Anda di halaman 1dari 21

CONTOH-CONTOH

KEBIJAKAN
PEMERINTAH UNTUK
PASAR

DISUSUN OLEH
D A N I E L C PA N J A I TA N
ELDA ADRIANI
S I M A R M ATA
RICHARDO SIAHAAN
S
A ISKT RAI M
UA
N
WUI LW
SA
I JRABB
T

KELAS : SI 6E

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


2015

CONTOH- CONTOH KEBIJAKAN PEMERINTAH


UNTUK PASAR DI INDONESIA
1.Kebijakan Pemerintah Terkait Pasar Tradisional
Pasar tradisional kalah dari pasar modern karena aturan yang seharusnya
melindungi justru bak macan ompong

Di kota-kota besar, seperti Jakarta, pasar modern yang semakin


menjamur berhasil menggerus keberadaan pasar tradisional. Selain beberapa
keunggulan seperti lingkungan yang bersih, harga yang terjangkau, dan lokasi
yang dekat, pasar modern menjadi lebih populer dari pasar tradisional juga
karena kebijakan pemerintah yang dinilai Ikatan Pedagang Pasar Indonesia
(IKAPPI) tidak melindungi pasar tradisional.
Ketua Umum IKAPPI, Abdullah Mansuri mencatat jumlah pasar tradisional
yang sejak lahirnya UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan diubah
namanya menjadi pasar rakyat, turun drastis. Saat ini, kata Mansuri, jumlah
pasar tradisional 9.559, jauh lebh sedikit dibandingkan tahun 2007, yakni
13.450.
Menurut Mansuri, kondisi terjadi karena pasar tradisional minim promosi
dan dukungan, baik itu dari pemerintah maupun pengelola pasar. Selain itu,
Mansuri menilai aturan yang dibuat oleh pemerintah yang katanya untuk
melindungi pasar rakyat justru bak macan ompong (tidak efektif, red).

Mansuri mencontohkan Perpres Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan


dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern. Pepres
ini memberikan wewenang kepada pemerintah daerah (pemda) untuk mengatur
soal zonasi. Namun, implementasinya, pemda malah membuat peraturan yang
tidak jelas mengenai penataan pasar rakyat dan pasar modern.
Sebagian yang lain justru membuat peraturan yang menguntungkan pasar
modern, keluh Mansuri dalam jumpa pers, Senin lalu (22/12).
Dikatakan Mansuri, persoalan yang menyelimuti pasar tradisional juga
berpangkal pada sejumlah kesalahan fundamental dalam memahami pasar
tradisional sehingga kebijakan yang diambil pun salah.
Pertama, Pedagang pasar belum ditempatkan sebagai warga negara yang
mempunyai hak konstitusional untuk mendapatkan pekerjaan yang layak bagi
kemanusiaan. Padahal hak konstitusional itu sekaligus merupakan kewajiban
konstitusional negara untuk memberikannya kepada pedagang sebagai warga
negara.
Sampai sekarang ini persoalan hak atas tempat usaha tidak mendapatkan
perlindungan yang pasti. Pedagang memang diberi hak, tetapi selain statusnya
berbeda-beda, rentan untuk dicabut sesuai kebijakan di masing-masing pasar,
paparnya.
Kedua, pedagang pasar dipersepsi sebatas angka, bukan sebagai faktor
produksi; tempat usaha dipersepsi semata fisik bukan alat produksi. Dengan
persepsi semacam ini, maka pengelola tidak peduli apakah pedagangnya maju atau
tidak, tempat usahanya layak atau tidak.
Ketiga, pedagang pasar selalu dijadikan kambing hitam jika pasar
terkesan kumuh dan kurang nyaman. Menurut Abdulah, pengelola sendiri yang
membuat kekumuhan itu terjadi. Banyak ruang kosong diperjual-belikan, banyak
pedagang baru diberi izin berjualan hingga mengubah akses masuk-keluar
menjadi tempat usaha.
Singkatnya, tidak ada sejengkal tanah pun yang dibiarkan kosong selama
itu memberikan keuntungan kepada pengelola padahal pada saat yang bersamaan
merugikan pedagang yang membeli tempat usaha sejak pertama pasar dibangun,
tuturnya.
Keempat, organisasi pedagang pasar dianggap musuh oleh pengelola
pasar. Kelima, pedagang diperlakukan sebagai sapi perah oleh pengelola pasar.
Pedagang hanyalah objek bukan mitra apalagi subjek.
Di Surabaya misalnya, 80 persen pendapatan PD Pasar Surya bersumber
dari retribusi. Tetapi yang dikembalikan dalam bentuk pelayanan tidak sampai 5
persen. Padahal retribusi tersebut harus dikembalikan lagi ke pasar dalam
bentuk pelayanan dan pembinaan pedagang.

