Anda di halaman 1dari 19

ANETESI LOKAL

A.

DEFINISI DAN SEJARAH

Anestetik lokal ialah obat yang menghasilkan blockade konduksi atau blockade lorong
natrium sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestesi adalah
hilangnya semua bentuk sensasi termasuk sakit, sentuhan, persepsi temperature dan tekanan
dan dapat disertai dengan terganggunya fungsi motorik. Bila hanya sebagian dari tubuh yang
terpengaruh, dapat digunakan istilah anestesi local atau amalgesia local.
Anestesi local menghambat impuls konduksi secara reversible sepanjang akson saraf
dan membrane eksitabel lainnya yang menggunakan saluran natrium sebagai alat utama
pembangkit potensial aksi. Secara klinik, kerja ini dimanfaatkan untuk menghambat sensasi
sakit dari atau impuls vasokonstriktor simpatis ke bagian tubuh tertentu.

Obat anestetika lokal yang pertama dikenal adalah kokain yang diperoleh dari
Erythroxylon coca yang dapat memberikan rasa nyaman dan mempertinggi daya tahan tubuh.
Karena kemampuannya untuk merintangi transmisi ke batang otak kemudian dipakai sebagai
anestesi blokade saraf pada pembedahan maupun dalam anestesi spinal/umum dan kemudian
dibuat anestetika lokal sintetis seperti prokain dan derivatnya seperti lidokain, prilokain dan
bupivikain.
B.

STRUKTUR ANESTETIK LOKAL

Anestetik lokal ialah gabungan dari garam larut dalam air dan alkaloid larut dalam
lemak dan terdiri dari bagian kepala cincin aromatik tak jenuh bersifat lipofilik, bagian badan
sebagai penghubung terdiri dari cincin hidrokarbon dan bagian ekor terdiri dari amino tersier

bersifat hidrofilik. Semakin panjang gugus alkoholnya, semakin besar daya kerja
anestetiknya, tetapi toksisitasnya juga meningkat.
Pusat mekanisme kerjanya terletak di membran sel. Seperti juga alkohol dan barbital,
anestetika lokal menghambat penerusan impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas
membran sel saraf untuk ion-natrium, yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal ini
disebabkan adanya persaingan dengan ion-ion kalsium yang berada berdekatan dengan
saluran-saluran natrium di membran sel saraf. Pada waktu bersamaan, akibat turunnya laju
depolarisasi, ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat laun meningkat, sehingga
akhirnya terjadi kehilangan rasa setempat secara reversible.
Diperkirakan bahwa pada proses stabilisasi membran tersebut, ion-kalsium memegang peranan penting, yakni molekul-molekul lipofil besar dan anestetika lokal mungkin
mendesak sebagian ion-kalsium di dalam membran sel tanpa mengambil alih fungsinya.
Dengan demikian, membran sel menjadi lebih padat dan stabil, serta dapat lebih baik
melawan segala sesuatu perubahan mengenai permeabilitasnya.
Di samping itu, anestetika lokal mengganggu fungsi semua organ di mana terjadi
konduksi/ transmisi dari beberapa impuls. Dengan demikian, anestetika lokal mempunyai
efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular, dan semua
jaringan otot.
a. Bagian lipofilik
Biasanya terdiri dari cincin aromatic (benzene ring) tak jenuh, misalnya PABA (paraamino-benzoic acid). Bagian ini sangat esensial untuk aktifitas anestesi.
b. Bagian hidrofilik
Biasanya golongan amino tersier (dietil-amin).
c. Golongan
Anestetik lokal dibagi menjadi dua golongan
1. Golongan ester (-COOC-)
Kokain,

benzokain

(amerikain),

(pontocaine), kloroprokain (nesacaine).

ametocaine,

prokain

(nevocaine),

tetrakain

2. Golongan amida (-NHCO-)


Lidokain (xylocaine, lignocaine), mepivakain (carbocaine), prilokain (citanest),
bupivakain (marcaine), etidokain (duranest), dibukain (nupercaine), ropivakain (naropin),
levobupivacaine (chirocaine).

d. Sifat anestesi lokal yang ideal :

Tidak mengiritasi / merusak jaringan saraf secara permanen

Batas keamanan harus lebar atau toksisitas sistemis yang rendah

Mula kerja harus sesingkat mungkin

Durasi kerja harus cukup lama

Larut dalam air

Stabil dalam larutan

Dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan

Indikasi & Keuntungan anastesi lokal

Penderita dalam keadaan sadar serta kooperatif.

