Anda di halaman 1dari 10

TERMOMETER KRISTAL CAIR UNTUK DETEKSI AWAL

HYPOTHERMIA PADA NEONATUS DALAM BANGSAL


NEONATOLOGI,
RUMAH
SAKIT
SARDJITO,
YOGYAKARTA
Tunjung Wibowo, Dwikisworo Setyowireni, A. Samik Wahab

Abstrak
Latar Belakang Hypothermia pada neonatus meningkatkan risiko mortalitas dan
morbiditas seperti infeksi, kelainan koagulasi / pembekuan, asidosis, dan
penyakit membran hyaline. Termometer merkuri biasanya digunakan untuk
mendeteksi adanya hypothermia pada neonatus, tetapi tidak dapat diterima
ekologis, sulit untuk disterilkan, mudah rusak, sulit ditemui di beberapa negara
berkembang, dan diperlukan beberapa latihan sebelum menggunakannya.
Diperlukan alat yang simple, efektif, dan mudah digunakan untuk mendeteksi
hypothermia pada neonatus.
Tujuan Untuk mengevaluasi kemampuan thermometer Kristal (LCT) di awal
deteksi bayi hypothermia.
Metode Studi ini dikelola dalam bangsal neonatologi, Rumah Sakit Sardjito.
LCT ditempatkan pada dinding abdomen, pengukuran thermometer digital, dan
observasi LCT dikelola tiga kali pada masing masing pasien. Warna LCT dan
temperature tubuh dicatat dengan menggunakan kuesioner pre-kode.
Hasil Sebanyak 268 neonatus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Studi
percontohan menunjukkan bahwa persetujuan inter-observer adalah sebanyak
0,75. Rasio kemungkinan positif selama tiga pengukuran masing masing
sebanyak 22.9 (95% CI, 11.47;45.78), 18.97 ( 95% CI 9.43;38.16), dan 22.8
( 95% CI 11.34;45.83).
Kesimpulan LCT menunjukkan akurasi yang baik dan aman untuk mendiagnosa
neonatus. Paediatr Indones 2008;48:5-9)

Kata Kunci : Termometer Kristal cair, hypothermia, neonatus, thermometer


digital
Hypothermia pada bayi yang baru lahir / neonatus terjadi di seluruh dunia
dalam segala kondisi. Di negara negara yang kurang sumber dayanya, menjaga
suhu tubuh merupakan menyisakan sebuah masalah yang besar 1. Hal itu telah
didokumentasikan dengan baik bahwa hypothermia berhubungan dengan risiko
morbiditas yang meningkat dan mortalitas2-4. Neonatus berada pada risiko
kehilangan panas yang meningkat karena karakteristik karakteristik tertentu
seperti lapisan tubuh yang besar yang berhubungan dengan berat badan, proporsi
kepala yang besar terhadap tubuh, dan lemak subkutan yang rendah. Kehilangan
panas biasanya terjadi pada jam jam pertama setelah kelahiran, meskipun
kondisi tersebut juga bisa saja terjadi kemudian, misalnya selama mandi atau
pada saat malam hari yang dingin. Selama 20 menit pertama setelah kelahiran,
temperature neonatus bisa berkurang 2-40C jika tidak ada pengeringan yang
cukup dan pembungkusan dengan penutup kepala. Beberapa factor risiko yang
berhubungan dengan hypothermia telah didokumentasikan, seperti kurangnya
pemahaman dari termogenesis neonatus yang bukan berasal dari gemetar di
antara ibu dan staf, prematuritas, pengeringan dan pembungkusan yang tidak
semestinya, pemisahan yang tidak perlu antara bayi dengan ibunya setelah
kelahiran, tidak adanya persediaan panas yang ekstra selama resusitasi, kelahiran
rumah, pemberian susu dan pemandian yang tidak eksklusif dalam 24 jam setelah
kelahiran.5,6 - 10
Di negara negara yang sedang berkembang, thermometer merkuri dalam
kaca

biasanya

digunakan

untuk

mengukur

suhu

tubuh

neonatus.

