Anda di halaman 1dari 9

PENGAPLIKASIAN BETON PRATEGANG PADA JEMBATAN

BENTANG 25 METER DI PACITAN

DISUSUN OLEH :
ARIE PRAKOSO
ALEX NIAGO

NIM : 125060100111074
NIM : 125060100111081

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TAHUN 2015

PENGAPLIKASIAN BETON PRATEGANG PADA JEMBATAN


BENTANG 25 METER DI PACITAN

Jembatan Gunungsari direncanakan untuk lalulintas sedang, sehingga


direncanakan dengan beban standard Bina Marga 100 % (BM 100) dengan
lebar 6 meter dengan trotoar kanan kiri dengan lebar 50 cm, dengan
bangunan atas dipilih konstruksi beton prategang postensioning dengan
pertimbangan konstruksi tersebut merupakan alternatif yang murah karena
tidak membutuhkan perancah saat pembangunannya dan dapat
dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat. Jembatan beton prategang
yang penerapannya digunakan untuk bangunan atas jembatan ini lebih
efisien dan lebih murah dari bangunan atas jembatan beton bertulang type
balok T.
PENDAHULUAN
Bangunan atas jembatan beton prategang merupakan struktur komposit
antara dua bahan yaitu beton dan baja dengan mutu tinggi. Baja yang
dipakai disebut tendon, yang dikelompokkan dan membentuk kabel dan
sekarang telah dikembangkan banyak sistem dan teknik jembatan beton
prategang. Beton prategang pada saat ini telah banyak dipakai, setelah
melalui banyak penyempurnaan hampir pada setiap elemen struktur atau
sistem bangunan didapatkan penerapan beton prategang seperti bangunan
atas jembatan dan komponen bangunan lainnya. Struktur beton prategang
mempunyai banyak keuntungan antara lain : Terhindarnya retak didaerah
tarik, penampang struktur lebih kecil atau langsing sebab seluruh luas
penampang dipakai secara efektif, beton prategang hampir tidak
memerlukan pemeliharaan, lebih tahan lama karena tidak adanya retakretak, berkurangnya beban mati yang diterima pondasi, dapat mempunyai
bentang yang lebih besar dan tinggi penampang konstruksi berkurang.
Sehingga struktur beton prategang yang penerapannya digunakan untuk
bangunan atas jembatan ini kemungkinan akan lebih efisien dan lebih
murah dari bangunan atas jembatan beton bertulang type balok T.
Perencanaan jembatan secara garis besar dikelompokkan ke dalam 2
bagian utama yaitu perencanaan bangunan atas dan bangunan
bawah. Perhitungan muatan-muatan yang terjadi pada setiap
bagian jembatan dihitung berdasarkan Peraturan Muatan untuk
Jembatan Jalan Raya (PMUJJR tahun 1986) sebagai berikut :
Muatan primer
Muatan sekunder
Muatan khusus
Design bangunan atas dilakukan dengan mendesain plat jembatan dan
balok T-nya. Jembatan Gunungsari direncanakan untuk lalulintas sedang,
sehingga direncanakan dengan beban standard Bina Marga 100 % (BM 100)
dengan lebar 6 meter dengan trotoar kanan kiri dengan lebar 50 cm.
Bangunan atas dipilih konstruksi beton

