Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Definisi
Vitiligo adalah hipomelanosis idiopatik didapat ditandai dengan adanya makula putih
yang dapat meluas. Dapat mengenai seluruh bagian tubuh yang mengandung sel
melanosit, misalnya rambut dan mata.1
B. Epidemiologi
Insiden yang dilaporkan bervariasi antara 0,1 sampai 8,5%. Dapat mengenai semua
ras dan kelamin. Awitan terbanyak sebelum umur 20 tahun. Ada pengaruh faktor
genetik. Pada penderita vitiligo, 5% akan mempunyai anak dengan vitiligo. Riwayat
keluarga vitiligo bervariasi antara 20-40%.1,2
Vitiligo mengenai kedua jenis kelamin. Pada beberapa literatur menjelaskan
predominan pada perempuan dengan alasan tampilan secara kosmetik. Mulai pada
semua umur, tapi pada 50% kasus melai pada umur 10-30 tahun. Beberapa kasus terjadi
pada awal kelahiran dan pada umur lebih tua akan tetapi jarang. Menyerang pada 1%
populasi dunia. Semua ras dapat terkena dengan peningkata prevalensi pada beberapa
Negara dengan kulit lebih gelap akibat perbedaan warna dari macula putih vitiligo
dengan kulit gelap. Vitiligo memiliki pengaruh genetic, >30% mempengaruhi pada
orang tua, saudara atau anak yang menderita vitiligo.3
C. Etiologi
Penyebab belum diketahui, berbagai faktor pencetus sering dilaporkan, misalnya
krisis emosi dan trauma fisis.1
D. Patofisiologi1,2,4
1. Hipotesis Autoimun
Adanya hubungan antara vitiligo dengan tiroditis hashimoto, anemia pernisiosa,
dan hipoparatiroid melanosit dijumpai pada serum 80% penderita vitiligo.

2. Hipotesis Neurohormonal
Karena melanosit terbentuk dari neural-Icrest, maka diduga faktor neural
berpengaruh. Tirosin adalah substrat untuk pembentukan melanin dan katekol.
Kemungkinan adanya produk intermediate yang terbentuk selama sintesis katekol
yang mempunyai efek merusak melanosit. Pada beberapa lesi ada gangguan keringat
dan pembuluh darah terhadap respons transmitter saraf, misalnya asetilkolin.
3. Autositotoksik
Sel melanosit membentuk melanin melalui oksidasi tirosin ke DOPA dan DOPA
ke dopakinon. Dopakinon akan dioksidasi menjadi berbagai indol dan radikal bebas.
Melanosit pada lesi vitiligo dirusak oleh penumpukan precursor melanin. Secara
invitro dibuktikan tirosin, dopa, dan dopakrom merupakan sitotoksik terhadap
melanosit.
4. Pajanan Terhadap Bahan Kimiawi
Depigmentasi kulit dapat terjadi terhadap pajanan Mono Benzil Eter Hidrokinon
dalam sarung tangan atau detergen yang mengandung fenol.
E. Gejala Klinis
Macula berwarna putih dengan diameter beberapa millimeter sampai beberapa
sentimeter, bulat atau lonjong dengan batas tegas, tanpa perubahan epidermis yang lain.
Kadang-kadang terlihat macula hipomelanotik selain macula apigmentasi.1

