Anda di halaman 1dari 27

DEMAM BERDARAH DENGUE

1.1.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

1.1.1. Definisi
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus

dengue dan ditularkan oleh nyamuk

Aedes aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak dua sampai tujuh
hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, nyeri hulu hati, disertai
tanda perdarahan dikulit berupa petechie, purpura, echymosis, epistaksis,
perdarahan gusi, hematemesis, melena, hepatomegali, trombositopeni, dan
kesadaran menurun atau renjatan.
1.1.2. Agent Infeksius
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue. Virus ini termasuk
dalam grup B Antropod Borne Virus (Arboviroses) kelompok flavivirus dari
family flaviviridae, yang terdiri dari empat serotipe, yaitu DEN 1, DEN 2,
DEN 3, DEN 4. Masing- masing saling berkaitan sifat antigennya dan dapat
menyebabkan sakit pada manusia. Keempat tipe virus ini telah ditemukan di
berbagai daerah di Indonesia. DEN 3 merupakan serotipe yang paling sering
ditemui selama terjadinya KLB di Indonesia diikuti DEN 2, DEN 1, dan
DEN 4. DEN 3 juga merupakan serotipe yang paling dominan yang

berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit yang menyebabkan gejala


klinis yang berat dan penderita banyak yang meninggal.

1.1.3 Vektor Penular


Nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus merupakan
vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lain melalui
gigitannya. Nyamuk

Aedes aegypti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (daerah urban)


sedangkan daerah pedesaan (daerah rural) kedua spesies nyamuk tersebut berperan
dalam penularan.

1.2.

Penularan Virus Dengue

1.2.1. Mekanisme Penularan


Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia dengan
manusia. Virus dengue sebagai penyebab demam berdarah hanya dapat ditularkan
melalui nyamuk. Oleh karena itu, penyakit ini termasuk kedalam kelompok
arthropod borne diseases. Virus dengue berukuran 35-45 nm. Virus ini dapat terus
tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk.
Terdapat tiga faktor yang memegang peran pada penularan infeksi dengue,
yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue masuk ke dalam tubuh
nyamuk pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, kemudian
virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus yang infeksius.
Seseorang yang di dalam darahnya memiliki virus dengue (infektif)
merupakan sumber penular DBD. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari
mulai 1-2 hari sebelum demam (masa inkubasi instrinsik). Bila penderita DBD digigit
nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam lambung
nyamuk. Selanjutnya virus akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh bagian
tubuh nyamuk, dan juga dalam kelenjar saliva. Kira-kira satu minggu setelah
menghisap darah penderita (masa inkubasi ekstrinsik), nyamuk tersebut siap untuk

menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk
sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah menghisap
virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya.
Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit (menusuk),
sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya
(probosis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus
dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Hanya nyamuk Aedes aegypti
betina yang dapat menularkan virus dengue.
Nyamuk betina sangat menyukai darah manusia (anthropophilic) dari pada
darah binatang. Kebiasaan menghisap darah terutama pada pagi hari jam 08.00-10.00
dan sore hari jam 16.00-18.00. Nyamuk betina mempunyai kebiasaan menghisap
darah berpindah-pindah berkali-kali dari satu individu ke individu lain (multiple
biter). Hal ini disebabkan karena pada siang hari manusia yang menjadi sumber
makanan darah utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak sehingga nyamuk
tidak bisa menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada satu individu.
Keadaan inilah yang menyebabkan penularan penyakit DBD menjadi lebih mudah
terjadi.

1.2.2. Tempat Potensial Bagi Penularan Penyakit DBD


Penularan penyakit DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk
penularnya. Tempat-tempat potensial untuk terjadinya penularan DBD adalah :
a. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)

b. Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang


datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa
tipe virus dengue cukup besar.
Tempat-tempat umum itu antara lain :
i. Sekolah
Anak murid sekolah berasal dari berbagai wilayah, merupakan kelompok
umur yang paling rentan untuk terserang penyakit DBD.
ii. Rumah Sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya :
Orang datang dari berbagai wilayah dan kemungkinan diantaranya adalah
penderita DBD, demam dengue atau carier virus dengue.
iii. Tempat umum lainnya seperti :
Hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat-tempat ibadah dan lain-lain. c.
Pemukiman baru di pinggiran kota
Karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka
kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang membawa tipe virus
dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi awal.

1.3.

