Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

ANESTESI PADA PASIEN LAPARASKOPI CHOLESISTEKTOMI

PEMBIMBING
dr. Teguh Santoso Efendi, Sp. An-KIC,. M.Kes
dr. H. Nano Sukarno, Sp. An
dr. Andika Chandra Putri, Sp. An

Oleh :
HONESTY KUSUMA WARDANI (10310174)

PRESENTASI KASUS

A.

B.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. S

Usia

: 53 tahun

Agama

: Islam

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Alamat

: Kawalu, Tasikmalaya

Tanggal Masuk RS

: 20 juni 2015

No. CM

: 15251342

Dokter Anestesi

: dr. H. Nano Sukarno, Sp. An

Dokter Bedah

: dr. Toha, Sp. B

PERSIAPAN PRE-OPERASI
1.

Anamnesa
a.

A (Alergy)
Tidak ada alergi terhadap obat-obatan, makanan dan asma (+);

b.

M (Medication)
Tidak sedang menjalani pengobatan penyakit tertentu;

c.

P (Past Medical History)


Riwayat DM (-), hipertensi (+), sakit yang sama dan riwayat operasi (-);

d.

L (Last Meal)
Pasien terakhir makan 2 jam pre-operasi;

e.

E (Elicit History)
Pasien datang ke RSUD Kota Tasikmalaya pada tanggal 20 juni 2015
dibawa keluarganya dengan keluhan nyeri ulu hati sejak kurang lebih 4
hari yang lalu. Pasien mengeluh nyeri ulu hati seperti ditususk-tusuk, nyeri
timbul setelah makan makanan yang berlemak tetapi terkadang timbul
secara tiba-tiba, nyeri menjalar ke perut kanan atas dan punggung. Pasien

juga mengeluh kadang-kadang perut terasa kembung, mual tetapi tidak


sampai muntah, demam dan trauma disangkal. Riwayat asma dan
hipertensi
2.

Pemeriksaan Fisik
Dirawat di

: MB 10

Vital sign
a. KU
b. Kesadaran
c. TD
d. Nadi
e. Respirasi
f. Suhu

: Tampak sakit sedang


: Compos mentis
: 150/90 mmHg
: 88x/ menit
: 22 x/ menit
: 37.0 C

Status Genealisata
Berat badan
Kepala
o Mata

o
o

: 60 Kg

Palpebra
Konjungtiva
Sklera
Pupil

: tidak bengkak dan cekung


: anemis ( - ) / ( - )
: ikterik ( - ) / ( - )
: refleks cahaya ( + ) / ( + ), pupil
Isokor dextra = sinistra

Hidung
Pernapasa cuping hidung
Sekret `
Mukosa hiperemis

:(-)
:(-)
:(-)

Telinga
Nyeri tekan ragus
:(-)/(-)
Auricula
: tidak tampak kelainan
Meatus akustikus eksternus : ( + ) / ( + )
Mulut
Bibir
: mukosa bibir kering
Tonsil
: T1 / T1
Leher
KGB
: pembesaran ( - ) / ( - )
Thoraks

Jantung
Paru

: S1S2 Reguler, gallop (-), murmur (-)


: Suara nafas vesikuler, wheezing (-),

rhonki (-)
Abdomen

Inspeksi
Auskulasi
Palpasi

Perkusi
Hepar dan Lien
Palpasi
Ekstremitas
Edema
Warna

: Bentuk datar
: Bising usus ( + )
: Difens muscular ( - ) seluruh lapang
abdomen, nyeri tekan kuadran kanan atas
: Timpani
: Tidak teraba

: Ekstremitas atas dan bawah ( - )


: agak kekuningan pada ekstremitas atas dan
ekstremitas bawah
Jari-jari
: Normal, akral sianosis ( - )
Capilari Refill Time : Kurang dari 2 detik

Mallampati Score:
Grade I

3.

Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal 24 Juni 2015


Hemoglobin

: 10 g/dL

(12 16)

Hematrokit

: 33,6 %

(37 47)

Eritrosit

: 4,30 10^6/L

(4,2 5,4)

Leukosit

: 18,2 10^3/L

(4,8 10,8)

Trombosit

: 313 10^3/L

(150 450)

Bleeding time : 2 menit

(1 3 menit)

Clotting time : 4 menit

(2 6 menit)

GDS

<200

Faal hati

: 181 mg/dl

Bilirubin total

: 1,27 mg%

(0,2 1,1)

Bilirubin direkt

: 0,10 mg%

(0 0,3)

Bilirubin indirek

: 0,18 mg%

SPOT

: 16 U/L

(15 - 37)

SGPT

: 22 U/L

(12 78)

Hasil USG
Hepar : ukuran echostruktur normal, permukaan licin, sistem billier dan
vascular intrahepatik prominen, tak ada massa atau nodul.
Vesica fellea : ukuran normal, tampakbatu berukuran 1,76 x 2,02 x 1,54 cm
imtrraluminal. Tampak penebalan dinding vesica fellea dengan gambar double
layer.
Pancreas

: ukuran dan echostruktur normal

Lien

: ukuran dan echostruktur normal, tak tampak massa / nodul,


hilus lienalis tak prominen

Kesan : - cholethiasis dengan tanda-tanda cholecystitis


- tak tampak kelainan hepar, pancreas, dan lien.

4.

Diagnosa Klinis
cholelitiasis

5.

Kesimpulan
Status ASA III.

C.

LAPORAN ANESTESI (DURANTE OPERATIF)


- Diagnosis pra-bedah

Jenis Pembedahan

:
: Laparaskopi

Jenis Anestesi

: Narkose Umum

Premedikasi

: midazolam 5 mg
Fentanyl 50 g
Nicardiphin HCL

Medikasi Induksi

: Propofol 50 mg
Fentanyl 150 g
Rocuronium 25 mg
Lidocain 80mg
Tramadol 100mg

: Gas Anestesi Isofluran MAC 1,12 %

Maitenance

N2O 3 L/mnt

50%

O2 3 L/mnt

50%

Teknik Intubasi

: Intubasi Endotrachealtube (ETT)

Respirasi

: kontrol

Posisi

: Supine

Cairan Perioperatif

Maintenance Cairan = 4 : 2 : 1
Kebutuhan Basal

10 x 4 = 40 cc
10 x 2 = 20 cc
40 x 1 = 40 cc

100 cc/jam

Defisit Cairan Puasa = Puasa jam x maintenance cairan


= 7 x 45 cc/jam
= 315 cc

Insensible Water Loss = Jenis Operasi x Berat Badan


= 8 x 60 kg

= 480 cc

Kebutuhan cairan 1 jam pertama


= ( x puasa) + IWL + maintenance
= ( x 315) + 480 + 100 cc
= 737,5 cc

Kebutuhan cairan 1 jam kedua


= ( x puasa) + IWL + maintenance
= ( x315) + 480 + 100 cc
= 658,8 cc

Perdarahan

= Suction + Kasa (kecil 2 + besar 0)


= 20 cc + (20 0)
= 40 cc

EBV

= BB x Konstanta wanita dewasa


= 60 x 65
= 3900 cc

Diuresis

= 20 cc

Tindakan Anestesi Umum Dengan Intubasi

Pasien diposisikan pada posisi supine

Memasang sensor finger pada tangan kanan pasien untuk


monitoring SpO2 dan SPO2 Rate. Dan memasang manset pada
lengan kiri pasien untuk monitoring tekanan darah

Pemberian obat midazolam 5 mg dan fentanyl 50 g (iv)


dimasukkan untuk tujuan premedikasi

Obat berikut diberikan secara intravena:

Fenthanyl

150 g

Propofol

50 mg

Rocuronium

25 mg

Lidocain

80mg

Tramadol

100mg

Pemberian gas anestesi dengan O2 dan N2O perbandingan 50:50


(O2 3L/menit dan N2O 3L/menit) serta Isofluran 1,12Vol%
selama 1-2 menit sesuai dengan onset dari Rocuronium.

