Anda di halaman 1dari 185

UTSETIKADANHUKUMKESEHATAN

1. Etika secara etimologis berasal dari bahasa yunani dan latin, coba anda jelaskan menurut
asal katanya yang berasal dari bahasa yunani dan latin?
Etika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, ethos secara tunggal artinya kebiasaan
(costum), adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha)
artinya adat kebiasaan.
Jadi dari bahasa Yunani tersebut etika adalah ilmu tentang adat kebiasaan.
Etika memiliki arti yang sama dengan moral. Moral berasal dari bahasa latin mos (jamak :
mores) berarti kebiasaan, adat.
Moral adalah ilmu yang berisi ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, khotbah-khotbah, patokanpatokan kumpulan peraturan, dan ketetapan baik lisan atau tertulis tentang bagaimana
manusia harus hidup bertindak agar menjadi manusia baik yang bersumber dari tradisi, adat
istidat, ajaran agama-agama, atau ideology tertentu.
Dari bahasa latin : ethica
Referensi :
Sukardi, Imam.2003.Pilar Islam bagi pluralisme modern.Solo:Tiga Serangkai.
Bertens.2004.Etika.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
2. Jika disimpulkan terdapat 3 arti penting etika, salah satunya etika sebagai sebuah sistem
nilai, coba anda jelaskan?
Dalam KBBI yang baru (Departemen Pendidikan Kebudayaan, 1988) etika dijelaskan dengan
membedakan tiga arti :
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak).
2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
Jadi etika sebagai sebuah system nilai adalah nilai dan norma yang menjadi pegangan bagi
seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Misal : kode etik
Referensi :
PPT Ibu Riastuti Kusuma Wardani
Bertens.2004.Etika.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
3. Jelaskan perbedaan istilah etika dan etis?
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Purwadarminta, 1953) : Etika adalah ilmu yang
mempelajari azas akhlak.
Menurut KBBI dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (198) etika adalah :
1. Ilmu tentang yang baik, apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
2. Kumpulan/seperangkat asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak.

3. Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan/masyarakat.


Menurut Kamus Kedokteran (Ramali dan Pamuncak, 1987) etika adalah pengetahuan tentang
perilaku yang benar dalam suatu profesi.
Etis adalah norma, nilai, hak, keadilan
Biasanya dipakai utk menyatakan suatu sikap atau pandangan yg secara umum dapat
diterima (ethically acceptable) atau tidak dapat diterima (ethically unacceptable).
Jadi,etika adalah ilmunya sedangkan etis adalah sikap/pandangan.
Referensi :
Hanafiah, M. Jusuf.2007.Etika kedokteran dan hukum kesehatan ed
4.Jakarta:EGC.
Bertens.2004.Etika.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
4. Secara hierarki etika dalam pelayanan public ada yang disebut dengan etika moral
pribadi. Apa yang dimaksud etika moral pribadi dan factor apa saja yang mempengaruhi
etika moral pribadi?
Etika moral pribadi adalah cara memberikan teguran baik atau buruk yang tergantung pada
beberapa factor yang memengaruhinya.
Faktor yang memengaruhi etika moral pribadi :
1. Pengaruh orang tua
2. Keyakinan agama
3. Budaya
4. Adat Istiadat
5. Pengalaman masa lalu
Referensi :
PPT Ibu Riastuti Kusuma Wardani
5. Apa yang dimaksud dengan profesi dan kode etik profesi?
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan mengandalkan
keahlian dan keterampilan yang tinggi dan dengan melibatkan komitmen pribadi (moral yang
mendalam).
Profesi (professio berarti pengakuan) adalah pekerjaan yg membutuhkan pendidikan dan
latihan tertentu serta memiliki kedudukan yg tinggi dimasyarakat.
Misal : ahli hukum (hakim, pengacara), wartawan, dosen, dokter.
Kode etik profesi adalah suatu aturan tertulis tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh
semua anggota profesi dalam menjalankan pelayanannya terhadap client atau masyarakat.

Aspek Etika & Hukum Kesehatan Rumah Sakit


BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini dapat dilihat semua bidang kehidupan masyarakat sudah terjamah
aspek hukum.Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia mempunyai hasrat
untuk hidup teratur. Akan tetapi keteraturan bagi seseorang belum tentu sama dengan
keteraturan bagi orang lain, oleh karena itu diperlukan kaidah-kaidah yang mengatur
hubungan antar manusia melalui keserasian antara ketertiban dan landasan hukum.
Suatu norma hukum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang dilarang
dengan mendapat sanksi apabila larangan tersebut dilanggar. Norma hukum ada yang
tertulis dan ada pula yang tidak tertulis.Hukum tertulis biasanya disamakan dengan
peraturan perundangundangan.Hukum kesehatan merupakan suatu bidang spesialisasi
ilmu hukum yang relatifmasih baru di Indonesia.Hukum kesehatan mencakup segala
peraturan dan aturan yang secara langsung berkaitan dengan pemeliharaan dan
perawatan kesehatan yang terancam atau kesehatan yang rusak.Hukum kesehatan
mencakup penerapan hukum perdata dan hukum pidana yang berkaitan dengan
hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan.
Dalam melakukan tugasnya dokter dan tenaga kesehatan harus mematuhi
segala aspek hukum dalam kesehatan. Kesalahan dalam melaksanakan profesi
kedokteran merupakan masalah penting, karena membawa akibat yang berat, terutama
akan merusak kepercayaan masyarakat terhadap profesi kesehatan. Suatu kesalahan
dalam

melakukan

profesi

Kekurangan pengetahuan, pengalaman,

dapat
pengertian.

disebabkan
Ketiga

menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan atau penilaian.

faktor

karena.
tersebut

BAB II
PEMBAHASAN
1.Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu badan usaha yang menyediakan dan memberikan jasa
pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri atas tindakan
observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitative untuk orang-orang yang
menderitasakit, terlukadanuntuk yang melahirkan (World Health Organization).
Rumah sakit merupakan sarana upaya kesehatan serta dapat dimanfaatkan
untuk pendidikan tenaga kesehetan dan penelitian (permenkes no.159b/1988)
UU NO.44 tahun2009 tentang rumah sakit , rumah sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna

yang

menyediakan

pelayanan

rawatinap,

rawat

jalan

dangawatdarurat.Pelayanan rumah sakit juga diatur dalam KODERSI/kode etik


rumah sakit, dimana kewajiban rumah sakit terhadap karyawan, pasien dan
masyarakat diatur.
Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) huruf f dalam UU No. 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit. Rumah Sakit sebenarnya memiliki fungsi sosial yaitu antara lain
dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat
darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar
biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. Pelanggaran terhadap kewajiban
tersebut bisa berakibat dijatuhkannya sanksi kepada Rumah Sakit tersebut, termasuk
sanksi pencabutan izin.
Selain itu, dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b UU 44/2009, pemerintah dan
pemerintah daerah juga bertanggung jawab untuk menjamin pembiayaan pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Jadi, secara umum penyanderaan pasien oleh Rumah Sakit tidak bisa
dikategorikan sebagai penahanan (perampasan kemerdekaan) ataupun pelanggaran
HAM.Meski demikian, Anda dapat saja melaporkan kepada polisi jika ada indikasi
penyanderaan tersebut telah merampas kemerdekaan si pasien.

Dasar hukum:
1.
Kitab
Undang-Undang

Hukum

Pidana

(Wetboek

Van

Strafrecht, Staatsblad 1915 No. 732)


2.

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia


3.

Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

2.Etika bagi RumahSakit


Etikarumah sakit di Indonesia disusunolehorganisasiperumahsakitandariseluruh
Indonesia

yakni, PERSI

(PERSATUAN

RUMAH

SAKIT

SELURUH

INDONESIA).
Berdasarkanrumusanetika yang disusun PERSI, etika Rumah Sakitmencakup :
1. Kewajibanumum RS
2. kewajiban RS terhadap masyarakat
3. kewajibanrumahsakitterhadappasien
4. kewajibanterhadaptenaga/karyawan
5. kewajiban terhadaplain
masing-masing

membentukbadan

yang

akanmenangmasalah-

masalahetikdilingkungannyasendiridisebut PERS (pamitia etik Rumah Sakit) atau


hospital ethical committee.
3.Ruang Lingkup Etika Rumah Sakit menurut PERS, meliputi Pelayanan :
1. rekam medis
2. keperawatan
3. pelayanan laboratorium
4. pelayanan klinik medic
5. pelayanan intesif
6. radiologi
7. kamar operasi
8. gawat darurat

9. pasien dewasa
1. pasien anak

4.PerundangandanTanggungJawab Hukum RumahSakit


1. rumahsakitdapatmenolakmengungkapkansegalainformasikepada

publik

yang

berkaitandgnrahasiadokter
2. pasien dan keluarga yang menuntut rumah sakit dan menginformasikannya melalui
media massa, dianggap telah melepaskan hak-hak kedokterannya kepada umum
3. penginformasian kepada media massa diartikan sebagai bentuk memberikan
kewenangan kepada rumah sakit untuk mengungkapkan rahasia kedokteran pasien
sebagai hak jawab rumah sakit
4. rumah sakit tidak bertanggung jawab secara hokum apabila pasien dan keluarganya
menolak/menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah
adanya penjelasan medis yang komprehensif
5. rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka
menyelamatkan nyawa manusia
6. rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang
ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit
5.Hukum Rumah Sakit (Hospital Low)
A. Pidana
Pertanggungjawaban dari aspek hukum pidana terjadi jika kerugian yang
ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga medis di rumah sakit
memenuhi tiga unsur. Ketuga unsur tersebut adalah adanya kesalahan dan perbuatan
melawan hukum serta unsur lainya yang tercantum dalam ketentuan pidana yang
bersangkutan.
Perlu dikemukakan bahwa dalam sistem hukum pidana kita, dalam hal tindak
pidana dilakukan oleh korporasi, maka pengurusnya dapat dikenakan pidana penjara
dan denda. Sedangkan untuk korporasi, dapat dijatuhi pidana denda dengan
pemberatan.
Ketentuan pidana ( UU No.44 Tahun 2009 pasal 62-63 )

1. setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan rumah sakit tidak memiliki izin
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. apabila tindakan pidana tersebut dilakukan koorporasi, selain pidana penjara dan
denda terhadap koorporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari
pidana denda
3. selain pidana denda terhadap koorporasi tersebut, koorporasi dijauhi pidana tambahan
berupa
a. pencabutan izin usaha, dan/atau
b. pencabutan status badan hukum
B. Perdata
Merujuk pendapat Triana Ohoiwutun(2007:81), hubungan hukum ini
menyangkut dua macam perjanjian yaitu perjanjian perawatan dan perjanjian
pelayanan medis. Perjanjian perawatan adalah perjanjian antara rumah sakit untuk
menyediakan perawatan dengan segala fasilitasnya kepada pasen.

Sedangkan

perjanjian pelayanan medis adalah perjanjian antra rumah sakit dan pasen untuk
memberikan tindakan medis sesuai kebutuhan pasen.
Jika terjadi kesalahan dalam pelayanan kesehatan, maka menurut mekanisme
hukum perdata pihak pasien dapat menggugat dokter berdasarkan perbuatan melawan
hukum. Sedangkan gugatan terhadap rumah sakit dapat dilakukan berdasarkan wan
prestasi (ingkar janji), di samping perbuatan melawan hukum.
Sikap/tindakan semua orang yang turut terlibat dalam organisasi rumah sa
kit. Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1367 yang berbunyi: "Seorang tidak saja
bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan perbuatan sendiri, tetapi juga unt
uk
kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggung
jawabnya atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya..
..".
Tanggung jawab rumah sakit dalam garis besarnya dapat dibagi dalam tiga kel
ompok,
yaitu:

1. Yang menyangkut personalia, termasuk sikap-tindak atau kelalaian semua or


ang
yang terlibat dalam kegiatan rumah sakit.
2. Yang menyangkut mutu pemberian pelayanan kesehatan (Standard of C
are) di
rumah sakit.
3. Yang menyangkut sarana dan peralatan yang disediakan, baik di bidan
g medis
maupun non-medis.
Menurut hukum kedokteran, ada 4 bentuk risiko yang harus ditanggung oleh pa
sien itu
sendiri, yaitu:
1. Kecelakaan (accident, mishap, mischance, misad venture)
2. Risiko pengobatan (risk of treatment)
3. Kesalahan penilaian profesional (error of clinical judgment)
4. Kelalaian pasien (contributory negligence)
C. Administratif
Pertanggungjawaban rumah sakit dari aspek hukum administratif berkaitan
dengan kewajiban atau persyaratan administratif yang harus dipenuhi oleh rumah sakit
khususnya untuk mempekerjakan tenaga kesehatan di rumah sakit.
UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) yang menentukan
antara lain kewajiban untuk memiliki kualifikasi minimum dan memiliki izin dari
pemerintah untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Selain itu UU Kesehatan
menentukan bahwa tenaga kesehatan harus memenuhi kode etik, standar profesi, hak
pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan dan standar prosedur operasional.
Jika rumah sakit tidak memenuhi kewajiban atau persyaratan administratif
tersebut, maka berdasarkan Pasal 46 UU RS, rumah sakit dapat dijatuhi sanksi
administratif berupa teguran, teguran tertulis, tidak diperpanjang izin operasional,
dan/atau denda dan pencabutan izin.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Rumah sakit adalah subyek hukum. Dalam hal ini, rumah sakit dapat
melakukan hubungan hukum dengan subyek hukum lainnya dalam melaksanakan
tugasnya dalam pelayanan kesehatan. Karena itu rumah sakit wajib menanggung
segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum yang timbul sebagai akibat dari
perbuatannya atau perbuatan orang lain yang berada dalam tanggung jawabnya.
Tanggung jawab hukum tersebut meliputi tiga aspek yaitu hukum perdata, hukum
administrasi dan hukum pidana. Hukum perdata berarti, rumah sakit bertanggung
jawab antara pasien dengan rumah sakit berhubungan dengan pelayanan kesehatan,
Hukum administratif berhubungan dengan kewajiban yang harus di bayar pihak rumah
sakit terhadap tenaga kesehatan di rumah sakit. Pertanggungjawaban dari aspek
hukum pidana terjadi jika kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan
oleh tenaga medis di rumah sakit.Dari ketiga aspek hukum tersebut dapat di katakan
bahwa rumah sakit sangat memiliki kaitan hubungan yang erat bukan hanya bagi
pelayanan medis saja melainkan terhadap aspek hukum.

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Etika Profesi adalah menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak,
tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain,bersifat absolute artinya prinsip etika tidak
dapat ditawar berlakunya. Tidak hanya memandang segi lahiriah tapi juga batiniahnya.
Fungsi etika untuk mencapai suatu pendirian dalam pergolakan pandangan pandangan moral
yg berupa refleksi kritis. Membantu agar kita jangan kehilangan orientasi, dapat membedakan
antara apa yang hakiki dan apa yg boleh saja berubah dan dengan demikian kita tetap
sanggup untuk mengambil sikap sikap yang dapat kita pertanggung jawabkan, membuat kita
sanggup untuk menghadapi ideologi ideologi yang buruk dengan kritis dan obyektif dan
untuk membentuk penilaian sendiri agar kita tidak terlalu mudah terpancing serta membantu
kita jangan naif.
Hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan
pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan penerapannya serta hak dan kewajibannyabaik dari
perorangan dan segenap lapisan masyarakat sebagai penerima layanan kesehatan maupun dari
pihak penyelanggara pelayanan kesehatan dalam segala aspek meliputi organisasi, sarana,
pedoman medis, nasional/internasional,hukum dibidang kesehatan, yurisprudensi, serta ilmu
pengetahuan bidang kedokteran,kebidanan,keperawatan atau kesehatan lainnya.
Dengan adanya etika profesi dan hukum kesehatan kita dapat mengerti bahwa tiap keputusan
yang diambil oleh penyelenggara pelayanan kesehatan harus berdasarkan etika profesi dan
hukum kesehatan yang telah diatur dalam undang undang negara serta menjamin pasien atau

klien untuk mendapat pelayanan yang terbaik sesuai dengan kode etik. Dengan kita
mempelajari beberapa kasus dan membahas serta memahaminya kita dapat mengetahui benar
tidaknya langkah seorang petugas kesehatan dalam pelayanan maupun kinerjanya sesuai kode
etik atau malah menyimpang dari beberapa aspek meliputi segi hukum segi agama dan segi
etika profesi.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pandangan segi hukum menilai sebuah tindakan profesi dalam sebuah kasus?
2. Bagaimana pandangan segi agama menilai sebuah tindakan profesi dalam sebuah kasus?
3. Bagaimana pandangan segi etika menilai sebuah tindakan profesi dalam sebuah kasus?
C. Tujuan
1. Untuk lebih memamhami tentang etika profesi dan hukum kesehatan
2. Untuk lebih mengetahui dan memahami tugas tenaga kesehatan dan penyelenggara
pelayanan kesehatan
3. Untuk memahami lebih kritis tentang kasus tenaga kesehatan atau penyelanggara
kesehatan dan dapat membuat keputusan kode etik yang sesuai dengan hukum kesehatan.
4. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika profesi dan hukum kesehatan.

BAB II
ISI
STUDY KASUS DARI BERBAGAI SEGI
STUDY KASUS :
Seorang Bidan melakukan pekerjaan sangat baik dan professional, namun tidak dilandasi
keinginan untuk menyembuhkan pasiennya, tapi karena tergiur jabatan tertentu dan insentif
tertentu. Suatu ketika jabatan dan insentif diturunkan, kerjanya menjadi tidak karuan.
MENURUT SEGI HUKUM :
Maka tindakan Bidan pada kasus tersebut tidak sesuai dengan kompetensi Bidan yang
seharusnya memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan pasien (kompetensi Bidan/IBI
tahun 2000)
Pada pasal 24UU Kesehatan No.36 tahun 2009 menyebutkan bahwa : Tenaga kesehatan
sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar
profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standart pelayanan prosedur dan standart
prosedur operasional.
Seharusnya Bidan bertindak seperti yang disebutkan pada pasal diatas, menjadi Bidan yang
profesional.
MENURUT SEGI AGAMA :
1. AGAMA ISLAM
Tidak adanya keikhlasan dalam bekerja, di dalam agama, apabila bekerja tidak dilandasi
dengan rasa keikhlasan maka akan sia-sia ia bekerja dan tidak akan membuahkan hasil yang

baik. Seperti yang disebutkan dalam agama islam dalam surat Huud ayat 15-16
bahwa:"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasaanya, niscahya kami
berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sempurna dan mereka
didunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh dikahirat,
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan didunia dan siasialah apa yang telah mereka kerjakan" [Huud:15-16].
2. AGAMA BUDDHA
Jika kita membandingkan ambisi-ambisi kita dengan ambisi atau tujuan (cita-cita) seorang
Buddha, kita dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok, karena sebagian besar tujuan
kita didasarkan atas keinginan-keinginan (nafsu-nafsu). Kita mengembangkan ambisi-ambisi
dengan mengabaikan kebahagiaan orang lain dan bekerja berdasarkan rasa keakuan untuk
mencapai kebahagiaan diri sendiri tanpa mengindahkan perasaan orang lain. ltulah cara kita
yang akan menimbulkan masalah-masalah yang sangat besar dan kesengsaraan-kesengsaraan
di dunia ini. Kita bersedia mengerjakan segala jenis kejahatan, kekejian, kekejaman atau
perbuatan-perbuatan yang berbahaya hanya sekadar untuk memberikan kesenangan pada diri
sendiri. Sehingga dari segi pandangan Buddhis, jenis ambisi yang egoistis ini tidak dapat
dibenarkan. Buddha telah menerangkan bahwa ada salah satu macam kesenangan duniawi
yang perumah tangga dapat alami: Kebahagiaan pertama adalah jaminan atas kenikmatan
keuangan atau mendapat kekayaan yang didapat dengan cara yang benar (Atthi-Sukha).
3. AGAMA HINDU
Oleh karena prisip kerja itu adalah anugerah Tuhan, pekerjaan mesti dilaksanakan dengan
tulus dan bakti. Bekerja didasari atas kesadaran Tuhan, tentu lebih mulia dibandingkan
dengan bekerja dengan hanya mementingkan hasil. Lagi pula, bekerja bagi Hindu bukan
semata-mata mencapai hasil, tetapi menjalankan swadharma. Manusia dengan segala
kemauan dan pikirannya dapat saja menghindar dan konsep tersebut namun hukum karma
tetap akan mengikutinya karena sang dinilah yang akan mencatat baik dan buruk karma yang
diperbuatnya tersebut sehingga manusia dalam kehidupannya hendaklah tidak berhenti untuk
beraktivitas atau berbuat baik dan benar, dengan kata lain berbuat Subha karma.
4. AGAMA KATOLIK
Berkeyakinan bahwa Allah menciptakan dan mencintai tiap-tiap orang secara pribadi, Karena
itu, setiap manusia haruslah saling menghormati, mencintai ,bekerja keras melalui kebenaran
kudus dan melindungi hidup sesamanya tanpa mengenal status sosial atau kedudukan apa
pun, Kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki hak asasi untuk hidup, Hak hidup manusia
harus dilindungi sejak dari awal (dalam kandungan).
5. AGAMA KRISTEN
Pandangan orang Kristen tentang jabatan dan materi yaitu bahwa jabatan dan materi kita
miliki agar kita bisa menggunakannya dengan cara-cara yang mendatangkan kemuliaan bagi
Allah. Jabatan dan materi bukan sesuatu yang atasnya kita mempunyai kekuasaan penuh; kita
hanyalah penatalayan kekayaan Allah. Ilustrasi yang baik tentang prinsip ini terdapat dalam
perumpamaan tentang talenta, yang menunjukkan bahwa uang yang kita peroleh karena kerja
sekalipun bukan merupakan milik kita sebab Allahlah yang sebenarnya memberikan kita
kesempatan untuk memperolehnya.
MENURUT SEGI ETIKA :
Bidan dalam kasus tidak mempunyai nilai personal yang berlandaskan kemandirian moral
dan kesediaan untuk bertanggung jawab.Kode etik suatu profesi adalah berupa norma-norma

yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi yang bersangkutan didalam melaksanakan
tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat.
Yang dilakukan oleh Bidan tersebut dalam kasus merupakan tindakan yang tak patut karena
hanya mengejar jabatan belaka, kita ditugaskan untuk melayani masyarakat. Menolong pasien
dengan profesionalitas merupakan kode etik pertama bagi seorang Bidan atau tenaga
kesehatan lainnya, karena kita di sumpah untuk melayani masyarakat atau pasien dengan
sebaik mungkin yang merupakan hak pasien. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi,
menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas
pengabdiannya. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan
pelaksanaan - tugasnya, dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan
derajat kesehatannya secara optimal.

MENURUT SEGI SOSIAL :


Masyarakat memandang Bidan yang tak profesional dan hanya menginginkan jabatan/materi
merupakan sebuah ketamakan kita tak seharusnya membiarkan orang sakit dan hanya peduli
pada keegoisan kita belaka karena kita makhluk sosial yang akan terus saling membutuhkan
karena itu adalah hukum dan norma sosial yang berlaku sejak dahulu kala hingga sekarang,
sesungguhnya masyarakat sekarang mempunyai pikiran kritis akan nilai- nilai kemanusian
dan hak mereka sebagai pasien.
BAB III
PEMBAHASAN
STUDY KASUS DARI BERBAGAI SEGI
STUDY KASUS :
Seorang Bidan melakukan pekerjaan sangat baik dan professional, namun tidak dilandasi
keinginan untuk menyembuhkan pasiennya, tapi karena tergiur jabatan tertentu dan insentif
tertentu. Suatu ketika jabatan dan insentif diturunkan, kerjanya menjadi tidak karuan.
MENURUT SEGI HUKUM :
Maka tindakan Bidan pada kasus tersebut tidak sesuai dengan kompetensi Bidan yang
seharusnya memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan pasien (kompetensi Bidan/IBI
tahun 2000). Pada pasal 24UU Kesehatan No.36 tahun 2009 menyebutkan bahwa: Tenaga
kesehatan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik,
standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standart pelayanan prosedur dan standart
prosedur operasional.Seharusnya Bidan bertindak seperti yang disebutkan pada pasal diatas,
menjadi Bidan yang profesional.
MENURUT SEGI AGAMA :
1. AGAMA ISLAM
Tidak adanya keikhlasan dalam bekerja, di dalam agama, apabila bekerja tidak dilandasi
dengan rasa keikhlasan maka akan sia-sia ia bekerja dan tidak akan membuahkan hasil yang
baik.
2. AGAMA BUDDHA
karena sebagian besar tujuan kita didasarkan atas keinginan-keinginan (nafsu-nafsu). Kita
mengembangkan ambisi-ambisi dengan mengabaikan kebahagiaan orang lain dan bekerja

berdasarkan rasa keakuan untuk mencapai kebahagiaan diri sendiri tanpa mengindahkan
perasaan orang lain.
3. AGAMA HINDU
Oleh karena prisip kerja itu adalah anugerah Tuhan, pekerjaan mesti dilaksanakan dengan
tulus dan bakti. Bekerja didasari atas kesadaran Tuhan, tentu lebih mulia dibandingkan
dengan bekerja dengan hanya mementingkan hasil. Lagi pula, bekerja bagi Hindu bukan
semata-mata mencapai hasil, tetapi menjalankan swadharma.
4. AGAMA KATOLIK
Berkeyakinan bahwa Allah menciptakan dan mencintai tiap-tiap orang secara pribadi, Karena
itu, setiap manusia haruslah saling menghormati, mencintai ,bekerja keras melalui kebenaran
kudus dan melindungi hidup sesamanya tanpa mengenal status sosial atau kedudukan apa
pun, Kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki hak asasi untuk hidup, Hak hidup manusia
harus dilindungi sejak dari awal (dalam kandungan).
5. AGAMA KRISTEN
Pandangan orang Kristen tentang jabatan dan materi yaitu bahwa jabatan dan materi kita
miliki agar kita bisa menggunakannya dengan cara-cara yang mendatangkan kemuliaan bagi
Allah.
MENURUT SEGI ETIKA :
Bidan dalam kasus tidak mempunyai nilai personal yang berlandaskan kemandirian moral
dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Yang dilakukan oleh Bidan tersebut dalam kasus
merupakan tindakan yang tak patut. Menolong pasien dengan profesionalitas merupakan
kode etik pertama bagi seorang Bidan atau tenaga kesehatan lainnya, karena kita di sumpah
untuk melayani masyarakat atau pasien dengan sebaik mungkin yang merupakan hak pasien.
MENURUT SEGI SOSIAL :
Masyarakat memandang Bidan yang tak profesional dan hanya menginginkan jabatan/materi
merupakan sebuah ketamakan kita tak seharusnya membiarkan orang sakit dan hanya peduli
pada keegoisan kita belaka karena kita makhluk sosial yang akan terus saling membutuhkan
karena itu adalah hukum dan norma sosial.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang kami dapat adalah menanggapi kasus Seorang Bidan melakukan pekerjaan
sangat baik dan professional, namun tidak dilandasi keinginan untuk menyembuhkan
pasiennya, tapi karena tergiur jabatan tertentu dan insentif tertentu. Suatu ketika jabatan dan
insentif diturunkan, kerjanya menjadi tidak karuan dapat dinilai dan dipandang dari berbagai
segi yang ada pada hukum, etika, agama, dan sosial.
B. Saran
1. Meningkatkan tingkat moral tenaga kesehatan berdasarkan etika profesi yang berlaku dan
dapat melaksanakannya.

2. Mengantisipasi tindakan yang menyimpang dan tidak sesuai dengan kode etik yang
berlaku dalam hukum dan masyarakat.

Etika Profesi dan Hukum Kesehatan Tentang


Malpraktek

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai calon bidan yang ahli dan professional dalam melayani klien, sudah menjadi
suatu kewajiban kita untuk mengetahui lebih dahulu apa saja wewenang yang boleh kita
lakukan dan wewenang yang seharusnya ditangani oleh seorang dokter SpOG sehingga kita
harus meninjau agar tindakan kita tidak menyalahi PERMENKES yang berlaku.
Akhir-akhir ini sering kita menemukan dalam pemberitaan media massa adanya peningkatan
dugaan kasus malpraktek dan kelalaian medik di Indonesia, terutama yang berkenaan dengan
kesalahan diagnosis bidan yang berdampak buruk terhadap pasiennya. Media massa marak
memberitahukan tentang kasus gugatan/ tuntutan hukum (perdata dan/ atau pidana) kepada
bidan, dokter dan tenaga medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit yang diajukan
masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi korban dari tindakan malpraktik
(malpractice) atau
kelalaian
medis.
Lepas dari fenomena tersebut, ada yang mempertanyakan apakah kasus-kasus itu terkategori
malpraktik medik ataukah sekedar kelalaian (human error) dari sang bidan/dokter. Perlu
diketahui dengan sangat, sejauh ini di negara kita belum ada ketentuan hukum tentang standar
profesi
kebidanan
yang
bisa
mengatur
kesalahan
profesi.
Melihat fenomena di atas, maka kami melalui makalah ini akan membahas tentang salah satu
kasus malpraktik di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian malpraktik ?
2. Apa saja jenis jenis malpraktik ?
3. Bagaimana cara mencegah dan menghadapi tuntutan malpraktek ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian malpraktek
2. Untuk mengetaahui dan memahami jenis-jenis malpraktek

3. Untuk memahami dan menganalisis contoh kasus malpraktek


4. Untuk mengetahui upaya pencegahan dalam menghadapi tuntutan malpraktek
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Malpraktek
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu berkonotasi
yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan praktek mempunyai arti
pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktek berarti pelaksanaan atau tindakan yang
salah. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan
untuk menyatakan adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu
profesi.Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari seseorang
dokter atau bidan untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam
mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang
terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama (Valentin v. La Society de Bienfaisance
Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).Berlakunya norma etika dan norma hukum dalam
profesi kesehatan. Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku norma etika
dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah
seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari
sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut
yuridical malpractice.
2.2 Jenis-Jenis Malpraktek
Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai
bidang hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil malpractice dan
Administrative malpractice.
1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice manakala
perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
a. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan tercela.
b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah yang berupa kesengajaan, kecerobohan.
Criminal malpractice yang bersifat sengaja misalnya melakukan euthanasia (pasal 344
KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal
263 KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis pasal 299 KUHP).
Criminal malpractice yang bersifat ceroboh misalnya melakukan tindakan medis tanpa
persetujuan pasien informed consent.
Criminal malpractice yang bersifat lalai misalnya kurang hati-hati mengakibatkan luka,
cacat
atau
meninggalnya
pasien.

Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat


individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada
rumah sakit/sarana kesehatan
2. Civil malpractice
Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah
disepakati (ingkar janji).
Tindakan tenaga kesehatan yang dapat dikategorikan civil malpractice
antara lain:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi dan dapat
pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability. Dengan prinsip ini maka
rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan
karyawannya (tenaga kesehatan) selama tenaga kesehatan tersebut dalam rangka
melaksanakan tugas kewajibannya
3. Administrative
malpractice
Tenaga bidan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala tenaga
bidan tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan
police power, pemerintah mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang
kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi tenaga bidan untuk menjalankan profesinya
(Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta kewajiban tenaga bidan.
Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat
dipersalahkan melanggar hukum administrasi.
2.3 Kajian Kasus Malpraktek
Senin, 24 Maret 2008, Pukul 12.30 WIB
Maulana adalah seorang anak berusia 18 tahun. Dulunya adalah anak yang mengemaskan
dan pernah menjadi juara bayi sehat. Namun makin hari tubuhnya makin kurus. Dan organ
tubuhnya tidak bisa berfungsi secara normal. Tragedi ini terjadi ketika Maulana mendapat
imunisasi dari petugas kesehatan. Diduga korban kuat Maulana adalah korban mal praktek.
Maulana, kini berusia 18 tahun. Namun ia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Tidak
ada aktivitas yang bisa dilakukan. Ia juga tidak bisa berbicara. Berat badannya hanya enam
koma delapan kilogram, seperti anak berusia lima tahun. Bungsu dari empat bersaudara, anak
pasangan Lina dan Adul ini mengalami kegagalan multi organ.

Tragedi ini bermula saat usianya empat puluh lima hari. Seperti balita pada umumnya,
Maulana mendapatkan imunisasi dari petugas Dinas Kesehatan. Petugas memberikan tiga
imunisasi sekaligus, yaitu imunisasi BCG, imunisasi DPT dan imunisasi Polio.
Namun setelah dua jam menerima imunisasi, Maulana mengalami kejang-kejang, dan suhu
tubuhnya naik tajam. Sehingga orang tuanya panik dan langsung membawanya ke rumah
sakit. Namun kondisinya justru makin menburuk. Setelah lima hari dirawat, Maulana malah
tidak sadarkan diri, selama tiga minggu. Sejak itu, tubuh Maulana selalu sakit sakitan dan
hampir seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi normal.
Dokter mendiagnosa Maulana mengalami radang otak. Namun setelah itu, satu persatu
penyakit akut menggerogoti kesehatannya. Semakin hari badannya semakin kecil, dan
mengerut. Maulana sering mengalami sesak nafas, dan kejang kejang.
Lina yakin, Maulana menjadi korban malpraktek. Karena beberapa dokter yang perawat
Maulana menyatakan, anaknya mengalami kesalahan imunisasi.
Kini Lina, hanya bisa pasrah. Ia merawat Maulana, seperti merawat bayi. Saat makan
Maulana tetap harus disuapi, demikian juga ketika buang air besar dan kencing. Orangtuanya
selalu memakaikan popok.
Sebelum tragedi itu datang, Maulana adalah bayi yang menggemaskan. Tubuhnya montok,
dan sangat sehat. Bahkan Maulana sempat dinobatkan sebagai pemenang bayi sehat. Karena
lahir dengan bobot tiga koma delapan kilogram dan panjang lima puluh satu cintimeter.
Orang tua Maulana sudah berusaha untuk membawa ke rumah sakit di kawasan Kota Siantan,
Pontianak. Namun Maulana tidak juga kunjung sembuh. Orangtuanyapun menyerah.
Yang lebih menyedihkan, Linapun kemudian diceraikan suaminya, di saat harus menanggung
beban berat merawat Maulana. Ayah Maulana kesal dan marah dengan Lina, karena
mengijinkan petugas kesehatan memberikan imunisasi kepada Maulana.
Kini tubuh Maulana makin lemah, dan tidak berdaya. Ia hanya bisa berbaring ditempat tidur.
Jika ingin menghirup udara segar, linapun membawanya ke luar rumah. Lina sudah tidak
berpikir lagi untuk membawa Maulana ke rumah sakit, karena tidak memiliki biaya. Sejak
anaknya menderita sakit, Lina telah mengeluarkan uang jutaan rupiah. Bahkan rumahnya
dijual untuk biaya pengobatan.
Lina juga beberapa kali berusaha meminta pertanggungjawaban kepada pemerintah
Kalimantan Barat, dengan mengajukan tuntutan di pengadilan. Lina kemudian menemui
sejumlah instansi pemerintah daerah, termasuk menemui Walikota Pontianak, dan Gubernur
Kalimantan Barat, untuk menuntut keadilan.
Namun para pejabat tersebut tidak menanggapi pengaduan Lina. Lina tidak menyerah. Ia
kemudian membawa Maulana ke Jakarta, untuk menemui Menteri Kesehatan. Namun lagi
lagi usahanya kembali menemui jalan buntu.

Lina kemudian memilih prosedur hukum. Ia melaporkan pemerintah Kalimantan Barat secara
pidana, dan juga menggugatnya secara perdata. Namun di pengadilan, hakim meminta Lina
dan perwakilan pemerintah sebagai tergugat, untuk berdamai. Hasilnya cukup menjanjikan.
Pemerintah Daerah Kalimantan Barat, berjanji akan menanggung penuh obat dan kebutuhan
perawatan maulana di rumah sakit seumur hidup.
Janji Pemerintah Daerah Kalimantan Barat, sungguh melegakan. Karena upayanya mencari
keadilan, kini menemui titik terang. Namun harapan lina kembali pupus. Ternyata
kesanggupan Pemerintah Daerah Kalimantan Barat hanya janji janji kosong. Setelah berjalan
lebih sepuluh tahun, Pemerintah Daerah Kalimantan Barat tidak memenuhi janjinya.
Kini Lina hanya bisa pasrah menerima kenyataan pahit. Lina dan Maulana bersama ketiga
anaknya yang lain, tinggal di rumah sangat sederhana, di Komplek Perumahan Kopri, di
kawasan Pinggiran Sungai Raya Dalam Kabupaten Kubu Raya. Untuk hidup sehari hari,
Linapun membuka warung kecil-kecilan di teras rumahnya.
Lina sebenarnya masih punya keinginan untuk kembali menggugat Pemerintah Daerah
Kalimantan Barat. Namun ia mengaku tidak lagi memiliki dana. Yang membuat Lina pasrah,
adalah tidak ada dokter yang bersedia menjadi saksi ahli dalam kasus ini.
Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, meminta pihak pemerintah
bertanggungjawab atas kasus yang menimpa Maulana. Menurut Direktur LBH Kesehatan,
Iskandar Sitorus, kasus dugaan mal praktik yang menimpa Maulana, mencerminkan
lemahnya tanggung jawab pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan.
Aturan atau kebijakan yang diterapkan sudah kadaluarsa. Sementara hingga saat ini publik
sendiri masih menunggu kapan akan disosialisasikan rancangan undang undang tentang
pasien. Jika UU Pasien sudah ada, diharapkan tidak akan ada lagi Maulana Maulana lainnya.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, Fachmi Idris menyatakan, profesi dokter, diikat oleh
sebuah etika profesi dalam sebuah payung Majelis Kode Etik Kedokteran atau MKEK.
Seorang dokter dapat dikatakan melakukan pelanggaran saat praktek, jika sudah dibuktikan
dalam suatu sidang majelis kode etik.
Hukuman yang dijatuhkan majelis kode etik biasanya berkisar pada skorsing praktek, disuruh
kembali sekolah untuk memperdalam ilmunya hingga dicabut ijin praktek kedokterannya.
Kasus dugaan mal praktek seperti kasus Maulana memang tak sedikit jumlahnya. Beberapa
kasus yang sempat terangkat ke masyarakat umumnya terjadi setelah pasca imunisasi, operasi
bahkan tak jarang setelah si pasien berobat ke ahli kesehatan karena sebelumnya
diindikasikan menderita suatu penyakit.
Seperti halnya kasus kasus sejenis, kasus Maulana pun membutuhkan waktu berbulan bulan
bahkan bertahun tahun duduk dikursi persidangan untuk memperoleh keadilan.

