Anda di halaman 1dari 27

PROPOSAL SKRIPSI

DESAIN ECONOMIZER PADA WATERTUBE BOILER UNTUK


SISTEM PLTU DENGAN KAPASITAS 80 MW

Oleh :
DEVI PERMATA
111724008

TEKNOLOGI PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK


TEKNIK KONVERSI ENERGI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI

DESAIN ECONOMIZER PADA WATERTUBE BOILER UNTUK


SISTEM PLTU DENGAN KAPASITAS 80 MW

Oleh
DEVI PERMATA
111724008

Menyetujui :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. MARIDJO ,MT.

IKA YULIYANI, ST.,MT.

NIP. 19580219 198603 1 003

NIP. 19720328 200212 2 001

Mengetahui,
Koordinator Skripsi,

Ir. TEGUH SASONO, MT.


NIP. 19640607 199512 1 001
ii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI .............................................................ii


DAFTAR ISI........................................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
I.1

Latar Belakang .......................................................................................................... 1

I.2

Tujuan ........................................................................................................................ 2

I.3

Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2

I.4

Batasan Masalah ....................................................................................................... 2

I.5

Metodelogi .................................................................................................................. 2

I.6

Sistematika Penulisan ............................................................................................... 3

BAB II

LANDASAN TEORI ............................................................................................. 5

II.1

Siklus Rankine ........................................................................................................... 5

II.2

Economizer ................................................................................................................. 6

II.3

Economizer Construction........................................................................................... 7

II.4

Perpindahan Panas ................................................................................................... 8

II.5

Perpindahan Panas Konveksi .................................................................................. 8

II.6

Perhitungan Penyerapan Panas ............................................................................... 8

II.6.1

Kapasitas Pembangkitan Energi ...................................................................... 9

II.6.2

Penentuan Aliran ............................................................................................... 9

II.7

Koefisien Perpindahan Panas Konveksi Keseluruhan (U) .................................. 10

II.7.1

Perencanaan Pipa ............................................................................................. 10

II.7.2

Koefisien Perpindahan Panas dalam Pipa Ekonomiser ............................... 11

II.7.3

Koefisien Perpindahan Panas Luar Pipa (ho) ............................................... 12

II.8

Lintasan Pipa yang Dibutuhkan ............................................................................ 18

II.9

Persamaan Pressure Drop Pipa ............................................................................. 18

II.10

Rugi Rugi Belokan pada Pipa............................................................................. 19

BAB III

PERANCANGAN ALAT .................................................................................... 20

III.1

Perancangan Economizer .................................................................................... 20

III.2

Tahap Perancangan............................................................................................. 21

III.3

Rencana Jadwal Pengerjaan Skripsi ................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 23

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1Siklus Rankine Ideal ......................................................................................6


Gambar II.2 Economizer Construction .............................................................................7
Gambar II.3 Hubungan Aliran Silang Fluida Uap dan Gas Terhadap Temperatur ....9
Gambar II.4 Stagered tube .................................................................................................12
Gambar II.5 Finned Tube ...................................................................................................13
Gambar II.6 Grafik Efisiensi Sirip ....................................................................................17
Gambar III.1 Sistem PLTU ................................................................................................20

iv

BAB I
PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
PLTU Krakatau Daya Listrik merupakan pembangkit listrik 80 MW. PLTU yang

