Anda di halaman 1dari 27

LBM 3

Step 7
1. what are three component of demographic?
a. Natalitas

FERTILITAS
definisi
Adalah sama dgn kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi
dr rahim seorang perempuan dgn tanda2 kehidupan, misalnya
berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dsb. Apabila pd waktu lahir
tdk ada tanda2 kehidupan disebut dgn lahir mati (still birth) yg di
dlm demografi tidak dianggap sebagai suatu peristiwa kelahiran.
(Prof.Ida
Bagus
Mantra,
Ph.D.2008.Demografi
Umum.Yogyakarta:Pustaka Pelajar)

faktor yang
fertilitas

mempengaruhi

tinggi

rendahnya

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas


dapat dibagi menjadi 2 yaitu faktor demografi dan faktor non
demografi.
o Faktor demografi di antaranya adalah : struktur umur,
struktur perkawinan, umur kawin pertama, paritas, disrupsi
perkawinan dan proporsi yang kawin.
o Faktor non demografi antara lain : keadaan social-ekonomi
penduduk, factor psikologi, tingkat pendidikan, perbaikan
status perempuan, urbanisasi, industrialisasi.

Cara pengukuran fertilitaS.

Pengukuran fertilitas kumulatif mengukur jumlah ratarata anak yang telah dilahirkan oleh seorang perempuan
hingga mengakhiri batas usia subur.
Pengukuran fertilitas tahunan (vital rates) mengukur
jumlah

kelahian

pada

tahun

tertentu

dihubungkan

dengan jumlah penduduk yang mempunyai risiko


untuk melahirkan pada tahun tersebut.
Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra,
Ph.D

Macam macam pengukuran fertilitas tahunan


A. Tingkat fertilitas kasar / CBR (Crude Birth Rate)
Banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap
1000 penduduk pada pertengahan tahun
Rumus :
CBR =

xk

Pm

a. CBR

: Crude Birth Rate atau tingkat kelahiran

kasar
b. B

: jumlah kelahiran pada tahun tertentu

c. Pm

: penduduk pertengahan tahun

d. K

: bilangan konstan yang biasanya 1000

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes


Mantra, Ph.D
Kebaikan : Perhitungan ini sederhana, karena hanya
memerlukan

keterangan

tentang

jumlah

anak

yang

dilahirkan dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.


Kelemahan : Tidak memisahkan penduduk laki-laki dan
penduduk perempuan yang masih kanak-kanak dan yang
berumur 50 tahun ke atas. Jadi angka yang dihasilkan
sangat kasar.
Sumber

Dasar-Dasar

Demografi,

Lembaga

Demografi FE UI
B. Tingkat fertilitas umum / GFR (General Fertility Rate)

Membandingkan jumlah kelahiran dengan jumlah penduduk


perempuan usia subur (15- 49 tahun)
Rumus :

GFR =

xk

Pf (15-49)

a. GFR

: tingkat fertilitas umum

b. B

: jumlah kelahiran

c. Pf (15- 49)

: jumlah penduduk perempuan umur

15-49 tahun pada pertengahan tahun


Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes
Mantra, Ph.D

Kebaikan : Ukuran ini lebih cermat daripada CBR karena


hanya memasukkan wanita yang berumur 15-49 tahun
atau sebagai penduduk yang exposed to risk.
Kelemahan

Ukuran

ini

tidak

membedakan

risiko

melahirkan dari berbagai kelompok umur, sehingga wanita


yang

berumur

40

tahun

dianggap

memiliki

risiko

melahirkan yang sama besarnya dengan wanita yang


berumur 25 tahun.
Sumber

Dasar-Dasar

Demografi,

Lembaga

Demografi FE UI
C. Tingkat fertilitas menurut umur/ ASFR (Age Spesific Fertility
Rate)

Membandingkan jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur


tertentu

(i)

dengan

jumlah

perempuan

kelompok

umur

tersebut (i) pada pertengahan tahun.


ASFRi =

Bi

x k

pfi

a. ASFR

: tingkat kelahiran untuk kelompok umur

b. Bi

: jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur

i
c. Pfi

jumlah

perempuan

kelompok

pada

pertengahan tahun
d. K

: angka konstan = 1000

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes


Mantra, Ph.D
Kebaikan : Ukuran lebih cermat dari GFR karena sudah
membagi penduduk yang exposed to risk ke dalam
berbagai kelompok umur. Dengan ASFR dimungkinkan
pembuatan analisis perbedaan fertilitas menurut berbagai
karakteristik

wanita.

