Anda di halaman 1dari 5

Komentar dan Fatwa Ulama Seputar Masalah Palestina

Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc


Syariah, Kajian Khusus, 05 - Agustus - 2007, 06:23:22

Asy-Syaikh Muhammad Basyir Al-Ibrahimi1 mengatakan:


“Sesungguhnya Palestina adalah titipan Nabi Muhammad kepada kita, amanah Umar bin
Khaththab yang berada dalam tanggungan kita, serta perjanjian Islam yang terletak di leher-
leher kita. Maka jika Yahudi mengambilnya dari kita sementara kita ini adalah sekumpulan
(umat), benar-benar kita merugi.”
Beliau juga mengatakan:
“Alangkah meruginya Palestina.... Apakah orang yang tidak memilikinya yang menjualnya,
dan orang yang tidak berhak terhadapnya yang membelinya? .... Alangkah terhinanya
Palestina...
Mereka mengatakan: Sesungguhnya Palestina adalah tempat ibadah tiga agama samawi dan
kiblat ketiga agama tersebut. Bila apa yang mereka katakan itu benar –dan itu memang
benar– tentu orang yang paling berhak mendapatkan amanah terhadapnya adalah bangsa
Arab. Karena mereka adalah kaum muslimin, di mana Islam menghendaki penghormatan
terhadap kitab-kitab samawi dan ahli kitab serta mengharuskan beriman kepada seluruh nabi
dan rasul. Islam juga menjamin pelaksanaan syiar Yahudi dan Nasrani. Bukankah Yahudi
yang mendustakan para nabi dan membunuh mereka serta menyalib –menurut pengakuan
mereka– Nabi ‘Isa yang benar, serta mengusir para sahabatnya dari Palestina, lagi kafir
terhadap Nabi Muhammad setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan?” (Majalah
Al-Basha`ir, edisi 22 tahun 1948 M, dinukil dari buku As-Salafiyyun wa Qadhiyatu Filistiin)

Asy-Syaikh Ahmad Syakir2 mengatakan:


“Sesungguhnya Inggris telah mewariskan besi (kekerasan) dan api (permusuhan) di Palestina
untuk melindungi permasalahan yang merugikan dan untuk membela umat yang tidak akan
tegak, serta tidak akan memiliki daulah (negara)...
Sesungguhnya orang-orang yang hina itu (Yahudi), telah Allah tetapkan pada mereka untuk
selalu terusir. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengusir mereka dari kota
Madinah. Lalu Umar Al-Faruq mengusir mereka dari Hijaz. Kemudian muslimin
mendiamkan mereka, bahkan melindungi mereka saat mereka tertekan dan lemah. Maka
ketika mereka kembali kepada jalan hidup mereka, berupa kejahatan dan permusuhan, Allah
pun akan mengembalikan pengusiran itu, sehingga mereka terusir oleh Jerman dan Italia dari
negeri mereka. Dan akhir perjalanan mereka –insya Allah– adalah kaum muslimin akan
mengusir mereka dari seluruh negeri Islam....
Dan sungguh tokoh petinggi Muhammad ‘Ali Alubah Basya dalam Muktamar kemarin
mengatakan kalimat yang saya harap selalu kita ingat: ‘Hendaknya Yahudi mengetahui, jika
mereka bergembira saat ini dengan kemenangan yang bersandar kepada ‘tombak’ yang
bukan milik mereka, mereka niscaya akan kalah di saat ‘tombak’ ini hilang dari mereka.
Peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam sejarah telah banyak. Dan kesempatan akan datang,
tidak diragukan lagi. Dan barangsiapa memberi peringatan maka dia telah mendapat
hujjah...’.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz


Pertanyaan: Bagaimanakah solusi untuk masalah Palestina yang semakin hari semakin rumit
dan ganas?
Jawab: “Sesungguhnya seorang muslim demikian banyak tersakiti serta prihatin sekali
dengan memburuknya masalah Palestina, dari keadaan yang buruk ke arah yang lebih buruk.
Semakin hari semakin runyam. Sehingga sampailah pada kondisi (seperti) di masa-masa
akhir ini, dengan sebab perselisihan negara-negara tetangganya dan tidak teguhnya mereka
dalam satu barisan untuk menghadapi musuhnya, serta tidak konsistennya mereka dengan
hukum Islam yang dengan itulah Allah kaitkan kemenangan mereka. Serta dengan itulah
Allah janjikan pemeluknya untuk menggapai kekhilafahan dan kemapanan di muka bumi.
Hal itu mengindikasikan bahaya besar dan dampak yang berbahaya bilamana negara-negara
tetangga itu tidak segera menyatukan barisan mereka lagi dari awal, serta konsisten dengan
hukum Islam dalam menghadapi masalah yang telah menjadi persoalan mereka dan
persoalan dunia Islam seluruhnya ini.
Di antara yang perlu saya garisbawahi pada kesempatan ini bahwa masalah Palestina adalah
masalah Islam, sejak awal hingga akhirnya. Namun musuh-musuh Islam berupaya kuat untuk
menjauhkan masalah ini dari garis Islam dan memahamkan kepada kaum muslimin yang
bukan bangsa Arab, bahwa itu hanya masalah orang Arab. Tidak ada kaitannya dengan non-
Arab. Dan pada taraf ini, nampaknya mereka berhasil dalam upayanya. Oleh karena itu, saya
menilai tidak mungkin (kita) sampai pada titik penyelesaian masalah tersebut kecuali dengan
memandang bahwa itu adalah masalah Islam, dan dengan saling kerjasama antara sesama
muslim dalam menyelamatkannya, serta berjihad melawan Yahudi dengan jihad yang Islami.
Sehingga bumi (Palestina) dikembalikan kepada pemiliknya dan warga Yahudi itu pun
pulang kembali ke negara asalnya. Sementara penduduk asli Yahudi tetap tinggal di negeri
mereka di bawah hukum Islam, bukan hukum komunis atau sekuler. Dengan itu, kebenaran
akan menang dan kebatilan akan terhina, serta pemilik negeri tersebut kembali ke negeri
mereka di atas hukum Islam, bukan yang lain. Allah-lah yang memberi petunjuk.” (Diambil
kumpulan fatwa beliau dengan sub judul Yajibu Tahkim Asy-Syar’i fil Khathifin)
Beliau mengatakan juga:
“Telah saya jelaskan di sana (surat kabar Al-Muslimun, 19/8/1415 H bertepatan dengan
20/1/1995 M) bahwa yang wajib dilakukan adalah berjihad melawan kaum musyrikin dari
kalangan Yahudi dan yang lainnya bila ada kemampuan, hingga mereka masuk Islam atau
membayar jizyah (semacam upeti) jika mereka memang pantas diambil jizyah dari mereka,
sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi. Namun ketika
kaum muslimin tidak mampu untuk itu maka tidak mengapa dilakukan perjanjian damai yang
menguntungkan kaum muslimin serta tidak menistakan mereka, dalam rangka mencontoh
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam baik dalam peperangan atau perdamaiannya, serta dalam
rangka berpegang dengan dalil-dalil syar’i yang bersifat umum maupun khusus dalam
masalah ini, serta berhenti padanya. Inilah jalan keselamatan serta jalan kebahagiaan dan
kesejahteraan di dunia maupun akhirat.” (Majalah Al-Mujtama’ edisi 1140 tanggal
6/10/1415)

Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang memasang bom pada tubuhnya, dengan tujuan
membunuh sekelompok orang Yahudi?
Jawab: Pandangan saya –dan kami telah peringatkan masalah itu bukan hanya sekali– bahwa
ini tidak benar, karena hal ini termasuk bunuh diri. Sementara Allah berfirman:
‫سُكْم‬َ ‫ل َتْقُتُلوا َأْنُف‬
َ ‫َو‬
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.” (An-Nisa`: 29)
Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
‫ب ِبِه َيْوَم اْلِقَياَمِة‬
َ ‫عّذ‬
ُ ‫يٍء‬
ْ ‫ش‬
َ ‫سُه ِب‬
َ ‫ل َنْف‬
َ ‫ن َقَت‬
ْ ‫َم‬
“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka dia akan diadzab dengannya di
hari kiamat.”
(Seseorang hendaknya) berusaha untuk menjaga dirinya, dan apabila disyariatkan jihad maka
hendaknya berjihad bersama muslimin. Sehingga apabila terbunuh maka alhamdulillah.
Adapun dia membunuh dirinya dengan memasang ranjau/bom pada dirinya sehingga
terbunuh bersama mereka atau melukai dirinya bersama mereka (adalah) salah, tidak
diperbolehkan. Akan tetapi berjihad adalah bila disyariatkan jihad bersama muslimin.
Adapun apa yang dilakukan pemuda-pemuda Palestina, maka itu salah, tidak boleh.
Hanyalah yang wajib mereka lakukan adalah berdakwah kepada jalan Allah, taklim dan
bimbingan serta nasihat tanpa melakukan perbuatan tersebut. (Dinukil dari buku Fatawa Al-
A`immah Fin Nawazil Al-Mudlahimmah, hal. 179)

