Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

OBAT-OBAT DIURETIK

I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL
A. Umum
Mahasiswa menganalisis efek dieresis dan interaksi obat dari golongan
obat diuretika.
B. Khusus
- Melatih keterampilan menghitung dosis.
- Melatih keterampilan memasang kateter uretra dan injeksi

II.

intavena.
Menjelaskan efek diuresis Furosemide.
Menjelaskan efek dieresis Aminofilin.
Menganalisis efek dieresis dari kelompok control, Furosemide, dan

Aminofilin.
Menjelaskan interaksi obat antara Furosemide dengan Probenesid.

DEFINISI
Diuresis adalah substansi kimia atau obat yang memiliki efek
meningkatkan produksi utin.

III.

TINJAUAN PUSTAKA
Diuretik merupakan substansi kimia atau obat yang mempunyai efeKk
meningkatkan produksi urin. Beberapa golongan diuretik, yaitu:
1. Carbonic Anhidrase Inhibitors
Menurunkan sekresi ion hydrogen di tubulus proximal ginjal dan
meningkatkan kehilangan bikarbonat dan hence sodium.
Misalnya Acetazolamide.
2. Diuretics Thiazide
Menginhibis reabsorbsi natrium dan klorida di nefron distal awal.
Misalnya Hydrocholorothiazide, Chlortalidone
3. Diuretics Loop
Inhibisi NA+/K+/2Cl- dengan kemungkinan efek dari hiponatremia,
hipokloremia, hipokalemia, dan alkalosis.
Misalnya Furosemide, Bumetanide, Torsemide
4. Diuretics Potassium-Sparing
Mencegah sekresi kalium yang antagonis dengan efek aldosteron d
tubulus distal dan tubulus kolektivus.
Misalnya Spironolactone
5. Diuretics Osmotic

Antagonist reseptor AVP-2 tin kidney to solute-free water clearance


to correct.
Misalnya Tolvaptan, Conivaptan, Satavaptan, dan Lixivaptan.
6. Antagonis Hormon Antidiuretik (ADH)
Furosemide
Furosemide (LasixR) adalah diuretic yang bekerja pada segmen Loop
Henle tubulus ginjal dan mempunyai efek diuretic yang kuat serta kerja
yang singkat. Efek diuretic dari Furosemide mulai bekrja 0,5-1 jam setelah
pemberian secara oral dan mencapai maksimum dalam waktu 1-2 jam
dengan durasi kerja obat 4-6 jam. Furosemide digunakan dengan indikasi
gagal jantung, edema pulmonary akut, hipertensi, hipertensi krisis dan
kontraindikasi gagal jantung tanpa retensi cairan anuria.
a. Farmakokinetik
Furosemide mudah diserap di saluran cerna dan memiliki
bioavailabilitas 65% . Furosemide ini tidak difiltrasi di glomerulus
tetapi cepat disekresi melalui transport asam organic di tubuli
proksimal . Furosemide dieksresi oleh ginjal dalam bentuk utuh
dan dalam konjugasi dengan senyawa sulfihidril terutama sistein
dan N asetil sistein. Selain dieksresi di ginjal , furosemide juga
di sekresi di hati dan hanya sebagian kecil dalam bentuk
glukoronoid (Nafrialdi,2009)
b. Farmakodinamik
Pada ansa henle bagian tebal furosemide bekerja dengan
menghambat pompa Na+/K+/2Cl- di membrane luminal . Dengan
menghambat pentranspor ini , furosemide dapat menurunkan
reabsorbsi NaCl dan juga mengurangi potensial positif lumen . Hal
tersebut mengakibatkan peningkatan eksresi Mg2+ dan Ca2+ .
Pada Pemberian secara IV obat ini cenderung meningkatkan
aliran darah ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus,
Obat ini juga meningkatkan eksresi K+ dan kadar asam urat
plasma. Tidak seperti obat golongan thiazid, obat ini tidak
meningkatkan reabsorbsi Ca+.
c. Efek Samping Obat

