Anda di halaman 1dari 8

PROGRAM STUDI PROFESI

APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS

No :
Dok 02/PKPA/14
Tanggal
: 26-09-2014
Mengganti No : Tanggal
: 4-02-2010

RESUME
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
IDENTITAS PRIBADI
Nama
No. BP
Angkatan

09

Rahmad Deni
1441012034
III/2014

A. TEMPAT DAN JADWAL PKPA


1. Apotek
Viva Generik Sawah Besar
23 Desember 2014 24
Januari 2015
2. Rumah Sakit
RSUD Dr. Soetomo
27 Januari 10 April 2015
3. Industri/Pemerintah Labiomed
20 April 21 Mei 2015
an
B. RESUME PKPA
1

APOTEK
Deskripsikan pengalaman anda berpraktek di apotek. Uraikan
bagaimana proses pekerjaan kefarmasian terutama pelayanan
kefarmasian dilakukan di apotek mulai dari skrining resep, peracikan
(compounding), penyerahan obat (dispensing) dan konseling obat
kepada pasien. Dari proses tersebut, tunjukkan dimana peran
apoteker. Jelaskan juga apa yang saudara lakukan sebagai seorang
mahasiswa praktek pada saat praktek di apotek tersebut. (minimal
500 kata).
Apotek tempat saya PKPA merupakan Apotek jaringan yang baru didirikan
tahun 2012 dan sudah tersebar luas di kota Semarang, Surabaya, Yogyakarta,
dan Bali. Apoteker di Viva Generik terdiri dari seorang Apoteker Pengelola
Apotek (APA) dan Minimal satu orang Apoteker Pendamping dan dibantu oleh
tiga orang Asisten Apoteker. Apoteker di Viva Generik Akan Standby
melakukan pelayanan kefarmasian selama apotek tersebur buka setiap
harinya sesuai shift masing-masing.
Ketika seorang pasien datang ke apotek membawa resep, resep akan di
terima oleh Asisten Apoteker untuk dilakukan pengecekan stok dan kalkulasi
harga. Ketika pasien telah menyetujui harga yang disebutkan, maka Apoteker
akan melakukan skrining terhadap resep tersebut. Setelah resep tersebut lolos
skrining, Asisten apoteker akan mengambilkan obat sesuai resep
(compounding) dan membuatkan etiketnya. Obat akan diserahkan kepada
pasien (dispensing) oleh Apoteker atau Asistem Apoteker dengan memberikan
Informasi penggunaan obat, kecuali pasien dengan kondisi khusus atau
penyakit degeneratif akan diberikan konseling langsung oleh apoteker.