Nyamuk Penular DBD

1.3.1. Morfologi
Nyamuk Aedes aegypti mempunyai morfologi sebagai berikut :
a. Nyamuk dewasa
Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil, jika dibandingkan dengan rata-rata
nyamuk yang lain.

Mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan
kaki.
b. Pupa (Kepompong)
Pupa atau kepompong berbentuk seperti Koma. Bentuknya lebih besar namun
lebih ramping dibandingkan larva (jentik)nya. Pupa nyamuk Aedes aegypti
berukuran lebih kecil, jika dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain.
c. Larva (jentik)
Ada 4 tingkat (instar) larva sesuai dengan pertumbuhan larva
i. Larva instar I berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm.
ii.

Larva instar II berukuran 2,5-3,8 mm.

iii.

Larva instar III berukuran lebih besar sedikit dari larva instar II.

iv.

Larva instar IV berukuran paling besar 5mm.

Larva dan pupa hidup pada air yang jernih pada wadah atau tempat air buatan
seperti pada potongan bambu, dilubang-lubang pohon, pelepah daun, kaleng
kosong, pot bunga, botol pecah, tangki air, talang atap, tempolong atau bokor,
kolam air mancur, tempat minum kuda, ban bekas, serta barang-barang lainnya
yang berisi air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah. Larva sering
berada di dasar container, posisi istirahat pada permukaan air membentuk sudut
45 derajat, sedangkan posisi kepala berada di bawah.
d. Telur
Telur berwarna hitam dengan ukuran lebih 0,80 mm. Telur berbentuk oval yang
mengapung satu persatu pda permukaan air yang jernih, atau menempel pada
dinding penampungan air, Aedes aegypti betina bertelur diatas permukaan air

pada dinding vertikal bagian dalam pada tempat-tempat yang

berair sedikit,

jernih, terlindung dari sinar matahari langsung, dan biasanya berada di dalam dan
dekat rumah. Telur tersebut diletakkan satu persatu atau berderet pada dinding
tempat air, di atas permukaan air, pada waktu istirahat membentuk sudut dengan
permukaan air.
1.3.2. Lingkungan Hidup
Nyamuk Aedes aegypti seperti nyamuk lainnya mengalami metamorfosis
sempurna yaitu telur jentik kepompong nyamuk. Stadium telur, jentik dan
kepompong hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik
dalam waktu kurang lebih 2 hari setelah telur terendam air. Telur dapat bertahan
hingga kurang lebih selama 2-3 bulan apabila tidak terendam air, dan apabila musim
penghujan tiba dan kontainer menampung air, maka telur akan terendam kembali dan
akan menetas menjadi jentik. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, dan
stadium pupa (kepompong) berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur
menjadi dewasa 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan.
Pergerakan nyamuk dari tempat perindukan ke tempat mencari mangsa dan ke
tempat istirahat ditentukan oleh kemampuan terbang. Jarak terbang nyamuk betina
biasanya 40-100 meter. Namun secara pasif misalnya angin atau terbawa kendaraan
maka nyamuk ini dapat berpindah lebih jauh.
1.3.3. Variasi Musiman
Pada musim hujan tempat perkembang biakan Aedes aegypti yang pada
musim kemarau tidak terisi air, mulai terisi air. Telur-telur yang tadinya belum
sempat menetas akan menetas. Selain itu pada musim hujan semakin banyak tempat

penampungan air alamiah yang terisi air hujan dan dapat digunakan sebagai tempat
berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu pada musim hujan
populasi nyamuk Aedes aegypti terus meningkat. Bertambahnya populasi nyamuk ini
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan penularan penyakit
dengue.
1.3.4. Tempat Perkembangbiakan Aedes aegypti
Tempat perkembangbiakan

utama nyamuk Aedes aegypti

ialah pada

tempat-tempat penampungan air berupa genangan air yang tertampung di suatu


tempat atau bejana di dalam atau sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya
tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Nyamuk ini biasanya tidak dapat
berkembangbiak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah.
Jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
a. Tempat Penampungan Air (TPA), yaitu tempat-tempat untuk menampung air
guna keperluan sehari-hari, seperti: tempayan, bak mandi, ember, dan lain-lain.
b. Bukan tempat penampungan air (non TPA), yaitu tempat-tempat yang biasa
menampung air tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti : tempat minum
hewan peliharaan (ayam, burung, dan lain-lain), barang bekas (kaleng,botol,
ban,pecahan gelas, dan lain-lain), vas bunga,perangkap semut, penampung air
dispenser, dan lain-lain.
c. Tempat penampungan air alami, seperti : Lubang pohon, lubang batu, pelepah
daun, tempurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang, potongan bambu,
dan lain-lain .

