Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
Infeksi Saluran Napas Bawah Akut (ISNBA) masih menjadi masalah
kesehatan yang utama terutama di negara-negara berkembang dan menimbulkan
angka kesakitan dan kematian yang tinggi. ISNBA dapat dijumpai dalam berbagai
bentuk, tersering adalah pneumonia. Pneumonia merupakan proses infeksi akut yang
mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Juga bisa didefinisikan peradangan yang
mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus
respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat dengan gejala-gejala batuk, demam dan sesak nafas. 1,2,3,5
Secara klinis pneumonia dapat diklasifikasikan sebagai suatu peradangan paru
yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit, dan lain-lain).
Secara anatomis pneumonia dapat diklasifikasikan sebagai pneumonia lobaris,
pneumonia

segmentalis,

dan

pneumonia

lobularis

yang

dikenal

sebagai

bronkopneumonia dan biasanya mengenai paru bagian bawah.1,2


Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran napas yang
terbanyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir di seluruh
dunia. Di Amerika pneumonia mencapai 13% dari semua penyakit infeksi pada anak
usia < 2 tahun. Berdasarkan penelitian insidensi pneumonia didapat 4 kasus dari 100
anak prasekolah, 2 kasus dari 100 anak umur 5-9 tahun dan 1 kasus dari 100 anak
umur 9-15 tahun. UNICEF memperkirakan bahwa 3 juta anak di dunia meninggal
karena pneumonia setiap tahun. Meskipun penyakit ini lebih banyak ditemukan pada
daerah berkembang akan tetapi di negara majupun ditemukan kasus yang cukup
signifikan. 2,3
Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun
2007 menunjukkan prevalensi nasional ISPA 25,5%, angka morbiditas pneumonia
pada bayi 2,2%, balita 3%, angka mortalitas pada bayi 23,8% dan balita 15,5%. 2,3

Pemeriksaan foto polos thoraks merupakan salah satu pemeriksaan penunjang dalam
menegakkan diagnosis pneumonia. Gambaran yang berbeda dari thorax dapat
diperoleh dengan merubah orientasi relatif tubuh dan arah pancaran x-ray.1,2

BAB II
LAPORAN KASUS
1.1

1.2

IDENTITAS
Nama

: Ny. S

Usia

: 59 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pendidikan Terakhir

: SD

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Status

: Menikah

Alamat

: Rengasdengklok, Karawang

Suku Bangsa / Agama

: Sunda / Islams

No. Rekam Medis

: 00595939

Tanggal Masuk

: 2 Juli 2015

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di bangsal rengasdengklok pada tanggal 17 Juni 2015
secara autoanamnesis.
Keluhan Utama
Demam sejak 3 minggu SMRS.
Keluhan Tambahan
Menggigil, batuk, keringat dingin, nafsu makan menurun, nyeri kepala, nyeri
ulu hati, berat badan menurun, mual, muntah, sesak, BAB hitam.

Riwayat Penyakit Sekarang


OS datang ke IGD RSUD Karawang dengan keluhan demam sejak 3
minggu SMRS. Awalnya demam dirasakan hanya sumeng saja, namun
seminggu terakhir demam semakin tinggi sehingga pasien menggigil.
Demam hilang timbul dan awalnya hanya dirasakan saat malam hari saja,
namun saat demam semakin tinggi demam hilang bila os minum obat
penurun demam. Os juga mengeluh batuk berdahak warna putih sejak 1
bulan SMRS, sulit tidur dan sering keluar keringat dingin pada malam hari.
Nafsu makan menurun akibat pasien merasa mual, saat 1 hari SMRS pasien
sempat muntah 1x isi makanan dan BAB berwarna hitam. Os juga merasa
sesak, nyeri kepala dan nyeri ulu hati. Sesak dirasakan hilang timbul, sesak
timbul terutama ketika batuk. Os mengaku terdapat penurunan berat badan
12 kg dalam 1 bulan terakhir.
Riwayat Penyakit Dahulu
OS menyangkal terdapat riwayat penyakit asma, DM, hipertensi,
penyakit jantung, penyakit paru dan alergi.
Riwayat Penyakit Keluarga
Os mengaku tidak terdapat keluarga dengan keluhan serupa. Tidak
terdapat keluarga yang menderita TB.
Riwayat pengobatan
Pasien mengaku berobat ke mantri, di diagnosa dan diterapi untuk
demam tifoid.
Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol. Os jarang
berolahraga.