Dan ironisnya perdebatan sengit menyoal kasus dugaan mal praktik di pengadilan hampir
dipastikan berakhir dengan bertambahnya sakit hati bagi sang korban. Sakit hati karena
kasusnya tak bisa diteruskan, atau bahkan ditolak majelis hakim karena kurang lengkapnya
data pendukung.
LBH Kesehatan, sebagai wadah bantuan hukum bagi mereka yang merasa abaikan haknya
oleh oknum aparat kesehatan memiliki data yang tidak sedikit. Saat ini saja LBH Kesehatan
membantu menangani 58 kasus dugaam mal praktik di sejumlah wilayah Indonesia.
Sementara kasus yang telah dilaporkan di sejumlah aparat penegak hukum mencapai 130
kasus. Namun ironisnya, hanya sedikit kasus dugaan mal praktek yang maju ke meja hijau
yang menang dalam persidangan.
Upaya hukum untuk mencari keadilan bagi korban dugan mal praktik kerap berlangsung di
sejumlah ruang pengadilan. Dari upaya hukum pidana, perdata bahkan hingga tun atau tata
usaha negara. Dari catatan LBH Kesehatan, dari beberapa bentuk tata peradilan tersebut, bisa
dibilang peradilan perdatalah yang paling memungkinkan seorang korban dugaan mal praktik
memperoleh haknya. Sementara tata peradilan lainnya umumnya jauh panggang dari api.

2.4. Pertanggung Jawaban dalam Hukum Pidana


Untuk memidana seseorang disamping orang tersebut melakukan perbuatan yang dilarang
dikenal pula azas Geen Straf Zonder Schuld (tiada pidana tanpa kesalahan). Azas ini
merupakan hukum yang tidak tertulis tetapi berlaku dimasyarakat dan juga berlaku dalam
KUHP, misalnya pasal 48 tidak memberlakukan ancaman pidana bagi pelaku yang
melakukan perbuatan pidana karena adanya daya paksa. Oleh karena itu untuk dapat
dipidananya suatu kesalahan yang dapat diartikan sebagai pertanggungjawaban dalam hukum
pidana haruslah memenuhi 3 unsur, sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan bertanggung jawab pada petindak artinya keadaan jiwa petindak
harus normal.
2. Adanya hubungan batin antara petindak dengan perbuatannya yang dapat berupa
kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).
3. Tidak adanya alas an penghapus kesalahan atau pemaaf.
Perbedaaan kesengajaan dan kealpaan.
Mengenai kesengajaan, KUHP tidak menjelaskan apa arti kesengajaan tersebut.
DalamMemorie van Toelichting (MvT), kesengajaan diartikan yaitu melakukan perbuatan
yang dilarang dengan dikehendaki dan diketahui.
Dalam tindakannya, seorang dokter terkadang harus dengan sengaja menyakiti atau
menimbulkan luka pada tubuh pasien, misalnya : seorang ahli dokter kandungan yang
melakukan pembedahan Sectio Caesaria untuk menyelamatkan ibu dan janin. Ilmu
pengetahuan (doktrin) mengartikan tindakan dokter tersebut sebagai penganiayaan karena arti
dan penganiayaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk

menimbulkan rasa sakit atau luka pada orang lain. Didalam semua jenis pembedahan
sebagaimana sectio caesare tersebut, dokter operator selalu menyakiti penderita dengan
menimbulkan luka pada pasien yang jika tidak karena perintah Undang-Undang si pembuat
luka dapat dikenakan sanksi pidana penganiayaan. Oleh karena itu, didalam setiap
pembedahan, dokter operator haruslah berhati-hati agar luka yang diakibatkannya tersebut
tidak menimbulkan masalah kelak di kemudian hari. Misalnya terjadi infeksi nosokomial
(infeksi yang terjadi akibat dilakukannya pembedahan) sehingga luka operasi tidak bisa
menutup. Bila ini terjadi dokter dianggap melakukan kelalaian atau kealpaan.
Kealpaan merupakan bentuk kesalahan yang tidak berupa kesengajaan, akan tetapi juga
bukan sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Dalam kealpaan sikap batin seseorang
menghendaki melakukan perbuatan akan tetapi sama sekali tidak menghendaki ada niatan
jahat dari petindak. Walaupun demikian, kealpaan yang membahayakan keamanan dan
keselamatan orang lain tetap harus dipidanakan.
Moeljatno menyatakan bahwa kesengajaan merupakan tindakan yang secara sadar
dilakukan dengan menentang larangan, sedangkan kealpaan adalah kekurang perhatian
pelaku terhadap obyek dengan tidak disadari bahwa akibatnya merupakan keadaan yang
dilarang, sehingga kesalahan yang berbentuk kealpaan pada hakekatnya sama dengan
kesengajaan hanya berbeda gradasi saja.
2.5. Penanganan Malpraktek di Indonesia
Sistem hukum di Indonesia yang salah satu komponennya adalah hukum
substantive, diantaranya hukum pidana, hukum perdata dan hukum administrasi
tidak mengenal bangunan hukum malpraktek.
Sebagai profesi, sudah saatnya para dokter mempunyai peraturan hukum yang
dapat dijadikan pedoman bagi mereka dalam menjalankan profesinya dan sedapat
mungkin untuk menghindari pelanggaran etika kedokteran.
Keterkaitan antara pelbagai kaidah yang mengatur perilaku dokter, merupakan
bibidang hukum baru dalam ilmu hukum yang sampai saat ini belum diatur secara
khusus. Padahal hukum pidana atau hukum perdata yang merupakan hukum positif
yang berlaku di Indonesia saat ini tidak seluruhnya tepat bila diterapkan pada
dokter yang melakukan pelanggaran. Bidang hukum baru inilah yang berkembang di
Indonesia dengan sebutan Hukum Kedokteran, bahkan dalam arti yang lebih luas
dikenal dengan istilah Hukum Kesehatan.
Istilah hukum kedokteran mula-mula diunakan sebagai terjemahan dari Health
Law yang digunakan oleh World Health Organization. Kemudian Health Law
diterjemahkan dengan hukum kesehatan, sedangkan istilah hukum kedokteran
kemudian digunakan sebagai bagian dari hukum kesehatan yang semula disebut
hukum medik sebagai terjemahan dari medic law.
Sejak World Congress ke VI pada bulan agustus 1982, hukum kesehatan
berkembang pesat di Indonesia. Atas prakarsa sejumlah dokter dan sarjana hukum

pada tanggal 1 Nopember 1982 dibentuk Kelompok Studi Hukum Kedokteran di


Indonesia dengan tujuan mempelajari kemungkinan dikembangkannya Medical Law
di Indonesia. Namun sampai saat ini, Medical Law masih belum muncul dalam
bentuk modifikasi tersendiri. Setiap ada persoalan yang menyangkut medical law
penanganannya masih mengacu kepada Hukum Kesehatan Indonesia yang berupa
Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, KUHP dan Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Kalau ditinjau dari budaya hukum Indonesia, malpraktek merupakan
sesuatu yang asing karena batasan pengertian malpraktek yang diketahui dan
dikenal oleh kalangan medis (kedokteran) dan hukum berasal dari alam pemikiran
barat. Untuk itu masih perlu ada pengkajian secara khusus guna memperoleh suatu
rumusan pengertian dan batasan istilah malpraktek medik yang khas Indonesia (bila
memang diperlukan sejauh itu) yakni sebagai hasil oleh piker bangsa Indonesia
dengan berlandaskan budaya bangsa yang kemudian dapat diterima sebagai budaya
hukum (legal culture) yang sesuai dengan system kesehatan nasional.
Dari penjelasan ini maka kita bisa menyimpulkan bahwa permasalahan
malpraktek di Indonesia dapat ditempuh melalui 2 jalur, yaitu jalur litigasi
(peradilan) dan jalur non litigasi (diluar peradilan).
Untuk penanganan bukti-bukti hukum tentang kesalahan atau kealpaan atau
kelalaian dokter dalam melaksanakan profesinya dan cara penyelesaiannya banyak
kendala yuridis yang dijumpai dalam pembuktian kesalahan atau kelalaian
tersebut. Masalah ini berkait dengan masalah kelalaian atau kesalahan yang
dilakukan oleh orang pada umumnya sebagai anggota masyarakat, sebagai
penanggung jawab hak dan kewajiban menurut ketentuan yang berlaku bagi
profesi. Oleh karena menyangkut 2 (dua) disiplin ilmu yang berbeda maka metode
pendekatan yang digunakan dalam mencari jalan keluar bagi masalah ini adalah
dengan cara pendekatan terhadap masalah medik melalui hukum. Untuk itu
berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Repiblik Indonesia (SEMA RI) tahun
1982, dianjurkan agar kasus-kasus yang menyangkut dokter atau tenaga kesehatan
lainnya seyogyanya tidak langsung diproses melalui jalur hukum, tetapi dimintakan
pendapat terlebih dahulu kepada Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK).
Majelis Kehormatan Etika Kedokteran merupakan sebuah badan di dalam
struktur organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). MKEK ini akan menentukan
kasus yang terjadi merpuakan pelanggaran etika ataukah pelanggaran hukum. Hal
ini juga diperkuat dengan UU No. 23/1992 tentang kesehatan yang menyebutkan
bahwa penentuan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian ditentukan oleh
Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (pasal 54 ayat 2) yang dibentuk secara resmi
melalui Keputusan Presiden (pasal 54 ayat 3).
Pada tanggal 10 Agustus 1995 telah ditetapkan Keputusan Presiden No. 56/1995
tentang Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) yang bertugas menentukan ada

atau tidaknya kesalahan atau kelalaian dokter dalam menjalankan tanggung jawab
profesinya. Lembaga ini bersifat otonom, mandiri dan non structural yang
keanggotaannya terdiri dari unsur Sarjana Hukum, Ahli Kesehatan yang mewakili
organisasi profesi dibidang kesehatan, Ahli Agama, Ahli Psikologi, Ahli Sosiologi.
Bila dibandingkan dengan MKEK, ketentuan yang dilakukan oleh MDTK dapat
diharapkan lebih obyektif, karena anggota dari MKEK hanya terdiri dari para dokter
yang terikat kepada sumpah jabatannya sehingga cenderung untuk bertindak
sepihak dan membela teman sejawatnya yang seprofesi. Akibatnya pasien tidak
akan merasa puas karena MKEK dianggap melindungi kepentingan dokter saja dan
kurang memikirkan kepentingan pasien.
2.6. Upaya Pencegahan Dalam Menghadapi Tuntutan Malpraktek
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga bidan karena adanya
malpraktek diharapkan para bidan dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak hati-hati,
yakni:
a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena perjanjian
berbentuk daya upaya bukan perjanjian akan berhasil.
b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter
e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala kebutuhannya.
f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat sekitarnya.
2.7. Tanggapan Mahasiswa Tentang Malpraktek
Malpraktik itu bukan urusan Departemen Kesehatan. Tapi jadi tanggung jawab
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Kalau menurut kami, jika ada
kasus malpraktik harus segera ditindak, harus dilaporkan kepada yang berwenang.
Sebenarnya kami sangat prihatin terhadap kasus malpraktik yang terjadi. Masalah
ini harus segera diurus sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang ada pada Majelis
Kehormatan.
Malpraktik terjadi karena tidak ada Undang-Undang Perumah sakitan. Sejak kita merdeka,
undang-undang itu tidak pernah ada. Maka sekarang kita mencoba mengusulkan ke DPR
untuk mengesahkan Undang-Undang Perumahsakitan. Dengan adanya Undang-Undang
Perumahsakitan, kita harap akan mengurangi tindakan malpraktik.
Lembaga ini independen berdasarkan UU No 29/2004 tentang Praktek Kedokteran.
Mereka bertugas menerima, memeriksa, membuat keputusan dan memberikan sanksi atas
pengaduan kasus dugaan malpraktik.
2.8. Tanggapan Pemerintah Tentang Malpraktek

Kutipan terjemahan tulisan dr Dick Heller, mewakili pemerintah


Para orang tua sering tidak akurat dalam mengidentifikasikan penyebab dari penyakit
mereka. Anekdot atau cerita mengada ada dari seseorang tidak akan dapat berbuat banyak
selain hanya menghasilkan sebuah hipotesis yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut
secara klinis. Keprihatinan publik terjadi akibat ketidak mampuan untuk mengerti dan mengekspresikan bukti-bukti klinis. Yang kita dapati saat ini adalah hipotesis yang berdasarkan
anekdot tanpa bukti klinis. Adapun bukti bukti lemah yang ada tidak dapat menunjang
hipotesis.
Membandingkan resiko autisme dan resiko pemberian vaksinasi pada anak
sangat sulit untuk mengerti, mengukur dan mengekspresikan resiko. Angka angka
menunjukkan bahwa tiap 100 000 anak terdapat 91 penyandang gangguan spektrum autisme.
Jika 15% dari anak-anak ini menjadi penyandang autisme sebagai akibat di-vaksinasi MMR
maka sebanyak 7326 anak harus divaksinasi untuk dapat satu anak penyandang autisme.
Berapa banyak kasus penyakit mumps , measles dan rubella akan timbul jika anak tidak divaksinasi MMR? Bagaimana rate komplikasi ? Sayang sekali, kami tidak mempunyai sistim
intelejen yang canggih untuk menyelidiki efek dari perubahan pemberian imunisasi terhadap
kesehatan masyarakat. Namun kami tahu ssbahwa untuk measles saja angka kematian 1 - 2
dari tiap 1000 orang yang terinfeksi di Amerika Serikat dan 1 dari 1000 akan terkena
encephalitis beberapa diantaranya akan terkena kerusakan otak permanen. Jika semua anak
yang tidak divaksinasi terjangkit measles maka rate komplikasi menyebutkan bahwa
penyetopan vaksinasi akan sangat berbahaya - jauh lebih berbahaya dari pada usaha
pencegahan
insiden
timbulnya
gangguan
autisme.
Dalam memerangi penyakit menular umum seperti yang disarankan oleh pemerintah
untuk mendapatkan vaksinasi akan sulit untuk dapat diatasi jika tingkat pemberian imunisasi
di suatu komunitas turun dibawah level kritis. Mereka yang bertanggung jawab terhadap
kesehatan publik akan mempunyai kepentingan yang sah untuk meningkatkan
pemberian vaksinasi.
Secara umum dapat saya katakan tidak terdapat bukti bahwa vaksin MMR dapat
menyebabkan autisme dan tidak terdapat cukup bukti pula untuk mengatakan bahwa vaksin
MMR tidak menyebabkan autisme. Saya percaya bahwa dengan menyetop vaksinasi pada
anak atas dasar hipotesa yang tidak lengkap akan sangat berbahay

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari data kajian yang telah kita peroleh dapat disimpulkan bahwa seorang bidan harus
berhati-hati dalam memberikan pelayanan pada pasiennya. Sehingga pelayanan atau tindakah
yang kita berikan tidak merugikan pasien dan berdampak pada kesehatan pasien.
Oleh karena itu bidan harus selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan pasien sehingga kita
mampu
memberikan
pelayanan
yang
komprehensif
dan
berkualitas
Bidan harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup mendalam agar setiap
tindakannya sesuai dengan standar profesi dan kewenangannya.
3.2 Saran

Pasien harus dipandang sebagai subjek yang memiliki pengaruh besar atas hasil akhir
layanan bukan sekadar objek. Hak hak pasien harus di penuhi mengingat kepuasan pasien
menjadi salah satu barometer mutu layanan sedangkan ketidak puasan pasien dapat menjadi
pangkal tuntutan hukum.

(MAKALAH ETIKA PROFESI DAN HUKUM


KESEHATAN)
Diposkan oleh Muktika Damayanto di 6:55 PM

BAB I
KAJIAN KASUS

Berikut ini adalah salah satu contoh kasus nyata malpraktik yang dilakukan oleh
bidan di daerah Jawa Timur berhubungan dengan kesalahan bidan yang
menolong persalinan sungsang dan tidak merujuk ke fasilitas kesehatan yang
berhak untuk menangani kasus tersebut.
Inilah kisah tragis bayi Nunuk Rahayu :

Proses

persalinan

ibu

yang

tinggal

di

Batu,

Malang

ini

sungguh

tragis.Diduga karena kesalahan bidan, si bayi pun meninggal dalam keadaan


tragis.Kegagalan dalam proses melahirkan memang bisa terjadi pada wanita
mana saja. Bahkan yang paling buruk, si bayi meninggal juga bisa saja terjadi.

Namun, yang dialami oleh Nunuk Rahayu (39 tahun) ini memang kelewat
tragis.

Ia

melahirkan

secara

sungsang.

Bidan

yang

menangani,

diduga

melakukan kesalahan penanganan. Akibatnya, si bayi lahir dengan kondisi kepala


masih tertinggal di rahim!
Kejadian yang demikian tragis itu diceritakan Wiji Muhaimin (40), suami Nunuk.
Sore itu Selasa, Nunuk mengeluh perutnya sakit sebagai tanda akan melahirkan.
Ibu dua anak ini berharap kelahiran anak ketiganya akan semakin melengkapi
kebahagiaan rumah tangganya. Sang suami, segera berkemas-kemas dan

mengantarkan istrinya ke bidan Tutik Handayani, tak jauh dari rumahnya di Jalan
Imam Bonjol, Batu, Malang, Jawa Timur.

Sesampai di tempat bersalin, sekitar jam 15.00, Nunuk langsung diperiksa


bidan untuk mengetahui keadaan kesehatan si bayi.Menurut Bu Han (panggilan
Tutik Handayani), kondisi anak saya dalam keadaan sehat. Saya disuruh keluar
karena persalinan akan dimulai,kata Wiji saat ditemui, Jumat (11/8). Meski
menunggui kelahiran anak ketiga, Wiji tetap saja diliputi ketegangan.

Apalagi, persalinan berlangsung cukup lama. Setiap pembantu Bu Han


keluar ruang persalinan, saya selalu bertanya apakah anak saya sudah lahir.
Jawabannya selalu belum. Katanya, bayi saya susah keluar. Istri saya mesti diberi
suntikan obat perangsang sampai dua kali agar jabang bayi segera keluar,papar
Wiji. Wiji sempat pulang sebentar untuk menjalankan salat magrib. Usai salat,
lelaki berkumis lebat ini kembali ke bidan.

Baru saja memasuki klinik bersalin, bidan Han ke luar dari ruang
persalinan dengan tergopoh-gopoh. Bidan yang sudah praktik sejak tahun 1972
itu berteriak minta tolong kepadanya. Pak, tolong bantu saya!teriaknya kepada
Wiji.Lelaki yang sehari-hari berjualan es dan mainan anak-anak di sekolahsekolah ini, tak mengerti maksud bidan. Wiji mengikuti bidan Han masuk ruang
persalinan. Mata Wiji langsung terbelalak begitu melihat pemandangan yang
begitu mencekam.Si jabang bayi memang sudah keluar, namun kepala bayi
masih berada di dalam rahim.
Di tengah kepanikan, bidan memintanya untuk menahan tubuh si bayi
sedang kedua perawat bertugas menekan perut ke bawah untuk membantu
mengeluarkan kepala bayi. Kala itu, kondisi istri Wiji antara sadar dan tidak.Ia
hanya bisa merinih kesakitan saja, imbuh Wiji.

Selanjutnya, bidan Tutik meminta Wiji menarik tubuh bayi agar segera
keluar dari rahim. Namun, Wiji enggan melakukannya. Ia hanya menahan tubuh
bayi agar tak menggantung.Saya tak tega menarik tubuh anak saya. Apa jadinya
kalau saya tarik kemudian sampai lepas. Yang saya lakukan hanya terus istigfar,
tutur Wiji sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Kala itu, Wiji sudah tak sanggung membendung air matanya. Ia paham,
anak bungsunya sudah tak bernyawa lagi. Ia tahu karena tubuh si bayi sudah
lemas dan tak ada gerakan sama sekali. Sampai 15 menit kemudian, tetap saja
kepala bayi belum berhasil dikeluarkan. Wiji pun tak tega melihat penderitaan
istrinya. Saya berikan tubuh bayi saya kepada Bu Han.

Lalu, Wiji sambil berurai air mata mendekati istrinya yang tengah
kesakitan dan berjuang antara hidup dan mati. Sejurus kemudian dia mendengar
si bidan semakin panik. Bahkan, si bidan sempat mengeluh, Aduh yok opo
iki. (aduh bagaimana ini).Saya sudah tak berani melihat bagaimana bidan
menangani anak saya. Saya hanya menatap wajah istri saya,ujar Wiji.

Beberapa saat kemudian, selintas Wiji melihat tubuh anaknya sudah


diangkat dan ditempatkan di ranjang sebelah. Yang mengerikan, kepala si jabang
bayi belum juga berhasil dikeluarkan. Saya tak berani memandangi wajah anak
saya. Pikiran saya sangat kalut, urainya.

Dengan nada setengah berteriak lantaran panik, bidan mengajak Wiji


untuk membawa istrinya ke BKIA Islam Batu, untuk penanganan lebih lanjut.
Beruntung ada mobil pick up yang siap jalan. Setiba di sana, istri Wiji segera
ditangani.

Dr.

Sutrisno,

SpOG,

langsung

melakukan

tindakan

untuk

mengeluarakan kepala si bayi dari rahim istrinya. Baru setelah itu, kepala
disambung kembali dengan tubuh bayi,urai Wiji.

Si jabang bayi segera dimakamkan.Wiji pun memberi nama anaknya Ratna


Ayu

Manggali.

Nama

itu

memang

permintaan

istri

saya

sejak

mengandung. Makanya, saya tetap memberinya nama, meski dia tak sempat
hidup,ujar Wiji.Kepergian si jabang bayi mendatangkan duka mendalam bagi
Wiji.Lantas apa langkah Wiji? Setelah melakukan rapat keluarga, kami sepakat
untuk melaporkan kasus ini polisi,kata Wiji yang selama wawancara ditemani
Riyanto, sepupunya.

Baik Wiji maupun Riyanto menyesalkan tindakan sang bidan. Sebab, kalau
keadaan bayi sungsang, seharusnya sejak awal bidan merujuk ke dokter
kandungan.Waktu itu, Bu Han bilang sanggup menangani. Makanya saya

mempercayakan persalinan istri saya kepadanya,papar Wiji.Selain itu, Riyanto


melihat ada upaya untuk mengaburkan kasus ini dengan mengalihkan kesalahan
kepada Wiji. Misalnya saja pada saat bidan kesulitan mengeluarkan kepala bayi,
bidan berusaha memanggil Wiji dan memintanya untuk menarik. Untung saja
Mas Wiji tidak mau melakukan. Coba kalau ditarik beneran lalu putus, pasti yang
disalahkan oleh Bu Han adalah Mas Wiji,urai Riyanto.

Lelaki

yang

sehari-hari

sebagai

takmir

masjid

sekaligus

tukang

memandikan jenazah ini tak menampik bahwa bidan Han merupakan bidan
senior di Batu. Ia sudah menangani ribuan persalinan, termasuk dua anak
Wiji.Namun dalam kasus ini, Bu Han tetap saja salah. Makanya saya tolak ajakan
damai meski banyak pihak meminta. Ini adalah persoalan hukum, mari
diselesaikan secara hukum,tegas Riyanto.

Sementara Nunuk sendiri sepulang dari rumah sakit masih tampak lemas
dan syok. Ia sempat dirawat selama tiga hari. Para tetangga sekitar berbondongbondong memenuhi kamarnya yang sempit dan sangat sederhana. Nunuk tak
sanggup menceritakan saat-saat menegangkan dalam hidupnya.Saya tak ingat
persis bagaimana bisa seperti itu. Waktu itu perasaan saya antara sadar dan
tidak karena sakitnya luar biasa,ucapnya lirih.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENDAHULUAN
Mengamati pemberitaan media massa akhir-akhir ini, terlihat peningkatan
dugaan kasus malpraktek dan kelalaian medik di Indonesia, terutama yang
berkenaan dengan kesalahan diagnosis dokter yang berdampak buruk terhadap
pasiennya. Dalam rentang dua bulan terakhir ini, media massa marak
memberitahukan tentang kasus gugatan/ tuntutan hukum (perdata dan/ atau
pidana) kepada dokter, tenaga medis lain, dan/ atau manajemen rumah sakit
yang diajukan masyarakat konsumen jasa medis yang menjadi korban dari
tindakan malpraktik (malpractice) atau kelalaian medis.

Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi munculnya gugatan-gugatan


malpraktik tersebut dan semuanya berangkat dari kerugian psikis dan fisik
korban. Mulai dari kesalahan diagnosis dan pada gilirannya mengimbas pada
kesalahan terapi hingga pada kelalaian dokter pasca operasi pembedahan pada
pasien (alat bedah tertinggal didalam bagian tubuh), dan faktor-faktor lainnya.

Masalah dugaan malpraktik medik, akhir-akhir ini, sering diberitakan di media


masa. Namun, sampai kini, belum ada yang tuntas penyelesaiannya. Putusan
pengadilan apakah ada kelalaian atau tidak atau tindakan tersebut merupakan
risiko yang melekat pun belum pernah diambil.

Masyarakat hanya melihat dampak dan akibat yang timbul dari tindakan
malpraktik tersebut. Semua bergantung kepada si penafsir masing-masing
(keluarga, media massa, pengacara), dan tidak ada proses hukumnya yang
tuntas. Karena itu sangat perlu bagi kita terutama tenaga medis untuk
mengetahui sejauh mana malpraktek ditinjau dari segi etika dan hokum.

B.

PENGERTIAN MALPRAKTEK
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu
berkonotasi yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan
praktek mempunyai arti pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktek
berarti pelaksanaan atau tindakan yang salah. Meskipun arti harfiahnya
demikian tetapi kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan
adanya tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.

Sedangkan difinisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari


seseorang

dokter

atau

tenaga

keperawatan

(perawat

danbidan)

untuk

mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati


dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang
terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama (Valentin v. La Society de
Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).Berlakunya norma etika
dan norma hukum dalam profesi bidan.

Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga bidan berlaku norma etika
dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan
praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua
norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice
dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice.

Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga bidan berlaku norma
etika dan norma hukum, sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat
domain apa yang dilanggar. Karena antara etika dan hukum ada perbedaanperbedaan yang mendasar menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan sangsi,
maka

ukuran

normatif

yang

dipakai

untuk

menentukan

adanya

ethica

malpractice atau yuridical malpractice dengan sendirinya juga berbeda. Yang


jelas tidak setiap ethical malpractice merupakan yuridical malpractice akan
tetapi semua bentuk yuridical malpractice pasti merupakan ethical malpractice
(Lord Chief Justice, 1893).
C.

MALPRAKTEK DI BIDANG HUKUM

Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori


sesuai

bidang

hukum

yang

dilanggar,

yakni

Criminal

malpractice,Civil

malpractice dan Administrative malpractice.

1.

Criminal malpractice

Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice


manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni perbuatan
tersebut (positive act maupun negative act) merupakan perbuatan tercela dan
dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa kesengajaan
(intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan (negligence).

Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional):

1) Pasal 322 KUHP, tentang Pelanggaran Wajib Simpan Rahasia Kebidanan, yang
berbunyi:

Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya
karena jabatan atau pencahariannya, baik yang sekarang, maupun yang dahuluj
diancam dengan pidana penjara paling lama sembi Ian bulan atau denda paling
banyak enam ratu rupiah.
2) Ayat (2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan
itu hanya dapat dituntut ata pengaduan orang itu.
3) Pasal 346 sampai dengan pasal 349 KUHP, tentang Abortus Provokatus. Pasal
346 KUHP Mengatakan:
4) Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya
atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
5) Pasal 348 KUHP menyatakan:
6) Ayat (1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun enam bulan
7)

Ayat (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,

dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.


8) Pasal 349 KUHP menyatakan:
9) Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah
satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut
hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.
10) Pasal 351 KUHP, tentang penganiayaan, yang berbunyi:
11) Ayat (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua
tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.
12)

Ayat (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah

dikenakan
13) pidana penjara paling lama lima tahun.
14) Ayat (3) Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
15) Ayat (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

Ayat (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipdana.


Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya melakukan
tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent.
1) Pasal 347 KUHP menyatakan:
Ayat

(l)

Barangsiapa

dengan

sengaja

menggugurkan

dan

mematikan

kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana


penjara paling lama dua belas tahun.
Ayat (2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakart
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
2) Pasal 349 KUHP menyatakan:
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah
satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut
hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan.
Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hatihati melakukan proses kelahiran.
1)

Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP, pasal-pasal karena lalai

menyebabkan mati atau luka-luka berat.


Pasal 359 KUHP, karena kelalaian menyebabkan orang mati :
Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan mati-nya orang lain, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lamasatu
tahun.
2)

Pasal 360 KUHP, karena kelalaian menyebakan luka berat:

Ayat (1) Barangsiapa karena kealpaannya menyebakan orang lain mendapat


luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau
kurungan paling lamasatu tahun.
Ayat (2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka
sedemikian rupa sehinga menimbulkan penyakit atau alangan menjalankan
pekerjaan, jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu, diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling tinggi tiga ratus
rupiah.

3)

Pasal 361 KUHP, karena kelalaian dalam melakukan jabatan atau pekerjaan

(misalnya: dokter, bidan, apoteker, sopir, masinis dan Iain-lain) apabila


melalaikan peraturan-peraturan pekerjaannya hingga mengakibatkan mati atau
luka berat, maka mendapat hukuman yang lebih berat pula.
Pasal 361 KUHP menyatakan:
Jika

kejahatan

yang

diterangkan

dalam

bab

ini

di-lakukan

dalam

menjalankan suatu jabatan atau pencaharian, maka pidana ditambah dengan


pertiga,

dan

yang

bersalah

dapat

dicabut

haknya

untuk

menjalankan

pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan


supaya putusnya di-umumkan.
Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah bersifat
individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain
atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.
#Civil malpractice
Seorang bidan akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang
telah disepakati (ingkar janji).
1.Tindakan bidan yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:
2.Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.
3.Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat
melakukannya.
3.Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna.
4.Melakukan

apa

yang

menurut

kesepakatannya

tidak

seharusnya

dilakukan.Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau


korporasi dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius
liability.

Dengan

prinsip

ini

maka

rumah

sakit/sarana

kesehatan

dapat

bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (bidan) selama


bidan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya.
#Administrative malpractice
Bidan dikatakan telah melakukan administrative malpractice manakala
bidan tersebut telah melanggar hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa
dalam

melakukan

police

power,

pemerintah

mempunyai

kewenangan

menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan, misalnya tentang

persyaratan bagi bidan untuk menjalankan profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin
Praktek), batas kewenangan serta kewajiban bidan. Apabila aturan tersebut
dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan
melanggar hukum administrasi.

D. LANDASAN HUKUM WEWENANG BIDAN

Bidan adalah salah satu tenaga kesehatan. Pengaturan tenaga kesehatan


ditetapkan di dalam undang-undang dan Peraturan Pemerintah. Tugas dan
kewenangan bidan serta ketentuan yang berkaitan dengan kegiatan praktik
bidan diatur di dalam peraturan atau Keputusan Menteri Kesehatan. Kegiatan
praktik

bidan

dikontrol

oleh

peraturan

tersebut.

Bidan

harus

dapat

mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan yang dilakukannya sesuai


dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Setiap

bidan

memiliki

tanggung

jawab

memelihara

kemampuan

profesionalnya. Oleh karena itu bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan


dan ketrampilannya dengan cara mengikuti pelatihan, pendidikan berkelanjutan,
seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya.

Syarat Praktik Profesional Bidan


Harus memiliki Surat Ijin Praktek Bidan (SIPB) baik bagi bidan yang praktik
pada sarana kesehatan dan/atau perorangan Bdan Praktek Swasta (BPS).
Bidan yang praktik perorangan harus memenuhi persyaratan yang meliputi
tempat

dan

ruangan

praktik,

tempat

tidur,

peralatan,

obat-obatan

dan

kelengkapan administrasi.

Dalam

menjalankan

praktik

profesionalnya

harus

sesuai

dengan

kewenangan yang diberikan, berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta


berdasarkan standar profesi.

Dalam menjalankan praktik profesionalnya harus menghormati hak


pasien, memperhatikan kewajiban bidan, merujuk kasus yang tidak dapat

ditangani, meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan dan melakukan


medical record dengan baik.
Dalam menjalankan praktik profesionalnya bidan wajib melakukan pencatatan
dan pelaporan.

Wewenang Bidan dalam Menjalankan Praktik Profesionalnya

Dalam menangani kasus seorang bidan diberi kewenangan sesuai dengan


Keputusan Menteri Kesehatan Indonesia No:900/Menkes/SK/VII/2002 tentang
registrasi dan praktek bidan,yang disebut dalam BAB V praktik bidan antara lain:
Pasal 14 :
bidan dalam menjalankan prakteknya berwenang untuk memberikan pelayanan
yang meliputi :
a.

Pelayanan kebidanan

b.

Pelayanan keluarga berencana

c.

Pelayanan kesehatan masyarakat

Pasal 15 :
(1)

Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 huruf

(pelayanan kebidanan) ditujukan pada ibu dan anak


(2)

Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pra nikah, pra hamil, masa

hamil, masa bersalin , masa nifas, menyusui dan masa antara (periode interval)
(3) Pelayanan kebidanan pada anak diberikan pada masa bayi baru lahir,masa
bayi,masa anak balita dan masa pra sekolah.
Pasal 16 :
(1) Pelayanan kebidanan kepada meliputi :
a. Penyuluhan dan konseling
b. Pemeriksaan fisik
c. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

d.

Pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan

abortus iminens, hiperemesis grafidarum tingkat 1, pre eklamsi ringan dan


anemia ringan.
e. Pertolongan persalinan normal
f.

Pertolongan persalinan abnormal yang mencakup letak sungsang, partus

macet kepala di dasar panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi,
perdarahan post partum, laserasi jalan lahir, distosia karena inersia uteri primer,
post aterm dan preterm.
g. Pelayanan ibu nifas normal
h.

Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta,renjatan dan

infeksi ringan
i.

Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi

keputihan,perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.


(2) Pelayanan kebidanan kepada anak meliputi:
a. Pemeriksaan bayi baru lahir
b. Perawatan tali pusat
c. Perawatan bayi
d. Resusitasi pada bayi baru lahir
e. Pemantauan tumbuh kembang anak
f.

Pemberian imunisasi

g. Pemberian penyuluhan
Pasal 18 : Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 16,berwenang untuk :

a. Memberikan imunisasi
b. Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan dan nifas
c. Mengeluarkan plasenta secara secara manual
d. Bimbingan senam hamil
e. Pengeluaran sisa jaringan konsepsi

f.

Episiotomi

g. Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat 2


h. Amniotomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm
i.

Pemberian infuse

j.

Pemberian suntikan intramuskuler uterotonika

k. Kompresi bimanual
l.

Versi ekstrasi gemelli pada kelahiran bayi kedua dan seterusnya

m. Vakum ekstraksi dengan kepala bayi di dasar panggul


n. Pengendalian anemi
o. Peningkatan pemeliharaan dan penggunaan air susu ibu
p. Resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia
q. Penanganan hipotermi
r.

Pemberian minum dengan sonde/pipet

s.

Pemberian obat-obatan terbatas melalui lembaran ,permintaan , obat sesuai

dengan formulir IV terlampir


t.

Pemberian surat kelahiran dan kematian.

Standar Kompetensi Kebidanan


Standar kompetensi kebidanan yang berhubungan dengan anak dan imunisasi :
Undang-Undang
UU Kesehatan No. 23 Th 1992
pasal 15
ayat (1): Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyclamatkan jiwaibu
hamil dan atau janinnya, dapat ditakukan tindakan medis tertentu.
Ayat (2): Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya
dapat dilakukan :
berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;

oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan
dilakukan

sesuai

dengan

tanggung

jawab

profesi

serta

berdasarkan

pertimbangan tim ahli;


dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya;
pada sarana kesehatan tertentu.
pasal 80
ayat (1): Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu
terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling
lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
E. PEMBAHASAN KASUS

Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang
pengguna yang berbeda dari istilah itu. Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau
kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah ha-hal yang menyangkut
moral, dan moral adalah sistem tentang motivasi, perilaku dan perbuatan
manusia yang dianggap baik atau buruk. Franz Magnis Suseno menyebut etika
sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab
pertanyaan yang amat fundamental : bagaimana saya harus hidup dan bertindak
? Peter Singer, filusf kontemporer dari Australia menilai kata etika dan moralitas
sama artinya, karena itu dalam buku-bukunya ia menggunakan keduanya secara
tertukar-tukar.

Bagi sosiolog, etika adalah adat, kebiasaan dan perilaku orang-orang dari
lingkungan budaya tertentu. Bagi praktisi profesional termasuk dokter dan
tenaga

kesehatan

lainnya

etika

berarti

kewajiban

dan

tanggung

jawab

memenuhi harapan (ekspekatasi) profesi dan amsyarakat, serta bertindak


dengan cara-cara yang profesional, etika adalah salah satu kaidah yang menjaga
terjalinnya interaksi antara pemberi dan penerima jasa profesi secara wajar,
jujur, adil, profesional dan terhormat.

Bagi eksekutif puncak rumah sakit, etika seharusnya berarti kewajiban dan
tanggung jawab khusus terhadap pasien dan klien lain, terhadap organisasi dan

staff, terhadap diri sendiri dan profesi, terhadap pemrintah dan pada tingkat
akhir walaupun tidak langsung terhadap masyarakat. Kriteria wajar, jujur, adil,
profesional dan terhormat tentu berlaku juga untuk eksekutif lain di rumah sakit.

Bagi asosiasi profesi, etika adalah kesepakatan bersamadan pedoman


untuk diterapkan dan dipatuhi semua anggota asosiasi tentang apa yang dinilai
baik dan buruk dalam pelaksanaan dan pelayanan profesi itu.

