Anda di halaman 1dari 12

Perbandingan Daya Ikat Pati Kimpul ( Xanthosoma Sagittifolium L.

Schott )
Alami dan Termodifikasi Terhadap Mutu Fisik Tablet Parasetamol

Endang Susilowati* , Sang Ayu Kompiang Artiningsih


Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Alamat korespondensi*: etha_susil@yahoo.co.id

ABSTRAK
Pemanfaatan umbi kimpul masih sangat terbatas padahal mengandung pati cukup
tinggi yakni 70,73% dengan komposisi amilosa 18,18% dan amilopektin 81,82% (Stif Ridal,
2003). Pati adalah polimer glukosa dengan ikatan -glikosidik. Kandungan amilopektin
dalam pati bersifat lebih lekat dan cenderung membentuk gel bila disuspensikan dengan air
sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengikat tablet. Penelitian ini bertujuan mengetahui
daya ikat pati kimpul pada tablet parasetamol sekaligus membandingkan pati kimpul bentuk
alami dan termodifikasi terhadap mutu fisik tablet. Rancangan penelitian menggunakan
pendekatan eksperimen, dibuat dua formula tablet parasetamol yang berbeda pada bahan
pengikat. Formula I menggunakan pengikat pati kimpul alami dan formula II pati kimpul
termodifikasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Tablet Akademi Farmasi Putra Indonesia
Malang, bulan Mei-Juli 2011. Perbedaan mutu fisik tablet dianalisis dengan statistik uji t.
Hasil penelitian menunjukkan kedua formula memenuhi syarat mutu fisik tablet. Hasil uji
statistik menunjukkan nilai t hitung pada keseragaman bobot, kekerasan dan kerapuhan tablet
lebih kecil dari t tabel. Disimpulkan tidak ada perbedaan secara bermakna keseragaman
bobot, kekerasan dan kerapuhan antara kedua formula. Pada waktu hancur nilai t hitung lebih
besar dari t tabel sehingga disimpulkan waktu hancur tablet kedua formula berbeda bermakna
yaitu waktu hancur tablet formula I lebih cepat dibanding formula II.
Kata kunci: pati kimpul, bahan pengikat, mutu fisik

Pendahuluan
Di Indonesia berbagai tanaman dapat tumbuh dengan subur termasuk tanaman umbiumbian seperti ketela pohon, sagu, garut, sukun dan kimpul. Umbi-umbian sebenarnya
mempunyai banyak potensi antara lain sebagai (1) bahan pangan pengganti beras, (2) produk
olahan makanan seperti keripik, gethuk dan makanan bayi, (3) bahan pemutih kulit pada
produk-produk kosmetik, dan (4) bahan tambahan pada produk farmasi yakni sebagai bahan
pengisi, pengikat dan penghancur tablet.
Salah satu umbi minor yang berpotensi dikembangkan adalah umbi kimpul. Umbi
kimpul mempunyai nama latin Xanthosoma sagittifolium L. Schott, termasuk famili Araceae.
Kimpul adalah umbi sejenis talas, umbinya berlendir dan rasanya tidak seenak talas.
(Gunawan, Didik. 2004)
Kelebihan kimpul dibandingkan dengan jenis umbi lain adalah jumlah dan berat umbi
yang lebih banyak, perawatannya mudah, dan mempunyai kandungan pati yang tinggi.
Meskipun

