Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PRESENTASI KASUS

PLEUROPNEUMONIA

Disusun Oleh:
Laras Respati Ardanareswari
NIM : 1111103000098

Pembimbing:
dr. Dwi Sari Andriasari, Sp.P

KEPANITERAAN KLINIK SMF PARU RSUP FATMAWATI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat
menyelesaikan presentasi kasus berjudul pleurapneumonia ini.
Presentasi kasus ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di
bagian Ilmu Penyakit Paru RSUP Fatmawati. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada dr. Dwi Sari Andriasari, Sp.P selaku dokter pembimbing dan rekan-rekan
sejawat yang ikut membantu memberikan kontribusi dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan presentasi kasus ini masih terdapat
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak. Semoga presentasi kasus ini dapat bermanfaat dan
menambah pengetahuan dalam bidang Ilmu Penyakit Paru khususnya dan bidang kedokteran
pada umumnya.

Jakarta, Maret 2015

Penulis

BAB 1
LAPORAN KASUS
1.1. Waktu Pengambilan Data

1.2.

Pasien masuk IGD tanggal


Pasien masuk instalasi rawat inap
Pengambilan data pasien

: 22 Februari 2015
: 24 Februari 2015
: 6 Maret 2015

Identitas Pasien
No. Rekam Medik

: 01283893

Nama

: Tn. P

Jenis kelamin

: Laki-laki

Usia

: 53 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. KH Muhasyim RT/RW 08/06 Cilandak


Barat Jakarta Selatan

1.3.

Pendidikan terakhir

: Tamat SLTA

Status pernikahan

: Sudah menikah

Pekerjaan

: Pensiunan

Warga Negara

: Indonesia

Anamnesis
Anamnesis diambil secara autoanamnesis pada tanggal 23 November 2014 di
Gedung Teratai ruang 421 RSUP Fatmawati

Keluhan utama :
Sesak napas yang semakin memberat sejak 1 minggu SMRS.
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan sesak napas yang semakin memberat sejak 1
minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan sesak sudah dirasakan sekitar 3
minggu SMRS. Sesak hilang timbul, memberat saat beraktivitas, naik tangga dan
berjalan jauh dan diperingan dengan istirahat. Semakin terasa sesak jika batuk.
Tidak ada bunyi ngik ngik saat sesak. Nyeri dada disangkal. Keluhan sesak tidak
dipengaruhi oleh posisi.

Sesak disertai .keluhan batuk berdahak sejak 3minggu sebelum masuk rumah
sakit, dahak berwarna putih kental, mudah dikeluarkan. Batuk hilang timbul
terutama dipagi hari. Batuk bercampur darah disangkal. Pasien mengaku keluhan
sesak dan batuk di dahului oleh demam berulang beberapa hari sebelum batuk.
Nafsu makan menurun. Terdapat penurunan berat badan sekitar 9 kg dalam satu
bulan. Tidak ada keluhan mual muntah, keringat dingin berlebih dimalam hari.
.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien tidak pernah mengalami sesak napas memberat sebelumnya. Pasien
mengaku pernah dinyatakan sakit paru dan meminum obat OAT selama 6 bulan ,
dinyatakan sembuh oleh dokter. Riwayat darah tinggi, kencing manis, sakit
kuning, sakit jantung, sakit ginjal, dan alergi.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita hal serupa dengan pasien. Riwayat darah
tinggi, kencing manis, alergi, dan kanker dalam keluarga disangkal. Riwayat
minum OAT disangkal.
Riwayat Sosial Kebiasaan
Riwayat merokok sejak kecil dapat menghabiskan 1 bungkus rokok
perharinya. Berhenti merokok sejak 20 tahun yang lalu.Minum alkohol disangkal.
1.4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 6 Februari 2015.
Keadaan umum

:Tampak sakit ringan

Kesadaran

:Compos mentis

Tanda vital
Tekanan Darah

: 11/70 mmHg

Nadi

: 82x/menit

Pernapasan

: 22 x/menit

Suhu

: 36,5C

Tinggi badan

: 165 cm

Berat badan

: 37kg

Status Generalis

Kepala
Mata

: Normosefal, rambut distribusi merata


: Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/- , pupil bulat isokor
+/+, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tak
langsung+/+

