Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.

1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT IBU DALAM


PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DI WILAYAH PUSKESMAS
PEMBANTU BAGI KECAMATAN MADIUN
KABUPATEN MADIUN
Suprijati
Email : Suprijatibidan@yahoo.com
ABSTRACT
Penelitia ini merupakan adalah kualitatif bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang paling
dominan yang menjadi kendala ibu dalam memberikan ASI esklusif. lokasi di Desa Bagi Kecamatan
Madiun Kabupaten Madiun. Informan adalah para ibu menyusuiyang mempunyai bayi umur 0-12 bulan,
yang tidak menyusui bayinya secara esklusif 0-6 bulan. Variabel penelitian adalah faktor penghambat
pemberian ASI esklusif. Tehnik pengumpulan data menggunakan FGD (Focus Group Discusion).
Instrumen Penelitian adalah pedoman FGD tentang faktor penghambat informan dalam pemberian ASI
esklusif. Hasil penelitian menunjukkanbahwa semua menyatakan faktor umur, pendidikan, pekerjaan
tidak mengganggu aktifitas menyusui bayi, semua informan mengatakan mulanya mereka memberikan
ASI setelah kelahiran bayinya namun karena kendala ASI tidak lancar dan tidak mau repot, rewel
anaknya menangis akhirnya mereka memberikan susu botol. Menurut informan sebetulnya mereka tahu
tentang pentingnya memberikan ASI dibanding susu formula, namun mereka merasa khawatir bila
bayinya tidak diberi susu botol maka bayinya tidak bisa menjadi gemuk, atau tidak bisa cepat naik berat
badannya seperti yang mereka harapkan.
Kesimpulan penelitian bahwa faktor umur, pendidikkan, pekerjaan bukanlah faktor kendala dalam
aktifitas menyusui bayi mereka, namun karena alasan / kendala ASI tidak lancar keluar, tidak mau repot
bila anak rewel, dan yang paling dominan alasan memberi susu botol karena merasa khawatir bila bayi
tidak diberi susu formula bayi tidak bisa gemuk atau cepat naik berat badannya.
Saran penelitian pada prinsipnya memeng banyak kendala bagi ibu dalam pelaksanaan pemberian
ASI esklusif, namun hal tersebut mungkin tidak perlu terjadi bila faktor kendala internal maupun
eksternal dari buteki bisa teratasi terlebih dulu, maka diharapkan agar instansi kesehahan dan bidan
praktek swasta untuk tidak bosan memberi KIE tentang manajemen laktasi yang baik dan diperbanyaknya
buku pedoman manajemen laktasi bagi ibu meneteki pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Kata kunci
:
Faktor penghambat, ASI
1.

PENDAHULUAN
Pada masa modern seperti ini, sebagian ibu
muda merasa enggan menyusui anak,
sebenarnya gejala tersebut sudah membudaya
sejak sekian lama, terutama di kota-kota besar,
semula hal itu dilakukan oleh para ibu muda di
Eropa dan Amerika pada awal abad ke 20.
Tindakan ini menyebabkan anak mudah
terserang penyakit karena daya tahannya lemah.
Ternyata fenomena yang menunjukkan bahwa
sebagian ibu tidak menyusui anaknya tidak
hanya terjadi dinegara-negara maju, tetapi juga
di negara-negara berkembang, misalnya
Indonesia ada banyak faktor yang membuat atau
mempengaruhi ibu hingga tidak menyusui
anaknya.
Banyak hal yang harus dipersiapkan ibu
untuk menyambut kelahiran bayi agar ia tumbuh
dan berkembang menjadi anak yang sehat dan
cerdas. Salah satunya adalah persiapan diri agar
ibu berhasil menyusui bayi secara baik dan
eksklusif ampai bayi berumur 4-6 bulan.
Persiapan itu perlu dilakukan oleh setiap ibu
semenjak masih hamil. Air susu ibu (ASI)

76

merupakan sunber gizi paling sempurna yang


mengandung zat kekebalan serta mudah dicerna
oleh bayi. Asi juga mempunyai nilai ekonomis
dan sangat praktis dalam pemberiannya.
Permasalahannya adalah tidak semua ibu mau
memberikan air susunya secara eksklusif
sampai usia 4-6 bulan. Banyak faktor
mempengaruhi mengapa ibu enggan menyusui
bayinya secara eklusif, diantaranya adalah
keharusan ibu dalam bekerja, pentingnya
penampilan diri menjadi berkurang, gambaran
tubuh berubah, peran ibu berkurang dan
sebangai (Perinasia, 1990).
Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik
dan alamiah untuk bayi. Menyusui merupakan
proses alamiah, namun demikian banyak ibu
yang tidak berhasil dalam menyusui. Bila ibu
menghentikan pemberian air susunya maka ibu
pasti memerlukan bantuan berupa pemberian
susu formula. Banyak alasan yang diungkapkan
oleh para ibu mengapa mereka menghentikan
proses menyusuinya, diantaranya adalah bahwa
air susunya tidak cukup lagi, atau air susunya
tidak keluar. Keadaan ini sebetulnya bukan

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

disebabkan karena produksi ASI


kurang
namun disebabkan faktor psikologis dari si ibu
yang menyebabkan air susunya tidak
keluar.Disamping faktor psikologis, ternyata
informasi tentang cara-cara menyusui yang baik
dan benar belum terjangkau sebagian besar ibuibu(Depkes RI,2001), (Dwi sunar.P, 2009).
Dampak
yang
ditimbulkan
akibat
pemberian ASI tidak memadai adalah
pertumbuhan bayi terganggu, perkembangan
bayi terhambat, bayi mudah terserang penyakit,
hubungan kasih sayang ibu tidak terjalin dengan
baik. Frekuensi dan lamanya menyusui
dibanyak bagian dunia telah menunjukkan
penurunankarena berbagai alasan sosial,
ekonomi dan budaya. Dengan dikenalnya
tehnologi modern dan diserapnya gaya hidup
baru, makna yang melekat dalam praktek
kebiasaan menyusui telah menunjukkan
penurunan yang nyata dalam masyarakat
(Perinasia,1991). Di daerah pedesaan, pada
umumnya ibu menyusui bayi
mereka,
namun
hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa pengaruh kebiasaan yang kurang
baik, seperti pemberian makanan pralaktal
yaitu
pemberian
makanan / minuman
untuk menggantikan ASI apabila ASI belum
keluar pada hari pertama setelah kelahiran. Jenis
makanan tersebut antara lain: air tajin, air
kelapa, madu yang dapat
membahayakan
kesehatan bayi dan menyebabkan berkurang
kesempatan untuk merangsang produksi ASI
sedini mungkin melalui hisapan bayi pada
payudara ibu. Disamping itu masih banyak ibuibu tidak memanfaatkan Colostrum ( ASI yang
pertama keluar pada hari-hari pertama ), karena
dianggap tidak baik untuk bayi (susu basi ),
selanjutnya pemberian Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI) diberikan terlalu dini sebagian
besar berupa pisang, nasi, bubur yang tidak
mencukupi baik kuantitas maupun kualitasnya.
Faktor kemiskinan juga sangat dipengaruhi oleh
kekerabatan sosial kultur kebiasaan masyarakat.
Kebiasaan
tersebut
karena
kurangnya
pengetahuan masyarakat efek akibat pemberian
makanan tambahan sejak dini pada bayi.
Anggapan yang salah tentang perlunya
pemberian makanan pada bayi sejak awal inilah
yang memberikan konstribusi rendahnya
cakupan pemberian ASI ekslusif pada bayi
(Hananto, 2000). Kendala lain yang dihadapi
dalam upaya peningkatan pemberian ASI adalah
belum semua sarana pelayanan persalinan
menerapkan 10 langkah menuju keberhasilan
menyusui
(LMKM)
yang
merupakan
kriteria/persyaratan Rumah Sakit Sayang Bayi.
Disamping itu untuk ibu bekerja belum

