Anda di halaman 1dari 96

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No.

Oktober 2012

PENGARUH JENIS PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN


BELUT SAWAH (Monopterus albus zuieuw)
THE EFFECT OF DIFFERENT FEED TYPES ON THE GROWTH OF EELS
(Monopterus albus zuieuw)
1*)

2)

1)

Mashuri , Sumarjan , Zaenal Abidin .


1*)
1)
Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan Staff Pengajar Program Studi Budidaya
2)
Perairan Staff Pengajar Program studi Pemulian Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian,
Fakultas Pertanian Universitas Mataram *Email: huri_sholeh@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup belut
sawah (Monopterus albus zuieuw) pada pemberian jenis pakan yang berbeda. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan yaitu ; cacing tanah, cacing sutra (Tubifex sp.), keong mas (Pomacea canaliculata
Lamarck), ikan rucah, dan pellet, setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali ulangan sehingga
banyak satuan percobaan adalah 20 unit akuarium. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan
selama 2,5 bulan mulai pada tanggal 28 Februari sampai 24 April 2012 di Rumah Kaca
Program Studi Pemuliaan Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Mataram. Hasil penelitian menujukkan bahwa perbedaan jenis pakan tidak
berpengaruh (p>0,05) terhadap tingkat kelangsungan hidup, tetapi sangat berpengaruh
(p<0,05) terhadap pertumbuhan berat dan panjang belut. Nilai pertumbuhan berat dan
panjang belut tertinggi terdapat pada perlakuan cacing tanah dengan nilai pertumbuhan berat
7,38 g dan panjang 5,61 cm. Sedangkan pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan pellet
dengan nilai pertumbuhan berat 1,50 g dan panjang 1,83 cm.
Kata kunci : Monopterus albus, Pakan, Pertumbuhan.

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

PENDAHULUAN
Belut merupakan salah satu jenis
komoditas ekspor andalan yang tak kalah
dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.
Permintaan belut dari Indonesia banyak
diminati oleh negara Amerika Serikat,
Australia, Selandia Baru, Perancis, Italia,
Spayol, Belanda, Inggris, Hongkong, Jepang
dan Korea. Negara tersebut belut menjadi
bahan dasar masakan papan atas. Harga belut
tergolong sangat bagus untuk pasar lokal
maupun ekspor. Harga belut untuk pasar
lokal berkisar antara Rp 25.000,-sampai Rp
30.000,-/kg. Harga ini bisa melambung tinggi
hingga Rp 50.000,-/kg ketika musim kemarau
karena pasokan belut semakin berkurang.
Untuk pasar ekspor harga belut bisa berkisar
6 sampai 10 dolar Amerika/kg (Mutiani,
2011).
Optimalisasi produksi belut sawah
melalui kegiatan budidaya memerlukan
pengetahuan tentang bagaimana budidaya
yang baik serta faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan dalam budidaya.
Kurangnya pengetahuan tentang budidaya
belut sawah dapat mengakibatkan kesalahan
dalam proses budidaya yang dapat
mengakibatkan pertumbuhan belut sawah
menjadi lambat (Junariyanti, 2009). Salah
satu pemicu pertumbuhan belut sawah
berkaitan erat dengan kebiasaan makan dan
jenis pakan yang diberikan karena pakan
merupakan salah satu faktor utama yang
sangat penting dalam usaha peningkatan
produktivitas budidaya ikan. Pemberian
pakan diatur sesuai dengan sifat hewan untuk
memacu pertumbuhan budidaya dan akhirnya
memperoleh produksi yang tinggi (Ansari
dan Nugroho, 2009).
Pakan untuk belut membutuhkan
kandungan protein sekitar 65% sampai 70%.
Pakan yang dimaksud bukan saja yang
diberikan secara rutin seperti pelet, tetapi

Oktober 2012

juga dengan pemberian pakan selingan yang


berupa pakan hidup misalnya aneka jenis
ikan, cacing dan bekicot. Hal ini untuk
menghindari pengaruh produktifitas belut
yang tidak maksimal (Muktiani, 2011).
Pakan dari bahan hewani merupakan
sumber protein utama yang dapat diberikan
untuk ikan karnivor karena kandungan
proteinnya tinggi. Beberapa jenis pakan
hewani yang memiliki nilai protein seperti,
ikan mujair 55,60%, keong mas 57,76%,
cacing tanah 59,47%, dan cacing sutra
41,10%.
Jenis pakan yang berbeda akan
mengandung nilai nutrisi atau gizi yang
berbeda pula. Apabila pakan yang diberikan
kepada ikan budidaya mempunyai kandungan
nutrisi yang cukup tinggi, maka hal ini tidak
saja akan menjamin hidup dan aktivitas belut,
tetapi juga akan mempercepat pertumbuhan.
Sebaliknya jika jenis pakan yang diberikan
pada belut memiliki nutrisi yang rendah akan
timbul gejala kekurangan gizi dan
memperlambat pertumbuhan. Oleh karena itu
dilakukan penelitian tentang Pengaruh Jenis
Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan
Belut (Monopterus albus Zuieuw).
METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimen yang
dilakukan di Laboratorium, rancangan
lingkungannya
disusun
menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan dan 4 ulangan sehingga ada 20 unit
percobaan. Perlakuan yang dicobakan adalah
jenis pakan sebagai berikut :
1. Jenis pakan pelet
2. Jenis pakan cacing tanah
3. Jenis pakan cacing sutra
4. Jenis pakan keong mas
5. Jenis pakan ikan rucah
Hewan Uji
2

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Oktober 2012

Hewan uji yang digunakan dalam


penelitian
ini
adalah
benih
belut
sawah(Monopterus albus) berukuran 7,00,5
gram per ekor. Benih belut dalam keadaan
sehat dan tidak terserang penyakit. Belut
yang terseleksi dimasukkan pada setiap unit
percobaan dengan jumlah 6 ekor per
akuarium.
Pakan uji
Pakan yang digunakan adalah pakan
jenis pelet, cacing tanah, cacing sutra, ikan
rucah dan keong mas. Masing-masing pakan
uji memiliki ukuran yang berbeda-beda.
Untuk menyesuaikan dengan bukaan mulut
belut maka dibutuhkan penyetaraan ukuran
pakan uji terutama pakan uji yang memiliki
ukuran besar, dengan cara dipotong-potong
menggunakan pisau pencacah. Fungsi dari
penyetaraan ini agar hewan uji dapat
memakan pakan dengan mudah.
Keong mas dibuang cangkangnya
dan diambil dagingnya kemudian dicincang
sesuai bukaan mulut belut. Ikan rucah di
buang bagian kepala sirip dan tulang dan
dicincang sesuai bukaan mulut. Cacing tanah
yang berukuran besar dipotong sesuai
kemampuan belut untuk memakannya dan
jika ukurannya kecil bisa diberikan langsung.
Cacing sutra dan pelet diberikan secara
langsung karena ukuranya sudah sesuai
bukaan mulut belut.
HASIL
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup
Hasil analisis pada Tabel 1
menunjukkan bahwa jenis pakan yang
berbeda berpengaruh (p<0,05) terhadap
pertumbuhan berat dan pertumbuhan panjang
belut, tetapi tidak mempengaruhi (p>0,05)
tingkat kelangsungan hidup belut.

Pakan
jenis
cacing
tanah
menghasilkan nilai pertumbuhan berat dan
panjang tertinggi (p<0,05) dibandingkan
dengan perlakuan cacing sutra, keong mas,
ikan rucah, dan pellet yaitu cacing tanah berat
7,38 g dan panjang 5,61 cm, kemudian
pemberian cacing sutra berat 6,70 g, dan
panjang 4,13 cm, pemberian keong emas 3,68
g, dan 3,42 cm. Nilai pertumbuhan dengan
pemberian ikan rucah dan pelet menghasilkan
pertumbuhan terendah, pemberian jenis ikan
rucah menghasilkan berat 1,95 g, dan panjang
2,18 cm, dan pemberian pelet 1,50 g, dan
1,83 cm yang masing-masing tidak bebeda
nyata (p>0,05). Nilai untuk kelangsungan
hidup tidak berbeda nyata (p>0,05) pada
semua perlakuan dengan pemberian cacing
tanah, keong emas, cacing sutera, pelet dan
ikan rucah berkisar antara 91,66% sampai
100%.
Data Kualitas Air
Hasil pengukuran kualitas air
menunjukkan bahwa nilai dari masingmasing parameter memiliki pengaruh yang
sama pada semua perlakuan. Hasil
pengukuran kualitas air dapat dilihat pada
Tabel 2.

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Pengukuran kualitas air di lokasi


penelitian meliputi: suhu, kekeruhan, dan
DO. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa
parameter kualitas air pada wadah tempat
o
penelitian berkisar antara suhu 27 C sampai
o
28 C, kekeruhan 0,18 NTU sampai 0,54
NTU, dan oksigen terlarut 4,3 mg/l sampai
6,5 mg/l.

PEMBAHASAN
Pertumbuhan Berat dan Panjang Mutlak
Selama pemeliharaan, belut mengalami
pertumbuhan berat dan panjang. Hal ini
menunjukkan
bahwa
belut
dapat
memanfaatkan pakan yang diberikan sebagai
sumber energi. Pemberian jenis pakan yang
berbeda berpengaruh terhadap tingkat
pertumbuhan mutlak berat dan panjang belut
(Monopterus
albus).
Hasil
analisis
menunjukkan pertumbuhan panjang dan berat
mutlak cacing tanah 7,38 g dan 5,61 cm,
cacing sutera 6,70 g dan 4,13 cm, keong mas

Oktober 2012

3,68 g dan 3,42 cm, ikan rucah 1,95 g dan


2,18 cm, dan pellet 1,50 g dan 1,83 cm.
Pertumbuhan merupakan perpaduan antara
proses
perubahan
struktur
melalui
peningkatan biomassa sebagai proses
transformasi materi dari energi pakan
menjadi massa tubuh (Yamaoka dan Scheer,
1970). Sofi (2010) menjelaskan bahwa pakan
yang dimakan oleh belut dapat dimanfaatkan
untuk melakukan metabolisme, respirasi,
proses pencernaan, kerja saraf, dan aktifitas
hidup lainnya.
Persentase pakan yang diubah menjadi
daging atau pertambahan bobot ikan yang
dipelihara berkaitan erat dengan jenis pakan
yang dimakan. Semakin baik kualitas pakan
menunjukkan efisiensi pakan akan baik
Pakan yang baik untuk belut pada
pemeliharaan dengan menggunakan air bersih
yaitu cacing tanah karena menunjukkan
pertumbuhan berat 7,38 g dan panjang 5,61
cm yang tertinggi di antara pakan jenis yang
lain. Hal ini disebabkan protein cacing tanah
memiliki nilai protein kasar yang tinggi yaitu
49,5%, cacing sutera 41,1%, keong mas 37%,
(Ansari dan Nugraho, 2009). Protein cacing
tanah memiliki nilai protein yang tinggi yaitu
59,47%, cacing sutera 58,1%, keong mas
57,76%, ikan rucah 43,57%, dan pelet
35,08% (Kordi, 2007).
Alava dan Lim (1983) menyatakan
bahwa pertumbuhan tidak hanya dipengaruhi
oleh kuantitas proteinnya tetapi juga
kualitasnya, serta kandungan zat gizi lainnya
seperti lemak juga berpengaruh dalam
pertumbuhan.
Selain kualitas protein yang berbeda,
kebiasaan makan juga menentukan jumlah
konsumsi pakan sehingga berpengaruh
terhadap pertumbuhan. Pakan jenis cacing
tanah merupakan salah satu jenis pakan yang
biasa dimakan oleh belut di habitat aslinya.
Sedangkan cacing sutra, keong mas, ikan
rucah dan pellet bukan merupakan pakan
utama di habitat aslinya. Kordi (2007)
4

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

menyatakan cacing sutra dan keong mas


meskipun hidup di air yang mengalir dan
dasar yang berlumpur namun bukan
merupakan pakan yang biasa dimakan oleh
belut. Pakan berupa pelet dan ikan rucah
merupakan pakan pengganti dari jenis pakan
yang biasa dimakan di habitat aslinya
(Anonim, 2011).
Tekstur daging pakan segar yang
berupa cacing tanah, cacing sutra, keong mas,
dan ikan rucah berbeda. Mulyana (2010)
menyatakan daging cacing sutra memiliki
tekstur daging yang halus dibandingkan
keong mas dan ikan rucah. Sedangkan keong
mas memiliki daging yang agak keras bila
dibandingkan dengan cacing tanah, cacing
sutra, dan ikan rucah.
Rendahnya nilai pertumbuhan belut
pada pemberian pakan pelet disebabkan pelet
yang diberikan tidak habis dimakan oleh
belut. Hal ini terjadi karena dalam waktu 30
menit pelet mulai hancur, sehingga pakan
kurang
direspon
oleh
belut.
Nilai
pertumbuhan pada pemberian pakan berupa
ikan rucah juga rendah. Berdasarkan hasil
penelitian, pertumbuhan panjang lebih tinggi
dari pada pertumbuhan berat dalam waktu
yang sama pada pemberian cacing tanah,
cacing sutera, dan keong mas, yang
menunjukkan belut tumbuh gemuk. Saparinto
(2009)
menyatakan
bahwa
apabila
pertumbuhan berat lebih tinggi dari pada
pertumbuhan panjang maka akan membentuk
tubuh menjadi gemuk, ikan yang gemuk
disebabkan asupan nutrisi yang cukup dan
lingkungan yang baik.
Pemberian pakan berupa ikan rucah
dan pelet menghasilkan pertumbuhan panjang
lebih tinggi daripada pertumbuhan berat yang
menunjukkan belut tumbuh kurus. Kurangnya
kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh belut
pada
pakan
yang
dimakan
akan
mengakibatkan pertumbuhan menjadi lambat
dan kurus. Belut yang tumbuh kurus
disebabkan karena kurangnya nutrisi yang

Oktober 2012

dibutuhkan oleh tubuh (Anonim, 2010).


Menurut Islaminingrum (2011) bahwa
hubungan panjang dan berat yang terjadi pada
ikan, ada yang bersifat allometrik positif yang
menunjukkan bahwa pertumbuhan berat belut
lebih cepat dari pada pertumbuhan
panjangnya dan allometrik negatif yang
menunjukkan pertumbuhan panjang ikan
lebih cepat daripada pertumbuhan beratnya.
Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup belut
yang dihasilkan tinggi berkisar dari 91,66%
sampai
100%.
Tingginya
tingkat
kelangsungan
hidup
yang
dihasilkan
disebabkan oleh kondisi lingkungan yaitu
kualitas air yang optimal (Tabel 2).
Selain itu, padat tebar dalam
penelitian ini termasuk optimal yaitu 6 ekor
2
dengan ukuran wadah 30 cm .
Padat tebar yang berlebihan akan
menyebabkan belut stess, terjadi persaingan
dalam memproleh pakan dan ruang gerak
sehingga menyebabkan kematian. Menurut
Maizar dan Setyono, (2007) padat tebar yang
berlebihan dapat mengakibatkan terjadiya
kompetisi baik dalam hal pakan, ruang gerak
maupun pemanfaatan oksigen terlarut.
Kematian belut dapat disebabkan oleh luka,
stres, atau terkena racun (Taufik, 2008).
Pada penelitian ini, sifat kanibalisme
belut tidak muncul, hal ini disebabkan adanya
pemberian pakan yang cukup. Menurut
Nazam (2005), kematian dapat terjadi karena
munculnya sifat kanibalisme pada belut.
Parameter Kualitas Air
Kualitas air dapat mempengaruhi
pertumbuhan biota air. Jika kualitas air dalam
suatu perairan seperti suhu, pH, dan oksigen
terlarut dalam air berada di luar kisaran
optimum, maka pertumbuhannya akan
terhambat. Pengukuran kualitas air selama
penelitian meliputi suhu, oksigen terlarut
(DO), pH, dan kekeruhan berada dalam
5

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

kisaran optimal. Kisaran nilai suhu pada air


o
media pemeliharaan yaitu 27 sampai 28 C.
Parameter kualitas air optimum untuk
perkembangan belut adalah suhu 25 sampai
o
28 C (Anonim, 2007).
Hasil pengukuran oksigen terlarut
masih dalam kisaran optimal (DO) 4 sampai
6 mg/l. Oksigen terlarut yang baik untuk
pertumbuhan ikan dan kelangsungan hidup
ikan antara 5 sampai 7 mg/l (Ghufran et al.,
2007).
Pengukuran pH selama percobaan 7,0
sampai 8,0 hasil pengukuran ini merupakan
nilai optimal untuk budidaya belut. Nilai pH
apabila melebihi atau kurang dari kisaran
optimum dapat menurunkan pertumbuhan,
dan pada kondisi ekstrim dapat mengganggu
kesehatan ikan (Ghufran et al., 2007 dalam
Febriany, 2011).
Hasil pengukuran kekeruhan 0,18
sampai 0,54 NTU, merupakan standar
optimum tingkat kekeruhan budidaya belut
pada air bersih. Menurut Lloyd (1985) dalam
Anonim (2011), peningkatan nilai kekeruhan
atau yang disebut dengan turbiditas diatas 5
NTU pada perairan dangkal dan jernih dapat
mengurangi produktifitas 3% sampai 13%.
Kualitas air menunjukkan bahwa
setiap pengukuran kualitas air pada masingmasing parameter selama percobaan adalah
sama ini dikarenakan pada wadah penelitian
dipasang sistem resirkulasi air yang berfungsi
untuk menjaga kualitas air pada semua unit
percobaan agar tetap sama.
DAFTAR PUSTAKA
Alava, V. R., dan Lim, C., 1983. The
quantitative
dietary
protein
requirement of Panaeus monodon
Juvenil
in
a
controlled
environment. Aquaculture.30: 5361
Anonim, 2007. Budidaya Belut di

Oktober 2012

Pekarangan Rumah.
Pustaka. Jakarta

AgroMedia

Anonim,2007. Keong Mas Sumber Pakan


dan Obat-Obatan. terhubung berkala]
http://anekaplanta.wordpress.com/200
7/12/26/keong-mas-sumber-pakandan-obat-obatan/html. [ 27 November
2011].
Anonim, 2011. Teknik Pemeliharaan
Budidaya Belut di Air Bersih.
[terhubung
berkala]
http://mahmudsmadawangi.blogspot.c
om/2011/06/teknik-pemeliharaanbudidaya-belut-di.html [27 November
2011].
Anonim, 2010. Sidat Komiditas Unggulan
yang Terlupakan, [terhubung berkala]
http://bisnisukm.com/sidatkomoditas-unggulan-yangterlupakan.html. [16 juli 2012].
Ansari, S. dan Nugroho, G. S., 2009.
Pengaruh Pemberian Jenis Pakan
Terhadap
Pertumbuhan
dan
Kelangsungan Hidup Lobster Air
Tawar (Cherax quadricarinatus).
Universitas Lampung. Lampung.
Febriany, F., 2011. Pemanfaatan Tepung
Azola
(Azolla
pinnata)
Sebagaibahan Pakan Alternatif
Pada Pertumbuhan Benihikan Nila
Gift (Oreochromis sp.). Puwokerto.
Islaminingrum, A. 2011. Hubungan
Panjang Berat Ikan Yang
Tertangkap
di
Waduk
Karangkates
Kecamatan
Sumberpucung.
http://175.45.184.24/handle/1234
56789/25206. [06 Januari 2012].
Junariyanti, M. F., 2009. Panen Belut 3
Bulan di Media Air Bening Tanpa
6

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Lumpur. Penebar Swadaya. Jakarta.


Khairuman, dan Amri, K., 2008 Peluang
Usaha Budidaya Cacing Sutra Pakan
Alami Bergizi Tinggiuntuk Ikan Hias.
PT Agromedia Pustaka. Jakarta.
Kordi, K.M.G.H., 2007. Meramu Pakan
untuk Ikan Karnivor. Aneka Ilmu.
Semarang.

Oktober 2012

Taufik, A., Suparinto, C., 2008. Usaha


Pembesaran Belut di dalam Kolam
Tembok, Kolam Jaring, Kolam Terpal
dan Drum/Tong. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Yamaoka, L. H. and B. T. Scheer, 1970.
Chemistry
of
Grouth
and
Development in Crustaceans. In
Marcel Florian (ed).

Kordi, K.M.G.H., 2009. Budidaya Perairan


Buku Kedua. Citra Aditya Bakti.
Bandung
Mutiani, 2011. Menggeluti Bisnis Belut (Seri
Perikanan Modern). Pustaka Baru.
Yogyakarta.
Mizar dan Setyono, 2007. pengaruh umur
yang berbeda pada larva ikan nila
(oreochromis sp.) terhadap tingkat
keberhasilan pembentukan kelamin
jantan
dengan
menggunakan
metiltestosteron. Jurnal protein. Vol.
15 No. 1 Tahun 2007
Nazam, M, dan Surahman, A., 2005.
Penggunaan Shelter Buatan Untuk
Meningkatkan Kelangsungan Hidup
Udang Karang yang Dipelihara
dalam
KJA.
http://penggunaanshelter.html. [1 juli
2011].
Saparinto, C., 2009. Panduan Lengkap Belut.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sarwono, B., 2010. Budidaya Belut dan Sidat
(edisi revisi). Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sofi, H., 2010. Pengelolaan Pakan Pada
Budidaya Ikan. [terhubung berkala]
http://ekasutriana.blog
.com/index.php/2009/05/21/199/.
Diakses pada 10 Juli 2012.
7

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Oktober 2012

Pengaruh Pembatasan Konsumsi Pakan Terhadap Bobot Tubuh Ikan Nila


(Oreochromis sp.) Siap Panen
The Effect of Feed Consumption Limitation on Body Weight of Ready Harvest
of Tilapia (Oreochromis sp.)
Tomy Rosadi 1*, Sadikin Amir 1, Zainal Abidin1
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram, Kode Pos 83125, Telp. 081907671619
2
email : tomyrosadi@ymail.com
1

ABSTRAK
Ikan nila merupakan ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan. Salah
satu permasalahan pada sistem pemasaraannya yakni para petani yang ikannya siap
panen kebanyakan menunggu para pembeli. Selama pemeliharaan tersebut petani harus
masih mengeluarkan biaya pakan agar bobot tubuh ikan tetap terjaga, yang akan
menambah biaya produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
pembatasan konsumsi pakan pada ikan nila (Oreochromis sp.) yang siap panen terhadap
bobot tubuh dan nilai ekonomisnya bagi petani. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
terdiri dari 4 perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali. Perlakuannya yaitu A =
Pemberian pakan 2 kali sehari (kontrol), B = Pemberian pakan 1 kali sehari, C =
Pemberian pakan setiap 2 hari sekali (puasa 24 jam), D = Pemberian pakan setiap 3
hari sekali (puasa 48 jam). Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pakan 2 kali
sehari menghasilkan pertambahan bobot tertinggi (1,0772 0,68 g). Nilai konversi
pakan terbaik pada perlakuan pemberian pakan setiap 2 hari sekali (111,57).
Berdasarkan B/C ratio pemberian pakan setiap 2 hari sekali dapat meminimalisir
kerugian dengan tingkat biaya paling kecil.
Kata Kunci: Pembatasan konsumsi pakan, bobot tubuh, ikan nila, siap panen
PENDAHULUAN
Sektor perikanan budidaya ikan air
tawar di Indonesia memiliki potensi untuk
dikembangkan secara intensif. Salah satu
komoditas budidaya ikan air tawar yang
memiliki permintaan cukup tinggi di pasar
domestik maupun ekspor adalah ikan
nila. Budidaya ikan nila dapat dilakukan
secara intensif, semi intensif maupun
secara tradisional baik itu di kolam tanah,
bak beton, tambak dan keramba jaring
apung.
Berdasarkan
informasi
di

lapangan, pemeliharaan ikan nila hingga


berukuran konsumsi dapat mencapai
waktu sekitar lima bulan dengan berat
rata-rata 400 g/ekor. Para pembeli ikan
tidak dapat langsung datang untuk
membeli ikan sehingga para petani ikan
perlu menunggu beberapa hari hingga
pembeli datang membeli ikan mereka.
Selain itu, tidak semua ikan langsung
terjual saat jual beli tersebut sehingga ikan
yang tersisa akan dipelihara lagi sampai
terjual habis. Selama menunggu pembeli,
para petani masih harus mengeluarkan
8

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

biaya pakan agar bobot tubuh ikan


tersebut tetap terjaga saat dibeli oleh
konsumen.
Metode yang dapat diterapkan untuk
menangani permasalahan tersebut yakni
dengan cara membatasi konsumsi pakan
pada ikan siap panen. Pembatasan
konsumsi pakan dapat dilakukan secara
periodik (pemuasaan). Pemuasaan yang
dilanjutkan dengan pemberian pakan
kembali menunjukkan aktivitas enzim
pencernaan yang lebih tinggi dari pada
ikan yang tidak memperoleh pembatasan
pakan (tidak dipuasakan). Tingginya
aktivitas ini diduga berkaitan dengan
meningkatnya upaya ikan untuk mencerna
kandungan lemak, protein dan karbohidrat
dalam makanan dan memaksimalkan
penggunaannya.
Berdasarkan uraian di atas maka
telah dilakukan penelitian mengenai
pengaruh pembatasan konsumsi pakan
pada ikan nila yang siap panen terhadap
bobot tubuhnya, sehingga dapat diketahui
metode mana yang dapat memberikan
nilai ekonomis yang lebih tinggi bagi
petani ikan.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh
pembatasan
konsumsi pakan pada ikan nila
(Oreochromis sp.) yang siap panen
terhadap
bobot tubuh dan
nilai
ekonomisnya bagi petani ikan.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Maret sampai Juli 2012 yang
berlokasi di Desa Peteluan Indah
KecamatanLingsar Kabupaten Lombok
Barat. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah ikan nila dengan
bobot 350 5 gram/ekor sebanyak 100
ekor .
Rancangan
percobaan
yang
digunakan pada penelitian ini adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Rancangan ini terdiri satu faktor yakni

Oktober 2012

pengurangan konsumsi pakan yang terbagi


atas empat perlakuan yang diulang
sebanyak lima perlakuan yaitu unit
percobaan. A = Pemberian pakan dua kali
sehari (Kontrol), B = Pemberian pakan
satu kali sehari, C = Pemberian pakan
setiap dua hari sekali (puasa 24 jam), D =
Pemberian pakan setiap tiga hari sekali
(puasa 48 jam).
Penelitian ini dilakukan di kolam
tanah yang berukuran 86,71 meter.
Tahap pertama yang akan dilakukan
adalah membersihkan kolam dari tanaman
air dan sampah yang mengganggu.
Selanjutnya mulai memasang jaring yang
berbentuk
persegi
dengan
ukuran
0,60,71 meter sebanyak 20 buah.
Penelitian
diawali
dengan
mengadaptasikan ikan selama satu minggu
atau hingga tidak diperoleh lagi ikan yang
mati dengan pemberian pakan secaraat
satiation. Setelah masa adaptasi selesai,
ikan ditimbang sebagai data awal
penelitian dan ditebar ke dalam tiap petak
unit percobaan secara acak sebanyak lima
ekor ikan per unit, penebaran dilakukan
pada pagi hari jam 08.00. Penimbangan
berat dilakukan dengan menggunakan
timbangan digital dengan ketelitian 0,01
gram.
Ikan dipelihara selama enam hari
dengan diberikan perlakuan pemberian
pakan seperti pada Tabel satu. Pemberian
pakan dilakukan dengan metode at
satiation, ikan akan terus diberi pakan
selama 15 menit hingga ikan tidak
merespon pakan lagi. Pada hari ketujuh
semua perlakuan diberi pakan secara
normal sebanyak dua kali sehari kemudian
dilakukan penimbangan akhir.

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Oktober 2012

setiap dua hari sekali. Pemberian pakan


setiap tiga hari sekali tidak berbeda
dengan pemberian pakan setiap satu kali
sehari dan dua hari sekali. Data konsumsi
pakan ikan nila dengan nilai konversi
pakannya dapat dilihat pada Tabel empat.

Parameter yang diamati meliputi


pertumbuhan berat mutlak, rasio konversi
pakan, B/C ratio dan kualitas air. Pada
akhir penelitian data dianalisis dengan
ANOVA pada taraf nyata 5 %. Jika dari
data sidik ragam menunjukan pengaruh
yang berbeda nyata (significant) maka
untuk
melihat
perlakuan
yang
memberikan
hasil
terbesar
dapat
dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT)
atau Least Significant Difference (LSD)
pada taraf nyata yang sama. Analisis sidik
ragam hanya dilakukan pada parameter
pertumbuhan mutlak dan kualitas air.
HASIL
Rata-rata pertambahan berat ikan
nila beserta ANOVA dapat dilihat pada
Tabel 3.

Metode pembatasan konsumsi


pakan berpengaruh terhadap pertambahan
berat ikan nila yang siap panen. Tabel tiga
menunjukan bahwa metode pemberian
pakan dua kali sehari menghasilkan
pertumbuhan yang cenderung lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
Perlakuan pemberian pakan dua kali
sehari tidak berbeda dengan perlakuan
pemberian pakan satu kali sehari dan

Tabel 4 di atas menunjukan nilai


konversi pakan menurun sebanding
dengan semakin dibatasinya pemberian
pakan kecuali pada perlakuan pemberian
pakan setiap tiga hari sekali. Perlakuan
pemberian pakan setiap tiga hari sekali
menghasilkan
nilai
FCR
minus
dikarenakan pertumbuhan bobot ikan
mengalami penurunan. Konversi pakan
tertinggi dihasilkan oleh perlakuan
pemberian pakan dua kali sehari (123,90)
dan terendah pada perlakuan pemberian
pakan setiap dua hari sekali (111,57).Nilai
perbandingan antara pendapatan dengan
pengeluaran
dari
masing-masing
perlakuan dapat dilihat pada Tabel lima.

Nilai B/C Ratio semakin meningkat


dengan semakin dibatasinya jumlah pakan
yang diberikan kecuali pada perlakuan
pemberian pakan setiap tiga hari sekali.
Nilai yang tertinggi dihasilkan oleh
pemberian pakan setiap dua hari sekali
(0.03) dan terendah pada pemberian pakan
setiap tiga hari sekali (0). Pemberian

10

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

pakan setiap tiga hari sekali menghasilkan


nilai nol dikarenakan tidak adanya
pendapatan dalam perlakuan ini. Data
kualitas air selama pemeliharaan dapat
dilihat pada Tabel enam.

Nilai kualitas air pada Tabel enam


menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
(p>0,05) pada pengukuran parameter pH,
suhu, dan dissolved oxygen (DO) untuk
pengukuran awal dan akhir.
PEMBAHASAN
Pertumbuhan Berat
Pemeliharaan ikan nila siap panen
selama satu minggu memberikan hasil
pertambahan bobot tubuh yang berbeda
antara masing-masing metode pembatasan
konsumsi pakan. Perlakuan pemberian
pakan dua kali sehari (kontrol)
menghasilkan nilai yang cenderung lebih
tinggi dikarenakan frekuensi makan yang
lebih banyak sehingga konsumsi pakannya
lebih tinggi dari perlakuan lain. Perlakuan
pemberian pakan setiap tiga hari sekali
memberikan hasil pertumbuhan yang
cenderung terendah karena terjadi
penurunan bobot tubuh. Hal ini diduga
ikan stres karena dipuasakan. Menurut
Rachmawati dkk (2010) pemuasaan pada
ikan juga dapat memicu timbulnya stres
pada hewan. Pada kondisi stres, terjadi
perubahan yang nyata terhadap parameter
hematologi. Dengan pemuasaan dapat
menurunkan metabolisme tubuh sehingga
akan mengganggu pertumbuhan ikan
secara langsung. Keadaan stress dan
kurangnya
pasokan
makanan
menyebabkan terjadinya penurunan bobot

Oktober 2012

tubuh pada perlakuan pemberian pakan


setiap tiga hari sekali.
Pada perlakuan pemberian pakan
satu kali sehari dan pemberian pakan
setiap dua hari sekali menghasilkan
pertumbuhan yang tidak berbeda dengan
perlakuan pemberian pakan dua kali
sehari (kontrol). Berbeda dengan hasil
penelitian Dwiyono (2004) bahwa ikan
lele yang dipuasakan setiap satu hari
mempunyai pertumbuhan yang lebih baik
jika dibandingkan dengan lele yang tidak
dipuasakan dan diberi makan normal.
Pemberian pakan satu kali sehari
dan setiap dua hari sekali juga
menghasilkan pertumbuhan yang tidak
berbeda dengan pemberian pakan setiap
tiga hari sekali. Hal ini menunjukan
pembatasan konsumsi pakan berpengaruh
terhadap penurunan bobot tubuh ikan siap
panen, jika semakin lama dibatasi
konsumsi pakannya. Hasil penelitian
Rachmawati dkk., (2010) menunjukkan
periode pemuasaan yang panjang akan
mempengaruhi status nutrisi pada tubuh
ikan, berkurangnya nutrisi ini akan
mempengaruhi metabolisme dan laju
pertumbuhan ikan.
Rasio konversi pakan
Rasio konversi pakan merupakan
jumlah pakan yang dimakan untuk
menghasilkan satu kg berat ikan. Nilai
konversi pakan yang mendekati nilai satu
menunjukan semakin bagusnya nilai
konversi pakan tersebut (Gusrina, 2008).
Perlakuan pemberian pakan dua kali
sehari (kontrol) menghasilkan nilai
konversi pakan yang paling buruk
dikarenakan nila konversinya paling tinggi
dibanding perlakuan yang lain. Pemberian
pakan setiap dua hari sekali menghasilkan
nilai konversi pakan yang paling bagus
dikarenakan nilai konversi pakannya yang
paling rendah diantara perlakuan yang
lain. Sebaliknya pemberian pakan setiap
tiga hari sekali menghasilkan nilai

11

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

konversi pakan minus karena terjadinya


penurunan bobot tubuh ikan.
Perbedaan nilai konversi pakan
dari setiap perlakuan dikarenakan adanya
perbedaan frekuensi pemberian pakan
yang menyebabkan jumlah konsumsi
pakan juga berbeda. Menurut hasil
penelitian Melianawati dkk, (2010) bahwa
perbedaan tingkat pemberian pakan
berkolerasi positif dengan nisbah konversi
pakan yang artinya semakin tinggi
pemberian pakan maka semakin tinggi
pula nilai konversi pakannya.
Berdasarkan Tabel empat nilai
FCR dari
masing-masing perlakuan
sangat besar. Menurut Hanafiah (2010),
nilai kisaran FCR 1,5-2,0 dianggap paling
baik untuk pertumbuhan kebanyakan jenis
ikan. Tingginya nilai konversi pakan ini
diduga karena tingkat stress ikan yang
tinggi yang disebabkan oleh perubahan
kondisi lingkungan. Erlania et al., (2010)
menyatakan konversi pakan dipengaruhi
oleh beberapa faktor diantaranya adalah
metode pemberian pakan (frekuensi
pemberian pakan, jumlah pakan yang
diberikan, jenis pakan yang digunakan,
kualitas pakan) serta kondisi ikan
(kemauan ikan untuk makan, yang
dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ikan,
kondisi lingkungan dan lain-lain).
Tingginya nilai konversi pakan ini
juga disebabkan karena fisiologis ikan itu
sendiri. Ikan yang berbobot 350 gram
sudah mulai matang gonad dimana pada
masa reproduksi ini, asupan energi lebih
banyak digunakan untuk kematangan
gonad dibandingkan energi yang dapat
diinvestasikan untuk pertumbuhannya.
Dalam Wikipedia, (2012) ikan nila mulai
dipijahkan saat mencapai bobot 200-250
gram untuk ikan betina dan 250-300 gram
untuk ikan jantan karena pada bobot
tersebut ikan nila sudah mulai matang
kelamin.

