Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar blakang
Kanker payudara disebut juga dengan ca mammae adalah sebuah tumor ganas yang
tumbuh dalam jaringan mammae. Merupakan masalah global dan isu kesehatan internasional
yang penting, termasuk dalam keganasan paling sering pada wanita di Negara maju dan
nomor 2 setelah ca cervix di Negara berkembang dan merupakan 29% dari seluruh
carcinoma yang di diagnosis tiap tahun. Menurut World Health Organization (WHO), 8-9%
wanita akan mengalami ca mammae dalam hidupnya. Di Amerika Serikat, keganasan ini
paling sering terjadi pada wanita dewasa. Diperkirakan di Amerika Serikat 175.000 wanita
didiagnosis menderita ca mammae (Masdalina Pane, 2002). Ca mammae merupakan salah
satu masalah kesehatan wanita di Indonesia. Di Indonesia jumlah penderita ca mammae
menduduki tingkat kedua setelah ca cervix, didapatkan estimasi insidensi ca mammae di
Indonesia sebesar 26 per 100.000 wanita dan ca cervix sebesar 16 per 100.000 wanita.
Berdasarkan data yang dimiliki Yayasan Kanker Payudara Jawa Barat, pasien pengidap ca
mammae di Jabar mencapai 56 per 100.000 dalam satu tahun atau sama dengan 0,5%.
Menurut YKP Jakarta, 10 dari 10.000 penduduk Indonesia terkena ca mammae, 70%
penderita datang ke dokter atau rumah sakit pada keadaan stadium lanjut. Tingkat kesadaran
masyarakat yang rendah menyebabkan tingginya tingkat stadium penderita ca mammae di
Indonesia (YKPJ, 2005).
Kehilangan mammae dapat menjadi pukulan yang hebat terhadap rasa percaya diri wanita
karena wanita yang telah mengalami mastectomy merasa kurang menarik, kurang seksual dan
kurang puas dengan penampilan fisik mereka. Menangani ca mammae bukan hanya sekedar
menyelamatkan nyawa atau sebuah mammae, melainkan usaha pencapaian kualitas hidup
terbaik (Lincoln and Wilensky, 2007). Diperlukan pemahaman yang benar dan diagnosis
yang tepat 2
Penderita ca mammae, terutama stadium lanjut, umumnya diliputi kemarahan dan depresi
karena memikirkan penyakit yang dideritanya. Ketika seseorang dinyatakan menderita
carcinoma, maka akan terjadi beberapa tahapan reaksi emosional dan salah satunya yang
sering terjadi adalah depresi. Ketakutan akan kematian, perubahan citra diri, perubahan peran

sosial dan gaya hidup, serta masalah-masalah terkait finansial, merupakan hal-hal yang
mempengaruhi kehidupan penderita carcinoma. Dampak secara psikologik maupun
kehidupan sosial, dapat menyebabkan depresi post mastectomy (operasi pengangkatan
payudara), meningkatnya kecemasan, rasa malu dan ide-ide bunuh diri (National Cancer
Institute, 2009).
Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas dan banyaknya penderita yang mengalami
depresi post mastectomy, penulis tertarik untuk mengetahui tentang kualitas hidup penderita
ca mammae post mastectomy.
2.1 Tujuan Penulisan
- Tujuan Umum:
Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan ca
-

mammae dan asuhan keperawatan pada klien dengan chikungunya.


Tujuan Khusus:
Mahasiswa mampu mengetahui:
1. pengertian dari ca mammae.
2. klasifikasi pada ca mammae.
3. etiologi ca mammae.
4. patofisiologis ca mammae.
5. manifestasi klinis ca mammae.
6. pemeriksaan penunjang pada penyakit ca mammae.
7. penatalaksanaan dari ca mammae.
8. WOC dari ca mammae.
9. Asuhan Keperawatan pada pasien dengan ca mammae.

