Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nyeri kepala merupakan keluhan yang sering dikeluhkan oleh pasien. Salah satu keluhan
tersebut adalah nyeri kepala sebelah atau yang dikenal sebagai migren. 30-40 % penduduk
USA pernah mengalami nyeri kepala hebat pada masa hidupnya, dimana nyeri tegang otot dan
migren menduduki peringkat nomor satu. Migren merupakan penyakit yang sering terjadi di
masyarakat baik mulai dari anak-anak sampai dewasa, akan tetapi jarang setelah umur 40 tahun.
Diperkirakan 9% dari laki-laki, 16% dari wanita, dan 3-4% dari anak-anak menderita migraine.
Dua perseratus dari kunjungan baru di unit rawat jalan penyakit saraf menderita nyeri kepala
migraine ( Harsono, 2005 ).
Migren merupakan nyeri kepala primer. Nyeri kepala biasanya terasa berdenyut di satu
sisi kepala (unilateral) dengan intensitas sedang sampai berat dan bertambah dengan aktivitas.
Dapat disertai mual dan atau muntah atau fonofobia dan fotofobia Banyaknya dan frekuensi
serangan sangat beraneka-ragam, dari tiap hari sampai satu serangan per minggu atau bulan
( Sadeli, 2006 ).
Meski belum diketahui pasti penyebabnya, migren diperkirakan terjadi akibat adanya
hiperaktivitas impuls listrik otak yang meningkatkan aliran darah di otak dan mengakibatkan
terjadinya pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi (peradangan). Pelebaran dan
inflamasi ini menyebabkan timbulnya nyeri dan gejala lain, seperti mual. Semakin berat
inflamasi yang terjadi, semakin berat pula migrain yang diderita. Faktor genetik umumnya sangat
berperan pada timbulnya migren.
Nyeri kepala ini merupakan penyakit yang sering menyebabkan disabilitas, di lain pihak
sampai saat ini tampaknya belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan migren kecuali
hanya usaha mengendalikan serangan nyeri kepala ini. Diagnosis yang akurat, memberi
penerangan mengenai penyakitnya, berusaha menenangkan pasien serta memberi perhatian dan
mengajak pasien bekerja sama dalam mengenal gejala dini dan gejala migren pada umumnya
serta tindakan penanggulangannya merupakan bagian dari penatalaksanaan migren yang dapat
menurunkan angka morbiditas pasien.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Migren adalah serangan nyeri kepala berulang, dengan karakteristik lokasi unilateral,
berdenyut dan frekuensi, lama serta hebatnya rasa nyeri yang beraneka ragam ( Sadeli, 2006 ).
Definisi migren adalah sebagai berikut, yaitu nyeri kepala yang berulang-ulang dan
berlangsung 2-72 jam dan bebas nyeri antara serangan nyeri kepalanya harus berhubungan
dengan gangguan visual atau gastrointestinal atau keduanya ( Harsono, 2005 ).
Menurut International Headache Society (IHS) migren adalah nyeri kepala vaskular
berulang dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam. Nyeri biasanya sesisi (unilateral),
sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang sampai berat, diperberat oleh aktivitas, dan dapat
disertai dengan mual dan atau muntah, fotofobia, dan fonofobia.
2.2 EPIDEMIOLOGI
Migren dapat terjadi pada anak-anak sampai orang dewasa, biasanya jarang terjadi
setelah berumur lebih dari 50 tahun. Angka kejadian migren dalam kepustakaan berbeda-beda
pada setiap negara, umumnya berkisar antara 5 6 % dari populasi. Di Indonesia belum ada data
secara kongkret. Pada wanita migren lebih banyak ditemukan dibanding pria dengan skala 2:1.
Wanita hamil tidak luput dari serangan migren, pada umumnya serangan muncul pada kehamilan
trimester I.

2.3 Etiologi dan Faktor Pencetus


Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti faktor penyebab migren, di duga sebagai
gangguan neurobiologis, perubahan sensitivitas sistim saraf dan avikasi sistem trigeminalvaskular, sehingga migren termasuk dalam nyeri kepala primer.

Diketahui ada beberapa faktor pencetus timbulnya serangan migren yaitu:


1.

Menstruasi biasa pada hari pertama menstruasi atau sebelumnya/ perubahan hormonal.
Beberapa wanita yang menderita migren merasakan frekuensi serangan akan meningkat
saat masa menstruasi. Bahkan ada diantaranya yang hanya merasakan serangan migren pada saat
menstruasi. Istilah menstrual migraine sering digunakan untuk menyebut migren yang terjadi
pada wanita saat dua hari sebelum menstruasi dan sehari setelahnya. Penurunan kadar estrogen
dalam darah menjadi biang keladi terjadinya migren.

2. Kafein
Caffeine terkandung dalam banyak produk-produk makanan (cola, tea, coklat, kopi) dan
analgesic-analgesic OTC. Caffeine dalam dosis-dosis yang rendah dapat meningkatkan kesiap
siagaan dan energi, namun caffeine dalam dosis-dosis yang tinggi dapat menyebabkan insomnia,
keiritasian, ketakutan (anxiety), dan sakit-sakit kepala. Penggunaan yang berlebihan dari
analgesic-analgesic yang mengandung caffeine menyebabkan kembalinya sakit-sakit kepala.
Lebih jauh, individu-individu yang mengkonsumsi tingkat-tingkat yang tinggi dari caffeine
secara teratur adalah lebih mudah mengembangkan sakit-sakit kepala penarikan (withdrawal
headaches) ketika caffeine dihentikan dengan tiba-tiba.

Puasa dan terlambat makan


Puasa dapat mencetuskan terjadinya migren oleh karena saat puasa terjadi pelepasan
hormon yang berhubungan dengan stress dan penurunan kadar gula darah. Hal ini menyebabkan
penderita migren tidak dianjurkan untuk berpuasa dalam jangka waktu yang lama.

4. Makanan misalnya akohol, coklat, susu, keju dan buah-buahan.


Cokelat dilaporkan sebagai salah satu penyebab terjadinya migren, namun hal ini
dibantah oleh beberapa studi lainnya yang mengatakan tidak ada hubungan antara cokelat dan
sakit kepala migren. Anggur merah dipercaya sebagai pencetus terjadinya migren, namun belum
ada cukup bukti yang mengatakan bahwa anggur putih juga bisa menyebabkan migren.

Tiramin (bahan kimia yang terdapat dalam keju, anggur, bir, sosis, dan acar) dapat
mencetuskan terjadinya migren, tetapi tidak terdapat bukti jika mengkonsumsi tiramin dalam
jumlah kecil akan menurunkan frekuensi serangan migren. Penyedap masakan atau MSG
dilaporkan dapat menyebabkan sakit kepala, kemerahan pada wajah, berkeringat dan berdebar
debar jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar pada saat perut kosong. Fenomena ini biasa
disebut Chinese restaurant syndrome. Aspartam atau pemanis buatan yang banyak dijumpai pada
minuman diet dan makanan ringan, dapat menjadi pencetus migren bila dimakan dalam jumlah
besar dan jangka waktu yang lama.
5. Cahaya kilat atau berkelip.
Cahaya - cahaya terang dan stimuli penglihatan lain yang berintensitas tinggi dapat
menyebabkan sakit-sakit kepala pada orang yang sehat serta pasien - pasien dengan sakit-sakit
kepala migren, namun orang yang menderita migren nampaknya mempunyai ambang batas yang
lebih rendah dari normal untuk nyeri sakit kepala yang diinduksi cahaya. Sinar matahari, televisi,
dan cahaya - cahaya yang berkilat semuanya telah dilaporkan mempercepat sakit-sakit kepala
migren.
6. Psikis baik pada peristiwa duka ataupun pada peristiwa bahagia (stress)
7. Banyak tidur atau kurang tidur
Gangguan mekanisme tidur seperti tidur terlalu lama, kurang tidur, sering terjaga tengah
malam, sangat erat hubungannya dengan migren dan sakit kepala tegang, sehingga perbaikan
dari mekanisme tidur ini akan sangat membantu untuk mengurangi frekuensi timbulnya migren.
Tidur yang baik juga dilaporkan dapat memperpendek durasi serangan migren.
8. Faktor herediter

9. Faktor kepribadian
Pencetus (trigger) migren berasal dari:
1.

Korteks serebri: sebagai respon terhadap emosi atau stress,

2.

Talamus: sebagai respon terhadap stimulasi afferen yang berlebihan: cahaya yang
menyilaukan, suara bising, makanan,

3.

Bau-bau yang tajam,

4.

Hipotalamus sebagai respon terhadap 'jam internal" atau perubahan "lingkungan"


internal (perubahan hormonal),

5.

Sirkulasi karotis interna atau karotis eksterna: sebagai respon terhadap vasodilator,
atau angiografi.

2.4 ANATOMI
Struktur kepala yang sensitif terhadap nyeridalam kranium yaitu :
- Sinus venosus
- Arteri meningea media dan anterior
- Dura pada basal tengkorak
- Trigeminal
-nervus vagus dan glosofaringeal
-arteri carotid interna proksimal dan cabang-cabangdekat sirkulus willisi
-periaqueductalgray matter batang otak nukleussensori dari thalamus. Thalamus bertindak sebagai pusat
sensori yang primitif dimana individu dapat secara samar merasakan nyeri, tekanan , raba, getar , dan suhu
yang ekstrim,tetapi tidak dapat ditentukan tempatnya. Sedangkan parenkim otak sendiri tidak sensitif
terhadap nyeri

2.5 PATOFISIOLOGI
Dulu migren oleh Wolff disangka sebagai kelainan pembuluh darah (teori vaskular).
Sekarang diperkirakan kelainan primer di otak. Sedangkan kelainan di pembuluh darah sekunder.
Ini didasarkan atas tiga percobaan pada binatang :
1. Penekanan aktivitas sel neuron otak yang menjalar dan meluas (spreading depression dari
Leao).
Teori depresi yang meluas Leao (1944), dapat menerangkan tumbuhnya aura pada migren
klasik. Leao pertama melakukan percobaan pada kelinci. Ia menemukan bahwa depresi yang
meluas timbul akibat reaksi terhadap macam rangsangan lokal pada jaringan korteks otak.
Depresi yang meluas ini adalah gelombang yang menjalar akibat penekanan aktivitas sel
neuron otak spontan. Perjalanan dan meluasnya gelombang sama dengan yang terjadi waktu kita
melempar batu ke dalam air. Kecepatan perjalanannya diperkirakan 2-5 mm per menit dan
didahului oleh fase rangsangan sel neuron otak yang berlangsung cepat. Jadi sama dengan
perjalanan aura pada migren klasik.
Percobaan ini ditunjang oleh penemuan Oleson, Larsen dan Lauritzen (1981). dengan
pengukuran aliran darah otak regional pada penderita-penderita migren klasik. Pada waktu
serangan migren klasik, mereka menemukan penurunan aliran darah pada bagian belakang otak
yang meluas ke depan dengan kecepatan yang sama seperti pada depresi yang meluas. Mereka
mengambil kesimpulan bahwa penurunan aliran darah otak regional yang meluas ke depan
adalah akibat dari depresi yang meluas.
Terdapat persamaan antara percobaan binatang oleh Leao dan migren klinikal, akan tetapi
terdapat juga perbedaan yang penting, misalnya tak ada fase vasodilatasi pada pengamatan pada
manusia, dan aliran darah yang berkurang berlangsung terus setelah gejala aura. Meskipun
demikian, eksperimen perubahan aliran darah memberi kesan bahwa manifestasi migren terletak
primer di otak dan kelainan vaskular adalah sekunder.
2. Sistem trigemino-vaskular
Pembuluh darah otak dipersarafi oleh serat-serat saraf yang mengandung. substansi P
(SP), neurokinin-A (NKA) dan calcitonin-gene related peptid (CGRP).
Semua ini berasal dari ganglion nervus trigeminus sesisi SP, NKA. dan CGRP
menimbulkan pelebaran pembuluh darah arteri otak. Selain ltu, rangsangan oleh serotonin
6

(5hydroxytryptamine) pada ujung-ujung saraf perivaskular menyebabkan rasa nyeri dan


pelebaran pembuluh darah sesisi.
Seperti diketahui, waktu serangan migren kadar serotonin dalam plasma meningkat. Dulu
kita mengira bahwa serotoninlah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah pada fase
aura. Pemikiran sekarang mengatakan bahwa serotonin bekerja melalui sistem trigeminovaskular yang menyebabkan rasa nyeri kepala dan pelebaran pembuluh darah. Obat-obat antiserotonin misalnva cyproheptadine (Periactin) dan pizotifen (Sandomigran, Mosegor)
bekerja pada sistem ini untuk mencegah migren.
3. lnti-inti syaraf di batang otak
Inti-inti saraf di batang otak misalnya di rafe dan lokus seruleus mempunyai hubungan
dengan reseptor-reseptor serotonin dan noradrenalin.
Juga dengan pembuluh darah otak yang letaknya lebih tinggi dan sumsum tulang daerah
leher yang letaknya lebih rendah. Rangsangan pada inti-inti ini menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah otak sesisi dan vasodilatasi pembuluh darah di luar otak. Selain itu terdapat
penekanan reseptor-reseptor nyeri yang letaknya lebih rendah di sumsum tulang daerah leher.
Teori ini menerangkan vasokonstriksi pembuluh darah di dalam otak dan vasodilatasi pembuluh
darah di luar otak, misalnya di pelipis yang melebar dan berdenyut.
G. Fase Fase pada Migren
1) Fase Prodromal
Fase ini terdiri dari kumpulan gejala samar / tidak jelas, yang dapat mendahului serangan
migren. Fase ini dapat berlangsung selama beberapa jam, bahkan dapat 1-2 hari sebelum
serangan.
Gejalanya antara lain:

Psikologis : depresi, hiperaktivitas, euforia (rasa gembira yang berlebihan), banyak bicara
(talkativeness), sensitif / iritabel, gelisah, rasa mengantuk atau malas.

Neurologis : sensitif terhadap cahaya dan/atau bunyi (fotofobia & fonofobia), sulit
berkonsentrasi, menguap berlebihan, sensitif terhadap bau (hiperosmia)

Umum : kaku leher, mual, diare atau konstipasi, mengidam atau nafsu makan meningkat,
merasa dingin, haus, merasa lamban, sering buang air kecil.

2) Aura
Umumnya gejala aura dirasakan mendahului serangan migren. Secara visual, aura
dinyatakan dalam bentuk positif atau negatif. Penderita migren dapat mengalami kedua jenis
aura secara bersamaan.Aura positif tampak seperti cahaya berkilauan, seperti suatu bentuk
berpendar yang menutupi tepi lapangan pengelihatan. Fenomena ini disebut juga sebagai
scintillating scotoma (scotoma = defek lapang pandang). Skotoma ini dapat membesar dan
akhirnya menutupi seluruh lapang pandang. Aura positif dapat pula berbentuk seperti garis-garis
zig-zag, atau bintang-bintang.
Aura negatif tampak seperti lubang gelap/hitam atau bintik-bintik hitam yang menutupi
lapangan pengelihatannya. Dapat pula berbentuk seperti tunnel vision; dimana lapang pandang
daerah kedua sisi menjadi gelap atau tertutup, sehingga lapang pandang terfokus hanya pada
bagian tengah (seolah-seolah melihat melalui lorong).
Beberapa gejala neurologis dapat muncul bersamaan dengan timbulnya aura. Gejalagejala ini umumnya: gangguan bicara; kesemutan; rasa baal; rasa lemah pada lengan dan tungkai
bawah; gangguan persepsi penglihatan seperti distorsi terhadap ruang; dan kebingungan
(confusion).
3) Fase Serangan
Tanpa pengobatan, serangan migren umumnya berlangsung antara 4-72 jam. Migren yang
disertai aura disebut sebagai migren klasik. Sedangkan migren tanpa disertai aura merupakan
migren umum (common migraine).
Gejala-gejala yang umum adalah:
a)

Nyeri kepala satu sisi yang terasa seperti berdenyut-denyut atau ditusuk-tusuk. Nyeri
kadang-kadang dapat menyebar sampai terasa di seluruh bagian kepala

b)

Nyeri kepala bertambah berat bila melakukan aktivitas

c)

Mual, kadang disertai muntah

d)

Gejala gangguan pengelihatan dapat terjadi

e)

Wajah dapat terasa seperti baal / kebal, atau semutan

f)

Sangat sensitif terhadap cahaya dan bunyi (fotofobia dan fonofobia)

g)

Wajah umumnya terlihat pucat, dan badan terasa dingin

h)

Terdapat paling tidak 1 gejala aura (pada migren klasik), yang berkembang secara
bertahap selama lebih dari 4 menit. Nyeri kepala dapat terjadi sebelum gejala aura atau
pada saat yang bersamaan.

4) Fase Postdromal
Setelah serangan migren, umumnya terjadi masa prodromal, dimana pasien dapat merasa
kelelahan (exhausted) dan perasaan seperti berkabut.
H. Kriteria Diagnosis
1. Migren tanpa aura
Migren ini tidak jelas penyebabnya (idiopatik), bersifat kronis dengan manifestasi
serangan nyeri kepala 4-72 jam, sangat khas yaitu nyeri kepala unilateral, berdenyut-denyut
dengan intensitas sedang sampai berat dengan disertai mual, fonofobia, dan fotofobia. Nyeri
kepala diperberat dengan adanya aktivitas fisik.
2. Migren dengan aura
Nyeri kepala ini bersifat idiopatik, kronis dengan bentuk serangan dengan gejala
neurologik (aura) yang berasal dari korteks serebri dan batang otak, biasanya berlangsung 5-20
menit dan berlangsung tidak lebih dari 60 menit. Nyeri kepala, mual, atau tanpa fotofobia
biasanya langsung mengikuti gejala aura atau setelah interval bebas serangan tidak sampai 1 jam.
Fase ini biasanya berlangsung 4-72 jam atau sama sekali tidak ada.
Aura dapat berupa gangguan mata homonimus, gejala hemisensorik, hemifaresis,
disfagia, atau gabungan dari gejala diatas.
2.6 GEJALA KLINIK
Migrain biasanya muncul bersama sakit kepala parah dan terjadi berulang hingga membuat
seseorang tidak bisa melakukan aktifitas secara normal, yang berhubungan dengan gejala-gejala
otonom.[5][9] Sekitar 15-30% pasien migrain mengalami migrain dengan aura[10][11] dan para pasien
yang mengalami migrain dengan aura juga seringkali mengalami migrain tanpa aura. [12]
Tingkatan rasa sakit, lama terjadinya sakit kepala, dan frekuensi serangan bervariasi. [5] Migrain

yang berlangsung hingga lebih dari 72 jam disebut status migrainosus.[13] Ada empat fase yang
kemungkinan terjadi sebelum munculnya migrain:[3]
1. Prodromal, terjadi beberapa jam atau beberapa hari sebelum sakit kepala menyerang
2. Aura, yang muncul tepat sebelum serangan sakit kepala
3. Fase rasa sakit, juga disebut fase sakit kepala
4. Postdromal, efek yang dialami setelah serangan migrain berakhir
Fase Prodromal
Prodromal atau gejala yang menjadi pertanda migrain pada ~60% pasien yang dimulai
dua jam atau dua hari sebelum rasa sakit atau gejala aura bermula Gejala-gejala ini bisa muncul
dalam berbagai macam fenomena antara lain: perubahan suasana hati, mudah tersinggung,
depresi atau euforia, lemas, sangat menginginkan makanan tertentu, otot kaku (terutama di
bagian leher), konstipasi/sembelit atau diare, dan semakin sensitif terhadap bau atau suara keras.
Gejala ini bisa muncul pada migrain dengan aura maupun tidak.
Fase Aura

Aura yaitu fenomena neurologi fokus yang muncul sebelum atau selama sakit kepala
Gejala tersebut muncul selama lebih dari beberapa menit dan biasanya berakhir kurang dari
60 menit. Gejala-gejalanya bisa bersifat visual, sensorik atau motorik dan kebanyakan pasien
mengalami lebih dari satu. Efek visual adalah yang paling umum dan terjadi pada lebih dari 99%
kasus dan secara khusus pada lebih dari setengah jumlah kasus yang terjadi. Gangguan
penglihatan seringkali berupa scintillating scotoma (sebuah area peralihan parsial dalam lapang
pandang yang berkelip-kelip.) Gangguan ini biasanya bermula di dekat pusat penglihatan lalu
menyebar ke pinggir berupa garis-garis zigzag yang pernah digambarkan mirip benteng atau
dinding-dinding kastil. Biasanya garis-garis tersebut berwarna hitam putih namun beberapa
10

pasien juga melihat garis-garis berwarna. Beberapa pasien kehilangan sebagian lapang pandang
mereka dan disebut sebagai hemianopsia sementara pasien yang lain mengalami pandangan
kabur. Aura sensorik adalah yang nomor dua paling umum muncul pada 30-40% pasien yang
mengalami aura Sering disertai dengan rasa tertusuk-tusukyang dimulai dari salah satu tangan
dan lengan lalu menyebar ke area hidung-mulut pada sisi yang sama Rasa kebas biasanya
muncul setelah rasa kesemutan berakhir bersamaan dengan hilangnya indera posisi. Gejalagejala lain fase aura antara lain: gangguan bicara atau bahasa, rasa berputar-putar, dan gangguan
motorik yang lebih jarang muncul Gejala motorik menandakan bahwa migrain yang terjadi
merupakan jenis hemiplegik, rasa lemas biasanya berlangsung lebih dari satu jam tidak seperti
aura lainnya Aura jarang terjadi tanpa diikuti sakit kepala, yang dikenal dengan nama migrain
diam.
Fase Rasa Sakit
Sederhananya, sakit kepala ini bersifat unilateral, berdenyut-denyut, dan intensitasnya
ringan hingga parah Biasanya rasa sakitnya terjadi secara bertahap dan semakin parah seiring
dengan bertambahnya aktifitas fisik. Meski demikian, pada lebih dari 40% kasus, sakit kepala
yang terjadi bersifat bilateral, biasanya juga disertai sakit leher Sakit kepala bilateral hanya
umum terjadi pada pasien migrain tanpa aura. Kadangkala, sakitnya terutama terasa di bagian
kepala belakang dan atas. Pada orang dewasa, sakit biasanya berlangsung selama 4 hingga 72
jamsementara pada anak-anak, seringkali berlangsung kurang dari 1 jam. Frekuensi serangan
bervariasi, dari hanya beberapa kali saja seumur hidup hingga beberapa kali seminggu, dengan
rata-rata satu kali sebulan.
Sakit kepala seringkali disertai dengan rasa mual, muntah, sensitif terhadap cahaya,
sensitif terhadap suara, sensitif terhadap bau, lemas dan mudah tersinggung. Pada migrain
basilar, migrain dengan gejala neurologis yang berhubungan dengan batang otak atau dengan
gejala neurologis pada kedua sisi tubuh, dampak yang biasanya terjadi antara lain: suatu sensasi
duani berputar, kepalaterasa ringan, dan kebingungan. Mual terjadi pada hampir 90% pasien, dan
muntah terjadi padasepertiganya. Oleh sebab itulah kebanyakan pasien ingin berada di ruangan
yang gelap dan tenang. Gejala lain yang dapat turut menyertai: pandangan kabur, hidung
tersumbat, diare, sering buang air kecil, pucat, atau berkeringat. Kulit kepala bengkak atau terasa
11

lunak bisa juga terjadi seperti halnya kaku leher. Gejala-gejala umum lebih jarang terjadi pada
pasien lansia.

Posdromal
Efek migrain dapat berlangsung selama beberapa hari setelah sakit kepala inti berakhir;
efek ini dinamakan migrain posdromal. Banyak pasien yang melaporkan rasa nyeri di bagian
yang terserang migrain, beberapa pasien juga melaporkan tidak dapat berpikir dengan normal
selama beberapa hari setelah sakit kepala berakhir. Pasien mungkin mengalami kelelahan atau
"hung over" dan rasa sakit kepala, gangguan kognitif, gejala gastrointestinal, perubahan suasana
hati, dan lemah. Berdasarkan sebuah ikhtisar yang mengatakan, "Sebagian pasien secara ganjil
tiba-tiba merasa segar atau senang bukan main setelah serangan, sementara sebagian yang lain
merasakag depresi dan gelisah."
2.7 DIAGNOSA
Diagnosis migrain dilakukan berdasarkan tanda dan gejala Tes imaging kadang-kadang
dilakukan untuk mengeluarkan penyebab-penyebab sakit kepala lainnya.[5] Diyakini masih
banyak sekali pasien dengan kondisi demikian belum terdiagnosis.[5]
Diagnosis migrain tanpa aura, menuruy International Headache Society, dapat dilakukan
berdasarkan kriteria berikut, yaitu kriteria "5, 4, 3, 2, 1":[

Lima atau lebih serangan untuk migrain dengan aura, dua serangan sudah cukup
digunakan untuk diagnosis.

Berlangsung selama beberapa jam sampai tiga hari

Terjadi dua atau lebih gejala di bawah ini:


o Unilateral (Terjadi pada setengah bagian kepala);
o Berdenyut-denyut;
12

o "Intensitas rasa sakit sedang atau parah";


o "Semakin memburuk atau menyebabkan pasien menghidari aktifitas fisik
biasanya"

Terjadi satu atau lebih gejala berikut ini:


o Mual dan/atau muntah;
o Sensitif terhadap cahaya(fotofobia) dan suara (fonofobia)
Bila seseorang mengalami dua dari gejala berikut: fotofobia, mual, atau tidak dapat

bekerja/belajar selama seharian maka kemungkinan besar terdiagnosis migraine.Pasien yang


mengalami empat dari lima gejala berikut: sakit kepala berdenyut-denyut, terjadi selama 472
jam, rasa sakit di salah satu sisi kepala, mual, atau gejala-gejala yang memengaruhi aktifitas
kehidupan seseorang, maka kemungkinan besar diagnosis migrain adalah 92%. Pasien yang
mengalami kurang dari tiga gejala-gejala ini hanya memiliki kemungkinan sebesar 17%.

2.8

2.9.

DIAGNOSA BANDING
1.

Nyeri kepala tegang (tension headache)

2.

Nyeri kepala Kluster (cluster headache)

3.

Gangguan peredaran darah sepintas ( Transient Ischemic Attack / TIA )

PENATALAKSANAAN MIGREN
Penatalaksaan migrain secara garis besar dibagi atas mengurangi faktor resiko,
terapi farmaka dengan memakai obat dan terapi nonfarmaka.
Terapi farmaka dibagi atas dua kelompok yaitu terapi abortif (terapi akut) dan
terapi preventif (terapi pencegahan), walau pada terapi nonfarmaka juga dapat bertujuan
untuk abortif dan pencegahan.
Terapi abortif merupakan pengobatan pada saat serangan akut yang bertujuan
untuk meredakan serangan nyeri dan disabilitas pada saat itu dan menghentikan
13

progresivitas. Pada terapi preventif atau profilaksis migrain terutama bertujuan untuk
mengurangi frekwensi, durasi dan beratnya nyeri kepala ( Purnomo, 2006 ).
1)

Mengurangi faktor risiko/pencetus

Stres dan kecemasan

Kurang atau telalu banyak tidur, perubahan jadwal seperti jetlag.

Hipoglikemia (terlambat makan)

Kelelahan

Perubahan hormonal seperti haid, obat hormonal

Kadar estrogen yang berfluktuasi dapat dilakukan dengan menghentikan pil KB atau
obat-obat pengganti estrogen

Diet
Menghindari makanan tertentu cukup membantu pada 25-30% penderita migrain.
Secara umum, makanan yang harus dihindari adalah: MSG, beberapa minuman
beralkohol (anggur merah, prot, sherry, scotch, bourbon), keju (Colby, Roquefort,
Brie, Gruyere, cheddar, bleu, mozzarella, Parmesan, Boursault, Romano), coklat,
dan aspartame.

Diet dilakukan selama 1 bulan. Apabila setelah 1 bulan gejala tidak membaik, berarti
modifikasi diet tidak bermanfaat. Apabila makanan menjadi pencetus gejala, maka jenis
makanan tersebut harus diidentifikasi dengan cara menambahkan satu jenis makanan sampai
gejala muncul. Sebaiknya dibuat diari makanan selama mengidentifikasi makanan apa yang
menjadi pencetus migrain, karena beberapa jenis makanan dapat langsung menimbulkan gejala
(anggur merah, MSG), sementara makanan lain baru menimbulkan gejala setelah 1 hari (coklat,
keju) ( Harsono, 2005 ).
2) Terapi Farmaka Migren
Terapi Abortif
Pada terapi abortif dapat diberikan analgesia nonspesifik yaitu analgesia yang dapat
diberikan pada kasus nyeri lain selain nyeri kepala, dan atau analgesia spesifik yang hanya
bekerja sebagai analgesia nyeri kepala. Secara umum dapat dikatakan bahwa terapi memakai
analgesia nonspesifik masih dapat menolong pada migrain dengan intensitas nyeri ringan sampai
14

sedang. Pada kasus sedang sampai berat atau berespons buruk dengan OAINS pemberian
analgesia spesifik lebih bermanfaat.
Domperidon atau metoklopramid sebagai antiemetik dapat diberikan saat serangan nyeri
kepala atau bahkan lebih awal yaitu pada saat fase prodromal. Fase prodromal migrain
dihubungkan dengan gangguan pada hipotalamus melalui neurotransmiter dopamin dan
serotonin. Pemberian antiemetik akan membantu penyerapan lambung di samping meredakan
gejala penyerta seperti mual dan muntah. Kemungkinan timbulnya efek samping antiemetik
seperti sedasi dan parkinsonism pada orang tua patut diperhatikan.
Analgesik nonspesifik
Yang termasuk analgesia nonspesifik adalah asetaminofen (parasetamol), aspirin dan obat
anti inflamasi nonsteroid (OAINS). Pada umumnya pemberian analgesia opioid dihindari.
Beberapa obat OAINS yang telah diteliti diberikan pada migrain antara lain adalah:
-

Diklofenak.

Ketorolak.

Ketoprofen.

Indometasin.
-

Ibuprofen.

Naproksen.

Golongan fenamat.

Ketorolak IM membantu pasien dengan mual atau muntah yang berat. Kombinasi antara
asetaminofen dengan aspirin atau OAINS serta penambahan kafein dikatakan dapat menambah
efek analgetik, dan dengan dosis masing-masing obat yang lebih rendah diharapkan akan
mengurangi efek samping obat. Mekanisme kerja OAINS pada umumnya terutama menghambat
enzim siklooksigenase sehingga sintesa prostaglandin dihambat ( Sadeli, 2006 ).
Pasien diminta meminum obatnya begitu serangan migrain terasa. Dosis obat harus
adekuat baik secara obat tunggal atau kombinasi. Apabila satu OAINS tidak efektif dapat dicoba
OAINS yang lain. Efek samping pemberian OAINS perlu dipahami untuk menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan. Pada wanita hamil hindari pemberian OAINS setelah minggu ke 32
kehamilan. Pada migrain anak dapat diberikan asetaminofen atau ibuprofen.
Analgesik spesifik
15

Yang termasuk analgesik spesifik yang sering digunakan adalah ergotamin,


dihidroergotamin (DHE) dan golongan triptan yang merupakan agonis selektif reseptor serotonin
pada 5-HT1, terutama mengaktivasi reseptor 5HT I B / 1 D. Di samping itu ergotamin dan DHE
juga berikatan dengan reseptor 5-HT2, 1dan 2- nonadrenergik dan dopamine ( Sadeli, 2006 ).
Analgesik spesifik dapat diberikan pada migrain dengan nyeri sedang sampai berat.
Pertimbangan harga kadang menjadi penghambat dipakainya analgesia spesifik ini, walaupun
golongan ini merupakan pilihan sebagai antimigren.
Ergot lebih murah dibanding golongan triptan tetapi efek sampingnya lebih besar.
Penyebab lain yang menjadi penghambat adalah preparat ini di Indonesia hanya tersedia dalam
bentuk oral dan dari golongan triptan hanya ada sumatriptan.
Ergotamin dan DHE diberikan pada migrain sedang sampai berat apabila analgesia
nonspesifik kurang terlihat hasilnya atau memberi efek samping. Dosis dan cara pemberian
ergotamin dan DHE harus diperhatikan.
Kombinasi ergotamin dengan kafein bertujuan untuk menambah absorpsi ergotamin
selain sebagai analgesik pula. Hindari pada kehamilan, hipertensi tidak terkendali, penyakit
serebrovaskuler, kardiovaskuler dan penyakit pembuluh perifer (hati-hati pada pasien > 40
tahun) serta gagal ginjal, gagal hati dan sepsis.
Efek samping yang mungkin timbul antara lain mual, dizziness, parestesia, kramp
abdominal. Ergotamin biasanya diberikan pada episode serangan tunggal. Dosis dibatasi tidak
melebihi 10 mg/minggu ( Sadeli, 2006 ).
Sumatriptan dapat meredakan nyeri, mual, fotofobia dan fonofobia sehingga
memperbaiki disabilitas pasien. Diberikan pada migrain berat atau pasien yang tidak
memberikan respon dengan analgesia nonspesifik dengan atau tanpa kombinasi. Dosis awal
sumatriptan adalah 50 mg dengan dosis maksimal dalam 24 jam 200 mg. Kontra indikasi antara
lain adalah pasien, yang berisiko penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler, hipertensi
yang tidak terkontrol, migrain tipe basiler. Efek samping berupa dizziness, heaviness,
mengantuk, nyeri dada non kardial, disforia.
Golongan triptan generasi kedua (zolmitriptan, eletriptan, naratriptan, rizatriptan) yang
tidak ada di Indonesia sebenarnya mempunyai respons yang lebih baik, rekurensi nyeri kepala
yang lebih rendah dan lebih dapat ditoleransi.

16

Tabel 1 Analgesik Triptan pada Migren


Nama Obat
Sumatriptan
Rizatriptan
Eletriptan
Zolmitriptan
Eletriptan
Sumatriptan
Sumatriptan
Rizatriptan
Zolmitriptan
Sumatriptan
Naratriptan
Eletriptan

Dosis
6 mg
10 mg
80 mg
5 mg
40 mg
20 mg
100 mg
2,5 mg
2,5 mg
50 mg
2,5 mg
20 mg

Pemberian
SC
Oral
Oral
Oral
Oral
Intranasal
Oral
Oral
Oral
Oral
Oral
Oral

Terapi Profilaksis
Terapi preventif harus selalu diminum tanpa melihat adanya serangan atau tidak.
Pengobatan dapat diberikan dalam jangka waktu episodik, jangka pendek (subakut) atau jangka
panjang (kronis). Terapi episodik diberikan apabila faktor pencetus nyeri kepala dikenal dengan
baik sehingga dapat diberikan analgesia sebelumnya. Terapi preventif jangka pendek berguna
apabila pasien akan terkena faktor risiko yang telah dikenal dalam jangka waktu tertentu seperti
pada migrain menstrual. Terapi preventif kronis akan diberikan dalam beberapa bulan bahkan
tahun tergantung respons pasien. Biasanya diambil patokan minimal dua sampai tiga bulan.
Indikasi
-

Penyakit kambuh beberapa kali dalam sebulan

Penyakit berlangsung terus menerus selama beberapa minggu atau bulan


17

Penyakit sangat mengganggu kuafitas/gaya hidup penderita.