Oktober 2012

Nilai kelayakan usaha


Nilai
kelayakan
usaha
menggunakan rumus benefit cost ratio
(B/C ratio), Nilai B/C ratio dari masingmasing perlakuan berada dikisaran < satu
artinya tiap perlakuan tidak ekonomis.
Menurut Abubakar, (2010) nilai B/C <
satu maka perlakuan tersebut tidak
ekonomis, dan kalau > satu berarti
perlakuan tersebut ekonomis.
Perlakuan pemberian pakan setiap
dua hari sekali memberikan hasil yang
terbaik, hal ini dilihat dari biaya yang
dikeluarkan
paling
kecil
diantara
perlakuan yang lain. Perlakuan pemberian
pakan setiap tiga hari sekali menghasilkan
nilai B/C ratio nol dikarenakan
penerimaan atau nilai produksinya tidak
ada. Penerimaan adalah hasil perkalian
antara produksi yang diperoleh dengan
harga jual (Soekartawi, 1995). Nilai
produksi yang diperoleh didapatkan dari
pertambahan bobot tubuh ikan. Pada
perlakuan pemberian pakan setiap tiga
hari sekali terjadi penurunan bobot tubuh
sehingga dianggap tidak adanya nilai
produksi pada perlakuan tersebut.
Rendahnya nilai ratio dari masingmasing perlakuan disebabkan karena tidak
seimbangnya antara nilai produksi dengan
biaya yang dikeluarkan dari masingmasing perlakuan. Rendahnya nilai
produksi dan diikuti tingginya biaya yang
dikeluarkan menyebabkan rendahnya nilai
ratio ini. Nilai produksi yang rendah
diperoleh dari pertambahan bobot tubuh
ikan yang rendah sehingga harga jual pun
ikut rendah.
Kualitas air
Nilai parameter kualitas air
ternyata tidak berbeda pada pengukuran
awal dan akhir. Pengukuran parameter
kualitas air (pH, suhu, dan DO) yang
diperoleh setiap pengukuran menunjukkan
kisaran parameter yang mendukung
kehidupan ikan nila. Pengukuran yang
dilakukan sebanyak 2 kali yakni di awal
12

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

dan akhir pemeliharaan menunjukkan nilai


pH media pemeliharaan berada pada
kisaran 7,52-7,56, dan suhu media dengan
kisaran 25,4oC-27,7oC. Menurut Kordi
(2010) pH air yang cocok untuk ikan nila
berkisar 6-8,5 dengan suhu optimal untuk
pertumbuhan nila antara 25-30oC.
Sedangkan untuk oksigen terlarut terjadi
peningkatan yang signifikan pada awal
pengukuran dan akhir dengan kisaran
5,55-11,81 ppm. Peningkatan kandungan
oksigen terlarut selama pemeliharaan
diduga karena melimpahnya fitoplankton
dalam perairan tersebut. Keberadaan
fitoplankton dalam perairan akan dapat
meningkatkan kadar oksigen terlarut
melalui proses fotosintesis. Ditambah lagi
tidak adanya sirkulasi air hingga
mengakibatkan penumpukan plankton
dalam kolam pemeliharaan. Kondisi
oksigen
terlarut
dalam
kolam
pemeliharaan mendukung kehidupan dan
optimal bagi pertumbuhan ikan nila siap
panen, menurut Gusrina (2008) kadar
oksigen terlarut yang optimal bagi
pertumbuhan ikan nila adalah lebih dari 5
mg/l.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan
kepada Kandar dan Didi yang telah
membantu dalam pelaksanaan penelitian
ini mulai dari awal hingga akhir
penelitian. Smoga kebaikan kalian dibalas
oleh Allah SWT.

Oktober 2012

Kelautan Universitas Purwokerto.


Purwokerto.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid (3).
Direktorat Pembinaan
Sekolah
Menengah Kejuruan. Direktorat
Jendral Manajemen. Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional.
Jakarta.
Hanafiah, A. K,. 2010. Rancangan
Percobaan Teori dan Aplikasi Edisi
Ketiga. Rajawali Pers. Jakarta.
Melianawati, R. & Suwirya, K. 2010.
Optimasi Tingkat Pemberian Pakan
Kerapu
Sunu
(Plectropomus
leopardus). Buku Forum Inovasi
Teknologi Akuakultur 2010. hlm.
659-665.
Rahmawati, F., Susilio & Sistina, Y. 2010.
Respon
Fisiologi
Ikan
Nila
(Oreochromis niloticus)
yang
Distimulasi
Dengan
Daur
Pemuasaan Dan Pemberian Pakan
Kembali. Fakultas Biologi Unsoed.
Seminar Biologi 2010. No. 7. hlm.
492-499.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani.
Penerbit Universitas Indonesia (UIPress). Jakarta.
Wikipedia.
2012.
Ikan
Nila.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan
Nila. [23 Juni 2012].

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar. 2010. Agribisnis Teori dan
Aplikasi. Gaung Persada Press. Jakarta.
Dwiyono,
A. 2004.
Pertumbuhan
Kompensatori Pada Lele Dumbo
(Clarias
gariepinus)
yang
Dipelihara di Bak Beton. [skripsi].
Fakultas Perikanan dan Ilmu

13

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Oktober 2012

Frekuensi Pemberian Pakan Optimum Menjelang Panen Pada Ikan Nila


(Oreochromis niloticus)
Frequency of Optimum Feeding Towards Harvest on Tilapia
(Oreochromis niloticus)
Saopiadi1, Dr. Ir. Sadikin Amir1, Ayu Adhita Damayanti1.
1
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
Jl.Majapahit 62 Mataram, NTB Telp. 0370 621435/ Fax. 0370 640189
2
email : saopiadi@yahoo.com

Abstrak

Permasalahan yang sering dihadapi oleh petani ikan nila adalah tingginya harga
pakan ikan. Pakan berperan penting sebagai kebutuhan pertumbuhan bagi ikan, selain
itu pakan merupakan biaya variabel terbesar dalam proses produksi sekitar 30 sampai
60% dari biaya produksi. Mengingat ikan nila termasuk dalam golongan omnivora
cenderung herbivora dan sangat responsif terhadap pakan buatan, maka perlu alternatif
untuk mengefisiensikan pemberiaan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
frekensi pemberian pakan yang optimum untuk mendapatkan bobot tubuh ikan nila
(Oreochromis niloticus) yang paling tinggi menjelang panen. Penelitian ini dirancang
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan ini terdiri dari 1 faktor yakni
perbedaan frekuensi pemberian pakan. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan yang
diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 20 unit percobaan. Frekuensi pemberian
pakan yang berbeda menjelang panen pada ikan nila (Oreochromis sp.) dianalisis
dengan analisis keragaman (ANOVA) pada taraf nyata 5% (P < 0,05) dan dilanjutkan
dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf nyata yang sama. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perlakuan frekuensi pemberian pakan yang berbeda berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan (P<0,05) tetapi tidak berpengaruh terhadap
konversi pakan (FCR) dan tingkat kelangsungan hidup (SR) (p>0,05).
Kata Kunci: frekuansi, pakan, ikan nila, Pertumbuhan, Efisiensi pakan, FCR, SR.

PENDAHULUAN
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
merupakan jenis ikan air tawar yang
banyak diminati oleh konsumen ikan air
tawar. Usaha budidaya ikan Nila sangat
berkembang pesat di Indonesia, karena
pertumbuhan ikan Nila relatif cepat
khususnya ikan Nila jantan, mudah
dikembangkan dan efisien terhadap

pemberian pakan tambahan, sehingga


banyak
pelaku
budidaya
yang
membudidayakan ikan Nila. Produksi ikan
Nila meningkat secara signifikan dari
tahun ke tahun. Pada tahun 2004 jumlah
produksi ikan Nila hanya 97.116 ton, pada
tahun 2007 meningkat menjadi 206.904
ton dan tahun 2008 sudah mencapai
220.900 ton ikan Nila (DKP, 2008).

14

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Pengembangan budidaya ikan


Nila di Indonesia telah dimulai sejak
tahun 1969. Ikan ini sangat digemari oleh
masyarakat karena rasa dagingnya yang
enak dan tebal serta harganya pun relatif
terjangkau. Ikan ini juga dapat
dibudidayakan diberbagai habitat (di air
tawar, payau, dan laut) karena Nila
toleran terhadap salinitas yang luas
(euryhaline), teknik pemeliharaanya
mudah,
laju
pertumbuhan
dan
perkembangbiakannya cepat, serta tahan
terhadap gangguan hama dan penyakit
dan pemanenan dapat diperoleh setiap
saat tanpa dipengaruhi musim.
Permasalahan
yang
sering
dihadapi oleh petani ikan Nila adalah
tingginya harga pakan ikan. Pakan
berperan penting sebagai kebutuhan
pertumbuhan bagi ikan, selain itu pakan
merupakan biaya variabel terbesar dalam
proses produksi sekitar 30 sampai 60%
dari biaya produksi. Mengingat ikan Nila
termasuk dalam golongan omnivora
cenderung herbivora dan sangat responsif
terhadap pakan buatan, maka perlu
alternatif
untuk
mengefisiensikan
pemberiaan pakan.
Pada kurva pertumbuhan terdapat
istilah fase sigmoid yaitu tahapan dimana
pertumbuhan suatu organisme mulai
melambat, begitu juga dengan ikan Nila.
Pada fase sigmoid jumlah pakan yang
diberikan
tidak
menghasilkan
pertumbuhan yang seharusnya. Energi
dari pakan yang dicerna tidak lagi
disalurkan untuk pertumbuhan namun
difokuskan untuk kematangan gonad.
Petani ikan Nila, memiliki
kebiasaan untuk memacu pertumbuhan 1
- 2 minggu menjelang panen yaitu
dengan memberikan pakan secara
berlebih (over feeding) dari biasanya. Hal
tersebut dikhawatirkan pakan yang
diberikan dengan sistem tersebut, tidak
tercerna secara sempurna dan kadangkadang tidak termakan oleh ikan.
Berdasarkan uraian di atas telah

Oktober 2012

dilakukan penelitian untuk mengetahui


frekuensi pemberian pakan yang optimum
untuk meningkatkan efisiensi pakan pada
ikan
Nila
(Oreochromis
niloticus)
menjelang panen.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Balai
Benih Ikan (BBI) Peteluan Indah
Kecamatan Lingsar pada Tanggal 3 Mei
sampai 2 Juni 2012. Rancangan percobaan
yang digunakan pada penelitian ini adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang
terdiri dari 5 perlakuan yang diulang
sebanyak 4 kali.
Bahan
Ikan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah ikan Nila yang sudah
berumur 106 hari (16 Minggu) atau 2
minggu sebelum panen dengan bobot
tubuh 25025 g, dan berjenis kelamin
jantan sebanyak 200 ekor dan ditebar
dalam petak unit percobaan secara acak
sebanyak 10 ekor ikan per unit. Ikan
diperoleh dari petani ikan di Desa Keroye
Kecamatan Lingsar. Pakan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pakan yang
mempunyai kandungan protein berkisar
antara 27 - 29% . Perlakuan frekuensi
pemberian pakan selang 1 kali per hari, 1
kali/hari, 2 kali/hari, 3 kali/hari, dan 4
kali/hari diberikan pakan masing-masing:
10 g, 10 g, 20 g, 30 gr, dan 40 g.
HASIL
Pertumbuhan
Berdasarkan hasil analisis ragam
(ANOVA) menunjukkan bahwa frekuensi
pemberian
pakan
yang
berbeda,
memberikan pengaruh yang berbeda nyata
(P<0,05) terhadap pertumbuhan ikan nila.
Pertumbuhan tertinggi untuk 2 minggu
pemeliharaan adalah perlakuan pemberian
pakan 3 kali per hari yaitu 37,8375 g, dan
terendah pada perlakuan pemberian pakan
4 kali per hari yaitu -56,8325 g, sedangkan
15

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

pertumbuhan tertinggi untuk 1 bulan


pemeliharaan
adalah
perlakuan
pemberian pakan 2 kali per hari yaitu
61,835 g, dan pertumbuhan terendah
terjadi pada perlakuan pemberian pakan
selang 1 kali per hari yaitu -4,0225 g.
Data rata-rata pertumbuhan ikan nila
dapat dilihat grafik pertumbuhan pada
Gambar 5.

Oktober 2012

paling tertinggi atau optimum mengalami


penurunan efisiensi pakan dari 21,675%
menjadi 20,931%. Data rata-rata efisiensi
pakan dapat dilihat pada grafik efisiensi
pada Gambar 6.

Konversi Pakan

Efisiensi Pakan

Hasil analisis sidik ragam


(ANOVA), frekuensi pemberian pakan
yang berbeda, memberikan pengaruh
yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap
efisiensi pakan. Efisiensi tertinggi untuk
2 minggu pemeliharaan adalah perlakuan
frekuensi pemberian pakan 3 kali per
hari, namun hasil uji lanjut (LSD)
menyatakan bahwa perlakuan frekuensi
pemberian pakan 2 kali per hari adalah
yang paling optimum, hali ini karena
kedua perlakuan tersebut tidak berbeda
nyata. Efisiensi pakan untuk 2 minggu
pemeliharaan pada frekuensi pemberian
pakan 2 kali per hari dan frekuensi
pemberian pakan 3 kali per hari adalah
masing-masing 28,362% dan 21,675%.
Penurunan efisiensi pakan terjadi
pada 1 bulan pemeliharaan, penurunan
efisiensi pakan terjadi hampir 50% untuk
seluruh perlakuan dari 2 minggu
pemeliharaan.
Frekuensi
pemberian
pakan 2 kali sehari pemeliharaan 1 bulan
adalah sebagai frekuensi pemberian
pakan yang memiliki nilai efisiensi pakan

Hasil
analisis
sidik
ragam
(ANOVA), frekuensi pemberian pakan
yang berbeda, tidak memberikan pengaruh
(P>0,05) terhadap konversi pakan. Nilai
konversi pakan yang paling bagus untuk 2
minggu pemeliharaan adalah perlakuan
frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari
yaitu 5,181, sedangkan untuk 1 bulan
pemeliharaan konversi pakan yang palig
bagus adalah perlakuan pembeian pakan
selang 1 kali per hari. Peningkatan
konversi pakan terjadi pada 1 bulan
pemeliharaan, konversi pakan tertinggi
terjadi pada perlakuan frekuensi pemberian
pakan 1 kali per hari yaitu 147,217. Data
rata-rata konversi pakan dapat dilihat
grafik konversi pakan pada Gambar 7.

16

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

Survival Rate (SR)


Berdasarkan hasil analisis sidik
ragam terhadap tingkat kelangsungan
hidup selama penelitian menunjukkan
bahwa perlakuan frekuensi pemberian
pakan hingga frekuensi pemberian pakan
selang 1 kali per hari tidak menurunkan
tingkat kelangsungan hidup secara
signifikan. Hal ini terjadi untuk
pemeliharaan 2 minggu hingga 1 bulan.
Penurunan nilai tinggkat kelangsungan
hidup secara keseluruhan tejadi pada
pemeliharaan selama satu bulan. Tingkat
kelangsungan hidup yang dipelihara
selama 1 bulan berkisar antara75-92,5%,
tingkat kelangsungan hidup tertinggi
selama 2 minggu pemeliharaan adalah
perlakuan pemberian pakan 1 dan 4 kali
per hari yaitu 100%, terendah yaitu pada
perlakuan pemberian pakan 1 kali per
hari yaitu 82,5%. Sedangkan survival rate
selama 1 bulan pemeliharaan nilai
tertinggi diperoleh pada perlakuan 3 dan
4 yaitu sebesar 92,5%, dan terendah pada
perlakuan pemberianpakan 1 kali perhari
yaitu sebesar 75%.
4.1.5. Kualitas Air

Salah
satu
faktor
penting
pendukung keberhasilan budidaya ikan
adalah kualitas air. Kisaran kualitas air
pada tiap-tiap parameter masih dalam
kisaran normal untuk pertumbuhan ikan
nila dan kualitas air pada tiap-tiap
parameter sama karena wadah percobaan
terdapat pada satu media yang sama.
Nilai kualitas air dapat dilihat pada
(Tabel 1).

Oktober 2012

PEMBAHASAN
Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan perubahan
ukuran panjang atau bobot dalam kurun
waktu tertentu. Terdapat beberapa cara
untuk melihat pertumbuhan diantaranya
adalah dengan menghitung pertumbuhan
bobot mutlak dan laju pertumbuhan harian.
Menurut Effendie (1997), pertumbuhan
bobot
mutlak
dinyatakan
sebagai
perubahan ukuran bobot dalam kurun
waktu tertentu.
Dalam budidaya ikan nila pakan
merupakan
faktor
utama
dalam
pemtumbuhan. Pada saat 1 - 2 minggu
menjelang panen tidak jarang petani ikan
Nila merubah sistem pemberian pakannya.
Biasanya ikan diberi pakan dengan
frekuensi 2 kali per hari, namun saat ikan
menjelang panen para petani merubah
sistem pemberian pakan dengan cara
melebihkan dosis dan frekuensi pemberian
pakannya hingga 4 kali per hari atau lebih.
Sistem dengan peningkatan frekuensi
pemberian pakan pada ikan nila menjelang
panen ini salah, karena ikan yang sudah
mempunyai bobot 200 - 250 g akan
melambat pertumbuhannya, biasanya ikan
yang sudah mencapai bobot 250 g, pakan
yang diberikan tidak lagi digunakan untuk
proses pertumbuhan melainkan digunakan
untuk pembentukan gonad dan untuk
pemeliharaan sel-sel yang sudah rusak.
Dengan peningkatan frekuensi pemberian
pakan, menyebabkan jumlah pakan yang
diberikan pada ikan menjadi bertambah
banyak. Pakan yang diberikan secara
berlebih (Over feeding) akan membuat
pembudidaya ikan akan merugi.
Hasil
analisis
sidik
ragam
(ANOVA)
menunjukkan
frekuensi
pemberian
pakan
yang
berbeda
memberikan pengaruh sangat berbeda
nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan ikan
Nila, pertumbuhan tertinggi untuk 2
minggu pemeliharaan adalah perlakuan
dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali
17

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

per hari, hasil uji lanjut (LSD),


menyatakan bahwa pemberian pakan 3
kali per hari merupakan pemberian pakan
yang paling bagus saat ikan nila
menjelang panen. Hal ini menunjukan
bahwa, bagi ikan nila menjelang panen
tidak perlu diberikan tambahan pakan
yang
berlebih
untuk
memicu
pertumbuhan. Pemberian pakan berlebih
hingga 4 kali per hari justru
menyebabkan penurunan bobot tubuh
ikan Nila. Sedangkan untuk pemeliharaan
1 bulan pertumbuhan tertinggi terjadi
pada perlakuan frekuensi pemberian
pakan 2 kali per hari. Hal ini menunjukan
bahwa semakin lama pemeliharaan atau
semakin besar umur ikan pemanfaatan
pakan yang diberikan semakin berkurang.
Hal ini dikarenakan ikan yang sudah
mencapai bobot 200 g mengalami fase
sigmoid, oleh sebab itu pakan yang di
berikan sudah tidak efektif. Pakan yang
deberikan tidak lagi digunakan untuk
pertumbuhan
melainkan
digunakan
sebagai energi untuk beradaptasi terhadap
lingkungan, dan kematangan gonad.
Menurut Brett (1979) dalam Nawarti
(2011), pertumbuhan akan terjadi apabila
ada kelebihan energi setelah dikurangi
dengan
eskresi
dan
metabolisme
(maintenance dan aktifitas hidup). Ikan
memerlukan pakan pada prinsipnya
adalah untuk memenuhi kebutuhan
energinya, baik energi diam, bergerak
dan berbagai aktifitas lainnya, oleh
karena itu pemenuhan kebutuhan energi
sangat penting dalam menstimulasi pakan
untuk proses pertumbuhan.
Pemeliharaan ikan selama 2
minggu, ikan Nila masih memanfaatkan
pakan yang diberikan dengan bagus,
namun dengan pemberian pakan berlebih
sampai frekuensi pemberian pakan 4 kali
per hari justru menyebabkan penurunan
bobot ikan. Hal ini diduga karena ikan
terlalu kenyang dan pakan yang dibrikan
tidak dicerna secara sempurna dan
kadang-kadang tidak termakan oleh ikan.

Oktober 2012

Perlakuan frekuensi pemberian pakan 3


kali perhari memberikan pertumbuhan
yang tertinggi namun hasil uji lanjut
menyatakan bahwa perlakuan pemberian
pakan 2 kali per hari adalah pemberian
pakan yang paling optimum karenan
perlakuan 3 kali per hari dan 2 kali perhari
tidak berbeda nyata. Untuk 1 bulan
pemeliharaan petumbuhan tertinggi terjadi
pada perlakuan 2 kali sehari. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin lama
pemeliharaan ikan maka frekuensi
pemberian pakan harus semakin sedikit,
karena semakin besar ikan pakan yang
diberikan tidak lagi difokuskan untuk
pertumbuhan melainkan untuk gonad dan
memperbaikai sel-sel tubuh yang sudah
rusak.
Efisiesi Pakan
Menurut Halver (1972) dalam
Nawarti (2005) tingkat efisiensi pakan
menentukan tinggi rendahnya kualitas
pakan. Faktor utama yang menentukan
tinggi rendahnya efisiensi pakan ialah nilai
nutrisi dalam pakan atau kualitas pakan
yang diberikan. Tingginya nilai tingkat
efisiensi pakan menentukan tinggi kualitas
pakannya, sebaliknya semakin kecil nilai
tingkat efisiensi pakan maka semakin
rendah kualitas pakannya. Hasil analisis
sidik ragam (ANOVA) menunjukkan
perlakuan frekuensi pemberian pakan
berbeda memberikan pengaruh yang
berbeda nyata (P<0,05) terhadap efisiensi
pakan ikan Nila. Efisiensi pakan tertinggi
untuk 2 minggu pemeliharaan adalah
perlakuan frekuensi pemberian pakan 3
kali per hari, namun hasil uji lanjut (LSD)
menyatakan bahwa frekuensi pemberian
pakan 2 kali per hari merupakan frekuensi
pemberian pakan yang optimum untuk
ikan nila menjelang panen. Hal ini
dikarenakan kedua perlakuan tersebut tidak
berbeda nyata. Efisiensi pakan tertinggi
untuk 1 bulan pemeliharaan terjadi pada
perlakuan frekuensi pemberian pakan 2
kali per hari. Hal ini berbanding kebalik
18

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

dengan
perlakuan
2
minggu
pemeliharaan. Jadi saat ikan menjelang
panen tidak perlu pemberian pakan
hingga 4 kali per hari atau lebih.
Pemberian pakan 4 kali per hari membuat
efisiensi pakan rendah, ini di karenakan
kondisi ikan yang sudah terlampau
kenyang sehingga pakan yang diberikan
pakan yang diberikan tidak termakan dan
di maafakan untuk pertumbuhan sehingga
menjadi sia-sia.
Pada 2 minggu pemeliharaan
efisensi pakan tertinggi terjadi pada
perlakuan frekuensi pemberian pakan 3
kali per hari namun setelah 1 bulan
pemeliharaan efisiensi pakan tertinggi
terjadi
pada
perlakuan
frekuensi
pemberian pakan 2 kali per hari.Hal ini
menyatakan bahwa semakin lama atau
semakin besar umur ikan makan
frekuensi pemberian pakan harus
semakin jarang. Karena pakan yang
diberikan tidak sepenuhnya digunakan
untuk proses pertumbuhan. Effendie,
(2004). menyatakan bahwa
semakin
besar ukuran ikan maka frekuensi
pemberian pakan semakin jarang.
Konversi Pakan (FCR)
Hasil analisis sidik ragam
(ANOVA)
menunjukkan
frekuensi
pemberian pakan yang berbeda tidak
memberikan pengaruh atau tidak berbeda
nyata (P>0,05) terhadap konversi pakan
(FCR) ikan Nila. Nilai konversi pakan
yang paling bagus untuk 2 minggu
pemeliharaan adalah pada perlakuan
frekuensi pemberian pakan 3 kali per
hari. Nilai konversi pakan perlakuan
frekuensi pemberian pakan 3 kali per hari
adalah 5,181, nilai ini mempunyai
pengertian bahwa diperlukan pakan 5,181
g untuk menaikan bobot ikan ikan nila 1
g. Perlakuan frekuensi pemberian pakan
3 kali perhari merupakan nilai konversi
pakan yang paling bagus karena
perlakuan yang lain mempunyai nilai
konversi pakan yang negatif, nilai

Oktober 2012

konversi pakan yang negatif tidak bisa


diinterpretasikan karena terdapat ikan yang
mengalami penurunan bobot. Konversi
pakan untuk 1 bulan pemeliharaan
konversi pakan yang paling bagus terjadi
pada perlakuan frekuensi pemberian pakan
selang 1 kali per hari. yaitu 7,722.
Tingginya Nilai konvesi pakan pada
perlakuan frekuensi pemberian pakan
selang 1 kali per hari menunjukkan bahwa
pakan yang diberikan tidak seluruhnya
dimanfaatkan untuk pertumbuhan sehingga
efisiensi pakannya juga rendah. Pada
umumnya semakin kecil rasio konversi
pakan maka semakin cocok makanan
tersebut untuk menunjang pertumbuhan
ikan yang dipelihara, sebaliknya semakin
besar rasio konversi pakan menunjukkan
pakan yang diberikan tidak efektif memicu
pertumbuhan.
Tingginya nilai konversi pakan
pada setiap perlakuan menunjukkan bahwa
pakan yang diberikan tidak seluruhnya
dimanfaatkan untuk pertumbuhan sehingga
efisiensi pemanfaatan pakan juga rendah.
Pakan yang tidak termanfaatkan tersebut,
selain berpengaruh buruk bagi kualitas air,
juga berpengaruh terhadap tingginya biaya
oprasional pemeliharaan ikan nila dan
kadang membuat para petani pembudidaya
ikan nila merugi.
Efisiensi pakan erat kaitannya
dengan jumlah frekuensi pemberian pakan,
semakin rendah frekuensi pemberian pakan
maka efisiensi pakan makin tinggi.
Efisensi pakan juga erat kaitannya dengan
konversi pakan (FCR), konversi pakan
merupakan jumlah pakan yang dibutuhkan
untuk menghasilkan satu kilogram daging
ikan atau rasio antara bobot pakan yang
dibutuhkan untuk menghasilkan bobot
daging ikan yang diproduksi, semakin
rendah nilai konversi pakan, semakin
sedikit pakan yang dibutuhkan untuk
menghasilkan satu kilogram daging ikan.
Artinya semakin efisien pakan tersebut
diubah menjadi daging sehingga semakin
murah biaya produksi (biaya pakan) yang
19

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

dibutuhkan untuk memperoduksi daging


ikan tersebut.
Kelangsungan Hidup (SR)
Tingkat Kelangsungan hidup
sangat dipengaruhi oleh asupan pakan
yang di peroleh ikan. Energi yang berasal
dari pakan digunakan untuk aktivitas
kehidupan pokok seperti metabolisme,
pertumbuhan, produksi gamet, bergerak,
bernafas, mencerna makanan, pengaturan
suhu dan setelah itu energi digunakan
untuk
mempertahankan
kehidupan.
Menurut Mudjiman (2000) pakan yang
mempunyai nutrisi yang baik sangat
berperan
dalam
mempertahankan
kelangsungan hidup dan mempercepat
pertumbuhan ikan.
Hasil analisis sidik ragam
(ANOVA)
menunjukkan
bahwa
perlakuan frekuensi pemberian yang
berbeda tidak berpengaruh (P>0,05)
terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan
nila hingga dengan perlakuan frekuensi
selang 1 kali per hari. Kematian ikan uji
terjadi pada setiap perlakuan, dimana
nilai tingkat kelangsungan hidup pada
frekuensi pemberian pakan paling sedikit
yaitu selang 1 kali per hari tidak jauh
beda dengan pemberian pakan tertinggi
yaitu 4 kali per hari. Tingginya nila
tingkat kelangsungan hidup pada
perlakuan frekuensi pemberian pakan
menunjukkan bahwa energi yang
dibutuhkan sebagai pendukung daya
tahan tubuh masih dapat ditoleransi
secara baik sehingga walaupun frekuensi
pemberian pakan selang 1 kali per hari
energi yang tersimpan lebih banyak di
salurkan untuk bertahan hidup disbanding
untuk pertumbuhan.
Tingkat kelangsungan hidup
untuk 2 minggu pemeliharaan tidak
terlalu banyak ikan uji yang mati. Ikan uji
yang mati berkisar antara 8-18%.
Peningkatan jumlah kematian terjadi
pada 1 bulan pemeliharaan dari 2 minggu
pemeliharaan yaitu berkisar 25 - 28%.

Oktober 2012

Kematian tertinggi terjadi pada perlakuan


frekuensi pemberian pakan 2 kali per hari
dan kematian terendah terjadi pada
perlakuan frekuensi pemberian pakan 4
kali perhari.
Kualitas Air Penelitian
Air sebagai media tempat hidup
ikan sangat berpengaruh pada kehidupan
dan pertumbuhan ikan. Oleh sebab itu air
yang digunakan untuk usaha budidaya
harus mempunyai kondisi yang optimal,
baik mengenai kualitas dan kuantitasnya.
Kandungan DO yang diamati pada
awal penelitian yaitu 7,38 ppm, sedangkan
nilai kandungan DO pada akhir penelitian
yaitu 7,25 ppm. Menurut Kordi (2008),
kandungan oksigen terlarut dalam air yang
cocok untuk kehidupan dan pertumbuhan
ikan nila adalah lebih dari 3 ppm. Jadi nilai
DO dalam penelitian ini terbilang baik
untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan
uji.
Oksigen terlarut diperlukan untuk
respirasi, proses pembakaran makanan,
aktivitas
berenang,
pertumbuhan,
reproduksi, dan lain-lain.Sumber oksigen
terlarut dapat berasal dari difusi oksigen
yang terdapat di atmosfer 35% dan
aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air
dan fioiplankton. Difusi oksigen ke air bisa
terjadi secara langsung pada kondisi air
diam atau terjadi karena agitasi atau
pergelokan masa air akibat adanya
gelombang. Kadar oksigen terlarut yang
optimal bagi pertumbuhan ikan nila adalah
lebih dari 5 ml/L (Khaerul, 2003).
Kisaran
nilai
suhu
selama
penelitian yaitu 29,7 - 31,2 oC. Suhu
selama penelitian dapat dikatakan normal
dan tidak terjadi perubahan yang cukup
tinggi. Menurut Sucipto (2005) suhu yang
cocok untuk pertumbuhan ikan nila
berkisar antara 15,5 - 30 oC. Pada suhu
dibawah 15,5 -12 oC, umumnya ikan tidak
dapat hidup dengan baik..
Sedangkan kisaran nilai pH selama
penelitian adalah 8,50 - 8,75 ppm. Menurut
Kordi (2010) menyatakan bahwa pH air
20

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1 No. 1

mempengaruhi
tingkat
kesuburan
perairan
karena
mempengaruhi
kehidupan jasad renik. Perairan asam
akan kurang produktif karena kandungan
oksigen
terlarut
akan
berkurang
akibatnya konsumsi oksigen menurun.
Aktifitas pernapasan naik dan nafsu
makan ikan berkurang. Kemudian
menurut Kordi (2009) menyatakan bahwa
kisaran pH air yang baik untuk ikan nila
adalah 7 - 8, namun ikan nila masih dapat
hidup pada pH air antara 5 -11 ppm.

Oktober 2012

Sucipto, a. dan R.E. Prihartono.2005.


Pembesaran Nila Merah Bangkok.
Penebar
Swadaya.
Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA
DKP.

2008. Revitalisasi Perikanan


Budidaya. Departemen Kelautan
dan Perikanan.
Jakarta.

Effendie I. 1997. Biologi Perikanan.


Yayasan Pustaka Nusantara.
Yogyakarta.
Kordi K. 2008. Budidaya Perairan Buku
Kesatu. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Kordi K. 2009. Budidaya Perairan Buku
Kedua. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Kordi K. 2010. Budidaya Ikan Nila di
dalam
Kolam
Terpal.
Lily
Publisher. Yogyakarta.
Nawarti, 2011.Pertumbuhan Ikan Kerapu
Bebek
(Cromileptes
Altivelis)
Menggunakan Jenis Pakan Dan
Berbagai Frekuensi Pemberian
Pakan.
Budidaya
Perairan
Universitas Mataram.
Puspita. 1990. Pengaruh Frekuensi
Pemberian
Pakan
Terhadap
Pertumbuhan Benih Ikan Koan
(Ctenopharyngodon
idella).
Budidaya Perairan. ITB.

21

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Terhadap Infeksi Jamur Pada Telur Ikan Gurame
(Osphronemus gouramy)
Fanitalya1,*, Sudirman2, Ayu Adhita Damayanti1,
1

Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Mataram


Program Studi Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram,NTB Telp. 0370 621435/ Fax. 0370 640189
3
email : fanitalya07@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun sirih yang paling
baik untuk menekan infeksi jamur pada telur ikan gurame. Penelitian menggunakan metode
eksperimental yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu konsentrasi ekstrak daun sirih 0; 0,5; 1;
1,5; dan 2 ppt. Parameter yang diamati adalah keberadaan jamur, Hatching Rate (HR),
Survival Rate (SR), pengukuran panjang dan berat larva serta pengukuran kualitas air
(suhu, pH, dan DO). Data dianalisis menggunakan Anova dengan uji lanjut BNT pada taraf
nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan awal terdapat telur sehat
dan telur terinfeksi jamur dan pada pengamatan setelah perendaman dalam larutan ekstrak
daun sirih diperoleh telur pada perlakuan kontrol tampak terinfeksi jamur; perlakuan 0,5
ppt telur terlihat bersih dan berwarna cerah; perlakuan 1 hingga 2 ppt telur terlihat bersih
dan dan berwarna gelap. Nilai HR dan SR tertinggi diperoleh pada perlakuan 0,5 ppt
ekstrak daun sirih yaitu 50,71% dan 100%. Pertumbuhan panjang rata-rata larva tertinggi
diperoleh pada perlakuan 1 ppt (8,62 mm) sedangkan berat tertinggi diperoleh peda
perlakuan 0,5 ppt (12,69 mg). Kualitas air selama penelitian masih dalam kondisi ideal
untuk penetasan dan pemeliharaan larva ikan gurame.
Kata Kunci : Ekstrak Daun Sirih, Infeksi Jamur, Telur Ikan Gurame

PENDAHULUAN
Tahapan dalam budidaya ikan gurame
dimulai dari seleksi induk, pemijahan,
pembuahan telur, penetasan telur dan
pemeliharaan larva sampai ikan gurame
kembali menjadi induk. Dalam tahapantahapan tersebut yang menjadi perhatian
pembudidaya ikan gurame adalah tahap
penetasan, karena pada tahap ini telur ikan
gurame sering terserang jamur yang dapat
menyebabkan embrio tidak berkembang
sehingga mengakibatkan telur membusuk
dan tidak menetas (Achmad, 2004).

Upaya
yang
telah
dilakukan
pembudidaya dalam penanganan telur ikan
gurame yang terserang oleh jamur adalah
dengan cara penambahan suatu bahan kimia
ke dalam media air penetasan, dengan
tujuan menghambat pertumbuhan jamur
pada telur. Bahan kimia yang biasa
digunakan antara lain Methylene blue,
Formalin
maupun
povidone-iodine
(Betadine). Namun di lain pihak, pemakaian
bahan kimia secara terus menerus dengan
kosentrasi
yang tidak
tepat
akan
menimbulkan masalah baru, yaitu dapat
memberikan efek samping yang cukup
22

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

besar bagi ikan maupun pencemaran


terhadap lingkungan budidaya. Selain itu
bahan kimia memiliki harga yang relatif
mahal serta sulit diperoleh.
Oleh sebab itu beberapa metode untuk
mengatasi masalah panggunaan bahan
kimia yang dapat merugikan tersebut masih
terus dikembangkan, diantaranya dengan
memanfaatkan
bahan
yang
mudah
diperoleh, serta ramah lingkungan. Upaya
yang
dilakukan
untuk
mengatasi
permasalahan
tingginya
kegagalan
penetasan telur yang diakibatkan jamur
pada budidaya ikan gurame adalah dengan
menambahkan ekstrak tanaman yang
berpotemsi
untuk
menghambat
pertumbuhan jamur.
Daun sirih merupakan salah satu
bahan alami yang berpotensi memiliki sifat
anti jamur dan bakteri, karena secara kimia
daun sirih memiliki kandungan minyak
atsiri yang mampu berperan sebagai
antimikroba. Hasil penelitian Koesmiati
(1966) menunjukkan
bahwa
82,8%
komponen penyusun minyak atsiri daun
sirih terdiri dari senyawa-senyawa fenol,
dan hanya 18,2% merupakan senyawa
bukan fenol. Lebih lanjut Agusta (2000)
menjelaskan bahwa minyak atsiri dapat
menghambat pertumbuhan beberapa jenis
bakteri merugikan seperti Escherichia coli,
Salmonella sp, Staphylococcus aureus,
Klebsiella dan Pasteurella.
Penelitian tentang pemanfaatan bahan
alami daun sirih dalam budidaya ikan
terutama untuk mengatasi serangan jamur
pada tahap penetasan belum dilakukan
sehingga informasi mengenai konsentrasi
ekstrak daun sirih yang paling efektif belum
diketahui. Dengan demikian perlu dilakukan
penelitian mengenaiPengaruh Ekstrak
Daun Sirih Terhadap Infeksi Jamur Pada
Penetasan
Telur
Ikan
Gurame
(Osphronemus gouramy).