1. Ototoksisitas
Pendengaran dapat terganggu oleh diuretic kuat terutama bila
digunakan bersama sama dengan antibiotika aminoglikosida.
Kerusakan

permanen

dapat

terjadi

bila

dilanjutkan

(Schmitz,2009)
2. Hiperurisemia
Furosemide dan asam etakrinat bersaing dengan asam urat
untuk sistem sekresi renal dan empedu (Schmitz,2009)
3. Hipovolemia akut
Diuretik kuat dapat menyebabkan pengurangan volume darah
yang cepat dan parah dengan kemungkinan hipotensi . syok,
dan aritmia jantung (Schmitz,2009)
4. Kekurangan Kalium
Muatan Na+ besar yang terjadi di tubulus renalis rektus
menyebabkan pertukaran Na+ di tubulus dan K + dari sel
dengan

kemungkinan

menyebabkan

hipokalemia

(Schmitz,2009)
5. Dehidrasi
Mengonsumsi furosemid berlebihan dapat menyebabkan tubuh
kehilangan air dan mineral , kejang otot atau kelemahan,
kebingungan, pusing berat, mengantuk, mulut, kering yang
tidak biasa , pingsan dan kejang kejang (Schmitz,2009)
d. Interaksi obat
Obat
Kortikosteroid
Aminoglikosid
Aminoglikosid
Sefalosporin

Diuretik
Furosemide

Efek
Meningkatkan

Furosemide
Furosemide

hipokalemia
Menambah ototoksisitas
Menambah

nefrotoksisitas
Anti Konsulvan
Furosemide
Menurunkan efek
Interaksi obat antara Furosemide dengan Probenesid sudah
diketahui dengan baik. Probenesid termasuk urikosurik yaitu obat
yang berfungsi untuk meningkatkan ekskresi asam urat. Kedua
obat tersebut disekresi mellui urin oleh sistem transport anion
organic di ginjal. Pada pemakaian bersama, Probeneside akan
menghambat sekresi tubuli Furosemide.
3

Aminofilin
Aminofilin adalah obat golongan methylxantine yang biasanya
digunakan sebagai bronkodilator pada penderita asma dan mempunyai efek
diuretic yang sebenernya merupakan efek samping bersifat lemah. Efek
diuresis pada umumnya oliguria atau anuria untuk sementara.
a. Farmakokinetik
Aminofilin diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral.
Absorbsi dari bentuk dosis lepas lambat bersifat lama tetapi
sempurna. Absorbsi dari supositoria rectal tidak menentu dan tidak
dapat diandalkan. Aminofilin didistribusi secara luas sebagai
teofilin dan dapat menembus plasenta.
b. Farmakodinamik
Aminofilin dapat merangsang SSP , meningkatkan diueresis,
merangsang otot jantung dan merelaksasi otot polos terutama
bronkus. Selain itu jika dosis ditinggikan akan menyebabkan
gugup, gelisah, imsonia dan kejang.
c. Efek Samping Obat
Efek samping aminofilin pada SSP antara lain gugup, delisah,
ansietas, sakit kepala dan kejang. Pada system cardiovaskuler
antara lain takikardi , palpitasi, aritmia dan angina pectoris.
d. Interaksi Obat
Obat obat yang dapat meningkatkan kadar aminofilin
adalah

propanolol,

allopurinol,

erythromycin,

cimetidin,

troleandomycin, ciprofloxacin, kontrasepsi oral, beta blocker,


calcium channel blocker, kortikosteroid, disufiram.
IV.

ALAT DAN BAHAN


- Alat
Bekergalss, papan lilin, kapas, kateter karet, dan spuit insulin (1 ml)
- Bahan
Furosemide ampul 2 ml 20 mg, Aminofilin ampul 10 ml 240 mg, alkohol,
-

V.

aquabidest, Gentamicin., dan Larutan Parafin.


Subjek Percobaan
Kelinci

RENCANA KERJA

Percobaan ini dilakukan tanpa pembiusan binatang percobaan dan


apabila dikerjakan secara lege artis tidak menimbulkan nyeri dan tidak

melukai.
Menimbang seekor kelinci jantan
Membaringkandan mengikat di atas temapt binatang dengan mata

dibalut.
Memasukkan kateter karet steril yang dilicinkan dengan larutan parafin

ke dalam vesica urinaria.


Memperhatikan supaya ujung kateter masuk ke dalam orificium urethrae

externa dan jangan sampai tersangkut di preputium.


Pada permulaan percobaan dan akhir dari tiap-tiap pengumpulan urin,
abdomen bagian bawah harus ditekan engan perlahan-lahan supaya

pengosongan vesica urinaria dengan seksama.


