Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Spasmofilia merupakan istilah yang sangat popular pada permulaan


abad 20 dan masih sering digunakan , di mana keadaan ini merujuk
pada suatu keadaan terdapatnya gejala subjektif yang samar-samar
berupa nyeri perut, nyeri kepala, kelelahan, gugup, vertigo,
kesemutan, berdebar, sesak, tercekik, muntah, kehilangan berat badan,
nyeri punggung dan nyeri haid yang disertai tanda-tanda tetani laten
dengan atau tanpa memperlihatkan tetani hiperventilasi.
Spasmofilia adalah suatu keadaan di mana saraf sargat peka terhadap
keadaan iskemik (tanda Trousseau, spasme karpal), perkusi saraf
(tanda Chvostek), stimulasi listrik (tanda Erb), atau alkalosis (spasme
karpal) dan tanda-tanda ini sangat umum didapat pada, orang-orang
yang mengalami tetani oleh sebab apapun.

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Defenisi
Dalam kamus kedokteran, spasmofilia diartikan sebagai suatu keadaan
di mana saraf motorik memperlihatkan sensitivitas yang abnormal
terhadap rangsangan mekanik atau listrik dan penderita menunjukkan
kemudahan untuk mendapatkan spasme, tetani dan kejang.
Spasmofilia atau tetani laten, telah lama dikenal sebagai gangguan
neurovegetatif

yang

ditandai

suatu

keadaan

hiperiritatif

neuromuskuler disertai tanda klinis, listrik dan humoral yang khas. Di


sini keadaan hiperiritatif neuromuskuler merupakan sifat dasar
spasmofilia. Pada keadaan spasmofilia ditemukan hipokalsemi sebagai
inti gangguan pada susunan saraf, walaupun pada keadaan tetani laten
yang idiopati kadar kalsium dalam darah hampir selalu normal
sehingga bentuk ini dinamakan juga spasmofilia.
Keadaan hiperiritatif susunan saraf pada spasmofilia sangat mencolok,
hal ini tampak bahwa kekuatan listrik galvanik terkecil masih
memberikan suatu reaksi. Spasmofilia yang merupakan suatu keadaan
hiperiritabel neuromuskuler dan memberikan beragam gambaran
klinis dapat dideteksi dengan baik oleh alat elektromiografi.
Pada pemeriksaan elektromiografi stimulus atau rangsangan akan
menimbulkan suatu potensial berupa gelombang listrik. Intensitas
rangsangan supra maksimal yang berbeda dapat memberi gelombang
potensial listrik yang berbeda pula. Penderita tertentu dapat sangat

peka terhadap stimulasi listrik dan hal ini berkaitan dengan keadaan
spasmofilia atau tetani laten.

II.2. Patofisiologi
Hipokalsemia yang sering terjadi pada spasmofilia atau tetani laten
terjadi akibat kelainan sistem regulasi homeostatik konsentrasi
kalsium darah. Di dalam darah, 45% total kalsium darah terikat
dengan albumin, 10% sebagai ion kompleks dan 45% sisanya dalam
bentuk ion. Fraksi ion yang diatur oleh hormon paratiroid dan vitamin
D ini ternyata sangat berpengaruh terhadap fungsi neuromuskuler dan
neuropsikiatrik. Secara fisiologis dan klinis, hipokalsemi sering terjadi
karena kekurangan hormon paratiroid, vitamin D, metabolit aktifnya
atau respon yang abnormal dari tulang, usus dan ginjal (target organ).
Gejala dan tanda akan Timbul bila konsentrasi ion kalsium dalam
darah di bawah 4 mg/dl atau 2 meg/l, dan ini kira-kira kurang dari 8
mg/dl total kalsium. Pada hipokalsemi yang kronik, sering didapatkan
kadar kalsium darah sekitar 5-6 mg/dl dan ini biasanya asimptomatik.
Rangsangan neuromuskuler diatur menurut hukum LOEB di mana ada
keseimbangan antara ion K, Na, OH di satu pihak dengan ion Ca, Mg,
H di lain pihak. Penurunan kadar kalsium atau jumlah kalsium total
dalam darah akan menuju ke arah hipereksitasi dalam arti praktis
hanya perlu pemeriksaan hipokalsemi yang merupakan tanda pokok.

