Anda di halaman 1dari 30

CARA MEMBUAT KOMPOS SEDERHANA

Cara sederhana membuat kompos skala rumah tangga ini merupakan artikel tentang cara
praktis dan sederhana dalam membuat kompos dari sampah organik yang dihasilkan rumah
tangga.

Sampah-sampah

organik

seperti

dedaunan,

sisa

sayuran, buah-buahan dapat

dimanfaatkan menjadi kompos.


Membuat kompos merupakan bentuk dari recycle, salah satu unsur dari 3 R. Sehingga dengan
mengolah sampah menjadi kompos berarti ikut membantu mengurangi permasalahn yang
disebabkan sampah. Selain itu, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan langsung sebagai
media tanam ataupun pupuk organik.
Pengolahan sampahrumah tangga menjadi kompos dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana
saja dan dengan berbagai cara. Dalam artikel ini, Alamendah akan membagikan tips sederhana
untuk membuat kompos yang bisa dilakukan oleh rumah tangga baik yang memiliki lahan
kosong ataupun hanya memiliki sedikit lahan terbatas bahkan tidak memiliki lahan sama sekali.

Sampah ini dapat dimanfaatkan menjadi kompos


Membuat Kompos dari Sampah Bagi Rumah Tangga yang Memiliki Lahan. Ini
merupakancara paling sederhana dalam membuat kompos namun hanya bisa dilakukan jika
memiliki lahan (tanah) kosong.

Gali tanah sedalam 50-100 cm. Lubang dibuat dengan jarak minimal 10 meter dari sumur
untuk menghindari tercemarnya sumur.

Isi lubang dengan sampah organik yang telah ditiriskan.

Tutup atau taburi sampah dengan tanah secara berkala untuk mengurangi bau.

Jika telah penuh, tutup lubang dengan tanah.

Setelah tiga bulan, lubang dapat digali. Hasil galian dapat digunakan sebagai kompos
sedangkan lubangnya dapat digunakan untuk membuat kompos kembali.

Membuat Kompos dari Sampah Bagi Rumah Tangga Dengan Lahan Terbatas. Bagi yang
rumahnya hanya memiliki sedikit lahan kosong, pembuatan kompos tetap dapat dilakukan.

Sediakan drum atau sejenisnya.

Lubangi kecil-kecil bagian dasar drum untuk rembesan air dari sampah.

Tanam drum dengan kedalaman sekitar 10 cm dari permukaan tanah.

Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari.

Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala.

Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos.

Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama tiga bulan.

Keluarkan isi drum dan angin-anginkan selama 2 minggu. Kompos sudah dapat
digunakan.

Membuat Kompos dari Sampah Bagi Rumah Tangga yang Tidak Mempunyai Lahan. Bagi
rumah tangga yang tidak memiliki tanah atau lahan kosong, pengolahan sampah menjadi
kompos dapat dilakukan dengan menggunakan ember, pot, kaleng bekas, atau sejenisnya.
Benda-benda ini sekaligus nantinya dapat dijadikan pot.

Sediakan ember, pot, kaleng bekas, ataupun wadah lainnya.

Lubangi bagian dasar dan letakkan di wadah yang dapat menampung rembesan air dari
dalamnya.

Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari.

Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala.

Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos.

Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama dua bulan.

Wadah siap dijadikan pot dengan kompos di dalamnya sebagai media tanam.

Sobat Alamendah, demikian proses pembuatan kompos dari sampah organik bagi rumah tangga
baik yang memiliki lahan kosong, lahan terbatas, maupun tidak memiliki lahan sekalipun.
Semoga mampu menginspirasi kita semua bahwa semua orang, di mana pun juga, dapat
melakukan tindakan nyata dalam menangani permasalahan lingkungan utamanya sampah.
Bahkan dengan cara-cara yang sederhana sekalipun.

