Anda di halaman 1dari 22

HEMOLYTIC UREMIC

SYNDROME
Wira, Agus Alim Abdullah, Mansyur Arif
Bagian Ilmu Patologi Klinik FK-UNHAS/ RSUP.dr.
Wahidin Sudirohusodo Makassar

PENDAHULUAN
Sindrom klinis :
gagal ginjal
dideskripsikan
progresif , anemia
tahun 1955 oleh
hemolitik
Gasser dkk
mikroangiopati
dan
trombositopenia
HUS
HUS

HUS Tipikal
(D+HUS) bentuk
yang dikaitkan
dengan prodromal
diare.

HUS atipikal (DHUS) bentuk yang


tidak dikaitkan
dengan diare/
bentuk sporadic
dan idiopatik

EPIDEMIOLOGI

Hemolytic uremic syndrome adalah penyakit yang jarang terjadi


dengan insiden 0,7-8 kasus / 100.000 penduduk per tahun dengan
variabilitas geografis dan musiman yang signifikan
Insiden tertinggi dari D+HUS dilaporkan pada anak umur dibawah 6
tahun
Prevalensi D+HUS berkaitan erat dengan kejadian infeksi
Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC) dan reservoir utama
untuk EHEC patogen adalah saluran pencernaan ternak yang sehat

ETIOLOGI
HUS
Tipikal
(D+H
US)
HUS
atipikal
(D-HUS)

90% dari kejadian HUS


75-100% kasus strain E.coli
O157:H7

5-10% dari seluruh kasus HUS


Streptococcus
pneumonia,
Idiopati,
familial,
dan
Transplantasi.

PATOGENESIS
Injuri sel endotel vaskuler merupakan
pathogenesis sentral pada semua bentuk HUS

Injuri sel endotel mengakibatkan membran basalis yang bersifat


trombogenik terpapar sehingga terjadi aktivasi platelet dan trombosis
lokal pada intravaskuler, demikian pula terjadi sintesis dan sekresi faktor
vonWillebrand dalam jumlah yang banyak, sehingga timbul agregasi
platelet.

D+ Hemolytic Uremic Syndrome

D+ Hemolytic Uremic Syndrome

D- Hemolytic Uremic Syndrome (D-HUS)

Patogenesis dari D-HUS dikaitkan dengan infeksi


dari streptococcus pneumoniae yang
mengeluarkan enzim pneumococcal
neurominidase.

DIANGNOSIS

Gambaran klinis

Gejala D+HUS didahului muntah dan diare disertai


nyeri /kram pada abdomen. Demam jarang lebih
dari 38oC.
Timbul 6-10 hari setelah diare dan sering dijumpai
pada anak <5 tahun dan umur >65 tahun.
Anak tampak pucat , ikterik kadang timbul, dapat
disertai kejang dan penurunan kesadaran.
Edema, oligouria, hipertensi dapat dijumpai oleh
karena beratnya proses penyakit.
Hepar dan limpa dapat teraba membesar, pada
kulit dapat dijumpai peteki dan purpura.
Perdarahan kulit berupa hematom dan ekimosis
sering dijumpai ditempat bekas suntikan

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Darah
Hasil pemeriksaan darah rutin pada HUS
Rutin
menunjukkan :
a. Anemia dengan kadar hemoglobin bisa turun
dengan cepat
sampai 3 gr/dl dengan median 7-9 gr/dl dan
nilai hematokrit
24%.
b. Trombositopenia berkisar ringan sampai berat.
Jumlah
platelet bisa turun sampai 5-20x109/L dan
biasanya sekitar 50
x 109/L, namun 50% kasus didapatkan jumlah
platelet >
100x109/L.

c. Leukositosis dapat ditemukan dengan jumlah


> 20x109/L
dan bisa mencapai 30 x 109/L. Pada HUS D+
leukositosis
20x109/L dikaitkan dengan prognosis yang
buruk.
d. Pemeriksaan Retikulosit : ditemukan
retikulositosis
2. Pemeriksaan Darah Tepi
Apusan darah tepi akan memiliki gambaran
fragmentasi
(sel helm atau schistosit), burr sel, dan
polikromatofilia
yang merupakan bukti adanya trauma
mekanik didalam
pembuluh darah.

Gambar 5 :
Gambaran darah tepi (pewarnaan Wright) dari
pasien HUS
Keterangan : Shystocytes(fragmentasi sel darah merah) dan
trombositopenia.

3. Faktor koagulasi (Prothombine time,partial


tromboplastin time, fibrinogen) biasanya normal.
4. Pemeriksaan Direct Coombs test negatif
5. Pemeriksaan Kimia Darah
Laktat Dehidrogenase (LDH) meningkat, Peningkatan
bilirubin
indirek dan penurunan haptoglobulin yang
menunjukkan
terjadinya hemolisis.
Peningkatan Blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin
menunjukkan gangguan fungsi ginjal.