Tekniknya relatif sederhana dan prosentase kegagalan dalam penggunaanya relatif


kecil.

Pada daerah yang diinjeksi tidak terdapat pembengkakan.

Peralatan yang digunakan, sedikit sekali dan sederhana serta obat yang digunakan
relatif murah.

Dapat digunakan sesuai dengan yang dikehendaki pada daerah anatomi tertentu.

Dapat diberikan pada penderita yang keadaan umumnya kurang baik, sebab adanya
pemberian obat anastesi terjadi penyimpangan fisiologis dari keadaan normal
penderita sedikit sekali.

C.

KONTRAINDIKASI

Operator merasa kesulitan bekerja sama dengan penderita, misalnya penderita


menolak di suntik karena takut

Terdapat suatu infeksi/ peradangan

Usia penderita terlalu tua atau dibawah umur

Alergi terhadap semua anastetikum

Anomali rahang

Letak jaringan anastesi terlalu dalam


D.

MEKANISME KERJA

Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel), mencegah
peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi
depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf.
Mekanisme utama aksi anestetik lokal adalah memblokade voltage-gated sodium
channels. Membrane akson saraf, membrane otot jantung, dan badan sel saraf memiliki
potensial istirahat -90 hingga -60 mV. Selama eksitasi, lorong sodium terbuka, dan secara

cepat berdepolarisasi hingga tercapai potensial equilibrium sodium (+40 mV). Akibat dari
depolarisasi,, lorong sodium menutup (inaktif) dan lorong potassium terbuka. Aliran sebelah
luar dari repolarisasi potassium mencapai potensial equilibrium potassium (kira-kira -95
mV). Repolarisasi mngembalikan lorong sodium ke fase istirahat. Gradient ionic
transmembran dipelihara oleh pompa sodium. Fluks ionic ini sama halnya pada otot jantung,
dan dan anestetik local memiliki efek yang sama di dalam jaringan tersebut.

Fungsi sodium channel bisa diganggu oleh beberapa cara. Toksin biologi seperti
batrachotoxin, aconitine, veratridine, dan beberapa venom kalajengking berikatan pada
reseptor diantara lorong dan mencegah inaktivasi. Akibatnya terjadi pemanjangan influx
sodium melalui lorong dan depolarisasi dari potensial istirahat. Tetrodotoxin (TTX) dan
saxitoxin memblok lorong sodium dengan berikatan kepada chanel reseptor di dekat
permukan extracellular.
Serabut saraf secara signifikan berpengaruh terhadap blockade obat anestesi local
sesuai ukuran dan derajat mielinisasi saraf. Aplikasi langsung anestetik local pada akar saraf,
serat B dan C yang kecil diblok pertama kali, diikuti oleh sensasi lainnya, dan fungsi motorik
yang terakhir diblok.
Faktor-faktor fisiokimia
A. Solubilitas lipid: semkin larut lemak maka semakin meningkatkan potensi.
B. Ikatan protein: lebih besar ikatan protein (alpha1 acid glycoprotein), durasi kerjanya lebih
lama.
C. pKa: menentukan onset waktu. pKa adalah pH yang pada 50% anestetik local pada kondisi
bermuatan dan 50% tidak bermuatan.
D. Ion trapping: merupakan akumulasi bentuk terionisasi anestetik local pada lingkungan
asam disebabkan suatu perbedaan pH diantara bentuk terionisasi dan non-ionisasi. Hal ini