Oktober 2012

METODE
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan
Januari hingga Februari 2012, di
Laboratorium Kimia Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam dan
Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas
Pertanian Universitas Mataram Provinsi
Nusa Tenggara Barat. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
metode eksperimental, yaitu penelitian
dengan melakukan percobaan pemberian
konsentrasi ekstrak daun sirih yang berbeda
dalam media penetasan telur ikan gurame
untuk menghambat infeksi jamur pada telur.
Penelitian
ini
dilaksanakan
dengan
menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL). Perlakuan yang diuji terdiri dari 5
konsentrasi ekstrak daun sirih, yaitu :
1. Konsentrasi ekstrak daun sirih 0 ppt
(K1)
2. Konsentrasi ekstrak daun sirih 0,5 ppt
(K2)
3. Konsentrasi ekstrak daun sirih 1 ppt
(K3)
4. Konsentrasi ekstrak daun sirih 1,5 ppt
(K4)
5. Konsentrasi ekstrak daun sirih 2 ppt
(K5)
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak
4 kali sehingga diperoleh 20 unit percobaan.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah telur ikan gurame
sebanyak 1 sarang ( 1.000 butir) dan
ekstrak daun sirih sebagai bahan yang diuji
pengaruhnya terhadap infeksi jamur pada
telur ikan gurame.
Perlakuan Infeksi Jamur Pada Telur
Telur ikan gurame dimasukkan ke
dalam masing-masing wadah yang berisi
media air bersih sebanyak 40 butir dengan

23

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

perbandingan 35 butir telur sehat dan 5 butir


telur berjamur. Hal ini dilakukan selama 1
hari dengan tujuan agar telur berjamur dapat
menginfeksi telur sehat, karena pada
dasarnya telur ikan gurame memiliki sifat
saling menempel antara telur yang satu
dengan lainya sehingga dapat menyebabkan
proses infeksi jamur pada telur tersebut bisa
terjadi dengan cepat.
Pemberian Perlakuan Ekstrak Daun
Sirih
Sebelum melakukan perendaman telur
ikan gurame dalam ekstrak daun sirih, air
media dalam masing-masing wadah
dikurangi sebanyak volume ekstrak daun
sirih yang ditambahkan, sehingga dicapai
konsentrasi sesuai dengan perlakuan pada
setiap media yang digunakan. Penambahan
ekstrak daun sirih ke dalam setiap wadah
perlakuan dilakukan dengan menggunakan
alat suntikan.Parameter yang diamati untuk
mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih
terhadap infeksi jamur pada telur ikan
gurame ini adalah pengamatan keberadaan
jamur sebelum dan setelah perendaman,
daya tetas telur (Hatching Rate), tingkat
kelangsungan hidup larva (Survival Rate),
pertumbuhan panjang dan berat larva serta
kualitas air. Data hasil penelitian dianalisis
dengan analysis of variance (ANOVA)
pada taraf nyata 5% dan dilanjutkan dengan
uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf
nyata yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keberadaan Jamur Sebelum
Perendaman
Pada pengamatan awal (sebelum
perendaman) terdapat telur sehat (Gambar
1a) dan telur yang terinfeksi jamur (Gambar
1b). Kedua telur tersebut memiliki keadaan
fisik yang berbeda sehingga dapat

Oktober 2012

dibedakan dengan jelas. Menurut Bachtiar


(2010), telur yang baik atau sehat bisa
dilihat dari warnanya, yakni kuning terang
dan transparan. Sementara itu telur yang
telah terserang jamur berwarna kuning
keputihan dan cenderung kusam. Kabata
(1985) menambahkan bahwa telur ikan
yang terserang jamur akan ditandai dengan
tumbuhnya benang-benang halus seperti
kapas pada permukaan telur.

Pada penelitian ini, jenis jamur


yang menyerang telur ikan gurame tampak
seperti benang (hifa) yang menutupi
permukaan telur. Pada awalnya hanya
terlihat sedikit hifa pada permukaan telur,
tetapi semakin lama dibiarkan jamur
tersebut terus berkembang dan menginfeksi
telur lain sehingga dapat mengakibatkan
rendahnya penetasan telur ikan gurame.
Kabata (1985) menyatakan bahwa pada
awalnya jamur yang menyerang telur ikan
tidak berbahaya tapi bila serangannya tidak
dihentikan jamur akan menyebar pada telur
yang lain dan telur akan mati.
Rahmaningsih (2011) menjelaskan
bahwa jamur Saprolegnia sp.Achlya sp.
dan adalah jamur yang hidup di lingkungan
air tawar dan memerlukan air untuk tumbuh
dan bereproduksi.Saprolegnia sp. dan
Achlya sp. memiliki ciri-ciri yang sama
yaitu tersusun atas hifa-hifa yang
membuatnyaterlihat
seperti
kapas,
sedangkan yang membedakan kedua jamur
ini hanya pada ujung hifanya. Suprihadi
(2011) menambahkan bahwa infeksi jamur
Saprolegnia sp. dan Achlya sp. relatif

24

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

mudah dikenali, yaitu terlihat adanya


benang halus menyerupai kapas yang
menempel pada telur atau luka pada bagian
eksternal ikan. Apabila dilihat di bawah
mikroskop maka akan tampak jamur ini
seperti sebuah pohon yang bercabangcabang.
Pengamatan
Setelah
Perendaman
(Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Terhadap
Infeksi dan Pertumbuhan Jamur)
Perendaman telur dalam larutan
ekstrak daun sirih menghambat infeksi
jamur pada telur ikan gurame, yang dapat
dilihat pada hasil pengamatan telur setelah
perendaman (Gambar 2). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian ekstrak
daun sirih pada konsentrasi terendah (0,5
ppt) mampu mengambat infeksi jamur pada
telur ikan gurame, yaitu telur terlihat bersih
dari jamur dan memiliki warna yang cerah.

Potensi ekstrak daun sirih dalam


menghambat infeksi dan membunuh jamur

Oktober 2012

juga dapat dilihat pada keadaan telur 3 pada


K3 dan K5 serta telur 2 pada K4, yaitu
permukaan telur yang dipenuhi oleh hifa
yang terlihat kaku atau mati. Kemampuan
menghambat infeksi dan membunuh jamur
pada telur ikan gurame diduga karena daun
sirih memiliki kandungan fenol dalam
minyak atsiri yang bersifat sebagai anti
jamur dan anti bakteri. Agusta (2000)
menyatakan bahwa minyak atsiri dalam
daun sirih (Piper betle L.) merupakan salah
satu minyak atsiri yang bersifat antibakteri
dan anti jamur yang kuat, yang dapat
menghambat pertumbuhan jamur dan
bakteri yang merugikan. Triarsari (2007)
menambahkan bahwa kandungan fenol dan
sifat antiseptik daun sirih lima kali lebih
efektif dibandingkan dengan fenol biasa.
Pada
sel
bakteri
fenol
meracuni
protoplasma, merusak dan menembus
dinding serta menggumpalkan protein.
Senyawa
fenolik
bermolekul
besar
mampu menonaktifkan enzim essensial di
dalam sel bakteri meskipun dalam
konsentrasi
yang
sangat
rendah
(Moeljantoro, 2004).
Dari gambar 3 juga dapat dilihat
bahwa pengaruh ekstrak daun sirih tidak
hanya
teramati
pada
infeksi
dan
pertumbuhan jamur, tetapi juga pada
kondisi telur. Pada kontrol semua telur
terinfeksi jamur dan telur menjadi kusam,
gelap dan mati. Pada perlakuan dengan
konsentrasi 0,5 ppt, semua telur tidak
terinfeksi jamur dan tetap berwarna cerah
yang menandakan telur tetap hidup dan
sehat, namun pada perlakuan ekstrak daun
sirih diatas 0,5 ppt, ekstrak tidak hanya
membunuh
jamur
tetapi
juga
membahayakan telur. Semakin tinggi
konsentrasi ekstrak tidak hanya semakin
efektif membunuh jamur tetapi juga
semakin efektif merusak telur ikan gurame.
Pada telur yang sudah terserang jamur (telur
25

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

3 pada K3 dan K5; telur 2 pada K4),


perlakuan dengan konsentrasi diatas 0,5 ppt,
ekstrak membunuh jamur dan merusak
telur. Pengaruh merusak dari ekstrak daun
sirih pada konsentrasi diatas 0,5 ppt
semakin jelas terlihat pada telur-telur yang
tidak terinfeksi jamur, yaitu semua telur
menjadi kusam, gelap dan mati. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena pada
konsentrasi yang semakin tinggi, ekstrak
semakin besar potensinya untuk merusak
telur.
Pengaruh Ekstrak Daun Sirih Terhadap
Hatching Rate (HR), Survival Rate (SR),
Panjang, dan Berat Larva
Perlakuan perendaman telur ikan
gurame dalam larutan ekstrak daun sirih
dengan konsentrasi yang berbeda tidak
hanya berpengaruh dalam menghambat
infeksi jamur dan perubahan warna pada
telur ikan gurame, tetapi juga memberikan
pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai
HR, nilai SR serta panjang dan berat larva
ikan gurame. Nilai HR, SR serta
pertumbuhan panjang dan berat larva ikan
gurame dapat dilihat pada Tabel 1.

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa


nilai HR telur ikan gurame tertinggi
terdapat pada perlakuan K2 (0,5 ppt) yaitu
50,71% yang diikuti oleh perlakuan K3 (1
ppt), K1 (0 ppt) dan K4 (1,5 ppt) yaitu
masing-masing 28,57%; 26,43% dan

Oktober 2012

13,57%. Sedangkan nilai HR terendah


terdapat pada perlakuan K5 (2 ppt) yaitu
0%. Nilai tingkat kelangsungan hidup larva
(SR) yang tertinggi juga terdapat pada K2
yaitu mencapai nilai 100%, yang diikuti
oleh K3, K1, K4 dengan masing-masing
nilai 97,92%; 68,91% dan 23,15%;
sedangkan nilai tingkat kelangsungan hidup
larva terendah terdapat pada K5 dengan 0%.
Untuk pengukuran panjang diperoleh nilai
panjang rata-rata tertinggi pada larva K3
yaitu 8,62 mm, yang diikuti oleh panjang
rata-rata larva pada K2, K1, dan K4 yaitu
masing-masing 8,49; 8,37; dan 7 mm. Berat
rata-rata larva diperoleh pada K2 yaitu
12,69 mg, yang diikuti oleh berat rata-rata
larva pada K3, K1, dan K4 yaitu masingmasing 12,55; 12,37; dan 11,5 mg
Hatching Rate (HR)
Hasil
penelitian
(Tabel
1)
menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi
0,5 ppt memiliki nilai penetasan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kontrol dan
perlakuan lainnya, yaitu 50,71%. Tingginya
nilai penetasan pada perlakuan konsentrasi
0,5 ppt diduga karena pengaruh ekstrak
daun sirih yang mampu menekan
pertumbuhan jamur pada telur ikan gurame
sehingga telur menjadi sehat dan jumlah
penetasan telur meningkat. Rendahnya nilai
penetasan pada perlakuan kontrol (tanpa
ekstrak daun sirih) dikarenakan adanya
pertumbuhan jamur yang tidak terkendali
sehingga jamur terus menyerang telur sehat
dan mengakibatkan telur mati.
Rendahnya jumlah penetasan pada
konsentrasi ekstrak daun sirih yang lebih
tinggi dari 0,5 ppt (1; 1,5; dan 2 ppt)
disebabkan kerena ekstrak daun sirih selain
dapat menghambat dan membunuh jamur
yang menyerang telur ikan gurame juga
dapat mengakibatkan telur tersebut tidak
dapat menetas. Hal tersebut diduga karena

26

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

pada konsentrasi ekstrak daun sirih yang


terlalu tinggi terserap oleh telur dalam batas
yang tidak dapat ditolerir sehingga bersifat
toksik terhadap telur dan mengakibatkan
telur mati. Dengan demikian, konsentrasi
0,5 ppt sejauh ini merupakan konsentrasi
terbaik untuk meningkatkan jumlah
penetasan telur ikan gurame, karena pada
konsentrasi 0,5 ppt mampu menghambat
infeksi jamur pada telur ikan gurame tanpa
merusak telur itu sendiri.
Tingkat Kelangsungan Hidup Larva (SR)
Pemberian ekstrak daun sirih pada
media perendaman telur ikan gurame juga
berpengaruh
terhadap
nilai
tingkat
kelangsungan hidup larva. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada perlakuan
konsentrasi 0,5 ppt semua larva tetap hidup
(100%) (Tabel 1). Begitu pula dengan
perlakuan konsentrasi 1 ppt, persentase
kelangsungan hidup larva mencapai 97,2%.
Hal
tersebut
menandakan
bahwa
konsentrasi ekstrak daun sirih pada
konsentrasi 0,5 hingga 1 ppt tidak
berpengaruh buruk terhadap kelangsungan
hidup larva. Selain itu, tingginya nilai
kelangsungan hidup larva pada kedua
perlakuan tersebut diduga karena adanya
sifat dari daun sirih sebagai anti jamur yang
mampu melindungi telur dari serangan
jamur hingga telur menjadi larva. Hal
tersebut terbukti pada kontrol yang
memiliki nilai kelangsungan hidup larva
yang diperoleh lebih rendah dari pada
konsentrasi 0,5 dan 1 ppt, yaitu 68,91%.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan
mikroskop (Lampiran 10a), larva ikan
gurame yang mati pada perlakuan kontrol
disebabkan oleh adanya serangan jamur,
yang hifanya menutupi seluruh permukaan
tubuh larva. Dengan demikian, pada
kontrol, jamur yang menyerang telur terus

Oktober 2012

berkembang dan menyerang larva sehingga


menyebabkan kematian bagi larva tersebut.
Sedangkan rendahnya nilai tingkat
kelangsungan hidup larva pada konsentrasi
1,5 ppt disebabkan karena larva pada
konsentrasi tersebut merupakan larva cacat,
sehingga dalam beberapa hari pemeliharaan
larva mati. Larva yang cacat memiliki tubuh
tidak normal. Misalnya larva pada
perlakuan konsentrasi 1,5 ppt tubuhnya
lebih kecil dan tidak terbentang sempurna
serta tidak aktif berenang. Selain itu larva
ini berwarna kuning transparan dan
memiliki mata yang besar. Cacatnya larva
pada perlakuan ekstrak 1,5 ppt diduga
karena telur ikan gurame tidak dapat
mentolerir konsentrasi ekstrak daun sirih
dalam media perendaman, sehingga
mengakibatkan
gangguan
pada
perkembangan
embrio
yang
dapat
menyebabkan larva yang ditetaskan
mengalami gangguan, baik gangguan fisik
maupun tingkah laku.
Panjang dan Berat Larva
Perlakuan perendaman telur ikan
gurame dalam ekstrak daun sirih dengan
konsentrasi
yang
berbeda
selain
memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap penetasan telur dan kelangsungan
hidup larva, juga dapat mempengaruhi
pertumbuhan panjang dan berat larva. Dari
Tabel 1 dapat dilihat bahwa ukuran panjang
dan berat rata-rata larva pada perlakuan
ekstrak daun sirih dengan konsentrasi 0,5
dan 1 ppt memiliki nilai yang lebih tinggi
dari perlakuan kontrol. Hal tersebut diduga
karena larva pada perlakuan kontrol
mengalami penurunan daya tahan tubuh
akibat dari serangan jamur, sehingga
mengganggu pertumbuhan larva tersebut.
Sedangkan larva pada perlakuan 0,5 dan 1
ppt diduga karena adanya pengaruh dari
kandungan daun sirih yang berperan sebagai
27

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

anti jamur yang akan melindungi larva dari


serangan jamur serta memiliki daya tahan
tubuh
yang
lebih
baik
sehingga
pertumbuhan tubuh larva terjadi secara
maksimal.
Larva pada perlakuan ekstrak daun
sirih dengan konsentrasi 1,5 ppt memiliki
ukuran panjang dan berat rata-rata yang
jauh lebih rendah dibandingkan dengan
perlakuan 0; 0,5; dan 1 ppt, yaitu panjang
rata-rata larva 7 mm dengan berat rata-rata
11,5 mg. Hal tersebut diduga karena larva
pada perlakuan konsentrasi 1,5 ppt
merupakan larva cacat (abnormal) yang
mengalami gangguan pada saat perendaman
telur dalam larutan ekstrak daun sirih
sehingga
mengganggu
perkembangan
embrio pada telur dan mengakibatkan larva
yang dihasilkan memilkiki ukuran tubuh
yang berbeda dengan larva normal.
Kualitas Air
Parameter pengukuran kualitas air
meliputi suhu, pH dan DO(Dissolved
Oksigen). Data pengukuran kualitas air pada
saat setelah pemberian perlakuan ekstrak
daun sirih disajikan pada Tabel 2.

Oktober 2012

kandungan asam pada daun sirih yang dapat


mengakibatkan turunnya nilai pH pada
media perendaman. Agustin (2005)
menyatakan bahwa dalam 100 gram daun
sirih mengandung asam nikotinal 0,7 mg
dan vitamin C 5 mg.
Menurut Bachtiar (2010), suhu
optimal untuk penetasan telur ikan gurame
berkisar antara 28 32 oC dengan pH 7
8,5. Sampai saat ini belum ada ketentuan
nilai DO yang ideal untuk penetasan telur
ikan gurame. Namun Puspowardoyo (1992)
menyatakan bahwa pada saat penetasan
telur ikan gurame hanya diberi sedikit
aerasi, karena aerasi yang besar dapat
menyebabkan kerusakan pada telur.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad dan Ido, S. 2004. Pengujian


Aktivitas Ekstrak Daun Sirih
(Piper Betle Linn.) Terhadap
Rhizoctonia sp. Secara In Vitro.
[Skripsi]. Institut Pertanian Bogor.
Indonesia.
Agusta. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan
Tropik Indonesia. Institut Pertanian
Bogor. Bandung.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa pada


saat pemberian perlakuan, suhu dan DO air
yang digunakan tidak dipengaruhi oleh
konsentrasi ekstrak daun sirih yang
diperlakukan. Sedangkan
pH air
mengalami penurunan seiring dengan
peningkatan konsentrasi ekstrak daun sirih.
Hal tersebut diduga karena adanya

Agustin W, D. 2005. Perbedaan Khasiat


Antibakteri Bahan Irigasi antara
Hidrogen Peroksida 3% dan
Infusum Daun Sirih 20% Terhadap
Bakteri Mix. Majalah Kedokteran
Gig :1 Januari 2005: 4547.
http://www.journal.unair.ac.id/login/jurnal/filer/DENTJ-38-1-12.pdf.
[14 November 2011].

28

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Kabata, Z. 1985. Parasities and Diseases of


Fish Cultured in The Tropics.
Taylor dan Pancis. Philadelphia.

Oktober 2012

ulletin/?p=1040.
2011].

[14

November

Koesmiati. (1966), dalam Sugianti (2005).


Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Tradisional Dalam Pengendalian
Penyakit Ikan (Makalah Pribadi
Falsafat Sains). Sekolah Pasca
Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
http://www.rudyct.com/PPS702ipb/10245/budi_sugianti.pdf[14
November 2011].
Moeljantoro. 2004. Khasiat dan Manfaat
Daun Sirih. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Rahmaningsih, S. 2011. Jamur Saprolegnia
sp. Penyebab Penyakit Pada Ikan.
http://srirahmaningsih.blogspot.co
m/2011/08/jamur-saprolegnia-sppenyebab-pe-nyakit.html [12 Juni
2012].
Suprihardi. 2011. Pengaruh Perendaman
Telur Ikan Koi (Cyprinus Carpus)
Yang Diberi Ekstrak Meniran
(Phyllanthus Niruri L) Dengan
Dosis Yang Berbeda Terhadap
Daya Tetas (Hatching Rate).
http://siprihardijajava.wordpress.com/2011/10/30/pengaruhperendaman-telur-ikan-koicyprinus-carpus-yang-yang-diberiekstrak-meniran-phyllanthusniruri-l-dengan-dosis-yangberbeda-terhadap-daya-tetas/. [17
mei 2012].
Triarsari D. 2007. Manfaat Daun Sirih.
Bulletin DWP PTRI Jenewa.
http://dwpptrijenewa.isuisse.com/b
29

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Pengaruh Sistem Pemeliharaan dan Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan


dan Tingkat Kelangsungan Hidup Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus)
Effects of Rearing System and Density On Growth and Survival Rate of Cryfish
(Cherax quadricarinatus)
Ida Bagus Yogi Pebriana1,*, I Ketut Ngawit2, Zaenal Abidin1.
1
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
2
Program Studi Agronomi Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram, NTB Telp. 0370 621435/ Fax. 0370 640189
3
email : yogi.pebriana@yahoo.com

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sistem pemeliharaan
dan padat penebaran terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup dari lobster
air tawar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan percobaan dirancang
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial. Perlakuan terdiri atas
dua faktor yaitu faktor sistem pemeliharaan (S) dan faktor padat penebaran populasi (P).
Hasil Penelitian menunjukkan sistem pemeliharaan secara individu memiliki
tingkat kelangsungan hidup sebesar 100% dan lebih tinggi dibandingkan dengan sistem
pemeliharaan secara massal yaitu sebesar 65,25%. Terdapat interaksi yang berbeda
antara sistem pemeliharaan dengan padat penebaran. Pertumbuhan berat mutlak sistem
massal lebih tinggi yaitu sebesar 4,59 gram, dibandingkan dengan sistem individu yaitu
sebesar 4,24 gram, sedangkan padat penebaran tidak berbeda dan tidak terdapat
interaksi antara sistem pemeliharaan dengan padat penebaran. Tingkat kecacatan sistem
massal sebesar 59,87%, lebih tinggi dibandingkan sistem individu yaitu sebesar 0%.
Padat penebaran tidak berbeda terhadap tingkat kecacatan lobster air tawar dan tidak
terdapat interaksi yang berbeda antara sistem pemeliharaan dengan padat penebaran
terhadap tingkat kecacatan lobster air tawar.
Kata Kunci : Sistem individu, sistem massal, padat penebaran, kecacatan.

PENDAHULUAN
Lobster air tawar (Cherax sp.)
termasuk
jenis
udang-udangan
(Crustaceae) yang hidup di beberapa
perairan tawar di dunia, seperti sungai,
danau, dan rawa-rawa. Jenis lobster air
tawar ini cukup banyak. Dewasa ini,
beberapa jenis lobster air tawar (LAT)
telah dibudidayakan, diantaranya LAT

capit merah atau red claw (Cherax


quadricarinatus),
yabbie
(Cherax
destructor),
dan
marron
(Cherax
tenuimatus). Ketiga jenis LAT tersebut
berasal dari Australia dan telah
dibudidayakan
secara
komersial.
Komoditas ini banyak diminati oleh
masyarakat, baik di dalam negeri maupun
mancanegara,
baik
sebagai
bahan
konsumsi maupun sebagai ikan penghias
30

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

dalam akuarium (Prahasta dan Masturi,


2009).
LAT capit merah biasanya hidup
di habitat asli seperti sungai, rawa, atau
danau di daerah Queensland, Australia.
Disebut capit merah karena ada strip
merah di bagian luar capit pejantannya.
Badannya berwarna kebiru-biruan dengan
motif merah seperti batik. Kepala lobster
(karapas) memiliki rostrum yang
mempunyai empat ruas sehingga disebut
quadricarinatus. Spesies ini mempunyai
siklus hidup yang sederhana dan
sepenuhnya berada di air tawar (Bahtiar,
2006).
Teknik pembiakan LAT capit
merah mudah dan pakannya gampang
diperoleh sehingga lobster ini memiliki
nilai ekonomis untuk dibudidayakan
(Lim, 2006). Budidaya LAT secara
massal pada saat ini umumnya
memerlukan lahan yang cukup luas
karena padat penebaran yang rendah.
Menurut Murdani (2006), tingkat
kepadatan
dalam
budidaya
LAT
maksimal 20 ekor/m2 untuk ukuran 60
gram ke atas dan bila membuat tempat
persembunyian (shelter) yang sedemikian
rupa, kepadatan dapat ditingkatkan lebih
dari 20 ekor/m2.
Untuk meningkatkan keuntungan
pembudidaya, maka padat penebaran
perlu ditambah. Namun peningkatan
padat penebaran dapat mengganggu
proses fisiologi dan tingkah laku ikan
terhadap ruang gerak yang pada akhirnya
dapat menurunkan kondisi kesehatan dan
fisiologis
sehingga
pemanfaatan
makanan,
pertumbuhan
dan
kelangsungan
hidup
mengalami
penurunan. Hal tersebut dapat direspon
melalui tiga tahap stres yaitu munculnya
tanda-tanda
stres,
bertahan,
dan
kelelahan. Ketika ada tekanan yang lain
dari lingkungan, ikan akan mulai
mengeluarkan energinya untuk bertahan
dari stres. Selama proses bertahan ini
pertumbuhan menurun. Stres meningkat

cepat ketika batas daya tahan ikan telah


tercapai atau terlewati. Dampak stres ini
mengakibatkan daya tahan tubuh ikan
menurun dan selanjutnya terjadi kematian
yang tinggi (Wedemeyer, 1996).
Teknik budidaya LAT mulai
dikembangkan. Selain pemeliharaan secara
massal, dikenal juga teknik budidaya LAT
yang disebut sistem extreme density unit
(EDU). Disebut sistem EDU karena sudah
memperhitungkan media wadah dalam 3
dimensi atau kubikasi. Sistem budidaya ini
sangat efektif untuk mengurangi tingkat
kanibalisme pada saat moulting. Menurut
Lim (2006), budidaya LAT dengan sistem
EDU dapat dilakukan dengan kepadatan
yang tinggi dan kanibalisme dapat ditekan
karena setiap ruangan hanya diisi dengan
satu ekor lobster air tawar.
Informasi mengenai pertumbuhan
dan kelangsungan hidup lobster air tawar
(Cherax quadricarinatus) dari kedua
sistem tersebut pada padat penebaran yang
berbeda belum banyak diketahui. Untuk
itu, maka penelitian ini dilakukan.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di
Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas
Pertanian Universitas Mataram dengan
menggunakan metode eksperimental yang
menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan pola Faktorial. Perlakuan
terdiri atas dua faktor yaitu faktor sistem
pemeliharaan (S) dan faktor padat
penebaran populasi (P). Faktor sistem
pemeliharaan (S) terdiri atas 2 level/taraf
yaitu : sistem pemeliharaan secara massal
(s m ), dan sistem pemeliharaan secara
individu (s i ), sedangkan faktor padat
penebaran populasi (P) yang diuji terdiri
atas 4 level/taraf yaitu : padat penebaran 2
ekor/0,09 m2 (p 2 ), padat penebaran 5
ekor/0,09 m2 (p 5 ), padat penebaran 7
ekor/0,09 m2 (p 7 ), padat penebaran 9
ekor/0,09 m2 (p 9 ).
Dari
kedua
faktor
tersebut
31

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

diperoleh 8 kombinasi perlakuan yaitu :


s mp2 ; s mp5 ; s mp7 ; smp9 ; si p2 ; s i p5 ;
s i p 7 ; s i p 9 . Masing-masing kombinasi
perlakuan tersebut diulang 4 kali
sehingga ada 32 satuan atau unit
percobaan.
Bahan
Pada percobaan ini lobster air tawar
yang digunakan adalah benih lobster air
tawar (Cherax quadricarinatus) dengan
bobot atau berat tubuh 20,50 gram.
Lobster air tawar sebagai hewan uji
diberikan pakan berupa pellet tenggelam
khusus untuk udang merk fefe.
Parameter Uji
Pengukuran parameter uji dalam
percobaan meliputi parameter utama dan
parameter penunjang. Parameter utama
dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut :
Tingkat Kelangsungan Hidup/Survival
Rate (SR)
Tingkat
Kelangsungan
Hidup/Survival
Rate
(SR),
dapat
diketahui dengan menggunakan rumus
Effendie, (2002):
SR (%) = (Nt / No) x 100

Oktober 2012

W = Wt Wo
Keterangan :
W : Pertambahan berat tubuh lobster air
tawar (Cherax quadricarinatus)
Wt : Berat akhir lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus)
Wo : Berat awal lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus)
Tingkat Kecacatan Lobster Air Tawar
Lobster yang cacat adalah lobster
yang bagian tubuhnya tidak lengkap.
Tingkat kecacatan lobster dapat diketahui
dengan melihat bagian tubuh yang tidak
lengkap seperti terpotongnya capit lobster,
hilangnya kaki jalan, capit, dan antenanya.
Untuk mengetahui kecacatan lobster
selama percobaan, maka sebelum ditebar
pada unit percobaan lobster yang akan
digunakan sebagai hewan uji diseleksi
terlebih dahulu, yaitu dengan memilih
lobster yang memiliki kelengkapan organ
tubuhnya. Tingkat kecacatan lobster
dihitung dengan menggunakan rumus :
Tingkat Kecacatan (%) :
Cacat x 100

Jumlah Lobster

Jumlah Total Lobster


Keterangan :
SR = Tingkat Kelangsungan Hidup
(survival rate)
Nt = Jumlah lobster air tawar yang hidup
akhir percobaan
No = Jumlah lobster air tawar yang hidup
awal percobaan

Pertumbuhan Mutlak
Pertambahan berat tubuh lobster
air tawar (Cherax quadricarinatus) dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :

Parameter penunjang yang diukur


adalah parameter kualitas air media yang
dilakukan tiap 15 hari sekali. Parameter
kualitas air tersebut meliputi : suhu, pH,
oksigen terlarut, amoniak, dan kekeruhan.
HASIL
Hasil analisis sidik ragam tingkat
kelangsungan hidup, pertumbuhan berat
mutlak, dan tingkat kecacatan lobster air
tawar dapat dilihat pada Tabel 1.

32

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival


Rate) Lobster Air Tawar
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat
bahwa sistem Pemeliharaan dan padat
penebaran
berpengaruh
(p<0,01)
terhadap tingkat kelangsungan hidup
lobster air tawar, dan terdapat interaksi
yang berbeda (p<0,01) antara sistem
pemeliharaan dan padat penebaran
terhadap kelangsungan hidup lobster air
tawar. Hasil uji BNJ pengaruh sistem
pemeliharaan dan padat penebaran dapat
dilihat pada Tabel 2. Uji BNJ pengaruh
kombinasi perlakuan dapat dilihat pada
tabel 3. Pengaruh interaksi dapat dilihat
pada Tabel 4.

Hasil analisis dengan uji BNJ


menunjukkan sistem pemeliharaan secara
individu memberikan tingkat kelangsungan
hidup yang lebih tinggi daripada sistem
pemeliharaan secara massal. Padat
penebaran 2 ekor menghasilkan tingkat
kelangsungan hidup tertinggi yaitu 100 %,
sedangkan padat penebaran 5 ekor, 7 ekor,
9 ekor menghasilkan tingkat kelangsungan
hidup yang lebih rendah dan tidak berbeda.
Pengaruh interaksi menunjukan
bahwa sistem pemeliharaan secara individu

33

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

dengan padat penebaran 2 ekor tidak


berbeda dengan sistem pemeliharaan
individu dengan padat penebaran 5 ekor,
7 ekor, 9 ekor dan sistem massal dengan
padat penebaran 2 ekor, akan tetapi
berbeda terhadap sistem pemeliharaan
secara massal dengan padat penebaran 5
ekor, 7 ekor, dan 9 ekor.

pemeliharaan dan padat penebaran tidak


berpengaruh (p>0,05) terhadap tingkat
kecacatan air tawar (Tabel 1).
Hasil uji BNJ pengaruh sistem
pemeliharaan terhadap rata-rata tingkat
kecacatan lobster air tawar dapat dilihat
pada Tabel 6.

Pertumbuhan Mutlak
Pada Tabel 1 terlihat bahwa
sistem
pemeliharaan
berpengaruh
terhadap pertumbuhan berat mutlak
lobster air tawar (p<0,01), sedangkan
padat penebaran
tidak memberikan
pengaruh (p>0,05) terhadap pertumbuhan
berat mutlak lobster air tawar. Interaksi
antara sistem pemeliharaan dan padat
penebaran tidak berpengaruh (p>0,05)
terhadap pertumbuhan berat mutlak
lobster air tawar.
Hasil uji BNJ pengaruh sistem
pemeliharaan
terhadap
rata-rata
pertumbuhan berat mutlak lobster air
tawar dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 menunjukkan bahwa


pertumbuhan berat mutlak rata-rata pada
sistem pemeliharaan secara massal lebih
tinggi terhadap sistem pemeliharaan
secara individu.

Tabel 6 menunjukkan bahwa


tingkat
kecacatan
pada
sistem
pemeliharaan secara massal berbeda
terhadap sistem pemeliharaan secara
individu. Hasil uji BNJ menunjukkan
tingkat kecacatan pada pemeliharaan
sistem massal lebih tinggi dibandingkan
dengan pemeliharaan secara individu yang
terlihat bahwa lobster tidak mengalami
kecacatan.
Kecacatan pada lobster air tawar
meliputi hilangnya capit, terpotongnya
capit, dan hilangnya kaki jalan. Tingkat
kecacatan lobster dihitung pada saat akhir
pemeliharaan, yaitu dengan menghitung
jumlah lobster yang mengalami kecacatan
dari lobster yang hidup pada akhir
pemeliharaan.
Kualitas Air

Tingkat Kecacatan Lobster Air Tawar


Sistem pemeliharaan berpengaruh
(p<0,01) terhadap tingkat kecacatan
lobster air tawar, sedangkan padat
penebaran tidak memberikan pengaruh
(p>0,05) terhadap tingkat kecacatan
lobster air tawar. Interaksi antara sistem
34

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Hasil pengukuran kualitas air


selama percobaan terlihat bahwa kisaran
suhu pada media pemeliharaan yaitu 2729C, pH 7-8, Oksigen terlarut berkisar
antara 4,7-6,8 ppm, kekeruhan 1,24-2,03
NTU, dan amoniak 0,02-0,50 ppm.

Menurut Sukmajaya dan Suharjo


(2003), selama proses moulting tingkat
kematian lobster air tawar bisa mencapai
30%, kematian dapat disebabkan gagal
moulting,
infeksi
pathogen
dan
kanibalisme. Prahasta dan Masturi (2009),
menyatakan bahwa pemeliharaan dengan
sistem EDU (Extreme Density Unit) dapat
membudidayakan lobster dalam kepadatan
(density) yang tinggi dan kanibalisme
dapat ditekan karena setiap ruangnya
hanya diisi dengan satu ekor lobster air
tawar. Murdani (2006), menambahkan
bahwa lobster air tawar yang dipelihara
dengan sistem EDU dapat menekan tingkat
kanibalisme hingga 0 %.
Penebaran benih lobster air tawar
sebaiknya tidak terlalu padat atau terlalu
jarang. Jika terlalu jarang, dari segi
ekonomi kurang efisien dan jika terlalu
padat, persaingan lobster terlalu tinggi
sehingga perkembangannya terganggu.
Idealnya untuk pembesaran seluas 1 m x 1
m x 1 m, benih lobster yang dapat ditebar
sebanyak 20-30 ekor (Prahasta dan
Masturi,
2009).
Hasil
penelitian
menunjukkan padat penebaran 2 ekor
menghasilkan tingkat kelangsungan hidup
tertinggi yaitu sebesar 100%, sedangkan
padat penebaran 5 ekor sebesar 80 %,
kepadatan 7 ekor sebesar 78,5 %, dan
tingkat kelangsungan hidup yang paling
rendah terdapat pada padat penebaran 9
ekor yakni 72 %. Semakin tinggi padat
penebaran maka tingkat kelangsungan
hidup semakin rendah, hal ini diduga
karena dengan semakin meningkatnya
padat penebaran dalam unit percobaan
dapat menyebabkan intensitas pertemuan
dan persaingan antar lobster terhadap
ruang gerak dalam wadah pemeliharaan,
sehingga mengakibatkan tingginya tingkat
kematian lobster. Penyebab utama
kematian pada lobster adalah kompetisi
dalam wadah sehingga muncul sifat
kanibalisme dari lobster air tawar. Menurut
Rouse (1997), Cherax jenis Red claw pada
umur yang muda sering menunjukkan sifat

PEMBAHASAN
Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival
Rate) Lobster Air Tawar
Kelangsungan hidup diartikan
sebagai peluang untuk hidup dalam saat
tertentu dan metode yang umum untuk
menduga kelangsungan hidup adalah
membandingkan jumlah lobster pada
akhir periode pemeliharaan (Effendi,
2002). Hasil penelitian menunjukkan
sistem pemeliharaan dan padat penebaran
berpengaruh
terhadap
tingkat
kelangsungan hidup lobster air tawar, dan
terdapat
interaksi
antara
sistem
pemeliharaan dan padat penebaran
terhadap tingkat kelangsungan hidup
lobster air tawar (Tabel 1). Tingginya
tingkat kelangsungan hidup pada sistem
pemeliharaan secara individu yang
mencapai 100%, dibandingkan pada
sistem pemeliharaan secara massal yang
hanya mencapai 65,25%, diduga karena
lobster air tawar yang dipelihara secara
individu hidup sendiri dalam satu ruang
pada
unit
percobaan
sehingga
kanibalisme antar lobster dapat dicegah,
sedangkan pada sistem pemeliharaan
secara massal lobster hidup secara
berkelompok dalam unit percobaan
sehingga terjadi kanibalisme antar
lobster, terutama pada saat lobster
mengalami moulting yang menyebabkan
tingkat kematian sangat tinggi. Lobster
air tawar yang mati pada pemeliharaan
sistem massal terlihat sudah tidak
memiliki bagian tubuh yang utuh,
sehingga hal ini memperkuat dugaan
bahwa lobster air tawar mengalami
kematian karena kanibalisme antar
lobster.

