Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PERCOBAAN INTI

PERBEDAAN PROTEKSI RADIASI ANTARA


ALUMUNIUM (Al) dan TIMBAL (Pb)

Disusun Oleh:
KELOMPOK 2
Mela Yusvarina

( 12306141002)

Siti Khoerunisa

(12306141014)

Mahmudah S

(12306141031)

Rahmat Yudha K

(12306141037)

Retno Damayanti

(12306141039)

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA


2015
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Radiasi dari suatu bahan raioaktif tidak dapat dilihat oleh manusia. Jika radiasi
mengenai tubuh manusia, ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi: berinteraksi dengan
tubuh manusia, atau hanya melewati saja. Jika berinteraksi, radiasi dapat mengionisasi
atau dapat pula mengeksitasi atom. Setiap terjadi proses ionisasi atau eksitasi, radiasi
akan kehilangan sebagian energinya. Energi radiasi yang hilang akan menyebabkan
peningkatan temperatur (panas) pada bahan (atom) yang berinteraksi dengan radiasi
tersebut. Dengan kata lain, semua energi radiasi yang terserap di jaringan biologis
akan muncul sebagai panas melalui peningkatan vibrasi (getaran) atom dan struktur
molekul. Ini merupakan awal dari perubahan kimiawi yang kemudian dapat
mengakibatkan efek biologis yang merugikan. (www.efek.radiasi.com)
Untuk mengurangi dampak radiasi di sekeliling kita ,perlu adanya suatu bahan
penghalang yang mampu mengurangi jumlah radiasi ke tubuh kita. Dalam percobaan
ini, dilakukan cacah radiasi menggunakan detector Geiger Muller dan variasi
ketebalan bahan penghalang. Percobaan ini bertaan untuk mencari nilai atenuasi suatu
bahan.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui hubungan ketebalan bahan (Al dan Pb) terhadap cacah radiasi
sinar .
2. Untuk menentukan koefisien abasorbsi (atenuasi) alumunium dan timbal.
3. Untuk menentukan bahan terbaik antara Al dan Pb sebagai absorbter radiasi sinar
gamma.
C. Alat dan bahan
1. Satu set detektor geiger muller
2. Pengeras suara counter bejana tipis
3. Penjepit tabung counter
4. Lempeng timbal (Pb) dan alumunium (Al) dengan berbagai ketebalan

5. Penjepit
6. Sumber radioaktif Sr 90

D. Langkah Kerja

Skema percobaan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan


Menset alat dan bahan sperti skema diatas
Menentukan cacah latar
Mencacah radiasi sinar gamma dengan memvariasi ketebalan bahan penghalang
Membuat grafik hubungan antara ketebalan bahan dengan cacah radiasi.
Menentukan nilai atenuasi bahan.

BAB II
DASAR TEORI

1. Radiasi
Radiasi dari bahan radioaktif tidak dapat dilihat dengan mata biasa, sehingga untuk
mendeteksinya harus digunakan alat. Alat yang dapat mendeteksi radiasi disebut detektor
radiasi. Salah satu jenis detektor radiasi yang pertama kali diperkenalkan dan sampai saat
ini tetap digunakan adalah detektor ionisasi gas. Detektor ini memanfaatkan hasil interaksi
antara radiasi dengan gas yang dipakai sebagai detektor. Radiasi yang masuk ke dalam
detektor dapat mengakibatkan terlepasnya electron-elektron dari atom gas, sehingga
terbentuk pasangan ion positif dan ion negatif. Karena bahan detektornya berupa gas maka
detektor radiasi ini disebut detektor ionisasi gas.
Pencacah GM dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan partikel ,, dan .
Pencacah silinder terbuat dari dua bagian, tabung dan pencacah seperti pada gambar 1.1.
Tabung tersebut berbentuk silinder terbuat dari bahan gelas yang bagian dalamnya dilapisi
lapisan logam yang berfungsi sebagai katoda. Sepanjang sumbu di tengah tabung terdapat
kawat logam halus yang berfungsi sebagai anoda. Antara anoda dan katoda diberi tegangan
tinggi. Di dalam tabung berisi gas mulia (argon atau helium) bertekanan rendah kira-kira 10
cmHg atau gas poliatomik (alkohol atau quenching gases) bertekanan kira-kira 1 cmHg.
Salah satu ujung tabung (end window) tertutup oleh bahan mika yang tipis. Melalui ujung
tabung tersebut