76

diterapkan Tempat Kerja Sayang Bayi. (Depkes


RI, 2001).
Hasil penelitian di Bogor Tahun 2001
menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI
Ekslusif sampai usia 4 bulan tidak ada yang
menderita gizi buruk ketika mereka berusia 5
bulan. Penelitian yang sama menunjukkan
bahwa 18.7% dari ibu-ibu dianjurkan oleh
petugas kesehatan
untuk memberi susu
formula
pada minggu pertama setelah
kelahiran.
Sebagian besar ibu menyatakan bahwa
sumber promosi-promosi
susuf
formula
adalah pelayanan kesehatan (76%) dimana 21 %
ibu melihat iklan susu formula di rumah
sakit, 19,5 % di praktek klinik swasta dan
19.5 % di puskesmas. Lebih jauh lagi, lebih dari
60 % ibu-ibu menyatakan menerima susu
formula bayi melalui Rumah Sakit atau Rumah
Bersalin, dan sekitar 40 % ibu menerima hadiah
dari perusahaan susu formula untuk bayi.
Temuan penting lainya dari studi tersebut
adalah bahwa 14,8 % bidan menyatakan setuju
untuk memberi susu formula kepada bayi baru
lahir. (IPB , Depkes, Badan POM dan WHO
2001).
Bayi yang diberikan susu selain ASI,
mempunyai resiko 17 kali lebih besar
mengalami diare, dan 3 sampai 4 kali lebih
besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan
dengan bayi yang mendapat ASI. (WHO 2000).
Sedangkan di puskesmas Ngujung diperkirakan
47,36 % saja bayi yang mendapat ASI Ekslusif
dari target 70 % (Dinkes Kab. Madiun, 2010).
Agar menyusui dapat berhasil dengan baik
diperlukan dukungan aktif para ibu selama
hamil sampai anak usia minimal 2 tahun.
Dukungan ini bukan hanya dari keluarga dan
masyarakat melainkan juga dari seluruh sistem
pelayanan kesehatan. Lebih-lebih petugas
kesehatan dan kader kesehatan di posyandu
sebaiknya tidak berhenti dalam memberikan
penyuluhan dan pendidkan kesehatan tentang
pentingnya pemberian ASI ekslusif untuk
pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai
usia 4-6 bulan. Disamping itu perlu adanya
penyebaran leaflet dan informasi seputar
pentingnya ASI baik di media cetak maupun
media elektronik yang terjangkau oleh
masyarakat.
Berdasarkan permasalahan dan dampak
masalah yang ditimbulkan akibat rendahnya
cakupan program ASI ekslusif, diperlukan studi
kualitatif
tentang faktor-faktor
yang
menghambat sehingga ibu tidak berhasil
memyusui bayinya secara ekslusif, penelitian ini
dipilih
untuk
mengetahui
secara
sesungguhnya/data primer guna menjawab

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

faktor yang paling menonjol mengapa


pemberian ASI secara ekslusif tidak berhasil
dengan baik.
2.

KAJIAN PUSTAKA
Konsep ASI Eksklusif
Menyusui
secara
ekslusif
adalah
pemberian hanya air susu ibu (ASI) saja tanpa
makanan dan minuman lain dianjurkan sampai 4
6 bulan pertama kehidupan bayi. (Depkes RI,
2001), Dengan kata lain bayi hanya diberi ASI
selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain,
seperti susu formula, jeruk,madu,air teh,dan air
putih,serta tanpa tambahan makanan padat,
seperti pisang, bubur susu,biskuit, bubur nasi
dan nasi tim, kecuali vitamin, mineral dan
obat,setelah 6 bulan bayi boleh diberi makanan
pendamping ASI(MP-ASI) dan ASI masih
diberikan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih
(Dwi Sunar, 2009, 26) Mengapa Eksklusif ?
Karena ASI sebagai sumber utama laktosa
apabila berhasil secara eksklusif diberikan
kepada bayi sampai usia 4-6 bulan akan
menjamin kebutuhan energi dan komponen
untuk pertumbuhan sel-sel syaraf dan otak
(cerebrocide dan myelin) sebagai persiapan
kualitas tumbuh kembang.(Sounders, 1981,
247).
Keuntungan ASI
1. Bagi bayi
a. Dari segi gizi meliputi; mengandung zat
gizi lengkap, mudah diserap dan mudah
dicerna.
b. Dari segi imunologik; mengandung zat
kekebalan, dan tidak menyebabkan
alergi.
c. Dari
segi
psikologi
meliputi;
mendekatkan hubungan ibu dan bayi dan
menimbulkan rasa percaya diri pada ibu.
2. Bagi Ibu:
a. Kesehatan Ibu Post Partum
Isapan bayi pada puting susu ibu akan
mengurangi perdarahan pasca persalinan
dan mempercepat proses involusi post
partum.
b. Aspek Psikologis meliputi; mendekatkan
hubungan ibu dan anak dan memberikan
perasaan diperlukan(pada ibu).
c. Aspek Keluarga Berencana; meliputi
menjarangkan
kehamilan
menunda
kembalinya kesuburan.
3.Bagi Keluarga
a. Segi ekonomi, meliputi; hemat karena
tidak
perlu
membeli
susu
formula,menghemat
biaya
pengobatan,karena jarang sakit.
b. Segi psikologis, meliputi; mendekatkan
hubungan bayi dengan keluarga,tidak

