Anda di halaman 1dari 7

Hormon Tiroid

Hormon tiroid hanya disintesis dalam kelenjar tiroid, walaupun sekitar 70% dari hormon steroid
aktif yang utama, T3, dihasilkan dalam jaringan perifer melalui deiodinasi dari tiroksin; T4. Selsel kelenjar tiroid mengkonsentrasikan iodium untuk sintesis hormon tiroid melalui transpor
aktif. Sel kelenjar tiroid tersusun dalam folikel-folikel yang mengelilingi bahan koloidal, dan
menghasilkan suatu glikoprotein yang besar, tiroglobulin. Iodium dioksidasi dengan cepat dan
disatukan dengan cincin aromatik tirosin pada tiroglobulin (organifikasi). Residu tirosin

kemudian dirangkai bersama untuk menghasilkan tironin. Organifikasi dan perangkaian


dikatalisir oleh peroksidase tiroid pada permukaan apeks sel dalam mikrovili yang meluas ke
dalam ruang koloid. Tiroglobulin dilepaskan -bersama dengan tironin yang melekat padanya- ke
dalam folikel, dan bertindak sebagai suatu cadangan bagi hormon. Hormon tiroid dibentuk oleh
ambilan balik dari tiroglobulin melalui endositosis dan pencernaan proteolitik oleh hidrolase
lisosoma dan peroksidase tiroid, menghasilkan berbagai tironin. Dalam keadaan normal, kelenjar
melepaskan T4 dan T3 dalam rasio sekitar 10:1, dan melalui suatu mekanisme transpor aktif.

Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid letaknya melengkung di permukaan anterior trakea tepat di bawah tulang rawan
tiroid. Terdiri dari 2 lobus yang disatukan oleh hubungan yang berbentuk silinder yaitu isthmus.
Ukuran dari kelenjar sangat beragam tergantung keturunan, lingkungan dan faktor nutrisi.
Namun, rata-rata beratnya kira-kita 34 gram. Banyaknya pembuluh darah pada kelenjar ini
menyebabkan kelenjar berwarna merah tua. Kelenjar tiroid mengandung sejumlah besar folikel
tiroid yang berbentuk bundar yang dilapisi oleh epithelium kubus sederhana. Sel-sel folikel
dalam rongga folikel mengadakan lipatan-lipatan dan diisi oleh cairan koloid dengan sejumlah
besar protein terlarut. Jaringan kapiler sekeliling folikel membawa nutrisi dan menerima hasil
yang disekresikan. Sel-sel folikel mensintesis protein globular yang disebut tiroglobulin yang
mengandung asam amino tirosin, merupakan prekusor hormon tiroid. Bersama dengan yodium
yang diabsorbsi dari saluran pencernaan membentuk ikatan kovalen membentuk molekul hormon
tiroid. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin (T4) dan T3.
Tiroksin atau T4 (tetraiodothyronine) dan T3 (triiodothyronine)
Faktor utama yang mengatur laju pelepasan homon tiroid adalah TSH. TSH merangsang
transport jodium ke dalam sel-sel folikel dan merangsang produksi tiroglobulin dan tiroid

peroksidase serta merangsang pelepasan hormon tiroid. Fungsi hormon tiroid: Hormon tiroid
berfungsi mengaktifkan gen yang terlibat dalam sintesis enzim yang berfungsi dalam proses
glikolisis dan produksi ATP serta meningkatkan laju metabolisme dalam sel. Oleh karena
meningkatkan produksi panas maka disebut calorigenic effect. Pada anak-anak, produksi TSH
meningkat pada suhu dingin. Efek ini dapat membantu mereka beradaptasi dengan suhu yang
dingin. Hormon tiroid sangat esensial pada perkembangan tulang, otot dan sistem saraf.
Kelenjar tiroid menghasilkan jumlah yang besar T4, tetapi T3 merupakan hormon yang efeknya
sangat kuat, segera dan dalam waktu yang singkat dalam meningkatkan laju metabolisme.
Kalsitonin
Populasi sel-sel endokrin yang ke dua yang terselip di antara sel-sel kuboidal folikel adalah yang
dikenal dengan sel-sel C atau sel parafolikular. Sel-sel C menghasilkan hormon kalsitonin (CT)
yang bekerja mengatur konsentrasi Ca dalam cairan tubuh. Peningkatan konsentrasi Ca dalam

cairan tubuh merangsang pelepasan kalsitonin. CT yang bekerja dengan cara:


Menghambat kerja osteoklas sehingga menghambat laju pelepasan Ca oleh tulang
Merangsang ekskresi Ca oleh ginjal.
Hormon Tiroid
Tahap pertama pembentukan hormon tiroid adalah pompa iodida dari darah ke dalam sel dan
folikel kelenjar tiroid. Membran basal sel tiroid memompakan iodida masuk ke dalam sel yang
disebut dengan penjeratan iodida (iodide trapping). Sel-sel tiroid kemudian membentuk dan
mensekresikan tiroglobulin dari asam amino tirosin. Tahap berikutnya adalah oksidasi ion iodida
menjadi I2 oleh enzim peroksidase. Selanjutnya terjadi iodinasi tirosin menjadi monoiodotirosin,
diiodotirosin, dan kemudian menjadi T4 dan T3 yang diatur oleh enzim iodinase. Kemudian,
hormon tiroid yang telah terbentuk ini disimpan di dalam folikel sel dalam jumlah yang cukup
untuk dua hingga tiga bulan. Setelah hormon tiroid terbentuk di dalam tiroglobulin, keduanya
harus dipecah dahulu dari tiroglobulin, oleh enzim protease. Kemudian, T 4 dan T3 yang bebas ini
dapat berdifusi ke pembuluh kapiler di sekitar sel-sel tiroid. Keduanya diangkut dengan
menggunakan protein plasma. Karena mempunyai afinitas yang besar terhadap protein plasma,
hormon tiroid, khususnya tiroksin, sangat lambat dilepaskan ke jaringan. Kira-kira tiga perempat
dari tirosin yang teriodinasi dalam tiroglobulin tidak akan pernah menjadi hormon tiroid, hanya
sampai pada tahap monoiodotirosin atau diiodotirosin. Yodium dalam monoiodotirosin dan
diiodotirosin ini kemudian akan dilepas kembali oleh enzim deiodinase untuk membuat hormon
tiroid tambahan. Regulasi hormon tiroid adalah sebagai berikut. Hipotalamus sebagai master

gland mensekresikan TRH (Tyrotropine Releasing Hormone) untuk mengatur sekresi TSH oleh
hipofisis anterior. Kemudian tirotropin atau TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dari hipofisis
anterior meningkatkan sekresi tiroid dengan perantara cAMP. Mekanisme ini mempunyai efek
umpan balik negatif, bila hormon tiroid yang disekresikan berlebih, sehingga menghambat
sekresi TRH maupun TSH. Bila jumlah hormon tiroid tidak mencukupi, maka terjadi efek yang
sebaliknya.

Pembentukan dan Sekresi Hormon Tiroid


Ada 7 tahap, yaitu:
1. Trapping
Proses ini terjadi melalui aktivitas pompa iodida yang terdapat pada bagian basal sel folikel.
Dimana dalam keadaan basal, sel tetap berhubungan dengan pompa Na/K tetapi belum dalam
keadaan aktif. Pompa iodida ini bersifatenergy dependent dan membutuhkan ATP. Daya
pemekatan konsentrasi iodida oleh pompa ini dapat mencapai 20-100 kali kadar dalam serum
darah. Pompa Na/K yang menjadi perantara dalam transport aktif iodida ini dirangsang oleh
TSH.
2. Oksidasi
Sebelum iodida dapat digunakan dalam sintesis hormon, iodida tersebut harus dioksidasi terlebih
dahulu menjadi bentuk aktif oleh suatu enzim peroksidase. Bentuk aktif ini adalah iodium.
Iodium ini kemudian akan bergabung dengan residu tirosin membentuk monoiodotirosin yang
telah ada dan terikat pada molekul tiroglobulin (proses iodinasi). Iodinasi tiroglobulin ini
dipengaruhi oleh kadar iodium dalam plasma. Sehingga makin tinggi kadar iodium intrasel
maka akan makin banyak pula iodium yang terikat sebaliknya makin sedikit iodium di intra sel,
iodium yang terikat akan berkurang sehingga pembentukan T3 akan lebih banyak daripada T4.
3. Coupling
Dalam molekul tiroglobulin, monoiodotirosin (MIT) dan diiodotirosin (DIT) yang terbentuk dari
proses iodinasi akan saling bergandengan (coupling) sehingga akan membentuk triiodotironin
(T3) dan tiroksin (T4). Komponen tiroglobulin beserta tirosin dan iodium ini disintesis dalam
koloid melalui iodinasi dan kondensasi molekul tirosin yang terikat pada ikatan di dalam
tiroglobulin. Tiroglobulin dibentuk oleh sel-sel tiroid dan dikeluarkan ke dalam koloid melalui
proses eksositosis granula.
4. Penimbunan (storage)

