Anda di halaman 1dari 14

Sistem Saluran Pernapasan dalam

Kehidupan Manusia
Zeni Ansona
10.2012.192
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Zeni.ansona@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak : Saluran pernapasan melewati bagian tubuh yang selalu bergerak, yaitu leher.
Saluran pernapasan terdiri dari jaringan ikat dan tulang rawan. Agar kita dapat terus hidup,
maka saluran ini harus selalu berada dalam keadaan terbuka. Saluran pernapasan ada yang
mikroskopiknya yaitu Hidung merupakan organ pernapasan yang pertama dilalui udara luar.
Faring merupakan percabangan dua saluran yang merupakan saluran pencernaan. laring
merupakan bagian pangkal dari saluran pernapasan (trakea). Trakea adalah Batang
tenggorokan terletak di daerah leher didepan kerongkongan. Bronkus atau cabang
tenggorokan. Dan terakhir alveolus dimana yang berada di rongga dada diatas diafragma
makroskopik yang terdiri dari epitelnya, sel yang terdapat didalamnya dan tulang yang
membentuknya serta bagian apa saja yang didalam bagian-bagian dari makroskopik dari
saluran pernapasan. Mekanisme pernapasan yang terdiri dari difusi gas yaitu sebagai
peristiwa perpindahan molekul.dan ada transport oksigen Sistem transportasi oksigen terdiri
dari system paru dan sitem kardiovaskular. Dan transport karbondioksida berdifusi ke dalam
sel-sel darah merah dan dengan cepat di hidrasi menjadi asam karbonat(H2CO3) akibat
adanya hidrasi karbonat, serta Kerja Faal Paru Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru
karena ada selisih tekanan yang terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik
otot-otot.
Kata Kunci : Saluran pernapasan, makroskopik dan mikroskopik saluran pernapasan,
Mekanisme Pernapasan, transport oksigen dan karbondioksida, difusi gas, kerja fisiologis
paru.
Abstract: parts of the body through the respiratory tract is constantly on the move, the neck.
Respiratory tract consists of connective tissue and cartilage. So that we can continue to live,
then this line should always be in an open state. There are microscopic respiratory tract is an
organ Nose breathing outside air first passed. The pharynx is a two-channel branching is the
digestive tract. larynx is the base of the respiratory tract (trachea). Trunk throat trachea is
located in the neck area in front of the esophagus. Bronchi or bronchus. And the last is in the
alveoli where the chest cavity above the diaphragm consisting of macroscopic epitelnya, cells
contained therein and forming bone, and part whatever in the parts of the macroscopic from
the respiratory tract. Respiratory mechanism which consists of a gas diffusion is the
movement of events molekul.dan no oxygen transport oxygen transport system consists of the
lungs and the system cardiovascular system. And transport carbon dioxide diffuses into the
red blood cells and rapidly in hydration into carbonic acid (H2CO3) due to hydration
carbonate, and Work Physiology Lung air moving in and out of the lungs because there is no
pressure difference between the atmosphere and the alveoli due mechanical work muscles.
Keywords: Respiratory tract, macroscopic and microscopic respiratory tract, Mechanism of
breathing, oxygen and carbon dioxide transport, gas diffusion, pulmonary physiological
work.

