke kaudal
melingkari ujung kaudal daun telinga sampai pada tip mastoid dan dilanjutkan ke kaudal
mengikuti kerutan kulit angulus mandibula sepanjang 1/3 panjang angulus mandibula, irisan
dilanjutkan kearah kaudal sepanjang otot sternokleimomastoideus.
Kulit dipisahkan secara tumpul dari jaringan di bawahnya.

Terlihat massa tumor dengan ukuran yang cukup besar melengket pada parotis pada
bagian posteroinferior sehingga mendorong kelenjar parotis kearah anterosuperior. Tumor
terlihat berkapsul.

Dilakukan pembebasan massa tumor dari daerah sekitarnya seperti dari otot
sternokleidomastoideus, dan daerah angulus mandibula.

Massa tumor dibebaskan secara tumpul dari kelenjar parotis. Saraf fasialis tidak dapat
diidentifikasi karena kelenjar parotis telah terdorong ke anterosuperior sehingga menyulitkan
mencari landmark saraf fasialis.

Dilakukan pembebasan massa tumor dari otot-otot digastrik, maseter dan


stilohioideus. Massa tumor dapat diangkat secara komplit. Didapatkan massa tumor berkapsul
permukaan berlobus-lobus, konsistensi kenyal padat, ukuran 10cmx8cmx7cm (gambar 19).

Perdarahan diatasi, dilakukan penjahitan lapis demi lapis, dipasang salir.

Operasi selesai.

Gambar 19. Adenoma Plemorfik parotis


Terapi diberikan antibiotik ceftazidime 2 x 1 gr IV, gentamisin 2x80gr IV dan analgetik
tramadol drip dalam ringer laktat 16 tetes per menit. Kondisi umum pasien baik, kesadaran
baik dan kooperatif, tidak ditemukan adanya perdarahan dari luka operasi, tidak ada tanda
kelumpuhan saraf fasialis, tidak ada demam. Perdarahan melalui salir sebanyak 18 cc. Hasil
pemeriksaan laboratorium darah rutin pasca operasi adalah haemoglobin 11,8g%, leukosite
12.800/mm3, trombosit 254.000/mm3. Terapi antibiotik dilanjutkan, analgetik diganti dengan
asam mefenamat 3x500mg peroral.
Pada hari ke tiga pasca operasi didapatkan kondisi umum pasien baik, tidak demam,
tidak ada tanda-tanda kelumpuhan saraf fasialis (gambar 20). Pada pemeriksaan lokalis
daerah parotis kiri luka operasi kering, ditemukan edema, tidak terdapat fluktuasi, tidak
ditemukan tanda tanda infeksi. Pada kantong salir didapatkan darah 8 cc. Terapi antibiotik
dan analgetik dilanjutkan. Salir dilepas.

Gambar 20. Penilaian fungsi motorik saraf fasialis


Pada hari keenam pasca operasi, kondisi umum pasien baik, tidak ada demam, luka
operasi kering dan tidak ada fluktuasi. Jahitan dilepas selang seling. Terapi ceftazidime 2x1gr
IV dan asam mefenamat jika perlukan.
Pada hari kedelapan tanggal 2 September 2009, jahitan sudah dibuka seluruhnya, kondisi
umum pasien baik, tidak ada demam, tidak ada kelumpuhan saraf fasialis, tidak ada
kemerahan ataupun keringat pada daerah parotis kiri saat mengunyah. Luka operasi baik.
Tidak ada keluhan dalam membuka mulut. Tidak ada muncul pembengkakan di daerah
parotis kiri.
Hasil pemeriksaan histopatologi tumor adenoma pleomorfik parotis tidak ditemukan
tanda-tanda ganas. Pasien boleh pulang, dan dianjurkan untuk kontrol 1 minggu lagi. Pada
tanggal 9 september dan 28 September, pasien kontrol di poliklinik THT-KL. Didapatkan
kondisi umum pasien baik, luka operasi baik tidak terdapat fistula (gambar 21). Tidak
ditemukan adanya keringat ataupun kemerahan pada daerah parotis kiri saat mengunyah.
Tidak ada keluhan membuka mulut. Tidak ditemukan adanya fistula. Tidak ada muncul
pembengkakan di daerah parotis kiri. Pasien dianjurkan untuk kontrol 1 bulan lagi.

