Anda di halaman 1dari 3

WAKAF

Wakaf merupakan pranata keagamaan dalam islam yang memiliki hubungan langsung
secara fungsional dengan upaya pemecahan masalah-masalah sosial dan kemanusiaan, seperti
pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat. Wakaf dapat menjadi sumber
pendanaan umat untuk umat, karena disamping keuangan-keuangan islam lainnya, seperti
zakat apabila dikelola secara produktif dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
Meskipun harta wakaf mempunyai peran nyata dalam memnuhi kebutuhan
masyarakat, peran ini terlalu kecil dari yang seharusnya diberikan, hal ini terjadi karena
sempitnya cakupan saluran wakaf yang ada. Dari segi kuantitas, potensi wakaf itu cukup
besar apalagi dilihat dari potensi kaum muslimin. Namun, penyalurannya hampir hanya
terbatas pada pendirian dan pemeliharaan masjid. Jadi, wakaf masih menyimpan berbagai
persoalan, yaitu:
1. Minimnya jumlah harta wakaf yang dikelola secara produktif dibandingkan dengan
besarnya potensi wakaf yang ada. Untuk itu, perlu mensosialisasikan dan mendorong
masyarakat terutama nazhir wakaf untuk mengembangkan pengelolaan wakaf secara
produktif.
2. Banyaknya harta benda wakaf yang rusak khususnya bangunan dan lahan pertanian.
Ini mengakibatkan harta benda tersebut tidak mendatangkan manfaat apapun. Banyak
bangunan wakaf yang didirikan ratusan tahun silam menggunakan konstruksi lama
yang sudah mulai rapuh. Mengenai harta benda wakaf yang rusak, solusinya bisa
mengenai penggantian (istibdal). Jika bangunan yang sudah rusak, maka penggantian
dilakukan dengan cara meruntuhkan dan membangunnya kembali, atau menukarkan
dengan wakaf yang baru dalam bentuk alih fungsi wakaf. Bangunan baru tersebut bisa
lebih mendatangkan manfaat kepada umat daripada membiarkannya terlantar.
3. Perampasan harta benda oleh pihak ketiga teruma ahli-ahli waris waqif. Hal ini bisa
terjadi karena tidak adanya bukti autentik tentang wakaf atau hilangnya dokumendokumen harta benda wakaf oleh nazhir.
4. Penyaluran hasil pengelolaan harta benda wakaf hanya terbatas pada jenis tertentu.
Yaitu masjid, madrasah, panti asuhan dan pekuburan. Sedikit sekali yang disalurkan
kepada kegiatan ekonomi produktif. Dengan demikian, aneka ragam kebaikan yang
bisa menjadi sasaran distribusi hasil pengelolaan wakaf menjadi terbatas.
5. Minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya wakaf uang. Hal ini terjadi karena
kurangnya materi-materi ceramah pada dai tentang wakaf uang. Solusi terhadap
persoalan ini dapat dilakukan diantaranya dengan memasukkan fikih wakaf
kontomporer dalam kurikulum sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan.
6. Lambannya pertumbuhan wakaf baru akibat faktor-faktor diatas, mengakibatkan
sedikit sekali kaum muslimin yang mewakafkan harta mereka.

A. Pengertian dan Dasar Hukum Wakaf


Dalam sejarah islam, wakaf dimulai bersamaan dengan dimulainya masa kenabian
Muhammad Saw. di Madinah yang ditandai dengan pembangunan Masjid Quba. Ini
dipandang sebagai wakaf pertama dalam islam. Kemudian, dilanjutkan dengan pembangunan
Masjid Nabawi di atas tanah anak yatim piatu yang dibeli Rasulullah Saw. dan
diwakafkannya. Selanjutnya, Usman bin Affan juga membeli sumur dan mewakafkannya
untuk kepentingan kaum muslimin.
Dalam merumuskan definisi wakaf, di kalangan ulama fikih terjadi perbedaan
pendapat. Perbedaan rumusan dari definisi wakaf ini berimplikasi terhadap status harta wakaf
dan akibat hukum yang dimunculkan dari wakaf tersebut. Secara bahasa, waqf dalam bahasa
arab diartikan al-habs menahan dan al-maun menghalangi