dapat terjadi diantara seorang ibu dan fetus asidosis (semisal fetal distress) mengakibatkan
akumulasi anestetika local di dalam darah fetus.
E. pH larutan obat: peningkatan pH larutan obat akan meningkatkan fraksi bentuk nonterionisasi, menghasilkan onset yang lebih cepat. Kebanyakan larutan anestetik dipersiapkan
secara komersil sebagai suatu garam HCL larut air (pH 6-7). Agent dengan penambahan
epinephrine dibikin lebih asam (ph 4-5) karena epinephrine tidak stabil pada lingkungan
alkali.
F. konsentrasi minimum anestetik local (Cm)
Adalah konsentrasi minimum anestetik local yang akan menghalangi konduksi impuls saraf
dan analog terhadap konsentrasi alveolar minimum (MAC)
Efek diameter:
Potensi anestetik local dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak, makin larut makin
poten. Ikatan dengan protein (protein binding) mempengaruhi lama kerja dan konstanta
dissosiasi (pKa) menentukan awal kerja.
Konsenrasi minimal anestetika local (analog dengan mac, minimum alveolar
concentration) diengaruhi oleh:
1. Ukuran, jenis dan mielinisasi saraf
2. pH (asidosis menghambat blockade saraf)
3. frekuensi stimulasi saraf
Mula Kerja
Mula kerja anestetika lokal bergantung beberapa faktor, yaitu:
1. pKa mendekati pH fisiologis sehingga konsentrasi bagian tak terionisasi meningkat
dan dapat menembus membrannsel saraf sehingga menghasilkan mula kerja cepat.
2. Alkalinisasi anestetika local membuat mula kerja cepat
3. Konsentrasi obat anestetika lokal
Lama kerja
Lama kerja anestetika local dipengaruhi oleh:
a. Ikatan dengan protein plasma, karena reseptor anestetika local adalah protein.
b. Dipengaruhi oleh kecepatan absorbsi.

c. Dipengaruhi oleh banyaknya pembuluh darah perifer di daerah pemberian.

Farmakokinetik
Struktur obat anestetika lokal mempunyai efek langsung pada efek terapeutiknya.
Semuanya mempunyai gugus hidrofobik (gugus aromatik) yang berhubungan melalui rantai
alkil ke gugus yang relatif hidrofilik (amina tertier).
Pemberian vasokonstriktor (epinefrin) + anestetika lokal dapat menurunkan aliran
darah lokal dan mengurangi absorpsi sistemik. Vasokonstriktor tidak boleh digunakan pada
daerah dengan sirkulasi kolateral yang sedikit dan pada jari tangan atau kaki dan penis.
Golongan ester (prokain, tetrakain) dihidrolisis cepat menjadi produk yang tidak aktif oleh
kolinesterase plasma dan esterase hati. Bupivakain terikat secara ekstensif pada protein
plasma.1
A. Absorbsi sistemik
Dipengaruhi oleh:
1.Tempat suntikan. kecepatan absorbsi sistemik sebanding dengan banyaknya
vaskularisasi tempat suntikan : absorbsi intravena > trakeal >interkostal > kaudal >
paraservikal > epidural > pleksus brakial > siatik > subkutan.
Penggunaan anestetik local di daerah kaya vascular seperti di mukosa trakea atau di sekita
jaringan sraf interkostal menghasilkan absorbs yang lebih cepat dari pada bila diinjksikan di
daerah yang miskin perfusi seperti tendon, dermis, atau lemak subkutan.
2.Penambahan vasokonstriktor.
a. Adrenalin
Adrenalin 5 g/ml atau 1:200.000 membuat vasokonstriksi pembuluh darah pada
tempat suntikan sehingga dapat memperlambat absorbsi sampai 50%. Ini penting untuk obatobat dengan durasi pendek atau intermediet seperti prokain, lidokain, dan mepivacaine.
Disamping itu dengan penambahan epinephrine bertujuan untuk mengurangi perdarahan saat
pembedahan dan muntuk meningkatkan intensitas blok dengan efek agonis alpha langsung
pada reseptor antinociceptive di spinal cord, dan untuk membantu pada evaluasi suatu dosis
tes.