Dipastikan airway pasien paten dan terkontrol

Dipastikan pasien sudah dalam kondisi tidak sadar dan stabil


untuk dilakukan intubasi ETT dengan nomor 6.5

Pemasangan ETT dibantu dengan laryngoschope

Setelah intubasi ETT cek suara nafas pada apek paru kanan dan
paru kiri, bassis paru kanan dan paru kiri serta lambung dengan
stetoskop, pastikan suara nafas dan dada mengembang simetris

Fiksasi ETT dan sambungkan ke conector Jackson-Rees

Maintenance dengan inhalasi O2 3 liter/menit, N2O 3 liter/menit,


Isofluran 1,12 vol%

Monitor tanda tanda vital pasien (nadi), saturasi oksigen,


tandatanda komplikasi (perdarahan, alergi obat, obstruksi jalan
nafas, nyeri)

Cek Vital Sign Setiap 15 menit

TIME
09.00
09.15
09.30
09.45
10.00
10.15
10.30
10.45
11.00
11.15
11.30

TD
180/100
140/98
100/69
80/60
100/68
100/70
100/70
100/80
100/70
120/80
130/80

SATURASI
98
100
100
99
100
100
100
100
100
100
100

HEART RATE
100
80
60
80
55
58
56
55
55
60
72

Pada saat operasi dipasang selimut penghangat dan blood warmer untuk
mengjaga suhu tubuh pasien agar tidak hipotermi. Setelah operasi selesai gas
anestesi yang di pakai hanya Oksigen sebanyak

7 liter/menit. Selanjutnya

dilakukan ekstubasi bangun (awake extubation), sebelumnya dilakukan suction


untuk membersihkan jalan napas. Setelah pasien bangun dan jalan napas benarbenar bersih maka dilakukan ekstubasi. Oksigenisasi setelah ekstubasi dengan
cara di cuff sampai pasien memberikan respon gerak tangan sebagai tanda
bahwa pasien telah bangun dan jalan napas pasien telah aman. Pasien
diperbolehkan pindah ruang (keluar dari ruangan operasi) bila Aldrete Score
8

D.

POST-OPERASI
Setelah pasien dinilai dengan Aldrete Score dan didapatkan nilai Aldrete
Score 8, maka pasien diperbolehkan pindah ruangan.
Infuse

: RL 20 gtt/menit

Analgetik Tramadol 200 mg diberikan perdrip dalam


500 cc RL

Antibiotik

: sesuai TS bedaha

Makan dan minum dapat dimulai bila pasien sudah sadar penuh sekitar 6
jam (bising usus +)
Monitoring Post-operasi :

E.

Tensi

: 130/80 mmHg

Heart Rate

: 137

Nadi

: 72x/menit

FOLLOW UP PASCA OPERASI


1. Hari Pertama Beberapa Jam Post-Operasi (25 Juni 2015)

Pasien dirawat di ruang MB 10

Pasien masih dipuasakan

Pasien diberikan cairan infus RL 20 gtt/menit

Analgetik tramadol 200 mg diberikan perinfus dengan cara didrip

Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Compos mentis

Vital sign

: TD

= 130/80

= 72 x/menit

= 35.7o C

= 16 x/menit

2. Hari Kedua Post-Operasi ( 26 Juni 2015)

Pasien sudah diberikan makan

Pasien diberikan cairan infus RL 20 gtt/menit

pasien diberikan antibiotik cephalosporin (iv) 2 x 1 dan tramadol 100 mg

Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Compos mentis

Vital sign

: TD

= 110/80 mmHg

= 81x/menit

= 36,4o C

= 22 x/menit

3. Hari Ketiga Post-Operasi (14 November 2013)

Pasien sudah diberi makanan cair

Pasien diberikan cairan infus RL 20 gtt/menit

pasien diberikan antibiotik seftriakson (iv) 1x 2 g.

Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Compos mentis

Vital sign

: TD

= 110/80

= 65 x/menit

= 36,4 C

= 21 x/menit

F.

PEMBAHASAN
1. Pre-Operatif
a. Anamnesa
nyeri ulu hati sejak kurang lebih 4 hari yang lalu.
Riwayat penyakit pasien ada asma, hipertensi.
b. Pemeriksaan Fisik
Berat badan

: 60 kg

Tekanan darah

: 150/100 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Nafas

: 22 x/menit

Suhu

: 37o C

Kesadaran

: Compos mentis

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kepala

: Dalam batas normal

Leher

: Dalam batas normal

Thoraks

: Dalam batas normal

Abdomen

: nyeri tekan pada kanan atas

Ekstremitas

: Dalam batas normal

Mallampati Score

: grade 1

Malampati score adalah suatu klasifikasi untuk menilai tampakan faring


pada saat mulut terbuka maksimal dan lidah dijulurkan maksimal
Gradasi
1
2
3
4

Pilar Faring
+
-

c. Pemeriksaan Penunjang

Uvula
+
+
-

Palatum Molle
+
+
+
-

Data tanggal 24 Juni 2015

BT, CT

: Dalam batas normal

HB

: Dalam batas normal

HT, Trombosit, Leukosit

: HT dan trombosit normal, leukosit

sedikit

meningkat
-

Gula darah sewaktu

: Sedikit meningkat

Ureum, kreatinin

: Dalam batas normal

SGOT, SGPT, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek :


SGOT dan SGPT dalam batas normal kemudian peningkatan pada
bilirubin total, direkt dan indirekt

Na, K, Ca

: Dalam batas normal

Kesimpulan : Cholelitiasis
4. Anestesi

: Ternilai ASA III

ASA (American Society of Anesthesiologists) merupakan suatu klasifikasi


untuk menilai kebugaran fisik seseorang.
5.

Rencana Anestesi

: Narkose Umum

Premedikasi

: midazolam 5 mg dan fentanyl 50mg.

