Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Negara agraris adalah Negara yang sebagian besar penduduknya
mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Berbagai hasil pertanian
diunggulkan sebagai tulang punggung perekonomiannya. Indonesia sebagai
Negara agraris, memiliki sumber daya berlimpah di bidang pertanian dan
perkebunan. Di bidang perkebunan, prospek perkembangan budidaya wortel
di Indonesia sangat cerah. Selain keadaan agroklimatologis wilayah
nusantara cocok untuk wortel, juga akan berdampak positif terhadap
peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat, perluasan
kesempatan kerja. Wortel sangat diperlukan tubuh, karena wortel memiliki
kandungan gizi terutama vitamin dan mineral.
Selain wortel, hasil di bidang perkebunan yang cukup banyak dihasilkan
oleh Indonesia adalah pisang. Dengan daerah penghasil pisang terbesar
berada di Pulau Jawa. Indonesia yang juga sebagai Negara tropis memiliki
daerah dengan hujan merata sepanjang tahun, sehingga produksi pisang
dapat berlangsung tanpa mengenal musim. Indonesia termasuk penghasil
terbesar karena sekitar 50% produksi pisang Asia berasal dari Indonesia.
Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan
energy cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain serta
mengandung magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Seperti yang telah kita
ketahui, masyarakat hanya mengonsumsi daging buah pisang tersebut,
sedangkan kulitnya dibuang begitu saja sehingga akan menjadi limbah.
Padahal kulit pisang tersebut memiliki manfaat yang tidak kalah penting
dibandingkan dengan daging buah pisang sendiri. Kulit pisang juga memiliki
kandungan gizi yang sangat baik seperti karbohidrat, kalsium, protein, dan
juga lemak yang cukup.
Usaha pengolahan limbah kulit pisang menjadi hal yang sangat penting
karena dapat meningkatkan nilai ekonomis kulit pisang tersebut. Selain itu
mengolah kulit pisang menjadi tepung dapat mensubstitusi tepung terigu
yang harganya terus melonjak. Pengolahan limbah kulit pisang menjadi
tepung merupakan suatu inovasi sehingga dapat menciptakan wirausahawan
baru yang secara tidak langsung dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan
meminimalisir pengangguran. Dalam suatu negara, peran wirausaha sangat
penting karena mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu
negara, dengan adanya peningkatan produktivitas.

1.2

Tujuan
a. Untuk mengetahui bagaimana cara mengolah limbah kulit pisang sehingga
dapat meningkatkan nilai ekonomisnya.

b. Untuk mengetahui bagaimana cara mengombinasikan kulit pisang dan


wortel menjadi Dokupistel.
c. Untuk mengetahui kontribusi yang diberikan oleh olahan donat limbah
kulit pisang dan wortel (Dokupistel).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pisang
Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna
raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Buah ini tersusun
dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut
sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika
matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu,
atau bahkan hampir hitam. Berikut merupakan urutan taksonomi pisang.
Kerajaan
: Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Zingiberales
Famili
: Musaceae
Genus
: Musa
Spesies
: M. acuminata,M. balbisiana,M. paradisiaca (invalid),M.
sapientum (invalid)
Nilai energi pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang
secara keseluruhan berasal dari karbohidrat. Karbohidrat pisang
menyediakan energi sedikit lebih lambat dibandingkan dengan gula pasir
dan sirup, tetapi lebih cepat dari nasi, biskuit, dan sejenis roti. Karbohidrat
pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara
bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu
cepat. Oleh sebab itu, banyak atlet saat jeda atau istirahat mengonsumsi
pisang sebagai cadangan energi. Namun, kandungan protein dan lemak
pisang ternyata kurang bagus dan sangat rendah, yaitu hanya 2,3 persen
dan 0,13 persen. Meski demikian, kandungan lemak dan protein pisang
masih lebih tinggi dari apel, yang hanya 0,3 persen. Karena itu, tidak perlu
takut kegemukan walau mengonsumsi pisang dalam jumlah banyak.

