Anda di halaman 1dari 7

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI TERHADAP KEJADIAN ISPA PADA BAYI USIA 012 BULAN

Yeni Handayani 1 Riri Novayelinda 2 Misrawati 3


Yenihandayani269@yahoo.com.id Hp 081378298736
Relationship giving breast milk on the incidence of Acute Respiratory Infection in babies
aged 0-12 months
Abstract
This study aimed to investigate the relationship giving breast milk on the incidence of Acute
Respiratory Infection. This study used cross-sectional design, the sampling technique used is
purposive sampling with a sample of 77 people who influence the inclusion criteria.
Measuring instrument used was a questionnaire. The analysis is used univariate and
bivariate analyzes with Chi-square test. The results showed that administration of exclusive
breast milk and BMS are linked to the incidence of Acute Respiratory Infection with a degree
of significance < (0.05), predominantly breast milk / Partial not related to the incidence of
Acute Respiratory Infection by results > (0.05). Based on these results it is expected that
health workers to be more active in providing health information and education about the
importance of exclusive breast milk to mothers with infants aged 0-12 months to reduce or
prevent the incidence of Acute Respiratory Infection.
Key words: Delivery of Mother's Milk, Acute Respiratory Infection, infants aged 0-12 months
Reference : 29 (1999-2010)

PENDAHULUAN
Pembangunan Milenium merupakan
program Milenium Development Goals
(MGDs) yang harus dicapai pada tahun 2015
yang diarahkan pada upaya untuk memenuhi
hak-hak dasar kebutuhan manusia di mana
terdapat 8 tujuan pembangunan yang salah
satunya menurunkan angka kematian bayi dan
anak. Pada tahun 2008 angka kematian bayi
atau Infant Mortality Rate (IMR) di Indonesia
yaitu 31,04/1000 kelahiran hidup. Diharapkan
tahun 2015 Indonesia harus mampu
menurunkan angka kematian bayi hingga
17/1000 kelahiran hidup.
Data WHO tahun 2003, ISPA merupakan
10 penyakit utama dan salah satu penyebab
kematian tersering pada anak di negara yang
sedang
berkembang.
Infeksi
saluran
pernafasan akut ini menyebabkan 4 dari 15

juta perkiraan kematian pada anak berusia di


bawah 5 tahun setiap tahunnya dan sebanyak
dua pertiga dari kematian tersebut terjadi pada
bayi. Penyakit ISPA masih merupakan salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama. Hal ini disebabkan masih tingginya
angka kematian karena ISPA, terutama pada
bayi dan anak balita. Proporsi kematian di
negara berkembang mencapai 20-30%.
Di Indonesia, pneumonia merupakan
penyebab kematian utama ISPA pada akhir
tahun 2000 sebanyak 5: 1000 bayi/balita.
Dapat diartikan angka kematian akibat
pneumonia sebanyak 150.000 pertahun
bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12.500
korban perbulan atau 416 kasus sehari atau 17
anak perjam atau seorang bayi/balita tiap lima
menit (Depkes, 2003).

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)


