Anda di halaman 1dari 21

Laporan Kasus

OD AFAKIA + ASTIMATISMA SIMPLEKS


OS HIGH MIOPIA + ASTIGMATISMA MIOPIA KOMPOSITUS
ODS ANISOMETROPIA
Dibacakan oleh

: dr. Maria Ade Indriyani

Pembimbing

: dr. Fatimah Dyah A, SpM

Dibacakan

: Sub Divisi Refraksi dan Lensa Kontak

I.

PENDAHULUAN
Miopia merupakan suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang
berasal dari obyek jauh/tidak terhingga (infinity) difokuskan di depan retina pada
saat mata tidak berakomodasi.1-3
Miopia dapat disebabkan oleh kelainan panjang aksis bola mata maupun akibat
kelainan indeks bias refraksi.1-4 Kelainan refraksi miopia cukup banyak
ditemukan di Asia dan merupakan salah satu penyebab penurunan tajam
penglihatan.1,3
Astigmatisma adalah suatu keadaan refraksi di mana terdapat perbedaan
derajat refraksi pada miridian yang berbeda, sehingga sinar sejajar tersebut tidak
dapat difokuskan pada satu titik.1,5 Hal ini dapat disebabkan karena adanya
variasi pada kurvatura kornea atau lensa pada miridian yang berbeda.
Astigmatisma di bagi menjadi dua yaitu astigmatisma reguler dan astigmatisma
irreguler.4,6
Anisometropia merupakan kondisi dimana kedua mata mempunyai
kekuatan refraksi yang tidak sama.1,7-9
Laporan kasus ini menyajikan seorang wanita usia 55 tahun dengan OD
Afakia + Astigmatisma hipermiopia simpleks, OS High Miopia + Astigmatisma
Miopia Kompositus. Penegakkan diagnosis, pemilihan tatalaksana dan edukasi

II.

kepada pasien akan menjadi bahan diskusi lebih lanjut dalam laporan kasus ini.
IDENTITAS PENDERITA
Nama
: Ny. SM
Jenis Kelamin : Perempuan

Umur
Alamat
Pekerjaan
Nomer CM
III.

: 55 tahun
: Wonorejo,
: Petani
: C374879

ANAMNESIS
Alloanamnesis (28 Mei 2014) dan data Catatan Medis
Keluhan Utama
: pandangan mata kiri kabur
Riwayat Penyakit Sekarang :
Sejak Sekolah Dasar pandangan kedua mata penderita kabur, saat di kelas jika
duduk di bangku tengah atau belakang penderita tidak dapat membaca tulisan di
papan tulis. Penderita tidak merasakan adanya keluhan ketika membaca dalam
jarak dekat. Penderita tidak pernah memeriksakan kondisi matanya ke dokter
mata dan tidak pernah memakai kacamata.
Penderita tidak dapat mengingat dengan rinci mengenai progresifitas penyakit
yang dideritanya. Mata merah (-), nrocos (-), silau (-), nyeri/cekot cekot (-),
mata tidak tampak juling, tidak pernah mata merah yang disertai pandangan
kabur.
1 tahun yang lalu pandangan kedua mata dirasa bertambah kabur hanya dapat
melihat 1 2 meter. Melihat titik titik hitam beterbangan (-), melihat kilatan
kilatan cahaya (-), melihat seperti tertutup tirai (-), melihat seperti tertutup kabut
(-). Penderita kemudian memeriksakan diri ke poliklinik mata RSDK.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat Hipertensi dan Diabetes Mellitus disangkal
- Riwayat trauma disangkal
- Riwayat pemakaian kacamata (-)
- Riwayat operasi mata (+) 29 April 2014 dilakukan OD clear lens
extraction
Riwayat Penyakit Keluarga
- Tidak ada anggota keluarga yang memakai kacamata sejak usia muda
Riwayat Sosial Ekonomi
- Penderita adalah seorang petani, memiliki seorang suami yang bekerja

sebagai petani dan tiga orang anak yang sudah mandiri


- Kesan sosial ekonomi kurang
- Biaya berobat ditanggung BPJS PBI
IV.
PEMERIKSAAN
A. Status praesen (28 Mei 2014)

Keadaan umum
: baik, kesadaran kompos mentis
Tanda vital
- Tekanan darah
: 130/80 mmHg
- Nadi
: 80x/menit
- Respirasi
: 20x/menit
- Suhu
: 36,5C
B. Status Oftalmologis (28 Mei 2014)