1.4.

Epidemiologi Penyakit DBD

1.4.1. Distribusi Penyakit DBD Menurut Orang


DBD dapat diderita oleh semua golongan umur, walaupun saat ini DBD lebih
banyak pada anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini DBD terlihat kecenderungan
kenaikan proporsi pada kelompok dewasa, karena pada kelompok umur ini
mempunyai mobilitas yang tinggi dan sejalan dengan perkembangan transportasi
yang lancar, sehingga memungkinkan untuk tertularnya virus dengue lebih besar, dan
juga karena adanya infeksi virus dengue jenis baru yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan
DEN 4 yang sebelumya belum pernah ada pada suatu daerah.
Pada awal terjadinya wabah di suatu negara, distribusi umur memperlihatkan
jumlah penderita terbanyak dari golongan anak berumur kurang dari 15 tahun
(86-95%). Namun pada wabah-wabah selanjutnya jumlah penderita yang digolongkan
dalam usia dewasa muda meningkat. Di Indonesia penderita DBD terbanyak pada
golongan anak berumur 5-11 tahun, proporsi penderita yang berumur lebih dari 15
tahun meningkat sejak tahun 1984.

1.4.2. Distribusi Penyakit DBD Menurut Tempat


Penyakit DBD dapat menyebar pada semua tempat kecuali tempat-tempat
dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut karena pada tempat yang tinggi
dengan suhu yang rendah perkembangbiakan Aedes aegypti tidak sempurna.
Dalam kurun waktu 30 tahun sejak ditemukan virus dengue di Surabaya dan
Jakarta tahun 1968 angka kejadian sakit infeksi virus dengue meningkat

dari

0,05 per 100.000 penduduk menjadi 35,19 per 100.000 penduduk tahun 1998. Sampai
saat ini DBD telah ditemukan diseluruh propinsi di Indonesia.

Meningkatnya kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit disebabkan


karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, dan
terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat
tipe virus yang menyebar sepanjang tahun.
1.4.3. Distribusi Penyakit DBD Menurut Waktu
Pola berjangkitnya infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan
0
kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32 C) dengan kelembaban yang tinggi,
nyamuk Aedes aegypti akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama.
Di Indonesia karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat maka
pola terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di pulau Jawa pada
umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat terus sehingga
kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.
1.4.4. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Penyakit DBD
Penularan penyakit DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu agent
(virus), host (pejamu), dan lingkungan, yaitu :
1. Agent (penyebab penyakit) adalah semua unsur atau elemen hidup atau mati yang
kehadirannya, apabila diikuti dengan kontak yang efektif dengan manusia rentan
dalam keadaan yang memungkinkan akan menjadi stimuli untuk mengisi dan
memudahkan terjadinya suatu proses penyakit. Dalam hal ini yang menjadi agent
dalam penyebaran DBD adalah virus dengue.
2. Karakteristik host (pejamu) adalah manusia yang kemungkinan terjangkit
penyakit DBD. Faktor-faktor yang terkait dalam penularan DBD pada manusia
yaitu :

i.

Mobilitas penduduk akan memudahkan penularan dari suatu tempat ke tempat


yang lainnya. Hasil penelitian Fathi (2004) di kota Mataram mobilitas
penduduk tidak ikut berperan dalam terjadinya KLB penyakit DBD di kota
Mataram, hal ini dapat dikaitkan dengan mobilitas penduduk di kota Mataram
yang relatif rendah yaitu sebagian besar adalah petani. Hasil penelitian
Arsunan

dan Wahiduddin (2003) di kota Makassar mobilitas penduduk

berperan dalam penyebaran DBD, hal ini disebabkan mobilitas penduduk di


kota Makassar yang relatif tinggi. Hal ini sesuai dengan Sumarmo bahwa
penyakit biasanya menjalar dimulai dari suatu pusat sumber penularan (kota
besar), kemudian mengikuti lalu-lintas (mobilitas) penduduk. Semakin tinggi
mobilitas makin besar kemungkinan penyebaran penyakit DBD.
ii. Pendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan
dan cara pemberantasan yang dilakukan, hal ini berkaitan dengan
pengetahuan. Hasil penelitian Nicolas Duma (2007) di kecamatan Baruga kota
Kendari ada hubungan yang sangat signifikan antara

pengetahuan dengan

kejadian DBD. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Arsunan dan
Wahiduddin (2003) di kota Makassar yang mendapatkan adanya hubungan
yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD. Hasil penelitian
Kasnodiharjo (1997) di Subang Jawa Barat menyatakan bahwa seseorang
yang mempunyai latar belakang pendidikan atau buta huruf , pada umumnya
akan mengalami kesulitan untuk menyerap ide-ide baru dan membuat mereka
konservatif karena tidak mengenal alternatif yang lebih baik.