Pendahuluan
Didalam makalah ini terdapat bagaimana sistem saluran pernapasan yang mengatur proses
pernapasan kita untuk bisa hidup dan menghirup udara dengan baik dimana saluran
pernapasan ini dibagi lagi menjadi dua bagian ada yang makroskopiknya yang terdiri dari
Hidung merupakan organ pernapasan yang pertama dilalui udara luar. Faring merupakan
percabangan dua saluran yang merupakan saluran pencernaan. laring merupakan bagian
pangkal dari saluran pernapasan (trakea). Trakea adalah Batang tenggorokan terletak di
daerah leher didepan kerongkongan. Bronkus atau cabang tenggorokan. Dan terakhir alveolus
dimana yang berada di rongga dada diatas diafragma makroskopik yang terdiri dari epitelnya,
sel yang terdapat didalamnya dan tulang yang membentuknya serta bagian apa saja yang
didalam bagian-bagian dari makroskopik dari saluran pernapasan. Dan terdapat juga
mekanisme pernapasan yang terdiri dari transport oksigen dan karbondioksida serta difusi
gasnya, untuk lebih lengkapnya lagi kita harus mengetahui system kerja fisiologi paru dimana
didalam makalh ini sudah dijelaskan prosesnya.
Sesak Napas
Sesak napas adalah Penyakit kanser merebak ke paru-paru, terdapat air didalam selaput paruparu (pleural effusion), sakit ini perlu menjalani prosedur mengeluarkan air melalui selaput
paru-paru untuk mengurangkan sesak napas, masalah kegagalan jantung ataupun terdapat air
didalam selaput jantung, adanya jangkitan kuman di paru-paru, dan darah beku di saluran
paru-paru.1
Saluran Pernapasan
Saluran pernapasan melewati bagian tubuh yang selalu bergerak, yaitu leher. Saluran
pernapasan terdiri dari jaringan ikat dan tulang rawan. Agar kita dapat terus hidup, maka
saluran ini harus selalu berada dalam keadaan terbuka. Jika tidak, maka proses masuknya
udara ke paru-paru dapat terhenti sehingga kita bisa kehabisan napas. Sebenarnya sangat sulit
untuk membiarkan saluran ini tetap terbuka. Hal ini karena saluran pernapasan bersifat elastic
dan harus melewati leher yang selalu bergerak. Akan tetapi, ternyata saluran pernapasan kita
tidak pernah tertutup dan selalu berada dalam kondisi terbuka.
Sistem pernapasan (secara berurutan) terdiri dari:
rongga hidung nasofaring laring trakea bronkus (ekstrapulmonalis dan
intrapulmonalis ) bronkiolus terminalis bronkiolus respiratotius duktus alveolaris
sakus alveolaris alveolus/alveoli.2

Gambar 1 Sistem Saluran Pernapasan


Makroskopik

Nasal (Hidung)
Hidung merupakan organ pernapasan yang pertama dilalui udara luar. Didalam rongga
hidung terdapat rambut dan selaput lendir berguna untuk menyaring udara yang masuk, lendir
berguna untuk melembabkan udara, dan konka untuk mengangatkan udara pernapasan.

Faring
Faring merupakan percabangan dua saluran, yaitu saluran tenggorokan (nasofaring) yang
merupakan saluran pernapasan, dan saluran kerongkongan (oralfaring) yang merupakan
saluran pencernaan.

Laring (pangkal tenggorokkan)


merupakan bagian pangkal dari saluran pernapasan (trakea). Laring tersusun atas tulang
rawan yang berupa lempengan dan membentuk struktur jakun. Diatas laring terdapat katup
(epiglotis) yang akan menutup saat menelan. Katup berfungsi mencegah makanan dan
minuman masuk ke saluran pernapasan. Pada pangkal larink terdapat selaput suara. Selaput
suara akan bergetar jika terhembus udara dari paru-paru

Trakea (tenggorokan)
Batang tenggorokan terletak di daerah leher didepan kerongkongan. Batang tenggorokkan
berbentuk pipa dengan panjang 10 cm. dinding trakea terdiri atas 3 lapisan, lapisan dalam
berupa epithel bersilia dan berlendir. Lapisan tengah tersusun atas cincin tulang rawan dan
berotot polos. lapisan luar tersusun atas jaringan ikat. Cincin tulang rawan berfungsi untuk
mempertahankan bentuk pipa dari batang tenggorokkan, sedangkan selaput lendir yang sel-

selnya berambut getar berfungsi menolak debu dan benda asing yang masuk bersama udara
pernapasan. Akibat tolakan secara paksa tersebut kita akan batuk atau bersin.3

Bronchus (cabang tenggorokkan)


Ujung tenggorokkan bercabang dua disebut bronchus, yaitu bronchus kiri dan bronchus
kanan. Struktur bronchus kanan lebih pendek dibandingkan bronchus sebelah kiri. kedua
bronchus masing-masing masuk kedalam paru-paru. Didalam paru-paru bonchus bercabang
menjadi bronchiolus yang menuju setiap lobus (belahan) paru-paru. bronchus sebelah kanan
bercabang menjadi 3 bronchiolus, sedangkan sebelah kiri bercabang menjadi 2 bronchiolus.
Cabang bronchiolus yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru yang disebut
alveolus. Dinding alveolus mengandung banyak kapiler darah. melalui kapiler darah oksigen
yang berada dalam alveolus berdifusi masuk ke dalam darah.