Sumber : recyclegreen.wordpress.com

CARA MEMBUAT PUPUK CAIR SENDIRI DI RUMAH

Pupuk Cair Organik :


Merupakan zat penyubur tanaman yang berasal dari bahan-bahan organik
dan berwujud cair.
Manfaat :

Untuk menyuburkan tanaman.

Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah.

Untuk mengurangi dampak sampah di lingkungan sekitar.

Keunggulan :

Mudah, murah

Tidak ada efek samping

Kekurangan :

Perlu ketekunan dan kesabaran yang tinggi

Hasilnya kurang banyak

Bahan baku pupuk cair yang sangat bagus yaitu bahan organik basah
atau bahan organik yang mempunyai kandungan air tinggi, seperti buahbuahan dan sisa sayuran (wortel, labu, sawi, selada, kulit jeruk dll).
Semakin besar kandungan selulosa dari bahan organik (C/N ratio) maka
proses penguraian oleh bakteri akan semakin lama. Selain mudah
terdekomposisi, bahan ini kaya nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
Sebelum membuat pupuk cair. EM (Effectiv Mikroorganisme) organik yang
berbahan baku sampah organik, perlu dibuatkan dahulu pembuatan
Molase dan pembiakan bakteri EM.

PENBUATAN MOLASE :

Molase yaitu : Sari tetes tebu (biang gula) atau pembuatan Molase bisa
juga dengan melarutkan gula merah/putih dengan air tanpa kaporit
dengan perbandingan 1:1 .

PEMBIAKAN BAKTERI EM-4

Cairan Bakteri EM-4 Siap Pakai


Cairan bakteri EM-4 dapat di kembangbiakan sendiri dengan cara :
Bahan :
1. Cairan EM-4-1 Liter
2. Bekatul/Dedek -3 kg
3. Molase (dalam keadaan cair)-1/4 Liter
4. Terasi -1/4 kg
5. Air bersih (tanpa kaporit/tawas)-5 Liter
Peralatan :
1. Panci untuk memasak air
2. Pengaduk kayu
3. Ember untuk permentasi
4. Saringan
5. Botol untuk penyimpanan hasil akhir
Cara penbuatan :

Panaskan 5 Liter air sampai mendidih

Masukan bekatul, terasi dan molase aduk hingga tercampur merata

Dinginkan adonan hingga suhu kamar

Setelah dingin masukan cairan EM-4, aduk hingga rata

Tutup rapat selama 2 hari, jangan di buka-buka

Pada hari ketiga dan selanjutnya penutup jangan terlalu rapat

Aduk-aduk setiap harinya selama 10 menit

Setelah 1 minggu bakteri sudah dapat diambil dan disaring,


masukan kedalam botol yang sudah di sediakan

Simpan botol di ruangan sejuk dan tidak terkena sinar matahari


langsung, cairan EM-4 siap di gunakan untuk pembuatan pupuk
organik

Agar bakteri mendapatkan kebutuhan Oksigen, tutup botol jangan


terlalu rapat atau biarkan terbuka.

HAMIS, 24 JULAI 2008

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik
yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi
lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford,
2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami
penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan
organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses
alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat
campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan
penambahan aktivator pengomposan. Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik
dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai 80%, sehingga

pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai.


Daftar isi[sembunyikan]
1 Pendahuluan
2 Manfaat Kompos
3 Dasar-dasar Pengomposan
3.1 Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan
3.2 Proses Pengomposan
3.3 Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan
4 Strategi Mempercepat Proses Pengomposan
4.1 Memanipulasi Kondisi Pengomposan
4.2 Menggunakan Aktivator Pengomposan
4.3 Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator Pengomposan
4.4 Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan
5 Pengomposan secara aerobik
5.1 Peralatan
5.2 Tahapan pengomposan
6 Kontrol proses produksi kompos
6.1 Proses pengontrolan
7 Mutu kompos
8 Literatur
9 Pranala luar
//
[sunting] Pendahuluan
Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan
mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara
alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah
banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan
teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan
teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi
secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan
dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi
sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organic, seperti
untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industry, serta limbah
pertanian dan perkebunan.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobikmaupun anaerobik,
dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak
beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos,
EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM (Effective
Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost).
Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk
dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan
dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara.
Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak
membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk
kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki

sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksitanaman menjadi lebih tinggi.
Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan
struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali
tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca
penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaanpupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung karbon dan
nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah
industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan baku
pengomposan.
Asal
Bahan
1. Pertanian
Limbah dan residu tanaman
Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, semua bagian vegetatif
tanaman, batang pisang dan sabut kelapa
Limbah & residu ternak
Kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas
Tanaman air
Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air
2. Industri
Limbah padat
Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan
makanan dan pemotongan hewan
Limbah cair
Alkohol, limbah pengolahan kertas, ajinomoto, limbah pengolahan minyak kelapa sawit
3. Limbah rumah tangga
Sampah
Tinja, urin, sampah rumah tangga dan sampah kota
[sunting] Manfaat Kompos
Kompos ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan kesuburan
tanah dan merangsang perakaran yang sehat Kompos memperbaiki struktur tanah dengan
meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah
untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi
tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu
tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat
merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat
membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada
tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih
berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
Mengurangi volume/ukuran limbah
Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah

Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan


Aspek bagi tanah/tanaman:
Meningkatkan kesuburan tanah
Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
Meningkatkan kapasitas jerap air tanah
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
[sunting] Dasar-dasar Pengomposan
[sunting] Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan
Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya: limbah
organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah
peternakan, limbah-limbah pertaniah, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas,
limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll. Bahan organik yang sulit untuk
dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan rambut.
[sunting] Proses Pengomposan
Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan mentah dicampur.
Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif
dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa
yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu
tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan
peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o - 70o C. Suhu akan tetap
tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik,
yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekmposisi/penguraian
bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan
oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah
sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami
penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan
komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun
biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 40% dari volume/bobot awal bahan.
Skema Proses Pengomposan Aerobik
Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik
(tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik, dimana
mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses
dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik.
Namun, proses ini tidak diinginkan selama proses pengomposan karena akan dihasilkan
bau yang tidak sedap. Proses aerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau
tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat,
puttrecine), amonia, dan H2S.
Gambar profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan
Tabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan

Kelompok Organisme
Organisme
Jumlah/gr kompos
Mikroflora
Bakteri; Aktinomicetes; Kapang
109 - 109; 105 108; 104 - 106
Mikrofanuna
Protozoa
104 - 105
Makroflora
Jamur tingkat tinggi
Makrofauna
Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll
Proses pengomposan tergantung pada :
Karakteristik bahan yang dikomposkan
Aktivator pengomposan yang dipergunakan
Metode pengomposan yang dilakukan
[sunting] Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan
Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan
yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja
giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau
tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan
mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan
keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.
Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga
40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk
sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk
energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan
kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Permukaan
area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses
dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang
antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan
memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob).
Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan
udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi
ditentukan oleh posiritas dan kandungan air bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat,
maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi
dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam
tumpukan kompos.
Porositas Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas
dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini
akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan.
Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses
pengomposan juga akan terganggu.

Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangat penting


dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay
oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut
larut di dalam air. Kelembaban 40 - 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme
mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan
dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari
60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun
dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.
Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara
peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin
banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan
suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara
30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari
60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan
tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen
tanaman dan benih-benih gulma.
pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk
proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar
antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada
bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara
temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi
amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada
fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.
Kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan
bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan
oleh mikroba selama proses pengomposan.
Kandungan Bahan Berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan
yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr
adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami
imobilisasi selama proses pengomposan.
Lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang
dikomposakan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa
penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam
waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.
Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak, 1992)
Kondisi
Konsisi yang bisa diterima
Ideal
Rasio C/N
20:1 s/d 40:1
25-35:1
Kelembaban
40 65 %
45 62 % berat
Konsentrasi oksigen tersedia
> 5%
> 10%
Ukuran partikel