merupakan proses inflamasi yang disebabkan
oleh virus, bakteri, mikroplasma atau aspirasi
substansi asing yang melibatkan saluran
pernafasan atas atau saluran pernafasan bawah
dengan tanda dan gejala adanya flu, kadangkadang batuk, demam, anoreksia dan
kelemahan (Wong, 2003). Penyakit ISPA
banyak terjadi pada balita karena pada masa
balita merupakan masa yang paling rentan
terhadap berbagai serangan penyakit terutama
penyakit ISPA (Widoyono, 2008).
ISPA masih merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat yang utama.
Hal ini disebabkan masih tingginya angka
kematian karena ISPA, terutama pada bayi dan
anak balita. Setiap tahunnya 40% 60% dari
kunjungan di Puskesmas ialah penderita
penyakit ISPA. Seluruh kematian balita,
proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA
ini mencapai 20 30% (Purnomo, 2008).
Kematian pada penderita ISPA terjadi jika
penyakit telah mencapai derajat ISPA yang
berat. Paling sering kematian terjadi karena
infeksi telah mencapai paru-paru. Keadaan ini
disebut sebagai radang paru mendadak atau
pneumonia. Sebagian besar keadaan ini terjadi
karena penyakit ringan (ISPA ringan) yang
diabaikan. Sering kali penyakit dimulai
dengan batuk pilek biasa, tetapi karena daya
tahan tubuh anak lemah maka penyakit dengan
cepat menjalar ke paru-paru. Jika penyakitnya
telah menjalar ke paru-paru dan anak tidak
mendapat pengobatan serta perawatan yang
tepat, anak dapat meninggal (Depkes, 2002).
Salah satu cara pencegahan ISPA adalah
dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI)
Eksklusif yaitu pemberian (ASI) pada bayi
baru lahir sampai usia enam bulan. ASI
mengandung zat protektif atau zat kekebalan,
zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk
memenuhi seluruh kebutuhan gizi dan cairan
pada enam bulan pertama kehidupan
(Sulistiyoningsih, 2011). Zat kekebalan pada

ASI dapat melindungi bayi dari penyakit


mencret atau diare, penyakit infeksi, telinga,
batuk, pilek, dan penyakit alergi (Depkes RI,
2001). Penelitian yang dilakukan oleh Hafsah
(2010), menunjukkan dari 38 bayi yang
menderita ISPA didapatkan kejadian ISPA
mayoritas terjadi pada bayi yang mendapatkan
ASI Parsial sebanyak 27 bayi (71,1%)
sedangkan dengan ASI Eksklusif sebanyak 11
bayi (28,9%).
Air
Susu
Ibu
mengandung
imunoglobulin M, A, D, G, dan E, namun
yang paling banyak adalah sIgA. Sekretori IgA
pada ASI merupakan sumber utama imunitas
didapat secara pasif selama beberapa minggu
sebelum produksi endogen sIgA, konsentrasi
paling tinggi pada beberapa hari pertama post
partum. Selama masa pasca lahir, bayi rentan
terhadap infeksi patogen yang masuk, oleh
sebab itu sIgA adalah faktor protektif penting
terhadap infeksi (Fewtrel, 2005). Sistem
imunologi
neonatus
belum
terbentuk
sempurna, hingga pemberian ASI memegang
peranan penting untuk mencegah infeksi. Air
susu ibu juga mengandung faktor non
imunologik yang berperan sebagai faktor
protektif serta menunjang pertumbuhan dan
pematangan sistem imun dan metabolik. ASI
juga mengandung berbagai komponen anti
inflamasi, hormon (insulin, tiroksin, dan faktor
pertumbuhan saraf) yang tak terdapat dalam
susu formula.
Bayi yang mendapat ASI Eksklusif
ternyata akan lebih sehat dan jarang sakit
dibandingkan dengan bayi yang tidak
mendapatkan ASI Eksklusif. Bayi yang sehat
tentu akan lebih berkembang kepandaiannya
dibandingkan dengan bayi yang sering minum
susu formula, terutama bila sakitnya berat.
Manfaat lain pemberian ASI Eksklusif bagi
bayi meningkatkan daya tahan tubuh kerena
mengandung berbagai zat anti kekebalan bayi
terutama selama minggu pertama (4-6 hari)
pada kolostrum sehingga akan lebih jarang