Visus
Koreksi
Bulbus okuli
Paresis/paralisis
Supersilia
Palpebra
Konjungtiva
Kornea
COA
Iris
Pupil
Lensa
CV
Fundus Refleks
TIO (Schiotz)

Oculi Dextra (OD)


6/12
6/12 S+1.00 C-1.00x120 6/7,5 NBC
Orthophoria, Hirscberg test 0
Gerak bola mata bebas ke segala arah
Tidak ada kelainan
Oedema (-), spasme (-)
Hiperemis (-), injeksi (-)
Jernih
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Bulat, sentral, reguler, 3 mm,

Oculi Sinistra (OS)


2/60
2/60 S-13.00 C-3.50x45 6/7,5 NBC

refleks pupil (+) N


Afakia
Turbiditas (-)
(+) cemerlang
14,6 mmHg

pupil (+) N
Keruh tidak rata K1N1SKP0
Turbiditas (-)
(+) kurang cemerlang
14,6 mmHg

Gerak bola mata bebas ke segala arah


Tidak ada kelainan
Oedema (-), spasme (-)
Hiperemis (-), injeksi (-)
Jernih
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Bulat, sentral, reguler, 3 mm, refleks

Pemeriksaan Funduskopi (Contact Glass)


Funduskopi ODS
Papil N.II

Retina

crescent (-)
2
: AVR
, perjalanan Vasa dalam batas normal
3
: Perdarahan (-), eksudat (-), tigroid (+), stafiloma postikum (-)

Makula

ablasio (-)
: refleks fovea (+) cemerlang

Vasa

V.

: bulat, batas tegas, warna kuning kemerahan, CDR 0,3, myopic

PEMERIKSAAN PENUNJANG
3

Hasil Autorefraktometer
OD
: S 1,75 C +2,25 axis 46 transposisi S + 0,5 C 2,25 axis 136
OS
: S 16,25 C + 3,50 axis 144 trasposisi S 12,75 C 3,50 axis 54
Hasil Uji Autorefraktometer
OD
: 6/6
OS
: 6/7,5

Javal Keratometri
OD
OS

80 44,5 D
7,2 mm
65 45 D
7,5 mm

170 44 D
7,3 mm
155 46 D
7,4 mm

Ultrasonografi (27 Maret 2014)

Oculus Dextra
Lensa : echospike (+)
CV

: turbidity (-)

Retina : ablatio (-), stafiloma posterior (-)


Axl

: 27 mm

Oculus Sinistra
Lensa : echospike (+)
CV

: turbidity (-)

Retina : ablatio (-), stafiloma posterior (-)


Axl

: 29 mm

Topografi Kornea

OD

: kornea steep (Ks 47.67


D/7.08 mm @ 59 ;
Kf 45.21 D /7.46 mm @ 149
dengan gambaran korneal
Uji Tear corneal
Film : astigmatisma reguler
Tear Meniscus
: 2 mm
Tear Break up Time : 7 detik

OS

: kornea steep (Ks 47.73


D/7.07 mm @ 136 ;
Kf 45.26 D/7.46 mm @ 46
dengan gambaran korneal
corneal astigmatisma reguler

Biometri
OD
28,75 mm
3,83 mm
45,21 D
47,67 D
46,44 D
IOL
Refraksi
0,00
0,33
0,50
0,09
1,00
- 0,14

Axial
ACD
K1
K2
Avg K
A konstanta 118,4
(SRK/T)

OS
28,00 mm
3,20 mm
45,26 D
47,73 D
46,50 D
IOL
3,00
3,50
4,00

Refraksi
0,37
0,10
- 0,17

Laboratorium darah
Hematologi
Haemoglobin

: 14,40 g%

Nilai normal
12,00 15,00
6

Haematokrit
Eritrosit
MCH
MCV
MCHC
Leukosit
Trombosit
PTT
APTT
Kimia Klinik
Glukosa sewaktu
Ureum
Creatinin

: 43,0 %
: 5,2 juta/mm3
: 27,9 pg
: 83,3 fL
: 33,5 g/dL
: 8 ribu/mm3
: 323 ribu/mm3
: 10,7 detik
: 34,2 detik

35,0 47,0
4,4 5,90
27,00 32,00
76,00 96,00
29,00 36,00
3,6 11,00
150,0 400,0
9,4 11,3
23,4 36,8

: 104 mg/dl
: 34 mg/dl
: 0,73 mg/dl

80 140
15 39
0,60 1,30

Pemeriksaan sekret mata (OS)


Pemeriksaan gram dan jamur : tidak diketemukan kuman dan jamur

Pemeriksaan EKG :
Kesan : Normosinus rhythm
VI.