Apoteker di Viva Generik memilikiki ruangan tersendiri. Di ruangan tersebut


apoteker melakukan konseling dan pengecekan GALAU (gula darah, kolesterol,
asam urat, tekanan darah). Tujuan pengecekan GALAU adalah untuk
melakukan pengecekan secara berkala terhadap pasien degeneratif seperti
penderita Diabetes Melitus, Hipertensi, Asam Urat, Hiperkolesterol. Pasien
akan diberikan Kartu kontrol dimana akan dicatat setiap pengecekan GALAU
yang dilakukan. Data ini akan berguna bagi dokter untuk menetapkan
diagnosanya dan bagi apoteker untuk pemberian konseling terhadap pasien
yang bersangkutan.
Apoteker memiliki buku medical record pasien, terutama pasien dengan
kondisi khusus atau pasien ayng memiliki penyakit degeneratif.
Perkembangan penyakit pasien akan selalu di pantau oleh apoteker. Biasanya
apoteker akan melakukan follow up dengan menelpon si pasien untuk
menanyakan mengenai perkembangan penyakitnya dan kepatuhan
penggunaan obat atau apoteker melakukan follow up dengan datang langsung
kerumah pasien untuk pasien dengan kondisi khusus.
Apoteker Viva generik juga secara rutin melakukan pengabdian masyarakat.
Dibantu oleh Asisten Apoteker, biasanya satu kali sebulan Apoteker
melakukan pengabdian masyarakat seperti pengecekan GALAU gratis kepada
masyarakat usia lanjut, atau pemberian informasi mengenai pengobatan
dengan mendatangi kelompok-kelompok masyarakat tertentu seperti ibu PKK.
Tentunya pengabdian masyarakat ini sering berkolaborasi dengan instansi lain
seperti puskesmas dan lembaga masyarakat lain.
Apoteker di Viva Generik diberikan suntikan ilmu baru secara berkelanjutan
dengan adanya training-training yang harus diikuti oleh apoteker viva generik
dengan pembicara apoteker dari amerika serikat. Sekali dua minggu di apotek
dilakukan diskusi bersama antara Asisten apoteker, Apoteker, dan Dokter
mengenai suatu tema penyakit yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan agar
semua komponen yang ada di apotek memiliki upgrade ilmu secara
berkelanjutan dan penyamaan persepsi.
Sebagai seorang mahasiswa PKPA di sana, jadwal kegiatan saya sudah sisusun
oleh pihak Viva Generik. Pada minggu pertama kami di dikenalkan tentang
viva generik, bagaimana sistem managemen yang ada di sana mulai dari
pemesanan obat dari PBF, penyimpanan, distribusi oleh Viva generik pusat,
sampai penerimaannya di masing-masing outlet. Pada minggu kedua
difokuskan pada pemahaman mengenai obat ethical, mulai dari indikasi, efek
samping, sampai ke mekanisme obat tersebut. Pada minggu ketiga diberikan
pembelajaran mengenai pelayanan obat OTC kepada pasien, pada minggu ini
kami diajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan pasien, melakukan pasien
assesment, sehingga didapatkan rekomendasi obat OTC yang tepat untuk
pasien tersebut. Pada minggu ke empat kami diajarkan melakukan
pengecekan GALAU, dan diajarkan bagaimana melakukan konseling yang baik
dan benar, serta melakukan skrining resep.

RUMAH SAKIT

Deskripsikan pengalaman anda berpraktek di rumah sakit. Uraikan


bagaimana
proses
pekerjaan
kefarmasian
baik
manajemen
pengelolaan obat maupun pelayanan kefarmasian klinis dilakukan di
rumah sakit (di bangsal dan rawat jalan) mulai dari visite bersama
dokter, resep hingga konseling obat kepada pasien. Dari proses
tersebut, tunjukkan dimana peran apoteker. Jelaskan juga apa yang
saudara lakukan sebagai seorang mahasiswa praktek pada saat
praktek di rumah sakit tersebut. (minimal 500 kata).
Saya PKPA Rumah Sakit di RSUD dr. Soetomo Surabaya, yang merupakan
Rumah Sakit tipe A yang menjadi pumah sakit pendidikan sekaligus rujukan
untuk Indonesia bagian timur. RSUD dr. Soetomo memiliki 30 orang tenaga
apoteker, semuanya tersebar di unit produksi, unit laboratorium farmasi, unit
PIO dan konseling, unit penyimpanan perbekalan farmasi, dan semua UPF
(unit pelayanan farmasi) yang tersebar di Rumah sakit yaitu instalasi rawat
inap (IRNA Jiwa, Anak, Obsgyn, Penyakit dalam, Bedah, paru dan jantung,
Syaraf), IRD, IRJ, GPPT, GPDT, dan UPIPI.
Secara Umum, pekerjaan apoketer di RSUD dr. Soetomo ada dua, yaitu
managemen perbekalan farmasi dan farmasi klinis. Apoteker klinis bekerja
rangkap memanagenen perbekalan farmasi di UPF termpat mereka berpraktek
klinis. Sedangkan Kepala ( Unit Penyimpanan Perbekalan Farmasi Individual)
dan kepala UPPFI (Unit Penyimpanan Perbekalan Farmasi Standar) hanya
bertugas memanagemen perbekalan farmasi tanpa merangkap sebagai
farmasi klinis.
Perencanaan, penerimaan,penyimpanan, dan pendistribusian dilakukan oleh
UPPFS dan UPPFI, sedangkan pengadaan perbekalan farmasi di lakukan oleh
panitia pengadaan yang berada di luar UPPFS dan UPPFI. UPPFI adalah unit
penyimpanan perbekalan farmasi yang mengelolah obat-obatan atau alat
kesehatan yang berdasarkan peresepan, sedangkan UPPFS adalah unit
penyimpanan perbekalan farmasi yang mengelola perbekalan farmasi yang
masuk dalam komponen tarif tindakan atau pemeriksaan/tidak diresepkan
(bahan baku, reagen) dan obat-obatan yang masuk dalam program
pemerintah seperti program rumatan metadon, terapi TB, terapi HIV/ AIDS.
Perencanaan pengadaan meliputi kegiatan untuk menentukan jenis dan
jumlah sediaan farmasi yang diperlukan untuk pengadaan periode yang akan
datang. Tujuan dari perencanaan adalah untuk menghindari kekosongan dan
keterlambatan penyediaan barang, serta mencegah kekurangan barang yang
menjadi kebutuhan di setiap ruangan dan menghindari penumpukan
perbekalan farmasi di gudang. Perencanaan didasarkan pada data
penggunaan periode sebelumnya dengan menggunakan metode konsumsi riil.
Sumber anggaran pengadaan sediaan farmasi standar di RSUD Dr. Soetomo
merupakan pendapatan fungsional rumah sakit.
Pengadaan di RSUD dr. Soetomo dilakukan oleh panitia pengadaan yang
terpisah dari UPPFI maupun UPPFS. Penerimaan barang dilakukan oleh panitia
penerimaan yang ada di UPPFI/UPPFS itu sendiri. Penerimaan barang harus
memperhatikan kelengkapan barang dan kesesuaian barang yang diterima
dengan spesifikasi (tanggal kadaluarsa, merek, macam atau jenis, jumlah, dan
harga).
Penyimpanan di UPPFS terbagi dalam ruang berdasarkan jenis perbekalan