Riwayat Lingkungan
Pasien mengaku di lingkungan tempat tinggalnya tidak ada yang
mengalami hal serupa.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan di bangsal Rengasdengklok pada tanggal 3 Juli
2015.
KU

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4 M6 V5

Status Gizi

: Kesan gizi baik

Tanda Vital

- Nadi

: 72 x/menit reguler

- Pernapasan

: 20 x/menit, irama teratur

- Suhu

: 37,4o C

- TD

: 120/80 mmHg

Kepala : normosefali, rambut berwarna hitam beruban, distribusi merata,

tidak kering dan tidak mudah dicabut

Mata : Konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-), sekret (-)/(-), pupil
isokor dengan diameter 3 mm/3 mm, RCL (+)/(+), RCTL (+)/(+), ptosis (-)/(-),
nistagmus (-) /(-), lagoftalmus (-)/(-)
Telinga, Hidung,Tenggorokan
Telinga :
- Inspeksi :
Preaurikuler : hiperemis (-)/(-)
Postaurikuler : hiperemis (-)/(-), abses (-)/(-), massa (-)/(-)
Liang telinga : lapang, serumen (+)/(+), otorhea (-)/(-)
Hidung :
- Inspeksi : deformitas (-), kavum nasi lapang, sekret (-)/(-), deviasi septum (-)/
(-), edema (-)/(-)
- Palpasi : nyeri tekan pada sinus maksilaris (-)/(-), etmoidalis(-)/(-), frontalis(-)/
(-)
Tenggorokan dan rongga mulut :
- Inspeksi :
Lidah : pergerakan simetris, plak (-)

Palatum mole dan uvula simetris pada keadaan diam dan bergerak, arkus
faring simetris, penonjolan (-)
Tonsil : T1/T1, kripta (-)/(-), detritus(-)/(-), hiperemis (-)
Dinding anterior faring licin, hiperemis (-)
Pursed lips breathing (-), karies gigi (-), kandidisasis oral (-)
Leher
Tiroid dan KGB tidak teraba membesar
Tidak terdapat peningkatan JVP
Trakea teraba di tengah dan tidak ada deviasi
Thoraks
- Paru
Inspeksi : penggunaan otot bantuan nafas (-)/(-), retraksi sela iga (-/-), bentuk
dada normal, pergerakan kedua paru simetris statis dan dinamis
Palpasi : ekspansi dada simetris, vocal fremitus menguat pada lapang paru
dextra, pelebaran sela iga (-)/(-)
Perkusi :
Redup pada lapang paru dextra, Sonor pada lapang paru sinistra
Batas paru hati : pada garis midklavikula kanan sela iga V
Batas paru lambung : pada garis aksilaris anterior kiri sela iga VIII
Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+), wheezing (+/-), ronki (+/-)
- Jantung
Inspeksi : pulsasi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : pulsasi ictus cordis teraba pada 1 cm di medial linea midklavikula
sinistra ICS V, thrill (-)
Perkusi : batas jantung kanan pada ICS IV linea sternalis dekstra, batas
jantung kiri pada ICS V linea midklavikula sinistra.
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : datar, ikterik (-), venektasi (-), smiling umbilicus (-), caput
medusae (-), sikatriks (-).
Auskultasi : BU (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (+), massa (-), Hepar tidak teraba,
Lien tidak teraba. Ballotement (-).
Perkusi : timpani, shifting dullnes (-), nyeri ketok CVA (-)/(-)
Ekstremitas
Atas
: Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik, edema (-)/(-),
Bawah

deformitas (-)
: Akral teraba hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik, edema (-)/(-),
deformitas (-)

1.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan hematologi tanggal 2 Juli 2015 di IGD

Parameter
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
Ureum
Creatinin
Glukosa darah sewaktu
LED

Hasil
11,1 g/dl
5,99 x103/L
98 x 103/L
32,6 %
22,5 mg/dl
0,4 mg/dl
140 mg/dl

Nilai Rujukan
13,0-18,0 g/dl
3,80-10,60 x103/L
150-440 x103/L
40,0-52,0 %
15,0-50,0 mg/dl
0,60-1,10 mg/dl
<140 mg/dl

2. Pemeriksaan Rontgen thorax, tanggal 2 Juli 2015 di UGD

Foto

: Thorax PA

Deskripsi

: CTR >50%, tampak bercak kesuraman pada lobus superior


dextra berbatas tegas, sinus costofrenikus kanan kiri tajam.