Malpraktek meliputi pelanggaran kontrak ( breach of contract), perbuatan


yang disengaja (intentional tort), dan kelalaian (negligence). Kelalaian lebih
mengarah pada ketidaksengajaan (culpa), sembrono dan kurang teliti. Kelalaian
bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, selama tidak sampai
membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat
menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum de minimis noncurat lex, hukum
tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele.

Salah satu upaya untuk menghindarkan dari malpraktek adalah adanya


informed consent (persetujuan) untuk setiap tindakan dan pelayanan medis pada
pasien. Hal ini angat perlu tidak hanya ntuk melindungi dar kesewenangan
tenaga kesehatan seprti dokter atau bidan, tetapi juga diperlukan untuk
melindungi tenaga kesehatan dari kesewenangan pasien yang melanggar batasbatas hukum dan perundang-undangan malpraktek.Di Indonesia terdapat
ketentuan informed consent yang diatur antara lain pada peraturan pemerintah
no 18 tahun 1981 yaitu:

Manusia

dewasa

sehat

jasmani

dan

rohani

berhak

sepenuhnya

menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak
melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan pasien,
walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.

Semua

tindakan

medis

(diagnostic,

terapuetik

maupun

paliatif)

memerlukan informed consent secara lisan maupun tertulis.


Setiap tindakan medis yang mempunyai resiko cukup besar, mengharuskan
adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya

pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis


yang bersangkutan serta resikonya.

Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan


persetujuan lisan atau sikap diam.

Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik


diminta maupun tidak diminta oleh pasien. Menahan informasi tidak boleh,
kecuali bila dokter/bidan menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan
kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi
kepada keluarga terdekat pasien.

Dalam memberikan informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien,


kehadiran seorang perawat/paramedic lain sebagai saksi adalah penting.
Isi

informasi

mencakup

keuntungan

dan

kerugian

tindakan

medis

yang

direncanakan, baik diagnostic, terapuetik maupun paliatif. Informasi biasanya


diberikan secara lisan, tetapi dapat pula secara tertulis (berkaitan dengan
informed consent).

Apabila bidan didakwa telah melakukan kesalahan profesi, hal ini bukanlah
merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang tidak memahami profesi
kesehatan dalam membuktikan ada dan tidaknya kesalahan. Dalam hal bidan
didakwa

telah

melakukan

ciminal

malpractice,

harus

dibuktikan

apakah

perbuatan bidan tersebut telah memenuhi unsur tidak pidanya, yakni: apakah
perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang tercela dan
apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang salah
(sengaja, ceroboh atau adanya kealpaan).

Selanjutnya apabila bidan dituduh telah melakukan kealpaan sehingga


mengakibatkan pasien meninggal dunia, menderita luka, maka yang harus
dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan
dengan sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga.

Dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat


dilakukan dengan dua cara yakni :
1.

Cara langsung
Kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D yakni :
a. Duty (kewajiban)
Dalam hubungan perjanjian bidan dengan pasien, bidan haruslah bertindak
berdasarkan
1) Adanya indikasi medis
2) Bertindak secara hati-hati dan teliti
3) Bekerja sesuai standar profesi
4) Sudah ada informed consent.

b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban) Jika seorang bidan


melakukan pekerjaan menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak
melakukan apa yang seharusnya dilakukan menurut standard profesinya, maka
bidan tersebut dapat dipersalahkan.
c. Direct Causation (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)

Bidan

untuk

dapat

dipersalahkan

haruslah

ada

hubungan

kausal

(langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian (damage)yang diderita oleh


karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela diantaranya., dan hal ini
haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil (outcome) negatif tidak dapat sebagai
dasar menyalahkan bidan

Sebagai adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka pembuktiannya


adanya kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien).

2.

Cara tidak langsung

Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien,
yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil
layanan (doktrin res ipsa loquitur).
Doktrin res ipsa loquitur dapat diterapkan apabila fakta-fakta yang ada
memenuhi kriteria:

a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila bidan tidak lalai


b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab bidan
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak
ada contributory negligence.

Tidak setiap upaya kesehatan selalu dapat memberikan kepuasan kepada


pasien baik berupa kecacatan atau bahkan kematian. Malapetaka seperti ini
tidak mungkin dapat dihindari sama sekali. Yang perlu dikaji apakah malapetaka
tersebut merupakan akibat kesalahan bidan atau merupakan resiko tindakan,
untuk selanjutnya siapa yang harus bertanggung gugat apabila kerugian
tersebut merupakan akibat kelalaian bidan. Di dalam transaksi teraputik ada
beberapa macam tanggung gugat, antara lain:

1.

Contractual liability
Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari
hubungan kontraktual yang sudah disepakati. Di lapangan kewajiban yang harus
dilaksanakan adalah daya upaya maksimal, bukan keberhasilan, karena health
care provider baik tenaga kesehatan maupun rumah sakit hanya bertanggung
jawab atas pelayanan kesehatan yang tidak sesuai standar profesi/standar
pelayanan.

2. Vicarius liability
Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang
timbul atas kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam
tanggung jawabnya (sub ordinate), misalnya rumah sakit akan bertanggung
gugat

atas

karyawannya.

kerugian

pasien

yang

diakibatkan

kelalaian

bidan

sebagai

3. Liability in tort
Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum
(onrechtmatige

daad).

Perbuatan

melawan

hukum

tidak

terbatas

hanya

perbuatan yang melawan hukum, kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri
maupun terhadap orang lain, akan tetapi termasuk juga yang berlawanan
dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut dilakukan
dalam pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad 31
Januari 1919).
Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan.Dengan
adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat bidan karena adanya mal
praktek diharapkan para bidan dalam menjalankan tugasnya selalu bertindak
hati-hati, yakni:

a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya, karena


perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan perjanjian akan
berhasil (resultaat verbintenis).
b. Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
d. Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.
f. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat
sekitarnya.
Upaya menghadapi tuntutan hukum
Apabila upaya kesehatan yang dilakukan kepada pasien tidak memuaskan
sehingga bidan menghadapi tuntutan hukum, maka bidan seharusnyalah bersifat
pasif dan pasien atau keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian bidan.

Apabila tuduhan kepada bidan merupakan criminal malpractice, maka


bidan dapat melakukan :

a.

Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk menangkis/menyangkal

bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada doktrindoktrin yang ada, misalnya bidan mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan
disengaja, akan tetapi merupakan risiko medik (risk of treatment), atau
mengajukan alasan bahwa dirinya tidak mempunyai sikap batin (men rea)
sebagaimana disyaratkan dalam perumusan delik yang dituduhkan.
Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan
atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan
dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau melakukan
pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung jawaban, dengan
mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.
Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya bidan menggunakan jasa
penasehat hukum, sehingga yang sifatnya teknis pembelaan diserahkan
kepadanya.
Pada perkara perdata dalam tuduhan civil malpractice dimana bidan digugat
membayar ganti rugi sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalildalil penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan harus
membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya
harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa tergugat (bidan)
bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami penggugat.

Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah, utamanya


tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur),
apalagi

untuk

membuktikan

adanya

tindakan

menterlantarkan

kewajiban

(dereliction of duty) dan adanya hubungan langsung antara menterlantarkan


kewajiban dengan adanya rusaknya kesehatan (damage), sedangkan yang harus
membuktikan adalah orang-orang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang
menguntungkan bidan.

BAB III
PENUTUP
Atas dasar beberapa uraian yang telah disebutkan di muka kiranya dapat
diambil suatu kesimpulan sehubungan dengan masalah malapraktek bidan,
adalah sebagai berikut:

Kasus malapraktek merupakan suatu kasus yang menarik, yang sering


dialami oleh masyarakat, dan yang sekaligus merupakan manifestasi dari
kemajuan teknologi kesehatan dengan berbagai peralatannya yang canggih.
Sementara itu dengan semakin banyaknya kasus malapraktek yang disidangkan
di Pengadilan dan bermunculannya berita-berita tentang malapraktek bidan di
mass media karena kegagalannya dalam berpraktek sehingga mengakibatkan
cidera-nya atau meninggalkan pasien, menunjukkan bahwa tingkat kesadaran
hukum masyarakat mulai meningkat, sehingga perpaduan antara kedua hal
tersebut di atas akan menimbulkan suatu perbenturan atau sengketa.

Sedangkan altematif untuk menyelesaikan sengketa itu sendiri, untuk


sementara waktu ini belum memadai, sehingga kasus-kasus malapraktek
dijuimpai kandas di pemeriksaan sidang pengadilan. Oleh sebab sangst
diperlukan adanya suatu pemikiran-pemikiran yang jernih dari para arsitek
hukum untuk mene-mukan altematif apa yang dapat dipakai dalam menghadapi
kasus-kasus malapraktek tersebut, sebab kasus ini sangat banyak berkaitan
dengan kepentingan masyarakat, khususnya bagi yang merasa dirugikannya.

MAKALAH ETIKA DAN HUKUM KESEHAAN


PELANGGARAN ETIKA DALAM PELAYANAN KEBIDANAN tentang
ABORSI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kasus aborsi marak diberitakan di media masa yang menyangkut tenaga
kesehatan di Indonesia. Kasus ini membawa dampak buruk bagi pasien dan juga
tenaga kesehatan lainnya. Media masa yang memberitahukan tentang kasus gugatan
atau tuntutan hukum (perdata atau pidana) kepada tenaga kesehatan baik bidan,

dokter dan menajemen rumah sakit yang diajukan masyarakat konsumen jasa medis
yang menjadi korban dari tindakan malpraktek atau kelalaian medis.
Berbicara mengenai aborsi akan menimbulkan berbagai tanggapan dan
penilaian yang berbeda-beda pada masing-masing individu karena adanya perbedaan
pengetahuan dari diri mereka sehingga sikap yang ditimbulkan berbeda.
Hasil studi membuktikan bahwa angka kejadian aborsi pada wanita dewasa
menikah lebih besar dari pada angka kejadian pada wanita yang belum menikah
termasuk remaja. Fakta ini sangat memprihatinkan kita sebagai tenaga kesehatan
mengalami dilemma etik dan tidak bias memberikan pelayanan karena terbentur
hokum maupun norma yang ada. Akibatnya banyak terjadi aborsi illegal sehingga
dapat meningkatkan morbiditas maupun mortalitas yang tinggi pada wanita.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui etika dalam kesehatan
2. Untuk mengetahui sanksi-sanksi dari pelanggaran etika
3. Untuk pemenuhan dalam pelaksanaan tugas mata kuliah Etika dan Hukum Kesehatan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Kasus yang Dikaji
Aborsi
MEDAN Lagi ngaborsi pasien di salah satu rumah yang diduga dijadikan sebagai
tempat praktek peng di Jalan Lubuk Kuda Gang Marco Sebtosa Lama Medan,
digerebek anggota Reskrim Poltabes medan, Sabtu(12/12) lalu, seorang Dokter dan
Bidan yang berpraktek aborsi itu langsung diboyong ke Poltabes Medan dan dijadikan
tersangka.
Kasat Reskrim Kompol Gidion Arif Setyawan dan Kanit VC Poltabse Medan AKP
Ronny Nicolas Sidabutar dijerat kepada Waspada Online, Selasa (15/12) mengatakan Dr
Jamaludian dan Bidan Mariani dijerat pasal 80 UU RI tahun 2003 tentang kesehatan
dan UU No 29 tahun 2009 tentang praktek kedokteran dengan ancaman hukuman 12
tahun penjara.

Sedangkan korban dugaan aborsi berinisial R telah dipersangka dengan pasal 384
KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara. R tidak dilakukan penahanan karena
ancaman dibawah 4 tahun.

B.

Materi yang Mendukung

Aborsi adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang


mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu
namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran premature.
Aborsi terdiri dari 2 macam :
1. aborsi provokatus medisinalis karena alas an kesehatan ibu hamil tersebut tidak dapat
melanjutkan kehamilannya. Misalnya sakit jantung, tuberculosis paru, DM, asma,
gagal ginjal, hipertensi hati menahun (JNPK-KR, 1999) dalam hal ini keselamatan ibu
yang diutamakan. Tentunya tindakan ini harys ada inform choice dan inform consent.
2. aborsi provokatus kriminalis seperti contoh kasus diatas, tindakan pengosongan rahim
dari buah kehamilan yang dilakukan dengan sengaja bukan karena medis, tetapi alas
an lain karena hamil diluar nikah atau terjadi pada pasangan yang menikah karena
gagal kontrasepsi maupun karena tidak menginginkan kehamilannya.

Jenis-jenis abortus menurut terjadinya ;


1. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan)

Abortus imminens : peristiwa tejadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan


sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya
dilatasi serviks.

Abortus insipiens : peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu


dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus

Abortus inkompletus

: pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan

sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus

Abortus kompletus

: semua hasil konsepsi sudah sikeluarkan.

2. Abortus pronokatus (abortus yang dilakukan dengan sengaja)


menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu. Pada
umumnya dianggap bayi belum dapat diluar kandungan apabila kehamilan belum

mencapai umur 28 minggu atau berat bayi belum 1000 gram, Walaupun terdapat
bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.
Factor-faktor yang menyebabkan aborsi adalah ;
1.

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Terjadi sebelum kehamilan 8 minggu.

Penyebab

kelainan

ini

kealianan

kromosom/genetika,

lingkungan

tempat

menempelnya hasil pembuahan yang tidak bagus atau kurang sempurna dan pengaruh
zat-zat yang berbahaya bagi janin seperti radiasi, obat-obatan, tembakau, alcohol dan
infeksi virus.
2.

kelainan pada plasenta. Berupa gangguan pembentukan pembuluh darah pada

plasenta yang disebabkan oleh karena penyakit darah tinggi yang menahun.
3.

factor ibu berupa penyakit kronis seperti, radang paru, tifus, anemia berat,

keracunan dan infeksi virus toxoplasma.


4.

kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut

rahim, kelainan bentuk rahim. Mioma uteri dan kelainan bawaan pada rahim.

C. Analisa Masalaah
Dari kasus diatas dapat kita lihat bahwa bidan telah melakukan pelanggaran
terhadap klien / pasiennya. Tindakan yang dilakukan oleh bidan

merupakan

pelanggaran etika, hukum dan agama, karena telah membantu kliennya dalam
melakukan aborsi.
Seorang bidan seharusnya tidak melakukan hal tesebut, jika ada seorang klien yang
datang untuk melakukan aborsi sebaiknya kita sebagai seorang bidan memberikan
konseling mengenai bahaya yang dimbulkan oleh aborsi tersebut, selain itu juga
menjelaskan bahwa perbuatan aborsi tersebut melanggar etika, moral, hukum dan
sangat bertentangan dengan agama.

Dipandang dari segi agama perbuatan aborsi tersebut sangat dilarang dan
ditentang. Perbutan tersebut merupakan dosa besar karena dengan sengaja membuang
anak yang merupakan darah daging nya sendiri yang telah dititipkan kepadanya oleh
ALLAH, hal tersebut sama saja tidak mensyukuri dan pertbuatan yang sangat dibenci
oleh ALLAH.
Kalau dilihat dari segi budaya perbuatan tersebut melanggar norma-norma yang
akan menimbulkan kertugian terhadap sipelaku aborsi baik itu bidan maupun
kliennya. Bagi bidn sendiri nama baik nya sudah tercemar dan bias saja orang tidak
lagi mempercyainya. Untuk kliennya akan dikucilkan oleh masyarakat.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setiap tenaga kesehatan mempunyai kode etik dalam pelaksaan tugasnya.
Dalam ilmu kebidanan, etika kebidanan merupakan seperangkat perilaku anggota
profesi bidan

dalam hubungannya dengan klien / pasien, teman sejawat dan

masyarakat umumnya serta merupakan bagian dari keseluruhan proses pengambil


keputusan dan tindakan medik ditinjau dari segi norma-norma / nilai-nilai. Setiap
pelanggaran etik yang dilakukan dapat dikenakan sanksi berupa tuntutan.
Dan dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan baik perawat,
bidan maupun dokter harus mencari tahu terlebih dahulu permasalahan yang terjadi
sehingga kita sebagai tenaga kesehatan tidak gegabah dalam melakukan tindakan yang

akan di lakukan sehingga tidak membuat kesalahan dan melanggar kode etik sebagai
bidan.
B. SARAN
Sebaiknya setiap klien yang dating kepada kita hendaknya kita menggali lebih
banyak lgi data-data yang diperlukan sehingga tindakan yang kita lakukan tidak
menyalahi aturan dan tidak melanggar kode etik mita sebagai bidan tentunya.
Sesuai dengan kode etik profesi dan sumpah jabatan tenaga kesehatan harus dapat
mempertanggungjawabkan kejadian yang telah terjadi.

ETIKA PROFESI DAN KODE ETIK KESEHATAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
BIODATA
Nama : RAHMAN SYAMSUDDIN,S.H.,M.H

Email : r7_syariahuin@yahoo.com
fb : rahman syamsuddin
Blog : rahman7syamsuddin@blogpot.com
URUTAN MATERI KULIAH
1. ETIKA KESEHATAN

a.
b.
c.
d.

Etika dan Etiket


Etika, Moral dan Agama
Jenis - Jenis Etika
Nilai Etika

2 HAM DALAM KESEHATAN

a.
b.
c.

Hak dan Kewajiban


Hak Asasi Manusia Di Indonesia
Hak dan Kewajiban dalam Profesi

3 ALIRAN DAN PRINSIP - PRINSIP ETIKA KESEHATAN

a.
b.
c.
d.
e.

Aliran - Aliran dalam Etika


Prinsip - Prinsip Etika Kesehatan
Etika Profesi Kesehatan
Etika menurut Islam
Etika penelitian

4 KODE ETIK PROFESI

a.
b.
c.

Kode Etik
Fungsi Kode Etik Profesi
Profesi

Lanjutan
5. KODE ETIK DALAM KESEHATAN MASYARAKAT

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Kode Etik Tenaga Kesehatan


Kode Etik Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kode Etik Sanitarian (Ahli Kesehatan Lingkungan)
Kode Etik Ahli Gizi
Biostatistik
Epidemiologi
Informatika Kesehatan
Kesehatan Reproduksi
Manajemen Asuransi Kesehatan
Manajemen Informasi Kesehatan
Manajemen Pelayanan Kesehatan
Manajemen Rumah Sakit
Promosi Kesehatan

Terakhir..
6 PROBLEMATIKA KODE ETIK KESMAS

a.
b.
c.

Penegakan kode etik


Faktor penghambat kode etik
Peradilan dalam profesi
1. ETIKA KESEHATAN

a. Etika dan Etiket


1. Pengertian ETIKA
Berasal dari bahasa Inggris ethics adalah istilah yang muncul dari aristoteles, asal kata ethos
yaitu adat, budi pekerti.
Etika pada umumnya adalah setiap manusia mempunyai hak kewajiban untukmenentukan
sendiri tindakan-tindakannya dan mempertanggung jawabkanya dihadapan tuhan.
2. Pengertian ETIKET
etiket yaitu cara melakukan perbuatan sesuai dengan Etika yang berlaku
PERBEDAAN ETIKA DAN ETIKET
1. Etika menetapkan norma perbuatan apakah perbuatan itu dapat dilakukan atau tidak,cth
masuk tanpa izin tdk boleh.
Etiket menetapkan cara melakukan perbuatan sesuai dengan yang diinginkan, masuk
kerumah org mengetuk pintu atau/dan salam.
2. Etika berlaku tidak bergantung pd ada tidaknya org,cth larangan mencuri walau tdk ada
org.
etiket berlaku jika ada org.cth org makan pakai baju tdk ada org tdk apa2.
PERBEDAAN ETIKA DAN ETIKET

3. Etika bersifat absolut tdk dpt ditawar cth mencuri&membunuh


Etiket bersifat relatif cth koteka wajar dipapua, diaceh wajib menutup aurat

4. Etika memandang manusia dari segi dalam (batiniah) cth: org-org bersifat
baik tidak munafik.
etiket memandang manusia dari segi luar(lahiriah).cth: bersifat sopan dan santun tp munafik.
B. ETIKA,MORAL DAN AGAMA
1.Etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat istiadat

2.Moral (latin) objek etika (yunani) yang berarti adat kebiasaan


Perbedaan Etika adalah ilmu pengetahuan dan moral adalah objek
3.Agama
1. hub antara manusia dan suatu kekuasaan luar yang lain dan lebih daripada yg dialami
manusia
2. apa yang diisyaratkan Allah dengan perantara Nabi berupa perintah dan larangan
HUBUNGAN ETIKA, MORAL DAN AGAMA
Moral diartikan sama dengan dengan etika yang berupa nilai-nilai dan norma-norma yang
menjadi pegangan hidup manusia untuk mengatur perilakunya.
Agama mengandung nilai moral yang menjadi ukuran moralitas/etika perilaku manusia.
Makin tebal keyakinan agama dan kesempurnaan taqwa seseorg makin baik moralnya yang
diwujudkan dalam bentuk perilaku baik dan benar.
FAKTOR PENENTU MORALITAS

2.
Perbuatan manusia dilihat dari motivasi,tujuan akhir dan lingkungan
perbuatan
3.
Motivasi :hal yang diinginkan oleh pelaku perbuatan dgn maksud untuk
mencapai sasaran yang hendak dituju.cth: kasus Aborsi motivasix mencegah
malu dan aib keluarga
4.
Tujuan akhir adalah diwujudkan perbuatan yang dikehendaki secara
bebas. Cth aborsi tujuanx mengugurkan kandungan.
5.
Lingkungan perbuatan adalah segala sesuatu yang secara aksidential
atau mewarnai perbuatan. Cth aborsi oleh PSK
c. Jenis - Jenis etika
Etika umum & etika khusus
Etika umum membicarakan mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak
secara etis, teori-teori Etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi
manusia dalam bertindak, serta tolok ukur menilai baik atau buruk.
Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang
khusus.
Etika khusus
Etika khusus dapat dibagi menjadi dua, yaitu

Etika individual Etika individual menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap diri
sendiri.
Etika social mengenai kewajiban sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota
masyarakat.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara perseorangan dan
langsung atau bersama-sama dalam bentuk kelembagaan, sikap kritis terhadap dunia dan
ideologi, dan tanggung jawab manusia terhadap lainnya.
Nilai etika
PENGERTIAN
Nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan
individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.
Penilaian Etika itu di dasarkan pada beberapa factor yaitu :
1) Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat,
susila atau tidak susila.
2) Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah
mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya
dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti
sekian.
Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga) tingkat :
1) Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana
dalam hati, niat.
2) Tingkat Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
3) Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.
NILAI DALAM FILSAFAT
1) Nilai Logika : akal. Nilainya benar atau salah ex: perbuatan mencuri
2) Nilai Estetika : penglihatan. Nilainya indah atau Jelek ex:Lukisan Gadis Telanjang
3) Nilai Etika : tingkah laku. Nilainya baik atau buruk ex: goyang Dewi
PersikContoh : KODE ETIK PNS
2. HAM DALAM KESEHATAN

a.
b.

Hak Asasi Manusia Di Indonesia


Hak dan Kewajiban

c.

Hak dan Kewajiban dalam Profesi

a. Hak Asasi Manusia Di Indonesia


HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal
dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun.
Dasar Hukum H.A.M
UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
Ciri-ciri khusus
hakiki, artinya HAM sudah ada sejak lahir
Universal, HAM berlaku umum tanpa memandang status,suku bangsa, gender
tidak dapat dicabut, HAM tidak dapat diserahkan pada pihak lain
tidak dapat dibagi, semua orang mendapatkan semua hak, baik politik,ekonomi, sosbud.
Hak yang paling dasar meliputi
1. Hak Hidup
2. Hak Kemerdekaan /kebebasan
3. Hak memiliki sesuatu
Pengelompokan hak-hak dasar manusia meliputi:
1. hak sipil dan politik
a. hak hidup
b. hak persamaan dan kebebasan
c.kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat
d. kebebasan berkumpul
e. Hak beragama
2 . Hak ekonomi, sosial dan budaya
a. hak ekonomi
b. hak pelayanan kesehatan

c. hak memperoleh pendidikan


b. Hak (UU no 36 thn 2009 psl 4-8)
Setiap orang berhak atas:

1.
kesehatan.
2.
akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
3.
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
4.
menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.
5.
lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.
6.
informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung
jawab.
7.
informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan
pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
Kewajiban (UU no 36 thn 2009 psl 9-13)
mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik,
biologi, maupun sosial.
berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan
yang setinggi-tingginya.
menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung
jawabnya.
Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.
c. Hak dan Kewajiban dalam Profesi
Pasal 27
(1) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
(2) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
3 ALIRAN & PRINSIP - PRINSIP ETIKA KESEHATAN
a. ALIRAN-ALIRAN DALAM ETIKA

Aliran Deontologis: penilaian benar tidaknya suatu perbuatan atau baik tidaknya sesorg,tdk
perlu dilihat hasil akhirnya tetapi yang dinilai adalah perbuatan itu sendiri.
Immanuel kant seseorang berbuat baik karena rasional dan tidak dogmatis
Cth: org tdk mencuri bukan karna takut neraka tapi mencuri ad perbuatan buruk
Lanjutan
Aliran Teleologis(konsenkualis):Baik burukx seseorg dinilai dari tujuan hendak dicapai
Pembagiannya:
Aliran Ethical Egoism: wajib berbuat baik demi kepentingan pribadi
Aliran utilitarinism : wajib berbuat baik demi kepentingan umum dan masyarakat
Cth : merokok
b. PRINSIP-PRINSIP ETIKA(Hipcrates)
1. Tidak merugikan (non maleficence)
Cth: Pendapat dokter dlm pelayanan tdk dpt diterima pasien&keluargax sehingga jk
dipaksakan dpt merugikan pasien
2. Membawa Kebaikan (Beficence)
Cth:dokter memberi obat kanker tetapi mempunyai efek yg lain, maka dokter harus
mempertimbangkan secara cermat.
3. Menjaga Kerahasiaan (Confidentiality)
cth: tenaga kesehatan menjaga identitas kesehatan pasien jgn menyamp semuax jgn sampai
menghambat penyembuhanx
lanjutan
4. otonomi Pasien (autonomy Pasien) Cth: pasien berhak menentukan tindakan-tindakan
baru dpt dilakukan atas persetujuan dirinya
5. Berkata Benar (truth telling) Cth: tenaga kesehatan harus menyampaikan sejujurx
penyakit pasien namun tdk dpt diutarakan semua kecuali kpd keluargax
6. Berlaku adil (Justice) Cth: tenaga kesehatan tdk boleh diskriminatif dlm pelayanan
kesehatan
7. Menghormati Privasi (Privacy) Cth : TS tdk boleh menyinggung hal pribadi pasien dan
sebalikx

c. Etika kesehatan
Pengertian Etika Kesehatan
Menurut Leenen: suatu penerapan dari nilai kebiasaan (etika) terhadap bidang
pemeliharaan/pelayanan kesehatan.
Menurut Soerjono Soekanto: penilaian terhadap gejala kesehatan yang disetujui, dan juga
mencakup terhadap rekomendasi bagaimana bersikap tidak secara pantas dalam bidang
kesehatan.
Hubungan Etika Kesehatan dan hukum kesehatan

1.
Hukum kesehatan lebih diutamakan dibanding Etika kesehatan. Contoh:
(etiKes)Mantri dpt memberi suntikan tanpa ada dokter tp (Hkm kes) tdk
membenarkan ini.
2.
ketentuan hukum kesehatan dapat mengesampingkan etika tenaga
kesehatan. Contoh: kerahasian dokter(etika kedokteraan) jk terkait dgn mslh
hukum mk dikesampingkan
3.
Etika kesehatan lebih diutamakan dari etika dokter. Dokter dilarang
mengiklankan diri, tp dlm menulis artikel kesehatan tdk mslh(etika kesehatan)
Perbedaan Etika Kesehatan dan hukum kesehatan

1.
Etika kesehatan objeknya semata-mata dalam pelayanan kesehatan
sedangkan hukum kesehatan objeknya tdk hny hkm tp melihat nilai-nilai hidup
masyarakat.
2.
Hukum berlaku umum, etika kesehatan berlaku hanya dalam pelayanan
kesehatan
3.
Etika sifatnya tidak mengikat dan pelanggarannya tidak dapat dituntut
,hukum mengikat pelanggarnya dapat dituntut.
d.Etika Menurut Islam
Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa etika Islam amat humanistik dan rasionalistik.
Etika Islam menurut Al-Quran:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

keadilan,
kejujuran,
kebersihan,
menghormati orang tua,
bekerja keras,
cinta ilmu,

7.

dan lain-lain

Kejujuran (surat an-Nisaa)


e. Etika Penelitian
Persetujuan etika penelitian (PP No 39 tahun 1995 ttg penelitian dan pengembangan
kesehatan):
Persetujuan tertulis orang tua/ahli waris dapat dilakukan pada manusia yg diteliti:

1.
Tidak mampu melakukan tindakan hukum
2.
Karena keadaan kesehatan atau jasmaninya sama sekali tidak
memungkinkan dapat menyatakan persetujuan secara tertulis.
3.
Telah meninggal dunia, dalam hal jasadnya akan digunakan sebagaimana
objek penelitian dan pengembangan kesehatan.
Hak dan kewajiban responden
Hak-hak Responden

1.
Penghargaan kebebasan pribadi-nya
2.
Merahasiakan informasi yang diberikan
3.
Memperoleh jaminan keamanan dan keselamatan akibat dari informasi
yang diberikan
4.
Memperoleh imbalan dan kompensasi
Kewajiban responden
Memberikan informasi yang diperlukan peneliti
Hak dan kewajiban peneliti
Hak responden
Memperoleh informasi yang dibutuhkan sejujur-jujurnya
Kewajiban peneliti

1.
2.
3.

Menjaga kerahasian responden


Menjaga privacy responden
Memberikan kompensasi
4 KODE ETIK PROFESI

a.

Kode Etik

b.
c.

Fungsi Kode Etik Profesi


Standar Profesi

Seperangkat kaidah perilaku yang diharapkan dan dipertanggung jawabkan dalam


melaksanakan tugas pengabdian kepada bangsa, negara, masyarakat dan tugas-tugas
organisasinya serta pergaulan hidup sehari-hari dan individu-individu dalam masyarakat.
SIFAT DAN SUSUNAN KODE ETIK
Kode etik harus memiliki sifat-sifat antara lain
(1) Harus rasional,
(2) harus konsisten, tetapi tidak kaku, dan
(3) harus bersifat universal.
Kode etik profesi terdiiri atas

1.
2.
3.

aturan kesopanan dan


aturan kelakuan dan
sikap antara para anggota profesi.

b. Fungsi Kode Etik Profesi


Biggs dan Blocher ( 1986 : 10) mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu :

1.
2.
3.

Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah.


Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.
Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.

c. ciri Profesi, yaitu :


1) Memberikan pelayanan (service) pada orang segera langsung (yang umumnya bersifat
konfidental).
2) Menempuh pendidikan tertentu dengan melalui ujian tertentu sebelum melakukan
pelayanan.
3) Anggotanya yang relatif homogen.
4) Menerapkan standar pelayanan tertentu.
5) Etik profesi yang ditegakkan oleh suatu organisasi profesi.
Kualifikasi suatu pekerjaan sebagai sutau profesi adalah :

1) Mensyaratkan pendidikan teknis yang formal mengenai adekuasi pendidikannya


mmmaupun mengenai kompetensi orang-orang hasil didikannya.
2) Penguasaan tradisi kultural dalam menggunakan keahlian tertentu serta keterampilan
dalam penggunaan tradisi.
3) Komplek okupasi/pekerjaan memiliki sejumlah sarana institusional
kaidah-kaidah pokok etika profesi sebagai berikut :
1) Profesi harus dipandang dan dihayati sebagai suatu pelayanan,.
2) Pelayanan professional dalam mendahulukan kepentingan pasien atau klien mengacu
pada kepentingan atau nilai-nilai luhur
3) Pengembanan profesi harus selalu mengacu pada masyarakat sebagai keseluruhan.
4) Agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat
5. KODE ETIK KESEHATAN MASYARAKAT
a. Kode Etik Dokter
Hak dan kewajiban dokter , berkaitan erat dengan transaksi terapeutik
Transaksi terapeutik : terjadinya kontrak antara dokter dengan pasien
STANDAR PROFESI MEDIS
Prof.Dr.Mr.H.J.J Leenen pakar hukum kesehatan dari Belanda
1) Berbuat secara teliti dan seksama dkaitkan kelalaian/culpa tdk teliti/tdk berhati-hati
unsur kelalaian terpenuhi , sangat tdk teliti/hati2 : culpa lata
2) Sesuai standar ilmu medik
3) Kemampuan rata2 yg sama
4) Situasi dan kondisi yg sama
5) Sarana upaya yg sbanding/proposional
STANDAR PROFESI MEDIS
Prof Mr.W.B Van der Mijn
Seorang tenaga kesehatan harus berpedoman pada :
1. Kewenangan

2. Kemampuan rata-rata
3. Ketelitian umum.
Unsur tindakan medis
1. Dilakukan oleh dokter yang sudah lulus
2. Kepada pasien harus diberikan informasi yang sejelas jelasnya dan menyetujui
dilakukannya tindakan medis tersebut .
3. Harus ada indikasi medis yang merupakan titik awal dari segala tindakan medis
selanjutnya
4. Sang dokter harus dapat merumuskan tujuan pemberian pengobatannya, disamping juga
harus mempertimbangkan alternatif lain selain yang dipilihnya
5. Segala tindakannya harus selalu ditujukan kepada kesejahteraan pasiennya
HAK DOKTER
Menurut psl 50 UU No.29 Th 2004
1) memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar
profesi medis dan standar prosedur operasional;
2) memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional;
3) memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya ;
4) menerima imbalan jasa
KEWAJIBAN KEWAJIBAN DOKTER
AEGROTI SALUS LOX SUPREME keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi
( utama ) .
Menurut Leenen :
1) Kewajiban yang timbul dari sifat perawatan medis dimana dokter harus bertindak
sesuai dengan standar profesi medis atau menjalankan praktek kedokterannya
2) Kewajiban untuk menghormati hak hak pasien yang bersumber dari hak - hak asasi
dalam bidang kesehatan
3) Kewajiban yang berhubungan dengan fungsi sosial pemeliharaan kesehatan
UU KESEHATAN No.23 Th 2003

Pasal 50 dan 51
1) Tenaga kesehatan menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan
keahlian dan kewenangannya
2) Mematuhi standar profesi medis dan menghormati hak pasien .
HAK PASIEN
UU No. 23 Th 1992 ttg Kesehatan psl 53 (2)
1. Hak atas informasi
2. Hak memberikan persetujuan
3. Hak atas rahasia kedokteran
4. Hak atas pendapat ke 2 ( second opinion)
HAK PASIEN
UU Pradoks psl 52
1.Mendapat penjelasan secara lengkap ttg tindakan medis
2.Meminta pendapat dr/drg lain
3.Mendapat pelayanan sesuai dng kebutuhan medis
4.Mendapat isi rekam medis
Kewajiban pasien
UU No.29 Th 2004 (PRADOKS)
Pasal 53
1.Memberi informasi yg lengkap dan jujur ttg masalah kesehatannya
2.Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter/dokter gigi
3.Mematuhi ketentuan yg berlaku di sarana pelayanan kesehatan
4.Memberi imbalan jasa atas pelayanan yg diterima
a. Kode Etik perawat
a. Kode Etik bidan
b.Kode Etik Kesehatan &Keselamatan Kerja

c. Kode Etik Sanitarian(Ahli Kes. Lingkungan)


1) menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan profesi sanitasi dengan sebaikbaiknya.
2) melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.
3) tidak boleh dipengaruhi sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan
kemandirian profesi.
4) menghindarkan din dan perbuatan yang bersifat memuji din sendiri.
5) berhati-hati dalam menerapkan setiap penemuan teknik atau cara baru yang belum
teruji kehandalannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Lanjutan
6) memberi saran atau rekomendasi yang telah melalul suatu proses analisis secara
komprehensif.
7) memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dengan menjunjung tinggi kesehatan dan
keselamatan manusia, serta kelestarian lingkungan.
8) bersikap jujur dalam berhubungan dengan klien atau masyarakat dan teman
seprofesinya, dan berupaya untuk mengingatkan teman seprofesinya.
9) hak-hak klien atau masyarakat, hak-hak teman seprofesi, dan hak tenaga kesehatan
lainnya, dan harus menjaga kepercayaan klien atau masyarakat.
10) memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan seluruh aspek kesehatan
lingkungan secara menyeluruh, daN menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang
sebenar-benarnya.
11) bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta
masyarakat, harus saling menghormati.
d. Kode Etik Ahli Gizi
1. meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan. kecerdasan
dan kesejahteraan rakyat
2.menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan budi
luhur serta tidak mementingkan diri sendiri
3.menjalankan profesinya menurut standar profesi yang telah ditetapkan.
4.menjalankan profesinya bersikap jujur, tulus dan adil.
5.menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan, informasi terkini,.

Lanjutan
6. mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan fihak lain
atau membuat rujukan bila diperlukan
7. melakukan profesinya mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban
senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya.
8. berkerjasama dengan para profesional lain di bidang kesehatan maupun lainnya
berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya.
9. membantu pemerintah dalam melaksanakan upaya-upaya perbaikan gizi masyarakat.
e.Penyuluh kesehatan masyarakat
Profesi PKM (Health Education Specialis) adalah seseorang yang menyelenggarakan
advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat melalui penyebarluasan informasi,
membuat rancangan media, melakukan pengkajian/penelitian perilaku masyarakat yang
berhubungan dengan kesehatan, serta merencanakan intervensi dalam rangka
mengembangkan perilaku masyarakat yang mendukung kesehatan.
Kode Etik Profesi PKM.

