Anda di halaman 1dari 14

1

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK


DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAS (STRUKTURAL
ANALITIK SINTETIK) DI TK PELANGI ANAK KECAMATAN
KOTA KUALASIMPANGKABUPATEN ACEH TAMIANG
1.1. Latar Belakang
Dalam mencapai tujuan pembelajaran guru dituntut untuk
menggunakan berbagai cara kreatif. Karena secara umum cara
yang monoton tidak akan memberikan dampak yang baik bagi
kegiatan pembelajaran. Hal ini berarti untuk mencapai hasil
belajar yang maksimal maka sangat diperlukan guru yang kreatif
dalam hal menciptakan media pembelajaran.
Ada dua hal yang harus diperhatikan guru dalam proses
pembelajaran di kelas. Hal pertama adalah bagaimana materi
pembelajaran

yang

menjadi

yang

menjadi

tujuan

proses

pembelajaran tersebut dapat tersampaikan dengan benar dan


tidak salah konsep. Sehingga siswa mendapatkan pengetahuan
dengan tepat terhadap konsep tersebut. Berikutnya adalah
bagaimana materi tersebut dapat tersajikan dengan baik di
kelas, karena sesungguhnya pola penyampaian guru yang tidak
tepat akan membuat anak tidak memiliki motivasi yang baik
terhadap proses pembelajaran tersebut. Sehingga terkadang
meskipun ilmu yang diberikan telah tepat namun anak tidak

mampu memahami pembelajaran dengan baik dikarenakan pola


penyajian pembelajaran tersebut kurang tepat.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) atau usia pra sekolah
adalah masa dimana anak belum memasuki usia pendidikan
formal. Rentang usia dini merupakan merupakan saat yang tepat
dalam

mengembangkan

potensi

dan

kecerdasan

anak.

Pengembangan potensi anak 1


secara terarah pada rentang usia
tersebut akan berdampak pada kehidupan masa depannya,
sebaliknya pengembangan potensi anak yang asal-asalan akan
berakibat pada potensi anak yang jauh dari harapan (Isjoni
2009 : 11).
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu upaya
pembinaan yangditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia
dini menurut Maswins (2010) yaitu:
1. Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang
berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang
sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga
memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki
pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa
dewasa.
2. Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak
mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Pembelajaran di taman kanak-kanak sebagai bagian dari


Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) memiliki peran penting dari
seluruh kegiatan pembelajaran yang akan dialami oleh anak,
karena selain pada saat taman kanak-kanak guru menanamkan
nilai moral, nilai-nilai agama, sosial emosional, konsep diri,
disiplin dan kemandirian serta mengembangkan kemampuan
dasar

fisik, kognitif, bahasa dan seni pada pembelajaran di

taman kanak-kanak kegiatan pembelajaran juga disajikan secara


tematik yaitu menyajikan pembelajaran secara konkrit tanpa
dipilah satu dengan lainnya menjadi bidang-bidang ilmu tertentu.
Implikasi dari pembelajaran tematik antara lain adalah
guru

yang

kreatifitas

akan

menyajikan

dalam

kegiatan

pembelajaran

pembelajaran

harus
terutama

memiliki
dalam

membuat alat peraga dan media pembelajaran. Karena tanpa


alat peraga dan media yang tepat kegiatan pembelajaran yang
diharapkan akan menjadi bias dan hanya bersifat verbalitas.
Secara

khusus

ada

beberapa

tujuan

penggunaan

media

pembelajara di taman kanak-kanak antara lain:


1. Membangkitkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat
konseptual, sehingga mengurangi kesalahpahaman siswa
dalam mempelajarinya.
2. Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran.
3. Memberikan
pengalaman-pengalaman
nyata
merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar.
4. Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan.

yang

5. Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah


didapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan
proses belajar mendalam dan beragam.
6. Menyamakan persepsi anak terhadap konsep yang dipelajari
sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman antara anak
yang satu dengan anak yang lain.
Mengkondisikan anak-anak usia dini dalam pembelajaran
sangatlah sulit karena usia dini identik dengan perilaku bermain.
Walaupun demikian masih ada juga anak-anak yang tidak fokus
pada pelajaran. Misalnya saja, saat pelajaran melipat kertas
untuk membuat objek katak, seorang anak tidak menyimak
instruksi guru ketika memperagakan cara melipat sehingga
ketika mempraktekkannya ia pun kesulitan. Ada beberapa
kemungkinan alasan yang menyebabkan anak menjadi kurang
berkonsentrasi yakni karena tidak berminat, bosan, lelah atau
mungkin gangguan mental.Beberapa hal tersebut diatas sering
menjadi kendala dalam pembelajaran anak usia dini.Dalam
rangka mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran pada
pendidikan