sakit. ASI juga akan mengurangi terjadinya


diare, sakit telinga dan infeksi saluran
pernafasan (Utami, 2009). Hal tersebut
sependapat
dengan
Hausniati
(2007),
penelitian
menunjukan
bahwa
ASI
memberikan kekebalan maksimal dan paling
baik tidak hanya tahun-tahun awal kehidupan
seorang. ASI juga memiliki banyak manfaat
yang dapat menunjang kesehatan bayi.
Manfaat tersebut antara lain terbukti bahwa
pemberian ASI menurunkan resiko berbagai
penyakit salah satunya adalah ISPA.
Data dari Dinas Kesehatan Kota
Pekanbaru menunjukkan bahwa bayi yang
menderita ISPA di Puskesmas tahun 2011
sebanyak 10.442 bayi, diantaranya 14,9%
puskesmas Rejo Sari, 14,1% Rumbai, 9,3%
Garuda, 3,3% RI Karya Wanita dan selebihnya
di puskesmas lainnya. Berdasarkan data tahun
2011 yang didapat, Puskesmas Rumbai
memiliki jumlah penduduk 43.272 jiwa,
dimana terdapat 111 bayi usia 0-12 bulan yang
menderita pneumonia dan 1.369 bukan
pneumonia, sedangkan anak usia 1-4 tahun
yang menderita pneumonia sebanyak 485 anak
dan 3.494 bukan pneumonia.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang
Hubungan pemberian ASI terhadap kejadian
ISPA pada bayi usia 0-12 bulan.
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui adanya hubungan
pemberian ASI terhadap kejadian ISPA.
METODE PENELITIAN
Desain dan Metode Penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan
desain penelitian deskriptif korelasi dengan
pendekatan
desain
Cross
sectional.
Rancangan
penelitian
ini
merupakan
rancangan penelitian dengan melakukan
pengukuran atau observasi terhadap variabel
independen dan variabel dependen yang
dilaksanakan pada satu waktu secara bersaman

(Nursalam, 2008). Variabel yang dihubungkan


dalam penelitian ini adalah menghubungkan
ASI dengan kejadian ISPA.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas
Rumbai yang merupakan salah satu puskesmas
yang mempunyai angka tertinggi penderita
ISPA pada bayi.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh subjek atau
objek dengan karakteristik tertentu yang akan
diteliti (Azis, 2007). Populasi dalam penelitian
ini seluruh bayi yang berobat jalan di
puskesmas Rumbai.
Sampel adalah sebagian yang diambil
dari keseluruhan objek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi tersebut
(Notoadmodjo, 2005). Pada penelitian ini
teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah purposive Sampling dilakukan dengan
mengambil kasus atau responden untuk tujuan
tertentu.
Kriteria inklusi adalah karakteristik
umum subjek penelitian dari suatu populasi
target yang terjangkau yang akan diteliti
(Nursalam, 2005).
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian disusun berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan terhadap
responden tentang hubungan pemberian ASI
terhadap kejadian ISPA pada bayi usia 0-12
bulan di Puskesmas Rumbai Pekanbaru.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17
desember 2012-26 januari 2013 dengan
jumlah responden 77 orang dan didapatkan
hasil penelitian sebagai berikut:
Analisa Univariat
Penelitian ini menggambarkan distribusi
frekuensi dari variabel karakteristik demografi
responden yang terdiri dari umur dan jenis
kelamin.

Distribusi Umur
Berdasarkan
kuesioner
yang
dikumpulkan dari 77 responden, didapatkan
data tentang umur bayi yang dihubungkan
dengan kejadian ISPA.
Tabel 4
Distribusi frekuensi umur bayi 0-12 bulan
yang menderita ISPA di Puskesmas Rumbai
Pekanbaru (n=77)
No
1
2
3

Umur
0-4 bulan
5-8 bulan
9-12 bulan
Total

Jumlah
12
39
26
77

Persentase
15,6%
50,6%
33,8%
100%

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa


dari 77 responden sebagian besar yang
menderita ISPA berusia 5-8 bulan (50,6%) dan
sebagian kecil responden yang menderita ISPA
berusia 0-4 bulan (15,6%).
Jenis kelamin
Berdasarkan
kuesioner
yang
dikumpulkan dari 77 responden, didapatkan
data tentang umur bayi yang dihubungkan
dengan kejadian ISPA.
Tabel 5
Distribusi frekuensi jenis kelamin bayi 0-12
bulan yang menderita ISPA di Puskesmas
Rumbai Pekanbaru(n=77)
No
1
2

Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total

Jumlah
48
29
77

Persentase
62,3%
37,7%
100%

Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa


dari 77 responden sebagian besar berjenis
kelamin laki-laki sebanyak 48 bayi (62,3%)
dan 29 bayi (37,7%) berjenis kelamin
perempuan.