1.
Menunjukkan secara seksama kemampuan sesuai dengan pendidikan,
pelatihan dan pengalaman, serta bertindak dalam batas-batas kecakapan yang
profesional.
2.
mempertahankan kecakapan pada tingkatan tinggi melalui belajar,
lelatihan, dan penelitian berkesinambungan.
3.
Melaporkan hasil penelitian dan kegiatan praktik secara jujur dan
bertanggung jawab.
4.
Tidak membeda-bedakan individu berdasrkan ras, warna kulit, bangsa,
agama, usia, jenis kelamin, status social ekonomi dalam menyumbangkan
pelayanan-pekerjaan, pelatihan atau dalam meningkatkan kemajuan orang lain.
5.
Menjaga kemitraan klien ( individu, kelompok, institusi) yang dilayani.
Kode Etik Profesi PKM.

6.
Menghargai hak pribadi (privacy), martabat (dignity), budaya dan harga
diri setiap individu, dan menggunakan keterampilan yang didasari dengan nilainilai secara konsisten.
7.
Membantu perubahan berdasarkan pilihan, bukan paksaan.
8.
Mematuhi prinsip informed consent sebagi penghargaan terhadap klien.
9.
Membantu
perkembangan
suatu
tatanan
pendidikan
yang
mengasuh/memelihara pertumbuhan dan perkembangan individu.

10. Bertanggung jawab untuk menerima tindakan/hukuman selayaknya sesuai


dengan pertimbangan mal praktek yang dilakukan.
Terakhir..
6 PROBLEMATIKA KODE ETIK KESMAS

a.
b.
c.

Penegakan kode etik


Faktor penghambat kode etik
Peradilan dalam profesi

a. Penegakan kode etik


Bentuk Penegakan kode etik
1. Pelaksanaan kode etik
2. Pengawasan kode etik
3. Penjatuhan saksi kode etik
Menurut Noto Hamidjo 4 norma dalam penegakan kode etik:
1) kemanusiaan
2) Keadilan
3) Kepatutan
4) kejujuran
Sanksi kode etik
1) Teguran baik lisan maupun tulisan
2) Mengucilkan pelanggar dari kelompok profesi
3) Memberlakukan tindakan hukum dengan sanksi keras
b.Faktor penghambat kode etik

1.
2.
3.
4.

Pengaruh Sifat Kekeluargaan


Pengaruh jabatan
Pengaruh konsumerisme
Karena lemah iman

c. Peradilan dalam profesi

1.
2.
3.
4.
5.

Peradilan profesi dipimpin komisi etik


Komisi etik terdiri 3 orang dan dipimpin oleh pimpinan profesi
Pelanggar etik didampingi penasehat etik.
Pelanggaran kode etik disampaikan oleh penuntut kode etik
Putusan pelanggaran kode etik ditetapkan oleh komisi etik.

Mekanisme persidangan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pemanggilan pelanggar kode etik


Pemeriksaan kode etik
Persidangan kode etik
Penyampaian bentuk pelanggaran dan sanksi yang dikenakan
Pembelaan oleh pelanggar kode etik
Pembuktian
Putusan

.4. Kebijaksanaan dan nilai-nilai


ISSUE ETIK DALAM PELAYANAN KEBIDANAN A. PENGERTIAN
Issue adalah suatu berita yang tidak belum tentu benar
kerjasamanya, dimana berita itu bisa benar atau salah. Issue
dapat menimbulkan pro dan kontra terhadap suatu hal, yang
masing-masing memiliki argumentasi/issue merupakan topic
yang menarik untuk di diskusikan, argumentasi yang timbul
akan bervariasi, issue muncul karena adanya perbedaan
nilai-nilai dan kepercayaan.Isu merupakan gosip atau kabar
yang belum pasti, bukan merupakan kenyataan dan lebih
kearah negatif. Etik atau Etika berasal dari bahasa yunani
dari kata Ethos yang berarti kebiasaan kebiasaan atau
tingkah laku manusia.dalam bahasa inggris disebut
Ethisyang mempunyai pengertian sebagai ukuran tingkah
laku atau peri laku manusia yang baik,yakni tindakan yang
tepat,yang harus dilaksanakan manusia sesuai dengan moral
pada umumnya. Istilah etik yang kita gunakan sehari-hari
pada hakikatnya berkaitan dengan falsafah,dan moral yaitu
mengenai apa yang dianggap baik atau buruk dimasyarakat

dalam kurun waktu tertentu,ssuai dengan perubahan /


perkembangan norma/nilai.dikatakan kurun waktu
tertentu,karena etik dan moral bisa berubah dengan
lewatnya waktu.Etik sebagai kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak, nilai benar dan salah yang dianut
suatu organisasi atau masyarakat Kebidanan adalah seni dan
praktek yang mengkombinasikan keilmiahan, filosofi dan
pendekatan pada manusia sebagai syarat atau ketetapan
dalam pemeliharaan kesehatan wanita dan proses
reproduksinya yang normal, termasuk kelahiran bayi yang
mengikutsertakan keluarga dan atau orang yang berarti
lainnya. (Lang,1979.) Jadi issue etik adalah topic yang cukup
penting untuk dibicarakan sehingga mayoritas individu akan
mengeluarkan opini terhadap masalah tersebut sesuai
dengan asas ataupun nilai yang berkenaan dengan akhlak,
niali benar salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat. Di dalam pelayanan kebidanan seringkali
muncul masalah atau isu di masyarakat yang berkaitan
dengan etik dan moral, dilema serta konflik yang dihadapi
bidan sebagai praktisi kebidanan. B. ISTILAH ETIK DALAM
MASALAH KEBIDANAN Sebelum melihat masalah etik yang
mungkin timbul dalam pelayanan kebidanan,maka ada
baiknya dipahami beberapa istilah berikut ini : 1. legislasi
(liebberman, 1970) ketetapan hukum yang mengatur hak
dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan
tindakan. 2. lisensi: pemberian ijin praktek sebelum
diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah
ditetapkan.tujuannya untuk membatasi pemberian
kewenangan dan untuk meyakinkan klien. 3.
deontologi/tugas:keputusan yang diambil berdasarkan
keterikatan/hubungan dengan tugas.dalam pengambilan
keputusan,perhatian utama pada tugas. 4. hak. Keputusan
berdasarkan hak seseorang yang tidak dapat diganggu.hak
berbeda dengan keinginan,kebutuhan dan kepuasan. 5.

instutionist :keputusan diambil berdasarkan pengkajian dari


dilema etik dari kasus per kasus.dalam teori ini ada beberapa
kewajiban dan peraturan yang sama pentingnya. 6.
beneficience keputusan yang diambil harus selalu
menguntungkan klien. 7. mal-eficience:keputusan yang
diambil merugikan pasien. 8. malpraktek/lalai: gagal
melakukan tugas/kewajiban kepada klien. Tidak
melaksanakan tugas sesuai dengan estndar Melakukan
tindakan yang mencederai klien. Klien cidera karena
kegagalan melaksanakan tupc 9. mal praktek terjadi
karena : Ceroboh Lupa Gagal mengkomunikasikan
Bidan sebagai petugas kesehatan sering berhadapan dengan
masalah etik yang berhubungan dengan hukum.sering
masalah dapat diselesaikan dengan hukum,tetapi belum
tentu dapat diselesaikan berdasarkan prinsip-prinsip dan
nilai-nilai etik. C. CONTOH KASUS ISSUE ETIK DALAM
PELAYANAN KEBIDANAN Issue etik yang terjadi antara bidan
dengan klien, keluarga dan masyarakat Issue etik yang
terjadi antara bidan dengan klien, keluarga dan masyarakat
mempunyai hubungan erat dengan nilai manusia dalam
menghargai suatu tindakan. Seorang bidan dikatakan
profesional bila ia mempunyai kekhususan sesuai dengan
peran dan fungsinya yang bertanggung jawab menolong
persalinan. Dengan demikian penyimpangan etik mungkin
saja akan terjadi dalam praktek kebidanan misalnya dalam
praktek mandiri, bidan yang bekerja di RS, RB atau institusi
kesehatan lainnya. Dalam hal ini bidan yang praktek mandiri
menjadi pekerja yang bebas mengontrol dirinya sendiri.
Situasi ini akan besar sekali pengaruhnya terhadap
kemungkinan terjadinya penyimpangan etik. Kasus Di
sebuah desa, ada seorang bidan yang sudah membuka
praktek kurang lebih selama satu tahun. Pada suatu hari
datang seorang klien bernama Ny A usia kehamilan 38
minggu dengan keluhan perutnya terasa kenceng kenceng

sejak 5 jam yang lalu. Setelah dilakukan VT, didapatkan hasil


pembukaan 3 dan ternyata janin dalam keadaan letak
sungsang. Oleh karena itu bidan menyarankan agar di Rujuk
ke Rumah Sakit untuk melahirkan secara operasi SC. Namun
keluarga klien terutama suami menolak untuk di Rujuk
dengan alasan tidak punya biaya untuk membayar operasi.
Tapi bidan tersebut berusaha untuk memberi penjelasan
bahwa tujuan di Rujuk demi keselamatan janin dan juga
ibunya namun jika tetap tidak mau dirujuk akan sangat
membahayakan janin maupun ibunya. Tapi keluarga
bersikeras agar bidan mau menolong persalinan tersebut.
Sebenarnya, dalam hal ini bidan tidak yakin bisa berhasil
menolong persalinan dengan keadaan letak sungsang seperti
ini karena pengalaman bidan dalam hal ini masih belum
begitu mendalam. Selain itu juga dengan di Rujuk agar
persalinan berjalan dengan lancar dan bukan kewenangan
bidan untuk menolong persalinan dalam keadaan letak
sungsang seperti ini. Karena keluarga tetap memaksa,
akhirnya bidan pun menuruti kemauan klien serta keluarga
untuk menolong persalinan tersebut. Persalinan berjalan
sangat lama karena kepala janin tidak bisa keluar. Setelah
bayi lahir ternyata bayi sudah meninggal. Dalam hal ini
keluarga menyalahkan bidan bahwa bidan tidak bisa bekerja
secara profesional dan dalam masyarakatpun juga tersebar
bahwa bidan tersebut dalam melakukan tindakan sangat
lambat dan tidak sesuai prosedur. KONFLIK : keluarga
terutama suami menolak untuk di rujuk ke Rumah sakit dan
melahirkan secara operasi SC dengan alasan tidak punya
biaya untukmembayar operasi. ISSU : Di mata masyarakat,
bidan tersebut dalam pelayanan atau melakukantindakan
tidak sesuai prosedur dan tidak profesioanl. Selain itu juga
masyarakat menilai bahwa bidan tersebut dalam menangani
pasiendengan kelas ekonomi rendah sangat lambat atau
membeda-bedakan antara pasien yang ekonomi atas dengan

ekonomi rendah. DILEMA : Bidan merasa kesulitan untuk


memutuskan tindakan yang tepat untukmenolong persalinan
Resiko Tinggi. Dalam hal ini letak sungsang seharusnya tidak
boleh dilakukan oleh bidan sendiri dengan keterbatasan alat
dan kemampuan medis. Seharusnya ditolong oleh Dokter
Obgyn, tetapi dalam hal ini diputuskan untuk menolong
persalianan itu sendiri dengan alasan desakan dari kelurga
klien sehingga dalam hatinya merasa kesulitan untuk
memutuskan sesuai prosedur ataukah kenyataan di
lapangan. Issue etik yang terjadi antara bidan dan teman
sejawat Kasus Di suatu desa yang tidak jauh dari kota
dimana di desa tersebut ada dua orang bidan yaitu bidan A
dan bidan B yang sama sama memiliki BPS dan ada
persaingan di antara dua bidan tersebut.Pada suatu hari
datang seorang pasien yang akan melahirkan di BPS bidan
B yang lokasinya tidak jauh dengan BPS bidan A. Setelah
dilakukan pemeriksaan ternyata pembukaan masih belum
lengkap dan bidan B menemukan letak sungsang dan bidan
tersebut tetap akan menolong persalinan tersebut meskipun
mengetahui bahwa hal tersebut melanggar wewenang
sebagai seorang bidan demi mendapatkan banyak pasien
untuk bersaing dengan bidan A.Sedangkan bidan A
mengetahui hal tersebut. Jika bidan B tetap akan menolong
persalinan tersebut,bidan A akan melaporkan bidan B
untuk menjatuhkan bidan B karena di anggap melanggar
wewenang profesi bidan. ISSU MORAL: seorang bidan
melakukan pertolongan persalinan normal. KONFLIK MORAL:
menolong persalinan sungsang untuk nendapatkan pasien
demi persaingan atau dilaporkan oleh bidan A. DILEMA: 1.
Bidan B tidak melakukan pertolongan persalinan sungsang
tersebut namun bidan kehilangan satu pasien. 2. Bidan B
menolong persalinan tersebut tapi akan dijatuhkan oleh
bidan A dengan di laporkan ke lembaga yang berwenang.
Issu Etik Bidan Dengan Organisasi Profesi PENGERTIAN: Issu

etik bidan dengan organisasi profesi adalah topic yang


dibicarakan oleh suatu forum , mengenai baik ataupun
buruknya suatu hal, atau tindakan yang perlu diambil atau
tidak dalam suatu masalah. Kasus1 Seorang Bidan yang
ditempatkan di Desa pelosok ( terpencil ) telah lama
bertugas didaerah tersebut, dan sudah mendapatkan
kepercayaan dari masyarakat di Desa tersebut.Namun Bidan
tersebut masih BIdan P2B sedangkan untuk saat ini seorang
bidan diharuskan minimal D3 kebidanan , karena jarak Desa
ke kota ke tempat pendidikan yang jauh & bidan juga sudah
merasa banyak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat
nya bidan tersebut tidak melanjutkan ke D3 kebidanan.
Karena tanpa melanjutkan pun masyarakat juga sudah
banyak yang mempercayai pelayanannya dan hampir semua
ibu bersalin didaerah tersebut yang mempercayakan
pertolongan persalinan pada bidan itu. DILEMA: Bidan
merasa sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari
masyarakat di tempat dia Praktek. Sehingga ia merasa tidak
perlu melanjutkan pendidikannya ke D3 kebidanan. Di sisi
lain Bidan mendapatkan tuntutan dari organisasi profesi
untuk melanjutkan pendidikan D3 kebidanan. ISSUE ETIK:
Bidan yang tidak mempunyai surat ijin ( ILEGAL ) dan belum
menjadi Anggota IBI. Kasus2 Seorang ibu yang ingin bersalin
di BPS pada bidan A sejak awal kehamilan ibu tersebut
memang sudah sering memeriksakan kehamilannya. Menurut
hasil pemeriksaan bidan Ibu tersebut mempunyai riwayat
hipertensi. Maka kemungkinan lahir pervaginanya sangat
beresiko. Saat persalinan tiba tekanan darah ibu menjadi
tinggi. Jika tidak dirujuk maka beresiko terhadap janin dan
kondisi si Ibu itu sendiri. Resiko pada janin bisa terjadi gawat
janin dan perdarahan pada ibu. Bidan A sudah mengerti
resiko yang akan terjadi. Tapi ia ebih mementingkan egonya
sendiri karena takut kehilangan komisinya dari pada dirujuk
ke rumah sakit. Setelah janin lahir Ibu mengalami

perdarahan hebat, sehingga kejang-kejang dan meninggal.


Saat berita itu terdengar organisasi profesi ( IBI ), maka IBI
memberikan sanksi yang setimpal bahwa dari
kecerobohannya sudah merugikan orang lain. Sebagai
gantinya, ijin praktek ( BPS ) bidan A dicabut dan dikenakan
denda sesuai dengan pelanggaran tersebut. Issue etik : 1.
Terjadi malpraktek pelanggaran wewenang bidan Dilema
etik : Warga yang mengetahui hal tersebut segera
melaporkan kepada organisasi profesi dan diberikan AMP
Issu Etik Bidan Dengan Team Kesehatan Lain PENGERTIAN
Pengertian yaitu perbedaan sikap etika yang terjadi pada
bidan dengan tenaga medis lainnya. Sehingga menimbulkan
ketidak sepahaman atau kerenggangan social. Kasus1
Disuatu desa yang ada sebuah BPS suatu hari ada seorang
Ibu berusia 35 Tahun keadaannya sudah lemah bidan
menanyakan kepada keluarga pasien apa yang terjadi pada
pasien. Dan suami pasien menjawab ketika dirumah Px jatuh
& terjadi perdarahan hebat.Setelah bidan pertolongan ,
memberikan infuse dst. Bidan menjelaskan pada keluarga
agar istrinya di bawa ke rumah sakit untuk dilakukan
curretase.Kemudian keluarga px menolak saran bidan tsb
dan meminta bidan yang melakukan currentase selang waktu
2 hari px mengalami perdarahan lagi kemudian keluarga
merujuk ke RS.Dokter menanyakan kapeda suami px , apa
yang sebenarnya terjadi dan suami px menjelaskan bahwa 3
hari yang lalu istrinya mengalami keguguran & di currentase
bidan didesanya & dokter mendatangi bidan tsb. Terjadilah
konflik antara bidan & dokter. ISSUE ETIK : Mall Praktek
Bidan melakukan tindakan diluar wewenangnya. KONFLIK :
bidan melakukan currentase diluar wewenangnya sehingga
terjadilah konflik antara bidan & dokter. DILEMA : jika tidak
segera dilakukan tindakan takut merenggut nyawa px karena
BPS jauh dari RS.Dan jika dilakukan tindakan bidan merasa
melanggar kode etik kebidanan & merasa melakukan

tindakan diluar wewenangnya. Kasus2 Suatu hari ada


seorang ibu bersama suaminya kebidan F ibu datang
kebidan bertujuan untuk suntik KB. Ibu awalnya memakai KB
suntik 1 bulan tapi ibu meminta ke bidan F untuk
mengganti Kb suntik 3 bulan sekali, setelah itu bidan F
menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi apabila
berganti KB suntik 1 bulan sekali ke suntik KB 3 bulan sekali.
Apabila tidak cocok akan mengalami perdarahan ibu dan
suaminya menyetujui. Bidan pun memberikan suntikan KB 3
bulan itu ke Ibu tersebut. Dua bulan kemudian , ibu datang
bersama suaminya, dengan keluhan keluar darah lumayan
banyak dari vaginanya. Ibu terlihat pucat dan lemas, Bidan
F menjelaskan kepada bapak dan ibu tersebut bahwa KB
suntik 3 bulan sekali itu tidak cocok untuk Ibu dan Ibu
tersebut dibaringkan ditempat tidur. Suami ibu tersebut
meminta ke bidan diberikan obat agar darah yang keluar
sedikit berkurang, tapi bidan F tidak memberikan dengan
alasan agar tidak terjadi penyakit. Setelah beberapa menit
darah yang keluar dari vagina Ibu semakin banyak, sehingga
Bidan merujuk ke dokter. Sesampainya ke dokter Ibu
tersebut Syok sehingga dokter memberikan vitamin K peroral
dengan kejadian itu bidan ditegur oleh dokter. ISSUE ETIK:
kesalahan seorang bidan sehingga menimbulkan pelanggaran
komplikasi DILEMA = Bidan dapat dilporkan ke puskesmas
Kasus3 Seorang Ibu primigavida beerusia 3 tahun dan usia
kehamilannya 32 minggu tengah mengalami kontaksi Dia
segera mendatangi Bidan. Ternyata Ibu tersebut mengalami
KPD ( Ketuban Pecah Dini ) dan kondisi Ibu sangat parah
bidan berusaha unutk menolong peralinan tersebut. Setelah
kondisi Ibusemakin lama semakin maurun baru bidan
merujuk Ibu ke RS setelah diperiksa oleh dokter ternyata
bayi sudah meninggal didalam kandungan sebelum
dilahirkan. Akhirnya bidan tersebut ditegur oleh dokter,
dikarenakan bidan lali tidak segera merujuk . akhirnya bidan

tersebut diberi sanksi dari IBI. ISSUE ETIK: kelalaian


seorang Bidan sehingga menimbulkan malpraktek. DILEMMA
ETIK : Bidan terancam dicabut izin prakteknya dan Bidan
tidak dipercaya lagi oleh masyarakat D. MENGHADAPI
MASALAH ETIK DALAM PRAKTEK KEBIDANAN Bidan dikataka
profesional bila dapat menerapkan etika dalam menjalankan
praktik. Bidan ada dalam posisi baik yaitu memfasilitasi
pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan
tentang etika untuk menetapkan dalam strategi praktik
kebidanan 1. Informed choice Informed choice adalah
membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentan
alternatif asuhan yang akan dialaminya.Menurut kode etik
kebidanan internasionl (1993) bidan harus menghormati hak
informed choice ibu dan meningkatkan penerimaan ibu
tentang pilihan dalam asuhan dan tanggungjawabnya
terhadap hasil dari pilihannya Definisi informasi dalam
konteks ini meliputi : informasi yang sudah lengkap diberikan
dan dipahami ibu, tentang pemahaman resiko, manfaat,
keuntungan dan kemungkinan hasil dari tiap
pilihannya.Pilihan (choice) berbeda dengan persetujuan
(consent) : a. Persetujuan atau consent penting dari sudut
pandang bidan karena berkaitan dengan aspek hukum yang
memberikan otoritas untuk semua prosedur yang akan
dilakukan bidan b. Pilihan atau choice penting dari sudut
pandang klien sebagai penerima jasa asuhan kebidanan,
yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang
sesungguhnya dan menerapkan aspek otonomi pribadi
menentukan pilihannya sendiri 2. Bagaimana Pilihan Dapat
Diperluas dan Menghindari Konflik Memberi informasi yang
lengkap pada ibu, informasi yang jujur, tidak bisa dan dapat
dipahami oleh ibu, menggunakan alternatif media ataupun
yang lain, sebaiknya tatap muka.Bidan dan tenaga kesehatan
lain perlu belajar untuk membantu ibu menggunakan haknya
dan menerima tanggungjawab keputusan yang diambil.Hal

ini dapat diterima secara etika dan menjamin bahwa tenaga


kesehatan sudah memberikan asuhan yang terbaik dan
memastikan ibu sudah diberikan informasi yang lengkap
tentang dampak dari keputusan mereka Untuk pemegang
kebijakan pelayanan kesehatan perlu merencanakan,
mengembangkan sumber daya, memonitor perkembangan
protokol dan petunjuk teknis baik di tingkat daerah, propinsi
untuk semua kelompok tenaga pemberi pelayanan bagi
ibu.Menjaga fokus asuhan pada ibu dan evidence based,
diharapkan konflik dapat ditekan serendah mungkin. Tidak
perlu takut akan konflik tetapi mengganggapnya sebagai
sutu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu
penilaian ulang yang obyektif bermitra dengan wanita dari
sistem asuhan dan tekanan positif pada perubahan 3.
Beberapa Jenis Pelayanan Yang Dapat Dipilih Klien Bentuk
pemeriksaan ANC dan skrening laboratorium ANC Tempat
melahirkan Masuk ke kamar bersalin pada tahap awal
persalinan Di dampingi waktu melahirkan Metode monitor
djj Augmentasi, stimulasi, induksi Mobilisasi atau posisi
saat persalinan Pemakaian analgesia Episiotomi
Pemecahan ketuban Penolong persalinan Keterlibatan
suami pada waktu melahirkan Teknik pemberian minuman
pada bayi Metode kontrasepsi

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang

Keperawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan


yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik
kepada individu, keluarga dan masyarakat.Sebagai salah
satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan
melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan
mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang
dapat dipertanggung jawabkan.Dimana ciri sebagai profesi
adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji
kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan
kepada masyarakat langsung.
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud
adalah bentuk implementasi praktek keperawatan yang
ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu,
keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan
kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan
memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit,
dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.
Dalam praktiknya sehari-hari perawat berhubungan dengan
pasien (manusia unik) yang beraneka ragam dengan status
kesehatan dan permasalahan yang berbeda-beda. Oleh
karena itu, kadang-kadang perawat juga perlu mengambil

andil dalam pemberian alternatif untuk pemecahan masalah.


Kadangkala dalam sebuah permasalahan terdapat masalah
yang sangat membingungkan yang disebut masalah etika
atau dilema etik dimana dalam pembuatan keputusan tidak
ada yang benar dan salah sehingga membuat perawat
menjadi bingung. Beberapa dilema etik yang sering dialami
perawat ialah euthanasia, aborsi, bersikap jujur dan lainlain.
Berdasarkan latar belakang diatas kami mebuat makalah
tentang pemecahan masalah etik agar para perawat bisa
membuat keputusan yang paling baik untuk pasiennya.

Tujuan : untuk mengetahui


apa itu etika keperawatan?
apa itu dilema etik?
prinsip-prinsip moral dalam keperawatan?
Apa saja masalah etika keperawatan?
Konsep pemecahan dilema etik atau masalah etik

BAB 2

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Kata etika berasal dari kata yunani, yaitu ethos, yang
berhubungan dengan pertimbangan pembuat keputusan,
benar atau tidaknya suatu perbuatan karena tidak ada
undang-undang atau peraturan yang menegaskan hal yang
harus dilakukan.
Keperawatan adalah pelayanan vital terhadap manusia yang
menggunakan manusia juga, yaitu perawat. Perawat harus
membiasakan diri untuk menerapkan kode etik yang
memberi Gambaran tanggung jawabnya dalam praktik
keperawatan.
Keperawatan merupakan bentuk asuhan keperawatan kepada
individu, keluarga dan masyarakat berdasarkan ilmu dan
seni dan mempunyai hubungan perawat dan pasien sebagai
hubungan professional (kozier,1991).
Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip yang
diyakini oleh profesi keperawatan dalam melaksanakan
tugasnya yang berhubungan dengan
pasien,masyarakat,hubungan perawat dengan teman sejawat
maupun dengan organisasi profesi dan juga dalam

pengaturan praktik keperawatan itu sendiri (berger dan


williams,1999). Etika keperawatan merupakan suatu acuan
dalam melaksanakan praktik keperawatan. Etika
keperawatan berguna untuk pengawasan terhadap
kompetensi profesional, tanggung jawab, tanggung gugat,
dan untuk pengawasan umum dari nilai positif profesi
keperawatan (berger dan williams,1999)
Kadang-kadang perawat dihadapkan pada situasi yang
memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan. Perawat
memberi asuhan kepada klien, keluarga, dan masyarakat;
menerima tanggung jawab untuk membuat keadaan
lingkungan fisik, sosial dan spiritual yang memungkinkan
untuk penyembuhan; dan menekankan pencegahan
penyakit;serta meningkatkan kesehatan dengan penyuluhan
kesehatan. Pelayanan kepada umat manusia merupakan
fungsi utam a perawat dan dasar adanya profesi
keperawatan. Kebutuhan pelayanan keperawatan adlah
universal. Peyanan profesional berdasarkan kebutuhan
manusia tanpa membedakan kebangsaan,warna kulit, politik,
status sosial, dan lain-lain.
Keperawatan sebagai suatu pelayanan profesional bertujuan
untuk tercapainya kesejahteraan manusia. Etika profesi

keperawatan adalah filsafat yang mengarahkan tanggung


jawab moral yang mendasari pelaksanaan praktik
keperawatan.
Etik profesi keperawatan adalah kesadaran dan pedoman
yang mengatur nilai-nilai moral di dalam melaksanak
kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas
profesi keperawatan tetap terjaga dengan cara yang
terhormat. Etik keperawatan merupakan kesadaran dan
pedoman yang mengatur prinsip-psrinsip moral dan etik
dalam melaksanakn kegiatan profesi keperawatan, sehingga
mutu dan kualitas profesi keperawatan tetap terjaga dengan
cara yang terhormat.
Menurut american ethics commision bureau on teaching,
tujuan etika profesi keperawatan adalah mampu:
1. Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dalam
praktik keperawatan
2. Membentuk strategi/cara dan menganalisis masalah
moral yang terjadi dalam praktik keperawatan
3. Menghubungkan prinsip moral/pelajaran yang baik dan
dapat dipertanggungjawabkan pada diri sendiri,

keluarga, masyarakat, dan kepada tuhan, sesuai dengan


kepercayaannya
Standar etik merupakan panduan untuk prilaku moral. Orang
yang memberikan layanan kesehatan bersedia secara
sukarela untuk mengikuti standar ini.
Perilaku etik dapat dibagi menjadi dua kelompok yitu
sebagai berikut:
etik yang berorientasi kepada kewajiban
etik yang berorientasi kepada larangan
Enam asas etik yang tidak akan berubah dalam etik profesi
kedokteran atau keperawatan dan asuhan keperawatan
adalah sebagai berikut;
-

Asas menghormati otonomi klien (autonomy)

Asas manfaat (beneficence)

Asas tidak merugikan (non-maleficence)

Asas kejujuran (veracity)

Asas kerahasiaan (confidentiality)

Asas keadilan (justice)

Menurut Thompson dan Thompson (1985), dilema etik


merupakan suatu masalah yang sulit untuk diputuskan,
dimana tidak ada alternative yang memuaskan atau suatu
situasi dimana alternative yang memuaskan dan tidak
memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang
benar atau salah. Dan untuk membuat keputusan etis,
seseorang harus bergantung pada pemikiran yang rasional
dan bukan emosional. Kerangka pemecahan dilema etik
banyak diutarakan oleh beberapa ahli yang pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan dengan
pemecahan masalah secara ilmiah.(sigman, 1986; lih.
Kozier, erb, 1991).
1. A.

MASALAH ETIKA DALAM PRAKTIK

KEPERAWATAN
Berbagai permasalahan etis yang dihadapi perawat dalam
praktik keperawatan telah menimbulkan konflik antara
kebutuhan pasien dengan harapan perawat dan falsafah
keperawatan. Masalah etika keperawatan pada dasarnya
merupakan masalah etika kesehatan, dalam kaitan ini
dikenal dengan istilah masalah etika biomedis ataubioetis.
Istilah bioetis mengandung arti ilmu yang mempelajari

masalah-masalah yang timbul akibat kemajuan ilmu


pengetahuan terutama di bidang biologi dan kedokteran.
Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara
mempertahankan hidup dengan kebebasan dalam
menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan klien
yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya,
dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi
permasalah klien.
Untuk memecahkan berbagai permasalahan bioetis telah
dibentuk suatu organisasi internasional. Para ahli telah
mengidentifikasi masalah bioetis yang dihadapi oleh para
tenaga kesehatan, termasuk juga perawat. Permasalahan etis
yang akan dibahas secara singkat disini adalah berkata jujur;
AIDS; Abortus; menghentikan pengobatan; cairan dan
makanan; euthanasia; transplantasi organ; Inseminasi
artificial dan beberapa permasalahn etis yang langsung
berkaitan dengan praktik keperawatan.
1. Berkata Jujur (Truth Telling)
Dalam konteks berkata jujur, ada suatu istilah yang
disebut desepsi,yang berasal dari kata deceive yang berarti
membuat orang percaya terhadap sesuatu hal yang tidak

benar, menipu dan membohongi. Desepsi meliputi berkata


bohong, mengingkari atau menolak, tidak memberikan
informasi dan memberikan jawaban tidak sesuai dengan
pertanyaan atau tidak memberikan penjelasan sewaktu
informasi dibutuhkan. Contoh tindakan desepsi adalah
perawat memberikan obat dan tidak membertahu pasien
tentang obat apa yang sebenarnya diberikan.
Tindakan desepsi ini secara etika tidak dibenarkan. Para ahli
etika menyatakan bahwa tindakan desepsi membutuhkan
keputusan yang jelas tentang siapa yang diharapkan
melakukan tindakan tersebut.
Konsep kejujuran (veracity), merupakan prinsip etis yang
mendasari berkata jujur. Seperti juga tugas yang lain berkata
jujur bersifat prima facie (tidak mutlak) sehingga desepsi
pada keadaan tertentu diperbolehkan. Berbagai alasan yang
dikemukakan dan mendukung posisi bahwa perawat harus
berkata jujur yaitu : merupakan hal yang terpenting dalam
hubungan saling percaya perawat pasien; pasien mempunyai
hak untuk mengetahui; merupakan kewajiban moral;
menghilangkan cemas dan penderitaan; meningkatkan
kerjasama pasien maupun keluarga; dan memenuhi
kebutuhan perawat.

Alasan-alasan yang mendukung tindakan desepsi, termasuk


berkata bohong meliputi : pasien tidak mungkin menerima
kenyataan; pasien menghendaki untuk tidak diberitahu bila
hal tersebut menyakitkan, secara professional perawat
mempunyai kewajiban tidak melakukan yang merugikan
pasien, dan desepsi mungkin mempunyai manfaat untuk
meningkatkan kerjasama pasien.
1. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
AIDS pada awalnya ditemukan pada masyarakat gay di
Amerika Serikat pada tahun 1980 atau 1981. AIDS juga
pada mulanya ditemukan di Afrika. Saat ini, AIDS hamper
ditemukan disemua Negara, termasuk Indonesia. AIDS tidak
saja menimbulkan dampak pada penatalaksanaan klinis
tetapi juga dampak social, kekhawatiran masyarakat, serta
permasalahan hokum dan etika.
Perawat yang bertanggung jawab merawat pasien AIDS
akan mengalami berbagai stress pribadi, termasuk takut
tertular atau menularkan pada keluarga, dan ledakan emosi
bila merawat pasien AIDS fase terminal usia muda dengan
gaya hidup yang bertentangan dengan gaya hidup perawat.
Pernyataan professional bagi perawat yang mempunyai
tugas merawat pasien terinfeksi virus HIV membutuhkan

klasifikasi nilai-nilai yang diyakini perawat tentang


hubungan homoseksual dan penggunaan atau
penyalahgunaan obat.
Perawat sangat berperan dalam perawatan pasien, sepanjang
virus HIV maih ada dengan berbagai komplikasi sampai
kematian tiba. Perawat terlibat dengan pembuatan keputusan
tentang tindakan atau terapi apa yang dapat dihentikan dan
tetap menghargai martabat manusia. Pada saat tidak ada
terapi medis lagi yang dapat diberikan pada pasien, perawat
tetap masih melakukan tindakan yang dapat diberikan
kepada pasien seperti : mengidentifikasi nilai-nilai,
menggali makna hidup pasien, memberikan rasa nyaman,
memberikan dukungan manusiawi dan membantu
meninggal dunia dengan tentram dan damai.
1. Fertilisasi Invitro, Inseminasi Artifisial, dan Pengaturan
Reproduksi
Fertilisasi Invitro dan Inseminasi Artifisial merupakan dua
dari berbagai metode baru yang digunakan untuk
mengontrol reproduksi. Kedua metode ini memberikan
harapan bagi orang-orang mandul untuk dapat memiliki
anak.

Fertilisasi Invitro merupakan metode konsepsi yang


dilakukan dengan cara mebuat by pass pada tuba falopi
wanita. Tindakan ini dilakukan dengan cara memberikan
hiperstimulasi ovarium untuk mendapatkan beberapa sel
telur atau folikel yang siap dibuahi. Sel-sel telur ini
kemudian diambil melalui proses pembedahan. Proses
pembuahan dilakukan dengan cara menaruh sel telur dalam
tabung dan mencampurnya dengan sperma dari pasangan
wanita yang bersangkutan atau dari donor. Sel telur yang
telah dibuahi kemudian mengalami serangkaian proses
pembelahan sel sampai menjadi embrio dan kemudian
embrio dipindahkan ke dalam uterus wanita dengan harapan
dapat terjadi kehamilan.
Inseminasi Artifisial merupakan prosedur untuk
menimbulkan kehamilan dengan cara mengumpulkan
sperma dari seorang pria yang kemudia dimasukkan ke
dalam vagina, serviks atau uterus wanita saat terjadi ovulasi.
Berbagai masalah etika muncul berkaitan dengan teknologi
tersebut. Masalah ini tidak saja dimiliki oleh para pasangan
mandul, tim kesehatan yang menangani, tetapi juga oleh
masyarakat.

Pendapat yang diajukan para ahli bervariasi. Pihak yang


memberikan dukungan menyatakan bahwa teknologi
tersebut pada dasarnya bertujuan untuk member harapan
atau membantu pasangan mandul mempunyai ketururunan.
Pihak yang menolak menyatakan bahwa tindakan tidak
dibenarkan terutama bila telur atau sperma berasal dari
donor. Beberapa pergerakan wanita menyatakan bahwa
tindakan fertilisasi invitro dan inseminasi artificial
memperlakukan wanita secara tidak wajar dan hanya wanita
kalangan atas wanita kalangan atas yang mendapatkan
teknologi tersebut karena biaya yang cukup tinggi. Dalam
praktik ini, sering pula hak-hak wanita untuk memilih
dilanggar.
Penelitian keperawatan yang berkaitan dengan fertilisasi
invitro dan inseminasi artificial menurut Olshansky meliputi
: aspek manusiawi dari penggunaan teknologi reproduksi,
respon manusia terhadap teknologi canggih, konsekuensi
tidak menerima teknologi, dan aspek terpeutik praktik
keperawatan pada orang yang memilih untuk melakukan
teknologi.
1. Abortus

Abortus secara umum dapat diartikan sebagai penghentian


kehamilan secra spontan atau rekayasa. Dalam membahas
abortus biasanya dilihat dari dua sudut pandangan, yaitu
moral dan hokum.
Abortus sering menimbulkan konflik nilai bagi perawat, bila
ia harus terlibat dalam tindakan abortus. Di beberapa
Negara, seperti AS, Australia, Inggris dikenal suatu tatanan
hokum Conscience Clausesyang memperbolehkan dokter,
perawat, atau rumah sakit untuk menolak membantu
pelaksanaan abortus. Masalah abortus memang kompleks,
namun perawat professional tidak diperkenankan
memaksakan nilai-nilai yang ia yakini kepada pasien yang
memiliki nilai berbeda termasuk pandangan terhadap
abortus.
1. Euthanasia
Menurut Oxford English Dictionary, euthanasia berarti
tindakan untuk mempermudah mati dengan mudah dan
tenang. Dilihat dari aspek bioetis, euthanasia terdiri dari :
euthanasia volunter, involunter, aktif dan pasif. Pada kasus
euthanasia volunteer, pasien secara sukarela dan bebas
memilih untuk meninggal dunia. Pada euthanasia involunter,
tindakan yang menyebabkan kematian dilakukan bukan atas

dasar persetujuan dari pasien dan sering kali melanggar


keinginan pasien. Euthanasia aktif, melibatkan sesuatu yang
dilakukan sengaja yang menyebabkan pasien maninggal,
misalnya : menginjeksi obat dosis letal. Euthanasia aktif
merupakan tindakan melanggar hokum. Euthanasia pasif
dilakukan dengan menghentikan pengobatan atau perawatan
suportif, yang mempertahankan hidup, misalnya antibiotika,
nutrisi, cairan, respirator yang tidak diperlukan lagi oleh
pasien.
1. 6.