merupakan singkatan dari pembangkit listrik tenaga uap adalah pembangkit listrik yang
memanfaatkan energi uap untuk menghasilkan listrik. Adapun komponen utama dari PLTU
diantaranya adalah boiler, turbin uap, kondensor dan juga pompa. Pada PLTU air umpan masuk
ke bolier kemudian diberi panas sehingga menjadi uap superheat. Uap superheat kemudian
menggerakan turbin uap dimana turbin uap dikopel dengan generator dimana rotor di generator
ikut berputar sehingga menghasilkan energi listrik.
Boiler atau steam generator adalah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan
ke air sampai terbentuk air panas atau steam. Air panas atau steam pada tekanan tertentu
kemudian digunakan untuk mengalirkan panas ke suatu proses.
Sistem boiler terdiri dari: sistem air umpan, sistem uap dan sistem bahan bakar. Sistem
air umpan menyediakan air untuk boiler secara otomatis sesuai dengan kebutuhan steam.
Berbagai kran disediakan untuk keperluan perawatan dan perbaikan. Sistem uap
mengumpulkan dan mengontrol produksi uap dalam boiler. Uap dialirkan melalui sistem
pemipaan ke titik pengguna. Pada keseluruhan sistem, tekanan uap diatur menggunakan kran
dan dipantau dengan alat pemantau tekanan. Sistem bahan bakar adalah semua peralatan yang
digunakan untuk menyediakan bahan bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
Peralatan yang diperlukan pada sistem bahan bakar tergantung pada jenis bahan bakar yang
digunakan pada sistem. Untuk bahan bakar yang digunakan pada boiler ini adalah bahan bakar
batubara.
Salah satu komponen di boiler adalah economizer. Economizer pada dasarnya adalah
turbular heat transfer surface yang berfungsi untuk memanaskan air umpan sebelum masuk
ke drum boiler. Economizer juga berfungsi untuk memperingan proses penguapan pada
evaporator.

I.2

Tujuan
Tujuan yang diharapkan dari skripsi ini adalah:
1.

Membuat simulasi sistem PLTU dengan kapasitas 80 MW dengan menggunakan


cycle tempo;

2.

Merancang economizer dengan material yang cocok untuk PLTU kapasitas 80MW;

3.

Menentukan kinerja yang dapat dihasilkan oleh economizer tersebut berdasarkan


pada hasil perhitungan perpindahan panas dan pengaruh dari materialnya.

I.3

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam skripsi ini adalah:
Menggunakan software cycle tempo dalam membuat simulasi PLTU berkapasitas
80 MW;
Desain awal economizer dilakukan dengan perhitungan termodinamika dan
perpindahan panas;
Membahas efisiensi dan kondisi material dari desain economizer tersebut.

I.4

Batasan Masalah
Sistem PLTU yang digunakan menggunakan pemodelan sistem PLTU dengan
software cycle tempo;
Perhitungan desain awal economizer dan sistem PLTU dilakukan dengan
menggunakan data operasi;
Perencanaan perhitungan mencakup dimensi dan material economizer.

I.5

Metodelogi
Studi Pustaka
Metode ini merupakan suatu metode dimana buku-buku dan internet dijadikan
sumber penunjang pembuatan skripsi, serta berbagai referensi dari skripsi / TA
tahun-tahun sebelumnya.
Diskusi
Diskusi dilakukan secara tanya jawab dengan pembimbing dan staf pengajar
lainnya dalam pengerjaan skripsi.

Perancangan Desain Sistem PLTU


Untuk metode ini dilakukan dengan merancang sistem dengan menggunakan
software cycle tempo. Dimana di dalam software tersebut, dapat dilakukan simulasi
dan heat balance pada system dapat langsung diketahui.
Perancangan Desain Economizer
Untuk merancang economizer, dilakukan dengan menganalisa dari bagian
perpindahan panasnya terlebih dahulu. Kemudian menentukan dimensi economizer
dan jumlah tube-tube pada economizer. Kemudian untuk desain dan material
menggunakan software Solidworks 2013.
Pembuatan Laporan
Pembuatan laporan merupakan hasil dari perancangan desain economizer untuk
sistem PLTU 80 MW.
I.6

Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi tentang latar belakang, tujuan skripsi, rumusan masalah, batasan
masalah, metode yang digunakan dalam pembuatan skripsi, dan sistematika penulisan
skrpsi.

BAB II DASAR TEORI


Pada bab ini berisi tentang dasar-dasar teori yang berkaitan dengan tema yang diambil
oleh penulis yaitu perancangan economizer, sehingga penulis mampu merancang
sebuah economizer untuk PLTU kapasitas 80 MW.