perawatannya

mudah,

petani

jarang

membudidayakannya

karena

nilai

ekonomisnya yang sangat rendah. Hingga saat ini pemanfaatan kimpul hanya sebagai bahan
baku pembuatan berbagai produk pangan seperti getuk, keripik, perkedel dan produk olahan
lainnya. Sebenarnya umbi kimpul yang kaya karbohidrat ini, berpotensi sebagai subsitusi
terigu dan beras atau sebagai diversifikasi bahan pangan, bahan baku industri kertas dan
tekstil. Penelitian oleh Stif Ridal (2003), menyatakan umbi kimpul mempunyai kandungan
pati sebesar 70,73% yang terdiri dari kandungan amilosa 18,18 % dan amilopektin 81,82 %.
Pati atau amilum merupakan campuran dua macam struktur polisakarida yang berbeda
yaitu amilosa dan amilopektin, merupakan polimer glukosa dengan ikatan -glikosidik.
Amilosa mempunyai stuktur lurus, terdiri 250 sampai 300 unit D-glukopiranosa yang
tersusun dalam ikatan -1,4 glukosa. Amilopektin terdiri dari 1000 unit glukosa yang
tersusun dalam ikatan -1,4 glikosida dan ikatan -glukosida yang terjadi pada titik cabang
(tiap 25 unit glukosa). Rasio antara amilosa dan amilopektin akan mempengaruhi sifat-sifat
pati itu sendiri. Apabila kadar amilosa lebih tinggi maka pati akan bersifat kering, kurang
lekat dan cenderung menyerap air lebih banyak. Sedangkan sifat dari amilopektin adalah
dalam bentuk pasta menunjukkan kenampakan yang sangat jernih, memiliki daya pemekat
yang tinggi, sifat pasta tidak cepat pecah atau rusak.
Kedua fraksi tersebut dapat dibedakan berdasarkan reaksinya terhadap larutan yodium,
dimana amilosa memberikan warna biru ungu sedangkan amilopektin warna merah ungu
(Kusnandar, 2010). Salah satu kandungan senyawa pati yaitu amilopektin, bersifat lebih lekat

dan cenderung membentuk gel apabila disuspensikan dengan air sehingga dapat digunakan
sebagai bahan pengikat tablet. Kandungan pati dalam umbi kimpul hampir sama dengan
singkong, sekitar 72,5-81% dengan komposisi 17% amilosa dan 83% amilopektin
(http//www.scribd.com/doc/3404630-karbohidrat).

Dengan

komposisi

amilosa

dan

amilopektin yang hampir sama, diduga pati kimpul dapat berfungsi sebagai bahan pengikat
tablet yang baik, seperti halnya pati singkong.
Terdapat dua jenis pati yang sering digunakan di industri farmasi yaitu pati alami dan
pati modifikasi. Pati alami adalah pati asli yang belum diolah secara kimia fisika, pada
dasarnya memiliki keterbatasan pada sifat-sifat fisiknya antara lain mempunyai sifat alir dan
kompresibilitas yang kurang baik. Pati alami banyak digunakan di industri farmasi sebagai
bahan pengisi (filler) dan pengikat (binder) dalam pembuatan tablet, pil dan kapsul.
(Rismana, 2006). Pati termodifikasi adalah pati yang diberi perlakuan tertentu, bertujuan
untuk menghasilkan sifat fisik pati yang lebih baik. Penelitian oleh Boesro Soebagyo dkk
tahun 2008, membuktikan bahwa pati biji nangka termodifikasi mempunyai sifat alir dan
kompresibilitas yang lebih baik daripada pati nangka alami.
Mengingat potensi yang ada pada umbi tersebut perlu dilakukan penelitian yang
bertujuan mengetahui kemampuan pati kimpul baik dalam bentuk alami maupun
termodifikasi sebagai bahan pengikat tablet. Apakah terdapat perbedaan pada mutu fisik
tablet yang dibuat dengan bahan pengikat pati kimpul alami dan pati kimpul termodifikasi.

Metode Penelitian
Rancangan penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen. Bahan aktif yang digunakan sebagai
model adalah parasetamol. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dengan
pertimbangan parasetamol stabil pada pemanasan dan tidak terurai dengan adanya air. Selain
itu metode granulasi basah dapat meningkatkan kohesivitas dan kompresibilitas serbuk.
Untuk menentukan konsentrasi pati kimpul sebagai bahan pengikat dilakukan orientasi pada
beberapa konsentrasi dengan rentang 5% - 25% (Handbook Pharmaceutical of Excipient).
Hasil orientasi menunjukkan konsentrasi pati kimpul terkecil yang menghasilkan tablet
dengan mutu fisik baik adalah 10%.
Tablet parasetamol dibuat dua macam formula yaitu formula I, tablet dengan pengikat
pati kimpul alami dan formula II, tablet dengan pengikat pati kimpul termodifikasi dengan
konsentrasi masing-masing 10%. Analisis terhadap kemampuan daya ikat pati kimpul diukur

berdasarkan mutu fisik tablet meliputi (1) keseragaman bobot, (2) kekerasan, (3) kerapuhan,
dan (4) waktu hancur. Perbedaan mutu fisik kedua formula dianalisis dengan statistik uji t.

