Anda di halaman 1dari 4

Kelompok : 5 (Lima)

Tanggal : 6 Juni 2013


MODUL I : Manajemen Produksi Akuakultur Tawar Industri Akuakultur
TOPIK I : Manajemen Produksi Akuakultur Tawar Industri Akuakultur
Pengantar Teori Praktikum
Budidaya ikan hias air tawar merupakan salah satu usaha agribisnis
dengan prospek yang cerah, karena potensi pasarnya masih sangat terbuka, baik
pasar domestik, regional maupun internasional. Hal ini dapat ditunjukkan oleh
peningkatan ekspor ikan hias dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, pada tahun
1994-1999 tejadi kenaikan nilai ekspor sebesar 30,35% dan volume meningkat
sebesar 40,92% (Anonim 2000).
Peningkatan produksi perikanan memerlukan pengembangan sumberdaya
secara optimal dengan tidak adanya pemborosan lahan untuk pembuatan tambak
atau kolam (ahli fungsi lahan). Kegiatan budidaya yang efektif tentu tidak lepas
dari manajemen atau pengelolaan yang baik dan terstruktur dengan rapi. Hal ini
didasarkan karena manajemen menentukan keberhasilan atau tidaknya kegiatan
budidaya.Terkait dengan begitu sulitnya mengaplikasikan manajemen yang baik
maka dilakukan praktek lapang mengenai manajemen budidaya perairan tawar
(Ahmad, 1998).
Menurut Martini (2009), Tujuan umum akuakultur adalah memenuhi
kebutuhan hidup manusia dalam hal pangan dan bukan pangan (bukan pangan:
untuk perbaikan stok alam/stock enhancement, produksi ikan untuk rekreasi,
produksi ikan umpan, produksi ikan hias, daur ulang bahan organik dan produksi
bahan industri). Dalam The State of Fisheries and Aquaculture 2008, FAO dalam
Ekasari (2009) melaporkan bahwa akuakultur merupakan salah satu sektor
produksi pangan yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi di dunia, mencapai
8,7% per tahun sejak tahun 1970.
Metode Praktek Lapang
Mahasiswa melakukan kunjungan langsung ke lapangan untuk mengetahui
teknik dan metoda akuakultur tawar yang ada di Banda Aceh dan bagaimana
bentuk manajemen akuakultur yang diterapkan di tempat budidaya yang
dikunjungi.

Output Praktikum
1. Jelaskan skala industri akuakultur yang diterapakan di usaha produksi
akuakultur ini?
2. Menurut Anda jenis sistem/teknologi akuakultur apa yang diterapkan?

3. Apakah usaha produksi akuakultur ini sudah mengikuti perundangan yang

berlaku dari pemerintah setempat (misal: izin pendirian industri


akuakultur, pembayaran pajak, dan sebagainya)?

Pembahasan
Tentang Budidaya ikan pada kolam tanah Daerah pango, pembahasannya
sebagai berikut:
1. Skala industry standar, Di karenakan belum lengkapnya dalam tahap
pengadaan benih, penerangan kolam, maupun tahapan transportasi.
Penyebab tidak adanya benih sendiri karena untuk perkawinan ikan pada
daerah tersebut tidak layak, di sebabkan oleh kebisingan aktivitas
masyarakat.
2. Menurut Saya semiintensif, karena dalam tahap pembesaran kolam
tersebut tidak tersedia aerator yang dapat bekerja pada saat diperlukan jika
ikan membutuhkan oksigen.
3. Menurut dari pengamatan Saya sepertinya belum, karena bisnis usaha
tersebut tergolong bisnis keluarga yang cendrung tradisional tanpa
memikirkan izin, tetapi bagaimana menghasilkan hasil yang besar.
Kesimpulan dan Saran
a. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari hasil pengamatan dalam
survey praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Usaha pembesaran ikan di daerah Pango tergolong usaha tradisional,
karena masih belum lengkap seperti usaha budidaya lainnya.
2. Usaha pembesarnikanyang ada di Pango, masih butuh perizinan,
supaya tidak tekendala dengan hambatan yang tidak di harapkan.
b. Saran
Untuk kedepannya kami harapkan supaya praktikum tidak
dilaksanakan berbarengan dengan final kuliah dan juga dapat memiliki tempat
sendiri yang lebih terkontrol pada saat praktikum.
Pembahasan
Tentang Budidaya ikan hias pada kolam Daerah Pelangkahan,
pembahasannya sebagai berikut:

1. Skala industry yang di terapkan di sini masih dalam tahap dalam daerah,
karena daerah pemasarannya masih dalam daerah Aceh, yaitu Banda Aceh,
Sigli, dan Beureunun. Dan alat pengoperasiannya yang masih sederhana,
yaitu dengan menggunakan becak untuk berkeliling kota Banda Aceh.
2. Sistem teknologinya yang di terapkan masih sederhana, dan hanya di
lakukan pada area perumahan, sehingga terkendala dengan masyarakat
yang ada, telah kita ketahui bahwa untuk penerapan teknologi yang super
umumnya berada jauh dari aktivitas masyarakat.
3. Menurut dari pengamatan sepertinya belum, karena bisnis usaha tersebut
tergolong bisnis keluarga yang cendrung tradisional tanpa memikirkan
izin, tetapi bagaimana menghasilkan hasil yang besar. Dan juga untuk
tenaga kerja saja tidak ada, jadi otomatis pemiliknya tidak memikirkan hal
hal seperti pajak.

Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari hasil pengamatan dalam
survey praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Usaha Budidaya ikan hias yang ada di pelangkahan cendrueng usaha
yang bersifat bisnis keluarga biasa yang lebih mementingkan
keuntungan dari pada efek samping yang di hasilkan, misalnya
perhitungan modal.
2. Usaha Budidaya ikan hias yang ada di pelangkahan tidak memiliki
pengelolaan manajemen yang sesuai, cenderung hanya mengeluarkan
modal saja.
3. Usaha Budidaya ikan hias yang ada di pelangkahan tidak memiliki
badan hukum, tergolong usaha tradisional.
b. Saran

Sebaiknya usaha nya di jaga kebersihan lingkungan sekitarnya, karena


kalau tidak dijaga maka akan mengganggu aktifitas masyarakat yang lain.

Daftar Pustaka
Anonim. 2000. Statistik Perikanan Indonesia. Departemen Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia, Jakarta

Martini, Nyoman Dian.2009. Dasar-Dasar Budidaya Perairan. Singaraja:


UNDIKSHA.
Nilai Praktek
:..
Draft
:..
Nama dan paraf asisten :......................................

Nilai akhir
:............................................
.