Dosis maksimum epinephrine tidak boleh melebehi 10 mcg/kg pada pasien anak dan
250 mcg pada orang dewasa. Epinephrine tidak boleh digunakan pada blok saraf perifer pada
area dengan aliran darah kolateral sedikit atau pada teknik regional intravena.
b. Phenylephrine, telah digunakan seperti epinephrine, tapi tidak ada keuntungan.
c. Sodium bikarbonat
1. menaikkan pH dan meningkatkan konsentrasi basa bebas nonionisasi
2. penambahan sodium bikarbonat (1 mL sodium bikarbonat 8,4% ditambahkan ke
tiap-tiap 10 mL lidokain 1%) onset cepat, menambah kalitas blok, memperpanjang
blockade dengan meningkatkan jumlah basa bebas yang ada dan mengurangi nyeri
selama infiltrasi subkutaneus.
3. Karakteristik obat anestesi lokal. Obat anestetik lokal terikat kuat pada jaringan
sehingga dapat diabsorbsi secara lambat.
B. Distribusi
Distribusi anestetika local dipengaruhi oleh ambilan organ (organ uptake) dan
ditentukan oleh factor-faktor:
1. Perfusi jaringan
2. Koefisien partisi jaringan/darah
Ikatan kuat dengan potein plasma obat lebih lama di darah.
Kelarutan dalam lemak tinggi meningkatkan ambilan jaringan
3. Massa jaringan
Otot merupakan tempat reservoir bagi anestetika lokal
Anestetika local golongan amide tersebar luas setelah pemberian bolus intravena. Setelah fase
distribusi inisial cepat, yang mana terdiri dari ambilan perfusi yang tinggi seperti otak, hepar,
ginjal, dan jantung, terjadi fase distribusi yang lambat ke dalam perfusi jaringan yang
moderat seperti otot dan saluran gastrointestinal.
C. Metabolisme dan ekskresi
Anestetika local golongan ester sebagian besar dimetabolisme oleh enzim pseudokolinesterase (kolinesterase plasma). Hidrolisa ester sangat cepat dan kemudian metabolit
diekskresi melalui urin. Cairan serebrosipinal sedikit enzim ensterase, jadi terminasi aksi dari
anestetika local yang disuntikkan secara intratekal bergantung pada absorbsinya kedalam
aliran darah.

Anestetik local tipe ester dihidrolisis sangant cepat di dalam darah oleh sirkulasi
butyrylklinesterase (pseudokolinesterase) menjadi metabolit inaktif. Oleh karena itu, prokain
dan kloroprokain memiliki waktu paruh yang sangat pendek (<1 menit).
P-aminobenzoic suatu metabolit dari anestetika local golonan ester dikaitkan dengan
reaksi alergi.
Golongan amida dimetabolisme terutama oleh enzim mikrosomal (liver microsomal
cytochrome P450 isozyme) di hati. Linkage amida dipecahkan permulaan melalui Ndealkilasi selanjutnya dengan hidrolisis. Kecepatan metabolisme tergantung kepada
spesifikasi obat anestetik local. Metabolismenya lebih lambat dari hidrolisa ester. Metabolit
diekskresi lewat urin dan sebagian kecil diekskresi dalam bentuk utuh.
Metabolit prilokain (derivate o-toluidine) yang menumpuk setelah dosis besar (lebih besar
daripada 10 mg/kg), mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin. Benzzocaine juga dapat
menyebabkan methemoglobinemia.
Ada variasi pada rata-rata metabolisme hepar dari omponen amide seseorang, dimulai dari
yang paling cepat yaitu prilokain > lidokain > mepivacaine > ropivacaine > bupivacaine dan
levobupivacaine (yang paling lambat). Akibatnya, toksisitas anestetik local tipe amide lebih
sering terjadi pada pasien dengan penyakit hepar. Sebagai contoh, rata-rata waktu paruh
eliminasi lidokain bisa meningkat dari 1,6 jam pada pasien normal menjadi lebih dari 6 jam
pada pasien dengan gangguan hepar.. oianestesi dengan anestetik volatilkain pada pasien
yang dsebagai contoh, eliminasi kepaik li.
Penurunan eliminasi anestetik local oleh hepar juga terjadi pada pasien dengan
penurunan aliran darah hepar sebagai contoh, eliminasi hepar terhadap lidokain pada pasien
yang dianestesi dengan anestetik volatile (dimana menurunkan aliran darah hepar) lebih
lambat dibandingkan pasien yang dianestesi dengan anestetik intravena.
Farmakodinamik :1
Selain menghalangi hantaran sistem saraf tepi, anestesi local juga mempunyai efek
penting pada SSP, ganglia otonom, sambungan saraf otot dan semua jenis serabut otot. Pada
SSP, anestetik local merangsang SSP dan menyebabkan kegelisahan dan tremor yang
mungkin berubah menjadi kejang kronik. Perangsangan ini akan diikuti dengan depresi dan
kematian biasanya terjadi karena kelumpuhan nafas sehingga perlu memperbaiki jalan nafas
dan menggunakan hipnotik untuk mencegah dan mengobati kejang. Diazepam IV juga sangat
berguna dalam pengobatan kejang