farmasi yang disimpan. Ruang gudang UPPFS antara lain: Ruang Cairan Obat
Standar, Ruang Materi Diagnostik, Ruang Bahan Laboratorium dan Reagen,
Ruang Obat Standar, Cold Storage, Ruang Bahan Asam, Ruang Penyimpanan
Alat Kesehatan. Penyimpanan perbekalan farmasi di UPPFI/UPPFS perlu
mempertimbangkan lokasi penyimpanan yang dapat menjamin stabilitas,
efektivitas, kemudahan pengambilan serta mencegah terjadinya medication
error. Penyimpanan perbekalan farmasi di UPPFI disusun berdasarkan bentuk
sediaan, high alert, dan kelas terapi, suhu, dan lemari narkotika psikotropika
yang terpisah.
Distribusi dilakukan oleh UPPFI/UPPFS keseluruh bangsal yang ada di rumah
sakit. UPPFI/UPPFS melakukan serah terima kepada UPF sebanyak dua kali
dalam seminggu sesuai kesepakatan dengan masing-masing UPF. UPF akan
mengajukan permintaan dengan menggunakan form permintaan yang
diserahkan kepada petugas UPPFI satu hari sebelum serah terima
dilaksanakan. Keesokan harinya petugas UPPFI akan mempersiapkan
perbekalankefarmasian sesuai permintaan yang tertera dalam form
permintaan.
Apoteker klinis diwajibkan melakukan visite terhadap pasien minimal 30 bed
perhari, tapi dikarenakan jumlah apoteker yang terbatas maka di RSUD dr.
Soetomo tidak diwajibkan 30 bed perhari, tapi setiap bed yang dikunjungi
apoteker akan dihitung untuk akumulasi gajinya. Setiap pasien rawat inap di
RSUD dr. Soetomo memiliki DFP (Dokumen Farmasi Pasien). DFP merupakan
dokumen yang dibuat oleh apoteker mengenai perkembangan kondisi pasien
selama perawatan. Pada DFP tercatat obat apa saja yang diresepkan dan di
berikan kepada pasien, data klinis dan laboratorium pasien, serta semua
permasalahan pengobatan pasien. DFP ini lah yang menjadi pegangan bagi
Apoteker ketika melakukan visite kepada pasien dan saat melakukan
konseling, atau merekomendasikan pengobatan kepada dokter. Pasien rawat
jalan juga diberikan konseling mengenai pengobatan mereka, terutama pasie
dengan kondisi khusus atau pasien dengan penyakit degeneratif.
Sebagai mahasiswa PKPA di RSUD dr. Soetomo, saya diajarkan baik ilmu
managemen maupun ilmu klinis. Ilmu managenen saya dapatkan ketika
mengunjungi UPPFS/UPPFI dan sebagian UPF yang ada di RSUD dr. Soetomo.
Ilmu klinis saya dapatkan ketika saya ditempatkan di IRNA (instalasi rawat
inap) maupun di IRJ (instalasi rawat jalan). Saya diberikan satu pasien untuk
dianalisa pengobatannya setiap minggunya dengan menggunakan form DFP
yang telah ada. DFP tersebut akan didiskusika dengan pembimbing yang
merupakan supervisor di ruangan tempat pasien berada. Ketika ditemukan
pengobatan yang tidak efektif atau tidak tepat, akan dilaporkan ke supervisor
ruangan tersebut.
3