Sedangkan dalam hal kandungan mineral, pisang adalah buah yang banyak
menyimpan kalium, magnesium, fosfor, kalsium, dan besi.
Bila dibandingkan dengan jenis makanan nabati lain, mineral pisang,
khususnya besi, hampir seluruhnya (100 persen) dapat diserap tubuh.
Berdasarkan berat kering, kadar besi pisang mencapai 2 miligram per 100
gram dan seng 0,8 mg. Kandungan vitaminnya sangat tinggi, terutama
provitamin A, yaitu betakaroten, sebesar 45 mg per 100 gram berat kering.
Pisang juga mengandung vitamin B, yaitu tiamin, riboflavin, niasin, dan
vitamin B6 (piridoxin). Kandungan vitamin B6 pisang cukup tinggi, yaitu
sebesar 0,5 mg per 100 gram. Selain berfungsi sebagai koenzim untuk
beberapa reaksi dalam metabolisme, vitamin B6 berperan dalam sintetis dan
metabolisme protein, khususnya serotonin. Serotonin diyakini berperan aktif
sebagai neurotransmiter dalam kelancaran fungsi otak.

2.2 Kulit Pisang


Umumnya masyarakat hanya memakan buahnya saja dan membuang
kulit pisang begitu saja. Di dalam kulit pisang ternyata memiliki kandungan
vitamin C, B, kalsium, protein, dan juga lemak yang cukup. Hasil analisis
kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air
yaitu 68,90 % dan karbohidrat sebesar 18,50 %. Selain kaya vitamin B6, kulit
pisang banyak mengandung serotonin yang sangat vital untuk
menyeimbangkan mood. Selain itu, ditemukan pula manfaat ekstrak pisang
untuk menjaga retina dari kerusakan cahaya akibat regenerasi retina. Dalam
studi klinis yang dilakukan, para peneliti membandingkan efek ekstrak kulit
pisang bagi retina mata pada dua kelompok. Pertama adalah kelompok
kontrol dan kelompok kedua adalah responden yang diberi ekstrak kulit
pisang dan mereka dipapari cahaya selama enam jam dalam dua hari.
Hasilnya, yang tidak mendapat ekstrak kulit pisang sel retinanya menjadi
mati, sedangkan kelompok lainnya retinanya tidak mengalami kerusakan.
Sementara itu untuk mengatasi depresi, para peneliti menyarankan untuk
meminum air rebusan kulit pisang atau membuatnya dalam bentuk jus segar
selama beberapa kali dalam seminggu karena dalam kulit pisang terdapat
sumber vitamin B6 yang dibutuhkan untuk membuat serotonin dalam otak.
Serotonin berfungsi mengurangi rasa sakit, menekan nafsu makan,
menimbulkan relaks, dan mengurangi ketegangan.
Kulit pisang mengandung vitamin C, vitamin B, kalsium, protein, dan
juga lemak yang cukup (Sulffahri.2008). Selain mengandung sejumlah

vitamin, di dalam kulit pisang juga terdapat beberapa mineral. Berikut ini
disajikan tabel mengenai kandungan mineral dalam kulit pisang.
Tabel Komposisi mineral dari kulit Musa sapientum
Unsur

Konsentrasi
(mg/g)

Kalium
Kalsium
Natrium
Besi
Mangan
Bromine
Rubidium
Stronsium
Zirconium

78.10 6.58
19.20 0.00
24.30 0.12
0.61 0.22
76.20 0.00
0.04 0.00
0.21 0.05
0.03 0.01
0.02 0.00

Niobium

0.02 0.00

2.3 Wortel
Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan jenis sayuran umbi yang
biasanya berwarna jingga atau putih dengan tekstur serupa kayu, sementara
daunnya menjulang di atas permukaannya. Bagian yang dapat dimakan dari
wortel adalah bagian umbi atau akarnya. Wortel adalah tumbuhan biennial
(siklus hidup 12 - 24 bulan) yang menyimpan karbohidrat dalam jumlah
besar untuk tumbuhan tersebut berbunga pada tahun kedua. Batang bunga
tumbuh setinggi sekitar 1 m dengan bunga berwarna putih. Dalam
taksonomi tumbuhan, wortel diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi
: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub-Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Umbelliferales
Famili
: Umbelliferae (Apiaceae)
Genus
: Daucus
Spesies
: Daucus carrota L.
Kandungan wortel yang terdiri atas sebagian besar zat yang bernama
beta karoten, membuat wortel berwarna jingga terang. Kandungan wortel

