Anda di halaman 1dari 3

PERAN BIDANG PTKP HMI CABANG TENGGARONG MENGHADAPI

PROBLEMATIKA PEMUDA DAERAH DAN BANGSA SERTA FLASHBACK


KEGIATAN PTKP PERIODE 2013-2014
1. PENDAHULUAN
Reformasi yang digelorakan pada tahun 1998 oleh pemuda dan mahasiswa secara substantive
adalah tuntutan perubahan pada struktur system, nilai dan actor baik dalam bidang ekonomi,
social, politik, budaya serta pertahanan dan keamanan. Secara teoritis, perubahan tersebut
diupayakan supaya tatanan Negara dan masyarakat baru Indonesia akan menjadi lebih
bermartabat, demokratis dan sejahtera. Pemuda sebagai pelopor perubahan memerlukan roh dan
semangat yang menjadi landasan utamanya. Nasionalisme Indonesia pada hakekatnya adalah roh
dan semangat yang menggerakan untuk bangkit melawan penindasan yang sekarang ini menjadi
realitas bangsa.
Di Indonesia, nasionalisme yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan
(perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi. Tujuannya, mengangkat harkat, derajat, dan
martabat kemanusiaan setiap bangsa untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa
diskriminasi di dalam hubungan-hubungan sosial. Sebenarnya rasa nasionalisme itu sudah
dianggap telah muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan
suatu negara kebangsaan.
Jika kita gambarkan, nasionalisme saat ini berada di titik rendah, dimana semua kebijakan
berkiblat pada neoliberalisme, sehingga kesejahteraan rakyat jauh dari cita- cita Funding
Father bangsa ini. Terpuruknya kedaulatan bangsa dan nasib rakyat bukanlah suatu fenomena
yang dating dengan sendirinya. Kondisi ini tidak lepas dari fenomena global yang berkembang
pesat, dalam dan luas dewasa ini yakni ketidaksiapan dan kemampuan mental dalam menghadapi
ancaman globalisme dan neoliberalisme. Menurut Soepriyatno (2008), dalam pandangan
ekonomi dan politik, kepentingan globalisasi adalah sebuah proses sistematis untuk merombak
struktur negaa-negara miskin, terutama dalam pengkerdilan peran Negara dan peningkatan peran
pasar, sehingga memudahkan pengintegrasian perekonomian Negara-negara miskin itu ke dalam
genggaman para pemodal negara-negara kaya.
Pada saat ini juga, moralitas Indonesia mencapai titik kritis terendah. Korupsi bukan hanya
menjadi bagian dari budaya, tetapi juga telah menjadi bagian dari mata pencaharian untuk
mendapatkan tambahan bagi biaya hidup yang semakin membumbung tinggi. Sedangkan bagi
yang sudah hidup layak, korupsi merupakan bagian dari kekuasaan, bahkan sekarang ini dalam
prakteknya justru semakin tersistematis dan laten. Kekuasaan yang dimiliki dalam prakteknya
bukan lagi untuk mensejahterakan dan memakmurkan segenap rakyat melainkan penindasanpenindasan secara terselubung. Uang telah menjadi berhala yang paling berharga, melalui uang
dan kekuasaan melakukan perampasan harapan dan peri kehidupan rakyat. lalu peran wakil
rakyat sudah terganti, sudah bukan lagi milik rakyat. Rakyat yang semestinya subyek bagi para
penguasa telah dijadikan sekedar obyek bagi kepentingan-kepentingan sesaat, rakyat kecil hanya
menjadi bintang iklan kampanye dan setelah itu terlupakan. Lalu melihat realitas ini, kebobrokan
dari dalam dan tekanan serta pengaruh dari luar, lantas muncul pertanyaan : Sedang apa dan
dimanakah, pemuda Indonesia?, sebagai pelopor reformasi, dimana gaung-nya dulu?