iii. Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit


DBD. Hasil penelitian Soegeng Soegijanto (2000) di Jawa Timur dari tahun
1996 sampai dengan tahun 2000 proporsi kasus DBD terbanyak adalah pada
kelompok umur 5-9 tahun. Tetapi pada tahun 1998 dan 2000 proporsi kasus
pada kelompok umur 15-44 tahun meningkat, keadaan tersebut perlu
diwaspadai bahwa DBD cenderung meningkat pada kelompok umur remaja
dan dewasa. Hal ini sesuai dengan Suroso bahwa di Indonesia pada tahun
1995-1997 proporsi kasus DBD telah bergeser ke usia 15 tahun. Hasil
penelitian Fitri (2005) di Pekanbaru proporsi penderita terbanyak lebih sering
pada kelompok umur 15 tahun.
iv. Jenis kelamin, berdasarkan penelitian Widyana (1998) di Bantul pada tahun
1997 menemukan bahwa proporsi penderita perempuan lebih tinggi dibanding
laki-laki yaitu sebesar 52,6 %. Hasil serupa juga di peroleh oleh Enny dkk
(2003) di Jakarta pada tahun 2000 sebagian besar penderita adalah perempuan
(58,2%). Namun secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan antara jenis
kelamin penderita DBD dan sampai sekarang tidak ada keterangan yang dapat
memberikan jawaban dengan tuntas mengenai perbedaan jenis kelamin pada
penderita DBD. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan
Djelantik di RSCM Jakarta (1998) menyatakan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara angka insiden laki-laki dan perempuan.
3. Lingkungan, lingkungan yang terkait dalam penularan penyakit DBD adalah :
i. Tempat penampungan air / keberadaan kontainer, sebagai tempat perindukan
nyamuk Aedes aegypti. Hasil penelitian Yukresna (2003) dengan desain

penelitian case control di kota Medan mendapatkan kondisi tempat


penampungan air mempunyai hubungan dengan kejadian DBD dengan
OR 5,706 (CI 95% 1,59 20,39).
ii. Ketinggian

tempat

suatu

daerah

mempunyai

pengaruh

terhadap

perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Di wilayah dengan ketinggian


lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut tidak ditemukan nyamuk Aedes
aegypti.
iii. Curah hujan, pada musim hujan (curah hujan diatas normal) tempat
perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang pada musim kemarau tidak
terisi air, mulai terisi air. Telur-telur yang belum sempat menetas, dalam
tempo singkat akan menetas, dan kelembaban udara juga akan meningkat
yang akan berpengaruh bagi kelangsungan hidup nyamuk dewasa dimana
selama musim hujan jangka waktu hidup nyamuk lebih lama dan berisiko
penularan virus lebih besar. Dari hasil pengamatan penderita DBD yang
selama ini dilaporkan di Indonesia bahwa

musim penularan DBD pada

umumnya terjadi pada musim hujan yaitu awal dan akhir tahun. Hasil
penelitian Fitri (2005) kasus penyakit DBD di kota Pekanbaru akan lebih
tinggi pada saat curah hujan tinggi yaitu diatas 300 mm.
iv. Kebersihan lingkungan / sanitasi lingkungan, dari penelitian Yukresna (2003)
di kota Medan dengan desain penelitian case control yang mendapatkan
bahwa kebersihan lingkungan mempunyai hubungan dengan kejadian DBD
dengan OR 2,90 (CI 95% 1,63-5,15). Penelitian tersebut sesuai dengan

pernyataan Seogeng, S (2004) yang menyatakan bahwa kondisi sanitasi


lingkungan berperan besar dalam perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
1.4.5. Manifestasi Klinis
Infeksi oleh virus dengue dapat bersifat asimtomatik maupun simtomatik yang
meliputi demam biasa (sindrom virus), demam dengue, atau demam berdarah dengue
termasuk sindrom syok dengue (DSS). Penyakit demam dengue biasanya tidak
menyebabkan kematian, penderita sembuh tanpa gejala sisa. Sebaliknya, DHF
merupakan penyakit demam akut yang mempunyai ciri-ciri demam, manifestasi
perdarahan, dan berpotensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan
kematian. Gambaran klinis bergantung pada usia, status imun penjamu, dan strain
virus.
Berikut ini adalah bagan manifestasi infeksi virus dengue :
Infeksi virus dengue
Asimtomatik
Demam yang tak
jelas penyebabnya
(sindrom virus)