Gambar 21. Satu bulan pasca operasi

DAFTAR PUSTAKA
Atmadja I., 1984, Marsupialisasi Ranula, Forum Ilmiah 1984 FKG UniversitasTrisakti. Jakarta. 1984.
h: 567-569.
Capaccio P, Monfort A, Moroni M, Ottaviani F. Salivary Stone Lithtoripsy in The HIV Patient. Oral
Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology & Endodonties, 2002; 93(5):525527.
DeBurgh NJE dan McGurk M. 1995. Extracorporeal Piezoelectric Shockwave Lithotripsy (ESWL)
of Salivary Duct Stones (Sialolithotripsy). In: Color Atlas and Text Books of Salivary Duct
and Lacrimal, Glands Ist Ed, Mosby- Wolfe, London.
Firdaus MA dan Pulungan MR. 2010. Penatalaksanaan Adenoma Pleomorfik. Jurnal Bagian Telinga
Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher: 1-9.
Greenberg MS, Glick M, Ship JA. 2008. Burkets Oral Medicine 11th Ed. BC Decker Inc. Hamilton.
Jaishankar S, Manimaran, Kannan, Mabel C. 2010. Ranula: A Case Report. JIADS 1: 51-53.
Pagare SS, Krishnamurthy V, Dua S. 2008. Submandibular Sialolithiasis: A Case Report. Scientific
Journal 2: 1-5.
Shehata E.A, and Hassan H.S., 2008, Surgical Treatment of Ranula: Comparison between
Marsupialization and Sublingual Sialadenectomy in Pediatric Patients, Annals of Pediatric
Surgery 4(3&4) 89-93
Siddiqui

SJ.
Sialolithiasis: An Usually Large Submandibular Salivary Stone. British
Journal, 2002; 1193:89-91.

Dental

Tamin S dan Yassi D. 2010. Penyakit Kelenjar Saliva dan Peran Sialoendoskopi untuk Diagnostik dan
Terapi. J.THT UI: 1-16.
Vorvick LJ. 2011. Salivary Gland Disorders. American Accreditation HealthCare Commission: 114121.
Zorzetto DL, Marzola C, Toledo-Filho JL, Azenha MR, Cavalieri-Pereira L, Silva-Rosa LP. 2010.
Ranula Surgical Treatment by The Marsupialization Technique. J. Surg: 309-315.
KELAINAN KELENJAR SALIVA
Posted by De Haantjes van Het Oosten in Jul 08, 2012, under Tak Berkategori

Glandula saliva atau kelenjar saliva merupakan organ yang terbentuk dari sel-sel khusus
yang mensekresi saliva.
Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri dari campuran
sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor) yang ada pada mukosa oral.
Fungsi saliva itu sendiri adalah:
1. Melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah dan
menelan makanan
2. Membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun cair
sehingga mudah ditelan dan dirasakan
3. Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman
4. Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer
5. Membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase
ludah) dan lipase ludah
6. Berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor
pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva
7. Jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air
dalam tubuh.
8. Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah)
KLASIFIKASI GLANDULA SALIVA
Klasifikasi Glandula Saliva berdasarkan ukuran :
1. Glandula saliva Mayor
2. Glandula saliva Minor
Glandula saliva mayor terdiri dari :
1. Glandula Parotis
2. Glandula Submandibularis
3. Glandula Sublingualis
Glandula saliva minor terdiri dari:
1. Glandula Labial Superior inferior
2. Glandula Bucalis Minor
3. Glandula Palatina

4. Glandula Lingualis anterior


5. Glandula Lingualis Posterior
6. Glandula Glossopalatinus
Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat
merujuk pada kondisi yang menyebabkanpembengkakan atau nyeri.
Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain; mucocele, ranula, sialadenitis,
sjorgen syndrome dan sialorrhea.
1.

