Anda di halaman 1dari 11

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS)

KORTIKOSTEROID TOPIKAL
Disusun Oleh :
Antari Nurayban G

1301-1208-0104

R. Moch. Reza Mahdi 1301-1208-0113

Preceptor :
Lies Marlysa Ramali, dr. Sp. KK (K)

BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2009

I. Pendahuluan
Hormon kortikosteroid yang alami berasal dari bahan dasar kortisol yang dihasilkan
dan dilepaskan oleh korteks adrenal. Fungsi hormon kortikosteroid adalah menjaga fungsi
hemostasis tubuh dengan mengatur aktivitas enzim dalam tubuh. Baik hormon
kortikosteroid alami maupun sintetik digunakan untuk diagnosis dan pengobatan gangguan
fungsi adrenal. Reseptor kortikosteroid ditemukan pada berbagai jenis sel seperti limfosit,
monosit/makrofag, osteoblas, sel hati, otot, lemak dan fibroblas. Hal ini menerangkan
mengapa kortikosteroid memberikan efek biologis terhadap begitu banyak sel.
Kedua kelenjar adrenal, yang masing-masing mempunyai berat kira-kira 4 gram,
terletak di kutub superior dari kedua ginjal. Tiap kelenjar terdiri atas 2 bagian yang berbeda,
yaitu medula adrenal dan korteks adrenal. Medula adrenal secara fungsional berkaitan
dengan sistem saraf simpatis yang mensekresi hormon epinefrin dan norepinefrin. Korteks
adrenal mensekresi kelompok hormon kortikosteroid. Korteks adrenal sendiri dibagi dalam
3 zona yang mensintesis berbagai steroid. Bagian luar yaitu zona glomerulosa menghasilkan
mineralokortikoid, yaitu aldosteron yang mempengaruhi keseimbangan elektrolit (mineral)
cairan ekstraselular, terutama natrium dan kalium. Tanpa mineralokortikoid, maka besarnya
konsentrasi ion kalium dalam cairan ekstraselular meningkat secara bermakna, konsentrasi
natrium dan klorida akan berkurang, dan volume total cairan ekstraselular dan volume darah
juga akan sangat berkurang. Pasien akan mengalami penurunan curah jantung yang dapat
berakibat kematian. Oleh karena itu mineralokortikoid dikatakan merupakan bagian
penyelamat nyawa dari hormon adrenokortikal. Bagian tengah, zona fasikulata dan
lapisan terdalam zona retikularis mensintesis glukokortikoid seperti kortisol/hidrokortison
dan androgen adrenal. Kortisol sendiri memiliki efek yang bermacam macam, beberapa
diantaranya adalah untuk merangsang proses glukoneogenesis (pembentukan karbohidrat
dari beberapa protein dan zat lain) oleh hati, penurunan pemakaian glukosa oleh sel-sel
tubuh, pengurangan protein sel di seluruh tubuh kecuali protein hati, mobilisasi asam lemak
dan efek anti inflamasi.
Sekresi

kortikosteroid

diregulasi

oleh

hormon

hipotalamus

yaitu

CRH

(Corticotropin Releasing Hormone). CRH kemudian akan memberi sinyal kepada hipofisis
anterior untuk mengeluarkan ACTH. ACTH ini akan merangsang sel fasikulata pada koterks
adrenal untuk mengeluarkan kortisol.

Penggunaan kortikosteroid topikal pertama kali diperkenalkan oleh Sulzberger dan


Witten pada tahun 1952 dengan menggunakan hidrokortison. Sejak itu kortikosteroid
topikal adalah obat yang paling umum diberikan dalam obat dermatologik.