Dengan

ASFR

dimungkinkan

dilakukannya studi fertilitas menurut kohor. ASFR ini


merupakan dasar untuk perhitungan ukuran fertilitas dan
reproduksi selanjutnya (TFR, GFR, dan NRR).
Kelemahan : Ukuran ini membutuhkan data yang terinci
yaitu banyaknya kelahiran untuk tiap kelompok umur.
Sedangkan data tersebut belum tentu ada di tiap Negara/
daerah, terutama di Negara yang sedang berkembang. Jadi
pada kenyataannya sukar sekali mendapat ukuran ASFR.

Tidak menunjukan ukuran fertilitas untuk keseluruhan umur


15-49 tahun.
Sumber

Dasar-Dasar

Demografi,

Lembaga

Demografi FE UI
D. Tingkat

fertilitas

menurut

urutan kelahiran

(Birth

Order

Specific Fertility Rate)


Untuk mengukur tingggi rendahnya fertilitas suatu negara.
BOSFR = Boi

xk

Pf (15- 49)
a. BOSFR

: tingkat fertilitas menurut ukuran

kelahiran
b. BOi

: jumlah kelahiran urutan ke I

c. Pf (15-49)

jumlah

perempuan

yang

berumur 15 49 pertengahan tahun


d. K
Sumber

: angka konstan = 1000


:

Demografi

Umum,

Prof.

Ida

Bagoes

Mantra, Ph.D
Macam macam pengukuran fertilitas kumulatif
1. Tingkat fertilitas total / TFR (Total Fertility Rate)
Jumlah kelahiran hidup laki- laki dan perempuan tiap
1000

penduduk

yang

hidup

hingga

akhir

masa

reproduksinya dengan catatan :


a. Tidak

ada

seorang

perempuan yang meninggal

sebelum mengakhiri masa reproduksinya.


b. Tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada
periode waktu tertentu.

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes


Mantra, Ph.D
2. Gross reproduction rates/ GRR (Gross Reproduction
Rates)
Jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan
sepanjang masa reproduksi dengan catatan tidak ada
seorang

perempuan

yang

meninggal

sebelum

mengakhri masa reproduksinya, seperti tingkat fertilitas


total.

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes


Mantra, Ph.D
3. Net reproduction rates / NRR (Net Reproduction Rates)
Jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah kohor
hipotesis

dari

memperhitungkan

1000

perempuan

kemungkinan

dengan

meninggalkan

perempuan-perempuan itu sebelum mengakhiri masa


reproduksinya.
Angka ini memperhitungkan
perempuan

meninggal

kemungkinan

sebelum

mencapai

bayi
masa

reproduksinya asumsi yang dipakai adalah bayi


perempuan tersebut mengikuti pola fertilitas dan
mortalitas ibunya.
Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes
Mantra, Ph.D

b. Mortalitas
Peristiwa

hilangnya

semua

tanda-tanda

kehidupan

secara

permanen, yang bias terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup


Sumber : Mantra, Ida Bagoes.2003. Demografi Umum.
Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta.
Organisasi
sebagai

Kesehatan

suatu

Dunia

peristiwa

(WHO)

mendefinisikan

menghilangnya

semua

kematian

tanda-tanda

kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah


kelahiran hidup.
Badan statistik
a. Angka Kematian Ibu (AKI)
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam
kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya
kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena
kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain
seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Definisi
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat
hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama
dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau
pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran
hidup.
Kegunaan
Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan
program peningkatan kesehatan repro
duksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman
bebas risiko tinggi (making pregnancy safer), program peningkatan jumlah
kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan, penyiapan sistim rujukan dalam
penanganan komplikasi kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam

menyongsong kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka


Kematian Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.
Cara Menghitung
Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan
per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka
fertilitas umum. Dengan cara ini diperoleh rasio kematian ibu kematian maternal
per 100.000 kelahiran
Rumus

Dimana:

Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu


yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah
melahirkan, pada tahun tertentu, di daerah tertentu.
Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada
tahun tertentu, di daerah tertentu.
Konstanta =100.000 bayi lahir hidup.
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/450/450/

b. Angka Kematian Bayi (AKB)


Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir
sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang
dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi
penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian
neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau
didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian
bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu
tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh
lingkungan luar.
Kegunaan Angka Kematian Bayi dan Balita
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi
masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka
Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara
kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neonatal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan
kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian
neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan
kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan
anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak
serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program

imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular terutama


pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan pemberian
makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
Definisi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah
satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Cara Menghitung :

