Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil
metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo atau
hemato yang berasal dari bahasa Yunanihaima yang berarti darah.Pada serangga,
darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran
oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluransaluran yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh. Darah
serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa
metabolisme.Pada hewan lain, fungsi utama darah ialah mengangkut oksigen
dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam darah terkandung
hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak
bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung
meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut
secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif
dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata.
Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh
hewan crustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna
hijau muda, biru, atau kuning oranye).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Darah manusia ?
2. Apa isi dari komposisi darah?
3. Apa yang dimaksud golongan Darah?
4. Apa yang dimaksud dengan Transfusi darah?
5. Bagaimana cara mengetahui Golongan Darah?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang Darah manusia.
2. Untuk mengetahui komposisi Darah.
3. Untuk mengetahui pengertian Golongan Darah.
4. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan Golongan Darah.

1.4 Manfaat Penelitian


Mengetahui lebih dalam mengenai darah manusia serta penetuan golongan
darah.
1.5 Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah:
A.
-

Merumuskan operasional variabel.


Variabel bebas: Darah dari masing-masing anggota keluarga.
Variable kontrol: Pencampuran darah dengan serum anti A dan serum anti B.
Variable terikat: Menggumpal atau tidaknya darah setelah dicampur dengan
kedua serum tersebut.

B.
a.
1.
2.
3.
4.

Menentukan alat dan bahan.


Alat
Slide
Blood Lanset (alat penusuk)
Kapas
Pengaduk

b. Bahan
1. 3 Reagen (A, B dan Rh)
2. Alkohol 70%
3. Tissue
C. Prosedur Kerja
1. Membersihkan ujung jari tengahnya dengan kapas yang dibasahi dengan
alkohol 70%.
2. Kemudian menggunakan Blood Lanset pada ujung jari tengahnya. memijat
ujung jari agar darah mudah keluar, kemudian meneteskan darah yang keluar
pada slide yaitu pada (A) dan pada (B) dan (Rh)
3. Apabila darah sudah diteteskan, membersihkan ujung jari dengan alkohol
70% lagi, agar tidak terkena infeksi.
Memberi setetes serum anti A pada darah di ujung A dan serum anti B

4.

pada darah di ujung B dan serum anti Rh pada daerah Rh


5. Mengaduk tetesan darah yang telah ditetesi serum dengan adukan.
6. Mengamati hasilnya, apakah terjadi penggumpalan darah atau tidak.
Menentukan golongan darah berdasarkan keterangan berikut, apabila:

1)

Darah di A menggumpal, sedangkan di B tidak, maka termasuk

2)

golongan darah A.
Darah di A tidak menggumpal dan di B menggumpal, maka

termasuk golongan darah B .


3)
Darah di A dan di B menggumpal maka termasuk golongan darah
AB .
4)
5)
6)
7.
8.

Darah di A, B, maka termasuk golongan darah O (nol).


Darah di Rh menggumpal Rh + .
Darah di Rh tidak menggumpal Rh -.
Mencatat hasilnya.
Membersihkan tangan kembali dengan alkohol.

BABII
PEMBAHASAN
2.1 Darah Manusia
Darah manusia adalah cairan di dalam tubuh yangberfungsi untuk
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga
menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme,
dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan
mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.Hormon-hormon dari sistem
endokrin juga diedarkan melalui darah.Darah manusia berwarna merah, antara
merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan
oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein
pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme,
yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.Manusia memiliki

sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh
darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju
paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan
menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke
jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh
oleh saluran pembuluh darah aorta. Darah membawa oksigen ke seluruh tubuh
melalui saluran halus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian
kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava
inferior.Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan
bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan dibawa ke ginjal untuk dibuang
sebagai air seni.
2.2 Komposisi
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45%
bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel
darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55%
yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang
disebut plasma darah.Darah kita mengandung beberapa jenis sel yang terangkut
di dalam cairan kuning yang disebut plasma darah. Plasma darah tersusun atas
90% air yang mengandung sari makanan, protein, hormon, dan endapan kotoran
selain sel-sel darah.
Ada tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel darah merah dan sel darah putih
disebut juga korpuskula.

Korpuskula darah terdiri dari:

Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).