Sayangnya,varietas pembacaan rendah sulit diperoleh dalam banyak bagian di


Negara berkembang. Masalah lain adalah alat ini rapuh, tidak dapat disterilkan,
dan sulit digunakan tanpa latihan yang memadai. 3,11 Akhir akhir ini,
thermometer Kristal cair berwarna kontras (LCT) telah dikembangkan. Pada
Kristal cair, penyebaran cahaya selektif terjadi pada panjang gelombang tertentu.
Panjang gelombang dari penyebaran maksimum berubah secara kebalikannya
dengan temperature, maka suatu Kristal cair yang terkalibrasi dengan sesuai

menjadi berkurang sesuai dengan temperaturnya. 3,11 Kami mengevaluasi jalannya


LCT untuk deteksi awal hypothermia (suhu tubuh 35.4 36.4oC) pada neonatus.

METODE
Studi ini dilakukan pada neonatus yang diambil dari bangsal neonatologi
di Departemen Kesehatan Anak, Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta, dari Juli
hingga September 2005. Persetujuan yang didapat berasal dari para orang tua.
Bayi bayi dengan ketidaknormalan kulit pada area hepatic, yang membuat
penempelan LCT menjadi sulit, tidak ikut dimasukkan.
Pengukuran temperature Aksiler sebagai standar emas telah dilakukan di
semua sampel oleh petugas kesehatan terlatih. Pengukuran ini dilaksanakan tiga
kali setelah bayinya diangkat dalam interval 8 jam,tanpa memperhatikan apakah
bayi telah dimandikan atau belum. Termometer digital ADT-ITB yang diproduksi
oleh Lotus digunakan untuk mengukur temperature aksiler. Rentang pengukuran
thermometer ini adalah 32 42oC dengan akurasi 0.10C. Termometer
disterilkan dengan menggunakan alcohol 70% pada sensornya sebelum
penggunaan. Setelah tombol power diaktifkan, thermometer digital tersebut
dilatekkan di bawah ketiak bayi setelah symbol oC mulai menyala. Ketika
berhenti menyala dan alat pendengung berbunyi, pengukuran telah selesai dan
nilai pada screen menunjukkan suhu tubuh yang terukur. Simbol LoC akan
muncul untuk menunjukkan suhu yang terukur di bawah 32.2oC, sedangkan HoC
menunjukkan suhu yang terukur melebihi 42oC.
Termometer kontak warna yang akan diuji adalah Thermospot yang
diproduksi oleh TALC (Teaching Aids at Low Cost, PO BOX 49, St Albans,
Herts, AL15TX, United Kingdom, Fax 441727846852). Termometer tersebut
adalah cakram plastik 12 mm, berwarna hitam dengan dua titik putih pada
setengah sisi bagian atas dan ada fasilitas self-reverse di sisi sebaliknya. Pada
35.5oC sisi gelap mulai berubah ke warna hijau dan akan muncul wajah yang
tersenyum. Pada 36.5 37.4oC wajah berwarna hijau terang akan jelas terlihat.
Ketika temperature turun hingga 35.5oC, wajah yang tersenyum tersebut akan

hilang sama sekali. Cakram / diskus Thermospot akan ditempelkan pada


abdomen di sekitas area hepar (Gambar 1), karena mereka tidak dapat berpindah
dengan mudah dan temperatur yang terukur melambangkan temperature pusat.
Area kulit di mana Thermospot akan ditempelkan harus disterilkan dengan
menggunakan kapas yang dibasahi alcohol 70% sebelum Thermospot
ditempelkan. Jika Thermospot tidak sengaja berpindah sebelum pemeriksaan
selesai,bisa ditempelkan kembal dengan menggunakan secarik pita. Pengukuran
Thermospot telah selesai pada saat thermometer digital menunjukkan nilai
temperature tubuh. Petugas kesehatan harus memperhatikan apakah Thermospot
berwarna hijau dengan wajah tersenyum yang terlihat jelas, hijau pucat dengan
wajah tersenyum yang tidak terlihat jelas, atau gelap tanpa wajah tersenyum.
Kuesioner pre-kode