Simtomatik
Demam berdarah
dengue
(kebocoran plasma)

Demam dengue

Tanpa
Perdarahan

Dengan
perdarahan
DBD tanpa
syok

Demam dengue

DBD dengan
syok (SSD)

Demam Berdarah Dengue

1.5. Pencegahan Primer


Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu
pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan
orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
1.5.1. Surveilans Vektor
Surveilans untuk nyamuk Aedes aegypti sangat penting untuk menentukan
distribusi, kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu
dan tempat yang berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau
kekebalan insektisida yang dipakai, untuk memprioritaskan wilayah dan musim untuk
pelaksanaan pengendalian vektor. Data tersebut akan memudahkan pemilihan dan
penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian vektor, dan dapat dipakai untuk
memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah survei jentik.
Survei jentik dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat
atau bejana yang dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti
dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik,yaitu dengan cara
visual. Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada tidaknya jentik disetiap tempat
genangan air tanpa mengambil jentiknya.
Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti
adalah :
a. House Indeks (HI), yaitu persentase rumah yang terjangkit larva dan atau pupa.
HI = Jumlah Rumah Yang Terdapat Jentik x 100%
Jumlah Rumah yang Diperiksa

b. Container Indeks (CI), yaitu persentase container yang terjangkit larva atau pupa.
CI = Jumlah Container Yang Terdapat Jentik x 100%
Jumlah Container Yang Diperiksa
c. Breteau Indeks (BI), yaitu jumlah container yang positif per-100 rumah yang
diperiksa.
BI = Jumlah Container Yang Terdapat Jentik x 100 rumah
Jumlah Rumah Yang Diperiksa
Dari ukuran di atas dapat diketahui persentase Angka Bebas Jentik (ABJ),
yaitu jumlah rumah yang tidak ditemukan jentik per jumlah rumah yang
diperiksa.
ABJ = Jumlah Rumah Yang Tidak Ditemukan Jentik

x 100%

Jumlah Rumah Yang Diperiksa


Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan bentuk evaluasi hasil
kegiatan yang dilakukan tiap 3 bulan sekali disetiap desa/kelurahan endemis
pada 100 rumah/bangunan yang dipilih secara acak (random sampling).
Angka Bebas Jentik dan House Indeks lebih menggambarkan luasnya
penyebaran nyamuk disuatu wilayah.
1.5.2. Pengendalian Vektor
Pengendalian vektor adalah upaya untuk menurunkan kepadatan populasi
nyamuk Aedes aegypti. Secara garis besar ada 3 cara pengendalian vektor yaitu :
a. Pengendalian Cara Kimiawi
Pada pengendalian kimiawi digunakan insektisida yang ditujukan pada nyamuk
dewasa atau larva. Insektisida yang dapat digunakan adalah dari golongan

organoklorin, organofosfor, karbamat, dan pyrethoid. Bahan-bahan insektisida


dapat diaplikasikan dalam bentuk penyemprotan (spray) terhadap rumah-rumah
penduduk. Insektisida yang dapat digunakan terhadap larva Aedes aegypti yaitu
dari golongan organofosfor (Temephos) dalam bentuk sand granules yang larut
dalam air di tempat perindukan nyamuk atau sering disebut dengan abatisasi.
b. Pengendalian Hayati / Biologik
Pengendalian hayati atau sering disebut dengan pengendalian biologis dilakukan
dengan menggunakan kelompok hidup, baik dari golongan mikroorganisme
hewan invertebrate atau vertebrata. Sebagai pengendalian hayati dapat berperan
sebagai patogen, parasit dan pemangsa.
Beberapa jenis ikan kepala timah (Panchaxpanchax), ikan gabus (Gambusia
affinis) adalah pemangsa yang cocok untuk larva nyamuk. Beberapa jenis
golongan cacing nematoda seperti Romanomarmis iyengari dan Romanomarmis
culiforax merupakan parasit yang cocok untuk larva nyamuk.
c. Pengendalian Lingkungan
Pengendalian lingkungan dapat digunakan beberapa cara antara lain dengan
mencegah nyamuk kontak dengan manusia yaitu memasang kawat kasa pada
pintu, lubang jendela, dan ventilasi di seluruh bagian rumah. Hindari
menggantung pakaian di kamar mandi, di kamar tidur, atau di tempat yang tidak
terjangkau sinar matahari.