Sejumlah pemerhati sosial menilai prinsip nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia pada
umumnya telah mengalami degradasi dan hal diakibatkan oleh terus menerus tergerus oleh nilainilai dari luar. Kondisi ini terlihat semakin parah karena belum adanya pembaharuan atas
pemahaman dan prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Jika kondisi dilematis itu tetap
dibiarkan, bukan tidak mustahil degradasi nasionalisme akan mengancam generasi muda sebagai
penerus bangsa. Pemuda Indonesia umumnya belum sadar akan ancaman arus global yang terus
menerus menggerogoti identitas bangsa. Jika kita melihat sjarah ke belakang puluhan tahun yang
lalu, bagaimana pemuda Indonesia berusaha dengan gigih menyatakan keanekaragaman yang
dimiliki bangsa Indonesia dalam satu wadah yaitu Indonesia.
Namun pada saat ini kita diperhadapkan pada kenyataan yang menjadi problema dan dilematis.
Kita bisa melihat banyak pemuda yang tidak perduli dengan kondisi keterpurukan yang melanda
bangsa ini, dimana sekarang pemuda lebih tertarik pada hal-hal yang merupakan nilai luar
Indonesia, lantas memproklamasikan keyakinanya akan dongeng-dongeng Cindrella
tentang The end of nations states yang serba imajiner, serba ilusif dan tentu pula delusive,
bahkan dengan mudah kita membiarkan kebudayaan bangsa kita diambil oleh bangsa lain,
kalangan pemuda semestinya sadar, masa depan negara ini tergantung pada kita, apa jadinya
negara ini jika kita tak peduli?.
Potret buram kondisi pemuda kita saat ini nampak jelas di depan kita, tidak sedikit pemudapemudi bangsa dengan berbagai masalah yang mereka anggap sudah lumrah dan biasa terjadi di
kalangan pemuda, seperti tawuran, seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya. Mereka
berlomba- lomba berkiblat pada dunia barat. Tampaknya westernisasi telah menyulap pemuda
negeri ini menjadi lupa akan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia yang masih memegang
teguh budaya timur. Selain itu, munculnya sikap individualisme yang menimbulkan
ketidakpedulian antarvperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak
akan peduli dengan kehidupan bangsanya.
Dengan berjalannya waktu, semangat heroik dalam janji yang terkenal dengan Sumpah Pemuda
itu mengalami pergeseran arti maupun pemahamannya. Arti Sumpah Pemuda tentu berbeda dari
saat perjuangan dulu. Bila dulu dijadikan sebagai alat pemersatu, maka seharusnya kini dijadikan
sebagai cambuk bagi pemuda Indonesia untuk berbuat yang lebih baik demi kemajuan negara.
Kenegaraan Indonesia berkembang sesuai dinamika perubahan yang amat besar terutama
berkaitan dengan globalisasi dan reformasi. Dalam perubahan ini setiap komponen bangsa
termasuk pemuda dituntut kontribusinya sesuai kemampuan, kompetensi, dan profesinya.
Pemuda dituntut untuk mengembangkan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya
bangsa, sikap keteladanan dan disiplin. Di sisi lain, perlu diciptakan suasana yang lebih dinamis
dan demokratis yang mendorong pemuda untuk berkiprah dalam transformasi pembangunan baik
regional maupun skala global.
Pemuda sebagai sumber kekuatan moral reformasi perlu tetap terbina agar selalu berlandaskan
pada kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur, berkepribadian
nasional dan berjiwa patriotisme. Optimisme, spirit, kepedulian dan juga bangunan intelektual
keindonesiaan kaum muda sebagai generasi bangsa akan selalu menjawab problematika bangsa
ini. Gagasan-gagasan yang orisinil disertai langkah yang progresif dan kepekaan terhadap

kondisi bangsa merupakan salah satu langkah utama dalam yang harus dipelopori oleh kaum
muda sebegai penerobos dan pembawa era baru bangsa yang bermartabat dan berdaulat.