BAB 2
2.1 Pengertian

Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker
bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak, maupun jaringan ikat pada
payudara (Wijaya, 2005).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh
berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan
kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase pada bagian-bagian tubuh lain.
Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain
itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T,
2005)
Ca mammae (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar,
saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara. Ca
mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai
tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada
payudara. (Medicastore, 2011)
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen yang
menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono, 2006).
Carsinoma

mammae atau

kanker

payudara adalah

neoplasma

ganas

dengan

pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya,


tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995).
2.2 Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada
pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :
1. Tinggi melebihi 170 cm
Wanita yang tingginya 170 cm mempunyai resiko terkena kanker payudara karena
pertumbuhan lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahan struktur
genetik (DNA) pada sel tubuh yang diantaranya berubah ke arah sel ganas.
2. Masa reproduksi yang relatif panjang.
- Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun.
- Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun)

3. Wanita yang belum mempunyai anak Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen
relative lebih lama dibandingkan wanita yang sudah punya anak.
4. Kehamilan dan menyusui
Berkaitan erat dengan perubahan sel kelenjar payudara saat menyusui.
5. Wanita gemuk
Dengan menurunkan berat badan, level estrogen tubuh akan turun pula.
6. Preparat hormon estrogen
Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun.
7. Faktor genetik
Kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 3 x lebih besar pada wanita yang
ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. (Erik T, 2005, hal : 43-46)
2.3 WOC
2.4 Gejala Klinis
2.5 Pemeriksaan Diaknostik
Mammografi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal
ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker. Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk
membedakan tumor sulit dengan kista. CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis
carsinoma payudara pada organ lain Sistologi biopsi aspirasi jarum halus
Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada
peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah.
(Michael D, dkk, 2005, hal : 15-66)
1) Laboratorium meliputi:
1.
Morfologi sel darah
2.
Laju endap darah
3.
Tes faal hati
4.
Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma
5.
Pemeriksaan sitologik
Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang keluar sponyan dari
putting payudar, cairan kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi

2. Tes diagnosis lain


a. Non invasive
1. Mamografi
Yaitu shadowgraph jaringan lunak sebagai pemeriksaan tambahan yang
penting. Mamografi dapat mendeteksi massa yang terlalu kecil untuk dapat
diraba. Dalam beberapa keadaan dapat memberikan dugaan ada tidaknya sifat
keganasan dari massa yang teraba. Mamografi dapat digunakan sebagai
pemeriksaan penyaring pada wanita-wanita yang asimptomatis dan memberikan
keterangan untuk menuntun diagnosis suatu kelainan.
2. Radiologi (foto roentgen thorak)
3. USG
Teknik pemeriksaan ini banyak digunakan untuk membedakan antara
massa

yang

solit

dengan

massa

yang

kistik.

Disamping

itu

dapat

menginterpretasikan hasil mammografi terhadap lokasi massa pada jaringan


patudar yang tebal/padat.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemeriksaan ini menggunakan bahan kontras/radiopaque melaui intra
vena, bahan ini akan diabsorbsi oleh massa kanker dari massa tumor. Kerugian
pemeriksaan ini biayanya sangat mahal.
5.

Positive Emission Tomografi (PET)


Pemeriksaan ini untuk mendeteksi ca mamae terutama untuk mengetahui
metastase ke sisi lain. Menggunakan bahan radioaktif mengandung molekul
glukosa, pemeriksaan ini mahal dan jarang digunakan.

b. Invasif
1. Biopsi
Pemeriksaan ini dengan mengangkat jaringan dari massa payudara untuk
pemeriksaan histology untuk memastikan keganasannya. Ada 4 tipe biopsy, 2
tindakan menggunakan jarum dan 2 tindakan menggunakan insisi pemmbedahan.
2. Aspirasi biopsy
Dengan aspirasi jarum halus sifat massa dapat dibedakan antara kistik atau
padat, kista akan mengempis jika semua cairan dibuang. Jika hasil mammogram

normal dan tidak terjadi kekambuhan pembentukan massa srlama 2-3 minggu,
maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. Jika massa menetap/terbentuk
kembali atau jika cairan spinal mengandung darah,maka ini merupakan indikasi
untuk dilakukan biopsy pembedahan.
3. Tru-Cut atau Core biopsy
Biopsi dilakukan dengan menggunakan perlengkapan stereotactic biopsy
mammografi dan personal untuk memndu jarum pada massa/lesi tersebut.
Pemeriksaan ini lebih baik oleh ahli bedah ataupun pasien karena lebih cepat,
tidak menimbulkan nyeri yang berlebihan dan biaya tidak mahal.
4. Insisi biopsy
Sebagian massa dibuang
5. Eksisi biopsy
Seluruh massa diangkat
Hasil biopsy dapat digunakan selama 36 wad untuk dilakukan pemeriksaan
histologik secara frozen section.
2.6 Penatalaksanaan
Pembedahan
Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi
sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang
terkena).
Mulai dari lumpektomi (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena)
sampai kuadranektomi (pengangkatan seperempat payudara), pengangkatan atau
pengambilan contoh jaringan dari kelenjar limfe aksila untuk penentuan stadium; radiasi
dosis tinggi mutlak perlu (5000-6000 rad)
Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar
limfe dilateral otocpectoralis minor.
Mastektomi radikal yang dimodifikasi
Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial
1)

Mastektomi radikal
Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial.