1.5.3. Surveilans Kasus


Surveilans kasus DBD dapat dilakukan dengan surveilans aktif maupun pasif.
Di beberapa negara pada umumnya dilakukan surveilans pasif. Meskipun sistem
surveilans pasif tidak sensitif dan memiliki spesifisitas yang rendah, namun sistem
inin berguna untuk memantau kecenderungan penyabaran dengue jangka panjang.
Pada surveilans pasif setiap unit pelayanan kesehatan ( rumah sakit, Puskesmas,
poliklinik, balai

pengobatan, dokter praktek swasta, dll) diwajibkan melaporkan

setiap penderita termasuk tersangka DBD ke dinas kesehatan selambat-lambatnya


dalam waktu 24 jam.
Surveilans aktif adalah yang bertujuan memantau penyebaran dengue di
dalam masyarakat sehingga mampu mengatakan kejadian, dimana berlangsung
penyebaran kelompok serotipe virus yang bersirkulasi, untuk mencapai tujuan
tersebut sistem ini harus mendapat dukungan laboratorium diagnostik yang baik.
Surveilans seperti ini pasti dapat memberikan peringatan dini atau memiliki
kemampuan prediktif terhadap penyebaran epidemi penyakit DBD.
1.5.4. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk
Gerakan PSN adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat
dan pemerintah untuk mencegah penyakit DBD yang disertai pemantauan hasilhasilnya secara terus menerus. Gerakan PSN DBD merupakan bagian terpenting dari
keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD, dan merupakan bagian dari upaya
mewujudkan kebersihan lingkungan serta prilaku sehat dalam rangka mencapai
masyarakat dan keluarga sejahtera. Dalam membasmi jentik nyamuk penularan DBD
dengan cara yang dikenal dengan istilah 3M, yaitu :

1. Menguras bak mandi, bak penampungan air, tempat minum hewan peliharaan
minimal sekali dalam seminggu.
2. Menutup rapat tempat penampungan air sedemikian rupa sehingga tidak dapat
diterobos oleh nyamuk dewasa.
3. Mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, yang semuanya
dapat menampung air hujan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk
Aedes aegypti.

1.6.

Pencegahan Sekunder
Pada pencegahan sekunder dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :

1.6.1. Penemuan, Pertolongan dan Pelaporan Penderita


Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD dilaksanakan oleh
petugas kesehatan dan masyarakat dengan cara :
1. Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit DBD, berikan
pertolongan pertama dengan banyak minum, kompres dingin dan berikan obat
penurun panas yang tidak mengandung asam salisilat serta segera bawa ke dokter
atau unit pelayanan kesehatan.
2. Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan pemeriksaan/diagnosa dan
pengobatan segaera melaporkan penemuan penderita atau tersangka DBD tersebut
kepada Puskesmas, kemudian pihak Puskesmas yang menerima laporan segera
melakukan penyelidikan epidemiologi dan pengamatan penyakit dilokasi
penderita dan rumah disekitarnya untuk mencegah kemungkinan adanya
penularan lebih lanjut.

3. Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan epidemiologi dan kejadian luar


biasa (KLB) kepada Camat, dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, disertai
dengan cara penanggulangan seperlunya.
1.6.2. Diagnosis
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO
tahun 1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratorium.
1. Kriteria Klinis
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus
selama 2-7 hari.
b. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan : uji tourniquet positif,
petechie, echymosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi,
hematemesis dan malena.
Uji tourniquet dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan tekanan darah.
Selanjutnya diberikan tekanan di antara sistolik dan diastolik pada alat
pengukur yang dipasang pada lengan di atas siku; tekanan ini diusahakan
menetap selama percobaan. Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit,
diperhatikan timbulnya petekia pada kulit di lengan bawah bagian medial
pada sepertiga bagian proksimal. Uji dinyatakan positif apabila pada 1 inchi
persegi (2,8 x 2,8 cm) didapat lebih dari 20 petekia.
c. Pembesaran hati (hepatomegali).
d. Syok (renjatan), ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi,
hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan gelisah.