BAB III PERANCANGAN ECONOMIZER


Pada bab ini berisi tentang tahapan-tahapan perancangan dari economizer. Tahapantahapan ini berupa perhitungan perpindahan panas hingga menyeleksi material yang
cocok.

BAB IV ANALISA PERANCANGAN


Pada bab ini berisi tentang analisa-analisa dari perhitungan perpindahan panas pada
economizer.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil perancangan economizer untuk sistem
PLTU kapasitas 80 MW, serta material-material yang cocok.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Siklus Rankine


Siklus Rankine adalah siklus termodinamika yang mengubah panas menjadi kerja.
Panas disuplai secara eksternal pada aliran tertutup, yang biasanya menggunakan air sebagai
fluida yang bergerak. Siklus ini menghasilkan 80% dari seluruh energi listrik yang dihasilkan
di seluruh dunia. Siklus ini dinamai untuk mengenang ilmuwan Skotlandia, William John
Maqcuorn Rankine.
Siklus Rankine adalah model operasi mesin uap panas yang secara umum ditemukan di
pembangkit listrik. Sumber panas yang utama untuk siklus Rankine adalah batu bara, gas alam,
minyak bumi, nuklir, dan panas matahari.
Siklus Rankine kadang-kadang diaplikasikan sebagai siklus Carnot, terutama dalam
menghitung efisiensi. Perbedaannya hanyalah siklus ini menggunakan fluida yang bertekanan,
bukan gas. Efisiensi siklus Rankine biasanya dibatasi oleh fluidanya. Tanpa tekanan yang
mengarah pada keadaan super kritis, range temperatur akan cukup kecil. Uap memasuki turbin
pada temperatur 565 oC (batas ketahanan stainless steel) dan kondenser bertemperatur sekitar
30 oC. Hal ini memberikan efisiensi Carnot secara teoritis sebesar 63%, namun kenyataannya
efisiensi pada pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 42%.
Fluida pada Siklus Rankine mengikuti aliran tertutup dan digunakan secara konstan.
Berbagai jenis fluida dapat digunakan pada siklus ini, namun air dipilih karena berbagai
karakteristik fisika dan kimia, seperti tidak beracun, terdapat dalam jumlah besar, dan murah.
Untuk siklus rankine dapat dilihat pada Gambar II.1Siklus Rankine Ideal.
Terdapat 4 proses dalam siklus Rankine, setiap siklus mengubah keadaan fluida
(tekanan dan/atau wujud).

Gambar II.1Siklus Rankine Ideal

Proses 1: Fluida dipompa dari bertekanan rendah ke tekanan tinggi dalam bentuk cair.
Proses ini membutuhkan sedikit input energi.

Proses 2: Fluida cair bertekanan tinggi masuk ke boiler di mana fluida dipanaskan
hingga menjad uap pada tekanan konstan menjadi uap jenuh.

Proses 3: Uap jenuh bergerak menuju turbin, menghasilkan energi listrik. Hal ini
mengurangi temperatur dan tekanan uap, dan mungkin sedikit kondensasi juga terjadi.

Proses 4: Uap basah memasuki kondenser di mana uap diembunkan dalam tekanan
dan temperatur tetap hingga menjadi cairan jenuh.
Dalam siklus Rankine ideal, pompa dan turbin adalah isentropik, yang berarti pompa

dan turbin tidak menghasilkan entropi dan memaksimalkan output kerja. Dalam siklus Rankine
yang sebenarnya, kompresi oleh pompa dan ekspansi dalam turbin tidak isentropik. Dengan
kata lain, proses ini tidak bolak-balik dan entropi meningkat selama proses. Hal ini
meningkatkan tenaga yang dibutuhkan oleh pompa dan mengurangi energi yang dihasilkan
oleh turbin. Secara khusus, efisiensi turbin akan dibatasi oleh terbentuknya titik-titik air selama
ekspansi ke turbin akibat kondensasi. Titik-titik air ini menyerang turbin, menyebabkan erosi
dan korosi, mengurangi usia turbin dan efisiensi turbin. Cara termudah dalam menangani hal
ini adalah dengan memanaskannya pada temperatur yang sangat tinggi.
II.2 Economizer
Economizers pada dasarnya pipa permukaan perpindahan panas yang digunakan untuk
memanaskan air umpan boiler sebelum memasuki drum boiler. Air ini berasal dari elemen
pemanas feed water heater. Hal itu untuk kebutuhan

