Anda di halaman 1dari 24

Rinosinusitis

Sinusitis berarti inflamasi mukosa sinus sebagai kelanjutan inflamasi dimukosa nasal.
Rinosinusitis menurut klinik berarti ada respons inflamasi yang meliputi mukosa hidung
dan sinus paranasal. Sekarang istilah (terminologi) rinosinusitis lebih tepat dari pada
sinusitis karena lebih deskriptif dalam menjelaskan proses perjalanan penyakit. Proses
inflamasi berasal dari rongga hidung (rinitis), dan selanjutnya meluas ke sinus paranasal
(sinusitis). Hal ini karena mukosa rongga hidung dan mukosa sinus paranasal
bersebelahan sehingga dengan mudah terjadi rinitis dan sinusitis bersamaan.
Biasanya rinitis dan sinusitis dialami bersama pada satu individu dan pada kebanyakan
dijumpai lebih dari satu sinus paranasal yang inflamasi. Konsep tentang terjadinya
penyakit pada sinus maksila pada mulanya berasal dari proses di ostiomeatal complex..
Clinical difinition
Difinisi klinik rhinosinusitis

Infeksi bakteri

Rhinosinusitis didifinisikan sebagai berikut:

Inflamasi hidung dan sinuses paranasal yang ditandai dengan dua atau lebih
simtom, salah satu atau lebih dari nasal blockage/obstruction/congestion dan nasal
discharge (anterior/posterior nasal drip nasal

facial pain/pressure

reduction or loss of smell

CT changes:

mukosa diseluruh osteomeatal complex dan/atau sinuses edem.

Berat penyakit (berat penyakit dibagi tiga mild, moderate dan severe
Lama sakit :

Acute < 12 minggu, simtom sembuh sempurna

Subacute rhinosinusitis menjelaskan proses inflamasi berlanjut persisten hanya


tanda dan gejala akut sudah hilang.

Chronic > 12 minggu simtom hilang tidak sempurna dan dapat eksaserbasi mejadi
Acute exacerbation of chronic rhinosinusitis

Epidemiologi dan faktor predisposisi


Insidens acute viral rhinosinusitis (common cold) sangat tinggi.
Anatomi dan patofisiologi rinosinusitis
Sinuses paranasal berhubungan dengan hidung melalui lubang kecil. Hidung dan sinuses
paranasl dilapisi oleh pseudostratified columnar ciliated epithelium. Epitiel mengandung
sel goblet dan nasal glands, menghasilkan sekresi nasal yang selalu membasahi dan
membentuk lapisan mucus. Partikel dan bakteri dapat ditangkap oleh mucus kemudian
oleh enzim lizosim dan laktoferin dinetralisir sehingga menjadi tidak berbahaya,
selanjutnya ditransport ke nasofaring. Dalam keadaan normal, semua sinus bersih dari
sekret karena dibersihkan oleh mucociliary transport.
Rhinosinusitis didifinisikan inflamasi pada mukosa hidung dan satu atau lebih sinuses.
Yang berperan utama pada patogenesis rhinosinusitis ada tiga factor, pertama adalah
fungsi (patensi) osteomeatal complex, (unit fungsi terdiri dari ostia sinus maksilari, sel
ethmoid dan ostianya, ethmoid infundibulum, hiatus similunaris dan meatus media), ke
dua fungsi silia dan ke tiga quality of nasal secretion.

Apabila patensi ostiomeatal

kompleks terganggu (ostium mengecil karena edem) akan menghalangi drainage,


akhirnya sekret menumpuk di sinus, misalnya pada upper respiratory tract infection
(URTI). Terganggunya salah satu atau kombinasi factor tersebut dapat menyebabkan
terganggunya sistem fisiologi normal dan menyebabkan sinusitis. Apabila proses tersebut
tidak dihentikan dan menetap dapat menyebabkan rhinosinusitis kronik.
Faktor yang menyebabkan patensi ostiomeatal kompleks terganggu (multifaktor) yang
menyebabkan gerak mucociliary terhambat; infeksi (bakteri), alergi, mukosa edem karena
sebab tertentu, physical obstructions jarang karena morphological/anatomical variations
di rongga hidung atau sinus paranasal, konka bulosa, septal deviation, postoperative
synechiae. .
Fig . 29.3 (hal. 331, Bailey).
Fig. 29,6 A (hal 333, Bailey)