partikel-partikel ,, dan masuk ke dalam tabung, kemudian

mengionisasikan atom-atom gas di dalamnya. Ion-ion positif yang terjadi akan bergerak ke
katoda, sedang ion-ion negatif bergerak ke anoda. Bila ion-ion tersebut sampai anoda dan
katoda maka terjadilah pulsa-pulsa. Pulsa tersebut kemudian diteruskan ke pencacah untuk
dihitung. Pencacah akan menghitung setiap kali radiasi mengionisasi gas.
Radiasi adalah pancaran energy dari suatu sumber energy ke lingkungannya. Radiasi
tidak dapat dideteksi oleh indra manusia, sehingga untuk mengenalinya diperlukan suatu
alat bantu pendeteksi yang disebut dengan detektor radiasi. Ada beberapa jenis detektor
yang secara spesifik mempunyai kemampuan untuk melacak keberadaan jenis radiasi
tertentu yaitu detektor alpha, detektor gamma, detektor neutron, dll. Radiasi dapat
berinteraksi dengan materi yang dilaluinya melalui proses ionisasi, eksitasi dan lain-lain.
Dengan menggunakan sifat-sifat tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk
membuat detektor radiasi.

Gambar 1. Radiasi , dan


Beberapa jenis radiasi dari radioaktif, yaitu radiasi alpha, betha dan gamma. Radiasi
alpha pada umumnya dipancarkan oleh elemen berat, yaitu unsure yang nilai massanya
besar, tetapi tenaga ikatnya rendah. Radiasi alpha ini daya jangkauannya atau daya
tembusnya sangat rendah sekali. Hal ini disebabkan karena radiasi alpha bermassa 4 dan
bermuatan positif, padahal di alam banyaj sekali electron bebas yang bermuatan negative,
sehingga mudah sekali dihentikan oleh elketron-elektron tersebut. Geraknya lambat karena
massanya 4 (relatif berat). Radiasi alpha memiliki jangkauan di udara yang sangat pendek,
sekitar 2-3 cm, sehingga untuk perlindungan diri (proteksi radiasi) terhadap radia alpha bisa
dihentikan dengan menutup memakai sehelai kertas.
Radiasi beta sebenarnya ada dua macam, yaitu Beta min dan Beta plus yang keduanya
memilki sifat berlainan. Pemakaina mindan plus adalah untuk menyatakan muatan listrik
yang dibawa oleh zarah radiasi beta.ditinjau darisegi struktu atomnya, radiasi beta min ini
terjadi pada atom yang kelebihan electron. Radiasi beta min pada umumnya disertai juga
dengan radiasi gamma. Radiasi beta plus serupa dengan pancaran elktron positif atau
positron dari inti atom. Radiasi beta plus terjadi pada atom yang kelebihan potron.
(sumber: Sita Ari Imamah/ academia edu/ Fisika_Dasar_2_-_Dasar_teori_bab_Radioaktif)
2. Radiasi Sinar Gamma
Hukum Kuadat Balik
Hukum kuadrat balik merupakan besarnya suatu kuantitas atau kekuatan fisika
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumber pemancarnya. Umumnya berlaku
ketika suatu gaya, energi, atau kuantitas kekal lainnya dipancarkan secara radial dari
sumbernya. Dalam hal ini radiasi gamma dari sumber radiasi terpancar ke segala arah,
intensitas radiasi gamma di suatu titik akan menjadi lemah karena berbanding terbalik
dengan kuadrat jaraknya dari sumber radiasi. Untuk radiasi gamma yang mempunyai
aktivitas 1 Currie, persentase paparan radiasinya pada titik yang berjarak 1 m disingkat
rhm (Rontgen per jam pada jarak 1 m), yang disebut juga konstanta gamma.