Kesan

: - Pneumonia Lobaris
- Susp TB Paru

1.5

DIAGNOSIS KERJA
Pneumonia
Suspek TB Paru Dextra
7

1.6

DIAGNOSIS BANDING
Atelektasis
Tumor paru
1.7 PEMERIKSAAN TAMBAHAN

Pemeriksaan sputum S-P-S

1.8 PENATALAKSANAAN
IVFD Asering 20 tpm
Inj. Ceftizoxime 2 x 1 g
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Inj. Ondansetron 3 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg iv
1.9 FOLLOW UP

Subyektif
Objektif

Hari Ke-I (Jumat 3 Juli 2015)


Os mengeluh demam, lemas, batuk berdahak putih, BAB
hitam kemarin, nyeri kepala, sulit tidur, intake sulit.
Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda Vital :
o

BP 120/80mmHg; HR 72 x/m; RR 20x/m; T 37,4 C


Kepala :
Normocephali, CA +/+, SI -/Tenggorok:
T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :
KGB TTM
Thorax :
Pulmo simetris saat statis dan dinamis, redup pada lapang
paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara nafas
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing +/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
8

Abdomen :
Datar, supel, BU +, shifting dullness (-), NT (-)
Extermitas :
Hangat ++/++, oedema --/-Analisa

Pneumonia
Susp. TB Paru dextra

Planning

IVFD Asering 20 tpm


Inj. Ceftizoxime 2 x 1 g
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Inj. Ondansetron 3 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg iv
Periksa LED

Hasil pemeriksaan lab 03/06/15:


Parameter
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
LED

Subyektif
Objektif

Hasil
10,3 g/dl
4,99 x103/L
71 x 103/L
29,5 %
80 mm/jam

Nilai Rujukan
13,0-18,0 g/dl
3,80-10,60 x103/L
150-440 x103/L
40,0-52,0 %
0-20 mm/jam

Hari Ke-IV (Senin 6 Juli 2015)


Os mengeluh demam, lemas, batuk berdahak putih, nyeri
kepala, sulit tidur, intake sulit.
Keadaan Umum :
Compos mentis, tampak sakit sedang, gizi cukup
Tanda Vital :
o

BP 120/70mmHg; HR 78 x/m; RR 24x/m; T 37,1 C


Kepala :
Normocephali, CA -/-, SI -/Tenggorok:
T1/T1, faring hiperemis (-)
Leher :
KGB TTM
Thorax :
9

Pulmo simetris saat statis dan dinamis, redup pada lapang


paru kanan, sonor pada lapang paru kiri, suara nafas
vesikular +/+, Rhonchi +/-, Wheezing +/-.
Cor BJI BJII regular, Murmur -, Gallop
Abdomen :
Datar, supel, BU +, shifting dullness (-), NT (-)
Extermitas :
Hangat ++/++, oedema --/-Analisa

Pneumonia
Susp. TB paru Dextra

Planning

IVFD Asering 20 tpm


Inj. Ceftizoxime 2 x 1 g
Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
Inj. Ondansetron 3 x 1 amp
Paracetamol 3 x 500 mg iv
Konsul paru dan alih rawat bangsal cikampek

1.10

PROGNOSIS

Ad Vitam

: ad bonam

Ad Functionam

: dubia ad bonam

Ad Sanationam

: dubia ad bonam

10

BAB III
ANALISIS KASUS
Keluhan utama pasien adalah demam sejak 3 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Disertai dengan keluhan tambahan berupa Menggigil, batuk,
keringat dingin, nafsu makan menurun, nyeri kepala, nyeri ulu hati, berat
badan menurun, mual, muntah, sesak, BAB hitam. Keluhan demam dapat
disebabkan infeksi pada paru yang menghasilkan reaksi inflamasi. Batuk pada
pasien terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Nyeri ulu hati dan adanya riwayat
BAB hitam ini dapat disebabkan oleh perdarahan saluran cerna bagian atas,
kemungkinan

besar

pasien

mengalami

perdarahan

spontan

akibat

trombositopenia yang dialami oleh pasien.


Diagnosis kerja pneumonia dan suspek TB paru ditegakkan berdasarkan
hasil hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Dari
hasil anamesis didapatkan pasien mengeluhkan demam sejak 3 minggu yang
lalu dan memberat pada 1 minggu terakhir, batuk berdahak berwarna putih
selama 4 minggu, penurunan berat badan. Dari hasil pemeriksaan fisik
didapatkan adanya perkusi yang redup di lapang paru kanan, sonor pada
lapang paru kiri serta adanya rhonci basah pada thorax bagian kanan. Pada foto
thorax didapatkan kesan pneumonia lobaris dan suspek TB paru.