RESUME
Seorang wanita datang ke Poliklinik mata RSDK dengan keluhan utama
pandangan mata kiri kabur. Sejak Sekolah Dasar terjadi penurunan visus kedua
mata terutama untuk melihat jauh (tidak dapat membaca tulisan dari bangku
belakang). Penderita tidak merasakan adanya keluhan ketika membaca dalam
jarak dekat. Hiperemis (-), lakrimasi (-), fotofobia (-), nyeri/cekot cekot (-),
juling (-),mata merah yang disertai pandangan kabur (-), floaters (-), fotopsia (-).
Karena dirasa semakin mengganggu aktiftas sehari hari penderita kemudian
memeriksakan diri ke poliklinik mata RSDK.
- Riwayat trauma disangkal
- Riwayat pemakaian kacamata (-)
- Riwayat operasi mata (+) 29 April 2014 dilakukan OD clear lens
extraction
Pemeriksaan Fisik
Status Praesen
Status Oftalmologi

: dalam batas normal


:

Visus
Koreksi
Bulbus okuli
Paresis/paralisis
Segmen anterior
Pupil
Lensa
CV
Fundus Refleks
TIO (Schiotz)

Oculi Dextra (OD)


6/12
6/12 S+1.00 C-1.00x120 6/7,5 NBC
Orthophoria, Hirscberg test 0
Gerak bola mata bebas ke segala arah
Tenang
Bulat, sentral, reguler, 3 mm,

Oculi Sinistra (OS)


2/60
2/60 S-13.00 C-3.50x45 6/7,5 NBC

refleks pupil (+) N


Afakia
Turbiditas (-)
(+) cemerlang
14,6 mmHg

pupil (+) N
Relatif jernih
Turbiditas (-)
(+) kurang cemerlang
14,6 mmHg

Gerak bola mata bebas ke segala arah


Tenang
Bulat, sentral, reguler, 3 mm, refleks

Pemeriksaan Funduskopi (Contact Glass) ODS


ODS sesuai dengan gambaran fundus miopia
Hasil Autorefraktometer
OD : S 1,75 C +2,25 axis 46 transposisi S + 0,5 C 2,25 axis 136
OS : S 16,25 C + 3,50 axis 144 trasposisi S 12,75 C 3,50 axis 54
Hasil Uji Autorefraktometer
OD
: 6/6
OS
: 6/7,5
Javal Keratometri
OD
OS

80 44,5 D
7,2 mm
65 45 D
7,5 mm

170 44 D
7,3 mm
155 46 D
7,4 mm

Ultrasonografi (27 Maret 2014)


OD : axial length : 27 mm
OS : axial length : 29 mm
Topografi Kornea
ODS astigmatisma kornea
Uji Tear Film :
ODS : Dry Eye

Biometri
OD
28,75 mm
3,83 mm
45,21 D
47,67 D
46,44 D
IOL
Refraksi
0,00
0,33
0,50
0,09
1,00
- 0,14

Axial
ACD
K1
K2
Avg K
A konstanta 118,4
(SRK/T)

OS
28,00 mm
3,20 mm
45,26 D
47,73 D
46,50 D
IOL
3,00
3,50
4,00

Refraksi
0,37
0,10
- 0,17

Laboratorium darah
Dalam batas Normal
Pemeriksaan sekret mata (OS)
Pemeriksaan gram dan jamur : tidak diketemukan kuman dan jamur
Pemeriksaan EKG :
Kesan : Normosinus rhythm
VII.

DIAGNOSA KERJA
OD Afakia + Astigmatisma Hipertropia Simpleks
OS High Miopia + Astigmatisma Miop Kompositus
ODS Anisometropia

VIII. DIAGNOSA TAMBAHAN


ODS Dry Eye ec DKM grade III
IX.

PENATALAKSANAAN

X.

OSpost
Clear
Lens Extraction + Limbal relaxing
Terapi
operasi
- Levofloxacin EDexicion
6 x 1 tetes
mata
+IOL/
LAkiri
- Ciprofloxacin
tab.
500
mg
2
x
1
tab ANS
dr. Fatimah Dyah, SpM / ADE,
Kamis, 12 Juni 2014 / Pk. 10.00 11.00 / OK 3
PROGNOSIS
Quo ad Visam
Quo ad Sanam

OD
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

OS
Dubia ad bonam
Dubia ad bonam

Quo ad Vitam
Quo ad Cosmeticam
XI.