anak

usia

dini

yang

sesuai

dengan

aspek

perkembangan, maka Bredekamp dan copple, 1997 menyatakan


bahwa pelaksanaan program pembelajarannya dapat melayani
anak dari lahir sampai usia delapan tahun yang dirancang untuk
meningkatkan

perkembangan

intelektual,

sosial,

emosional,

bahasa dan fisik anak. Oleh karena itu, dianjurkan memilih dan
menggunakan model-model pembelajaran yang tepat.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka peneliti mencoba
menerapkan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) untuk
digunakan

pada

meningkatkan

pembelajaran

kemampuan

anak

membacadi

usia
TK

dini

dalam

Pelangi

Anak

Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang.


1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan
diatas maka dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu: Apakah
dengan menggunakan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
dapat meningkatkan kemampuan membaca anak di TK Pelangi
Anak Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang?

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan
permasalahan
penelitian adalah:
Tujuan yang diharapkan
meningkatkan

dari

kemampuan

tersebut

penelitian
membaca

ini

maka
adalah
anak

tujuan
untuk
dengan

menggunakan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) di TK


Pelangi Anak Kecamatan Kota KualasimpangKabupaten Aceh
Tamiang.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis

Sebagai

acuan

kemampuan
memajukan

untuk

anak

memahami

melalui

kemampuan

dan

penelitian

menganalisa
dan

mengajar

dapat
dengan

menggunakan metode yang bervariasi


2. Manfaat Praktis:
a. Memudahkan anak memahami apa yang disampaikan.
b. Menciptakan suasana belajar yang aktif dan
menyenangkan.
c. Meningkatkan mutu

TK

Pelangi

Anak

melalui

peningkatan kemampuan anak dan kinerja guru.


1.5. Definisi Istilah
1.5.1.
Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)
1.5.1.1.
Pengertian Metode SAS
Metode SAS (Struktural Analitik Sinetik) merupakan salah satu jenis
metode yang biasa yang digunakan untuk proses pembelajaran menulis membaca
permulaan bagi peserta didik pemula. Metode ini diprogramkan pemerintah RI
mulai tahun 1974. Regu yang dipimpin oleh Dr. A.S. Broto pada waktu telah
menghasilkan metode SAS (Eko, 2011). Lebih luas lagi metode SAS dapat
dipergunakan dalam berbagai bidang pengajaran.
Dalam proses operasionalnya metode SAS menurut Eko (2011)
mempunyai langkah-langkah berlandaskan operasional dengan uraian:

Struktural, menampilkan keseluruhan


Analitik, melakukan proses penguraian
Sinetik melakukan penggabungan kembali kepada Struktural semula.
Prosedur penggunaan metode SAS (Eko, 2011) diantaranya;

1. Mula membaca permulaan dijadikan dua bagian. Bagian pertama membaca


permulaan tanpa buku dan bagian kedua membaca permulaan dengan buku.
2. Merekam bahasa anak melalui pertanyaan-pertanyaan dari pengajar sebagai
kontak permulaan.

3. Menampilkan gambar sambil bercerita. Setiap kali gambar diperlihatkan,


muncullah kalimat anak-anak yang sesuai dengan gambar.
4. Membaca kalimat secara struktural
5. Membaca permulaan dengan buku
6. Membaca lanjutan
7. Membaca dalam hati
1.5.1.2.
Kelebihan dan Kekurangan Metode SAS
a. Kelebihan Metode SAS
1. Metode ini dapat sebagai landasan berpikir analisis
2. Dengan langkah-langkah yang diatur sedemikian rupa membuat anak
mudah mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca pada
kesempatan berikutnya.
3. Berdasarkan landasan linguistik metode ini akan menolong anak
menguasai bacaan dengan lancar.

b. Kekurangan Metode SAS


1. Metode SAS mempunyai kesan bahwa pengajar harus kreatif dan terampil
serta sabar, tuntutan semacam ini dipandang sangat sukar untuk kondisi
pengajar saat ini
2. Banyak sarana yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan metode ini
untuk sekolah-sekolah tertentu dirasa sukar
3. Metode SAS hanya untuk konsumen pembelajar di perkotaan dan tidak di
pedesaaan
4. Oleh karena agak sukar mengajarkannya oleh para pengajar maka metode
SAS kebanyakan di sana-sini metode ini tidak dilaksanakan.