11

BAB IV
PNEUMONIA
A. Anatomi Paru-paru
Paru-paru merupakan organ yang berbentuk kerucut, letaknya
didalam rongga dada (thorax). Kedua paru-paru saling terpisah oleh
mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar,
setiap paru-paru mempunyai apeks dan basis.2,3
Paru-paru kanan dibagi 3 lobus : lobus superior, lobus medius, dan
lobus inferior. Paru-paru kanan terbagi lagi atas 10 segmen : pada lobus
superior terdiri atas 3 segmen yakni segmen pertama adalah segmen apical,
segmen kedua adalah segmen posterior, dan segmen ketiga adalah segmen
anterior. Pada lobus medius terdiri atas 2 segmen yakni segmen keempat
adalah segmen lateral, dan segmen kelima adalah segmen medial. Pada lobus
inferior terdiri atas 5 segmen yakni segmen keenam adalam segmen apical,
segmen ketujuh adalah segmen mediobasal, segmen kedelapan adalah
segmen anteriobasal, segmen kesembilan adalah segmen laterobasal, dan
segmen kesepuluh adalah segmen posteriobasal.2,3
Paru-paru kiri terbagi 2 lobus : lobus superior dan lobus inferior.
Paru-paru kiri terdiri dari 8 segmen : pada lobus superior terdiri dari segmen
pertama adalah segmen apikoposterior, segmen kedua adalah segmen
anterior, segmen ketiga adalah segmen superior, segmen keempat adalah
segmen inferior. Pada lobus inferior terdiri dari segmen kelima segmen
apical atau segmen superior, segmen keenam adalah segmen mediobasal atau
kardiak, segmen ketujuh adalah segmen anterobasal dan segmen kedelapan
adalah segmen posterobasal.2,3
B. Definisi Pneumonia
12

Pneumonia adalah peradangan parenkim paru dimana asinus terisi oleh


cairan radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam
interstitium. Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan
paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit).
Pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk,
sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh penyebab non infeksi (bahan
kimia, radiasi, obat-obatan) lazimnya disebut pneumonitis.2,5,6,7,8
C. Faktor Resiko
Pneumonia semakin sering dijumpai pada golongan lanjut usia, pasien
dengan panyakit menahun serta pada penderita penyakit paru obstruksi kronik.
Juga dapat terjadi pada pasien dengan penyakit lain seperti diabetes melitus,
payah jantung, penyakit arteri koroner, keganasan, insufisiensi renal, penyakit
saraf kronik, dan penyakit hati kronik. Faktor predisposisi lain berupa kebiasaan
merokok, pasca infeksi virus, keadaan imunodefisiensi, kelemahan atau
kelainan struktur organ dada dan penurunan kesadaran. Juga adanya tindakan
infasif seperti infus, intubasi, trakeostomi atau pemasangan ventilator.2,5
D. Etiologi
Pneumonia disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme : bakteri,
virus, jamur dan protozoa. Data dari kepustakaan, pneumoni yang didapat dari
masyarakat (community-acquired pneumonia / pneumonia komuniti) banyak
disebabkan oleh bakteri gram positif, sebaliknya pneumonia yang didapat di
rumah sakit (hospital-aquired pneumonia / pneumonia nosokomial) banyak
disebabkan oleh bakteri gram negatif, sedang pneumonia aspirasi banyak
disebabkan oleh bakteri anaerob. Meskipun demikian, di Indonesia akhir-akhir
ini sering dilaporkan dari beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa kuman
yang ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah
bakteri gram negatif.1,2,3,7,8
Tabel 1. Penyebab tersering Pneumonia yang didapat di masyarakat dan
nosokomial.3
LOKASI SUMBER
PENYEBAB

13

Masyarakat

Rumah Sakit

Strepcoccus pneumoniae
Mycoplasma pneumoniae
Haemophilus influenza
Legionella pneumophila
Chlamydia pneumoniae
Anaerob oral (aspirasi)
Adenovirus
Escherichia coli
Klebsiella pneumoniae
Pseudomonas aeruginosa
Staphylococcus aureus

E. Patogenesis
Dalam keadaan sehat pada paru tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme,
keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Apabila terjadi
ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dan lingkungan, maka
mikroorganisme dapat masuk, berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Risiko
terjadinya infeksi pada paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk
mencapai dan merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara
mikroorganisme untuk mencapai dan merusak permukaan saluran nafas :Inokulasi
langsung, penyebaran melalui pembuluh darah, inhalasi bahan aerosol, kolonisasi pada
permukaan mukosa. Terbanyak adalah kolonisasi. Predisposisi: influenza, alkoholisme,
gizi kurang. Komorbid: diabetes melitus, gagal ginjal , gangguan imunitas, PPOK. 2,5,7,8

F. Patologi Anatomi
Terdapat 4 stadium anatomi dari pneumonia lobaris, yaitu:5,6
a) Stadium kongesti, terdiri dari proliferasi cepat dari bakteri dengan
peningkatan vaskularisasi dan eksudasi yang serius, sehingga lobus yang
terkena akan berat, merah penuh dengan cairan. Rongga alveolar
mengandung cairan edema yang berprotein, neutrofil yang menyebar dan
banyak bakteri. Susunan alveolar masih tampak.
b) Stadium hepatisasi merah terjadi oleh karena rongga udara dipenuhi
dengan eksudat fibrinosupuratif yang berakibat konsolidasi kongestif yang
menyerupai hepar pada jaringan paru. Benang-benang fibrin dapat
mengalir dari suatu alveolus melalui pori-pori yang berdekatan.