Rinosinusitis kronik
Prevanlesi rinosinusitis kronik di Indonesia tidak ada data, di Canada penelitian dengan
anamnese sakit lebih dari 6 bulan antara 3,4% pada laki-laki dan 5,7% pada wanita, usia
makin meningkat prevalensi makin meningkat dan menurun setelah umur 60 tahun.
Penelitian di berbagai negara hasilnya berbeda.
Faktor yang berhubungan dengan rhinosinusitis chronic
1. Bacteriology of chronic Rhinosinusitis
Ada tiga katagori bakteri pada infeksi rinosinusitis kronik. Katagori pertama,
mikroorganisme sama dengan bakteri yang dijumpai pada rinosinusitis akut.(S.
pneumoniae, H. Influenza). Bakteri yang aktif menimbulkan inflamasi. Ke dua,
meliputi mikroorganisme yang banyak di jumpai Staphylococcus aureus dan
Pseudomonas auruginosa. Organisme ini pada keadanan resisted improvement
terhadap antiobitotik yang diberikan dan operasi sinus sergery. Sepertinya bakteri
yang berperan pada beberapa penderita rinosinusitis kronik.

Dan ke tiga

Staphylococcus epidermidis, coagulase-negative staphylococci, Corynebacterium


species dan anaerobes.
2. Hambatan gerak silia.
Aktivitas silia (mucocilliary transport system) sangat penting untuk membersihkan
sinus, merupakan mekanisme pertahanan terhadap invasi partikel, termasuk bakteri
berarti mencegah infeksi (kronik) sinus.
Meningkatnya viscositet mukus sekresi, menyebabkan menurunnya mucocilliary
transport system.
Gangguan mucocilliary transport system, pada Kartaganer syndrome silianya
mengalami diskinesis..
Fig. 2.6 (hal. 64, Endoscopic Paranasal Sinus Surgery)
3. Alergi
Atopi merupakan faktor predisposisi rinosinusitis kronik. Prevalensi rinosinusitis
kronik meningkat pada penderita atopi.
4. Asma

Belakangan terbukti bahwa allergic inflammation di upper dan lower respiration


menimbulkan inflamasi mukosa yang berkaitan dengan rinosinusiits. Rinosinusitis
dan asma sering kali dijumpai bersama pada satu penderita, mekanismenya belum
dapat dijelaskan semua. Penelitian radiologi menunjukan bahwa sinus pada penderita
asma mukosanya abnormal.
5. Disfungsi sistem imun
Disfungsi sistem imun merupakan faktor predisposisi rinusinositis kronik. .Dengan
demikian perlu tes immunologi pada penderita rinosinusitis.
6. Faktor genetik
Walaupun penyakit sinus kronik dijumpai pada anggota keluarga, namun tidak ada
faktor genetic abnormal. Genetic faktor di kaitkan dengan rinosinusitis kronik yaitu
pada penyakit cystic fibrosis, primary ciliary dyskinensis (Kartaganers syndrom).
7. Pregnancy dan endocrine state
Selama pregnancy mengalami nasal congestion, terjadi antara 1/5 dari wanita hamil..
Patogenesisnya dari kelainan tersebut belum dapat diterang.kan. Ada beberapa teori
yang mencoba menjelaskan diantaranya efek langsung (direk) hormonal diantaranya
estrogen dan progresteron dan placental growth hormon di rongga hidung.
8. faktor environments
Asap rokok, polusi dikaitan dengan prevalensi rinosinusitis yang tinggi di Canada.
Pada individu dengan sosial ekonomi rendah
9. Faktor lokal
Variasi anatomi seperti konka bulosa, septum deviasi dan displacement uncinate
process, merupakan faktor potensial menyebabkan sinusitis. Kelainan anatomi seperti
tersebut menyebabkan aliran udara di meatal kompleks terhambat. demikian juga
aliran sekret menjadi tidak lancar.
9. Deviated Nasal Septum
Septum deviasi sebagai predisposisi sinusitis rekuren.
11. Paradoxical Middle Turbinate
Lengkung konka media yang normal ke lateral, lengkung paradoxical dari konka media
dapat menyebabkan obstruksi ostiomeatal complex dan menyebabkan sinusitis rekuren.
(Fig. 29.6B (hal. 333, Bailey)