Telinga

: Normotia +/+, nyeri tekan tragus -/-,serumen -/-

Hidung

: Pernapasan cuping hidung (-), deviasiseptum -/-, sekret -/-,


konka hiperemis -/-

Mulut

: Mukosa bibir lembab, lidah tidak kotor,tidak ada gigi karies,


tidak ada stomatitis

Tenggorok

: Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang

Leher

Bentuk simetris, trakea lurus ditengah, tidak teraba

pembesaran tiroid dan KGB, JVP 5-2 cmH2O


Thoraks
Paru depan

: Inspeksi : frekuensi napas 22x/menit, bentuk dada barrel


chest, tidak ada scar, benjolan dan emfisema subkutis, tidak
ada penggunaan otot bantu nafas, pergerakan dada simetris
saat statis dan dinamis.
Palpasi : tidak ada benjolan dan emfisema subkutis, ada
pelebaran sela iga, ekspansi dada simetris pada kedua lapang
paru, vokal fremitus hemitoraks kiri melemah dibandingkan
dengan sisi kanan.
Perkusi : hipersonor pada kedua lapang paru.
Auskultasi : vesikuler +/+ melemah pada lapang bawah paru
kiri, ronkhi +/+, wheezing -/-

Paru belakang

: Inspeksi : bentuk dada normal, tidak ada scar, benjolan dan


emfisema subkutis, pergerakan dada simetris saat statis dan
dinamis.
Palpasi : tidak ada benjolan dan emfisema subkutis, ada
pelebaran sela iga, ekspansi dada simetris pada kedua lapang

paru, vokal fremitus hemitoraks kiri melemah dibandingkan


dengan sisi kanan.
Perkusi : hipersonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler +/+ melemah pada lapang bawah paru
kiri, ronkhi +/+, wheezing -/Jantung

I : Pulsasi ictus cordis tidak terihat


P: Pulsasi ictus cordis teraba ICS VI linea midklavikula
sinistra
P : Batas jantung kanan : ICS V linea sternalis dextra
Batas jantung kiri : ICS VI linea midklavikula sinistra
Pinggang jantung : ICS II linea parasternalis sinistra
A : BJ I, II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: I : Datar, dilatasi vena tidak ada, scar tidak ada


A : Bising Usus (+) normal, bruit (-)
P : Timpani, shifting dullness (-)
P : Tidak ada defense muscular, hepar & lien tidak
teraba ,nyeri tekan epigastrium (-)

Ekstremitas

: Akral hangat (-), edema (-), jari tabuh (-), sianosis (-)

1.5. Pemeriksaan Penunjang


A. Pemeriksaan laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 22 Februari 2015

Pemeriksaan
Hb (gr/dL)
Ht (%)
Leukosit (ribu/uL)
Trombosit (ribu/uL)
Eritrosit (juta/uL)
VER
HER
KHER
RDW
SGOT (U/l)
SGPT (U/l)
Ureum darah (mg/dL)
Creatinin (mg/dL)
GDS (mg/dL)
Natrium (mmol/l)
Kalium (mmol/l)
Klorida (mmol/l)
pH
pCO2
pO2
BP
HCO3
Sat O2
BE
Total CO2

Nilai normal
13,2 17,3
33 45
5 10.000
150 - 450.000
4,4 5,9
80 100
26 34
32 36
11,5 14,5
0 34
0 40
20 40
0,6 1,4
70 140
135 147
3,1 5,1
95 108
7,370-7,440
35,0-45,0
83,0-108,0

14.7
44
11.9
501
4.96
88.6
29.7
33.5
15.6
35
49
32
0.5
157
133
4.62
89
7.443
39.8
66.6
754
26.6
93.9
2.4
27.8

21,0-28,0
95,0-99,0
-2,5-2,5
19,0-24,0

Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 23 Februari 2015


Analisa gas darah
pH
7.42
PCO2
44.5
PO2
127.1
BP
752
HCO3
28.6
O2 Saturasi
98.6
BE
3.6
Total O2
30.0
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 25 Februari 2015

Nilai normal
7.37-7.44
35-45
83-108
21-28
95-99
-2.5-2.5
19-24

Pemeriksaan

Bahan

Sputum

Pemeriksaan

Pewarnaan Gram

Gram negatif barang ditemukan


Hasil

Sel epitel 6-8 /LPK


Leukosit 25-30/LPK

Hasil pemeriksaan dahak/BTA tanggal 25, 26, dan 27 Februari 2015


Kesan : BTA negatif
Pemeriksaan biakan MO dan Resistensi
Bahan

Sputum

Hasil pembiakan

Pseudomonas luteola

Hasil uji sensitivitas


1. Golongan penisilin

Sensitif

2. Gol. Cephalosporin

ampicilin
Resisten :

terhadap

Cefixime,

Amoxyclav

cephalotin,

cefuroxime,

cefoperazone,ceftriaxone.
Sensitif:
Ceftazidime, cefepime
Intermediate:
Cefotaxime
3. Gol. Carbapenem