Pulmo (alveolus)
Paru-paru terletak dalam rongga dada diatas diafraghma. Diafraghma adalah sekat rongga
badan yang membatasi rongga dada dengan rongga perut.Paru-paru terdiri dari dua bagian
yaitu paru-paru sebelah kiri dan paru-paru sebelah kanan. Paru-paru kanan memiliki tiga
gelambir sedangkan paru-paru kiri terdiri atas 2 gelambir. Paru-paru dibungkus oleh 2 buah
selaput yang disebut selaput pleura. Selaput pleura sebelah luar yang berbatasan dengan
dinding bagian dalam rongga dada disebut pleura parietal, sedangkan yang membungkus
paru-paru disebut pleura visceral. Diantara kedua selaput terdapat rongga pleura yang berisi
cairan pleura yang berfungsi untuk mengatasi gesekan pada saat paru-paru mengembang dan
mengempis.
Mikroskopis
Sistem respirasi dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Bagian konduksi: menyalurkan udara (dari cavum hidung sampai bronkiolusterminalis).2.
2. Bagian respirasi: pertukaran gas (bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris,sakus
alveolaris, dan alveolus).
Hidung
Fungsi:

saluran

udara,

menyaring

udara,

penghangat

dan

pelembab

udara,

sertapembau.Hidung merupakan organ berongga yang terdiri dari:


-Tulang
-Tulang rawan
-Otot lurik

-Jaringan ikatKulit bagian luar merupakan sel epitel berlapis gepeng dengan lapisan
tanduk,memiliki rambut rambut halus, dan kelenjar sebasea serta kelenjar keringat.3
Cavum nasi
Cavum nasi dibagi menjadi 2, yaitu:

Vestibulum nasi: sel epitel berlapis gepeng, terdapat vibrissae (rambut yangberfungsi
untuk menyaring udara), terdapat kelenjar sebasea dan kelenjarkeringat.Terdapat konka
nasi superior, medius, dan inferior. Konka nasi inf. dan med.Dilapisi sel epitel bertingkat
torak bersilia bersel goblet yang menghasilkanmukosa. Epitel pada konka nasi inf.
Banyak terdapat pleksus venosus yangdisebut swell bodies yang berperan menghangatkan
udara. Di bawah konkanasi inf. Terdapat pleksus venosus yang berdinding tipis, sehingga

mudahmengalami pendarahan.
Regio respiratorius: daerah di belakang vestibulum nasi, tepatnya di lateralatas dan atap
posterior cavum nasi. Bersel epitel bertingkat torak bersiliabersel goblet. Pada lamina
propia terdapat gld. Nasalis, yang merupakankelenjar campur dan terdapat nodule
limfatisi.3
Lamina propia ini bersatudengan perikondrium (dinding konka nasalis) yang sering
disebutmukoperiosteum

mukoperikondrium

membrane

Schneider.

Terdapat

seratkolagen, elastin, limfosit, sel plasma, dan sel mast.Pada konka nasi sup. terdapat
epitel olfaktorius. Mukosa pada region ini berwarna cokelat kekuningan.
Eiptel olfaktorius terdiri dari:
Sel olfaktorius:

Teletak di antara sel basal dan sel penyokong.


Merupakan neuron bipolar dengan dendrite ke permukaan danakson lamina propia.
Ujung dendrite menggelembung disebut vesikula olfaktorius.
Aksonnya tidak bermielin dan bergabung dengan akson reseptorlain di lamina
propia membentuk N. olfaktorius.

Sel penyokong

Berbentuk sel silindris tinggi dengan bagian apex lebar danbagian basal menyempit.
Inti lonjong.
Pada permukaan terdapat mikrovili.
Sitoplasma mempunyai granula kuning kecokelatan.

Sel basal

Bentuk segitiga
Inti lonjong.