12. Concha Bullosa


Kadang-kadang bagian destal konka media dijumpai pneumatisasi, konka demikian
disebut konka bulosa. Konka bulosa sering dijumpai, tetapi hanya sedikit yang
berpengaruh pada kondisi klinik. Konka bulosa dapat menimbulkan gangguan bila
menyebabkan obstruksi ostiomeatal complex
(Fig.29.6A (hal 333, Bailey)
Diagnoses
Assessment of rhinosinusitis symptoms.
Simtom rinosinusitis :

nasal blockage, congestion atau stuffness

nasal discharge atau postnasal drip, sering mukopurulent

facial pain atau pressure, headache, dan

reduction/loss of smell.

Selain local simtom tersebut diatas juga simtom jauh atau general simtom. Simtom
jauh diantaranya pharyngeal, laryngeal, tracheal irritation menyebabkan sakit
tenggorok, disfonia dan batuk, sedangkan general simtom meliputi ngantuk, malaise
dan panas.
Pemeriksaan
Dengan rinoskopi anterior hasilnya tidak adekuat tetapi ini merupakan langkah awal.
Endoskopi
Pemeriksaan dengan endoscope bisa dilakukan dengan atau tanpa decongestan,
perhatikan adakah sekret ( purulence at sinus ostia), edem,

polip amati lokasinya,

Adakah perubahan warna konka (kemerahan), deviasi septi apakah sampai menutup ostia,
konka bulosa dan konka paradoxial.
Biasanya tidak dilakukan pemeriksaan sitologi bila tidak dicurigai suatu keganasan.
Fig 6.2 Hal110, Endoscopic Paranasal Sinus Surgery)
Foto
Imaging of the paranasal sinuses
Peran dari imaging sinus paranasal dalam functional endoscopic sinus surgery (FESS)
sangat besar, tidak saja untuk menjelaskan beratnya inflamasi sinus karena penyakit,
5

tetapi juga untuk mengevaluasi hasil terapi dan komplikasi yang timbul berkaitan dengan
kegagalan terapi.
CT merupakan modal pilihan untuk menetapkan pasen yang sulit diobati dengan
medical dan mengidentifikasi penyakit di mukosa yang tidak dapat dilihat dengan plane
foto (plane film radiography). Perubahan sedikit pada mukosa karena inflamasi dan
variasi anatomi tampak jelas pada CT, demikian juga obstruksi di ostiomeatal unit
(OMU) atau di sinus frontal.
Walapun magnetic resonance imaging (MRI) superior dari CT dalam menjelaskan
penyakit mukosa, namun tidak digunakan secara rutin untuk evaluasi penderita FESS.
Hal ini karena gambaran the bone-air interface pada MRI kurang begitu jelas (poor
delineation), dengan demikian vizualization di OMU tidak bagus, sedangkan tempat ini
sangat penting untuk menetapkan penderita calon FESS.

ANATOMI PATOLOGIS (PATHOLOGIC ANATOMY)


Foto potongan koronal OMU sangat penting sebelum FESS. Perubahan sedikit pada
mukosa di regio OMU atau di infundibulum etmoid dan meatus media sudah dapat
terlihat jelas. Disamping itu, penebalan mukosa di lateral dan inferior mukosa sinus
maksila, frontal dan sfenoid karena infeksi juga terlihat jelas. Pada kasus berat
(Fig.3.9A), luas obliterasi mukosa pada OMU tampak jelas. Penebalan mukosa sebagai
proses sekunder di sinus frontal dan sfenoid juga terlihat jelas
Terapi rinosinusitis
Terapi glukokortikoids.
Glucokorticoids

lokal dapat menyembuhkan inflamasi yang disebabkan penyakit di

upper (rinitis, polip) dan lower (asma) airway.