14

c) Stadium hepatisasi kelabu (konsulidasi) melibatkan desintegrasi progresif


dari leukosit dan eritrosit bersamaan dengan penumpukan terus-menerus
dari fibrin diantara alveoli.
d) Stadium akhir yaitu resolusi, mengikuti kasus-kasus tanpa komplikasi.
Eksudat yang mengalami konsolidasi di antara rongga alveoli dicerna
secara enzimatis yang diserap kembali atau dibersihkan dengan batuk.
Parenkim paru kembali menjadi penuh dengan cairan dan basah sampai
pulih mencapai keadaan normal.
G. Klasifikasi
Pneumonia diklasifikasikan ke beberapa kelompok, diantaranya:2,5,6,7,8
1. Menurut penyakit bawaan
a) Pneumonia primer : radang paru yang terserang pada orang yang
tidak mempunyai faktor resiko tertentu. Kuman penyebab utama
yaitu S. pneumoniae, Hemophilus influenzae, juga virus penyebab
infeksi pernapasan (Influenza, Parainfluenza, RSV). Selain itu juga
bakteri pneumonia yang tidak khas (atypical) yaitu mikoplasma,
chlamydia, dan legionella.
b) Pneumonia sekunder : terjadi pada orang dengan faktor predisposisi,
selain penderita penyakit paru lainnnya seperti COPD, terutama juga
bagi mereka yang mempunyai penyakit menahun seperti diabetes
melitus, HIV, kanker, dll.
2. Menurut tempat asal terjadinya infeksi
a) Community acquired pneumonia (CAP; pneumonia yang terjadi di
lingkungan rumah), juga termasuk Pneumonia yang terjadi di
rumah sakit dengan masa inap <48 jam. Kuman penyebab sama
seperti pada pneumonia primer.
b) Nosokomial pneumonia atau hospital acquired pneumonia (HAP,
pneumonia yang terjadi di rumah sakit), infeksi terjadi setelah 48
jam berada di rumah sakit. Kuman penyebab sangat beragam, yang
sering Staphylococcus aureus atau bakteri dengan gram negatif
lainnya

seperti

E.coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas


15

aeroginosa, Proteus, dll. Tingkat resistensi obat tergolong tinggi


untuk bakteri penyebab HAP.

3. Menurut gambaran klinis


a) Typical pneumonia, infeksi radang paru dengan gejala yang khas.
Gejala yang khas (typical) dari pneumonia yaitu munculnya secara
tiba-tiba diikuti dengan batuk berdahak, demam dalam waktu singkat
dan menggigil, dan sesak napas. Sekitar 30% hanya merasakan sakit
dada yang hebat (pleura) sebagai gejala utama tanpa di ikuti simptom
khas pneumonia. Selain itu penderita cepat lelah, tidak nafsu makan,
berkeringat dan rasa mual.
b) Atypical pneumonia sebagai kebalikannya
4. Menurut predileksi infeksi
a) Pneumonia lobaris. Sering pada pneumonia bacterial, jarang pada
bayi dan orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau
segmen. Kemungkinan sekunder disebabkan oleh adanya obstruksi
bronkus seperti aspirasi benda asing, atau adanya proses keganasan.
b) Bronkopneumonia. Ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate
pada lapangan paru. Dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus.
Sering pada bayi dan orang tua. Jarang dihubungkan dnegan
obstruksi bronkus.
c) Pneumonia interstitial.
H. Manifestasi Klinis
Secara umum manifestasi klinis pneumonia dapat dibagi menjadi:1,2,5,7,8
a) Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit
kepala, gelisah, malaise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.
b) Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu,
akspektorasi sputum, napas cuping hidung, sesak napas, merintih, dan

16

sianosis. Penderita pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang
sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri.
c) Tanda pneumonia berupa retraksi, perkusi pekak, fremitus melemah,
suara napas melemah, dan ronki.
d) Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di
daerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah,
suara napas tubuler tepat diatas batas cairan, friction rub, nyeri dada
karena iritasi pleura (nyeri berkurang bila efusi bertambah dan berubah
menjadi nyeri tumpul), kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa
inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen (kadang
terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan
bawah).
I. Penegakan Diagnosis
Diagnosis klinis pneumonia bergantung kepada penemuan kelainan fisis
atau bukti radiologis yang menunjukkan konsuidasi. Klasifikasi diagnosis klinis
pada masa kini dilengkapi faktor patogenesis yang berperan (lingkungan,
pejamu). Diagnosis dan terapi pneumonia dapat ditegakkan berdasarkan kepada
riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisis yang diteliti dan pemeriksaan
penunjang.