INDUSTRI/PEMERINTAHAN
Khusus di industri:
Deskripsikan pengalaman anda berpraktek di industri. Uraikan
bagaimana proses pekerjaan kefarmasian dilakukan di industri
farmasi mulai dari perencanaan, produksi dan pengawasan mutu, dan
distribusi obat. Dari proses tersebut, tunjukkan dimana peran
apoteker. Jelaskan juga apa yang saudara lakukan sebagai seorang
mahasiswa praktek pada saat praktek di industri farmasi tersebut.
(minimal 500 kata).

Labiomed merupakan tempat saya melaksanakan PKPA industri farmasi.


Labiomed merupakan lembaga biomedis yang berada dibawah Direktoriat
Kesehatan TNI Angkatan Darat (Ditkesat), posisinya sejajar dengan Lembaga
Kesehatan Militer Gigi dan Mulut, Lembaga Farmasi TNI Angkatan Darat
(LAFIAD), Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat (RSPAD), dan Biovaksin.
Labiomed memproduksi sediaan steril yaitu sediaan infus seperti Larutan Infus
NaCL, RL, dan Sediaan Injeksi beruba injeksi Metronidazol dan Tramadol.
Produk yang di produksi oleh Labiomed hanya di distribusikan ke Rumah sakit
TNI AD Se-Indonesia, serta untuk pengobatan di lapangan. Labiomed terdiri
dari dari enam bagian, yaitu instal produksi, instal pengawasan mutu, instal
minlog, instal simpan, instal pengelolahan limbah, dan Litbang (Penelitian dan
Pengembangan). Dari kelima bagian tersebut hanya tiga bagian yang diketuai
koleh seorang Apoteker, yaitu instal produksi, instal pengawasan mutu, dan
instal minlog.
Perencanaan Produksi semua sediaan obat se-indonesia dilakukan Oleh
Direktoriat Kesehatan TNI Angkatan Darat berdasarkan jumlah penggunaan
suatu produk pertahunnya. Perencanaan ini akan dilimpahkan ke bagian
Administrasi dan Logistik (Minlog) di Labiomed untuk dilakukan perencanaan
dana yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu sediaan yang di minta dalam
bentuk rincian belanja. Rincian belanja ini kemudian akan dikirimkan kembali
ke Direktoriat Kesehatan TNI Angkatan Darat untuk dikucurkan dananya
setelah disetujui. Pengadaan barang limpah kan kepada bagian KOPERASI
dengan bekerjasama dengan minlog. Barang yang telah dipesan akan
disimpan di Gudang Pusat (GUPUS) untuk sementara. Barang sudah bisa
diletakan di Instal Simpan Labiomed jika Direktoriat Kesehatan TNI Angkatan
Darat telah mengeluarkan surat Perintah Pengeluaran Material (PPM) dan
Kepala Labiomed telah mengeluarkan surat Perintah Pengambilan Material
(PPnM). Sebelum barang masuk ke gudang simpan, barang diletakan di
gudang transisi untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan, kualitas, dan
kuantitas oleh bagian pengawasan mutu.
Proses Produksi dilabiomed masih berdasarkan CPOB 1996, karena sampai
sekarang belum ada pembaharuan sertifikat CPOB di labiomed, dengan kata
lain proses produksi di labiomed belum CPOB. Ruang produksi di Labiomed
terdiri dari lima kelas, yaitu kelas A, B, C, D, dn E. Ruangan yang termasuk
pada kelas A yaitu ruangan/LAF filling sediaan infus dan injeksi. Ruangan kelas
B tidak ada. Ruangan yang termasuk pada ruangan kelas C adalah ruangan
penimbangan, ruang mixing dan koridornya, ruang cuci ampul dan botol infus.
Ruangan yang termasuk pada kelas D adalah rang pembuatan botol infus,
ruangan sterilisasi, ruangan evaluasi visual, koridor utama dan gudang bahan
baku. Ruangan yang termasuk pada kelas E adalah gudang transit dan gudang
transisi.
Proses pembuatan sediaan bermula dari proses penyaringan air sumur hingga
menjadi Water for Injection (WFI) dengan melalui tahapan sand filter, water
softener, carbon filter, demineralisasi, dan destilasi. Sebelum digunakan untuk
pembuatan sediaan, WFI di uji kadar mineralnya (Fe, No 2), pH, Konduktifitas,
Kesadahan, dan Suhu. Bahan baku yang telah ditimbang kemudian di
campurkan dengan WFI diruangan mixing. Setelah di mixing, bagian
pengawasan mutu melakukan pengecekan kadar hasil mixing tersebut. Jika
tidak sesuai kadarnya, maka proses mixing akan dilanjutkan, jika masih tidak
sesuai maka akan dilakukan perhitungan ulang untuk penambahan bahan