2)

Mastektomi radikal yang diperluas


Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.

2.7 Pengkajian
a. Anamnesis
Didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap. Keluhan utama
dapat berupa masa tumor dipayudara, rasa sakit, cairan pada puting susu, kemerahan, atau
keluhan berupa pembesaran getah bening atau tanda metastasis jauh (Reksoprodjo dkk,
2010)
b. Pemeriksaan fisik
Karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara lain estrogen dan
progesteron maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan disaat pengaruh hormonal
itu seminimal mungkin yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggu dari hari
pertama menstruasi. Pemeriksaan fisik yang baik dan teliti, ketepatan pemeriksaan untuk
kanker payudara secara klinis cukup tinggi (Reksoprodjo dkk, 2010).
Menurut Knight (2001), cara yang digunakan untuk melakukan diagnosis lebih
dini dan awal yaitu dengan cara pemeriksaan payudara sendiri secara teratur setiap habis
haid harus dilakukan oleh semua wanita yang berusia lebih dari 30 tahun.
c. Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan penunjang untuk dilakukan diagnostik, yang umumnya hanya
dapat dilakukan di Rumah Sakit besar yaitu:
1) Mammografi
Mammografi ini dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi teraba, jadi
sangat baik untuk diagnosis dini dan screening.
2) Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini hanya dapat dibedakan lesi solid dan kristik. Pemeriksaan
lain dapat berupa termografi, xerografi (Reksoprodjo dkk, 2010).
2.8 Diagnosa
Pada pasien dengan Post Operasi kanker payudara akan muncul berbagai macam diagnosa
keperawatan, diantara diagnosa tersebut adalah:

a. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik


b. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
c. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan (NANDA, 2002)
2.9 Perencanaan
Tindakan yang direncanakan untuk mengatasi diagnosa yang muncul
a. Prioritas masalah
Masalah utama yang diambil dari berapa masalah yang muncul
b.

Tujuan
Hal yang sudah ingin dicapai dari perencanaan yang sudah direncanakan.

c. Kriteria hasil
Hasil yang akan dicapai dari prioritas masalah
d.

Intervensi
Perencanaan yang dibuat atau yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah yang
muncul
Rasional
Logika / rasional dari intervensi kenapa harus dilakukan intervensi seperti itu.

e. Evaluasi
Peninjauan kembali dari tindakan yang sudah dilakukan.

BAB 3
Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama
: Ny. W
Umur
: 40 tahun
Agama
: Islam
Jenis Kelamin
: Perempuan
Pendidikan
: Sarjana
Pekerjaan
: PNS
Alamat
: Jl. Gajah Mada No. 10 Pamekasam
Status Mortial
: Sudah kawin
B. Keluhan utama

Nyeri tekan pada mamae sebelah kiri, dengan skala 4 6


C. Riwayat penyakit sekarang
Empat bulan yang lalu pasien mengatakan terasa ada benjolan di mamae kiri
pasien
mengatakan
tidak
nyeri
sehingga pasien
tidak
membawa /
memeriksakannya ke dokter. Kemudian pada tanggal 10 februari 2008 pasien
datang ke RS dan diajurkan untuk opname pda tanggal 12 Februari 2008 dan
dioperasi pada tanggal 14 Februari 2008.
D. Riwayat kesehatan lalu
Pasien tidak pernah mengalami peyakit yang sama seperti saat ini dan tidak pernah
menjalani operasi
E. Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang mjenderita penyakit seperti
yang dialami pasien saat ini.
F.
Riwayat Alergi
Pasien tidak pernah alergi baik dari makanan ataupun obat-obatan
G. Pemeriksaan fisik
1. Tanda-tanda Vital
TD
: 140/120 mmHg
N : 65x / menit
o
S
: 36 C
RR : 26 x/menit
2. Pola nafas
Irma nafas teratur, suara nafas vesikular
3. Kardiovaskular
Irama jantung reguler, bunyi jantung normal, tidak ada bunyi tambahan (murmur)
4. Pensyarafan
GCS : 4, 5, d
5. Penginderaan
a. Mata
Pupil isokor, konjungtiva tidak anemis, sklera putih
b. Telinga
Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada serumen
c. Hidung
Bentuk normal, tidak ada pernafasan cuping hidung.
6. Muskuluskeletal
Kekuatan otot

5
5

Pasien tidak mau menggerakkan tangannya karena nyeri saat daerah mamae
tertarik
7. Personal Hygine
Agak bau karena pasien mengatakan belum prnah mandi selama di RS dan tidak
pernah diseka karena takut mengenai lukanya.