Memberi salah satu dari obat-obat di bawah ini:
a. Aminofilin 2,4% 0,25 cc/kg BB i.v.
b. Furosemide 1 mg/kg BB i.v.
Menyuntikkan melalui vena marginal di telinga kelinci tersebut.
Mencatat pengeluaran urin tiap 20 menit hingga akhir waktu praktikum.
Menggambar suatu grafik dari jumlah urin yang keluar dalam cc/kg BB

terhadap waktu.
Menghitung presentase penambahan pengeluaran urin oleh masing-

masing obat bila dibandingkan terhadap control.


Sesudah percobaan, menyuntikkan kelinci dengan Gentamicin.

VI.

vesica urinaria menjadi kosong..


Mengumpulan urin dalam tabung/silinder 25 cc selama 20 menit sesudah

HASIL PERCOBAAN
A. Tabel Dosis Yang Diberikan Pada Kelinci

BB
Dosis

Kelinci I (Furosemide)
1,15 kg
= 1 mg/kgBB
5

Kelinci II (Aminofilin)
1,6 kg
= 0,25 mg/kgBB

Gentamisin

= BB x 0,1 ml
= 1,15 x 0,1 ml
= 0.115 ml
= 3 mg/kgBB
= BB x 3 mg x 0,1 ml/mg
= 1,15 x 3 x 0,1 ml/mg
= 0,345 ml

= BB x 0,25 ml
= 1,6 x 0,25 ml
= 0,4 ml
= 3 mg/kgBB
= BB x 3 mg x 0,1 ml/mg
= 1,6 x 3 x 0,1 ml/kg
= 0,48 ml

B. Tabel urin yang dikeluarkan kelinci


Jumlah Urin yang Dikeluarkan

Kelinc

(ml)

i
1
2

Menit ke-20

Menit ke-40

Tanpa Obat

18,8

Furosemide

60

Tanpa Obat

2,8

17,6

Aminofilin

0,5

11

C. Grafik Pengamatan Furosemide dan Aminofilin

Pengaruh Furosemide pada Kelinci I


20
15
Volume urin yang
dikeluarkan

10
5
0
0

10 15 20 25 30 35 40 45

Pengaruh Aminofilin pada Kelinci II


12
10
8

Volume urin yang


dikeluarkan

6
4
2
0
0

10 15 20 25 30 35 40 45

Pengaruh Furosemide dan Aminofilin


20
15

Volume urin yang


dikeluarkan (Kelinci II)
Volume urin yang
dikeluarkan (Kelinci I)

10
5
0
0

VII.

10 15 20 25 30 35 40 45

PEMBAHASAN
Diuretik adalah obat atau senyawa kimia yang dapat meningkatkan
produksi urin. Fungsi utama diuretic adalah untuk memobilisasi cairan
oedem yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa
sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal.
Pada hasil praktikum didapatkan kelinci yang diberi Furosemid 0.115
ml, pada menit ke-20 mengeluarkan urin sebanyak 2.8 ml, dan pada menit
ke-40 mengeluarkan urin sebanyak 17.6 ml. Hasil ini menunjukkan
perbedaan dengan pemberian Aminofilin 0.4 ml kepada kelinci, yang pada
menit ke-20 menghasilkan urin 0.5 ml dan pada menit ke-40 menghasilkan
urin 11 ml. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa fungsi diuretic dari
Furosemid dan Aminofilin tersebut berbeda.
Furosemid berguna untuk meningkatkan produksi urin yang efeknya
lebih besar dari Aminofilin. Furosemid berefek pada ansa henle bagian
tebal, ia bekerja dengan menghambat pompa Na +/K+/2Cl- di membrane
luminal.

Dengan

menghambat

pentranspor

ini,

furosemide

dapat

menurunkan reabsorbsi NaCl sehingga meningkatkan produksi urin. Di sisi


lain Aminofilin sebenarnya adalah obat bronkodilator yang berefek samping
pada peningkatan produksi urin, sehingga efeknya lebih lemah daripada
Furosemide.