76

mengganggu orang lain utk membuetkan


susu formula
Keunggulan dan manfaat ASI
a. Aspek
Gizi,
meliputi;Manfaat
Kolostrom; 1). Kolostrom meengandung
zat kekebalan terutama Ig.A untuk
melindungi bayi dari berbagai penyakit
alergi terutama diare. 2). Jumlah
kolostrom yang di produksi bervariasi
tergantung dari hisapan bayi pada harihari pertama kelahiran, walaupun sedikit
namun cukup untuk memenuhi zat gizi
bayi, oleh karena itu harus diberikan
pada bayi; 3). Kolostrom mengandung
protein, vitamin A yang tinggi dan
karbohidrat dan rendah lemak, sehingga
sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada
hari-hari pertama setelah kelahiran; dan
4). Membantu pengeluaran mekonium,
yaitu kotoran bayi yang pertama
berwarna hitam kehijauan.
Komposisi kolostrum, ASI dan susu
sapi untuk setiap 100 ml, meliputi; 1). ASI
mudah dicerna, selain mengandung zat
gizi yang sesuai, juga
mengadung
enzim-enzim untuk mencernakan zatzat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut;
2). ASI mengandung zat-zat gizi
berkualitas tinggi, yang berguna untuk
pertumbuhan
dan
perkembangan
kecerdasan
bayi/anak.
3).
Selain
mengandung protein yang tinggi, ASI
memiliki perbandingan (Rasio) antara
whey dan casein yang sesuai untuk bayi.
Rasio whey : casein merupakan salah satu
keunggulan ASI dibandingkan dengan
susu sapi. ASI mengandung whey lebih
banyak yaitu 65 : 35, komposisi ini
menyebabkan protein ASI lebih mudah
diserap dibandingkan dibandingkan susu
sapi perbandinganya ialah 20 : 80
mengandung lebih banyak casein yang
tidak mudah diserap.
Komposisi Taurin, DHA dan AA
pada ASI, meliputi ; 1). Taurin adalah
asam amino kedua yang banyak terdapat
dalam ASI dan tidak terdapat terdapat
dalam susu sapi (Raiha,1985). Taurin
berfungsi sebagai neuro transmiter dan
berperan penting untuk untuk proses
maturasi sel otak (Gaul,1985);
2).
Decosahexanoic Acid (DHA) dan
Arachidonic Acid (AA), adalah asam
lemak tak jenuh rantai panjang (
polyunsaturated fatty- acids) untuk
pembentukan sel-sel otak yang optimal.
DHA dan AA dalam ASI jumlahnya
sangat mencukupin untuk menjamin

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

pertumbuhan dan kecerdasan anak


dikemudian hari (Depkes RI, 2001:6-8)
b. Aspek Imunologik
Telah diketahui bahwa bayi yang
diberi ASI lebih terlindungi terhadap
penyakit infeksi terutama diare dan
mempunyai
kesempatan hidup lebih
besar dibandingkan dengan bayi-bayi yang
diberi susu
botol.
Hal
ini
disebabkan karena pemberian ASI
memberikan keunggulan sebagai berikut;
1). ASI bersih,
bebas
dari
kontaminasi 2). Immunoglobulin terutama
Ig. A kadarnya lebih tinggi dalam
kolostrum dibandingkan dengan ASI dan
melumpuhkan bakteri patogen E.Coli dan
berbagai virus pada saluran pencernakan;
3). Lactoferin sejenis protein yang
merupakan komponen zat kekebalan
dalam ASI yang mengikat zat besi (ferrum
) disaluran pencernakan; 4). Lysossim
terdapat dalam jumlah 300x lebih banyak
pada ASI daripada susu sapi,enzim ini
aktif mengatasi bakteri E.Coli dan
Salmonella; 5). Sel darah putih:BrochusAsosiated Lympocyte Tissue ( BALT ),
yang menghasilkan antibodi terhadap
infeksi saluran pernafasan; Gut Asosiated
Lympocyte Tissue ( GALT ), yang
menghasilkan antibodi terhadap saluran
pencernakan;Mammary-Asosiated
Lympocyte Tissue ( MALT ), yang
menyalurkan antibodi melalui jaringan
payudara ibu. Sel-sel ini memproduksi
Ig.A,
lactoferin,lysosim
dan
interferon,interferon menghambat aktifitas
firus tertentu; Faktor bifidus sejenis
karbohidrat yang mengandung nitrogen,
menunjang
pertumbuhan
bakteri
Laktobifyds,
bakteri ini
menjaga
keasaman flora usus bayi dan berguna
untuk menghambat pertumbuhan bakteri
yang merugikan.Kotoran bayi menjadi
bersifat asam yang berbeda dari kotoran
bayi yang mendapat susu botol (Depkes
RI,2001:9-10 ).
3.

METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian adalah kualitatif dengan
pendekatan studi kasus.). Dalam penelitian ini
juga menggunakan jenis penelitian diskriptif.
Penulis
mencoba
menjabarkan
kondisi
konkrit
dari
obyek
penelitian
dan
menghubungkan
variabel-variabel
dan
selanjutnya akan dihasilkan diskripsi tentang
persepsi dan faktor
penghambat dalam
pemberian ASI ekslusif. Lokasi penelitian
dilakukan di Desa Bagi Kecamatan Madiun

76

Kabupaten Madiun. Instrumen adalah alat untuk


mengumpulkan data yang berupa angket atau
kuisioner. Adapun reliabelitas dan validitasnya
lebih pada kelayakan dan kredibilitas peneliti
karena alat ukur dalam penelitian kualitatif
bersifat kualitatif juga, sehingga sangat abstrak,
akan tetapi lengkap dan mendalam. Sampel yng
peneliti gunakan dalam penelitian kwalitatif
tersebut kami sebut informan. Informan adalah
orang yang memberikan informasi data. Data
penelitian ini informannya adalah Ibu menjusui
/ Ibu yang tidak menjusui bayinya umur 0 s/d 6
bulan. Pada penelitian ini data yang ingin dicari
adalah data primer yaitu data yang diperoleh
atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh
orang yang melakukan penelitian. Berdasarkan
sifatnya, data pada penelitian ini dikategorikan
data kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk
bilangan (Hasan MI,2002).
Untuk
memperoleh
data
yang
dibutuhkan dari informan, maka metode
pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian
ini
adalah diskusi kelompok
terfokus / focus group disscution (FGD)
(Patilima H, 2005). Metode pengumpulan data
ini digunakan untuk mengali data dan informasi
mengeai penghambat ibu dalam pemberian ASI
Ekslusif.
Pengumpulan data dengan metode diskusi
kelompok
terfokus
(FGD),
tahapan
pengumpulan data dan informasi dimulai
dari :
a) Setelah mendapatkan izin penelitian, surat
ijin itu dikirim ke Kecamatan Madiun
Puskesmas Pembantu Bagi, Desa Bagi
sebagai wilayah penelitian.
b) Langkah selanjutnya setelah proses
pengurusan ijin penelitian selesai, maka
peneliti mulai menentukan informan.
c) Apabila informan jumlahnya banyak
dilakukan proses pemilihan informan
dengan tehnik pengambilan sampel secara
acak sederhana.
d) Apabila informan sudah terpilih sesuai
jumlah yang ditentukan, maka peneliti
menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
kepada informan.
e) Langkah
selanjutnya
dari
tahap
pengumpulan data adalah menentukan
jumlah kelompok diskusi, menentukan
jadwal diskusi dan topik diskusi.
f) Tahapan selanjutnya adalah melakukan
FGD sesuai jadwal
4.

HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan digambarkan hasil
penelitian kualitatif terhadap faktor-faktor

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

penghambat ibu dalam pemberian ASI,


sekaligus pembahasan hasil diskusi terarah
melalui hasil kegiatan Fokus Group Discusion
(FGD) yang dilaksanakan pada hari Selasa
tanggal 12 Juli 2013 bertempat di Balai Desa
Bagi , Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun.
Pelaksanaan FGD dihadiri oleh 12 orang
terdiri dari; dua orang pembimbing penelitian,
seorang peneliti, tiga orang pembantu peneliti,
dan enam orang informan. Kelas FGD secara
melingkar dengan bahan diskusi berupa
pertanyaan penelitian yaitu; faktor pertanyaan
tentang pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan
promosi PASI.
Pertanyaan pertama penelitian dijabarkan
dalam beberapa pertanyaan penelitian terbuka
untuk didiskusikan secara terfokus kepada para
informan. Pertanyaan tentang faktor usia,
pendidikan,pekerjaan, (Kode. 1), dijabarkan
menjadi menjadi 6 pertanyaan yaitu : Usia ibu
(Kode. 1.01), pendidikan terakhir (Kode 1.02),
pekerjaan Ibu (Kode 1.03), jumlah anak (Kode
1.04), pengaruh pekerjaan ibu dalam pemberian
ASI Eklusif (Kode 1.05), pengaruh pendidikan
ibu dalam pemberian ASI Esklusif (Kode 1.06).
Pertanyaan
kedua
tentang
faktor
pengetahuan Ibu terhadap ASI Esklusif
dijabarkan menjadi 6 pertanyaan, pertanyaan
tentang maksud ASI Esklusif (Kode 2.01),
keuntungan pemberian ASI E sklusif untuk
bayi (Kode 2.02), keuntungan pemberian ASI
bagi Ibu (Kode 2.03), apa yang menghambat
pemberian
ASI
(Kode 2.04),
apakah
menyusui
secara esklusif
mengganggu
pekerjaan (Kode 2.05), cara pemberian SI pada
Ibu bekerja (Kode 2.06).
Pertanyaan ketiga tentang promosi PASI
(Kode 3), dijabarkan menjadi 5 pertanyaan,
pertanyaan darimana Ibu mengetahui informasi
mengenai susu tambahan / susu formula (Kode
3.01), mengapa / apa alasan Ibu memberikan
susu formula pada bayi (Kode 3.02), sejak usia
berapa Ibu memberikan susu formula pada bayi
(Kode 3.03), sampai umur berapa Ibu
memberikan susu formula pada bayi (Kode
3.04), apakah susu formula lebih baik/penting
dari ASI(kode 3.05).
1.Data Informan
1.1 Informan 1
Nama
: Ny. Nuning
Kode
: Ny.NU.
Suami
: Haryono
Umur
: 21 tahun
Pekerjaan Istri
: Ibu Rumah Tangga
Pekerjaan Suami
: Swasta
Pendapatan
:< Rp. 1.000.000,/bulan
Jumlah Anak
:1

76

Anak ter kecil umur: 9 Bulan


Menyusui/tidak
:
Menyusui
ditambah susu botol.
Alamat
: Ds Bagi Rt 12 Rw 5
1.2 Informan 2
Nama
: Ny. Endang
Kode
: Ny. E
Suami
: Yayak
Umur
: 22 tahun
Pekerjaan Istri
: Ibu Rumah Tangga
Pekerjaan Suami : Swasta
Pendapatan
:> Rp. 1.000.000,/bulan
Jumlah Anak
:1
Anak ter kecil umur: 8 Bulan
Menyusui/tidak : Menyusui ditambah
susu botol
Alamat
: Desa Bagi Rt 10
Rw 4
1.3 Informan 3
Nama
: Ny. Harim
Kode
: Ny.H
Suami
: Harso
Umur
: 38 tahun
Pekerjaan Istri
: Ibu Rumah Tangga
Pekerjaan Suami : Tani
Pendapatan
:> Rp. 1.000.000,/bulan
Jumlah Anak
:2
Anak terkecil
: 2 Bulan
Menyusui/tidak
: Menyusui ditambah
susu botol
Alamat
: Ds Bagi RT 19 RW
06
1.4 Informan 4
Nama
:
Ny.
Neneng
Hamidah
Kode
: Ny. N H
Suami
: Fendrik Triana
Umur
: 24 tahun
Pekerjaan Istri
: Ibu Rumah Tangga
Pekerjaan Suami : Swasta
Pendapatan
: Rp. 1.000.000,/bulan
Jumlah Anak
:1
Anak kecil umur : 9 Bulan.
Menyusui/Tidak : Menyusui ditambah
susu botol
Alamat
: Ds Bagi RT 6 RW
2
1.5 Informan 5
Nama
: Ny. Yunik Nuryani
Kode
: Ny. Y N
Suami
: Hillaludin
Umur
: 30 tahun
Pekerjaan Istri
: Ibu rumah tangga
Pekerjaan Suami : Wiraswasta

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

Pendapatan
:> Rp. 1.000.000,/bulan
Jumlah Anak
:2
Anak ter kecil umur: 3 Bulan
Menyusui/Tidak : Susu botol.
Alamat
: Ds Bagi RT 01 RW
01
1.6 Informan 6
Nama
: Ny. Ani Kristiana
Kode
: Ny. A
Suami
: Sugiyanto
Umur
: 38 tahun
Pekerjaan Istri
: Pedagang
Pekerjaan Suami : Pedagang
Pendapatan
:>Rp.
1.000.000,/bulan
Jumlah Anak
:2
Anak terkecil umur : 10 Bulan
Menyusui/Tidak : Menyusui ditambah
susu botol.
Alamat : Desa Bagi RT 02 RW 02
2. Pertanyaan tentang umur, pendidikan,
pekerjaan
terhadap
ASI
Esklusif
(Kode,1)dijabar menjadi 6 pertanyaan yaitu:
Usia ibu, pendidikan terakhir,pekerjaan ibu,
jumlah anak,pengaruh pekerjaan Ibu dalam
pemberian ibudalam pemberian ASI
esklusif,pengaruh pendidikan ibu dalam
pemberian ASI esklusif.
Hasil diskusi terfokus didapatkan
keterangan menurut Ny. NU (informan 1)
mengatakan bahwa Pendidikan saya SMP
suami SMP, pekerjaan suami saya Swasta, saya
Ibu rumah tangga, suami saya umur 28 tahun
dan saya 21 tahun, anak saya baru 1 ini, dulu
lahirnya di RSU sekarang ini umur 9 bulan,
dulu berat lahirnya 2200 gram sewaktu di RSU
anak saya dioven dan diberi susu botol, kadangkadang diberikan ke saya untuk disusui,
sebenarnya pekerjaan saya sehari-hari itu tidak
mengganggu saya untuk menyusui Bu, saya
masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah
seperti mencuci dan memasak, karena setiap
hari saya dirumah saja, setiapkali nangis juga
langsung saya susui, tapi kok yang keluar itu
hanya sedikit sekali, jadi kalau masih nangis ya
terpaksa saya kasih susu botol saja, kan
sewaktu di RSU sudah pernah dapat susu
botol.............
Menurut Ny.
E (Informan 2)
mengatakan bahwa Umur saya 22 tahun,
sedangkan suami saya 26 Tahun, pendidikan
saya SMA dan suami saya SMP, saya ibu rumah
tangga sedangkan suami saya karyawan
Swasta, anak saya 1 sekarang ini umur 8 bulan,
berat waktu lahir 2700 gram, saya masih
tinggal dirumah mertua, saya bisa menyusui
bayi saya setiap saat, dulu saya melahirkan di