2,3,4

Gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis pneumonia.

Gejala-gejala meliputi:
Gejala Mayor: 1.batuk
2.sputum produktif
3.demam (suhu>37,80c)
Gejala Minor: 1. sesak napas
2. nyeri dada
3. konsolidasi paru pada pemeriksaan fisik
4. jumlah leukosit >12.000/L
Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas akut
bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, menggigil,
suhu tubuh kadang-kadang melebihi 40 C, sakit tenggorokan, nyeri otot dan
sendi. Juga disertai batuk, dengan sputum mukoid atau purulen, kadang-kadang
berdarah. Pada pemeriksaan fisik dada terlihat bagian yang sakit tertinggal
waktu bernafas, pada palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada
17

auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronchial yang


kadang-kadang melemah. Mungkin disertai ronkhi halus, yang kemudian
menjadi ronkhi basah kasar pada stadium resolusi. Pneumonia pada usia lanjut
seringkali memberikan gejala yang tidak khas. Selain batuk dan demam pasien
tidak jarang datang dengan keluhan gangguan kesadaran (delirium), tidak mau
makan, jatuh, dan inkontinensia akut 2,4,5,7
Anamnesis
Ditujukan untuk mengetahui kemungkinan kuman penyebab yang berhubungan
dengan faktor infeksi :
a) Evaluasi faktor presdiposisi: PPOK (H. influenzae), penurunan imunitas
(Pneumocystic carinil, CMV, Legionella, jamur, Mycobacterium),
kecanduan obat bius (Staphylococcus)
b) Usia

pasien:

bayi

(virus),

muda

(M.

pneumoniae),

dewasa

(S.pneumoniae)
c) Awitan; cepat, akut dengan rusty coloured sputum (S. pneumoniae);
perlahan dengan batuk, dahak sedikit (M. pneumoniae).
Pemeriksaan fisis
Presentasi bervariasi tergantung etiologi, usia dan keadaan klinis. Perhatikan
gejala klinis yang mengarah tipe kuman penyebab/patogenitas kuman dan
tingkat berat penyakit:
a) Awitan akut biasanya oleh kuman patogen seperti S. pneumoniae,
Streptococcus spp. Staphyloccus. Pneumonia virus ditandai dengan
mialgia, malaise, batuk kering dan nonproduktif. Awitan lebih insidious
dan ringan pada orang tua/imunitas menurun misalnya: Klebsiella,
Pseudomonas, Enterobacteriaceae, kuman anerob, jamur.
b) Tanda-tanda fisis pada tipe pneumonia klasik bisa didapatkan berua
demam, sesak napas, tanda-tanda konsulidasi paru (perkusi paru yang
pekak, ronki nyaring, suara pernapasan bronchial). Bentuk klasik pada PK
primer

berupa

bronkopneumonia,

pneumonia

lobaris

atau

pleuropneumonia. Gejala atau bentuk yang tidak khas dijumpai pada PK


18

sekunder ataupun PN. Dapat diperoleh bentuk manifestasi lain infeksi


paru seperti efusi pleura, pneumotoraks/hidropneumotoraks.
c) Warna, konsistensi, dan jumlah spuum penting untuk diperhatikan.
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Leukositosis

umumnya

menandai

adanya

infeksi

bakteri;

leukosit

normal/rendah dapat disebabkan oleh infeksi yang berat sehingga tidak


terjadi respons leukosi. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas, misalnya
neutropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S. aereus pada pasien
dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.
b. Pemeriksaan Bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi,
jarum transtokoral, torakkosentesis, bronkoskopi, atau biopsy. Untuk tujuan
terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, Quellung test
dan Z. Nielsen. Kuman yang predominan pada sputum yang disertai PMN
yang kemungkinan merupakan penyebab infeksi. Kultur kuman merupakan
pemeriksaan utama pra terapi dan bermanfaat untuk evaluasi terapi
selanjutnya.
c. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologis pada foto thorax pada penyakit pneumonia antara lain: 1,4,5
a)

Perselubungan homogen atau inhomogen sesuai dengan lobus atau


segment paru secara anatomis. Batasnya tegas, walaupun pada mulanya
kurang jelas.

b)

Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana paru


mengecil. Tidak tampak deviasi trachea/septum/fissure/ seperti pada
atelektasis.

c)

Silhouette sign (+) : untuk menentukan letak lesi paru ; batas lesi dengan
jantung hilang, berarti lesi tersebut berdampingan dengan jantung atau di
lobus medius kanan.

d)

Seringkali terjadi komplikasi efusi pleura.