2. Kriteria Laboratorium
a. Trombositopeni ( < 100.000 sel/ml)
b. Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih.
3. Derajat Penyakit DBD, menurut WHO tahun 1997
Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat, yaitu :
a. Derajat I

Demam disertai dengan gejala umum nonspesifik, satu-satunya


manifestasi perdarahan ditunjukkan melalui uji tourniquet yang
positif.

b. Derajat II

Selain manifestasi yang dialami pasien derajat I, perdarahan


spontan juga terjadi, biasanya dalam bentuk perdarahan kulit
dan atau perdarahan lainnya.

c. Derajat III

Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai


hepatomegali dan ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi
meliputi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi menurun

< 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit lembab dan dingin


serta gelisah.
d. Derajat IV

Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai


hepatomegali dan ditemukan gejala syok (renjatan) yang sangat
berat dengan tekanan darah dan denyut nadi yang tidak
terdeteksi.

1.6.3. Diagnosis Laboratorium


Pemeriksaan laboratorium yang sangat penting untuk memastikan diagnosis
infeksi dengue, meliputi :
1. Pengumpulan Spesimen
Salah

satu

aspek

yang

esensial

untuk

diagnosis

laboratorium adalah

pengumpulan, pegolahan, penyimpanan, dan pengantaran spesimen.


Persyaratan dari jenis spesimen, cara penyimpanan dan pengiriman dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Jenis spesimen
Waktu pengambilan
Spesimen darah
0-5 hari setelah onset
Akut (S1)
Spesimen darah
2-3 minggu setelah
Konvelesen (S2 & S3)
awitan
Jaringan
Secepatnya setelah
meninggal

Penyimpanan
0
-70 C

Pengiriman
dry-ice

0
-20 C

beku/es

0
-70 C

dry-ice

Spesimen S1 adalah sampel darah yang diambil pada stadium akut atau
secepatnya setelah onset penyakit atau segera setelah masuk rumah sakit.
Spesimen S2 adalah sampel darah yang diambil pada waktu penderita akan
meninggalkan rumah sakit atau secepatnya sebelum meninggal. Spesimen S3
adalah sampel darah yang diambil 2-3 minggu setelah spesimen akut. Waktu
antara yang paling baik untuk pengambilan spesimen akut dan kovalesen adalah
10 hari.
Untuk pemeriksaan serologi pengumpulan spesimen darah dapat dilakukan
dengan 2 cara :

a.

dengan menggunakan kertas saring (filter paper khusus).


Darah diteteskan pada kertas saring sampai jenuh, bolak-balik sehingga
seluruh permukaan filter paper terisi darah rata. Darah dapat dari pembuluh
vena dapat pula darah dari ujung jari (ujung jari ditusuk). Kertas saring yang
berisi darah dibiarkan kering pada temperatur kamar. Jangan dikeringkan
dengan panas sinar matahari atau yang lainnya. Kertas saring yang berisi
darah yang telah kering disimpan dalam tempat yang kering pada suhu kamar
tidak lebih dari 3 bulan. Kirimkan dalam amplop atau kantong plastik ke
laboratorium secepatnya sebelum waktu 3 bulan tersebut.
b. dengan serum
darah diambil secara asepsis dengan menggunakan semprit. Serum dipisahkan
dengan diputar 1500-2000 putaran sekitar 10-15 menit. Serum yang terpisah
dipindahkan dalam botol kecil dengan menggunakan pipet Pasteur. Serum
0
tersebut disimpan pada suhu -20 C sebelum dikirim ke laboratorium.

2. Isolasi Virus
Isolasi sebagian besar strain virus dengue dari spesimen klinis dapat dilakukan
pada sebagian besar kasus asalkan sampel diambil dalam beberapa hari pertama
sakit dan langsung diproses tanpa penundaan. Spesimen yang mungkin sesuai
untuk isolasi virus diantaranya serum fase akut dari pasien, autopsi jaringan dari
kasus fatal, terutama dari hati, limpa, nodus limfe.