Gambar 1. Vitiligo5

Didalam macula vitiligo dapat ditemukan macula dengan pigmentasi normal atau
hiperpigmentasi disebut repigmentasi perifolikular. Kadang-kadang ditemukan tepi lesi
yang meninggi, eritem dan gatal, disebut inflamatoar.1
Daerah yang sering terkena adalah bagian ekstensor tulang terutama diatas jari,
periorifisial sekitar mata, mulut dan hidung, tibialis anterior, dan pergelangan tangan
bagian fleksor. Lesi bilateral dapat simetris atau asimetris. Pada area yang terkena
trauma dapat timbul vitiligo. Mukosa jarang terkena, kadang-kadang mengenai genital
eksterna, putting susu, bibir dan ginggiva.1
F. Klasifikasi
Ada 2 bentuk vitiligo:1
1. Lokalisata yang dapat dibagi lagi:1,3,6,7
a. Fokal: satu atau lebih macula pada satu area, tetapi tidak segmental. Ini bisa
merupakan awal dari perubahan bentuk tipe dari beberapa kasus.
b. Segmental: satu atau lebih macula pada satu area, dengan distribusi menurut
dermatom, misalnya satu tungkai. Biasanya unilateral pada satu area. Dan
biasanya tidak meluas dan stabil.
c. Mucosal: hanya terdapat pada membrane mukosa.
Jarang penderita vitiligo lokalisata yang berubah menjadi generalisata.1
2. Generalisata
Hampir 90% penderita secara generalisata dan biasanya simetris. Macula muncul
pada area sekitar mata dan mulut dan jari, siku, dan lutut dan are belakang badan dan
area genital. Vitiligo generalisata dapat dibagi lagi menjadi:1,3
a. Akrofasial: depigmentasi hanya terjadi dibagian distal ekstremitas dan muka,
merupakan stadium mula vitiligo yang generalisata.
b. Vulgaris: macula tanpa pola tertentu dibanyak tempat.
c. Campuran: depigmentasi terjadi menyeluruh atau hamper menyeluruh
merupakan vitiligo total.
G. Diagnosis
Diagnosis vitiligo didasarkan atas anamnesis dan gambaran klinis. Ditanyakan pada
penderita:1
3

a. Awitan penyakit
b. Riwayat keluarga tentang timbulnya lesi dan uban yang timbul dini
c. Riwayat penyakit kelainan tiroid, alopesia areata, diabetes mellitus, dan anemia
pernisiosa.
d. Kemungkiann faktor pencetus, misalnya stress, emosi, terbakar surya, dan pajanan
bahan kimiawi.
e. Riwayat inflamasi, iritasi, atau ruam kulit sebelum bercak putih.
Secara pemeriksaan klinis pada pasien dengan macula secara progresif, didapat, putih
kapur, bilateral (biasanya simetris), dan mencolok pada satu area.3
Dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE) tampaknya normal kecuali tidak
ditemukan melanosit, kadang-kadang ditemukan limfosit pada tepi macula. Reaksi dopa
untuk melanosit negative pada daerah apigmentasi, tetapi meningkat pada tepi yang
hiperpigmentasi.1
Pemeriksaan histokimia pada kulit yang diinkubasi dengan dopa menunjukkan tidak
adanya tirosinase, kadar tirosin plasma dan kulit normal.1
H. Pemeriksaan Penunjang3
1. Pemeriksaan Lampu Wood
Pemeriksaan ini untuk mengevaluasi macula biasanya pada kulit lebih cerah dan
macula pada area yang dilindungi matahari.
2. Dermatopatologi
Pada beberapa kasus yang sulit, biopsy kulit biasanya dilakukan. Macula pada
vitiligo menunjukkan kulit normal kecuali pada melanosit yang tidak ada.
Dibutuhkan stain khusus untuk memeriksa melanosit.

3. Mikroskop Elektron
Ketidakadaan melanosit dan melanosom pada keratinosit, juga perubahan
keratinosit: spongiosis, eksositosis, vaskulopati basiler, dan apoptosis. Limfosit
tampak pada epidermis.
4

4. Pemeriksaan Laboratorium
Tiroksin (T4), TSH (radioimunoasay), gula darah puasa, darah lengkap dengan
indikasi anemia pernisiosa, tes stimulasi ACTH untuk penyakit Addison.
I. Diagnosis Banding
a. Pitiriasis Versikolor
Tinea versikolor adalah infeksi jamur superficial yang ditandai dengan adanya
macula di kulit, skuama halus disertai rasa gatal. Dapat terjadi di mana saja di
permukaan kulit, lipat paha, ketiak, leher, punggung, dada, lengan, wajah dan
tempat-tempat tak tertutup pakaian. Berupa macula yang dapat hipopigmentasi,
kecoklatan, keabuan, atau kehitam-hitaman dalam berbagai ukuran dengan skuama
halus di atasnya.7