prategang postensioning dengan pertimbangan konstruksi tersebut


merupakan alternatif yang murah karena tidak membutuhkan perancah
saat pembangunannya dan dapat dilaksanakan delam waktu yang relatif
singkat.
Untuk design bangunan bawah dibedakan penggunaan pondasinya atas
pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dalam yang dipakai adalah
pondasi tiang pancang dimana berdasarkan cara pemindahan beban tiang
pancang dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu:
Point bearing pile
Friction pile
Point bearing dan friction pile
Untuk pondasi sumuran dipakai apabila lapisan tanah keras terdapat pada
kedalaman 3-5 meter maka untuk membuat pondasi langsung pada lapisan
tanah dasar pondasi harus diperbaiki dengan cara pemadatan tanah atau
urugan pasir. Pelaksanaan pondasi sumuran tidak dapat dilakukan jika
pengeringan air tanah dalam sumuran tidak mampu dilaksanakan dengan
pompa air.
Kepala jembatan (abutment) berfungsi sebagai :
Tumpuan bangunan atas
Dinding penahan tanah timbunan
Pile cap
Perencanaan kepala jembatan memperhitungkan gaya-gaya yang bekerja
sebagai berikut:
Beban bangunan atas
Beban hidup akibat beban lalulintas
Berat tanah isian
Tekanan tanah aktif
Gaya gesekan akibat berat bangunan atas pada tumpuan
Gaya rem
Gaya akibat aliran air
Gaya gempa
Perhitungan balok induk dengan mempertimbangkan beban hidup yang
bekerja beserta beban matinya.
PELAKSANAAN BETON PRATEGANG
Jenis mutu beton yang digunakan adalah sebagai berikut :
K 650 Digunakan untuk balok pratekan dengan bentang 20 m dan
35 m
K 600 Digunakan untuk tiang pancang
K 350 Digunakan untuk pelat-pelat pracetak trotoar, pelat cetak cor
setempat, pilar dan abutment
K 225 Digunakan untuk tiang-tiang pagar atau konstruksi-konstruksi
sekunder lainnya yang tidak mendukung beban berat.
Untuk menjaga mutu beton yang dibuat, maka harus ada keterlibatan dari
pihak terkait yang menangani pekerjaan Quality Assurance (QA) dan Quality
Control (QC) di lapangan
Secara umum semua bahan yang dipakai untuk pekerjaan beton harus
memenuhi ketentuan yang tercantum pada bagian 2 bab 3 dari PEDOMAN
BETON 1988 (SKBI-1.4.55.1988). Secara urnum persyaratan mengenai
campuran beton baik mengenai perencanaan campuran dan pengendalian
mutu harus memenuhi ketentuan yang tercantum pada bagian 3 bab 4 dari
PEDOMAN BETON 1988 (SKBM.4.53.1988).

Secara umum, persyaratan mengenai pelaksanaan pembetonan yang


meliputi pengadukan, pengangkutan, penuangan, pengecoran, perawatan,
bekisting, penulangan, siar konstruksi, sparing dan lain-lain harus
memenuhi ketentuan yang tercantum pada bagian 3 bab 5 dan bab 6 dari
PEDOMAN BETON 1988 (SKBI 1.4.53. 1988)
Pekerjaan Beton Pracetak meliputi :
Persyaratan yang berkenaan dengan pada umumnya harus diperhatikan
dalam hal pekerjaan beton pracetak sejauh dapat dilaksanakan.
Yang termasuk dalam pekerjaan beton pracetak ini meliputi dan tidak
terbatas pada seluruh detail yang ditunjukkan pada gambar kerja,
diantaranya :
o Balok pratekan pracetak bentang 20 meter dan 35 meter
o Pelat bagian bawah
o Diafragma
Beton pracetak harus selalu dijaga terhadap pengaruh cuaca.
Sambungan konstruksi diartikan sebagai sambungan pada beton yang
diperlukan untuk kenyamanan dalam konstruksi dimana ukuran-ukuran
khusus diambil untuk mendapatkan sambungan yang menerus tanpa
menimbulkan gerakan. Pekerjaan