76

Bidan Bu, waktu baru lahir itu ya langsung


diberi ASI saja, ASI saya lancar Bu, 2 hari
langsung keluar saya susui terus bayi saya
sampai umur 1 bulan, setelah itu baru saya beri
susu botol. .............
Menurut Ny.H (Informan 3) saat ditanya
tentang hal yang sama kulo umur 38 tahun,
bojo kulo Tani, kulo nggih Tani, anak kulo 2,
sing cilik umur 2 wulan, lahire teng RSU, mulai
lahir nggih minum susu kulo, tapi disambung
kaleh susu botol, soale kulo nglaerne dioperasi,
taksih teng rumah sakit niko mimik susu botol
terus, margi susu kulo dereng medhal, terus
hari ke 4 niko, kulo ken blajar njusoni,
amargi lek dereng pinter angsale mimik
bayine
dereng saget dibetho wangsul, wangsul saking
RSU bayine terus kulo mimiki piyambak Bu,
namung kadang-kadang kulo tambahi susu
botol, margi bibar operasi, kulo dereng saget
tandang gawe omah Bu, jane ngeh saget njusui
sak wanci-wanci, tapi kadang jahitan operasi
taksih radi sakit, lek bayine mimik kulo gek
dhereng bancar, akhire nangis, terus kulo
mesak aken, akhire kulo sambung susu botol.
Menurut Ny. NH (informan 4) dengan
logat sunda mengatakan bahwa sekarang saya
umur 24 tahun, Bapaknya umur 26 tahun, saya
dulu tamatan SMP kalau suami saya SLTA dan
bekerja sebagai pegawai Swasta, anak saya 1,
sekarang umur 9 bulan, dulu lahirnya berat
badannya 3100 gram, mulai lahir langsung
saya susui sendiri, sewaktu-waktu minum ASI
terus pagi, malam juga. Kalau pagi tidur terus,
bisa ditinggal ngerjain pekerjaan rumah jadi
meskipun minum ASI, saya tetap bisa ngerjakan
pekerjaan rumah, tapi ASI tetap saya kasih
terus, kata mertua saya, dhah kamu urus saja
thuh bayimu, ya udah kalau nangis ya susuin
lagi
Menurut Ny YN(Informan 5), saat
diberikan pertanyaan serupa saya Ny YN umur
28 tahun suami saya umur 30 tahun, saya
tamatan SMA dan bekerja sebagai Ibu rumah
tangga sedangkan suami saya lulusan SMP
pekerjaan Swasta, anak saya 2 Bu, yang kecil
umur 3 bulan dulu lahir di Bidan beratnya
normal 3,5 Kg, mulai lahir diberi minum susu
botol Bu, karena ASI saya belum keluar, setelah
pulang dari Bidan, dirumah 2 hari ASI saya
baru keluar, bayi tetap saya susui sendiri, tapi
kadang-kadang saya beri susu botol, soalnya
kadang-kadang kerepotan kalau pas saya
tinggal, misalnya waktu mandi atau pas makan,
belum selesai sudah keburu nangis akhirnya
disambung susu botol.
Sedangkan Ny. A (informan 6) saat
ditanya pertanyaan yang sama menjawab saya

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

Ny A umur 30 Tahun lulusan SMA sebagai Ibu


rumah tangga, suami saya 38 tahun bekerja
sebagai pedagang, lulusan STM, anak saya
sudah 2, yang besar umur 5 tahun yang kecil
umur 10 bulan, dulu waktu melahirkan saya
tidak tahu kalau hamil berapa bulan, pas
sedang jualan pakaian keliling tiba-tiba perut
saya mules kemudian periksa ke Bidan lalu
dirujuk ke RSU, kataya bayinya kecil, setelah
lahir ternyata beratnya hanya 1800 gram
(prematur)bayi dirawat di RSU selama 2
minggu, di RSU diberi susu botol setelah 2
minggu bayi boleh pulang karena sudah bisa
menyusu lancar, dirumah saya beri ASI terus,
tetapi tetap saya sambung susu botol. Setelah
melahirkan saya bisa merawat dan menyusui
bayi saya dirumah karena udah tidak jualan
keliling lagi Bu .
Hasil diskusi ini dapat digambarkan
bahwa lima diantara enam informan merasa
bahwa faktor umur,pendidikan,dan pekerjaan
tidak mengganggu untuk memberikan ASI
esklusif, tetapi belum mengetahui secara benar
tentang apa itu ASI Esklusif, sedangkan satu
informan diantaranya telah mengetahui karena
didukung oleh keluarga (mertua) untuk
menyusui bayinya, Pernyataan informan ini
memberikan keterangan bahwa informasi
petugas kesehatan tentang pemberian ASI
esklusif belum diterima baik,atau informasi
petugas
kesehatan
melalui
penyuluhan
masyarakat tidak sampai menyentuh ke calon
para ibu yang akan menyusui bayinya secara
benar. Fakta ini mencerminkan bahwa upaya
penyuluhan dan pendidikan kesehatan yang
dilakukan petugas perlu ditingkatkan lagi.
Satu informan merasakan menyusui bayi
secara esklusif tidak mengganggu pekerjaan
rumah sehari-hari dan bisa membagi waktu
untuk menyusui secara baik. Proses perubahan
tingkah laku dan proses belajar ini menurut
(Notoatmodjo, 2003) dapat dikategorikan
adanya peranan anggota keluarga dalam
pengambilan keputusan,peran keluarga untuk
tetap menyusui bayinya.
Ternyata, fenomena yang menunjukkan
bahwa sebagian ibu muda tidak
menyusui anaknya banyak terjadi ditengah
masyarakat kita, ada sebuah kekeliruan
konsep yakni susu formula itu diperlukan oleh
ibu yang persediaan air susunya tidak
mencukupi
kebutuhan
anak,
sehingga
dibutuhkan susu tambahan yang diproduksi oleh
perusahaan susu. Hal ini sangat mempengaruhi
pemikiran para ibu yang kurang memiliki
pengetahuan yang luas tentang ASI, bagi para
ibu menggunakan susu formula dianggap lebih
mendatangkan semacam kelonggaran, karena

76

mereka tidak perlu selalu siap sedia


memberikan ASI kepada bayi / anak, lambat
laun kebiasaan ini akan memupuk sikap mental
yang enggan repot dan bertindak seenaknya
sendiri.
3. Pertanyaan tentang pengetahuan ASI
Esklusif (Kode 2) dijabarkan menjadi 6
pertanyaan: pertanyaan maksud
ASI
esklusif,keuntungan
pemberian
ASI
esklusif untuk bayi,kuntungan untuk
ibu,apa yang menghambat pemberian
ASI,apakah menyusui secara esklusif
mengganggu pekerjaan,cara pemberian
ASI pada ibu bekerja.
Hasil FGD dapat dijabarkan sebagaimana :
Pendapat Ny NU (Informan 1) tentang
pengalamannya menyusui sebagai berikut :
Coba ibu-ibu ceriterakan apa yang dimaksud
ASI Esklusif, keuntungan untuk bayi dan ibu
dan apa yang menghambat pemberian ASI ?
Ny NU (Informan 1) menjawab