Gambar 2. Pitiriasis Versikolor8


b. Piebaldism
Piebaldism adalah bercak kulit yang tidak mengandung pigmen yang ditemukan
sejak lahir dan menetap seumur hidup. Berupa bercak kulit yang tidak mengandung
pigmen terdapat di dahi, median atau paramedian, disertai pula rambut yang putih.
Bercak putih tersebut kadang-kadang ditemukan pula di dada bagian atas, perut, dan
tungkai. Pulau dengan warna kulit normal atau hipermelanosis terdapat di dalam
daerah yang hipomelanosis.1

Gambar 3. Piebaldism9
c. Morbus Hansen Tipe I
Morbus Hansen adalah penyakit infeksi mikobakterium yang bersifat kronik
progresif, mula-mula menyerang saraf tepi, dan kemudian terdapat manifestasi kulit.
Terdapat pada seluruh tubuh. Berupa macula hipopigmentasi berbatas tegas; anestesi
dan anhidrasi; pemeriksaan bakteriologi -); tes lepromin (+).7

Gambar 4. Morbus

Hansen10

J. Pengobatan1
Pengobatan vitiligo kurang memuaskan. Dianjurkan pada penderita untuk
menggunakan kamuflase agar kelainan tersebut tertutup dengan cover mask.
Pengobatan sistemik adalah dengan trimetilpsoralen atau metoksi-psoralen dengan
gabungan sinar matahari atau sumber sinar yang mengandung ultraviolet gelombang
panjang (Ultraviolet A). Dosis psoralen adalah 0,6 mg/kg berat badan 2 jam sebelum
penyinaran selama 6 bulan sampai setahun. Pengobatan dengan psoralen topical yang

dioleskan 5 menit sebelum penyinaran sering menimbulkan dermatitis kontak iritan.


Pada beberapa penderita kortikosteroid potensi tinggi, misalnya betametason valerat
0,1% atau klobetasol propionate 0,05% efektif menimbulkan pigmen.
Penatalaksanaan di bagian kami ialah demikian. Pada usia di bawah 18 tahun hanya
diobati secar topical saja dengan losio metoksalen 1% yang diencerkan 1:10 dengan
spiritus dilutes. Cairan tersebut dioleskan pada lesi. Setelah didiamkan 15 menit lalu
dijemur selama 10 menit. Waktu penjemuran kian diperlama. Yang dikehendaki ialah
timbul eritema, tetapi jangan sampai tampak erosi, vesikel, atau bula.
Pada usia di atas 18 tahun, jika kelainan kulitnya generalisata, pengobatannya
digabung dengan kapsul metoksalen (10 mg). obat tersebut dimakan 2 kapsul (20 mg) 2
jam sebelum dijemur, seminggu 3 kali. Bila lesi lokalisata hanya diberikan pengobatan
topical. Kalau setelah 6 bulan tidak adda perbaikan pengobatan dihentikan dan dianggap
gagal.
MBEH (monobenzylether of hydroquinone) 20% dapat diapakai untuk pengobatan
vitiligo yang luas lebih dari 50% permukaan kulit dan tidak berhasil dngan pengobatan
psoralen. Bila tidak ada dermatitis kontak pengobatan dilanjutkan sampai 4 minggu
untuk daerah yang normal. Depigmentasi dapat terjadi setelah 2-3 bulan dan sempurna
setelah 1 tahun. Kemungkinan timbul kembali pigmentasi yang normal pada daerah
yang terpajan sinar matahari dan pada penderita berkulit gelap sehingga harus dicegah
dengan tabir surya.
Cara lain ialah tindakan pembedahan dengan tandur kulit, baik pada seluruh
epidermis dan dermis, maupun hanya kultur sel melanosit.
Daerah ujung jari, bibir, siku dan lutut umumnya member hasil pengobatan yang
buruk. Dicoba dilakukan repigmentasi dengan cara tato dengan bahan ferum oksida
dalam gliserol atau alcohol.
K. Prognosis

Vitiligo adalah penyakit kronis. Perjalanannya berubah-ubah tapi dengan progresi


yang lambat dan stabil. Hingga 30% pasien melaporkan beberapa repigmentasi yang
spontan pada beberapa area, khususnya area yang terekspos dengan matahari.3

