Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

Defisit cairan perioperatif timbul sebagai akibat puasa pra-bedah yang


kadang-kadang dapat memanjang, kehilangan cairan yang sering menyertai
penyakit primernya, perdarahan, manipulasi bedah, dan lamanya pembedahan
yang mengakibatkan terjadinya sequestrasi atau translokasi cairan. Pada periode
pasca bedah kadang-kadang perdarahan dan atau kehilangan cairan (dehidrasi)
masih berlangsung yang memerlukan perhatian khusus.
Puasa pra-bedah selama 12 jam atau lebih dapat menimbulkan defisit
cairan (air dan elektrolit) sebanyak 1 liter pada pasien orang dewasa. Gejala dari
defisit cairan ini belum dapat dideskripsikan, tetapi termasuk di dalamnya adalah
rasa haus, perasaan mengantuk, dan pusing kepala. Gejala dehidrasi ringan ini
dapat memberikan kontribusi terhadap memanjangnya waktu perawatan di rumah
sakit yang terlihat dari penelitian 17638 pasien dengan hasil bahwa rasa kantuk
dan pusing kepala pasca bedah merupakan faktor prediktor yang berdiri sendiri
terhadap bertambah lamanya waktu perawatan pasca bedah.
Tujuan utama terapi cairan perioperatif adalah untuk mengganti defisit pra
bedah, selama pembedahan dan pasca bedah dimana saluran pencernaan belum
berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian.
Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda
hipovolemik dan hipoperfusi atau tanda-tanda kelebihan cairan berupa edema paru
dan gagal nafas.
Sampai saat ini terapi cairan dan elektrolit perioperatif dan post operatif
masih merupakan topik yang menarik untuk dibicarakan karena dalam prakteknya
banyak hal yang sulit ditentukan atau diukur secara objektif.