Sel darah merah berbentuk piringan pipih yang menyerupai donat. 45%
darah tersusun atas sel darah merah yang dihasilkan di sumsum tulang. Dalam
setiap 1 cm kubik darah terdapat 5,5 juta sel. Jumlah sel darah merah yang
diproduksi setiap hari mencapai 200.000 biliun, rata-rata umurnya hanya 120
hari. Semakin tua semakin rapuh, kehilangan bentuk, dan ukurannya menyusut
menjadi sepertiga ukuran mula-mula.Sel darah merah mengandung hemoglobin
yang kaya akan zat besi. Warnanya yang merah cerah disebabkan oleh oksigen
yang diserap dari paru-paru. Pada saat darah mengalir ke seluruh tubuh,
hemoglobin melepaskan oksigen ke sel dan mengikat karbon dioksida.Sel darah
merah yang tua akhirnya akan pecah menjadi partikel-partikel kecil di dalam hati
dan limpa. Sebagian besar sel yang tua dihancurkan oleh limpa dan yang lolos

dihancurkan oleh hati. Hati menyimpan kandungan zat besi dari hemoglobin
yang kemudian diangkut oleh darah ke sumsum tulang untuk membentuk sel
darah merah yang baru.Persediaan sel darah merah di dalam tubuh diperbarui
setiap empat bulan sekali.Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun
organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung
hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam
penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit akan menderita
penyakit anemia.

Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)


Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.

Sel darah putih atau leukosit (0,2%)

Sel darah putih jauh lebih besar daripada sel darah merah. Jumlahnya
dalam setiap 1 cm kubik darah adalah 4.000 sampai 10.000 sel. Tidak seperti sel
darah merah, sel darah putih memiliki inti (nukleus). Sebagian besar sel darah
putih bisa bergerak di dalam aliran darah, membuatnya dapat melaksanakan
tugas sebagai sistem ketahanan tubuh. Leukosit bertanggung jawab terhadap
sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang
dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit
bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan
leukosit akan menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan
leukosit akan menderita penyakit leukopenia. Sel darah putih adalah bagian dari
sistem ketahanan tubuh yang terpenting. Sel darah putih yang terbanyak adalah
neutrofil ( 60%). Tugasnya adalah memerangi bakteri pembawa penyakit yang
memasuki tubuh. Mula-mula bakteri dikepung, lalu butir-butir di dalam sel
segera melepaskan zat kimia untuk menghancurkan dan mencegah bakteri
berkembang biak.
Sel darah putih mengandung 5% eosinofil. Fungsinya adalah
memerangi bakteri, mengatur pelepasan zat kimia saat pertempuran, dan
membuang sisa-sisa sel yang rusak.Basofil, yang menyususn 1% sel darah putih,
melepaskan zat untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah di dalam
pembuluhnya.20 sampai 30% kandungan sel darah putih adalah limfosit.
Tugasnya adalah menghasilkan antibodi, suatu protein yang membantu tubuh
memerangi penyakit.Monosit bertugas mengepung bakteri. Kira-kira ada 5
sampai 10% di dalam sel darah putih. Tubuh mengatur banyaknya sel darah
putih yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan. Jika kita kehilangan darah,

tubuh akan segera membentuk sel-sel darah untuk menggantinya. Jika kita
mengalami infeksi, maka tubuh akan membentuk lebih banyak sel darah putih
untuk memeranginya.

Serum darah atau Plasma terdiri atas:


1
2.
4.

Air
: 91,0%
Protein
: 8,0% (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
3. Mineral :0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium,
fosfor,kalium dan zat besi,nitrogen, dll)
Garam
Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :

Albumin
Bahan pembeku darah
Immunoglobin (antibodi)
Hormon
Berbagai jenis protein
Berbagai jenis garam

2.3 Golongan Darah


Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu
berdasarkan ada atau tidak adanya zat antigenwarisan pada permukaan membran
sel darah merah. Hal ini disebapkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat
dan protein pada permukaan membran sel darah merah tersebut. Dua jenis
penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus
(faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain
antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari
golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis
yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan
antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan
antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi
terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan
golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan
golongan darah A-negatif atau O-negatif.

Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel


darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam

serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya


dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau Onegatif

Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan


antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A
maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat
menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan
disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah ABpositif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.

Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan
golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang
dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun,
orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari
sesama O-negatif.

Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di


dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan
darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B.
Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B,
golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia. Ilmuwan
Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang
Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara
penggolongan darah ABO.
D.
Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia
tergantung populasi atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi
golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda.
Populasi
Suku pribumi Amerika
Selatan
Orang Vietnam
Suku Aborigin di Australia
Orang Jerman
Suku Bengalis
Suku Saami

AB

100%

45.0
%
44.4
%
42.8
%
22.0
%
18.2
%

21.4
%
55.6
%
41.9
%
24.0
%
54.6
%

29.1
%

4.5%

11.0%

4.2%

38.2
%

15.7
%
12.4
%

4.8%

Rhesus
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan
memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet
jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl
Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah
merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada
permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis
penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan
darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu
golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi
dengan golongan darah B.
Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan.
Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan
produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal
ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan
karena faktor Rh dapat memengaruhi janin pada saat kehamilan.

Prinsip pemeriksaan golongan darah sistem rhesus :


1.Antigen lain yang penting dalam darah adalah faktor Rh. Prinsip dalam
pemeriksaan darah sistem Rh, ketika Rh (+) dicampur dengan antibodi anti Rh,
akan terjadi aglutinasi.
2. Pada kehamilan ibu dengan Rh (-) dan ayah dengan Rh (+) yang menghasilkan
anak dengan Rh (+), sel darah merah Rh (+) anak akan masuk ke sistem
kardiovaskuler ibu melalui plasenta sehingga menyebabkan jaringan plasenta
hancur sebelum saat lahir.
3. Adanya antigen Rh menyebabkan ibu menghasilkan antibodi Rh, sehingga pada
kehamilan berikutnya antibodi ini akan menghancurkan sel darah merah anak, hal
ini disebut dengan penyakit himolisis pada bayi baru lahir. Kehancuran sel darah
merah akan menghasilkan bilirubin yang dapat menghancurkan otak dan
menyebabkan retardasi mental bahkan kematian.

Kecocokan Rhesus

DONOR

RESIPIEN
O-

O+

A-

A+

B-

B+

AB-

OO+
AA+
BB+
ABAB+

2.4 Transfusi Darah


Transfusi Darah adalah proses pemindahan darah dari donor yang
sehat kepada penderita. Individu atau orang yang menyumbangkan
darahnya, dengan tujuan untuk membantu yang lain khususnya yang
pada kondisi memerlukan suplai darah dari luar, karena sampai saat ini
darah belum bisa di sintesa sehingga ketika diperlukan harus diambil
seseorang/individu. Pada tahun 1900 Dr. Loustiner menemukan 4
macam golongan darah.
Selain itu tahun 1940 ditemukan golongan darah baru yaitu Rhesus
Faktor positif dan rhesus faktor negatif pada sel darah merah
(erythrocyt). Rhesus Faktor positif banyak terdapat pada orang Asia
dan Negatif Pada orang Eropah, Amerika, Australia.
Transfusi diberikan untuk:
- meningkatkan kemampuan darah dalam mengangkut
oksigen
- memperbaiki volume darah tubuh
- memperbaiki kekebalan
- memperbaiki masalah pembekuan
Tergantung kepada alasan dilakukannya transfusi, bisa diberikan darah
lengkap atau komponen darah (misalnya sel darah merah, trombosit,

AB+

faktor pembekuan, plasma segar yang dibekukan/bagian cairan dari


darah atau sel darah putih).
Jika memungkinkan, akan lebih baik jika transfusi yang diberikan hanya
terdiri dari komponen darah yang diperlukan oleh resipien.
Memberikan komponen tertentu lebih aman dan tidak boros.
Teknik penyaringan darah sekarang ini sudah jauh lebih baik, sehingga
transfusi lebih aman dibandingkan sebelumnya.
Tetapi masih ditemukan adanya resiko untuk resipien, seperti reaksi
Alergi dan infeksi.
Meskipun kemungkinan terkena AIDS atau Hepatitis melalui transfusi
sudah kecil, tetapi harus tetap waspada akan resiko ini dan sebaiknya
transfusi hanya dilakukan jika tidak ada pilihan lain.

B.1 Syarat-Syarat Transfusi Darah

Syarat-syarat seseorang yang dapat menjadi pendonor darah,yaitu:


1. Umur 17 60 tahun ( Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi
donor bila mendapat ijin tertulis dari orangtua. Sampai usia tahun
donor masih dapat menyumbangkan darahnya dengan jarak
penyumbangan 3 bulan atas pertimbangan dokter )
2.
3.

Berat badan 50 kg atau lebih


Temperatur tubuh : 36,6 - 37,5o C (oral

4.