1.5.2.
Belajar Membaca Tingkat Taman Kanak-Kanak
1.5.2.1.
Pengertian Membaca
Menurut Nurbiana Dhieni, membaca merupakan suatu
persatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa

kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkan


dengan bunyi, maknanya serta menarik kesimpulan mengenai
maksud bacaan.
Menurut Yeti Mulyati dalam Dhieni (2011:45), membaca
merupakan kemampuan mengenali, memahami dan memetik
makna atau maksud dari lambang yang tersaji dalam bahasa
tulis.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa membaca
adalah kemampuan berbahasa yang bersifat reseptif dalam
mengenali huruf dan kata melalui berbagai lambang atau simbol
yang tersaji dalam bahasa tulis.

1.5.2.2.

Tahap-tahap perkembangan membaca

Kemampuan membaca pada anak berkembang dalam


beberapa tahap, menurut Cohrane Efal dalam Dhieni (1992:512). Perkembangan membaca anak berlangsung dalam beberapa
tahapan sebagai berikut :
1. Tahap fantasi (Magical Stage). Pada tahap ini anak mulai
belajar menggunakan buku, melihat, dan membalik lembaran
buku, atau membawa buku kesukaannya.
2. Tahap pembentukan konsep diri (Self Consept Stage). Pada
tahap ini anak mulai memandang dirinya sebagai pembaca
dimana terlihat keterlibatan anak dalam kegiatan membaca,
berpura-pura membaca buku, memaknai gambar berdasarkan
pengalaman yang diperoleh sebelumnya, dan menggunakan
bahasa buku yang tidak sesuai dengan tulisannya.
3. Tahap membaca gambar (Bridging Reading Stage). Pada tahap
ini pada diri anak mulai tumbuh kesadaran akan tuilisan dalam

buku dan menemukan kata yang pernah ditemui sebelumnya,


dapat mengungkapkan kata-kata yang bermakna dan
berhubungan dengan dirinya, sudah mengenal tulisan katakata puisi, lagu dan sudah mengenal abjad.
4. Tahap pengenalan bahasa (Take of Reader Stage). Anak mulai
tertarik pada bacaan, dapat mengingat tulisan dalam konteks
tertentu, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan,
serta membaca berbagai macam tanda seperti pada papan
iklan, kotak susu, pasta gigi, dan lain-lain.
5. Tahap membaca lancar (Independent Reader Stage). Pada
tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku.

1.6. Metode Penelitian


1.6.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik TK Pelangi Anak Desa
Bukit Tempurung Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang.
Adapun Peneliti memilih lokasi tersebut sebagai tempat penelitian atas beberapa
pertimbangan, diantaranya yaitu peneliti sendiri sebagai pengajar di TK tersebut.
Hal ini tentunya akan memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan
jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam PTK guru meneliti sendiri terhadap
praktik pembelajaran yang dilaksanakan di kelas, baik dilihat dari interaksi peserta
didik dalam PBM atau hasil pembelajaran secara refleksi. Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) menurut Arikunto (2006:91) adalah suatu pencermatan terhadap
kegiatan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas. Sedangkan
menurut Wardhani dan Wihardit (2009:4) Penelitian Tindakan Kelas adalah
penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi
diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil
belajar peserta didik menjadi meningkat.

10

Menurut Bukhari, dkk (2011:10) Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pengajaran (pembelajaran)
melalui teknik-teknik pengajaran yang tepat sesuai dengan masalah dan tingkat
perkembangan peserta didik.
Manfaat penelitian tindakan kelas menurut Bukhari dkk (2011:11) dapat
dilihat dan dikaji dalam beberapa komponen pendidikan dan atau pembelajaran
dikelas antara lain mencakup:
1. Inovasi pembelajaran
2. Pengembangan kurikulum ditingkat sekolah dan ditingkat kelas
Peningkatan profesionalisme guru.
1.6.2 Data dan Sumber Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi (Kunandar, 2008:274):
1. Hasil tes, yaitu tes awal dan tes akhir
2. Hasil observasi selama kegiatan pembelajaran
3. Hasil wawancara mengenai pemahaman dan kesulitan peserta didik dalam
membaca pemahaman
4. Hasil catatan lapangan
Sumber data yang digunakan peneliti adalah anak TK Pelangi Anak
Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten Aceh Tamiang Tahun Ajaran
2014/2015semester ganjil yang langsung dijadikan subjek penelitian. Kemudian
anak diajak berkomunikasi untuk menyebutkan kegiatan apa yang mereka sukai
saat berada di TK Pelangi Anakhal ini untuk memudahkan bagi peneliti dalam
menerapkan sebuah metode pembelajaran yang dapat menarik minat belajar
membaca.
1.7. Teknik Pengumpulan Data