Loading cairan dengan RL 500 cc untuk mengganti cairan puasa 6


jam pre-operasi, agar komposisi cairan pasien yang berkurang saat puasa
terpenuhi.
2. Durante Operatif

Teknik Anestesi

: Intubasi Endotrachealtube

Obat Anestesi

: Isofluran 8 vol %
Propofol 50mg
Fentanyl 150 mcg

Rocuronium 25 mg

Maitenance

Kebutuhan Cairan

: Gas Anestesi Sevofluran MAC 2 %


N2O 3 L/mnt

50%

O2 3 L/mnt

50%

: 1 jam pertama : 204,7 cc


1 jam kedua
1 jam ketiga

: 151,3 cc
: 151,3 cc

Pada kasus ini pemilihan teknik anestesi yang dipilih adalah anestesi
umum (general Anestesi), yang dikarenakan akan dilakukan tindakan
laparaskopi pada pasien ini sehingga tidak mengganggu airway. Pada
anestesi umum trias anestesi dilakukan untuk menginduksi pasien dengan
obat hipnotik sedasi, analgetik dan pelemas otot. Disini pada obat hipnotik
sedasi menggunakan propofol dan di bantu dengan isoflurane, analgesik
menggunakan fentanyl dan pelemas otot menggunakan rocuronium.
Isoflurane adalah suatu asiri anesthetic yang tidak dapat menyala
dengan suatu bau sengak sangat halus/ringan
Isoflurane ke Sistem Organ/ Bagian Badan
KARDIOVASCULER
Isoflurane menyebabkan in vivo tekanan berhubungan dengan jantung
minimal. Keluaran jantung dipelihara; dipertahankan oleh suatu kenaikan
dalam hati tingkat karena pemeliharaan parsial karotid baroreflexes. Lembut
-rangsangan adrenergik meningkatkan aliran darah otot rangka skeletin,
pembalasan pengurangan-pengurangan vaskuler sistemik, dan menurunkan
seperti arteritekanan darah. Peningkatan-peningkatan cepat di konsentrasi
isoflurane menjurus kepada peningkatan-peningkatan temporer dalam hati
tingkat, seperti arteritekanan darah, dan kadar plasma dari norepinefrin.
Isoflurane membesar nadi/jalan utama serangan jantung, tetapi tidak hampir
sama yang kuat suatu nitrogliserin dilator seperti atau adenosina. Pembesaran

nadi/jalan utama serangan jantung normal bisa secara teoritis mengalihkan


darah [men]jauh dari luka-luka stenotic yang ditetapkan?diperbaiki. Di sana
telah berlawanan laporan-laporan mengenai apakah serangan jantung ini
mencuri sindrom menyebabkan iskemia myocardial regional selama
peristiwa-peristiwa dari kontraksi cepat jantung atau meneteskan ke dalam
perfusion tekanan. Meskipun hasil-hasil yang negatif beberapa hasil yang
besar belajar, beberapa anesthesiologists masih menghindari isoflurane di
dalam pasien-pasien dengan penyakit arteri koroner.
PERNAPASAN
Penekanan pernapasan selama isoflurane anesthesia menyerupai
bahwa dari yang lain anesthetics inhalasi, kecuali bahwa tachypnea adalah
lebih sedikit dilafalkan. Efek bersih itu adalah suatu lebih melafalkan masuk
dalam barisan ventilasi menit. Bahkan tingkat rendahnya dari isoflurane (01
MAC) tumpulkan respon ventilatory yang normal kepada hipoksia dan
hiperkapnia. Meskipun suatu kecenderungan untuk mengganggu refleks
trayek udara bagian atas, isoflurane dipertimbangkan suatu bronchodilator
yang baik, tetapi tidak akan sama yang kuat suatu halotana bronchodilator
seperti
CEREBRAL
Pada konsentrasi-konsentrasi lebih besar dari 1 MAC, isoflurane
meningkatkan CBF dan intracranial tekanan. Barang kepunyaan ini dianggap
sebagai lebih sedikit yang dilafalkan dibanding dengan halotana dan
dibalikkan oleh hiperventilasi. Berlawanan dengan halotana, hiperventilasi itu
tidaklah harus didirikan/dimulai sebelum pemakaian isoflurane untuk
mencegah intracranial tekanan darah tinggi. Isoflurane mengurangi
persyaratan-persyaratan oksigen metabolisme cerebral, dan pada 2 MAC yang
menghasilkan satu electroencephalogram secara elektris diam (EEG). EEG
penindasan mungkin menyediakan beberapa derajat tingkat dari perlindungan
otak selama peristiwa-peristiwa dari iskemia cerebral.

OTOT SARAF
Isoflurane relax otot rangka skeletin.
GINJAL
Isoflurane mengurangi aliran darah ginjal, glomerular tingkat filtrasi,
dan keluaran air kencing.
HEPATIC
Aliran darah hepatic total (aliran arteri hati dan vena porta ) dikurangi
selama isoflurane anesthesia. penyediaan oksigen Hepatic bisa lebih baik
dipelihara; dipertahankan dengan isoflurane dibanding dengan halotana,
bagaimanapun, karena arteri hati perfusion dan penjenuhan oksigen pembuluh
darah hepatic dipelihara. Uji fungsi hati bersifat secara minimal terpengaruh.
Biotransformasi &Ketoksikan
Isoflurane dimetabolized jadi asam trifluoroacetic. Meski cairan
fluoride serum mengukur boleh naik, nephrotoxicas adalah sangat tidak
mungkin bahkan di hadapan pengimbas-pengimbas enzim. Pemberian obat
penenang diperpanjang (>24 h pada 0.1-0.6% isoflurane) dari pasien-pasien
dengan kritis sakit sudah menimbulkan fluoride plasma yang diangkat
mengukur (15-50 mol/L) tanpa bukti dari gagal ginjal. Dengan cara yang
sama, sampai dengan 20 MAC-hours dari isoflurane boleh menjurus kepada
kelebihan tingkatan-tingkatan fluoride 50 mol/L tanpa kelainan fungsi tubuh
berkenaan dengan ginjal sesudah operasi yang dapat ditemukan. Nya dibatasi
metabolisme juga memperkecil setiap resiko yang mungkin dari kelainan
fungsi tubuh hepatic yang penting.
Kontra indikasi
Isoflurane tanpa menghasilkan kontraindikasi yang unik. Pasienpasien dengan hypovolemia yang parah; mungkin tidak toleran terhadap efek
vasodilating nya.

Interaksi obat

Epinefrina dapat dengan aman diatur di dalam dosis-dosis sampai


dengan 4,5 ug/kg. Nondepolarizing NMBAs bersifat potentiated oleh
isoflurane.
Untuk mengurangi rasa sakit pada saat induksi diberikan fentanyl yang
merupakan agonis opioid poten. Pentanyl, mempunyai awitan yang cepat dan
aksi yang lama sehingga mencerminkan klarutan lipid yang besar dalam tubuh
defresi dari ventilasi tergantung pada dosis dan dapat berlangsung lebih lama
daripada analgesia

lainnya.