Pada sambungan saraf otot dan ganglion, anestesi local dapat mempengaruhi transmisi
di sambungan saraf otot yaitu menyebabkan berkurangnya respons otot atas rangsangan saraf.
Pada sistem kardiovaskular, yaitu dapat menyebabkan penurunan eksitabilitas, kecepatan
konduksi dan kekuatan kontraksi. Anestesi local juga dapat menyebabkan vasodilatasi
arteriol.
E.

TOKSISITAS DAN EFEK

Toksisitas anestetik local bergantung pada:


1. Jumlah larutan yang disuntikkan
2. Konsentrasi obat
3. Ada tidaknya adrenalin
4. Vaskularisasi tempat suntikan
5. Absorbsi obat
6. Laju destruksi obat
7. Hipersensitivitas
8. Usia
9. Keadaan umum
10. Berat badan

A. Reaksi alergi
1. Lokal anestetik tipe ester: bisa menyebabkan bentuk reaksi alergi metabolit
paraaminobenzoic acid dan orang yang sensitive terhadap obat-obatan sulfa (misalnya
sulfonamide atau diuretic thiazide).
2. Lokal anestetik ester bisa emnyebabkan reaksi alergik pada orang sensitive
terhadap obat-obatan sulfa.
3. Reaksi alergi terhdap amida adalah sangat jarang dan mungkin berkaitan dengan
bahan pengawet bukan amida sendiri. Sedian multidosis amida sering mengandung
methylparaben yang memiliki struktur kimia serupa dengan p-aminobenzoic acid.

B. Toksisitas local
1. Transient radicular irritation (TRI) atau transient neurologic symptoms (TNS)
A. Ditandai oleh dysesthesia, nyeri terbakar, low back pain dan sakit pada ekstrimitas
bawah dan bokong. Etiologi gejala ini melengkapi iritasi radikular. Gejala biasanya
Nampak dalam 24 jam setelah penyembuhan lengkap dari anestesi spinal dan hilang
dalam 7 hari.
B. Dapat terjadi setelah injeksi subarachnoid tak sengaja dari volume besar atau
konsensentrasi tinggi anestetik local. Insidensi bertambah ketika menggunakan posisi
litotomi selama pembedahan.
C.

Peningkatan

neurotoksisitas

insidensi

berhubungan

dengan

pemberian

subarachnoid dari lidokain 5% telah dilaporkan.


