Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit menular seksual semakin lama semakin meningkat prevalensinya, khususnya
pada remaja usia produktif. Hal ini dapat terjadi diakibatkan pergaulan yang bebas sehingga
dengan mudahnya bergonta-ganti pasangan seksual dan juga aktivitas seks yang tidak pada
tempatnya seperti perianal dan perioral. Kiranya pengetahuan tentang perilaku seks ini yang
perlu ditingkatkan lagi pemahamannya kepada para remaja, membiasakan diri mereka agar
berperilaku sehat khususnya perilaku seksual, serta memberikan penyuluhan apa saja penyakit
menular akibat hubungan seksual yang tidak sehat.
1.2 Tujuan
1. Untuk menambah wawasan pembaca mengenai penyakit menular seksual.
2. Untuk

memahami

anamnesis,

pemeriksaan,

diagnosis,

etiologi,

epidemiologi,

patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi, prognosis, dan pencegahan


dari gonorrhoea.

BAB II
PEMBAHASAN
Gonorrhoea
Merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. 1 Cara
penularan dengan kontak seksual melalui vaginal, anal, dan oral.
2.1 Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan dengan menanyakan hal-hal sebagai berikut:
1. Lamanya penyakit yang diderita.
2.
3.
4.
5.

Riwayat penyakit dahulu.


Ada nyeri atau tidak yang disertai rasa panas pada saat kencing.
Terasa gatal atau tidak pada bagian genital.
Mengeluarkan sekret putih kekuningan atau tidak.
Pada laki-laki sekret purulen yang dikeluarkan biasa muncul pada pagi hari disebut

bonjour drop.2
6. Ada gejala simptomatis seperti demam.
7. Riwayat hubungan seksual sebelumnya.
8. Pengobatan yang pernah dilakukan serta obat-obatan yang pernah diminum sebelumnya.
2.2 Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik3
Pada laki-laki:

Terdapat

bercak

pada

celana

dalam

(perhatikan

warna,

jumlah,

dan

konsistensinya).

Pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral maupun bilateral.

Ada duh tubuh yang mukopurulen dari ujung uretra.

Orifisium uretra eksternum merah, edema, dan ektropion.

Pada wanita:

Ada duh tubuh yang mukopurulen dari ujung uretra.


2

Orifisium uretra eksternum merah dan edema.

Pada labium mayor yang terkena membengkak, merah, serta nyeri tekan terutama
jika berjalan & pasien menjadi sukar duduk.

Serviks tampak merah dan edema disertai erosi dan sekretnya mukopurulen/
purulen.

Jika hubungan seks melalui anal maka pada anus: mukosa eritematosa,
edematosa, dan tertutup pus mukopurulen (dapat juga terjadi pada laki-laki
homoseksual). Namun jika melalui oral maka pada faring ditemukan eksudat
mukopurulen ringan atau sedang.

Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
1. Secara mikrokospik, dengan pewarnaan gram dapat ditemukan bakteri yang berbentuk
diplococcus gram negatif intrasel dari leukosit PMN. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
mengambil spesimen dari sekret uretra, sekret serviks, maupun sekret mata (pada bayi
yang baru lahir dari ibu yang terkena servitis gonorrhoea).
2. Kultur, dengan menggunakan media transport (media Stuart hanya untuk transport &
media transgrow hasil perpaduan dari media transport dan media pertumbuhan yang
ditambahkan trimetoprim untuk menekan pertumbuhan Proteus spp) dan media
pertumbuhan (Thayer-Martin agar pada suhu 35-37C dengan CO2 5-10% serta
mengandung vancomycin menekan pertumbuhan kuman gram positif, kolistin
menekan pertumbuhan kuman gram negatif, dan nistatin menekan pertumbuhan
jamur).
3. Tes definitif, ada 2 cara: tes oksidasa (dengan tetrametil-p-fenilendiamin dihydrochloride,
jika positif terdapat koloni bewarna hitam) dan tes peragian gula (pada Cystin Trypticase
Agar, Neisseria gonorrhoeae hanya meragi glukosa saja).
4. Tes beta-laktamase/ penisilinase, ada 2 cara: tes iodometri (jika positif warna biru segera
hilang) dan tes cefinase (jika positif akan terbentuk warna merah muda).
3