Penghentian Pemberian Makanan, Cairan, dan

Pengobatan
Makanan dan cairan merupakan kebutuhan dasar manusia.
Memberikan makanan dan minuman adalah tugas perawat.
Selama perawatan seringkali perawat menghentikan
pemberian makanan dan minuman, terutama bila pemberian
tersebut justru membahayakan pasien misalnya pada pre dan
post operasi.
Masalah etika dapat muncul pada keadaan terjadi
ketidakjelasan antara member atau menghentikan makan
atau minuman, serta ketidakpastian tentang mana yang lebih
menguntungkan pasien. Ikatan Perawat Amwrika (ANA),
Menyatakan bahwa tindakan penghentian dan pemberian

makan kepada pasien oleh perawat secara hokum


diperbolehkan dengan pertimbangan tindakan ini
menguntungkan pasien.
1. B.

MODEL PENYELESAIAN DILEMA ETIK

Perawat berada di berbagai situasi sehari-hari yang


mengharuskan untuk membuat keputusan-keputusan
profesional dan bertindak sesuai keputusan tersebut.
Keputusan biasanya dibuat dalam hubungannya dengan
orang lain (klien, keluarga, dan profesi kesehatan lain).
Dalam membuat keputusan, bukan keputusan yang paling
benar yang akan diambil tapi keputusan mana yang paling
baik karena dalam dilema etik tidak ada benar maupun yang
salah. Pada penyelesaian dilema etik dikenal prinsip
DECIDE yaitu;
D = Define the problem(s)
E = Ethical review
C = Consider the options
I = Investigate outcomes

D = Decide on actin
E = Evaluate results
kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh
para ahli dan pada dasarnya menggunakan kerangka proses
keperawatan / pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain:
1. Model pemecahan masalah (megan,1989)
ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam
dilema etik :
1. Mengkaji situasi
2. Mendiagnosa masalah etik moral
3. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
4. Melaksanakan rencana
5. Mengevaluasi hasil

1. Kozier et. al (2004) menjelaskan kerangka pemecahan


dilema etik sebagai berikut :
2. Mengembangkan data dasar
3. Mengidentifikasi konflik

4. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian


tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan
hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
5. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat
6. Mendefinisikan kewajiban perawat
7. Membuat keputusan

1. Model murphy dan murphy


2. Mengidentifikasi masalah kesehatan
3. Mengidentifikasi masalah etik
4. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
5. Mengidentifikasi peran perawat
6. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang
mungkin dilaksanankan
7. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk
setiap alternatif keputusan
8. Memberi keputusan
9. Mempertmbangkan bagaimana keputusa tersebuut
hingga sesuai dengan falsafah umum perawatan klien
10.

Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan

telah tampak dan menggunakan informasi tersebut


untuk membantu membuat keputusan berikutnya.

1. langkah-langkah menurut Thompson & Thompson


(1981)
2. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan,
keputusan yang diperlukan, komponen etis dan
petunjuk individual.
3. Mengumpulkan informasi tambahan untuk
mengklasifikasi situasi
4. Mengidentifikasi issue etik
5. Menentukan posisi moral pribadi dan profesional
6. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual
yang terkait
7. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

1. Langkah-langkah menurut Purtilo danCassel (1981)


Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat
keputusan etik
1. Mengumpulkan data yang relevan
2. Mengidentifikasi dilema

3. Memutuskan apa yang harus dilakukan


4. Melengkapi tindakan

1. Langkah penyelesaian dilema etik menurut Tappen


(2005) adalah :
1.

Pengkajian

Hal pertama yang perlu diketahui perawat adalah adakah


saya terlibat langsung dalam dilema?. Perawat perlu
mendengar kedua sisi dengan menjadi pendengar yang
berempati. Target tahap ini adalah terkumpulnya data dari
seluruh pengambil keputusan, dengan bantuan pertanyaan
yaitu :
1. Apa yang menjadi fakta medik ?
2. Apa yang menjadi fakta psikososial ?
3. Apa yang menjadi keinginan klien ?
4. Apa nilai yang menjadi konflik ?
5. Perencanaan
Untuk merencanakan dengan tepat dan berhasil, setiap orang
yang terlibat dalam pengambilan keputusan harus masuk
dalam proses. Thomson and Thomson (1985) mendaftarkan
3 (tiga) hal yang sangat spesifik namun terintegrasi dalam
perencanaan, yaitu:

1. Tentukan tujuan dari treatment.


2. Identifikasi pembuat keputusan
3. Daftarkan dan beri bobot seluruh opsi / pilihan.
4. Implementasi
Selama implementasi, klien/keluarganya yang menjadi
pengambil keputusan beserta anggota tim kesehatan terlibat
mencari kesepakatan putusan yang dapat diterima dan saling
menguntungkan. Harus terjadi komunikasi terbuka dan
kadang diperlukan bernegosiasi. Peran perawat selama
implementasi adalah menjaga agar komunikasi tak
memburuk, karena dilema etis seringkali menimbulkan efek
emosional seperti rasa bersalah, sedih / berduka, marah, dan
emosi kuat yang lain. Pengaruh perasaan ini dapat
menyebabkan kegagalan komunikasi pada para pengambil
keputusan. Perawat harus ingat Saya disini untuk
melakukan yang terbaik bagi klien.
Perawat harus menyadari bahwa dalam dilema etik tak
selalu ada 2 (dua) alternatif yang menarik, tetapi kadang
terdapat alternatif tak menarik, bahkan tak mengenakkan.
Sekali tercapai kesepakatan, pengambil keputusan harus
menjalankannya. Kadangkala kesepakatan tak tercapai
karena semua pihak tak dapat didamaikan dari konflik

sistem dan nilai. Atau lain waktu, perawat tak dapat


menangkap perhatian utama klien. Seringkali klien /
keluarga mengajukan permintaan yang sulit dipenuhi, dan di
dalam situasi lain permintaan klien dapat dihormati.
1. Evaluasi
Tujuan dari evaluasi adalah terselesaikannya dilema etis
seperti yang ditentukan sebagai outcome-nya. Perubahan
status klien, kemungkinan treatment medik, dan fakta sosial
dapat dipakai untuk mengevaluasi ulang situasi dan akibat
treatment perlu untuk dirubah. Komunikasi diantara para
pengambil keputusan masih harus dipelihara.

BAB 3
PEMBAHASAN
KASUS 1 :
Suatu hari ada seorang bapak bapak dibawa oleh
keluarganya ke salah satu Rumah Sakit di kota Surabaya
dengan gejala demam dan diare kurang lebih selama 6 hari.
Selain itu bapak tersebut ( Tn. A ) menderita sariawan
sudah 3 bulan tidak sembuh-sembuh, dan berat badannya
turun secara berangsur-angsur. Semula Tn. A badannya
gemuk tapi 3 bulan terakhir ini badannya kurus dan telah
turun 10 kg dari berat badan semula. Tn. A ini merupakan
seorang supir truk yang sering keluar kota karena tuntutan
kerjaan bahkan jarang pulang, kadang-kadang 2 minggu
sekali bahkan sebulan sekali.
Tn. A masuk UGD kemudian dari Dokter untuk diopname di
ruang penyakit dalam karena kondisi Tn. A yang sudah
sangat lemas. Keesokan harinya Dokter yang menangani
Tn. A melakukan visit kepada Tn. A, dan memberikan advice
kepada perawatnya untuk dilakukan pemeriksaan
laboratorium dengan mengambil sampel darahnya. Tn. A

yang ingin tahu sekali tentang penyakitnya meminta


perawat tersebut untuk segera memberi tahu penyakitnya
setelah didapatkan hasil pemeriksaan. Sore harinya pukul
16.00 WIB hasil pemeriksaan telah diterima oleh perawat
tersebut dan telah dibaca oleh Dokternya. Hasilnya
mengatakan bahwa Tn. A positif terjangkit penyakit
HIV/AIDS. Kemudian perawat tersebut memanggil keluarga
Tn. A untuk menghadap dokter yang menangani Tn. A.
Bersama dan seizin dokter tersebut, perawat menjelaskan
tentang kondisi pasien dan penyakitnya. Keluarga terlihat
kaget dan bingung. Keluarga meminta kepada dokter
terutama perawat untuk tidak memberitahukan penyakitnya
ini kepada Tn. A. Keluarganya takut Tn. A akan frustasi,
tidak mau menerima kondisinya dan dikucilkan dari
masyarakat.
Perawat tersebut mengalami dilema etik dimana satu sisi
dia harus memenuhi permintaan keluarga namun disisi lain
perawat tersebut harus memberitahukan kondisi yang
dialami oleh Tn. A karena itu merupakan hak pasien untuk
mendapatkan informasi.
PEMECAHAN MASALAH DILEMA ETIK

1. Mengembangkan Data Dasar : Identifikasi


2. Orang yang terlibat :

Tn.A
Dokter
Perawat
Keluarga

1. Tindakan diusulkan
D dan P => Dokter menyarankan perawat untuk
melakukan pemeriksaan darah pada Tn.A
Tn.A ke P => Tn.A Meminta perawat untuk
membeitahukan penyakitnya jika sudah didapatkan
hasil pemeriksaan.
Keluarga ke D dan P => Keluarga meminta Dokter dan
perawat untuk tidak membertahukan penyakit kepada
Tn.A.
1. Maksud dari tindakan
Dokter ke perawat : untuk mengetahui penyakit yang
diderita Tn.A

Tn.A : agar Tn.AA mengetahui penyakit apa yang


dideritanya
Keluarga : agar Tn.A tidak frustasi dan merasa
dikucilkan dalam masyarakat.
1. Konsekuensi dari tindakan
Tn.A ke keluarga : apabila diberitahukan kepada klien
hasil pemeriksaannya kemungkinan klien akan depresi
dan menarik diri. Apabila tidak diberitahukan akan
melanggar hak pasien untuk mendapatkan informasi
yang sebenarnya.
Keluarga ke dokter dan perawat : apabila perawat dan
dokter mengikuti saran keluarga,ini telah melanggar
prinsip-prinsip etik keperawatan yaitukejujuran dan
tidak memenuhi hak klien. Apabila saran keluarga tidak
dokter dan perawat maka dikhawatirkan Tn.A
mengalami frustasi.
1. Mengidentifikasi Konflik Akibat Situasi Tersebut :
Kegiatan
1.

Lakukan analisis terkait situasi atau kasus yang


terjadi

Tn. A menggunakan haknya sebagai pasien untuk


mengetahui penyakit yang dideritanya sekarang

sehingga Tn. A meminta perawat tersebut memberikan


informasi tentang hasil pemeriksaan kepadanya
Rasa kasih sayang keluarga Tn. A terhadap Tn. A
membuat keluarganya berniat untuk menyembunyikan
informasi tentang hasil pemeriksaan tersebut dan
meminta perawat untuk tidak memberitahukannya
kepada Tn. A dengan pertimbangan keluarga takut jika
Tn. A akan frustasi tidak bisa menerima kondisinya
sekarang
Perawat merasa bingung dan dilema dihadapkan pada
dua pilihan dimana dia harus memenuhi permintaan
keluarga, tapi disisi lain dia juga harus memenuhi
haknya pasien untuk memperoleh informasi tentang
hasil pemeriksaan kondisinya
1. Identifikasi berbagai masalah atau konflik yang terjadi
dari kasus atau situasi tersebut
Berdasarkan kasus dan analisa situasi diatas maka timbullah
permasalahan etik moral, jika perawat tidak
memberitahukan informasi kepada Tn. A terkait dengan
penyakitnya, karena mendapatkan informasi tentang kondisi
pasien merupakan hak pasien.
1. Membuat Tindakan Alternatif : Kegiatan

1.

Identifikasi berbagai alternatif tindakan yang dapat


dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut

Perawat akan melakukan kegiatan seperti biasa tanpa


memberikan informasi hasil pemeriksaan/penyakit Tn.
A kepada Tn. A saat itu juga, tetapi memilih waktu
yang tepat ketika kondisi pasien dan situasinya
mendukung dan sudah didiskusikan kepada tim medis
lain. Tujuannya agar Tn. A tidak panik yang berlebihan
ketika mendapatkan informasi penyakitnya karena
sebelumnya telah dilakukan pendekatan-pendekatan
oleh perawat. Tetapi keluarga harus tetap menemani
pasien.
Perawat akan melakukan tanggung jawabnya sebagai
perawat dalam memenuhi hak-hak pasien terutama hak
Tn. A untuk mengetahui penyakitnya, sehingga ketika
hasil pemeriksaan sudah ada dan sudah didiskusikan
dengan tim medis maka perawat akan langsung
menginformasikan kondisi Tn. A tersebut atas seizin
dokter. Tujuannya supaya Tn. A merasa dihargai dan
dihormati haknya sebagai pasien serta perawat tetap
tidak melanggar etika keperawatan
1. Identifikasi berbagai konsekuensi atau dampak dari
masing-masing alternatif tindakan tersebut

Dampak dari alternatif pertama : Tn.A bertanya-tanya


tentang penyakit yang sebenarnya saat perawat
menemui pasien.
Dampak dari alternatif kedua : pasien akan sangat
terkejut dan defresi sehingga dapat memperparah
kondisi kesehatan Tn.A. Selain itu keluarga juga tidak
akan menerima karena keluarga merasa kasihan bila
Tn. A mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diri
Tn.A.

1. Menentukan Siapa Pengambil Keputusan yang Tepat :


Kegiatan
Menentukan pengambil keputusan yang tepat sesuai dengan
aspek etik dan legalnya adalah tim medis yang terlibat
supaya tidak melanggar kode etik keperawatn yang
disertai dengan hadirnya keluarga dalam pengambilan
keputusan tersebut.
1. Mendefenisikan Kewajiban Perawat : Kegiatan

1.

Memahami tugas dan tanggung jawab kita sebagai


perawat profesional dalam menyelesaikan masalah
atau situasi tersebut

Sebagai perawat profesional, kita harus selalu menerapkan


prinsip-prinsip moral yaitu:
1. Otonomi
Sebagai perawat kita harus menghargai keputusan pasien
dan keluarganya, tapi ketika Tn.A menuntut haknya dan
keluarga menentangnya maka perawat harus mengutamakan
Tn.A untuk mendapatkan informasi tentang kondisinya.
1. Benefesiens
Sebagai perawat kita harus memberikan sesuatu yang baik
dan tidak merugikan pasien. Sehingga perawat bisa memilih
dua alternatif diatas mana yang paling baik dan tidak
merugikan Tn.A
1. Justice
Sebagai perawat kita harus melaksanakan konsep adil pada
pasien, maka Tn.A seharusnya dapat mengetahui
penyakitnya karena semua pasien mengetahui penyakit
mereka.

1. Nonmalefisien
Sebagai perawat keputusan yang dibuat seharusnya tidak
membahayakan kondisi fisik dan psikis pasien. Maka
alternatif yang diambil seharusnya tidak membahayakan
untuk Tn.A.
1. Veracity
Sebagai perawat kita harus menerapkan sikap jujur dalam
praktik keperawatan. Untuk itu, perawat harus jujur dan
tidak menutup-nutupi tentang penyakitnya kepada Tn.A.

1. Fidelity
Sebagai perawat kita harus menepati janji dan komitmen
pada pasien. Untuk itu, perawat harus menepati kesepakatan
dengan Tn.A sebelum pemeriksaan bahwa Tn.A akan
diberitahu tentang informasi penyakitnya jika pemeriksaan
sudah selesai, walaupun hasil pemeriksaannya tidak seperti
yang diharapkan.

1. Confidentiality
Sebagai perawat kita harus menjaga kerahasiaan. Untuk itu
perawat harus menghargai apa yang di putuskan oleh Tn.A
dan merahasiakannya.
1. Identifikasi berbagai kewajiban yang harus
dilaksanakan oleh seorang perawat profesional dalam
menyelesaikan masalah atau situasi tersebut
Dalam menyelesaikan masalah tersebut, perawat harus
melaksanakan prinsip-prinsip moral dan dalam
menyampaikan informasi penyakit pada pasien harus
menggunakan pendekatan-pendekatan serta komunikasi
terapeutik , agar pasien bisa menerima dan memahami apa
yang disampaikan perawat dengan baik.
1. Membuat Keputusan : Kegiatan
1.

Mempertimbangkan dan menganalisis berbagai


alternatif tindakan dan konsekuensinya masingmasing

Alternatif pertama : perawat akan memberi tahu pasien


tentang penyakitnya dengan seizin dokter tapi menunggu
pada saat kondisi pasien memungkinkan dan akan ditemani
oleh keluarga.

Alternatif kedua : perawat akan langsung memberi tahu


pasien tentang penyakit sesaat setelah hasil pemeriksaan itu
didapatkan dengan seizin dokter.
1. Membuat keputusan yang akan diambil untuk
menyelesaikan masalah atau situasi tersebut dengan
memperhatikan prinsip moral
Berdasarkan prinsip-prinsip moral diatas alternatif yang
dipilih adalah alternatif pertama karena pasien tetap
memperoleh haknya sebagai pasien untuk memperoleh
informasi tentang penyakitnya walaupun tidak dengan
segera. Ini memenuhi prinsip moral otonomi, fidelity,
veracity, justice, benefesiens. Selain itu juga alternatif kedua
juga bersifat nomalefisiens yaitu tidak membahayakan
pasien baik fisik maupun psikis, karena memberitahu pasien
saat kondisi tubuh pasien sudah sedikit membaik dan saat
memberitahukan informasi tersebut perawat menggunakan
komunikasi terapeutik dan ditemani oleh keluarga pasien.

KASUS 2 :

Seorang wanita berumur 50 tahun menderita penyakit


kanker payudara terminal dengan metastase yang telah
resisten terhadap tindakan kemoterapi dan radiasi. Wanita
tersebut mengalami nyeri tulang yang hebat dimana sudah
tidak dapat lagi diatasi dengan pemberian dosis morphin
intravena. Hal itu ditunjukkan dengan adanya rintihan
ketika istirahat dan nyeri bertambah hebat saat wanita itu
mengubah posisinya. Walapun klien tampak bisa tidur
namun ia sering meminta diberikan obat analgesik, dan
keluarganya pun meminta untuk dilakukan penambahan
dosis pemberian obat analgesik. Saat dilakukan diskusi
perawat disimpulkan bahwa penambahan obat analgesik
dapat mempercepat kematian klien.
PEMECAHAN KASUS DILEMA ETIK
1. Mengembangkan data dasar
1.

Orang yang terlibat

Pasien
Keluarga
Perawat
Dokter
1. Tindakan yang diusulkan
Pasien : meminta diberikan obat analgesik.

Keluarga : meminta untuk dilakukan penambahan


dosisi dalam pemberian obat analgesik.
Perawat : perawat memberitahukan bahwa pemberian
obat analgesik dapat mempercepat kematian pasien.
1. Maksud dari tindakan tersebut
Pasien : agar dengan pemberian obat analgesik dapat
mengurangi rasa nyeri tulang yag dia derita.
Keluarga : agar pasien merasa tenang dan mengurangi
rasa nyeri yang dialami pasien.
Perawat : apabila dilakukan penambahan dosis, maka
dapat mempercepat kematian pasien dan ini juga
melanggar hak azasi manusia.

1. Konsekuensi tindakan yang diusulkan


Pasien : dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pasien.
Keluarga : apabila dilakukan penambahan dosis obat,
dapat mempengaruhi kondisi fisik klien dan berujung
kepada kematian.
Perawat : apabila tidak dilakukan pemberian obat,
pasien akan tetap merasakan nyeri dibagian tulang.
1. Mengidentifikasi konflik akibat situasi tersebut
1.

Lakukan analisis terkait situasi/kasus yang terjadi

Penderitaan klien dengan kanker payudara yang sudah


mengalami metastase mengeluh nyeri yang tidak berkurang
dengan dosis morphin yang telah ditetapkan. Klien meminta
penambahan dosis pemberian morphin untuk mengurangi
keluhan nyerinya. Keluarga mendukung keinginan klien
agar terbebas dari keluhan nyeri. Sedangkan perawat ragu
untuk melakukan permintaan klien dann keluarga, karna
perawat mengetahui bahwa tindakkan tersebut dapat
menyebabkan kematian.
1. Identifikasi berbagai masalah atau konflik yang terjadi
dari kasus atau situasi tersebut.
Penambahan dosis obat analgesik dapat mempercepat
kematian klien.
Apabila tidak memenuhi keinginan klien dan keluarga
akan membuat keluarga pasien merasa kesal dan pasien
akan tetap merasakan nyeri.
1. Membuat tindakan alternatif
1.

Identifikasi alternatif tindakan yang dapat


dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tidak menngikuti keinginan pasien dan keluarga


tentang penambahan dosis obat analgesik, tetapi
memberikan cara lain untuk mengurangi nyeri yang

dirasakan pasien. Seperti menarik nafas dalam yang


akan menguranngi rasa nyeri yang dilami pasien.
Mengikuti keinginan pasien tentang pemberian obat
analgesik, setelah dilakukan diskusi dengan tim medis
lain terkait dosis yang akan diberikan kepada pasien.

1. Identifikasi konsekuensi dari masing-masing alternattif


tindakan tersebut.
Konsekuensi dari tindakan alternatif pertama : Tidak
mempercepat kematian pasien, klien dibawa pada
kondisi untuk beradaptasi pada nyerinya, dan
keinginan pasien untuk menentukan nasibnya sendiri
tidak terpenuhi.
Konsekuensi dari tindakan alternatif kedua : Risiko
mempercepat kematian klien sedikit dapat dikurangi,
Klien pada saat tertentu bisa merasakan terbebas dari
nyeri sehingga ia dapat cukup beristirahat Hak klien
sebagian dapat terpenuhi, dan Kecemasan pada klien
dan keluarganya dapat sedikit dikurangi.

1. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat


Pada kasus di atas dokter adalah pihak yang membuat
keputusan, karena dokterlah yang secara legal dapat
memberikan ijin penambahan dosis morphin. Namun hal ini
perlu didiskusikan dengan klien dan keluarganya mengenai
efek samping yang dapat ditimbulkan dari penambahan
dosis tersebut. Perawat membantu klien dan keluarga klien
dalam membuat keputusan bagi dirinya. Perawat selalu
mendampingi pasien dan terlibat langsung dalam asuhan
keperawatan yang dapat mengobservasi mengenai respon
nyeri, kontrol emosi dan mekanisme koping klien,
mengajarkan manajemen nyeri, sistem dukungan dari
keluarga, dan lain-lain.
1. Mendefenisikan kewajiban perawat
Adapun kewajiban perawat :
Membuat klien merasa nyaman dengan memberikan
dukungan emosional dengan memeberikan support
Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri /
meningkatkan ambang nyeri
Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping
yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi

Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada


Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya
Tetap menerapkan prisip-prisip moral perawat
Tetap memperhatikan hak-hak klien

1. Membuat keputusan
1.

Mempertimbangkan dan menganalisis alternatif


tindakan dan konsekuensinya

Dari alternatif tindakan yang ada


masing-masing alternatif tindakan tersebut memiliki
manfaat dan konsekuensi tertentu. Setelah dilakukan
pertimbangan bahwa alternatif pertama lebih besar
manfaatnya karena dengan manajemen nyeri yang diberikan
oleh perawat dapat menegurangi rasa sakit pada klien dan
kemungkinan kematian klien dapat diminimalisir. Tetapi
apabila dilakukan alternatif ke dua ini masih menimbulkan
kemungkinan mempercepat kematian pasien.
1. Membuat keputusan yang diambil untuk menyelesaikan
masalah tersebut dengan memperhatikan prinsip moral
berdasarkan pertimbangan dan memperhatikan prinsipprinsip yang moral diputuskan untuk melakukan alternatif

pertama karena telah memenuhi prinsip moral benefisiens,


justice dan nonmalefisiens walaupun hak otonimynya tidak
terpenuhi.
KASUS 3 :
Kembar siam lahir di manchester 8 november 2000. Nama
yang sebenarnya tidak di umumkan, tetapi oleh pengadilan
inggris untuk mudahnya diberi nama Mary dan Jodie. Dari
segi medis, kondisi mereka sangat berat. Tulang pinggulnya
mereka menempel dan tulang punggung beserta seliruh
bagian bawah tubuh menyambung. Kaki-kaki ada pada
tempatnya dalam posisi silang menyilang. Keadaan itu
tampak pada gambar yang dikeluarkan oleh RS St. Marys.
Jantung dan paru-paru mary tidak berfungsi, lagi pula
otaknya tidak berkembang penuh. Jodie tampak dalam
keadaan fisik normal, tetapi jantung dan paru-parunya
mendapat beban berat. Karena harus menyediakan darah
beroksigen juga untuk saudaranya. Menurut para dokter
keadaan ini hanya bisa berlangsung tiga sampai enem
bulan. Kalau keadaan ini dibiarkan lebih lama, dua-duanya
akan meninggal dunia.

Dengan demilian kasus kembar siam ini menimbulkan suatu


dilema yang amat memilukan. Orang tua, staf medis, dan
semua pihak yang terlibat dalam kasus ini menghadapi
suatu pilihan yang sangat sulit. Jika Mary dan Jodie tidak
di pisahkan, mereka dua-duanya meninggal. Jika mereka
dipisahkan melalui operasi, mary pasti akan mati, karena ia
tidak bisa benafas sendiri, sedangkan jodie mempunyai
peluang baik untuk hidup dengan agak normal, walaupun
dalam keadaan cacat dan harus menjalani banyak operasi
lagi untuk sedikit demi sedikit membetullkan kondisi
fisiknya.
Orang tua kedua bayi perempuan ini adalah pemeluk
agama yang saleh. Mereka berpendapat, Mary dan Jodie
sebaiknya tidak di pisahkan, karena cinta mereka untuk
kedua anak ini sama besarnya. Merka tidak bisa menerima
jika yang paling lemah harus di korbankan kepada yang
kuat. Karena itu mereka memilih menyerahkan seluruh
masalah ini kepada kehendak Tuhan. Staf medis di RS
Marys tidak setuju. Sesuai dengan naluri kedokteranyang
umum, mereka beranggapan bahwa kehidupan yang
mungkin tertolong, harus di tolong juga.
KERANGKA PEMECAHAN MASALAH

A.Identifikasi data dasar


1. Orang yang terlibat :
Bayi kembar siam : Mary dan Jodie
Dokter
Tenaga medis lainya : Perawat
Orang tua
1. Tindakan diusulkan :
Orang tua terhadap anaknya : Orang tua berpendapat
mary dan Jodie sebaiknya tidak dipisahkan, mereka
memilih menyerahkan seluruh masalah ini kepada
kehendak tuhan.
Staf medis terhadap klien : Menginginkan untuk
dilakukan operasi pemisahan terhadap mary dan jodir
karena mereka beranggapan bahwaa kehidupan yang
mungkin tertolong harus ditolong juga.
1. Maksud dari tindakan :
Orang tua kepada Klien : Karena kasih sayang orang
tua kepada kedua anaknya sehingga orang tua
tidakmenginginkan salah satu dari anaknya meninggal
Staf Medis terhadap Klien : Untuk menolong nyawa
dari salah satu bayi tersebut yang mungkin masih bisa
diselamatkan hidupnya.

1. Konsekuensi dari tindakan :


Orang tua terhadap klien : Apabila keinginan orang tua
untuk tidak dilakukan pemisahan pada
bayinya,Kemungkinan nyawa dari kedua bayi ini tidak
bisa diselamaatkan . Apabila keinginan orang tua tidak
dilakukan maka hal itu berarti kita telahmelanggar
keputusan yang telah diambil oleh orang tua selaku
pangambil keputusan atas bayinya
Staff medis terhadap klien : apabila keputusan staf
medis dilakukan untuk dilakukan pemisahan salah satu
nyawa dari bayi harus dikorbankan untuk
menyelamatkan salah satu darinya. Apabila keputusan
tidak dilakukan maka kemungkinan nyawa dari kedua
bayi ini tidak akan bisa diselamatkan.

1. Identifikasi konflik
1.

Analisis kasus

Staff medis menginginkan untuk dilakukan operasi


pemisahan pada kebdua bayi ini,karena salah satu dari
bayi ini memiliki peluang hidup yang lebih besar dari
salah satu bayi tersebut.

Orang tua tidak menginginkan untuk dilakukan


pemisahan pada kedua bayinya,karena orang tua sangat
menyayangi kedua bayinya dan tidak ingin bila salah
satu dari bayinya meninggal.
1. Identifikasi konflik atau masalaah yang akan terjadi
pada kasus
Dari analisis kasus diatas didapatkan bahwa terjadi dilema
etik dalam pengambilan keputusan apa yang harus dilakukan
antara menyelamatkan salah satu dari nyawa bayi tersebut
dengan melakukan operasi pemisahan atau tidak dilakukan
operasi sama sekali karena tidak menginginkan salah satu
dari bayi tersebut meninggal namun di sisi lain kedua nyawa
bayi tersebut tidak akan tertolong bila tidak dilakukan
operasi pemisahan.

1. Membuat tindakan alternative


1.

Alternatif untuk menyelesaikan masalah

Tetap dilakukan operasi pemisahan dengan


Memberikan pengertian pada orang tua bayi tersebut
apa yang akan terjadi bila dilakukan operasi pemisahan.

Meyakinkan orang tua bahwa operasi ini dilakukan


demi kebaikan bayi tersebut. Karena bila tidak
dilakukan akan terjadi penyesalan.
1. Konsekuensi
Dampak dari alternative diatas adalah penolakan dari
orang tua terhadap keputusan staf medis untuk
dilakukan operasi pemisahan pada bayi kembar
tersebut.

1. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dilakukan oleh staf medis dengan
memberikan pengertian kepada orang tua bayi sebagai wali
dari pasien yang masih Bayi.
1. Mendefinisikan kewajiban perawat
1.

Memahami tugas dan tanggung jawab kita sebagai


perawat professional

Sebagai seorang perawat profesional kita haruslah selalu


menerapkan prinsip moral dalam menyelesaikan masalah
etik,seperti:
-

Prinsip otonomi,yaitu: perwat harus selalu

menghargai keputusan klien. Paada kasus ini staf medis

harus tetap menhargai keputusan dari orang tua bayi kembar


tersebut.
-

Prinsip benefisiensi,yaitu: perawat harus melakukan

tindakan yang bermanfaat untuk klien. Pada kasus ini


perawat haruslah melakukan tindakan yang bermanfaat demi
kepentingan klien.
-

Justice(Keadilan),yaitu: Perawat harus memberikan

keadilan terhadap hak-hak yang harus didapatkan klien.


-

Nonmalefisisen : perawat harus tetap melakukan

tindakan yang tidak akan membahayakan klien baik fisik


maupun dari segi mental.
-

Veracity : perawat harus bersikap jujur

Fidelity : perawat harus menepati janji dan

komitmen.
-

Confidentiality : perawat harus bisa merahasiakan

masalah klien.
1. Identifikasi kewajiban yang harus dilakukan oleh
perawat professional

Adapun kewajiban perawat :


Membuat klien merasa nyaman dengan memberikan
dukungan emosional dengan memeberikan support
Membantu proses adaptasi klien terhadap nyeri /
meningkatkan ambang nyeri
Membantu klien untuk menemukan mekanisme koping
yang adaptif terhadap masalah yang sedang dihadapi
Membantu klien untuk lebih mendekatkan diri kepada
Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan keyakinannya
Tetap menerapkan prisip-prisip moral perawat
Tetap memperhatikan hak-hak klien
1. Membuat keputusan
1.

Mempertimbangkan dan menganalisis berbagai


alternatif tindakan dan konsekuensinya masingmasing

Dari alternatif diatas : tim medis tetap akan melakukan


operasi pemisahan dengan meyakinkan pihak keluarga
walaupun terjadi penolakan dari keluarga pasien.
1. Membuat keputusan yang akan diambil untuk
menyelesaikan masalah atau situasi tersebut dengan
memperhatikan prinsip moral

Berdasarkan dengan alternatif-alternatif diatas serta


mempertimbangkan prinsip-prinsip moral di putuskan untuk
mengoperasi bayi kembar tersebut dengan menyelamatkan
nyawa jodi karena alternatif dari tim medis telah memenuhi
prinsip moral yaitu:
Otonomi (mendahulukan hak pasien) pasien disini mary
dan jodi karena jodi bisa bertahan hidup jika dilakukan
operasi.
Benefiensi (kemanfaatan) : dengan melakukan operasi
pemisahan akan menyelamatkan nyawa jodi.
Justice (keadilan) : semua orang punya hak untuk
hidup, begitu pun jodi.
Nonmalefisiens (tidak membahayakan) : walaupun
dengan dilakukan operasi akan membahayakan nyawa
mary, tapi jika tidak dilakukan operasi ini akan
membahayakan nyawa kedua bayi tersebut. Jadi dalam
pilihan yang buruk diambil pilihan yang kurang
buruk(membahayakan).

BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan :

Berbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan


klinis yang melibatkan interaksi antara klien dan perawat.
Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara
mempertahankan hidup dengan kebebasan dalam
menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan klien

yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya,


dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi
permasalah klien.
Dalam membuat keputusan terhadap masalah dilema etik,
perawat dituntut dapat mengambil keputusan yang
menguntungkan pasien dan diri perawat dan tidak
bertentang dengan nilai-nilai yang diyakini klien.
Pengambilan keputusan yang tepat diharapkan tidak ada
pihak yang dirugikan sehingga semua merasa nyaman dan
mutu asuhan keperawatan dapat dipertahankan.
Perawat harus berusaha meningkatkan kemampuan
profesional secara mandiri atau secara bersama-sama dengan
jalan menambah ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan
suatu dilema etik.
Pengertian hukum dan keterkaitannya dengan moral dan
etika
Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang dibuat oleh penguasa
negara atau pemerintah secara resmi melalui lembaga atau intuisi hukum untuk
mengatur tingkah laku manusia dalam bermasyarakat, bersifat memaksa, dan
memiliki sanksi yang harus dipenuhi oleh masyarakat.
Definisi Hukum dari Kamus Besar Bahasa Indonesi (1997):
a

1.

peraturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan

oleh penguasa, pemerintah atau otoritas.


2.

undang-undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur kehidupan

masyarakat.
3.

patokan (kaidah, ketentuan).

4.

keputusan (pertimbangan) yang ditentukan oleh hakim dalam pengadilan,

vonis.
5.
B. KETERKAITAN ETIKA, NORMA, DAN HUKUM
1. ETIKA
Karena Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah,
baik, buruk, dan tanggung jawab, dengan pengertian masing masing, sebagai
berikut :
a. Pengertian Benar
Bertindak sesuai aturan / hukum yang berlaku di masyarakat.
b. Pengertian Salah
Bertindak tidak sesuai dengan aturan / hukumyang berlaku di masyarakat.
c. Pengertian Baik
Sesuatu hal dikatakan baik bila ia mendatangkan rahmat, dan memberikan perasaan senang,
atau bahagia ( Sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai secara positif ).
d. Pengertian Buruk
Segala yang tercela. Perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan dengan
norma-norma masyarakat yang berlaku.
e. Pengertian Tanggung jawab
Sesuatu yang harus dilakukan sesuai dengan kewajiban dan dimensi waktu.
Benar, salah, baik, dan buruk sendiriterkait dengan aturan / hukum dan nilai
nilai yang berlaku di masyarakat ( norma ) maka jelaslah ada keterkaitan diantara etika,
norma, dan hukum.
Etika juga menyangkut cara dilakukannya suatu perbuatan sekaligus memberi
norma dari perbuatan itu sendiri. Misal : Dilarang mengambil barang milik orang lain
tanpa izin karena mengambil barang milik orang lain tanpa izin sama artinya dengan

mencuri dan jika kita mencuri, maka akan di kenai sanksi sesuai dengan hukum
yang ada.
2. NORMA
Norma dapat dipertahankan melalui sanksi-sanksi, yaitu berupa ancaman hukuman
terhadap siapa yang telah melanggarnya.
Tetapi dalam kehidupan masyarakat yang terikat oleh peraturan hidup yang
disebut norma, tanpa atau dikenakan sanksi atas pelanggaran, bila seseorang melanggar suatu
norma, maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat dan sifatnya suatu pelanggaran
yang terjadi, misalnya sebagai berikut:
* Semestinya tahu aturan tidak akan berbicara sambil menghisap rokok di hadapan
tamu atau orang yang dihormatinya, dan sanksinya hanya berupa celaan karena
dianggap tidak sopan walaupun merokok itu tidak dilarang.
* Seseorang tamu yang hendak pulang, menurut tata krama harusdiantar sampai di muka
pintu rumah atau kantor, bila tidak maka sanksinya hanya berupa celaan karena
dianggap sombong dan tidak menghormati tamunya.
Norma yang berkaitan dengan etika seseorang terhadap orang lain.
* Orang yang mencuri barang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya, maka
sanksinya cukup berat dan bersangkutandikenakan sanksi hukuman, baik hukuman
pidana penjara maupun perdata (ganti rugi).
Norma yang berkaitan dengan hukum.
3. HUKUM
Dalam hukum pidana dikenal, 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran,
kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga
bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat, contohnya
mencuri, membunuh, berzina, memperkosa dan sebagainya ( inilah contoh tindakan
tindakan yang bukan hanya menyimpang hukum tetapi juga menyimpang norma dan etika ).
Filsafat hukum membahas soal-soal kongkret mengenai hubungan antara hukum dan
moral ( etika ).