VIII. KESIMPULAN
Pada percobaan obat-obat diuretic, dapat disimpulkan bahwa:
- Furosemide meningkatkan volume ekskresi urin hewan coba
- Aminofilin meningkatkan volume ekskresi urin hewan coba
- Volume urin pada hewan coba yang diberikan injeksi furosemide
menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi dari aminofilin
IX.
EVALUASI
1. Bagaimanakah mekanisme kerja Aminofillin dalam meningkatkan
diuresis?
Aminofilin adalah garam etilendiamin termasuk golongan xantin yang
mempunyai gugus metal dengan rumus kimia 2,6 dioksipurin, biasanya
digunakan sebagai bronkodilator pada penderita asma dan mempunyai efek
diuretic yang sebenarnya merupakan efek samping bersifat lemah. Gambaran
peningkatan air maupun elektrolit sangat mirip penggunaan thiazid. Cara
kerjanya diduga melalui penghambatan reabsorbsi elektrolit di tubulus
proksima maupun di segmen dilusi, tanpa disertai dengan perubahan filtrasi
glomerulus ataupun aliran darah ginjal. Hal ini terlihat pada pemberian
aminofilin 3,5 mg/kgBB pada orang sehat.
2. Bagaimanakah mekanisme kerja Furosemide?
Furosemide termasuk ke dalam kelompok loop diuretics/diuretic kuat.
Diuretik kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi elektrolit
Na+/K+/2Cl- di ansa henle ascendens bagian epitel tebal; tempat kerjanya di
permukaan sel epitel bagian luminal (yang menghadap ke lumen tubuli).
Pada pemberian intravena, obat ini cenderung meningkatkan aliran darah
ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus. Perubahan hemodinamik
ginjal ini mengakibatkan menurunnya reabsorbsi cairan dan elektrolit di
tubulus proksimal serta meningkatnya efek awal dieresis. Peningkatan aliran
darah ginjal ini relative hanya berlangsung sebentar. Dengan berkurangnya
cairan ekstrasel akibat diuresis, maka aliran darah ginjal menurun dan hal ini
akan mengakibatkan meningkatnya reabsorbsi cairan dan elektrolit di tubulus
proksimal. Hal yang terakhir ini agaknya merupakan suatu mekanisme
kompensasi yang membatasi jumlah zat terlarut yang mencapai bagian epitel
tebal Henle ascendens, dengan demikian akan mengurangi dieresis.

Furosemid juga mempunyai daya hambat enzim karbonat anhidrase


karena merupakan derivate sulfonamide, seperti juga tiazid dan asetazolamid,
tetapi aktivitasnya terlalu lemah untuk menyebabkan dieresis di tubulus
proksimal.
Diuretik kuat juga menyebabkan meningkatnya ekskresi K+ dan kadar
asam urat plasma, mekanismenya kemungkinan besar sama dengan tiazid.
Ekskresi Ca2+ dan Mg2+ juga ditingkatkan sebanding dengan peningkatan
Na+. Berbeda dengan thiazid, golongan ini tidak meningkatkan reabsorbsi
Ca2+ di tubulus distal. Berdasarkan atas efek kalsiura ini, golongan diuretic
kuat digunakan untuk pengobatan simptomatik hiperkalsemia.
3. Sebutkan gejala-gejala toksik diuretik Loop!
- Ototoksisitas
- Hipotensi
- Efek metabolic (hiperurisemia, hiperglikemia, peningkatan kolestrol LDL
-

dan trigliserid, serta penurunan HDL)


Reaksi alergi

4. Sebutkan kegunaan diuretik golongan thiazide dan potassium-sparing!


A. Diuretik Golongan Thiazide
Diuretik thiazid bekerja menghambat simporter Na+, Cl- di hulu tubulus
distal. Sistem transport ini dalam keadaan normal berfungsi membawa Na+
dan Cl- dari lumen ke dalam sel epitel tubulus. Na+ selanjutnya dipompakan
ke luar tubulus dan ditukar dengan K+, sedangkan Cl- dikeluarkan melalui
kanal klorida. Efek natriuresis dan kloruresis ini disebabkan oleh
penghambatan mekanisme reabsorbsi elektrolit pada hulu tubulus distal
(early distall tubule).
Pada pasien hipertensi, thiazid dapat menurunkan tekanan darah bukan
saja karena efek diuretiknya, tetapi juga karena efek langsung terhadap
arteriol sehingga terjadi vasodilatasi.
Pada pasien diabetes insipidus, thiazid justru mengurangi dieresis. Efek
ini kita jumpai baik pada diabetes insipidus nefrogen, maupun yang
disebabkkan oleh kerusakan hipofisis posterior. Efek yang tampaknya
paradox ini diduga berdasarkan pengurangan volume plasma yang diikuti
oleh penurunan laju filtrasi glomerulus sehingga meningkatkan reabsorbsi Na