Sensitif
Sensitif

4. Gol. Kuinolon
5. Anti biotik lain

Resisten :
Cotrimoksazol, fosfomycin
Sensitif:
Tetrasiklin
Intermediate:
Chloramphenikol

Pemriksaan mikroskopik

dan

Sel epitel
Leukosit

6-8 /LPK
25-30/LPK

Pemeriksaan laboratorium tanggal 4 Maret 2015


Pemeriksaan
Hb (gr/dL)
Ht (%)
Leukosit (ribu/uL)
Trombosit (ribu/uL)
Eritrosit (juta/uL)
VER
HER
KHER
RDW

Nilai normal
13,2 17,3
33 45
5000 10.000
150.000 - 450.000
4,4 5,9
80 100
26 34
32 36
11,5 14,5

12.7
38
5900
310.000
4.21
89.9
30.2
33.6
15.6

B. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan foto thoraks PA pada tanggal 18 Februari 2015
Kekerasaan foto cukup
simetris
Tulang dan jaringan lunak normal
Sudut costofrenikus sinistra tumpul
Corakan bronkovaskular normal
Infiltrat pada parakordial paru
sinistra
perselubungan inhomogen pada
basal paru kiri
cor : CTR <50%
kesan : Pleuritis sinistra

1.6 Resume
Tn. P, usia 53 tahun datang dengan keluhan sesak napas yang semakin
memberat sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak napas sudah dirasakan
sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak dirasakan hilang timbul. Sesak
saat beraktivitas dan berkurang dengan istirahat.

Keluahan batuk berdahak sejak 3 minggu SMRS, dahak berwarna putihkental,


mudah dikeluarkan. Batuk berdahak terutama di pagi hari. Terdapat penurunan nafsu
makan dan berat badan menurun sekitar 9 kg dalam 1 bulan terakhir.
Pasien mengaku pernah batuk-batuk lama dan meminum OAT selama 6 bulan
dinyatakan sembuh oleh dokter. Riwayat merokok sejak kecil, menghabiskan 1
bungkus rokok perhari. Berhenti merokok 20 tahun lalu.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan status generalis dalam batas normal. Suara
napas vokal fremitus kiri melemah, palpasi hipersonor kedua lapang paru,vesikuler
kiri melemah, ronkhi dikedua lapang paru. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan
leukositosis, trombositosis, penurunan nilai eritrosit, peningkatan enzim tranaminase,
hiperglikemia, natrim dan klorida menurun,alkalosis respiratorik.
Dari pemeriksaan sputum didapatkan BTA negatif, terdapat kuman pseudomonas
luteola.Pada pemeriksaan foto thoraks didapatkan adanya perselubungan inhomogen
pada lapang bawah paru kiri,infiltrat pada parakordial paru kiri.
1.6. Diagnosis
Pleuropneumonia
TB Paru relaps
1.7. Diagnosis Banding

1.8. Pemeriksaan Anjuran

Foto thoraks

1.9. Penatalaksanaan
A. Non medikamentosa
a.Tirah baring
b.
Diet Tinggi Protein tinggi kalori
c.Edukasi pasien dan keluarga
d.
Rencana Rontgen ulang
B. Medikamentosa
NK O2 4 liter/menit
dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma/24 jam
ceftazidime 3x 1 gram iv
levofloxacin 1x 750 mg 1v

4 FDC 1x 3 tab po
Curcuma 3x1 tab po
salbutamol 3x 2 mg po
fluimucyl 3x1 caps
1.10. Prognosis

Ad vitam
Ad fungtionam
Ad sanationam

: bonam
: bonam
: Dubia ad bonam

1.11 Pengkajian Follow Up Pasien


22.02.15
Masuk IGD dengan keluhan sesak napas memberat. batuk dan demam. Suspek dyspneu e.c
pleuritis sinistra dengan riwayat TB paru. Diberikan NK O2 4 L/menit

24.01.15
Masuk ruang rawat.Sesak, batuk berdahak dan berkeringat malam. Tidak demam.
Diagnosis : pleuropneumonia,peningkatan enzime transaminase hipoksemia sedang.
Diberikan NK O2 4 liter/menit,dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma, antibiotik
ceftriaxone 1x 2 gram iv,ambroksol 2x 1 tab,salbutamol 3x 2 mg po, dan inhalasi birotec dan
bisolvon. Rencana cek sputum MO BTA 3x, LED
25.02.15
Sesak, batuk masih ada dan berdahak.
26.02.15
Sesak masih terasa, sakit kepala di sisi kiri.