HUKUM DAN KODE ETIK


KESEHATAN
HUKUM KESEHATAN
I. Pendahuluan
Dalam era reformasi saat ini, hukum memegang peran penting dalam
berbagai segi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang, yang merupakan bagian
integral dari kesejahteraan, diperlukan dukungan hukum bagi
penyelenggaraan berbagai kegiatan di bidang kesehatan.
Perubahan konsep pemikiran penyelenggaraan pembangunan
kesehatan tidak dapat dielakkan. Pada awalnya pembangunan kesehatan
bertumpu pada upaya pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan,
bergeser pada penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh dengan
penekanan pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.
Paradigma ini dikenal dalam kalangan kesehatan sebagai paradigma sehat.
Sebagai konsekuensi logis dari diterimanya paradigma sehat maka
segala kegiatan apapun harus berorientasi pada wawasan kesehatan, tetap
dilakukannya pemeliharaan dan peningkatan kualitas individu, keluarga dan
masyarakat serta lingkungan dan secara terus menerus memelihara dan
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau
serta mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
Secara ringkas untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
setiap orang maka harus secara terus menerus dilakukan perhatian yang
sungguh-sungguh bagi penyelenggaraan pembangunan nasional yang
berwawasan kesehatan, adanya jaminan atas pemeliharaan kesehatan,
ditingkatkannya profesionalisme dan dilakukannya desentralisasi bidang
kesehatan.
Kegiatan-kegiatan tersebut sudah barang tentu memerlukan perangkat
hukum kesehatan yang memadai. Perangkat hukum kesehatan yang
memadai dimaksudkan agar adanya kepastian hukum dan perlindungan yang

menyeluruh baik bagi penyelenggara upaya kesehatan maupun masyarakat


penerima pelayanan kesehatan.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah
apakah yang dimaksud dengan hukum kesehatan, apa yang menjadi
landasan hukum kesehatan, materi muatan peraturan perundang-undangan
bidang kesehatan, dan hukum kesehatan di masa mendatang.Diharapkan
jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberikan sumbangan pemikiran,
baik secara teoritikal maupun praktikal terhadap keberadaan hukum
kesehatan. Untuk itu dilakukan kajian normatif, kajian yang mengacu pada
hukum sebagai norma dengan pembatasan pada masalah kesehatan secara
umum melalui tradisi keilmuan hukum.
Dalam hubungan ini hukum kesehatan yang dikaji dibagi dalam 3 (tiga)
kelompok sesuai dengan tiga lapisan ilmu hukum yaitu dogmatik hukum, teori
hukum, dan filsafat hukum. Selanjutnya untuk memecahkan isu hukum,
pertanyaan hukum yang timbul maka digunakan pendekatan konseptual,
statuta, historis, dogmatik, dan komparatif. Namun adanya keterbatasan
waktu maka kajian ini dibatasi hanya melihat peraturan perundang-undangan
bidang kesehatan.
II. Batasan dan Lingkup Hukum Kesehatan
Van der Mijn di dalam makalahnya menyatakan bahwa, health law
as the body of rules that relates directly to the care of health as well as the
applications of general civil, criminal, and administrative law.(1)
Lebih luas apa yang dikatakan Van der Mijn adalah pengertian yang diberikan
Leenen bahwa hukum kesehatan adalah . het geheel van rechtsregels, dat
rechtstreeks bettrekking heft op de zorg voor de gezondheid en de toepassing
van overig burgelijk, administratief en strafrecht in dat verband. Dit geheel van
rechtsregels omvat niet alleen wettelijk recht en internationale regelingen,
maar ook internationale richtlijnen gewoonterecht en jurisprudenterecht, terwijl
ook wetenschap en literatuur bronnen van recht kunnen zijn.
Dari apa yang dirumuskan Leenen tersebut memberikan kejelasan
tentang apa yang dimaksudkan dengan cabang baru dalam ilmu hukum, yaitu
hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan (zorg voor de
gezondheid). Rumusan tersebut dapat berlaku secara universal di semua
negara. Dikatakan demikian karena tidak hanya bertumpu pada peraturan
perundang-undangan saja tetapi mencakup kesepakatan/peraturan
internasional, asas-asas yang berlaku secara internasional, kebiasaan,
yurisprudensi, dan doktrin.Di sini dapat dilukiskan bahwa sumber hukum
dalam hukum kesehatan meliputi hukum tertulis, yurisprudensi, dan doktrin.
Dilihat dari objeknya, maka hukum kesehatan mencakup segala aspek yang
berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan (zorg voor de gezondheid).

Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa hukum kesehatan cukup


luas dan kompleks. Jayasuriya mengidentifikasikan ada 30 (tiga puluh) jenis
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kesehatan.(3)
Secara umum dari lingkup hukum kesehatan tersebut, materi muatan yang
dikandung didalamnya pada asasnya adalah memberikan perlindungan
kepada individu, masyarakat, dan memfasilitasi penyelenggaraan upaya
kesehatan agar tujuan kesehatan dapat tercapai. Jayasuriya bertolak dari
materi muatan yang mengatur masalah kesehatan menyatakan ada 5 (lima)
fungsi yang mendasar, yaitu pemberian hak, penyediaan perlindungan,
peningkatan kesehatan, pembiayaan kesehatan, dan penilaian terhadap
kuantitas dan kualitas dalam pemeliharaan kesehatan.(4)
Dalam perjalanannya diingatkan oleh Pinet bahwa untuk mewujudkan
kesehatan untuk
III. Landasan Hukum Kesehatan
Hermien Hadiati Koeswadji menyatakan pada asasnya hukum
kesehatan bertumpu pada hak atas pemeliharaan kesehatan sebagai hak
dasar social (the right to health care) yang ditopang oleh 2 (dua) hak dasar
individual yang terdiri dari hak atas informasi (the right to information) dan hak
untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination).
Sejalan dengan hal tersebut Roscam Abing mentautkan hukum
kesehatan dengan hak untuk sehat dengan menyatakan bahwa hak atas
pemeliharaan kesehatan mencakup berbagai aspek yang merefleksikan
pemberian perlindungan dan pemberian fasilitas dalam pelaksanaannya.
Untuk merealisasikan hak atas pemeliharaan bisa juga mengandung
pelaksanaan hak untuk hidup, hak atas privasi, dan hak untuk memperoleh
informasi.
Demikian juga Leenen secara khusus, menguraikan secara rinci tentang
segala hak dasar manusia yang merupakan dasar bagi hukum kesehatan.
IV. Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan Bidang Kesehatan
Sebenarnya dalam kajian ini akan disajikan menyangkut seluruh lingkup
hukum kesehatan, namun keterbatasan waktu, maka penyajian dibatasi pada
materi muatan peraturan perundang-undangan bidang kesehatan. Segala
sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan seringkali dikatakan sebagian
masyarakat kesehatan dengan ucapan saratnya peraturan. Peraturan
dimaksud dapat berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku umum
dan berbagai ketentuan internal bagi profesi dan asosiasi kesehatan. Agar
diperoleh gambaran yang lebih menyeluruh maka digunakan susunan 3 (tiga)
komponen dalam suatu sistem hukum seperti yang dikemukakan Schuyt.(9)

Ketiga komponen dimaksud adalah keseluruhan peraturan, norma dan


ketetapan yang dilukiskan sebagai sistem pengertian, betekenissysteem,
keseluruhan organisasi dan lembaga yang mengemban fungsi dalam
melakukan tugasnya, organisaties instellingen dan keseluruhan ketetapan dan
penanganan secara konkret telah diambil dan dilakukan oleh subjek dalam
komponen kedua, beslisingen en handelingen.
Dalam komponen pertama yang dimaksudkan adalah seluruh
peraturan, norma dan prinsip yang ada dalam penyelenggaraan kegiatan di
bidang kesehatan. Bertolak dari hal tersebut dapat diklasifikasikan ada 2 (dua)
bentuk, yaitu ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh penguasa dan ketentuan
yang dibuat oleh organisasi profesi dan asosiasi kesehatan. Hubungan antara
keduanya adalah ketentuan yang dibuat oleh organisasi profesi dan asosiasi
kesehatan serta sarana kesehatan hanya mengikat ke dalam dan tidak boleh
bertentangan dengan ketentuan yang dibuat oleh penguasa. Menurut
inventarisasi yang dilakukan terhadap ketentuan yang dikeluarkan penguasa
dalam bentuk peraturan perundang-undangan terdapat 2 (dua) kategori, yaitu
yang bersifat menetapkan dan yang bersifat mengatur.
Dari sudut pandang materi muatan yang ada dapat dikatakan mengandung 4
(empat) obyek, yaitu:
1. Pengaturan yang berkaitan dengan upaya kesehatan;
2. Pengaturan yang berkaitan dengan tenaga kesehatan;
3. Pengaturan yang berkaitan dengan sarana kesehatan;
4. Pengaturan yang berkaitan dengan komoditi kesehatan.
Apabila diperhatikan dari ketentuan tersebut terkandung prinsip
perikemanusiaan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, manfaat, usaha
bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, perikehidupan dalam
keseimbangan dan kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri.
Selanjutnya dari ketentuan yang ada dalam keputusan dan peraturan
yang dibuat oleh organisasi profesi dan asosiasi bidang kesehatan serta
sarana kesehatan adalah mencakup kode etik profesi, kode etik usaha dan
berbagai standar yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan.
Apabila diperhatikan prinsip-prinsip yang dikandung dalam ketentuan ini
mencakup 4 (empat) prinsip dasar, yaitu autonomy, beneficence, non
maleficence dan justice.Sebelum memasuki komponen kedua, perlu dibahas
terlebih dahulu komponen ketiga mengenai intervensi yang berupa
penanganan yang dilakukan berdasarkan ketentuan yang diatur. Komponen

ini merupakan aktualisasi terhadap komponen ideal yang ada dalam


komponen pertama.
Bila diperhatikan isi ketentuan yang ada dimana diperlukan
penanganan terdapat 4 (empat) sifat, yaitu:
1. Perintah (gebod) yang merupakan kewajiban umum untuk melakukan
sesuatu;
2. Larangan (verbod) yang merupakan kewajiban umum untuk tidak
melakukan sesuatu;
3. Pembebasan (vrijstelling, dispensatie) berupa pembolehan khusus untuk
tidak melakukan sesuatu yang secara umum diharuskan.
4. Izin (toesteming, permissie) berupa pembolehan khusus untuk melakukan
sesuatu yang secara umum dilarang
Tindakan penanganan yang dilakukan apakah sudah benar atau tidak,
kiranya dapat diukur dengan tatanan hukum seperti yang dikemukakan oleh
Nonet dan Selznick, yaitu apakah masih bersifat represif, otonomous atau
responsive.(13)
Selanjutnya dengan komponen kedua tentang organisasi yang ada dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian besar
yaitu organisasi pemerintah dan organisasi / badan swasta.
Pada organisasi pemerintah mencakup aparatur pusat dan daerah serta
departemen dan lembaga pemerintah non departemen. Pada sektor swasta
terdapat berbagai organisasi profesi, asosiasi dan sarana kesehatan yang
mempunyai tugas dan fungsi di bidang kesehatan.
Dari susunan dalam 3 (tiga) komponen tersebut secara global menurut Schuyt
bahwa tujuan yang ingin dicapat adalah (14):
1. Penyelenggaraan ketertiban sosial;
2. Pencegahan dari konflik yang tidak menyenangkan;
3. Jaminan pertumbuhan dan kemandirian penduduk secara individual;
4. Penyelenggaraan pembagian tugas dari berbagai peristiwa yang baik
dalam masyarakat;
5. Kanalisasi perubahan sosial.
V. Hukum Kesehatan di Masa Mendatang
Hermien Hadiati Koeswadji mencatat bahwa dari apa yang telah
digariskan dalam peraturan perundang-undangan yang ada perlu terus
ditingkatkan untuk (15):
1. Membudayakan perilaku hidup sehat dan penggunaan pelayanan
kesehatan secara wajar untuk seluruh masyarakat;

2. Mengutamakan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit;


3. Mendorong kemandirian masyarakat dalam memilih dan membiayai
pelayanan kesehatan yang diperlukan;
4. Memberikan jaminan kepada setiap penduduk untuk mendapatkan
pemeliharaan kesehatan;
5. Mengendalikan biaya kesehatan;
6. Memelihara adanya hubungan yang baik antara masyarakat dengan
penyedia pelayanan kesehatan;
7. Meningkatkan kerjasama antara upaya kesehatan yang dilakukan
pemerintah dan masyarakat melalui suatu bentuk pemeliharaan kesehatan
bagi masyarakat yang secara efisien, efektif dan bermutu serta terjangkau
oleh masyarakat.
Untuk itu dukungan hukum tetap dan terus diperlukan melalui berbagai
kegiatan untuk menciptakan perangkat hukum baru, memperkuat terhadap
tatanan hukum yang telah ada dan memperjelas lingkup terhadap tatanan
hukum yang telah ada.
Beberapa hal yang perlu dicatat disini adalah yang berkaitan dengan:
1. Eksistensi Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional yang telah ada harus
diperkuat dan harus merupakan organisasi yang independen sehingga dapat
memberikan pertimbangan lebih akurat;
2. Perlu dibangun keberadaan Konsil untuk tenaga kesehatan dimana
lembaga tersebut merupakan lembaga yang berwenang untuk melakukan
pengaturan berbagai standar yang harus dipenuhi oleh tenaga kesehatan
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.
Dalam dunia kedokteran dan kedokteran gigi telah dibentuk Konsil
Kedokteran Indonesia sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang
Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
3. Perlu dibangun lembaga registrasi tenaga kesehatan dalam upaya untuk
menilai kemampuan profesional yang dimiliki tenaga kesehatan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan. Bagi tenaga dokter dan dokter gigi
peranan Konsil Kedokteran Indonesia dan organisasi profesi serta
Departemen Kesehatan menjadi penting;
4. Perlu dikaji adanya lembaga Peradilan Disiplin Profesi Tenaga Kesehatan.
Dimana untuk tenaga medis telah dibentuk Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004;
5. Perlu dibangun lembaga untuk akreditasi berbagai sarana
kesehatan.semua, diidentifikasikan faktor determinan yang mempengaruhi
sekurang-kurangnya mencakup, ... biological, behavioral, environmental,
health system, socio economic, socio cultural, aging the population, science
and technology, information and communication, gender, equity and social

justice and human rights.

Kode Etik Kesehatan


Saat ini banyak dokter yang juga seorang narablog, mungkin tidak
hanya dokter, namun perawat, ahli gizi dan tenaga kesehatan lainnya. Lalu
apakah seorang dokter yang menjadi narablog bisa bebas berekspresi, yah,
mungkin saja demikian jika blog tersebut adalah blog pribadi tidak berkaitan dengan dunia medis. Jika berkaitan dengan dunia medis, ada beberapa
hal yang selayaknya diindahkan.
Ada beberapa etika yang selayaknya berada dalam ranah yang tepat,
walau mungkin belum ada kesepakatan yang resmi di bagaimana hal ini di
ataur di Indonesia. Narablog Dani Iswara pernah mengulasnya dalam tulisan
Narablog Dokter sudah Punya Etika.
Kali ini mari kita membahas sedikit aspek kode etik dunia narablog kedokteran
yang saya kutip dari: Healthcare Blogger Code of Ethics.
1.
Jelas representasi perspektifnya. Pembaca harus bisa mengenali
dan memahami tingkat pelatihan, ketrampilan, bidang kedokteran/kesehatan
dan keseluruhan perspektif penulis blog. Beberapa narablog mungkin memiliki
pendapat-pendapat di luar ranah keahlian mereka, dan pendapat-pendapat ini
bisa jadi benar, namun pembaca harus diberikan sebuah lokasi di dalam blog
melihat asal usul penulisnya. Ini juga harus meliputi pembedaan antara mana
isi blog dan mana iklan di dalam blog. Hal ini tidak menghalangi aktivitas
menulis blog secara anonim, namun meminta bahkan bagi narablog anonim
untuk berbagi perspektif profesional dari apa yang mereka tuangkan
dalam blog.
2.
Kerahasiaan. Narablog harus menghormati sifat hubungan
kerahasiaan antara pasien dan profesional medis dan kejelasan akan perlunya kerahasiaan. Segala diskusi mengenai pasien harus dilakukan dalam
sebuah cara sedemikian hingga identitas pasien tersamarkan atau tidak dapat
diungkapkan. Nama pasien hanya dapat diungkapkan sesuai dengan aturan

dan etika medis yang berlaku di suatu negara yang berkesesuaian dengan
kepentingan tersebut.
3.
Pernyataan Berkaitan Komersial. Ada dan tidaknya ikatan-ikatan
komersial akan penulis blog harus dibuat jelas bagi pembaca. Jika penulis
menggunakan blognya untuk mempromosikan suatu produk maka itu harus
dibuat jelas agar pembaca memaha bahwa penulis melakukan itu. Ikatanikatan apa pun pada penghasil perangkat dan/atau perusahaan farmasi harus
dinyatakan secara jelas.
4.
Keandalan Informasi. Mengutip sumber ketika hal ini tepat dilakukan
dan memperbaiki ketidaktepatan ketika hal tersebut bisa ditunjukkan.
5.
Kesopanan. Narablog tidak selayaknya terlibat dalam perseteruan
pribadi, tidak juga selayaknya membiarkan para pemberi tanggapan (komentator) melakukan hal-hal tersebut. Diskusi dan debat akan ide-ide tertentu
memang merupakan salah satu tujuan utama hadirnya blog. Ketika ide-ide
yang dipegang seseorang layak atau mesti dikritisi bahkan diargumentasi
lebih dalam, maka seluruh ranah diskusi adalah pendiskusian ide-ide tersebut,
bukan mereka atau orang-orang yang memegang ide tersebut.
Jadi secara singkat kode etik profesi kedokteran seorang narablog dapat
dikatakan meliputi ranah bidang kedokteran seorang narablog (hal ini menjawab pertanyaan pembaca siapa Anda? secara jelas), kemudian ranah
kerahasiaan medis (di dalamnya menyangkut tentang rahasia medis, rahasia
jabatan, aturan rekam medis dan sebagainya) yang menjamin kerahasiaan
identitas pasien sepenuhnya. Aspek berikutnya adalah kepentingan komersial,
sehingga pertanyaan apakah ini tulisan murni tulisan profesi ataukah terikat
dengan kepentingan komersial tertentu harus jelas bagi pembaca. Informasi
yang diberikan seorang narablog dokter harus jelas dan andal, menyertakan
sitasi atau pengutipan ke sumber-sumber yang valid, dan memperbaiki baik
konten maupun sitasi yang tidak tepat lagi. Dan terakhir, seorang narablog
dokter harus tetap santun dan menjaga kesantunan dalam ruang blognya.

Kode Etik
Etika dalam konteks profesi digariskan dengan apa yang disebut sebagai
kode etik, yakni serangkaian aturan-aturan atau norma yang berisi tata laku
atau pedoman dalam menjalankan suatu profesi tertentu. Seorang jurnalis,
mempunyai kode etik yang disebut dengan kode etik jurnalistik. Demikian
juga, seorang dokter, perawat atau perangkat lainnya memiliki kode etik
profesi yang sering disebut dengan kode etik kedokteran yang wajib ditaati.
Banyak faktor yang mempengaruhi kode etik dalam bidang kesehatan,
yang diantaranya kita bisa menyebut: tingkat kemajuan teknologi, ilmu
pengetahuan yang berkembang demikian dinamis semisal: alat kedokteran
yang bisa dipakai untuk memperpanjang usia, cangkok organ, legalisasi
aborsi, teknik kloning, dsb. Hal-hal demikian patut direnungkan bersama

karena jelas ada sisi-sisi kontradiktif dengan sistem etika yang terangkum
dalam kode etik tadi.
Pertanyaannya, mana yang harus menjadi prioritas disaat kedua hal tadi
bertemu dalam satu simpul dan mengharuskan untuk dipilih salah satusatunya? Apakah tetap mempertahankan nilai etika kesehatan, atau
mendahulukan hasil dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sekalipun
bertentangan dengan kode etik, atau diambil langkah lain yang bisa jadi
merupakan kondisi tengah-tengah diantara keduanya?
Untuk itu paling tidak diperlukan perumusan etika kesehatan yang
mengatur pola hubungan antara institusi kesehatan dengan sang pasien.
Mungkin sebagai alternatif berikut beberapa diantaranya:
1.
Sistem paternalisme, yakni sikap membimbing, mengarahkan dan
mengayomi dari institusi kesehatan kepada pasiennya.
2.
Sistem individualisme, yakni pasien-pasien mempunyai hak yang
absolut terhadap nasib dan kehidupannya.
3.
Resiprokalisme, yakni adanya saling kerjasama antara pekerja
kesehatandengan pasien dan pihak keluarga.

ETIKA PROFESI DAN ETIKA PROFESI BIDANG


KESEHATAN
1. PENTINGNYA ETIKA PROFESI
Apakah etika, dan apakah etika profesi itu ? Kata etik (atau etika) berasal dari kata
ethos
(bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek,
etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk
menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau
baik.Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai the discpline which can act as the
performance index or reference for our control system. Dengan demikian, etika akan
memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia
didalam kelompok sosialnya.
Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia,
etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik
sengaja dibuat berdasarkan prinsipprinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan
akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara
logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian
etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control, karena segala sesuatunya

dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian
dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas
dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi
itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri.
Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat built-in mechanism berupa kode etik
profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi,
dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999).
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh
kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada
kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa
keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang
semual dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi
sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan
nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek
maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.
B. PENGERTIAN ETIKA
Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia
dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.
Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti
norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang
baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :
Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku
menurut ukuran dan nilai yang baik.
Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku
perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh
akal.
Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai
dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika
memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan
sehari-hari.Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara
tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil
keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama
bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan
demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi
kehidupan manusianya.
Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan
buruknya prilaku manusia :
1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional
sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu
yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan
tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.
2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola
prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang
bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan
kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :


a. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia
bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan
prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta
tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di
analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan
teori-teori.
b. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang
kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil
keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya
lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun,
penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang
lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi
yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu
keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :
a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia
sebagai anggota umat manusia.
SISTEM PENILAIAN ETIKA :
Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat,
susila atau tidak susila.
Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah mendarah
daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah
dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal
penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati,
sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata.
Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga)
tingkat :
a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana
dalam hati, niat.
b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.
Dari sistematika di atas, kita bisa melihat bahwa ETIKA PROFESI merupakan bidang
etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari etika sosial. Kata hati atau niat biasa
juga disebut karsa atau kehendak, kemauan, wil. Dan isi dari karsa inilah yang akan
direalisasikan oleh perbuatan. Dalam hal merealisasikan ini ada (4 empat) variabel yang
terjadi :
a. Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya yang tidak baik.
b. Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ; kelihatannya baik.
c. Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainya juga tidak baik.
d. Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik.
C. PENGERTIAN PROFESI
Profesi
Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan
bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang
bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan

kejuruan,juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang
mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.
Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran,
guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang
seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan
itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri,
sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak
orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi.
Berikut pengertian profesi dan profesional menurut DE GEORGE :
PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan
nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan
hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang
profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau
dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain
melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi
waktu luang.
Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa PEKERJAAN / PROFESI dan
PROFESIONAL terdapat beberapa perbedaan :
PROFESI :
- Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
- Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
- Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.
- Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.
PROFESIONAL :
- Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.
- Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.
- Hidup dari situ.
- Bangga akan pekerjaannya.
CIRI-CIRI PROFESI
Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat
pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku
profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus
meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan
dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan,
keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi
harus terlebih dahulu ada izin khusus.
5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.
Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum
profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas
ratarata.
Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada
suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat.
Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar
profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang

semakin baik.
PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :
1. Tanggung jawab
- Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
- Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada
umumnya.
2. Keadilan. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang
menjadi haknya.
3. Otonomi. Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri
kebebasan dalam menjalankan profesinya.
SYARAT-SYARAT SUATU PROFESI :
- Melibatkan kegiatan intelektual.
- Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
- Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan.
- Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
- Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
- Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
- Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
- Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.
PERANAN ETIKA DALAM PROFESI :
Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang saja,
tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu
keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu kelompok
diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama.
Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan
dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya maupun dengan
sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini sering menjadi pusat
perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan tertuang secara tertulis (yaitu kode
etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan para anggotanya.
Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian para
anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah disepakati
bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi kemerosotan etik pada
masyarakat profesi tersebut. Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal
adanya mafia peradilan, demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super
spesialis di daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.
D. KODE ETIK PROFESI
Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang
disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan
atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang
sistematis.
Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai
landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN)
Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan
tugas dan dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal
yang baru. Sudah lama diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok

khusus dalam masyarakat melalui ketentuanketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang
teguh oleh seluruh kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES,
yang dipandang sebagai kode etik pertama untuk profesi dokter.
Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU
KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad ke-5 SM. Menurut ahli-ahli sejarah belum tentu
sumpah ini merupakan buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya berasal dari kalangan
muridmuridnya dan meneruskan semangat profesional yang diwariskan oleh dokter Yunani
ini. Walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang sudah-sudah panjang, namun belum
pernah dalam sejarah kode etik menjadi fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan
tersebar begitu luas seperti sekarang ini. Jika sungguh benar zaman kita di warnai suasana
etis yang khusus, salah satu buktinya adalah peranan dan dampak kode-kode etik ini.
Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY (MASYARAKAT MORAL) yang
memilikicita-cita dan nilai-nilai bersama. Kode etik profesi dapat menjadi penyeimbang segi
segi negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah
moralbagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu dimata
masyarakat Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, seban dihasilkan berkat
penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tetapi setelah kode etik
ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran etis, tapi
sebaliknya selalu didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi dengan
semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi sendiri.
Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu instansi pemerintah atau
instansi-instansi lain; karena tidak akan dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang hidup dalam
kalangan profesi itu sendiri.
Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan barang kali dapat juga
membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus dilakukan oleh
profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus
menjadi hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari profesi.
Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya
untuk mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa
dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita yang diterima
oleh profesi itu sendiri yang bis mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan
untuk dilaksanakan untuk dilaksanakan juga dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang
harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya
diawasi terus menerus. Pada umumnya kode etik akan mengandung sanksi-sanksi yang
dikenakan pada pelanggar kode etik.
SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK :
a. Sanksi moral
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi
Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan kehormatan
atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya
perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional,
seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu
merupakan akibat logis dari self regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu
berasal dari niat profesi mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi
untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek seharihari
control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat dalam
anggotaanggota profesi, seorang profesional mudah merasa segan melaporkan teman sejawat
yang melakukan pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu solidaritas antar kolega
ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian maka kode etik profesi itu tidak

tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah menempatkan etika profesi di atas
pertimbangan-pertimbangan lain. Lebih lanjut masing-masing pelaksana profesi harus
memahami betul tujuan kode etik profesi baru kemudian dapat melaksanakannya.
Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan
lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika
profesi.
Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang
lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika
profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis
secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar
dan apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang
profesional
TUJUAN KODE ETIK PROFESI :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.
Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :
1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang
digariskan.
2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam
keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dlam berbagai bidang.
Kode etik yang ada dalam masyarakat Indonesia cukup banyak dan bervariasi. Umumnya
pemilik kode etik adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat nasional, misalnya Ikatan
Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat HUKUM Indonesia, Kode Etik
Jurnalistik Indonesia, Kode Etik Advokasi Indonesia dan lain-lain. Ada sekitar tiga puluh
organisasi kemasyarakatan yang telah memiliki kode etik.
Suatu gejala agak baru adalah bahwa sekarang ini perusahaan-perusahan swasta cenderung
membuat kode etik sendiri. Rasanya dengan itu mereka ingin memamerkan mutu etisnya dan
sekaligus meningkatkan kredibilitasnya dan karena itu pada prinsipnya patut dinilai positif.
http://eprints.undip.ac.id/4907/1/Etika_Profesi.pdf
ETIKA PROFESI DI BIDANG KESEHATAN
ETIKA berasal dari bahasa yunani ethikos yang berarti adat istiadat atau kebiasaan.
Dalam salah satu kamus etika diartikan sebagai sistem dari prinsip-prinsip moral atau aturanaturan perilaku. Sedangkan moral berarti prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perbuatan
baik dan buruk.
ETIKA PROFESI merupakan prinsip-prinsip moral yang digunakan untuk
menjalankan profesi. Dengan adanya etika profesi ini diharapkan anggota profesi dapat
bertindak dengan kapasitas profesional.
Untuk bisa bertindak sebagai seorang yang PROFESIONAL selain ETIKA juga

dibutuhkanILMU dan KETRAMPILAN sesuai dengan profesinya dan juga KESEHATAN,


karena tanpa kesehatan yang cukup seseorang tidak akan mampu menjalankan profesinya
dengan baik.
Seorang anggota profesi harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetauan dan
penemuan-penemuan baru dibidang yang digelutinya sehingga mampu memberikan
pelayanan profesi kepada masyarakat sesuai dengan kemajuan jaman. Peningkatan ilmu dan
ketrampilan ini merupakan kewajiban dan bila anggota profesi tidak mau mengikuti
perkembangan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan untuk menjalankan profesi dengan baik
maka anggota profesi bisa diberikan sangsi.

http://stikessuryaglobal.ac.id/index.php?action=news.detail&id_news=19
Etika=Moral, Hukum=Aturan
Etika
berhubungan
dengan
moral
orang
Hukum kesehatan merupakan aturan-aturan dalam kesehatan
Di dalam pelayanan kesehatan tentu ada aturan-aturan yang berkaitan dengan
kesehatan yaitu bagaimana menghandle masalah-masalah itu tidak keluar dari etika dan
hukum agar apa yang dikerjakan tidak menimbulkan efek secara etika dan hukum terhadap
diri
sendiri
dan
orang
lain.
Etik berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang artinya yang baik/yang layak. Yang
baik
/
yang
layak
ini
ukurannya
orang
banyak.
Secara lebih luas, etika merupakan norma-norma, nilai-nilai atau pola tingkah laku kelompok
profesi
tertentu
dalam
memberikan
pelayanan
jasa
kepada
masyarakat.
Pekerjaan profesi antara lain dokter, apoteker, ahli kesehatan masyarakat, perawat, wartawan,
hakim,
pengacara,
akuntan,
dan
lain-lain.
Katanya, kedokteran adalah profesi yang paling duluan menyusun etika. Yang mana
etika kedokteran itu adalah prinsip-prinsip moral atau azas-azas akhlak yang harus diterapkan
oleh dokter dalam hubungannya dengan pasien, sejawat, dan masyarakat umum. Sedangkan
etika ahli kesehatan masyarakat adalah bagaimana bertingkah laku dalam memberikan jasa
dalam
pelayananya
nanti.
Ciri-ciri
pekerjaan
profesi
:
1.
Mengikuti
pendidikan
sesuai
standar
nasional
2.
Pekerjaannya
berlandaskan
etik
profesi
3.
Mengutamakan
panggilan
kemanusiaan
daripada
keuntungan
4.
Pekerjaannya
legal
melalui
perizinan
5.
Anggotanya
belajar
sepanjang
hayat
(longlife
education)
6.
Mempunyai
organisasi
profesi
(ex:
IDI,
IAKMI,
PWI,
dll)
Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu kekuasaan
dalam mengatur pergaulan hidup dalam masyarakat agar masyarakat bisa teratur.
Hukum perdata mengatur subjek dan antar subjek dalam hubungan interrelasi (kedudukan
sederajat)
(1887)
Hukum pidana adalah peraturan mengenai hokum KUHP di Indonesia (1 Januari 1918)
Hukum kesehatan (No. 23 tahun 1992) adalah semua ketentuan hukum yang
berhubungan langsung dengan pemeliharaan / pelayanan dan penerapannya. Yang diatur
menyangkut hak dan kewajiban baik perorangan dan segenap lapisan masyarakat sebagai
penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan dalam
segala aspeknya, organisasi, sarana pedoman standar pelayanan medic, ilmu pengetahuan
kesehatan
dan
hukum
serta
sumber-sumber
hukum
lainnya.

Hukum kesehatan mencakup komponen-komponen yang berhubungan dengan


kesehatan, contohnya hukum pelayanan kesehatan terhadap keluarga miskin (Gakin).
Persamaan
etika
dan
hukum
:
1.
Alat
untuk
mengatur
tertibnya
hidup
bermasyarakat
2.
Objeknya
tingkah
laku
manusia
3. Mengandung hak dan kewajiban anggota masyarakat agar tidak saling merugikan.
4.
Menggugah
kesadaran
untuk
bersikap
manusiawi
5.
Sumbernya
hasil
pemikiran
para
pakar
dan
pengalaman
senior
Etika
disusun
oleh
pengalaman
senior
Hukum
disusun
oleh
yang
memiliki
kekuasaan
Perbedaan etik dan hukum :
ETIKA
HUKUM
1.
Berlaku
untuk
lingkungan
professional
2.
Disusun
berdasarkan
kesepakatan
anggota
profesi
3. Tidak seluruhnya tertulis
4.
Pelanggaran
diselesaikan
oleh
majelis
kehormatan
etik
5.
Sanksi
pelanggaran
tuntunan
6. Penyelesaian pelanggaran tidak selalu disertai bukti fisik
1.
Berlaku
untuk
umum
2.
Disusun
oleh
badan
pemerintah
/
kekuasaan
3. Tercantum secara rinci dalam kitab UU dan lembaran/berita negara
4.
Pelanggaran
diselesaikan
melalui
pengadilan
5.
Sanksi
pelanggaran
tuntutan
6. Penyelesaian pelanggaran memerlukan bukti fisik
Etika kesehatan mencakup penilaian terhadap gejala kesehatan yang disetujui atau
ditolak dan suatu kerangka rekomendasi bagaimana bersikap/bertindak secara pantas di
dalam
bidang
kesehatan.
Perihal
hubungan
tenaga
kesehatan
dengan
pasien
dan
keluarganya
:
kalangan
1.
Paternalisme
Profesi kesehatan harus berperan sebagai orangtua terhadap pasien dan keluarganya
2.Individualisme
Pasien
mempunyai
hak-hak
mutlak
terhadap
badan
dan
kehidupannya
3.Resiprokalisme
Kalangan profesi kesehatan harus bekerja sama dengan pasien dan keluarganya dalam
memberikan
pelayanan
kesehatan
Landasan pembentukan perundang-undngan pelayanan kesehatan (WB Van Der Mijn 1982)
1.Kebutuhan
akan
pengaturan
pemberian
jasa
keahlian
2.Kebutuhan
akan
tingkat
kualitas
keahlian
tertentu
3.Kebutuhan
akan
keterarahan
4.Kebutuhan
akan
pengendalian
biaya
5.Kebutuhan akan kebebasan warga masyarakat untuk menentukan kepentingannya dan
identifikasi
kewajiban
pemerintah
6.Kebutuhan
pasien
akan
perlindungan
hukum
7.Kebutuhan
akan
perlindungan
hukum
bagi
para
ahli
8.Kebutuhan
akan
perlindungan
hukum
bagi
pihak
ketiga
9.Kebutuhan
akan
perlindungan
bagi
kepentingan
umum
Perlu
sosialisasi
peraturan
hukum
pada
masyarakat
Masalah pokok dalam pembentukan perundang-undangan kesehatan :

1.Masalah prinsi apa yang boleh dilakuakn dan yang tidak boleh dilakukanpil
sampai sejauh manakah pembentuk perundang-undagan dapat berbuat atau tidak berbuat
2.Masalah pragmatis

http://catatankuliahnya.wordpress.com/category/semester-3/etika-dan-hukum-kesehatan/