Menurut saya ASI Esklusif yaitu bayi hanya


minum ASI tanpa diberi makanan sampingan
mulai lahir sampai 6 bulan, ASI yang pertama
keluar itu mengandung kekebalan, menyusui
dengan ASI itu sendiri sebenarnya lebih enak
dibanding dengan susu formula Bu, tidak usah
membeli dan tidak capek-capek membuatkan,
sebenarnya pemberian ASI tidak mengganggu
pekerjaan saya Bu, tetapi karena ASInya tidak
bisa keluar banyak saya merasa kurang cukup,
akhirnya saya beri susu tambahan. ...
Ny E (Informan 2) menjawab Saya
setuju dengan ibu NU bahwa ASI saja dari ibu
sampai 6 bulan tidak diberi makanan apa-apa
karena sudah mengandung gizi sesuai yang
dimakan ibunya, keuntungan ASI
dibandingkan susu formula lebih murah, diberi
ASI bayi tidak mudah sakit, karena ada zat
kekebalannya.
Sementara itu dengan logat yang khas,
NY H (Informan 3) menjawab : ASI Esklusif
niku nggih bayi dimimiki ibuke mawon,mboten
diparingi maem nopo-nopo ngantos umur 6
sasi, ASI niku sae sanjange sampun ngandung
kekebalan sing damel bocah saget sehat, nek
disusui piyambak niku sekecane mboten sah
tumbas, . . .tapi nek nangis kadang-kadang
nggih kulo mimiki susu botol, kadang-kadang
kulo kerokne pisang sekedik, mengke nek pun
ngoten terus mendel, dadose nek ASI thok
kurang wareg.
Menurut pendapat NY NH (Informan 4)
dengan
logat
sundanya
mengatakan:
Maksudnya ASI Esklusif ya bayi mulai lahir
sampai 6 bulan Cuma diberi ASI doang, tanpa
diberi tambahan makan atau susu formula. ASI
itu lebih bagus dari formula karena ada

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

kekebalannya yang tidak ada di susu formula,


jadinya bikin anak tidak gampang sakit, dikulit
juga bagus, kalau neteki sebenarnya tidak
mengganggu pekerjaan dirumah karena saya
masih bisa ngerjain pekerjaan dirumah,
penghambat pemberian ASI sebenarnya anak
saya sejak lahir sudah ASI saja Bu, terus mulai
4 bulan saya kasih susu botol, karena takut
berat badannya susah naik, . . . gitu aja Bu.
Pendapat Ny Y (Informan 5) sewaktu
ditanya dengan pertanyaan sama menjawab :
ASI Esklusif itu bayi diberi ASI saja sampai 6
bulan, tidak diberi makan apa-apa, ASI lebih
bagus untuk pertumbuhan anak, karena sarisari makanan ibu langsung turun keanaknya,
untungnya kalau diberi ASI itu banyak ya Bu,
tidak perlu repot-repot membuat, murah,
kalau anak nangis langsung bisa disusui, yang
menjadi penghambat itu karena kalau malam
kadang-kadang rewel, akhirnya tetap saya
sambung susu botol, karena takut kalau masih
nangis karena kurang minumnya.
Pendapat Ny A ( Informan 6) sewaktu
ditanya dengan pertanyaan sama menjawab :
Kalau yang saya ketahui ya Bu. . . ASI Esklusif
itu, memberikan ASI saja mulai
bayi lahir
sampai 6 bulan tanpa diberi makan atau susu
formula, ASI lebih bagus dari susu formula,
karena sudah mengandung kekebalan, jadi
seumpama bayi itu sakit maka cepat sembuh, itu
kalau Ibu makannya bagus seperti sayursayuran, akan terserap untuk gizi si bayinya,
sebenarnya menyusui itu tidak menganggu
pekerjaan saya Bu . . ., tapi terpaksa saya
tambahi susu formula karena untuk mengejar
bobotnya itu, soalnya anak saya lahirnya kan
Cuma 1,8 Kg jadi biar cepat nambah berat
badannya.
Dari jawaban yang disampaikan oleh
kelima dari enam Informan diatas dapat
disimpulkan bahwa sebenarnya menyusui itu
tidaklah menganggu pekerjaan Informan yang
menjadi alasan utama penghambat dalam
pemberian ASI Esklusif adalah bahwa
fenomena yang dianggap bahwa susu formula
itu adalah solusi yang paling tepat untuk
mengatasi masalah mereka, yaitu karena mereka
ingin bobot bayi yang tadinya sedikit atau
kurang bisa dengan cepat dan gampang menjadi
naik.
ASI merupakan makanan pertama, utama
dan terbaik bagi bayi, yang bersifat alamiah.
ASI mengandung berbagai zat Gizi yang
dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan bayi, terkait itu ada suatu hal
yang perlu disayangkan, yakni rendahnya
pemahaman ibu, keluarga dan masyarakat
mengenai pentingnya
ASI bagi
bayi,

76

akibatnya program pemberian ASI Esklusif


tidak berlangsung secara maksimal, karena
pemahaman Ibu yang masih setengah-setengah.
Mereka berfikir bahwa ASI yang diberikannya
kepada bayi belum cukup memenuhi kebutuhan
bayi.
Perilaku dari pandangan biologis
merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku
manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas
dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu,
perilaku manusia itu mempunyai bentangan
yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara,
bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan
kegiatan internal (internal activity) seperti
berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan
perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka
analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah
apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut,
baik dapat diamati secara langsung atau secara
tidak langsung. Perilaku dan gejala perilaku
yang tampak pada kegiatan organisme tersebut
dipengaruhi baik oleh faktor genetik
(keturunan) dan lingkungan. Secara umum
dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan
lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku
makhluk hidup termasuk perilaku manusia.
Pernyataan secara verbal dari kelima
informan lainnya yaitu Ny.NU, Ny.H, Ny.NH,
Ny.YN dan Ny.A sebagaimana ungkapan
kalimat di alinea atas menurut (Noto atmodjo,
2003) merupakan aplikasi dari teori perubahan
perilaku yaitu teori S-O-R (stimulusOrganisme-Respon)
Perubahan
perilaku
tergantung kepada kwalitas rangsang (stimulus)
yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya
kwalitas dari sumber komunikasi (Sources)
misalnya : Kredibilitas, kepemimpinan, gaya
berbicara sangat menentukan keberhasilan
perubahan perilaku seseorang, kelompok atau
masyarakat. Oleh sebab itu stimulus atau
rangsang yang diberikan pada organisme dapat
diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut
tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu
tidak efektif mempengaruhi perhatian individu,
dan berhenti disini, tetapi bila stimulus diterima
oleh organisme berarti ada perhatian dari
individu dan stimulus tersebut efektif.
Sedangkan stimulus yang susah diterima adalah
program ASI Esklusif dan ternyata susah
diterapkan oleh informan.
Fakta ini cukup menjadi perhatian dari
pihak Puskesmas utamanya tenaga
Bidan, karena program ASI Esklusif belum
diterima dengan baik oleh masyarakat atau
belum diterapkan secara baik oleh masyarakat
meskipun
sebenarnya
masyarakat
itu