B. Syarat Sah Wakaf


Untuk kriteria kesah-an wakaf, terjadi perdebatan dikalangan ulama. Hal itu terjadi
karena berbeda dalam menetapkan apa yang dimaksud dengan rukun akad. Rukun wakaf
menurut ulama hanafiyah adalah sighat, yaitu lafaz. Rukun wakaf menurut ulama ada 4, yaitu
waqif, mauquf, mauquf alaih dah sighat.
1. Waqif (orang yang berwakaf)
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang waqif, diantaranya:
a) Berakal
Tidak sahnya wakaf yang dilakukan oleh orang gila, idiot, pikun dan pingsan. Karena
dia kehilangan akal atau tidak berakal.
b) Baligh
Orang yang berwakaf haruslah orang dewasa atau cukup umur (sekitar umur 9 sampai
15 tahun). Oleh karena itu, tidak sah wakaf yang dilakukan oleh anak-anak yang
belum baligh, karena dia belum mumayiz.
c) Cerdas
Orang yang berwakaf haruslah cerdas, memiliki kemampuan, dan kecakapan melalui
tindakan.
d) Atas kemauan sendiri
Maksudnya, wakaf dilakukan atas kemauan sendiri, bukan karena tekanan dan
paksaan dari pihak lain
e) Merdeka dan pemilik harta wakaf
Tidak sah wakaf yang dilakukan oleh seorang budak karena dia pada dasarnya tidak
memiliki harta. Begitu pula, tidak sah mewakafkan harta orang lain dan harta yang
dicuri. Oleh karena itu, waqif adalah pemilik penuh dari harta yang diwakafkan.

2. Mauquf (benda yang diwakafkan)

a) Benda wakaf adalah sesuatu yang dianggap harta dan merupakan mal mutaqawwim,
benda tidak bergerak. Oleh karena itu, tidak sah mewakafkan sesuatu yang
merupakan manfaat, seperti hak-hak yang bersifat kebendaan.
b) Benda wakaf itu diketahui dengan jelas keberadaan, batasan dan tempatnya.
c) Benda wakaf merupakan milik sempurna dari waqif
d) Harta wakaf itu harta yang dapat diserahterimakan
e) Benda yang diwakafkan adalah benda yang tidak bergerak.

3. Mauquf Alaih (sasaran atau tujuan wakaf)


Secara umum, syarat-syarat mauquf alaih adalah:
a) Pihak yang diberi wakaf adalah pihak yang berorientasi pada kebaikan dan tidak
bertujuan untuk maksiat.
b) Sasaran tersebut diarahkan pada aktivitas kebaikan yang kontinu. Maksudnya, pihak
penerima wakaf tidak terputus dalam pengelolaan harta wakaf.
c) Peruntukan wakaf tidak dikembalikan pada waqif. Dalam arti, waqif tidak
mewakafkan hartanya untuk dirinya. Pihak penerima wakaf adalah orang yang berhak
untuk memiliki.

4. Sighat waqf (ikrar wakaf)


Syarat-syarat lafal wakaf adalah:
a) Pernyataan wakaf bersifat tabid (untuk selama-lamanya)
b) Pernyataan wakaf bersifat tanjiz. Artinya, lafal wakaf itu jelas menunjukkan
terjadinya wakaf dan memunculkan akibat hukum wakaf.
c) Pernyataan wakaf bersifat jazim (tegas) ataupun ilzam.
d) Pernyataan wakaf tidak diiringi dengan syarat yang batal, yakni syarat yang
meniadakan makna wakaf atau bertentangan dengan tabiat waqif, misalnya saya
wakafkan tanah ini dengan syarat tanah ini tetap milik saya, maka wakaf itu batal.
e) Menyebutkan mauquf alaih secara jelas dalam pernyataan wakaf.
f) Pernyataan wakaf dinyatakan dengan lafazh sharih (jelas), seperti wakaf atau dengan
lafazh kinayah (sindiran) seperti sadaqah (yang diniatkan wakaf)