AKB
= Angka Kematian Bayi / Infant Mortality Rate (IMR)
D 0-<1th = Jumlah Kematian Bayi (berumur kurang 1 tahun) pada satu tahun
tertentu di daerah tertentu.
lahir hidup = Jumlah Kelahiran Hidup pada satu tahun tertentu di daerah
tertentu (lihat modul fertilitas untuk definisi kelahiran hidup).
K = 1000

Sumber Data
Data mengenai jumlah anak yang lahir jarang tersedia dari pencatatan atau
registrasi kependudukan, sehingga sering dibuat perhitungan/estimasi tidak
langsung dengan program "Mortpak 4". Program ini menghitung AKB
berdasarkan data mengenai jumlah Anak yang Lahirkan Hidup (ALH) atau
Children Ever Born (CEB) dan Jumlah Anak Yang Masih Hidup (AMH) atau Children
Still Living (CSL) (catatan: lihat definisi di modul fertilitas).
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/420/420/

c. Angka Kematian Neonatal (AKN) : Jumlah kematian bayi usia 0 1 bln.


Definisi
Angka Kematian Neo-Natal adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berumur
satu bulan atau 28 hari, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus

Keterangan :

Angka Kematian Neo-Natal =Angka Kematian Bayi umur 0 - < 1bulan


D 0-<1bulan = Jumlah Kematian Bayi umur 0 - kurang 1 bulan pada satu
tahun tertentu di daerah tertentu.

lahir hidup = Jumlah Kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah
tertentu
K = 1000
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/420/420/
d. Angka Kematian Postneonatal (AKP)
Definisi
Angka Kematian Post Neo-natal atau Post Neo-natal Death Rate adalah kematian
yang terjadi pada bayi yang berumur antara 1 bulan sampai dengan kurang 1
tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.
Rumus

Keterangan :

Angka Kematian Post Neo-Natal = angka kematian bayi berumur 1


bulan sampai dengan kurang dari 1 tahun
D1bulan-<1tahun = Jumlah kematian bayi berumur satu bulan sampai dengan
kurang dari 1 tahun pada satu tahun tertentu & daerah tertentu
lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu & daerah
tertentu
K = konstanta (1000)
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/420/420/

e. Angka Kematian Anak (AKA)

Yang dimaksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang
berusia satu sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 sampai dengan 4
tahun 11 bulan 29 hari.
Angka Kematian Anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang
langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka Kematian Anak
akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri
dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada
anak, atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah (Budi
Utomo, 1985)

Definisi
Angka Kematian Anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun selama
satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu.
Jadi Angka Kematian Anak tidak termasuk kematian bayi.

Rumus

Dimana:

Jumlah kematian Anak (1-4)th =Banyaknya kematian anak berusia 14 th (yang belum tepat berusia 5 tahun) pada satu tahun tertentu di daerah
tertentu.
Jumlah Penduduk (1-4) th =jumlah penduduk berusia 1-4 th
pada pertengahan tahun tertentu didaerah tertentu
K = Konstanta, umumnya 1000.

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/430/430/
f.

Angka Kematian Balita (AKBa)

Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir,
yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari).
Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun.
Definisi
Angka Kematian Balita adalah jumlah kematian anak berusia 0-4 tahun selama
satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun itu
(termasuk kematian bayi)
Cara Menghitung

Dimana :

Jumlah Kematian Balita (0-4)th = Banyaknya kematian anak berusia 04 th pada satu tahun tertentu di daerah tertentu

Jumlah Penduduk Balita (0-4)th = jumlah penduduk berusia 0-4 th


pada pertengahan tahun tertentu di daerah tertentu

K = Konstanta, umumnya 1000.


http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/440/440/
g. Angka Kematian Kasar (AKK) : Angka yg menunjukan seberapa besar
kematian yg terjadi pd suatu tahun tertentu setiap 1000 penduduk di
suatu daerah tertentu.
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan
berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap
1000 penduduk. Angka ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur
penduduk. Penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi
dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.

Definisi
Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian
per 1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu, di suatu wilayah tertentu.
Kegunaan
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan
pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain
angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan
kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. Apabila
dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan
pertumbuhan penduduk alamiah.
Rumus

Keterangan :

CDR =Crude Death Rate ( Angka Kematian Kasar)


D = Jumlah kematian (death) pada tahun tertentu
P = Jumlah Penduduk pada pertengahan tahun tertentu
K = Bilangan konstan 1000

Catatan1: P idealnya adalah "jumlah penduduk pertengahan tahun tertentu"


tetapi yang umumnya tersedia adalah "jumlah penduduk pada satu tahun
tertentu" maka jumlah dapat dipakai sebagai pembagi. Kalau ada jumlah
penduduk dari 2 data dengan tahun berurutan, maka rata-rata kedua data
tersebut dapat dianggap sebagai penduduk tengah tahun.