35

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

agresif yang tinggi dan perilaku


kanibalisme.
Interaksi antara perlakuan faktor
sistem pemeliharaan dan padat penebaran
menunjukkan
rata-rata
tingkat
kelangsungan hidup yang dihasilkan pada
perlakuan secara individu dengan padat
penebaran 2 ekor, 5 ekor, 7 ekor, 9 ekor
dan perlakuan sistem massal dengan
padat penebaran 2 ekor tidak berbeda
yaitu sebesar 100 %, akan tetapi berbeda
terhadap perlakuan secara massal dengan
padat penebaran 5 ekor yaitu sebesar 60
%, padat penebaran 7 ekor sebesar 57 %
dan padat penebaran 9 ekor yaitu 44%.
Tidak berbeda pengaruh interaksi antara
perlakuan sistem individu pada semua
padat penebaran yang diujikan dengan
perlakuan sistem massal dengan padat
penebaran 2 ekor yang memiliki rata-rata
tingkat kelangsungan hidup yang sama
yaitu sebesar 100%, diduga karena pada
lobster yang dipelihara secara massal
dengan padat penebaran 2 ekor dapat
bertahan hidup sampai akhir penelitian
karena
rendahnya
tingkat
padat
penebaran sehingga kanibalisme yang
dapat menyebabkan kematian pada
lobster tidak terjadi dalam unit
percobaan.

memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih


lambat hingga mencapai 20 %.
Tingginya nilai pertumbuhan berat
mutlak lobster yang dipelihara dengan
sistem massal diduga berkaitan dengan
tingkah laku dari lobster yang dipelihara
dengan sistem massal yang lebih bebas
untuk melakukan pergerakkan dalam
memanfaatkan pakan yang diberikkan,
sedangkan pada sistem pemeliharaan
secara individu pergerakkan lobster sangat
terbatas. Menurut Lim (2006), lobster air
tawar dikenal sebagai hewan yang suka
berkelana.
Lobster air tawar yang dipelihara
secara individu diduga lebih sering
mengalami stres karena pembagian ruang
dari wadah pemeliharaan semakin sempit
sehingga tidak bebas bergerak, yang
mengakibatkan nafsu makan dari lobster
berkurang dan menyebabkan pertumbuhan
lebih
lambat.
Wedemeyer
(1996),
bependapat bahwa respon stres terjadi
dalam tiga tahap yaitu tanda adanya stres,
bertahan, dan kelelahan. Ketika ada stres
dari luar ikan mulai mengeluarkan
energinya untuk bertahan dari stres.
Selama proses bertahan ini pertumbuhan
menurun.
Padat penebaran tidak memberikan
pengaruh
yang
berbeda
terhadap
pertumbuhan berat mutlak lobster air
tawar. Pertumbuhan berat mutlak pada
kepadatan 5 ekor yaitu sebesar 4,60 gram,
sedangkan kepadatan 2 ekor menunjukkan
pertambahan berat sebesar 4,42 gram,
kepadatan 7 ekor sebesar 4,33 gram, dan
kepadatan 9 ekor yakni sebesar 4,30 gram.
Tidak berbedanya nilai pertumbuhan berat
mutlak ini diduga karena pakan selalu
tersedia dalam wadah karena pemberian
pakan
dilakukan
secara adlibitum,
sehingga lobster memiliki kesempatan
yang sama untuk mendapatkan pakan.
Selain itu kualitas air seperti oksigen
terlarut sama pada seluruh perlakuan
dalam wadah sehingga mendukung untuk
pertumbuhan lobster. Menurut Hickling

Pertumbuhan Mutlak
Pertumbuhan larva dan pascalarva
udang merupakan perpaduan antara
proses perubahan struktur melalui
metamorphosis
dan
ganti
kulit
(moulting), serta peningkatan biomassa
sebagai proses transformasi materi dari
energi pakan menjadi massa tubuh udang
(Yamaoka dan Scheer, 1970; Hartnoll,
1982).
Pemeliharaan dengan sistem
massal memperlihatkan pertumbuhan
berat mutlak yang lebih tinggi yaitu
sebesar 4,59 gram sedangkan pada
pemeliharaan
sistem
individu
pertumbuhan berat mutlak sebesar 4,24
gram. Menurut Murdani (2006), lobster
yang dipelihara dengan sistem EDU

36

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

(1971), padat penebaran memiliki


hubungan yang sangat erat dengan
produksi
dan
pertumbuhan
ikan.
Oktavianto (2005), menyatakan bahwa
lobster yang dipelihara pada kepadatan 4
ekor memiliki pertumbuhan yang lebih
tinggi daripada kepadatan 6 ekor, 8 ekor,
10 ekor, dan 12 ekor dalam wadah
berukuran
40x30x30cm.
Hal
ini
membuktikan bahwa lobster lebih senang
hidup pada kepadatan yang tidak terlalu
tinggi sehingga pertumbuhannya optimal.
Wedemeyer (1996), mengatakan bahwa
peningkatan padat penebaran akan
mengganggu proses fisiologi dan tingkah
laku ikan terhadap ruang gerak yang pada
akhirnya dapat menurunkan kondisi
kesehatan dan fisiologis sehingga
pemanfaatan makanan, pertumbuhan, dan
kelangsungan
hidup
mengalami
penurunan.

lobster air tawar mempunyai kemampuan


untuk regenerasi kaki-kakinya yang putus.
Hasil penelitian menunjukkan
padat penebaran tidak memberikan
pengaruh yang berbeda terhadap tingkat
kecacatan dari lobster yang bertahan hidup
pada akhir pemeliharaan. Padat penebaran
9 ekor menunjukkan tingkat kecacatan
yaitu sebesar 33,87 %, sedangkan
kepadatan 7 ekor sebesar 32,87 %,
kemudian diikuti kepadatan 5 ekor sebesar
28 %, dan tingkat kecacatan pada padat
penebaran 2 ekor yaitu sebesar 25 %.
Sebagian besar lobster mengalami
kecacatan
terutama
pada
sistem
pemeliharaan secara massal. Kecacatan
lobster
tidak
dihitung
berdasarkan
parahnya cacat yang dialami oleh lobster,
akan tetapi berdasarkan ada atau tidaknya
bagian tubuh lobster yang hilang. Bagianbagian tubuh lobster yang mengalami
kecacatan yaitu pada bagian capit lobster
dan juga kaki jalannya yang hilang. Jika
dilihat berdasarkan parahnya kecacatan
yang dialami oleh lobster, maka kecacatan
lobster yang paling parah yaitu hilangnya
kedua capit dari lobster.

Tingkat Kecacatan Lobster Air Tawar


Tingkat kecacatan lobster air
tawar dihitung dari jumlah lobster yang
bertahan hidup pada akhir pemeliharaan
yaitu dengan menghitung jumlah lobster
yang tidak memiliki kelengkapan bagian
tubuhnya. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa tingkat kecacatan
lobster pada pemeliharaan sistem massal
lebih tinggi yakni mencapai 59,87%,
sedangkan sistem pemeliharaan secara
individu
dapat
menekan
tingkat
kecacatan hingga 0%. Sebagian besar
lobster yang dipelihara pada sistem
massal mengalami kecacatan pada bagian
capit dan kaki jalannya. Hal ini
disebabkan karena
selama masa
pemeliharaan, lobster sering mengalami
perkelahian dan persaingan pada unit
percobaan khususnya pada perlakuan
sistem massal, namun pada pemeliharaan
dengan individu tingkat kecacatan dari
lobster tersebut dapat ditekan hingga 0%.
Lobster dapat mengganti kaki-kakinya
yang hilang melalui proses moulting .
Menurut Prahasta dan Masturi (2009),

Kualitas Air
Kualitas air merupakan salah satu
parameter penunjang dalam penelitian ini.
Parameter kualitas air yang diamati dalam
penelitian ini meliputi suhu, pH, oksigen
terlarut, kekeruhan, dan amoniak. Semua
air pada media pemeliharaan memiliki
nilai yang sama karena sistem yang
digunakan pada penelitian ini adalah
dengan menggunakan sistem resirkulasi.
Hasil pengukuran kualitas air selama
penelitian menunjukkan suhu berkisar
antara 27-29C. Kisaran ini masih layak
untuk kehidupan dan pertumbuhan lobster
air tawar. Sukmajaya dan Suharjo (2003),
menyatakan bahwa lobster air tawar
(Cherax quadricarinatus) dapat hidup dan
tumbuh pada suhu 25-37C.
Derajat keasaman (pH) pada
penelitian berada pada kisaran 7-8, ini
37

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

menunjukkan bahwa kisaran pH masih


layak untuk kehidupan lobster air tawar.
Prahasta dan Masturi
(2009),
berpendapat bahwa lobster air tawar
hidup pada perairan dengan kisaran pH
sedikit basa, yaitu antara 7-9.
Pengamatan oksigen terlarut
berkisar antara 4,7-6,8 ppm. Lim (2006),
menyatakan bahwa kandungan oksigen
terlarut yang baik untuk kehidupan
lobster air tawar yaitu 5 ppm. Menurut
Bachtiar, (2006), kadar oksigen terlarut
dalam air yang bagus untuk lobster
adalah 2-4 ppm.
Kekeruhan
air
mutlak
diperhatikan ketika pemeliharaan lobster.
Air yang keruh dapat menambah nafsu
makan lobster. Meskipun demikian, jika
air terlalu keruh juga tidak terlalu baik
bagi pemeliharaan lobster air tawar
karena
bisa
menyumbat
saluran
pernapasan (Setiawan, 2006). Kekeruhan
air pada unit percobaan berada pada
kisaran 1,24-2,03 NTU. Nilai kekeruhan
air selama penelitian menunjukkan nilai
yang masih bisa ditolerir oleh lobster
untuk hidup. Menurut Wardoyo (1990),
tingkat kekeruhan yang baik untuk
pemeliharaan ikan yaitu <50 NTU.
Amoniak merupakan senyawa
racun yang berasal dari kotoran dan sisa
pakan yang tidak termakan oleh lobster.
Pencegahan yang dilakukan untuk
menjaga agar kandungan amoniak tidak
melebihi batas yang optimal bagi
kehidupan lobster adalah dengan
melakukan pergantian air sebanyak 50 %
dan penyifonan setiap 3 hari sekali.
Kandungan amoniak selama penelitian
berkisar
antara
0,02-0,50
ppm.
Kandungan amoniak dalam media
pemeliharaan
masih
layak
untuk
kehidupan lobster. Bachtiar (2006),
mengatakan bahwa kadar amoniak yang
bisa ditolerir oleh lobster sebesar 1,2
ppm.

DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Y. 2006. Usaha Budidaya
Lobster di Rumah. Agro Media
Pustaka. Jakarta.
Effendi, M. I. 2002. Biologi Perikanan.
Yayasan
Pustaka
Nusatama.
Yogyakarta.
Hartnoll, R. G. 1982. Growth In The
Biology of Crustacea. Vol. 2.
Embryology, Morphologi and
Genetics. Academic Press. A
Subsidiary of Harcourt Brace
Jovanovich Publisher. New York.
Hickling, C. F. 1971. Fish Culture. Faber
and Faber. London. hlm 348.
Lim, K. C. W. 2006. Pembenihan Lobster
Air Tawar Meraup Untung dari
Lahan Sempit. AgroMedia Pustaka.
Jakarta.
Murdani, Y. 2006. The Extreme Density
Unit. Lomba Karya Ilmiah.
http://www. Budidaya Lobster Air
Tawar.com/. Diakses 21 Juni 2011.
Oktavianto, D. 2005. Tingkat Kepadatan
Yang
Berbeda
Terhadap
Kelulushidupan dan Pertumbuhan
Juvenil Lobster Air Tawar (Cherax
quadricarinatus). Skripsi. Fakultas
Peternakan-Perikanan Universitas
Muhamadiyah Malang. Malang.
Prahasta, A. dan H. Masturi. 2009.
Agribisnis
Lobster.
Pustaka
Grafika. Bandung.
Rouse,

D. B. 1997. Production Of
Australian Red Claw Crayfish.
Auburn University. Alabama. USA.

Setiawan, C. 2006. Teknik Pembenihan


dan Cara Cepat Pembesaran
38

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Lobster Air Tawar. Agro Media


Pustaka. Jakarta.
Sukmajaya dan Suharjo. 2003. Lobster
Air Tawar Komoditas Perikanan
Prospektif. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Wardoyo, S. T. H. 1990. Pengolahan
Kualitas Air. IPB. Bogor.
Wedemeyer, G. A. 1996. Physiology of
Fish in Intensive Culture Systems.
Northwest Biological Science
Center
National
Biological
Service U. S Departement of the
Interior. Chapman ang Hall. hlm
232.
Yamaoka, L. H. and B. T. Scheer. 1970.
Chemistry
of
Grouth
and
Development in Crustaceans. In
Marcel Florian (ed). Chemical
Zoology Vol. 5 Academic Press.
New York.

39

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Pengaruh Metode Aklimatisasi Salinitas Terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila
(Oreochromis sp.)
The Effect of Salinity Acclimatization on Survival Rate of Nile Fry (Oreochromis sp.)
Yuliana Asri 1,*, Padusung 2, Zaenal Abidin 1
1
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Mataram
2
Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram, NTB Telp. 0370 621435/ Fax. 0370 640189
*email : yulleasri@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode aklimatisasi salinitas yang terbaik
terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila (Oreochromis sp.). Metode aklimatisasi salinitas
yang digunakan yaitu metode interval dan metode kontinyu. Aklimatisasi dilakukan selama enam
hari dengan peningkatan salinitas 5 ppt/hari hingga mencapai salinitas 30 ppt dan dipelihara
selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan, pada masing-masing metode interval atau
metode kontinyu tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup benih
ikan nila (Oreochromis sp.). Hasil uji t rerata antara metode kontinyu dan metode interval
menunjukkan bahwa, metode kontinyu memberikan nilai kelangsungan hidup yang lebih tinggi
bagi benih ikan nila (Oreochromis sp.).
Kata kunci : Metode aklimatisasi, salinitas, kelangsungan hidup, dan benih ikan nila

40

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis sp.)
merupakan salah satu jenis ikan yang
banyak dibudidayakan, karena mudah
dalam
pembudidayaannya
dan
permintaan konsumen yang terus
meningkat, sehingga ikan nila sangat
potensial untuk terus dikembangkan.
Salah satu pengembangan pada kegiatan
budidaya ikan nila adalah kegiatan
pembesaran ikan nila di air laut.
Pembesaran ikan nila di air laut
dilakukan karena adanya faktor yang
mendukung yaitu, ikan nila dapat
dibudidayakan di berbagai habitat yaitu
air tawar, air payau dan air laut karena
mampu beradaptasi dengan baik pada
kisaran salinitas yang luas (euryhaline)
yaitu 0-35 ppt (Kordi, 2010).
Pembesaran nila di air laut
memiliki
beberapa
kelebihan
dibandingkan dengan yang dipelihara di
air tawar, yaitu memiliki kualitas daging
yang dihasilkan lebih padat, kompak, dan
kenyal; hal ini disebabkan karena faktor
garam di perairan cukup tinggi. Selain itu
keunggulan lainnya, daging ikan nila
tidak mudah lembek, seperti halnya
daging ikan nila yang dibudidayakan di
kolam atau waduk setelah beberapa jam
pasca panen. Selain memiliki kelebihan,
pembesaran ikan nila di air laut juga
memiliki beberapa kekurangan, antara
lain mudah stress dan mengalami
kematian
pada
saat
dilakukan
aklimatisasi dan penambahan salinitas
dari air tawar ke air laut pada ikan nila
yang akan dibudidaya (Rahma & Sahidir,
2010).
Aklimatisasi merupakan suatu
upaya penyesuaian fisiologis atau
adaptasi dari suatu organisme terhadap
suatu lingkungan baru yang akan
dimasukinya. Hal ini didasarkan pada
kemampuan organisme untuk dapat
mengatur morfologi, perilaku, dan jalur
metabolisme biokimia di dalam tubuhnya

Oktober 2012

untuk
menyesuaikannya
dengan
lingkungan. Beberapa kondisi yang pada
umumnya disesuaikan adalah salinitas,
suhu lingkungan, derajat keasaman (pH),
dan kadar oksigen. Proses penyesuaian
ini berlangsung dalam waktu yang cukup
bervariasi tergantung dari jauhnya
perbedaan kondisi antara lingkungan
baru yang akan dihadapi, dapat
berlangsung selama beberapa hari hingga
beberapa minggu (Wikipedia, 2011).
Menurut Kordi (2009), adaptasi
ikan nila pada air laut dilakukan dengan
penambahan salinitas secara bertahap.
Adaptasi ikan nila pada air laut
dilakukan dengan penambahan air laut
setiap hari maksimal 5 ppt hingga
mencapai salinitas yang diinginkan.
Watanabe (1984), menyatakan bahwa
untuk aklimatisasi ikan nila (berat 6,2 g
dan panjang 7,2 cm) dari air tawar ke air
laut (32 ppt) dilakukan selama enam hari
dengan penambahan salinitas sebanyak 5
ppt/hari.
Menurut Kordi (2008), ikan nila
yang diaklimatisasikan dari air tawar
dengan salinitas 0 ppt ke air laut dengan
salinitas 30 ppt akan mengalami
osmoregulasi. Osmoregulasi merupakan
pertukaran air dari dan ke dalam tubuh
hewan air. Kemampuan osmoregulasi
pada ikan nila yang diadaptasikan ke air
laut sangat tergantung pada penambahan
salinitasnya, semakin tinggi salinitas
yang ditambahkan semakin banyak
energi yang dibutuhkan untuk melakukan
osmoregulasi. Selain itu organ-organ
seperti ginjal, insang, dan kulit sebagai
tempat berlangsunganya osmoregulasi
akan semakin aktif bekerja. Setyo
(2006), menyatakan bahwa penambahan
salinitas memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan ikan, karena sebagian besar
energi
akan
digunakan
untuk
mempertahankan tekanan osmotik yang
berfluktuasi. Jika keadaan ini melebihi
batas kemampuan tubuh ikan, maka akan
menyebabkan ikan mati dan berpengaruh
41

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

terhadap tingkat kelangsungan hidup


ikan.
Berdasarkan uraian di atas
dilakukan penelitian tentang pengaruh
metode
penambahan
salinitas
menggunakan metode interval dan
metode kontinyu terhadap kelangsungan
hidup benih ikan nila (Oreochromis sp.).
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di
Laboratorium
Budidaya
Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Mataram,
pada bulan Februari-Maret 2012.
Penelitian
ini
dirancang
dengan
Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dalam
penelitian ini digunakan dua metode,
yaitu metode perlakuan penambahan
salinitas 50,25 ppt/hari dengan interval
waktu (I) dan penambahan salinitas
50,25 ppt/hari dengan cara kontinyu
(K).
Kedua
metode
perlakuan
penambahan salinitas dilakukan sampai
mencapai salinitas 30 ppt. Metode
penambahan salinitas dengan interval
waktu (I) terdiri dari empat perlakuan
dan setiap perlakuan diulang sebanyak
tiga kali, sehingga diperoleh 12 unit
percobaan sebagai berikut:
1 = penambahan salinitas dengan interval
waktu satu kali dalam 24 jam (I 1 )
2 = penambahan salinitas dengan interval
waktu dua kali dalam 24 jam (I 2 )
3 = penambahan salinitas dengan interval
waktu tiga kali dalam 24 jam (I 3 )
4 = penambahan salinitas dengan interval
waktu empat kali dalam 24 jam
(I 4 )
Sedangkan metode penambahan salinitas
dengan cara kontinyu (K) terdiri dari 4
perlakuan, setiap perlakuan diulang
sebanyak tiga kali, sehingga diperoleh 12
unit percobaan sebagai berikut:
1 = penambahan salinitas selama 6 jam
(K 6 )
2 = penambahan salinitas selama 12 jam
(K 12 )

Oktober 2012

3 = penambahan salinitas selama 18 jam


(K 18 )
4 = penambahan salinitas selama 24 jam
(K 24 )
Total unit percobaan yang diperoleh dari
perlakuan
masing-masing
metode
perlakuan tersebut adalah 24 unit
percobaan.
Bahan
Ikan nila yang digunakan dalam
penelitian ini adalah benih ikan nila
ukuran 30,3 g ekor-1 sebanyak 500
ekor, setiap unit akuarium berukuran 35
x 45 x 50 cm diisi dengan 15 ekor ikan,
untuk membuat media bersalinitas
(larutan pemekat) digunakan garam ikan
yang dilarutkan.
Perlakuan Aklimatisasi
Aklimatisasi salinitas dilakukan
selama enam hari dan pemeliharaan
selama 7 hari. Untuk mendapatkan nilai
salinitas sesuai perlakuan dengan jumlah
total masing-masing media air tawar (0
ppt) sebanyak 50 liter, maka dilakukan
perhitungan yaitu (Kordi, 2008):
S3 =
Keterangan:
S3
= salinitas yang dikehendaki
S2
= salinitas air laut (ppt)
S1
= salinitas air tawar (ppt)
M1
= volume air tawar (liter)
M2
= volume air laut (liter)
Masing-masing unit percobaan
yang diberikan perlakuan volumenya
akan bertambah menjadi 60 L, untuk
mempertahankan volume awal dilakukan
pengurangan air sebanyak 10 L.
Pengurangan air dilakukan melalui
penyifonan, setelah air di dalam
akuarium tercampur secara homogen
dengan larutan pemekat atau sebelum
diberikan
perlakuan
pada
hari
berikutnya. Selama proses perlakuan
hingga
tujuh
hari
pemeliharaan,
pemberian pakan dilakukan dengan

42

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

metode at satiation (pemberian pakan


sebanyak yang sanggup dimakan oleh
ikan) dengan frekuensi pemberian
sebanyak tiga kali sehari yaitu pada
pukul 08.00, pukul 13.00 dan 18.00.
Variabel yang diamati untuk
mengetahui pengaruh dari perlakuan
masing-masing metode adalah tingkat
kelangsungan hidup, jumlah konsumsi
pakan dan pertumbuhan berat. Data hasil
penelitian dianalisis dengan analisis
keragaman (ANOVA) pada taraf nyata
5% (nilai P < 0,05) dan dilanjutkan
dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada
taraf nyata yang sama. Untuk
mengetahui hasil yang lebih baik dari
dua metode perlakuan yang digunakan
dilakukan pengujian dengan uji t (t Test)
pada taraf nyata 5%. Data yang dianalisis
untuk uji t Test adalah data yang
diperoleh dari masing-masing metode
perlakuan yang digunakan.

Oktober 2012

ketujuh (saat aklimatisasi) terlihat


kelangsungan hidup dari keempat
perlakuan yaitu 93,33%-31,11% setelah
itu terus menurun sampai hari ketiga
belas yaitu 31,11%-15,56%. Persentase
kelangsungan hidup benih ikan nila yang
diaklimatisasi menggunakan metode
kontinyu pada hari pertama sampai
ketujuh yaitu 100%-60% dan menurun
sampai hari ketiga belas yaitu 60%42,22%. Tingkat kelangsungan hidup
dan jumlah konsumsi pakan selama
aklimatisasi (hari ketujuh) dan setelah
aklimatisasi (hari ketiga belas), serta
pertumbuhan berat benih ikan nila pada
metode interval dan metode kontinyu
dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.

HASIL
Hasil rata-rata kelangsungan
hidup pada metode interval dan metode
kontinyu dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 menunjukkan bahwa


kelangsungan hidup benih ikan nila
mengalami penurunan selama dilakukan
aklimatisasi dan setelah aklimatisasi.
Aklimatisasi salinitas dengan metode
interval dari hari pertama sampai hari

Hasil
analisis
keragaman
menunjukkan bahwa penaikan salinitas
menggunakan metode interval tidak
berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap
kelangsungan hidup benih ikan nila pada

43

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

hari ketujuh dan hari ketiga belas.


Metode interval juga tidak memberikan
pengaruh nyata (P>0,05) terhadap
jumlah pakan yang dikonsumsi dan
pertumbuhan berat benih.
Tabel 3 menunjukkan bahwa
penaikan salinitas menggunakan metode
kontinyu tidak berpengaruh nyata
(P>0,05) terhadap kelangsungan hidup
dan jumlah konsumsi pakan benih ikan
nila pada hari ketujuh dan hari ketiga
belas. Metode interval juga tidak
berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap
pertumbuhan berat benih.
Rataan hasil uji t antara metode
interval dan metode kontinyu terhadap
kelangsungan hidup (%), jumlah
konsumsi
pakan
(g/ekor)
dan
pertumbuhan berat benih ikan nila (g)
dapat dilihat pada Tabel 4.

Kelangsungan hidup pada metode


interval dan kontinyu untuk hari ketujuh
dan ketiga belas masing-masing tidak
berpengaruh nyata. Setelah kedua
metode tersebut dibandingkan melalui uji
t, terlihat metode kontinyu memberikan
nilai kelangsungan hidup yang lebih
tinggi dibandingkan dengan metode
interval (Tabel 3). Pada hari ketujuh
jumlah pakan yang dikonsumsi oleh
benih pada metode interval dan kontinyu
adalah sama, tetapi pada hari ketiga belas
benih
pada
metode
interval
mengkonsumsi pakan lebih banyak.
Hasil uji t untuk pertumbuhan
menunjukkan bahwa berat benih ikan
nila yang diaklimatisasi menggunakan
metode interval dan metode kontinyu

Oktober 2012

tidak mempengaruhi pertumbuhan berat


mutlaknya.
Data kualitas air pada saat
aklimatisasi dan setelah aklimatisasi
dapat dilihat pada Tabel 4.
Nilai kualitas air pada Tabel 4
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
pada keempat parameter kualitas air pada
saat pengukuran pertama. Parameter pH,
suhu, dan kekeruhan menunjukkan nilai
yang berbeda pada saat pengukuran
kedua dan ketiga.
PEMBAHASAN
Kelangsungan hidup
Respon benih ikan nila terhadap
metode penaikan salinitas berbeda-beda,
Gambar 2 menunjukkan bahwa metode
interval dan metode kontinyu tidak
berhasil mempertahankan kelangsungan
hidup benih ikan nila. Meskipun
demikian, benih ikan nila yang
diaklimatisasi menggunakan metode
kontinyu memiliki nilai persentase
kelangsungan hidup yang lebih tinggi
dibandingkan dengan menggunakan
metode interval. Kelangsungan hidup
paling tinggi pada hari ke tiga belas
dengan salinitas 30 ppt adalah 46,67%
dan yang terendah adalah 15,56%. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Lawson
& Anetekhai (2011), menunjukkan
bahwa kelangsungan hidup yang
dipelihara selama 28 hari pada salinitas
bervariasi memberikan persentase nilai
kelangsungan hidup yang mencapai
100% pada salinitas 0-7 ppt; 40% pada
salinitas 8 ppt, dan 0% (mortalitas 100%)
pada salinitas 9-10 ppt.
Penyebab kematian pada kedua
metode
tersebut
karena
adanya
peningkatan
salinitas.
Persentase
kelangsungan hidup pada kedua metode
cenderung mulai menurun drastis pada
hari ke lima setelah media air bersalinitas
di atas 20 ppt. Rendahnya persentase
kelangsungan hidup benih ikan nila pada
44

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

salinitas 25-30 ppt dikarenakan benih


merespon perubahan salinitas, sehingga
membutuhkan energi lebih untuk proses
osmoregulasi dan untuk menjaga agar
terjadinya keseimbangan kadar garam
antara lingkungan dan tubuh sehingga
ikan yang tidak mampu beradaptasi atau
mentolerir lingkungannya akan stress
yang akhirnya mati. Menurut Stickney
(1979) dalam Bestian (1996), diduga
tekanan osmotik pada media bersalinitas
20 ppt paling mendekati tekanan osmotik
darah benih ikan nila. Pada kondisi
isoosmotik kandungan ionik media
mendekati konsentrasi ionik darah ikan,
sehingga energi untuk kebutuhan
osmoregulasi lebih kecil. Sedangkan
Sahidir (2010) mengungkapkan bahwa
ikan nila yang dipelihara pada salinitas
10 ppt kondisinya mendekati isoosmotik,
ikan nila dengan kemampuan euryhaline
mampu menyesuaikan diri dan hidup
secara baik. Penelitian ini menunjukkan
bahwa pada salinitas 10 ppt (hari ke
dua),
nilai
persentase
rata-rata
kelangsungan hidup benih ikan nila
mencapai 95,56%-100% pada setiap
perlakuan di metode kontinyu dan
68,89%-84,44% pada setiap perlakuan di
metode interval (lihat Lampiran 3).
Menurut Hepher & Pruginin
(1981) dalam Bestian (1996), pada
media bersalinitas, kelangsungan hidup
ikan nila dipengaruhi oleh kemampuan
osmoregulasi.
Aklimatisasi
menggunakan
metode interval dan metode kontinyu
tidak
berpengaruh
terhadap
kelangsungan hidup benih ikan nila. Hal
tersebut menunjukkan bahwa penaikan
salinitas secara langsung atau secara
bertahap (metode interval) dan secara
terus menerus pada berbagai periode
(metode kontinyu) memberikan nilai
kelangsungan hidup yang sama di hari ke
tujuh dan ke tiga belas. Hasil yang tidak
berpengaruh pada kedua metode diduga
karena kemampuan benih ikan nila

Oktober 2012

menoleransi cara penaikan salinitas 5 ppt


adalah sama pada setiap perlakuan untuk
metode interval dan metode kontinyu.
Kordi (2008), menyatakan bahwa
kemampuan euryhaline ikan nila yang
diadaptasi
umumnya
mampu
menoleransi perubahan maksimal 5
ppt/hari.
Rataan nilai kelangsungan hidup
benih ikan nila pada metode kontinyu di
hari ke tujuh dan ke tiga belas lebih
tinggi dari pada metode interval, dengan
nilai rata-rata yaitu 67,78% dan 43,33%
untuk metode kontinyu serta 36,67% dan
24,44% untuk metode interval. Hal ini
menunjukkan bahwa benih ikan nila
yang diaklimatisasi menggunakan cara
penaikan salinitas yang sedikit demi
sedikit dapat mengurangi stress serta
kematian
pada
ikan.
Menurut
Perschbacher (1992), aklimatisasi secara
langsung lebih sering digunakan untuk
Oreochromis
mossambicus
dan
diperlukan hanya satu hari untuk
menaikkan salinitas tanpa menimbulkan
kematian. Tilapia lainnya yang memiliki
toleransi rendah terhadap salinitas,
dibutuhkan aklimatisasi secara bertahap
dalam menaikkan salinitas. Sedangkan
Al-Amoudi (1987) dalam Perschbacher
(1992), mengatakan bahwa untuk benih
Oreochromis niloticus berukuran 4 gram
yang diaklimatisasi secara bertahap
dengan prosedur penaikan salinitas 18
ppt dalam waktu 96 jam hingga
mencapai 36 ppt, menghasilkan tingkat
kelangsungan hidup 100%.
Jumlah Konsumsi Pakan
Menurut Fujaya (2004), ikan
akan mengkonsumsi pakan hingga
memenuhi
kebutuhan
energinya,
sebagian besar pakan digunakan untuk
proses
metabolisme
dan
sisanya
digunakan untuk beraktifitas lain seperti
pertumbuhan. Pada penelitian ini benih
ikan nila yang diaklimatisasi dan
dipelihara pada kedua metode penaikan
45

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

salinitas membutuhkan jumlah pakan


yang
sama.
Berdasarkan
jumlah
konsumsi pakan menunjukkan bahwa
tingkat stress ikan pada kedua metode
tersebut adalah sama. Stress pada ikan
dapat mempengaruhi jumlah pakan yang
dikonsumsi, menurut Kadarini (2009),
rendahnya
jumlah
pakan
yang
dikonsumsi dikarenakan ikan mengalami
stress atau daya tahan tubuh pada awal
penaikan salinitas sehingga nafsu pakan
berkurang yang akhirnya jumlah pakan
lebih rendah dan setelah penaikan
salinitas dihentikan tingkat nafsu makan
tinggi, dalam hal ini disebabkan kondisi
ikan telah seimbang antara tubuh dan
lingkungannya.
Sedangkan Lawson & Anetekhai
(2011), menyatakan bahwa adanya
respon ikan nila terhadap pakan yang
diberikan, menunjukkan bahwa ikan
masih bisa mempertahankan atau
mengatur metabolisme tubuhnya dalam
media bersalinitas, sementara apabila
nafsu makan rendah atau tidak merespon
pakan menunjukkan bahwa ikan sudah
tidak mampu mempertahankan serta
mengatur metabolisme tubuhnya atau
berada di luar toleransi kemampuan
metabolisme ikan.
Pada hari ke tiga belas atau tujuh
hari setelah penaikan salinitas, jumlah
pakan yang dikonsumsi tidak sama pada
kedua metode. Benih ikan nila pada
metode interval mengkonsumsi jumlah
pakan lebih banyak dari benih ikan nila
pada metode kontinyu. Hal ini diduga
karena selama tujuh hari setelah
penaikan salinitas, kondisi ikan yang
dipelihara pada salinitas 30 ppt masih
belum normal. Menurut Kordi (2008),
ikan nila yang dipindahkan dari air tawar
ke air payau atau air laut dapat hidup
normal pada minggu keempat atau bulan
kedua setelah ikan diaklimatisasi.
Setiawati
&
Suprayudi
(2003),
mengatakan bahwa ikan nila yang
dipelihara pada berbagai salinitas (0 ppt,

Oktober 2012

5 ppt, 10 ppt, 15 ppt dan 20 ppt) selama


40 hari memiliki tingkat konsumsi pakan
yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa
ikan sudah beradaptasi dengan baik
sehingga jumlah konsumsi pakan ikan
yang dipelihara pada salinitas normal (0
ppt) sama dengan jumlah konsumsi
pakan ikan yang dipelihara pada salinitas
tinggi.
Pertumbuhan Berat
Effendie (1997), menyatakan
bahwa secara sederhana pertumbuhan
merupakan proses perubahan ukuran
(panjang atau berat) dalam kurun waktu
tertentu. Akan tetapi, pertumbuhan
merupakan
proses
biologis
yang
komplek dimana banyak faktor yang
mempengaruhinya. Pada penelitian ini,
diperoleh bahwa metode interval dan
metode kontinyu tidak memberikan
pengaruh terhadap pertumbuhan berat
benih ikan nila. Selain itu, hasil uji t juga
menunjukkan tidak adanya pengaruh
kedua metode terhadap pertumbuhan
beratnya. Hal ini disebabkan karena
waktu yang digunakan untuk tumbuh
oleh ikan terlalu pendek (13 hari),
sehingga
perbedaan
pertumbahan
beratnya belum terlihat.
Pertumbuhan berat ikan yang
diperoleh selama tiga belas hari dari awal
penaikan salinitas sampai pemeliharaan
(30 ppt) adalah 1,531 g untuk metode
interval dan 1,609 g untuk metode
kontinyu. Penelitian Setiawati &
Suprayudi (2003), menghasilkan laju
pertumbuhan berat harian sebesar 2,74 %
untuk nila merah yang dipelihara pada
salinitas 20 ppt selama 40 hari .
Kondisi benih ikan nila pada
media bersalinitas 30 ppt membutuhkan
lebih
banyak
energi
untuk
menyeimbangkan cairan dan garam
internal tubuhnya dari pada untuk
pertumbuhan berat badannya, sehingga
energi yang seharusnya digunakan untuk
tumbuh akan lebih banyak digunakan
46

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

untuk proses osmoregulasi. Seperti yang


disampaikan oleh Bestian (1996)), ikan
di air tawar mengalami kondisi
kehilangan garam internal dan masuknya
cairan eksternal ke dalam tubuh,
sedangkan pada air laut ikan mengalami
pemasukan garam eksternal ke dalam
tubuh dan pengeluaran cairan internal
tubuh. Menurut Fujaya (2004), ikan akan
mengkonsumsi pakan hingga akan
memenuhi
kebutuhan
energinya,
sebagian besar pakan digunakan untuk
proses
metabolisme
dan
sisanya
digunakan untuk beraktifitas lain seperti
pertumbuhan.
Kualitas air
Pengukuran parameter kualitas
air (pH, suhu, DO, dan kekeruhan) yang
diperoleh
setiap
pengukuran
menunjukkan kisaran parameter yang
mendukung kelangsungan hidup benih
ikan nila. Kisaran nilai pH, suhu, dan DO
yang optimal bagi ikan nila masingmasing yaitu 7-9, 25-33oC, dan 5-8.
Hasil pengukuran yang diperoleh selama
pengamatan pada keempat parameter
yaitu pH, suhu, DO, dan kekeruhan
adalah 8,60-8,76; 26,38oC-27,88oC;
5,55-8,23, dan 1,91-4,20 NTU.
Kisaran nilai pada parameter pH,
suhu, dan kekeruhan masih berada pada
kisaran lingkungan hidup optimal bagi
ikan nila. Adanya perbedaan nila
perameter pH, suhu, dan kekeruhan pada
pengukuran kedua dan ketiga diduga
karena jumlah ikan di dalam setiap
akuarium berbeda-beda dari jumlah
sebelumnya. Sehingga jumlah kotoran
(feses) yang dihasilkan setiap akuarium
berbeda-beda sesuai jumlah ikannya, hal
tersebut menyebabkan adanya perbedaan
kualitas air. Menurut Kordi dan Tancung
(2007) semakin banyak jumlah ikan yang
ditebar dalam suatu kolam akan
mempercepat penurunan kualitas air,
karena
selain
banyaknya
sisa
metabolisme (berupa feses) ikan, jumlah
oksigen juga semakin menurun sejalan

Oktober 2012

dengan padatnya ikan di dalam kolam.


Kotoran (feses) ikan adalah bahan
organik dengan kandungan protein tinggi
yang diuraikan menjadi polypeptida,
asam-asam amino dan amonia (NH 3 )
sebagai produk akhir yang terakumulasi
di dalam air, sehingga perbedaan dari
jumlah amonia dalam air media akan
berdampak juga pada parameter kualitas
air yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bestian C. 1996. Kelangsungan Hidup
dan Pertumbuhan Benih Ikan Nila
Merah (Oreochromis sp.) pada
Kisaran Suhu Media 241oC
dengan Salinitas yang Berbeda (0,
10, dan 20 o/ oo ). [Skripsi,
unpublished]. Fakultas Perikanan
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Indonesia. Tahunnya beda
Effendi I. 1997. Biologi Perikanan.
Yayasan Pustaka Nusantara.
Yogyakarta.
Fujaya Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Kadarini T. 2009. Pengaruh Salinitas
dan Kalsium terhadap Sintasan
dan Pertumbuhan Benih Ikan
Balashark
(Blanthiocheilus
melanopterus). [Tesis Magister,
unpublished].
Sekolah
Pasca
Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor. Indonesia.
Kordi K. 2008. Budidaya Perairan Buku
Kesatu. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Kordi K. 2009. Budidaya Perairan Buku
Kedua. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.