Stabilitas

kardiovaskular

dipertahanmkan

walaupun dalam dosis besar saat digunakan sebagai anastestik tunggal. Aliran
darah otak, kecepatan metabolisme otak dan tekanan intracranial menurun.
Untuk memudahka intubasi pada ssat induksi maka diberikan obat
anestesi jenis pelemas otot yaitu rocuronium. Rocuronium merupakan obat
pelemas otot non depolarisasi steroid yang bekerja berkopetensi dengan
reseptor kolinergik pada lempeng akhiran motorik, dengan dosis yang
meningkat awitan waktu yang berkurang dan lama waktu diperpanjang,
tidak ada perubahan secara klinis yang bermakna dalam parameter
hemodinamik. Rocuronium mempunyai awitan aksi 45-90 detik, efek
puncak 1-3 menit dan lama aksi 15-150 menit tergantung dosis. Blockade
neuromuscular diperkuat oelh aminoglosida antibiotic anestetik local,
anestetik folatyl, diuretic angsa, obat-obatan penyekat ganglion, hipotermi,
hipokalemia, asidosis respiratori, dan pemberian suksinilkolin sebelumnya.
Kebutuhan dosis berkurang (sekitar 30-45%). Dan lamanya blockade
neuromuscular

diperpanjang

hingga

25%

oleh

anestetik

foletyl.

Kelumpuhan kambuhan dapat terjadi dengan kuinidin, peningkatan


neuromuscular dapat terjadi pada pasien dengan niestinia grafis. Efek dari
rocula diantagonis oleh inhibitor antikolinesterase seperti neostigmin
edrofonium piridostigmin.
Metabolisme dan eksresi

Eliminasi terutama oleh hati dan sedikit oleh ginjal. Durasi tidak
terpengaruh oleh kelainan ginjal, tapi diperpanjang oleh kelainan hepar berat
dan kehamilan.baik untuk infusan jangka panjang (di ICU). Pasien orang tua
menunjukan prolong durasi.
Dosis
Potensi lebih kecil dibandingkan relaksant steroid lainnya. 0,45 0,9 mg /
kg iv untuk intubasi dan 0,15 mg/kg bolus untuk rumatan. Dosis kecil 0,4
mg/kg dapat pulih 25 menit setelah intubasi. Im ( 1 mg/kg untuk infant ; 2
mg/kg untuk anak kecil) adekuat pita suara dan paralisis diafragma untuk
intubasi. Tapi tidak sampai 3 6 menit dapat kembali sampai 1 jam. Untuk
drip 5 12 mcg/kg/menit. Dapat memanjang pada pasien orang tua.
Efek samping dan manifestasi klinis
Onset cepat hampir mendekati suksinilkolin tapi harganya mahal.
Diberikan 20 detik sebelum propofol dan thiopental.
Rocuronium ( 0,1 mg/kg) cepat 90 detik dan efektif untuk prekurasisasi
sebelum suksinilkolin.
3. Post-Operatif
Pasien dipuasakan sekitar 4 6 jam atau setelah bising usus positif. Tes
minum 4 6 jam post-operasi atau setelah bising usus positif
Diberikan obat analgetik

: tamoliv 200 mg

Cairan

: 1000cc D NS dalam 42 tetes/menit

Selalu monitoring tanda tanda vital (suhu, satrurasi dan nadi) dan kesadaran
pasien atau sesuai advice dokter bedah.

F. PEMBAHASAN TEORI

1. Anestesi pada hipertensi


Definisi
hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang tekanan sistoliknya 140
mmHg atau lebih atau tekanan diastoliknya 90 mmHg atau lebih atau sedang
memakai obat anti hipertensi.
Batas atas tekanan darah normal yang diijinkan :
Dewasa 140/90 mmHg
Dewasa muda (remaja) 100/75 mmHg
Anak usia prasekolah 85/55 mmHg
Anak < 1 tahun (infant) 70/45 mmHg.
The Joint National Committee 7 (JNC 7) on prevention, detection,
evaluation, and treatment of high blood pressure tahun 2003

Patogenesis terjadinya hipertensi


Peningkatan resistensi pembuluh darah perifer (SVR) merupakan penyebab
hipertensi pada mayoritas penderita hipertensi. terjadi peningkatan baseline dari curah
jantung (CO). Pola perkembangan terjadinya hipertensi, awalnya CO meningkat,
tetapi SVR dalam batas-batas normal. Ketika hipertensi semakin progresif, CO
kembali normal tetapi SVR meningkat menjadi tidak normal.

Afterload

jantung yang meningkat secara kronis menghasilkan LVH (Left Ventricle


Hypertrophy ) dan merubah fungsi diastolik. Hipertensi juga mengubah autoregulasi
serebral sehingga
Cerebral Blood Flow
(CBF) normal untuk penderita hipertensi dipertahankan pada tekanan yang tinggi.
Farmakologi Dasar Obat-Obat
Antihipertensi
1. Diuretik : menurunkan TD dengan cara mengurangi natrium tubuh dan volume
darah, sehingga CO berkurang )
ex : golongan thiazide, loop diuretics
2. Golongan simpatolitik / 2.simsimpatoplegik
( menurunkan TD dengan cara menumpulkan refleks arkus simpatis sehingga menurunkan
resistensi pembuluh darah perifer, menghambat fungsi kardiak, meningkatkan
pengisian vena sehingga terjadi penurunan CO )
ex : beta dan alpha blocker
3. Vasodilator
( menurunkan TD dengan cara relaksasi otot-otot polos vaskuler )
ex : nitroprusside, hydralazine, calcium channel blocker
4.Golongan penghambat produksi atau aktivitas Angiotensin
(menurunkan resistensi perifer dan volume darah, yaitu dengan menghambat
angiotensin I menjadi angiotensin II dan menghambat metabolisme dari bradikinin ).
Manajemen Perioperatif Penderita Hipertensi
I. Penilaian Preoperatif dan Persiapan Preoperatif Penderita Hipertensi
4 hal dasar yang harus dicari apa bila akan dilakukan pembedahan,yaitu:
1. Jenis pendekatan medikal yang diterapkan dalam terapi hipertensinya.
2. Penilaian ada tidaknya kerusakan/ komplikasi target organ yang telah terjadi.
3. Penilaian yang akurat tentang status volume cairan tubuh penderita.
4. Penentuan kelayakan penderita untuk dilakukan tindakan teknik
hipotensi,untuk prosedur pembedahan yang memerlukan teknik hipotensi.

II. Pertimbangan Anestesia Penderita Hipertensi


The American Heart Association / American College of Cardiology
(AHA/ACC) mengeluarkan acuan bahwa TDS 180 mmHg dan/atau TDD 110
mmHg sebaiknya dikontrol sebelum dilakukan operasi, terkecuali operasi
bersifat urgensi
III. Perlengkapan Monitor

EKG: minimal lead V5 dan II atau analisis multipel lead ST, karena pasien

hipertensi punya risiko tinggi untuk mengalami iskemia miokard.

TD: monitoring secara continuous TD adalah esensial kateter Swan-Ganz:


hanya digunakan untuk penderita hipertensi dengan riwayat CHF atau MCI
berulang.

Pulse oxymeter: digunakan untuk menilai perfusi dan oksigenasi jaringan


perifer.

Analizer end-tidal CO2: Monitor ini berguna untuk membantu kita


mempertahankan kadar CO2.

Suhu atau temperature.