Persoalan pasar tradisional semakin rumit karena ketidakharmonisan


antara kebijakan pemerintah pusat (Perpres), perda provinsi, dan perda
kota/kabupaten. Akibatnya, pedagang pasar yang bertolak dari perpres atau
perda tingkat I mentah di Perda Tingkat II dengan alasan otda, ujar Mansuri.
Revitalisasi
Sementara itu Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Sri
Agustina mengatakan, sejauh ini pemerintah berusaha untuk mempertahankan
keberadaan pasar tradisional melalui bermacam kebijakan. Salah satunya,
pemerintah melakukan revitalisasi fisik pasar dengan membangun 560 pasar.
Tetapi kemudian ada evaluasi dan pedagang didampingi selama tiga tahun.
Hasilnya cukup menonjol karena pasar dikunjungi oleh banyak pengunjung, kata
Sri pada acara yang sama.
Selain melakukan revitaliasi pada fisik atau bangunan, pemerintah juga
melakukan revitalisasi pada manajemen. Kedepan, tak hanya menyangkut dua hal
itu saja. Sri menjelaskan akan ada revitalisasi ekonomi dan revitalisasi sosial
budaya. Bahkan dalam revitalisasi bangunan, pemerintah juga akan membangun
fasilitas cool storage agar sayuran dan daging tetap segar layaknya di pasar
modern.
Kita (Kemendag) target dalam lima tahun 5000 pasar direvitalisasi, tapi
dana dari APBN tidak mencukupi. Nah kita akan mencoba menggaet investor
untuk masuk ke sini, pungkasnya.

2.Kebijakan Pemerintah untuk Membuat Pasar Sehat


3

Masyarakat Menilai Percontohan Pasar Sehat Sulit Terwujud


BITUNG-Tekad Pemerintah Kota Bitung untuk menjadi percontohan pasar sehat
bagi Kabupaten/Kota lain, mendapat tanggapan beragam dari kalangan
masyarakat. Darma Baginda, aktivis Kota Bitung kepada manadoline.com, Kamis
(14/5), meragukan hal tersebut bisa terwujud.
Tekad Pemkot untuk menjadi percontohan pasar sehat perlu diapresiasi, tetapi
hal tersebut sulit untuk diwujudkan. Kompleksnya persoalan terkait penataan
pasar dikota Bitung yang sangat amburadul, sampai saat ini masih belum
terselesaikan diantaranya pasar Girian, pasar Winenet dan pasar Sagerat,
ungkap Baginda.
Peraturan Presiden RI nomor 112/2007 tentang penataan dan pembinaan pasar
Tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, serta Permenkes RI nomor
519/MENKES/SK/VI/2008 tentang pedoman penyelenggaraan pasar sehat,
menuntut langkah tegas pihak Pemkot Bitung untuk menata pasar yang ada,
bahkan keberanian merelokasi para pedagang di pasar tradisional Girian yang
jelas sangat mengganggu arus lalulintas.
Kesan kumuh, jorok dan tidak sehat sangat kental terpancar dari beberapa
pasar strategis yang ada di Kota Cakalang sangat kontras dengan kriteria pasar
sehat sesuai dengan Perpres dan Permenkes. Bagaimana mungkin mewujudkan
sesuatu hal yang sampai saat ini masih belum terselesaikan akar
permasalahannya, karena pihak Pemerintah dalam hal ini instansi terkait
terkesan tidak berani mengambil langkah kebijakan, pungkasnya. (jones)

3.Kebijakan Pemerintah Menaikkan Harga Beras


Kemendag Siap Tanggung Jawab jika Harga Beras Tinggi

Derry Sutardi

JAKARTA - Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan, siap bertanggung


jawab apabila terjadi kelangkaan dan kenaikan harga-harga komoditas pangan,
terutama beras menjelang bulan puasa dan Lebaran. Sejauh ini pihaknya
memastikan stok beras menjelang puasa dan Lebaran aman dengan harga yang
stabil.
"Kemendag bertanggung jawab terhadap pengamanan ketersediaan dan
stabilisasi harga komoditas pangan di pasar. Sekaligus sebagai salah satu
lembaga yang ikut menjaga pengendalian laju inflasi. Saat ini kami pastikan stok
beras dalam kondisi aman dan harga terkendali," ujar Rachmat, Sabtu (9/5).
Untuk mengamankan stok beras nasional, mendag bersama Kementerian Pertanian
dan Bulog tengah melakukan verifikasi data stok beras nasional. Selanjutnya,
perkembangan data stok beras secara berkala akan dilaporkan kepada presiden,
wakil presiden, menteri sekretaris negara, kepala staf kepresidenan, dan
menteri terkait lainnya.
"Perkembangan stok beras nasional ini akan menentukan kebijakan pemerintah
dalam melakukan stabilisasi harga di pasar, termasuk dalam menentukan operasi
pasar di sejumlah wilayah yang terjadi gejolak harga," tutur Rachmat.
Dengan demikian, kekurangan pasokan beras untuk kebutuhan pangan masyarakat
bisa dipenuhi dengan baik sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang dapat