47

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Kordi K. 2010. Budidaya Ikan Nila di


dalam
Kolam
Terpal.
Lily
Publisher. Yogyakarta.
Lawson E. O., Anetekhai M. A. 2011.
Salinity Tolerance and Preference
of Hatchery Reared Nile Tilapia,
Oreochromis niloticus (Linneaus
1758).
Asian
Journal
of
Agricultural Sciences 3 (2): 104110.
Perschbacher P. W. 1992. A Review of
Seawater Acclimation Procedures
for
Commercially
Important
Euryhaline
Tilapias.
Asian
Fisheries Science 5 (1992): 241248.
Sahidir. 2010. Pengaruh Perbedaan
Salinitas terhadap Pertumbuhan
Benih Ikan Nila (Oreochromis sp.).
http://artaquaculture.blogspot.com
/2010/09
pengaruh-perbedaansalinitas-terhadap.
html.
[10
September 2011].
Setyo

Bambang P. 2006. Efek


Konsentrasi Kromium (Cr+3) dan
Salinitas
Berbeda
terhadap
Efisiensi Pemanfaatan Pakan

Oktober 2012

untuk Pertumbuhan Ikan Nila


(Oreochromis niloticus ). [ Tesis
Magister, unpublished]. Sekolah
Pasca
Sarjana
Universitas
Diponegoro. Semarang. Indonesia.
Setiawati M., Suprayudi M.A. 2003.
Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan
Ikan Nila Merah (Oreochromis sp)
yang Dipelihara pada Media
Bersalinitas. Jurnal Akuakultur
Indonesia. 2(1): 27-30.
Watanabe W.O., Ming Kuo C., Chan
Huang M. 1984. Experimental
Rearing ot Nile Tilapia Fry
(Oreochromis
niloticus)
for
Saltwater
Culture.
ICLARM
Technical Reports 14, 28p. Council
for Agricultural Planing and
Development, Taipei, Taiwan and
International Center for Living
Aquatic Resorce Management,
Manila, Philipines.
Wikipedia.
2011.
Aklimatisasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Aklim
atisasi. [9 November 2011].

48

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Frekuensi Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan Berat Kepiting Bakau


(Scylla serrata)

The Effect Of Feeding Frequency On Mud Crab (Scylla serrata) Growth


M. Najamudin Sayuti1*, Siti Hilyana2, Alis Mukhlis2
Mahasiwa Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
2
Dosen Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram,NTB Telp. 0370 621435/Fax. 0370 640189
Email: jemzciwi08@gmail.com
1

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemberian pakan terhadap
pertumbuhan berat kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian menggunakan
Rancangaan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan yaitu pemberian
pakan 2 kali sehari (F I ); pemberian pakan 1 kali sehari (F II ); pemberian pakan 1 kali 2
hari (F III ); pemberian pakan 1 kali 3 hari (F IV ). Data dianalisis dengan menggunakan
Anova (P<0,05) dan uji-t. Bahan uji yang digunakan sebanyak 24 ekor kepiting yang
dipelihara dengan sistem baterai didalam keranjang plastik berukuran 46 cm x 33 cm x
16,5 cm. Keranjang plastik dibagi menjadi dua bagian dengan cara memasang plastik
sekat sebagai sekat dibagian tengahnya sehingga satu keranjang berisi 2 ekor kepiting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan 1 kali sehari menghasilkan
pertumbuhan optimal, pertumbuhan nisbi, dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih
tinggi dibandingkan perlakuan pemberian pakan 2 kali sehari, 1 kali 2 hari, dan 1 kali 3
hari. Analisis ragam menunjukkan bahwa setiap perlakuan tidak memberikan pengaruh
yang nyata terhadap pertumbuhan nisbi dan laju pertumbuhan spesifik kepiting bakau
(p>0,05).
Kata kunci: frekuensi pemberian pakan, kepiting bakau, pertumbuhan berat

49

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

PENDAHULUAN
Kepiting bakau (Scylla serrata)
merupakan salah satu sumber daya
perikanan pantai yang mempunyai nilai
ekonomis penting yang habitat utamanya
berada di hutan bakau, pemanfaatan
komersial dari komoditas ini semakin
meningkat, baik untuk konsumsi dalam
negeri
maupun
untuk
diekspor.
Tingginya permintaan terhadap kepiting
bakau ini merupakan hal yang wajar,
mengingat bintang yang berkulit keras
ini selain memiliki rasa gurih dan enak
juga bernilai gizi tinggi. Untuk
memenuhi permintaan kepiting bakau
yang terus meningkat dari tahun ke tahun
maka kegiatan budidaya merupakan
pilihan yang paling tepat.
Pada usaha budidaya, pakan
merupakan salah satu faktor yang sangat
menentukan untuk budidaya yang
berkesinambungan. Dalam pemberian
pakan, salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah frekuensi pemberian
pakan. Frekuensi pemberian pakan yang
tepat, sangat penting dilakukan agar
mengetahui kapan waktu yang tepat
untuk memberikan pakan sehingga
pemberian pakan menjadi lebih efisien.
Namun sampai saat ini belum ada acuan
yang
baku
mengenai
frekuensi
pemberian pakan untuk penggemukan
kepiting bakau. Menurut Tim Peneliti
Balitbang Jawa Tengah (2005) bahwa
perlakuan frekuensi pemberian pakan 3
kali sehari mempunyai tingkat efisensi
yang lebih baik dibanding pada
perlakuan frekuensi pemberian pakan
kepiting bakau 2 kali dan 1 kali sehari
dengan padat tebar 15 ekor/m2 sementara
Jayanti (2010) menyatakan bahwa

Oktober 2012

frekuensi pemberian pakan yang berbeda


menghasikan pertumbuhan, frekuensi
molting, rasio konversi pakan dan
kelangsungan hidup yang tidak berbeda
nyata (P>0,05).
Untuk menjawab permasalahan di
atas, penelitian ini telah dilakukan untuk
mengkaji frekuensi pemberian pakan
terhadap pertumbuhan berat kepiting
bakau (Scylla serrata).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di
tambak
Dusun
Serumbung Desa
Pemongkong
Kecamatan
Jerowaru
Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa
Tenggara Barat.
Bahan uji yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kepiting bakau
dengan berat 140-190 g/ekor dan berjenis
kelamin jantan. Wadah yang digunakan
dalam penelitian ini adalah keranjang
plastik berbentuk persegi
panjang
dengan panjang 46 cm, lebar 33 cm, dan
tinggi 16,5 cm.. Keranjang
dibagi
menjadi dua bagian dengan cara
memasang plastik sebagai sekat di
bagian tengahnya,
sehingga satu
keranjang akan berisi dua ekor kepiting.
Sekat
tersebut
dijepit
dengan
menggunakan kawat di bagian atas dan
bawahnya. Bagian dasar keranjang
dilapisi dengan plastik agar pakan yang
diberikan tidak lolos keluar dari
keranjang
tersebut.
Selanjutnya
keranjang diikat pada potongan bambu
yang
panjangnya
melebihi
lebar
keranjang kemudian dilepaskan pada
rakit yang telah dibuat di atas permukaan
air tambak.
Penelitian
menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan

50

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan


terdiri atas pemberian pakan 2 kali sehari
(F I ), 1 kali sehari (F II ), 1 kali 2 hari
(F III ), dan 1 kali 3 hari (F IV ). Analisis
data menggunakan ANOVA (P<0,05)
dan Uji-t.
Parameter utama yang diamati
adalah
pertumbuhan
nisbi,
laju
pertumbuhan spesifik, dan tingkat
kelangsungan hidup. Pertumbuhan nisbi
atau relatif kepiting bakau dihitung
menggunakan rumus menurut Effendi
(1997) yaitu:
h = (Wt - W 0 )/W 0
Keterangan :
h

= Pertumbuhan relatif

Wt
= Berat atau Lebar cangkang
pada akhir pengamatan
Wo
= Berat atau Lebar cangkang
pada awal pengamatan
Laju pertumbuhan spesifik harian
baik berdasarkan pertambahan berat
tubuh maupun lebar cangkang dihitung
menggunakan rumus menurut Koopmans
& Wijffels (2008) yaitu:
SGR = ln (W p /W p-1 ) / t
Keterangan:
SGR

: Spesific Growth Rate atau laju


pertumbuhan spesifik (per hari)
Wp
:Berat atau Lebar cangkang pada
periode pengamatan (gram atau
cm)
Wp-1 : Berat atau Lebar cangkang pada
satu periode sebelumnya (gram
atau cm)
t
: Rentang waktu pengamatan
dalam satu periode (hari)

Oktober 2012

Persentase tingkat kelangsungan


hidup (survival rate) kepiting bakau
(Scylla serrata) yang diujicobakan
dihitung menggunakan rumus yang
dikemukakan oleh Effendi (1997) yaitu:
SR =
Keterangan:
SR
= Survival Rate atau persentase
kelangsungan hidup (%)
Nt
= Jumlah kepiting bakau pada
akhir pengamatan (ekor)
No
= Jumlah kepiting bakau pada
awal pengamatan (ekor)
Sebagai
data
penunjang
dilakukan pengukuran terhadap lebar
karapas, kualitas air yang meliputi suhu,
salinitas (kadar garam), pH (derajat
keasaman), dan DO (oksigen terlarut).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola Pertumbuhan Berat Kepiting
Bakau
Rata-rata pertumbuhan berat kepiting
bakau selama penelitian (24 hari)
menunjukkan pola pertumbuhan yang
polynomial mengikuti persamaan regresi
y=ax2 + bx + c. Hubungan antara
pertumbuhan berat kepiting dengan lama
pemeliharaan
pada
masing-masing
perlakuan dinyatakan dengan y= 0,0185x2 + 1,1222x + 156,2 dan R2=
0,9837 (2 kali sehari), y= 0,03x2 +
1,3295x + 160,22 dan R2 = 0,9642 (1 kali
sehari), y=-0,0106x2 + 0,6929x + 167,67
dan R2= 0,8597 dan untuk 1 kali 3 hari
yaitu y= -0,0202x2 + 0,9591x + 165,08
dan R2= 0,9663 (Gambar 1).

51

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Berdasarkan persamaan regresi


tersebut untuk ke-empat perlakuan dapat
diketahui bahwa kepiting bakau akan
mencapai pertumbuhan optimal dan
selanjutnya
terjadi
penurunan.
Pertumbuhan yang optimal berturut-turut
yaitu perlakuan pemberian pakan 1 kali
sehari yaitu pada hari ke-22, pemberian
pakan 1 kali 3 hari yaitu pada hari ke-24,
pemberian pakan 1 kali 2 hari yaitu pada
hari ke-33, dan pada pemberian pakan 2
kali sehari menunjukkan pertumbuhan
optimal paling lama yaitu pada hari ke44.
Tingginya pertumbuhan optimal
pada pemberian pakan 1 kali sehari
diduga karena jumlah pemberian pakan
sebesar 10 % sudah mencukupi untuk
pertumbuhan optimal. Hal ini sesuai
dengan penelitian Agus (2008) yang
mengatakan bahwa dosis pemberian
pakan sebesar 10%/BB/hr sudah
mencukupi kebutuhan energi untuk
pertumbuhan. Pemberian pakan 1 kali 3
hari mencapai pertumbuhan optimal
yang
lebih cepat dibandingkan
pemberian pakan 1 kali 2 hari dan
pemberian pakan 2 kali 1 hari. Hal ini
diduga karena pada perlakuan pemberian
pakan 1 kali 3 hari tingkat stres kepiting

Oktober 2012

lebih tinggi dibandingkan perlakuan


pemberian 1 kali 2 hari dan 2 kali sehari
karena tingkat pengosongan lambung
lebih lama dengan tingkat stres.
Pemberian pakan 2 kali sehari
menunjukkan pertumbuhan optimal yang
paling lama, hal ini diduga jumlah pakan
yang diberikan pada sore hari lebih
rendah. Hal ini didukung pendapatnya
Agus (2008) bahwa jumlah pakan yang
diberikan pada malam hari akan
menunjukkan pertumbuhan yang lebih
tinggi.
Menurut Agus (2008) secara
fisiologis kepiting membutuhkan energi
dalam pakan dipergunakan untuk beradaptasi, pemeliharaan atau pengganti sel
atau jaringan yang rusak, aktivitas,
metabolisme, reproduksi (bagi kepiting
dewasa) dan yang terakhir energi pakan
dipergunakan untuk pertumbuhan dan
moulting (ganti kulit).
Pertumbuhan
Nisbi
Pertumbuhan Spesifik

dan

Laju

Laju pertumbuhan spesifik dan


pertumbuhan
nisbi
selama
pemeliharaan (24 hari)
Hasil perhitungan pertumbuhan
nisbi kepiting bakau selama 24 hari
diperoleh bahwa penambahan bobot
kepiting tertinggi adalah pada perlakuan
pemberian pakan 1 kali sehari yaitu
0,1199 dari berat awal, Urutan
berikutnya adalah perlakuan 2 kali sehari
yaitu 0,0919 dari berat awal, perlakuan 1
kali 2 hari yaitu 0,0779 dan perlakuan 1
kali 3 hari yaitu 0,0765 (Gambar 2).

52

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Tingginya penambahan bobot


pada perlakuan pemberian pakan 1 kali
sehari juga ditunjukkan dengan tingginya
laju pertumbuhan spesifik (0.0048 hari1
). Hal ini diduga terkait dengan waktu
pemberian pakan dimana pemberian
pakan pada perlakuan 1 kali sehari
sebanyak 10% dari bobot tubuh. Sesuai
dengan pernyataan Agus (2008) dalam
penelitiannya
bahwa
pertumbuhan
kepiting yang dipelihara dalam sistem
single room mencapai pertambahan berat
rata-rata 58,8/g 18 hari. Terjadinya
pertumbuhan kepiting tersebut karena
dosis pemberian pakan yang diberikan
sebesar 10 %/BB/hr sudah mencukupi
kebutuhan energi untuk pertumbuhan.
Waktu pemberian pakan 1 kali sehari
dilakukan pada pukul 19.00. Sesuai
dengan hasil penelitian Almada (2001)
juga menunjukkan bahwa kepiting bakau
lebih banyak makan pada malam hari
(pukul 18.00 - 06.00 WIB).
Perlakuan pemberian pakan 2 kali
sehari menghasilkan laju pertumbuhan
spesifik sebesar 0.0037 hari-1 dimana
nilai ini lebih kecil dibanding dengan
perlakuan pemberian pakan 1 kali sehari.
Faktor jumlah pakan yang diberikan
memberi pengaruh terhadap rendahnya
nilai laju pertumbuhan spesifik karena
pada pemberian pakan 2 kali sehari

Oktober 2012

pemberian pakan pada sore hari adalah 6


% sedangkan sisanya 4 % diberikan pada
pagi hari yang kurang direspon oleh
kepiting uji dilihat dari sisa pakan yang
tidak termakan. Hal ini tidak sesuai
dengan hasil penelitian Tim Peneliti
Balitbang Perikanan dan Kelautan (2005)
bahwa frekuensi yang sesering mungkin
dapat menghasilkan tingkat kecepatan
pertumbuhan
yang
lebih
baik
dibandingkan pemberian pakan sekaligus
diberikan secara keseluruhan.
Pemberian pakan 1 kali 2 hari
menghasilkan pertumbuhan spesifik
sebesar 0.0031 hari-1. Diduga karena
lamanya pakan berada di air sehingga
kandungan nutrisi pada pakan akan
berkurang. Hal ini dipertegas oleh Tim
Peneliti Balitbang Perikanan dan
Kelautan Jawa Tengah (2005) yang
mengatakan bahwa jenis pakan apabila
berada dalam air terlalu lama maka akan
diurai menjadi senyawa-senyawa yang
lebih kecil berupa asam-asam amino
penyusunnya kemudian menghasilkan
produk amoniak yang cukup berbahaya
bagi kehidupan kepiting. Pemberian
pakan 1 kali 3 hari menghasilkan
penambahan bobot yang terendah juga
ditunjukkan pertumbuhan spesifik paling
rendah yaitu 0.0030 hari-1. Hal ini diduga
karena adanya keterbatasan konsumsi
pakan. Berdasarkan hasil penelitian Agus
(2008) pada hari kedua pakan telah habis
dimakan mengakibatkan kepiting stres
dan memberontak karena tidak adanya
makanan. Selain itu diduga karena nilai
nutrisi dari pakan yang telah menurun
akibat dari lamanya perendaman dalam
air. Tingkah laku beberapa kepiting
dalam single room yang mengalami stres

53

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

akibat perubahan lingkungan tersebut


selalu bergerak bahkan terlihat sering
menggantung pada atap dan dinding
single room sehingga badannya tidak
berada di dalam air.
Adanya perbedaan pertumbuhan
nisbi dan laju pertumbuhan spesifik
diduga
karena
kepiting
bakau
mempunyai sifat-sifat sendiri dalam hal
pola kebiasaan makan dan makanannya.
Pada waktu siang hari kepiting bakau
pasif dan cenderung bersembunyi di
balik batu karang, sedangkan pada
malam hari kepiting bakau cenderung
bergerak mencari makan (nokturnal)
(Almada, 2001).
Berdasarkan hasil analisis sidik
ragam pertumbuhan nisbi dan laju
pertumbuhan spesifik (Lampiran 3)
dengan tingkat kepercayaan 95%, maka
hasilnya tidak berbeda nyata, artinya
pada
setiap
perlakuan
frekuensi
pemberian pakan tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan terhadap
pertumbuhan nisbi dan laju pertumbuhan
dari kepiting tersebut. Arianty (1997)
dalam Fadnan (2010) mengatakan secara
keseluruhan pada pertumbuhan berat
kepiting jantan dipengaruhi oleh kualitas
lingkungan yang mendukung dan pakan
yang diberikan. Kualitas pakan yang
diberikan sudah cukup baik karena
memiliki kandungan gizi yang cukup
tinggi untuk menunjang pertumbuhan
berat kepiting jantan. Winarti (2008)
mengatakan bahwa kandungan nutrisi
ikan mujair adalah kadar protein 18,3 %,
kadar lemak 0,8 %, dan kadar air 71 %.
Laju pertumbuhan spesifik dan
pertumbuhan nisbi setiap periode
pengamatan (6 hari)

Oktober 2012

Hasil laju pertumbuhan spesifik


dan pertumbuhan nisbi kepiting bakau
setiap periode pengamatan selama
periode pertama sampai periode keempat
dapat dilihat pada Gambar 3.

Pertumbuhan nisbi maupun laju


pertumbuhan spesifik kepiting bakau
periode
pertama
lebih
tinggi
dibandingkan dengan periode yang lain.
Terjadinya pertumbuhan berat kepiting
pada periode awal tersebut karena
tingginya nafsu makan yang disebabkan
proses penangkapan dari alam hingga
proses adaftasi dan pemuasaan sebelum
penelitian dan pada saat diberi pakan
lebih responsif. Hal ini sesuai dengan
penelitian
Fadnan
(2010)
yang
mengatakan bahwa tingginya nafsu
makan pada minggu pertama disebabkan
oleh proses penangkapan di alam hingga
proses adaftasi sebelum penelitian
sehingga kepiting dalam keadaan tidak
makan (puasa).
Pertumbuhan
pada
periode
selanjutnya menurun dibandingkan pada
periode pertama diduga kepiting sudah
gemuk karena aktifitas gerak kepiting
sangat terbatas sehingga meminimalisasi
energi gerak untuk pertumbuhan. Agus
(2008)
mengatakan
bahwa
pada
budidaya single room energi untuk
pertumbuhan dan moulting dapat

54

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

dimaksimalkan. Selain dari energi gerak


yang diminimalisasi, energi untuk
perkawinan (reproduksi) juga bisa
dikendalikan, sehingga energi untuk
pertumbuhan dan moulting dapat
ditingkatkan. Hal ini juga sejalan dengan
penelitian
Fadnan
(2010)
yang
menunjukkan
penambahan
bobot
kepiting hanya terjadi pada minggu awal
dan pertumbuhan minggu selanjutnya
akan menurun karena kepiting sudah
gemuk.
Hasil
analisis
ragam
laju
pertumbuhan spesifik dan pertumbuhan
nisbi dapat kita lihat bahwa F hitung
lebih kecil dari F tabel maka dapat
diambil kesimpulan bahwa perlakuan
frekuensi pemberian pakan pada periode
pertama sampai periode keempat tidak
memberikan pengaruh yang nyata
terhadap laju pertumbuhan spesifik
maupun pertumbuhan nisbi.

Oktober 2012

Hasil uji-t terhadap pertumbuhan


nisbi dan laju pertumbuhan spesifik
setiap periode menunjukkan perbedaan
yang signifikan pada awal pemeliharaan.
Sedangkan antara periode dua, tiga, dan
empat tidak berbeda nyata. Dari tabel
diatas perlu dilakukan pemberian pakan
pada minggu awal sangat berperan pada
peningkatan bobot tubuh kepiting bakau.
Survival
Rate
Kelangsungan Hidup

atau

Tingkat

Rata-rata tingkat kelangsungan


hidup pada penelitian ini mencapai
100%. Hal ini sesuai dengan penelitian
Fadnan (2010) yang mencapai 100%.
Pemeliharaan kepiting menggunakan
sistem baterai (kepiting dipelihara secara
individu
pada
suatu
wadah
pemeliharaan)
sehingga
mencegah
terjadinya
kanibalisme
terhadap
sesamanya. Menurut Avelino et al. (1999)
dalam Agus (2008), selain terjadi
kompetisi yang dapat menyebabkan
rendahnya angka kelangsungan hidup
hewan uji, peluang sifat kanibalisme pun
dapat menyebabkan kematian. Terlebih
jika dalam budidaya tersebut dicampur
antara kepiting jantan dan kepiting
betina, maka kepiting jantan kecil akan
selalu diserang oleh kepiting jantan
besar dimana kecenderungan kepiting
jantan untuk menguasai ruang, pakan dan
betina akan sangat tinggi

55

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Kualitas Air
Kualitas
air
dari
media
pemeliharaan sangat berguna untuk
menunjang pertumbuhan kepiting bakau.
Selama penelitian berlangsung dilakukan
pengukuran parameter fisika dan kimia
perairan meliputi suhu, salinitas, pH, dan
DO.

Oktober 2012

bisa mentolerir suhu sampai 42 oC.


Namun pada suhu tersebut laju
pertumbuhan kepiting sudah menurun,
sedangkan suhu minimal yang mulai
mengganggu pertumbuhan kepiting
sekitar 20 oC. Kandungan oksigen
terlarut (DO = Dissolved Oksygen) untuk
pertumbuhan terbaik kepiting antara 4-7
ppm (part per million), dan pH antara 78,5. Namun pada pH air 6,5 kepiting
masih dapat hidup dan tumbuh (Kordi,
2007).
UCAPAN TERIMA KASIH

Parameter kualitas air masih


dalam kisaran yang bisa diterima untuk
pertumbuhan kepiting bakau. Hasil
penelitian Yukasano (1991) salinitas air
berkisar antara 6,0-20 ppt pada siang hari
dan 10,0-23,0 ppt pada malam hari. Suhu
air berkisar antara 31,8-35,0 oC pada
siang hari dan 28,5-32,0 oC pada malam
hari. Fadnan (2010) nilai kandungan
oksigen terlarut (Do) pada saat penelitian
adalah 3,6 ppm sampai 6,9 ppm, pH air
berkisar antara 6-6,8. Salinitas berkisar
antara 15-29,5 ppt dan suhu 29,4-34,1
o
C. Kordi (2007) mengatakan kepiting
bakau tergolong hewan euryhaline antara
0-35 ppt namun laju pertumbuhan.
Kepiting bakau tergolong hewan
euryhaline (mampu mentolerir kisaran
salinitas yang luas) antara 0-35 ppt (part
per thousand), namun laju pertumbuhan
terbaik pada salinitas 10-15 ppt.
Karenanya lokasi yang cocok diiplih
untuk budi daya kepiting pada salinitas
10-35 ppt. Suhu yang cocok untuk
pertumbuhan kepiting bakau adalah
antara 23-32 oC. Kepiting bakau masih

Terima kasih kepada tim Scylla


serrata Jerowaru, Irwan, Imonk, Juhrin
yang telah banyak membantu dalam
pelaksanaan penelitian ini
DAFTAR PUSTAKA
Agus, 2008. Analisis Carryng Capacity
Tambak pada Sentra Budidaya
Kepiting Bakau (Scylla sp.) di
Kabupaten
Pemalang.
Jawa
Tengah.
http://eprints.undip.ac.id/18247/1/
Muhamad_Agus.pdf [5 Agustus
2012].
Almada. 2001. Studi tentang waktu
makan dan jenis umpan yang
disukai kepiting bakau (Scylla
serrata). [Skripsi, unpublished].
Program
Studi
Pemanfaatan
Sumber Daya Perikanan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB,
Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream
/handle/123456789/14186/C01dpa.
pdf?sequence=1 [12 Juli 2012].

56

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Effendi I. 1997. Biologi Perikanan.


Yayasan
Pustaka
Nusatama.
Yogyakarta.

Nurdin. 2010. Cara Cepat Panen


Kepiting Soka dan Kepiting Telur.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Fadnan M. 2010. Pengaruh Padat Tebar


yang
Berbeda
Terhadap
Pertumbuhan dan Kelangsungan
Hidup
pada
Penggemukan
Kepiting Bakau (Scylla sp.).
Harpodon Borneo, Vol.3 No.2.
Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Universitas Borneo
Tarakan. Kalimantan Timur.

Tim Peneliti Balitbang Perikanan dan


Kelautan Jawa Tengah. 2005.
Pembuatan Demplot Budidaya
Kepiting Soft Cell sebagai Upaya
Pemberdayaan
Masyarakat
Pesisir.http://www.google.co.id/se
arch?q=Tim+Peneliti+Balitbang+J
awa+Tengah+2005.+Pembuatan+D
emplot+Budidaya+Kepiting+Soft+
Cell+sebagai+Upaya+Pemberdaya
an+Masyarakat+Pesisir.+&ie=utf8
&oe=utf8&aq=t&rls=org.mozilla:i
d:official&client=firefox-a
[21
April 2012].

Jayanti. 2010. Pengaruh frekuensi


terhadap pertumbuhan kepiting
bakau (Scylla Paramamosain).
Program Studi Budidaya Perairan
Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas
Airlangga.
http://alumni.unair.ac.id/kumpulanf
ile /4539828306_abs. pdf [20 Juni
2012].
Koopmans M., Wijffels R.H. 2008.
Seasonal Growth Rate of the
sponge
Halidona
oculata
(Demospongiae: Haplosclerida).
Mar biotechnol. 10:502-510
Kordi K. 2007. Budidaya Kepiting Bakau
(Pembenihan, pembesaran, dan
Penggemukan).
Aneka
Ilmu.
Semarang.

Yukasano D. 1991. Hubungan Jenis Ikan


Sebagai Pakan dan Tingkat
Pemberiannya
dengan
Pertumbuhan Kepiting Bakau
(Scylla
serrata).
[Skripsi,
unpublished]. Jurusan Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan IPB,
Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstrea
m/handle/123456789/39943/C91D
YU.pdf?sequence=1. [19 Februari
2012].

57

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No.1

Oktober 2012

Pengaruh Jumlah Pakan dan Jenis Kelamin Terhadap Pertumbuhan


Kepiting Bakau (Scylla serrata) Forskal
Pada Penggemukan Menggunakan Sistem Baterai
The Effect of Feed Amount and Sex on the Growth of Mud Crab
(Scylla serrata forskal) in the Fattening Crabs Using a Battery System
Irwan Maulana1*, Sadikin Amir2, Alis Mukhlis2,
1
Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram, 2Staf Pengajar
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram,NTB Telp. 0370 621435/Fax. 0370 640189
email : ink_maulana08@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian jumlah pakan yang tepat
baik dalam penggemukan kepitng jantan maupun kepiting betina agar mendapatkan
pertumbuhan yang optimal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2012. Percobaan
dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, yang terdiri dari
faktor jumlah pakan (5 %, 10 %, dan 15 % dari bobot tubuh per hari) dan faktor jenis
kelamin (jantan dan betina) yang masing-masing diulang sebanyak 6 kali secara
individu. Pengujian dilakukan pada kepiting bakau dengan bobot awal 150-210 gram
dan lebar karapas 9-11 cm selama 28 hari pemeliharaan. Pemberian pakan berupa ikan
mujair dengan frekuensi 2 kali sehari, yaitu pagi (40 %) dan malam (60 %). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jumlah pakan memberi pengaruh nyata
terhadap pertumbuhan kepiting bakau (p<0,05) yang dipelihara selama 28 hari dimana
pemberian pakan sebanyak 15 % dari bobot tubuh per hari mampu menghasilkan
pertumbuhan kepiting bakau tertinggi dibandingkan dengan pemberian pakan 10 % dan
5 %. Pengaruh perbedaan jumlah pakan menunjukkan perbedaan secara signifikan
(p<0,05) pada minggu pertama pemeliharaan sedangkan pada minggu-minggu
berikutnya tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan. Dalam penelitian ini
perbedaan jenis kelamin tidak memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan kepiting
bakau (p>0,05).

Kata kunci : Jumlah pakan, jenis kelamin, kepiting bakau, pertumbuhan

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No.1

PENDAHULUAN
Kepiting bakau (Scylla serrata)
merupakan salah satu komoditas
perikanan yang bernilai ekonomis tinggi
dengan nilai jual mencapai Rp 50.000100.000/kg.
Namun,
dalam
penangkapan jumlah banyak dan
pengumpulan dari penangkap sering
ditemukan banyak kepiting keropos tidak
laku dijual atau murah sekali harganya.
Melalui penggemukan, kepiting yang
keropos menjadi berisi sehingga dapat
meningkatkan harga. Penggemukan
kepiting bakau dengan pemeliharaan
sistem baterai (kepiting dipelihara secara
individu dalam suatu wadah) dapat
mencegah terjadinya kanibalisme.
Parameter utama yang diamati
dalam penggemukan kepiting bakau
sistem baterai, yaitu pertumbuhannya.
Faktor utama yang mempengaruhi
pertumbuhan adalah pakan. Pemberian
jumlah pakan yang tepat sangat penting
dalam penggemukan bukan saja karena
merupakan biaya pengeluaran terbesar,
melainkan juga sangat berpengaruh
terhadap buruknya kualitas air bila
jumlahnya berlebihan sehingga dapat
menghambat pertumbuhan kepiting
bakau. Namun, sampai saat ini belum
ada acuan yang baku mengenai
pemberian
jumlah
pakan
untuk
penggemukan kepiting bakau. Selain
pakan, pertumbuhan kepiting bakau
layaknya biota air yang lain dipengaruhi
oleh jenis kelamin. Crustacea betina
umunya
memperlihatkan
laju
pertumbuhan yang lebih cepat daripada
crustacea
jantan
(Kordi,
2009).
Sementara Tuhuteru (2004) melaporkan
bahwa kepiting bakau jantan cenderung
memiliki pertumbuhan yang lebih cepat
dibandingkan kepiting bakau betina.
Berdasarkan uraian di atas, maka
dilakukan penelitian untuk melihat

Oktober 2012

Pengaruh Jumlah Pakan dan Jenis


Kelamin pada Penggemukan Kepiting
Bakau(Scylla
serrata)
dengan
Menggunakan Sistem Baterai.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Mei 2012, di tambak Sende Maju,
Dusun Ujung Desa Pemongkong
Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok
Timur, NTB.
Hewan uji yang digunakan adalah
bibit kepiting bakau berbobot 150-210
g/ekor dengan lebar karapas mencapai 9
11 cm.Wadah yang digunakan berupa
keranjang plastik sebanyak sembilan
buah. Setiap unit keranjang diberi sekat
sehingga akan berisi 2 ekor kepiting
karena setiap kotak diisi 1 ekor kepiting.
Pemberian pakan berupa ikan mujair
sebanyak 5 %, 10 %, dan 15 % dari
bobot tubuh per hari baik untuk kepiting
jantan maupun betina, dengan frekuensi
2 kali sehari, yaitu pagi (40 %) dan
malam (60 %).
Rancangan
percobaan
yang
digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap (RAL) pola faktorial, yang
terdiri dari dua faktor, yaitu faktor
jumlah pakan (P) dan jenis kelamin (K).
Faktor jumlah pakan (P) terdiri dari tiga
aras perlakuan, yaitu p 1 = 5 %, p 2 = 10
%, dan p 3 = 15 % dari bobot tubuh
kepiting per hari, sedangkan faktor jenis
kelamin (K) terdiri dari dua aras
perlakuan, yaitu k 1 = kelamin jantan dan
k 2 = kelamin betina. Dari kedua faktor
tersebut didapatkan enam kombinasi
perlakuan, yaitu :
p 1 k 1 = 5 % pakan untuk kepiting bakau
jantan
p 1 k 2 = 5 % pakan untuk kepiting bakau
betina
p 2 k 1 = 10 % pakan untuk kepiting bakau
jantan
p 2 k 2 = 10 % pakan untuk kepiting bakau
betina

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

P3 k 1 = 15 % pakan untuk kepiting bakau


jantan
p 3 k 2 = 15 % pakan untuk kepiting bakau
betina
Setiap perlakuan tersebut diulang
sebanyak enam kali, sehingga diperoleh
36 unit percobaan.
Parameter utama yang diamati
adalah
pertambahan
bobot,
laju
pertumbuhan spesifik
atau specific
growth rate (berat) dan pertumbuhan
relatif atau nisbi ( berat), sedangkan
parameter penunjang adalah tingkat
kelangsungan hidup dan kualitas air yang
meliputi suhu, DO (oksigen terlarut),
salinitas (kadar garam), dan pH (derajat
keasaman).
Laju pertumbuhan berat spesifik
dihitung menggunakan rumus menurut
Effendi (2002) yaitu:
Wp

ln
Wp 1

SGR =
t

Keterangan :
SGR : Spesific Growth Rate atau laju
pertumbuhan spesifik (hari-1)
Wp : Berat pada periode pengamatan
Wp-1: Berat
sebelumnya

pada

satu

periode

t : Rentang waktu pengamatan dalam


satu periode (hari)
Pertumbuhan berat nisbi kepiting
bakau dihitung berdasarkan rumus
Effendi (1997) yaitu:

Oktober 2012

Wt

= Berat pada akhir pengamatan

Wo

= Berat pada awal pengamatan

Persentase tingkat kelangsungan hidup


(survival rate) kepiting bakau dapat
dihitung menggunakan rumus Effendi
(2002) yaitu:
SR =
Keterangan:
SR
= Survival Rate atau persentase
kelangsungan hidup (%)
Nt
= Jumlah kepiting bakau pada
akhir pengamatan (ekor)
No
= Jumlah kepiting bakau pada
awal pengamatan (ekor)
Data hasil penelitian dianalisis
menggunakan analisis sidik ragam atau
analysis of variance (ANOVA) pada
taraf nyata 5 %. Jika dari data sidik
ragam diketahui bahwa kedua faktor
yaitu, jumlah pakan dan jenis kelamin
menunjukkan pengaruh yang berbeda
nyata (significant). Maka dilanjutkan
dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada
taraf nyata 5 %.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola Pertambahan Berat
Hasil rata-rata pertambahan berat
(g) kepiting bakau selama 28 hari
pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar
1.

h=
Keterangan :
h

= Pertumbuhan nisbi

60

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Gambar 1 menunjukkan bahwa


pertambahan berat kepiting bakau yang
dipelihara selama 28 hari cenderung
berpola linier yang mengikuti persamaan
regresi (y = ax + b). Persamaan regresi
dan koefisien korelasi berturut-turut
untuk masing-masing perlakuan, yaitu y
= 0,490x + 178 danR2 = 0,999 (kepiting
bakau jantan dengan jumlah pakan 5 %
dari bobot tubuh per hari); y = 545x +
174,4 dan R2 = 0,966 (kepiting betina
dengan jumlah pakan 5 %); y = 0,561x +
196,4 danR2 = 0,958 (kepiting jantan
dengan jumlah pakan 10 %); y = 609x +
173,5 dan R2 = 0,995 (kepiting betina
dengan jumlah pakan 10 %); y = 0,673x
+ 184,1 dan R2 = 0,997 (kepiting jantan
dengan jumlah pakan 15 %); dan y =
1,035x + 183 dan R2 = 0,976 (kepiting
betina dengan jumlah pakan 15 %).
Berdasarkan nilai slope pada persamaan
regresi, maka rata-rata laju pertumbuhan
berat kepiting bakau masing-masing
perlakuan secara berurutan dari yang
tertinggi yaitu 1,035 g/hari (kepiting
bakau betina dengan jumlah pakan 15 %
dari bobot tubuh per hari); 0,673 g/hari
(kepiting jantan dengan jumlah pakan 15
%); 0,609 g/hari (kepiting betina dengan
jumlah pakan 10 %); 0,561 g/hari
(kepiting jantan dengan jumlah pakan 10