Ad Bonam
Ad Bonam

EDUKASI / SARAN
Menjelaskan kepada penderita dan keluarganya bahwa :
- penderita mempunyai gangguan fungsi penglihatan pada kedua mata yang
sangat tinggi ukurannya. Tatalaksana pada kelainan ini ada berbagai macam
-

alternatif yang disesuaikan dengan kondisi pasien.


Pemakaian kacamata dapat diresepkan, akan tetapi kacamata yang akan

diberikan akan tebal dan berat.


Alternatif lain adalah pemakaian lensa kontak, akan tetapi karena kondisi mata
penderita yang mengalami mata kering hal ini membuat pemakaian lensa

kontak kurang sesuai untuk penanganan gangguan penglihatan pada penderita.


Alternatif selanjutnya adalah dilakukan operasi untuk mengambil lensa mata
dan pemasangan lensa tanam dengan ukuran yang sesuai, sehingga diharapkan
setelah dilakukan operasi dan pemasangan lensa tanam tajam penglihatan

penderita menjadi baik.


Adanya risiko komplikasi yang dapat terjadi akibat tindakan operasi yang akan

dilakukan, baik komplikasi yang terjadi saat operasi maupun pasca operasi.
Disarankan untuk kontrol teratur pasca operasi untuk evaluasi lebih lanjut
fungsi tajam penglihatan penderita

10

XII.
Tanggal
11/6/2014

FOLLOW UP
Hari ke1

Status Oftalmologi
OD
Visus
6/12
S+1.00 C-1.00x120 6/7,5 NBC
Koreksi
Udem (-), spasme (-)
Palpebra
Hircshberg test 0
Injeksi (-), sekret (-)
BM
Jernih
Konjungtiva
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Kornea
Bulat, sentral, regular
COA
3 mm, RP (+)
afakia
Iris
Turbidity (-)
Pupil
(+) cemerlang
14,6 mmHg

Keterangan

Diagnosa

RENCANA :

S-13.00 C-3.50x45 6/7,5 NBC

OD Afakia + Astigmatisma simpleks

OS Clear Lens Extraction+IOL/LA

Udem (-), spasme (-)

OS High miopia + Astigmatisma Miop

Hircshberg test 0

Kompositus

Injeksi (-), sekret (-)

ODS Anisometropia

Jernih
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Bulat, sentral, regular
3 mm, RP (+)

Lensa

Keruh tidak rata K1N1SKP0

CV

Turbidity (-)

Fundus reflex

(+) kurang cemerlang

TIO
12/6/2014

Terapi/Tindakan
OS
2/60

Stq

14,6 mmHg
Stq
OS Clear Lens Extraction + IOL +
Limbal relaxing excition/LA
dr. Fatimah Dyah,SpM/ADE,ANS
Kamis, 12-6-2014/ 10.00-11.00/OK 3
Terapi post op :
- LFX ED 6 x gtt 1 OS
- Ciprofoxacin 2 x 500 mg

13/6/2014

Visus
Koreksi

6/12
S+1.00 C-1.00x120 6/7,5 NBC

6/12
S-0.50 6/10 NBC

Diagnosa

Javal Keratometri 1 hari post op

OD Afakia + Astigmatisma Simpleks

OS : 45 45 mm

11

Palpebra
BM
Konjungtiva
Kornea
COA
Iris
Pupil

Udem (-), spasme (-)


Hircshberg test 0
Injeksi (-), sekret (-)
Jernih
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Bulat, sentral, regular
3 mm, RP (+)
afakia
Turbidity (-)
(+) cemerlang
14,6 mmHg

Udem (-), spasme (-)


OS Pseudofakia + miopia ringan
Hircshberg test 0
Injeksi (-), sekret (-)
Edema + min
Terapi post op:
Kedalaman cukup, cell (+) gr.2
- LFX ED 6 x gtt 1 OS
Kripte (+)
- P Pred 3 x gtt 1 OS
Bulat, sentral, regular
- Ciprofloxacin 2 x 500 mg
3 mm, RP (+)
IOL di tempat
Boleh pulang
Turbidity (-)
Kontrol 1 minggu di poliklinik mata
(+) kurang cemerlang
14,6 mmHg