pemanasan

air

umpan

bertekanan. Dengan mengambil energi dari gas buang sebelum habis ke atmosfer ini
melakukan fungsi kunci dalam memberikan efisiensi termal boiler keseluruhan yang tinggi.
Fungsi dari ekonomiser adalah untuk memperingan proses penguapan pada evaporator.
II.3 Economizer Construction
Economizer dirancang dalam dua konfigurasi konstruksi dasar. Economizer dibuat dari
pipa boiler baja melewati lembar tabung, seperti boiler firetube. Sebagai pembuangan efluen
melewati atau sekitar tabung tersebut mengalihkan panas ke air umpan di sisi shell dari
economizer. Desain ini berkaitan dengan efisiensi rata-rata 45-75 persen.
Desain economizer alternatif yang mendapatkan penerimaan luas adalah horizontal
high-efficiency condensing economizer. Desain ini dibangun dari exhaust stainless steel chest
dan pipa penukar panas thin-wall high tensile. Air yang mengalir melalui tabung, yang
dipasang di exhaust chest, menyerap panas transien gas buang. Condensing Economizers dapat
mencapai efisiensi hingga 85% di tumpukan kecepatan yang sangat rendah. Sebuah siku
kondensat breech dan drain diperlukan dalam kondensasi aplikasi.

Gambar II.2 Economizer Construction

II.4 Perpindahan Panas


Perpindahan panas adalah proses terjadinya perpindahan energi yang disebabkan
adanya perbedaan tekanan dan temperature. Ilmu perpindahan panas mencakup hukum-hukum
termodinamika yaitu hukum pertama dan hukum kedua. Hukum kedua termodinamika berisi
tentang : tidak mungkin bagi sistem apapun untuk beroperasi sedemikian rupa sehingga hasil
tunggalnya akan berupa suatu perpindahan energy dalam bentuk kalor dari benda yang lebih
dingin ke benda yang lebih panas. (Claucius).
II.5 Perpindahan Panas Konveksi
Perpindahan panas secara konveksi adalah perpindahan panas yang terjadi di antara
permukaan padat dengan aliran gas atau cairan. Panas yang dipindahkan pada proses konveksi
ini dapat berupa panas laten dan panas sensible. Panas laten adalah panas yang menyertai
perubahan fasa akibat adanya perbedaan temperature dan tekanan. Panas sensible adalah panas
yang tidak disertai perubahan fasa, walaupun adanya perbedaan temperatur dan tekanan.
Perpindahan panas secara konveksi terbagi 2 yaitu :
1. Konveksi Paksa
Konveksi paksa adalah terjadinya proses perpindahan panas dikarenakan ada
sirkulasi lain, sehingga perubahan temperature menjadi cepat.
2. Konveksi Alamiah

Konveksi alamiah adalah terjadi proses perpindahan secara alami karena fluida yang
berubah densitasnya karena proses pemanasan bergerak naik.
II.6 Perhitungan Penyerapan Panas
Konsep untuk perancangan economizer dalam boiler ini adalah perpindahan panas.
Sehingga area perpindahan panas harus diperhitungkan.
Q = U A LMTD ............................................................................................. (2. 1)
Keterangan :
Q= Panas yang diserap oleh pipa (J/s)
A= Luas perpindahan panas yang dibutuhkan
U= Koefisien perpindahan panas menyeluruh (W/m2)
LMTD= Log Mean Temperature Different (C)