Efek klinik dari glucocorticoids

tergantung kepada kemampuan menurunkan infiltrasi eosinofil di saluran napas dengan


cara menurunkan kelangsungan hidung dan aktivitas atau tidak langsung menurunkan
sekresi chemotactic sitokin oleh mukosa nasal dan polip.
Oral corticosteroid sebagai ajuvan pada rinosinusitis akut, dosis diberikan tigakali sehari
selama 5 - 10 hari bersama antibiotika.

Terapi antibiotik
Antibiotik untuk penyembuhan klinik rinusinositis akut cukup efektif, pada penelitian
dijelaskan dapat sampai 90% yang diberikan 14 hari.
Terapi antiobiotik untuk rinosinusitis kronik yang dikombinasi dengan topical
corticosteroid dan ajuvan lain yang diberikan selama 4 minggu, semuanya penderita
menunjukkan perbaikan klinik.
Decongestan
Nasal decongestants pada acute rinosinusitis tujuannya untuk mengurangi congestion
efeknya memperbaiki ventilasi sinus dan darinage dan simtomatic congestion hilang.
Penelitian membuktikan bahwa decongestants

mengurangi

congestion ostial dan

ostiomeatal complex karena efek congestion pada konka inferior dan media dan mukosa
infundibular, tetapi tidak berefek pada mukosa sinus ethmoid dan maksila.
Decongestants yang diberikan pada rinosinusitis kronik tidak mempunyai efek pada
congstion ostial.
Mucolytics
Mucolitik untuk mengencerkan viskositas sekresi sinus dapat diberikan pada rinosinusitis
akut maupun kronik. Dikatakan efeknya bermanfaat.
Irigasi nasal dan antrum (larutan garam isotonik, hipertonic saline)
Irigasi dengan larutan garam isotonik maupun hipertonik efeknya cukup signifikan dalam
menghilangkan simtom. Efeknya dapat meningkatkan aktivitas nasal mucociliary
clearance.

Treatment underlying predisposing factors


Infectious sinusitis sering kali berhubungan dengan alergi dan asma. Infectious sinusitis
sering merupakan komplikasi rinitis alergi saluran napas bagian atas, kira-kira 50% anak
dan dewasa .

Kira-kira 10% penderita dewasa rinosinusitis dengan asma kronik

menderita juga menderita aspirin sensitivity syndrome: asma, nasal polip, sinusitis dan

penyakit menjadi makin parah bila terekspose aspirin atau nonsteroidal anti-inflammatory
drugs.
Surgery
Opereasi (endoscopic sinus surgery) hanya untuk pasen rinosiusitis kronik yang tidak
sembuh (responsive) dengan medical treatment. ESS hasilnya dapat menghilangkan
simtom dan meningkatkan quality of life. Paska operasi terapi dilanjutkan dengan
antibiotik, steroids dan irigasi.
Functional endoscopic sinus surgery berdasarkan kepada dua prinsip. Pertama, obstruksi
di etmoid anterior dapat menyumbat sinus maksila, frontal dan sinus etmoid posterior,
biasanya juga sinus sfenoid dan tuba eustachi. Atau dijelaskan dengan cara lain, penyakit
persistan di salah satu sinus kemungkinan karena penyakit di etmoid anterior yang tidak
terdiagnose. (Messerklinger, 1985) Ke dua, bila obstruksi di etmoid anterior dihilangkan,
drainase sinus-sinus lainnya kembali normal. Terutama, ostium sinus maksila berada di
lekukan drainase dimana sekret purulen dari sinus etmoid tertuang kedalamnya dan dapat
masuk ke ostium. Disamping itu, mukosa yang sakit akan kembali normal bila drainase
adekuat.
Indikasi FESS ialah semua penyakit infeksi sinus dengan terapi medical gagal. FESS
adalah terapi pilihan, hasilnya baik dengan sedikit morbiditi dan cepat sembuh.
Surgery mulai dari uncinectomy sampai radikal sphenoethmoidectomy dengan disertai
reseksi konka media.