Catatan2: dari Susenas 2003 tercatat sebanyak 767.740 kematian, sedangkan


jumlah penduduk pada tahun tersebut diperkirakan sebesar 214.37.096 jiwa.
Sehingga Angka Kelahiran Kasar yang terhitung adalah sebesar 3,58. Artinya,
pada tahun 2003 terdapat 3 atau 4 kematian untuk tiap 1000 penduduk.
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/410/410/

c. Migrasi
Migrasi adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang
lain.
Migrasi ada 2:
1. Migrasi internasional@perpindahan penduduk dari satu negara
ke negara lainya.
a. imigrasi@masukya penduduk dari suatu negara ke negara lain

b. Emigrasi@keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain.


c. remigrasi@kembalinya penduduk ke negara asal.

a.

b.
c.
d.

Adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah


lain dalam suatu negara.
transmigrasi@ perpindahan penduduk dari suatu pulau atau provinsi
yang berpenduduk padat ke pulau/provinsi yang berpenduduk
jarang.
urbanisasi@ perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota
kecil ke kota besar.
Le retaour aux champ (kembali ke desa) kembali dari kota untuk
menetap didesa.
Forensen @ orang-orang yang tinggal di pinggir kota (luar kota)
tetapi bekerja di kota.

2. why we have learn about demographics and what is the goal dan
benefit?
* tujuan:

Mempelajari jumlah dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu


Menjelaskan pertumbuhan masa lampau, penurunannya dan
persebarannya dengan data yang tersedia
Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk
dg bermacam-macam aspek sosial
Memcoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang
dan kemungkinan-kemungkinan konsekwensinya.
http://id.scribd.com/doc/77503830/DASAR-DASAR-DEMOGRAFI

3. wht is the factor that cause of 3 component demographic?

4. why mortality rate in low-income and middle-income have the highest


rate?
Hubungan antara mortalitas dan sosial ekonomi
Faktor sosial ekonomi seperti pengetahuan tentang
kesehatan, gisi dan kesehatan lingkungan, kepercayaan,
nilai-nilai, dan kemiskinan merupakan faktor individu dan
keluarga, mempengaruhi mortalitas dalam masyarakat (Budi
Oetomo, 1985). Tingginya kematian ibu merupakan
cerminan dari ketidak tahuan masyarakat mengenai

pentingnya perawatan ibu hamil dan pencegahan terjadinya


komplikasi kehamilan.
http://www.datastatistikindonesia.com/content/view/903/903/1/3/
pengaruh social ekonomi terhdp kematian bayi dan anak

DETERMINAN SOSIAL - EKONOMI

Faktor Ibu

Pencemaran Lingkungan

Kekurangan gizi

Kesehatan

Luka

Sakit
Pencegahan
Pengobatan

Pengendalian Penyakit Perorangan

Gangguan pertumbuhanMati

Keterangan :
Faktor sosial ekonomi merupakan faktor penentu mortalitas bayi dan anak.
Namun faktor sosial ekonomi bersifat tidak langsung yaitu harus melalui
mekanisme biologi tertentu (Variabel antara) yang kemudian baru menimbulkan
resiko morbiditas dan selanjutnya bayi dan anak sakit dan apabila tidak sembuh
akhirnya akan cacat atau meninggal.
Dalam mekanisme ini penyakit dan kurang gizi bukan merupakan variabel
independent tetapi lebih merupakan indikator yang merefleksikan mekanisme
kerja variabel antara.
Dengan demikian dalam merencanakan dan melaksanakan programprogram kesehatan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas perlu dibekali
dengan peningkatan pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam
mengenai mekanisme diatas, dan tidak hanya dibatasi pada penyebab kematian.