IV. Premedikasi
Untuk hipertensi yang ringan sampai dengan sedang mungkin bisa
menggunakan ansiolitik seperti golongan benzodiazepin atau midazolam.
V. Induksi Anestesi
Beberapa teknik dibawah ini bisa dilakukan sebelum tindakan
laringoskopi-intubasi untuk menghindari terjadinya hipertensi :
Dalamkan anestesia menggunakan gas volatile yang poten selama 5-10 menit.
Berikan opioid (fentanil 2,5-5 mikrogram/kgbb, alfentanil 15-25mikrogram/kgbb,
sufentanil 0,25- 0,5 mikrogram/kgbb, atau ramifentanil 0,5-1mikrogram/ kgbb).
Berikan lidokain 1,5 mg/kgbb intravena atau intratrakea.
Menggunakan beta-adrenergik blockade dengan esmolol 0,3-1,5 mg/kgBB,
propanolol 1-3 mg, atau labetatol 5-20 mg).

Menggunakan anestesia topikal pada airway.


2. Anestesi pada asma
1. Pengelolaan Preoperatif
Langkah pertama persiapan penderita dengan gangguan pernapasan yang
menjalani pembedahan adalah menentukan reversibilitas kelainan. Proses
obstruksi yang reversibel adalah bronkospasme, sekresi terkumpul dan proses
inflamasi jalan napas. Obstruksi yang tidak reversibel dengan bronkodilator
misalnya adalah empisema, tumor.
Pasien dengan bronkospasme yang frekuen harus diobati dengan preparat
bronkodilator yang berisi -adenergik agonis, dosis terapi teopilin dan
kortikosteroid. Pada pasien dengan serangan asma keseimbangan cairan dan
elektrolit perlu dipelihara, pada kondisi ini pasien sering mengalami dehidrasi.
2. Premedikasi
a. Sedatif ( Benzodiazepin) adalah efektif untuk anxiolitik tetapi pada pasien
dengan asma berat dapat menyebabkan depresi pernapasan. Sedasi ini
penting diberikan pada pasien dengan riwayat asma yang dipicu oleh
emosional.
b. Narkotik (Opioid). Penggunaan sebagai analgesia dan sedasi sebaiknya
dipilih yang tidak mempunyai efek pelepasan histamin misalnya fentanil,
sufentanil.
c. Antikolinergik. Pemberian dilakukan jika terdapat sekresi berlebihan atau
penggunaan ketamin sebagai agen induksi. Antikolinergik tidak efektif
untuk mencegah reflek bronkospasme oleh karena tindakan intubasi.

d. H2 antagonis (Simetidin, Ranitidin) penggunaan agen pemblok H2 secara


teori dapat mengganggu, karena aktivasi reseptor H2 secara normal akan
menyebabkan bronkodilatasi dengan adanya pelepasan histamin, aktivitas
H1 yang tanpa hambatan dengan blokade H2 dapat menimbulkan
bronkokonstriksi.
e. Pada pasien asma yang sudah menggunakan bronkodilator inhaler atau
kortikosteroid inhaler obat-obat ini perlu dibawa masuk ke ruang operasi.
Dianjurkan pemberian kortikosteroid parenteral (Methilprednisolon 40-80
mg) 1-2 jam sebelum induksi anestesi. Bronkodilator harus diberikan
sampai proses pembedahan selesai, pasien yang mendapatkan terapi lama
glukokortikoid harus diberikan tambahan untuk mengkompensasi supresi
adrenal. Hidrokortison 50-100 mg sebelum operasi dan 100 mg/8 jam
selama 1-3 hari post operasi.
f. Pada penderita asma intubasi dapat diberikan lidocain 1-1,5 mg/kgBB atau
Fentanyl 1-2 mcg/kgBB dapat menurunkan reaktifitas laring terhadap
ETT. Pemberian anestesi inhalasi menggunakan halothan/enfluran pada
stadium dalam dapat mengatasi spasme bronkial berat yang refrakter.

3. Pengelolaan intraoperatif

Sesuai dengan bidang cabang anestesi, suatu pemahaman patofisiologi yang


mendasar lebih penting pada pilihan tekhnik anestesi khusus atau pilihan obat.
Pilihan tekhnik bisa regional anestesi saja, dengan pasien tetap sadar, pasien
mampu mengontrol sistem napasnya sendiri, dan pada situasi lain diperlukan

kombinasi general anestesi dengan regional anestesi, untuk mengendalian


nyeri postoperatif.

a. Anestesi Umum
Waktu paling kritis pada pasien asma yang dianestesi adalah selama
instrumentasi jalan napas. Nyeri, stress, emosional atau rangsangan selama
anestesi dangkal dapat menimbulkan bronkospasme. Obat-obatan yang
sering

dihubungkan

dengan

pelepasan

histamin

(seperti

curare,

atracurium, mivacurium, morfin, meperidin) harus dicegah atau diberikan


dengan sangat lambat jika digunakan. Tujuan dari anestesi umum adalah
smooth induction dan kedalaman anestesi disesuaikan dengan stimulasi.
Pemilihan agen anestesi tidak sepenting dalam pencapaian anestesi yang
dalam sebelum intubasi dan stimulasi pembedahan.

1) Agent Inhalasi
Agent inhalasi anestesi seperti halotan akan menyebabkan bronkodilatasi dan
dapat digunakan untuk mencegah terjadinya bronkospasme. Halotan
berpengaruh pada diameter jalan napas dengan cara memblok reflek jalan
napas dan efek langsung relaksasi otot polos jalan napas. Namun hati-hati
dalam penggunaannya pada pasien dengan gangguan jantung karena efek
depresi miokardial dan efek aritmianya.

Isofluran dan desfluran dapat pula menimbulkan bronkodilator dengan derajat


yang setara tetapi harus dinaikkan secara lambat karena sifatrnya iritasi ringan
di jalan napas.
Sevofluran tidak terlalu berbau (tidak menusuk) dan memiliki efek
bronkodilator serta sifatnya tidak iritasi di jalan napas.

2) Obat-Obat Induksi Intravena


Untuk induksi anestesi dapat digunakan obat-obat yang mempunyai onset
kerja yang cepat. Contoh obat induksi yang dapat digunakan adalah
thiopenton, propofol, dan ketamin. Tiopenton paling banyak digunakan untuk
usia dewasa tetapi kadang-kadang dapat menimbulkan bronkospasme karena
adanya pelepasan histamin, beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa
thiopenton dapat menyebabkan bronkokonstriksi melalui reseptor 2,
menimbulkan kontraksi dan mengaktifkan mekanisme umpan balik negatif
dengan membatasi pelepasan ACH lebih lanjut akibat stimulasi yang terus
berlangsung. Oleh karena itu blok reseptor 2 dapat menghambat ACH dan
potensiasi bronkokonstriksi yang disebabkan aktivitas vagal (biasanya karena
iritan), propofol dan ethomidat sebagai alternatif.
Ketamin dan propofol dapat digunakan untuk mencegah dan
mereverse bronkokonstriksi melalui mekanisme utama penekanan neural dan
melalui penekanan langsung aktivitas otot polos jalan napas. Dari hasil suatu
penelitian, walaupun keduanya terbukti dapat digunakan untuk terapi
bronkokonstriksi, ketamin dikatakan lebih poten daripada propofol.