digunakan untuk mendokumentasikan pengukuran

temperature, warna Thermospot, dan informasi lain yang menyertai bayi: suhu
kamar, usia kehamilan, berat lahir, nilai Apgar, dan jenis kelamin.
Sebuah studi percontohan untuk menentukan persetujuan inter-observer
pada Thermospot yang dibedakan berdasarkan warna diarahkan sebelum studi
dimulai.
Penghitungan syarat ukuran sampel terkecil berdasarkan pada perkiraan
akurasi diagnosis, yang dievaluasi oleh sensitifitas dan spesifikasi. Dengan
menggunakan formula sensitifitas 40%, spesifikasi 60% dengan interval
keyakinan 95%, diperlukan total sebanyak 92 neonatus jika kesalahan sampling
absolute yang bisa ditolerir adalah 10%. Jika kelaziman hypothermia
diperkirakan mendekati 40% dan tambahan 10% dari keseluruhan, dibutuhkan
sebanyak 230 neonatus.
Data dianalisis dengan menggunakan Cat Maker dan SPSS 10.
Sensitivitas, spesifikasi, nilai prediktif positif dan negative juga rasio
kemungkinan positif dan negative dihitung untuk mengevaluasi jalannya
Thermospot dalam mendeteksi hypothermia pada bayi neonatus. Kappa juga
dihitung untuk memerikasa persetujuan inter-observer.

WHO menempatkan hypothermia dalam tiga kategori: bayi bayi


mengalami hypothermia ringan apabila temperature tubuh mereka 36 36.4oC,
32 35.9oC untuk hypothermia sedang dan < 32oC untuk hypothermia akut.1
Studi ini disetujui oleh Komite Etika Medis Fakultas Kedokteran Universitas
Gajah Mada, Jogjakarta.
Sebelumnya, studi percontohan untuk menguji kesepakatan inter-observer
setelah latihan dilakukan. Tes Kappa digunakan untuk memeriksa kesepakatan
inter-observer. Sebuah kesepakatan yang baik diperoleh di antara pekerja
kesehatan dalam membedakan warna Thermospot (Kappa = 0.75).
Hasil
Total sebanyak 268 neonatus didaftarkan pada studi ini; kesemuanya dari
mereka melengkapi the protokol studi. Semua data yang diperlukan dicatat secara
sempurna kecuali nilai Apgar yang hanya mencakup 75% dari total responden.
Rasio pria dan wanita pada studi ini hampir sama, seperti rasio untuk berat badan
sewaktu lahir yang normal dan rendah. Di sisi lain, sebagian besar bayi yang ada,
menunjukkan bahwa beberapa di antara mereka kecil untuk usia kehamilan
(Tabel 1).
Observasi Thermospot dan pengukuran suhu tubuh dilakukan 8 jam, jika
petugas kesehatan memperhatikan bahwa warna Thermospot menjadi hijau pucat
atau gelap maka pengukuran thermometer harus diselesaikan sesegera mungkin.
Kelaziman hypothermia pada pengukuran pertama, kedua, ketiga masing
masing sebesar 18, 21, dan 15% (Tabel 3). Kelaziman hypothermia yang
tertinggi tercatat pada pengukuran yang kedua. Hal itu menunjukkan bahwa
negatif kesalahan juga meningkat pada pengukuran kedua (Tabel 2).
Jalannya Thermospot untuk mendeteksi temperature tubuh berkisar 35.6
hingga 36.4oC di antara bayi neonatus yang ditunjukkan pada Tabel 3.
Sensitivitas dan rasio kemungkinan positif hampir sama antara pengukuran
pertma dan ketiga. Nilai ini sedikit menurun pada pengukuran kedua.

Jika kita menganggap kelaziman hypothermia di setiap pengukuran yang


disajikan sebagai probabilitas hypothermia pre-test pada setting ini dan
diterapkan terhadap normogram unstuck teorema Bayes berdasarkan pada rasio
kemungkinan pada tiap pengukuran, probabilitas pre-test yang diperkirakan dari
pendeteksian hypothermia akan meningkat hingga 80 83% dari seluruh
pengukuran.
Diskusi
Tes kesepakatan yang dilakukan sebelum studi tersebut menunjukkan
bahwa ada kesepakatan inter-observer yang baik dalam membedakan
Thermospot berwarna hijau pucat dan hijau terang.
Tabel 1 Karakteristik contoh study (penelitian)
No
1.

Karakteristik
Jenis Kelamin
Pria

2.

3.

4.