DEMOGRAFI UMUM, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D

5. why the maternal conditions were leading cause of female death at


15%?
Penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab
obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %, preeklampsi/eklampsi 24 %,
infeksi 11
%, sedangkan penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan
lain lain
11 % (WHO, 2007). Berdasarkan audit maternal perinatal tahun 2010 dan
hasil
analisis yang dilakukan dari rekapitulasi review kematian ibu diketahui
bahwa
proporsi kematian ibu di Pulau Lombok disebabkan oleh penyebab obstetri
langsung yaitu perdarahan 30,23 %, preeklampsi/eklampsi 23,7 %, infeksi
dan
emboli air ketuban, sedangkan penyebab tidak langsung menyumbang
42,1 %
dari kematian ibu yaitu penyakit jantung 26,3 %, TBC paru, malaria dan
hepatitis.
Separuh dari kematian ibu disebabkan oleh perdarahan. Dua pertiga dari
semua kasus perdarahan pascapersalinan terjadi pada ibu tanpa faktor
risiko yang
diketahui sebelumnya, duapertiga kematian akibat perdarahan tersebut
adalah dari
jenis retensio plasenta, dan tidak mungkin memperkirakan ibu mana yang
akan
mengalami atonia uteri maupun perdarahan (WHO, 2008). Perdarahan,
khususnya
perdarahan post-partum, terjadi secara mendadak dan lebih berbahaya
apabila
terjadi pada wanita yang menderita anemia. Seorang ibu dengan
perdarahan dapat
meninggal dalam waktu kurang dari satu jam (Kemenkes RI,2008). Kondisi
kematian ibu secara keseluruhan diperberat oleh tiga terlambat yaitu
terlambat
dalam pengambilan keputusan, terlambat mencapai tempat rujukan,
terlambat dalam mendapatkan pertolongan yang tepat di fasilitas
kesehatan ( Dinas Propinsi
NTB, 2010).
Pada pasien dengan perdarahan, kematian ibu di Pulau Lombok
diperburuk
oleh beberapa faktor seperti: sosial budaya masyarakat, ketersediaan
biaya, faktor
geografis, partisipasi keluarga dan masyarakat untuk
mempersiapkan/merencanakan kehamilan dan persalinan serta
penatalaksanaan
persalinan kala tiga dan pertolongan yang diberikan pada pasien yang
mengalami
perdarahan.

Causes
As stated by the WHO in its 2005 World Health Report "Make Every Mother and
Child Count", the major causes of maternal deaths are: severe
bleeding/hemorrhage (25%), infections (13%),unsafe
abortions (13%), eclampsia (12%), obstructed labour (8%), other direct causes
(8%), and indirect causes (20%). Indirect causes are malaria, anaemia,
[3]
HIV/AIDS, and cardiovascular disease, all of which may complicate pregnancy
or be aggravated by it.
Forty-five percent of postpartum deaths occur within 24 hours. [4] Over 90% of
maternal deaths occur in developing countries. In comparison, pregnancyassociated homicide accounts for 2 to 10 deaths per 100,000 live births, possibly
substantially higher due to underreporting. [5]
In developing countries, the most common cause of maternal death is obstetrical
hemorrhage, followed by deep vein thrombosis, in contrast to developed
countries, for which the most common cause is thromboembolism. [6]
Unintended pregnancy is a major cause of maternal death. Globally, preventable
deaths from improperly performed procedures constitute 13% of maternal
mortality, and 25% or more in some countries where maternal mortality from
other causes is relatively low, making unsafe abortion the leading single cause of
maternal mortality worldwide.[7]

6. what are the targets of MDG?

7.why the child health can be intervented by maternal health?

a) Anatomic structure of mother pelvic dipengaruhi prenatal, hamil,


post natal.
b) Usia bumil,
c) Komplikasi kehamilan
d) Kurang gizi, anemia
e) Non medis: kurang nya kesadran anc
f) Terbatasnya pengtahuan kehamilan risiko tinggi
g) Dari penyakit: diare, malnutrisi dialami oleh anak dan ibu, malaria,
HIV/AIDS
h) Saat ANC sngat berpengaruh pada kesehatan ibu dan bayi.

8.why increased of mortality affect the population growth?


Penddk akan bertambah jumlahnya jika ada bayi lahir (B) dan
penduduk yang datang (IM)
Penduduk akan berkurang jumlahnya jika ada penduduk yang mati
(D) dan yang meninggalkan wilayah tsb (OM)

10. what is solution to decrease of mortality?


faktor yang mempengaruhi

Faktor pendorong kematian (promortalitas)


o Adanya wabah penyakit seperti demam berdarah, flu
burung dan sebagainya.
o Adanya bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir
dan sebagainya.
o Kesehatan serta pemenuhan gizi penduduk yang rendah.
o Adanya peperangan, kecelakaan, dan sebagainya.
o Tingkat pencemaran yang tinggi sehingga lingkungan tidak
sehat.
Faktor penghambat kematian (antimortalitas)
o Tingkat kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat yang
sudah baik.
o Negara dalam keadaan aman dan tidak terjadi
peperangan.
o Adanya kemajuan iptek di bidang kedokteran sehingga
berbagai macam penyakit dapat diobati.
o Adanya pemahaman agama yang kuat oleh masyarakat.
Buku TEKNIK DEMOGRAFI, MUNIR dan BUDIARTO, FKUI
1. Ras (bangsa) dan pekerjaan

2.