merugikan rakyat, serta mempengaruhi perekonomian nasional dan kesejahteraan


petani. Sebab, pada umumnya petani juga konsumen beras.
Rachmat memastikan opsi untuk menambah stok beras akibat anomali cuaca yang
mempengaruhi kegiatan musim tanam dan panen segera diatasi dengan tetap
mengikuti garis kebijakan dan instruksi presiden. Kemungkinan panen raya masih
akan terjadi bulan Juli. "Koordinasi kementerian akan kami lakukan dengan
intensif, untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan," ujar Rachmat
Sementara itu, terkait kebijakan impor beras yang selama ini diwacanakan,
mendag meyakinkan bahwa impor beras merupakan langkah terakhir yang akan
diambil pemerintah. "Impor itu opsi terakhir yang harus ditempuh untuk
memperbesar stok minimal Bulog sebagai cadangan beras pemerintah," kata
Rachmat.
Impor beras yang dilakukan pemerintah ini diperkirakan lantaran Bulog tak
mampu menyerap beras petani. Pasalnya, penyerapan gabah saat ini tidak hanya
dilakukan oleh Bulog. Di beberapa wilayah penyerapan gabah justru dilakukan
oleh selain Bulog, dengan harga lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah
(HPP), bahkan mencapai Rp 4.000 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP).
Akibatnya, target pengadaan Bulog tahun ini yang sebesar 2,7 juta ton,
kemungkinan hanya mampu mencapai 470.000 ton, atau 20% saja. Saya khawatir
fenomena ini kembali akan menaikkan laju inflasi pada bulan Mei ini, dan sangat
mungkin menurunkan angka nilai tukar petani lagi. Ini yang harus diwaspadai,
kata pengamat pertanian Bustanul Arifin.
Perum Badan Usaha Logistik (Bulog) sendiri menyatakan kesanggupannya
menyerap beras hasil panen petani nasional tahun ini sebanyak 2,7 juta ton.
Penyerapan tersebut akan dioptimalkan melalui dua tahap. Pertama (April-Juni),
kedua (Juli-Agustus). Adapun penyerapan dari awal tahun hingga akhir Maret,
Bulog baru merealisasikan sekitar 100 ribu ton setara beras.
Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog Lely Pelitasari mengatakan, penyerapan
beras pada musim panen pertama tahun ini diperkirakan diluar harapan. Beberapa
faktor kendala seperti musim panen yang mundur yang mengakibatkan harga
gabah di kalangan petani terbilang cukup tinggi, sehingga Bulog mengalami
hambatan. Pasalnnya, harga pembelian pemerintah (HPP) petani tidak sesuai.

"Target penyerapan pada tahap pertama (April-Juni) sebenarnya sebanyak 1


juta ton. Tapi melihat keadaan seperti ini, kita pastikan menjadi 500 ribu ton.
Masing-masing selama dua bulan 250 ribu ton," kata Lely.
Menurut dia, rendahnya target penyerapan beras pada musim panen pertama
tahun ini disebabkan terjadinya kegagalan panen yang dialami oleh petani di
sejumlah daerah. Adapun fokus penyerapan tahap awal ini akan diprioritaskan di
wilayah Jawa, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.
Pada musim panen kedua, Bulog menargetkan mampu menyerap beras yang
diproduksi dalam program upaya khusus (upsus) pembukaan lahan pertanian
seluas 350 ribu hektare yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian. Dengan
asumsi tingkat produktivitas lahan sekitar 5 ton gabah kering giling per hektare,
maka produksi beras dari program ini akan mencapai sekitar 1,75 juta ton.
"Upaya lain yang sedang dilakukan adalah kerja sama dengan Perum Perhutani.
Perhutani sendiri memiliki lahan sawah seluas sekitar 100 ribu ha," ujar Lely.

4.Pemerintah Melanggar Konstitusi Dalam Kebijakannya


Menaikkan Harga BBM (Artikel 3 Pelengkap)
7

Mahkamah Konstitusi RI (MK) telah menguji Undang-Undang nomor 22 tahun


2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, apakah isinya bertentangan dengan UndangUndang Dasar kita.
Vonisnya ditetapkan dalam Rapat Permusyawaratan 9 (sembilan) Hakim
Konstitusi pada hari Rabu, tanggal 15 Desember 2004, dan dituangkan dalam
PUTUSAN Perkara Nomor 002/PUU-I/2003.
Putusan MK tersebut yang tentang kebijakan harga BBM berbunyi sebagai
berikut : Pasal 28 ayat (2) dan (3) yang berbunyi (2) Harga Bahan Bakar Minyak
dan Harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat
dan wajar; (3) Pelaksanaan kebijaksanaan harga sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) tidak mengurangi tanggung jawab sosial Pemerintah terhadap golongan
masyarakat tertentu; Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak
dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 nomor 136,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152) bertentangan
dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Jadi menentukan harga BBM yang diserahkan pada mekanisme persaingan usaha
dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi kita, walaupun persaingan usahanya
dikategorikan sehat dan wajar.
Setelah vonis tersebut, terbit sebuah pedoman oleh Direktorat Jenderal
Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM. Isinya mengatakan bahwa sebagai
implikasi dari vonis MK dilakukan perubahan atas Pasal 72 Peraturan Pemerintah
Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas yang berkaitan
dengan harga BBM dan Gas Bumi.
Harga jual BBM ditetapkan oleh Pemerintah dengan Peraturan Presiden.
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir
Minyak dan Gas Bumi pasal 72 ayat (1) berbunyi sebagai berikut.
(1) Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi kecuali Gas Bumi untuk
rumah tangga dan pelanggan kecil, diserahkan pada mekanisme
persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan.
Jadi sangat jelas bahwa Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2004 tersebut
tetap mengatakan bahwa harga BBM diserahkan pada mekanisme persaingan
usaha yang wajar, sehat dan transparan, walaupun oleh MK dinyatakan
bertentangan dengan UUD 1945. Yang dikecualikan Gas Bumi untuk rumah tangga
dan pelanggan kecil.