Fatwa Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi3


Tanya: Anda menjawab bahwa jihad terbagi menjadi dua, jihad thalab (yang bersifat
menyerang –ofensif) dan Anda telah menerangkannya dengan keterangan yang cukup,
walhamdulillah. Tinggal bagian yang kedua, seandainya Anda berkenan untuk menjawabnya
–jazakumullah khairan.
Jawab: Adapun jihad daf’i (bersifat mempertahankan diri –defensif) yang telah dibicarakan
ulama dan ditetapkan oleh mereka bahwa itu hukumnya fardhu 'ain.... Apa itu artinya? Yaitu
musuh-musuh Islam menjajah salah satu negeri muslimin, maka wajib atas penduduk negeri
itu bangkit membendung musuh ini dan mengusirnya dari negeri mereka. Dan hendaknya
mereka terus melawan selama jumlah mereka tidak kurang dari setengah jumlah musuh yang
memerangi dan menjajah. Bila jumlah mereka kurang dari jumlah ini, maka menjadi
kewajiban negara tetangganya untuk ikut serta dalam jihad, dan itu menjadi fardhu ain atas
mereka juga seluruh masyarakat Islam untuk bekerja sama dengan mereka semampunya.
Akan tetapi mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka harus melakukan
persiapan untuk mengusir musuh. Bukan seperti keadaan Palestina sekarang. Penduduk
Palestina belum menggelar persiapannya. Bahkan masyarakat Arab Islam yang bertetangga
dengannya juga belum melakukan persiapan untuk mengusir musuh-musuh Allah baik dari
kalangan Yahudi dan yang lainnya. Yakni di saat Yahudi menjajah Palestina muncullah
syiar-syiar jahiliah, nasionalisme, sosialisme, dan seterusnya, yang semestinya mereka
bertaubat kepada Allah dari hal itu, dan kembali kepada-Nya agar berhak mendapatkan janji
Allah berupa pertolongan-Nya atas musuh-musuh Allah. Tapi justru mereka menyambut
ideologi-ideologi ini, nasionalisme, sosialisme, ba’ts dan seterusnya. Maka golongan-
golongan seperti ini tidak akan mendapat kemenangan, dan jihad mereka tidak Islami. Oleh
karena itu, jihad di Palestina sampai sekarang bukanlah jihad yang Islami, tetapi atas nama
nasionalisme dan kebangsaan.4
Jika kaum muslimin kembali kepada jalan Allah dan bertaubat kepada-Nya lalu mereka
mentarbiyah diri-diri mereka, anak-anak mereka dan pasukan mereka di atas tauhidullah
yang murni serta terdidik di atas jihad demi menegakkan kalimat Allah supaya tinggi, ketika
itulah insya Allah mereka dapat mengusir musuh itu.
Dan realita Palestina sekarang, (mereka) memerangi musuh yang cukup berbahaya ini, yang
bersenjatakan teknologi tercanggih dan mutakhir dengan didukung negara-negara Eropa dan
Amerika. Sementara Palestina tidak ada yang mendukung mereka, satu negarapun. Maka
pandangan saya bahwa termasuk dari sikap terburu-buru dan tidak cerdas bila engkau perangi
musuh tersebut dengan bebatuan (intifadha, ed.). Termasuk kebodohan yang ditolak Islam
dan ditolak orang yang berakal (di mana) musuhmu bersenjatakan senjata yang paling ampuh
dan canggih, pesawat tempur, tank, rudal, nuklir, dan seterusnya, sementara engkau tidak
punya kecuali batu, dan engkau lawan dengannya.
Saya berpandangan, sekarang bila musuh menyerang rumah-rumah penduduk yang aman,
serta keluarga mereka, maka wajib bagi mereka membela diri. Sampai-sampai saya ditanya
oleh orang Palestina: “Bila mereka (musuh) menyerang kami, apa yang kami lakukan?” Saya
jawab: “Perangi mereka jika mereka menyerangmu dan keluargamu. Lawan dengan segala
yang engkau bisa, baik dengan batu atau tongkat, sampaipun dengan kuku-kuku dan gigi-
gigimu.” Maka saya katakan rakyat Palestina ini, kalian jangan mencoba menyulut musuh ini
sementara kalian dalam keadaan selemah-selemahnya. Dan pada derajat kelemahan terendah,
janganlah kalian memanasi mereka. Mulailah dengan taklim, didiklah dengan manhaj Islam
yang benar, niscaya Allah akan jadikan untuk kalian jalan keluar dan solusi. Allah berfirman:
‫جا‬
ً ‫خَر‬ ْ ‫ل َلُه َم‬
ْ ‫جَع‬ْ ‫ل َي‬
َ ‫قا‬ ِ ‫ن َيّت‬
ْ ‫َوَم‬
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke
luar.” (Ath-Thalaq: 2)
Maka wajib bagi kalian untuk mengikhlaskan niat dan wajib mentarbiyah diri dan anak
kalian di atas tauhidullah sehingga kalian mendapatkan hak kemenangan dari Allah. Lalu
siapkan persenjataan ketika kalian angkat bendera jihad, niscaya Allah akan menolong
kalian. Inilah yang mungkin aku katakan seputar jihad ini. Dan aku memohon kepada Allah
tabaraka wa ta’ala agar memberikan taufiq-Nya kepada kaum muslimin untuk bertaubat
kepada Allah dan kembali kepada-Nya, agar Allah angkat kehinaan ini dari mereka.
Kejayaan, pertolongan dan lenyapnya kehinaan, itu semuanya tergadai dengan kembalinya
mereka kepada jalan Allah secara benar, (jalan) yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Bila ini
terwujud, insya Allah kaum muslimin akan diberi mahkota kemenangan pada pertempuran
manapun yang mereka lakukan melawan musuh Allah:
ً ‫ل َتْبِدْي‬
‫ل‬ ِ ‫سّنِة ا‬
ُ ‫جَد ِل‬
ِ ‫ن َت‬
ْ ‫ل َوَل‬
ُ ‫ن َقْب‬
ْ ‫ت ِم‬
ْ ‫خَل‬
َ ‫ل اّلِتي َقْد‬
ِ ‫سّنَة ا‬
ُ .‫صْيًرا‬
ِ ‫ل َن‬
َ ‫ن َوِلّيا َو‬
َ ‫جُدْو‬
ِ ‫ل َي‬
َ ‫لْدَباَر ُثّم‬
َ ‫ن َكَفُروا َلَوّلُوا ْا‬
َ ‫َوَلْو َقاَتَلُكُم اّلِذْي‬
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan
diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula)
menolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada
akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (Al-Fath: 22-23)
Ini adalah sunnatullah, tidak akan meleset selamanya, sunatullah al-kauniyyah (ketetapan
Allah pada alam ini). Maka bila kita lakukan sunnah syar’iyyah (ketetapan Allah pada
syariat-Nya) yang kita diminta melakukannya, niscaya akan datang sunnatullah al-kauniyyah
yaitu janji Allah untuk menang terhadap musuh dan mendapatkan kemenangan di atas
musuh.
Maka bila kalian sungguh-sungguh dalam memerangi Yahudi dan selain mereka, hendaknya
memakai senjata ini, senjata aqidah. Setelah itu baru senjata fisik. Adapun sekarang, senjata
iman lemah –tidak saya katakan tidak ada– lemah sekali, jauh dari tingkatan yang dimaukan.
Sementara senjata fisik tidak ada. Kalau begitu, belum waktunya jihad... Adapun persatuan
Arab yang berlandaskan nasionalisme Arab, kebangsaan jahiliah, (maka Nabi bersabda:)
“Bukan dari golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiah (fanatik kesukuan) atau
berperang karena ashabiah”, atau berperang di bawah bendera ‘immiyyah (kesesatan).
Bendera ‘immiyyah yang tergabung padanya Nasrani, Yahudi bila dia punya toleransi,
masuk pula padanya komunis, masuk padanya sekuler. Ini bila kita angkat bendera kearaban.
Orang yang mengangkat bendera ini apakah menjadi syahid?! Sekali-kali tidak! Orang yang
berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi itulah yang di jalan Allah. Demi Allah, Yahudi
dan Nasrani benar-benar bertepuk tangan terhadap identitas kearaban karena mereka paham
benar bahwa tidak akan mengalahkan mereka kecuali Islam yang Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam datang membawanya. Islam yang dengannya terbukalah daerah-daerah di
dunia ini. Islam yang dengannya pemelukya menang di atas segala bangsa dan agama….”
(Kaset Aqwal ‘Ulama Fil Jihad Al-Mu’ashir)