Analisa Bivariat
Analisa bivariat digunakan untuk
melihat apakah ada hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat, hubungan

dikatakan bermakna apabila < 0,05. Pada


penelitian ini dilakukan uji statistik
berdasarkan uji chi-square dengan jumlah
responden 77 orang. Perhitungan dapat dilihat
pada tabel dibawah ini:
Tabel 6
Distribusi frekuensi pemberian ASI terhadap
kejadian
ISPA pada bayi usia 0-12
bulan(n=77)
Kejadian ISPA
Kategori

ASI
Eksklusif
ASI
Predomin
an/
Parsial

Se
rin
g
0

16

PASI

17

Total

33

0
%
40
%
10
0
%
42
,9
%

Jar
ang

To
tal

20

100
%

20

24

60%

40

52
%

0%

17

22
%

44

57,1
%

77

10
0%

v
a
l
u
e

26
%
0
,
0
0

Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa


dari 77 responden sebagian besar mendapatkan
ASI Predominan/Parsial sebanyak 40 bayi
(52%), ASI Eksklusif sebanyak 20 bayi (26%)
dan PASI sebanyak 17 bayi (22%).
Hasil uji statistik diperoleh p value <
(0,00 < 0,05), dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan yang
bermakna antara pemberian ASI terhadap
kejadian ISPA.

PEMBAHASAN
Analisa Univariat
Umur

Berdasarkan hasil penelitian dari 77


responden penderita ISPA yang dibagi menjadi
3 kelompok usia didapatkan data yaitu bayi
usia 0-4 bulan yang menderita ISPA sebanyak
12 bayi (15,6%), bayi usia 4-8 bulan sebanyak
39 bayi (50,6%) dan bayi usia 8-12 bulan
sebanyak 26 bayi (33,8%). Dari data dapat
dilihat bahwa semakin tinggi usia bayi maka
semakin tinggi pula tingkat kejadian ISPA, hal
ini dikarenakan bayi telah banyak terpapar
lingkungan luar. Bayi usia 4-8 bulan
merupakan jumlah penderita ISPA terbanyak,
dikarenakan bayi yang berusia dibawah 6
bulan tidak mendapatkan ASI Eksklusif. ASI
Eksklusif bagi bayi dapat meningkatkan daya
tahan tubuh kerena mengandung berbagai zat
anti kekebalan bayi terutama selama minggu
pertama kelahiran (4-6 hari) yang didapat dari
kolostrum sehingga akan lebih jarang sakit.
ASI juga akan mengurangi terjadinya diare,
sakit telinga dan infeksi saluran pernafasan
(Utami, 2009).
Jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian tentang
jenis kelamin, sebagian besar 48 bayi (62,3%)
berjenis kelamin laki-laki dan 29 bayi (37,7%)
berjenis kelamin perempuan. Dilihat dari jenis
kelamin, dapat diketahui ada perbedaan
jumlah responden yang menderita ISPA
dimana laki-laki lebih banyak berobat jalan di
Puskesmas
Rumbai
dibanding
bayi
perempuan. Jenis kelamin tidak berpengaruh
terhadap kejadian ISPA karena setiap bayi
yang menderita suatu penyakit dikarenakan
suatu penyebab sedangkan jenis kelamin
bukanlah suatu penyebab penyakit.
Analisa Bivariat
Dari 77 responden yang diteliti sebanyak
20 bayi (26%) mendapatkan ASI Eksklusif
jarang menderita ISPA. Hal ini menunjukan
bahwa ASI Eksklusif berperan penting untuk
mengurangi kejadian ISPA, ASI mengandung