BAB II
LAPORAN KASUS
Seorang anak umur 7 tahun datang dengan keluhan bercak putih di alis kiri yang
dirasakan sejak 3 tahun yang lalu. Awalnya berupa bercak putih kecil yang berada pada
alis dan kemudian semakin lama semakin melebar dan makin putih pada setengah dari
alis kiri. Kelainan bercak putih ini tidak dirasakan gatal maupun nyeri. Bercak putih ini
8

pertama kali muncul dan awalnya bercak putih ini dibiarkan oleh keluarga pasien oleh
karena hanya berupa bercak kecil yang berada pada alis pasien. Keluarga pasien
membawa pasien berobat ke dokter umum lalu diberikan obat salep yang tidak diketahui
nama obat salepnya dan pasien tidak merasakan adanya perubahan pada bercak putih di
alisnya. Riwayat keluarga yang mengalami keluhan yang sama tidak ada.
Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Status dermatologikus pada alis mata kiri
tampak multiple macula hipopigmentasi berbatas tegas, tidak nyeri tekan dan tidak
hipostesi dengan ukuran 1 cm. Pada beberapa rambut alis mengalami depigmentasi.

Gambar 5. Makula Hipopigmentasi pada alis dan dahi


Penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien berupa krim diprosne dan salep
ichtyol yang dioleskan pada area yang mengalami hipopigmentasi sebanyak 2 kali
dalam sehari yaitu pada pagi hari setelah mandi dan malam pada saat sebelum tidur.

BAB III
PEMBAHASAN
Seorang anak umur 7 tahun datang dengan keluhan bercak putih di alis kiri yang
dirasakan sejak 3 tahun yang lalu. Pada keluhan bercak putih kita bisa menduga ini
adalah penyakit Vitiligo, Tinea Versicolor, Piebaldism dan Morbus Hansen. Pada umur 7
tahun sangat sesuai dengan studi epidemiologi menggambarkan bahwa Vitiligo, Morbus
Hansen, Tinea Versikolor dan Piebaldism. Awalnya berupa bercak putih kecil yang
berada pada alis dan kemudian semakin lama semakin melebar dan makin putih pada
10

setengah dari alis kiri. Kelainan bercak putih ini tidak dirasakan gatal maupun nyeri.
Bercak putih ini pertama kali muncul dan awalnya bercak putih ini dibiarkan oleh
keluarga pasien oleh karena hanya berupa bercak kecil yang berada pada alis pasien.
Sesuai dengan gejala klinis yang ditemukan bahwa gejala ini bisa ditemukan pada
penyakit Vitiligo, Morbus Hansen, dan Piebaldism. Tinea Versikolor saya singkirkan
oleh karena pada keluhan tinea versikolor disertai rasa gatal. Keluarga pasien membawa
pasien berobat ke dokter umum lalu diberikan obat salep yang tidak diketahui nama
obat salepnya dan pasien tidak merasakan adanya perubahan pada bercak putih di
alisnya. Riwayat keluarga yang mengalami keluhan yang sama tidak ada. Pada riwayat
keluarga pasien menyingkirkan piebaldism oleh karena pada penyakit ini menurun
secara autosomal pada keluarga. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Status
dermatologikus pada alis mata kiri tampak multiple macula hipopigmentasi berbatas
tegas, tidak nyeri tekan dan tidak hipostesi dengan ukuran 1 cm. Pada effloresensi
kulit setelah melakukan tes sensibilitas, pasien tidak merasakan perbedaan sensasi rasa
dari area bercak macula hipopigmentasi dan area yang normal. Hal ini menunjukkan
bahwa pada kasus ini mengarah pada penyakit vitiligo. Pada beberapa rambut alis
mengalami depigmentasi. Hal ini menegaskan pada beberapa kasus pada vitiligo disertai
depigmentasi pada rambut di sekitar area macula hipopigmentasi.
Penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien berupa krim diprosne dan salep
ichtyol yang dioleskan pada area yang mengalami hipopigmentasi sebanyak 2 kali
dalam sehari yaitu pada pagi hari setelah mandi dan malam pada saat sebelum tidur.
Pada krim diprosne dan salep ichtyol mengandung kortikosteroid yang dimana pada
pengobatan vitiligo di daerah wajah, kortikosteroid topical adalah pilihan utama dalam
pengobatan vitiligo didaerah wajah. Repigmentasi didapatkan dalam 2-4 bulan pertama
dalam 80% kasus.

11