Pemeriksaan elektrolit : terjadi imbalans elektrolit


akibat gangguan fungsi ginjal, hemolisis dan
peningkatan katabolisme jaringan.
6. Hasil urinalisis menunjukkan hematuria
mikroskopik dan
proteinuria.
7. Kultur feses dilakukan pada setiap penderita
dengan diare
berdarah untuk mencari penyebabnya. Kultur untuk
E.coli
O157:H7 ditumbuhkan dalam media agar Mac
Conkey Sorbitol.
E.coli O157:H7 positif pada D+ HUS.

Pemeriksaan Histopatologi

Gambar 6 : Gambaran histopatologi pasien HUS

Keterangan :
a. Pewarnaan HE; Penebalan difus dinding kapiler
glomerulus dan
pembengkakan sel endotel. Penumpukan fibrin dan
trombus serta sel
darah merah.
b. Pewarnaan PAS : menunjukkan penebalan difus dinding
kapiler
glomerulus dan pembengkakan sel endotel.

DIANGNOSIS BANDING
Parameter
Gejala klinis

DIC
Perdaraha
n

Coombs test
Fibrinogen

Sangat
menurun

D-dimer
Faktor
koagulasi
BUN/Kreatini
n
Aktivitas
ADAMTS-13

TTP
Gangguan
neurologis,
demam,gagal
ginjal
Normal

HUS
Gangguan
ginjal
menonjol.
Normal/
Sedikit
menurun
Normal/sediki
t meningkat
Normal

Sangat
Meningkat
Menurun

Normal

Normal

Normal/Meningk
at

Meningkat

Normal

Menurun

Normal

Normal

ALGORIT
MA

Pasien Anemia dan


Trombositopenia
Apusan darah
ADT: Tanda tanda
hemolitik :
Schistosit/fragmented,
polikromasia
LDH meningkat, Haptoglobulin
menurun, Bilirubin
indirect

meningkat

tepi
ADT: tanpa Tanda tanda
hemolitik
Perlu
dipikirkan
kemungkinan diagnosis lain
yang termasuk normositik
normokrom
(mis:
perdarahan,anemia penyakit
kronik,
penyakit
ginjal
kronik)

Coombs test
Positif
Penyakit autoimun
(ITP/evans syndrome,
SLE,dll)

Negatif
Protrombine time memanjang, DDimer meningkat, Fibrinogen
menurun
Positif

Negatif
Kreatinin meningkat, BUN
meningkat, urinalisa
(Proteinurin),

DIC

Positif
HUS/TT
P

Negatif
TTP

ADMTS-13
Normal
HUS
S.pneumoniae, Kompleme
C

D- HUS

Menuru
n

TTP

Kultur Feses (+) E.coli


O157:H7
D+
HUS

KOMPLIKASI
Hemolytic uremic syndrome
memiliki berbagai
komplikasi yaitu anemia,asidosis, hiperkalemia,
kelebihan cairan, gagal jantung, hipertensi, dan
uremia.
Manifestasi ekstrarenal meliputi sistem saraf pusat,
saluran pencernaan, jantung,dan otot rangka
mungkin mengancam nyawa.
Disfungsi sistem saraf pusat meliputi iritabilitas,
kejang, infark dari ganglion basal dan korteks
serebral, kebutaan kortikal, dan koma.
Manifestasi
gastrointestinal
termasuk
kolitis,
perforasi usus, intususepsi. Perikarditis, disfungsi
miokard, dan aritmia dapat dilihat dalam kasuskasus dengan keterlibatan jantung

PENGOBATAN
Diagnosis HUS secara dini dan diikuti dengan terapi
suportif yang cepat dapat menurunkan komplikasi
dan angka mortalitas.
Manajemen terapi pasien dengan Hemolytic uremic
syndrome secara umum adalah suportif meliputi
keseimbangan cairan, transfusi darah dan terapi
pengganti ginjal yang dirancang untuk memperbaiki
kegagalan ginjal dan mengontrol hipertensi (jika
terjadi).
Transfusi sel darah merah diberikan pada anemia
simptomatik. Transfusi platelet jarang diberikan
karena manifestasi perdarahan jarang ditemukan,
dan secara teoritis transfusi platelet akan
berkontribusi pada mikrotrombosis

PENGOBATAN
Peritoneal dialisis atau hemodialisis sebaiknya
dilakukan ketika terjadi ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit tidak bisa diperbaiki dengan terapi
konservatif
atau
ketika
kelebihan
cairan
mengganggu fungsi jantung.
Hipertensi diterapi ( short acting-calcium channel
blocker, angiotensin- converting enzyme inhibitor )
untuk mencegah gagal jantung kongestif dan
ensefalopati.
Pemberian makanan oral.
Dukungan
nutrisi
yang
optimal
seringkali
memerlukan infus intravena.
Plasma exchange direkomendasikan pada sebagian
besar bentuk D-HUS kecuali yang disebabkan oleh
streptococcus pneumonia.