Anda di halaman 1dari 11

EFUSI PLEURA

1. Efusi Pleura
Pengertian
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer
jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan
jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus
(baughman c diane, 2000).
Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi
sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (smeltzer
c suzanne, 2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura.
(price c sylvia, 1995)

Anatomi fisiologi
Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis dan parietalis. Secara
histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial, jaringaan ikat, dan dalam keadaan
normal, berisikan lapisan cairan yang sangat tipis. Membran serosa yang membungkus parekim
paru disebut pleura viseralis, sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak,
diafragma, dan mediastinum disebut pleura parietalis. Rongga pleura terletak antara paru dan

dinding thoraks. Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas
antara kedua pleura. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. Dalam hal ini, terdapat
perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis, diantaranya :
Pleura visceralis :
1)

Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis

2)

Di antara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit

3)

Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit

4)

Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik

5)

Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh
darah kapiler dari Pulmonalis danBrakhialis serta pembuluh limfe

6)

Menempel kuat pada jaringan paru

7)

Fungsinya untuk mengabsorbsi cairan pleura


Pleura parietalis :

1)

Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis)

2)

Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Intercostalis dan a. Mamaria
interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan
perbedaan temperatur. Keseluruhan berasal n. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai
dengan dermatom dad.

3)

Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya

4)

Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura


Pleura adalah suatu membaran serosa yang halus membentuk suatu kantong tempat paru-paru
berada yang jumlahnya ada dua buah dan masing-masing tidak berhubungan.

Etiologi
Dalam keadaan normal, cairan pleura dibentuk dalam jumlah kecil untuk melumasi permukaan
pleura (pleura adalah selaput tipis yang melapisi rongga dada dan membungkus paru-paru). Bisa
terjadi 3 jenis efusi yang berbeda:
1) Efusi transudat dapat disebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paruparu. Seperti kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh
karena sirosis kepatis), syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig.
2) Efusi eksudat disebabkan oleh infeksi, pneumonia, tumor, infark paru, radiasi, penyakit kolagen.
Kanker, tuberkulosis dan infeksi paru lainnya, reaksi obat, asbetosis dan sarkoidosis merupakan
beberapa contoh penyakit yang bisa menyebabkan efusi pleura eksudativa.
3) Efusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma,infark paru, tuberkulosis.
Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi sbb:
1) Hambatanresorbsicairan

dari

rongga

karenaadanyabendungansepertipadadekompensasikordis,

penyakitginjal,

pleura,
tumormediatinum,

sindromameig (tumorovarium) dan sindromavena kava superior.


2) Pembentukancairan
bronkiektasis,

yang

berlebihan,

absesamubasubfrenik

karenaradang
yang

(tuberculosis,

pneumonia,

menembuskerongga

virus),
pleura,

karenatumordimanamasukcairanberdarah dan karena trauma. Di indonesia 80% karena


tuberculosis.

Klasifikasi
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi
yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya. Akan tetapi
efusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit berikut: kegagalan jantung kongestif,
sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis.
Berdasarkan jenis cairannya dibedakan menjadi:
1) Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura)
2) Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar
ke dalam rongga pleura.
3) Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran
getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya
tumor.

Patofisiologi

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik menurut:

Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun
penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin
memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak
menunjukkan gejala sama sekali. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: batuk, cegukan,
pernafasan yang cepat dan nyeri perut. Sekitar 25% penderita efusi pleura keganasan tidak
mengalami keluhan apapun pada saat diagnosis ditegakkan.
Gejala lainnya
1) Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup
banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
2) Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, nyeri dada pleuritis
(pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.
3) Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural
yang signifikan.
4) Efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk.
5) Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi nafas minimal atau tidak sama sekali
menghasilkan bunyi datar atau pekak saat diperkusi.
6) Bila terdapat efusi pleura kecil sampai sedang, dispnea mungkin saja tidak terjadi.

Komplikasi
1.

Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi perlekatan
fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika
fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang
berada dibawahnya. Pembedahan pengupasan(dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan
membrane-membran pleura tersebut.

2.

Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat
efusi pleura.

3.

Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang
berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru

yang menimbulkan peradangan. Pada

efusi pleura,

atalektasis yang

berkepanjangan dapat

menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.

4.

Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada sebagian / semua
bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru.

Prognosis
Prognosis sangat bervariasi dan tergantung pada faktor penyebab dan ciri efusi pleura. Pasien
yang mencari pertolongan medis lebih dini karena penyakitnya dan dengan diagnosis yang tepat
serta penatalaksanaan yang tepat pula memiliki angka komplikasi yang lebih rendah.
Epidemiologi
Efusi pleura sering terjadi di negara-negara yang sedang berkembang, salah satunya di indonesia.
Hal ini lebih banyak diakibatkan oleh infeksi tuberkolosis. Bila di negara-negara barat, efusi
pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung kongestif, keganasan, dan pneumonia bakteri. Di
amerika efusi pleura menyerang 1,3 juta orang/tahun. Di indonesia tb paru adalah peyebab utama
efusi pleura, disusul oleh keganasan. 2/3 efusi pleura maligna mengenai wanita. Efusi pleura
yang disebabkan karena tb lebih banyak mengenai pria. Mortalitas dan morbiditas efusi pleura
ditentukan berdasarkan penyebab, tingkat keparahan dan jenisbiochemical dalam cairan pleura.