Populasi dan sampel


Populasi penelitian adalah umbi kimpul (Xanthosoma Sagittifolium Schott), sampel
adalah umbi kimpul yang diambil dari Kabupaten Bangle-Bali dengan jumlah 3 kg.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat: Neraca digital, alat-alat gelas, ayakan mesh, mesin cetak tablet, jangka sorong,
hardness tester, friabilator, disintegrator, spektrofotometri UV Shimazdzu.
Bahan: Umbi kimpul yang diperoleh dari Kabupaten Bangli-Bali, parasetamol, pati
kentang, magnesium stearat, talk, laktosum, HCl, NaCl, etanol, aquadest.

Tahapan Kerja
Pembuatan Pati
Umbi kimpul dikupas, dicuci dan dipotong- potong. Ditambahkan air 2 kali berat
umbi kemudian diblender sampai membentuk suspensi, dan disaring/diperas. Filtrat
ditampung, didiamkan selama 24 jam. Cairan supernatan dibuang, endapannya dikeringkan
dalam oven pada suhu 40-500C selama 24 jam. Pati yang sudah kering diayak dengan mesh
100, ditimbang dan dicatat beratnya.
Proses Modifikasi Pati Kimpul dengan Metode Hidrolisis Asam (Soebagyo, 2008)
Pati ditambah air dengan perbandingan 1:20, kemudian ditambah HCl 2N sampai
tercapai pH 2. Campuran tersebut dipanaskan suhu 55 0C selama 3 jam, selanjutnya
dinetralkan dengan NaOH 2 N dan etanol 80% dengan perbandingan 1:2 dan disaring dengan
bantuan pompa vakum. Residu dikeringkan di oven pada suhu 500C selama 24 jam, setelah
kering di ayak dengan ayakan mesh 100.
Identifikasi PatiIdentifikasi pati meliputi : (1) Uji organoleptis : bentuk, bau dan
warna dari pati (2) uji mikroskopis untuk mengamati spesifikasi bentuk amilum.

Penetapan Kadar Amilosa


Penetapan kadar amilosa dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri.
Kadar amilopektin ditentukan dari pengurangan kadar pati keseluruhan yang dianggap 100%
dengan kadar amilosa.
Rancangan Formula
Tablet parasetamol dibuat dengan rancangan formula seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Formula Tablet
BAHAN

FORMULA
I (Pati Alami)

II (Pati Termodifikasi)

250 mg

250 mg

10%

10%

Talk (Glidan)

3%

3%

Mg Stearat (Lubrikan)

1%

1%

Pati Kentang (Penghancur)

5%

5%

ad 500 mg

ad 500 mg

Parasetamol (Bahan Aktif)


Pati kimpul alami (Pengikat)
Pati kimpul termodifikasi
(Pengikat)

Laktosa (Pengisi)

Pembuatan Tablet
Dibuat mucilago pati kimpul. Parasetamol, laktosa dan setengah bagian amilum
solani digerus sampai homogen. Ditambahkan mucilago, digerus hingga terbentuk masa yang
lembab. Dibuat granul dengan ayakan mesh 12, selanjutnya granul basah dioven pada suhu
40-60 0C selama 3 jam. Granul kering diayak lagi dengan ayakan mesh 14. Ditambahkan
setengah bagian amilum solani, talk, magnesium stearat, dan diaduk sampai homogen.

Pengujian Kualitas Granul


Sebelum dicetak, mutu fisik granul perlu dievaluasi untuk mengetahui kelayakannya
untuk dapat dicetak. Kualitas granul diuji dengan parameter: waktu alir, kelembaban, dan
kompresibilitas.

Evaluasi Mutu Fisik Tablet


Tablet dari dua formula yang dibandingkan diuji mutu fisiknya, meliputi:
1) Uji Keseragaman Bobot
Memenuhi syarat bila tidak lebih dari dua tablet yang mempunyai penyimpangan lebih
besar dari kolom A dan tidak boleh ada satu tablet pun yang mempunyai penyimpangan
bobot lebih besar dari kolom B. (Farmakope Indonesia, 1979:6)
2) Uji Kekerasan
Memenuhi syarat bila memiliki kekerasan 4 8 kg/cm 3 (Ansel, 1089:255)
3) Uji Fribilitas
Memenuhi sarat bila mempunyai friabilitas tidak lebih dari 0,8 % (Lachman, 1989)
4) Uji Waktu Hancur
Tablet tidak bersalut dikatakan memenuhi syarat waktu hancur jika tidak lebih dari 15
menit (Farmakope Indonesia, 1995)

Analisis Data
Parameter mutu fisik tablet dari kedua formula selanjutnya dianalisis perbedaannya
dengan statistik uji t.