MUCOCELE

Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibatkan oleh pecahnya
saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. Mucocele bukan
kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel. Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal,
anterior lidah, dan dasar mulut. Mucocele terjadi karena pada saat air liur kita dialirkan dari
kelenjar air liur ke dalam mulut melalui suatu saluran kecil yang disebut duktus. Terkadang
bisa terjadi ujung duktus tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit secara
tidak sengaja, sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan
menyebabkan pembengkakan (mucocele). Mucocele juga dapat terjadi jika kelenjar ludah
terluka. Manusia memiliki banyak kelenjar ludah dalam mulut yang menghasilkan ludah.
Ludah tesebut mengandung air, 3iopsy, dan enzim. Ludah dikeluarkan dari kelenjar ludah
melalui saluran kecil yang disebut duct (pembuluh).
Terkadang salah satu saluran ini terpotong. Ludah kemudian mengumpul pada titik yang
terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan, atau mucocele. Pada umumnya mucocele
didapati di bagian dalam bibir bawah. Namun dapat juga ditemukan di bagian lain dalam
mulut, termasuk langit-langit dan dasar mulut. Akan tetapi jarang didapati di atas lidah.
Pembengkakan dapat juga terjadi jika saluran ludah (duct) tersumbat dan ludah mengumpul
di dalam saluran.
Etiologi
Umumnya disebabkan oleh trauma 4iops, misalnya bibir yang sering tergigit pada saat sedang
makan, atau pukulan di wajah. Dapat juga disebabkan karena adanya penyumbatan pada
duktus (saluran) kelenjar liur minor. Mucocele Juga dapat disebabkan oleh obat-obatan yang
mempunyai efek mengentalkan ludah.
Gambaran Klinis

Batas tegas

konsistensi lunak

Warna transluscent

Ukuran biasanya kecil

Tidak ada keluhan sakit

kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi

Diagnosis
Diagnosis mukokel bisa secara langsung dari riwayat penyakit, keadaan klinis dan palpasi.
Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah :

Melakukan anamnesa lengkap dan cermat secara visual

Bimanual palpasi intra & extraoral

Aspirasi

Melakukan pemeriksaan laboratories

Pemeriksaan radiologis dengan kontras media

Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsy/PA

Differential Diagnosa
Differential diagnosis dari mukokel adalah sebagai berikut :

Adenoma Pleomorfik

Suatu nodula keras kebiru-biruan

Kista Nasolabial

Suatu nodula berfluktuasi pada palpasi

Kista Implantasi

Penatalaksanaan
Mucocele adalah lesi yang tidak berumur panjang, bervariasi dari beberapa hari hingga
beberapa minggu, dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun banyak juga lesi yang
sifatnya kronik dan membutuhkan pembedahan eksisi. Pada saat di eksisi, dokter gigi
sebaiknya mengangkat semua kelenjar liur minor yang berdekatan, dan dilakukan
pemeriksaan mikroskopis untuk menegaskan Biopsy dan menentukan apakah ada
kemungkinan tumor kelenjar liur. Selain dengan pembedahan, mucocele juga dapat diangkat
dengan laser. Beberapa dokter saat ini ada juga yang menggunakan menggunakan injeksi
Kortikosteroid sebelum melakukan pembedahan, ini terkadang dapat mengempiskan
pembengkakan. Jika berhasil, maka tidak perlu dilakukan pembedahan. Penatalaksanaan