135 44.5 mm

Lensa
CV
Fundus reflex
TIO

Follow up poli
Tanggal
18/6/2014

Hari ke-

Status Oftalmologi
Visus
Koreksi
Palpebra
BM
Konjungtiva
Kornea
COA
Iris

OD
6/10
S+1.00 6/6 F1
Udem (-), spasme (-), foam (+),
krusta (-)
Hircshberg test 0
Injeksi (-), tear meniskus 0,2 mm
Jernih
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Bulat, sentral, regular
3 mm, RP (+)
afakia
Turbidity (-)

OS
6/8,5
S+0.75 6/6 F1
Udem (-), spasme (-), foam (+),

Terapi/Tindakan

Keterangan

Diagnosa :

Keratometri 1 mgg post op

OD Afakia

OS : 124 47.63 D

OS Pseudofakia

krusta (-)
Hircshberg test 0
ODS Hipermetropia + Dry Eye
Injeksi (-), tear meniscus 0,2 mm
ec. DKM gr III
Jernih, tampak bula (+)
Kedalaman cukup, TE (-)
Kripte (+)
Terapi
Bulat, sentral, regular
3 mm, RP (+)
- P Pred ED 2 x gtt 1 OS
IOL di tempat
- C lyters ED 4 x gtt 1 ODS
Turbidity (-)
- Terramycin EO 1 x ung 1 ODS

34 44.79 D

12

Pupil

(+) cemerlang
14,6 mmHg

(+) cemerlang
14,6 mmHg

- Doxicyclin 2 x 100 mg

Lensa
CV
Fundus reflex
TIO

13

XIII. DISKUSI
Miopia adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang
berasal dari obyek jauh/tak terhingga yang masuk ke mata dalam keadaan
tanpa akomodasi akan difokuskan di depan retina.1-3 Terdapat berbagai
faktor etiologi yang kompleks pada miopia, dimana faktor genetis dan
faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan miopia.1,3
Miopia dibedakan atas beberapa tipe, yaitu :5
1. Miopia Aksial
2. Miopia Kurvatura
3. Miopia Indeks Refraksi
4. Miopia karena perubahan posisi lensa
Berdasrkan derajatnya, miopia dibagi dalam :
1. Miopia ringan, bila kurang dari 3,00 D
2. Miopia sedang, -3,00 D sampai dengan -6,00 D
3. Miopia tinggi (High myopia), bila lebih dari -6,00 D
Penderita miopia mempunyai beberapa keluhan, tergantung dari
jenis dan derajat miopia. Gejala yang didapat pada miopia umumnya
adalah penglihatan kabur bila melihat jauh namun jelas untuk penglihatan
dekat, mata cepat lelah, dapat pula timbul keluhan sakit kepala. Tanda
klinis yang dapt ditemukan antara lain : bola mata lebih menonjol, dengan
bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar. Gambaran segmen
posterior miopia fisiologis dalam batas normal, sedangkan pada miopia
patologis dapat dijumpai keadaan keadaan sebagai berikut : tilting papil
nervus optikus, atrofi korioretina peri papil, lacquer cracks (robekan linier
membrana burch), perdarahan retina, stafiloma posterior, atrofi epitel
pigmen retina (RPE) dan koroid, degenerasi lattice, dan hole pada retina
perifer.1-4
Juvenile onset myopia adalah miopia yang terjadi mulai umur 7
16 tahun, umumnya miopia jenis ini disebabkan oleh bertambah
panjangnya aksis bola mata yang berkaitan dengan pertumbuhan. Faktor
resiko yang mempengaruhi progresifitas miopia adalah banyak melakukan
aktifitas dengan penglihatan dekat (extensive near work). Secara umum,
semakin dini onset miopia maka akan semakin besar progrefitas yang akan
terjadi.1
Astigmatisma adalah suatu kelainan refraksi di mana terdapat
perbedaan derajat refraksi pada berbagai meridian sehingga sinar sejajar
yang datangakan difokuskan pada bermacam macam fokus. Hal ini dapat
14

disebabkan karena adanya variasi pada kurvatura kornea atau lensa pada
meridian yang berbeda.4,6,7
Astigmatisma dibedakan menjadi :4,6,7
1. Astigmatisma reguler
Setiap meridian mempunyai titik fokus tersendiri yang letaknya teratur.
Meridian dengan daya bias terlemah tegak lurus dengan meridian
dengan daya bias terkuat. Astigmatisma reguler terdiri dari :
a. With the rule astimatism
Daya bias terkuat pada bidang vertikal (90), daya bias terlemah
pada bidang horisontal (180).
b. Against the rule astigmatism
Daya bias terkuat pada bidang vertikal (180), daya bias terlemah
pada bidang vertikal (90).
2. Astigmatisma irreguler
Terdapat perberbedaan refraksi tidak hanya pada meridian yang
berbeda tetapi juga pada tiap bagian meridian, misalnya pada
permukaan kornea yang tidak rata akibat jaringan parut atau setelah
pembedahan mata.
Berdasarkan kekuatan refraksi pada tiap meridian maka
astigmatisma reguler dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :4,6

1. Astigmatisma hipermetrop simpleks, dimana salah satu merisian


utamanya emetrop dan lainnya hipermetrop.