Dalam berbagai penjelasannya, dalam menentukan harga BBM pemerintah


memang mendasarkan diri pada persaingan usaha, bahkan persaingan usaha yang
tidak sehat dan tidak fair.
Bagaimana penjelasannya? Kita ambil bensin jenis premium sebagai contoh.
Ketika harga minyak mentah yang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar atau
mekanisme persaingan yang diselenggarakan oleh New York Mercantile Exchange
(NYMEX) mencapai US$ 60 per barrel, harga bensin premium yang Rp. 2.700 per
liter dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter. Angka ini memang ekivalen dengan
US$ 61,50 per barrelnya. Seperti kita ketahui, biaya lifting, refining dan
transporting secara keseluruhan rata-ratanya US$ 10 per barrel. Kalau kita
ambil US$ = Rp. 10.000, keseluruhan biaya ini adalah (10 : 159) x 10.000 = Rp.
628,9 atau dibulatkan menjadi Rp. 630 per liter. Jadi kalau harga bensin
premium per liter dikonversi menjadi harga minyak mentah per barrel dalam
US$, jadinya sebagai berikut : (4.500 630) x 159 : 10.000 = US$ 61,53. Ketika
itu harga minyak di New York US$ 60 per barrel. Maka Wapres JK mengatakan
bahwa mulai saat itu tidak ada istilah subsdi lagi untuk bensin premium, karena
harga bensin premium sudah ekivalen dengan harga minyak mentah di New York.
Ini adalah bukti bahwa harga bensin di Indonesia ditentukan atas dasar
mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.
Artinya, ketika itu pemerintah tetap saja mendasarkan diri sepenuhnya pada
mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha, bahkan yang berlangsung di
NYMEX.
BAGAIMANA SEKARANG?
Tindakan pemerintah menaikkan harga BBM yang berlaku mulai tanggal 24 Mei
2008 jam 00 melanggar Konstitusi. Bagaimana penjelasannya?
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro
Kompas tanggal 24 Mei 2008 memberitakan keterangan Menteri ESDM yang
mengatakan bahwa dengan tingkat harga baru itu, pemerintah masih mensubsidi
harga premium sebesar Rp. 3.000 per liter karena ada perbedaan harga antara
harga baru Rp. 6.000 per liter dan harga di pasar dunia sebesar Rp. 9.000 per
liter.
Dari mana angka Rp. 9.000 per liter yang disebut harga dunia itu? Harga BBM Rp.
9.000 per liter dikurangi dengan biaya lifting, refining dan transporting sebesar
Rp. 630 per liter, sehingga harga minyak mentahnya Rp. 9.000 Rp. 630 = Rp.

8.370. Per barrelnya = Rp. 8.370 x 159 = Rp. 1.330.830. Kalau nilai rupiah kita
ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah di pasar dunia sama dengan
1.330.830 : 10.000 = UD$ 133,08.
Sangat-sangat jelas isi pikirannya bahwa harga BBM untuk rakyatnya harus
diserahkan sepenuhnya pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di
NYMEX, yang oleh MK dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Sekarang memang dinaikkan menjadi Rp. 6.000 per liter. Tetapi ini untuk
sementara. Dalam pemberitaan yang sama di Kompas tanggal 24 Mei 2008
tersebut Menteri Keuangan menyatakan bahwa harga ini masih belum final.
Argumentasinya jelas mendasarkan diri pada mekanisme persaingan usaha yang
berlangsung di NYMEX. Kami kutip : Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
mengemukakan Jika harga minyak terus meningkat secara signifikan,
pemerintah bisa melakukan tindakan untuk menekan harga subsidi BBM (baca :
mengurangi subsidi berarti menaikkan harga BBM). Selanjutnya diberitakan
Menurut dia, hal itu dimungkinkan karena pemerintah memiliki kewenangan untuk
menyesuaikan (baca : menaikkan) lagi harga BBM.
Menko Boediono
Sebelumnya, yaitu seperti yang dimuat di Kompas tanggal 17 Mei 2008 Menko
Boediono mengatakan : Pemerintah akan menyamakan harga bahan bakar minyak
atau BBM untuk umum di dalam negeri dengan harga minyak di pasar
internasional secara bertahap mulai September 2008. Ini dilakukan karena
anggaran subsidi akan ditekan lebih rendah dan pemerintah ingin mengarahkan
kebijakan harga BBM pada mekanisme penyesuaian otomatis dengan harga dunia.
Luar biasa, terang-terangan melecehkan dengan arogan Putusan MK yang
menyatakan penyerahan harga BBM pada mekanisme pasar adalah bertentangan
dengan Konstitusi kita.
Selanjutnya dikatakan : Pemerintah tidak ragu memberlakukan harga pasar
dunia di dalam negeri karena langkah ini sudah dilakukan di banyak negara dan
berhasil menekan subsidi BBM. Apakah masih perlu penjelasan bahwa yang
dimaksud Menko Boediono adalah harga BBM di Indonesia diserahkan
sepenuhnya pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX? Dan
apakah masih perlu penjelasan lagi bahwa Pemerintah jelas-jelas bertindak
melawan vonis MK yang dengan sendirinya juga melawan Konstitusi? Banyak
negara yang tidak ikut NYMEX. Di Iran harga BBM ekivalen dengan Rp. 1.000 per