The Surgical Field in Endoscopic Sinus Surgery


Operasi dilakukan dengan lokal anestesi pada penderita hanya dengan penyakit di middle
meatus. Apabila sudah disertai sinus lainnya, operasi dilakukan dengan general anestesi.
Powered Inferior Turbinectomy and Endoscopic Septoplasty
Berhasilnya pengelolaan dengan operasi ESS ialah mukosa konka inferior kembali
normal, namun kadang-kadang diperlukan turbinectomy pada pasen dengan sinusitis
kronik. Setelah aerasi sinus kembalikan normal dan eksudate inflamasi membaik, edem
pada mukosa konka menghilang. Namun, pada beberapa pasen mereka yang konka

inferior hipertropi membandel (nonresponsive to treatment), konka direduksi dapat


memperbaiki nasal airway dan kualitas hidup (quality of life). Banyak tehnik yang
menguraikan tentang reduksi konka inferior, diantaranya submucosal turbinoplasty,
partial turbinektomy complete turbinectomy, dan diathermy (usually performed in
submucosal plane).
Komplikasi rinosinusitis
Di era pre antibiotic komplikasi rinosinusitis sering terjadi dan sangat berbahaya, ke
orbita, osseus dan endocranial Di era sekarang, dengan perkembangan alat diagnose CT,
MRI dan tersedianya bermacam-acam antibiotik insiden komplikasi menurun.
Komplikasi ke orbita biasanya terjadi dari etmoiditis jarang dari sphenoidal infection.
Infeksi menyebar langsung lewat lapisan tipis dan sering lewat dehisensi lamina papirase
atau lewat vena. Macam-macam komplikasi orbital; periorbital cellulitis, orbital cellulitis,
orbital cellulitis, subperiosteal abcsess.
Periorbital cellulitis ditandai dengan edem palpebra, kemerahan

di sekitar kantus.

Penyebaran dari sinus maksila, edem dan eritema terjadi di palpebra inferior bila dari
sinus frontalis edem dan eritema terjadi di palpebra superior.
Apabila dijumpai komplikasi perlu tindakan aggressive treatment dan intravenous
antiobiotika.

Power points
Sinusitis
Anatomi hidung
Fig. 75 (Boies hal. 176)
Sinus maksila dan ethmoid sudah ada sejak lahir.
Sinus frontal berkembang terus sampai umur 15 tahun
Sinus sfenoid berkembang terus sampai adolescence.
Sinus dilapisi mukosa sebagai perluasan dari hidung.
Ada 12 sinus di tiap sisi, tetapi jumlahnya dapat bervariasi.
Dibagi 2 grup sinus:
- grup anterior: frontal, maksila dan etmoid anterior
Dengan ostia di hiatus semilunaris di meatus media
- grup posterior : etmoid posterior dan sfenoid
Dengan ostia di meatus superior
Fig. 75 (Boies, hal 176)
Fig.76 (Boies hal 177)
The relative sinus positions terhadap sekitarnya.
Fig. 79 (Boies,hal.184)

Patologi penyakit sinus

10

Mukosa sinus inflamasi sebagai response terhadap organisme,


biasanya sebagai perluasan infeksi akut upper respiratory.
Fig. 114 (Boies, hal 288)
Sinusitis kronik dengan fokal di gigi.
Infeksi sinus kronik kadang berasal dari gigi.

Rinitis dan sinusitis (Rinosinusitis)


- Rinitis dan sinusitis biasanya dialami

bersamaan dan

kejadian bersama ini yang paling sering dijumpai pada


individu.
- Rinosinusitis menurut klinik berarti ada respons inflamasi
yang meliputi mukosa hidung dan sinus paranasal.
- Terminologi sekarang ialah rinosinusitis,

lebih tepat dari

pada sinusitis karena lebih deskriptif dalam menjelaskan


proses perjalanan penyakit.
- Proses inflamasi berasal dari rongga hidung (rinitis), dan
selanjutnya meluas ke sinus paranasal (sinusitis).

Clinical difinition
Difinisi klinik rhinosinusitis
- Etiologi : bakteria
- Rhinosinusitis didifinisikan sebagai berikut:
11

- Inflamasi hidung dan sinus paranasal disertai dua atau lebih


simtom, salah satu atau lebih dari
- nasal blockage/obstruction/congestion dan nasal discharge
(anterior/posterior nasal drip nasal
- facial pain/pressure
- reduction or loss of smell
CT changes:
- mukosa osteomeatal complex dan/atau sinuses edem.
Lama sakit :
- Acute < 12 minggu, simtom dapat sembuh sempurna
- Chronic > 12 minggu simtom hilang tidak sempurna dan
dapat eksaserbasi

Epidemiologi
Insidens acute viral rhinosinusitis (common cold) sangat tinggi.