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

kebanyakan sudah mengetahui manfaat dan


pentingnya ASI.
Pernyataan tersebut terbukti dengan
semua keterangan atau data yang didapat dari
hasil fokus grup diskusi terhadap keterangan
Informan
diatas,
kebanyakan
mereka
mengetahui manfaat dari penggunaan ASI
Esklusif akan tetapi dengan berbagai alasan
mereka belum dapat menerapkan program ASI
Esklusif sesuai dengan harapan yang
dicanangkan oleh pemerintah.
4 Pertanyaan tentang promosi PASI (Kode 3)
Pertanyaan ini dijabarkan menjadi 5
pertanyaan, :
Pertanyaan darimana ibu
mengetahui informasi susu formula, mengapa
dan apa alasan ibu memberikan susu formula,
sejak usia berapa ibu memberikan susu formula,
apakah susu formula lebih penting dari ASI.
Hasil dari FGD diatas didapatkan
beberapa ungkapan verbal dengan gaya bicara
yang lugas, tidak takut, tidak merasa canggung,
bersemangat dan ceplas-ceplos sebagai berikut
: Ny. NU (Informan 1) berkata; saya tahu
susu formula dari RS, karena bayi saya lahir
prematur, bobotnya Cuma 2200 gram,
Dokternya menganjurkan diberikan susu yang
bagus, susunya NAN Bu, sebenarnya makan
saya sudah banyak lo Bu, saya susui sampai 2
bulan, dari RS saya diberi pelancar ASI tapi
ASI saya tetep kurang, tidak bisa lancar, kalau
diberi ASI saja kalau malam masih nangis,
setelah diberi susu botol tidurnya langsung
pulas, sekarang anak saya umurnya 9 bulan
minum susu formula terus, lha sekarang sudah
tidak keluar lagi ASInya.
Ny.E (Informan 2) mengatakan;
Kalau saya tahu susu formula dari Bidan yang
menolong saya Bu, bayi saya waktu lahir
kulitnya ngglodoki, menurut saya bayi saya
beratnya kurang. Saya beri susu formula itu
kalau saya tinggal pas mandi atau pekerjaan
yang lain, khan diajak sama tetangga takut
kalau nangis, biar bisa tenang kalau ditinggal
lebih baik ya diberi susu botol daripada kalau
nangis bingung, saya beri susu formula sejak
umur 1 bulan, soalnya sering saya titipkan
ditetangga, kalau saya tinggal mandi, masak
atau njuci soalnya mertua saya sudah tua, jadi
kalau diberi tambahan susu botol bisa saya
sambi pekerjaan rumah tidak takut kalau
nangis, sampai sekarang ini.
Ny. H(Informan 3) mengatakan
bahwa; Nek kulo ngertos susu formula ngertos
piyambak, mergi bayine nangis terus, pikir kulo
nyuwun maem . . ., terus disanjangi kaleh adik
kulo sing dadhos kader niku, sanjangi lek
bayine kulo niki dereng wancine maem,
diwenehi susu botol wae. . .la kulo ki kadang-

76

kadang jahitane oprasi takseh kraos sakit, nek


kulo mimiki terus muring nangis mawon, nek
pun ngoten nggeh terus disukani susu botol,
nekpun mimik susu botol terus meneng mboten
nangis maleh, wong riyen saking RS nggih pun
diparingi susu botol kawit lahir niko, margi
kulo babarane oprasi, teng ngriyo akhire ngeh
kulo terusne maringi susu botol dumugi sepriki.
Sak niki bayi kulo umur 2 wulan niki.
Ny.NH(Informan 4) berkata : Kalau
saya tahu susu formula Mah, dari TV, yang susu
SGM itu Bu . . ., katanya baik untuk otak si anak
. . ., yang ada fresinutrinya itu kelihatannnya
bagus terus ada tetangga juga pakai, katanya
harganya tidak mahal kok, saya beri susu
formula Mah, takut kalau berat badannya
kurang aja, apalagi sekarang makannya susah,
saya beri minum susu botol mulai umur 4 bulan
. . ., kalau dikasih makan Mah, baru umur 6
bulan,sebetulnya ASI lebih bagus tapi kalau
makannya susah tetep
saya beri susu
formula...takutnya nanti berat badanya nggak
mau naik.
Senada dengan ungkapan informan di
atas, Ny YN(Informan 5) berkata : Saya tahu
susu formula dari iklan tv,dari tetangga
juga,katanya badan saya kok kecil,biar ada
tambahan soalnya takut kalau kurang,saya beri
susu botol ya buat tambahan saja ,takut kalau
gizinyz kurang,saya beri susu botol sejak lahir
hingga sekarang umur 3 bln,soalnya waktu itu
ASI saya belum keluar hingga sekarang
keterusan bu ndak mau netek saya,sebetulnya
ASI lebih bagus, tapi tetap saya beri susu botol
soalnya takutnya gizinya kurang,soalnya saya
badannya kecil.
Ny A sebagai informan terakhir
memberikan keterangan:Saya tahu susu
formula ya di RS waktu melahirkan. Karena
waktu itu anak saya beratnya Cuma 1800 gram,
.jadi sebelum meneteknya lancar di RS di beri
susu formula, kalau diberi susu tambahan
formula beratnya bayi cepat tambah apalagi
ASI saya hanya tiga bulan saja karena sudah
tidak keluar .lha biar cepat nambah berat
badanya dirumah saya kasih susu botol ,bayi
saya saya beri susu botol ya sejak lahir itu lalu
dirumah saya teruskan sampai sekarang umur
10 bulan dari pada nanti beratnya malah
kurang.
Sewaktu ditanya apakah susu formula
lebih baik/penting dari ASI ny A melanjutkan
keteranganya:Kalau saya lebih baik susu
formula saja, kalau ibunya tidak makan yang
bergizi, makanya asal asalan pokoknya
makan, ASInya kan belum tentu bagus.
Soalnya anak saya, saya beri susu tambahan
berat badannya naiknya agak banyak..