Merupakan sel cadangan yang akan membentuk sel penyokongdan mungkin menjadi sel
olfaktorius.3

Sel sikat

Sel yang mempunyai mikrovili di bagian apical.


Lamina propianya mempunyai banyak vena. Selain itu,mengandung kelenjar terutama
jenis serosa/kelenjar bowmanyang berperan untuk membasahi epitel dan silia, serta
melarutkan bau-bauan.

Sinus paranasalis
Terdiri dari sinus maxilaris, frontalis, sphenoidalis, dan ethmoidalis. Pada sinusparanasalis,
sel epitelnya bertingkat, bersilia dan bersel goblet. Laminapropianya lebih tipis dari cavum
nasi dan melekat pada periosteum di bawahnya.Kelenjar kelenjar yang ada di sini
memproduksi mukosa yang akan dialirkan kecavum nasi oleh gerakan silia silia.
Faring
Merupakan ruang di belakang cavum nasi, yang menghubungkan traktusdigestivus dan traktus
respiratorius. Faring dibagi menjadi 3, yaitu:
Nasofaring

Epitel bertingkat torak bersila bersel goblet.


Lamina propianya terdapat kelenjar campur.
Bagian posteriornya terdapat jaringan limfoid yang membentuk tonsila faringea.
Terdapat saluran penghubung rongga hidung dengan telinga tengah,yang disebut osteum

faringeum tuba auditiva.


Di sekelilingnya banyak kelompok jaringan limfoid yang disebut tonsila tuba.

Orofaring

Epitel berlapis gepeng.


Ada di belakang rongga mulut dan belakang lidah.
Orofaring dilanjutkan ke bagian atas menjadi epitel mulut dan kebawah ke

epitel oesofagus
Di sini terdapat tonsila palatina.

Laringofaring

Epitelnya bervariasi, namun sebagian besar epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
Berada di belakang laring.3

Laring
Berbentuk tidak beraturan. Epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet, kecuali ujung plica
vokalis berlapis gepeng. Dinding laring terdiri dari T.R. hialin danelastin, jaringan ikat, m.
vokalis (otot lurik), dan kelenjar campur. Fungsi laringadalah untuk fonasi dan mencegah benda
asing masuk ke jalan nafas denganadanya reflex batuk.Laring memiliki 2 jenis otot, yaitu
instrinsik dan ekstrinsik. M. intrinsic merupakan otot yang menghubungkan kartilago dengan
daerah sekelilingnya,berperan untuk menelan. M. ekstrinsik merupakan otot yang
menghubungkanT.R. yang satu dengan yang lainnya, berperan untuk fonasi.3
Epiglotis
Terdiri dari T.R. elastin.
Mempunyai 2 permukaan:
Permukaan lingual (menghadap ke lidah):

Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.


Lamina propria dibawahnya langsung melekat pada perikondrium.
Ada kelenjar campur dan jaringan limfoid.

Permukaan laryngeal (menghadap ke laring):

Epitel berlapis gepeng yang tipis dari permukaan lingual menjadiepitel bertingkat torak

bersilia bersel goblet, yang akan melanjutkanke trakea dan bronkus.


Lamina propria di bawahnya mempunyai kelenjar campur (lebihbanyak dari permukaan
lingual).

Di bawah epiglottis terdapat 2 lipatan mukosa yang menonjol ke lumen laring:


Pita suara / plica ventrikularis

Epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet.


Lamina propria tipis, terdiri dari jaringan penyambung jarang.
Terdapat kelnjar campur.
Mempunyai kelompok jaringan limfoid.
Sebagian lamina propria melekat pada perikondrium, T.R. tiroidea.
Di antara 2 plica ventriikularis terdapat daerah yang disebut rimavestibule.

Pita suara sejati / plica vokalis

Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.


Di antara 2 plica vokalis terdapat daerah yang disebut rima vokalis / rima glotidis.
Pada lamina propria terdapat serat serat elastin tersusun sejajar membentuk lig.
Vokalis.3

Sejajar dengan lig. Vokalis terdapat otot skelet yang disebut m.vokalis. Berfungsi untuk
mengatur ketegangan pita suara danligamentum.