27.02.15
Sesak,sakit kepala sebelah kiri, tidak dapat BSB sejak 5 hari yang lalu,
Hasil sputum (26/2/15) BTA negatif. Masih menunggu hasil spurum MO.Diberi tambahan
obat Laxadin 1 x 10cc, extra dulcolax supp 1x, 4 FDC 1x 3 tab, curcuma 3x1 tab
28.02.15
Sesak berkurang, batuk berdahak, tidak dapat BAB. Pemberian 4 FDC hari pertama.
02.03.15
S

sesak semakin berkurang. Batuk berdahak dipagi hari, sakit kepala bagian

depan dan belakang , sedah BAB


O

KU/Kes : Tampak Sakit Sedang/ Compos Mentis


TD

= 100/70 mmHg

= 80 kali/menit

Suhu = 36.1o C
P

= 18 kali/menit

Mata

: CA +/+, SI -/-

Leher

: dbn

Jantung

: dbn

Paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis,pelebaran


sela iga.

Palpasi

: Vokal fremitus hemitoraks kiri melemah

Perkusi

: hipersonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler kiri melemah, rhonki+ medial kanan /+ basal kiri,

wheezing -/-

Abdomen

: nyeri tekan epigastrium (-)

Ekstremitas

: dbn

pleuropneumonia , TB Paru on OAT, Peningkatan enzime trznaminase,

hipoksemia sedang

NK O2 4 liter/menit,dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma,

antibiotik

ceftriaxone 1x 2 gram iv, 4 FDC 1x 3 tab po, Curcuma 3x1 tab po, ambroksol 2x 1
tab,salbutamol 3x 2 mg po,laxadin 1x10 cc po
3.03.15
S

Sesak napas (+) berkurang dengan posisi duduk, batuk berdahak warna putih.

Kadang masih sakit kepala.


O

KU/Kes : Tampak Sakit Sedang/ Compos Mentis


TD

= 110/70 mmHg

= 80 kali/menit

Suhu = 36.5o C
P

= 18 kali/menit

Mata

: CA -/-, SI -/-

Leher

: dbn

Jantung

: dbn

Paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis,pelebaran


sela iga.

Palpasi

: Vokal fremitus hemitoraks kiri melemah

Perkusi

: hipersonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler kiri melemah, rhonki+ medial kanan /+ basal kiri,

wheezing -/Abdomen

: nyeri tekan epigastrium (-)

Ekstremitas

: dbn

pleuropneumonia , TB Paru on OAT, Peningkatan enzime trznaminase

NK O2 4 liter/menit,dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma,

antibiotik

ceftriaxone 1x 2 gram iv, 4 FDC 1x 3 tab po, Curcuma 3x1 tab po, ambroksol 2x 1
tab,salbutamol 3x 2 mg po,laxadin 1x10 cc po
4.03.15
S

Sesak berkurang, batuk berdahak, ditenggorokan terasa ada dahak namun sulit

dikeluarkan
O

KU/Kes : Tampak Sakit Sedang/ Compos Mentis


TD

= 90/60 mmHg

= 88 kali/menit

Suhu = 36.2o C
P

= 20 kali/menit

Mata

: CA -/-, SI -/-

Leher

: dbn

Jantung

: dbn

Paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis,pelebaran


sela iga.

Palpasi

: Vokal fremitus hemitoraks kiri melemah

Perkusi

: hipersonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler kiri melemah, rhonki+ medial kanan /+ basal kiri,

wheezing -/Abdomen

: dbn

Ekstremitas

: dbn

Hasil Laboratorium : HB 12,7 g/dl eritrosit 4,21 juta/uL RDW 15,6 %


Ditemukan kuman pseudomonas luteola
A

pleuropneumonia TB Paru on OAT,,Peningkatan enzime trznaminase

NK O2 4 liter/menit
dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma
antibiotik ceftriaxone 1x 2 gram iv (stop) diganti ceftazidime 3x 1 gram iv
levofloxacin 1x 750 mg iv
4 FDC 1x 3 tab po
Curcuma 3x1 tab po
ambroksol 2x 1 tab (stop) fluimucyl 3x1 caps
salbutamol 3x 2 mg po
laxadin 1x10 cc po

5.03.15
S

Sesak berkurang, batuk berdahak, ditenggorokan terasa ada dahak namun sulit

dikeluarkan, sulit tidur.