Gb 1. Astigmatisma hipermetrop simpleks


2. Astigmatisma miopia simpleks, di mana salah satu meridian utamanya
emetrop dan lainnya miopia

Gb 2. Astigmatisma miopia simpleks

15

3. Astigmatisma hipermetrop kompositus, di mana kedua meridian


utamanya hipermetrop dengan derajat yang berbeda.

Gb 3. Astigmatisma hipermetrop kompositus


4. Astigmatisma miopia kompositus, di mana kedua meridian utamanya
miopia dengan derajat yang berbeda

Gb 4. Astigmatisma miopia kompositus


5. Astigmatisma mikstus, di mana salah satu meridian utamanya miopia
dan lainnya hipermetrop

Gb 5. Astigmatisma mikstus
Gejala individu dengan astigmatisma :6-8
Kabur jika melihat dekat maupun jauh.
Mata cepat lelah (astenopia)
Bentuk benda yang dilihat berubah.
Kasus ini kami diagnosa sebagai OD afakia + astigmatisma
hipermetrop simpleks dan OS high myopia + astigmatisma miopia
kompositus, ODS

Anisometropia berdasarkan anamnesis dan

pemeriksaan oftalmologi yang ditemukan. Pasien mempunyai riwayat


gangguan penglihatan terutama untuk melihat jauh sejak berada di bangku

16

sekolah dasar. Pada pemeriksaan didapatkan visus mata kanan 6/12 dengan
koreksi S+1.00 C-1.00x120 didapat kan visus 6/7,5 NBC dengan lensa
yang afakia. Penderita mempunyai riwayat operasi clear lens extraction
tanpa pemasangan lensa tanam karena adanya riwayat high myiopia pada
mata kanan. Pemeriksaan mata kiri didapatkan visus 2/60 dengan koreksi
S-13.00 C-3.50x45 6/7,5 NBC dengan lensa keruh tidak merata
(K1N1SKP0) dan status oftalmologi yang lain tenang. Penyebab dari miopia
pada penderita ini dicurigai suatu juvenile onset myopia, dan dari
pemeriksaan penunjang ultrasonografi didapatkan panjang bola mata mata
kanan 27 mm dan mata kiri 29 mm sehingga miopia pada penderita ini
dicurigai merupakan suatu miopia aksialis.
Pilihan modalitas terapi yang dapat digunakan dalam tatalaksana
high myopia ada beberapa cara. Pemberian terapi ini dipilih sesuai dengan
kondisi masing masing individu. Modalitas terapi yang dapat digunakan
antara lain:7,8,10
1. Kacamata
Keuntungan pemberian kacamata antara lain perawatan yang mudah,
harga yang relatif murah dan pada anak anak dapat diberikan koreksi
maksimal tanpa gejala intoleran. Kerugian pemmakaian kacamata pada
penderita high myopia antara lain lensa yang sangat tebal sehingga
akan terasa berat serta kosmetik yang kurang baik. Pasien ini tidak
berikan resep kacamata karena terdapat perbedaan refraksi yang besar
antara mata kanan yang telah menjalani ekstraksi lensa dan mata kiri
dengan miop tinggiselainitu pasien tidak berkeinginan mengenakan
kacamata, karena menurutnya akan mengganggu dalam bekerja.
2. Lensa kontak
Pemakaian lensa kontak akan memberikan kualitas penglihatan yang
lebih baik dan dapat diberikan koreksi maksimal tanpa gejala intoleran.
Perlu pertimbangan mengenai kondisi sitemik, permukaan bola mata,
penyakit lain yang diderita, pekerjaan, kepatuhan perawatan, serta
kemauan pasien untuk memakai lensa kontak. Hal hal tersebut perlu
dipertimbangkan untuk menentukan keputusan pemakaian lensa kontak
mengingat komplikasi komplikasi yang ditimbulkan akibat