10

liter dan Hugo Chavez juga menjual minyaknya kepada negara-negara sahabat
dengan harga lebih rendah dari harga NYMEX.
PERSAINGAN YANG SEHAT DAN WAJAR?
Lebih gila lagi. Persaingan usaha yang dijadikan landasan mutlak bagi penentuan
harga BBM di Indonesia sama sekali tidak sehat dan tidak wajar. Bagaimana
penjelasannya?
1. Volume minyak yang diperdagangkan di sana hanya 30% dari volume minyak di
seluruh dunia. Sisanya yang 70% diperoleh perusahaan-perusahaan minyak
raksasa atas dasar kontrak-kontrak langsung dengan negara-negara produsen
minyak mentah. Di Indonesia melalui apa yang dinamakan Kontrak Bagi Hasil
atau production sharing.
2. Bagian terbesar minyak dunia diproduksi oleh negara-negara yang tergabung
dalam sebuah kartel yang bernama OPEC. Kalau mekanisme persaingan
dirusuhi oleh kartel, apa masih bisa disebut sehat dan wajar? Toh para
menteri ekonomi kita secara membabi buta menerapkan dalil bahwa harga
minyak ialah yang ditentukan di NYMEX itu, walaupun ditentang keras oleh
MK.
3. Harga yang terbentuk di NYMEX sangat dipengaruhi oleh perdagangan
derivatif dan perdagangan oil future trading yang juga berlangsung di
NYMEX. Sekarang ini para ahli mempertanyakan apakah betul bahwa
permintaan minyak demikian drastis melonjaknya dan terus menerus seperti
grafik harga minyak mentah di NYMEX? Banyak yang dengan argumentasi
sangat kuat menuding spekulasi oleh hedge funds melalui future trading
sebagai penyebabnya. Kok Indonesia terus ikut-ikutan lotre buntut ini secara
membabi buta tanpa peduli apakah rakyatnya akan mati kelaparan atau tidak.
BAGAIMANA SEMESTINYA?
Apakah minyak yang walaupun milik rakyat Indonesia harus dibagikan dengan
cuma-cuma kepada rakyatnya? Sama sekali tidak. Ketika harga bensin premium
masih Rp. 2.700 per liter, rakyat dikenakan harga Rp. 2.070 per liternya (Rp.
2.700 Rp. 630), dan ketika dinaikkan menjadi Rp. 4.500 rakyat dikenakan harga
Rp. 3.870 (Rp. 4.500 Rp. 630). Tetapi para teknokrat itu tidak terima.
Dinaikkan lagi menjadi Rp. 6.000 per liter dan mulai September akan dinaikkan
lagi!!
Ketika Bung Hatta dan kawan-kawan merumuskan pasal 33 UUD 1945 sudah
dipikirkan dengan matang bahwa barang yang penting bagi negara dan menguasai

11

hajat hidup orang banyak ditentukan oleh pemerintah atas dasar hikmah
kebijaksanaan sesuai dengan kepatutan dan daya beli rakyatnya, serta atas
pertimbangan untuk menopang pengembangan ekonomi, karena minyak sangat
strategis.
Sekarang semuanya diinjak-injak oleh para teknokrat yang sangat miskin akan
hati nurani, visi, filosofi. Mereka hanyalah tukang-tukang yang selalu terpaku
pada doktrin-doktrin para ahli Barat.
Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang dimaksud sebagai pintu gerbang menuju pada
kemakmuran yang berkeadilan dan kesejahteraan dijadikannya pintu masuk
bangsa-bangsa lain untuk menghisap bangsa Indonesia yang lebih dahsyat lagi.

5.Persaingan Terhambat Karena Kebijakan Pemerintah


yang Monopolistik
Tidak sedikit kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah menciptakan struktur
pasar yang sangat monopolistik. Akibatnya, di antara pelaku usaha tidak terjadi
persaingan dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya.