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

Faktor
dominan
diatas
perlu
dipertanyakan atau didiskusikan dengan
informan mengingat tujuan penelitian, bahwa
peneliti ingin mengetahui faktor apakah yang
menjadi
faktor
utama
yang menjadi
penghambat ibu dalam program menggalakkan
ASI Esklusif, dari banyaknya faktor yang
menjadi penghambat pemberian ASI Esklusif.
Fakta hasil FGD dapat diringkas bahwa hampir
semua informan mengatakan bahwa alasan
utama kebanyakan ibu tidak dapat memberikan
ASInya secara Esklusif.
Fenomena yang diketemukan yang
menjadi alasan utama pada ibu tidak menyusui
anaknya secara Esklusif adalah bahwa
fenomena yang dianggap bahwa susu formula
itu adalah solusi yang paling tepat untuk
mengatasi
masalah mereka, yaitu karena
mereka ingin berat badan bayi yang tadinya
kurang bisa cepat gampang naik. Kemungkinan
hal tersebut faktor yang paling dominan adalah
faktor promosi yang terlampau gencar dari
pihak produsen susu dan menjadikan para ibu
muda terpengaruh untuk mengantikan ASI
sebagai makanan utama bayi dengan susu
formula, boleh jadi anggapan itu muncul setelah
mencermati keterangan yang tertera pada
pembungkus susu formula, iklan itu seolaholah menjelaskan bahwa kandungan gizi dalam
susu formula lebih banyak dari ASI dan
kwalitasnya lebih baik ketimbang ASI. Ada
keyakinan / kekeliruan konsep bahwa susu
formula itu diperlukan oleh para ibu yang
persediaan air susunya tidak mencukupi
kebutuhan anak, sehingga dibutuhkan susu
tambahan
lantaran
dianggap
lebih
menguntungkan dan membantu mereka dengan
adanya susu formula, mereka tidak perlu
memberikan ASI kepada bayi
mereka .
Aktifitas menyusui bayi tentunya tak semudah
yang dibayangkan. Saat menyusui, ibu sering
menemui berbagai kendala sesuai dengan
(Prasetyono.DS, 2009), sebenarnya kendala
tersebut mungkin tidak terjadi andaikata ibu
memperoleh informasi yang memadai, faktor
kendala ketika menyusui dibedakan menjadi 2
yakni : faktor Internal dan faktor Eksternal.
a) Faktor Internal.
Faktor Internal sangat mempengaruhi
keberhasilan menyusui bayi diantaranya
ialah kurangnya pengetahuan yang terkait
penyusuan, karena tidak mempunyai
pengetahuan yang memadai, ibu tidak
mengerti tentang cara menyusui yang tepat,
manfaat ASI, berbagai dampak yang akan
ditemui bila ibu tidak menyusui bayinya
dengan benar,dsbnya.
b) Faktor Eksternal.

76

Faktor eksternal terkait segala sesuatu yang


tidak akan terjadi bila faktor Internal dapat
dipenuhi oleh ibu, misalnya ASI belum
keluar pada hari-hari pertama setelah
kelahiran bayi, sehingga ibu berfikir untuk
memberikan susu formula
(prelactal
feeding) kepada bayi, sebenarnya hal
tersebut tidak perlu terjadi bila ibu-ibu
dapat menjalankan manajemen laktasi
dengan baik / berhasil.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Dari ke 6 Informan memberikan
keterangan bahwa faktor pekerjaan, umur,
pendidikan tidaklah mengganggu aktifitas
menyusui bayi mereka. Tetapi alasan
mereka memberikan susu botol / tidak ASI
Esklusif berbeda-beda, karena kesulitan
memberikan ASI, mengingat ASI kurang
lancar disebabkan tidak mau repot kalau
anaknya rewel, dari informan sebagian
besar memberikan alasan memberikan
susu botol sebagai solusi yang tepat untuk
mengatasi masalah mereka yaitu karena
mereka ingin berat badan bayinya yang
tadinya kurang bisa dengan cepat dan
gampang menjadi naik.
2. Susu formula sejak awal bukan pilihan
utama dari sebagian informan, mereka
sebenarnya tahu bahwa ASI lebih baik dari
susu formula tetapi karena berbagai
kendala akhirnya mereka memberikan susu
botol kepada bayi mereka, oleh karena itu
bisa disimpulkan bahwa faktor dominan
yang menjadi bahan pertimbangan
informan memberikan susu botol karena
dianggap solusi yang tepat bagi
permasalahan mereka untuk menaikkan
berat badan bayinya, yang kurang menjadi
cepat naik, sesuai yang mereka harapkan.
5.2 Saran
1. Bagi Institusi Kesehatan dan Bidan
Praktek Swasta, RSB (Rumah Sakit
Bersalin) karena sebagian besar ibu
mengalami kesulitan menyusui karena
faktor ASI yang kurang lancar, tidak mau
anaknya rewel dan sebagian besar
beranggapan bahwa susu botol cepat
menaikkan berat badan bayi mereka, hal
tersebut terjadi karena kurang pengetahuan
ibu tentang manajemen laktasi yang benar.
Sebagian besar Rumah Sakit atau
Rumah Sakit Bersalin menitik beratkan
pada kondisi kesehatan ibu dan bayi,
akan tetapi, perihal pemberian ASI
kurang
mendapatkan
perhatian,

Jurnal Delima Harapan, Vol 2, No.1 Pebruari-Juli 2014: 66-76

seringkali makanan pertama yang


diberikan kepada bayi justru susu
formula, bukan ASI, hal ini memberikan
kesan yang tidak mendidik pada ibu dan
ibu selalu beranggapan bahwa susu
formula lebih baik ketimbang ASI, maka
bagi instansi kesehatan dan Bidan
praktek swasta, perlu untuk tidak bosanbosannya menginformasikan kepada
masyarakat umumnya, dan para calon ibu
khususnya
untuk
meningkatkan
pengetahuan dan penyuluhan dalam
melaksanakan
kegiatan
manajemen
laktasi.
2. Bagi para ibu menyusui.
Perlunya adanya buku panduan
manajemen laktasi sebagai pedoman atau
bahan acuan bagi ibu-ibu yang yang
diberikan secara gratis dengan bahasa
dan penjelasan yang bisa diterima
oleh semua kalangan yang memuat
tentang keunggulan ASI dan manfaat
menyusui, manajemen laktasi, faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan
menyusui
dan
sarana
penunjang
manajemen laktasi demi meningkatkan
upaya pemberian ASI secara baik dan
benar.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,Suharsini. 2006. Prosedur Penelitian,
Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi VI.
Jakarta ; PT. Rineka Cipta
Badan
Koordinasi
Keluarga
Berencana
Nasional.2006. Panduan Praktis Memilih
Kontrasepsi. Surabaya : BKKBN kota
Surabaya
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana
dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan
Hasan, Iqbal, 2004. Analisa Data Peneitian
Untuk Statistik. Jakarta : PT. BumiAksara
Kartajaya,Hermawan, dkk, 2005. MarkPlus on
Strategy. PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Kotler Philip, 2005. Manajemen Pemasaran
Jilid 1. Alih Bahasa Benyamin Molan, PT
INDEKS Kelompok Gramedia, Jakarta.
---------------, 2005. Manajemen Pemasaran
Jilid 2. Alih Bahasa Benyamin Molan, PT
INDEKS Kelompok Gramedia, Jakarta
Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan
Penyakit dan Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo, 2005. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

76

Patilima Hamid. 2005. Metode Penelitian


Kualitatif. Bandung : Alfabeta
Riskesdas.
2007.
www.badan
litbang.depkes.go.id
Saifudin AB. 2003. Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : JBPSP
Sensus Penduduk. 2010.www.bps.go.id
Sarwono, Solita, 1999. Sosiologi Kesehatan.
Gadjah
Mada
University
Press,
Yogjakarta.
Simamora, Bilson, 2002. Panduan Riset
Perilaku Konsumen. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
----------------------, 2002. Aura Merek, 7
Langkah Membangun Merek yang Kuat.
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumarwan, Ujang, 2004. Perilaku Konsumen
Teori
dan
Penerapannya
dalam
Pemasaran. PT Ghalia Indonesia, Bogor.
Sutisna, 2003. Perilaku Konsumen dan
Komunikasi Pemasaran. PT Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Widayatun Rusmi 1999. Ilmu Perlaku. Jakarta
:Infomedika
Wiknjosastro, Hanifa, 2005. Ilmu Kandungan
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka