Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN CRANIOTOMY

Pemeriksaan Diagnostik
1. Tomografi komputer (pemindaian
8.CT)
Fungsi lumbal, CSS
2. Pencitraan resonans magnetik (MRI)
9. Gas Darah Artery
3. Electroencephalogram (EEG)
(GDA)
4. Angiografy Serebral
10. Kimia/elektrolit darah
5. Sinar-X
11. Pemeriksaan
6. Brain Auditory Evoked Respon (BAER)
toksikologi
7. Positron Emission Tomography (PET)
12. Kadar antikonvulsan
darah

Indikasi tindakan kraniotomi


1. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor
maupun kanker.
2. Mengurangi tekanan intrakranial.
3. Mengevakuasi bekuan darah .
4. Mengontrol bekuan darah, dan
5. Pembenahan organ-organ intrakranial.
6. Tumor otak
7. Perdarahan (hemorrage)
8. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral
aneurysms)

Komplikasi Pascabedah
1. Peningkatan tekanan intrakranial
2. Perdarahan dan syok
hipovolemik
3. Ketidakseimbangan cairan dan
elekrolit
4. Infeksi

craniotom

Penatalaksanaan Medis Pascaoperasi


1. Jalur arteri dan jalur tekanan vena sentral (CVP)
dapat dipasang
2. pasien diintubasi dan mendapat terapi oksigen
tambahan
3. Mengurangi edema serebral
4. Meredakan nyeri dan mencegah kejang

9. Peradangan dalam otak


10. Trauma pada tengkorak.

Penatalaksanaan Medis Praoperasi


1. dengan medikasi antikonvulsan (fenitoin) untuk
mengurangi resiko kejang pascaoperasi
2. steroid (deksametason) dapat diberikan untuk
mengurangai edema serebral
3. Cairan dapat dibatasi. Agens hiperosmotik
(manitol) dan diuretik (furosemid) dapat diberikan
secara intravena segera sebelum dan kadang
selama pembedahan.
4. Kateter urinarius menetap di pasang sebelum
pasien dibawa ke ruang operasi
5. dapat diberikan antibiotik bila serebral sempat
terkontaminasi atau deazepam pada praoperasi
untuk menghilangkan ansietas
6. Kulit kepala di cukur segera sebelum pembedahan

Web of caution / pathway craniotomy

Pemeriksaan
penunjang

Indikasi craniotomy

Pre operasi
Dx kep : 1.
cemas
2. nyeri

CRANIOTOM
Y

Intra operasi
Dx kep: 1. Syok hivopolemik
berhubungan
dengan resiko perdarahan

Luka insisi
operasi

Post operasi
Dx kep: 1. resiko infeksi
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri
akut
3. Gangguan pola napas
4.Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan kerusakan
jaringan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST OPERASI


CRANIOTOMY

Pengkajian
Diagnosa Keperawatan
Gangguan
perfusi jaringan perifer
a) Primery(NIC)
survey
1. Gangguan perfusi jaringan perifer
Intervensi
: (ABCDE) meliputi :
1.
Airway.
Tanda-tanda
objektif2. tertentu
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan invasi
1. Tentukan
faktor-faktor
yang berhubungan
dengan keadaan
sumbatan
Airway
:
Look
(lihat),
Listen
MO
atau yang menyebabkan koma/penurunana perfusi jaringan otak
Feel (raba) TIK.
3. Gangguan rasa nyaman Nyeri
dan(dengar),
potensial peningkatan
2.
Breathing.
objektif4. Syok hivopolemik berhubungan dengan resiko perdarahan
2. Pantau/catat
statusTanda-tanda
neurologis secara
teratur dan bandingkan
ventilasi
yang
tidak
adekuat
:
Look
5. Gangguan pola
napas
Gangguan
pola napas
dengan nilai standar (misalnya skala koma Glascow).
(lihat),
Listen
(dengar),
Gunakan
6.
Gangguan
integritas
kulit
berhubungan
dengan kerusakan
Intervensi (NIC)
:
3. Evaluasi kemampuan membuka mata, seperti spontan (sadar
pulse
oxymeter
1. Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernafasan.
penuh)
membuka
hanya jika diberi rangsangan nyeri, atau tetap
3.
Circulation
Catat napas sesuai indikasi.
tertutup
(koma). dengan kontrol
perdarahan
Catat kompetensi
refleks gangguan
menelan dan
4. Kaji respon verbal ; catat apakah pasien sadar, orientasi terhadap
Resiko tinggi2.
terhadap
infeksi berhubungan
dengan
4.
Disability.
kemampuan
pasien
untuk
melindungi
jalan napas
orang, tempat dan waktu baik atau malah bingung; menggunakan
invasi MO
a. GCSfrase
setelah
resusitasi
Pasang jalan napas sesuai indikasi.
kata-kata/
yang
tidak sesuai.
Intervensi (NIC) sendiri.
:
b.
Bentuk
ukuran
dan
reflek
cahaya
pupil
3. Angkat
kepala tempat
sesuai aturannya, posisi
5. Kaji respon motorik terhadap perintah yang sederhana,1.
gerakan
Berikan
perawatan
aseptiktidur
dan antiseptik,
c.
Nilai
kuat
motorik
kiri
dan
kanan
miring
sesuai
indikasi.
yang bertujuan (patuh terhadap perintah, berusaha untuk pertahankan teknik cuci tangan yang baik.
apakah ada
paresenyeri
atau yang
tidak diberikan) dan gerakan yang
4. Anjurkan
pasien
untuk
menghilangkan
rangsang
2.
Observasi
daerah
kulit
yangmelakuakan
mengalaminapas dalam
5.
Expossure
dengan
menghindari
yang
efektif
jika
pasien daerah
sadar. yang
tidak bertujuan (kelainan postur tubuh). Catat gerakan anggota
kerusakan (seperti
luka,
garis
jahitan),
hipotermia
5. Lakukan
perhisapan
dengan
ekstra hati-hati, jangan
tubuh dan catat sisi kiri dan kanan secara terpisah.
terpasang alat
invasi (terpasang
infus
dan sebagainya),
Secondary
survey
lebih
dari
10-15
detik.
Catat
6.b)
Pantau
TD ; catat
adanya hipertensi sistolik secara menerus
dan
catat karakteristik dari drainase dan adanyakarakter,
inflamasi.warna dan
1.
Kepala
dan
leher
kekeruhan
darisecara
sekret.teratur. Catat adanya
tekanan nadi yang semakin berat.
3.
Pantau
suhu tubuh
2.
Dada
dan
paru
6. Auskultasi
suaradan
napas,
perhatikan
daerah
7. Frekuensi jantung; catat adanya bradikardi, takikardia, atau
bentukmenggigil,
demam,
diaforesis
perubahan
fungsi
mental
hipoventilasi
dan
adanya
suara-suara
tambahan
disritmia lainnya.
(penurunan kesadaran).
yang
tidak normal
adanya suara
8. Pantau pernafasan meliputi pola dan iramanya, seperti 4.
adanya
Batasi
pengunjung
yang(seperti
dapat menularkan
infeksi
tambahan
yang
tidak
normal
seperti
krekels,
ronki
periode apnea setelah hiperventilasi yang disebut pernafasan
atau cegah pengunjung yang mengalami infeksi saluran
dan
mengi).
Cheyne Sroke.
napas bagian atas
7. Pantau penggunaan obat-obat depresan pernapasn,
9. Kaji perubahan pada penglihatan, seperti adanya penglihatan
seperti sedatif.
yang kabur, ganda, lapang pandang menyempit dan kedalaman
persepsi.
Kolaborasi
10. Catat ada/tidaknya refleks-refleks tertentu seperti menelan,
1. Pantau atau gambarkan analisan gas darah,
batuk dan babinskidan sebagainya.
tekanan oksimetri.
11. Pantau suhudan atur lingkungan sesuai indikasi. Batasi
2. Lakukan rotgen toraks ulang.
penggunaan selimut, berikan kompres hangat saat demam timbul.
3. Berikan oksigen.
Tutup ekstremitas dengan selimut jika menggunakan selimut
4. Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi.
hipotermia (selimut dingin).

Syok hivopolemik berhubungan dengan resiko


perdarahan
Intervensi (NIC) :
1. Auskultasi nadi apical. Awasi kecepatan jantung
atau irama bila EKG kontinue ada.
2. Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat,
pengisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah.
3. Catat keluaran urin dan berat jenis.
4. Catat laporan nyeri abdomen khususnya tiba-tiba,
nyeri hebat menyebar ke bahu.
5. Observasi kulit untuk pucat, kemerahan. Pijat
dengan minyak, ubah posisi dengan sering..
6. Beri oksigen tambahan sesuai indikasi.
7. Awasi GDA atau nadi oksimetri.
8. Berikan cairan IV sesuai indikasi.

Gangguan rasa nyaman Nyeri


Intervensi (NIC) :
1.
Kaji intensitas, gambaran dan
lokasi/penyebaran nyeri, atau adanya perubahan
sensasi.
2.
Kaji kembali manifestasi yang
timbul/perubahan dalam intensitas nyeri.
3.
Izinkan pasien untuk mendapatkan
posis yang nyaman jika diperlukan. Gunakan rogroll
selama melakukan perubahan posisi.
4.
Demonstrasikan penggunaan
keterampilan relaksasi, seperti bernapas dalam atau
visualisasi.
5.
Berikan diet makanan lunak,
pelembab ruangan, anjurkan untuk tdak berbicara
setelah dilakukan bedah.
6.
Teliti keluhan pasien mengenai
munculnya kembali nyeri.
7.
Kolaborasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Gangguan integritas kulit berhubungan


dengan kerusakan jaringan
Intervensi (NIC) :
Inspeksi seluruh area kulit, catat pengisian kapiler,
adanya kemerahan, pembengkakan.
Lakukan massase dan lubrikasi pada kulit dengan
losion/minyak
Hindari pakaian ketat
Bersihkan dan bedaki permukaan kulit beberapa kali
per hari
Pisahkan permukaan kulit dengan kapas halus
Gunakan penghilang tekanan atau matras atau
tempat tidur penurun tekanan sesuai kebutuhan.
Beri salep seperti seng oksida
Hindari menggunakan tissue basah yang dijual
bebas yang mengandung alkohol.
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, Vol. 3.EGC : Jakarta.
2. Doenges, Marilyn E., Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler. 1999.Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.
3. Poppy Kumala dkk. 1996. Kamus Kedokteran Dorland. Copy editor, edisi Bahasa Indonesia; Dyah Nuswantari. Ed.25.
EGC: Jakarta
4. http://en.wikipedia.org/wiki/Craniotomy

5.
6.
7.
8.
9.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/criteria.html
health.discovery.com/diseasesandcond/encyclopedia/3223.html
www.healthopedia.com/craniotomy
http://www.dhs.vic.gov.au/copyright.htm
http://www.cinn.org/treattech/
10. http://www.neuro-onkologi.com/?page=home

Deskripsi craniotomy
Ada dua metode yang umum digunakan oleh ahli bedah membuka tengkorak. Entah irisan dibuat pada tengkuk di sekitar tulang pada
oksipital (tulang belakang) atau dibuat sayatan melengkung di depan telinga yang lengkungan di atas mata. sayatan tersebut menembus
sampai ke selaput tipis yang menutupi tulang tengkorak. . Selama ahli bedah irisan kulit harus menutup pembuluh darah kecil banyak
karena kulit kepala memiliki persediaan darah kaya.
Jaringan kulit kepala kemudian dilipat kembali untuk mengekspos tulang. Menggunakan bor kecepatan tinggi, bor ahli bedah pola
lubang melalui kranium (tengkorak) dan menggunakan kawat halus melihat untuk menghubungkan segmen lubang sampai tulang (flap
tulang) dapat dihapus. Hal ini memberikan akses ahli bedah ke bagian dalam keterampilan dan memungkinkan dia untuk melanjutkan

dengan operasi di dalam otak. Setelah pengangkatan lesi otak internal atau prosedur lainnya selesai, tulang digantikan dan dijamin ke dalam
posisinya dengan kawat lunak. Membran, otot, dan kulit yang dijahit ke posisinya. Jika lesi merupakan aneurisma, arteri yang terkena
disegel di kebocoran. Jika ada tumor, sebanyak yang mungkin adalah resected (dihapus). Untuk malformasi arteri, kelainan ini dipotong dan
memperbaiki pengalihan aliran darah ke pembuluh normal.

Gambar Craniotomy