19

e)

Bila terjadinya pada lobus inferior, maka sinus phrenicocostalis yang


paling akhir terkena.

f)

Pada permulaan sering masih terlihat vaskuler.

g)

Pada masa resolusi sering tampak Air Bronchogram Sign.

a. Pneumonia lobaris
Terjadi pada seluruh atau satu bagian besar dari lobus paru. Pada foto thorax
PA tampak infiltrate di parenkim paru perifer yang semiopak, homogeny tipis
seperti awan, berbatas tegas, bagian perifer lebih opak di banding bagian
sentral.

Konsolidasi

parenkim

paru

tanpa

melibatkan

jalan

udara

mengakibatkan timbulnya air bronkogram. Tampak pelebaran dinding


bronkhiolus. Tidak ada volume loss pada pneumonia tipe ini. 1,4

20

Gambar 2. Pneumonia lobaris pada lobus kanan bawah (RLL) posisi PA lateral

(1)

(2)

Gambar 3. Pneumonia lobaris RML lateral (1)


Pneumonia lobaris RML Sagital CT scan (2)

21

Gambar 4. PGambar 4. Pneumonia lobaris lobus kanan bawah (LLL) AP lateral

b. Bronkopneumonia
Gambaran radiologis bronkopneumonia: mempunyai bentuk difus
bilateral dengan peningkatan corakan bronkhovaskular dan infiltrat kecil dan
halus yang tersebar di pinggir lapang paru. Bayangan bercak ini sering terlihat
pada lobus bawah.Tampak infiltrate peribronkial yang semi opak dan
inhomogen di daerah hilus yang menyebabkan batas jantung menghilang
(silhoute sign). Tampak juga air bronkogram, dapat terjadi nekrosis dan kavitas
pada parenkim paru. Pada keadaan yang lebih lanjut dimana semakin banyak
alveolus yang telibat maka gambaran opak menjadi terlihat homogen. 1,4

22

(1)

(2)

Gambar 5. Bronkopneumonia kanan (1) Bronkopneumonia bilateral PA (2)

23

Infiltrat interstitial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskuler,


peribronchial cuffing, dan hiperaerasi

Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru-paru dengan air bronchogram

Bronkopneumonia, ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru,


berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru,
disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

c. Round Pneumonia
Pneumonia ini sering terlihat pada infeksi di masa kanak-kanak dan dapat
menyerupai suatu massa dalam paru. Petunjuk untuk pola ini adalah adanya air
bronchogram di dalam bayangan opak. Round Pneumonia terjadi karena infeksi
mudah menyebar melalui foramen interalveolar. 1,4,5

Round pneumonia in right lower lobe


PA

Round pneumonia pada paru kanan (RML)


PA

24

d. Pneumonia interstitial

Pneumonia interstitial ditandai dengan pola linear atau retikuler pada parenkim
paru. Pada tahap akhir, dijumpai penebalan jaringan interstitial sebagai densitas
noduler yang kecil. Infiltrat interstitial, ditandai dengan peningkatan corakan
bronkovaskuler, peribronchial cuffing, dan hiperaerasi 1

e. Atypical pneumonia

25

Tempat terjadinya infeksi terutama di intertitium, karena itu disebut interstitial


pneumonia. Infiltrasi sel dan edema yang terjadi menyebabkan semakin jauhnya
jarak alveoli dengan pembuluh darah kapiler paru sehingga pertukaran udara atau
oksigen terhambat, akibatnya pasien merasa sesak nafas. Didalam alveoli hampir
tidak berisi cairan, karena itu pasien tidak batuk berdahak. Kuman penyebab
terutama yang hidup didalam sel seperti virus; Chlamydia pneumonia,
mikoplasma pneumoniae; serta coxiella burnetti & chlamidia trachomatis
( jarang). Gejala klinis utama adalah sesak nafas dan batuk tidak berdahak. Juga
tidak terjadi demam, kenikan suhu badan hanya minimal. 1,4
J. DIAGNOSIS BANDING
Differential Diagnosis dari penyakit pneumonia adalah sebagai berikut:
Tuberculosis Paru (TB)
Tuberculosis Paru (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh M. tuberculosis. Jalan masuk untuk organism M. tuberculosis
adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan. Gejala klinis TB antara lain batuk
lama yang produktif (durasi lebih dari 3 minggu), nyeri dada, dan hemoptisis dan
gejala sistemik meliputi demam, menggigil, keringat malam, lemas, hilang nafsu
makan dan penurunan berat badan. 1,4,5

26

Tampak gambaran cavitas pada paru lobus atas kanan pada foto thorax proyeksi PA

Atelektasis
Atelektasis adalah istilah yang berarti pengembangan paru yang tidak
sempurna dan menyiratkan arti bahwa alveolus pada bagian paru yang terserang
tidak mengandung udara dan kolaps. Memberikan gambaran yang mirip dengan
pneumonia tanpa air bronchogram. Namun terdapat penarikan jantung, trakea, dan
mediastinum ke arah yang sakit karena adanya pengurangan volume interkostal
space menjadi lebih sempit dan pengecilan dari seluruh atau sebagian paru-paru
yang sakit. Sehingga akan tampak thorax asimetris. 1,4,5