1 inchi
bervariasi
Bulk Density
1000 lbs/cu yd
1000 lbs/cu yd
pH
5.5 9.0
6.5 8.0
Suhu
43 66oC
54 -60oC
[sunting] Strategi Mempercepat Proses Pengomposan
Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum strategi untuk
mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:
Menanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pengomposan.
Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikroba
pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
Mengambungkan strategi pertama dan kedua.
[sunting] Memanipulasi Kondisi Pengomposan
Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Kondisi
atau faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N
yang optimum adalah 25-35:1. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang mengandung
rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N rendah, seperti
kotoran ternak. Ukuran bahan yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil
dan ideal untuk proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau
bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan.
Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.
[sunting] Menggunakan Aktivator Pengomposan
Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat
mempercepat proses pengomposan. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan misalnya
cacing tanah. Proses pengomposannya disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan
dikenal dengan sebutan kascing. Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah
mikroba, baik bakeri, aktinomicetes, maupuan kapang/cendawan. Saat ini dipasaran banyak
sekali beredar aktivator-aktivator pengomposan, misalnya : Promi, OrgaDec, SuperDec,
ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain.
Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian
Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat. Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang
memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik, yaitu:
Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma harzianum, Pholyota sp, Agraily sp
dan FPP (fungi pelapuk putih). Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik).
Aktivator yang dikembangkan oleh BPBPi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain
dan tanpa pengadukan secara berkala. Namun, kompos perlu ditutup/sungkup untuk
mempertahankan suhu dan kelembaban agar proses pengomposan berjalan optimal dan
cepat. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah

dikomposakan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit dikomposkan.


[sunting] Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator Pengomposan
Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah mengabungkan
dua strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan
menambahkan aktivator pengomposan.
[sunting] Pertimbangan untuk menentukan strategi pengomposan
Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang
bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan strategi
pengomposan:
Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
Tingkat kesulitan pembuatan kompos
[sunting] Pengomposan secara aerobik
[sunting] Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk
penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja.
Berikut disajikan peralatan yang digunakan.
Terowongan udara (Saluran Udara)
Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
Dimensi : panjang 2m, lebar - m, tinggi m
Sudut : 45o
Dapat dipakai menahan bahan 2 3 ton
Sekop
Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
Garpu/cangkrang
Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah
Saringan/ayakan
Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai
Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan
Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar
Termometer
Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan
dan menariknya kembali dengan cepat
Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos
jika termometer pecah
Timbangan
Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan
Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan
Sepatu boot
Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahanbahan berbahaya

Sarung tangan
Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan
untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan
Masker
Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang
lainnya
Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan
Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang berfungsi dalam memberi asupan
oksigen serta membalik bahan secara praktis. Komposter Rotary Klin berkapasitas 1 ton
bahan sampah mengelola proses membalik bahan dan mengontrol aerasi dengan cara
mengayuh pedal serta memutar aerator ( exhaust fan). Penggunaan komposter BioPhoskko
disertai aktivator kompos yang tepat akan meningkatkan kerja penguraian bahan
(dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5 sampai 7 hari saja.
[sunting] Tahapan pengomposan
Pemilahan Sampah
Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah anorganik (barang lapak
dan barang berbahaya). Pemilahan harus dilakukan dengan teliti karena akan menentukan
kelancaran proses dan mutu kompos yang dihasilkan
Pengecil Ukuran
Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga sampah dapat
dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos
Penyusunan Tumpukan
Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil ukuran kemudian disusun
menjadi tumpukan.
Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi
panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1,75m.
Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang berfungsi
mengalirkan udara di dalam tumpukan.
Pembalikan
Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar
ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan,
meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
Penyiraman
Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang terlalu kering (kelembaban
kurang dari 50%).
Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam
bahan dari bagian dalam tumpukan.
Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air, maka tumpukan sampah
harus ditambahkan air. sedangkan jika sebelum diperas sudah keluar air, maka tumpukan
terlalu basah oleh karena itu perlu dilakukan pembalikan.
Pematangan
Setelah pengomposan berjalan 30 40 hari, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga
mendekati suhu ruangan.
Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk
pada tahap pematangan selama 14 hari.
Penyaringan

Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai dengan kebutuhan
serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses
pemilahan di awal proses.
Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru, sedangkan
bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.
Pengemasan dan Penyimpanan
Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan kebutuhan pemasaran.
Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan terlindung dari
kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh bibitjamur dan benih gulma dan benih
lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.
[sunting] Kontrol proses produksi kompos
Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat dimana
jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal.
Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah
untuk menghasilkan energi dan tumbuh.
[sunting] Proses pengontrolan
Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan sampah adalah:
Monitoring Temperatur Tumpukan
Monitoring Kelembaban
Monitoring Oksigen
Monitoring Kecukupan C/N Ratio
Monitoring Volume
[sunting] Mutu kompos
Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta
tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya persaingan bahan
nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan tanaman
Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
Nisbah C/N sebesar 10 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,
Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
Tidak berbau.

Pengomposan

Tata Cara Sederhana Membuat


Kompos
Sumber: http://bundaiing.blogspot.com/
Langkah Pertama:
Membuat strarter untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya EM4 (efektif
mikroorganisme tipe 4). Bahan2nya bisa macam2 (yang ada disekitar kita). Contoh
yang paling gampang, menggunakan tape/tapai (peuyeum singkong) 1 kg, terasi yg
paling murah 1/4 kg, gula pasir 1/4 kg, air kelapa 5 gelas. Bahan tersebut
dimasukkan ke dalam jerigen plastik ukuran 20 liter. Tambahkan air 10 liter,
kemudian diaduk sampai lumat. Lalu, biarkan selama 7 hari dan jangan ditutup.
Setelah itu, bahan tersebut sudah bisa dipakai sebagai starter untuk proses
pengomposan. bahan cairan ini baunya seperti alkohol. Kita namakan bahan cairan
ini dengan sebutan MOL (mikroorganisme lokal).
Langkah Kedua:
Mengumpulkan bahan kompos (sampah), terdiri atas sampah organik yang ada di
sekitar kita. Sampah organik yang masih segar berwarna hijau dicampur dengan
sampah

organik

(daun2)

yang

sudah

kering

berwarna

coklat.

Bahan2

itu

dirajang/potong halus kecil2 ukuran maksimum sekitar 3 cm. Jumlah yang hijau dan
yang coklat seimbang, atau 1 banding 1, diaduk rata. Lebih bagus jika dicampur
kotoran ternak. Jumlah total bahan kompos minimum 1/2 meter kubik.
Langkah Ketiga:
Masukkan bahan2 tersebut dalam keranjang bambu. Kalau tidak ada, bisa
dimasukkan dalam karung yang bolong2 dilubangi. Kemudian dibasahi dengan MOL.
Setiap 3 hari diaduk, ditambah MOL. Pada minggu pertama akan terasa proses
kompos ini mengeluarkan panas, bisa sampai 70 derajat celsius. Pada minggu ke
dua, panas mulai menurun. Minggu ke tiga sudah mulai mendingin. Dan minggu
terakhir, sudah dingin kembali, dan kompos sudah matang dengan warnanya coklat
kehitaman seperti tanah. Giliran berikutnya bisa dimanfaatkan untuk tanaman.

Kompos dalam Karung


Sumber: http://kampungantenan.blogspot.com/
Langkah-langkah membuat MOL yang merupakan starter dalam pengomposan:

Nasi (baru maupun basi) dibentuk bulat sebesar bola ping-pong sebanyak 4
buah.

Diamkan selama tiga hari sampai keluar jamur yang berwarna kuning, jingga,
dan abu-abu.