Tempat asal aktivitas tetani masih diselidiki, yang jelas bahwa


tempatnya bukanlah pada otot itu sendiri dan diduga jaringan saraf
yang berperan dalam aktivitas tetani adalah pusat spinal, motor end
plate atau motorneuron di kornu anterior, sedangkan para psikolog
menganggap bahwa hiperiritabel neuromuskuler merupakan suatu
fenomena perifer yang meliputi motorneuron sampai motor end
plate.
Konsentrasi kalsium pada cairan serebrospinalis ternyata tetap konstan
pada keadaan hipokalsemi dan hiperkalsemi, di sini mungkin faktor
lain berperanan penting dalam mengatur jumlah kalsium pada jaringan
otak. Perubahan kadar kalsium ternyata tidak menunjukkan perubahan
pada elektroensefalografi.
Keluhan neurologi atau neuromuskuler paling sering sebagai
manifestasi dari keadaan hipokalsemi kronis yang tidak diobati.

II.3. Gambaran Klinis


Gejala klinis yang sering dikeluhkan sangat bervariasi dan tidak khas
misalnya, spasme laring, spasme karpopedal, epilepsi, migren
psikotik, nyeri perut, nyeri kepala, kelelahan, ketakutan, emosi labil,
vertigo, nyeri haid, kram otot, dan lainnya.
Serangan yang khas biasanya didahului oleh perasaan tingling pada
ekstremitas terutama tangan dan daerah mulut disertai oleh parestesi
di bibir dan lidah.

Perasaan tingling ini bertambah nyata dan menyebar ke proksimal


sampai daerah muka, beberapa saat kemudian timbul rasa tegang dan
spasme pada otot-otot mulut, tangan dan tungkai bawah. Keadaan
spasme ini juga meluas sampai ke muka bahkan ke bagian tubuh
lainnya.
Kontraksi tonik pada otot-otot distal lengan dan otot-otot interosel
menyebabkan gambaran spasme karpopedal di mana jari-jari dalam
keadaan fleksi pada persendian metakarpofalangeal dan ekstensi pada
sendi interfalangeal. Jari-jari dalam keadaan aduksi dan ibu jari dalam
keadaan aduksi dan ekstensi sedangkan pada kaki dijumpai plantar
fleksi

dipergelangan

kaki

dan

aduksi

jari-jari

kaki.

Pada rangsangan yang lebih hebat, otot-otot yang spasme menjadi


lebih luas, pada ekstrimitas atas siku menjadi fleksi; dan bahu
mengalami aduksi. Pada tungkai terjadi fleksi sendi lutut dan aduksi
paha. Otot-otot kepala juga mcngalarni spasme dengan trismus dan
retraksi pada sudut mulut (risus sardonikus) mata agak tertutup
(blefarospasme) dan bila otot-otot bulber kena terutama laring maka
terjadi laringospasme dengan stridor. Spasme pada otot-otot tubuh dan
leher rnemberi gambaran opistotonus serta sering didapatkan kejang
tonik klonik.
Dalam bentuk yang laten dapat memberi gambaran hiperiritabel
neuromuskuler dalam beberapa bentuk yaitu bentuk viseral berupa
gangguan digestif dengan kolik lambung dan muntah, bentuk
neurologis berupa serangan tetani dengan kejang epilepsi dan
penurunan kesadaran, sakit kepala, sedangkan bentuk lain berupa
bentuk neuropsikotik.
5

II.4. Etiologi
Meskipun pengaruh faktor-faktor psikik sangat jelas, namun tidak
dapat dianggap sebagai suatu penyakit neurotik atau neurastenik.
Dengan ditemukannya hipokalsemia dan hipomagnesia pada para
penderita spasmofilia harus difikirkan adanya suatu gangguan
metabolik dari kation-kation tersebut pada susunan saraf sebagai inti
gangguannya.
Hipokalsemi dapat disebabkan oleh keadaan-keadaan defisiensi
vitamin

D,

defisiensi

hormon

paratiroid,

pankreatitis

akut,

hiperfostatemia, defisiensi magnesium, sekresi berIebih hormon


adrenokortikal, keganasan, sindrom nefrotik, obat-obatan, transfusi
darah, kehilangan kalsium melalui urin, kondisi alkalosis (alkali,
hiperventilasi, obstruksi saluran cerna), kebutuhan kalsium yang
meningkat dan sepsis.