17

pemakaian lensa kontak. Pasien ini didapatkan adanya kondisi mata


dry eye yang merupakan kontraindikasi relatif dari pemakain lensa
kontak sehingga pemakaian lensa kontak kurang dianjurkan.
3. Operatif
Operasi merupakan modalitas terapi yang invasif. Terdapat beberapa
macam modalitas terapi operatif, antara lain :
a. Bedah refraktif kornea (Corneal refractive surgery)
Tujuan modalitas terapi ini adalah koreksi status refraksi dengan
cara merubah kekuatan refraksi kornea. Terdapat beberapa macam
bedah refraktif kornea antara lain Laser asssisted in situ
keraomileusis (LASIK), Laser asssisted epithelial keraomileusis
(LASEK) dan Photo Refractive Keratectomy (PRK). Tindakan
operatif ini dapat dilakukan pada pasien yang berusia > 18 tahun,
pada kelainan refraksi hingga -15.00 D, serta pada kondisi kelainan
refraksi yang sudah stabil. Tindakan operasi ini harus
mempertimbangkan kondisi ketebalan kornea, indikasi
kontraindikasi dan komplikasi yang bisa terjadi.11
b. Clear lens extraction (Refractive lens exchange)
Terapi ini dipilih apabila koreksi refraksi tidak bisa menggunakan
kacamata maupun lensa kontak, sedangkan bedah terapi bedah
refraktif kornea tidak mungkin dilakukan. Umumnya dilakukan
pada pasien yang berumur > 40 tahun. Refractive lens exchange
biasanya diikuti dengan penanaman lensa intra okuler sesuai
dengan target refraksi yang diinginkan.
c. Phakic posterior chamber implant
Menanamkan impantable contact lens/ICL di belakang iris dan di
depan lensa. Lensa yang ditanam umumnya mempunyai power
antara 3.00 D sampai 20.50 D. Prosedur ini mempunyai
beberapa komplikasi antara lain uveitis, glaukoma dengan blok
pupil, kehilangan endotel kornea, terjadinya katarak dan ablasio
retina.9
Pemilihan modalitas terapi operatif clear lens extraction diambil
dengan pertimbangan usia pasien yang lebih dari 40 tahun, dari
pemeriksaan oftalmologi didapatkan miopia tinggi dan astigmatisma serta
adanya kondisi anisometropia yang dikarenakan telah dilakukannya
18

tindakan clear lens extraction ec. high myop pada mata kanan, selain itu
kecurigan penyebab miopia tinggi pada pasien ini ke arah miopia aksial
dimana dari hasil USG didapatkan axial length lebih dari normal (OD 27
mm dan OS 29 mm) serta adanya gambaran fundus miopia fisiologis.
Pemberian kacamata tidak dilakukan karena adanya anisometropia dimana
saat dicobakan kacamata sesuai ukuran yang diperlukan pasien merasa
pusing dan tidak nyaman. Lensa kontak menjadi salah satu alternatif
modalitas terapi, tetapi mengingat adanya kondisi dry eye yang merupakan
kontraindikasi relatif penggunaan lensa kontak pada pasien ini, serta
dengan pertimbangan pemeliharaan lensa kontak yang sulit dilakukan dan
pasien yang merasa keberatan dengan biaya yang harus dikeluarkan
pemberian lensa kontak tidak dilakukan pada pasien ini. Pilihan tindakan
bedah refraktif kornea tidak dilakukan dengan pertimbangan bahwa
penyebab miopia tinggi pada penderita ini terutama dipengaruhi oleh
faktor panjang sumbu bola mata, selain itu pasien belum dilakukan
pemeriksaan ketebalan kornea sehingga belum dapat diketahui apakah
kornea pasien memenuhi syarat untuk dilakukan tindakan operatif dengan
bedah refraktif kornea dan dengan pertimbangan bahwa modalitas terapi
tersebut belum dapat dilakukan di RS dr. Kariadi Semarang.
Dilakukan informed consent sebelum dilakukan tindakan operasi
yang meliputi rencana tindakan, hasil yang diharapkan serta kemungkinan
komplikasi yang mungkin terjadi durante maupun pasca operasi.
Dijelaskan pula adanya risiko penurunan fungsi penglihatan untuk
aktivitas dekat dan kebutuhan membaca terutama karena pasien menjalani
binocular lens extraction.
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita miopia tinggi yang
menjalani tindakan refractive lens exchange dan implantasi LIO adalah
retinal detachment. Penelitian Collin et al menyatakan adanya insiden
retinal detachment pada penderita miopia tinggi (>12.00 D) mencapai
8,1% setelah 7 tahun tindakan refractive lens exchange. Hal ini dapat
diminimalisir dengan melakukan pemeriksaan preoperatif secara teliti,
khususnya pemeriksaan funduskopi untuk menilai kondisi vitreus dan
retina terhadap kemungkinan risiko detachment.12,13