Adanya kontra indikasi atau efek samping yang tidak dapat ditoleransi terhadap terapi
abortif.

Kecenderungan pemakaian obat yang berlebih pada terapi abortif.

Terapi profilaksis lini pertama: calcium channel blocker (verapamil), antidepresan trisiklik
(nortriptyline), dan beta blocker (propanolol)
Terapi profilaksis lini kedua: methysergide, asam valproat, asetazolamid.
Mekanisme kerja obat-obat tersebut tidak seluruhnya dimengerti. Diduga obat tersebut
menghambat pelepasan neuropeptida ke dalam pembuluh darah dural melalui efek antagonis
pada reseptor 5-HT2. Satu jenis obat profilaksis tidak lebih efektif daripada obat yang lain. oleh
karena itu, bila tidak ada kontraindikasi, verapamil lebih sering digunakan pada awal terapi
karena efek sampingnya paling minimal dibandingkan yang lain.
Apabila dizziness tidak dapat dikontrol dengan satu obat, gunakan jenis obat yang lain.
Bila dizziness sudah terkontrol, obat diberikan terus menerus selama minimal 1 tahun (kecuali
methysergide yang memerlukan interval bebas obat selama 3-4 minggu pada bulan ke-6 terapi).
Obat dapat diberikan ulang pada tahun berikutnya apabila dizziness muncul lagi setelah terapi
dihentikan.
30.

Evaluasi dianostik
Evaluasi diagnostik terdiri dari riwayat rinci,pengkajian fisik pada kepala dan

leher,pengkajian neurologik yang mencakup menguji saraf-saraf kranial,evaluasi ukuran dan


reaksi pupil, pemeriksaan funduskopik terhadap mata, dan menguji fungsi motorik dan sensorik.
Riwayat kesehatan berfokus pada pengkajian terhadap sakit kepala itu sendiri, dengan
penekanan terutama dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mencetuskan atau mendukung
terjadinya sakit kepala. Pasien dianjurkan untuk menggambarkan sakit kepala mereka dengan
kata-kata sendiri. Riwayat dapat diperoleh sesuai dengan prosedur berikut:
Riwayat umum. Karena sakit kepala sering menjadi gejala yang menunjukkan berbagai
macam gangguan baik fisiologik maupun psikologik, riwayat kesehatan umum adalah komponen
penting dari dasar data pasien. Pertanyaan tinjauan umum harus mencakup penyakit medis dan
bedah utama serta tinjauan sistem tubuh. Sakit kepala dapat menjadi gejala endokrin,
18

hematologik, gastroinstenstinal, infeksi, ginjal, kardiovaskular, psikiatrik, atau penyakit


hemologik.
Tinjauan medikasi lengkap sangat pening. Riwayat medikasi dapat memberikan wawasan
pada status kesehatan keseluruhan. Antihipertensi seperti hidralazin, diuretik, obat-obatan
antiinflamasi dan inhibitor monoamin okidase adalah kategori golongan bat-obatan yang dapat
menimbulkan sakit kepala. Meskipun kadang-kadang berlebihan dalam kepentingannya, faktor
emosional dapat memainkan peran dalam timbulnya atau berkembangnya sakit kepala. Stres
dianggap sebagai faktor yang mengawali timbulnya peyakit migren; oleh karena itu relevan bila
dihubungkan dengan pola tidur, tingkat stres, perhatian terhadap rekreasi, nafsu makan masalah
emosional dan stresor keluarga.
Riwayat keluarga Terdapat kecenderungan keluarga yang kuat untuk gangguan sakit
kepala. Riwayat keluarga positif sangat mengarahkan diagnosis sakit kepala migren.
Riwayat pekerjaan. Hubungan langsung mungkin ada diantara pemajanan zat toksik dan
sakit kepala. Pertanyaan yang cermat diperlukan untuk mengidentifikasikan daftar kimiawi
komprehensif dimana pekerja terpajam. Dalam hukumi Right to know ( hak untuk menetahui),
pekerja-pekerja harus mempunyai kenyakinan terhadap keamanan zat-zat dan dalam lembar data
semua zat-zat dan dalam lebar data semua zat-zat kontak dengan pekerja di tempat pekerja
tertulis sebagai material yang aman. Demikian pula, riwayat pekerjaan termasuk pengkajian yang
mencakup tempat pekerja, yang mungkin enjadi sumber stess.
Riwayat sakit kepala. Gamnbaran lengkap sakit kepala itu sendiri sangat penting. Usia
pasien saat awitan sakit kepala, lokasi, frekuensinya, durasi, tipe, nyeri, faktor-faktor yang
mengurangi dan kejadian yang mempercepat timbulnya sakit kepala dan hubungannya dengan
gejala adalah penting.
Uji diagnostik. Untuk pasien yang menunjukkan abnormalitas pada pemeriksaan
neurologik. Computed tomography (CT) atau pencitraan resonans magnetik (MRI) dapat
digunakan untuk mendeteksi penyebab dasar seperti tumor atau aneurisma. Uji diagnostik lain
dapat diindikasikan untuk pasien dengan nyeri sakit kepala yang menetap atau yang
menyebabkan kecacatan.

19

2.11.