baku. Ketika kadar sudah sesuai maka produk mixing siap disalurkan ke
ruangan filling.
Botol infus di produksi sendiri oleh labiomed, termasuk seal dan cap-nya.
Seterlah proses produksi botol selesai, botol akan dibawa keruangan
pencucian botol, pencucian botol dilakukan menggunakan WFI untuk bagian
dalam, dan air demineralisasi untuk bagian luar. Botol yang telah di cuci
langsung masuk ke ruangan filling dan diisi dengan larutan infus dan ditutup
dengan seaing dang caping secara otomatis. Botol infus yang telah terisi
tersebut kemudian di sterilisari menggunakan autoklaf. Beberapa sampel hasil
sterilisasi di ambil oleh bagian pengawasan mutu untuk diuji sterilitas dan
pirogen. Setelah itu dilakukan evaluasi visual untuk melihat ada tidaknya
partikel asing, kebocoran dan kesesuaian volume. Botol yang lulus langsung di
bawa keruang packaging untuk diberi etiket dan di kemas. Sediaan yang telah
di kemas diletakan di ruangan karantina, dan akan di kirim ke gudang pusat
sampai sertifitat analisisnya keluar dan telah dinyatakan lulus oleh instal
pengawasan mutu. Gupus kemudian akan mendistrubusikannya ke unit-unit
TNI AD yang membutuhkan.
Sebagai mahasiswa PKPA di Labiomed, saya diperlihatkan secara langsung
setiap tahapan produksi yang ada di sana, mulai dari penimbangan bahan
baku, sampai pengelolahan limbah. Setelah melihat serangkaian proses
produksi, ada sesi diskusi dengan Kepala instal masing-masing bagian, dan
pembimbing kami disana yaitu kepala instal produksi. Disana kami juga
dilibatkan dalam acara seremonial yang ada, seperti apel pagi, upacara
bendera, olahraga pagi, dan lain-lain. Diakhir PKPA kami diberi tugas khusus
yaitu membuat protap yang ada di Labiomed dan di persentasikan di depan
semua kepala setiap bagian yang ada.