Trakea
Rangka berbentuk C terdiri atas T.R. hialin. Cincin T.R. satu dengan yang lain dihubungkan
oleh jaringan penyambung padat fibroelastis dan retikulin disebutlig. Anulare untuk
mencegah agar lumen trakea jangan meregang berlebihan.Sedangkan otot polos yang
berperan untuk mendekatkan kedua T.R. Bagian trakea yang mengandung tulang rawan disebut pars
kartilaginea, sedangkan bagian yang mengandung otot disebut pars membranasea. Bagian
posterior.
Bronkus
Struktur lapisan mukosa bronkus sama dengan trakea, hanya bentuk sferis,epitel bertingkat
torak bersilia bersel goblet.
Bronkiolus
Tidak terdapat tulang rawan. Epitel selapis torak bersilia (bronkiolus besar epitel masih
bertingkat torak), lamina propia tipis, tidak terdapat kelenjar, otot polos relatif banyak, serat
elastin, tidak terdapat noduli limfatisi.
Alveolus
dapat terlihat duktus alveolaris dan sakus alveolaris, terdiri atas sel alveolar fagosit dan sel
endotel kapiler (sel epitel selapis gepeng yang melapisi kapiler).3
Mekanisme Pernafasan
Respirasi mencakup 2 proses, yaitu respirasi dalam dan respirasi luar. Respirasi
dalam(interna) adalah pertukaran oksigen dengan karbondioksida dalam jaringan dan darah.
Respirasi dalam mengacu kepada proses metabolisme intrasel yang berlangsung di dalam
mitokondria. Respirasi luar adalah difusi antara oksigen dan karbondioksida dalam alveoli di
paru-paru dengan darah kapiler pulmonalis. Respirasi eksternal mengacu kepada keseluruhan
rangkaian mekanisme respirasi. 4

Respirasi eksternal meliputi empat langkah, yaitu:


1. Kerja mekanis pernapasan atau ventilasi
2. Proses difusi oksigen dan karbondioksida antara uadar luar alveol dengan darah di
kapiler pulmonalis
3. Transport oksigen dan karbondioksida(sistem peredaran darah)

4.

Pertukaran oksigen dan karbondioksida antara jaringan dan darah melalui proses
difusi.

Terdapat tiga tekanan penting dalam proses ventilasi, yaitu tekanan atmosfir, tekanan
pulmonar, dan tekanan interapleura. Perbedaan tekanan ini yang memungkinkan terjadinya
inspirasi dan ekspirasi. Perbedaan tekanan intra alveol dengan tekanan intera pleura disebut
juga dengan tekanan transmural. Pada proses inspirasi,diafragma bergerak ke bawah
tekanan interapleura menurun tekanan intera alveolar menurun udara masuk hingga
tercapai keseimbangan. Sebaliknya, pada proses ekspirasi diafragma bergerak ke atas
tekanan interapleural meningkat tekanan intera alveolar meningkat udara keluar hingga
tercapai keseimbangan.4
Difusi Gas O2 dan CO2
Secara umum difusi diartikan sebagai peristiwa perpindahan molekul dari suatu daerah yang
konsentrasi molekulnya tinggi ke daerah yang konsentrasinya lebih rendah. Peristiwa difusi
merupakan peristiwa pasif yang tidak memerlukan energy ekstra. Peristiwa difusi yang terjadi
di dalam paru adlah perpindahan molekul oksigen dari rongga alveoli melintas membrana
kapiler alveolar, kemudian melintas plasma darah, selanjutnya menembus dinding sel darah
merah, dan akhirnya masuk ke interior sel darah merah sampai berikatan dengan hemoglobin.
Membran kapiler alveolus sangat tipis, yaitu sepertujuh puluh dari tebal butir darah merah
sehingga molekul oksigentidak mengalami kesuliatan untuk menembusnya. Peristiwa difusi
yang lain didalam paru adalah perpindahan molekul karbondioksida dari darah keudara
alveolus. Oksigen dan karbondioksida menembus dinding alveolus dan kapiler pembuluh
darah dengan cara difusi. Berarti molekul kedua gas tadi bergerak tanpa menggunakan tenaga
aktif.
Urutan-urutan proses difusi terbagi atas:
Difusi pada fase gas
Udara Atmosfer masuk kedalam paru-paru dengan aliran yang cepat, ketika dekat alveoli
kecepatannya berkurang sampai terhenti. Udara atau gas yang baru masuk dengan cepat
berdifusi atau bercampur dengan gas yang telah ada didalam alveoli. 5
Kecepatan gas berdifusi disini berbanding terbalik dengan berat molekulnya. Gas oksigen
mempunyai berat molekul 32 sedangkan berat molekul karbondioksida 44. Gerak molekul
gas oksigen lebih cepat dibandingkan dengan gerak molekul karbondioksida sehingga
kecepatan difusi oksigen juga lebih cepat. Percampuran antara gas yang baru saja masuk
kedalam paru-paru dengan gas yang lebih dahulu masuk akan kmplit dalam hitungan
9