Berdasarkan persamaan umum diatas maka nilai area yang dibutuhkan untuk
perpindahan panas bisa kita peroleh. Maka, dibawah ini merupakan tahapan tahapan
untuk memperoleh nilai area tersebut.
II.6.1 Kapasitas Pembangkitan Energi
Kesetimbangan energi laju aliran massa uap dapat diperoleh dari hukum
kesetimbangan kalor (Moran, 2003)

= . ...........................................................................................................
(2.2)
Keterangan:
= perbedaan entalpi [kJ/kg]
= laju alir massa uap [kg/s]
II.6.2 Penentuan Aliran
Perancangan ini diawali dengan menentukan LMTD yang merupakan perbedaan
temperatur rata rata berdasarkan arah aliran yang terjadi antara gas buang dengan pipa pipa
di dalam boiler. Pada umumnya arah aliran untuk pipa superheater dan ekonomiser
menggunakan konveksi berlawanan arah, dimana gas mengalir dari bawah ke atas
melewati pipa pipa yang di dalamnya air bergerak berlawanan arah, sedangkan untuk
pipa evaporator mengalami konveksi searah, sehingga LMTD keduanya memiliki nilai yang
berbeda. LMTD untuk aliran yang berlawanan arah lebih kecil bila dibandingkan
terhadap konveksi satu arah, hal ini juga berpengaruh terhadap area perpindahan panas
keduanya.

Gambar II.3 Hubungan Aliran Silang Fluida Uap dan Gas Terhadap Temperatur

(Incropera, 2003)

10

Gambar II.3 merupakan rangkaian pipa yang dilalui oleh gas buang, berdasarkan
arah aliran fluidanya maka dapat ditentukan nilai Log Mean Temperatur Different
(LMTD) dengan persamaan sebagai berikut (Holman, 1998)

................................................................................... (2. 3)

Untuk menentukan LMTD tersebut maka dihitung terlebih dahulu untuk nilai ,
setelah itu maka klasifikasikan nilai maksimum dan minimumnya. Maka akan didapatkan nilai
LMTD yang selanjutnya dapat diaplikasikan ke dalam persamaan 2.1
II.7 Koefisien Perpindahan Panas Konveksi Keseluruhan (U)
Besarnya harga koefisien perpindahan kalor menyeluruh (U) dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan berikut (Hewitt,1994):
1
U

hi( )

+ . +

1
0 .0

......................................................................... (2. 4)

dimana
hi = Koefisien konveksi dalam pipa [W/m2.oC]
Ac / Ah = Perbandingan luas pipa bagian dalam dengan luas pipa yang menyerap kalor
Ah . Rw = Tahanan konduksi pipa superheater [m2.oC/W]
Ho = Koefisien konveksi gas buang [W/m2.oC]
o = Efektivitas sirip bagian luar [%]
Setelah didapatkan nilai koefisien perpindahan panas konveksi keseluruhan tersebut, maka
dapat diaplikasikan ke dalam persamaan 2.1
II.7.1 Perencanaan Pipa
Untuk merancang boiler yang terdiri atas pipa pipa, diperlukan asumsi dimensi pipa
yang ditentukan terlebih dahulu, seperti diameter luar (d o) diameter dalam (di) maupun
ketebalan (t). Penentuan ini dberdasarkan standar pemilihan material yang biasa digunakan

11

di pembangkit. Selanjutnya untuk menentukan jumlah pipa maka digunakan persamaan


sebagai berikut:
=

+ .......................................................................................................................(2.5)

Dimana :
Lb = panjang pipa aktif [m]
p1 = Jarak antara dua titik pusat pipa
Selanjutnya kekuatan pipa untuk mampu menahan tekanan pun perlu diperhatikan,
maka kekuatan material pipa ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

.
.