O

KU/Kes : Tampak Sakit Sedang/ Compos Mentis


TD

= 110/70 mmHg

= 100 kali/menit

Suhu = 36.2o C
P

= 20 kali/menit

Mata

: CA -/-, SI -/-

Leher

: dbn

Jantung

: dbn

Paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis,pelebaran


sela iga.

Palpasi

: Vokal fremitus hemitoraks kiri melemah

Perkusi

: hipersonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler kiri melemah, rhonki+ medial kanan /+ basal kiri,

wheezing -/Abdomen

: dbn

Ekstremitas

: dbn

pleuropneumonia , TB Paru on OAT, Peningkatan enzime trznaminase

NK O2 4 liter/menit
dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma/24 jam
ceftazidime 3x 1 gram iv
levofloxacin 1x 750 mg 1v
4 FDC 1x 3 tab po
Curcuma 3x1 tab po
salbutamol 3x 2 mg po
fluimucyl 3x1 caps
laxadin 1x10 cc po

jika keadaan umum baik rencana rawat jalan 6. 02. 2015


5.03.15
S

Sesak berkurang, batuk berdahak berkurang, ditenggorokan terasa ada dahak

namun sulit dikeluarkan, jika keluar dahak berwarna bening.


O

KU/Kes : Tampak Sakit Sedang/ Compos Mentis


TD

= 110/70 mmHg

= 82 kali/menit

Suhu = 36.2o C

= 22 kali/menit

Mata

: CA -/-, SI -/-

Leher

: dbn

Jantung

: dbn

Paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis,pelebaran


sela iga.

Palpasi

: Vokal fremitus hemitoraks kiri melemah

Perkusi

: hipersonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler +/+, rhonki+ medial kanan /+ basal kiri,

wheezing -/Abdomen

: dbn

Ekstremitas

: dbn

pleuropneumonia , TB Paru on OAT, Peningkatan enzime trznaminase

NK O2 4 liter/menit
dekstrose 5% 500cc +2 ampul Bricasma/24 jam
ceftazidime 3x 1 gram iv
levofloxacin 1x 750 mg 1v
4 FDC 1x 3 tab po
Curcuma 3x1 tab po
salbutamol 3x 2 mg po
fluimucyl 3x1 caps
laxadin 1x10 cc po

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PNEUMONIA
1. Definisi
Pneumonia

adalah

suatu

peradangan

paru

yang

disebabkan

oleh

mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit).


2. Etilogi
Berbagai macam mikroorganisme penyebab pneumonia mulai dari bakteri,
virus, jamur dan parasit.
Bakteri : streptococcus pneumoniae, stafilococcus aureus, S. Pyogenous,
Klebsiella pneumonia, pseudomonas aeruginosa.
Virus : influenza, adenovirus, respiratory syncytial virus.
Jamur : asergillus fimigatus
Protozoa: pneumocystis carinii dan toxoplasme gondii.
3. Epidemiologi

Bakteri gram positif penyebab pneumonia komuniti sedangkan pneumonia di


rumah sakit sering disebabkan oleh bakteri gram negatif dan pneumonia aspirasi
disebabkan oleh bakteri anaerob.
4. Patogenesis
Pada manusia dengan penurunan daya tahan tubuh maka akan dapat
menimbulkan

adanya

perkembangbiakan

Mikroorganisme

dalam

tubuh

manusia.Mikroorganisme masuk ke dalam tubuh manusia dengan beberapa cara :