2. Cauda equine syndrome
A. Terjadi ketika luka yang tersebar ke pleksus lumbosakral menyebabkan derajat
yang bermacam-macam anestesi sensori,disfungsi spinkter usus dan kandung kemih,
dan paraplegi.
B. Permulaannya dilaporkan disebabkan lidokain 5% dan tetrakain 0.5% yang
diberikan melalui sebuah mikrokateter. Ada peningkatan risiko manakala ditempatkan
pada ruang subaraknoid ,yang demikian bisa terjadi selama dan sesudah anestetik
spinal terus-menerus injeksi, kecelakaan injeksi subaraknoid dari dosis epidural yang
diharapkan atau dosis spinal berulang-ulang.
C. Kloroproprokain telah dikaitkan dengan neurotoksistas. Penyebab neurotoksistas
ini kemungkinan adalah pH rendah kloroprokain.
F.

Efek samping terhadap Sistem Tubuh

Sistem kardiovaskular
Anestetik local menekan automatisasi miokard (depolarisasi fase IV spontan) dan
mengurangi durasi periode refrakter (ditunjukkan sebagai pemanjangan interval PR dan
pelebaran QRS).
Kontraktilitas miokardial dan kecepatan konduksi ditekan pada konsentrasi lebih
besar. Relaksasi otot polos penyebab beberapa derajat vasodilatasi (dengan pengecualian
kokain).

Disritmia jantung atau kolaps sirkulasi sering suatu tanda yang hadir pada overdosis
anestetik local selama anesthesia general.
Injeksi intravaskluar bupivakain telah menyeababkan reaksi kardiotoksik berat,
meliputi hipotensi, blok jantung atrioventrikular, dan disritmia seperti fibrilasi ventrikel.
Kehamilan, hipoksemia, dan asidosis respirasi adalah factor risiko yang mempengaruhi.
Ropivakain tak cukup signifikan toksisitas jantung karena disosianya lebih cepat dari channel
sodium. Levobupivakain kurang berefek kardiotoksik daripada bupivakain.
Sistem pernapasan
Relaksi otot polos bronkus. Henti napas akibat paralise saraf frenikus, paralise
interkostal,atau depresi langsung pusat penraf frenikus, paralise interkostal,atau depresi
langsung pusat pengaturan pernafasan.
Apnea dapat diakibatkan oleh paralisis saraf interkostal dan phrenic atau penekanan pusat
respirasi medulla yang menyertai eksposure langsung terhaap agen local anestetik
(postretrobulbar apnea syndrome).
System saraf pusat (SSP)
SSP rentan tehadap tosisitas anestetika local, dengan tanda-tanda awal parestesia lidah,
pusing, kepala terasa ringan, tinnitus, pandangan kabur, agas anestetika local, dengan tandatanda awal parestesia lidah, pusing, kepala terasa ringan, tinnitus, pandangan kabur, agitasi,
twitching, depresi pernapasan, tidak sadar, konvulsi, koma. Tambahan adrenalin berisiko
kerusakan saraf.
Kejang tonik-klonik mungkin diakibatkan blockade selektif jalur inhibisi. Henti pernapasan
sering mengikuti aktivitas kejang. Toksisitas SSP diperberat oleh hiperkarbia, hipoksia dan
asidosis.
Imunologi
Golongan ester menyebabkan reaksi alergi lebih sering, karena merupakan derivate paraamino-benzoic acid (PABA) yang dikenal sebagai alergen.
System muskuloskletal
Bersifat miotoksik (bupivakain > lidokain > prokain) ketika diinjeksikan secara langsung
kedalam otot skelet.
Tambahan adrenalin berisiko kerusakan saraf. Regenerasi dalam waktu 3-4 minggu.