3.

4.

5.

a. Pada umumnya angka kematian bangsa kematian bangsa


kulit putih dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan
dengan bangsa berkulit hitam, sedangkan untuk bangsa
yang berkulit kuning terletak diantara kedua angka tersebut.
Perbedaan itu tampak baik pada berbagai negara maupun
untuk berbagai bangsa yang terdapat di dalam satu negara.
Walaupun demikian ini pada hakekatnya lebih mencerminkan
faktor sosial, ekonomis dan lingkungan dibandingkan dengan
perbedaan biologis atau genetik (keturunan).
b. Pada abad ke-19 perbedaan mortalitas menurut pekerjaan
tampak menonjol. Secara umum angka kematian
kelompok
profesional
menurun
sampai
tingkat
terendah, sedangkan untuk pekerja yang tidak
memiliki ketrampilan tertentu (unskilled labour) malah
mencapai angka tertinggi. Dalam periode industrialisasi
yang sudah maju dewasa ini perbedaan tersebut sudah dapat
dikurangi meskipun masih juga terdapat beberapa jenis
pekerjaan yang dapat menimbulkan risiko kematian yang
cukup tinggi, misalnya: tukang penjaga, pekerja tambang,
pengemudi mobil balap, penerbang, petinju profesional dan
sebagainya. Analisis mortalitas dari segi pekerjaan biasanya
agak kompleks karena sulit untuk mengaitkan kematian yang
terjadi denagn risiko yang tepat.
Status perkawinan
Mortalitas kelompok penduduk yang sudah menikah
ternyata lebih rendah dibandingkan dengan yang
belum menikah, dan perbedaan untuk pria lebih besar
daripada wanita. Hal ini disebabkan oleh faktor bahwa
perkawinan biasanya mensyaratkan orang-orang yang sehat,
maupun karena perbedaan kebiasaan dan kondisi hidup.
Tempat tinggal
Mortalitas di daerah pedesaan umumnya lebih rendah
dibandingkan di daerah kota, tetapi sekarang perbedaan
tersebut sudah berkurang. Beberapa penyakit menyerang
berikli panas, dan ada juga yang melanda tempat-tempat
yang dingin; akibatnya perbedaan iklim dapat juga
menyebabkan kematian. Atas dasar alasan ini juga di
tempat tinggal yang sama dapat terjadi fluktuasi mortalitas
musiman.
Cara hidup
Pada
umumnya
apabila
kondisi
sosial
semakin
memuaskan
(diukur dari segi kualitas perumahan,
kebersihan, pelayanan kesehatan dan lain-lain), angka
kematian akan menurun. Kebiasaan hidup, misalnya
merokok, makan dan minum dapat juga mempengaruhi
mortalitas.
Faktor genetik
Beberapa penyakit ternyata dapat menular dari generasi yang
satu ke generasi yang lain; dan dengan demikian terdapat

juga beberapa alasan tertentu mengapa para keluarga harus


memperpanjang nasa hidupnya. Walaupun demikian penyakit
seperi itu tidak begitu banyak, dan pengaruhnya terhadap
mortalitas dirasakan tidak menentu.
Dengan demikian
perbedaan keturunan secara komparatif dianggap tidak
berarti.
Pollard, A.H. 1984. Teknik Demografi. Jakarta: PT. Bina
Aksara.
KEBIJAKAN

DAN

PROGRAM

PEMERINTAH

DALAM

RANGKA

PENURUNAN MORTALITAS
Merosotnya kesehatan masyarakat terjadi baik di daerah perkotaan
maupun pedesaan, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya
kekurangan obat dan peralatan serta tenaga medis. Kemudian
pemerintah mulai melaksanakan PELITA, pada tahunpertama terjadi
perbaikan

perbaikan

dalam

bidang

kesehatan

masyarakat.