mukokel biasanya dilakukan dengan eksisimukokel dengan modifikasi teknik elips. yaitu
setelah pemberian anesthesi lokal dibuat dua insisi elips yang hanya menembus mukosa,
kemudian lesi dipotong dengan teknik gunting lalu dilakukan penjahitan.
2. RANULA
Etiologi Dan Patogenesis
Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major yang membesar
atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar terhalangnya aliran liur yang
sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar submandibuler (duktus Wharton), sehingga
melalui rupture ini air liur keluar menempati jaringan disekitar saluran tersebut. Selain
terhalangnya aliranliur, ranula bisa juga terjadi karena trauma dan peradangan.
Ranulamirip dengan mukokel tetapi ukurannya lebih besar.
Bila letaknya didasar mulut, jenis ranula ini disebut ranulaSuperfisialis. Bila kista
menerobos dibawah otot milohiodeusdan menimbulkan pembengkakan submandibular,
ranula jenisini disebut ranula Dissecting atau Plunging.
Gambaran Klinis
Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar (Rana=Kodok)

Dinding sangat tipis dan mengkilap

Warna translucent

Kebiru-biruan

Palpasi ada fluktuasi

Tumbuh lambat dan expansif

Diagnosis
Diagnosis mukokel bisa secara langsung daririwayat penyakit, keadaan klinis dan palpasi.
Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah :

Melakukan anamnesa lengkap dan cermat Secara visual

Bimanual palpasi intra & extraoral

Punksi dan aspirasi

Melakukan pemeriksaan laboratories

Pemeriksaan radiologis dengan kontras media

Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsy/PA

Differential Diagnosa
-

Kista Dermoid

Kista dermoid yang tampak sebagai suatu pembengkakan jaringan lunak dalam mulut
-

Batu kelenjar liur (sialolit)

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ranula biasanya dilakukan dengan caramarsupialisasi ranula atau
pembuatan jendela pada lesi.Biasanya menggunakan anestesi blok lingual ditambah
denganinfiltrasi regional. Di sekitar tepi lesi ditempatkan rangkaianjahitan menyatukan
mukosa perifer dengan mukosa lesi danjaringan dasar lesi. Kemudian dilakukan juga
drainase denganpenekanan lesi. Setelah itu dilakukan eksisi pada atap lesisesuai dengan
batas penjahitan kemudian lesi ditutup dengan tampon.
3. SIALADENITIS
Sialadenitis adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, biasanya disebabkan oleh batu
yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. Proses inflamasi yang melibatkan kelenjar
ludah disebabkan oleh banyak faktor etiologi. Proses ini dapat bersifat akut dan dapat
menyebabkan pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Keterlibatannya
dapat bersifat unilateral atau bilateral seperti pada infeksi virus. Sedangkan Sialadenitis
kronis nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus karena sialolithiasis atau radiasi
eksternal atau mungkin spesifik,yang disebabkan dari berbagai agen menular dan gangguan
imunologi.
Etiologi
Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran tetapi dapat
berkembang tanpa penyebab yang jelas. Terdapat tiga kelenjar utama pada rongga
mulut,diantaranya adalah kelenjar parotis, submandibular, dan sublingual. Sialadenitis
paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur
50-an sampai 60-an, pada pasien sakit kronis dengan xerostomia, pasien dengan sindrom
Sjgren, dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut. Remaja dan
dewasa muda dengan anoreksia juga rentan terhadap gangguan ini. Organisme yang
merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah Staphylococcus aureus;
organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan berbagai bakteri anaerob.
Gejala Umum
meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, terdapat pembuangan pus
dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah, demam, menggigil dan malaise
(bentuk umum rasa sakit).
Penatalaksanaan

