Anda di halaman 1dari 11

TINJAUAN PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN KAKU (RIGID

PAVEMENT) AREAL PARKIR TRUK TERMINAL BUKIT SURUNGAN KOTA


PADANG PANJANG
Satria Wahyudi, Irwandy Muchtar, Surya Eka Priana
Email : satria_wahyudi78@yahoo.co.id
ABSTRAK
Dengan meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi maka pertumbuhan arus lalulintas juga mengalami peningkatan. Untuk area parkir truk di terminal Bukit surungan kota
Padang Panjang, karena difungsikan sebagai area parkir dan tempat pembayaran pajak
retribusi bagi kendaraan niaga sementara daya dukung tanah dasar yang tidak seragam
mengakibatkan perkerasan yang semula memakai perkerasan lentur sudah tidak sanggup
lagi menahan beban lalu-lintas kendaraan. Untuk mengatasi hal ini Pemerintah Kota
Padang Panjang melalui jajarannya merestrukturisasi perkerasan pada area parkir ini
dengan menggunakan perkerasan kaku. Tugas akhir ini bertujuan untuk meninjau tebal
pelat beton berdasarkan beban dan jumlah kendaraan niaga yang melintas diatasnya selama
usia rencana. Berdasarkan Metoda NAASRA, 1987 Penulis mencoba menganalisa mulai
dari data lalu-lintas harian rata-rata, pertumbuhan lalu-lintas, dan jenis kendaraan niaga
beserta jumlah, beban, dan kongfigurasi sumbu dari kendraan niaga yang akan melewati
lajur rencana. Perencanaan didasarkan pada total fatigue ( masa kelelahan pelat beton
akibat beban berulang) mendekati atau sama dengan 100 %. Setelah dilakukan analisa
dengan menggunakan grafik perencanaan untuk STRT,STRG, dan SGRG dari
NAASRA,1987, maka diketahui tebal perkerasan yang ideal untuk perkerasan kaku ini
yaitu 250 mm yang direncanakan dengan dowel, dengan harapan dapat dengan mudah
memperbaikinya apabila suatu saat terjadi kerusakan di suatu titik pada lajur rencana
akibat kebihan muatan. Tinjauan ini bermaksud untuk menerapkan ilmu yang penulis
dapat di bangku perkuliahan.
Kata Kunci : Tinjauan Perencanaan Perkerasan Kaku (Rigid Pavement), Total fatigue.
ABSTRACT
With the increasing demand for means of transport, the growth of traffic flow also
increased. For truck parking areas in the city of Bukit Surungan terminal in Padang
Panjang town, since functioned as a parking area and a tax payment of fees for commercial
vehicles, while the carrying capacity of the land base is not uniformly result in the original
pavement using flexible no longer hold back the traffic load of the vehicle. To address this
through the renks of Padang Panjang goverment restructure pavement in parking areas is
by using a rigid pavement. This thesis aims to review the concrete slab thickness based on
the load and the number of commercial vehicles that pass over it during the age of the
plan. Based method NAASRA 1987, the author tries to analyze the start of the data traffic
and the type of commercial vehicles and their number, the load, and the axis configuration
of commercial vehicles that will pass lane plan. Planning based on the total fatigue (the
concrete slab fatigue due to repeated load) approaching or equal to 100 %. After analysis
using planning graphs for STRT, STRG, and SGRG of NAASRA, 1987, it is known that
the ideal pavement thickness for rigid pavement is planned that 250 mm with dowel, the
hope can easily fix it if one day the damage occurs at a point in lane plane for overloading.
This review intends to apply the knowledge that the author can in lecture.
Keyword : Planning review of rigid pavement, the total fatigue

I.