Produk yang telah terbentuk melalui proses coupling tersebut kemudian akan disimpan di dalam
koloid. Tiroglobulin (dimana di dalamnya mengandung T3 dan T4), baru akan dikeluarkan
apabila ada stimulasi TSH.
5. Deiodinasi
Proses coupling yang terjadi juga menyisakan ikatan iodotirosin. Residu ini kemudian akan
mengalami deiodinasi menjadi tiroglobulin dan residu tirosin serta iodida. Deiodinasi ini
dimaksudkan untuk lebih menghemat pemakaian iodium.
6. Proteolisis
TSH yang diproduksi oleh hipofisis anterior akan merangsang pembentukan vesikel yang di
dalamnya mengandung tiroglobulin. Atas pengaruh TSH, lisosom akan mendekati tetes koloid
dan mengaktifkan enzim protease yang menyebabkan pelepasan T3 dan T4 serta deiodinasi MIT
dan DIT.
7. Pengeluaran hormon dari kelenjar tiroid (releasing)
Proses ini dipengaruhi TSH. Hormon tiroid ini melewati membran basal dan kemudian ditangkap
oleh protein pembawa yang telah tersedia di sirkulasi darah yaitu Thyroid Binding Protein (TBP)
dan Thyroid Binding Pre Albumin(TBPA). Hanya 0,35% dari T4 total dan 0,25% dari T3 total
yang berada dalam keadaan bebas. Ikatan T3 dengan TBP kurang kuat daripada ikatan T4 dengan
TBP. Pada keadaan normal kadar T3 dan T4 total menggambarkan kadar hormon bebas. Namun
dalam keadaan tertentu jumlah protein pengikat bisa berubah. Pada seorang lansia yang
mendapatkan kortikosteroid untuk terapi suatu penyakit kronik cenderung mengalami penurunan
kadar T3 dan T4 bebas karena jumlah protein pembawa yang meningkat. Sebaliknya pada
seorang lansia yang menderita pemyakit ginjal dan hati yang kronik maka kadar protein binding
akan berkurang sehingga kadar T3 dan T4 bebas akan meningkat

Efek Primer Hormon Tiroid


Sel-sel sasaran untuk hormon tiroid adalah hampir semua sel di dalam tubuh. Fungsi hormon
tiroid adalah:
Merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan meningkatkan metabolisme protein, lemak,
dan karbohidrat.
Merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran. Kedua fungsi bertujuan untuk
meningkatkan penggunaan energi oleh sel,
terjadi peningkatan laju metabolisme basal,
pembakaran kalori, dan peningkatan produksi panas oleh setiap sel.

Meningkatkan responsivitas sel-sel sasaran terhadap katekolamin sehingga meningkatkan