PENCEGAHAN MIGREN
Terapi Farmaka Pencegahan Migren
Nama Obat
Propranolol
Nadolol
Metoprolol
Timolol
Atenolol
Amitriptilin
Nortriptilin
Fluoksetin
Mirtazapin
Valproat
Topiramat
Gabapentin
Verapamil
Flunarizin
Nimodipin

3)

Dosis
40-240 mg/hari
20-160 mg/ hari
50-100 mg/ hari
20-60 mg/ hari
50-100 mg/ hari
10-200 mg/ hari
10-150 mg/ hari
10-80 mg/ hari
15-45 mg/ hari
500-1500 mg/ hari
50-200 mg/ hari
900-3600 mg/ hari
80-640 mg/hari
5-1 0 mg/hari
30-60 mg qid

Terapi Nonfarmaka
Walaupun terapi farmaka merupakan terapi utama migren, terapi nonfarmaka tidak bisa
dilupakan. Pada kehamilan terapi nonfarmaka bahkan diutamakan. Terapi nonfarmaka dimulai
dengan edukasi dan menenangkan pasien (reassurance). Pada saat serangan pasien dianjurkan
untuk menghindari stimulasi sensoris berlebihan. Bila memungkinkan beristirahat di tempat
gelap dan tenang dengan dikompres dingin. Menghindari faktor pencetus mungkin merupakan
terapi pencegahan yang murah.
Intervensi terapi perilaku (behaviour) sangat berperan dalam mengatasi nyeri kepala yang
meliputi terapi cognitive-behaviour, terapi relaksasi serta terapi biofeedback dengan memakai
alat elektromiografi atau memakai suhu kulit atau pulsasi arteri temporalis. Olahraga terarah
yang teratur dan meningkat secara bertahap umumnya sangat membantu. Beberapa penulis

20

mengusulkan terapi alternatif lain seperti meditasi, hipnosis, akupunktur dan fitofarmaka.
Pada migrain menstrual dapat dianjurkan mengurangi garam dan retensi cairan.
2.12. KOMPLIKASI
a)

Status Migren
Serangan migren dengan nyeri kepala lebih dari 72 jam walaupun telah diobati
sebagaimana mestinya. Telah diupayakan memberi obat yang berlebihan namaun
demikian nyeri kepala tidak kunjung berhenti. Contoh pemberian obat yang berlebihan
misalnya minum ergotamin setiap hari lebih dari 30 mg tiap bulan, aspirin lebih dari 45
gr, morfin lebih dari 2 kali per bulan, dan telah mengkonsumsi lebih dari 300 mg
diazepam atau sejenisnya setiap bulannya.

b)

Infark Migren
Penderita termasuk dalam kriteria migren dengan aura. Serangan yang terjadi sama tetapi
defisit neurologik tetap ada setelah 3 minggu dan pemeriksaan CT scan menunjukkan
hipodensitas yang nyata. Sementara itu penyebab lain terjadinya infark dapat
disingkirkan dengan pemeriksaan angiografi, pemeriksaan jantung dan darah.

2.13.

PROGNOSIS
Migren dengan awal kejadian sebelum umur 7 tahun umumnya lebih banyak
terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan pada beberapa orang dengan
migren dapat berlanjut pada umur 7-15 tahun. 20 % akan menjadi bebas migren pada
umur 25 tahun dan 50% akan menjadi migren berlanjut sampai umur 50 dan 60 tahun.

21

BAB III
KESIMPULAN
Migren merupakan nyeri kepala primer dengan serangan nyeri kepala berulang, dengan
karakteristik lokasi unilateral, berdenyut dan frekuensi, lama serta hebatnya rasa nyeri yang
beraneka ragam dan diperberat dengan aktifitas.
Klasifikasi migrain menurut International Headache Society (HIS):
- Migrain tanpa aura (common migraine)
- Migrain dengan aura (classic migraine)
- Migraine with prolonged aura
- Basilar migraine (menggantikan basilar artery migraine)
- Migraine aura without headache (menggantikan migraine equivalent atau achepalic migraine)
- Benign paroxysmal vertigo of childhood
- Migrainous infraction (menggantikan complicated migraine)
- Migren hemiplegic familial
- Migren oftalmoplegik
- Migren retinal
- Migren yang berhubungan dengan gangguan intracranial
Penatalaksaan migrain secara garis besar dibagi atas:
a. Mengurangi faktor resiko,
b. Terapi farmaka dengan memakai obat.
c. Terapi nonfarmaka.
Terapi farmaka dibagi atas dua kelompok yaitu terapi abortif (terapi akut) dan terapi
preventif (terapi pencegahan). Walaupun terapi farmaka merupakan terapi utama migren, terapi
nonfarmaka tidak bisa dilupakan. Bahkan pada kehamilan terapi nonfarmaka diutamakan.

22

DAFTAR PUSTAKA
Sadeli H. A. 2006. Penatalaksanaan Terkini Nyeri Kepala Migrain. Dalam Kumpulan Makalah
Pertemuan Ilmiah Nasional II Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Airlangga
University Press. Surabaya.
Harsono. 2005. Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. Gajahmada University Press. Yogyakarta.
Dahlem M., Podoll K. 2007.
Migraine Headache. http://www.migraine-aura.com/content/e27892/index_en.html
Purnomo H. 2006. Migrainous Vertigo. Dalam Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional II
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Airlangga University Press. Surabaya.
Benson AG, Robbins W. 2006. Migraine Associated Vertigo.
http.www.emedicine.com/ent/topic727.htm
Zuraini, Yuneldi anwar, Hasan Sjahrir. 2005. Karakteristik Nyeri Kepala Migren dan Tension Type
Headeche Di Kotamadya Medan, Neurona, Vol 22 No. 2
Wibowo S., Gofir A. 2001. Farmakologi dalam Neurologi. Salemba Medika. Jakarta.
Aminoff, MJ et al. 2005. Lange medical book : Clinical Neurology, Sixth Edition, Mcgraw-Hill.
Dawn C. Buse, PhD, Marcia F. T. Rupnow, PhD, and Richard B. Lipton, MD. 2009. Assesing And
Managing All Aspect of Migraine.
URL : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2676125
Dewanto George, dkk. 2007. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. EGC. Jakarta.
Harsono. 2005. Buku Ajar Neurologi Klinis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Harsono. 2007. Kapita Selekta Neurologi Edisi Kedua. Gadjah Mada University. Yogyakarta.
Mardjono Mahar dan Sidharta Priguna. 2004. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat:Jakarta.
Maria Piane, et al. 2007. Genetics of Migraine and pharmacogenomics: some consideration.
URL: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2779399
Peter J. Goadsby, M.D., D.Sc.et al. 2002. Migraine - Current Understanding and Treatment.
URL : http://content.nejm.org/cgi/content/short/346/4/257
Sidharta Priguna. 2004. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Dian Rakyat:Jakarta.

23