5. Tes Thomson, untuk mengetahui sudah sampai tahap apa infeksi penyakit ini
berlangsung. Tapi tes ini dilakukan setelah bangun pagi, urin dibagi dalam dua gelas,
tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II, jumlah urin sekitar 80-100 ml. Jika
gelas I & II jernih maka tidak ada infeksi. Jika gelas I keruh, gelas II jernih infeksi
uretritis anterior. Jika gelas I & II keruh maka uretritis posterior.3
2.3 Working Diagnosis
Diagnosis pasti dari gonorrhoea didapatkan dengan cara menemukan Neisseria
gonorrhoeae yang berbentuk diplococcus gram negatif pada sekret yang purulen, untuk hasil
yang cepat dapat menggunakan pewarnaan gram.
2.4 Diagnosis Diferensial
Diagnosis diferensial dari gonorrhoea adalah uretritis non gonococcus, paling sering
disebabkan oleh Chlamydia trachomatis yang merupakan bakteri gram negatif dan parasit obligat
intrasel.4 Bakteri ini bersifat dimorfik dengan bentuk infeksius dan noninfeksius. Bentuk
infeksius, secara metabolisme tidak aktif tapi dapat menempel pada sel target sedangkan bentuk
noninfeksius, secara metabolisme aktif namun tidak menempel pada sel target, hanya
membentuk badan inklusi.4
Manifestasi klinisnya pada laki-laki ialah disuria, adanya sekret yang jernih sampai
mukopurulen, uretritis, epididimitis, dan prostatitis yang mulai timbul 7-10 hari setelah kontak
seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Sedangkan pada perempuan ialah uretritis, servisitis,
bartolinitis, dan akhirnya penyakit radang panggul. Chlamydia trachomatis dapat menginfeksi
faring dan rectum jika berhubungan seks secara anal dan oral, bayi pun dapat terinfeksi sewaktu
dilahirkan dengan mengalami konjungtivitis dan pneumonia. Komplikasi jika terinfeksi ini yaitu
terbentuknya jaringan parut pada tuba fallopi dan saluran sperma yang berakibat kemandulan.4
Chlamydia trachomatis dapat didiagnosis dengan biakan sel epitel yang diperoleh dari
tempat-tempat yang dicurigai terinfeksi dan tidak hanya dari hasil sekret. Pemeriksaannya serupa
dengan yang digunakan untuk mengisolasi virus seperti Ligase Chain Reaction dan Polimerase
Chain Reaction.4

Selain dari infeksi Chlamydia, gonorrhoea juga harus dibedakan dengan non-spesifik
uretritis, dibedakan dengan tidak adanya gram negatif diplokokus pada pewarnaan gram sampel
sekret purulen dan tidak ditemukan infeksi Chlamydia. Mikroorganisme yang biasa menginfeksi
adalah Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma genitalium.
2.5 Etiologi
Penyebab gonorrhoea adalah Neisseria gonorrhoeae yang termasuk dalam famili
Neisseriaceae. Dengan morfologi yaitu diplococcus seperti biji kopi, gram negatif, oksidase
positif, tidak bergerak, peragi glukosa namun bukan peragi maltosa, sukrosa, atau laktosa. 5
Termasuk bakteri yang fastidious perlu agar coklat selektif (jika ingin dikultur), suhu 35-37C,
dan CO2 5-10%. Dikatakan fastidious karena Neisseria gonorrhoeae akan kalah dibanding
mikroorganisme lain maka dari itu hanya bisa tumbuh pada agar coklat selektif yang sudah diberi
antibiotic dan antifungal.