zat protektif atau zat kekebalan, zat gizi dan


cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi
seluruh kebutuhan gizi dan cairan pada enam
bulan pertama kehidupan (Sulistiyoningsih,
2011). ASI juga mengandung mineral zinc
yang terbukti efektif untuk menurunkan
penyakit pneumonia (radang paru), diare dan
penyakit infeksi lainnya. Immunoglobulin A
(IgA) didalam ASI dapat melindungi bayi
terhadap bakteri dan virus terutama pada
saluran pernafasan dan saluran pencernaan.
Hal ini didukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Tarini (2010), dengan hasil
bahwa setiap bayi yang diberi ASI dalam satu
jam pertama setelah kelahiran serta dilanjutkan
dengan pemberian ASI Eksklusif selama enam
bulan pertama kelahiran akan menurunkan
resiko bayi terpapar penyakit infeksi.
Bayi
yang
mendapatkan
ASI
Predominan/Parsial
sebanyak
40
bayi
diantaranya 16 bayi (40%) sering menderita
ISPA dan 24 bayi (60%) jarang menderita
ISPA. Ada beberapa faktor bayi terinfeksi
ISPA, diantaranya pemberian makanan
tambahan sedini mungkin dan kurangnya
pengetahuan ibu dalam menjaga kebersihan
diri dan peralatan makan yang digunakan.
Penyebab utama ISPA adalah infeksi virus dan
penyebarannya melalui sistem pernafasan,
salah satu faktor resiko kejadian ISPA adalah
bayi tidak mendapatkan ASI yang memadai
karena ASI berfungsi sebagai protektif
terhadap berbagai infeksi (Depkes, 2001).
Menurut penelitian Hausniati (2007), ASI
memberikan kekebalan maksimal dan paling
baik tidak hanya tahun-tahun awal kehidupan
seorang. ASI juga memiliki banyak manfaat
yang dapat menunjang kesehatan bayi.
Manfaat tersebut antara lain terbukti bahwa
pemberian ASI menurunkan resiko berbagai
penyakit salah satunya adalah ISPA
Pada bayi yang mendapatkan makanan
pengganti ASI/PASI sebanyak 17 bayi yang
sering menderita ISPA. Hal ini membuktikan

bahwa bayi yang mendapatkan makanan


pengganti ASI/PASI mempunyai angka yang
tinggi menderita ISPA dibanding bayi yang
mendapatkan ASI, karena tidak semua nutrisi
yang dibutuhkan bayi ada didalam makanan
pengganti ASI. Selain itu juga bisa disebabkan
oleh tingkat kebersihan peralatan makan yang
digunakan. Menurut Depkes RI (2000) salah
satu strategi pencegahan dan pemberantasan
ISPA yaitu mempertahankan status gizi. ASI
mengandung zat gizi, zat protektif atau zat
kekebalan yang dibutuhkan untuk memenuhi
seluruh kebutuhan gizi dan cairan pada enam
bulan pertama kehidupan (Sulistiyoningsih,
2011).
ASI
mengandung faktor non
imunologik, ,yang berperan sebagai faktor
protektif untuk menunjang pertumbuhan dan
pematangan sistem imun dan metabolik. ASI
juga mengandung berbagai komponen anti
inflamasi, hormon (insulin, tiroksin, dan faktor
pertumbuhan saraf) yang tidak terdapat dalam
susu formula atau makanan tambahan lainnya
Setetelah dilakukan uji statistik chisquare diperoleh nilai < 0,05 yaitu = 0,00
maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan
ada hubungan yang signifikan antara
pemberian ASI terhadap kejadian ISPA.
KESIMPULAN
Hasil penelitian yang dilakukan tentang
hubungan pemberian ASI terhadap kejadian ISPA
pada bayi usia 0-12 bulan dapat ditarik kesimpulan
bahwa dari 77 responden yang menderita ISPA
yang berobat jalan di Puskesmas Rumbai
Pekanbaru,
didapatkan data bayi yang
mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 20 bayi
(26%), ASI Predominan/Parsial sebanyak 40 bayi
(52%) dan PASI sebanyak 17 bayi (22%). Hasil
uji statistik chi-square menunjukkan nilai value <
(0,00 < 0,05), dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara pemberian ASI terhadap kejadian ISPA.