12

Apalagi dengan ditolaknya gugatan dari Monopoly Watch oleh majelis hakim pada
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Monopoly Watch kemudian
berencana akan mengajukan banding pada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
(PT TUN). Salah satu gugatan tersebut ditolak karena yang bersangkutan tidak
memiliki legal standing yang sah sebagai badan hukum.
Objek gugatan dalam persidangan tersebut adalah SK Menag No 525 tahun 2001
tentang Penunjukan Perum Peruri dan SK No Dalam SK Menteri Agama No. 519
tahun 2001 yang secara implisit menunjuk MUI (Majelis Ulama Indonesia)
sebagai badan standarisasi halal.
Terkait dengan penolakan tersebut, Muhammad Udin Silalahi selaku Wakil Ketua
Komite Eksekutif mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan banding.
Berdasarkan undang-undang yang berlaku, Monopoly Watch sudah sah secara
hukum. "Nama dan bidang kerja Kami sudah tercatat di notaris," tegas Silalahi.
Menurut Monopoly Watch, dua Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Menag
tersebut merupakan contoh dari kebijakan pemerintah yang jelas menghambat
persaingan diantara pelaku usaha. Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang
sangat menghambat kegiatan usaha, misalkan pemberian ijin tertentu kepada
pelaku usaha tertentu.
Ambil contoh kasus PT Bogasari Flour Mills yang telah memperoleh izin dari
pemerintah untuk mengimpor gandum dan memproduksinya menjadi terigu. Pada
saat itu, PT Bogasari adalah satu-satunya perusahaan yang memproduksi terigu
dengan pangsa pasar 85%.
Kemudian Kepmen No 91/Kp/1992 memberi ijin kepada Badan Penyangga dan
Pemasaran Cengkeh sebagai pelaku usaha pembali cengkeh dari petani dan
menjualnya kembali pada produsen rokok. Petani diharuskan menjual cengkeh
tersebut dengan harga yang sudah ditentukan.
Silalahi menjelaskan bahwa pada kasus cengkeh, petani tidak dapat langsung
menjual cengkehnya kepada produsen rokok. "Dengan demikian, para petani
cengkeh tidak bisa bersaing pada pasar yang bersangkutan, " kata Silalahi
Pemerintah harus hati-hati
Mencermati begitu banyaknya kebijakan pemerintah yang menyebabkan
persaingan tidak sehat, Silalahi menyatakan bahwa sebaiknya pemerintah lebih
berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan tersebut. "Intinya jangan sampai
menimbulkan distorsi terhadap pasar dan menghambat persaingan," ujar Silalahi.

13

Lihat saja, SK Menag penunjukan Peruri untuk mencetak lebel halal tersebut.
"Memangnya hanya Peruri yang bisa melakukan pencetakan dengan kualitas yang
sama dengan Peruri. Banyak kok, percetakan yang bisa melakukan pencetakan
tersebut," ujar Silalahi.
Sementara itu menurut laporan Bank Dunia, masalah penetapan harga, kartel,
dan kontrol produksi harus didukung oleh pemerintah. Misalkan, dengan
menentukan sektor mana saja yang dimungkinkan diberikan "dispensasi"
berlangsungnya praktek monopoli.
Hambatan persaingan berdasarkan sektor tertentu.
Bentuk Hambatan
Kartel
Kontrol Harga
Entry Barrier
Izin Khusus
Dominasi BUMN

Sektor
Semen,
Kayu,
Kertas,
Pupuk
Semen, Gula, Beras
Kayu, Retail business
Cengkeh, Tepung, Gandum
Baja,
Pupuk,
Produksi
Minyak

Sumber Bank Dunia tahun 1995


Pelaku usaha belum mengerti
Silalahi sendiri tidak menafikan bahwa praktek monopoli itu masih berlangsung di
dalam masyarakat. Ketika ditanya di manakah persoalan selama ini, Silalahi
mengemukakan bahwa masih sedikit pelaku usaha yang mengerti subtansi dari UU
No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak sehat.
Terkait dengan masalah sosialisasi, Monopoly Watch sedang mengupayakan
sosialisasi atas UU tentang Persaingan Usaha yang selama ini dinilai masih belum
dimengerti oleh pelaku usaha. "Monopoly Watch saat ini sedang mencari partner
dalam kegiatan sosialisasi tersebut," kata Silalahi.
Menyinggung masalah benturan kepentingan dengan KPPU (Komisi Pengawas
Persaingan Usaha), Silalahi menegaskan bahwa pihaknya menempatkan diri
sebagai mitra kritis dari KPPU yang dibentuk oleh pemerintah agar penegakan
hukum bisa berjalan dengan baik.

14

Sementara itu, Samuel Nitisaputra, Sekretaris Komite Eksekutif Monopoly


Watch mengatakan bahwa selain faktor kebijakan, juga perlu diperhatikan
adalah praktek dumping. Praktek tersebut merupakan penjajahan modern melalui
penguasaan di bidang ekonomi.
Suatu hal yang sangat membingungkan, jika pemerintah sempat mengeluarkan
kebijakan pemerintah yang justru nantinya akan mendukung berlangsungnya
praktek dumping. "Praktek dumping jelas sangat merugikan pelaku usaha dan
menyengsarakan bagi perekonomian, " tegas Samuel.

6.Kebijakan Pemerintah Menaikkan Harga BBM


Kebijakan Pemerintah Biangkerok Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA (SK)- Menurunnya pertumbuhan perekonomian Indonesia dinilai
karena ulah pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tak populer. Kenaikan
harga bahan bakar minyak (BBM), tarif dasar listrik, dan beberapa
kebijakan lainnya adalah beberapa penyebabnya.