Efek merugikan yang lain


A. Horner syndrome: dapat diakibatkan oleh blockade serat B pada akar saraf T1-T4.
Tanda-tanda klinis meliputu ptosis, miosis, anhidrosis, kongesti nasal, vasodilatasi, dan
peningkatan temperature kulit.
B. Methemoglobinemia. Dapat terbentuk setelah dosis besar prilokain, benzokain dank rim
EMLA.
C. Mengurangi koagulasi: lidokain telah menunjukkan mencegah thrombosis, mengurangi
agregasi platelet dan mempertinggi fibrinolisis whole blood.
Resistensi Anestesi
Ketika dilakukan anestesi, terkadang dapat terjadi seseorang tak mendapatkan efek
bius seperti yang diharapkan. Atau, yang kerap disebut resisten terhadap obat bius. Beberapa
kondisi yang bisa menyebabkan seseorang resisten terhadap obat bius di antaranya:
1. Pecandu alcohol
2. Pengguna obat psikotropika seperti morfin, ekstasi dan lainnya
3. Pengguna obat anelgesik
Pada orang-orang tadi telah terjadi peningkatan ambang rangsang terhadap obat bius yang
disebabkan efek bahan yang dikonsumsi dan masih beredar dalam tubuhnya.
Agar Obat Bius Optimal & Aman
Untuk menghindari terjadinya efek samping dan resistensi terhadap obat bius,
sebaiknya pasien benar-benar memastikan kondisi tubuhnya cukup baik untuk menerima
anestesi.
1. Menghentikan penggunaan obat anelgetik, paling tidak 1-2 hari sebelum
dilakukan prosedur anestesi.
2. Menghentikan konsumsi obat-obatan yang berefek pada saraf pusat seperti morfin,
barbiturat, amfetamin dan lainnya, paling tidak 1-3 hari sebelum anestesi dilakukan.
3. Berhenti mengonsumsi alkohol paling tidak 2 minggu sebelum penggunaan anestesi,
4. Berhenti merokok setidaknya 2 minggu sebelum anestesi dilakukan.

Beberapa anestetik lokal yang sering digunakan


1. Kokain
Hanya dijumpai dalam bentuk topical semprot 4% untk mukosa jalan napas atas.
Lama kerja 2-30 menit.
2. Prokain (Novokain)
Untuk infiltrasi: larutan 0,25-0,5%.
Blok saraf 1-2%.
Dosis 15 mg/kgBB dan lama kerja 30-60 menit.
3. Kloroprokain (nesakain)
Derivate prokain dengan masa kerja lebih pendek.
4. Lidokain (lignocaine, xylocain, lidonest)
Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas
dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih
lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain. Pada konsentrasi
yang sebanding. Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototip dari
anestetik lokal golongan amida. Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anestesia
infiltrasi, sedangkan larutan 1,0-2% untuk anestesia blok dan topikal. Anestetik ini
efektif bila digunakan tanpa vaso-konstriktor, tetapi kecepatan absorpsi dan
toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Lidokain merupakan obat
terpilih bagi mereka yang hipersensitif terhadap anestetik lokal golongan ester.
Lidokain dapat menimbulkan kantuk. Sediaan berupa larutan 0,5-5% dengan atau
tanpa epinefrin (1: 50.000 sampai 1 : 200.000)
5. Bupivakain (marcain)
Konsentrasi efektif minimal 0,125%. Mula kerja lebih lambat dibanding
lidokain,tetapi lama kerja sampai 8 jam. Setelah suntikan kudal, epidural, atau
infiltrasi, kadar plasma puncak dicapai dalam 45 menit, kemudian menurun perlahanlahan dalam 3-8 jam. Untuk anestesa spinal 0,5% volum antara 2-4 ml iso atau
hiperbarik. Untuk blok sensorik epidural 0,375% dan pembedahan 0,75%.