Penyerapan Radiasi Sinar Gamma


Jika radiasi gamma dengan intensitas tertentu menembus bahan penahan, maka

intensitas radiasinya akan berkurang secara eksponensial sebanding dengan tebal bahan
penahan. Koefisien pengurangan intensitas radiasi gamma yang berenergi antara 1-3 MeV
tidak berubah karena tebal bahan, sehingga dapat dianggap bahwa kemampuan
penahanan hanya berkaitan dengan rapat jenis materi.
Koreksi Hamburan
Pengurangan intensitas radiasi apabila melalui suatu materi, berlaku ketika berkas
radiasi sejajar melewati celah bahan penahan. Radiasi yang terhambur dalam materi akan
menjadi banyak bila bahan penahan semakin tebal. Sehingga, intensitas yang dihasilkan
akan lebih rendah daripada intensitas radiasi yang dihitung dengan hukum eksponensial.
Pengaruh radiasi yang telah terhambur dikoreksi menggunakan koefisien build up.
Koefisien build up bergantung pada energi radiasi, tebal materi yang dilewati dan
geometri sumber radiasi.
3. Strotium
a. Sifat Kimia dan Fisika Strotium
Strotium merupakan logam alkali tanah lunak dan berwarna perak kekuningan.
Strotium memiliki tiga bentuk kristal alatropik dengan sifat fisik dan kimia mirip
dengan kalium dan barium. Unsur uni cepat bereaksi dengan air dan udara sehingga
harus disimpan dalam wadah yang tidak memungkinkan kontak dengan air dan udara.
Ketika berinteraksi dengan udara, maka strotium akan menghasilkan strotium oksida
dan strotium nitrida. Strotium umumnya terjadi di alam, berkontribusi terhadap sekitar
0,0034% dari semua batuan beku dan hadir dalam bentuk mineral SrSO4 dan SrSO3
b. Penggunaan strotium
Strotium memiliki penggunaan mirip dengan bahan kalium dan barium. Namun
jarang digunakan karena biayanya yang tidak murah. Penggunaan utama senyawa
Strotium adalah dalam pyrotecnic (untuk memunculkan warna merah cemerlang
dalam kembang api dan flare). Selain itu manfaat lainya yaitu untuk menghilangkan
udara atau gas lain yang tertinggal dalam vakum. Meskipun strotium ini merupakan
isotop radioaktif berbahaya, namun memiliki banyak manfaat dalam kehidupan.
Radiasi tertinggi yang dipunyainya dapat menghasilkan

arus listrik sehingga

digunakan dalam kendaraan ruang angkasa, stasium cuaca terpencil dan pelampungan
navigasi.
c. Efek Kesehatan dan Dampak Lingkungan Strotium

Senyawa strotium yang tadinya tidak dapat larut dalam air dapat menjadi larut
dalam air sebagai hasil dari reaksi kimia. Senyawa-senyawa yang larut dalam air
menjadi ancaman yang lebih besar dari pada bentuk padatan.meskipun hanya sedikit
unsur yang mencemari air minum ini akan sangat berbahaya. Efek dari radiasi stritium
pada anak akan menimbulkan masalah dalam pertumbuhan tulang. Selain itu juga
dapat menyebabkan anemia dan kekurangan oksigen. Dalam konsentrasi yang sangat
tinggi dapat menyebabkan kanker dan mutasi gen.
Dalam lingkungan radiasinya dapat mencemari udatra, air, batuan dan
tanah.Senyawa strotium pada udara vbiasanya dihasilkan dari pembakaran batu bara
dan minyak bumi. Elain itu juga dari kebocoran radioaktif dan pengujian bom nukllir.
(sumber: AMAZINE online knowledge:Sifat, Kegunaan dan Efek Kesehatanya)
4.

Bahan alumunium dan Timbal


a. Alumunium
Aluminium adalah logam yang ringan dan cukup penting dalam kehidupan
manusia. Aluminium merupakan unsur kimia golongan IIIA dalam sistim periodik unsur,
dengan nomor atom 13 dan berat atom 26,98 gram per mol (sma). Di dalam udara bebas
aluminium mudah teroksidasi membentuk lapisan tipis oksida (Al2O3) yang tahan
terhadap korosi. Aluminium juga bersifat amfoter yang mampu bereaksi dengan larutan
asam maupun basa.
b. Timbal
Timbal atau dalam keseharian lebih dikenal dengan nama timah hitam.Dalam bahasa
ilmiahnya dinamakan Plumbum, dan logam ini disimbolkandengan Pb. Logam ini
termasuk kedalam kelompok logam-logam golonganIV-A pada tabel periodik unsur
kimia. Mempunyai unsur atom (Na)82 dengan bobot atau berat atom (Ba)207,2.