Faktor predisposisi
Anatomi
- Sinus paranasal berhubungan dengan rongga hidung melalui
lubang kecil.
- Hidung dan sinuses paranasal dilapisi oleh pseudostratified
columnar ciliated epithelium.
12

- Epitel mengandung sel

goblet dan nasal glands,

menghasilkan sekresi yang selalu membasahi dan membentuk


lapisan mucus.
- Partikel dan bakteri ditangkap oleh mucus kemudian
dinetralisir oleh enzim lizosim dan laktoferin sehingga menjadi
tidak berbahaya, selanjutnya ditransport ke nasofaring.
- Sinus dalam keadaan normal bersih dari secret karena
dibersihkan oleh mucociliary transport.

Fisiologi (patofisiology)
- Peran utama pada patogenesis rhinosinusitis adalah patensi
osteomeatal complex (OMC) (unit OMC: ostia sinus maksilari,
sel ethmoid dan ostianya, ethmoid infundibulum, hiatus
similunaris dan meatus media.
- apabila patensi terganggu (ostium mengecil karena edem)
sekret menumpuk di sinus, misalnya pada upper respiratory
tract infection (URTI)
- atau terganggunya aktivitas mukosiliari sistem.
- Apabila proses tersebut tidak dihentikan dan menetap dapat
menyebabkan rhinosinusitis kronik.
Fig. 2.6 (hal 64, Endocopic Paranasal Sinus Surgery)
Fig. 2.7 (hal. 64, Endocopic Paranasal Sinus Surgery

13

Rinosinusitis kronik
Prevanlesi rinosinusitis di Indonesia tidak ada data
Di Canada penelitian dengan anamnese sakit lebih dari 6
bulan antara 3,4% pada laki-laki dan 5,7% pada wanita,
usia makin meningkat prevalensi makin meningkat dan
menurun setelah umur 60 tahun.
Penelitian di berbagai negara hasilnya berbeda.

Faktor yang berhubungan dengan rhinosinusitis


chronic
1. Hambatan gerak silia.
- Aktivitas silia sangat penting untuk membersihkan sinus
dan mencegah infeksi kronik sinus.
- Aliran secret karena gerak silia ke nasofaring
- Diskinesis silia merupakan faktor predisposisi rinosinusitis
kronik

Air cleaning
Fig. 79 (Boies, hal. 184)
2. Alergi

14

Atopi merupakan faktor predisposisi rinosinusitis kronik.


Prevalensi rinosinusitis kronik meningkat pada penderita
atopi.
3. Asma
Belakangan terbukti bahwa allergic inflammation di upper
dan lower respiration juga menimbulkan inflamasi mukosa
sinus (rinosinusitis). Rinosinusitis dan asma sering kali
dijumpai bersama pada satu penderita, hanya kaitannya
belum

dapat

dijelaskan

semua.

Penelitian

radiologi

menunjukan bahwa mukosa sinus pada penderita asma


abnormal.
4. Disfungsi sistem imun
Disfungsi sistem imun ada hubungan dengan rhinosinusitis
chronic. Dengan demikian penderita perlu tes immunologi.
5. Faktor genetik
Walaupun penyakit sinus kronik dijumpai pada anggota
keluarga, namun tidak ada faktor genetic abnormal.
Genetic faktor di kaitkan dengan rinosinusitis kronik yaitu
pada penyakit cystic fibrosis, primary ciliary dyskinensis
(Kartaganers syndrom).