pengecoran
tidak
boleh
dimulai
sebelum
metode
penempatan
(pengecoran), kedudukan dan bentuk dari sambungan konstruksi dan
jenjang.
Dilatasi diartikan sebagai semua sambungan yang berfungsi untuk
menerima gerakan diantara struktur yang berdekatan, perhatian khusus
perlu diberikan agar sambungan selalu kedap air.
Pekerjaan penulangan meliputi :
Penulangan termasuk tulangan datar, anyaman yang dilas dan kawat
pengikat untuk beton pra cetak dan beton cor di tempat dan pasangan
batu.
Jika baja diganti, maka hal ini paling sedikiit harus dari luas penampang
yang sama dengan ukuran rencana. Jarak antara batang-batang baja
tidak akan diperlebar.
Pekerjaan Baja Tulangan, meliputi :
Baja tulangan harus merupakan batang baja billet berulir grade U39 dan
polos U24 mengikut persyaratan Sll 0136-84
Penulangan anyaman baja harus mengikuti AASHTO M55, dengan
diameter minimum 1mm.
Baja tulangan yang tidak memenuhi syarat-syarat karena kualitas tidak
sesuai dengan spesifikasi dan peraturan lain harus segera dikeluarkan
dari lokasi
Besi tulangan harus dibengkokkan sesuai BS4466 atau Nl 2-11983.
Pembengkokan harus dikerjakan dalam keadaan dingin dengan mesin
pembengkok. Pembengkokan kembali batang yang salah dibengkokkan
tidak diperbolehkan. Apabila ada bagian-bagian tulangan yang
membutuhkan pengelasan, harus mengajukan rencana bagian pekerjaan
dan metode pengelasan.
Pekerjaan Sistem prategang meliputi penyediaan dan pendayagunaan
semua tenaga kerja, bahan-bahan, instalasi, konstruksi dan perlengkapanperlengkapan untuk pekerjaan pra tegangan balok beton pracetak pratekan
bentang 35 meter dan bentang 20 meter serta yang berhubungan dengan
itu, adalah sistem prategangan;
Sistem prategang yang digunakan adalah Bonded Post Tensioning.
Sistem pelaksanaan adalah sistem Freyssinet atau sistem lain yang
setara. Sistem tersebut harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari
pabrik penghasil prategang. Untuk itu harus pula mengajukan metode
pelaksanaan prategangan.
Pekerjaan Baja Prategang, meliputi :
Post-tensioning tendon yang dipergunakan adalah seven wire stress
relieved strand diameter 12.7 mm Grade 270. Low relaxation. Bahan
harus memenuhi ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam
ASTM A416-80, low relaxtion.
Baja prategang harus bebas dari kerusakan, gemuk, karat atau bahan
lain yang dapat mengurangi lekatan dengan beton.
Baja prategang yang menunjukkan adanya lubang-lubang atau
mempunyai permukaan yang cacat tidak boleh dipergunakan.

Angkur untuk bonded tendon harus mempunyai mutu paling sedikit


sama dengan 90 dari tegangan leleh baja yang akan dipergunakan.
Angkur yang cacat tidak boleh dipergunakan dan harus disingkirkan dari
tempat pekerjaan.
Selubung kabel yang dipergunakan untuk bonded tendon harus cukup kuat
dan fleksibel untuk dapat mengikuti jalannya kabel dan cukup tahan
terhadap:

Pemompaan spesi semen kedalam selubung. Luas penampang dari


selubung tersebut minimal dua kali lebih luas dari baja prategang yang
dipergunakan.
Selubung harus cukup kuat untuk menahan semua gaya yang bekerja
selama pelaksanaan.
Semen grout yang dipakai harus bersih dan terbuat dari campuran
portland cement, air dan grout admixture.
Adukan grouting terdiri dari perbandingan campuran semen 1 zak
(50kg), air bersih 22,5 liter (W/C=0,45) dan grout admixture sebanyak
228 gram setara dengan merek Conbex-100 atau sejenis. Pencampuran
dilakukan dengan electrical mixer.
Grout yang dipompakan dalam selubung harus memiliki konsistensi
clloidal yang seragam dan tekanan yang diberikan tidak boleh lebih dari
7 kg/cm2.
W/C ratio dari grout tidak boleh lebih dari 0,45 (dalam berat)
Additive yang mengandung chloride atau nitrat tidak boleh
dipergunakan. Additive lainnya untuk mereduksi susut dan/atau
meningkatkan workability.