SARAN BAGI PSPA


Tulis saran anda untuk PSPA: Apa yang perlu dipersiapkan dan
dibekali
kepada
mahasiswa
apoteker
sebelum
berpraktek
berdasarkan pengalaman anda di PKPA sehingga mahasiswa dapat
berpraktek sesuai standar kompetensi apoteker yang telah
ditetapkan
Sebelum berangkat di masing masing tempat PKPA sebaiknya :
1. Mahasiswa diberi pembekalan mengenai hal-hal yang wajib dicari tahu
ditempat PKPA, sehingga PKPA yang dilakukan lebih terarah dan
memiliki standar minimal.
2. Mahasiwa sudah melakukan bimbingan dengan masing-masing dosen
pembimbingnya untuk masing-masing tempat PKPA sehingga
mahasiswa mendapat bekal sebelum berangkat.
3. Pihak Prodi Apoteker harus menyiapkan format laporan PKPA, sehinnga
tidak terjadi perbedaan, dan kesalahan pembuatan laporan akhir PKPA
setelah balik dari tempat PKPA

FLOW CHART
Tulis suatu alur dan beri penjelasan (berdasarkan kuliah dan
pengalaman PKPA) yang menggambarkan bagaimana keterkaitan
suatu sarana produksi (industri farmasi) dengan sarana pelayanan
kefarmasian (apotek dan rumah sakit) hingga pengawasan sediaan
farmasi/pembinaan profesi apoteker (BPOM/Dinas Kesehatan/IAI)
Industri
Farmasi

Pengawasan BPOM terhadap


proses pembuatan obat (CPOB)
Regulasi, standarisasi,
sertifikasi

PBF
Pusat
Pengawasan BPOM terhadap
proses pendistribusian obat
(CDOB)

pembinaan IAI
terhadap SDM
Apoteker.
Registrasi,
regulasi

Dinkes membuat
peraturan
mengenai sarana
kefarmasian dan
peredaran obatobatan

PBF
Cabang

Puskesm
as

Apotek

Post Marketing
Vigilance

Rumah
Sakit

Industri farmasi memproduksi sediaan farmasi berdasarkan CPOB. CPOB


merupakan standar minimal yang harus dipenuhi oleh suatu industri farmasi
agar dinyatakan memenuhi standar untuk memproduksi suatu sediaan
farmasi dengan baik dan benar. CPOB disusun oleh Badan POM untuk menjaga
agar obat-obatan yang beredar nantinya di masyarakat memenusi syarat dan
memiliki efek pengobatan bukannya membahayakan masyarakat. Oleh karena
itu BPOM menetapkan adanya momor registrasi untuk setiap sediaan farmasi
yang telah diloloskan oleh BPOM.
Sediaan Farmasi yang telah memenuhi standar Bandan POM akan siap
didistribusikan ke masyarakat luas. Distribusi dilakukan oleh PBF (Pedagang
Besar Farmasi), baik PBF Pusat maupun PBF cabang yang ada di daerah
daerah. Dalam proses distribusi ini, Badan POM juga telah menetapkan
regulasi dalam pendistribusian sediaan farmasi, yaitu CDOB (Cara
pendistribusian obat yang baik dan benar). CDOB merupakan standar minimal
yang harus dipenuhi PBF agar kualitas obat yang didistribusikan tidak berubah
atau berkurang. PBF kemudian akan mendistribusikan sediaan farmasi ke
pelayanan kesehatan primer (Apotek, Puskesmas) dan pelayanan kesehatan
sekunder (Rumah Sakit). Pada tingkatan ini Badan POM Berperan dalam
melaksananakan post marketing vigilance.
Ikatan Apoteker Indonesia berperan dalam membina Sumber Daya Manusia
(SDM) yaitu profesi Apoteker agar mempertahankan kualitasnya dan
menyusun regulasi mengenai pekerjaan kefarmasian, standar kompetensi,
registrasi, dan lain-lain. Dinas kesehatan berperan merumuskan regulasi
mengenai sistem kesehatan secara umum, termasuk peraturan-peraturan
mengenai sarana kefarmasian dan peredaran obat di Indonesia.
C. PENGESAHAN
Nama mahasiswa
RAHMAD DENI, S. Farm

Tanda Tangan