15

6. Pregnancy dan endocrine state


Selama pregnancy mengalami nasal congestion, terjadi
antara 1/5 dari wanita hamil. Patogenesisnya dari kelainan
tersebut belum dapat diterangkan. Ada beberapa teori yang
mencoba menjelaskan diantaranya efek langsung (direk)
hormonal diantaranya estrogen dan progresteron dan
placental growth hormon di rongga hidung.
7. Variasi anatomi seperti konka bulosa, septum deviasi dan
displacement

uncinate

process,

merupakan

faktor

potensial untuk terjadinya sinusitis. Kelainan anotomi


seperti tersebut menyebabkan aliran udara di meatal
kompleks terhambat. Demikian juga aliran sekret tidak
lancar.
Faktor lokal Fig. 96 (Boies, hal 240)
Dislokasi septum (septum deviasi)
Fig. 3.5 (Endoscopic Paranasal sinus surgery)
8. faktor environments
Asap rokok, sosial ekonomi rendah merupakan predisposisi
rinosinusitis.

16

Diagnosa
Assessment of rhinosinusitis symptoms.
Simtom rinosinusitis :
- nasal blockage, congestion atau stuffness
- nasal discharge atau postnasal drip, sering mukopurulen
- facial pain atau pressure, headache, dan
- reduction/loss of smell.
Selain local simtom tersebut diatas juga simtom jauh atau
general simtom. Simtom jauh diantaranya pharyngeal,
laryngeal, tracheal irritation menyebabkan sakit tenggorok,
disfonia dan batuk, sedangkan general simtom meliputi
ngantuk, malaise dan panas.

Pemeriksaan
Dengan rinoskopi anterior hasilnya tidak adekuat tetapi ini
merupakan langkah awal.

Endoscopi
Bisa dilakukan dengan atau tanpa decongestan, diperiksa
adakah sekret, edem,

polip. Biasanya tidak dilakukan

pemeriksaan sitologi bila tidak dicurigai suatu keganasan.

17

Fig. 6.2 (hal 111, Endoscopic Paranasal Sinus


Sergery)
Foto
Plain foto tidak sensitive dan kegunaannya terbatas
terutama untuk acute rinosinusitis. Dilakukan hanya untuk
screening keadaan potologi, dengan demikian tidak akurat
untuk diagnosis rinosinusitis kronik.
Photographs of x-ray
Fig. 88 (Boies, hal. 206)
Photographs dengan berbagai posisi perlu dilakukan dalam
kaitannya dengan kondisi klinik.
Fig.76 (Boies hal 177) The relative sinus positions terhadap
sekitarnya.
Fig. 103 (Boies, hal 267)
CT scanning adalah pilihan yang tepat, dapat menunjukkan
keadaan bentuk patologi dan anatomi. Namun jangan
dilakukan sebagai langkah pertama untuk diagnosis
rinosinusitis kecuali pada keadaan sangat diperlukan,
misalnya dicurigai tumor.

18

MRI bukan metode utama untuk mendiagnosis rinosinusitis


kronik, biasanya disertai CT scanning untuk melihat yang
lebih serius misalnya neoplasma.

Terapi rinosinusitis
Terapi

lokal

dengan

glukokortikoids

menyembuhkan

inflamasi yang disebabkan penyakit di upper (rinitis, polip)


dan lower (asma) airway. Efek klinik dari glucocorticoids
tergantung kepada kemampuan menurunkan infiltrasi
eosinofil di saluran napas dengan cara menurunkan
kelangsungan hidung dan aktivitas atau tidak langsung
menurunkan sekresi chemotactic sitokin oleh mukosa nasal
dan polip.
Oral corticosteroid oral sebagai ajuvan pada rinosinusitis
akut, dosis diberikan tigakali sehari selama 5 - 10 hari
bersama antibiotika.
Fig. 95 (Boies, hal 240)
area obstruksi jalan napas
Fig. 100 (Boies, hal 252)
Sklerosis konka inferior
Terapi antibiotik

19

Terapi antibiotik untuk penyembuhan klinik rinosinusitis


akut cukup efektif, pada penelitian dijelaskan dapat sampai
90% yang diberikan 14 hari.
Terapi antiobiotik juga diberikan untuk rinosinusitis kronik
Terapi antibiotik dikombinasi dengan topical corticosteroid
dan ajuvan yang lain diberikan selama 4 minggu semuanya
penderita menunjukkan perbaikan klinik.