Propofol dengan dosis 2,5 mg/kgBB dapat menurunkan insidensi


whezing setelah intubasi dibanding dengan penggunaan metohexital dengan
dosis setara yaitu 6 mg/kgBB. Dibandingkan dengan benzodiazepin, propofol
lebih menguntungkan karena faktor onset yang cepat dan akhir cepat
pula.Ketamin mempunyai efek bronkodilatasi selain efek analgesik untuk
menghindari efek depresi respirasi, ketamin diberikan dengan pelan-pelan,
ketamin juga mempunyai efek meningkatkan sekresi kelenjar saliva dan
trakeobronkial. Efek ini dapat dicegah dengan menggunakan antisialogogue
seperti atropin ataupun gycopyrrolate. Reflek brokospasme dapat dicegah
sebelum intubasi dengan pemberian tambahan tiopenton 1-2 mg/kgBB, pasien
diventilasi dengan 2-3 MAC agen volatil selama 5 menit atau diberikan
lidocain intravena atau intratrakeal 1-2 mg/kgBB. Tetapi perlu di ingat
lidocain sendiri dapat memicu bronkospasme jika dosis tiopenton tidak
adekuat. Dapat juga dengan antikolinergik (atropin 2 mg atau glikoperolat 1
mg) tetapi dapat menyebabkan takikardi.
Kontroversi kemampuan thiopental untuk menyempitkan saluran
udara jika diberikan dalam dosis rendah, dosis besar dapat menghalangi
bronkospasme yang diinduksi oleh iritasi ETT, tetapi meningkatkan resiko
hipotensi. Meskipun mungkin cocok untuk intubasi elektif dari asma
stabil,mungkin tidak sesuai untuk pasien dengan status parah.

3) Muscle Relaksan

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam penggunan muscle


relaksan adalah perlu tidaknya mereverse kerjanya. Dengan menghambat
penghancuran ACH endogen, inhibitor kolinesterase seperti neostigmin dapat
meningkatkan sekresi jalan napas dan dapat menimbulkan bronkospasme.
Efek ini dapat dicegah dengan penggunaan antagonis muskarinik seperti
atropin 1 mg atau glycopyrrolate 0,5 mg untuk meminimalkan efek samping
muskarinik. Alternatif lain dapat digunakan muscle relaxan short acting.
Meskipun suksinilkolin dapat menyebabkan pelepasan histamin tetapi secara
umum dapat digunakan dengan aman pada kebanyakan pasien asma.
4. Pengelolaan bronkospasme Intraoperatif
Bronkospasme pada intraoperatif ditunjukan dengan wheezing,
munculnya penurunan volume tidal ekshalasi atau munculnya suatu kenaikan
pelan dari gelombang dicapnograf, hal ini dapat diatasi dengan mendalamkan
anestesinya. Jika tidak hilang maka perlu dipikirkan hal lain seperti sumbatan
tube endotracheal dari kekakuan, balon yang terlalu keras, intubasi
endobronchial, tarikan aktif karena anestesi dangkal, oedem pulmo atau
emboli dan pneumothorak semua dapat menyebabkan bronkospasme.
Bronkospasme harus ditangani dengan suatu beta adrenergik agonist baik
secara aerosol atau inhaler kedalam jalur inspirasi dari sirkuit napas (gas
pembawa yang menggunakan dosis terukur dapat berinterferensi dengan
pembacaan massa spectrometer). Tekhnik pemberian ini adalah secara matered
dose inhaler, berikan 5-10 puff obat tersebut kedalam jalan napas bagian
bawah. Asma sedang sampai berat perlu diterapi dengan aminopillin
intravena, terbutalin (0,25 mg) atau keduanya.
Pasien yang tidak menerima aminopillin preoperatif perlu diberikan
aminopillin bolus 5-6 mg/kgBB intravena lebih dari 20 menit dan diberikan

dosis pemeliharaan 0,5-0,9 mg/kgBB. Pasien asma dengan serangan asma


berat sebaiknya diberikan ventilasi bantuan untuk mempertahankan PaO2 dan
PCO2 pada level normal, kecepatan ventilasi yang rendah (6-10 napas/menit)
volume tidal yang rendah dan waktu ekshalasi yang panjang.
Penurunan diameter airway yang disebabkan bronkokontriksi yang
berat dapat mempengaruhi distribusi gas dalam paru. Dampak akibat
penurunan ventilasi pada beberapa unit paru-paru dengan rasio ventilasi dan
perfusi yang lebih rendah dapat menyebabkan hipoksemia arterial.
Vasodilatasi pulmoner akibat pemberian beberapa bronkodilator dapat
memperberat rasio ventilasi perfusi yang sudah rendah ini. Oleh karena itu
pada pasien-pasien yang teranestesi, yang penting adalah meningkatkan
konsentrasi gas oksigen inspirasi menjadi 100% pada saat terjadi
bronkospasme. Hal ini tidak hanya meminimalkan derajat hipoksia arteial
tetapi juga meyakinkan tekanan partial oksigen dalam alveoli.
Pada akhir pembedahan sebaiknya pasien sudah bebas wheezing, aksi
pelemas otot nondepolarisasi perlu direvese dengan anticholin esterase yang
tidak memacu

terjadinya

bronkospasme,

bila

sebelumnya

diberikan

antikolinergik dengan dosis sesuai. Ekstubasi dalam perlu dilakukan sebelum


terjadi pulihnya reflek jalan napas normal untuk mencegah brokospasme atau
setelah pasien asma sadar penuh. Lidocain bolus 1,5-2 mg/ kgBB diberikan
intravena atau dengan dosis lanjutan 1-2 mg/ mnt dapat menekan reflek jalan
napas.
5. Pengelolaan post operatif
Pasien asma yang selesai menjalani operasi pemberian bronkodilator
dilanjutkan lagi sesegera mungkin pada pasca pembedahan. Pemberian

bronkodilator melalui nebulator atau sungkup muka. Sampai pasien mampu


menggunakan MDI (Meteroid Dose Inheler) sendiri secara benar. Pasien akan
memperoleh manfaat dari terapi MDI specer bila memenuhi kriteria sebagai
berikut ;

Frekuensi pernapasan < 25 kali/menit

Mampu menahan naps selama 5 detik atau lebih

Kapasitas vital > 15 ml/kgbb

Mampu komunikasi verbal dan mengikuti instruksi

Koordinasi tangan-mulut-inspirasi memadai

PEFR 150 Lt/menit untuk wanita dan > 200 Lt/menit untuk pria

3. Anestesi pada laparaskopi

Definisi Laparoskopi
Laparoskopi adalah sebuah prosedur pembedahan minimally invasive dengan
memasukkan gas CO2 ke dalam rongga peritoneum untuk membuat ruang
antara dinding depan perut dan organ viscera, sehingga memberikan akses
endoskopi ke dalam rongga peritoneum tersebut.