berupa zat beta karoten tersebut akan menjadi vitamin A setelah dicerna
oleh tubuh. Vitamin A sangat baik untuk kesehatan mata sehingga terhindar
dari penyakit rabun jauh dan rabun senja. Dapat dipastikan jika semakin
terang dan jingga warna wortel, maka kandungan beta karotennya semakin
banyak. Kandungan wortel bukan hanya itu. Selain mengandung beta
karoten, di dalam wortel juga terdapat serat, zat antioksidan, vitamin (C dan
B kompleks), serta beberapa mineral penting seperti kalsium, zat besi,
magnesium, fosfor, kalium dan natrium. Wortel juga mengandung gula,
pektin, aspargin, vitamin K, lemak, hidrat arang, asam amino, dan minyak
esensial. Ditambah lagi bukan hanya wortelnya saja yang banyak
kandungannya, tapi bijinya juga mempunyai banyak kandungan yang
bermanfaat. Bijinya mengandung flavonoid, minyak atsiri, termasuk asaron,
pinen, dan limonen, asam tiglat, azaron, dan bisabol, meristin yang berkasiat
memberikan efek aprodisiak.
2.4 Donat
Donat (doughnuts atau donut) adalah penganan yang digoreng, dibuat
dari adonan tepung terigu, gula, telur dan mentega. Donat yang paling
umum adalah donat berbentuk cincin dengan lubang di tengah dan donat
berbentuk bundar dengan isi yang rasanya manis, seperti berbagai jenis
selai, jelly, krim, dan custard.
Donat bisa dibentuk dengan menyatukan kedua sisi adonan berbentuk
persegi panjang hingga membentuk cincin atau menggunakan pemotong
otomatis yang sekaligus membuat lubang di tengah adonan donat. Lubang
pada donat berbentuk cincin dulunya dimaksudkan agar donat cepat matang
sewaktu digoreng. Adonan donat yang tersisa sewaktu membuat donat
berbentuk cincin sering dijual sebagai doughnut hole atau dicampurkan lagi
ke dalam adonan untuk membuat donat baru. Adonan donat terdiri dari dua
jenis, adonan yang dibangunkan dengan ragi seperti adonan roti, dan
adonan kental seperti adonan cake. Donat dari adonan tepung yang
memakai ragi biasanya kadar lemak 25% dari berat donat, sedangkan donat
adonan cake mengandung kadar lemak 20%. Donat dari adonan cake
digoreng selama 90 detik bolak-balik di dalam minyak bersuhu antara
190 hingga 198. Sedangkan donat dari adonan tepung yang
dibangunkan oleh ragi memerlukan waktu penggorengan yang lebih lama
(sekitar 150 detik) di dalam minyak bersuhu 182hingga 190. Setelah
matang, permukaan donat bisa dihias dengan taburan gula halus bercampur
bubuk kayu manis.

BAB III
METODE KERJA
3.1

Alat, Bahan dan Cara mengolah kulit pisang menjadi tepung kulit pisang :
3.1.1 Alat
a. Pisau
b. Talenan
c. Baskom
d. Oven
e. Blender bumbu

3.1.2 Bahan
a. Kulit pisang raja
b. Natrium metabisulfit
c. Air
3.1.3 Cara kerja
a. Potong kulit pisang menjadi kecil kecil dengan pisau
b. Rendam potongan kulit pisang dalam natrium metabisulfit kurang
lebih 30 menit kemudian tiriskan. Natrium metabisulfit berfungsi
untuk menghambat terjadinya proses oksidasi pada kulit pisang
yang dapat mencegah timbulnya pencoklatan kulit pisang. Sehingga
tepung yang dihasilkan akan lebih bersih.
c. Keringkan kulit pisang. Untuk proses pengeringan lebih cepat
dilakukan dengan oven dengan suhu 600 (1 kg di oven selama 40
menit).
d. Kulit pisang yang sudah selesai dioven kemudian diblender hingga
halus.
3.2