II. Farmakologi
Kortisol dapat dimodifikasi dengan menambahkan/merubah gugus fungsional pada
suatu posisi. Menambahkan fluorin pada posisi 6 dan 9 akan meningkatkan potensi steroid,
juga mineralkortikoid. Menambahkan -hidroksil (triamkinolone), -metil (deksametason)
dan -metil (betametson) meningkatkan efisiensi senyawa tanpa menaikkan properti
penyimpanan sodium.
Potensi klinikal kortikosteroid tergantung tidak hanya dari potensi molekul, tetapi
juga dari vehikulum dan sifat kulit yang dipakaikan. Vehikulum adalah sangat penting,

karena mempengaruhi kuantitas steroid yang diberikan pada waktu tertentu. Sebagai contoh,
salep meningkatkan efek kortikosteroid karena menaikkan hidrasi dan permeabilitas pada
stratum korneum. Propilene glikol adalah vehikulum pelarut yang sering dipakai, sebab
senyawa yang mengandung proplilene glikol akan lebih poten.
Perawatan kulit sebelum pemberian kortikosteroid juga mempengaruhi penyerapan
ke dalam kulit; penggunaan zat keratolitik/pelarut lemak seperti aseton akan meningkatkan
penetrasi ke dalam kulit.
Sesuai dengan potensinya, kortikosteroid dibagi menjadi 7 kelas:
1.

Kelas I (super potent)


Krim Temovate 0.05% (klobetasol propionate)
Salep Temovate 0.05%
Krim Diprolene 0.05% (betametason dipropionat) (vehikulum optimal)
Salep Diprolene 0.05%(betametason dipropionat) (vehikulum optimal)
Salep Psorcon 0.05% (diflorason diasetat)
Krim Ultravate 0.05% (halobetasol propionat)

2.

Kelas II (potent)
Salep Cyclocort 0.1% (amkinonide)
Krim Diprolene AF 0.05% (betametason dipropionat) (vehikulum optimal)
Salep Diprosone 0.05% (betametason dipropionat) (vehikulum optimal)
Salep Florone 0.05% (diflorason diasetat)
Salep Elocon 0.1% (mometason furoate)
Krim Halog 0.1% (halkinonide)
Krim Lidex 0.05% (flukinonide)
Gel Lidex 0.05% (flukinonide)
Salep Lidex 0.05%(flukinonide)
Salep Maxiflor 0.05% (diflorason diasetat)
Krim Topicort 0.25% (deksometason)
Gel Topicort 0.05% (deksometason)
Salep Topicort 0.25%(deksometason)

3.

Kelas III
Salep Aricocort 0.1% (triamkinolone asetonide)
Salep Cutivate 0.005% (flutikason propionat)
Krim Cyclocort 0.1% (amkinonide)
Lotion Cyclocort 0.1% (amkinonide)
Krim Diprosone 0.05% (betametason dipropionat)
Krim Florone 0.05 (diflorason diasetat)
Krim Lidex A 0.05% (flukinonide)
Krim Maxiflor 0.05%(diflorason diasetat)
Salep Valisone 0.1% (diflorason diasetat)

4.

Kelas IV (setengah potensi)


Salep Cordran 0.05% (flurandrenolide)
Krim Elocon 0.1% (mometason furoat)
Krim Kenalog 0.1% (triamkinolone asetonide)
Foam/Busa Luxiq 0.12% (betametason valerat)
Salep Synalar 0.025% (fluorokinolon asetonide)
Salep Westcort 0.2% (hidrokortison valerat)

5.

Kelas V
Krim Cordran 0.05% (flurandrenolide)
Lotion Cordran 0.05% (flurandrenolide)
Krim Cutivate 0.05%(flutikason proprionat)
Lotion Diprosone 0.05% (betametason diproprionat)
Lotion Kenalog 0.1% (triamkinolone asetonide)
Krim Locoid 0.1% (hidrokortison butirat)
Krim Synalar 0.025% (fluokinolon asetonide)
Krim Valisone 0.1 (betametason valerat)
Krim Westcort 0.2% (hidrokortison valerat)

6.

Kelas VI (sedang)

Krim Aclovate 0.05% (aklometason dipropionat)


Salep Aclovate 0.05% (aklometason dipropionat)
Krim Aristocort 0.1% (triamkinolon asetonide)
Krim DesOwen 0.05% (desonide)
Krim Synalar 0.01% (fluokinolon asetonide)
Solusi Synalar 0.01% (fluokinolon asetonide)
Krim Tridesilon 0.05% (desonide)
Lotion Valisone 0.1% (betametason valerat)
7.

Kelas VII
Topikal dengan hidrokortison.
Deksametason, flumetson, prenisolon dan metilprednisolon

III. Kegunaan Klinis


Efektivitas kortikosteroid terkait pada 4 fungsi yang dimilikinya, yaitu:

Vasokonstriksi : menyebabkan konstriksi pada pembuluh kapiler di lapisan


dermis, sehingga mengurangi eritem.