Kadar Hemogblin 12,5 g/dl atau lebih

5.

Tekanan darah 120/140/80 100 mmHg

6.

Nadi 50-100/menit teratur

7.
Tidak berpenyakit jantung, hati, paru-paru, ginjal, kencing manis,
penyakit perdarahan, kejang, kanker, penyakit kulit kronis.
8.

Tidak hamil, menyusui, menstruasi (bagi wanita)

9.

Bagi donor tetap, penyumbangan 5 (lima) kali setahun.

10.

Kulit lengan donor sehat.

11. Tidak menerima transfusi darah/komponen darah 6 bulan terakhir.


12. Tidak menderita penyakit infeksi ; malaria, hepatitis, HIV/AIDS.

10

13. Bukan pencandu alkohol/narkoba


14. Tidak mendapat imunisasi dalam 2/4 bulan terakhir.
15. Beritahu Petugas bila makan aspirin dalam 3 hari terakhir.
16. Jumlah penyumbangan pertahun paling banyak 5 kali, dengan
jarak penyumbangan
sekurang-kurangnya 3 bulan. Keadaan ini
harus sesuai dengan keadaan umum donor.

Orang Yang Tidak Dapat Menjadi Pendonor

Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:


1.

Pernah menderita hepatitis B.

Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah kontak erat dengan penderita


hepatitis.
Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah transfusi.
Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah tattoo/tindik telinga.
Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi.
Dalam jangka wktu 6 bulan sesudah operasi kecil.
Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar.
Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, cholera,
tetanus dipteria atau profilaksis.
Dalam jangka waktu 2 minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis
epidemica, measles, tetanus toxin.
Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies
therapeutic.
Dalam jangka waktu 1 minggu sesudah gejala alergi menghilang.
Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah transpalantasi kulit.
Sedang hamil dan dalam jangka waktu 6 bulan sesudah persalinan.
Sedang menyusui.
Ketergantungan obat.

11

Alkoholisme akut dan kronik.


Sifilis.
Menderita tuberkulosa secara klinis.
Menderita epilepsi dan sering kejang.
Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh balik) yang akan
ditusuk.
Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya,
defisiensi G6PD, thalasemia, polibetemiavera.
Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai
resiko tinggi untuk mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis,
berganti-ganti pasangan seks, pemakai jarum suntik tidak steril).
Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan pada saat donor darah.

Manfaat Donor Darah

Dapat memeriksakan kesehatan secara berkala 3 bulan sekali seperti


tensi, Lab Uji Saring .(HIV, Hepatitis B, C, Sifilis dan Malaria).
Mendapatkan piagam penghargaan sesuai dengan jumlah
menyumbang darahnya antara lain 10, 25, 50, 75, 100 kali.
Donor darah 100 kali mendapat penghargaan Satya Lencana Kebaktian
Sosial dari Pemerintah.
Merupakan bagian dari ibadah.

Proses Transfusi Darah

1.

Pengisian Formulir Donor Darah.

2.

Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan golongan, tekanan darah dan hemoglobin darah.


3.

Pengambilan Darah

12

Apabila persyaratan pengambilan darah telah dipenuhi barulah


dilakukan pengambilan darah.
4.

Pengelolahan Darah

Beberapa usaha pencegahan yang di kerjakan oleh PMI sebelum darah


diberikan kepada penderita adalah penyaringan terhadap penyakit di
antaranya :
a.

Penyakit Hepatitis B

b.

Penyakit HIV/AIDS

c.

Penyakit Hipatitis C

d.

Penyakit Kelamin (VDRL)

Waktu yang di butuhkan pemeriksaan darah selama 1-2 jam


5.

Penyimpanan Darah

Darah disimpan dalam Blood Bank pada suhu 26 derajat celcius.


Darah ini dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen seperti :
PRC,Thrombocyt,Plasma,Cryo precipitat

Resipien

Donor
O

AB

O
A
B
AB
TABEL 2. Kecocokan Plasma

2.5 METODE PENELITIAN

13

a. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengetahui golongan darah seseorang
b. Pengumpulan Data Dasar
Hari / tanggal
: Selasa, 10 Desember 2013
Waktu
: 14.00 WIB
Tempat
: Kelas 1B Poltekkes Jurusan Keperawatan Bandung
Data Subjektif
Nama : Dymas Feisal Ramdhan
Umur : 18 tahun
c. Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

d.