ANALISA DATA
Nama Klien : Ny. W
Ca Mamae
No.
Register : 0100382

No.

Kelompok Data

Pasien mengatakan habis


dioperasi di mamae sebelah kiri
- terdapat luka post op
Ada balutan di mamae kiri
Terdapat drain pada luka

Pasien mengatakan nyeri saat


dipalpasi di mamai kiri lateral
KU lemah
pasien tampak jarang
menggerakkan lengannya skala :
6
TTV
TD : 140/120
N : 65x/mnt
S : 36oC
RR : 26x/mnt
pasien mengatakan takut jika
lukanya tidak sembuh dengan
baik
pasien sering bertanya tentang
lukanya
Pasien tampak sering
memperhatikan luknya

Diagnosa Medis :

Ruangan

Kemungkinan
penyebab
Insisi bedah

Luka post op

Masalah
Gangguan integritas
kulit

Ganggan rasa
nyaman nyeri

Tindakan mastektomi Gangguan citra tubuh

RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien
W

: Ny.
Diagnosa Media

No.
Register

: Ca Mamae

:
Ruangan

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Kerusakan integritas kulit b/d


adanya insisi badan d/d pasien
mengatakan habis dioperasi di
mamae kiri terdapat luka post
op terdapat balutan luka dan
terdapat drain pada luka

Dalam waktu 1 x
24 jam luka
mengering
Dalam waktu
5x24 jam luka
sembuh dan
pasien dapat
pulang

Luka kering dan


tidak mengeluarkan
nanah/darah

Kaji luka, awasi


adanya odema, pada
insisi
Jangan melakukan
observasi TTV pada
isis yang sakit
Lakukan perawatan
luka dengan tehnik
steril

Gangguan rasa nyaman (nyeri)


b/d luka post op d/d pasien
mengatakan nyeri saat di
palpasi TD : 140/120 N :
65x/mnt, S : 36oC, RR : 26
x/mnt dengan skala nyeri 6.
Pasien tampak takut
menggerakkan lengannya

Dalam waktu 2
jam diharapkan
nyeri berkurang
Dalam waktu 2 x
24 jam nyeri
hilang dan pasien
dapat melakukan
aktivitas ringan

Nyeri berkurang /
hilang
Pasien mau
melakukan aktivitas
ringan

Kaji TTV

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Gangguan citra tubuh b/d


tindakan mastektomi d/d pasien
mengatakan takut jika lukanya
tidak sembuh dengan baik,
pasien sering bertanya tentang
lukanya, pasien sering
memperhatikan luka.

Dalam waktu 10
hari diharap nyeri
sudah tidak ada
lagi dan pasien
bisa pulang

Kriteria Hasil

Intervensi

Kaji nyeri, lokasi,


skala
Bantu dalam
menentukan posisi
yang nyaman

Kriteria Hasil
Pasien dapat
mengutarakan
keluhannya pada
orang lain
Pasien dapat
menerima
keadaannya

Intervensi

Dorong pasien untu


mengutarakan
perasaannya
Berikan dorongan
positif agar pasien m
mematuhi program
pengobatan

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Ca Mamae adalah sel karsinoma yang tumbuh di daerah payudara. Ca Mamae
ini bisa disebabkan karena faktor internal maupun eksternal. Tanda dan gejala yang
biasa muncul pada pasien Ca Mamae adanya benjolan/massa di payudara, terasa
nyeri dan terjadi pembesaran yang abnormal.
4.2 Saran
Kita harus selau waspada dan secara rutin memeriksa payudara agar apabila
terdapat kelainan, bisa langsung diobati sebelum mengalami tahap yang paling
tinggi dan sebelum kanker payudara itu bermetastasis lebih jauh.

DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzannec. C. Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical


Bedah. Edisi 8 Vo. 2. Jakarta : EGC
Doengoes, Marilyn E. Moorhouse, Mary Frances. Alice C. 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan. Edisi 3. Jakarta. EGC