Antiproliferasi : menghambat sintesa DNA dan mitosis

Imunosupresi : mensupresi sitokin, .jumlah sel mast, imunitas humoral


menghambat kemotaksis neutrofil.dan menyebabkan ekspansi jumlah sel B
berkurang

Anti-inflamasi : menghambat pembentukan prostaglandin dan fosfolipase A2


sehingga asam arakidonat tidak terbentuk, juga menghambat proses
fagositosis dan stabilisasi membran lisosom pada sel fagosit.

Yang perlu diperhatikan dalam memberi kortikosteroid topikal untuk mengobati


kelainan kulit adalah respons penyakit pada steroid, yakni sebagai berikut :
Respons tinggi
-Psoriasis ( intertrignous)

Respons sedang
-Psoriasis (tubuh)

Respons lemah
-Palmoplantar psoriasis

-Dermatitis atopik (anak-anak)

-Dermatitis atopik (dewasa)

-Psoriasis pada kuku

-Dermatitis seboroik Intertrigo

-Dermatitis numular

-Eksema dishidrotik

-Dermatitis iritan primer

-Lupus eritematosus

-Urtikaria papular

-Pempigus

-Parapsoriasis

-Liken planus

-Liken simpleks kronikus

-Granuloma anular
-Nekrobiosis

lipoidica

diabetikorum
-Sarkoidosis
-Dermatitis

kontak

alergik,

fase akut
Gigitan serangga
Diberikan :

Diberikan :

Diberikan :

Kortikosteroid dengan potensi

Kortikosteroid dengan potensi

Kortikosteroid dengan potensi

rendah

sedang

kuat

Lokasi dimana steroid diberikan juga menentukan efektivitas kortikosteroid topikal,


sebagai contoh: penetrasi kortikosteroid topikal pada kelopak mata dan skrotum 4 x lebih
kuat daripada melalui pelipis dan 36x lebih kuat daripada melalui telapak tangan ataupun
kaki. Kulit dengan denudasi, meradang dan lembab juga akan meningkatkan penetrasi.
Absorbsi kortikosteroid topikal oleh kulit adalah sebagai berikut :
Lengan 1%
Ketiak 4%
Muka 7%
Genitalia dan kelopak mata 30%
Telapak tangan 0,1%
Telapak kaki 0,05%

a. Kegunaan bagi pediatrik


Kortikosteroid topikal sangat efektif dan memiliki sedikit efek samping bila sediaan dengan
potensi rendah digunakan dalam waktu singkat pada penderita anak-anak.
Namun, bayi di bawah umur 1 tahun sangat rentan terhadap efek samping yang disebabkan
oleh kortikosteroid, karena:

Memiliki rasio yang lebih besar antara permukaan kulit dengan berat tubuh

Kurangnya metabolisme terhadap kortikosteroid

Kulit yang tipis, sehingga mengakibatkan penetrasi obat meningkat

Absorpsi kortikosteroid topikal yang berlebih dapat menekan produksi kortisol normal
dalam tubuh. Bila agen kortikosteroid topikal harus diberikan, maka pemberiannya haruslah
dapat dimonitor dengan teliti.
b. Kegunaan bagi geriatrik
Secara umum, hampir serupa dengan anak-anak. Sangat memerlukan penanganan dan
monitor yang tepat.
c. Pada Wanita yang Mengandung dan Menyusui:
Penggunaan kortikosteroid topikal belum pernah mengakibatkan kelainan janin, namun
harus tetap diwaspadai. Harus digunakan dengan hati-hati pada ibu menyusui dan tidak
diperbolehkan mengoleskan kortikosteroid pada buah dada sebelum menyusui.
IV. Dosis dan Formulasi
Penggunaan kortikosteroid 2 kali sehari biasa dicantumkan pada semua agen
kortikosteroid topikal , walau tidak ada bukti ilmiah yang mendukung. Untuk mengurangi
resiko dari efek samping dan takifilaksis, pemakaian dengan waktu jeda yang panjang amat
disarankan kepada pasien. Lama pemakaian kortikosteroid topikal sebaiknya tidak lebih dari
4-6 minggu untuk potensi lemah dan tidak lebih dari 2 minggu untuk potensi kuat.
Kortikosteroid topikal bisa diberikan dalam segala bentuk vehikulum. Salep
(campuran minyak/lemak dan petrolatum yang tidak dapat larut dalam air) merupakan
preparasi terbaik dalam menangani kondisi pada area yang berkulit tebal seperti telapak
tangan atau kaki. Salep mampu melembabkan stratum korneum sehingga meningkatkan