1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi di permukaan mukosa.
Dari keempat cara diatas yang paling banyak adalah kolonisasi bakteri. Secara
inhalasi mikroorganisme masuk melalui udara mencapai bronkus terminal dan alveoli
selanjutnya terjadi proses infeksi. Jika terjadi kolonisasi disaluran napas atas
kemudian terjadi aspirasi ke saluran napas bawah dan terjadi inokulasi
mikroorganisme yang merupakan permulaan berbagai macam infeksi paru.
5. Patologi
Basil yang masuk bersama sekret bronkus ke alveoli menyebabkan reaksi
radang berupa edema diseluruh alveoli yang di ikuti dengan dilepaskannya sel PMN
dan diapedesis eritrosit sehingga terjadi fagositosis sebelum terbentuk antibodi. Sel
PMN mendesak bakteri ke permukaan alveoli dengan bantuan leukosit lain melalui
pseudopodoisis sitoplasmik kemudia menfagositosit bakteri. Saat terjadi peperangan
antar sel host dan bakteri maka akan muncul 4 zona, yaitu:
1. Zona luar: alveoli yang terisi bakteri dan cairan edema.
2. Zona permulaan konsolidasi : terdapat PMN dan konsolidasi
eritrosit.
3. Zona konsolidasi luas : daerah fagosit aktif dengan jumlah
PMN yang banyak.
4. Zona resolusi : terjadi resolusi dengan banyak bakteri yang
mati ,leukosit dan alveolar.
Secara histopatologi didapatkan :

Red hepatization : daerah perifer yang terdapat edema dan perdarahan.


Gray hepatization : konsolidasi luas

6. Diagnosis
Gambaran klinis

Anamnesis : demam, menggigil, suhu tubuh meningkat(>40%), batuk dengan


dahak mukoid atau purulen kadang disertai darah,sesak napas, dan nyeri dada.

Pemeriksaan fisik : tergantung dari lesi paru. Inspeksi : bagian yang sakit
tertinggal saat bernapas. Palpasi fremitus mengeras, perkusi redup, auskultasi :
suara napas bronkovaskuler, bronkial, ronki basah halus, ronki basah kasar
pada fase resolusi.

Pemeriksaan penunjang:

Radilogis : foto toraks (PA/Lateral) infiltrat sampai konsolidasi dengan air

broncogram.
Pemeriksaan laboratorium : peningkatan jumlah leukosit, lebih dari >10000/ul.
Pergeseran ke kiri dan peningkatan LED. Analisa gas darah menunjukkan
hipoksemia hiperkarbia, pada tahap lanjut asidosis respiratorik.

7. Tatalaksana
Diberikan tatalaksana empiris dengan antibiotik:
Penisilin sensitif streptococus pneumonia
Penisilin resisten streptococcus pneumonia : beta laktamase,
seftriakson dosisi tinggi, flourokuinolon.
8. Komplikasi
Efusi pleura, empiema, abses paru, pneumothoraks, gagal napas, sepsis.

BAB III
ANALISA KASUS
Berdasarkan hasil anamnesis pasien datang dengan keluhan sesak napas yang memberat
sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sesak napas sebelumnya dirasakan sejak 3
minggu sebelum masuk rumah sakit dan sesak dipengaruhi oleh aktivitas sehingga dapat
disimpulkan sesak pada pasien terjadi secara progresif. Saat sesak tidak ditemukan bunyi
ngik-ngik, yang berarti kemungkinan bukan disebabkan oleh obstruksi. Batuk sejak 3 minggu
yag lalu
Pada pemeriksaan fisik didapatkan vokal fremitus yang melemah pada hemitoraks kiri
dan pada auskultasi ditemukan suara pernapasan yang melemah pada sisi kiri menandakan
adanya hambatan transmisi suara. Pada perkusi ditemukan hipersonor yang menandakan
adanya pantulan suara ynag lebih nyaring akibat adanya udara yang mengisi ruang paru. Pada
pemeriksaan sputum didapatkan hasil BTA negatif .Pada pemeriksaan radiologis foto thoraks
ditemukan adanya gambaran perselubungan inhomogen dan infiltrat pada parakordial paru
sinistra menunjukkan adanya proses peradangan dan efusi pleura sehingga terjadi
pleuropneumonia paru kiri.. Penatalaksanaan awal pasien yang mengeluh sesak dengan
pemberian oksigen. Kemudian untuk terapi infeksi akibat bakterinya diberikan antibiotik
dosis tinggi. Karena pada pasien ini dicurigai ada TB relaps maka diberikan OAT kategori 2.

DAFTAR PUSTAKA
1) Sudoyo AW,dkk. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2. Ed.5. Jakarta: Interna
Publishing. 2009
2) Pneumonia Komuniti-Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana di Indonesia Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia; 2003
3) Pneumonia

Nosokomial-Pedoman

Diagnosis

dan

Tatalaksana

di

Indonesia

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2003


4) Halim H. Penyakit-penyakit Pleura dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III ed
5. Jakarta: Interna Publising. 2009
5) Fauci, Longo. Harrisons Principle of Internal Medicine 18 th ed. USA; McGraw-Hill
Companies.2012