Oktober 2012

% dari bobot tubuh per hari); 0,545


g/hari (kepiting betina dengan jumlah
pakan 5 %); dan 0,490 g/hari (kepiting
jantan dengan jumlah pakan 5 %).
Data di atas menunjukkan bahwa
semakin tinggi jumlah pakan yang
diberikan maka semakin tinggi pula
pertambahan bobot kepiting bakau. Hal
ini sama dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Yukasano (1991), dimana
pemberian pakan sebanyak 25 % dari
bobot
tubuh
per
hari
mampu
menghasilkan laju pertumbuhan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan 17,5
dan 10 %. Hasil peneilitian Muchlisin
dkk. (2006) juga menunjukkan bahwa
pemberian pakan sebanyak 20 % dari
bobot tubuh per hari menghasilkan laju
pertumbuhan
yang
lebih
tinggi
dibandingkan dengan 15 dan 10 %. Hal
ini diduga karena semakin banyak pakan
yang tersedia dalam wadah pemeliharaan
maka peluang dikonsumsinya pakan
tersebut akan semakin tinggi, sehingga
menyebabkan terjadinya pertumbuhan
kepiting bakau yang semakin tinggi pula.
Menurut Hartnoll (1982) dalam Asmara
(2004), faktor luar yang utama
mempengaruhi pertumbuhan krustasea
adalah ketersediaan makanan. Hal ini
didukung oleh Yukasano (1991) yang
menyatakan bahwa untuk setiap ukuran
bobot kepiting ternyata dengan adanya
ketersediaan pakan yang lebih tinggi
cenderung akan mendorong kepiting
untuk mengkonsumsi lebih tinggi. Lebih
lanjut ditegaskan oleh Cholik (2005)
dalam Agus (2008), bahwa semakin
banyak pakan yang dikonsumsi maka
semakin bertambah besar kepiting
tersebut.
Selain karena pengaruh jumlah
pakan, laju pertumbuhan kepiting bakau
juga dipengaruhi oleh jenis kelamin
kepiting bakau itu sendiri. Gambar 1
menunjukkan bahwa kepiting bakau
betina memiliki laju pertambahan berat

61

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

yang lebih tinggi dibandingkan dengan


kepiting bakau jantan. Hasil ini berbeda
dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Hanifah (2010), bahwa kepiting
bakau betina cenderung memiliki laju
pertumbuhan
yang
lebih
rendah
dibandingkan kepiting bakau jantan. Hal
ini diduga disebabkan karena rata-rata
kepiting betina yang digunakan dalam
penelitian ini lebih muda dan belum
mencapai masa matang kelamin (berat
awal rata-rata 176,17 g dengan lebar
karapas rata-rata 10,33 cm) dibandingkan
dengan sampel uji yang digunakan oleh
Hanifah (2010) dimana menggunakan
kepiting uji betina yang sedang
mengalami maturasi. Hasil penelitian
Trino
dan
Rodriguez
(2001)
menunjukkan bahwa kepiting bakau
betina (berat rata-rata 267 g dengan lebar
karapas 12,4 cm) memiliki laju
pertumbuhan
yang
lebih
lambat
dibandingkan kepiting bakau jantan
(berat rata-rata 286 g dengan lebar
karapas 12,7 cm). Begitu juga dengan
hasil penelitian Tuhuteru (2004) yang
memperlihatkan bahwa kepiting bakau
betina (lebar karapas rata-rata 13,1 cm)
memiliki pertumbuhan lebih lambat
dibandingkan kepiting bakau jantan
(lebar karapas rata-rata 12,3 cm).
Faktor luar yang mempengaruhi
pertumbuhan pada krustasea diantaranya
adalah jenis kelamin dan tingkat
kedewasaan (Hartnoll, 1982 dalam
Asmara, 2004). Tercapainya kematangan
gonad untuk pertama kali dapat
mempengaruhi
pertumbuhan
yaitu
kecepatan pertumbuhan menjadi sedikit
lambat, karena sebagian dari makanan
yang
dimakan
tertuju
untuk
perkembangan gonad (Effendi, 2002).
Menurut Sastry (1983) dalam Asmara
(2004) bahwa kepiting jantan biasanya
mengalami matang gonad lebih awal
dibandingkan kepiting betina. Seperti
yang dijelaskan juga oleh Retnowati

Oktober 2012

(1991) bahwa kepiting jantan mengalami


kematangan
gonad
lebih
awal
dibandingkan dengan kepiting betina
yang sama-sama memiliki 8 cm. Pada
penelitian ini didapatkan bahwa kepiting
bakau betina cenderung memiliki
pertumbuhan
yang
lebih
tinggi
dibandingkan dengan ke piting bakau
jantan. Sehingga diduga kepiting bakau
jantan yang digunakan dalam penelitian
ini telah mencapai matang gonad lebih
awal dibandingkan dengan kepiting
bakau betina.
Pendugaan belum tercapainya
kematangan gonad kepiting bakau betina
diperkuat dengan hasil pembedahan
terhadap enam ekor sampel uji kepiting
betina, dimana sebagian besar kepiting
uji (lebar karapas 9,5-10,5 cm)
ditemukan
belum
matang
gonad
(immature), sedangkan kepiting betina
dengan lebar karapas 11 cm ditemukan
memiliki sedikit telur berwarna oranye
pada gonadnya (mature). Estampador
(1949)
in
Retnowati
(1991)
mengklasifikasikan tingkat kematangan
gonad (TKG) kepiting bakau betina
secara morfologi ke dalam empat tingkat,
yaitu belum matang (immaturing),
menjelang matang (maturing), matang
(ripe), dan salin (spent). Lebih lanjut
dijelaskan
bahwa
pada
stadia
immaturing, gonad kecil dan pucat, telurtelur belum dapat dilihat dengan mata
telanjang, sedangkan morfologi gonad
pada stadia maturing warnanya sudah
berubah menjadi oranye merah karena
adanya sejumlah yolk. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa sampel kepiting
bakau betina yang digunakan dalam
penelitian ini sebagian besar belum
matang gonad (immaturing)dan hanya
sebagian kecil dalam kondisi menjelang
matang gonad (maturing). Hal ini
didukung oleh pendapat Soim (1995)
dalam Akhadiyati (2003); Perrine dalam
Hendratmo (1987) dalam Retnowati

62

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

(1991), kepiting dewasa yang siap


memijah ukuran lebar karapasnya
biasanya mencapai 12 cm dan telah
matang gonad. Poovachiranon (1992)
dalam Trino & Rodriguez (2001)
melaporkan bahwa tingkat kematangan
gonad kepiting bakau betina berpengaruh
terhadap pertambahan bobot tubuhnya.
Scylla serrata mencapai matang gonad
ketika lebar karapasnya 11 cm. Hasil
penelitian Ong dalam Escritor (1970)
dalam Retnowati (1991) didapatkan
bahwa Scylla serrata untuk pertama
kalinya matang gonad setelah berumur
11 bulan dengan lebar karapasnya ratarata 11,42 cm.
Laju Pertumbuhan
Pertumbuhan Nisbi

Spesifik

dan

Laju pertumbuhan spesifik dan


pertumbuhan
nisbi
selama
pemeliharaan (28 hari)
Hasil rata-rata laju pertumbuhan
spesifik atau Spesific Growth Rate (hari1
) dan pertumbuhan nisbi berat kepiting
selama 28 hari dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 2 menunjukkan bahwa


laju pertumbuhan spesifik menghasilkan
pola yang sama dengan pertumbuhan
nisbi pada setiap perlakuan. Semakin
tinggi SGR maka semakin tinggi pula

Oktober 2012

pertumbuhan nisbi kepiting uji. Nilai


rata-rata SGR dan pertumbuhan nisbi
tertinggi yaitu 0,00532/hari dan 0,16190
terjadi pada kelompok kepiting betina
dengan jumlah pakan 15% dari bobot
tubuh per hari. Kepiting bakau betina
yang diberikan pakan sebanyak 15 %
yang dipelihara selama 28 hari memiliki
pertumbuhan berat per hari sebesar
0,00532 kali dari berat pada hari
sebelumnya atau pemeliharaan selama 28
hari, kepiting bakau betina yang
diberikan pakan sebanyak 15 % memiliki
pertambahan berat sebesar 0,16190 kali
dari berat awal mulai penebaran.
Nilai
rata-rata
SGR
dan
pertumbuhan nisbi tertinggi berikutnya
yaitu 0,00360/hari dan 0,10696 diperoleh
kelompok kepiting jantan dengan jumlah
pakan 15%. SGR dan pertumbuhan nisbi
urutan berikutnya diperoleh pada
perlakuan jumlah pakan 10 % dengan
jenis kelamin betina (0,00357/hari dan
0,10638); perlakuan jumlah pakan 10 %
dengan
jenis
kelamin
jantan
(0,00288/hari dan 0,08468); perlakuan
jumlah pakan 5 % dengan jenis kelamin
betina (0,00279/hari dan 0,08228); dan
nilai terendah diperoleh perlakuan
jumlah pakan 5 % dengan jenis kelamin
jantan (0,00260/hari dan 0,07562).
Berdasarkan hasil analisis sidik
ragam bahwa pengaruh interaksi antara
jumlah pakan dengan jenis kelamin
terlihat berbeda tidak nyata (P>0,05)
baik
pada
SGRmaupun
pada
pertumbuhan nisbi. Perbedaan jenis
kelamin juga memperlihatkan pengaruh
yang tidak nyata (P>0,05) terhadap SGR
dan pertumbuhan nisbi kepiting bakau,
walaupun
kepiting
bakau
betina
cenderung
memberikan
laju
pertumbuhan
yang
lebih
tinggi
dibandingkan dengan kepiting bakau
jantan.
Satu-satunya dalam penelitian ini
yang memberi pengaruh nyata adalah

63

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

jumlah pakan yang diberikan (P<0,05).


Hasil ini kemudian diuji lanjut
menggunakan uji Beda Nyata Jujur
(BNJ) pada taraf nyata 5 % menunjukkan
bahwa nilai SGR dan pertumbuhan nisbi
tertinggi diperoleh pada perlakuan
pemberian pakan sebanyak 15 % dari
bobot tubuh per hari yang berbeda secara
signifikan dengan pemberian
pakan
sebanyak 5 %, namun tidak berbeda
secara signifikan dengan pemberian
jumlah pakan 10 %,sementara pemberian
pakan 10 % dari bobot tubuh berbeda
tidak nyata dengan pemberian jumlah
pakan 5 %.
Berdasarkan nilai SGR
dan pertumbuhan nisbi selama 28 hari
masa pemeliharaan, pemberian pakan
sebanyak 15 % dari bobot tubuh per hari
mampu meningkatkan pertumbuhan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan
pemberian pakan sebanyak 5 % dari
bobot tubuh per hari. Namun demikian,
agar pakan yang diberikan lebih efiisien,
maka perlu diketahui pengaruh jumlah
pakan yang diberikan terhadap laju
pertumbuhan spesifik dan pertumbuhan
nisbi
setiap
minggu
selama
pemeliharaan.
Laju pertumbuhan spesifik dan
pertumbuhan nisbi setiap minggu
Hasil rata-rata nilai SGR (hari-1)
dan pertumbuhan nisbi berat kepiting
bakau setiap minggu yang dipelihara
selama empat minggu dapat dilihat pada
Gambar 3 dan 4.

Oktober 2012

Hasil analisis sidik ragam


menunjukkan bahwa pengaruh interaksi
antara jumlah pakan yang diberikan
dengan jenis kelamin serta pengaruh
faktor tunggal jenis kelamin terhadap
SGR
dan
pertumbuhan
nisbi
memperlihatkan pengaruh yang tidak
nyata (P>0,05) baik pada minggu
pertama, kedua, ketiga, keempat.
Walaupun demikian, kepiting bakau
betina cenderung menunjukkan laju
pertumbuhan yang lebih tinggi pada tiga
minggu pertama dibandingkan dengan
kepiting bakau jantan, sedangkan pada
minggu
keempat
kepiting jantan
cenderung
memperlihatkan
laju
pertumbuhan
yang
lebih
tinggi
dibandingkan dengan kepiting bakau
betina. Hal ini diduga karena pada

64

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

minggu keempat kepiting betina sudah


mulai memasuki fase matang gonad atau
matang telur sehingga asupan gizi dari
pakan yang dikonsumsi sebagian besar
digunakan untuk perkembangan gonad.
Menurut Tuhuteru (2004), kepiting yang
mulai matang gonad ditandai dengan
pertumbuhannya
menurun
yang
disebabkan
karena
energi
untuk
pertumbuhan sebagian besar digunakan
untuk perkembangan gonad.
Berbeda dengan jenis kelamin,
perbedaan jumlah pakan memberikan
pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap
laju
pertumbuhan
spesifik
dan
pertumbuhan nisbi pada minggu pertama,
sedangkan pada tiga minggu berikutnya
tidak memberikan pengaruh berbeda
nyata. Hasil uji lanjut menggunakan uji
Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf nyata
5 % menunjukkan bahwa pemberian
pakan sebanyak 15 % dari bobot tubuh
per hari pada minggu pertama
memperlihatkan hasil berbeda nyata
dengan pemberian pakan sebanyak 5 %,
namun tidak berbeda secara signifikan
dengan pemberian pakan sebanyak 10 %.
Begitu juga dengan pemberian pakan 10
%
tidak berbeda nyata dengan
pemberian jumlah pakan 5 %. Terjadinya
perbedaan laju pertumbuhan berat
kepiting bakau secara signifikan diduga
karena kepiting bakau tersebut telah
dipuasakan selama 24 jam sebelum
diberikannya perlakuan. sehingga dengan
pemberian jumlah pakan yang lebih
tinggi (15 % dari bobot tubuh per hari)
pun akan dikonsumsi hingga hampir
habis karena nafsu makan kepiting bakau
yang meningkat akibat pemuasaan. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Fadnan
(2010) bahwa terjadinya penambahan
berat kepiting bakau yang signifikan
pada awal pemeliharaan dikarenakan
tingginya nafsu makan yang disebabkan
oleh
pemuasaan
selama
proses

Oktober 2012

penangkapan di alam hingga proses


adaptasi sebelum penelitian.
Tidak adanya pengaruh jumlah
pakan pada minggu kedua, ketiga, dan
keempat diduga karena bobot kepiting
telah mencapai tingkat yang mendekati
bobot optimal sesuai dengan ukuran
karapas. Dalam pertumbuhan kepiting
terjadi pertambahan bobot tanpa diikuti
oleh pertambahan lebar karapas kecuali
pada saat molting.
Kelangsungan Hidup
Kepiting bakau yang digunakan
dari semua perlakaun tidak ada yang
mengalami kematian. Hal ini karena
pemeliharaan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pemeliharaan sistem
baterai (kepiting dipelihara secara
individu
dalam
suatu
wadah
pemeliharaan),
sehingga
mencegah
terjadinya kanibalisme yang merupakan
faktor utama penyebab terjadinya
kematian pada pemeliharaan kepiting
bakau. Hasil ini sama dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Fadnan
(2010); Tugiyono (2011) menunjukkan
bahwa kepiting bakau yang dipelihara
dengan
kepadatan
1
ekor/m2
(pemeliharaan dengan sisitem baterai)
dapat menghasilkan kelangsungan hidup
100 %, sementara kelangsungan hidup
kepiting bakau yang dipelihara dengan
kepadatan 2-4 ekor/m2 hanya mencapai
50-77,77 %. Menurut Fadnan (2010);
Tugiyono (2011); Muchlisin (2006);
Avelino et al. (1999) in Agus (2008),
selain terjadi kompetisi yang dapat
menyebabkan
rendahnya
angka
kelangsungan hidup hewan uji, peluang
sifat
kanibalisme
pun
dapat
menyebabkan kematian. Terlebih jika
dalam budidaya tersebut dicampur
antara jantan dan betina, maka kepiting
jantan kecil akan selalu diserang oleh
kepiting jantan besar. Disamping itu
kecenderungan kepiting jantan untuk
65

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

menguasai ruang, pakan dan betina akan


sangat tinggi. Dengan demikian, kepiting
bakau yang dipelihara dalam single
room atau sistem baterai (kepiting
dipelihara secara individu dalam suatu
wadah pemeliharaan) tidak terjadi
kompetisi baik ruang maupun pakan,
sehingga aman dari gangguan atau
serangan dari kepiting bakau yang lain.
Kualitas air
Parameter kualitas air yang
diamati selama proses penelitian adalah
suhu, oksigen terlarut, salinitas, dan
pH.Nilai suhu selama penelitian berkisar
antara 27-34 oC. Perubahan suhu secara
mendadak akan berpengaruh langsung
terhadap kehidupan kepiting bakau, jika
suhu air turun hingga di bawah 20 oC
maka daya cerna kepiting bakau terhadap
makanan
yang
dikonsumsi
akan
berkurang. Sebaliknya, jika suhu naik
lebih dari 35 oC, kepiting akan
mengalami stres karena kebutuhan
oksigen semakin tinggi (Kuntinyo et al.,
1993 in Fadnan 2010). Suhu pada saat
penelitian masih sangat mendukung
kehidupan kepiting bakau. Hal ini
didukung oleh pendapat Kordi (2007),
bahwa suhu yang optimal untuk
pertumbuhan kepiting bakau adalah 2332 oC, namun masih sanggup mentolerir
suhu hingga 42 oC. Nilai oksigen terlarut
atau Dyssolved Oksygen (DO) selama
penelitian adalah berkisar antara 3,2-7,3
ppm. Kordi (2007) menyatakan bahwa
kandungan oksigen yang optimal untuk
pertumbuhan kepiting bakau adalah 4-7
ppm, oksigen terlarut yang mencapai 3-8
ppm masih dapat ditoleransi. Menurut
Kuntinyo et al. (1993) in Fadnan (2010),
kandungan oksigen yang baik dalam
perairan untuk budidaya kepiting bakau
adalah di atas 3 ppm. Bila konsentrasi
oksigen terlarut kurang dari 3 ppm, maka
nafsu makan kultivan akan berkurang

Oktober 2012

dan tidak berkembang dengan baik


(Buwono, 1993 in Agus, 2008).
Hasil pengukuran salinitas yang
ada di lokasi penelitian berkisar antara
8-17 ppt. Salinitas ini masih mendukung
kehidupan kepiting bakau. Menurut
Fujaya (2008), kepiting bakau dapat
hidup pada kisaran salinitas 5-36 ppt.
Hal ini didukung juga oleh pendapat
Kordi (2007), kepiting bakau memiliki
toleransi yang tinggi terhadap salinitas
yang lebar, yaitu 0-35 ppt. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Rusdi dan
Karim (2006), menunjukkan bahwa
pertumbuhan kepiting bakau muda yang
baik berada pada kisaran salinitas 10-22
ppt. Proses adaptasi terhadap kondisi
salinitas dilakukan melalui proses
osmoregulasi, yaitu proses pengaturan
antara tekanan osmotik dalam tubuh agar
sesuai
dengan
tekanan
osmotik
medianya. Proses osmoregulasi ini
membutuhkan sejumlah energi yang
diperoleh dari pakan yang dikonsumsi.
Dengan demikian, energi yang diperoleh
dari hasil metabolisme dalam tubuh yang
seharusnya
digunakan
untuk
pertumbuhan akan berkurang atau habis
sehingga
pertumbuhan
menjadi
terhambat (Ruscoe et al., 2004; Karim,
2005 in Rusdi dan Karim, 2006).
Nilai pH yang ada di lokasi
penelitian berkisar antara 8,43-9,03. pH
yang sesuai dalam budidaya kepiting
bakau berkisar antara 6,5-8 (Kordi, 2007;
Kordi, 2005 in Agus, 2008; Wardoyo,
1981 in Fadnan, 2010). Jika pH kurang
dari 5 maka akan menyebabkan kematian
dan jika pH lebih dari 8 maka akan
menyebabkan kepiting bakau kurang
nafsu makan (Wardoyo, 1981 in Fadnan,
2010). Sehingga diduga pertumbuhan
kepiting bakau ini menjadi lamban
karena kisaran pHnya di atas kisaran
optimal dan ruang hidupnya yang terlalu
sempit. Heasman (1980) in Yukasano

66

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

(1991) menyatakan bahwa salah satu


faktor eksogen yang mempengaruhi
pertumbuhan kepiting adalah keleluasaan
gerak.
DAFTAR PUSTAKA
Agus

M. 2008. Analisis Carryng


Capacity pada Sentra Budidaya
Kepiting Bakau (Scylla sp.) di
Kabupaten Pemalang, Jawa
Tengah. [Tesis, unpublished].
Program
Pascasarjana,
Universitas
Diponegoro.
Semarang.

Akhadiyati D. M. 2003. Evaluasi


Terhadap Tingkat Keberhasilan
Budidaya Kepiting Bakau (Scylla
serrata Forskal) dalam Keramba
di Kabupaten Pemalang Jawa
Tengah. [Tesis, unpublished].
Program
Pascasarjana,
Universitas
Diponegoro.
Semarang.
Asmara H. 2004. Analisis Beberapa
Aspek
Reproduksi
Kepiting
Bakau (Scylla serrata) di
Perairan
Segara
Anakan,
Kabupaten
Cilacap
Jawa
Tengah. [Skripsi, unpublished].
Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan,
Institut
Pertanian
Bogor. Bogor.
Effendi I. 2002. Biologi Perikanan.
Yayasan Pustaka Nusatama.
Yogyakarta.
Fadnan M. 2010. Pengaruh Padat Tebar
yang
Berbeda
Terhadap
Pertumbuhan dan Kelangsungan
Hidup
pada
Penggemukan
Kepiting Bakau (Scylla sp.).
Harpodon Borneo, Vol.3 No.2.
Fakultas Perikanan dan Ilmu

Oktober 2012

Kelautan, Universitas Borneo


Tarakan. Kalimantan Timur.
Hanifah.
2010.
Perbandingan
Pertumbuhan Kepiting Bakau
Jantan dan Betina (Scylla serrata)
dengan Metode Pemeliharaan di
Keramba Apung di Cilacap Jawa
Tengah. Program Studi Sarjana
Biologi,
Sekolah
Ilmu
dan
Teknologi Hayati.
Kordi K. 2007. Budi Daya Kepiting
Bakau (Pembenihan, Pembesaran,
dan Penggemukan). Aneka Ilmu.
Semarang.
Muchlisin Z. A., Edi R. M., Setiawan I.
2006. Pengaruh Perbedaan Jenis
Pakandan
Ransum
Harian
Terhadap
Pertumbuhan
dan
Kelangsungan Hidup Kepiting
Bakau (Scylla serrata). Ilmu
Kelautan, Vol 11 (4) : 227-233.
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas
Syiah Kuala. Banda Aceh.
Retnowati T. 1991. Menentukan Tingkat
Kematangan
Gonad
Kepiting
Bakau Scylla serrata (Forskal)
Secara Morfologis dan Kaitannya
dengan Perkembangan Gamet.
[Skripsi,
unpublished].Jurusan
Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan IPB. Bogor.
Rusdi I., Karim M. Y. 2006. Salinitas
Optimum bagi Sintasan dan
Pertumbuhan Crablet Kepiting
Bakau (Scylla paramamosain).
Sains & Teknologi, Vol.6 No.3 :
149-157. Fakultas Ilmu Kelautan
dan
Perikanan,
Universitas
Hasanuddin. Makasar.
Trino A.T., Rodriguez E.M. 2001. Mud
Crabs Fattening in Ponds. Asian
67

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Fisheries Science 14 : 211-216.


Aquaculture Department Southeast
Fisheries Development Center
Tigbauan, Iloilo Philippines.
Tugiyono. 2011. Laju Pertumbuhan
Kepiting Soca pada Kawasan
Bekas Tambak di Desa Sidodadi
Kecamatan
Padang
Cermin
Kabupaten Pesawaran. Di dalam :
Prosiding Seminar Nasional Sains
dan Teknologi IV Peran Strategis
Sains
&
Teknologi
dalam
Membangun Karakter Bangsa.
Tuhuteru A. 2004. Studi Pertumbuhan
dan Beberapa Aspek Reproduksi
Kepiting Bakau (Scylla serrata)
dan Scylla tranquebaria di Perairan
Ujung Pangkah, Gresik, Jawa
Timur. [Skripsi, unpublished].
Program
Studi
Pemanfaatan
Sumber Daya Perikanan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB,
Bogor.http://repository.ipb.ac.id/bi
tstream/handle/123456789/15901/
C04ATU.pdf?sequence=2.
[19
Februari 2012].
Yukasano D. 1991. Hubungan Jenis Ikan
Sebagai Pakan dan Tingkat
Pemberiannya
dengan
Pertumbuhan Kepiting Bakau
(Scylla
serrata).
[Skripsi,
unpublished]. Jurusan Budidaya
Perairan,
Fakultas
Perikanan
IPB,Bogor.
http://repository.ipb.ac.id/bitstrea
m/handle/123456789/39943/C91D
YU.pdf?sequence=1. [19 Februari
2012].

68

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) Pada Bak
Terkontrol
The Effect Of Temperature On Mud Crabs (Scylla serrata) Growth In A Controlled
Bath
Lakhsmi Dewi Paramaatman 1*, Sitti Hilyana 1, Alis Mukhlis 1
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram, NTB Telp. 0370 621435/ Fax. 0370 640189
*email : lakhsmiedewie@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu media terhadap
pertumbuhan nisbi dan laju pertumbuhan spesifik) kepiting bakau (Scylla serrata) pada
bak terkontrol. Perlakuan suhu yang digunakan yaitu suhu 30oC, suhu 33oC, suhu 36oC,
dan suhu ruang sebagai kontrol. Semua hewan uji pada perlakuan kontrol diberi
perlakuan pemotongan kedua capit sedangkan pada tiga perlakuan lainnya tidak
dilakukan pemotongan capit. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali ulangan
secara individu. Dalam penelitian ini, hewan uji pada perlakuan suhu 36oC hanya
mampu bertahan hidup selama 10-14 hari. Hasil analisis statistik (uji t) diperoleh bahwa
peningkatan suhu media (30oC dan 33oC) tidak diikuti oleh perbedaan pertumbuhan
nisbi dan laju pertumbuhan spesifik secara signifikan (p>0,05), namun demikian suhu
30oC cenderung memberikan respon pertumbuhan optimal yang lebih cepat
dibandingkan dengan suhu 33oC dan perlakuan kontrol. Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut mengenai pengaruh suhu di bawah 30oC atau suhu di atas 36oC untuk melihat
respon pertumbuhan kepiting bakau. Walaupun penggunaan suhu tinggi tidak memberi
pengaruh yang nyata secara statistik, namun untuk mempercepat pencapaian
pertumbuhan optimal sebaiknya pemeliharaan kepiting bakau dilakukan pada suhu
30oC.
Kata Kunci: Suhu, Pertumbuhan, Kepiting Bakau.
PENDAHULUAN
Kepiting bakau (Scylla serrata)
merupakan salah satu jenis komoditas
perikanan
yang
potensial
untuk
dibudidayakan. Kepiting bakau sering
dijumpai di perairan payau yang
ditumbuhi tanaman mangrove. Kepiting
bakau sangat disenangi oleh masyarakat
mengingat rasanya yang lezat dengan
kandungan nutrisi sejajar dengan
krustasea yang lain seperti udang yang
banyak diminati baik di pasaran dalam
negeri maupun luar negeri. Potensi pasar

yang cukup besar memberi peluang bagi


pengembangan budidaya kepiting bakau
secara lebih serius dan komersial.
Produksi kepiting selama ini secara
keseluruhan
masih
mengandalkan
tangkapan
dari
alam,
sehingga
kesinambungan produksinya tidak dapat
dipertahankan (Anonim, 2012).
Berkaitan dengan potensi nilai
ekonomis yang menjanjikan dari kepiting
bakau (Scylla serrata), maka perlu
diperhatikan kecepatan pertumbuhan dari
kepiting bakau jenis Scylla serrata.
Kecepatan pertumbuhan berkaitan erat

69

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

dengan kecepatan ganti kulit dikarenakan


setiap pergantian fase juga diikuti dengan
pergantian kulit. Lamanya kecepatan
ganti kulit pada kepiting bakau (Scylla
serrata) sangat berpengaruh terhadap
lamanya pelunakan cangkang sehingga
menyebabkan ketidakstabilan dalam
produksinya. Oleh karena itu, diperlukan
perlakuan
khusus
yaitu
dengan
pemotongan capit dan atau kaki jalan
pada kepiting bakau (Scylla serrata)
tersebut. Dengan mematahkan anggota
badan kepiting tersebut, maka hormon
pertumbuhannya
akan
memacu
pembentukan kembali dari anggota
badan yang hilang. Dengan cara ini
kepiting tersebut dapat berganti kulit
secara cepat (Thoha, 2010). Namun
permasalahan muncul yaitu jika kepiting
yang akan bidudidayakan dalam jumlah
yang banyak, maka tentunya akan lebih
banyak membutuhkan waktu, tenaga, dan
biaya untuk melakukan pemotongan
organ tubuh kepiting tersebut. Sehingga
pemotongan organ tubuh kepiting
tersebut dinilai tidak efektif dan efisien.
Dalam usaha budidaya kepiting
bakau (Scylla serrata) diperlukan teknik
produksi secara tepat. Salah satu faktor
keberhasilan teknik produksi budidaya
yaitu pengaruh kondisi lingkungan
seperti suhu air. Suhu air sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan
hidup kepiting bakau (Scylla serrata)
ataupun organisme laut lainnya, dimana
perubahan suhu sangat berpengaruh
dalam kecepatan metabolisme dan
kegiatan organisme lainnya serta
berkaitan erat dengan konsentrasi
oksigen terlarut dalam air dan laju
konsumsi oksigen hewan air termasuk
kepiting bakau (Scylla serrata). Kasry
(1996) menyatakan pada suhu perairan
yang tinggi, laju metabolisme dan
aktivitas gerak meningkat, demikian pula
sebaliknya. Suhu juga berpengaruh
terhadap berbagai fungsi organ seperti
laju
perkembangan
embrionik,

Oktober 2012

pergerakan,
pertumbuhan
dan
reproduksi. Toleransi kepiting terhadap
suhu ditentukan oleh tingkat umur,
tingkat daur hidup dan jenis kelamin.
Berdasarkan hal tersebut, maka
dilakukanlah
penelitian
tentang
manipulasi
lingkungan
untuk
mempercepat pertumbuhan kepiting
bakau (Scylla serrata). Salah satu faktor
lingkungan yang digunakan untuk
mempercepat
pertumbuhan
adalah
melalui manipulasi suhu lingkungan
yaitu meningkatkan suhu air media
pemeliharaan. Peningkatan suhu air di
atas suhu normal diharapkan dapat
memacu kecepatan metabolisme tubuh
yang akan berimplikasi terjadinya
peningkatan
pertumbuhan
kepiting
bakau.
METODOLOGI
Metode Pelaksanaan
Penelitian
ini
dilakukan
menggunakan metode eksperimental
dengan serangkaian kegiatan percobaan
di laboratorium.
Waktu dan Tempat Penelitia
Penelitian ini dilaksanakan di
Laboratorium
Pemuliaan,
Jurusan
Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,
Universitas Mataram (UNRAM) pada
bulan Februari sampai Juni 2012.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu akuarium berukuran
75 cm x 40 cm x 40 cm yang dilengkapi
dengan sistem biofilter (terdiri dari kasa
filter, arang dan ijuk), pompa air mini,
keranjang, skat plastik, ember, jerigen
air, penggaris/jangka sorong, bambu,
pipa saluran air, timbangan digital,
termometer, pemanas air (heater), pH
meter, refraktometer, DO meter, tempat
penyimpanan pakan (cool box), gelas
ukur, dan selang sipon.

70

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Bahan-bahan yang digunakan


dalam penelitian adalah bibit kepiting
jantan dengan berat 60-100 g/ekor (lebar
cangkang 7,15-8,66 cm), ikan rucah, air
laut bersalinitas 25 ppt dan air tawar.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan
membandingkan pertumbuhan kepiting
bakau yang dipelihara pada empat
tingkat suhu media yang berbeda yaitu
suhu ruang (perlakuan K), suhu 30oC
(perlakuan A), suhu 33oC (perlakuan B),
dan suhu 36oC (perlakuan C). Masingmasing wadah perlakuan disiapkan 6
(enam) ekor kepiting uji yang disekat per
individu untuk menghindari kanibalisme
sebagai satuan unit percobaan. Semua
hewan uji pada perlakuan K diberi
perlakuan pemotongan kedua capit
sebagai
kontrol.
Masing-masing
kelompok perlakuan dilengkapi dengan
sistem biofilter secara terpisah.
Prosedur Penelitian
Persiapan Penelitian

Oktober 2012

berupa kapas penyaring air yang sudah


tersedia
secara
komersil.
Proses
penyaringan air ini dilakukan dengan
mensirkulasi air di dalam akuarium yang
disediakan khusus untuk penyaringan air
menggunakan sistem resirkulasi. Proses
penyaringan dilakukan selama 1-4 hari
dan kotoran yang tidak tersaring
(mengendap) di dasar akuarium disipon
menggunakan selang kecil (selang
aerasi).
Pengaturan tingkat salinitas air
laut sebesar 25 ppt dilakukan dengan
cara pengenceran, yaitu menggunakan
rumus:
V 1 *N 1 +V 2 *N 2 =(V 1 +V 2 )*N 3 ...... (1)
Keterangan:
V1

: volume air laut

V2

: volume air tawar

(V 1 + V 2 ) : volume air yang diinginkan


dari hasil pencampuran air laut
dan air tawar

1) Persiapan wadah
Empat buah akuarium dan empat
keranjang dibersihkan menggunakan
detergen dan dikeringkan selama sehari.
Akuarium
yang sudah
disiapkan
ditempatkan sesuai dengan desain
penelitian,
kemudian
peralatan
pelengkap seperti pompa air mini beserta
pipa saluran air, sistem biofilter, dan
keranjang yang sudah diberi alas dan
skat plastik dipasang pada masingmasing unit akuarium.
2) Persiapan media air
Air yang digunakan adalah air
laut yang diperoleh dari perairan laut
sekitar pantai Ampenan di kota Mataram.
Sebelum digunakan air laut terlebih
dahulu disaring menggunakan filter air

N1

: salinitas air laut

N2

: salinitas air tawar

N3

: salinitas yang diinginkan

3) Pengaturan suhu
Pengaturan suhu media air hingga
pada tingkat suhu percobaan dilakukan
menggunakan alat pemanas air (heater).
Jumlah
heater
yang
digunakan
disesuaikan dengan kemampuan alat
untuk meningkatkan suhu sesuai dengan
yang diinginkan. Stabilitas suhu diamati
selama 24 jam. Tingkat suhu media
percobaan diukur dengan menggunakan
termometer batang yang ditempatkan
dalam masing-masing akuarium.
4) Persiapan benih
71

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Kepiting yang digunakan dalam


penelitan ini adalah kepiting bakau
(Scylla serrata) berjenis kelamin jantan
dengan berat tubuh berkisar 60-100
g/ekor dengan lebar cangkang 7,15-8,66
cm.Bakal bibit kepiting yang telah
memenuhi
kriteria
selanjutnya
diadaptasikan atau diaklimatisasi pada
media air bersalinitas 25 ppt secara
individu dengan suhu ruang. Proses
aklimatisasi dilakukan sampai kepiting
yang diujicobakan tidak ada yang mati
dan benar-benar siap untuk menerima
perlakuan. Kepiting uji diberi pakan
berupa ikan rucah sebanyak 5% dari
berat tubuh dengan pemberian dilakukan
sebanyak dua kali per hari yaitu pada
pukul 09.00 WITA dan 15.00 WITA.
Pelaksanaan Penelitian
1) Penimbangan dan pengukuran benih
kepiting bakau (Scylla serrata)
Penimbangan benih kepiting
bakau dilakukan setelah selesai proses
aklimatisasi. Penimbangan dilakukan
dengan menggunakan timbangan digital
tingkat
ketelitian
1
g.
Selain
penimbangan bobot tubuh per individu,
juga dilakukan pengukuran lebar
karapas/lebar cangkang menggunakan
jangka sorong. Selain dilakukan pada
awal penelitian, penimbangan dan
pengukuran lebar cangkang juga
dilakukan perminggu.
2). Pemotongan capit benih kepiting
bakau (Scylla serrata)
Sebagai kontrol perlakuan, enam
ekor kepiting disiapkan dan dilakukan
pemotongan organ capit untuk memacu
terjadinya pertumbuhan yang merupakan
metode umum di lapangan.