perpuluhan detik. Hal seperti ini terjadi pada alveoli yang normal., seperti pada emfisema,
percampuran gas yang baru masuk dengan gas yang telah berada di alveoli lebih lambat.
Difusi Menembus Membrana Pembatas
Proses difusi yang melewati membrane pembatas alveoli dengan kapiler pembuluh darah
meliputi proses difusi fase gas dan proses difusi fase cairan. Dalam hal ini, pembataspembatasnya adalah dinding alveoli, dinding kapiler pembuluh darah merah (eritrosit).
Kecepatan difusi melewatifase cairan tergantung kepada kelarutan gas kedalam cairan.
Kelarutan karbondioksida lebih besar dibandingkan dengan kelarutan oksigen sehingga
kecepatan difusi karbondioksida di dalam fasde caoran 20 kali lipat kecepatan difusi oksigen.
Semaki tebal membrane pembatas halangan bagi proses difusi semakin besar. 5
Transpor Oksigen dan Karbondioksida
Apabila oksigen telah berdifusi dan alveolus kedalam darah paru,maka oksigen ditrasnpor
dalam bentuk gabungan dengan hemoglobin (HBO 2) kekapiler jaringan dimana oksigen
dilepaskan untuk digunakan disel. Dalam sel, oksigen bereaksi dengan berbagai bahan
makanan

(reaksi

metabolisme)

dan

menghasilkan

karbondioksida.

Karbondioksida

selanjutnya masuk kedalam kapiler jaringan dan di transport kembali ke paru paru.
Selanjutnya dibuang melalui napas. Dengan demikian, pengangkut/transport oksigen
dilakukan oleh hemoglobin (Hb) dimana 1 gr Hb dapat mengangkut 1,4 ml oksigen. Hal ini
terjadi oleh karena hemioglobin mempunyai daya afinitas terhadap oksigen. Daya afinitas Hb
terhadap oksigen ini dapat tinggi atau meningkat dapat pula rendah atau menurun yang
diperngaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi afinitas hemoglobin dan
oksigen tersebut, antara lain :
a.

pH darah
Nilai pH darah menunjukan tingkat keasaman darah dalam tubuh. Nilai normal pH
darah adalah 7,35-7,45. Nilai pH darah ini berkaitan erat dengan keseimbangan asam
basa dalam tubuh. Pada kondisi asidosis (pH darah menurun) afinitas Hb terhadap
oksigen berkurang, sehingga oksigen yang ditrasnport oleh darah berkurang. Pada
kondisi alkalosis (pH darah meningkat) afinitas Hb terhadap oksigen meningkat.

Akibatnya uptake oksigen dalam paru paru meningkat, tetapi pelpasan oksigen
kejaringan-jaringan terganggu sehingga tubuh tetap kekurangan oksigen.
b.

Kadar CO2 darah

10

Kadar karbonddioksida dalam darah erat kaitannya dengan keseimbangan asam basa.
Kondisi keseimbangan tersebut kemudian berhubungan dengan afilitas Hb terhadap
oksigen sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.
c.