5.
*

(%)

138 (51.5)

Wanita (%)

130 (48.5)

Nilai Apgar
Menit pertama (median)

Menit kelima (median)

Berat Badan sewaktu lahir


Normal (%)

130 (48.5)

Rendah* (%)

138 (51.5)

Usia Gestasional
Pada waktunya (%)

164 (61.2)

Prematur

104 (38.8)

(%)

Suhu ruang (mean SD)

27.5 1.2

Berat badan sewaktu lahir rendah: berat kurang dari 2500 g, tidak memandang

usia kehamilan

Tabel 2 Observasi Thermospot dibanding dengan pengukuran termometer


digital aksiler
pengukuran termometer digital aksiler
Pengukuran pertama (oC)
TC

35.4 36.4

Pengukuran kedua (oC)

Pengukuran ketiga (oC)

36.5 atau < 35.5

atau < 35.5

35.4 36.4

36.5

35.4 36.4 36.5 atau < 35.5

HP

40

41

32

HT + Ht

212

16

203

220

TC

: Warna Thermospot

HP

: Hijau pucat dengan wajah tersenyum yang tidak jelas

HT : Hijau dengan wjah tersenyum yang jelas


Ht

: Gelap

Tabel 3 Jalannya Thermospot untuk pendeteksian hypothermia


Pengukuran pertama (oC)

Pengukuran kedua (oC)

Pengukuran ketiga (oC)

Nilai

Nilai

Nilai

95% Cl
73-94

72

95% Cl

Sensitivitas (%)

83

Spesifikasi (%)

96

Nilai Prediksi positif (%)

83

Nilai Prediksi Negatif (%)

96

Rasio kemungkinan Positif

22.92

11.47-45.78

18.97

9.43-38.16

22.8

11.34-45.83

Rasio kemungkinan Negatif

0.17

0.09-0.33

0.29

0.19-0.44

0.21

0.11-0.39

Kelaziman (%)

18

21

15

Probabilitas Post-test (%)

83

83

80

94-99

96

73-94

84
93

94-99

60-84
94-99

80

95% Cl
68-92

96

94-99

73-94

80

68-92

89-96

96

94-99

Kelaziman hypothermia pada studi ini tidak setinggi studi sebelumnya.


Sebuah studi di Nepal melaporkan kelaziman hypothermia yang tinggi dalam
populasi. Selama 36 jam pertama, sekitar 85% dari 500 bayi bayi menderita
hypothermia.9 Di Zambia, sebuah studi menunjukkan bahwa 44% bayi yang
menderita hypothermia selama berada di rumah sakit. 9 Sebuah studi retrospektif
di Amerika Serikat menemukan bahwa insiden hypothermia di antara bayi bayi
dengan berat badan rendah adlah sebanyak 45%.12 Salah satu alasan untuk

kelaziman yang rendah dari hypothermia pada populasi ini adalah kalkulasi
ukuran sampel. Pada studi kita, ukuran sampel dihitung untuk desain tes
diagnogtis, dan nbukan untuk studi pemeriksaan. Demikianlah, kelaziman yang
ditemukan pada studi ini dapat melebihi atau berada di bawah perkiraan populasi.
Pada negara negara berkembang, hypothermia diidentifikasi hanya jika
telah berada pada situasi ekstrim. Beberapa kondisi mungkin berperan dalam
situasi ini, seperti kekurangan inkubator dengan kontrol servo, ketidakcukupan
staf perawat, kekurangan kesadaran akan pentingnya kontrol temperatur,
potongan linen yang bersih / hangat, ketidaktersediaan termometer terjangkau,
dan sering patahnya termometer. Karena itu, penting untuk menemukan alternatif
pendeteksi temperatur yang sederhana, terjangkau, dan dapat digunakan oleh ibu
dan pengasuh lainnya.4,11
Studi kami telah menunjukkan bahwa Thermospot adalah metode yang
valid untuk mendiagnosis hypothermia pada neonatus. Hasil dari studi ini
menyediakan bukti bukti diagnosis yang meyakinkan (rasio kemungkinan
positif lebih dari 10). Dari titik klinis, penggunaan Thermospot untuk memonitor
neonatus mengidentifikasi sekitar 80 83% neonatus hipotermik, tergantung dari
kelaziman.13