15

Pengamat Perekonomian Fuad Bawazier mengatakan, banyak sekali masalah yang


dibuat pemerintah yang menyebabkan sulitnya pertumbuhan perekonomian di
Indonesia.
Jadi pemerintah harus sadar dan cepat mengkoreksi kebijakan yang tidak
populer tersebut, kata Fuad kepada Suara Karya di Jakarta, Minggu (10/5).
Dikatakan, dilepasnya harga BBM pada mekanisme pasar menjadikan harga jual di
pasaran tak stabil. Kondisi ini sangat terpengaruh pada biaya transportasi, baik
untuk angkutan masal maupun industri.
Kenaikan tersebut menurutnya, jelas memukul perekonomian masyarakat di mana
penghasilan mereka tidak diimbangi kenaikan harga beberapa bulan belakangan
ini.
Dampak lain yang jelas dirasakan ada pada sektor industri dan para pedagang di
pasar tradisional maupun di pusat perbelanjaan modern. Mereka mengeluh daya
beli masyarakat semakin menurun, khususnya di era pemerintahan Presiden
Jokowidodo-Jusuf Kalla.
Kebijakan yang diambil berantakan. Ini menjadikan inflasi terus tumbuh dan
akhirnya membebani semua sektor, kata Fuad.
Mantan Menteri Keuangan ini juga mengatakan, pertumbuhan perekonomian
Indonesia sebagian besar ditunjang sektor konsumsi. Dengan penurunan tersebut
secara otomatis tak akan bisa mendongkrak perekonomian nasional.
Selain itu, lambatnya pencairan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)
tahun 2015 menjadikan mandeknya program pemerintah, seperti rencana
pembangunan infrastruktur dan sebagainya.

7.Perlu sinkronisasi
tradisional

kebijakan

Jumat, 4 Mei 2012 17:36 WIB | 7.915 Views


Pewarta: Imam Santoso

16

revitalisasi

pasar

Jakarta (ANTARA News) - Keberadaan pasar tradisional yang menjadi tumpuan


ekonomi rakyat kelas bawah dan pelaku usaha mikro kian tergusur, sementara
pasar moderen kian menjamur bahkan hingga ke pedesaan.
Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan jumlah pasar tradisional menurun
sebesar 8,1 persen sepanjang 2011. Berbanding terbalik dengan pasar modern
yang tumbuh 31,4 persen pada periode yang sama.
Program revitalisasi pasar tradisional yang tengah digalakkan Kementerian
Perdagangan mungkin salah satu langkah yang tepat saat ini dalam upaya
mempertahankan pasar yang menjadi penopang ekonomi rakyat kelas bawah itu.
Kementerian Perdagangan telah menganggarkan Rp400 miliar untuk revitalisasi
pasar tradisional tahun ini, dan Mendag Gita Wirjawan mengatakan dana itu akan
ditingkatkan pada tahun depan.
Lalu, bagaimana agar pasar tradisional tetap hidup, berkembang, dan berfungsi
maksimal? Berikut wawancara khusus ANTARA News dengan pengamat ekonomi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Latif Adam, tentang
keberadaan pasar tradisional di Indonesia.

Jumlah pasar tradisional di Indonesia semakin menurun, bagaimana Anda


melihat ini?
Mungkin ini cerita sadis karena bagaimanapun pasar tradisional punya peran
penting untuk memasarkan produk-produk usaha kecil dan menengah (UKM).
Seharusnya hal itu menjadi catatan penting bagi pemerintah agar mengembalikan
peran pasar tradisional yang bukan saja sebagai tempat transaksi pedagang dan
pembeli, tapi lebih sebagai alternatif pemasaran produk UKM. Jika pasar
tradisional lenyap, maka klaim ekonomi kerakyatan pemerintah harus
dipertanyakan.
Pasar tradisional itu bisa mati, menurut saya, karena imbas negatif dari
persaingan dengan industri, seperti pendirian supermarket dan minimarket
waralaba yang sangat inklusif bahkan sampai ke pedesaan.
Dalam konteks ini, kalaupun pemerintah mau memprogramkan revitalisasi pasar
tradisional, maka yang jadi fokus seharusnya bukanlah persoalan fisik saja.
Selama ini, pemerintah mengatakan pro terhadap pasar tradisional maka yang
dilakukan adalah membangun pasar, dari aspek fisiknya.

17

Selama ini, revitalisasi pasar tradisional itu terindikasi tukar guling. Ada pasar
tradisional yang sudah lama berdiri, kemudian tergusur pusat perbelanjaan
modern. Sementara lokasi pembangunan pasar tradisional yang baru tidak
strategis.

Jadi, program revitalisasi itu sebaiknya diarahkan ke mana?


Fisik itu penting, tapi tidak substantif. (Solusi) yang dibutuhkan adalah
bagaimana pemerintah mampu menata persaingan di antara pasar tradisional
dengan pasar-pasar modern.
Di sejumlah negara yang menganut paham kapitalis pun masih ada aturan, tidak
memperbolehkan pendirian pasar modern dalam radius tertentu dari pasar
tradisional, seperti Paddy's Market di Sydney, Australia.