11

Metode

pengumpulan

observasi,

data

wawancara,

yang

cacatan

digunakan
lapangan

adalah
dan

dokumentasi.
1. Observasi
Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan
terkait. Observasi dalam PTK adalah kegiatan pengumpulan data yang
berupa proses perubahan kinerja PBM (Kunandar, 2008:73). Observasi
ini dilakukan oleh teman sejawat dan guru wali kelas yang mengamati
segala aktivitas siswa dan guru selama kegiatan prosoes belajar mengajar
berlangsung dengan menggunakan pedoman observasi yang telah
disiapkan sebelumnya.
2. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk
tujuan penelitian dengan cara
bertatap

muka

antara

tanya

pewawancara

jawab sambil
dan

yang

diwawancarai dengan alat yang dinamakan panduan


wawancara. Wawancara dilakukan oleh dengan kepala
sekolah, guru dan anak untuk mengetahui respon guru
dan anak tentang kemampuan membaca anak dengan
metode SAS (Struktural Analitik Sintetik).
3. Catatan Lapangan
Cacatan lapangan menurut Bogdan dan Biklen dalam
Moleong (2009:209) adalah catatan tertulis tentang apa
yang didengar, dilihat, dialami, dan difikirkan dalam
rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data
dalam penelitian kualitatif. Catatan lapangan digunakan

12

untuk mencatat temuan selama pembelajaran yang


diperoleh peneliti yang tidak teramati

dalam pedoman

observasi.
4. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data
dengan
dokumen,

menghimpun
baik

dan

dokumen

menganalisis
tertulis,

gambar

dokumenmaupun

elektronik. Dokumentasi tidak sekedar menuliskan atau


melaporkan dalam bentuk

kutipan dalam sejumlah

dokumen, namun yang dilaporkan adalah hasil analisis


terhadap dokumen-dokumen tersebut.
Dokumen dapat digunakan sebagai alat pengumpulan

data karena:
Merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong.
Berguna sebagai bukti untuk pengujian.
Sifat alamiah, sesuai konteks yang sebenarnya.
Tidak bersifat reaktif.

1.8. Teknik Analisis Data


Analisis data adalah upaya yang dilakukan oleh seorang guru yang
berperan sebagai peneliti untuk merangkum secara akurat data yang telah
dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan benar (Mills dalam
Wardhani dan Wihardit, 2009:5.4). Wardhani dan Wihardit (2009:5.9) menyatakan
ada tiga langkah yang dapat dilakukan dalam menganalisis data kualitatif yaitu:
(1) Reduksi data, (2) Penyajian data, (3) Penarikan simpulan atau verifikasi data.
Aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif selama proses pengumpulan data
masih berlangsung.

13

1. Reduksi Data
Reduksi data

merupakan

proses

menyeleksi,

menentukan

fokus,

menyederhanakan, meringkas, dan mengubah bentuk data mentah yang ada


dalam catatan lapangan, misalnya memfokuskan perhatian pada apa yang
dilakukan guru pada permulaan pembelajaran. Bagian utama pembelajaran
dapat direduksi dengan mefokuskan perhatian pada ada tindakan guru yang
berkenaa: upaya memfasilitasi peserta didik dalam memahami isi atau konsep
pelajaran, upaya memotifasi peserta didik atau meningkatkan percaya diri
peserta didik dengan memuji, dan mengolah data.
2. Penyajian Data
Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi
kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan tindakan. Dalam
pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian data yang lebih baik merupakan
suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang benar-benar valid.
3. Penarikan Simpulan (Verifikasi)
Memberikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan yang terjadi
dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara sampai kepada siklus
akhir.

DAFTAR PUSTAKA

14

Bukhari, dkk. (2011). Modul Materi Penelitian Tindakan Kelas


Guru TK. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala.
Drs, H. Isjoni, MSi, PhD. (2009).Model Pembelajaran Anak Usia
Dini.Bandung:Alfabeta.
Kunandar. (2009). Langkahan Penelitian Tindakan Kelas Sebagai
Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Lexy J. Moleong. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi
Revisi. Bandung:Rosdakarya.
Nurbiana

Dhieni,dkk.(2008).

Metode

Pengembangan

Bahasa.Jakarta: Unversitas Terbuka.


Suharsimi

Arikunto.

(2006).

Prosedur

Penelitian

Suatu

Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.


Wardhani

&

Wihardit.

(2009).

Penelitian

Tindakan

Kelas.

Universitas Terbuka.
http://www.maswins.com/2010/02/pentingkah-pendidikan-anakusia-dini.html. (diakses, 25 Desember 2014).
http://ras-eko-blogspot.com. (diakses, 25 Desember 2014).

14

Anda mungkin juga menyukai