27

Atelektasis pada foto thorax proyeksi PA

Efusi Pleura
Memberi

gambaran

yang

mirip

dengan

pneumonia,

tanpa

air

bronchogram. Terdapat penambahan volume sehingga terjadi pendorongan


jantung, trakea, dan mediastinum kearah yang sehat. Rongga thorax membesar.
Pada edusi pleura sebagian akan tampak meniscus sign, tanda khas pada efusi
pleura. 1,4,5

28

Efusi pleura pada foto thorax posisi PA

Pemeriksaan radiologi, dalam hal ini foto thorax konvensional dan CT


Scan menjadi pemeriksaan yang sangat penting pada pneumonia. Terutama
apabila dari pemeriksaan fisik memang menunjukan kelainan di paru dan
membutuhkan pemeriksaan peunjang berupa foto thorax. Koordinasi antara
pemeriksaan klinis, laboratorium dan radiologi akan dapat menunjang penegakan
diagnosis yang tepat. 1,4,5
Gambaran khas pada pneumonia adalah adanya perselubungan dengan
adanya gambaran air bronchogram. Namun tidak semua pneumonia memberikan
gambaran khas tersebut. Untuk menentukan etiologi pneumonia tidak dapat hanya
semata-mata menggunakan foto thorax, melainkan harus dilihat dari riwayat
penyakit, dan juga pemeriksaan laboratorium. 1,4,5
Untuk membedakan antara pneumonia, atelektasis, dan efusi pleura dilihat
dari adanya penarikan atau pendorongan jantung, trakea dan mediastinum ke arah
yang sakit atau sehat. Sementara untuk membedakan pneumonia dengan TB
adalah dilihat dari ada atau tidaknya kavitas yang umumnya terdapat pada lobus
paru bagian atas. Jadi dalam menegakkan pneumonia, sangat diperlukan
gambaran radiologis untuk penegakan diagnosis disamping pemeriksaan
laboratorium. 1,4,5
BAB V
KESIMPULAN
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru dimana asinus terisi oleh cairan
radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium. Secara
klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk, sedangkan peradangan paru yang
disebabkan oleh penyebab non infeksi (bahan kimia, radiasi, obat-obatan) lazimnya
disebut pneumonitis.
Pneumonia sering dijumpai pada golongan lanjut usia, pasien dengan panyakit
menahun serta pada penderita PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik). Juga dapat terjadi
pada pasien dengan penyakit lain seperti DM, payah jantung, penyakit arteri koroner,
29

keganasan, insufisiensi renal, penyakit saraf kronik, dan penyakit hati kronik, kebiasaan
merokok, pasca infeksi virus, keadaan imunodefisiensi, kelemahan atau kelainan struktur
organ dada dan penurunan kesadaran. Juga adanya tindakan invasive seperti infuse,
intubasi, trakeostomi atau pemasangan ventilator.
Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia dan hal ini
berdampak kepada obat yang akan diberikan. Mikroorganisme penyebab tersering adalah
bakteri S. Pneumoniae.
Gambaran radiologi pneumonia adalah konsolidasi rongga udara akibat rongga
udara alveolar terisi dengan eksudat inflamatorik yang disebabkan infeksi sehingga akan
menyebabkan peningkatan densitas paru dan tampak berwarna putih atau tampak sebagai
bayangan opak fokal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasad, Sjariar. 2008. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta
2. Aru W, Bambang, Idrus A, Marcellus, Siti S, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II. Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD RSCM; 2007.
3. Price, Sylvia A., Wilso, Loraine M. 2008. Patofisiologi, Konsep klinis ProsesProses Penyakit, Buku II, edisi keempat. Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
4. Palmer, dkk. 2010, Petunjuk Membaca Foto untuk Dokter Umum, EGC, Jakarta
5. Wibisono, Jusuf M. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru, Balai penerbit FK
UNAIR, Surabaya
6. American thoracic society. Guidelines for management of adults with Guidelines
for the Management of Adults with Hospital-acquired, Ventilator-associated, and
Healthcare-associated Pneumonia. Am J Respir Crit.Care Med 2005; 171: 388-416.
30

7. Perhimpunan

Dokter

Paru

Indonesia.

2003.

Pedoman

Diagnosis

dan

2003.

Pedoman

Diagnosis

dan

penatalaksanaan Pneumonia Komuniti.


8. Perhimpunan

Dokter

Paru

Indonesia.

penatalaksanaan Pneumonia Nosokomial.

31