19

Untuk mencapai target refraksi yang diharapkan, pemeriksaan


biometri untuk mengukur panjang sumbu bola mata dan keratometri harus
dilakukan secara hati hati, sehingga didapatkan hasil pengukuran
kekuatan LIO yang akurat. Hasil pengukuran biometri dan kekuatan LIO
dengan menggunakan rumus SRK/T pada pasien ini didapatkan hasil
4.00D dengan target refraksi S 0,17.
Pasien pada kasus ini didapatkan faktor astigmatisma kornea yang
cukup besar, sehingga pilihan LIO yang ideal adalah menggunakan toric
IOL untuk mencapai target refraksi yang diharapkan, namun karena
keterbatasan penyediaan toric IOL pada penderita dengan BPJS PBI di RS
dr. Kariadi Semarang, akhirnya diputuskan penggunaan LIO foldable dan
dilakukan relaxing limbal exicion durante operasi.
Evaluasi post operasi hari pertama didapatkan visus mata kiri 6/12
S 0.50 6/10 NBC dan pada segmen anterior didapatkan inflamasi ringan.
Pemeriksaan Javal Keratometri didapatkan OS 45 45 mm dan 135
44,5 mm. Terapi pulang LFX ED 6 x gtt 1, P Pred ED 3 x gtt 1, dan
Ciprofloxacin tab 2 x 500 mg. Pasien diperbolehkan pulang dan kontrol 1
minggu.
Kontrol satu minggu di poliklinik mata didapatkan visus mata kiri
6/8,5 S + 0,75 6/6 F1. Tampak bula pada bekas insisi mine port serta
didapatkan ODS dry eye. Pemeriksaan keratometri OS didapatkan 124
47,63 D dan 34 44,79 D. Terapi diberikan Doxicyclin 2 x 100 mg,
Terramicyn EO 1 x 1 malam hari untuk terapi bula kornea dan dry eye,
serta terapi P Pred ED 2 x gtt 1 dan C Lyters 4 x gtt 1. Pasien diminta
untuk kontrol 3 minggu untuk mengetahui kondisi kestabilan visus post
operasi.

20

Selanjutnya pasien diminta tetap kontrol rutin setiap bulan untuk evaluasi
visus dan kemungkinan komplikasi jangka panjang yang dapat
terjadi.DAFTAR PUSTAKA
1. Skuta GL, Cantor LB, Weiss JS. American Academy of Ophthalmology Basic
and Clinical Science Course. Section 3: Clinical Optics; 2010-2011: 113-9
2. Vaughn D, Asbury T, Eva PR. General Ophthalmology. General
Ophthalmology. 17th edition. Appleton & Lange. Connecticut; 2004: 387-92.
3. Schmid K. Myopia Manual. 2006. Available from URL : http://www.myopiamanual.de
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta; 2002: 75 82, 251-4
5. Gondhowiardjo TD, Simanjuntak GW (editor). Gambaran umum kelainan
refraksi Dalam: Panduan manajemen klinis Perdami. Pengurus Pusat
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). Jakarta; 2006: 915
6. Hartono, Suharjo. Ilmu Kesehatan Mata. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta; 2007: 169-188
7. Lang GK. Ophthalmology A Pocket Textbook Atlas. New York: Thieme
Stuttgart; 2007: 444-57
8. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. New Dehli: New Age
International (P) Limited; 2007: 28-36
9. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach 6th ed. China.
Butterwoth-Heinemann Elsevier; 2008: 318-21
10. Benjamin WJ. Borishs Clinical Refraction. China. Butterwoth-Heinemann
Elsevier; 2006: 3-18
11. Anderson NJ, Davis EA, Hardten DR. Refractive Surgery for Myopia,
Myopic Astigmatism and Mixed Astigmatism. Clinical Updates. Available
from URL: http://www.aao.org/education/clinicalupdates.cfm
12. Fine IH, Packer M, Hoffman RS. Refractive Lens Surgery. New York.
Springer Verlag Berlin Heidelberg; 2005: 1-10, 233-6
13. Alio JL. Azar DT. Management of Complication in Refractive Surgery. New

York. Springer Verlag Berlin Heidelberg; 2008: 1 5

21