Gambar 1. Mikroskopik Neisseria gonorrheae


Sumber: http://repository.ui.ac.id
2.6 Epidemiologi
Gonorrhea merupakan penyakit menular seksual yang sering terjadi, menempati posisi
keempat pada penyakit menular seksual setelah trichomoniasis, infeksi klamidia, dan genital
warts. Penularan terjadi melalui hubungan seksual baik secara vaginal, anal, dan oral. Insidens
gonorrhea meningkat pada negara-negara berkembang.5 Salah satu penyebab penyakit menular

seksual paling banyak yang terjadi pada remaja produktif usia 20-25 tahun termasuk juga lakilaki homoseksual.
2.7 Patofisiologi
Bakteri Neisseria gonorrhoea yang mempunyai pili mempunyai virulensi yang lebih
tinggi dibandingkan yang tidak punya pili karena dengan pili tersebutlah bakteri ini dapat
melekat serta menghancurkan membran sel epitel yang melapisi selaput lendir terutama epitel
yang melapisi canalis endoserviks dan uretra. 4 Untuk dapat menular harus ada kontak dari
mukosa ke mukosa. Tidak semua orang yang terpajan dengan Neisseria gonorrhoeae langsung
terkena sakit gonorrhoea dan resiko penularan lebih tinggi dari laki-laki kepada wanita daripada
wanita kepada laki-laki ini dikarenakan lebih luasnya selaput lendir yang terpajan dan eksudat
yang berdiam lama di vagina.4 Infeksi gonococcus dapat menyebar melalui darah menimbulkan
bakteremia gonococcus. Bakteremia dapat terjadi pada laki-laki maupun wanita tapi pada wanita
lebih sering terjadi, dan lebih beresiko jika perempuan tersebut sedang dalam keadaan haid.
2.8 Manifestasi klinis
Pada laki-laki gejala dan tanda dapat muncul 2 hari setelah pajanan sedangkan pada
wanita timbul dalam 7-21 hari.
Laki-laki terdapat:1

Uretritis paling sering dijumpai uretritis anterior akut lama-kelaman dapat menjalar ke
proksimal (sehingga terjadi komplikasi) yang disertai dengan gatal, panas di bagian distal
uretra di sekitar orifisium uretra eksternum. Kemudian keluar sekret yang mukopurulen
yang kadang disertai darah, disuria, polakisuria, dan juga nyeri pada waktu ereksi.
Orifisium uretra eksternum tampak merah, edema, dan ektropion dan juga ada
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral maupun bilateral.

Gambar 2. Sekret yang mukopurulen dari penis


Sumber: http://repository.ui.ac.id
6

Perempuan terdapat:1

Baik akut maupun kronis jarang ada keluhan subyektif dan hampir tidak ada kelainan
obyektif. Pada mulanya hanya mengenai serviks uteri, kadang-kadang ada keluhan
berupa rasa nyeri pada pinggul bawah. Jika terjadi servitis maka terdapat merah serta
erosi & sekret mukopurulen.

Gambar 3. Sekret serviks yang mukopurulen


Sumber: http://repository.ui.ac.id
2.9 Penatalaksanaan
Medikamentosa
Sefalosporin golongan III yaitu seftriakson dosis tunggal 125 mg injeksi intramuscular
merupakan obat pilihan utama untuk semua jenis gonorrhoea. 6 Oftalmia neonatorum apat
diberikan seftriakson 25-50 mg/ kg intravena. Selain seftriakson dapat diberikan siprofloksasin
500 mg/ oral atau ofloksasin 400 mg/ oral. Sedangkan bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi
gonorrhea (profilaksis) maka dapat diberikan salep mata eritromisin 0,5% atau salep mata
tetrasiklin 1%.
Non medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan komplikasi dari penyakit
menular seksual, pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan, hindari hubungan seksual

sebelum sembuh jika tidak dapat dihindarkan gunakan kondom, cara menghindari infeksi
penyakit menular seksual di masa yang datang, serta mengobati pasangan seksual tetapnya.
2.10 Komplikasi
Laki-laki dapat terjadi:7
a) Lokal:
1. Tysonitis kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi ini terjadi pada lakilaki yang preputiumnya panjang dengan kebersihan yang kurang baik. Ditandai
dengan adanya butir pus/ frenulum yang membengkak, ada nyeri tekan.
2. Parauretritis sering terjadi pada orifisium uretra eksternum yang terbuka,
ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.
3. Littritis pada urin ditemukan seperti benang-benang.
4. Cowperitis jika pada duktusnya saja maka tanpa gejala namun jika kelenjar
Cowper maka akan terjadi abses yang disertai panas, nyeri pada waktu defekasi,
dan disuria.
b) Ascendens:
1. Prostatitis akut (tidak enak pada perineum dan suprapubis, malese, demam,
sulit defekasi) dan kronik (gejalanya lebih ringan dibanding yang akut tapi timbul
kadang-kadang).
2. Vesikulitis radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus
ejakulatorius. Jika diraba keras seperti sosis.
3. Funikulitis nyeri pada daerah abdomen bagian bawah.
4. Epididimitis adanya trauma pada uretra posterior.
5. Trigonitis mengenai trigonum vesica urinaria.
Wanita dapat terjadi:

Lokal: parauretritis, bartholinitis (labium mayor membengkak, merah, nyeri tekan dan
juga kelenjar Bartholin membengkak, nyeri sekali jika berjalan dan menjadi sukar
duduk).

Ascendens: salpingitis (bisa steril, terjadi kehamilan ektopik), penyakit radang panggul.7

Pada wanita dan laki-laki dapat terjadi infertilitas, Perihepatitis (Fitz-Hugh-Curtis


syndrome), serta komplikasi diseminata yaitu arthritis, miokarditis, endokarditis, perikarditis,
meningitis, dermatitis (lesi kulit papular, pustular di tangan dan kaki).7

2.11 Prognosis
Umumnya baik namun jika setelah sembuh tidak memperbaiki aktivitas seksual yang
tidak setia pada pasangannya maka penyakit ini dapat timbul lagi berulang-ulang.
2.12 Pencegahan
Untuk mencegah penyakit gonorrhoea maka:
1. Monogami.
2. Menghindari seks bebas.
3. Pemeriksaan secara teratur karena bersifat asimptomatik (khususnya wanita).
4. Menggunakan kondom untuk segala macam kontak seksual.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Neisseria gonorrhoeae adalah penyebab penyakit gonorrhoea. Penyakit gonorrhoea
merupakan penyakit menular seksual. Neisseria gonorrhoeae bentuknya diplococcus, gram
negatif, tidak bergerak, oksidase positif, punya pili (merupakan faktor virulensi) menghasilkan
enzim beta laktamase, meragi glukosa, dapat tumbuh pada Thayer-Martin agar, dan anaerob.
Umumnya penyakit gonorrhoea ini asimptomatik pada wanita beda dengan laki-laki yang
dapat terlihat paling cepat 2-3 hari setelah terpajan Neisseria gonorrhoeae. Penyakit ini timbul
dengan gejala ada sekret yang mukopurulen pada sekret uretra, serviks, dan mata (pada bayi
yang terinfeksi pada waktu lahir dari ibu yang menderita servitis gonorrhoea). Komplikasi
penyakit ini pada umumnya, lama-kelamaan akan menjalar ke daerah yang lebih proksimal dari
tempat bakteri masuk.
Pengobatan untuk gonorrhoea adalah seftriakson, sefalosporin golongan III sedangkan
pada bayi oleskan salep mata tetrasiklin 1% atau salep mata eritromisin 0,5%. Jangan lupa kita
juga harus mengobati pasangan tetap dari si penderita karena mengingat penyakit ini dapat
timbul berulang-ulang lagi jika terpajan karena tubuh kita tidak membuat imunitas terhadap
penyakit ini. Pencegahan agar tidak menderita penyakit ini lagi yaitu setialah pada pasangan
anda, jangan melakukan seks bebas, dan gunakan kondom jika terpaksa.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. Jilid II.
Edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 2000.
2. Kohl PK. Gonorrhea and urethritis. In: Burgdorf WHC, Dlewig G, Landthaler M. BraunFalcos dermatology. 3rd ed. Italy: Seringer Medizin Verlag, 2009.p.247-55.
3. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-5. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
4. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-6. Jilid II.
Jakarta: EGC; 2005.
5. Ram S, Rice PA. Gonococcal infections. In: Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E,
Hauser SL, Jameson JL, et all. Harrisons principle of internal medicine. Ed 17 th. USA:
McGraw Hill Companies, 2008.p.931-37.
6. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
7. Garcia AL, Madkan VK, Tyring SK. Gonorhea and other veneral diseases. In: Wolff K,
Goldsmith LA, Katz S, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatricks dermatology in
general medicine. 7th ed. USA: McGraw Hill, 2008.p.1993-2000.

11