Perawatan awal harus mencakup hidrasi yang memadai, kebersihan mulut baik, pijat
berulang pada kelenjar, dan antibiotik intravena. Evaluasi USG atau computed tomography
(CT) akan menunjukkan apakah pembentukan abses telah terjadi. Sialography merupakan
kontraindikasi.Insisi dan drainase paling baik dilakukan dengan mengangkat penutup
parotidectomy standar dan kemudian menggunakan hemostat untuk membuat beberapa
bukaan ke dalam kelenjar, tersebar di arah umum dari syaraf wajah. Sebuah saluran
kemudian ditempatkan di atas kelenjar dan luka tertutup. Dalam beberapa kasus,
dimungkinkan untuk melakukan aspirasi jarum yang dipandu CT atau USG-pada abses
parotis, yang dapat membantu menghindari prosedur operasi terbuka. Hal ini juga untuk
diingat bahwa fluktuasi kelenjar parotis tidak terjadi sampai fase sangat terlambat karena
beberapa investasi fasia dalam kelenjar. Jadi, adalah mustahil untuk menentukan adanya
pembentukan abses awal berdasarkan pemeriksaan fisik saja.
4. SJORGEN SYNDROME
Sjorgen syndrome merupakan suatiupenyakit auto imun yang ditandai oleh produksi
abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap berbagai jaringan tubuh.
Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada kelenjar saliva yang dapat
menyebabkan mulut kering dan bibir kering
Diagnosis
Peradangan kelenjar saliva dapat dideteksi dengan radiologic scan, juga dapat dilihat
dengan berkurangnya kemampuan kelenjar saliva memproduksi air liur. Dapat juga
didiagnosis dengan cara biopsi. Untuk mendapatkan sampel biopsi, biasa diunakan pada
kelenjar dari bibir bawah. Prosedur biopsi kelenjar saliva bibir bawah diawali dengan
anastesi lokal kemudian dibuat sayatan kecil dibagian dalam bibir bawah.
Gejala
Gejala dari sjorgen syndrome antara lain; mulut kering, kesulitan menelan, kerusakan gigi,
penyakit gingiva, mulut luka dan pembengkakan, dan infeksi pada kelenjar parotis bagian
dalam pipi.
Penatalaksanaan
Mulut yang kering dapat dibantu dengan minum air yang banyak dan perawatan gigi yang
baik untuk menghindari kerusakan pada gigi. Kelenjar dapat dirangsang dengan menghisap
tetesan air lemon tanpa gula atau gliserin pembersih.
Perawatan tambahan untuk gejala mulut kering adalah obat resep untuk menstimulasi air
liur seperti pilocarpine dan ceuimeline. Obat-obatan ini harus dihinari oleh orang yang
berpenyakit jantung, asma, dan glukoma.
Penyebab
Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, ada dukungan ilmiah yang menyatakan bahwa
penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor genetik yang dapat memicu

terjadinya sjorgen syndrome, karena penyakit ini kadang-kadang penyakit ditemukan pada
anggota keluarga lainnya. Hal ini juga ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki
penyakit autoimun lainnya seperti lupus eritematous sistemik, autoimun penyakit tiroid,
diabetes, dll.
5. SIALORRHEA
Sialorrhea adalah suatu kondisi medis yang detandai dengan menetesnya air liur atau sekresi
saliva yang berlebihan.
Penyebab
Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan neurologis, infeksi
atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping dari obat-obatan tertentu.
Penatalaksanaan
Pengobatan dan perawatan sialorrhea biasanya tergantung pada sumber penyebabnya.
Apabila disebabkan oleh efek samping obat-obatan maka penanggulangannya hanya sebatas
mengatur kelebihan sekresi saliva. Pada tahap awal dapat diberikan obat, jika terjadi dalam
jangka waktu yang lama dapat dilakukan operasi dengan mengangkat satu atau lebih
glandula salivarius mayor.
PENUTUP
Pada gangguan kelenjar saliva seringkali ditemukan gejala seperti pembengkakan pada
wajah,pembengkakan pada telinga, sakit diwajah, kesulitan membuka mulut dan mulut
kering.
Gangguan kelenjar liur dapat dicegah sekaligus dirawat dengan mengkonsumsi makanan
atau cairan yang dapat merangsang produksi saliva seperti makanan yang asam dan tetesan
air lemon. Selain itu dapat dilakukan pijatan kelenjar liur yang dapat meningkatkan aliran dan
membantu mencegah infeksi.
Sumber : Kuliah Bedah Mulut.