Hasil Penelitian
Rendemen pati diperoleh sebanyak 362,5 g dari bobot umbi kimpul seberat 3000 g,
atau sebesar 12, 08%. Hasil uji kualitatif pati disajikan pada tabel berikut:
Tabel 3. Hasil pemgamatan Pati Kimpul Alami dan Termodifikasi
Pemeriksaan
1. Organoleptis

Pengamatan
Pati alami
Pati termodifikasi
Serbuk putih, tidak berbau dan Serbuk putih kekuningan,
tidak berasa
tidak berbau, tidak berasa

2. Mikrokopis

Bentuk bulat terdapat hilus di Bentuk bulatan dengan hilus


dalamnya
pati terlihat pecah

3. Kadar amilosa

33,9%

33,1%

Berdasarkan pengujian mutu fisik granul, diperoleh data sebagai berikut:


Tabel 4. Mutu Fisik Granul
Pengujian

Formula I

Formula II

4,9

4,9

Uji sudut baring ( )

30,6

20,9

Uji kompresibilitas (%)

15,3

10,2

1,3

1,4

Waktu alir (detik)


0

Uji kelembaban (%)

Tabel diatas menunjukkan bahwa mutu fisik granul kedua formula memenuhi
persyaratan, yaitu untuk waktu alir kurang dari 5 detik, kompresibilitas termasuk kategori
baik sekali, sudut baring baik, dan kelembaban dibawah 2%.
Hasil pengujian mutu fisik tablet disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4. Mutu Fisik Tablet
Pengujian

Formula I

Formula II

Kekerasan (kg)

5,5

6,0

Kerapuhan (%)

0,7

0,6

Waktu hancur (menit)

5,4

6,3

537,2

539,5

Keseragaman bobot (mg)

Tabel diatas menunjukkan bahwa mutu fisik tablet parasetamol dengan pengikat pati
alami maupun pati termodifikasi memenuhi persyaratan uji mutu fisik yakni: kekerasan tablet
berada pada rentang 4-8 Kg, kerapuhan tablet kurang dari 0,8%, waktu hancur tablet kurang
dari 15 menit, dan keseragaman bobot memenuhi kriteria sesuai Farmakope Indonesia.

Analisis Statistik
Hasil uji statistik pada parameter keseragaman bobot tablet, pada = 0,05 dan df = 4
diketahui t hitung = 1,917 lebih kecil dari t tabel = 4, 604. Maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Disimpulkan tidak ada perbedaan secara bermakna keseragaman bobot antara kedua formula.

Hasil uji statistik pada parameter kekerasan tablet, pada = 0,05 dan df = 4 diketahui t
hitung = 2,651 lebih kecil dari t tabel= 4, 604, maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Disimpulkan tidak ada perbedaan secara bermakna kekerasan tablet antara kedua formula.
Hasil uji statistik pada parameter kerapuhan tablet, pada = 0,05 dan df = 4 diketahui t
hitung = 0,699 lebih kecil dari t tabel= 4, 604. Maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Disimpulkan tidak ada perbedaan secara bermakna kerapuhan tablet antara kedua formula.
Hasil uji statistik pada parameter waktu hancur tablet, pada = 0,05 dan df = 4 diketahui
t hitung= 11,023 lebih besar dari t tabel= 4, 604, maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Disimpulkan ada perbedaan secara bermakna waktu hancur tablet parasetamol kedua
formula, yaitu tablet dengan pengikat pati kimpul alami memiliki waktu hancur lebih cepat
dibanding pati kimpul termodifikasi.