Kadar 2,3 difosfogliserat (2,3-DPG)


Kadar 2,3 DPG merupakan zat yang hanya ditemukan didalam sel eritrosit. Kadar 2,3
DPG yang banyak dalam sel eritrosit menyebabkan afinitas Hb terhadap oksigen
menurun. Kondisi ini dapt terjadi pada seseorang yang menderita anemia. Pada
anemia, kadar 2,3-DPG meningkat sehingga oksigen yang di ikat oleh Hemoglobin
menjadi berkurang. Sebaliknya, apabila kadar 2,3-DPG menurun mengakibatkan
afinitas Hb meningkat terhadap oksigen.

d.

Temperatur tubuh
Peningkatan temperature tubuh menyebabkan pelepasan oksigen karena peningkatan
kebutuhan oksigen untuk proses metabolism. Sebaliknya, penurunan temperature
tubuh (hipotermi) menyebabkan gangguan pelepasan oksigen dari Hb. Namun, hal ini
terkompensasi dengan penurunan kebutuhan oksigen pada jaringan yang mengalami
hipotermi serta peningkatan kelarutan oksigen plasma darah. 6

Transpor O2
Sistem transportasi oksigen terdiri dari system paru dan sitem kardiovaskular.
Prosespengantaran ini tergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru (ventilasi),
alirandarah ke paru-paru dan jaringan (perfusi), kecepatan divusi dan kapasitas membawa
oksigen.Kapasitas darah untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang
larut dalamplasma, jumlah hemoglobin dan kecenderungan hemoglobin untuk berikatan
dengan oksigen Jumlah oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya sekitar
3%. Sebagianbesar oksigen ditransportasi oleh hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai
pembawa oksigendan karbon dioksida. Molekul hemoglobin dicampur dengan oksigen untuk
membentuk oksihemoglobin. Pembentukan oksi hemoglobin dengan mudah berbalik
(revesibel), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen
menjadi bebas.Sehinggaoksigen ini bias masuk ke dalam jaringan.7

Transpor CO2
Karbon dioksida berdifusi ke dalam sel-sel darah merah dan dengan cepat di hidrasi menjadi
asam karbonat(H2CO3) akibat adanya anhidrasi karbonat. Asam karbonat kemudianberpisah
11

menjadi ion hydrogen(H+)dan ion bikarbonat (HCO3 -) berdifusi dalam plasma.Selain itu
beberapa karbon dioksida yang ada dalam sel darah merah bereaksi dengan kelompok asam
amino membentuk senyawa karbamino. Reaksi ini dapat bereaksi dengan cepat tanpaadanya
enzim. Hemoglobin yang berkurang (deoksihemoglobin) dapat bersenyawa dengankarbon
dioksida

dengan

lebih

midah

daripada oksi

hemoglobin. Dengan

demikian

darah

venamentrasportasi sebagian besar karbondioksida.7


Kerja Fisiologis Faal
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih tekanan yang terdapat antara
atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Seperti yang telah diketahui, dinding
toraks berfungsi sebagai penembus. Selama inspirasi, volume toraks bertambah besar karena
diafragma

turun

dan

iga

terangkat

akibat

kontraksi

beberapa

otot

yaitu

sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas dan otot seratus, skalenus dan


interkostalis eksternus mengangkat iga-iga Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan
gerakan pasif akibat elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis
eksternus relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke atas ke dalam rongga
toraks, menyebabkan volume toraks berkurang. Pengurangan volume toraks ini
meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal. Selisih tekanan antara
saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik, sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru
sampai udara dan tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir ekspirasi Tahap kedua
dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi membrane alveolus kapiler
yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 m). Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah
selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir
pada permukaan laut besarnya sekitar 149 mmHg. Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai
di alveolus maka tekanan parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekiktar 103 mmHg.
Penurunan tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara inspirasi tercampur
dengan udara dalam ruangan sepi anatomic saluran udara dan dengan uap air. Perbedaan
tekanan karbondioksidaantara darah dan alveolus yang jauh lebih rendah menyebabkan
karbondioksida berdifusi kedalam alveolus. Karbondioksida ini kemudian dikeluarkan ke
atmosfir Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan oksigen di kapiler
darah paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu kontak selama
0,75 detik. 8
Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru-paru normal memiliki cukup cadangan waktu difusi.
Pada beberapa penyakit misal; fibosis paru, udara dapat menebal dan difusi melambat
sehingga ekuilibrium mungkin tidak lengkap, terutama sewaktu berolahraga dimana waktu
12