penetrasi dan potensi kortikosteroid. Satu-satunya keluhan adalah rasa berminyak pada area
yang dioleskan.
Krim (W/O) lebih mudah dioleskan, cocok secara kosmetik dibandingkan salep.
Namun vehikulum ini mengandung zat emulsif dan preservatif yang mungkin memicu
reaksi alergi.
Lotion (O/W) bermanfaat seperti krim karena melarutkan kortikosteroid dan
menyebar lebih mudah pada kulit. Cairan terdiri dari air, alkohol dan propilene glikol. Gel
adalah komponen padat pada suhu ruangan ,tetapi larut begitu dioleskan pada kulit. Lotion,
cairan dan gel kurang dapat menembus kulit, tetapi dapat dipakai pada area yang berambut
seperti kulit kepala, walaupun penderita akan mengeluhkan minyak pada kepala. Semprotan
yang mengandung steroid adalah cara mudah, tetapi kurang efisien sehingga jarang
digunakan.
Busa/foam adalah vehikulum terbaru yang sangat efisien, terpilih untuk digunakan
dalam kosmetik dan dapat ditoleransi dengan baik. Bila dioleskan pada kulit, suhu tubuh
akan memecahkan struktur busa dan membawa bahan aktif ke dalam kulit dengan residu
yang sedikit.
V. Efek Samping
1. Striae dan atrofi kulit : biasanya terjadi karena penggunaan yang lama (3-4 minggu).
Terjadi pada daerah aksila atau inguinal dan bersifat reversibel.
2. Steroid akne
3. Dermatitis perioral dan periocular : biasanya akan membaik dengan menghentikan
pemakaian
4. Retardasi pertumbuhan dan Iatrogenic Cushings syndrome: terjadi akibat supresi
aksis pituitari - adrenal
5. Dermatitis kontak alergi atau iritan
6. Hiperpigmentasi atau hipopigmentasi
7. Teleangiektasia
8. Hipertrikosis

Bruishing

Skin thinning

Stretch mark
VI. Interaksi Obat
Interaksi obat kortikosteroid topkal hanya sedikit yang diketahui, oleh karenanya
pemakaian obat ini sering dicampur dengan obat topikal lainnya seperti anti jamur dan
antibiotik untuk membentuk produk kombinasi baru. Namun, pembuatan produk kombinasi
yang baru ini tidak disarankan, bahkan ditolak oleh FDA karena para produsen tidak mampu
memberikan bukti adanya efektivitas dari masing-masing komponen.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Chrousos, George. Adrenocorticosteroids and Adrencortical


Antagonists. IN :Katzung BG, editor. Basic and Clinical Pharmacology. 9th ed.
USA : The McGraw-Hill Companies, Inc., 2004 : 641-658.

2.

Guyton, Arthur C; Hall, John E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.


Jakarta. EGC. 1997 : 1203-1219.

3.

Hamzah, Mochtar. Dermatoterapi. Dalam : Djuanda, Adhi, Hamzah,


Mochtar, Aisah, Siti, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 3. Jakarta.
Fakultas Kedokteran Indonesia. 2002 : 326 329.

4.

Mycek, Mary, Harvey, Richard, Champe, Pamela, Fisher, Bruce.


Kortikosteroid Adrenal. Dalam : Mycek, Mary, Harvey, Richard, Champe, Pamela,
Fisher, Bruce, editor. Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi 2. Jakarta. Widya
Medika. 1995 : 276 - 281.

5.

Valencia, Isabel, Kerdel, Fransisco. Topical Glukocorticosteroids.


IN : Wolff, Klaus, Jhonson, Richard, Suurmond, Dick, editor. Fitzpatricks Colour
Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi 5. USA : The McGraw-Hill
Companies, Inc., 2005 : 2324 - 2327.