6. EMLA (Eutectic mixture of local anesthetic)


Campuran emulsi minyak dalam air (krem) antara lidokain dan prilokain
masing-masing 2,5% atau masing-masing 5%. EMLA dioleskan di kulit intak 1-2 jam
sebelum tindakan untuk mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena atau arteri atau
untuk miringotomi pada anak, mencabut bulu halus atau buang tato. Tidak dianjurkan
untuk mukosa atau kulit terbuka.
7. Dibukain
Devirat kuinon ini, merupakan anestetik local yang paling kuat, paling toksik
dan mempunyai masa kerja panjang. Dibandingkan dengan prokain, dibukain kirakira 15 kali lebih kuat dan toksik dengan masa kerja 3 kali lebih panjang. Dibukain
HCl digunakan untuk anesthesia suntikan pada kadar 0,05-0,1%; untuk anesthesia
topical telinga 0,5-2%; dan untuk kulit berupa salep 0.5-1%. Dosis total dibukain pada
anesthesia spinal ialah 7,5-10mg.
8. Prilokain HCl.
Walaupun merupakan devirat toluidin, agen anestesi lokal tipe amida ini pada
dasarnya mempunyai formula kimiawi dan farmakologi yang mirip dengan lignokain
dan mepivakain. Anestetik lokal golongan amida ini efek farmakologiknya mirip
lidokain, tetapi mula kerja dan masa kerjanya lebih lama daripada lidokain. Prilokain
juga menimbulkan kantuk seperti lidokain. Sifat toksik yang unik ialah prilokain
dapat menimbulkan methemoglobinemia; hal ini disebabkan oleh kedua metabolit
prilokain yaitu orto-toluidin dan nitroso- toluidin.
9. Bupivakain (MARCAIN).
Struktur mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin dan
butyl piperidin. Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja yang panjang,
dengan efek blockade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek ini
bupivakain lebih popular digunakan untuk memperpanjang analgesia selama
persalinan dan masa pascapembedahan.
Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak digunakan adalah:
1. Anestesi permukaan.
Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter gigi
untuk mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan kecil seperti

menjahit luka di kulit. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat tidak akan
mengganggu proses penyembuhan luka.

2. Anestesi Infiltrasi.
Tujuannya untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau
sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit
dan jaringan yang terletak lebih dalam, misalnya daerah kecil di kulit atau gusi (pada
pencabutan gigi).

3. Anestesi Blok
Cara ini dapat digunakan pada tindakan pembedahan maupun untuk tujuan
diagnostik dan terapi.
4. Anestesi Spinal
Obat disuntikkan di tulang punggung dan diperoleh pembiusan dari kaki
sampai tulang dada hanya dalam beberapa menit. Anestesi spinal ini bermanfaat untuk
operasi perut bagian bawah, perineum atau tungkai bawah.

5. Anestesi Epidural
Anestesi epidural (blokade subarakhnoid atau intratekal) disuntikkan di ruang
epidural yakni ruang antara kedua selaput keras dari sumsum belakang.

6. Anestesi Kaudal
Anestesi kaudal adalah bentuk anestesi epidural yang disuntikkan melalui
tempat yang berbeda yaitu ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus skralis.

G.

KESIMPULAN

Anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat
hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup.
Anestesi lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf dengan cara merintangi secara bolakbalik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin.
Anestesi lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya
terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ
dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai
efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua
jaringan otot.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dubinsky RM, Miyasaki J (January 2010). "Assessment: efficacy of transcutaneous


electric nerve stimulation in the treatment of pain in neurologic disorders (an
evidence-based review): report of the Therapeutics and Technology Assessment
Subcommittee of the American Academy of Neurology". Neurology 74 (2): 1736
2. Mutschler. E. 1991. Dinamika Obat Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi,
terjemahan M. B. widianto dan A. S. Ranti, Penerbit ITB, Bandung. Hal 223
3. Howe, Geoffrey L. 1992. Anetesi Lokal (local Anesthesia in Dentistry). Jakarta:
Hipokrates.
4. Varrassi G, Paladini A, Marinangeli F, Racz G (2006). "Neural modulation by blocks
and infusions". Pain practice : the official journal of World Institute of Pain 6 (1):
348
5. Latief SA, Kartini A, Daclan MR. Petunjuk praktis anestesiologi. Edisi Kedua.
Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI; 2009.p.104-95.
6. Ezekiel MR. Handbook of anesthesiology. 2004-2005 Edition.

(online),

(http://www.scribd.com).
7. Fatma D, Sunaryo,Syamsudin U, Susanto HS. Perbandingan mula kerja dan masa
kerja dua anestetik lokal lidokain pada kasus pencabutan gigi molar satu atau dua
rahang bawah. (online), http://www.google.com, diakses 5 September 2009)