Penggunaan Gas CO2 dalam Laparoskopi


CO2 adalah gas pilihan untuk insuflasi karena tidak mudah terbakar, tidak
membantu pembakaran, mudah berdifusi melewati membrane, mudah keluar
dari paru-paru, mudah larut dalam darah dan risiko embolisasi CO2 kecil.
Level CO2 dalam darah mudah diukur, dan pengeluarannya dapat ditambah

dengan memperbanyak ventilasi. Selama persediaan O2 cukup, konsentrasi


CO2 darah dapat ditolelir.
Kerugian utamanya adalah fakta bahwa CO2 lembam. Hal ini menyebabkan
iritasi peritoneal langsung dan rasa sakit selama laparoskopi karena CO2
membentuk asam karbonat saat kontak dengan permukaan peritoneum. CO2
tidak terlalu larut pada darah bila terjadi kekurangan sel darah merah, oleh
karena itu CO2 bisa tersisa di intraperitoneum dalam bentuk gas setelah
laparoskopi, sehingga menyebabkan sakit pada bahu. Hiperkarbia dan
respiratory acidosis terjadi saat kapasitas CO2 dalam darah melampaui batas.
Selain itu, CO2 dapat menimbulkan efek lokal maupun sistemik, sehingga
dapat terjadi hipertensi, takikardi, vasodilatasi pembuluh darah serebral,
peningkatan CO, hiperkarbi, dan respiratory acidosis.

Keuntungan Prosedur Laparoskopi


Dibandingkan dengan bedah terbuka, laparoskopi lebih menguntungkan
karena insisi yang kecil dan nyeri pasca operasi yang lebih ringan. Fungsi
paru pasca operasi tidak terganggu dan sedikit kemungkinan terjadi atelektasis
setelah prosedur laparoskopi. Setelah operasi fungsi pencernaan pasien pulih
lebih cepat, masa rawat inap rumah sakit pendek, serta lebih cepat kembali
beraktivitas. Keuntungan ini bervariasi tergantung pasien dan tipe prosedur.

Kerugian Prosedur Laparoskopi


Komplikasi selama prosedur laparoskopi dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung karena kebutuhan insuflasi CO2 untuk membuat
ruang operasi. CO2 masuk kedalam pembuluh darah secara cepat. Gas yang
tidak larut terakumulasi didalam jantung kanan menyebabkan hipotensi dan
cardiac arrest. Emboli CO2 yang masif bisa dideteksi dengan murmur

precordial, transesofugeal echocardiografi, dan end tidal CO2 monitoring


(CO2 meningkat secara sementara kemudian turun kembali). Pengobatan
dilakukan dengan menghentikan insuflasi CO2, hiperventilasi dengan 100%
O2 dan resusitasi cairan, merubah posisi pasien right side up dan memasang
kateter vena central untuk aspirasi gas.
Jika gas yang ditujukan untuk membuat pneumoperitoneum keluar atau
prosedur laparoskopi meliputi insuflasi ekstra peritoneal (prosedur untuk
adrenalectomy atau perbaikan hernia) emfisema subkutan bisa terjadi, volume
tidal CO2 akhir (end tidal CO2) meningkat mencapai level tinggi dan terdapat
krepitus yang biasanya dapat sembuh tanpa intervensi. Hal serius lain adalah
pneumothorak, jika gas masuk ke dalam rongga thorax melalui luka atau insisi
yang dibuat sewaktu pembedahan atau dari jaringan cervikal subkutan.
Intervensi tidak selalu harus, karena pneumothorax biasanya pulih jika
insuflasi dihentikan.

Respon Fisiologi Selama Bedah Laparoskopi


Goncangan hemodinamik dan ventilasi dapat terjadi pada pasien yang
menjalani prosedur laparoskopi. Penyebab utama perubahan fisiologis pada
prosedur laparoskopi ini adalah insuflasi CO2. Insuflasi CO2 ke dalam rongga
peritoneum menyebabkan terjadinya pneumoperitoneum yang bermanfaat
untuk visualisasi selama prosedur laparoskopi. Insuflasi CO2 ini juga
meningkatkan tekanan intraabdomen dan meningkatkan resistensi pembuluh
darah sehingga curah jantung menjadi turun sementara tekanan darah
meningkat. Posisi pasien bisa merubah respon ini. Pada saat posisi
tredelenburg penurunan preload dan peningkatan afterload tidak terlalu
mencolok dibandingkan posisi anti tredelenburg.

Selama prosedur Laparoskopi, efek respirasi yang disebabkan oleh insuflasi


CO2 memegang peranan utama. Setelah insiflasi CO2 terjadi hiperkapnia
selama beberapa menit dimana kenaikan CO2 biasanya mencapai 30%,
namun keadaan ini akan menjadi stabil kembali selama satu jam sewaktu
operasi. Hiperkapnia ini dapat menimbulkan stimulasi simpatis dan berpotensi
untuk terjadi disritmia dan respiratori asidosis. Hal ini dapat dikoreksi dengan
meningkatkan ventilasi. Pengaruh tambahan dari pneumoperitoneum adalah
efek mekanik dari peningkatan tekanan intra abdomen yang menyebabkan
penurunan pulmonary compliance dan kapasitas residu fungsional serta
peningkatan dead space.

Manajemen Anestesi pada Laparoskopi


Pemilihan jenis anestesi memperhatikan beberapa faktor, antara lain : umur,
jenis kelamin, status fisik, jenis operasi, ketrampilan operator dan peralatan
yang dipakai, ketrampilan/kemampuan pelaksana anestesi dan sarananya,
status rumah sakit, dan permintaan pasien. Saat ini sekitar 70-75 % operasi
pada rumah sakit, dilakukan di bawah anestesi umum (general anesthesia).
Operasi sekitar kepala, leher, dada, dan abdomen sangat baik dilakukan
dengan anestesi umum inhalasi dengan pemasangan pipa endotrakheal, sejak
diketahui bahwa dengan metode ini jalan nafas dapat dikontrol dengan baik
sepanjang waktu.
Anestesi regional tidak digunakan rutin pada prosedur laparoskopi, karena
iritasi yang mengenai diafragma dari insuflasi CO2. bisa menyebabkan sakit
pada pundak, ditambah lagi waktu penyembuhan untuk pengembalian fungsi
yang lengkap bisa lama. Dengan lidocaine dosis rendah dan teknik spinal
opioid, salah satu studi menemukan bahwa nyeri pasca operasi setelah

laparoskopi ginekologi lebih sedikit dibandingkan dengan general anestesi


dengan desflurane.

Evaluasi Preoperasi
Secara umum sebelum memulai anestesi, dilakukan terlebih dulu anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Karena perubahan tekanan hemodinamik dan respirasi
terjadi pada pasien selama prosedur laparoskopi, evaluasi sebelum operasi
difokuskan untuk mengidentifikasi pasien dengan penyakit paru berat dan
gangguan fungsi jantung.