II.5. Pemeriksaan
Selain pemeriksaan elektromiografi pada penderita spasmofilia, dapat
diperiksa lebih dahulu tanda fisik yang berhubungan dengan
hiperiritabel sistem neuromuskuler.
Pemeriksaan tersebut antara lain: tanda Erbs (arus galvanik), tanda
Hoffman (mekanik, elektris, tanda Kashida (termik), tanda Pool
(tegangan), tanda Schlesinger (tegangan), tanda Schultze (ketukan),
tanda Lust (ketukan) dan tanda Hochisngers.

Salah satu tanda yang penting adalah tanda Chvostek yang


ditimbulkan melalui ketukan pada bagian lunak dari pertengahan garis
ujung telinga ke ujung mulut tepat di bawah apophyse zygomaticus.
Reaksi positif terdiri atas kontraksi muskulus orbikularis oris yang
terutama nyata pada bagian tengah bibir. Bila tanda ini meragukan
sebaiknya dilakukan dahulu hiperventilasi. Tanda Chvostek ini dikenal
ada 3 tingkatan yaitu :
1. bila reaksinya hanya di bibir
2. bila reaksinya menjalar ke ujung hidung
3. bila seluruh muka ikut berkontraksi
Tanda lain yang tak kalah pentingnya adalah tanda Trousseau,
kompresi lengan atas, baik dengan cara meremas atau mengikat
dengan torniket atau manset tensimeter, di mana mula-mula timbul
rasa kesemutan pada distal ekstremitas, kemudian timbul kejang pada
jari-jari dan tangan yang membentuk suatu konus. Modifikasi tehnik
ini dengan tehnik Von Bonsdorff di mana manset tensimeter
diperrtahankan selama 10 menit kemudian dibuka dan dilakukan
hiperventilasi akan mengakibatkan spasme yang khas (spasme
karpopedal) yang lebih cepat pada lengan yang iskemik dibanding
dengan lengan yang lain.
Elektromiografi
Turpin dan Kugelberg adalah orang yang pertama kali meneliti
tentang elektromiografi pada penderita tetani.
Spasme pada tetani selain disertai aksi potensial yang repetitif dan
ireguler pada motor unit, dan pada saat tetani selalu motor unit

potensial akan melepaskan muatan secara spontan berkekuatan 5-15


Hz.
Gambaran elektromiografi pada spasmofilia merupakan gambaran
yang khas dari manifestasi neuromuskuler perifer dan dimulai dengan
adanya fibrilasi dan fasikulasi serta bersamaan dengan meningkatnya
frekuensi akan terlihat twitching otot.
Gambaran khas tersebut berupa gambaran-gambaran doublets, triplets,
bahkan multiplets, pada monitor yang merupakan potensial aksi yang
repetitif di mana gelombang yang belakangan cenderung mempunyai
amplitudo yang lebih besar.
Gambaran ini diduga ada hubungannya dengan tempat di kornu
anterior dan beberapa peneliti menduga hal ini sebagai suatu
fenomena perifer yang meliputi motor neuron sampai motor end plate,
walaupun secara keseluruhan belum jelas benar mekanismenya.
Gambaran elektromiografi yang khas ini tidak pada keadaan
hiperiritabel lainnya.
Derajat spasmofilia dapat dibagi dalam beberapa tingkat dengan
melihal gambaran elektromlografi yang dilakukan bersamaan dengan
pemeriksaan Trousseau dan hiperventilasi yaitu ringan, sedang, berat
dan sangat berat.
1. + ringan : 2-6 potensial repetitif yang berlangsung selama
masa lebih dari 2 menit setelah hiperventilasi.
2. ++ sedang : banyak kelompok potensial repetitif yang
berlangsung lebih dari 2 menit setelah hiperveutilasl atau 2-6