Tapi pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan sudah mengeluarkan


aturan tentang penyelenggaraan waralaba..
Iya, tapi dalam hal ini penegakan aturan yang dibutuhkan. Bahwa pasar moderen
atau minimarket diatur agar tidak berlokasi di dekat pasar tradisional, itu
memang ada aturannya.
Namun, seringkali aturan itu tidak terimplementasi dengan baik. Apalagi ketika
aturan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (pemda) tidak sejalan.
Seolah-olah yang kemudian terjadi adalah pasar tradisional dimiliki pemda karena
ijin lokasinya diterbitkan pemda.
Di sini, terjadi kesenjangan. Pemerintah pusat berkeinginan untuk mengatur
persaingan, tapi peraturan itu menjadi mandul karena ada "potong kompas" dari
pemerintah daerah.
Ini jadi pelajaran, bahwa tidak ada sinkronisasi kebijakan ekonomi antara
pemerintah pusat dan daerah.
Meskipun mungkin ada kontribusi pasar tradisional bagi pendapatan daerah, bisa
jadi commitment fee dari pendirian supermarket lebih menggiurkan para
birokrat. Transparansi itulah yang semestinya menjadi perhatian.

Bagaimana dengan lonjakan kelas menengah di Indonesia yang mencapai


56,5 persen dari jumlah penduduk pada 2012?
Permasalahannya, ketika seseorang naik peringkat (ekonomi), dari kelas bawah ke
kelas menengah, perubahan perilaku konsumsi akan mengikuti. Semula mereka

18

(kelas bawah) menjadi konsumen pasar tradisional kemudian beralih ke pasar


modern. Itu terjadi salah satunya karena ada persepsi bahwa pasar moderen itu
lebih bergengsi dan nyaman.
Jika demikian, peluang peningkatan kelas menengah baru di Indonesia tidak
menjadi kabar gembira bagi keberadaan pasar tradisional. Di sini lah peranan
pemerintah dibutuhkan.

Peranan pemerintah seperti apa?


Pemerintah dapat memodifikasi perilaku konsumen. Modifikasi itu misalnya,
ketika konsumen kecenderungan malas membawa duit banyak, mereka
membutuhkan anjungan tunai mandiri (ATM) di dekat lokasi. Dalam kasus itu,
pemerintah dapat memfasilitasi dengan mengajak industri perbankan agar
menyediakan ATM keliling.

Sejumlah pemerintah daerah mengklaim telah berperan menyelamatkan pasar


tradisional dengan berbagai promosi. Bagaimana dengan peranan seperti itu?
Promosi mungkin bagus sebagai bentuk himbauan moral. Tapi, yang justru
dibutuhkan adalah keberlanjutan program dari kegiatan promosi.
Jika lokasi pasar tradisional berdekatan dengan pasar moderen, sedangkan
barang yang ditawarkan lebih murah di pasar modern, kemungkinan semua
promosi itu tidak efektif.
Promosi yang dilakukan pun semestinya lebih menyentuh. Misalnya, peningkatan
kesegaran produk pasar tradisional dengan melibatkan sejumlah institusi
penelitian. Promosi kesegaran itu menjadi 'senjata' yang dapat dipakai
pemerintah. Selain kesegaran, mungkin proses tawar-menawar dalam pasar
tradisional yang ditonjolkan sebagai promosi.

Dalam persoalan revitalisasi pasar tradisional, bagaimana peranan para


pedagang? Adakah peranan yang dapat mereka lakukan?
Meskipun pedagang dapat mengantisipasi perubahan perilaku konsumen, tapi
tetap dibutuhkan peranan fasilitator. Bagaimana memperkuat posisi pedagang,
itu yang penting.
Pengelola pasar tradisional, misalnya, mampu memberikan arahan kepada
pedagang untuk meningkatkan daya saing. Daya saing tidak selalu mengarah pada
harga, tapi dapat pula pada layanan penjualan, seperti keramahan atau
kebersihan lokasi dagang.

19

Apalagi jika pengetahuan pedagang pasar tradisional belum menyentuh tren


permintaan pasar. Stimulasi daya saing dilakukan bukan hanya oleh pemerintah,
melainkan juga oleh pengelola pasar tradisional.
Pengelola pasar tradisional juga dapat berbagi informasi dengan para pengelola
pasar tradisional di daerah lain. Bagaimana pengelola pasar tradisional di Solo
misalnya, dapat mempertahankan minta konsumen berbelanja di sana.
Pasar Beringhardjo di Yogyakarta juga bisa jadi contoh. Bagaimana masyarakat
Yogyakarta masih setia dengan pasar itu.

Kalau disebutkan pasar tradisional di Yogyakarta dan Solo berarti ada


pengaruh faktor budaya masyarakat?
Iya, ada faktor itu dan dibutuhkan pendekatan sosial untuk hal itu.

Jadi, sebenarnya masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk


mempertahankan pasar tradisional?
Iya, menurut saya masih ada. Sebenarnya yang harus dilakukan adalah ketegasan
dari pemerintah terutama kepala daerah untuk mempertahankan pasar
tradisional.

20