Pembahasan
Hasil uji organoleptis menunjukkan perbedaan warna pada kedua pati yaitu pati
kimpul alami berwarna putih bersih, sedangkan pati kimpul termodifikasi berwarna putih
kekuningan. Perubahan ini disebabkan adanya penambahan asam dan pemanasan saat proses
hidrolisis menyebabkan perubahan warna pati termodifikasi menjadi lebih buram dan
kekuningan. Data mikrokopis menunjukkan pati alami berbentuk bulat dan terdapat hilus
yang tampak jelas, sedangkan pati termodifikasi berbentuk bulat, bagian hilus tampak
mengalami kerusakan berupa keretakan/pecah pada bagian tengahnya. Hal ini terjadi akibat
reaksi hidrolisis menyebabkan pecahnya bagian-bagian dari pati.
Kadar amilosa pada pati alami diperoleh 33,9%, lebih besar dibanding pati
termodifikasi, 33,1%. Penurunan kadar amilosa pada pati termodifikasi disebabkan adanya
penambahan asam pada proses modifikasi pati menyebabkan terputusnya ikatan glikosida
pada rantai amilosa, dimana rantai tersebut lebih mudah dimasuki air. Hasil pemutusan
tersebut kenudian bergabung kembali membentuk struktur amilopektin sehingga kadar
amilopektin meningkat, dan sebaliknya kadar amilosa turun. Perhitungan kadar amilopektin
berdasarkan asumsi bahwa pati mengandung hampir 100% amilosa dan amilopektin,
sehingga dihitung kadar amilopektin pada pati alami 66,1% dan pati termodifikasi 66,7%.
Persentase amilosa dan amilopektin pati umbi kimpul dalam hal ini ternyata berbeda dari
penelitian yang dilakukan oleh Stif Ridal sebelumnya. Hal ini diduga akibat perbedaan pada
iklim dan kesuburan tanah dari tempat tumbuh dapat mempengaruhi kualitas dan kadar pati
dalam umbi.

Keseragaman bobot tablet menunjukkan kedua formula memenuhi persyaratan


Farmakope Indonesia, yaitu tidak lebih dari dua tablet yang mempunyai penyimpangan lebih
besar dari 5% dan tidak boleh ada satu tablet pun yang mempunyai penyimpangan bobot
lebih besar dari 10% dari bobot rata-rata. Keseragaman bobot dipengaruhi oleh baik tidaknya
sifat alir granul. Sifat alir yang baik menyebabkan volume bahan yang masuk kedalam die
akan seragam sehingga penyimpangan bobot yang dihasilkan relatif kecil. Hasil uji statistik
menyatakan bahwa tidak ada perbedaan secara bermakna antara rata-rata keseragaman bobot
tablet yang menggunakan pengikat pati alami dengan tablet yang menggunakan pengikat pati
termodifikasi.
Kekerasan tablet kedua formula berturut-berturut adalah 5,5 kg dan 5,9 kg. Kedua
formula memenuhi persyaratan karena memiliki kekerasan pada rentang antara 4 kg 8 kg
(Ansel, 1089:255). Pati termodifikasi mempunyai kekerasan lebih besar dari pati alami
disebabkan kandungan amilopektinnya lebih besar dibanding pati alami. Diketahui bahwa
amilopektin mempunyai sifat daya rekat yang tinggi sehingga tablet menjadi lebih keras.
Parameter kekerasan berperan pada ketahanan tablet saat pengemasan dan pengangkutan.
Bila kekerasan kurang dari 4 kg dikhawatirkan tablet akan pecah pada saat dikemas. Akan
tetapi tablet juga tidak boleh terlalu keras, sebab akan memperlambat waktu hancur tablet
dalam saluran pencernaan. Hasil uji statistik menyatakan tidak ada perbedaan bermakna
kekerasan tablet yang menggunakan pengikat pati kimpul alami dengan tablet yang
menggunakan pengikat pati kimpul termodifikasi.
Kerapuhan tablet dengan pengikat pati kimpul alami sebesar 0,7% dan pati
termodifikasi sebesar 0,6%. Kerapuhan tablet dengan pengkat pati alami lebih besar
dibanding pati termodifikasi, disebabkan kandungan amilosa yang lebih tinggi menyebabkan
pati menjadi lebih kering dan kurang lekat, sehingga tablet yang dihasilkan lebih rapuh.
Namun demikian, kedua formula memenuhi syarat uji kerapuhan yaitu kurang dari 0,8%. Uji
kerapuhan menjadi parameter penting karena berkaitan dengan keutuhan tablet sampai ke
tangan konsumen. Selama proses transportasi tablet akan mengalami benturan-benturan
sehingga bila rapuh dan kemungkinan menjadi tidak utuh lagi ketika sampai ke tangan
konsumen. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna kerapuhan tablet
antara yang menggunakan pengikat pati kimpul alami dengan tablet yang menggunakan
pengikat pati termodifikasi.
Hasil uji waktu hancur tablet diperoleh rata-rata 5,4 menit untuk tablet dengan
pengikat pati alami