5. Atenuasi Bahan
Peristiwa absorbsi adalah saat energy radiasi beta mengenai medium. Berbeda dengan
radiasi partikel bermuatan (a atau b), daya tembus radiasi gamma dan sinar-X sangat
tinggi bahkan tidak dapat diserap secara keseluruhan.

Gambar 2. Penyerapan Radiasi Gelombang Elektromagnetik

Bila sinar dijatuhkan pada suatu bahan, sinar akan berinteraksi dengan bahan
melalui efek fotolistrik, efek Compton, atau efek terjadinya pasangan ion. Efek-efek
tersebut mungkin terjadi bersama-sama, mungkin juga hanya satu atau dua dari tiga efek
tersebut, bergantung pada energi sinarnya. Interaksi antara sinar dengan bahan tersebut
menyebabkan berkuran gnya intensitas sinar secara eksponensial, menurut :
Hubungan antara intensitas radiasi yang datang (I 0) dan intensitas yang
diteruskan (Ix) setelah melalui bahan penyerap setebal x adalah sebagai berikut.
I =I 0 et
(1)
adalah koefisien serap linier bahan terhadap radiasi gamma dan sinar-X.
sangat dipengaruhi oleh jenis bahan penyerap, nomor atom (Z) dan densitas (r) serta
energi radiasi yang mengenainya. Nilai tebal bahan penyerap dapat dalam satuan
panjang (mm ; cm) ataupun dalam satuan massa persatuan luas (gr/cm 2). Terlihat bahwa
persamaan (1) di atas merupakan persamaan eksponensial seperti persamaan peluruhan
radioaktif sehingga dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3. Kurva intensitas radiasi yang diteruskanoleh bahan penyerap

Bila di peluruhan radioaktif dikenal istilah waktu paro, disini terdapat istilah tebal
paro (HVL = half value layer) yaitu tebal bahan yang dapat menyerap separo dari intensitas
mula-mula atau intensitas yang diteruskan tinggal separonya. Istilah lain adalah TVL (tenth
value layer) yaitu tebal bahan yang dapat menyerap 90% intensitas mula-mula atau intensitas
yang diteruskan tinggal sepersepuluh (10%) nya. Nilai HVL dan TVL suatu bahan ditentukan
dari koefisien serap linier () nya dengan persamaan berikut.
0,693
2,303
HVL=
; TVL=

(2)
Perhitungan intensitas radiasi yang masih diteruskan setelah melalui suatu bahan
penyerap (penahan radiasi) lebih mudah bila menggunakan konsep HVL dan TVL ini
dibandingkan harus menggunakan persamaan dasarnya
1 n
1 m
I x=
I 0; I x =
I0
2
10

()

( )

Dimana n adalah jumlah HVL (x / HVL) sedangkan m adalah jumlah TVL (x / TVL).

Nomwe N-latar
1
5
2
3
3
4
4
2
5
2
6
5
7
2
A.
8
2
9
3
10
2
11
2
Rata- 2.9090
rata
91

BAB III
DATA DAN PEMBAHASAN
Data hasil percobaan
Cacah latar

(3)

B. Alumunium

Nomer
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Ratarata

0
731
715
679
697
718
673
712
697
649
731
700.2

Ketebala
n
bahan(m
m)
0
1.1
2.55
3.85
4.95
6.05

Ketebalan bahan alumunium(mm)


1.10
2.55
3.85
4.95
6.05
mm
mm
mm
mm
mm
89
9
7
3
3
97
9
6
2
6
87
6
2
2
6
68
8
2
4
6
84
8
8
8
4
90
5
5
7
1
74
10
4
6
3
70
10
4
4
2
86
10
9
2
3
82
6
3
3
7
82.7