13

3. Uji Serologis
Uji hemaglutinasi inhibisi (uji HI) merupakan salah satu pemeriksaaan serologi
untuk penderita DBD dan telah ditetapkan oleh WHO sebagai standar pada

pemeriksaan serologi penderita DBD dibandingkan pemeriksaan serologi lainnya


seperti ELISA, uji komplemen fikasi, uji netralisasi, dan sebagainya. Apapun
jenis uji yang dilakukan, konfirmasi serologis sudah pasti bergantung pada
kenaikan yang signifikan (4 kali lipat atau lebih) pada antibodi spesifik dalam
sampel serum diantara fase akut dan fase pemulihan. Kumpulan antigen untuk
sebagian besar uji serologis ini harus mencakup keempat serotipe dengue.
1.6.4. Pengobatan Penderita DBD
Pengobatan penderita DBD pada dasarnya bersifat simptomatik dan suportif
yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi.
1. Penatalaksanaan DBD tanpa komplikasi :
a. Istirahat total di tempat tidur.
b. Diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 jam (susu, air dengan gula atau air
ditambah garam/oralit). Bila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena
tidak mau minum, muntah atau nyeri perut berlebihan, maka cairan inravena
harus diberikan.
c. Berikan makanan lunak
d. Medikamentosa yang bersifat simptomatis. Untuk hiperpireksia dapat
diberikan kompres, antipiretik yang bersifat asetaminofen, eukinin, atau
dipiron dan jangan diberikan asetosal karena dapat menyebabkan perdarahan.
e. Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi sekunder.
2. Penatalaksanaan pada pasien syok :
a. Pemasangan infus yang diberikan dengan diguyur, seperti NaCl, ringer laktat
dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah syok diatasi.

b. Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan tiap jam,
serta Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) tiap 4-6 jam pada hari pertama
selanjutnya tiap 24 jam.
Nilai normal Hemoglobin :
Anak-anak

: 11,5 12,5 gr/100 ml darah

Laki-laki dewasa

: 13 16 gr/100 ml darah

Wanita dewasa

: 12 14 gr/100 ml darah

Nilai normal Hematokrit :


Anak-anak

: 33 38 vol %

Laki-laki dewasa

: 40 48 vol %

Wanita dewasa

: 37 43 vol %

c. Bila pada pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar Hb dan Ht maka


diberi transfusi darah.
1.6.5. Penyelidikan Epidemiologi (PE)
Penyelidikan Epidemiologi adalah kegiatan pencarian penderita/tersangka
DBD lainnya dan pemeriksaan jentik rumah, yang dilakukan dirumah penderita dan
20 rumah disekitarnya serta tempat-tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber
penularan, hasilnya dicatat dalam formulir PE dan dilaporkan kepada Kepala
Puskesmas selanjutnya diteruskan kepada Lurah melalui Camat dan penanggulangan
seperlunya untuk membatasi penularan. Maksud penyelidikan epidemiologi ialah
untuk mengetahui ada/tidaknya kasus DBD tanbahan dan luas penyebarannya, serta
untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit DBD lebih lanjut
dilokasi tersebut.

Bila pada hasil PE ditemukan penderita DBD lain atau jentik dan penderita
panas tanpa sebab yang jelas lebih dari 3 orang maka akan dilakukan penyuluhan 3 M
plus, larvasida, fogging fokus / penanggulangan fokus, yaitu pengasapan rumah
sekitar tempat tinggal penderita DBD dalam radius 200 meter, yang dilaksanakan
berdasarkan hasil dari penyelidikan epidemiologi, dilakukan 2 siklus dengan interval
1 minggu. Bila pada hasil PE tidak ditemukan kasus lain maka dilakukan penyuluhan
dan kegiatan 3M.

1.7.

Pencegahan Tersier
Pencegahan tingkat ketiga ini dimaksudkan untuk mencegah kematian akibat

penyakit DBD dan melakukan rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan
dengan :
a. Transfusi Darah
Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis dan malena
diindikasikan untuk mendapatkan transfusi darah secepatnya.
b. Stratifikasi Daerah Rawan DBD
Adapun jenis kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan stratifikasi daerah
rawan seperti :
i. Endemis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus
DBD. Kegiatan yang dilakukan adalah fogging Sebelum Musim Penularan
(SMP), Abatisasi selektif, dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

ii. Sporadis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus
DBD. Kegiatan yang dilakukan adalah Pemeriksaan Jentik Berkala
(PJB), PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M, penyuluhan
tetap dilakukan.
iii. Potensial
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir tidak ada
kasus DBD.

Tetapi penduduknya padat, mempunyai hubungan

transportasi dengan wilayah lain dan persentase rumah yang


ditemukan jentik > 5%. Kegiatan yang dilakukan adalah PJB, PSN,
3M dan penyuluhan.
iv. Bebas
Yaitu Kecamatan, Kelurahan yang tidak pernah ada kasus DBD.
Ketinggian dari permukaan air laut > 1000 meter dan persentase
rumah yang ditemukan jentik 5%. Kegiatan yang dilakukan adalah
PJB, PSN, 3M dan penyuluhan.