Alat, Bahan dan Cara mengombinasikan limbah kulit pisang dan wortel
menjadi
Dokupistel
3.2.1 Alat :
a. Baskom
b. Pisau
c. Wajan
d. Spatula
e. Gelas
f. Sendok makan
g. Blender
3.2.2 Bahan
a. Tepung limbah kulit pisang
b. Wortel
c. Gula pasir
d. Tepung terigu
e. Air
f. Fermipan
g. Minyak goring
h. Mentega
i. Gula halus

j. Telur
3.2.3 Cara kerja
a. Campurkan sachet fermipan, air, dan 3 sendok makan gula pasir.
Kemudian aduk hingga merata
b. Haluskan 1 biji wortel dengan blender
c. Buat adonan donat dengan mencampurkan kg tepung terigu,
kg tepung limbah kulit pisang, 2 sendok makan margarin, 1 butir
telor, campuran fermipan, dan wortel yang sudah dihaluskan.
Kemudian aduk adonan hingga merata
d. Banting-banting adonan donat agar adonan tersebut mengembang
e. Bentuk adonan menjadi bulatan berdiameter 4 cm. Tutup dan
diamkan adonan donat yang sudah dibentuk hingga mengembang.
Tunggu 15 menit
f. Setelah adonan cukup mengembang, buat lubang pada adonan
yang sudah dibentuk bulatan.
g. Panaskan minyak goreng dan masukkan adonan donat yang sudah
dibentuk tersebut. Goreng hingga warnanya coklat keemasan.
h. Angkat donat dan tiriskan
i. Bubuhi gula halus pada donat tersebut
j. Donat siap disajikan.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Limbah Kulit Pisang Dapat Meningkatkan Nilai Ekonomisnya

Pisang merupakan buah unggulan Indonesia. Produksi komoditas ini


merata di seluruh pelosok tanah air. Pisang banyak dikonsumsi dalam
keadaan segar oleh sebagian masyarakat tetapi kulitnya hanya dibuang dan
menjadi limbah, padahal penelitian tim Universitas Kedokteran Taichung
Chung Shan, Taiwan memperlihatkan bahwa ekstrak kulit pisang ternyata
berpotensi mengurangi gejala depresi dan menjaga kesehatan retina mata.
Selain kaya vitamin B6, kulit pisang banyak mengandung serotonin yang
sangat vital untuk menyeimbangkan mood. Selain itu, ditemukan pula
manfaat ekstrak pisang untuk menjaga retina dari kerusakan cahaya akibat
regenerasi retina.
Dengan banyaknya manfaat yang dimiliki oleh limbah kulit pisang
tersebut, maka sangat penting untuk mengolah limbah kulit pisang sehingga
akan dapat meningkatkan nilai ekonomisnya. Caranya yaitu dengan
mengolahnya menjadi tepung kulit pisang. Pengolahan kulit pisang menjadi
tepung memang belum banyak dikenal masyarakat. Adanya pemanfaatan
limbah kulit pisang menjadi tepung dapat mensubstitusi tepung terigu
sehingga harga tepung terigu yang mahal dapat diimbangi. Kulit pisang
memiliki total fenolik yang lebih tinggi (9,07 mg/g berat kering) dibandingkan
dengan daging buah pisang (2,32 mg/g berat kering). Hal ini berarti bahwa
kulit pisang memiliki senyawa antioksidan dengan aktivitas yang cukup
tinggi. Pengujian telah dilakukan terhadap aktivitas antioksidan terhadap
oksidasi lemak. Senyawa antioksidan flavonoid yang terdapat pada kulit
pisang yaitu katekin, galokatekin, dan epikatekin.
Kulit pisang tinggi akan kalsium (78.10 mg/g), kalium sangat baik
untuk kesehatan. Di dalam tubuh, kalium berfungsi untuk transmisi saraf dan
membantu menurunkan tekanan darah. Kekurangan kalsium menyebabkan
kejang, kelemahan otot, detak jantung yang tidak stabil, dan depresi. Kulit
pisang memiliki kandungan serat yang sangat tinggi, yaitu 50.25 g/100g.
Kandungan serat yang tinggi pada bahan pangan sangat penting, yaitu
untuk membantu memperlancar pencernaan, juga menurunkan kolesterol
dan resiko penyakit jantung, serta mencegah wasir dan kanker usus.
Kulit pisang mengandung vitamin C, vitamin B, kalsium, protein, dan
juga lemak yang cukup. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi
kulit pisang banyak mengandung air yaitu 68,90 persen dan karbohidrat (zat
pati) sebesar 18,50 persen. Karena kulit pisang mengandung zat pati maka
kulit pisang dapat diolah menjadi tepung. Sebenarnya semua jenis kulit
pisang dapat dibuat menjadi tepung kulit pisang. Kulit pisang yang dipilih
untuk diolah adalah kulit pisang raja karena mengandung kalsium (Ca)