10

dan air tubulus proksimal. Akibatnya jumlah air dan Na yang melewati
segmen distal berkurang sehingga volume maksimum urin yang encer juga
berkurang. Hasil akhirnya adalah pengurangan poliuria secara signifikan.
Thiazid menurunkan ekskresi kalsium sampai 40% karena thiazide tidak
dapat menghambat reabsorbsi kalsium oleh sel tubulus distal. Hal ini dapat
meningkatkan kadar kalsium darah dan terbukti dapat menurunkan innsiden
fraktur pada osteoporosis.
B. Diuretik Golongan Potassiumm-Sparing / Hemat Kalium
Diuretik hemat kalium yang bekerja sebagai antagonis aldosteron
(spironolakton dan eplerenon) digunakan secara luas untuk pengobatan
hipertensi dan edema yang refrakter. Pada gagal jantung kronik, spironolakton
digunakan untuk mencegah remodeling (pembentukan jaringan fibrosis di
miokard). Spironolakton juga merupakan obat pilihan untuk hipertensi
hiperaldosteronisme primer dan sangat bermanfaat pada kondisi-kondisi yang
disertai hiperaldosteronisme sekunder seperti asites pada sirosis hepatis dam
sindrom nefrotik.
Diuretik hemat kalium lain, yang bekerja dengan cara memperbesar
ekskresi natrium dan klorida (triamteren dan amilorid) bermanfaat untuk
pengoobatan beberapa pasien dengan edema. Tetapi, obat ini akan lebih
bermanfaat jika diberikan dengan diuretic golongan lain.
5. Sebutkan klasifikasi diuretic beserta cara kerjanya dan berilah masingmasing satu contoh!
OBAT
Diuretik kuat

CARA KERJA
CONTOH
Menghambat kotranspor Na+/K+/Cl- di ansla Furosemid

Henle ascendens segmen tebal


Diuretik Hemat Menghambat antiport Na+/K+ (reabsorbsi Spironolakton
Kalium

natrium dan sekresi kalium) dengan jalan


antagonism kompetitif atau secara langsung
di hilir tubulus distal dan duktus koligentes

Tiazid

daerah korteks
Menghambat reabsorbsi NaCl di hulu tubulus Hidroklorotiazid (HCT)

Penghambatan

distal
Penghambatan reabsorbsi HCO3-, H+, dan Asetazolamid
11

enzim karbonat Na+ di tubulus proksimal


anhidrase
Diuretik osmotic - Penghambatan reabsorbsi natrium dan air Mannitol
melalui

daya

osmotiknya

di

tubulus

proksimal
- Penghambatan reabsorbsi natrium dan air di
ansa henle descendens bagian tipis oleh
karena hipertonisitas daerah medulla turun
- Penghambatan reabsorbsi natrium dan air
oleh karena penghambatan efek ADH

6. Bagaimana cara menghilangkan cairan edema dari penderita dengan


dekompensasi kordis disertai penyakit ginjal?
Untuk mengatasi edema, diuretic kuat biasanya diberikan berssama
diuretic lain, misalnya tiazid atau diuretic hemat kalium. Namun, pemberian
thiazid pada pasien gagal jantung atau hipertensi yang disertai gangguan fungsi
ginjal harus dilakukan dengan hati-hati sekali karena obat ini dapat
memperhebat gangguan fungsi ginjal akibat penurunan kecepatan filtrasi
glommerulus dan hilangnya natrium, klorida, dan kalium yang banyak.
7. Jelaskan interaksi obat antara Furosemid dengan Probenesid!
Furosemid terikat dengan protein plasma secara ekstensif sehingga tidak
difiltrasi di glomerulus tetapi cepat sekali disekresi melalui system transport
asam organic di tubulus proksimal. Dengan cara ini obat terakumulasi di cairan
tubulus dan mungkin sekali ditempat kerja di daerah yang lebih distal lagi.
Probenesid dapat menghambat sekresi furosemid ini, dan interaksi antara
keduanya ini hanya terbatas pada tingkat sekresi tubuli, dan tidak pada tempat
diuretic.

12

X.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Farmakologi dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit FK UI,
Jakarta
Katzung, Bertram G. 2010. Farmakologi Dasar & Klinik Ed.10. Jakarta:
EGC
Tim Penyusun. 2013. Buku Petunjuk Praktikum Farmakologi I. Semarang:
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

13