.................................................................................................. (2. 6)

P = Tekanan yang terjadi pada pipa


S = tegangan tarik yang diijinkan [psia]
t = tebal pipa [m]
II.7.2 Koefisien Perpindahan Panas dalam Pipa Ekonomiser
Koefisien perpindahan panas dalam pipa dapat ditentukan pada kondisi temperatur
uap rata rata dan tekanan tertentu. Selanjutnya didapat harga , k, dan Pr. Kemudian
kecepatan aliran uap dihitung melalui persamaan (Hewitt, 1994) :
Vu =

u .v
.1

......................................................................................................................(2. 7)

Vu = Kecepatan aliran uap dalam pipa (m/s)


u = laju aliran uap (kg/s)
n

= jumlah pipa

= Volume jenis uap (m3/kg)

Kecepatan aliran uap tersebut digunakan untuk menghitung bilangan Reynold pada
persamaan 2.8. Besarnya koefisien perpindahan panas dalam pipa dianalisa berdasarkan harga
bilangan persamaan bilangan Reynold (Hewitt, 1994) :

12

. .

..................................................................................................................(2. 8)

dengan :

= Massa jenis uap pada HP superheater [kg/m3]

= Viskositas dinamik uap [kg/m.s]

Di = Diameter dalam [m]


Jika aliran yang terjadi adalah turbulen, Re > 4000, maka hi dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut :
hi =

....................................................................................................... (2. 9)

K = Konduktivitas thermal uap uap [W/moC]


Dengan harga bilangan Nusselt dapat dihitung bersadarkan persamaan 2.10
Bilangan Nusselt dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Nu = 0.023 Re0.8. Pr0.4 ...........................................................................................................(2. 10)

II.7.3 Koefisien Perpindahan Panas Luar Pipa (ho)


Susunan pipa pada boiler terdiri dari beberapa konfigurasi pipa, dilihat dari susunan
pipa yang membentuk sudut. Darisana bisa kita rencanakan jumlah pipa dan aliran gas pada
rangkaian luar pipa. Berikut ialah konfigurasi pipa yang sering digunakan:
1. Pipa stagered
2. Pipa bersirip
Pipa Stagered

Gambar II.4 Stagered tube

(Hewitt, 1994)

13

Pada gambar II.4 merupakan susunan pipa yang akan dirancang. Susunan
tersebut dinamakan dengan susunan staggered (selang seling). Hal ini dipilih

agar

perpindahan panas terjadi merata. Perpindahan panas dengan rangkaian tersebut cocok
digunakan untuk pemanas berupa gas buang karena laluan pipa yang rapat.
Pipa Sirip

Gambar II.5 Finned Tube

(Hewitt, 1994)
Pada gambar II.5 terlihat bahwa pipa yang digunakan merupakan jenis pipa bersirip.
Hal ini berguna untuk menyaring gas buang sebelum ke atmosfer dan agar luas perpindahan
panas semakin besar. Pipa jenis ini digunakan pada desain economizer di PT. KDL.
Selanjutnya, tahapan untuk menghitung perpindahan panas dalam pipa adalah sebagai
berikut (Hewitt, 1994) :
1. Menghitung bilangan Reynold untuk mencari koefisien perpindahan luar
pipa untuk pipa bersirip.
=

.................................................................................................(2. 25)

g = massa jenis gas


Dh = diameter hidrolik [m]
2. Menghitung kecepatan gas
Dengan vmax merupakan kecepatan maksimum untuk gas buang yang melalui
rangkaian pipa stagerred. Maka vmax dihitung sebagai berikut:
=

..................................................................................................( 2. 26)

= laju aliran gas buang. [kg/s]

14

g = massa jenis gas buang pada T gas buang masuk [kg/m3]


3. Menghitung Luas Area Minimum
Aliran gas melewati rangkaian pipa luar dan memiliki luas permukaan
minimum surface area minimum, (Smin) yang dilewati pipadihitung
dengan persamaan
2

Smin = 2NL [p1 Dr (+)] ........................................................ (2. 27)