potensial repetitif selama masa lebih dari 2 menit setelah


iskemik.
3. +++ berat : tetani yang nyata setelah hiperventilasi atau lebih
dari 6 kelompok potensial repetitif permenit selama sekurang kurangnya 2 menit setelah iskemik 10 menit.
4. ++++ sangat berat : tetani yang nyata atau kelompok potensial
repetitif

yang

terjadi

selama

fase

iskemik

Gambar spasmofilia

II.6. Diagnosis
Diagnosis

spasmofilia

dapat

ditegakkan

dengan

anamnesis,

pemeriksaan fisik neurologis dan laboratoris, pemeriksaan penunjang


elektromiografi.
Pada anamnesis, didapatkan penderita dengan keluhan-keluhan nyeri
kepala, nyeri perut, nyeri haid, kram otot, epilepsi, migren, vertigo,

ketakutan emosi yang labil, kesemutan, bahkan pada penderita dengan


gejala-gejala psikotik.
Dari pemeriksaan fisik neurologis sangat mungkin timbul tanda-tanda
hiperiritabel neuromuskuler. Di samping tanda-tanda Erbs, Hoffman,
Weiss, Lust dan lain-lain, yang sangat penting adaah tanda fasial dari
Chvostek, tanda Trousseau, serta pemeriksaan hiperventilasi.
Pemeriksaan laboratoris terutama ditunjukkan pada pemeriksaan ionion kalsium, magnesium serta pemeriksaan lain misalnya kalium,
fosfat dan analisa gas darah.
Yang paling penting adalah pemeriksaan elektromiografi di mana
gambaran

doublets,

triplets

dan

multiplets

yang

merupakan

manifestasi hiperiritabel saraf dan sensitivitas saraf adalah khas untuk


spasmofilia.

II.7. Pengobatan
Pada keadaan akut dapat diberikan kalsium, terutama kalsium
glukonas 10% sebanyak 10-20 mililiter intravena atau secara oral
diberikan kalsium laktat 12 gram/hari atau kalsium glukonas 16
gram/hari. Bila hipokalsemi sangat berat dapat diberikan 100 milliliter
kalsium glukonas 10% dalam 1 liter dektrose 5% secara lambat, lebih
dari 4 jam.
Bila masih belum dapat mengatasi tetani, dapat diberikan magnesium
karena tetani sering berhubungan dengan hipomagnesia dengan dosis
2 mililiter magnesium sulfat 50% secara intra muskuler.
10

Di samping hal tersebut di atas, dapat diberikan juga hidroklortiazid


(HCT) dengan dosis 50-100 miligram/hari, vitamin D, koreksi pH
darah bila ada alkalosis dan hormon paratirold.
Sebagai tambahan dapat diberikan obat-obat penenang. Tizanidine,
bekerja sebagai miotonolitik untuk mengatasi spasme dan juga berefek
analgesik.

BAB III
KESIMPULAN

Spasmofilia diartikan sebagai suatu keadaan di mana saraf motorik


memperlihatkan sensitivitas yang abnormal terhadap rangsangan

11

mekanik atau listrik dan penderita menunjukkan kemudahan untuk


mendapatkan spasme, tetani dan kejang.
Gejala klinis yang sering dikeluhkan sangat bervariasi dan tidak khas
misalnya, spasme laring, spasme karpopedal, epilepsi, migren
psikotik, nyeri perut, nyeri kepala, kelelahan, ketakutan, emosi labil,
vertigo, nyeri haid, kram otot, dan lainnya.
Diagnosis

spasmofilia

dapat

ditegakkan

dengan

anamnesis,

pemeriksaan fisik neurologis dan laboratoris, pemeriksaan penunjang


elektromiografi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Stron, J., 1954: EEG abnormalities in hypoparathyroidism and


spasmophilia. Ann Endocrinol: 490-492

12

2. Vlies R. van der: Spasmofilie. Orthomole-culairnr.l, 1988, p.


33. (Dutch language) and Orthomolekular nr.2, 1988, p. 71
(German language).
3. Loss of consciousness and spasmophilia. Geraud, J.; et al
Annales Mdico-Psychologiques, Vol 2(5), 1967, 816.

13

Anda mungkin juga menyukai