Decongestan
Nasal decongestants efeknya pada acute rinosinusitis untuk
mengurangi congestion sehingga memperbaiki ventilasi
sinus, drainage dan simtomatic congestion hilang. Penelitian
membuktikan bahwa decongestan mengurangi congestion
ostial dan ostiomeatal complex

karena efek congestion

konka inferior dan media dan mukosa infundibular, tetapi


tidak berefek pada mukosa sinus ethmoid dan maksila.
Decongestion yang diberikan pada rinosinusitis kronik tidak
mempunyai efek pada congestion ostial.

Mucolytics

20

Mucolitik untuk mengencerkan viskositas sinus sekresi,


dapat diberikan pada rinosinusitis akut maupun kronik.
Dikatakan efeknya bermanfaat.
Irigasi nasal dan antrum (dengan larutan garam isotonik,
hipertonic

saline)

efeknya

cukup

signifikan

dalam

menghilangkan simtom. Disamping itu dapat meningkatkan


aktivitas nasal mucociliary clearance.

Treatment underlying predisposing factors


Infectious sinusitis sering kali berhubungan dengan alergi
dan asma. Infectious sinusitis sering merupakan komplikasi
rinitis alergi saluran napas bagian atas, kira-kira 50% anak
dan dewasa . Kira-kira 10% penderita dewasa rinosinusitis
dengan asma kronik menderita juga menderita aspirin
sensitivity syndrome: asma, nasal polip, sinusitis dan
penyakit menjadi makin parah bila terekspose aspirin atau
nonsteroidal anti-inflammatory drugs.
Penting sekali terapi underlying factors.

Surgery
Operasi (endoscopic sinus surgery) hanya untuk selektif
pasen rinosiusitis kronik yang tidak sembuh (responsive)
dengan medical treatment. FESS adalah terapi pilihan,
21

hasilnya baik dengan sedikit morbiditi dan cepat sembuh.


FESS

hasilnya

meningkatkan

dapat
quality

menghilangkan
of

life.

Paska

simtom
operasi

dan
terapi

dilanjutkan dengan antibiotik, steroids dan irigasi.


FESS berdasarkan kepada dua prinsip.
- Pertama, obstruksi di etmoid anterior dapat menyumbat
sinus maksila, frontal dan sinus etmoid posterior, biasanya
juga sinus sfenoid dan tuba eustachi. Atau penyakit
persistan di salah satu sinus kemungkinan karena penyakit
di etmoid anterior yang tidak terdiagnose. (Messerklinger,
1985)
- Ke dua, bila obstruksi di etmoid anterior dihilangkan,
drainase sinus-sinus lainnya kembali normal. Disamping itu,
mukosa yang sakit akan kembali normal bila drainase
adekuat.
Apabila hanya sinusitis

maksila, untuk membersihakan

sekret dalam sinus dapat dengan irigasi.


Fig. 104 (Boies, hal 268)
Irigasi sinus maksila, dengan trocar lewat meatus inferior
ditusukan kedalam sinus.

Komplikasi rinosinusitis
Di era pre antibiotic komplikasi rinosinusitis sering terjadi
dan sangat berbahaya, ke orbita, osseus dan endocranial Di
22

era sekarang, dengan perkembangan alat diagnose CT, MRI


dan

tersedianya

bermacam-acam

antibiotik

insiden

komplikasi menurun.
Komplikasi ke orbita biasanya terjadi dari etmoiditis jarang
dari sphenoidal infection. Infeksi menyebar langsung lewat
lapisan tipis dan sering lewat dehisensi lamina papirase atau
lewat vena. Macam-macam komplikasi orbital; periorbital
cellulitis, orbital cellulitis, orbital cellulitis, subperiosteal
abcsess.
Periorbital cellulitis ditandai dengan edem palpebra,
kemerahan

di sekitar kantus. Penyebaran dari sinus

maksila, edem dan eritema terjadi di palpebra inferior bila


dari sinus frontalis edem dan eritema terjadi di palpebra
superior.
Apabila dijumpai komplikasi perlu tindakan aggressive
treatment dan intravenous antiobiotika
Fig. 103 (Boies, hal 267)
Waters-Waldron position. Sinusitis maksila, ethmoid dan
Frontal
Fig. 112 (Boies, hal 282)
Penampilan orbital cellulitis berasal dari ethmoiditis akut.

23

. .

24