Manajemen Intraoperatif.
Pasien biasanya menjalani prosedur laparoskopi dengan anestesi umum
dengan menggunakan monitor standar. Pengukuran tekanan darah noninvasive
dan kapnografi penting untuk mengikuti efek hemodinamik dan
pneumoperitoneum pada respirasi dan perubahan posisi. Dalam situasi
tertentu, monitor pengukuran tekanan arteri sebaiknya dilakukan. Indikasi
tindakan monitor tekanan arteri secara invasif antara lain: penyakit paru berat,
end tidal CO2. arteri yang sangat tinggi, dan fungsi ventrikel yang menurun.
Sama halnya dengan monitor pengukuran tekanan vena sentral, pemasangan
kateter arteri paru atau transesofageal echocardiografi bisa berguna untuk
pasien dengan gangguan fungsi jantung atau hipertensi paru.1
Akses untuk memasukkan obat secara intravena harus memadai pada prosedur
laparoskopi, seperti pada keadaan kehilangan darah. Akses untuk
memasukkan obat secara intravena yang adekuat adalah kunci dari resusitasi
cairan yang tepat untuk keadaan pendarahan yang tidak terkontrol atau emboli
gas. Akses ke vena sentral harus dipertimbangkan pada pasien dengan
gangguan vena perifer.1

Untuk mencegah aspirasi paru dan menjaga jalan nafas, perlu pemasangan
pipa endotrakeal. Pemasangan sebuah pipa orogastrik atau nasogastrik setelah
jalan nafas dikuasai dapat mengurangi tekanan udara lambung, menurunkan
resiko kerusakan gaster, dan memperbaiki visualisasi selama operasi. Pada
saat tekanan intraabdomen meningkat karena pneumoperitoneum, pipa
endotracheal dapat digunakan untuk memberikan tekanan ventilasi yang
positif untuk mencegah hipoksemia dan untuk mengekskresikan kelebihan
CO2 yang diabsorbsi. Pneumoperitoneum dapat menyebabkan perubahan
posisi pipa endotrakeal pada pasien dengan trakea yang pendek, dimana ketika
carina bergerak ke atas pipa endotrakeal bisa masuk ke salah satu bronkus,
sehingga memasang pipa endotrakeal sebaiknya pada pertengahan trakea dan
disarankan untuk lebih sering mengecek posisi pipa endotrakeal pada pasien.1
Obat anestesi yang digunakan biasanya berupa volatile agent, opioid
intravena, dan obat pelumpuh otot. Ada studi yang mengatakan bahwa N2O
sebaiknya dihindari selama prosedur laparoskopi karena ini akan
meningkatkan pelebaran usus dan resiko mual pasca operasi. Penggunaan
klinis N2O ini masih menjadi perdebatkan.1
Selama prosedur laparoskopi, pasien biasanya diposisikan Trendelenburg atau
Reverse Trendelenburg. Trauma saraf pada pasien sebaiknya dihindari dengan
mengamankan dan membantali seluruh ekstremitas. Tekanan pernafasan bisa
meningkat dengan perubahan posisi dan ventilasi, biasanya butuh
penyesuaian.
Dua tujuan utama selama pemeliharaan pasien selama bedah laparoskopi
dengan anestesi umum adalah menjaga agar tetap normokapnia dan mencegah
ketidakseimbangan hemodinamik. Hiperkapnia biasanya berawal beberapa
menit setelah insuflasi CO2.. Untuk menormalkan kembali CO2 ini, ventilasi

ditingkatkan biasanya dengan meningkatkan RR (respiratory rate) dengan


volume tidal yang tetap. Jika hiperkapnia memburuk, misalnya pada kasus
sulit prosedur bedah diubah menjadi prosedur bedah terbuka. 1
Perubahan hemodinamik harus diantisipasi dan dimanajemen selama prosedur
laparoskopi. Jika tekanan darah meningkat maka pemberian kadar obat
anestesi inhalasi dapat ditingkatkan dan dapat ditambahkan dengan pemberian
obat seperti nitropusside (nitropusside menyebabkan reflek tackikardi,
berpotensi untuk menimbulkan keracunan sianida), esmolol, atau calcium
channel blocker. Pengobatan dengan alpha agonist seperti clonidine atau
dexmedetomidine adalah strategy lain (alpha agonist dapat menyebabkan
penurunan MAC untuk anestesi inhalasi, berpotensi menjadi bradikardi).
Walaupun pasien yang sehat dapat mentoleransi perubahan hemodinamik,
namun pasien dengan fungsi jantung yang buruk bisa dipengaruhi menjadi
lebih buruk. Hal ini dapat dicegah dengan penggunaan monitor secara invasif
(arterial line, central line, transesofageal ochocardiografi) selama prosedur
berlangsung.

Manajemen Pasca Operasi


Pada ruang pemulihan pasca anestesi, hiperkapnia bisa tetap terjadi selama 45
menit setelah prosedur selesai.1 Insiden mual muntah pasca operasi
laparoskopi dilaporkan cukup tinggi yaitu mencapai 42%.7 Mual muntah
pasca operasi setelah prosedur laparoskopi dipengaruhi oleh tipe dari
prosedur, sisa dari pneumoperitoneum, dan karakteristik pasien. Beberapa
obat baik itu tunggal maupun dalam kombinasi untuk mencegah dan
mengobati komplikasi ini meliputi metoclopramide, ondansentron, dan
dexamethasone. Untuk menurunkan insiden mual dan muntah pasca operasi
dapat dilakukan dengan meminimalkan dosis opioid dan mempertimbangkan

pemberian propofol untuk anestesi. Karena banyak prosedur laparoskopi


direncanakan pada pasien rawat jalan, evaluasi pada saat pasien akan pulang
juga diperlukan.
Penggunaan analgetik setelah prosedur laparoskopi umumnya lebih sedikit
dibandingkan dengan sesudah bedah terbuka. Modalitas penggunaan
analgesik harus menghilangkan nyeri yang bisa terjadi karena insisi, visceral,
atau akibat gas residu dan pneumoperitoneum. Manajemen nyeri diawali
sebelum atau selama prosedure pembedahan. Pemberian opioid intravena
(fentanyl, morfine) dalam kombinasi dengan NSAID intravena membantu
agar pasien nyaman pada akhir dari prosedur. Infiltrasi dari anestesi lokal,
seperti bupivacaine pada port sites kulit dan peritoneum memblock nyeri
somatik dan visceral

G.

DAFTAR PUSTAKA
1.

(MIMS Pharmacy Guide) UBM Medica Asia Pte Ltd. MIMS Indonesia
Petunjuk Konsultasi Edisi 11. 2011/2012. PT. Bhuana Ilmu Populer
(Kelompok Gramedia). Jakarta.

2.

Mycek Mary J., Harvey Richard A., Champe Pamela A. Farmakologi Ulasan
Bergambar Edisi 2. 2001. Widya Medika. Jakarta.

3.

Dr. H. Soerasdi Erasmus, Sp.An, KIC, KMN; M. Dwi Satriyanto, dr, Sp.An,
M.Kes, Susanto Edi. Obat Obat Anesthesia Sehari hari.

4.

Obat obatan anesthesia edisi II. Sota Omoigui

5.

Latief Said A., Suryadi Kartini A., Dahlan M. Ruswan. Petunjuk Praktis
Anestesiologi Edisi Kedua. 2002. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Jakarta.

6. Morgan GE, Mikhail MS, J.Murray M., Clinical Anesthesiology 4th edition.
McGraw Hill. New York. 2006.