1 Salah seorang anggota Jum’iyyah Ulama di Aljazair.


2 Seorang pakar hadits sekaligus hakim di Mesir.
3 Mantan Ketua Jurusan As-Sunnah pada Fakultas Hadits, Universitas Islam Madinah.
4 Anehnya, justru pada tahun 1946 Hasan Al-Banna berceramah di hadapan tim gabungan
Amerika dan Inggris dalam urusan Palestina, yang di antara isinya: “…Sisi yang akan saya
bicarakan adalah sebuah titik yang sederhana dari sisi pandang agama. Karena titik ini bisa
jadi tidak dipahami oleh bangsa Barat. Oleh karena itu, saya hendak menjelaskannya dengan
ringkas. Saya tetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahudi bukan dari sisi agama,
karena Al-Qur`an menganjurkan untuk bersahabat dan berkawan dengan mereka. Dan Islam
adalah syariat kemanusiaan sebelum syariat kebangsaan. Juga Al-Qur`an telah memuji
mereka dan menjadikan antara kita dengan mereka ikatan... Ketika kami menentang hijrah
Yahudi dengan segala kekuatan kami, adalah karena hal tersebut mengandung bahaya secara
politis dan merupakan hak bagi kami, Palestina menjadi negara Arab.” (Ikhwanul Muslimin
Ahdatsun Shana'at Tarikh)
Ternyata ideologi ini diwarisi Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, di mana ia mengatakan: “Jihad kami
melawan Yahudi bukan karena mereka Yahudi. Sebagian saudara yang menulis dalam
masalah ini dan berbicara tentangnya menganggap bahwa kita memerangi Yahudi karena
mereka itu Yahudi. Kami tidak memandang demikian. Sehingga kita tidak memerangi
Yahudi disebabkan aqidah, namun kita memerangi mereka dikarenakan tanah. Kita tidak
memerangi orang kafir karena mereka itu orang kafir, namun memerangi mereka karena
mereka telah merampas tanah dan negeri kita serta mengambilnya dengan cara yang tidak
benar.” (Majalah Ar-Rayah edisi 4696, 24 Sya’ban 1415 H, bertepatan 25 Januari 1995 M,
dinukil dari buku Dhalalat Al-Qaradhawi hal. 8)

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini


dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com