Darah
Kertas Uji Golongan Darah
Blood Lanset (alat penusuk)
Kapas
Pengaduk/ tusuk gigi
Reagen anti A, anti B, anti AB dan anti Rh (D)
Alkohol 70 %

Prosedur Kerja

14

1) Memijat ujung jari tengah/manis tangan kiri, kemudian dibersihkan ujung


jari tersebut dengan kapas yang telah diberi alcohol 70%.
2) Menusuk ujung jari yang telah dibersihkan tadi dengan jarum lancet yang
steril hingga keluar darah. Kemudian teteskan drah drah yang keluar pada
objek glass di 4 tempat tempat seperti:
2
3

1
4

1) Menambahkan pada tetes


No 1 : satu tetes serum anti A
No 2 : satu tetes serum anti B
No 3 : satu tetes serum anti AB
No 4 : satu tetes serum anti Rh
1) Mengaduk masing-masing tetes dengan tusuk gigi yang berbeda untuk
menghindari kontaminasi.
2) Mengamati apa yang terjadi pada setiap tetes darah setelah masing-masing
ditambah dengan zat anti.
3) Memperhatikan bila:
a. Darah + zat anti A menggumpal, darah + zat anti B tidak
menggumpal , darah + anti AB menggumpal maka golongan darah
A.
b. Darah + zat anti A tidak menggumpal, darah + zat anti B
menggumpal, darah + anti AB menggumpal maka golongan darah
B.
c. Darah + zat anti A menggumpal, darah + zat anti B menggumpal,
darah + anti AB menggumpal maka golongan darah AB.
d. Darah + zat anti A tidak menggumpal, darah + zat anti B tidak
menggumpal, darah + anti AB tidak menggumpal maka golongan
darah O.
e. Memasukan hasil pengamatan pada tabel dan mengambil
kesimpulan.

15

Darah

Serum
Anti A

Anti B

Hasil

Anti AB

Anti Rh

AA+
BB+
ABAB+
OO+
d. Pedigree
A

16

Keterangan

= Perempuan
= Laki-Laki

Ibu
O
A
B
AB

Ayah
O
A
B
O
O,A
O,B
O,A
O,A
O,A,B,AB
O,B
O,A,B,AB
O,B
A,B
A,B,AB
A,B,AB
TABEL 4. Pewarisan golongan darah kepada anak

AB
A,B
A,B,AB
A,B,AB
A,B,AB

e. Hasil Pemeriksaan
Dengan dilakukannya percobaan tersebut dapat diketahui bahwa saya yang
bernama Dymas Feisal Ramadhan berusia 18 tahun memiliki golongan darah A
dengan rhesus (+) positif.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
a) Golongan darah manusia merupakan suatu fenotip yang di pengaruhi oleh alel
ganda .

17

b) Seseorang dikatakan bergolongan darah A apabila saat darah di tetesi serum


anti A menggumpal, serum anti B tidak menggumpal dan serum anti AB
menggumpal.
c) Seseorang dikatakan bergolongan darah B apabila setelah darah di tetesi serum
anti A tidak menggumpal, serum anti B menggumpal dan serum anti AB
menggumpal.
d) Golongan darah AB apabila darah setelah ditetesi serum anti A, B dan AB
menggumpal.
e) Orang dengan golongan darah O apabila darah setelah ditetesi serum anti A, B
dan AB tidak menggumpal.
f) Seseorang dikatakan memiliki rhesus + apabila darah setelah ditetesi serum
anti Rh menggumpal
g) Seseorang dikatakan memiliki rhesus apabila darah setelah ditetesi serum anti
Rh tidak menggumpal
h) Seorang calon pendonor yang akan mendonorkan darahnya harus memiliki
fisik tubuh yang baik dan sehat.
i) Seorang calon pendonor darah harus memenuhi syarat seorang pendonor darah.
j) Seorang pendonor harus memperhatiikan keadaannya sebelum mendodnorkan
darahnya kepada penderita.

3.2 SARAN
a. berhati- hati dalam pengambilan darah.
b. selalu gunakan alat-alat yang steril untuk pengambilan darah.
c. Sebelum dan sesudah pengambilan darah, terlebih dahulu dibersihkan
dengan alkohol 70% agar tidak terkena infeksi.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah
http://id.wikipedia.org/wiki/Darah
http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit-darah.htm

18

http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1836318-komposisidarah/#ixzz2E2OFONEM

http://www.yazhid28bashar.blogspot.com

19