N-N0
(cacah/1
0s)
697.290
9
79.7909
1
5.19090
9
2.09090
9
1.19090
9
1.19090
9

8.1

4.1

4.1

Dianalisis menggunakan origin


Grafik Hubungan antara Ketebalan alumunium dengan cacah radiasi/10 s
B
B

Cacah radiasi/10s atau (N-N o)/10 s

800
700

Data: Data1_B
Model: ExpDec1

600

Chi^2/DoF
= 1.52743
R^2
= 0.99998

500

y0
A1
t1

0
0
697.28325
0.50775

1.23585
0.00362

400
300
200
100
0
-100
0

ketebalan alumunium (mm)

y= y 0 + Aex

y= y 0 + Ae

1
x
t

koefisien atenuasi =

1
t

1
1
=
=
1.970443/mm
t 1 0,50775

C. Timbal
Ketebalan bahan(mm)
Nomer
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Ratarata

Keteb
alan
bahan
(mm)
0
1.45
2.45
3.75
6.25
8.25

0
731
715
679
697
718
673
712
697
649
731
700,2

N-N0
(cacah
/10s)
697.2
909
1.390
909
0.490
909
0.090
909
0.309
09
0.009
09

1.45
6
3
6
5
6
2
5
4
4
2
4.3

2.45
3
5
3
3
1
5
2
6
3
3
3.4

3.75
2
2
7
1
1
3
1
7
2
4
3

6.25
2
4
2
4
2
3
0
2
2
5
2.6

8.25
5
3
2
6
2
1
1
3
4
2
2.9

Grafik Hubungan antara Ketebalan timbal dengan cacah radiasi/10 s


B
B

800

cacah radiasi/ 10 s atau (N-N0)/10 s

700

Data: Data1_B
Model: ExpDec1

600

Chi^2/DoF
R^2
= 1

500

y0
A1
t1

400

= 0.08159

0
0
697.2909
0.23352

300
200
100
0
-100
0

ketebalan timbal (mm)

y= y 0 + Aex

y= y 0 + Ae

1
x
t

0.28563
0.00766

koefisien atenuasi =

1
t

1
1
=
=
4.282288/mm
t 1 0,23352

Berdasarkan analisis data diatas,diketahui bahwa nilai koefisien serapan bahan timbal lebih
besar dibandingkan dengan alumunium. Karena intensitas yang diteruskan merupakan fungsi
t
exponensial I 0 e

. Sehingga semakin besar koefisien serapan ( ) semakin kecil intensitas

yang teruskan. Dengan kata lain semakin kecil intensitas yang diteruskan maka semakin banyak
radiasi yang diserap oleh bahan tersebut.

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:


1. Hubungan antara ketebalan bahan dan cacah radiasi merupakan fungsi eksponensial

Grafik Hubungan antara Ketebalan alumunium dengan cacah radiasi/10 s


B
B

Cacah radiasi/10s atau (N-No)/10 s

800
700

Data: Data1_B
Model: ExpDec1

600

Chi^2/DoF
= 1.52743
R^2
= 0.99998

500

y0
A1
t1

0
0
697.28325
0.50775

1.23585
0.00362

400
300
200
100
0
-100
0

ketebalan alumunium (mm)

Grafik Hubungan antara Ketebalan timbal dengan cacah radiasi/10 s

B
B

800

cacah radiasi/ 10 s atau (N-N0)/10 s

700

Data: Data1_B
Model: ExpDec1

600

Chi^2/DoF
R^2
= 1

500

y0
A1
t1

400

= 0.08159

0
0
697.2909
0.23352

0.28563
0.00766

300
200
100
0
-100
0

ketebalan timbal (mm)

2.

Nilai koefisien absorpsi alumunium


Nilai koefisien absorpsi timbal =

=1.970443 /mm

=4.282288/ /mm

3. Bahan yang bagus untuk menyerap radiasi adalah timbal karena koefisien absorpsinya

lebih besar sehingga daya absorpsi terhadap radiasinya lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Yusman Wiyatmo,M.Si.2015. Petunjuk Praktikum Fisika Inti.Yogyakarta:Jurusab
pendidikan Fisika UNY.
Sita Ari Imamah.2014. Radioaktif. http:/ academia edu/ Fisika_Dasar_2__Dasar_teori_bab_Radioaktif). Diakses pada tanggal 22 Mei 2015 pukul 10.00.