Pendahuluan
Pertumbuhan penduduk yang
cukup pesat yang dialami Indonesia
menyebabkan peningkatan kegiatan dan
kebutuhan
manusia,
ini
juga
mengakibatkan pergerakan manusia
semakin bertambah, kebutuhan akan
sarana transportasi dan pertumbuhan arus
lalu lintas mengalami peningkatan.
Keberadaan lahan parkir di titik-titik
keramaian atau pusat perbelanjaan juga
sangat membantu kelancaran arus lalu
lintas di titik-titik rawan macet. Untuk itu
Pemerintah khususnya Pemerintah Kota
Padang Panjang melalui jajarannya
melakukan restrukturisasi area parkir truk
Terminal Bukit Surungan yang juga
berfungsi sebagai akses bagi kendaraan
niaga yang akan membayar pajak
retribusi. Area parkir ini sebelumya
dibangun dengan konstruksi perkerasan
lentur yang pada awalnya berfungsi
sebagai :
- Tempat parkir bagi
pengantar
penumpang
yang
memanfaatkan
terminal Bukit Surungan.
- Tempat parkir bagi kendaraan yang
berurusan dengan pihak dinas
perhubungan dan samsat
- Akhirnya area ini dirubah menjadi
lokasi pembayaran retribusi khusus
bagi kendaraan niaga dan sekaligus
difungsikan sebagai tempat parkir bagi
pengemudi truk yang ingin beristirahat
sejenak, namun dengan kondisi tanah
dasar yang labil dan beban kendaraan
yang relatif besar maka area ini sudah
tidak layak lagi di lewati oleh
kendaraan niaga. Untuk itu perlu
membuat suatu perkerasan dengan
menggunakan beton semen (rigit
pavement).

1.2.

MAKSUD DAN TUJUAN


PENULISAN
1.2.1 MAKSUD PENULISAN
Adapun maksud dari penulisan
Tugas Akhir ini adalah untuk meninjau
dimensi (tebal pelat) pada perkerasan

I.1. Latar Belakang


rigid berdasarkan pada total fatigue
mendekati atau sama dengan 100%.
1.2.2 TUJUAN
Tujuan dari penulisan Tugas
Akhir ini adalah supaya menulis dapat
lebih memahami secara mendalam
tentang perkerasan kaku itu sendiri. Bagi
para perencana pada umumnya dan bagi
rekan-rekan mahasiswa pada khususnya
tugas akhir ini juga dapat digunakan
sebagai referensi untuk perencanaan yang
efisien, kuat dan ekonomis.
1.3. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang
tersebut di atas maka penulis akan
membahas apakah tebal plat untuk
perkerasan kaku ini sudah cukup kuat
untuk menahan beban lalu lintas di
atasnya berdasarkan jumlah persentase
gatigue yang terjadi (disyaratkan
100%)
1.4. BATASAN MASALAH
Agar
pembahasan
tidak
menyimpang dari pokok permasalahan
yang ada dan dapat mencapai sasaran
yang
diharapkan,
maka
penulis
membatasi permasalahan pada badan
jalan yang dilalui oleh kendaraan niaga
untuk pembayaran pajak retribusi dengan
memperhitungkan :
1. Lalu-lintas rencana untuk perkerasan
kaku
2. Estimasi ketebalan plat beton
3. Untuk setiap kombinasi / konfigurasi
dan beban sumbu serta harga k
tertentu maka harus di perhitungkan :
a. Tegangan lentur yang terjadi pada plat
beton
b. Perbandingan
tegangan
dihitung
dengan membagi tegangan lentur yang
terjadi pada plat beton dengan
modulus keruntuhan lentur beton (fr).
c. Jumlah pengulangan yang diijinkan yang
ditentukan
berdasarkan
perbandingan tegangan.

harga

4. Persentase dan total dari tingkat


kelelahan dari perkerasan akibat beban
berulang (fatigue)