dan 6,3 menit dengan pati termodifikasi. Farmakope Indonesia

menyatakan bahwa untuk uji waktu hancur yang diperlukan tablet tidak lebih dari 15 menit
untuk tablet tidak bersalut, dan 60 menit untuk tablet bersalut selaput dan bersalut gula.
Kedua formula memenuhi syarat waktu hancur, dengan perbedaan pada formula I
mempunyai waktu hancur yang lebih cepat dibanding tablet formula II. Uji waktu hancur
perlu dilakukan karena berkaitan dengan kecepatan obat untuk hancur setelah diminum
pasien sehingga tablet dapat melepaskan zat khasiatnya secara cepat. Analisis statistik
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada waktu hancur tablet antara kedua
formula, formula I dengan pengikat pati kimpul alami memiliki waktu hancur lebih cepat
dibanding formula II. Hal ini dapat terjadi karena pati kimpul alami memiliki kandungan
amilosa lebih tinggi dibanding pati termodifikasi. Sifat amilosa yang lebih mudah larut air
menyebabkan dapat mengikat air lebih banyak, ikatan antar partikel dalam tablet mudah lepas
sehingga tablet lebih cepat hancur. Sebaliknya pada tablet dengan pengikat pati termodifikasi
kandungan amilosa lebih sedikit sehingga tidak dapat mengikat air lebih banyak dan tablet
hancur dengan waktu lebih lama.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pati kimpul alami
dan termodifikasi pada dasarnya dapat digunakan sebagai bahan pengikat tablet dengan mutu
fisik sesuai persyaratan Farmakope Indonesia. Dengan demikian diharapkan pati kimpul
dapat diaplikasikan di industri farmasi sebagai inovasi penggunaan bahan pengikat tablet
khususnya yang berasal dari alam, dengan harga yang relatif murah.

Kesimpulan
1.

Pati kimpul alami dan termodifikasi dapat digunakan sebagai bahan pengikat
tablet dengan mutu fisik sesuai persyaratan Farmakope Indonesia.

2.

Tidak ada perbedaan secara bermakna pada keseragaman bobot, kekerasan dan
kerapuhan tablet parasetamol antara yang menggunakan pengikat pati kimpul
alami dan pati kimpul termodifikasi .

3.

Terdapat perbedaan secara bermakna waktu hancur tablet parasetamol antara


yang menggunakan pengikat pati kimpul alami dan termodifikasi. Tablet dengan
pengikat pati kimpul alami memiliki waktu hancur lebih cepat dibanding pati
kimpul termodifikasi.

10

Pustaka
Anggarwulan, E., dkk, 2008, Karakter Fisiologi Kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.)
Schott) pada Variasi Naungan dan Ketersediaan Air . Jurnal Penelitian : No. 4/Vol. 9
Ansel, H.C.,1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi 4, Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta
Boylan, James C.,et al. 1986, Handbook of Pharmacetuical Excipient, New jersey:
Merck&Co
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope Indonesia Ed IV, Depkes RI,
Jakarta
Gunawan, Didik., 2004. Ilmu Obat Alam Farmakognasi I.
Komoditas Sumber Karbohidrat, http//www.scribd.com/doc/3404630-karbohidrat, (Diakses
tanggal 7 Desember 2010)
Kusnandar, F., .2010. Kimia Pangan Komponen Makro Seri I. Jakarta : Dian Rakyat.
Lachman, Leon, Herbert A. Lieberman dan Joseph L. Kaning. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Edisi Ketiga. Terjemahan oleh Siti Suyatmi. 1994. Jakarta : Universitas Indonesia
Press
Rahman, A.M., 2007, Mempelajari Karakteristik Kimia dan Fisika Tepung Tapioka dan
Mocal (Modified Cassava Flour) Sebagai Penyalut Kacang Pada Produk Kacang Salut,
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Ridal, S., 2003, Karakterisasi Sifat Fisiko-Kimia Tepung dan Pati Talas (Colocasia esculenta)
dan Kimpul (Xanthosoma sp) dan Uji Penerimaan alfa-amilase terhadap Patinya, Skripsi, IPB
Bogor.
Rismana, E., 2006, Modifikasi Pati untuk Farmasi, http://www.pikiranrakyat.
com/cetak/0504/06/cakrawala/ lainnya03.htm. [Diakses tanggal 15 Desember 2010)
Soebagio, B., dkk, 2008, Pengujian Sifat Fisikokimia Pati Biji Durian (Durio Zibethinus
Murr) Alam dan Modifikasi Secara Hidrolisis Asam, Jurnal Penelitian, Universitas Pajajaran
Voigt,R., 1995, Teknologi Farmasi Industri, UI Press, Jakarta

11

12