sebesar 10 mg. Selain itu kulit pisang raja lebih tebal dari kulit pisang lain
(Sulfahri, 2008). Sehingga memiliki potensi pati yang cukup besar untuk
diolah menjadi substituen tepung terigu.
4.2 Limbah Kulit Pisang dan Wortel menjadi Dokupistel
Kulit pisang yang kaya akan zat pati dapat diolah menjadi tepung,
kandungan lainnya seperti kalsium, protein, dan lemak akan menjadikannya
produk olahan yang bergizi tinggi. Sedangkan wortel yang kaya akan vitamin
dan mineral dapat dimanfaatkan sebagai kue yang sehat dan bergizi. Kedua
bahan tersebut dapat dikombinasikan menjadi kue yang sehat dan bergizi,
yaitu menjadi donat kulit pisang wortel (dokupistel).
4.3 Kontribusi Olahan Donat yang Berbahan Baku Limbah Kulit Pisang dan Wortel
(Dokupistel)
4.3.1 Meningkatkan Nilai Ekonomis Limbah Kulit Pisang
Limbah kulit pisang yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dan
dibuang begitu saja tanpa memiliki nilai ekonomis, namun dengan
munculnya ide kreatif dari penulis untuk mengolah limbah kulit pisang
tersebut dengan bahan tambahan wortel menjadi produk kue donat maka
limbah kulit pisang tersebut akan meningkat nilai ekonomisnya karena kue
donat
tersebut telah memiliki harga jual.
4.3.2 Menciptakan Wirausahawan Baru
Pengolahan limbah kulit pisang menjadi produk kue donat dapat
dijadikan alternatif untuk membuka usaha baru karena kue donat merupakan
makanan terfavorit di kalangan masyarakat sehingga penulis yakin produk
kue donat yang berbahan baku limbah kulit pisang tersebut mudah
berkembang dan diterima masyarakat, apalagi produk yang penulis ciptakan
memiliki keunggulan yaitu harganya lebih terjangkau jika dibandingkan
dengan produk kue donat yang berbahan baku tepung terigu maupun
kentang tanpa meninggalkan kualitas kue yang dihasilkan.
4.3.3 Meminimalisir Pengangguran
Dengan munculnya wirausahawan baru yang mampu menciptakan
lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang masih menganggur dan
menyerap mereka menjadi tenaga kerja, maka dapat meminimalisir jumlah
pengangguran yang ada di masyarakat.
4.3.4 Harga Jual Yang Lebih Terjangkau

Donat yang beredar dipasaran saat ini sangat variatif, ada yang
memakai tepung terigu sebagai bahan baku dan ada pula yang memakai
kentang sebagai bahan bakunya. Harga jual yang berlaku dipasaran untuk 1
biji donat terasa masih terlalu mahal yaitu berkisar antara Rp1.500,00-Rp
2.000,00. Harga jual yang mahal tersebut disebabkan oleh mahalnya harga
bahan baku untuk membuat donat tersebut, dimana harga 1 kg tepung
terigu adalah Rp 6.000,00 dan harga kentang per kg adalah Rp 8.000,00.
Namun, donat yang berbahan baku limbah kulit pisang harga jualnya akan
lebih murah sehingga dapat dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah
karena harga bahan bakunya lebih murah yaitu harga 1 kg limbah kulit
pisang adalah Rp 1.500,00.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Limbah kulit pisang yang kaya akan kalium dan serotoin dapat diolah
menjadi tepung kulit pisang. Tepung kulit pisang ini dapat menjadi
substitusi tepung terigu yang harganya semakin tinggi.
Dokupistel merupakan inovasi pengolahan limbah kulit pisang yang
dibuat dengan mengombinasikan limbah kulit pisang dan wortel sehingga
masyarakat akan memperoleh kue alternatif dengan harga yang
terjangkau tanpa mengabaikan nilai gizinya.
Dengan pengolahan limbah kulit pisang menjadi Dokupistel dapat
meningkatkan lapangan pekerjaan sehingga bisa meminimalisir jumlah
pengangguran.
5.2 Saran
1. Pemerintah
melalui
lembaga
terkait
agar
menyosialisasikan
pembuatan Dokupistel dengan mengombinasikan limbah kulit pisang
dan wortel sebagai kue alternatif agar dapat menambah lapangan
pekerjaan.
2. Masyarakat yang memanfaatkan daging buah pisang dalam usahanya
agar mulai mengolah limbah kulit pisang sehingga menaikkan nilai
ekonomisnya dan dapat meningkatkan pendapatan.