Bola nasi jamuran kemudian dimasukkan ke dalam botol/wadah plastik.

Tuang air satu gayung yang sudah dicampur gula sebanyak empat sendok
makan ke dalam botol/wadah yang berisi nasi jamuran.

Diamkan selama satu minggu. Campuran nasi dan air gula tersebut akan
berbau asem seperti tape/peuyeum.

MOL sudah bisa digunakan sebagai starter untuk membuat kompos dengan
dicampur air. Perbandingan MOL dengan air sebesar 1:5.

Langkah pembuatan kompos menggunakan karung


Langkah 1:

Potong/cacah dengan ukuran 2 s/d 3 cm sampah organik yang akan dibuat kompos.
Langkah 2:

Campur sampah coklat dan sampah hijau dengan perbandingan 1:2. Jika terlalu
banyak sampah coklat, pengomposan akan memakan waktu lama.
Langkah 3:

Ratakan sampah yang akan dibuat kompos sebelum dicampur dengan MOL.
Langkah 4:

Sirami permukaan sampah secara merata dengan MOL.


Langkah 5:

Aduk agar MOL tercampur merata. Siram kembali dengan MOL sampai sampah
terlihat basah kemudian aduk kembali.
Langkah 6:

Masukkan sampah ke dalam karung, setelah diangin-anginkan sebentar. Kemudian


karung diikat agar tidak diacak-acak kucing, anjing, atau ayam.
Langkah 7:

Karung ditusuk-tusuk dengan obeng atau alat lainnya secara merata agar oksigen
(udara segar) bisa masuk.
Langkah 8:

Simpan di tempat yang tidak kehujanan dan tidak terkena sinar matahari langsung.
Langkah 9:

Seminggu sekali Langkah 3 s/d 8 diulang kembali. Dalam waktu enam minggu
kompos sudah jadi dan siap digunakan.

Catatan:

Minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja, suhu mencapai 45-65C. Karung
terasa hangat bila dipegang.

Minggu ke-3 dan ke-4 suhu mulai menurun menjadi sekitar 40C.

Minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal seperti suhu tanah, kompos sudah
jadi/matang.

Kompos yang sudah jadi berwarna coklat kehitam-hitaman dan baunya seperti
tanah.

Kompos bisa disimpan di dalam karung sebelum digunakan.

Mengolah Sampah Menjadi Produk 3M (Mudah, Murah, Menghasilkan)


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, apabila sampah dikelola dengan baik maka akan menjadi produk
yang bermanfaat bahkan bisa menjadi sumber energi. Untuk memudahkan pengelolaan, kita dapat mengacu

pada sampah berdasarkan zat kimianya yaitu sampah organik dan anorganik. Berikut adalah beberapa cara
mengolah sampah yang merupakan masalah menjadi produk yang menghasilkan:
A. Mengolah sampah organik menjadi pupuk
Sampah organik bisa kita dapat dengan mudah dari sampah rumah tangga, sisa-sisa tumbuhan maupun kotoran
hewan. Saya mengolah sampah organik yang berasal dari sayuran sisa dapur dengan bantuan bioaktivator atau
agen pengurai. Bioaktivator ini sangat mudah didapat serta mudah dibuat sehingga pembuatan pupuk
sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun termasuk ibu-ibu rumah tangga. Berikut adalah beberapa bentuk
pupuk yang dapat kita hasilkan dari sampah organik:
a. Pupuk cair
Cara pembuatan pupuk cair dari sampah rumah tangga sangatlah mudah, yaitu cukup mencampurkan air cucian
beras (air tajin), air tanah atau air dari sumur, gula merah atau gula pasir (gula tebu), ragi (sebagai bioaktivator)
serta sampah organik (sampah sayuran) yang sudah dipotong-potong terlebih dahulu. Campurkan dan aduk
semua bahan tersebut hingga rata, kemudian masukan ke dalam karung. Karung tersebut dimasukan ke dalam
ember yang dibagian bawahnya sudah diberi keran sebagai tempat untuk mengeluarkan pupuk cair. Setelah 7-10
hari pupuk cair sudah dapat digunakan. Angkat ampas yang terdapat dalam karung dan pindahkan pupuk cair ke
dalam wadah. Bahan yang terdapat dalam karung masih bisa kita gunakan sebagai kompos setelah dikeringkan.
Aplikasi pemakaian pupuk cairnya juga sangat mudah, cukup mencampurkan satu gelas pupuk cair ukuran 250
ml dengan 5 liter air. Larutan pupuk cair organikpun siap untuk diaplikasikan pada tanaman. Pupuk cair organik
ini memiliki nilai jual Rp. 10.000,- untuk ukuran 650 ml.