4. Menghitung Bilangan Nusselt
Untuk menghitung bilangan Nusselt pada sisi gas dengan susunan
stagerred dapat menggunakan persamaan atas dasar korelasi Grimson
dengan memasukan data

pada sumbu x dan

pada sumbu y, maka

diperoleh nilai B dan N seperti pada tabel dibawah ini

Tabel II.1 Grimson Number

15

Didapat nilai B dan N


Nu = B RegN ................................................................................................................................ (2. 28)
Maka harga perpindahan panas luar pipa dapat dihitung
=

.........................................................................................................( 2. 29)

Nu = bilangan Nusselt
k = konduktivitas gas buang [W/mC]
dh = diameter hidrolik [m]
5. Menghitung Luas Permukaan Sirip [Af]
Pada perancangan pipa-pipa boiler ini, dirancang menggunakan sirip
untuk menyediakan luas permukaan perpindahan panas yang dibutuhkan
menurut (Hewitt ,1994). Maka Af dapat dihitung sebagai berikut :
=

[ ( ) + ] .........................................................(2. 30)

(+)

N = Jumlah pipa [buah]


L = panjang pipa [m]
w = tebal sirip [m]
s = jarak antar sirip [m]
Df = diameter sirip [m]
Dr = Diameter akar sirip = Do [m]
6. Menghitung luas permukaan di antara tube (Aw)
Pipa HRSG satu dan yang lainnya memilki jarak tertentu, sebagai laluan
gas.

Kemudian

jarak

jarak

tersebut

membentuk

suatu

luas

permukaan, yang dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut :


=

() ........................................................................................(2. 31)
(=)

16

7. Menghitung luas permukaan total dari sejumlah pipa bersirip sepanjang


1 meter (Ah)
Ah = Af + Aw ....................................................................................................( 2. 32)
8. Menghitung Luas permukaan area tanpa sirip (Abt)
Abt = nLdr .......................................................................................................................................... (2. 33)
n

= jumlah pipa (buah)

9. Menghitung Surface area frontal (So)


Merupakan keseluruhan area yang dilewati pipa secara frontal
So = [(N x Dr)+ (P1 x Dr) x (N 1)] xL .......................................... (2. 34)
10.

Menghitung Tahanan Konduksi pada pipa (AhRw)

AhRw =

............................................................................... (2. 35)

Dimana Ac/Ah merupaka perbandingan luas permukaan dalam pipa dan


luas total yang menyerap panas, maka Ac/ah dihitung sebagai berikut
Ah=A

............................................................................................. (2. 36)

dimana
Dh = p1 x 4 ......................................................................................... (2. 37)

p1 = Jarak antar pipa transfersal (m)


Aa = Luas perpindahan permukaan yang menyerap panas ( m2)
Ah =: Luas permukaan total (m)
Aa= ( p1 - do ) L 2 ( 1. wf. nf) ........................................................... (2. 38)
wf = tebal sirip [m]

17

nf = banyaknya sirip [m]


11.

Menghitung Efisiensi sirip


Berdasarkan gambar II.6 efisiensi sirip ditentukan berdasarkan hasil
perhitungan pada sumbu x dan kurva s. Dengan perhitungan sebagai
berikut :

Menghitung sumbu x = [ + ] [

. ]

................................... (2. 39)

Hasil perhitungan diletakan pada sumbu x sesuai hasil yang didapatkan,


lalu tarik ke arah vertical menuju hasil kurva s
Menghitung Kurva S =

...................................................................(2. 40)

Hasil perhitungan diletakan pada kurva S sesuai hasil yang didapatkan,


sehingga terjadi titik temu antara perhitungan sumbu x dan perhitungan
kurva S, selanjutnya tarik garis horizontal ke arah sumbu y (sebelah
kiri) maka didapat nilai efisiensi

Gambar II.6 Grafik Efisiensi Sirip

(Hewitt 1994)

18

II.8 Lintasan Pipa yang Dibutuhkan


Untuk mendapatkan jumalah pipa pemanas yang dibutuhkan maka dapat dihitung
dengan persamanaan (Ganapathy,1996):

Nr =

..