SARAN
1.
Bagi perkembangan keperawatan

Penelitian ini dapat digunakan sebagai


masukan
bagi
perkembangan
ilmu
keperawatan dalam program pemberian ASI
untuk menurunkan angka kejadian ISPA..
2. Bagi petugas Puskesmas Rumbai
Perawat hendaknya mampu terlibat
langsung dalam memberikan pendidikan
kesehatan pada ibu yang mempunyai bayi
usia 0-12 bulan tentang pentingnya
memberikan ASI terhadap pencegahan
terhadap ISPA.
3. Bagi peneliti lain
Bagi peneliti yang ingin melakukan
penelitian yang sama, agar bisa menggali
lebih dalam lagi hubungan pemberian ASI
terhadap ISPA dengan jumlah sampel yang
lebih banyak lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Agustama. (2005). Kajian infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) pada balita di
kota medan dan kabupaten deli
serdang. Medan: USU
Arikunto, S. (2006). Metodologi penelitian
kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Bobak.

(2004). Keperawatan
Jakarta: EGC

maternitas.

Departemen kesehatan RI. (2000). Program


pemberantasan penyakit ISPA dalam
keputusan menteri kesehatan.
DepKes RI. (2001). Manajemen Laktasi.
Jakarta: Departemen Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. (2002). Penyakit
ISPA. Jakarta.
DepKes RI. (2005). Manajemen Laktasi.
Jakarta: Departemen Kesehatan
Fewtrel, M., Lucas A.(2005). Feeding the fullterm infant. Dalam: Rennie JM,
penyunting. Robertons textbook of
neonatology. Edisi ke-4. London:
Churchill livingstone;

Hasyim, H. (2008). Manajemen penyakit


lingkungan berbasis wilayah. Jurnal
manajemen pelayanan kesehatan

Sulistiyoningsih, H. (2011). Gizi untuk


Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta:
Graha Ilmu

Hasnah, S. (2010). Gambaran kejadian ISPA


pada bayi umur 0-6 bulan yang
mendapatkan ASI Eksklusif dan bayi
umur 0-6 bulan yang mendapatkan ASI
Parsial. PSIK U R

WHO. (2003). Penanganan ISPA pada Anak


di Rumah Sakit Kecil Negara
Berkembang. Jakarta: EGC

Hidayat, A. (2008). Metode penelitian


keperawatan & teknik analisis data.
Jakarta: Salemba Medika
Nelson. (1999). Ilmu kesehatan anak. Vol. 2.
Edisi 15. Jakarta: EGC
Notoadmodjo,
S.
(2005).
Metodologi
penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta
Notoatmodjo, S. (2010). Metode penelitian
kesehatan. Jakarta:Rineka Cipta
Novianti, R. (2009). Menyusui itu indah.
Yogyakarta: Octopus
Nursalam. (2008). Konsep dan metodologi
penelitian ilmu keperawatan: pedoman
skripsi, tesis dan instrument penelitian
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Prasetyono, D. S. (2009). ASI Eksklusif.
Jogjakarta: DIVA Press
Ramaiah, S. (2006). ASI dan menyusu:
panduan praktis bagi ibu setelah
melahirkan. Jakarta: PT Bhuana ilmu
Roesli, U. (2000). ASI Eksklusif. Jakarta;
Tribus Agri Widya
Roesli, U. (2008). Inisiasi Menyusu Dini.
Jakarta: Pustaka Bunda
Roesli, U. (2009). ASI Eksklusif. Jakarta;
Tribus Agri Widya
Tarini. (2009). Efektifitas menyusui satu jam
pertama dilanjutkan ASI Eksklusif
terhadap kejadian penyakit diare dan
ISPA pada bayi. Diperoleh tanggal 2
februari 2013

Widoyono.
(2008).
Penyakit
tropis
epidemiologi, penularan, pencegahan
&
pemberantasannya.
Jakarta:
Erlangga.
Wong,

D.
(2003).
Pedoman
klinis
keperawatan pediatrik. Jakarta : EGC

Wong,

D.
(2004).
Pedoman
klinis
keperawatan pediatrik. Jakarta: EGC

Wong, D. (2008). Keperawatan pediatrik. Vol.


1. Jakarta: EGC
Wong, D. (2008). Keperawatan pediatrik. Vol.
2. Jakarta: EGC