Pengujian Bahan meliputi :


Setiap bahan yang dipergunakan antara lain kabel baja prategang, angkur,
selubung kabel dan tain-lain harus disertai sertifikat dari pabrik pembuat
yang menunjukkan hasil pengujian yang telah dilakukan dan bahwa kualitas
dan sifat-sifatnya tidak menyimpang dari ketentuan dalam ASTM yang
bersangkutan.
Pemasangan Selubung / Duct meliputi :
Selubung dipasang diatas tulangan penyangga yang telah diatur
posisinya sepanjang balok sesuai gambar kerja. Pemasangan selubung
harus dilaksanakan seteliti mungkin untuk menghindari patahanpatahan.
Selubung harus dipasang pada posisi yang tepat sesuai dengan gambar
kerja dengan toleransi ketelitian 3 mm.
Selubung harus terjamin kedudukannya dan tidak boleh berubah posisi
baik terhadap bidang vertical maupun horisontal, pada saat setelah
dilakukan pengecoran.
Pada sambungan antar selubung kabel digunakan coupler (yaitu
selubung kabel dengan diameter lebih besar) dan dilengkapi dengan
pipa perekat (seal tape) untuk menghindari masuknya air atau adukan
beton kedalam selubung kabel.
Pemasangan Kabel Prategang meliputi :
Sebelum pengecoran dilaksanakan, kabel prategang dimasukkan ke dalam
selubung secara manual. Setelah itu kedudukan/posisi selubung harus
diperiksa kembali.
Pemasangan Angkur meliputi :
Angkur harus terletak sentris dan tegak lurus terhadap kabel prategang.
Posisi angkur harus sesuai dgn gambar,dengan toleransi ketelitian 3
mm.
Sambungan antara selubung kabel dengan terompet agkur, (anchorage
guide) menggunakan pita perekat.

Penarikan kabel hanya boleh dilaksanakan setelah beton mencapai


kekuatan 90 % dari mutu beton rencana.
Untuk mengontrol tegangan dan perpanjangan kabel, dilakukan
pencatatan pada setiap kenaikan tegangan 1000-2000 psi dan hasilnya
dibandingkan dengan perhitungan teoritis. Perbedaannya tidak boleh
lebih dari 5%
Jika gaya-gaya yang disyaratkan sudah tercapai dengan baik maka tendon
dapat diangkur. Setelah diangkur dengan baik, maka selanjutnya tegangan
pada jack

diturunkan sedikit demi sedikit secara bertahap sedemikian rupa,


sehingga tidak menimbulkan schok pada angkur maupun tendon.

Pekerjaan Grouting meliputi :


Setelah pemotongan kabel, angkur ditutup dengan adukan semen dan
pasir (patching) untuk mencegah keluamya bahan grout dari sela-sela
strand dan baji. Pekerjaan grouting dapat dimulai 4 jam setelah
patching.
Sebelum digrouting, selubung kabel harus dicuci dengan mengalirkan air
bersih kedalamnya. dan dengan menggunakan kompresor air yang
berkelebihan dikeluarkan hingga kering.
Grouting harus diinjeksi dari satu arah secara terus menerus kedalam
selu-bung kabel dengan menggunakan electrical grouting pump dengan
tekanan maksimum 0.5 N/mm2. Setelah grout keluar pada grout vent
(grout outlet, grout inlet dan outlet ditutup).
Selubung kabel harus terisi penuh dengan grout secara menyeluruh.
Sejak pekerjaan grouting selesai sampai 4 hari kemudian, balok tidak
boleh dibebani.
DATA DAN METODE
Data yang ada meliputi data observasi di lapangan meliputi data untuk:
1. Pembebanan dengan beban primer (beban mati, beban hidup, kejut
dan gaya akibat tekanan tanah) , sekunder (beban angin, gaya akibat
perbedaan suhu, gaya akibat rangka dan susut, gaya rem dan traksi,
gaya-gaya akibat gempa bumi, gaya gesekan pada tumpuantumpuan bergerak.
2. Bentang jembatan
3. Mutu beton yang dipakai yaitu pratekan K 450 dan Balok T K 225
4. Mutu baja beton yang dipakai adalah U 24.
Tahap selanjutnya direncanakan dengan :
Mengumpulkan beban-beban yang ada diatasnya atau merencanakan
bangunan atas baik beban mati, berat sendiri, beban hidup, beban
sementara dan lain-lain untuk perhitungan selanjutnya.
Dari bangunan atas lalu ke bangunan bawah merencanakan: land hoof,
abutment, poer dan dasar pondasi tiang pancang.