Anda di halaman 1dari 9

Gambaran USG Kelainan Kandung Empedu

1. Kandung Empedu
Saat ini secara umum telah diterima bahwa ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan
terpilih untuk batu kandung empedu. Hanya beberapa hal saja yang menyebabkan kandung
empedu tidak terlihat pada pemeriksaan ultrasonografi, misalnya pada kontraksi fisiologik atau
pada kolesistisis kronik yang sudah mengisut (contracted gall-bladder).
2. Teknik Pemeriksaan
Diperlukan puasa 6-8 jam sebelum pemeriksaan, agar supaya kandung empedu
mengalami distensi maksimal. Hal ini tidak diperlukan pada kasus-kasus akut (gawat darurat)
lebih-lebih bila penderita muntah-muntah, praktis sudah dalam keadaan puasa.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan transduser linier maupun sector,
dengan pasien posisi berbaring. Transuder yang digunakan sekitar 3,5-5 MHz dengan irisan
transversal maupun longitudinal, perhatikanlah lokasi dan aksis panjangnya. Bila perlu
gunakanlah pembesaran dan carilah duktus sistikus.
3. Anatomi Kandung Kemih
Kandung empedu terletak pada fossa vesika felea di posteromedial hati, kira-kira dekat
perbatasan hati lobus kanan dan kiri. Kandung empedu berbentuk ovoid dengan diameter korpus
terlebar sekitar 2-3 cm dan tidak melebihi 4 cm. Besar kandung empedu pada umumnya 7- 10
cm (aksis panjang) dan 3-4 cm (aksis pendek).Aksis panjang kandung empedu tidak melebihi 12
cm. Tebal dinding normal maksimal 3 mm, isi kandung empedu normal tidak melebihi 200 ml.
Pada keadaan tidak normal, kandung empedu tidak selalu besar, kadang ukurannya normal dan

kadang lebih kecil. Peredaran darah pada kandung empedu berasal dari arteri sistikus, salah satu
cabang dari arteri hepatica. Variasi anatomic missal double foulded atau double twisted sangat
sering ditemukan, juga kandung empedu besar, non obstruktif, sering dijumpai pada penderitapenderita alkoholisme atau diabetes mellitus.

Gambar 1. Anatomi kandung empedu (gallbladder)

Gambar 2. USG Kandung Empedu Normal


Terlihat kontur, besar dan batas yang normal, dinding tidak menebal. Terletak diantara parenkim
hati lobus kanan pada fossa vesika felea. Ekocairan homogen

Gambar variasi normal kandung empedu bentu double folded

4. Patologi Kandung Empedu


1. Kolelitiasis
Batu Empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam
saluran empedu. Komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol, sebagian kecil
lainnya terbentuk dari garam kalsium. Cairan empedu mengandung sejumlah besar
kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh
karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di
luar empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut Cholelitiasis,
sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut Chledokolitiasis. Batu empedu
berbentuk seperti kristal, dengan variasi ukuran dari butiran pasir sampai lebih besar dari
bola golf. Jika dianalisa lebih lanjut batu kandung empedu terdiri dari batu kolesterol dan

batu pigmen. Batu kandung empedu ada tiga tipe, yaitu batu kolesterol, batu pigmen dan
batu campuran.
Batu terlihat sebagai struktur hiperekoik yang bebas dalam kandung empedu.
Batasannya tegas kadang rata, kadang tidak beraturan dan dapat berpindah jika posisi
pasien berubah posisi. Batu memiliki bayangan akuistik di bawahnya.

Batu kecil

terkadang tidak memberikan gambaran bayangan akuistik bila tidak diperiksa dengan
transduser yang berfrekuensi tinggi. Batu yang terapung dalam kandung empedu di
karenakan ada cairan pekat pada kandung empedu sebagian besar batu empedu dalam
jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di
kandung empedu.

Gambar 3. Kolelitiasis terlihat hiperekoik dengan bayangan akuistik di bawahnya

2. Lumpur Empedu (sludge)

Selalu menempati bagian terendah dari kandung empedu dan sering bergerak
perlahan-lahan sesuai dengan posisi pasien, jadi selalu membentuk lapisan permukaan
dan tidak memberikan bayangan akustik. Pada dasarnya lumpur empedu tersebut terdiri
atas granulae kalsium bilirubinat dan Kristal-kristal kolesterol sehingga mempunyai
viskosistas yang lebih tinggi daripada cairan empedu sendiri.
Sludge sering dijumpai pada penderita kekurangan gizi dan pasien yang sakit berat
dan lama serta akan menghilang bila keadaan pasien membaik. Juga pada penderita
alkoholisme sering ditemukan adanya lumpur tersebut yang disebabkan adanya
hipokinesis dan atonia kandung empedu. Keadaan yang sama dijumpai pula pada
obstruksi duktus koledokus dan pada penderita-pederita yang mempunyai kelainan
intrinsic kandung empedu.

Gambar 4. Lumpur empedu (sludge)


Di dalam andung empedu terlihat material hiperkoik yang membentuk lapisan,
Tidak terlihat bayangan akustikdi bawahnya.

3. Kolesistisis Akut

Tanda utama pada kolesistisis akut ialah sering ditemukan batu, penebalan dinding
kandung empedu, hidrops dan kadang-kdang terlihat eko cairan di sekelilingnya yang
menandakan adanya perikolesisitisis atau perforasi. Sering diikuti rasa nyeri pada
penekanan dengan transduser yang dikenal sebagai Morgan sign positif atau positive
transducer sign.

Gambar 5. Kolesistitis akut, ditandai dengan penebalan dinding


Dan adanya ekocairan disekelilingnya (cirri khas) sebagai reaksi perikolesistisis

4. Kolesistisis kronik
Kandung empedu sering tidak/sukar terlihat. Dinding menjadi sangat tebal dan eko
cairan lebih terlihat hiperekoik. Sering terdapat pada kolesistisis kronik lanjut dimana
kandung empedu sudah mengisut (contracted gallbladder). Kadang-kandang hanya eko
batunya saja yang terlihat pada fossa vesika felea.

Gambar 6. Lumpur empedu


Membentuk gambaran hiperekoik tanpa adanya bayangan akustik di bawahnya.
Kandung Empedu terlihat kecil akibat dari kolesistitis kronik

5. Polip
Terlihat sebagai gambaran hiperekoik, bentuknya bulat atau oval, terletak dekat
dinding, berbatas tegas dan tidak memberikan bayangan akuistik serta tidak berubah
letaknya pada perubahan posisi penderita.

Gambar 7. Polip Kandung Empedu, Ekopadat, bulat dan tanpa bayangan akusti,
Letaknya dekat dinding dan tidak berubah pada perubahan posisi penderita

6. Keganasan
Keganasan pada kandung empedu sangat jarang. Terlihat sebagai massa dengan batas
tidak rata dan melebar sampai ke parenkim hati.

Gambar 8. Keganasan
Terlihat massa padatdi dalam kandung empedu dengan batas ireguler,
tidak menimbulkan bayangan akustik, kandung empedu membesar,
sehingga batasnya dengan parenkim hepar tidak tegas. Terlihat area
Anekoik sekeliling kandung empedu (perikolesistitis)