Oktober 2012

individu agar tidak terjadi kontak


langsung antara sesama kepiting per
perlakuan/akuarium. Isolasi ini bertujuan
untuk menghindari kanibalisme kepiting
selama penelitian. Masing-masing wadah
akuarium diisi sebanyak enam ekor
kepiting. Setelah dilakukan penebaran,
semua sistem-sistem pendukung seperti
heater dan pompa air diaktifkan.
4). Pemberian pakan kepiting bakau
(Scylla serrata)
Pakan yang diberikan untuk
kepiting bakau selama penelitian adalah
ikan rucah segar yang dipotong kecilkecil sebanyak 10% per hari dari berat
tubuh kepiting bakau. Pemberian pakan
dilakukan dengan frekuensi dua kali
sehari yaitu 4% pada pukul 09.00 WITA
dan 6% pada pukul 15.00 WITA.
2) Pengamatan parameter penelitian
a. Parameter utama

Laju
pertumbuhan
spesifik/
Spesific Growth Rate (SGR)

Laju pertumbuhan spesifik (hari-1)


pertambahan bobot tubuh kepiting bakau
dapat dihitung menggunakan rumus
menurut Koopmans &Wijffels (2008)
yaitu:
SGR =

Wp
ln

Wp 1
t

SGR = ln (Wp/Wp 1)/ t


Keterangan :
SGR : Spesific Growth Rate (laju
pertumbuhan
spesifik)

3). Penebaran benih kepiting bakau


(Scylla serrata) pada wadah penelitian
Masing-masing
benih
dimasukkan ke dalam wadah khusus
yang dapat mengisolasi kepiting per

72

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Wp
: Berat atau Lebar cangkang
pada periode pengamatan
Wp-1 : Berat atau Lebar cangkang
pada satu periode sebelumnya
t
:
Rentang
waktu
pengamatan dalam satu periode (hari)

Pertumbuhan nisbi kepiting bakau


dihitung menggunakan rumus menurut
Effendi (1997) yaitu:
Wt Wo
Wo

...................
(3)

Keterangan :
h

: Pertumbuhan nisbi

Wt
: Berat atau Lebar cangkang
pada akhir periode
Wo
: Berat atau Lebar cangkang
pada awal periode
b. Parameter pendukung
Persentase tingkat kelangsungan
hidup/Survival Rate (SR)
Persentase tingkat kelangsungan
hidup (survival rate) kepiting bakau
(Scylla serrata) yang diujicobakan
dihitung menggunakan rumus :
SR=

Parameter kualitas air yang akan


diukur adalah salinitas, pH, dan
oksigen
terlarut
(DO).
Pengukuran salinitas, pH, dan
DO dilakukan setiap tiga hari
sekali.
Analisis Data

Pertumbuhan nisbi

h=

Oktober 2012

Data hasil penelitian dianalisis


menggunakan uji t pada taraf nyata 5%.
yaitu
membandingkan
rata-rata
pertumbuhan kepiting bakau antar
masing-masing perlakuan. Data yang
digunakan dalam analisis adalah data
pertumbuhan sebelum kepiting uji
mengalami molting (ganti kulit). Data
yang diuji t adalah nilai Spesific Growth
Rate (SGR) dan pertumbuhan nisbi per
minggu serta selama percobaan (42
hari).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola Pertumbuhan Berat Kepiting
Bakau
Nilai rata-rata pertambahan
berat (g) kepiting bakau selama 42 hari
pemeliharaan yang diukur setiap 7 hari
sekali dapat dilihat pada Gambar 1.

Nt x100%.(4)
N0

Ketrangan:
SR
:Survival Rate atau persentase
kelangsungan hidup (%)
Nt

: Jumlah populasi akhir (ekor)

No

: Jumlah populasi awal (ekor)

Pengelolaan kualitas air

Gambar 1 menunjukkan bahwa


pola pertumbuhan berat kepiting bakau
yang dipelihara selama 42 hari
mengikuti pola polynomial pada
perlakuan pemotongan capit yang
dipelihara pada suhu ruang (kontrol/K),
73

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

suhu 30 oC (A), suhu 33 oC (B), dan


pola linier pada perlakuan suhu 36 oC
(C).
Pola
polynomial
memiliki
persamaan regresi y = ax2 + bx + c,
sedangkan
pola
linier
memiliki
persamaan regresi y = ax+ b.
Persamaan regresi dan koefisien
korelasi berturut-turut untuk perlakuan
kontrol, suhu 30 oC , suhu 33 oC, dan
suhu 36 oC adalah y = -0,333x2 +
2,581x + 74,82 dengan R2 = 0,488; y =
-0,303x2 + 1,725x + 82,81 dengan R2 =
0,742; y = -0,415x2 + 2,835x + 79,30
dengan R2 = 0,934; dan y = 2,833x +
91,16 dengan R2 = 1.
Berdasarkan persamaan regresi
dengan
pola
polynomial
untuk
perlakuan kontrol, suhu 30 oC, dan suhu
33 oC maka pertumbuhan kepiting
bakau
pada
ke-tiga
perlakuan
menunjukkan bahwa pola pertumbuhan
mengikuti bentuk parabola, dimana
pada
awal
pemeliharaan
terjadi
peningkatan pertumbuhan hingga pada
titik optimal dan selanjutnya terjadi
penurunan. Pertumbuhan optimal paling
cepat berturut-turut pada perlakuan suhu
30 oC yaitu pada minggu ke-2,8 (hari
ke-20), suhu 33 oC yaitu pada minggu
ke-3,4 (hari ke-24), dan kontrol yaitu
terjadi pada minggu ke-3,9 (hari ke-27).
Sedangkan untuk perlakuan suhu 36 oC
dengan persamaan regresi dengan pola
linier menunjukkan laju pertumbuhan
berat kepiting bakau hanya mencapai
minggu pertama dan selanjutnya
mengalami kematian.
Tingginya tingkat suhu media
memberikan pengaruh terhadap laju
pertumbuhan kepiting bakau. Suhu
optimal untuk pertumbuhan kepiting
bakau adalah sekitar 28-32oC (Nurdin
dan Armando, 2010). Di luar kisaran
suhu optimal, semakin tinggi suhu
media pemeliharaan kepiting bakau
maka semakin cepat pencapaian
pertumbuhan optimalnya. Hal ini

Oktober 2012

diduga karena metabolisme tubuh


kepiting bakau meningkat. Menurut
Fujaya (2004), suhu merupakan salah
satu faktor paling besar pengaruhnya
terhadap
metabolisme
tubuh.
Peningkatan suhu 10 oC menyebabkan
peningkatan metabolisme 3-5 kali.
Akan tetapi suhu yang tinggi juga dapat
menyebabkan kematian kepiting uji, hal
ini dapat diamati pada suhu 36 oC
dimana kepiting uji hanya mampu
bertahan hidup selama 10-14 hari.
Menurut Hill et al. (1989);
Queensland Department of Primary
Industries(1989) dalam Rosmaniar
(2008),
suhu
mempengaruhi
pertumbuhan, aktivitas, dan nafsu
makan kepiting bakau. Suhu air yang
lebih rendah dari 20oC dapat
mengakibatkan aktivitas dan nafsu
makan kepiting bakau menjadi menurun
secara
drastis.
Pada
saat
itu
pertumbuhan akan berhenti. Perairan
yang mempunyai suhu tinggi cenderung
menaikkan angka pertumbuhan kepiting
bakau dan waktu untuk dewasa menjadi
singkat.
Spesific Growth Rate (SGR) dan
Pertumbuhan Nisbi
Spesific Growth Rate (SGR) dan
Pertumbuhan
Nisbi
Selama
Pemeliharaan 42 Hari
Nilai rata-rata Spesific Growth
Rate/SGR (hari-1) berat kepiting bakau
selama 42 hari untuk perlakuan kontrol,
suhu 30 oC , dan suhu 33 oC berturutturut adalah 0,0036 hari-1, 0,0003 hari-1,
dan 0,0003 hari-1 dengan pertumbuhan
nisbi berat kepiting bakau selama 42
hari untuk perlakuan kontrol, suhu 30
o
C , dan suhu 33 oC berturut-turut
adalah 0,0909, 0,0140, dan 0,0158
(Gambar 2).

74

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

bakau, yaitu 27-30 oC (Tim Karya Tani


Mandiri, 2010).
Spesific Growth Rate (SGR) dan
Pertumbuhan
Nisbi
Setiap
Minggu

Nilai rata-rataSpesific Growth


Rate dan pertumbuhan nisbi selama 42
hari pemeliharaan menunjukkan bahwa
suhu 30oC dan suhu 33oC tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap
Spesific Growth Rate dan pertumbuhan
nisbi, namun memberikan pengaruh
nyata terhadap pertumbuhan nisbi untuk
perlakuan pemotongan capit terhadap
suhu 30oC dan 33oC. Suhu tidak
berpengaruh nyata terhadap perbedaan
pertumbuhankepiting bakau diduga
karena pertumbuhan kepiting bakau
sudah
melewati
titik
optimal
pertumbuhannya.
Perairan
yang
mempunyai suhu tinggi cenderung akan
meningkatkan pertumbuhan krustasea
(Xiangli et al., 2004 dalam Malik,
2010). Selain suhu tinggi, perubahan
suhu di bawah 25oC secara mendadak
menyebabkan daya cerna krustasea
terhadap pakan yang diberikan akan
berkurang. Hal tersebut dikarenakan
sebagian energi dalam tubuh digunakan
untuk adaptasi perubahan suhu atau
untuk memanaskan tubuh. Sebaliknya,
jika terlalu tinggi, yaitu di atas 30 oC
kepiting akan mengalami stress karena
kebutuhan oksigennya semakin tinggi.
Pada penelitian ini, dimana suhu
perlakuan kontrol yang dipengaruhi
oleh suhu ruang yaitu hanya mencapai
minimal 26,5 oC dan maksimal 28,5 oC.
Dengan demikian, kisaran suhu pada
perlakuan kontrol masih dalam batas
toleransi untuk pertumbuhan kepiting

Hasil uji t terhadap nilai ratarata laju pertumbuhan spesifik (hari-1)


dan pertumbuhan nisbi berat kepiting
bakau antar perlakuan setiap minggu
(Tabel 1 dan Tabel 2) memperlihatkan
bahwa
pengaruh
perlakuan
menunjukkan
perbedaan
yang
signifikan pada minggu pertama
pemeliharaan. Dimana pertumbuhan
berat tubuh atau pertumbuhan nisbi dan
SGR kepiting uji pada perlakuan
kontrol adalah lebih tinggi dan berbeda
nyata dengan tiga perlakuan lainnya.
Tingginya pertumbuhan kepiting bakau
pada perlakuan ini diduga karena
adanya aktivitas tubuh untuk melakukan
regenerasi penambahan jaringan baru
(capit) setelah sebelumnya mendapat
perlakuan pemotongan capit. Berbeda
dengan minggu pertama, penambahan
berat tubuh kepiting atau pertumbuhan
nisbi dan SGR pada minggu-minggu
berikutnya memperlihatkan perbedaan
yang tidak signifikan antar perlakuan.

75

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Bila
melihat
rata-rata
pertumbuhan nisbi dan SGR kepiting
bakau (Tabel 1 dan Tabel 2), tingginya
nilai pertumbuhan pada minggu pertama
diduga karena kepiting uji mengalami
pemuasaan selama proses penangkapan
dari alam atau mengalami kekurangan
pakan selama dalam lingkungan
alamiahnya, sehingga dengan hasil
penelitian
ini
kecukupan
atau
ketersediaan pakan pada minggu
pertama selama masa budidaya perlu
diperhatikan agar pertumbuhannya
dapat dipertahankan sampai tingkat
optimal.
Tabel 1dan Tabel 2 juga
menunjukkan bahwa perbedaan suhu
memberikan pengaruh nyata terhadap
Spesific Growth Rate (SGR) dan
pertumbuhan nisbi pada minggu keempat. Hal ini diduga karena pada
minggu ke-empat tersebut pertumbuhan
kepiting pada ke-tiga perlakuan rata-rata
mencapai titik optimal pertumbuhannya.
Perlakuan minggu pertama
menunjukkan bahwa selain pemotongan
capit pada perlakuan K (kontrol), suhu
juga
mampu
meningkatkan
metabolisme tubuh kepiting bakau dan
laju pertumbuhan kepiting bakau pada
perlakuan suhu 36oC. Akan tetapi
permasalahannya adalah sampai sejauh
mana
kepiting
tersebut
mampu
o
mentolerir suhu 36 C tersebut. Pada
suhu 36oC tersebut, kepiting uji coba
mampu bertahan hidup selama 10-14

Oktober 2012

hari sebelum semua kepiting uji


mengalami kematian. Kepiting yang
akan
mengalami
kematian
memperlihatkan tanda-tanda seperti
terputusnya atau terlepasnya organ
capit, kaki jalan, dan kaki renang serta
kepiting uji tidak merespon pakannya
dan dalam keadaan lemah. Terlepasnya
organ tubuh kepiting tersebut diduga
karena protein dalam tubuh kepiting
rusak akibat suhu yang terlalu tinggi,
sehingga protein tidak bisa berfungsi
untuk membentuk jaringan dalam tubuh
kepiting.
Suhu
optimal
untuk
pertumbuhan kepiting bakau menurut
Nurdin dan Armando, (2010) adalah
sekitar 28-32oC. Suhu yang kurang dari
atau lebih dari kisaran optimum akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan
kepiting, karena reaksi metabolisme
mengalami penurunan dan apabila
perubahan suhu yang secara mendadak
akan dapat mengakibatkan stress pada
kepiting hingga dapat mengakibatkan
kematian.
Survival
Rate
Kelangsungan Hidup

(SR)

atau

Kelangsungan
hidup
atau
Survival Rate (SR)pada penelitian ini
rata-rata mencapai 100% kecuali pada
perlakuan suhu 36oC. Tingginya nilai
SR disebabkan karena pemeliharaan
yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pemeliharaan sistem baterai
dimana kepiting dipelihara secara
individu
dalam
suatu
wadah
pemeliharaan,
sehingga mencegah
terjadinya
kanibalisme
terhadap
sesamanya. Menurut Avelino et al.
(1999) dalam Agus (2008), selain terjadi
kompetisi yang dapat menyebabkan
rendahnya angka kelangsungan hidup
hewan uji, peluang sifat kanibalisme
pun dapat menyebabkan kematian.

76

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Perlakuan suhu 36oC memiliki


tingkat kelangsungan hidup kepiting
bakau mencapai 33,33% pada minggu
pertama dan pada minggu-minggu
berikutnya semua kepiting uji pada
perlakuan ini mengalami kematian. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena
suhu
yang
digunakan
untuk
pemeliharaan kepiting uji mencapai
36oC dimana kepiting uji tidak mampu
mentolerir suhu tinggi. Tetapi sebelum
kepiting tersebut mati, perubahan bobot
tubuh
pada
minggu
pertama
menunjukkan hasil yang baik. Hal
tersebut
kemungkinan
disebabkan
karena metabolisme tubuh kepiting
bakau bekerja dengan cepat akibat suhu
yang tinggi. Kordi, (1997) dalam
Rosmaniar,
(2008)
menyatakan
parameter lingkungan seperti suhu dapat
memberi pengaruh terhadap kehidupan
kepiting bakau. Suhu yang tinggi akan
menyebabkan
konsumsi
oksigen
menjadi tinggi akibat metabolisme
tubuh yang meningkat. Dimana
Suwirya et al. (1989) dalam Setyadi
(2008) juga menyatakan bahwa
perubahan konsumsi oksigen akan
mengganggu metabolisme, sehingga
akan mempengaruhi kelangsungan
hidup kepiting bakau dan juga
perubahan kualitas lingkungan diduga
dapat merangsang sistem kontrol
internal tubuh untuk tumbuh.
Kenaikan suhu air akan
menyebabkan goncangan fisiologis
kepiting bakau. Kondisi tersebut masih
layak bila mengacu pada kepiting yang
dipelihara pada suhu 28-30 oC akan
menghasilkankelangsungan hidup 12,52 % (Marickamy dan Rajapackiam,
1991 dalam Setyadi, 2008). Perubahan
suhu yang dihadapi tersebut juga akan
mempengaruhi proses metabolisme dan
aktivitas lainnya (Kasry, 1996) serta
konsentrasi oksigen terlarut dalam air
dan laju konsumsi oksigen (Ahmad,

Oktober 2012

1992 dalam Setyadi, 2008), sehingga


akan
berpengaruh
terhadap
kelangsungan hidup kepiting bakau
tersebut.
Kualitas Air
Kualitas air merupakan variabel
yang sangat menentukan tingkat
kehidupan kepiting, sebab semua
bangsa krustaseabaik udang maupun
kepiting sangat sensitif terhadap kondisi
buruknya parameter kualitas air yang
cukup signifikan. Hal ini dapat
mengakibatkan kepiting menjadi stress
dan akan berlanjut dengan kematian
(Tim Karya Tani Mandiri, 2010).
Pertumbuhan kepiting juga
dapat dipengaruhi oleh kondisi perairan
media budidaya kepiting. Kualitas air
media pemeliharaan kepiting bakau
(scylla serrata) selama penelitian 42
hari dalam akuarium dapat dilihat pada
Tabel 4.

Dari Tabel tersebut, terlihat


bahwa nilai kualitas air media
pemeliharaan relatif baik digunakan
untuk kehidupan kepiting bakau yang
diuji cobakan. Menurut Tim Karya Tani
Mandiri (2010), kualitas air yang
optimum untuk kehidupan kepiting
bakau adalah salinitas 25-34 ppt, DO
(Dissolved Oksygen) atau oksigen
terlarut 4,5-6 mg/l dan pH 7-8,5.
Rendahnya nilai pH pada pengukuran
ke-empat perlakuan diduga karena
pakan yang diberikan tidak habis
77

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

termakan oleh kepiting bakau yang diuji


cobakan. Sehingga pakan sisa tersebut
akan menghasilkan kotoran pada media
air dalam akuarium, hal tersebut
menyebabkan
adanya
perbedaan
kualitas air. Tim Karya Tani Mandiri
(2010), menyatakan bahwa salah satu
parameter kualitas air yang sangat besar
pengaruhnya
terhadap
kehidupan
kepiting adalah kandungan amoniak dan
nitrit
yang
dapat
menyebabkan
kematian kepiting.

DAFTAR PUSTAKA
Agus, M. 2008. Analisis Carryng
Capacity pada Sentra Budidaya
Kepiting Bakau (Scylla sp.) di
Kabupaten Pemalang, Jawa
Tengah. [Tesis, unpublished].
Program
Pascasarjana,
Universitas
Diponegoro.
Semarang.
Anonim. 2012. Budidaya kepiting
Bakau.
http://indonesiaindonesia.com/f/
71867-budidaya-kepitingbakau/. [17 Januari 2012].
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar
Pengembangan
Teknik
Perikanan.
Rineka
Cipta.
Jakarta.
Kasry, A. 1996. Budidaya kepiting
Bakau dan Biologi Ringkas.
Bharata. Jakarta.
Koopmans, M & Wijffels, R. H. 2008.
Seasonal growth Rate of the
Sponge
Haliclona
oculata
(Demospongiae: haplosclerida).
Mar Biotechnol. 10: 502-510.

Oktober 2012

http://bontocinakaizen.blogspot.com/2010/12/pe
meliharaan-untuk-kepitinglunak-di.html. [17 Januari 2012].
Nurdin, M. dan Armando, R. 2010.
Cara Cepat Panen Kepiting
Soka dan Kepiting Telur.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Rosmaniar. 2008. Kepadatan dan
Distribusi
Kepiting
Bakau
(Scylla spp) Serta Hubungannya
dengan Faktor Fisika Kimia di
Perairan Pantai Labu Kabupaten
Deli
Serdang.
[Tesis,
unpublished].
Sekolah
Pascasarjana,
Universitas
Sumatra Utara. Medan.
Setyadi, I. 2008. Pengaruh Suhu yang
Berbeda
terhadap
Sintasan
Larva
Rajungan
(Portunus
pelagicus) di Wadah Terkontrol.
Noptunus, Vol. 14, No. 2,
Januari 2008: 189-193.
Thoha,

F. K. 2010. Perbedaan
Kecepatan Ganti Kulit pada
Kepiting
Bakau
(Scylla Serrata) Soca Jantan dan
Betina
dengan
Metode
Pemotongan Capit dan Kaki
Jalan. [Skripsi, unpublished].
Program
Studi
Budidaya
Perairan, Jurusan Manajemen
Sumberdaya
Perairan,
Universitas Brawijaya, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan
Malang.

Tim Karya Tani Mandiri, 2010.


Pedoman Budidaya Kepiting. Nuansa
Aulia.
Bandung

Malik, I. 2010. Pemeliharaan untuk


Kepiting Lunak di Tambak.
78

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

PENGARUH JENIS SUBSTRAT PENEMPEL TELUR TERHADAP TINGKAT


KEBERHASILAN PEMIJAHAN IKAN KOMET (Carassius auratus)
THE INFLUENCE OF DIFFERENT TYPES OF EGGS SUBSTRATES TO THE
SUCCESS OF THE SPAWNING OF GOLD FISH (Carassius auratus)
Sri Wahyuningsih1, Khaerul Muslim2, Bagus Dwi Hari Setyono1
1
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram
2
Program Studi Agroekoteknologi Universitas Mataram
Jl. Majapahit 62 Mataram, NTB Telp. 0370621435/Fax. 0370640189
email: chychy.fishery@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis subsrat penempel telur yang memberikan
pengaruh terbaik terhadap keberhasilan pemijahan ikan komet (Carassius auratus). Penelitian ini
merupakan percobaan laboratorium yang dilaksanakan dengan menggunakan metode
eksperimental yang didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Jenis
substrat penempel telur yang dipakai sebagai perlakuan yaitu, kayu apu (Pistia stratiotes), eceng
gondok (Eicchornia crassipies), ganggang air (Hydrilla verticillata) dan tali rafia. Masingmasing perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 16 unit percobaan. Parameter yang diamati
adalah fertilitas, daya tetas dan kelangsungan hidup larva ikan komet (C. auratus). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan substrat yang berbeda berpengaruh nyata
(P<0,05) terhadap keberhasilan tingkat pemijahan ikan komet (C. auratus). Nilai fertilitas dan
kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada substrat eceng gondok (Eichornia crassipes), yaitu
sebesar 86,15 % dan 88,30% . Nilai daya tetas tertinggi terdapat pada substrat kayu apu (P.
stratiotes), yaitu sebesar75,56%. Kualitas air pada penelitian ini dicatat mempunyai nilai ratarata: pH 7; suhu 28oC; dan DO 4 mg/l.
Kata kunci: Carassius auratus, substrat, fertilitas, daya tetas, dan kelangsungan hidup
PENDAHULUAN
Ikan komet (Carassius auratus)
merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar
yang populer di kalangan masyarakat,
khususnya
bagi
pecinta
ikan
hias.
Keunggulan ikan komet antara lain: memiliki
warna yang indah dan eksotis, bentuk dan
gerakan yang menarik, dikenal sangat jinak,
dapat mudah hidup berdampingan dengan
jenis ikan lain, mudah menyesuaikan diri

dengan lingkungan, dan dapat dipelihara di


hampir semua tempat.
Ikan
komet
pertama
kali
dibudidayakan oleh masyarakat Cina pada
tahun 1729. Bentuk ikan komet yang asli
(bukan hibrid) mirip seperti ikan koki, karena
kedua ikan ini berasal dari satu kerabat, yakni
dari keluarga Cyprinidae. Ikan komet
termasuk jenis ikan hias yang digemari
sepanjang masa, berbeda dengan ikan hias
lainnya yang digemari secara musiman. Hal
79

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

ini dibuktikan dengan selalu tersedianya


komet disetiap toko penjual ikan hias dengan
harga jual yang relatif stabil (Anonimous,
2010)
Di alam, ikan komet diketahui
menempatkan telurnya di sembarang tempat,
bisa di tanaman air atau dijatuhkan begitu
saja di dasar perairan. Pada skala budidaya,
substrat yang biasa digunakan sebagai
penempel telur adalah eceng gondok
(Eicchornia crassipies), tali rafia dan
kakaban dari bahan ijuk. Kelebihan substrat
eceng gondok (E. crassipies) dari bahan
lainnya adalah bersifat alami, akarnya yang
lebat membuat ikan komet lebih nyaman saat
pemijahan, daunnya sebagai tempat berteduh
dari sinar matahari, dan tidak menyebabkan
luka pada tubuh induk. Kelemahan
menggunakan eceng gondok (E. crassipies)
yaitu diperlukan sinar matahari supaya eceng
gondok tetap hidup dan tidak mati serta
membusuk. Kelebihan tali rafia sebagai
substrat penempel telur adalah: mudah
didapatkan, harganya cukup terjangkau, tidak
membusuk, lentur, lembek, dan halus.
Kelemahan tali rafia sebagai substrat
penempel telur adalah licin bila dimasukkan
ke dalam air, sehingga induk komet sulit
untuk menempelkan telurnya. Kelebihan
menggunakan substrat kakaban ijuk adalah
bahan mudah didapatkan, tidak mudah rusak,
dan tidak mengandung racun. Kelemahan
menggunakan kakaban adalah bahan bersifat
keras atau kasar sehingga dapat menyebabkan
luka pada tubuh induk ikan komet
(Anonimous, 2011). Berdasarkan hal
tersebut, maka dalam penelitian ini
digunakan substrat penempel telur berupa
eceng gondok (E. crassipies), ganggang air
(H. verticillata), kayu apu (Pistia stratiotes),
dan tali rafia.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat

Oktober 2012

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan


Desember 2011 selama 2 minggu
di
Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas
Pertanian Universitas Mataram.
Bahan
Ikan uji yang digunakan adalah ikan
komet (C. auratus). Setiap unit percobaan
diisi dengan 3 ekor ikan. Substrat yang
digunakan terdiri dari eceng gondok (E.
crassipies), kayu apu (Pistia stratiotes),
ganggang air (Hydrilla verticillata), dan tali
rafia.
Substrat dimasukkan ke dalam
akuarium dengan jumlah yang berbeda yaitu
6 ranting untuk tanama air yaitu eceng
gondok (E. crassipies), kayu apu (P.
stratiotes), ganggang air (H. verticillata), dan
tali rafia sebanyak 1 ikat.
Rancangan Penelitian dan Analisa Data
Metode
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah metode eksperimental
dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu kayu apu
(Pistia stratiotes), eceng gondok (Eicchornia
crassipies),
ganggang
air
(Hydrilla
verticillata) dan tali rafia. Masing-masing
perlakuan diulang sebanyak 4 kali ulangan,
sehingga diperoleh 16 unit percobaan.
Data
pertumbuhan
dan
tingkat
kelangsungan hidup dianalisis dengan
menggunakan analisis sidik ragam pada taraf
nyata 5% dan jika memberikan pengaruh
nyata akan diuji lanjut dengan BNT pada
taraf nyata 5% untuk melihat pengaruh yang
terbaik.
HASIL
Hasil analisa data dan uji BNT (Tabel
1) menunjukkan bahwa jenis substrat
penempel telur yang berbeda memberikan
pengaruh yng berbeda pula terhadap fertilitas,
daya tetas, dan kelangsungan hidup larva ikan
komet (C. auratus).
80

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan


bahwa perlakuan jenis substrat dengan
menggunakan tanaman air eceng gondok (E.
crassipies), kayu apu (P. stratiotes), dan
ganggang air (H. verticillata) memberikan
pengaruh yang berbeda berbeda nyata dengan
substrat dari bahan tali rafia. Substrat dari
bahan rafia memberikan hasil yang paling
rendah terhadap fertilitas, daya tetas, dan
kelangsungan hidup larva ikan komet.
Kualitas Air
Kualitas air merupakan faktor
lingkungan yang mempengaruhi fertilitas,
daya tetas, dan tingkat kelangsungan hidup
larva ikan komet (C. auratus) (Tabel 2). Data
kualitas air selama pengamatan larva
disajikan pada Tabel 2.

Perbedaan
substrat
berpengaruh
terhadap
fertilitas,
daya
tetas,
dan
kelangsungan hidup larva. Berdasarkan Tabel
1 fertilitas dan tingkat kelangsungan hidup
tertinggi dijumpai pada perlakuan dengan
substrat eceng gondok (E. crassipies),
sedangkan daya tetas tertinggi terdapat pada
perlakuan dengan substrat kayu apu (Pistia
stratiotes).
Parameter kualitas air pada pemijahan
ikan komet (C. auratus) selama penelitian ini
berada pada kondisi yang optimal.Susanto
(1989) menyatakan bahwa kualitas air yang
baik untuk pemijahan ikan komet yaitu: suhu
25-28oC, pH 7-8 dan oksigen terlarut (DO)
4-5 mg/l. Parameter kualitas air merupakan
hal yang sangat penting dalam pemijahan
ikan.
Substrat penempel telur dengan
menggunakan eceng gondok (E. crassipies)
memiliki nilai fertilitas tertinggi, hal ini
diduga karena akar yang menjulur ke bawah,
rimbun, lentur, halus, dan menggantung di
dalam air memudahkan induk untuk
menempelkan telur-telurnya sehingga jumlah
telur yang jatuh ke dasar akuarium dapat
berkurang. Selain itu substrat eceng gondok
(E. crassipies) tidak menyebabkan terjadinya
luka-luka pada tubuh induk ketika bergerak
menempelkan telurnya pada substrat.
Penggunaan tali rafia sebagai substrat
penempel telur memiliki fertilitas paling
rendah. Hal ini diduga karena substrat dengan
menggunakan tali rafia sangat licin, sehingga
ikan komet sulit untuk menempelkan telurnya
pada substrat. Selain itu, induk ikan komet
merasa tidak nyaman dengan alat penempel
telur yang terbuat dari bahan sintetis tersebut.
(Anonim,2010).
Hasil perhitungan daya tetas telur
(Tabel 1)diketahui bahwa daya tetas telur
tertinggi terdapat pada perlakuan substrat
kayu apu (P. stratiotes), yaitu mencapai
81

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

83,52%. Tingginya daya tetas pada substrat


kayu apu (P. stratiotes) diduga karena telur
yang dikeluarkan dari tubuh induk banyak
yang menempel pada substrat dan menetas
menjadi larva. Akar kayu apu (P. stratiotes)
susunannya alami dan tidak licin, sehingga
telur banyak yang menempel pada substrat
dan perkembangan embrio terjadi dengan
sempurna Substrat kayu apu (P. stratiotes)
juga tidak mengandung racun, sehingga tidak
menghambat perkembangan embrio pada
masa inkubasi telur, sehingga telur banyak
yang menetas menjadi larva.
Rendahnya daya tetas telur pada
substrat tali rafia diduga karena tidak semua
telur yang telah dikeluarkan oleh induk ikan
komet dapat menetas menjadi larva. Substrat
tali
rafia
bahannya
tidak
alami,
berteksturlicin, dan mengandung zat kimia
dari gugusan polyamida karena bahannya
berasal dari nylon, polyolefin, polyester.
Kandungan zat kimia yang terdapat pada tali
rafia dapat menghambat perkembangan
embrio pada masa inkubasi telur., Pada
substrat tali rafia telur yang dihasilkan oleh
induk ikan komet banyak yang jatuh pada
dasar akuarium, sehingga telur tidak dapat
terbuahi
dengan
sempurna
sehingga
perkembangan embrio menjadi lemah dan
telur tidak dapat menetas.
Pada substrat tali rafia juga dijumpai
tingkat kelangsungan hidup yang paling
rendah
yaitu
49,58%.
Rendahnya
kelangsungan hidup pada substrat tali rafia
diduga karena efek kandungan zat kimia yang
terdapat pada tali rafia.

pembukaan-pembukaan yang pertamahtml [28 Oktober 2011].

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2007. Mengatasi Permasalahan
Budidatya Ikan Air Tawar.http://uplixfish.blogspot.com/2007/11/edit-

Anonimous.2009.Ikan_Komet.Malang.http://
www.id.wikipedia.org/wiki/ikan_komet
[29 Oktober 2011].
Anonimous. 2009. Teknik Pemijahan Ikan
Komet. http://teknikpemijahan ikan
ikan komet/-fish-blogs.htm [29 Oktober
2011].
Anonimous. 2010. Budidaya Ikan Komet.
Jakarta.
http://www.
Particalfishkeeping.
Co..uk/pfk/pages/em. Php.new=547 [29
Oktober 2011].
Anonimous. 2011. Ikan Komet (goldfish).
http://www.aqufish.net/show.php?h=go
ldfish1 [03 November 2011].
Ardi,2002.

Pembuatan
Aquarium
Pembenihan Ikan Mas Komet.
http://www.docstoc.com/docs/1348041
0/pembuatan-aquarium-pembenihanikan-mas-komet-carassiusauratuspembenihan-lopster-cheraxquadricarinatus. Jurusan: budidaya
perairan. Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pertanian Cianjur Join
Program [30 Oktober 2011].

Atmawinata E, Rahasia dan Seluk Beluk


Aquarium.
CV.
Yrama
Widya.
Bandung.
Dede Rahmat, 2007. Ikan
Hias.http://punyachui.blogspot.com/20
09/08/proposal-kerja-praktek.html[30
Oktober 2011].
Goernaso,
2005.
Fisiologi
Universitas Terbuka. Jakarta.

Hewan.

82

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Huet, M. 1971. Texs Book of Fish Culture


Breeding and Cultivation of Fish.
Fishing News (Book) LTD, England.
Kitamura W. dan M. Kobayashi , 2003. - The
effect of water flow on spawning in the
medaka, Oryzias latipes. Fish
Physiol.Biochem., 28: 429-430.
Kobayashi M., Sorensen P.W. dan N.E.
Stacey, 2002. -Hormonal and
pheromonal control of spawning
behavior in the goldfish. Fish Physiol.
Biochem., 26: 71-84.
Lingga P dan Heru S., 2003. Ikan Hias Air
Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Oktober 2012

auratus).http://punyachui.blogspot.com
/2009/08/proposal-kerja-praktek.html.
[02 November 2011].
Santoso B., 1992. Petunjuk Praktis Budidaya
Ikan komet. Kanisius. Jakarta.
Sayuti, 2003. Budidaya Koki dari Tulung
Agung. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Sutrisno, 2006. Budidaya Ikan Hias. Azka
Press. Demak.
Sutadi, 2003. Petunjuk Teknis Budidaya Koi
Kelompok Sumber Harapan, Blitar:
Kelompok Pembudidaya Koi Sumber
Harapan.

Lesmana dan iwan D., 2001. Ikan-ikan Hias


Komersil. Kanisius. Yogyakarta.

Sutisna, D.H., dan R. Sutarmanto. 1995.


Pembenihan
Ikan-IkanAir
Tawar.
Kanisius. Yogyakarta.

ParticalFishkeeping ,http://www.particalfishk
eeping.co.uk/pfk/pages/em.php.news=5
47 (Diakses: 03 November 2011).

Tucker, C.S and Hargreaves, J.A., 2004.


Biology and Culture of Channel
Catfish. Elsevier. B.V. Amsterdam.

Purwokerto,2007. Proposal Kerja praktek


komet
(C.

Zairin.M.J. 2002. Sex Reversal Memproduksi


Benih Ikan Jantan dan Betina. Penebar
Swadaya. Jakarta. Hal 105

83

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

STUDI PERTUMBUHAN POPULASI ROTIFERA (Branchionus plicatilis) DENGAN


KEPADATAN Nannochloropsis sp. YANG BERBEDA PADA LABORATORIUM
Yeni Dwi Yana1), M. Junaidi2) dan Salnida Yuniarti2)
1)
Mahasiswa Prog. Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian UN RAM
2)
Dosen Prog. Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian UNRAM
ABSTRAK
Rotifera (Branchionus plicatilis) adalah zooplankton yang biasa digunakan untuk pakan
larva ikan yang ukurannya sangat kecil. Populasi rotifera sangat bergantung pada tingkat
kepadatan Nannochloropsis sp. Secara umum, populasi rotifera meningkat seiring dengan
peningkatan populasi Nannochloropsis sp. Penelitian pertumbuhan rotifera (B. plicatilis) dengan
kepadatan Nannochloropsis sp. yang berbeda telah dilakukan di Balai Budidaya Laut (BBL)
Lombok, Dusun Giliginting, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat-NTB. Perlakuan
yang diuji adalah enam kepadatan Nannochloropsis sp., yaitu 500.000 sel/ml, 1.000.000 sel/ml,
1.500.000 sel/ml, 2.000.000 sel/ml, 2.500.000 sel/ml, dan 3.000.000 sel/ml. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kepadatan Nannochloropsis sp. yang berbeda memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan populasi rotifera. Pertumbuhan populasi rotifera tertinggi ditunjukkan
pada perlakuan 3.000.000 sel/ml yaitu sebesar 400 sel/ml pada hari ke-9 dan laju pertumbuhan
relatifnya sebesar 0,727. Kecuali pada fase stasioner, pada pertumbuhan, fase lag, fase
eksponensial dan fase kematian, populasi Nannochloropsis sp. memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap populasi rotifera.
Kata kunci : Nannochloropsis, pertumbuhan, populasi, kepadatan.
PENDAHULUAN
Rotifera (Branchionus plicatilis) atau
disebut juga wheel animaculates hewan
beroda, pertama kali diteliti oleh Antonio
van Leeuwenhoek pada tahun 1675. Rotifera
adalah hewan mikroskopis dengan struktur
tubuh yang relatif sederhana, cosmopolitan,
banyak terdapat di air tawar, hidupnya
soliter, berkoloni, dan sesil. Rotifera air
tawar hidup pada tanaman air serta bendabenda dalam air. Rotifera ada yang bersifat
epizoic
atau
ectoparasit.
Rotifera
mempunyai ukuran tubuh 40 m2,5 mm,
dengan rata-rata 200 m. Tubuh rotifera
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala
(anterior), badan (trunk), dan kaki
(posterior) (Davis, 1965).
Salah satu sumber pakan rotifera
adalah
mikroalga
yang
disebut

Nannochloropsis sp. (Jayadi, 2001).


Nannochloropsis sp. merupakan
sel
berbentuk bola, berukuran kecil dengan
diamater 4-6 mm. Organisme ini merupakan
divisi yang terpisah dari Nannochloris
karena tidak adanya chlorophyl b, yang
merupakan pakan yang populer untuk
rotifer, artemia, dan pada umumnya
merupakan
organisme
filter
feeder
(penyaring) (Anonim, 1985). Selain itu
biomasa alga Nannochloropsis sp. dapat
digunakan sebagai biosorben logam berat
karena memiliki kemampuan adsorbsi yang
disebabkan adanya gugus aktif yang
terkandung di dalamnya (Sembiring et al.,
2008).
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui
pengaruh
kepadatan
Nannochloropsis sp. yang berbeda terhadap
84

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

pertumbuhan populasi rotifera (Branchionus


plicatilis).
BAHAN DAN METODE
Bibit rotifera dan Nannochloropsis sp
berasal dari biakan murni yang diperoleh
Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok. Semua
peralatan dan media yang akan digunakan
harus dalam keadaan steril. Air laut yang
digunakan sebagai media kultur disterilisasi
dengan cara melakukan penyaringan
bertingkat dengan menggunakan filter
cartridge 20 m, 5 m dan 0,2 m,
kemudian air laut tersebut direbus sampai
sampai mendidih. Setelah dingin air laut
dimasukkan ke dalam botol dengan volume
1 L sebanyak 18 botol.
Pada
masing-masing
kultur
diinokulasikan bibit Nannochloropsis sp.
dengan kepadatan 500.000 sel/ml (N1) ,
1.000.000 sel/ml (N2), 1.500.000 sel/ml
(N3), 2.000.000 sel/ml (N4), 2.500.000
sel/ml (N5), dan 3.000.000 sel/ml (N6).
Untuk mempertahankan volume media
dalam semua botol tetap 1 L, sebelum
ditambahkan suspensi stok Nannochloropsis
sp., terlebih dahulu volume media dalam
botol dikurangi sesuai dengan volume
suspensi stok yang ditambahkan. Setelah
beberapa
saat
penambahan
stok
Nannochloropsis sp. ke dalam masingmasing botol diinokulasikan 10 sel rotifera.
Wadah kultur yang sudah berisi media dan
bibit rotifera dipasang selang dan batu
aerasi, diberi label, kemudian diletakan di
rak kultur. Parameter pendukung yang
diukur adalah salinitas, suhu, pH dan DO
Pengamatan pertumbuhan populasi
dilakukan setiap hari di bawah mikroskop
selama 15 hari menggunakan Sedgwickrafter perbesaran 10x. Penghitungan
kepadatan spirulina sp dalam satuan unit/ml.
satu unit diukur sebagai satu sudut sinusoid
pada filamen.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Rata-Rata
Pertumbuhan
Populasi
Rotifera
Pengamatan yang telah dilakukan
terhadap perbandingan laju pertambahan
populasi
rotifera
dengan
kepadatan
Nannochloropsis sp. yang berbeda pada
laboratorium, didapatkan rata-rata jumlah
populasi rotifera seperti terlihat
pada
Gambar 1.
450
400
350

Nannochloropsis 500.000 sel/ml


Nannochloropsis 1.000.000 sel/ml

300

Nannochloropsis 1.500.000 selm/l


250

Nannochloropsis 2.000.000 sel/ml

200

Nannochloropsis 2.500.000 sel/ml


Nannochloropsis 3.000.000 sel/ml

150
100
50
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Waktu (hari)

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Populasi


Rotifera dengan Kepadatan
Nannochloropsis
sp. yang
Berbeda pada Laboratorium
Gambar 1, menunjukkan bahwa ratarata jumlah individu populasi rotifera secara
keseluruhan yang paling tinggi didapatkan
pada pengamatan hari ke-8. Secara umum,
rata-rata pertambahan populasi rotifera yang
terbaik dalah pada perlakuan N6
(Nannochloropsis sp. 3.000.000 sel/ml)
yaitu sebesar 173,29 sel/ml, sementara ratarata pertambahan populasi rotifera yang
terendah terjadi pada perlakuan N1
(Nannochloropsis sp. 500.000 sel/ml) yaitu
sebesar 81,583 sel/ml. Hal ini disebabkan
karena pada kepadatan Nannochloropsis sp.
sebesar 3.000.000 sel/ml (perlakuan N6)
dapat menyediakan pakan yang cukup bagi
pertumbuhan rotifera.
Dahrial (1996), menyatakan bahwa
produksi rotifera B. plicatilis sangat
tergantung pada supalai makanannya, jika
85

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

pakan banyak tersedia maka produksi


rotifera juga akan menjadi banyak.
Selanjutnya Mudjiman (1998), menjelaskan
bahwa untuk meningkatkan ketersediaan
pakan hidup (rotifera) setelah pemeliharaan
larva
tergantung
sepenuhnya
dari
ketersediaan pakan alami, karena ditinjau
dari nilai gizinya pakan hidup lebih
cenderung bergizi tinggi bila diberi pakan
Nannochloropsis sp.
Laju Pertumbuhan Relatif (k) Populasi
Rotifera
Hasil perhitungan laju pertumbuhan relatif
(k) populasi rotifera dengan kepadatan
Nannochloropsis sp. yang berbeda pada
laboratorium dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Laju Pertumbuhan Relatif (k)
Populasi Rotifera dengan Kepadatan
Nannochloropsis sp.
Pertumbuhan Relatif (k) Rotifera
Hari

Oktober 2012

Tabel 1. menunjukkan bahwa laju


pertumbuhan relatif (k) populasi rotifera
yang tertinggi pada semua perlakuan
kepadatan Nannochloropsis sp., didapatkan
pada waktu pengamatan hari ke-1 sampai
hari ke-3, sedangkan pada pengamatan hari
ke-4 sampai hari ke-15 laju pertumbuhan
relatif (k) populasi rotifera mengalami
penurunan. Keadaan ini menunjukkan
bahwa pada pengamatan hari ke-1 sampai
hari ke-3, kepadatan Nannochloropsis sp.
yang tersedia masih dapat mendukung
kehidupan dan perkembangbiakan rotifera
dengan baik.
Hasil analisis laju pertumbuhan
relatif (k) populasi rotifera menunjukkan
bahwa kepadatan Nannochloropsis sp. yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang
sangat nyata. Hasil Uji Lanjut BNT pada
Tabel 2. , menunjukkan bahwa perlakuan
N6, perlakuan N5, dan perlakuan N4 sangat
berbeda nyata dengan perlakuan kepadatan
Nannochloropsis
sp.
yang
lainnya.
Sementara pada perlakuan N3 terlihat tidak
berbeda nyata dengan perlakuan N2,
demikian juga pada perlakuan N2 tidak
berbeda nyata dengan perlakuan N1. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi
kepadatan Nannochloropsis sp. maka akan
mempengaruhi laju pertambahan populasi
rotifer

N1

N2

N3

N4

N5

N6

1,765

1,791

2,007

2,241

2,506

2,767

1,272

1,337

1,448

1,518

1,572

1,687

0,96

1,019

1,012

1,096

1,14

1,199

0,78

0,825

0,846

0,879

0,918

0,961

0,656

0,703

0,711

0,725

0,782

0,812

0,611

0,63

0,64

0,669

0,733

0,771

0,552

0,562

0,584

0,615

0,667

0,704

N1

0,5346666667

0,495

0,511

0,518

0,546

0,595

0,624

N2

0,5593333333

de

0,387

0,446

0,477

0,481

0,522

0,573

N3

0,586

10

0,344

0,359

0,367

0,396

0,421

0,433

11

0,257

0,257

0,26

0,284

0,337

0,365

N4

0,626333333

12

0,216

0,218

0,215

0,243

0,297

0,365

N5

0,674

13

0,153

0,173

0,155

0,186

0,187

0,204

N6

0,726

14

0,098

0,117

0,107

0,105

0,083

0,112

15

0,024

0,027

0,036

0,051

0,048

0,057

k
Ratarata

0,535

0,561

0,586

0,627

0,675

Tabel 2. Rata-rata Nilai Pertumbuhan Relatif


Perlakuan
Nilai k Populasi Rotifera

d
c
b
a

0,727

86

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Fase Pertumbuhan Populasi Rotifera


Berdasarkan
Grafik
pola
pertumbuhan populasi rotifera pada Gambar
1, maka terlihat bahwa secara umum
terdapat keimiripan pola pertumbuhan
rotifera pada semua perlakuan, dimana
terdapat 4 fase pertumbuhan yaitu fase lag,
fase eksponensial, fase stasioner, dan fase
kematian.
Hasil analisis keragaman untuk
setiap fase pertumbuhan dapat dilihat pada
Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 3. Analisis Keragaman Fase Lag Pertumbuhan
Populasi Rotifera dengan Kepadatan
Nannochloropsis sp.
Perlakuan
Nilai Rata-rata Populasi Rotifera
N1

0,826

N2

0,8896666667

N3

1,0486666667

N4

1,118

N5

1,2463333333

ab

N6

1,3773333333

cd
bcd
abc

Tabel 4. Analisis Keragaman Fase Eksponensial


Pertumbuhan Populasi Rotifera dengan
Kepadatan Nannochloropsis sp. yang
Berbeda pada Laboratorium
Perlakuan Nilai Rata-rata Populasi Rotifera
N1

0,76

N2

0,7689333333

N3

0,779

N4

0,8317333333

N5

0,8653333333

N6

0,9156666667

c
c
c
b

Oktober 2012

N3

0,1543

N4

0,173

N5

0,1193333333

N6

0,1236666667

a
b
b

Dari Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5,


menunjukkan bahwa pada fase lag, fase
eksponensial,
dan
fase
kematian
menunjukkan perlakuan yang berbeda nyata
atau signifikan, sedangkan pada fase
stasioner menunjukkan perlakuan yang tidak
berbeda nyata atau non signifikan.
Dengan demikian maka perlakuan
N6 memberikan pengaruh yang sangat
berbeda nyata dengan perlakuan kepadatan
Nannochloropsis sp. yang lainnya baik pada
fase lag, fase eksponensial, maupun fase
kematian. Hal ini menunjukkan bahwa
kepadatan Nannochloropsis sp. sebesar
3.000.000 sel/ml (perlakuan N6) adalah
kepadatan yang terbaik dan secara optimum
dapat mendukung kehidupan rotifera dan
perkembangbiakannya
pada
fase
pertumbuhan.
Parameter Kualitas air
Data kualitas air media selama
pengamatan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengamatan Parameter Kualitas Air Media
Pertumbuhan Rotifera
Parameter yang Hari keHari ke-15
No.
Diukur
1
1

Salinitas

35 ppt

35 ppt

Suhu Air

31,3 C

31 C

pH

7,2

7,5

DO

4,7 mg/l

5,1 mg/l

b
a

Tabel 5.

Analisis Keragaman Fase Kematian


Pertumbuhan Populasi Rotifera dengan
Kepadatan Nannochloropsis sp.
Perlakuan Nilai Rata-rata Populasi Rotifera
N1

0,1586666667

N2

0,1577333333

a
a

Dari Tabel 5, hasil pengamatan


parameter kualitas air media pertumbuhan
rotifera menunjukkan
bahwa selama
penelitian berlangsung, tidak terjadi adanya
87

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

perubahan kualitas air yang drastis sehingga


tidak
begitu
berpengaruh
terhadap
pertumbuhan rotifera.

Jayadi, 2001. Mikologi Dasar dan Terapan.


Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Hlm.
56-64.

DAFTAR PUSTAKA

Mudjiman, A., 1998. Makanan Ikan.


Cetakan 14. Penebar Swadaya. Jakarta.

Anonim,
1985.
Petunjuk
Kultur
Fitoplankton. Balai Penelitian dan
Pengembangan Budidaya Laut. Jakarta.
465 hal.
Dahrial, T., 1996. Biologi Rotifera Dan
Pemanfaatannya. Pekanbaru : Penerbit
UNRI Press : Hal. 5, 14 dan 43-46.
Davis, C.C., 1965. The Marine And FreshWater Plankton Michigan State
University Press. 562 p.

Sembiring et al., 2008). Budidaya Pakan


Alami Untuk Ikan. Penerbit Penebar
Swadaya Jakarta.
Soetomo,
2005.
Kultur Tiga Jenis
Mikroalgae (Tetraselmis sp., Chlorella
sp., dan Chaetoceros gracilis) dan
Pengaruh Kepadatan Awal Terhadap
Pertumbuhan
C.
Gracilis.
Laboratorium dalam Oseanologi dan
Limnologi di Indonesia. LIPI

88

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS,


KELANGSUNGAN HIDUP DAN LAJU PERTUMBUHAN LARVA IKAN CUPANG
(Betta splendens)
THE EFFECT OF VITAMIN E ON FERTILITY, HATCHING RATE, SURVIVAL
RATE AND GROWTH RATE OF Betta splendens
M. Supriyadin1), M.Junaidi2), Nunik Cokrowati2*)
Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan 2)Staff Pengajar Program Studi Budidaya
Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Mataram
*Email: n_cokrowati@yahoo.com

1)

ABSTRAK
Ikan cupang (Betta splendens) merupakan ikan yang memiliki banyak bentuk. Ekor yang
bertepi mahkota (crown tail), ekor penuh (full tail), bertipe slayer dan separuh bulan, dengan
sirip panjang dan berwana-warni. Menurut Yustina (2003) jenis ikan cupang jantan memiliki
nilai komersial tinggi sehingga banyak diminati. Namun menurut Yustina (2003) salah satu
kendala budidaya Betta splendens adalah mendapatkan ikan jantan cenderung lebih sukar,
karena jumlah benih jantan yang diperoleh setiap pemijahan sangat rendah dan kualitasnya tidak
sesuai dengan yang diinginkan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2010 sampai
tanggal 19 Agustus 2010 di Laboratorium Budidaya Perairan Program Studi Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental
dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu vitamin E
yang terdiri atas lima perlakuan vitamin E yaitu : 0.00 mg/gram pakan, 0.01 mg/gram pakan,
0.02 mg/gram pakan, 0.03 mg/gram pakan, 0.04 mg/gram pakan dan 0.05 mg/gram pakan dan
satu control (0.00 mg/gram pakan). Parameter yang diamati adalah (1) fertilitas, (2) daya tetas,
(3) kelangsungan hidup larva, (4) pertumbuhan panjang spesifik. Hasil analisis faktor tunggal
pengaruh pemberian vitamin E dosis 0.01 mg/gram pakan, 0.02 mg/gram pakan, 0.03 mg/gram
pakan, 0.04 mg/gram pakan dan 0.05 mg/gram pakan berpengaruh terhadap fertilitas, tidak
terhadap daya tetas. Dosis vitamin E yang memberikan fertilitas tertinggi diperoleh pada dosis
0.01 mg/gram pakan, 0.02 mg/gram pakan, 0.03 mg/gram pakan.
Kata Kunci: Betta splendens, fertilitas, daya tetas, kelangsungan hidup, pertumbuhan, larva.
PENDAHULUAN
Betta Splandens merupakan ikan yang
memiliki banyak bentuk, ekor yang bertepi
mahkota (crown tail), ekor penuh (full tail),
bertipe slayer dan separuh bulan, dengan
sirip panjang dan berwana-warni (Yustina,
2003). Tingginya pemintaan cupang hias,
menunjukan prospek pasar yang sangat luas.
Saat ini harga cupang cukup bervariasi, dari
harga Rp 5.000 per ekor hingga jutaan
rupiah, tergantung kualitas, warna, jenis dan
ukurannya. Harga ini relatif terjangkau

untuk segala kalangan dan popularitas


cupang pun ditopang oleh kemudahan
pemeliharaan serta pembudidayaannya
(Atmadjaja, 2008).
Kendala budidaya Betta splendens
adalah untuk mendapatkan ikan jantan
cenderung lebih sukar, karena jumlah benih
jantan yang diperoleh setiap pemijahan
sangat rendah dan kualitasnya tidak sesuai
dengan yang diinginkan. Pakan yang
berkualitas akan menentukan keberhasilan
proses reproduksi ikan. Nutrien yang
89

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

penting untuk pakan induk adalah protein,


lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
Vitamin E yang mempengaruhi proses
reproduksi (Suryanti, 2002). Penelitian ini
bertujuan
untuk
mengetahui
tingkat
reproduksi
Betta
splendens
dengan
penambahan vitamin E ke dalam pakan
buatan (pellet) atau meliputi fertilitas, daya
tetas, kelangsungan hidup dan pertumbuhan
larva ikan cupang Betta splendens.
METODOLOGI
Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 15 Juli 2010 sampai tanggal 19
Agustus 2010 di Laboratorium Budidaya
Perairan Program Studi Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Mataram.
Alat
Tabel 1. Alat-Alat
Percobaan.

Yang

Digunakan

Dalam

No

Alat

Fungsi

Akuarium degan
ukuran 30 30
30 cm

Timbangan
analitik

Aerasi

Digunakan sebagai tempat


pemeliharaan
indukan
cupang Halfmoon (Betta
splendens)
Untuk
menimbang
indukan
cupang
Halfmoon(Betta
splendens), pakan pellet
dan vitamin E
Penambah suplai oksigen
dalam
akuarium
pemeliharaan.
Tempat
penyimpanan
pakan
pellet
dan
digunakan juga sebagai
media
pencampuran
pakan
pellet
dengan
vitamin E.
Pengontrolan
ikan
cupang.
Digunakan sebagai alat
untuk mengabadikan halhal yang terjadi selama
masa percobaan.
Untuk
mencatat
perkebangan ikan cupang
pada saat percobaan.
Digunakan
untuk

Nampan

Serok

Kamera

Buku dan
pulpen

Selang

Oktober 2012

Hand counter

10

pH metrer

11

Gelas

12

Kaca pembesar

13

Alat suntik

14

Alat penggerus

menyipon akuarium
Alat bantu penghitung
telur dan jumlah larva
Pengukur kualitas air
selama percobaan
Untuk
pencampuran
pakan dan vitamin E
Untuk mengamati telur
dan larva
Untuk membuat pakan
induk cupang Halfmoon
(Betta splendens)
Menghancurkan
pakan
takari.

Bahan
Tabel 2. Bahan-bahan Yang Digunakan Dalam
Percobaan.
No
Alat
Fungsi
1
Vitamin E
Untuk meningkatkan daya
reproduksi pada ikan
cupang Halfmoon (Betta
splendens)
2
Induk cupang Ikan yang akan dipelihara
Halfmoon
dan dipergunakan sebagai
bahan percobaan untuk
melihat tingkat penetasan
telurnya.
3
Pakan pellet
Sebagai
pakan
ikan
cupang Halfmoon (Betta
splendens)
4
Artemia sp
Pakan
burayak
ikan
cupanng

Metode
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimental
dengan menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) yang terdiri atas lima
perlakuan dosis vitamin E mg/gram pakan
yaitu : 0,00 mg/gram pakan, 0,01 mg/gram
pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram
pakan, 0,04 mg/gram pakan dan 0,05
mg/gram pakan. Masing-masing perlakukan
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali.

90

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Cara Pengamatan
Fertilitas
Fertilitas (F) telur dihitung dengan cara
membandingkan telur yang dibuahi dengan
jumlah
telur
seluruhnya,
kemudian
dinyatakan dalam persen.
F=
100
Daya Tetas Telur
Daya tetas (DT) telur ikan cupang
Halfmoon (Betta splendens) dihitung dengan
cara menghitung larva satu persatu,
kemudian dinyatakan dalam persen.
DT =
100
Kelangsungan Hidup
Derajat kelangsungan hidup atau
survival rate (SR) dihitung setiap hari dari
hari pertama hingga hari ke 7 dengan rumus:
SR =
100
Keterangan :
SR = Derajat kelangsungan hidup (%).
N = jumlah ikan pada akhir uji
No = jumlah pada awal uji

Laju Pertumbuhan
Laju pertumbuhan spesifik (LPS) yaitu
pertumbuhan panjang setiap harinya.
G=
100
Keterangan :
G
= Laju pertumbuhan spesifik
l1
= panjang pada awal pengamatan
l2
= panjang pada akhir pengamatan
T
= Lama waktu antara akhir dan
awal pengamatan

Analisis Data
Data hasil pengamatan dianalisis
menggunakan
analisis
sidik
ragam
(ANOVA)
pada
taraf
nyata
5%
menggunakan program Costat dan apabila
hasilnya signifikan maka dilakukan uji
lanjut berupa uji beda nyata terkecil (BNT)
dengan tarap nyata 5%. Sedangkan data

Oktober 2012

perkembangan
pertumbuhan
panjang
spesifik larva ikan cupang juga akan
dianalisis secara deskriptif dan disajikan
dalam bentuk grafik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil pengamatan fertilitas (F), daya
tetas (DT), kelangsungan hidup (SR) dan
pertumbuhan panjang spesifik (G) dianalisis
dengan menggunakan Anova dan uji lanjut
dengan menggunakan BNT adalah sebagai
berikut:
Tabel

3.

Fertilitas (F), Daya Tetas (DT),


Kelangsungan Hidup (SR)
dan
Pertumbuhan (G) Larva Ikan Cupang
halfmoon (Betta splendens).
Perlakuan (Vitamin E mg/gram pakan)

Parameter

0,00

0,01

0,02

0,03

0,04

0,05

Fertilitas s
(%)

45,46
15,33b

100a

100a

100a

98,73
1,09a

86,2
622
,02a

Daya tetasns
(%)

100

100

100

100

100

100

SR D10ns
(%)

48,81
50.49a

0,280,
94a

0,26
0,4a

1,760,
8a

SR D17ns
(%)

47,43
37,34a

66,66
33,34a

Gns (mm)

1,42a

1,42a

33,3
347
,14a
1,42a

66,66
33,34a
1,42a

55,0
244
,40a
34,1
751
,64a
1,42a

Keterangan : s : Signifikan, ns : Non


signifikan.
Hasil
analisis
faktor tunggal
pengaruh pemberian vitamin E dosis 0,01
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03
mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan dan
0,05 mg/gram pakan hanya signifikan pada
fertilitas, tetapi non signifikan terhadap
daya tetas, SR D10, SR D17 dan G (panjang
spesifik).
Vitamin
E
mg/gram
pakan
mempengaruhi fertilitas Betta splendens.
Hasil uji lanjut pemberian vitamin E
mg/gram
pakan
terhadap
fertilitas
menunjukkan Vitamin E dosis 0,01 mg/gram
pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram
pakan, 0,04 mg/gram pakan dan 0,05
mg/gram pakan tidak berbeda nyata. Namun
91

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

berbeda nyata dengan Vitamin E 0,00


mg/gram
pakan
(kontrol).
Artinya
pemberian vitamin E berpengaruh terhadap
fertilitas, tetapi perbedaan dosis tidak
memberikan pengaruh yang nyata.

mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03


mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan dan
0,05 mg/gram pakan sangat berbeda nyata
dengan perlakuan vitamin E 0,00 mg/gram
pakan.
Berdasarkan
hasil
analisa
Tabel 4. Hasil Uji Lanjut Fertilitas Dengan
pengamatan fertilitas, diketahui bahwa
Menggunakan BNT.
perlakuan vitamin E yang diberi dosis 0,01
Dosis vitamin E (mg/gram pakan)
Parameter
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan dan
pengamatan 0,01 0,02 0,03 0,04
0,05 0,03
0,00
mg/gram pakan memiliki nilai fertilitas
a
a
a
a
a
Fertilitas
100 100 100 98.73 86.26 100%,
45.46b perlakuan 0,04 mg/gram pakan
BNT
19.42
98,73%, perlakuan 0,05 mg/gram pakan
86,26%. Sedangkan pelakuan vitamin E 0,00
Hasil pengamatan perkembangan
mg/gram pakan nilai fertilitas 45,46%. Hal
larva dianalisis secara deskriptif sebagai
ini menunjukan perlakuan yang diberi dosis
data tambahan, dilihat pada Gambar berikut.
vitamin E memiliki nilai fertilitas yang
a
b
tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang
tidak diberi vitamin E. Perbedaan nilai
fertilitas Betta splendens menunjukan bahwa
penambahan vitamin E 0,01 mg/gram pakan,
0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram pakan,
0,04 mg/gram pakan dan 0,05 mg/gram
pakan baik digunakan untuk meningkatkan
c
d
nilai fertilitas ikan cupang Halfmoon (Betta
splyndens). Sedangkan kontrol tidak
diberikan penambahan vitamin E sehingga
menyebabkan rendahnya nilai fertilitas. Ini
dapat dilihat dari (Gambar 2) grafik
fertilitas.

Pembahasan
Fertilitas
Hasil
penelitian
menunjukkan
perlakuan yang telah diberikan vitamin E
0,01 mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan,
0,03 mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan
dan 0,05 mg/gram pakan tidak berbeda
nyata. Tetapi perlakuan vitamin E 0,01

100
80
Fertilitas (%)

Gambar 1. Perkembangan Larva Ikan Cupang


Halfmoon (Betta splyndens)
Keterangan :
Gambar a : Larva umur 0 hari.
Gambar b : Larva umur 3 hari dengan panjang 4 mm.
Gambar c : Larva umur 10 hari dengan panjang 5
mm.
Gambar d : Larva umur 17 hari dengan panjang 7
mm.

60
40
20
0
0

0,01 0,02 0,03 0,04 0,05


Vitamin E (mg/gram pakan)

Gambar 4. Grafik Hubungan Fertilitas Dengan


Dosis Vitamin E

92

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Grafik
fertilitas
menunjukkan
perlakuan yang diberi vitamin E 0,01
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan dan
0,03 mg/gram pakan memiliki nilai fertilitas
mencapai 100%. Ini menunjukkan bahwa
penambahan vitamin E pada perlakuan E
0,01 mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan
dan 0,03 mg/gram pakan mempengaruhi
perkembangan gonad, sehingga nilai
fertilitas sangat tinggi. Perlakuan vitamin E
0,04 mg/gram pakan memiliki nilai fertilitas
mencapai 98,73% dan perlakuan vitamin E
0,05 mg/gram pakan mencapai 86,26%.
Sedangkan perlakuan 0,00 mg/gram pakan.
memiliki nilai fertilitas rendah yaitu
45,46%.
Berdasarkan hasil uji Anova
(F<0.05). Bahwa perlakuan vitamin E 0,01
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03
mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan dan
0,05 mg/gram pakan non signifiikan. Tetapi
pelakuan yang diberi dosis vitamin E pada
pakan signifikan dengan perlakuan yang
tidak ditambahkan dosis vitamin E 0,00
mg/gram pakan.
Daya Tetas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
perlakuan yang diberi vitamin E dosis 0,01
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03
mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan, 0,05
mg/gram pakan dan perlakuan 0,00 mg/gram
pakan (tidak ada penambahan vitamin E
pada pakan) tidak berbeda nyata.
Berdasarkan hasil analisa daya tetas
pada
Betta
splendens
menunjukkan
perlakuan vitamin E 0,01 mg/gram pakan,
0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram pakan,
0,04 mg/gram pakan, 0,05 mg/gram pakan
dan perlakuan 0,00 mg/gram pakan memiliki
nilai daya tetas yang tinggi. Hal ini
dipengaruhi oleh Betta splenden) yang
memiliki sifat menempelkan telurnya pada
sarang busa (substrat). Telur yang sudah
dibuahi akan dibawa oleh jantan ke sarang

Oktober 2012

busa dan dijaga sampai telur menetas. Telur


yang ditempelkan pada sarang busa
(substrat) akan menghasilkan kualitas dan
daya tetas yang baik. Menurut Rietje (2008)
kualitas telur yang buruk akan menyebabkan
tingkat penetasan yang rendah.
Perlakuan yang diberi vitamin E
0,01 mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan,
0,03 mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan,
0,05 mg/gram pakan dan perlakuan 0,00
mg/gram pakan non signifikan atau tidak
berbeda nyata. Daya tetas yang tinggi bukan
hanya dipengaruhi oleh sifat ikan cupang
yang parental care dan vitamin E, tetapi juga
dipengaruhi oleh faktor lain seperti seperti
faktor lingkungan.
Kelangsungan Hidup (SR)
Vitamin E tidak berpengaruh
langsung terhadap kelangsungan hidup (SR)
larva Betta splendens. Secara statistik
perlakuan pada vitamin E dosis 0,01
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03
mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan dan
0,05 mg/gram pakan tidak berbeda nyata
dengan 0,00 mg/gram pakan, hal ini dilihat
dari rendahnya kelangsungan hidup larva.
Rendahnya nilai SR pada perlakuan yang
diberikan vitamin E disebabkan karena
vitamin E hanya berpengaruh pada larva dari
D0 sampai D3 dimana larva masih
mempunyai cadangan makanan.
Pengamatan kelangsungan hidup (SR)
larva dilakukan pada D10 dan D17, ini
disebabkan oleh lama pendederan larva yang
mencapai 20 hari. Berdasarkan hasil analisa
pengamatan kelangsungan hidup D10 (Tabel
7) vitamin E dosis 0,02 mg/gram pakan,
0,03 mg/gram pakan dan 0,04 mg/gram
pakan memiliki nilai kelangsungan hidup
lebih rendah yaitu 0,02 mg/gram pakan
mencapai 0,28%, 0,03 mg/gram pakan
mencapai 0,26%, 0,04 mg/gram pakan
mencapai 1,17%. Dibandingkan dengan
perlakuan vitamin E 0,01 mg/gram pakan
93

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

dan 0,05 mg/gram pakan yaitu vitamin E


0,01 mg/gram pakan mencapai 48,81% dan
0,05 mg/gram pakan mencapai 55,02%.
Rendahnya kelangsungan hidup vitamin E
dosis 0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram
pakan dan 0,04 mg/gram pakan dipengaruhi
oleh kepadatan larva yang tidak sesuai
dengan tempat pemeliharaan larva.
Hasil uji Anova kelangsungan hidup
hari ke 10 (SR D10) menunjukkan bahwa
perlakuan vitamin E 0,01 mg/gram pakan,
0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram pakan,
0,04 mg/gram pakan dan 0,05 mg/gram
pakan non signifikan dengan vitamin E 0,00
mg/gram pakan. Pengamatan kelangsungan
hidup hari ke 17 (SR D17) menunjukkan
perlakuan vitamin E dosis 0,01 mg/gram
pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram
pakan, 0,04 mg/gram pakan dan 0,05
mg/gram pakan tidak berbeda nyata dengan
0,00 mg/gram pakan. Ini dilihat dari nilai
kelangsungan hidup perlakuan vitamin E
dosis 0,01 mg/gram pakan mencapai
47,43%, 0,02 mg/gram pakan mencapai
66,66%, 0,03 mg/gram pakan mencapai
33,33%, 0,04 mg/gram pakan mencapai
66,66% dan 0,05 mg/gram pakan mencapai
34,17%.
Kelangsungan hidup pada hari ke 17
menunjukkan lebih rendahnya kelangsungan
hidup larva Betta splenden) pada vitamin E
dosis 0,01 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram
pakan dan 0,05 mg gram pakan, yaitu E
dosis
0,01 mg/gram pakan mencapai
47,43%, 0,03 mg/gram pakan mencapai
33,33% dan 0,05 mg gram pakan mencapai
34,17%. Rendahnya kelangsungan hidup
perlakuan vitamin E dosis 0,01 mg/gram
pakan, 0,03 mg/gram pakan dan 0,05 mg
gram pakan dipengaruhi oleh tingkat
kepadatan larva pada tempat pemeliharaan.
Dibandingkan dengan perlakuan vitamin E
0,02 mg/gram pakan dan 0,04 mg/gram
pakan memiliki nilai kelangsungan hidup
lebih tinggi yaitu vitamin E 0,02 mg/gram

Oktober 2012

pakan mencapai 66,66% dan 0,04 mg/gram


pakan mencapai 66,66%. Ini dipengaruhi
oleh rendahnya kepadatan larva pada tempat
pemeliharaan.
Hasil uji Anova kelangsungan hidup
hari ke 17 (SR D17) menunjukkan bahwa
perlakuan vitamin E 0,01 mg/gram pakan,
0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram pakan,
0,04 mg/gram pakan dan 0,05 mg/gram
pakan non signifikan dengan vitamin E 0,00
mg/gram pakan.
Pertumbuhan (Panjang Spesifik (G))
Vitamin E tidak mempengaruhi laju
pertumbuhan larva Betta splendens. Dilihat
dari statistik perlakuan yang di beri vitamin
E dosis 0,01 mg/gram pakan, 0,02 mg/gram
pakan, 0,03 mg/gram pakan, 0,04 mg/gram
pakan dan 0,05 mg/gram pakan tidak
berbeda
nyata.
Hasil
pengamatan
pertumbuhan spesifik menunjukkan nilai
pertumbuhan spesifik perlakuan vitamin E
dosis 0.01 mg/gram pakan, 0,02 mg/gram
pakan, 0,03 mg/gram pakan, 0,04 mg/gram
pakan dan 0,05 mg/gram pakan yaitu 1,42
mm. Ini menunjukkan penggunaan vitamin
E 0,01 mg/gram pakan, 0,02 mg/gram
pakan, 0,03 mg/gram pakan, 0,04 mg/gram
pakan dan 0,05 mg/gram pakan tidak
berpengaruh terhadap pertumbuhan larva.
Nilai pertumbuhan perlakuan yang
diberikan vitamin E 0,01 mg/gram pakan,
0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram pakan,
0,04 mg/gram pakan dan 0,05 mg/gram
pakan yaitu mencapai 1,42 mm. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan
perlakuan yang diberi dosis vitamin E tidak
berbeda nyata.
Hasil uji Anova pertumbuhan
panjang spesifik (G) larva Betta splendens
hari ke 14 (D14) menunjukkan bahwa
perlakuan vitamin E 0,01 mg/gram pakan,
0,02 mg/gram pakan, 0,03 mg/gram pakan,
0,04 mg/gram pakan dan 0,05 mg/gram
pakan tidak berbeda nyata atau non
94

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

signifikan.
Pengamatan
pertumbuhan
panjang spesifik (G) dilakukan juga secara
deskriptif.

Oktober 2012

DAFTAR PUSTAKA
Atmadjaja. J dan Sitanggang. M., 2008.
Panduan Lengkap Budidaya &
Perawatan Cupang Hias. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Iriyanti, Zuprizal dan Yuwanto, 2007.
Penggunaan Vitamin E Dalam Pakan
Terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan
Bobat Telur Ayam Kampung. Animal
Production vol 9 No 1. Yogyakarta.

Gambar 8. Grafik Pertumbuhan panjang Larva


Betta Splendens sesuai dengan
hari pengamatan

Grafik pertumbuhan larva ikan


cupang Betta splendens menunjukkan
perlakuan yang diberi vitamin E 0,01
mg/gram pakan, 0,02 mg/gram pakan, 0,03
mg/gram pakan, 0,04 mg/gram pakan, 0,05
mg/gram pakan dan 0,00 mg/gram pakan
tidak berbeda nyata. Pada larva D3
mencapai 4 mm, D10 mencapai 5 mm dan
D17 mencapai 7 mm. Pada hari ke 3 (D3)
kuning telur terserap habis oleh larva, D10
pakan Artemia sp belum terlalu berpengaruh
terhadap pertumbuhan, sedangkan D17
pengaruh pemberian pakan Artemia sp
sudah terlihat dengan penambahan ukuran
mencapai 2 mm.

Rietje, 2008. Peranan probiotik dalam


meningkatkan hasil pembenihan Ikan
gurami (osphronemus gouramy ).
Prosiding Seminar Nasional Sains dan
Teknologi-II
2008
Universitas
Lampung. Lampung.
Suryanti. Y, Rina dan Widiyati. A, 2002.
Peranana Vitamin E Dalam
Perkembangan Gonad Ikan. Balai
Penelitian Air Tawar Sukamandi.
Bogor.
Yustina, Arnentis dan Darmawati, 2003.
Daya Tetas dan Laju Pertumbuhan
Larva Ikan Hias Betta splendens di
Habitat Buatan. Laboratorium Biologi,
PMIPA,
FKIP, Universitas Riau.
Riau.

95

Jurnal Perikanan Unram, Volume 1, No. 1

Oktober 2012

PEDOMAN PENULISAN
1. Seluruh naskah diketik 2 spasi (1,5 spasi untuk abstrak) pada kertas HVS ukuran A4 (21 cm x
29,5 cm).
2. Margin penulisan adalah 3 cm dari setiap sisi kertas.
3. Naskah diketik dengan huruf Times New Romans 12 menggunakan Microsoft Word.
4. Setiap halaman diberi nomor (bawah kanan) secara berurutan dengan maksimum halaman
termasuk tabel dan gambar adalah 18 lembar.
5. Tabel dan gambar di tempatkan di lembaran terpisah (di halaman akhir atau dalam file yang
berbeda) dan harus dirujuk dalam tulisan.
6. Naskah dicetak sebanyak 3 eksemplar dan apabila sudah layak terbit maka harus disertai
dengan softcopy dalam bentuk .doc (menggunakan MS OFFICE).
7. Susunan naskah dimulai dari Judul, Nama Penulis, Abstrak, Pendahuluan, Metode, Hasil,
Pembahasan, Ucapan terima kasih (bila ada), Daftar Pustaka, Tabel dan Gambar.
8. Judul ditulis dengan huruf kapital bold pada setiap awal kata, kecuali kata sambung. Judul
sebaiknya tidak lebih dari 12 kata. Naskah dalam bahasa Indonesia harus disertai dengan
judul dalam Bahasa Inggris yang ditulis miring.
9. Nama lengkap (tidak disingkat dan tanpa gelar) ditulis di bawah judul. Beri tanda * untuk
nama penulis korespondensi. Dibawah deretan nama dituliskan alamat lembaga afiliasi
penulis. Untuk korespondensi dilengkapi dengan alamat, kode pos, nomor telpon dan HP,
faksimile atau e-mail. (lihat contoh).
10. Abstrak ditulis dalam bahasa indonesia dan maksimum 200 kata.
11. Keywords ditulis setelah abstrak dan maksimum 5 kata.
12. Awal paragraph dalam tulisan dimulai 5 indent dari sisi kiri naskah.
13. Penulisan sub judul menggunakan huruf besar bold (ABSTRAK, PENDAHULUAN,
BAHAN DAN METODE, HASIL, PEMBAHASAN, UCAPAN TERIMA KASIH,
DAFTAR PUSTAKA) tidak menggunakan nomor serta ditulis di tengah kertas.
Sedangkan sub Judul ditulis dengan Huruf kecil (Bold) dibagian pinggir kiri kertas.
14. Petunjuk penulisan pustaka mengikuti gaya Harvard.

96