DAFTAR ISI
Kata
Pengantar..........................................................................................................
....... i
Daftar
Isi.......................................................................................................................
.... ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang..........................................................................................................
1
1.2
Tujuan
Penelitian..................................................................................................... 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pisang................................................................................................................
........ 2

2.2
Kulit
Pisang...............................................................................................................
3
2.3
Wortel................................................................................................................
....... 4
2.4
Donat.................................................................................................................
........ 4
BAB III. METODE KERJA
3.1

Alat, Bahan dan


pisang................. 6

Cara

mengolah

kulit

pisang

menjadi

tepung

kulit

3.1.1
Alat....................................................................................................................
..... 6
3.1.2
Bahan................................................................................................................
..... 6
3.1.3
Cara
Kerja.............................................................................................................. 6
3.2 Alat, Bahan dan Cara mengombinasikan limbah kulit pisang dan wortel menjadi
dokupistel......................... 6

3.2.1
Alat....................................................................................................................
..... 6
3.2.2
Bahan................................................................................................................
..... 6
3.2.3
Cara
Kerja.............................................................................................................. 7
BAB IV. PEMBAHASAN

4.1
Limbah
Kulit
Pisang
Ekonomisnya........................... 8
4.2
Limbah
Kulit
Pisang
Dokupistel.......................................... 9

Dapat
dan

Meningkatkan
Wortel

Nilai
menjadi

4.3 Kontribusi Olahan Donat yang Berbahan Baku Limbah Kulit Pisang dan
Wortel........ 9

4.3.1
Meningkatkan
Nilai
Pisang......................................... 9

Ekonomis

Limbah

Kulit

4.3.2
Menciptakan
Wirausahawan
Baru..................................................................... 9
4.3.3
Meminimalisir
Pengangguran............................................................................. 9
4.3.4
Harga
Jual
Yang
Lebih
Terjangkau..................................................................... 9
BAB V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan........................................................................................................
...... 10
5.2
Saran.................................................................................................................
....... 10

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur senantiasa saya panjatkan kepada Allah
SWT. Tuhan Yang Maha Esa segenap alam yang telah memberikan rahmat
serta hidayah-Nya sehingga dalam penulisan karya ilmiah ini saya tidak
mengalami kendala yang berarti hingga terselesaikannya karya ilmiah yang
saya beri judul Donat Kulit Pisang Wortel (Dokupistel).
Pada kesempatan ini, dalam penulisan karya ilmiah ini saya
mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, oleh karenanya dari hati
yang terdalam saya juga ingin mengungkapkan rasa terima kasih saya
kepada :
Kedua orangtua saya yang selalu memberikan dukungan kepada saya baik
itu berupa dukungan moril maupun dukungan materil.
Teman-teman seperjuangan yang juga selalu memberikan motivasi
baik berupa sharing pendapat, motivasi dan hal-hal lainnya dalam rangka
pembuatan karya ilmiah ini.
Saya sangat menyadari tidak ada manusia yang sempurna begitu juga
dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, apabila nantinya terdapat kekurangan,
kesalahan dalam karya tulis ilmiah ini, saya selaku penulis sangat berharap
kepada seluruh pihak agar dapat memberikan kritik dan juga saran
seperlunya.
Akhir kata, semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan manfaat
dan bahan pembelajaran kepada kita semua.

Palu, 13 Mei 2015

Sri Rahma L.M. Said