Pembuatan Pupuk Cair Organik

b. Kompos

Sama sepertihalnya pupuk organik, pembuatan kompos juga relatif mudah dilakukan oleh siapapun. Bahannya
juga masih menggunakan bahan organik. Proses pengomposan selain bermanfaat untuk pembuatan pupuk juga
bermanfaat untuk mengubah limbah yang berbahaya, seperti misalnya tinja, sampah, dan limbah cair lain
menjadi bahan yang aman dan bermanfaat. Berikut adalah cara pembuatan kompos skala keluarga:

Proses Pembuatan Kompos Skala Rumah Tangga

1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Siapkan komposter atau wadah untuk pengomposan sampah rumah tangga, bisa terbuat
dari ember, karung maupun kardus. Saya menggunakan kardus sebagai wadah pembuatan
kompos karena mudah diperoleh
Beri lapisan sekam, jerami atau serbuk gergaji setebal 5 cm pada dasar wadah yang
berfungsi menyerap air selama proses pengomposan
Kompos yang sudah jadi diletakkan di atas lapisan dasar sebagai starter
Cacah sampah organik hingga ukuran kecil untuk memudahkan penguraian kemudian
berikan bioaktivator dan aduk hingga rata
Masukan sampah organik di atas starter
Tambahkan lagi lapisan kompos yang sudah jadi di atas lapisan sampah organik tersebut
Gunakan penutup yang memiliki lubang seperti kasa nyamuk agar udara dapat keluar
Lakukan pembalikan dan pengadukan seminggu setelahnya agar proses penguraian
merata. Kompos dapat digunakan dua minggu berikutnya. Lama tidaknya proses pengomposan
tergantung pada berbagai faktor, salah satunya adalah jenis bioaktivator.

Sama sepertihalnya pupuk cair organik, kompos juga memiliki nilai jual dengan harga jual mencapai Rp. 10.00015.000,- per karung.
B. Mengubah sampah anorganik menjadi produk kerajinan tangan
Sampah anorganik berbahan dasar plastik dapat kita olah lebih lanjut menjadi produk kerajinan tangan yang unik
dan menghasilkan. Contohnya adalah bros, tas plastik, dompet, hiasan ruangan dan lain sebagainya. Agar

kualitas sampah plastik yang digunakan sebagai bahan kerajinan ini tidak rusak, maka pisahkan sampah organik
dan anorganik sejak awal supaya sampah plastik tersebut tidak terkontaminasi sampah yang lain.
Proses pengolahan sampah plastik ini sudah dilakukan oleh beberapa orang pelaku usaha yang memang
concern dalam pengelolaan sampah. Seperti yang telah dilakukan oleh ibu rumah tangga sekaligus kader
lingkungan di desanya di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor yang mengolah kemasan bekas suatu produk
menjadi barang kerajinan tangan. Mereka adalah Ibu Juju yang berhasil mengolah sampah plastik menjadi bros,
kemudian Ibu Ani yang mengolah sampah menjadi hiasan jendela, serta Ibu Erna yang mengolah sampah
menjadi tas. Sampah plastik yang digunakan sebagai bahan dipilih dan diperlakukan sebaik mungkin agar tidak
rusak. Sampah ini diperoleh dari kegiatan keseharian mereka sehingga mereka tidak perlu pusing untuk mencari
bahan. Contohnya Ibu Ani, Ia tidak perlu mencari sampah untuk bahan pembuatan hiasan dinding, dia cukup
menggunakan sampah plastik yang dihasilkan pada kesehariannya. Misalnya Ia mengumpulkan sampah yang
berasal dari bungkus kopi untuk dibentuk hiasan dinding berbentuk ikan. Kerajinan yang berasal dari sampah ini
memberikan pemasukan bagi Ibu Juju, Ibu Ani maupun Ibu Erna. Mereka seringkali diundang sebagai
narasumber untuk melatih dan mengajarkan pengolahan sampah menjadi produk kerajinan tangan berkat
kepiawaiannya dalam mengolah sampah.