Tes Diagnostik
Padapemeriksaanfisik,
denganbantuan stetoskop akanterdengaradanyapenurunansuarapernafasan. Apabilacairan yang
terakumulasilebihdari

500

biasanyaakanmenunjukkangejalaklinissepertipenurunanpergerakan
terkena efusipadasaatinspirasi,

ml,
dada

padapemeriksaanperkusididapatkan

auskultasididapatkansuarapernapasanmenurun, dan vocal fremitus yang menurun.

yang

dullness/pekak,

Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut:


1) Rontgen dada
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi
pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan.
2) Ct scan dada
Ct scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya
pneumonia, abses paru atau tumor.
3) USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit,
sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
4) Torakosentesis
penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan
terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui
sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh
pembiusan lokal).
5) Biopsi
jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana
contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa.
Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari
efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.
6) Analisa cairan pleura
Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan dikonfirmasi dengan
foto thoraks. Dengan foto thoraks posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam
rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml, sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak
cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Pada foto thoraks posisi AP atau PA ditemukan
adanya sudut costophreicus yang tidak tajam.
7) Bronkoskopi
bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.
8) Pemeriksaan komposisikimiaseperti protein, laktatdehidrogenase (ldh), albumin, amylase, ph,
dan glucose.

9) Dilakukanpemeriksaan

gram,

kultur,

sensitifitasuntukmengetahuikemungkinanterjadiinfeksibakteri.
10) Pemeriksaanhitungsel
11) Sitologiuntukmengidentifikasiadanyakeganasan

Penatalaksanaan
1) Efusi karena gagal jantung penatalaksanaannya:
a) Diuretik
b) Torakosentesis diagnostik bila:
- Efusi unilateral
- Efusi menetap dengan terapi diuretic
- Efusi bilateral, ketinggian cairan berbeda bermakna
- Efusi+febris
- Efusi+nyeri dada pleuritik
2) Efusi pleura karena pleuritis tuberculosis
Obat anti tuberkulosis (minimal 9 bulan) + kortikosteroid dosis 0,75-1mg/kg BB/hari selama 2-3
minggu, setelah ada respons diturunkan bertahap + torakosentesis terapeutik, bila sesak atau
efusi>tinggi dari sela iga.
Diberikan terapi antibiotik jangka panjang. Jika darah memasuki rongga pleura biasanya
dikeluarkan melalui sebuah selang. Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk
membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase). Jika
perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu
dilakukan tindakan pembedahan. Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki
kerusakan saluran getah bening. Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker
untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.
Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau beberapa
minggu, torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang
pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan
drainase yang dihubungkan ke system drainase water-sealatau pengisapan untuk mengevaluasi
ruang pleura dan pengembangan paru.

Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura
untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. Pengobatan
lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah plerektomi dan terapi
diuretic.
3) Efusi pleural dengan empiema
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah. Jika nanahnya sangat
kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan
dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih
besar. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura
(dekortikasi).
4) Efusi pleura keganasan
Penanganan efusi pleura keganasan hampir selalu bersifat paliatif dengan tujuan untuk
mengurangi gejala-gejala dan mencegah pembentukan cairan pleura. Pengobatan terhadap
kanker primer dapat diberikan apabila diketahui lokasinya serta terdapat pengobatan untuk tumor
tersebut. Penanganan paliatif pada efusi pleura keganasan dapat berupa aspirasi cairan,
pleurodesis dan pembedahan.
Jika jumlah cairannya sedikit, mungkin hanya perlu dilakukan pengobatan terhadap
penyebabnya. Jika jumlah cairannnya banyak, sehingga menyebabkan penekanan maupun sesak
nafas, maka perlu dilakukan tindakan drainase (pengeluaran cairan yang terkumpul).
Cairan pleura dapat dikeluarkan dengan jalan aspirasi secara berulang atau dengan pemasangan
selang toraks yang dihubungkan dengan water seal drainage(wsd). Cairan yang dikeluarkan
pada setiap kali pengambilan sebaiknya tidak lebih dari 1000 ml untuk mencegah terjadinya
edema paru akibat pengembangan paru secara mendadak.
Salah satu penatalaksanaan yaitu pleurodesis. Tujuan utama tindakan ini adalah melekatkan
pleura viseralis dengan pleura parietalis, dengan jalan memasukkan suatu bahan kimia atau
kuman ke dalam rongga pleura sehingga terjadi keadaan pleuritis obliteratif.
Pleurektomi jarang dikerjakan pada efusi pleura keganasan, oleh karena efusi pleura keganasan
pada umumnya merupakan stadium lanjut dari suatu keganasan dan pembedahan menimbulkan
risiko yang besar. Bentuk operasi yang lain adalah ligasi duktus toraksikus dan pintas

pleuroperitoneum. Kedua pembedahan ini terutama dilakukan pada efusi pleura keganasan akibat
limfoma atau keganasan lain pada kelenjar limfe hilus dan mediastinum, di mana cairan pleura
tetap terbentuk setelah dilakukan pleurodesis.