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN


Dalam penulisan tugas akhir ini
pembahasan disampaikan secara garis
besar yang terdiri dari 5 (lima) bab dan di
sajikan sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang Latar Belakang, maksud
dan tujuan, Rumusan Masalah, Batasan
Masalah dan Sistematika Penulisan
Tugas Akhir.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Berisikan tentang tinjauan umum, dan
konsep perencanaan tebal perkerasan
kaku berdasarkan literatur/pustaka.
BAB
III
:
METODOLOGI
PENELITIAN
Berisikan
tentang
langkah-langkah
penyelesaian yang akan dilakukan untuk
penulisan Tugas Akhir ini.
BAB IV : ANALISA DATA
Berisikan data-data yang diperlukan serta
perhitungan
perencanaan
tebal
perkerasan kaku.
BAB V : PENUTUP
Memuat tentang kesimpulan yang didapat
dari proses perencanaan dan saran-saran
tindakan yang ditempuh untuk lebih
mengopimalkan hasil yang diperoleh.
II.

II.A. Faktor Untuk Menentukan


Ketebalan
1. Kekuatan Lapisan Tanah Dasar
Tanah dasar adalah bagian dari
permukaan
badan
jalan
yang
dipersiapkan untuk menerima konstruksi
di atasnya yaitu konstruksi perkerasan.
Tanah dasar ini berfungsi sebagai
penerima beban lalu-lintas yang telah
disalurkan
atau
disebarkan
oleh
konstruksi di atasnya. Persyaratan yang
harus dipenuhi dalam penyiapan tanah
dasar (subgrade) adalah lebar, kerataan,
keseragaman
daya
dukung,
dan
keseragaman kepadatan.
Untuk perencanaan tebal perkerasan
kaku, daya dukung tanah dasar
diperoleh dengan nilai CBR, seperti
halnya pada perkerasan lentur,
meskipun
dilakukan
dengan
menggunakan nilai (k) yaitu modulus
reaksi tanah dasar. Nilai (k) dapat
diperoleh dengan pengujian plate
bearing. Jika nilai (k) pada
perencanaan belum dapat diukur,
maka dapat digunakan nilai (k) hasil
korelasi seperti pada gambar-2.6, nilai
ini harus diuji kembali jika permukaan
tanah dasar sudah disiapkan.

Tinjauan Pustaka

Sumber : pavement design, NAASRA 1987


MODULUS REAKSI TANAH DASAR (k) (kPa / mm)
Gambar Korelasi hubungan antara nilai (k) dan CBR
Untuk menentukan Modulus
k0 = - 1,64 S untuk jalan Arteri (2.11b)
Reksi Tanah Dasar (k) rencana yang
mewakili suatu seksi jalan, dipergunakan
k0 = - 1,28 S untuk jalan
rumus sebagai berikut :
kolektor/lokal
(2.11c)
k0 = - 2 S untuk jalan tol
(2.11a)

Faktor keseragaman (FK)

FK = 100% < 25%

(dianjurkan)
(2.12)
Dimana :
K0 = Modulus Reaksi Tanah Dasar yang
mewakili suatu seksi

=
(Modulus reaksi tanah dasar

rata-rata dalam suatu seksi jalan)


K = Modulus reaksi tanah dasar tiap titik
di dalam seksi jalan
n = jumlah data k
Standar Deviasi :
S=

( 2 ) ( )2
( 1 )

(2.13)

2. Kekuatan Beton
Prinsip parameter perencanaan
beton didasarkan pada kuat lentur 90 hari
karena dianggap estimasi paling baik
digunakan untuk menentukan tebal
perkerasan. Dalam praktek, kuat lentur
rencana beton 90 hari cukup memadai
untuk konstruksi perkerasan jalan jika
diambil antara 3,5 4 Mpa.
Tipikal
hubungan
untuk
mengubah kuat tekan beton 28 hari ke
kuat lentur 90 hari untuk beton yang
menggunakan agregat pecah, menurut
NAASRA adalah :
f28 = 0,75 28
(2.1)
f90 = 1,1 f28 = 0,83 28
(2.2)
Dimana : f90 = Kuat lentur beton 90
hari, (Mpa)
f28 = Kuat lentur beton 28
hari, (Mpa)
C28 = Kuat tekan rencana
beton 28 hari, (Mpa)
Alternatif yang mudah dan banyak
digunakan uji tarik silinder beton sampai
belah atau uji tarik tidak langsung
(Brazilian test), yng juga digunakan pada
pengendalian mutu. Tipikal hubungan
untuk mengubah kuat belah ke kuat
lentur menurut NAASRA, sebagai
berikut :
f28 = 1,3 S28
(2.3)

Dimana : S28 = Kuat belah beton 28


hari, (Mpa)
Kuat tekan karakteristik beton pada
usia 28 hari untuk perkerasan jalan
dengan beton bertulang harus tidak
kurang dari 30 Mpa.
Menurut SNI T-15-1991-03 :
Besarnya modulus keruntuhan lentur
beton (fr), yaitu :
fr = 0,7 c , (Mpa) untuk beton
normal
(2.2)
1)
Jika fct sudah ditentukan, maka
c diganti 1,8 fct
Dengan ketentuan 1,8 fct < c
fr = 1,26 fct (Mpa)
(2.5)
2)
Jika fct tidak di tentukan, maka fr
harus dikalikan dengan angka
sebagai berikut :
Untuk beton ringan total :
fr = (0,75) 0,7 c fr = 0,525 c
(Mpa)
(2.6a)

Untuk beton ringan berpasir :


fr = (0,85) 0,7 c
fr = 0,595 c (Mpa)
(2.6b)

Dimana : fc = Kuat tekan karakteristik


beton pada usia 28 hari, (Mpa)
fct = Kuat tarik belah rata-rata beton
ringan, (Mpa)
Menurut ACI 318-83 :
Untuk beton ringan total :
fct = 0,417 c
(2.7a)
Untuk beton ringan berpasir :
fct = 0,473 c
(2.7b)
Untuk keperluan praktis dalam
perencanaan, harga-harga dibawah ini
dapat digunakan :
Fct = 0,556 c (Mpa)
(2.8)

fr = 0,62 c (Mpa)
(2.9)
fr = 1,115 fct (Mpa)
(2.10)
Pengujian yang dilakukan :
1. Untuk
menentukan
modulus
keruntuhan lentur beton (Modulus of
repture) dilakukan dengan standar
ASTM C78 75 atau AASTHO T9776 (1982) Flexural Strength of

Concrete menggunakan balok beton


(simple beam) dengan pembebanan
tiga titik.
2. Untuk menentukan kuat tarik belah
beton, dilakukan dengan standar
ASTM C496 71 atau AASTHO
T198 74 (1982) Splitting Tensile
Strength
menggunakan
contoh
silinder boton.
3. Lalu-lintas Rencana
Lalu-lintas harus di analisis
berdasarkan volume lalu-lintas dan
kongfigurasi yang diperoleh berdasarkan
data terakhir ( 2 tahun terakhir). Adapun
tahapan yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
A. Karakteristik Kendaraan
a. Untk
keperluan
perencanaan
perkerasankaku hanya kendaraan
niaga yang mempunyai berat total
minimum 5 ton yang ditinjau.
b. Kongfigurasi
sumbu
yang
diperhitungkan ada 3 macam, yaitu :
1) Sumbu Tunggal Roda Tunggal
(STRT)
2) Sumbu Tunggal Roda Ganda (STRG)
3) Sumbu Ganda/tandem Roda Ganda
(SGRG)

B. Tatacara Perhitungan Lalu-lintas


Rencana :
a. Hitung volume lalu-lintas (LHR) yang
diperkirakan pada akhir usia rencana,
sesuai dengan kapasitas jalan.
b. Untuk masing-masing jenis kelompok
sumbu kendaraan niaga, diestimasi
angka LHR awal dari kelompok
sumbu dengan beban masing-masing
kelipatan 0,5 ton (5 5,5), (5,5 6),
(6 6,5) dan seterusnya.
c. Mengubah beban trisumbu ke beban
sumbu tandem didasarkan bahwa
trisumbu setara dengan dua sumbu
tandem.

d. Hitung jumlah kendaraan


(JSKN) selama usia rencana

niaga

JSKN = 365 JSKNH R (2.14)


Dimana :
JSKN = jumlah sumbu kendaraan
niaga
JSKNH = jumlah sumbu kendaraan
maksimum harian, pada saat tahun
ke 0
R = faktor pertumbuhan lalu-lintas
yang besarnya berdasarkan faktor
pertumbuhan lalu-lintas tahunan ( i )
dan usia rencana ( n )
Untuk (i 0) :
(1+) 1
R=
(2.15)
log ( 1+ )
Untuk ( i 0 ), jika setelah m tahun
pertumbuhan lalu-lintas tidak terjadi lagi,
maka :
R=

( 1+ ) 1
log (1+ )

+ (1 + ) 1

.........................................

(2.16)

Untuk (i 0 ), jika setelah n tahun


pertumbuhan lalu-lintas berbeda dengan
sebelumnya (i / tahun), maka :
( 1+ ) 1
R=
+
log ( 1+ )
( 1+) ( 1+ ) 1
(2.17)
log ( 1+ )
e. Hitung persentase masing-masing
kombinasi kongfigurasi beban sumbu
terhadap jumlah sumbu kendaraan
niaga harian.
f. Hitung jumlah repetisi komulatif tiap
kombinasi kongfigurasi/beban sumbu
pada lajur rencana :
JSKN % kombinasi terhadap JSKNH
Cd
(2.18)
Dimana :
Cd = koefisien distribusi

Tabel : Koefisien distribusi


Kendaraan Niaga pada lajur rencana
Jumlah
Kendaraan Niaga
lajur
1 arah
2 arah
1 lajur
1,00
1,00
2 lajur
0,70
0,50
3 lajur
0,50
0,475
4 lajur
0,45
5 lajur
0,425
6 lajur
0,4
Sumber : SKBI 2.3.28.1998
II.B. Prosedur Perencanaan Tebal
Pelat
a. Pilih suatu tebal pelat tertentu
b. Untuk setiap kombinasi kongfigurasi
dan beban sumbu serta harga k
tertentu maka :
1. tegangan lentur yang terjadi pada
pelat beton ditentukan dari gambar
grafik NAASRA ( pada lampiran
perkerasan - 1, 2, dan 3 )
2. perbandingan tegangan di hitung
dengan membagi tegangan lentur
yang terjadi pada pelat dengan
modulus keruntuhan lentur beton
(fr).

Tabel : Faktor Keamanan


Peranan Jalan
Jalan Tol
Jalan Arteri
Jalan Kolekter / Lokal
Sumber : SKBI 2.3.28.1998

Faktor
Keamanan
1,2
1,1
1,0

3. Jumlah pengulangan beban yang


diijinkan ditentukan berdasarkan
harga perbandingan tegangan pada
tabel 2.6.
c. Persentase
fatigue
untuk
tiap
kombinasi
ditentukan
dengan
membagi jumlah pengulangan beban
rencana dengan jumlah pengulangan
beban ijin.
d. Cari
total
fatigue
dengan
menjumlahkan persentase fatigue dari
seluruh kombinasi kongfigurasi /
beban sumbu.
e. Langkah-langkah diatas (a d) di
ulangi hingga di dapatkan tebal pelat
terkecil dengan total fatigue lebih
kecil atau sama dengan 100%.

Tabel Perbandingan tegangan dan jumlah pengulangan beban yang diijinkan


Perbandingan
tegangana

Jumlah pengulangan Perbandingan


beban ijin
tegangan

0,51b
0,52
0,53
0,54
0,55
0,56
0,57
0,58
0,59
0,60
0,61
0,62
0,63
0,64
0,65
0,66
0,67
0,68

400.000
300.000
240.000
180.000
130.000
100.000
75.000
57.000
42.000
32.000
24.000
18.000
14.000
11.000
8.000
6.000
4.500
3.500

0,69
0,70
0,71
0,72
0,73
0,74
0,75
0,76
0,77
0,78
0,79
0,80
0,81
0,82
0,83
0,84
0,85

Jumlah
pengulangan
beban ijin
2.500
2.000
1.500
1.100
850
650
490
360
270
210
160
120
90
70
50
40
30

Tegangan akibat beban dibagi dengan kuat lentur tarik (Modulus of Repture)

Untuk perbandingan tegangan 0,50 jumlah pengulangan beban adalah tidak terhingga

Sumber : Pavement Design, NAASRA, 1987


III. Analisa Data
3.1. Tinjauan Umum
Analisa data diperlukan untuk
mendapatkan parameter-parameter yang
dibutuhkan dalam menentukan ketebalan
dan kekuatan dari pelat beton untuk
perkerasan kaku. Data yang diambil
adalah data yang didapat dari instansi
maupun dari sumber pustaka. Dalam
proses perencanaan perkerasan kaku,
khususnya untuk menentukan ketebalan
dan kekuatan pelat beton, setelah
dilakukan pengumpulan data dilanjutkan
dengan melakukan analisis untuk
menentukan ketebalan dan kekuatan dari
pelat beton berdasarkan total fatigue
(kelelahan pelat beton akibat berulang).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
perencanaan tebal perkerasan kaku ini
adalah :

1. Mutu beton rencana


2. a. Analisa data lalu lintas
b. Beban lalu lintas rencana meliputi :
- Jumlah sumbu kendaraan niaga
- Jumlah repetisi beban
3.
Kekuatan Tanah Dasar
4.
Kekuatan Pelat Beton
3.2. Mutu Beton Rencana
Untuk jalan rigid ini akan digunakan
beton dengan kuat tekan 28 hari
sebesar 350 Kg/cm2.
fc = 350/10,2 = 3,4 Mpa > 30 Mpa
(minimum yang disarankan)
dari rumus-(2.9) :

fr = 0,62 c = 3,6 Mpa > 3,5 Mpa


(minimum yang disarankan)

3.3. Analisa Data Lalu-lintas


Data skunder lalu lintas di ruas
jalan pembayaran retribusi terminal Bukit
No.

1.
2.
3.
4

Jenis
Kendaraan
Truck 7.5 ton
Truck 13 ton
Truck 20 ton
Truck 26 ton
Jumlah

Jumlah
Kend Sumbu
93
186
72
144
64
128
8
16
237
474

surungan Kota Padang Panjang dari


tahun 2012 adalah seperti tabel di bawah
ini :
Beban Sumbu
Depan
3
4
6
7

Belakang
5
9
14
19

Kongfigurasi
sumbu
Depan Belakang
STRT
STRG
STRT
STRG
STRT
SGRG
STRT
SGRG

Sumber : Dinas Perhubungan Kota Padang Panjang


Tabel 4.1 : LHR tahun 2012 Pada Tempat Pembayaran Retribusi Areal Parkir Truk
Terminal Bukit Surungan
Dari data skunder diatas juga
3. Truck 20 ton
diketahui pertumbuhan lalu lintas 5% per
Tahun 2012 = 64 kendaraan
tahun dan usia rencana untuk perkerasan
i
=5%
rigid ini adalah 20 tahun, untuk LHR
Tahun 2013 = 64 ( 1 + 0.05 )1
awal (LHRo) pada tahun 2013 akan di
= 67 kendaraan
proyeksikan dari data skunder tahun 2012
4. Truck 26 ton
sebagai berikut :
Tahun 2012 = 8 kendaraan
i = 5%
Tahun 2013 = 8 ( 1 + 0.5 )1
1. Truck 7.5 ton
= 8 Kendaraan
Tahun 2012 = 93 kendaraan
i
=5%
Tahun 2013 = 93 ( 1 + 0.05 )1
3.4. Beban Lalu lintas Rencana
= 98 kendaraan
1. Jumlah Sumbu Kendaraan
2. Truck 13 ton
Niaga
Tahun 2012 = 72 kendaraan
i
=5%
Hasil proyeksi data LHR diatas,
Tahun 2013 = 72 ( 1 + 0.05 )1
maka jumlah LHR pada awal (LHRo)
= 76 kendaraan
dan jumlah sumbu kendaraan niaga
adalah seperti tabel 4.2 di bawah ini :
No.

1.
2.
3.
4

Jenis
Kendaraan
Truck 7,5 ton
Truck 13 ton
Truck 20 ton
Truck 26 ton
Jumlah

Jumlah
Kend Sumbu
98
196
76
152
67
134
8
16
249
498

Beban Sumbu
Depan
3
4
6
5

Belakang
5
9
14
21

Kongfigurasi
sumbu
Depan Belakang
STRT
STRG
STRT
STRG
STRT
SGRG
STRT
SGRG

Sumber : hasil perhitungan


Tabel 4.2 : LHRo tahun 2013 Pada Tempat Pembayaran Retribusi Areal Truk Parkir
Terminal Bukit Surungan

Dari rumus- (2.14), jumlah sumbu


kendaraan niaga :
JSKN = 365 JSKNH R
- Untuk harga R sesuai rumus- (2.15)
adalah :
(1+) 1
(1+0.05)20 1
R =
=
=
log ( 1+ )
log ( 1+0.05 )
33.89

Maka : JSKN = 365 498


33.89 = 6160185,3 buah
Dari rumus ( 2.18 ) dengan Cd =
1,00 ( dari tabel 2.3 ) diperoleh
harga repetisi komulatif dari tiap
kombinasi kongfigurasi / beban
sumbu pada lajur rencana seperti di
tampilkan pada tabel perhitungan
dibawah.

2. Jumlah Repetisi Beban :


Tabel 4.3 : Harga repetisi komulatif dari tiap kombinasi kongfigurasi / beban sumbu
pada lajur rencana
Kongfigurasi
sumbu

Beban
Sumbu
(ton)
STRT
3
STRT
4
STRG
5
STRT
5
STRT
6
STRG
9
SGRG
14
SGRG
21
Sumber : hasil analisa

Persentase
Kongfigurasi
Sumbu (%)
98 : 498 = 19,67
76 : 498 = 15,26
98 : 498 = 19,67
8 : 498 = 1,60
67 : 498 = 13,45
76 : 498 = 15,26
67 : 498 = 13,45
8 : 498 = 1,60

Jumlah Repetisi
Selama Usia
Rencana
12,11 105
9,40 105
12,11 105
0,98 105
8,28 105
9,40 105
8,28 105
0,98 105

gambar 2.7, diperoleh k = 30 kPa / mm


untuk CBR 3,5 %.

3.5. Kekuatan Tanah Dasar


Dari data skunder diketahui nilai
CBR yang mewakili 3,5 %, pada grafik
3.6. Kekuatan Pelat Beton (Tebal 25 cm ) :

Tabel 4.5 : Tinjauan kekuatan pelat beton untuk setiap kombinasi kongfigurasi dan beban
sumbu berdasarkan harga K tertentu
Koef.
sumbu

Beban
sumbu
(ton)

Beban
Rencana
FK = 1,1

1
STRT
STRT
STRG
STRT
STRT
STRG
SGRG
SGRG

3
4
5
5
6
9
14
21

Sumber : hasil analisa

3,3
4,4
5,5
5,5
6,6
9,9
15,4
23,1

Repetisi
beban
(105)