PUSKESMAS didirikan di kota kota kecamatan, tenaga tenaga


dokter, perawat dan bidan mulai dimobilisir di pusat pusat
kesehatan, maka mulai tampak penurunan tingkat kematian di
indonesia.
Sumber : Demografi Umum Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D
Kebijakan dan program
Program Pembangunan Nasional. Selama ini upaya penurunan angka
kematian bayi dan balita merupakan salah satu prioritas dalam
pembangunan kesehatan. Dalam dokumen Propenas 20002004,
upaya-upaya ini termaktub dalam tiga program kesehatan nasional,
yaitu

Program Lingkungan Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan


Masyarakat;
Program Upaya Kesehatan; serta
Program Perbaikan Gizi Masyarakat.

Strategi dan usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian


bayi dan balita antara lain adalah meningkatkan kebersihan (hygiene)
dan sanitasi di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat melalui
penyediaan air bersih,

meningkatkan perilaku hidup sehat


kepedulian terhadap kelangsungan dan perkembangan dini anak;
pemberantasan penyakit menular,
meningkatkan cakupan imunisasi
meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk pelayanan
kontrasepsi dan ibu,
menanggulangi gizi buruk, kurang energi kronik dan anemi, serta
promosi pemberian ASI ekslusif dan pemantauan pertumbuhan.
Jaring Pengaman Sosial antara lain dengan pelayanan kesehatan
dasar dan rujukan gratis bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan
bayi untuk keluarga miskin, serta bantuan pembangunan sarana
kesehatan.
Peraturan perundangan.
Dengan ditetapkannya UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, kesempatan anak Indonesia untuk hidup sehat, tumbuh, dan
berkembang secara optimal menjadi semakin terbuka.
Dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa setiap anak berhak
memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan
kebutuhan fisik, mental spiritual, dan sosial.
Program Nasional bagi Anak Indonesia. Merujuk pada kebijakan umum
pembangunan kesehatan nasional, upaya penurunan angka
kematian bayi dan balita merupakan bagian penting dalam Program
Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) yang antara lain dijabarkan
dalam Visi Anak Indonesia 2015 untuk menuju anak Indonesia yang
sehat. Strategi nasional bagi upaya penurunan kematian bayi dan
balita adalah

pemberdayaan keluarga,
pemberdayan masyarakat,
meningkatkan kerja sama dan kordinasi lintas sektor, dan
meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan anak
komprehensif dan berkualitas
http://www.bappenas.go.id/index.php?

Program penurunan mortalitas :


Upaya pemerintah dalam rangka pemecahan masalah mortalitas
(program & kebijakan-kebijakan)
1.
2.
3.
4.

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

pelayanan kesehatan yang lebih baik


gizi keluarga
pendidikan (Kesehatan Masyarakat)
ekonomi dan sosial.

yang

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-sri%20rahayu.pdf
Faktor yang menyebabkan turunnya rate kematian :

Industrialisasi

Pertanian yg maju

Membaiknya jaringan tramsportasi

Reformasi social

Kemampuan mengontrol temperature dan humiditas

Perbaikan sanitasi

Perubahan-perubahan dalam hygiene pribadi

Perkembangan asepsi dan antisepsi

Imunologi

Adaptasi manusia, meningkatnya resistensi terhadap penyakit


penyakit
(Pengantar Ilmu Kependudukan, Said Rusli)
1. Kebijakan dan program dalam mengatasi mortalitas
Program Pembangunan Nasional
Dalam dokumen Propernas 2000-2004, upaya-upaya ini termaktub
dalam tiga program kesehatan nasional, yaitu Program Lingkungan
Sehat, Perilaku Sehat dan Pemberdayaan Masyarakat, Program Upaya
Kesehatan, serta Program Perbaikan Gizi. Strategi dan usaha untuk
mendukung upaya penurunan kematian bayi dan balita antara lain
adalah meningkatkan kebersihan (hygiene) dan sanitasi di tingkat
individu, keluarga, dan masyarakat melalui penyediaan air bersiih,
meningkatkan perilaku hidup sehat, serta kepedulian terhadap
kelangsungan dan perekembangan dini anak, pemebrantasan penyakit
menular, meningkatakan cakupan imunisasi dan meningkatakn
pelayanan kesehatan reproduksi termasuk pelayanan kontrasepsi dan
ibu, menanggulangi gizi buruk, kurang energi kronik anemia, serta
promosi pemberian ASI ekslusif dan pemantuan pertumbuhan.

Jaringan Pengaman Sosial


Selain program-program rutin pelayanan kesehatan ibu dan anak,
pemerintah telah meluncurkan program Jaringan Pengaman Sosial (JPS)
bidang kesehatan, antara lain dengan pelayanan kesehatan dasar dan
rujukan gratis bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi untuk
keluarga miskin, serta bantuan pembangunan sarana kesehatan.