frekuensi jantung.
meningkatkan responsivitas emosi.
Meningkatkan kecepatan depolarisasi otot rangka, yang meningkatkan kecepatan kontraksi otot
rangka.
Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal semua sel tubuh dan
dibutuhkan untuk fungsi hormon pertumbuhan.
Pengaturan Faal Tiroid
Gambar 4 : pengaturan faal tiroid
Ada 3 macam kontrol terhadap faal kelenjar tiroid :
1. TRH (Thyrotrophin Releasing Hormone)
Hormon ini merupakan tripeptida, yang telah dapat disintesis, dan dibuat di hipotalamus. TRH
menstimulasi keluarnya prolaktin, kadang-kadang jugaFollicle Stimulating Hormone (FSH)
dan Luteinizing Hormone (LH).
2. TSH ( Thyroid Stimulating Hormone)
TSH yang masuk dalam sirkulasi akan mengikat reseptor di permukaan sel tiroid (TSHReseptor-TSH-R) dan terjadilah efek hormonal sebagai kenaikan trapping, peningkatan iodinasi,
coupling, proteolisis sehingga hasilnya adalah produksi hormon meningkat.
3. Umpan balik sekresi hormon
Kedua hormon ini mempunyai efek umpan balik di tingkat hipofisis. T3 selain berefek pada
hipofisis juga pada tingkat hipotalamus. Sedangkan T4 akan mengurangi kepekaan hipofisis
terhadap rangsangan TRH.
Tubuh memiliki mekanisme yang rumit untuk menyesuaikan kadar hormon tiroid. Hipotalamus
menghasilkan Thyrotropin-Releasing Hormone, yang menyebabkan kelenjar hipofisa
mengeluarkan TSH. TSH merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid dalam
darah mencapai kadar tertentu, maka kelenjar hipofisa menghasilkan TSH dalam jumlah yang
lebih sedikit, jika kadar hormon tiroid dalam darah berkurang, maka kelenjar hipofisa
mengeluarkan lebih banyak TSH.

Pengaturan dan sekresi hormone tiroid

Diawali kelenjar Hipotalamus di otak mensekresikan TRH (Thyrotropin-Releasing Hormone),


yang disekresikan oleh ujung-ujung saraf di dalam eminansia mediana hipotalamus. Dari
mediana tersebut, TRH kemudian diangkut ke kelnjar Hipofisis anterior , lewat darah porta
hipotalamus-hipofisis. TRH langsung mempengaruhi hifofisis anterior untuk meningkatkan
pengeluaran
TSH
(Tirotrof
Stimulating
Hormon)
TSH merupakan salah satu hormon yang dproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior yang
mempunyai efek spesifik terhadap kelenjar tiroid untuk mensekresi hormon tiroksin yang
penting
dalam
metabolisme
:
Akibat TSH dari Hipofisis itulah kelenjar thyroid terjadi hal hal
1.
Meningkatkan proteolisis tiroglobulin yang disimpan dalam folikel, dengan hasil
akhirnya adalah terlepasnya hormon-hormon tiroksin ke dalam sirkulasi darah dan berkurangnya
subtansi folikel tersebut.

2.

Meningkatkan aktifitas pompa yodium, yang meningkatkan kecepatan proses iodide


trapping di dalam sel-sel kelenjar, kadangakala meningkatkan rasio konsentrasi iodida intrasel
terhadap konsentrasi iodida ekstrasel sebanyak delapan kali normal.

3.

Meningkatkan iodinasi tirosin untuk membentuk hormon tiroksin.

4.

Meningkatkan ukuran dan aktifitas sensorik sel-sel tiroid.

5.

Meningkatkan jumlah sel-sel tiroid, disertai dengan dengan perubahan sel kuboid
menjadi sel kolumner dan menimbulkan banyak lipatan epitel tiroid ke dalam folikel.
Sekresi thiroid dari hal hal tersebut mengakibatkan Efek Umpan Balik Hormon Tiroksin ke
hipofisis, sehingga mampu menurunkan kembali Sekresi TSH oleh Hipofisis Anterior
Ini
dapat
dismpulkan
.
Meningkatnya hormon tiroksin produksi thiroid di dalam cairan darah akan menurunkan sekresi
TSH oleh hipofisis anterior. Hal ini terutama dikarenakan efek langsung hormon tiroksin
terhadap hipofisis anterior.
Usia
Janin

Akan terjadi
Aborsi
Kelahiran mati
Anomali kongenital
Peningkatan angka kematian perinatal
Peningkatan kematian bayi
Neurologis kretinisme
Mental defisiensi
Tuli-bisu
Kejang diplegia
Juling
Myxedematous kretinisme
Dwarfisme
Mental defisiensi
Neonatus
Neonatal gondok
hipotiroidisme Neonatal
Anak dan remaja Gondok
Juvenile hipotiroidisme
Gangguan fungsi mentalnya
Menghambat perkembangan fisik
Dewasa
Gondok
Gondok dengan komplikasinya
hypothyroidism
Gangguan fungsi mentalnya
Yodium diinduksi hipertiroidisme
Tabel 25.1: defisiensi yodium gangguan