4
12,11
9,40
12,11
0,98
8,28
9,40
8,28
0,98

Tegangan
yang
terjadi
(Mpa)

5
0,62
0,82
0,73
1
1,2
1,5
1,4
2,03

Perbandingan
tegangan

Jumlah
repetisi
beban yang
dijinkan

Persentase
fatigue (%)

0,17
0,22
0,20
0,27
0,33
0,41
0,38
0,56

100.000
Jumlah

98
98

Keterangan tabel perhitungan :


Kolom-3 : perkalian kolom-2 dengan FK (diambil dari tabel-2.4).
Kolom-5 : dari grafik NAASRA (pada lampiran perkerasan-1,2,dan 3)
nilai
k = 30 kPa / mm.
Kolom-6 : kolom-5 dibagi r
Kolom-7 : dari tabel-2.6 dengan nilai dari kolom-6
Kolom-8 : kolom-4 dibagi dengan kolom-7 dikalikan 100
Dengan tebal pelat = 25 cm,
ternyata jumlah Fatigue 98 < 100 %,
maka tebal pelat minimum yang harus di
gunakan = 25 cm.
IV. Penutup
4.1. Kesimpulan
Dalam pembahasan tugas akhir ini
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Untuk kebutuhan tebal perkerasan
rigid ini sangat ditentukan oleh jumlah
kendaraan niaga selama usia rencana
berdasarkan pada total fatigue
mendekati atau sama dengan 100 %.
2. Angka fatigue (masa kelelahan dari
pelat beton akibat beban berulang) di
dapat dengan hasil perbandingan
pengulangan beban rencana dengan
pengulangan beban ijin.
4.2. Saran
Untuk
lebih
terjaminnya
ketahanan atau keawetan dari perkerasan
rigid ini selama usia yang telah
direncanakan, maka harus ada kesadaran
dari semua pihak baik dari pengusaha,
sopir, dan pihak yang berwenang untuk
lebih
memaksimalkan
pengawasan
terhadap muatan dari kendaraan niaga
karena kelebihan muatan (overloading)
dapat mempersingkat usia dari perkersan
yang telah direncanakan
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Pengecoran Beton Untuk
Perkerasan Jalan Rigid Pavement,
[pdf],
(http://www.pranonotsum.wordpr
ess.com/2012/11/22/pengecoran-

dengan

beton-untuk-perkerasan-jalanrigid-pavement,diakses, diakses
tanggal 17 april 2014)
Anonim, Jenis-jenis Perkerasan Jalan,
[pdf],
(http://www.m4741blogspot.word
press.com/2013/03/05/jenis-jenisperkerasan-jalan, diakses tanggal
17 april 2014)
Anonim, Perencanaan Perkerasan Jalan
Beton
semen,[pdf],
(http://www.pu.go.id/upload/servi
ces/infopublik20120831133154.p
df, diakses tanggal 15 april 2014)
Anonim, Analisa Perhitungan Tebal
Lapis Perkerasan Kaku Dengan
Metode
SNI
pd-T-142003,[pdf],(http://library.polmed.
ac.id/856-analisa-perhitungantebal-lapis-perkerasan-kaku,
diakses tanggal 18 april 2014)
Anonim,SKBI,(Standar
Konstruksi
Bangunan Indonesia), Petunjuk
perencanaan Perkerasan Kaku
(Rigid Pavement), Departemen
Pekerjaan
Umum,
Repuplik
Indonesia, SKBI. 2.3.28.1988,
UDC.625.84 (026).
Hendarsin,
Shirley
L.
2000.
Perencanaan
Teknik
Jalan
Raya.Bandung
:
Politeknik
Negeri Bandung
Santoso,
Nurcahyo
B,
Teknis
Pelaksanaan
Jalan
Beton
Semen,[pdf],
(http://teknik.unitomo.ac.id/Pelak
sanaan-jalan-beton-semen-ok.pdf,
diakses tanggal 15 april 2014)