Bros produk Ibu Juju terbuat dari sampah plastik

Kerajinan tangan dibuat oleh Ibu Ani

Tas dari kemasan bekas oleh Ibu Erna

C. Memanfaatkan sampah menjadi sumber bahan bakar alternatif


Briket arang dari sampah organik dapat dihasilkan melalui proses pembakaran dedaunan dan bahan organik lain
dengan menggunakan drum. Arang dari hasil pembakaran nantinya dibentuk dengan tepung kanji agar menyatu
dan dicetak dengan menggunakan seng berbentuk silinder. Tidak hanya sampah organik, sampah anorganik
yang berasal dari kantong plastik dan botol plastik dapat diolah menjadi sumber bahan bakar alternatif. Hal
tersebut telah dilakukan oleh sebuah perusahaan di Niagara Falls, New York, Amerika Serikat. Perusahaan
tersebut berhasil mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif dengan menggunakan katalis yang
dipatenkan untuk menguapkan cairan kental dan mengurai plastik menjadi unsur-unsur paling dasar. Dari proses
penguapan dan penguraian tersebut mampu menghasilkan sekitar 86 persen bahan bakar alternatif.

Pembuatan pupuk, aksesoris dari sampah serta bahan bakar alternatif ini dapat menjadi salah satu sumber
energi, menambah pemasukan sekaligus menjadi solusi dalam rangka mengurangi jumlah sampah yang terus
meningkat.
1.

2.

3.
4.
5.
6.

7.

unakanlah Green Product yang ramah lingkungan, aman dikonsumsi, aman bagi kesehatan
dan lingkungan. Green product adalah barang-barang yang menggunakan material ramah
lingkungan, bisa didaur ulang, dan menggunakan manajemen pengelolaan sampah yang baik.
Kemasan ramah lingkungan ini biasa disebut dengan sustainable packaging.
Untuk mengurangi sampah plastik (Reduce), kita dapat menggunakan tas berbahan kain
yang dapat dipakai berkali-kali atau jika memang ingin menggunakan plastik maka gunakanlah
plastik biodegradable yang dapat terurai dengan sendirinya.
Gunakan kembali (Reuse) sampah anorganik yang masih layak untuk digunakan, misalnya
digunakan sebagai wadah tanaman
Pisahkan sampah organik dengan anorganik. Lakukan pengolahan lebih lanjut menjadi
produk yang bermanfaat (Recycle), contohnya membuat kerajinan tangan dari plastik
Tanamkan rasa mencintai lingkungan sejak dini kepada anak-anak dengan melakukan
penanaman dan pemeliharaan lingkungan di sekitar mereka
Lakukan gerakan secara bersama-sama minimal pada lingkup yang kecil terlebih dahulu
agar menjadi contoh bagi masyarakat yang lainnya. misalnya kerja bakti bersama-sama
membersihkan lingkungan di tingkat RT
Tulis dan sebarkan semangat untuk mencintai lingkungan melalui blog, surat kabar,
majalah, forum diskusi, komunitas dan melalui apapun yang kita bisa agar dapat menginspirasi
serta pengingat bagi yang lainnya