Peraturan Perundangan
Dengan ditetapkannya UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak, kesempatan anak Indonesia untuk hidup sehat, tumbuh, dan
berkembang secara optimal menjadi semakin terbuka. Dalam undangundang itu dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh
pelayanan kesehatan dan jaminan social sesuai dengan kebutuhan fisik,
mental spiritual, dan social.

Program Nasional bagi Anak Indonesia


Merujuk pada kebijakan umum pembangunan kesehatan Nasional,
upaya penurunan angka kematian bayi dan balita merupakan bagian
penting dalam Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) yang
antaralain dijabarkan dalm Visi Anak Indonesia 2015 untuk menuju anak

Indonesia yang sehat. Strategi nasional bagi upaya penurunan kematian


bayi dan balita adalah pemberdayaan keluaraga, pemberdayaan
masyarakat, meningkatakan kerja sama dan koordinasi lintas sector,
dan meningkatakan jangkauan pelayanan kesehatan anak yang
komprehensif dan berkualitas. Contoh PIN.

11. wht the main program of MDG


12. cara mengumpulkan data
PRIMER
data yang diperoleh langsung dari lapangan oleh pengguna data itu
sendiri
SEKUNDER
data yang belum diolah maupun sudah diolah dan disajikan ke
dalam tabel-tabel, yang dikumpulkan oleh sumber lain
a. Sensus penduduk
Proses keseluruhan dari pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan
penilaian data penduduk yg menyangkut ciri-ciri demografi, sosial
ekonomi, dan lingkungan hidup mengenai sejumlah penduduk
yang bertempat tinggal di suatu wilayah tertetu dalam jangka waktu
tertentu.
Informasi yang diperoleh dari sensus :
Geografi dan migrasi penduduk :
o Tempat lahir
o Lama tinggal di daerah
o Tempat tinggalbeberapa tahun lalu
Rumah tangga
o Hubungan anggota dengan kepala keluarga
Karakter sosial dan demografi
o Jeniskelamin
o Umur
o Status perkawinan
o Kewarganegaraan
o Agama
o Bahasa
o Suku etnik(kebangsaan)
Karakteristik pendidikan
o Tingkat pendidikan
o Melek huruf
Karakteristik ekonomi
o Status pekerja
o Jam kerja

o Pendapatan
Ciri khas sensus penduduk, Pertama : bersifat individu yang
berarti informasi demografi dan sosial ekonomi yang
dikumpulkan bersumber dari individu baik sebagai anggota
rumah tangga maupun sebagai anggota masyrakat. Kedua,
bersifat universal yg berarti pencacahan bersifat menyeluruh.
Ketiga, pencacahan diselenggarakan serentak diseluruh
negara. Keempat, sensus penduduk dilaksanakan secara
periodik yaitu pada tiap2 tahun yg berakhiran angka kosong.
Berdasarkan tempat tinggal
i. Sensus De Facto
Pada metode ini, pencatatan dilakukan oleh petugas pada
setiap orang yang ada di daerah tersebut pada saat sensus
diadakan, tidak membedakan antara penduduk asli
ataupun penduduk yang hanya tinggal sementara waktu.
ii. Sensus De Jure
pencatatan penduduk dilakukan oleh petugas hanya untuk
penduduk yang secara resmi tercatat dan tinggal sebagai
penduduk
b. Registrasi penduduk
Mencatat kejadian2 kependudukan yg terjadi setiap saat, spt
kelahiran, kematian, mobilitas penduduk keluar dan
mobilitas penduduk masuk, baik itu permanent maupun
non permanent. Catatan mobilitas penduduk permanent lebih
lengkap dibanding dengan mobilitas penduduk non permanent.
Orang2 yg pindah domisili harus mempunyai surat pindah dari
daerah
asal,
selanjutnya
disampaikan
pada
kantor
kelurahan/desa dimana mereka akan menetap.
Contoh :KTP, KK, akte kelahiran, akta nikah
c. Survey penduduk
adalah proses pencacatan informasi tentang penduduk
berdasarkan kekhususan bidang kajian secara lebih luas dan
mendalam.
Di
tempat
tersebut
ditugaskan
sejumlah
petugas/pewawancara yang sudah dilatih untuk menghimpun
informasi.
Contoh :
SKRT ( survey kesehatan rumah tangga)
Susenas (survey sosial ekonomi nasional)
Buku TEKNIK DEMOGRAFI FKUI (MUNIR dan BUDIARTO)