kontak total berkurang. Jadi, blok difusi dapat mendukung terjadinya hipoksemia, tetapi tidak
diakui sebagai faktor utama.
Sistem Pertahanan Paru
Paru-paru mempunyai pertahanan khusus dalam mengatasi berbagai kemungkinan terjadinya
kontak dengan aerogen dalam mempertahankan tubuh. Sebagaimana mekanisme tubuh pada
umumnya, maka paru-paru mempunyai pertahanan seluler dan humoral. Beberapa
mekanisme pertahanan tubuh yang penting pada paru-paru dibagi atas:
1. Filtrasi udara
Partikel debu yang masuk melalui organ hidung akan :
- Yang berdiameter 5-7 akan tertahan di orofaring.
- Yang berdiameter 0,5-5 akan masuk sampai ke paru-paru
- Yang berdiameter 0,5 dapat masuk sampai ke alveoli, akan tetapi dapat pula di
keluarkan bersama sekresi.
A. Mukosilia
Baik mucus maupun partikel yang terbungkus di dalam mucus akan digerakkan oleh silia
keluar menuju laring. Keberhasilan dalam mengeluarkan mucus ini tergantung pada
kekentalan mucus, luas permukaan bronkus dan aktivitas silia yang mungkin terganggu
oleh iritasi, baik oleh asap rokok, hipoksemia maupun hiperkapnia.
3.

Sekresi Humoral Lokal


zat-zat yang melapisi permukaan bronkus antara lain, terdiri dari :
- Lisozim, dimana dapat melisis bakteri
- Laktoferon, suatu zat yang dapat mengikat ferrum dan bersifat bakteriostatik
- Interferon, protein dengan berat molekul rendah mempunyai kemampuan dalam
membunuh virus.
- Ig A yang dikeluarkan oleh sel plasma berperan dalam mencegah terjadinya infeksi
virus.

4.

Fagositosis
Sel fagositosis yang berperan dalam memfagositkan mikroorganisme dan kemudian
menghancurkannya. Makrofag yang mungkin sebagai derivate monosit berperan
sebagai fagositer. Untuk proses ini diperlukan opsonim dan komplemen.
Faktor yang mempengaruhi pembersihan mikroba di dalam alveoli adalah :
- Gerakan mukosiliar.
- Faktor humoral lokal.
- Reaksi sel.
- Virulensi dari kuman yang masuk.
- Reaksi imunologis yang terjadi.
- Berbagai faktor bahan-bahan kimia yang menurunkan daya tahan paru, seperti
alkohol, stress, udara dingin, kortekosteroid, dan sitostatik. 8

Kesimpulan

13

Saluran Pernapasan sangat penting untuk kehidupan, jika ada yang terganggu dari system
makroskospik dan mikroskopik pernapasan makaakan menyababkan kerusakan dan kita akan
sakit oleh karena itu sangat penting menjaga saluran pernapasan supaya tidak mengganggu
aktivitas kita jika terserang sakit, dan kita juga harus tahu mekanisme saluran pernapasa,
sertamengetahui kerja fisiologis paru supaya kita lebih mudah untuk menjaga saluran
pernapasan kita dengan baik agar tidak terserang penyakit.
Daftar Pustaka
1. Rushdan M. Kanser Wanita Pencegahan dan Rawatan. Jakarta: Utusan Publications dan
Distributors Sdn Bhd; 2008.h.115.
2. Sema G. Sistem Pernapasan. Jakarta: Penerbit Yudhistira; 2007.h.15.
3. Arif M. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta:
Penerbit salemba Medika; 2006.h.22-5.
4. Roger W. Anatomi dan Fisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran;
2002.h.10-1.
5. Darmanto D. Respirologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran; 2009.h.25-7.
6. Asmadi. Teknik Prosedural keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2008.h.20-1.
7. Irman S. Keperawatan Medika Bedah Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta:Penerbit Salemba Medika; 2007.h.185-7.
8. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penebit Buku Kedokteran;
2004.h.266-8.

14