.........................................................................................................................(2. 41)

A = luas permukaan pindahan panas yang dibutuhkan [m2]


Ah = luas total permukaan pipa yang menyerap panas [m2]
n = jumlah pipa dalam satu baris
L = panjang pipa per batang [m]

II.9 Persamaan Pressure Drop Pipa


Penurunan tekanan sepanjang rangkaian pipa biasanya berkisar antara 0,2-0,5 bar Maka
pressure drop dapat dihitung dengan persamaan (Ganapthy,1996):

= ( + + ) ............................................................. (2.43)

Ka = Konstanta aliran minimum pipa cross sectional


nr = Banyaknya baris pipa
= massa jenis gas [kg/m3]
Vmax = kecepatan gas maksimum [m/s]
Kf = friction factor dalam baris pipa untuk susunan pipa stagered dan bersirip

0.504

Kf = 4.567 0.242 ( )

Ka
=

1 0.376

( )

0.546

( 2)

= 1+2:
12/(+)
1

.................................................................................. (2. 44)

Dimana adalah aliran minimum pada area bebas menuju area frontal

19

II.10 Rugi Rugi Belokan pada Pipa


Rugi rugi belokan termasuk ke dalam kerugian minor (minor losses) yang merupakan
kehilangan tekanan akibat gesekan yang terjadi pada katup katup, sambungan, belokan, dan
pada luas penampang yang tidak konstan. Pada aliran yang melewati belokan atau katup, head
loss minor dihitung berdasarkan persamaan (Weisbache, 1998) yaitu :
Hlm= k

2
2

.................................................................................................... (2. 45)

Keterangan :
Hlm = head loss minor (m)
v = kecepatan (m/s)
g = gravitasi bumi (m/s2)
k = koefisien kerugian pada belokan

Koefisien pada belokan pipa (k) terbagi menjadi 2 yaitu belokan lengkung dan belokan
patah. Untuk belokan lengkung digunakan rumus persamaan Fuller sebagai berikut(Sularso,
2000) :
3,5

k = [0,131 + 1,847 ( )
2

0,5

][ ]
90

........................................................... (2. 46)

keterangan :
Db = Diameter dalam belokan [m]
R = Jari jari lengkung sumbu belokan [m]
= sudut belokan [derajato]
k = koefisien kerugian

BAB III
PERANCANGAN ALAT

III.1 Perancangan Economizer


Perancangan economizer tipe water tube dengan sirkulasi alami untuk kapasitas PLTU
80 MW. Perancangan PLTU sederhana dideskripsikan pada gambar Gambar III.1 Sistem
PLTU.yang dibuat menggunakan cycle tempo.

Gambar III.1 Sistem PLTU

Keterangan:
1. Boiler
2. Turbin Uap
3. Kondensor
4. Main Cooling Water Pump
5. Laut
6. Pompa
7. Feedwater Heater
8. Deaerator
9. Kompresor

20

21

III.2 Tahap Perancangan

22

III.3 Rencana Jadwal Pengerjaan Skripsi


No

Jenis Kegiatan

Pelaksanaan Kegiatan Minggu KeDesember

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1

Persiapan Skripsi
a. Studi Pustaka
b. Judul
c. Pembuatan
Proposal

Bimbingan
Skripsi

Pendesignan
Sistem

Progres Skripsi

Pendesignan
Economizer

Evaluasi hasil

Pembuatan
Laporan Skripsi

DAFTAR PUSTAKA

Darcy, Weisbache, 1998. Fluid Mechanics. White Publisher


DeWitt, Incropera, 2003 Fundamental of Heat Exchanger Desain. Begell House Publisher
Ganapathy,V, 1996. Heat-Recovery Steam Generator. ABCO Industries.
Hewitt, G.F, Shires, G.L., Bott, T.R., 1994 Process Heat Transfer. Begell House Publisher.
Holman, J.P. 1998. Perpindahan Kalor. Edisi Ke enam. Jakarta: Erlangga.
Moran.J.M, Shapiro.N.H 2003. Termodinamika Teknik, Fourth Edition. Jakarta: Erlangga

23