Beberapa studi sebelumnya melaporkan bahwa Thermospot

merupakan metode yang valid untuk mendiagnosa hypothermia pada neonatus. 3, 14


15

Studi lainnya yang diadakan di Zimbabwe menunjukkan sensitifitas dan

spesifikasi yang rendah.4


Pada pengukuran yang bersambung, nilai dari rasio kemungkinan positif
jatuh pada pengukuran kedua, tetapi masih melebihi 10. Penjelasan yang
memungkinkan untuk hasil yang tidak stabil ini tidak cukup / in-adekuatnya
pengikatan cakram / diskus.
Beberapa pembatasan pada studi ini harus diperhatikan. Yang pertama,
hanya tiga observasi atau pengukuran temperatur dilakukan selama periode studi.
Untuk mengetahui jalannya Thermospot untuk deteksi awal hypothermia,
observasi harus lebih sering dilakukan. Yang kedua, diperlukan kelompok
independen kedua untuk memvalidasi hasil ini. Validasi pada kelompok

independen kedua bertujuan untuk membedakan akurasi diagnostik yang


sebenarnya untuk kelainan target dan mengubah hubungan yang disebabkan oleh
idiosinkrasi pada susunan awal (pelatihan atau asal) pasien. Jika, pada populasi
kedua, instrumen ini menunjukkan level akurasi yang sama, maka kita dapat
menyimpulkan ini mempunyai akurasi yang baik.
Kami menyimpulkan bahwa LCT menunjukkan akurasi yang baik dan
aman untuk mendiagnosis hypothermia pada neonatos dalam bangsal
neonatologi, Rumah Sakit Sardjito.

References
1. World Health Organization. Thermal control of the newborn: a practical
guide. Maternal health and safe motherhood program. Geneva:
WHO;1993.
2. Ellis M, Manandhar N, Shakya U, Manandhar DS, fawdry A, Costello
AML. Postnatal hypothermia and cold stress among newborn infan in
Nepal monitored by contimous ambulatory recording. Arch Dis Child
1996;75:F42-5.
3. Manandhar N, Ellis M, Manandhar DS, Morley D, Costello AM de L.
Liquid crystal thermometry for the detection of neonatal hypothermia in
Nepal. J of Trop Pediatr 1998;44:15-7
4. Kambarami R,chidede O, Pereira N. ThermoSpot in detection of neonatal
hypothermia. Ann of Trop Pediatr 2002;22:219-23.
5. Gunawijaya E, Hamid A. Changes in temperature of newborn babies
bathed immediately after birth. Med J Indones 2003; 12:73-9.
6. Christensson K, ransjo Arvidson AB, Kakoma C, Lungu F, Darkwah G,
Chikamata D, et al. Midwifery care routines and prevention of heat loss in
the newborn: a study in Zambia. Journal of Tropical pediatrics
1988;34:208-12.

7. Kumar K, Aggarwal AK. Body temperature of home delevered newborns


in north india. Trop Doct 1988;28: 134-6.
8. Christensson K, Bhat GJ, Eriksson B, Shilalukey-Ngoma MP, Sterky G.
The effect of routine hospital care on the health of hypothermic newborn
infants in Zambia. J of Trop Pediatr 1995;41:210-4.
9. Johanson RB, Spencer SA, Rolfe P, JnesP, Malla DS. Effect of postdelevery care on neonatal body temperatur. Acta Pediatr 1992;81:859-63.
10. Cheah FC and Boo NY. Rick factors assosiated with neonatal
hypothermia during cleaning of newborn infans in labour rooms. J of Trop
Pediatr 2000;46:46-51.
11. Zeal JDB. ThermoSpot non-invasive hypothermia indicator for neonates.
Camborne Consultants. Proposal 1999.
12. Loughead MK, Loughead JL, Reinhart MJ. Incidence and physiologic
characteristics of hypothermia in the very low birth wieght infant. Pediatr
Nurs 1997;23:11-5.
13. Deeks JJ. Systematic reviews in health care: systematic reviews of
evaluations of diagnostic and screen test. BMJ 2005;323:157-62.
14. Valadez JJ, Elmore-Meegan, Morley D. Comparing liquid crystal
thermometer readings of infants and children in traditional African
setting. Implication for community-base health. Trop Geogr Med
1995;47:130-3.
15. Morley D, Blumethal L. A new neonatal hypothermia indicator. The
Lancet 2000;355:659-60.