A. Etika Profesi gizi


Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 374/MENKES/SK/III/2007 Tanggal : 27
Maret 2007
STANDAR PROFESI GIZI
Standar Profesi Gizi dapat digunakan sebagai pedoman bagi tenaga gizi dengan tujuan
untuk mencegah tumpang tindih kewenangan berbagai profesi yang terkait dengan gizi.
Untuk itu Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) harus menyikapi dan mengantisipasi hal
tersebut dengan meningkatkan kualitas sumber daya yang ada melalui penetapan Standar
Profesi Gizi.
Tujuan
1. Tujuan Umum
Penyusunan Standar Profesi Gizi sebagai landasan pengembangan profesi gizi di Indonesia.
2. Tujuan Khusus
a. Sebagai acuan bagi penyelenggaraan pendidikan gizi di Indonesia dalam rangka menjaga
mutu gizi.
b. Sebagai acuan perilaku gizi dalam mendarmabaktikan dirinya di masyarakat.
c. Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan gizi yang profesional baik untuk individu
maupun kelompok.
d. Mencegah timbulnya malpraktek gizi.
C. Pengertian dan Ruang Lingkup
1. Pengertian
a. Profesi Gizi adalah suatu pekerjaan di bidang gizi yang dilaksanakan berdasarkan suatu
keilmuan (body of knowledge), memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan
yang berjenjang, memiliki kode etik dan bersifat melayani masyarakat.
b. Ahli Gizi dan Ahli Madya Gizi adalah seorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan akademik dalam bidang gizi sesuai aturan yang berlaku, mempunyai tugas,
tanggung jawab dan wewenang secara penuh untuk melakukan kegiatan fungsional dalam
bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik baik di masyarakat, individu atau rumah sakit.
c. Sarjana Gizi adalah seorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan minimal pendidikan
formal sarjana gizi (S1) yang diakui pemerintah Republik Indonesia.
d. Ahli Gizi-Ahli Diet Teregistrasi atau disebut Registered Dietisien yang disingkat RD
adalah sarjana gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi (internship) dan ujian profesi
serta dinyatakan lulus kemudian diberi hak untuk mengurus ijin memberikan pelayanan dan
menyelenggarakan praktek gizi.
e. Ahli Madya Gizi Teregistrasi atau disebut Teknikal Registered Dietisien adalah seorang
yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Diploma III Gizi sesuai aturan yang
berlaku, mempunyai tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh untuk melakukan

kegiatan fungsional dalam bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik baik di masyarakat,
individu atau rumah sakit.
f. Ilmu Gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam
hubungannya dengan kesehatan optimal. Kata gizi berasal dari bahasa Arab ghidza yang
berarti makanan. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan sisi lain dengan
tubuh manusia.
g. Pelayanan Gizi adalah suatu upaya memperbaiki atau meningkatkan gizi, makanan,
dietetik masyarakat, kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan
yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, kesimpulan, anjuran, implementasi dan
evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam
kondisi sehat atau sakit.
h. Standar Kompetensi Gizi adalah standar kemampuan yang menjamin bahwa Ahli Gizi dan
Ahli Madya Gizi dapat menyelenggarakan praktek pelayanan gizi dalam masyarakat.
i. Standar Pendidikan Ahli Gizi adalah standar operasional tentang penyelenggaraan
pendidikan Ahli Gizi dan Ahli Madya Gizi.
j. Standar Pendidikan Profesi adalah standar yang mengukur tentang penyelengaraan
pendidikan profesi ahli gizi (ahli gizi-ahli diet teregistrasi).
k. Standar Pendidikan Berkelanjutan Gizi adalah standar yang mengatur tentang pendidikan
berkelanjutan.
l. Standar Pelayanan Gizi adalah standar yang mengatur penerapan ilmu gizi dalam
memberikan pelayanan dan asuhan gizi dengan pendekatan manajemen kegizian.
m. Standar Praktek Gizi adalah standar minimal yang harus dilakukan oleh Nutrisionis dalam
memberikan pelayanan gizi agar pelayanannya menjamin keamanan, efektif dan etis.
2. Ruang Lingkup
a. Gizi sebagai Profesi
Di Indonesia masalah gizi utama masih didominasi oleh masalah gizi Kurang Energi
Protein (KEP), masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan masalah
Kekurangan Vitamin (KVA) dan mulai meningkatnya masalah obesitas terutama di kota-kota
besar. Disamping itu, diduga ada masalah gizi mikro lainnya seperti defisiensi zinc yang
sampai saat ini belum terungkapkan karena adanya keterbatasan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang gizi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai
bidang pembangunan dan makin berkembangnya paradigma pembangunan nasional yang
berwawasan sumber daya manusia (SDM), maka upaya untuk meningkatkan status gizi
masyarakat dan penanggulangan permasalahannya (masalah gizi) makin mendapat prioritas
dalam strategi pembangunan nasional. Keadaan gizi masyarakat umum dan individu
khususnya mempunyai dampak terhadap pembangunan negara secara umum dan khusus
berdampak pada pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan serta produktivitas manusia. Oleh
karena itu, pemecahan masalah gizi ditempatkan sebagai ujung tombak paradigma sehat
untuk mencapai Indonesia sehat pada masa mendatang.
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Bab V, Pasal 10
menyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat,
diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan
(promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan
kesehatan (rehabilitatif) yang akan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan. Perbaikan gizi merupakan salah satu cara mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal sebagaimana tercantum dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan.
Menurut Pasal 20 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dinyatakan
bahwa perbaikan gizi diselenggarakan untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan gizi dan

meliputi upaya peningkatan status dan mutu gizi, pencegahan, penyembuhan, dan atau
pemulihan akibat gizi salah. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan tenaga-tenaga gizi
yang menguasai segala permasalahan gizi yang dihadapi. Seorang ahli gizi diharapkan dapat
menangani permasalahan gizi pada tingkat tinggi yang dapat dicapai sesuai dengan
perkembangan IPTEK, sarana dan prasarana dan kemampuan manajemen.
Mengingat dan memperhatikan hal tersebut di atas, keberadaan ahli gizi dan ahli
madya gizi di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelayanan gizi berada dimana-mana dan kapan saja selama masyarakat dan individu masih
mau untuk hidup sehat dalam siklus kehidupan manusia.
Ada beberapa pengertian tentang ahli gizi. Dari berbagai pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa ahli gizi adalah profesi khusus, orang yang mengabdikan diri dalam
bidang gizi serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui suatu pendidikan
khususnya bidang gizi. Tugas yang diemban oleh ahli gizi berguna untuk kesejahteraan
manusia. Demikian juga dengan pengertian masyarakat, ada permasalahan gizi pasti ada ahli
gizi.
Pada saat ini, pengertian Register Dietisien adalah seseorang yang menyelesaikan
pendidikan akademik strata I dan pendidikan profesi gizi dalam suatu lembaga pendidikan
perguruan tinggi yang telah direkomendasikan. Pelayanan gizi adalah pelayanan profesional
gizi yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diberikan kepada
masyarakat dalam kurun waktu tertentu.
Sebagai profesi gizi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mengembangkan pelayanan yang unik kepada masyarakat.
2. Anggota-anggotanya dipersiapkan melalui suatu program pendidikan.
3. Memiliki serangkaian pengetahuan ilmiah.
4. Anggota-anggotanya menjalankan tugas profesinya sesuai kode etik yang berlaku.
5. Anggota-anggotanya bebas mengambil keputusan dalam menjalankan profesinya.
6. Anggota-anggotanya wajar menerima imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan.
7. Memiliki suatu organisasi profesi yang senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat oleh anggotanya.
8. Pekerjaan/sumber utama seumur hidup.
9. Berorientasi pada pelayanan dan kebutuhan obyektif.
10. Otonomi dalam melakukan tindakan.
11. Melakukan ikatan profesi, lisensi jalur karir.
12. Mempunyai kekuatan dan status dalam pengetahuan spesifik.
13. Alturism.
b. Ahli Gizi Sebagai Tenaga Kerja Profesional
Ahli Gizi termasuk Ahli Madya Gizi adalah pekerja profesional. Persyaratan sebagai
pekerja profesional telah dimiliki oleh Ahli Gizi maupun Ahli Madya Gizi tersebut.
Persyaratan tersebut adalah:
1. Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis.
2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan tenaga profesional.
3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat.
4. Mempunyai kewenangan yang disyahkan atau diberikan oleh pemerintah.
5. Mempunyai peran dan fungsi yang jelas.
6. Mempunyai kompetensi yang jelas dan terukur.
7. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah.
8. Memiliki etika Ahli Gizi.
9. Memiliki standar praktek.
10. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sesuai dengan

kebutuhan pelayanan.
11. Memiliki standar berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi.
c. Prinsip-Prinsip Kode Etik
Profesi Gizi mengabdikan diri dalam upaya kesejahteraan dan kecerdasan bangsa,
upaya perbaikan gizi, memajukan dan mengembangkan ilmu dan teknologi gizi serta ilmuilmu yang berkaitan dan meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat. Sebagai tenaga gizi
profesional, seorang ahli gizi dan ahli madya gizi harus melakukan tugas-tugasnya atas
dasar :
1. Kesadaran dan rasa tanggung jawab penuh akan kewajiban terhadap bangsa dan negara.
2. Keyakinan penuh bahwa perbaikan gizi merupakan salah satu unsur penting dalam upaya
mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan rakyat.
3. Tekad bulat untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi tercapainya masyarakat
adil, makmur dan sehat sentosa.
Untuk itu, seorang ahli gizi dan ahli madya gizi dalam melakukan tugasnya perlu
senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji
yang dilandasi oleh falsafah dan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi Indonesia serta etik
profesi, baik dalam hubungan dengan pemerintah bangsa, negara, masyarakat, profesi
maupun dengan diri sendiri.
Dengan melihat cakupan dan kode etik tersebut, disimpulkan bahwa profesi gizi
berperan dalam kebijakan sistem pelayanan kesehatan, mendidik dan mengintervensi
individu, kelompok, masyarakat serta meneliti dan mengembangkan demi menjaga mutu
pelayanan. Oleh karena itu, perlu disusun standar kompetensi ahli gizi dan ahli madya gizi
Indonesia yang dilandasi dengan peran-peran ahli gizi dan ahli madya gizi sebagai pelaksana,
pengelola, pendidik, penyelia, pemasar, anggota tim dan pelaku praktek kegizian yang
bekerja secara profesional dan etis.
D. Kualifikasi Pendidikan Gizi
a. Pendidikan Gizi
Pendidikan gizi dapat ditempuh melalui jalur akademik strata I dan diploma. Setelah itu
dilanjutkan dengan jalur profesi. Jalur akademik diawali dengan pendidikan Strata I , Strata
II, dan terakhir Strata III, sedangkan jalur diploma diawali dengan pendidikan Diploma III,
dan dilanjutkan pada program pendidikan Diploma IV. Kemampuan yang diharapkan dari
kualifikasi pendidikan ini diantaranya :
1. Lulusan Pendidikan Gizi Profesional pada Program Diploma III menguasai kemampuan
dalam bidang kerja yang bersifat rutin, menerapkan ilmu pengetahuan gizi untuk memberikan
pelayanan langsung yang bersifat teknis di dalam pelayanan gizi yang terorganisir, maupun
praktek sendiri.
2. Lulusan Pendidikan Gizi Profesional pada Program Diploma IV menguasai kemampuan
profesional dalam melaksanakan pekerjaan yang kompleks, menerapkan dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi untuk memberikan pelayanan
langsung yang bersifat keahlian di dalam pelayanan gizi yang terorganisir maupun praktek
mandiri.
3. Lulusan Pendidikan Gizi Akademik pada program sarjana menguasai dasar-dasar ilmiah
dan keterampilan, menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan praktek gizi, mampu
bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya dibidang gizi, mampu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi serta mengupayakan penggunaannya
untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan praktek mandiri.

b. Kurikulum
Penyelenggaraan pendidikan menggunakan kurikulum nasional yang dikeluarkan oleh
lembaga yang berwenang dan dikembangkan sesuai dengan falsafah dan misi dari lembaga
pendidikan gizi
Kriteria :
a. Penyelenggaraan pendidikan berdasarkan pada kurikulum nasional yang dikeluarkan oleh
Dirjen Dikti DEPDIKNAS dan telah disepakati bersama antara organisasi profesi dengan
institusi pengguna lulusan (stake holder) serta institusi pendidikan tinggi gizi.
b. Dalam pelaksanaan pendidikan kurikulum dikembangkan sesuai dengan falsafah dan misi
dari institusi pendidikan gizi
c. Struktur Kurikulum Inti Sarjana Gizi adalah sebagai berikut :
Bertolak dari tujuan pendidikan sarjana gizi dan orientasi pendidikan maka disusun
kurikulum sarjana gizi (strata 1 gizi), pengalaman belajar dan evaluasi hasil belajar peserta
didik. Kurikulum pendidikan disusun berdasarkan kompetensi lulusan yang diinginkan
dengan jumlah SKS sebesar 144-160. Kurikulum inti digunakan sebagai kurikulum nasional
pendidikan sarjana gizi dengan beban studi 57-72 %, sedangkan kurikulum institusi dengan
beban studi 28-43 % ditetapkan oleh masing-masing institusi.
Kurikulum Inti (72-112 sks)
1. Kelompok Ilmu-Ilmu Biologi & Fisik/Biomedik (16-20 sks)
a. Pengantar Biologi Manusia 2-3 sks
b. Kimia Dasar (ariorganik) 2-3 sks
c. Kimia Organik 2-3 sks
d.Fisika 2-3 sks
e. Anatomi 2-4 sks
f. Fisiologi 4-6 sks
g. Patofisiologi Penyakit 4-6 sks
2. Kelompok Gizi Manusia (16-24 sks)
a. Pengantar Biokimia 2-3 sks
b. Metabolisme Energi, Zat Gizi Makro 2-3 sks
c. Metabolisme Zat Gizi Mikro 2-3 sks
d. Dasar-dasar ilmu gizi 2-3 sks
e. Gizi dalam daur kehidupan 2-4 sks
f. Dietetika penyakit infeksi dan defisiensi 2-4 sks
g. Dietetika penyakit degeneratif 2-4 sks
h. Penilaian Status Gizi 2-4 sks
3. Kelompok Ilmu Pangan (5-10 sks)
a. Dasar-dasar Kulinari 2-3 sks
b. Ilmu Bahan Makanan 2-4 sks
c. Analisa zat gizi 2-4 sks
4. Kelompok Ilmu-ilmu Sosial dan Perilaku (8-12 sks)
a. Dasar-dasar Komunikasi 2-3 sks
b. Psikologi 2-3 sks
c. Antropologi 2-3 sks
d. Sosiologi 2-3 sks
e. Ilmu Pendidikan 2-3 sks
5. Kelompok Riset (19-26 sks)
a. Filsafat ilmu pengetahuan 2-3 sks
b. Matematika 2-3 sks
c. Statistika 4-6 sks

d. Metode Riset 3-4 sks


e. Epidemiologi 2-4 sks
f. Skripsi 6 sks
6. Kelompok Ilmu Manajemen (4-6 sks)
a. Dasar-dasar Manajemen 2-3 sks
b. Manajemen Industri Pelayanan Makanan Gizi 2-3 sks
7. Kelompok Humaniora (8 sks)
a. Pancasila 2 sks
b. Kewarganegaraan 2 sks
c.Agama 2 sks
d. Bioetika (Etika profesi dan hukum kesehatan) 2 sks
8. Kepaniteraan (Internship) (6-8 sks)
a. Bidang dietetik 3-4 sks
b. Bidang gizi masyarakat 3-4 sks
Pendidikan Profesi (Pendidikan Dietetics Internship)
Institusi Penyelenggara adalah suatu institusi pendidikan tinggi baik negeri maupun
swasta dengan kaidah-kaidah yang tercantum pada Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional.
1. Tujuan
a. Tujuan Umum : menghasilkan tenaga profesi gizi yang beragama dan mampu
mengamalkan kemampuan profesi secara baik dan manusiawi, berdedikasi tinggi terhadap
profesi dan klien, tanggap terhadap perkembangan ilmu dan teknologi penanganan gizi.
b. Tujuan Khusus :
a. Menghasilkan tenaga ahli mampu melakukan pelayanan/ asuhan gizi sesuai kebutuhan.
b. Menghasilkan tenaga ahli yang menjunjung tinggi martabat profesi.
c. Menghasilkan tenaga ahli yang menjunjung tinggi martabat manusiawi klien.
d. Menghasilkan tenaga ahli yang senantiasa terbuka dalam pengembangan ilmu dan
teknologi penanganan gizi.
2. Kompetensi dan Peserta Pendidikan Profesi
a. Kompetensi
Kompetensi gizi dibagi dalam tiga bidang materi yaitu:
1. Clinical nutrition
2. Food Service and Food Production
3. Community Dietetics
b. Peserta Pendidikan Profesi:
1. Peserta pendidikan profesi (dietetic internship) sesuai ketentuan peraturan yang berlaku
adalah sarjana gizi (S.Gz) yang telah menyelesaikan pendidikan setingkat strata I (S1) dengan
kurikulum yang telah direkomendasi oleh forum komunikasi ilmu gizi. Sebutan bagi peserta
yang telah menyelesaikan pendidikan profesi (dietetics internship) adalah ahli Gizi (dietisien
teregistrasi).
2. Lulusan D3 atau D4 dengan persyaratan khusus yang akan dikaji lebih lanjut.
3. Beban studi : 900 1000 jam setara dengan 20 SKS dengan beban studi dan lama waktu
studi akan dipertimbangkan lebih lanjut.
4. Materi
- Bidang dietetik: pelayanan gizi/asuhan gizi pada beberapa penyakit khususnya bedah (2
mg), penyakit dalam (4 mg), penyakit anak (2 mg), obstetri dan ginekologi (1 mg), penyakit
syaraf (1 mg), ICU/ICCU (1 mg) dan kulit/mata (1 mg).
- Bidang gizi masyarakat meliputi pengelolaan permasalahan gizi Dinas Kesehatan dan
Puskesmas.

- Bidang penyelenggaraan makanan dan produksi makanan, pengelolaan sistem


penyelenggaraan makanan di institusi komersial dan non komersial.
5. Tempat : ditentukan bersama antara institusi pendidikan gizi dengan organisasi profesi
yaitu di : Rumah Sakit (kelas A, B, dan C) baik swasta/pemerintah yang menyelenggarakan
minimal 3 kegiatan pelayanan gizi (pengadaan makanan, pelayanan gizi ruang rawat inap,
dan konsultasi gizi).
6. Komunitas (Dinas kesehatan Kabupaten/kota, Puskesmas, organisasi masyarakat misalnya
Poslantia yang memberikan pelayanan gizi dan kesehatan).
7. Institusi penyelenggara makanan (hotel, katering, RS, Asrama, Panti, Industri Lembaga
Pemasyarakatan).
8. Pembimbing
Pembimbing lapangan dari lahan praktek seperti rumah sakit, komunitas dan institusi
penyelenggara makanan dalam penyelenggaraan pendidikan profesi mempunyai kualifikasi:
Mempunyai sertifikat clinical instruktur yang diselenggarakan oleh AIPGI bekerja sama
dengan PERSAGI; Pendidikan gizi serendah-rendahnya S2 bidang gizi; Mempunyai
pengalaman dalam pelayanan/asuhan gizi/pengelolaan program gizi/pendidikan gizi minimal
5 tahun; Diusulkan oleh institusi penyelenggara pendidikan profesi gizi sebagai pembimbing.
9. Penguji
Penguji yang berhak melakukan evaluasi program dalam pendidikan profesi adalah tenaga
kesehatan atau gizi yang mempunyai kualifikasi:
1) Pendidikan minimal S2 dengan latar belakang pendidikan gizi dan menguasai minimal
salah satu 3 komponen yang akan diujikan (clinical, community dan food service).
2) Mempunyai pengalaman dalam asuhan gizi/pengelolaan program gizi/pendidikan gizi
minimal 5 tahun.
3) Diusulkan institusi penyelenggara pendidikan profesi gizi sebagai penguji.
II. STANDAR KOMPETENSI
A. Falsafah dan Tujuan
Standar kompetensi ahli gizi disusun berdasarkan jenis ahli gizi yang ada saat ini yaitu ahli
gizi dan ahli madya gizi. Keduanya mempunyai wewenang dan tanggung jawab yang
berbeda. Secara umum tujuan disusunnya standar kompetensi ini adalah sebagai landasan
pengembangan profesi Ahli Gizi di Indonesia sehingga dapat mencegah tumpang tindih
kewenangan berbagai profesi yang terkait dengan gizi. Adapun tujuan secara khusus adalah
sebagai acuan bagi kurikulum pendidikan gizi di Indonesia dalam rangka menjaga mutu Ahli
Gizi, menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan gizi yang profesional baik untuk individu
maupun kelompok dan mencegah timbulnya mal-praktek gizi.
B. Peran
1. Ahli Gizi
a. Pelaku tatalaksana/asuhan/pelayanan gizi klinik
b. Pengelola pelayanan gizi di masyarakat
c. Pengelola tatalaksana /asuhan/pelayanan gizi di RS
d. Pengelola sistem penyelenggaraan makanan Institusi /masal
e. Pendidik/Penyuluh/pelatih /konsultan gizi
f. Pelaksana penelitian gizi.
g. Pelaku pemasaran produk gizi dan kegiatan wirausaha.
h. Berpartisipasi bersama tim kesehatan dan tim lintas sektoral.
i. Pelaku praktek kegizian yang bekerja secara profesional dan etis.
2. Ahli Madya Gizi
a. Pelaku tatalaksana/asuhan/pelayanan gizi klinik.
b. Pelaksana pelayanan gizi masyarakat

c. Penyelia sistem penyelenggaraan makanan Institusi/massal.


d. Pendidik/Penyuluh/pelatih/konsultan gizi.
e. Pelaku pemasaran produk gizi dan kegiatan wirausaha.
f. Pelaku praktek kegizian yang bekerja secara profesional dan etis.
C. Kompetensi
Unjuk Kerja Kompetensi Nutrisionis dibedakan berdasarkan kata kerja dari 4 (empat)
tingkatan yang disusun secara berurutan dan dimulai dari tingkatan unjuk kerja paling rendah.
Tingkatan unjuk kerja yang lebih tinggi menggambarkan bahwa tingkatan unjuk kerja yang
lebih rendah dianggap telah mampu dilaksanakan.
1. Membantu : melakukan kegiatan secara independent dibawah pengawasan atau
Berpartisipasi (berperan serta) : mengambil bagian kegiatan tim.
2. Melaksanakan : mampu memulai kegiatan tanpa pengawasan langsung, atau Melakukan :
mampu melakukan kegiatan secara mandiri.
3. Mendidik : mampu melaksanakan fungsi-fungsi khusus yang nyata; aktivitas yang di
delegasikan yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan atau pekerjaan, dll atau
Menyelia/mengawasi/memantau : mampu mengamati kegiatan sehari-hari satu unit termasuk
SDM, penggunaan sumber daya, masalah-masalah lingkungan atau mampu mengkoordinasi
dan mengarahkan kegiatan dan pekerjaan tim.
4. Mengelola : mampu merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan suatu organisasi.
Secara lengkap unit kompetensi Nutrisionis dan Ahli Madya Gizi dapat dilihat sebagai
berikut :
D. Kompetensi Ahli Gizi (Dasar Pendidikan S1 Gizi)
No
Kode
Judul Unit Kompetensi
1 Kes.Gz.01.01.01 Melakukan praktek kegizian sesuai dengan nilai-nilai dan Kode Etik
Profesi Gizi
2 Kes.Gz.01.02.01 pasien/klien kepada professional N/D atau disiplin lain bila diluar
kemampuan/kewenangan.
3 Kes.Gz.01.03.01 Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan profesi.
4 Kes.Gz.01.04.01 Melakukan pengkajian diri dan berpartisipasi dalam pengembangan
profesi serta pendidikan seumur hidup.
5 Kes.Gz.01.05.01 Berpartisipasi dalam penyusunan kebijakan pemerintah dalam bidang
pangan, ketahanan pangan, pelayanan gizi dan kesehatan.
6 Kes.Gz.01.06.01 Menggunakan tekonologi mutakhir untuk kegiatan komunikasi dan
informasi.
7 Kes.Gz.02.07.01 Mengawasi dokumentasi pengkajian dan intervensi 18
KODE ETIK AHLI GIZI
Mukadimah Ahli Gizi yang melaksanakan profesi gizi mengabdikan diri dalam upaya
memelihara dan memperbaiki keadaan gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat
melalui upaya perbaikan gizi, pendidikan gizi, pengembangan ilmu dan teknologi gizi, serta
ilmu-ilmu terkait. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya harus senantiasa bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji yang dilandasi oleh falsafah
dan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi Indonesia serta etik profesinya.
A. KEWAJIBAN UMUM
1. Ahli Gizi berperan meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam

meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat


2. Ahli Gizi berkewajiban menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan menunjukkan
sikap, perilaku, dan budi luhur serta tidak mementingkan diri sendiri
3. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjalankan profesinya menurut standar profesi yang
telah ditetapkan.
4. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjalankan profesinya bersikap jujur, tulus dan adil.
5. Ahli Gizi berkewajiban menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan, informasi
terkini, dan dalam menginterpretasikan informasi hendaknya objektif tanpa membedakan
individu dan dapat menunjukkan sumber rujukan yang benar.
6. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga
dapat bekerjasama dengan fihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan.
7. Ahli Gizi dalam melakukan profesinya mengutamakan kepentingan masyarakat dan
berkewajiban senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang
sebenarnya.
8. Ahli Gizi dalam berkerjasama dengan para profesional lain di bidang kesehatan maupun
lainnya berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya.
B. KEWAJIBAN TERHADAP KLIEN
1. Ahli Gizi berkewajiban sepanjang waktu senantiasa berusaha memelihara dan
meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau di masyarakat
umum.
2. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjaga kerahasiaan klien atau masyarakat yang
dilayaninya baik pada saat klien masih atau sudah tidak dalam pelayanannya, bahkan juga
setelah klien meninggal dunia kecuali bila diperlukan untuk keperluan kesaksian hukum.
3. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya senantiasa menghormati dan menghargai
kebutuhan unik setiap klien yang dilayani dan peka terhadap perbedaan budaya, dan tidak
melakukan diskriminasi dalam hal suku, agama, ras, status sosial, jenis kelamin, usia dan
tidak menunjukkan pelecehan seksual.
4. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima, cepat, dan akurat.
5. Ahli Gizi berkewajiban memberikan informasi kepada klien dengan tepat dan jelas,
sehingga memungkinkan klien mengerti dan mau memutuskan sendiri berdasarkan informasi
tersebut.
6. Ahli Gizi dalam melakukan tugasnya, apabila mengalami keraguan dalam memberikan
pelayanan berkewajiban senantiasa berkonsultasi dan merujuk kepada ahli gizi lain yang
mempunyai keahlian.
C. KEWAJIBAN TERHADAP MASYARAKAT
1. Ahli Gizi berkewajiban melindungi masyarakat umum khususnya tentang penyalahgunaan
pelayanan, informasi yang salah dan praktek yang tidak etis berkaitan dengan gizi, pangan
termasuk makanan dan terapi gizi/diet. ahli gizi hendaknya senantiasa memberikan
pelayanannya sesuai dengan informasi faktual, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
2. Ahli Gizi senantiasa melakukan kegiatan pengawasan pangan dan gizi sehingga dapat
mencegah masalah gizi di masyarakat.
3. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa peka terhadap status gizi masyarakat untuk mencegah
terjadinya masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat.
4. Ahli Gizi berkewajiban memberi contoh hidup sehat dengan pola makan dan aktifitas fisik
yang seimbang sesuai dengan nilai paktek gizi individu yang baik.
5. Dalam bekerja sama dengan profesional lain di masyarakat, Ahli Gizi berkewajiban
hendaknya senantiasa berusaha memberikan dorongan, dukungan, inisiatif, dan bantuan lain
dengan sungguh-sungguh demi tercapainya status gizi dan kesehatan optimal di masyarakat.
6. Ahli Gizi dalam mempromosikan atau mengesahkan produk makanan tertentu

berkewajiban senantiasa tidak dengan cara yang salah atau, menyebabkan salah interpretasi
atau menyesatkan masyarakat
D. KEWAJIBAN TERHADAP TEMAN SEPROFESI DAN MITRA KERJA
1. Ahli Gizi dalam bekerja melakukan promosi gizi, memelihara dan meningkatkan status gizi
masyarakat secara optimal, berkewajiban senantiasa bekerjasama dan menghargai berbagai
disiplin ilmu sebagai mitra kerja di masyarakat.
2. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memelihara hubungan persahabatan yang harmonis
dengan semua organisasi atau disiplin ilmu/profesional yang terkait dalam upaya
meningkatkan status gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat.
3. Ahli Gizi berkewajiban selalu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan keterampilan
terbaru kepada sesama profesi dan mitra kerja.
E. KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI DAN DIRI SENDIRI
1. Ahli Gizi berkewajiban mentaati, melindungi dan menjunjung tinggi ketentuan yang
dicanangkan oleh profesi.
2. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memajukan dan memperkaya pengetahuan dan keahlian
yang diperlukan dalam menjalankan profesinya sesuai perkembangan ilmu dan teknologi
terkini serta peka terhadap perubahan lingkungan.
3. Ahli Gizi harus menunjukan sikap percaya diri, berpengetahuan luas, dan berani
mengemukakan pendapat serta senantiasa menunjukan kerendahan hati dan mau menerima
pendapat orang lain yang benar.
4. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya berkewajiban untuk tidak boleh dipengaruhi oleh
kepentingan pribadi termasuk menerima uang selain imbalan yang layak sesuai dengan
jasanya, meskipun dengan pengetahuan klien/masyarakat (tempat dimana ahli gizi
diperkerjakan).
5. Ahli Gizi berkewajiban tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum, dan memaksa
orang lain untuk melawan hukum.
6. Ahli Gizi berkewajiban memelihara kesehatan dan keadaan gizinya agar dapat bekerja
dengan baik.
7. Ahli Gizi berkewajiban melayani masyarakat umum tanpa memandang keuntungan
perseorangan atau kebesaran seseorang.
8. Ahli Gizi berkewajiban selalu menjaga nama baik profesi dan mengharumkan organisasi
profesi.
F. PENETAPAN PELANGGARAN
Pelanggaran terhadap ketentuan kode etik ini diatur tersendiri dalam Majelis Kode Etik
Persatuan Ahli Gizi Indonesia
G. KEKUATAN KODE ETIK
Kode etik Ahli Gizi ini dibuat atas prinsip bahwa organisasi profesi bertanggung jawab
terhadap kiprah anggotanya dalam menjalankan praktek profesinya.
Kode etik ini berlaku setelah hari dari disahkannya kode etik ini oleh sidang tertinggi profesi
sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
profesi gizi.
http://www.puspronakesln.org/pdfupload/Lamp%20KMK%20No.%20374.pdf

ETIKA PROFESI KEPERAWATAN


Etika khusus yang mengatur tanggung jawab moral para perawat.

l .Kesepakatan moralitas para perawat.


Disusun oleh Organisasi profesi, berdasarkan suatu sumber yang ada dilingkungan; baik
lingkungan kesehatan, lingkungan konsumen dan lingkungan Komunitas Keperawatan.
Sumber Etika Profesi keperawatan :
1. Etika Kesehatan.
2. Etika umum yang berlaku di masyarakat,
3. Etika Profesi keperawatan dunia -> ICN.
Etika Kesehatan :
Menurut Leenen Gozondeid Sethick, adalah etika khusus dengan menerapkan nilai
nilai dalam bidang pemeliharaan / pelayanan kesehatan yang dilandasi oleh nilai nilai
individu dan masyarakat.
Menurut Soeyono Soekamto (1986), Etika kesehatan mencakup penilaian terhadap
gejala kesehatan baik yang disetujui maupun tidak disetujui, serta mencakup rekomendasi
bagaimana bersikap/ bertindak secara pantas dalam bidang kesehatan.
Etika Kesehatan mencakup ruang lingkup minimalal :
1. tritmen pada pasien yang menghadapi ajal
2. Mengijinkan unsur mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas
permintaan pasien sendiri,pembatasan perilaku, dan infomrmed consent.
3. Bioetika
4. Pengungkapan kebenaran dan kerahasiaan dalam bidang kedokteran.
Contoh penerapan :
1 Tritmen pada pasien yang menghadapi ajal :
- Pemberian O2 -> diteruskan / di stop.
- Program pengobatan diteruskan /tidak
- Suport terapi ( RJP ) sampai kapan.
- dalam kondisi MBO.
ETIKA

PROFESI

KEPERAWATAN

Etika
khusus
yang
mengatur
tanggung
jawab moral para perawat.
l Kesepakatan
moralitas
para
perawat.
Disusun oleh Organisasi profesi, berdasarkan suatu sumber yang ada dilingkungan; baik
lingkungan kesehatan, lingkungan konsumen dan lingkungan Komunitas Keperawatan.
Sumber Etika Profesi keperawatan :
1.
Etika
Kesehatan.
2.
Etika
umum
yang
berlaku
di
masyarakat,
3.
Etika
Profesi
keperawatan
dunia
->
ICN.
Etika
Kesehatan
:
Menurut Leenen Gozondeid Sethick, adalah etika khusus dengan menerapkan nilai nilai
dalam bidang pemeliharaan / pelayanan kesehatan yang dilandasi oleh nilai nilai individu
dan
masyarakat.
Menurut Soeyono Soekamto (1986), Etika kesehatan mencakup penilaian terhadap gejala
kesehatan baik yang disetujui maupun tidak disetujui, serta mencakup rekomendasi
bagaimana
bersikap/
bertindak
secara
pantas
dalam
bidang
kesehatan.
Etika
Kesehatan
mencakup
ruang
lingkup
minimalal
:

1.
tritmen
pada
pasien
yang
menghadapi
ajal
2. Mengijinkan unsur mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas
permintaan
pasien
sendiri,pembatasan
perilaku,
dan
infomrmed
consent.
3.
Bioetika
4. Pengungkapan kebenaran dan kerahasiaan dalam bidang kedokteran.
Contoh
1
Tritmen
Pemberian
Program
Suport
-

penerapan
:
pada
pasien
yang
menghadapi
ajal
:
O2
->
diteruskan
/
di
stop.
pengobatan
diteruskan
/
tidak
terapi
(
RJP
)
sampai
kapan.
dalam
kondisi
MBO.

2. Mengijinkan unsur mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas
permintaanpasien
sendiri,pembatasan
perilaku,
dan
infomrmed
consent.
Pa
sien
teriminal
Status
vegetatif
pasien
HIV
/AID
pasien
mendapat
terapi
diet
pasien
menghadapi
tindakan
medik
-operasi, pemakaian obat yangharganya mahal dll.
3
Bioetika
- aborsi, pembatasan kelahiran,sterilisasi, bayi tabung, tranplantasi organ dll.
4
-

Pengungkapan
kebenaran
permintaan

dan

kerahasiaan
informasi
Catatan

Pembicaraan

dalam
bidang
data
kasus

:
kedokteran.
pasien,
medik,
pasien.

Etika
umum
yang
berlaku
di
masyarakat
:
Privasi
pasien,
Menghargai
harkat
martabat
pasien
Sopan
santun
dalam
pergaulan
saling
menghormati,
saling
membantu.
- peduli terhadap lingkungan
Etika
Profesi
keperawatan
dunia
ICN.
Etika Keperawatan terkandung adanya nilai nilai dan prinsip prinsip yang berfokus bagi
praktik
Perawat.
Praktik perawat bermuara pada interaksi profesional dengan pasien serta menunjukan
kepedulian perawat terhadap hubungan yang telah dilakukannya.
8
1.
2.
3.
4.
5.

prinsip

utama

dalam

Etika

Beneficence

Veracity

Keperawatan

ICN

:
Respek
Otonomi
kemurahan
hati)
Non-maleficence,
kejujuran
)

6.
Kridensialitas
7.
Fidelity
8. Justice ( keadilan )

(
(

kerahasiaan
kesetiaan

)
)

1 Respek :
perilaku perawat yang menghormati / menghargai pasien /klien. hak hak
pasien,penerapan inforned consent
Perilaku perawat menghormati sejawat
Tindakan eksplisit maupun implisit
simpatik, empati kepada orang lain.
.2 Otonomi :
hak untuk mengatur dan membuat keputusannya sendiri. Tetapi tidak sebebas
bebasnya ada keterbatasan dalam hukum,kompetensi dan kewenangan.
perlu pemahaman tindakan kolaborasi.
3
Beneficence
(
kemurahan
hati)
:
berkaitan dengan kewajiban untuk melakukan hal yang baik dan tidak membahayakan orang
lain.
lanjutan :Pada dasarnya seseorang diharapkan dapat membuat keputusan untuk dirinya
sendiri , kecuali bagi mereka yang tidak dapat melakukannya.seperti:bayi dan anak pasien
koma,keterbelakangan mental / kelainan kejiwaan.
4
Prinsip berkaitan dengan kewajiban perawat
menimbulkankerugian
/
Jangan
jangan
menyebabkan
jangan
membuat
orang
- Jangan melukai perasaan

Non-maleficence:
untuk tidak dengan sengaja
cidera
pasien.
membunuh
nyeri/penderitaan
lain.
lain
tidakberdaya.

5
Veracity
(
kejujuran
)
:
Kewajiban perawat untuk mengatakan suatu kebenaran. Tidak bohong tidak menipu.
Terutama dalam proses informed consent.Perawat membatu pasien untuk memahami
informasi dokter tentang rencana tindakan medik / pengobatan dengan jujur.
6
Kridensialitas
(
kerahasiaan
)
:
Prinsip ini berkaitan dengan kepercayaan pasien terhadap perawat. Perawat tidak akan
menyampaikan informasi tentang kesehatan pasien kepada orang yang tidak berhak.
Prinsip Info diagnose medik diberikan oleh dokter. Perawat memberi onfo kondisi kesehatan
umum
.
7
Fidelity
(
kesetiaan
)
:
Ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk selalu setia pada kesepakatan dan tanggung
jawab
yang
telah
dibuat.
Tanggung
jawab
perawat
dalam
tim
-asuhan keperawatan kepada individu, pemberi kerja , pemerintah dan masyarakat.

8
Justice
(
keadilan
)
:
Berkenaan dengan kewajiban perawat untuk adil kepada semua orang . Adil tidak memihak
salah satu orang. Semua pasien harus mendapatkan pelayanan yang sama sesuai dengan
kebutuhannya.
Kebutuhan pasien klas Utama berbeda dengan kebutuhan pasien klas III.
Etika Profesi keperawatan disususun
KODE ETIK KEPERAWATAN

oleh

Oragnisasi

secara

tertulis

Fungsi
Kode
Etik
:
Umum
:
digunakan untuk mengontrol perilaku perawat dalam praktik dan dalam kehidupan
berprofesi, sehingga konsumen mendapatkan kepercayaan dari pelayanan keperawatan
Fungsi
khusus
untuk
:
1.
Mengatur
tanggung
jawab
moral
perawat
didalam
praktik.
2. Pedoman perawat dalam berperilaku dalam praktik dan dalam kehidupan berprofesi.
3. Mengontrol / menentukan keputusan dalam sengketa praktik, oleh Oraganisasi profesi,
termasuk dalam
memberikan sanksinya.

KODE
ETIK
KEPERAWATAN
INDONESIA

disusun
dan
diputuskan
dalam
Munas
I
tahun
1976.
- Diadakan revisi dalam Munas PPNI VI di Bandung tahun 2000.
- Berisi tanggung jawab Perawat terhadap ; Klien / pasien, perawat dan praktik, perawat dan
masyarakat,Perawat dan teman sejawat dan perawat dengan profesi
Teks Kode Etik Keperawatan Indonesia tahu 2000.
Bab
I
Perawat
dan
klien
:
1. Perawat dalam memberikan perawatan thd klien, dan tidak terpengaruh kedudukan sosial
politik dan agama yang dianut serta warna kulit.umur,jenis kelamin, aliran pertimbangan
kebangsaan,
kesukuan.
2. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara suasana
lingkungan yang menghormati nilai nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan
hidupberagama
dari
klien.
3. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang memebutuhkan asuhan
keperawatan.
4. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang
dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku.
Bab II Perawat dan Praktik
1. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi dibidang keperawatan melalui belajar
terus
menerus.
2. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran
profesional yang menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan
klien.
3. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang akurat dan
mempertimbangakan kemampuan serta kualifikasi seseorang dalam melakukan konsultasi,
menerima
delegasi
dan
memberikan
delegasi
kepada
orang
lain.

4. Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan selalu
menunjukan perilaku profesional.
Bab
III
Perawat
dan
masyarakat :
Perawat mengemban tugas tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai dan
memdukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.
Bab
IV
Perawat
dan
Teman
sejawat
:
1. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun dengan
tenaga kesehatan lainnya, dalam memelihar keserasian suasana lingkungan kerja maupun
tujuan
pelayanan
kesehatan
secara
menyeluruh.
2. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan illegal.
Bab V Perawat dan Profesi :
1. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan pelayanan
keperawatan serta menerapkannya dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan.
2. Perawat berperan aktif dalam berbagai pengembangan profesi keperawatan.
3. Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan memelihara
kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.
sumber :http://askep-askeb.cz.cc/2010/01/etika-profesi-keperawatan.html
Share this post to other.
http://www.perawatindonesia.co.cc/2010/08/etika-profesi-keperawatan-etika-khusus.html
Asuhan Keperawatan dan Asuhan Kebidanan
Blog Perawat dan Bidan
ETIKA PROFESI KEPERAWATAN
ETIKA PROFESI KEPERAWATAN
Etika
khusus
yang
mengatur
tanggung
jawab
moral
para
perawat.
l.
Kesepakatan
moralitas
para
perawat.
Disusun oleh Organisasi profesi, berdasarkan suatu sumber yang ada dilingkungan; baik
lingkungan kesehatan, lingkungan konsumen dan lingkungan Komunitas Keperawatan.
Sumber
Etika
Profesi
keperawatan
:
1.
Etika
Kesehatan.
2.
Etika
umum
yang
berlaku
di
masyarakat,
3. Etika Profesi keperawatan dunia -> ICN.
Etika
Kesehatan
:
Menurut Leenen Gozondeid Sethick, adalah etika khusus dengan menerapkan nilai nilai
dalam bidang pemeliharaan / pelayanan kesehatan yang dilandasi oleh nilai nilai individu
dan
masyarakat.
Menurut Soeyono Soekamto (1986), Etika kesehatan mencakup penilaian terhadap gejala
kesehatan baik yang disetujui maupun tidak disetujui, serta mencakup rekomendasi
bagaimana
bersikap/
bertindak
secara
pantas
dalam
bidang
kesehatan.
Etika
Kesehatan
mencakup
ruang
lingkup
minimal
al
:
1.
tritmen
pada
pasien
yang
menghadapi
ajal
2. Mengijinkan unsur mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas
permintaan
pasien
sendiri,pembatasan
perilaku,
dan
infomrmed
consent.
3.
Bioetika
4. Pengungkapan kebenaran dan kerahasiaan dalam bidang kedokteran.

Contoh

penerapan
pada
pasien
yang
menghadapi
->
diteruskan
/
di
pengobatan
diteruskan
(
RJP
)
sampai

:
ajal
:
stop.
/tidak
kapan.

ad.1
Tritmen
Pemberian
O2
Program
Suport
terapi
- dalam kondisi MBO.
Ad.2. Mengijinkan unsur mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja
atas permintaan pasien sendiri,pembatasan perilaku, dan infomrmed consent.
Pasien
teriminal
Status
vegetatif
pasien
HIV
/AID
pasien
mendapat
terapi
diet
pasien
menghadapi
tindakan
medik
-> operasi, pemakaian obat yang harganya mahal dll.
ad.3
Bioetika
:
- aborsi, pembatasan kelahiran, sterilisasi, bayi tabung, tranplantasi organ dll.
ad.4 Pengungkapan kebenaran dan kerahasiaan dalam bidang kedokteran.
permintaan
informasi
data
pasien,
Catatan
medik,
- Pembicaraan kasus pasien.
Etika
umum
yang
berlaku
di
masyarakat
:
Privasi
pasien,
Menghargai
harkat
martabat
pasien
Sopan
santun
dalam
pergaulan
->
saling
menghormati,
->
saling
membantu.
-> peduli terhadap lingkungan
Etika

Profesi
keperawatan
dunia
->
ICN.
Etika Keperawatan terkandung adanya nilai nilai dan prinsip prinsip yang
berfokus
bagi
praktik
Perawat.
Praktik perawat bermuara pada interaksi profesional dengan pasien serta menunjukan
kepedulian
perawat
terhadap
hubungan
yang
telah
dilakukannya.
Ada
8
prinsip
utama
dalam
Etika
Keperawatan
ICN
:
8
prinsip
utama
dalam
Etika
Keperawatan
ICN
:
1.
Respek
2.
Otonomi
3.
Beneficence
(
kemurahan
hati)
4.
Non-maleficence,
5.
Veracity
(
kejujuran
)
6.
Kridensialitas
(
kerahasiaan
)
7.
Fidelity
(
kesetiaan
)
8.
Justice
(
keadilan
)
Ad.1
Respek
:
=
perilaku
perawat
yang
menghormati/
menghargai
pasien
/klien.
->
hak

hak
pasien,
->
penerapan
inforned
consent
=
Perilaku
perawat
menghormati
sejawat
=>
Tindakan
eksplisit
maupun
implisit

->

impati
kepada
orang
lain.
ad.2
Otonomi
:
=
hak
untuk
mengatur
dan
membuat
keputusannya
sendiri.
Tetapi
tidak
sebebas

bebasnya
->
ada
keterbatasan
dalam
hukum,
kompetensi
dan
kewenangan.
->
perlu
pemahaman
tindakan
kolaborasi.
ad.3
Beneficence
(
kemurahan
hati)
:
= berkaitan dengan kewajiban untuk melakukan hal yang baik dan tidak membahayakan
orang
lain.
lanjutan
:
Pada dasarnya seseorang diharapkan dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri , kecuali
bagi
mereka
yang
tidak
dapat
melakukannya.
->
bayi
dan
anak
->
pasien
koma
->
keterbelakangan
mental
/
kelainan
kejiwaan.
Ad.4
Non-maleficence:
Prinsip -> berkaitan dengan kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan
kerugian
/
cidera
pasien.
Jangan
membunuh
jangan
menyebabkan
nyeri/penderitaan
lain.
jangan
membuat
orang
lain
tidak
berdaya.
Jangan
melukai
perasaan
Ad.5
Veracity
(
kejujuran
)
:
Kewajiban
perawat
untuk
mengatakan suatu kebenaran. Tidak bohong tidak menipu. Terutama dalam proses informed
consent.
Perawat membatu pasien untuk memahami informasi dokter tentang rencana tindakan
medik
/
pengobatan
dengan
jujur.
Ad.6
Kridensialitas
(
kerahasiaan
)
:
Prinsip ini berkaitan dengan kepercayaan pasien terhadap perawat. Perawat tidak akan
menyampaikan informasi tentang kesehatan pasien kepada orang yang tidak berhak.
Prinsip
->
Info
diagnose
medik
diberikan oleh dokter. Perawat memberi info kondisi kesehatan umum.
Ad.7
Fidelity
(
kesetiaan
)
:
Ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk selalu setia pada kesepakatan dan tanggung
jawab
yang
telah
dibuat.
Tanggung
jawab
perawat
dalam
tim
-> asuhan keperawatan kepada individu, pemberi kerja , pemerintah dan masyarakat.
Ad.8
Justice
(
keadilan
)
:
Berkenaan dengan kewajiban perawat untuk adil kepada semua orang .
Adil -> tidak memihak salah satu orang. Semua pasien harus mendapatkan pelayanan yang
sama
sesuai
dengan
kebutuhannya.
=> Kebutuhan pasien klas Utama berbeda dengan kebutuhan pasien klas III.
Etika
->
Fungsi

simpatik,

Profesi

keperawatan
disususun
oleh
Oragnisasi
secara
tertulis
KODE
ETIK
KEPERAWATAN

Kode
Etik
:
Umum : digunakan untuk mengontrol perilaku perawat dalam praktik dan dalam
kehidupan berprofesi, sehingga konsumen mendapatkan kepercayaan dari pelayanan

keperawatan.
Fungsi
khusus
untuk
:
1.
Mengatur
tanggung
jawab
moral
perawat
didalam
praktik.
2. Pedoman perawat dalam berperilaku dalam praktik dan dalam kehidupan berprofesi.
3. Mengontrol / menentukan keputusan dalam sengketa praktik, oleh Oraganisasi profesi,
termasuk dalam memberikan sanksinya.
http://askepasbid.wordpress.com/2010/10/08/etika-profesi-keperawatan/
ASAS
1.

ETIKA
KEPERAWATAN
Azas
menghormati
Otonomi
Pasien
Kebebasan pasien untuk berhak atas keputusan yang akan dihadapi setelah mendapat
informasi merupakan otonomi pasien, segala pendapat berhak untuk dihormati dan
didengarkan dan dalam kaitannya agar pelaksanaan asuhan keperawatan tidak melanggar.
Azas ini sangat diperlukan dalam tindakan adanya informasi consent.
2.
Azas
Manfaat
Mengandung arti bahwa semua tindakan yang diberikan pada pasien harus
mengandung unsur manfaat. Dan untuk menunjukan manfaat dari tindakan yang diberikan
perawat
harus
mengurangi
tindakan
yang
dapat
merugikan.
3.
Azas
tidak
Merugikan
Artinya segala tindakan yang diberikan tidak boleh didasari atas sesuatu yang dapat
merugikan pasien artinya resiko baik secara fisik psikologis maupun sosial akibat tindakan
hendaknya
dikurangi
semaksimal
mungkin.
4.
Azas
Kejujuran
Kejujuran sangat penting dan harus dimiliki perawat karena dengan jujur informasi
yang disampaikan akan benar tercapai sehingga dapat mengurangi hal-hal yang kemungkinan
tidak terjadi dan dalam pemberian informasi harus diusahakan sesuai dengan tingkat
pendidikan
pasien
5. Azas Kerahasiaan
Unsur privacy dan kerahasiaan pasien harus tetap dihormati walaupun telah
meninggal dunia. Hal ini dilandasi pada perawat dalam melakukan tindakan agar tetap
berpedoman
pada
etika
yang
ada.
6.
Azas
Keadilan
Adil dan tidak berat sebelah merupakan bagian dari azas etika oleh segala kerugian
yang mungkin terjadi atau manfaat yang akan didapatkan hendaknya dapat diperoleh oleh
semua
klien
tanpa
memandang
siapapun
orangnya.
ETIKA

PROFESI

KEPERAWATAN

Etika profesi keperwatan merupakan kesadaran dan pedoman yang mengatur nilainilai moral di dalam melaksanakan kegiatan profesi keperawatan, sehingga mutu dan kualitas
profesi keperawatan tetap terjaga dengan cara terhormat (Hariadi, 1998)
Pemahaman tentang etika profesi sangat penting dihayati oleh perawat, oleh karena
itu kemampuan akademi dan professional akan lebih baik bilamana didukung oleh
pelaksanaan etika keperawatan. Di dalam etika keperawatan terdapat beberapa unsur yang
terkandung didalamnya diantaranya; pengorbanan, dedikasi, pengabdian dan hubungan antara
perawat dengan pasien, dokter, sejawat maupun untuk diri sendiri, oleh karena itu dalam
prakteknya etika keperawatan dapat berorientasi pada kewajiban dan larangan, selanjutnya
dapat diatur dalam kode etik keperawatan.

Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2146946asas-etika-keperawatan-dan-etika/#ixzz1LNzAT7dM
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2146946-asas-etikakeperawatan-dan-etika/
Etika Profesi
ETIK DAN MORAL DALAM PRAKTEK KEPERAWATAN ATAU KEBIDANAN
ETIKA,
MORAL
DAN
NILAI-NILAI
Pengertian:
Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah,
kebajikan
atau
kejahatan
yang
berhubungan
dengan
perilaku.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi nyata
dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan
bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak
yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya
dengan
kode
etik
profesional
seperti
Kode
Etik
PPNI
atau
IBI.
Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan terhadap suatu
standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang. Sistem nilai dalam
suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai
perilaku
personal.
Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal tentang benar
atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan
praktek
profesional
NILAI-NILAI
ESENSIAL
DALAM
PROFESI
Pada tahun 1985, The American Association Colleges of Nursing melaksanakan suatu
proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi nilai-nilai esensial dalam praktek keperawatan
profesional. Perkumpulan ini mengidentifikasikan 7 nilai-nilai esensial dalam kehidupan
profesional,
yaitu:
1. Aesthetics (keindahan): Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang
memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas dan
kepedulian.
2. Altruism (mengutamakan orang lain): Kesediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain
termasuk keperawatan atau kebidanan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan
hati
serta
ketekunan.
3. Equality (kesetaraan): Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan dengan
sikap
asertif,
kejujuran,
harga
diri
dan
toleransi
4. Freedom (Kebebasan): memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk percaya diri,
harapan,
disiplin
serta
kebebasan
dalam
pengarahan
diri
sendiri.
5. Human dignity (Martabat manusia): Berhubungan dengan penghargaan yang lekat terhadap
martabat manusia sebagai individu termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan,
pertimbangan
dan
penghargaan
penuh
terhadap
kepercayaan.
6. Justice (Keadilan): Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal termasuk
objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.
7. Truth (Kebenaran): Menerima kenyataan dan realita, termasuk akontabilitas, kejujuran,
keunikan
dan
reflektifitas
yang
rasional.
PENGEMBANGAN DAN TRANSMISI NILAI-NILAI

Nilai-nilai tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain: (1) Model atau contoh,
dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi perilaku
keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul; (2)
Moralitas diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja dan
memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk mempertimbangkan
nilai-nilai yang berbeda; (3) Sesuka hati adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini kurang
terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan
memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka sendiri.
Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau tidak adanya bimbingan
atau pembinaan sehingga dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi
individu tersebut; (4) Penghargaan dan Sanksi; Perlakuan yang biasa diterima seperti:
mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan
mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang tidak baik; (5) Tanggung
jawab untuk memilih; adanya dorongan internal untuk menggali nilai-nilai tertentu dan
mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan
bimbingan dari seseorang yang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya
sendiri.
KLARIFIKASI
NILAI-NILAI
(VALUES)
Ada tiga fase dalam klarifikasi nilai-nilai individu yang perlu dipahami oleh perawat
dan
bidan.
Pilihan: (1) Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keunikan bagi setiap individu;
(2) Perbedaan dalam kenyataan hidup selalu ada perbedaan-perbedaan, asuhan yang
diberikan bukan hanya karena martabat seseorang tetapi hendaknya perlakuan yang diberikan
mempertimbangkan sebagaimana kita ingin diperlakukan. (3) Keyakinan bahwa
penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan konsekuensi terbaik bagi semua
masyarakat.
Penghargaan: (1) Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya sendiri (anda akan
merasa senang bila mengetahui bahwa asuhan yang anda berikan dihargai pasen atau klien
serta sejawat) atau supervisor memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal
yang dilakukan; (2) Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak
bersedia
memperhatikan
martabat
manusia
sebagaimana
mestinya.
Tindakan (1) Gabungkan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari;
(2) Upayakan selalu konsisten untuk menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi
dan profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan.
Semakin disadari nilai-nilai profesional maka semakin timbul nilai-nilai moral yang
dilakukan serta selalu konsisten untuk mempertahankannya. Bila dibicarakan dengan sejawat
atau pasen dan ternyata tidak sejalan, maka seseorang merasa terjadi sesuatu yang
kontradiktif dengan prinsip-prinsip yang dianutnya yaitu; penghargaan terhadap martabat
manusia yang tidak terakomodasi dan sangat mungkin kita tidak lagi merasa nyaman. Oleh
karena itu, klarifikasi nilai-nilai merupakan suatu proses dimana kita perlu meningkatkan
serta konsisten bahwa keputusan yang diambil secara khusus dalam kehidupan ini untuk
menghormati martabat manusia. Hal ini merupakan nilai-nilai positif yang sangat berguna
dalam
kehidupan
sehari-hari
dan
dalam
masyarakat
luas.
PELAKSANAAN ETIK DAN MORAL DALAM PELAYANAN KLINIS KEPERAWATAN
DAN
KEBIDANAN
Aplikasi dalam praktek klinis bagi perawat/bidan diperlukan untuk menempatkan nilai-nilai
dan perilaku kesehatan pada posisinya. Perawat/bidan bisa menjadi sangat frustrasi bila
membimbing atau memberikan konsultasi kepada pasen yang mempunyai nilai-nilai dan

perilaku kesehatan yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karena pasen kurang
memperhatikan status kesehatannya. Pertama-tama yang dilakukan oleh perawat/bidan adalah
berusaha membantu pasen untuk mengidentifikasi nilai-nilai dasar kehidupannya sendiri.
Langkah berikutnya adalah mengajaknya untuk mendiskusikan prioritas yang dibuat
berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya, dengan mengikuti klarifikasi nilai-nilai sebagai
berikut:
1. Memilih: Setelah menggali aspek-aspek berdampak terhadap kesehatan pasen, misalnya
stress yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktifitasnya,
maka sarankan kepadanya memilih secara bebas nilai-nilai kunci yang dianutnya. Bila dia
memilih masalah kesehatannya, maka hal ini menunjukkan tanda positif.
2. Penghargaan: Berikan dukungan untuk memperkuat keinginan pasen dan promosikan nilainilai tersebut dan bila memungkinkan dapatkan dukungan dari keluarganya. Contoh: istri dan
anak anda pasti akan merasa senang bila anda memutuskan untuk berhenti merokok serta
mengurangi kegiatan bisnis anda, karena dia sangat menghargai kesehatan anda.
3. Tindakan: Berikan bantuan kepada pasen untuk merencanakan kebiasaan baru yang
konsisten setelah memahami nilai-nilai pilihannya. Minta kepada pasen untuk memikirkan
suatu cara bagaimana nilai tersebut dapat masuk dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang
perlu diucapkan perawat/bidan kepada pasennya: Bila anda pulang, anda akan menemukan
cara kehidupan yang berbeda, dan anda menyatakan ingin mulai menggunakan waktu demi
kesehatan
anda.
PERILAKU
ETIS
PROFESIONAL
Perawat atau bidan memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang
berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan profesional.
Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat atau bidan, dan berlanjut
pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau teman. Perilaku yang etis
mencapai puncaknya bila perawat atau bidan mencoba dan mencontoh perilaku pengambilan
keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah etika.
Dalam hal ini, perawat
atau bidan seringkali menggunakan dua pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip
dan
pendekatan
berdasarkan
asuhan
keperawatan
/kebidanan.
Pendekatan
Berdasarkan
Prinsip
Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk menawarkan
bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat
pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain; (1) Sebaiknya mengarah langsung
untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas otonomi setiap orang: (2)
Menghindarkan berbuat suatu kesalahan; (3) Bersedia dengan murah hati memberikan
sesuatu yang bermanfaat dengan segala konsekuensinya; (4) Keadilan menjelaskan tentang
manfaat
dan
resiko
yang
dihadapi.
Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab konflik
dalam bertindak. Contoh; seorang ibu yang memerlukan biaya untuk pengobatan progresif
bagi bayinya yang lahir tanpa otak dan secara medis dinyatakan tidak akan pernah menikmati
kehidupan bahagia yang paling sederhana sekalipun. Di sini terlihat adanya kebutuhan untuk
tetap menghargai otonomi si ibu akan pilihan pengobatan bayinya, tetapi dilain pihak
masyarakat berpendapat akan lebih adil bila pengobatan diberikan kepada bayi yang masih
memungkinkan mempunyai harapan hidup yang besar. Hal ini tentu sangat mengecewakan
karena tidak ada satu metoda pun yang mudah dan aman untuk menetapkan prinsip-prinsip
mana yang lebih penting, bila terjadi konflik diantara kedua prinsip yang berlawanan.
Umumnya, pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik, hasilnya terkadang lebih
membingungkan. Hal ini dapat mengurangi perhatian perawat atau bidan terhadap sesuatu

yang

penting

dalam

etika.

Pendekatan
Berdasarkan
Asuhan
Ketidakpuasan yang timbul dalam pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik
mengarahkan banyak perawat atau bidan untuk memandang care atau asuhan sebagai
fondasi dan kewajiban moral. Hubungan perawat/bidan dengan pasen merupakan pusat
pendekatan berdasarkan asuhan, dimana memberikan langsung perhatian khusus
kepada pasen, sebagaimana dilakukan sepanjang kehidupannya sebagai perawat atau bidan.
Perspektif asuhan memberikan arah dengan cara bagaimana perawat/bidan dapat
membagi waktu untuk dapat duduk bersama dengan pasen atau sejawat, merupakan suatu
kewajaran yang dapat membahagiakan bila diterapkan berdasarkan etika. Karakteristik
perspektif dari asuhan meliputi : (1) Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan; (2)
Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau pasen sebagai
manusia; (3) Mau mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain sebagai dasar
yang mengarah pada tanggung-jawab profesional; (4) Mengingat kembali arti tanggungjawab moral yang meliputi kebajikan seperti: kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasihsayang,
dan
menerima
kenyataan.
(Taylor,1993).
Asuhan juga memiliki tradisi memberikan komitmen utamanya terhadap pasen dan
belakangan ini mengklaim bahwa advokasi terhadap pasen merupakan salah satu peran yang
sudah dilegimitasi sebagai peran dalam memberikan asuhan keperawatan/kebidanan.
Advokasi adalah memberikan saran dalam upaya melindungi dan mendukung hak-hak pasen.
Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi perawat atau bidan, dalam
menemukan kepastian tentang dua sistem pendekatan etika yang dilakukan yaitu pendekatan
berdasarkan prinsip dan asuhan. Perawat atau bidan yang memiliki komitmen tinggi dalam
mempraktekkan keperawatan profesional dan tradisi tersebut perlu mengingat hal-hal sbb: (1)
Pastikan bahwa loyalitas staf atau kolega agar tetap memegang teguh komitmen utamanya
terhadap pasen; (2) berikan prioritas utama terhadap pasen dan masyarakat pada umumnya;
(3) Kepedulian mengevaluasi terhadap kemungkinan adanya klaim otonomi dalam
kesembuhan pasen. Bila menghargai otonomi, perawat atau bidan harus memberikan
informasi yang akurat, menghormati dan mendukung hak pasien dalam mengambil
keputusan.
http://javanurse.blogspot.com/2008/11/etika-profesi.html
Etika Profesi Kebidanan
FUNGSI ETIKA DAN MORALITAS DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
1. Menjaga otonomi dari setiap individu khususnya Bidan dan Klien
2. Menjaga kita untuk melakukan tindakan kebaikan dan mencegah tindakan yg
merugikan/membahayakan orang lain
3. Menjaga privacy setiap individu
4. Mengatur manusia untuk berbuat adil dan bijaksana sesuai dengan porsinya
5. Dengan etik kita mengatahui apakah suatu tindakan itu dapat diterima dan apa alasannya
6. Mengarahkan pola pikir seseorang dalam bertindak atau dalam menganalisis suatu masalah
7. Menghasilkan tindakan yg benar
8. Mendapatkan informasi tenfang hal yg sebenarnya
9. Memberikan petunjuk terhadap tingkah laku/perilaku manusia antara baik, buruk, benar
atau salah sesuai dengan moral yg berlaku pada umumnya

10. Berhubungan dengans pengaturan hal-hal yg bersifat abstrak


11. Memfasilitasi proses pemecahan masalah etik
12. Mengatur hal-hal yang bersifat praktik
13. Mengatur tata cara pergaulan baik di dalam tata tertib masyarakat maupun tata cara di
dalam organisasi profesi
14. Mengatur sikap, tindak tanduk orang dalam menjalankan tugas profesinya yg biasa
disebut kode etik profesi.

HAK KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB


A. Hak Pasien
Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien/klien:
1). Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
rumah sakit atau instusi pelayanan kesehatan.
2). Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3). Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa
diskriminasi.
4). Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai dengan keinginannya.
5). Pasien berhak mendapatkan ;nformasi yang meliputi kehamilan, persalinan, nifas dan
bayinya yang baru dilahirkan.
6). Pasien berhak mendapat pendampingan suami atau keluarga selama proses persalinan
berlangsung.
7). Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan seuai dengan keinginannya dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
8). Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat kritis dan
pendapat etisnya tanpa campur tangan dad pihak luar.
9). Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit
tersebut (second opinion) terhadap penyakit yang dideritanya, sepengatahuan dokter yang
merawat.
10). Pasien berhak meminta atas privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk
data-data medisnya.
11). Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi:
a. Penyakit yang diderita
b. Tindakan kebidanan yang akan dilakukan
c. Alternatif terapi lainnya
d. Prognosisnya
e. Perkiraan biaya pengobatan
12). Pasien berhak men yetujui/mem berikan izin atas tindakan yang akan dilakukan oleh
dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
13). Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggungjawab sendiri sesuadah memperoleh informasi
yang jelas tentang penyakitnya.
14). Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
15). Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianutnya selama hal
itu tidak mengganggu pasien lainnya.
16). Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah
sakit.
17). Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
18). Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas terjadinya kasus malpraktek.

B. Kewaiiban Pasien
1). Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tat tertib rumah
sakit atau institusi pelayanan kesehatan.
2). Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter, bidan, perawat yang
merawatnya.
3). Pasien dan atau penangungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa
pelayanan rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan, dokter, bidan dan perawat.
4). Pasien dan atau penangggungnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang selalu
disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.
C. Hak Bidan
1). Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya.
2). Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat jenjang
pelayanan kesehatan.
3). Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan
peraturan perundangan dan kode etik profesi.
4). Bidan berhak atas privasi dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan baik oleh
pasien, keluarga maupun profesi lain.
5). Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun
pelatihan.
6). Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk mmingkatkan jenjang karir dan jabatan yang
sesuai.
7). Bidan berhak mendapat kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.

D. Kewaiiban Bidan
1). Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hukum antara
bidan tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja.
2). Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi
dengan menghormati hak-hak pasien.
3). Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai kemampuan
dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.
4). Bidan wajib memberi kesempatan kepada pasien untuk didampingi suami atau keluarga.
5). Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadah sesuai
dengan keyakinannya.
6). Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.
7). Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang akan dilakukan
serta risiko yang mungkiri dapat timbul.
8). Bidan wajib meminta persetujuan tertulis (informed consent) atas tindakan yang akan
dilakukan.
9). Bidan wajib mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan.
10). BidanwajibmengikutiperkembanganIPTEKdanmenambahilmupengetahuannya melalui
pendidikan formal atau non formal.
11). Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secra timbal balik
dalam memberikan asuhan kebidanan.
TUJUAN KODE ETIK
Pada dasarnya tujuan menciptakan atau merumuskan kode etik suatu profesi adalah
untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi.

Secara umum tujuan menciptakan kode etik adalah sebagai berikut:


1). Untuk menjunjung tinggi martabat dan citra profesi
Dalam hal ini yang dijaga adalah image dad pihak luar atau masyarakat mencegah
orang luar memandang rendah atau remeh suatu profesi. Oleh karena itu, setiap kode etik
suatu profesi akan melarang berbagai bentuk tindak tanduk atau kelakuan anggota profesi
yang dapat mencemarkan nama baik profesi di dunia luar. Dari segi ini kode etik juga disebut
kode kehormatan.
2). Untuk menjaga dan memelihara kesejahtraan para anggota
Yang dimaksud kesejahteraan ialah kesejahteraan material dan spiritual atau mental.
Dalam hal kesejahteraan materil angota profesi kode etik umumnya menerapkan laranganlarangan bagi anggotanya untuk melakukan perbuatan yang merugikan kesejahteraan. Kode
etik juga menciptakan peraturan-peraturan yang ditujukan kepada pembahasan tingkah laku
yang tidak pantas atau tidak jujur para anggota profesi dalam interaksinya dengan sesama
anggota profesi.
3). Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
Dalam hal ini kode etik juga berisi tujuan pengabdian profesi tertentu, sehingga para
anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdian
profesinya. Oleh karena itu kode etik merumuskan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan
oleh para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.
4). Untuk meningkatkan mutu profesi
Kode etik juga memuat tentang norma-norma serta anjuran agar profesi selalu
berusaha untuk meningkatkan mutu profesi sesuai dengan bidang pengabdiannya. Selain itu
kode etik juga mengatur bagaimana cara memelihara dan meningkatkan mutu organisasi
profesi.
Dimensi Kode Etik
1. Anggota profesi dan Klien/ Pasien.
2. Anggota profesi dan sistem kesehatan.
3. Anggota profesi dan profesi kesehatan
4. Anggota profesi dan sesama anggota profesi
Prinsip Kode Etik
1.Menghargai otonomi
2. Melakukan tindakan yang benar
3. Mencegah tindakan yang dapat merugikan.
4. Memberlakukan manisia dengan adil.
5. Menjelaskan dengan benar.
6. Menepati janji yang telah disepakati.
7. Menjaga kerahasiaan
Penetapan Kode Etik
Kode etik hanya dapat ditetapkan oleh organisasi untuk para anggotanya. Penetapan
kode etik IBI harus dilakukan dalam kongres IBI (Ikatan Bidan Indinesia).
KODE ETIK BIDAN
Kode etik bidan di Indonesia pertama kali disusun pada tahun 1986 dan disyahkan
dalam kongres nasional IBI X tahun 1988, sedang petunjuk pelaksanaanya disyahkan dalam
rapat kerja nasional (RAKERNAS) IBI tahun 1991, kemudian disempurnakan dan disyahkan
pada kongres nasional IBI XII tahun 1998. Sebagai pedoman dalam berperilaku, kode etik
bidan Indonesia mengandung beberapa kekuatan yang semuanya tertuang dalam mukadimah,

tujuan dan bab.


SECARA UMUM KODE ETIK TERSEBUT BERISI 7 BAB YAITU:
1. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat (6 butir)
1). Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah
jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.
2). Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi harkat dan
martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra bidan.
3). Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran,
tugas dan tanggungjawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.
4). Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien,
menghormati hak klien dan menghormati nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
5). Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan kepentingan
klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas yang sama sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
6). Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan
pelaksanaan - tugasnya, dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan
derajat kesehatannya secara optimal.
2. Kewajiban bidan terhadap tugasnya (3 butir)
1). Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna terhadap klien, keluarga
dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan
klien, keluarga dan masyarakat.
2). Setiap bidan berhak memberikan pertolongan dan mempunyai kewenangan dalam
mengambil keputusan dalam tugasnya termasuk keputusan mengadakan konsultasi dan atau
rujukan.
3). Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat dan atau
dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan atau dipedukan sehubungan
kepentingan klien.
3. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya (2 butir)
1). Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk
menciptakan suasana kerja yang serasi.
2). Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya harus saling menghormati baik terhadap
sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.
4. Kewajiban bidan terhadap profesinya (3 butir)
1). Setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya
dengan menampilkan kepribadian yang tinggi dan memberikan pelayanan yang bermutu
kepada masyarakat.
2). Setiap bidan harus senantiasa mengembangkan did dan meningkatkan kemampuan
profesinya seuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3). Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan
sejenis yang dapat meningkatkan mute dan citra profesinya.
5. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri (2 butir)
1). Setiap bidan harus memelihara kesehatannya agar dapat melaksanakan tugas
profesinya dengan baik.
2). Setiap bidan harus berusaha secara terus menerus untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

6. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air (2 butir)


1). Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuanketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam pelayanan
KIA/KB dan kesehatan keluarga dan masyarakat.
2). Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan pemikirannya
kepada pemerintah untuk- meningkatkan mutu jangakauan pelayanan kesehatan terutama
pelayanan KIA/KB dan kesehatan keluarga.

http://kumpulan-segalamacam.blogspot.com/2008/07/pengertian-etika-dan-moral-dalam.html

Etika Profesi Kedokteran


Dalam Lafal Sumpah Dokter Indonesia (LSDI) dan Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI) telah tercantum secara garis besar perilaku dan tindakan-tindakan yang layak atau
tidak layak dilakukan seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Namun ada saja dokter
yang tega melakukan pelanggaran etik bahkan pelanggaran etik sekaligus hukum (etikolegal),
terlebih dalam lingkungan masyarakat yang sedang mengalami krisis akhir-akhir ini.
Beda etik dengan hukum
Etika kedokteran merupakan seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam
hubungannya dengan klien / pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta
merupakan bagian dari keseluruhan proses pengambilan keputusan dan tindakan medik
ditinjau dari segi norma-norma / nilai-nilai moral.
Hukum merupakan peraturan perundang-undangan baik pidana, perdata maupun
administrasi. Hukum kesehatan merupakan peraturan perundang-undangan yang
berhubungan langsung dengan pemeliharaan kesehatan, jadi menyangkut penyelenggara
pelayanan kesehatan dan penerima pelayanan kesehatan.
Perbedaan etik dengan hukum adalah :
1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi. Hukum berlaku untuk umum.
2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi. Hukum dibuat oleh suatu
kekuasaan atau adat.
3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercantum secara terinci dalam kitab undangundang / lembaran negara.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik umumnya berupa tuntunan. Sanksi terhadap pelanggaran
hukum berupa tuntutan.
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang
dibentuk oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu diteruskan kepada Panitia
Pertimbangan dan Pembinaan Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen
Kesehatan (DepKes). Pelanggaran hukum diselesaikan melalui pengadilan.
6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik. Penyelesaian pelanggaran
hukum memerlukan bukti fisik.
Pelanggaran etik murni
Pelanggaran terhadap butir-butir LSDI dan/atau KODEKI ada yang merupakan pelanggaran
etik murni, dan ada pula yang merupakan pelanggaran etikolegal. Pelanggaran etik tidak
selalu merupakan pelanggaran hukum, dan sebaliknya, pelanggaran hukum tidak selalu

berarti pelanggaran etik.


Yang termasuk pelanggaran etik murni antara lain :
1. Menarik imbalan jasa yang tidak wajar dari klien / pasien atau menarik imbalan jasa dari
sejawat dokter dan dokter gigi beserta keluarga kandungnya.
2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.
3. Memuji diri sendiri di depan pasien, keluarga atau masyarakat.
4. Pelayanan kedokteran yang diskriminatif.
5. Kolusi dengan perusahaan farmasi atau apotik.
6. Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan.
7. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.
Perilaku dokter tersebut di atas tidak dapat dituntut secara hukum tetapi perlu mendapat
nasihat / teguran dari organisasi profesi atau atasannya.
Contoh-contoh kasus etikolegal
Pelanggaran di mana tidak hanya bertentangan dengan butir-butir LSDI dan/atau
KODEKI, tetapi juga berhadapan dengan undang-undang hukum pidana atau perdata
(KUHP/KUHAP). Misalnya :
1. Pelayanan kedokteran di bawah standar (malpraktek)
2. Menerbitkan surat keterangan palsu.
3. Membocorkan rahasia pekerjaan / jabatan dokter.
4. Pelecehan seksual.
(dan sebagainya)
Etik kedokteran dan hukum kesehatan dalam obstetri ginekologi
Masalah-masalah yang berhubungan dengan reproduksi manusia merupakan masalah
yang sangat khusus dan paling rumit ditinjau dari segi etik, agama, hukum dan sosial, terlebih
dengan begitu pesatnya perkembangan dalam bidang obstetri ginekologi dalam tiga dekade
terakhir ini.
Masalah-masalah kontrasepsi, aborsi, teknologi reproduksi buatan, operasi plastik
selaput dara dan sebagainya, memerlukan perhatian penuh pihak profesi kedokteran, hukum,
agama dan masyarakat luas.
1. Pelayanan kontrasepsi
Sejak program Keluarga Berencana (KB) menjadi program nasional pada tahun 1970,
berbagai cara kontrasepsi telah ditawarkan dalam pelayanan KB di Indonesia, mulai dari cara
tradisional, barier, hormonal (pil, suntikan, susuk KB), IUD/AKDR, dan kontrasepsi mantap
(Kontap). Seorang dokter harus memberikan konseling kepada pasangan suami istri (pasutri)
atau calon akseptor, dengan penjelasan lebih dahulu tentang indikasi kontra, efektifitas dan
efek samping atau keamanan setiap jenis kontrasepsi, dan akhirnya pasutri lah yang
menentukan pilihannya.
Dari cara-cara kontrasepsi tersebut di atas, maka cara AKDR dan kontap menjadi
bahan diskusi yang hangat, terutama karena menyangkut aspek agama dan hukum.
Mekanisme kerja AKDR adalah sebagai kontrasepsi dan juga kontranidasi, sehingga
menimbulkan dilema bagi seorang dokter. Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan
kewajibannya melindungi hidup insani (KODEKI, pasal 10), bahkan menghormati setiap
hidup insani mulai dari saat pembuahan (LSDI, butir 9).
Jadi pemasangan AKDR dapat dianggap mengupayakan pemusnahan telur yang telah
dibuahi. Karena LSDI telah dikukuhkan dengan PP no.26 tahun 1960, maka seorang dokter
yang melanggar sumpah tersebut berarti telah melanggar peraturan pemerintah, sehingga
dapat diancam hukuman sesuai peraturan yang berlaku. Namun, KB merupakan program

nasional, sehingga sanksi terhadap pelanggaran tersebut agaknya tidak diberlakukan.


Cara kontap baik pada pria maupun pada wanita telah banyak dilakukan di Indonesia,
baik atas indikasi medik maupun indikasi sosial-ekonomi dengan tujuan kontrasepsi yang
permanen. Peraturan perundang-undangan tentang kontap belum ada di Indonesia. Pendapat
tokoh-tokoh agama beraneka ragam dan kenyataannya lebih banyak yang menentang cara
kontrasepsi itu karena mengurangi harkat dan kodrat seseorang. Dari segi etik kedokteran,
cara kontap dapat dibenarkan sesuai dengan KODEKI butir 10, yaitu dengan tujuan
melindungi hidup insani dan mengutamakan kesehatan penderita. Namun tidaklah etis
menawarkan kontap pada saat ibu sedang mengalami persalinan patologik.
Dari segi hukum, kontap dapat dianggap melanggar KUHP pasal 534 yang melarang
usaha pencegahan kehamilan dan melanggar pula pasal 351 karena tindakan tersebut
merupakan mutilasi alat tubuh. Juga dapat dituduh melakukan penganiayaan, sehingga dapat
dikenakan hukuman atau dituntut ganti rugi. Namun, dengan terbitnya UU RI no.10 tahun
1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera,
penyelenggaraan Keluarga Berencana dapat dibenarkan dengan memperhatikan butir-butir
berikut :
Pasal 17
(1) Pengaturan kelahiran diselenggarakan dengan tata cara yang berdaya guna dan berhasil
guna serta dapat diterima oleh pasangan suami istri sesuai dengan pilihannya.
(2) Penyelenggaraan pengaturan kelahiran dilakukan dengan cara yang dapat
dipertanggungjawabkan dari segi kesehatan, etik dan agama yang dianut penduduk yang
bersangkutan.
Penjelasan
(1) Pelaksanaan pengaturan kelahiran harus selalu memperhatikan harkat dan martabat
manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku di dalam
masyarakat.
(2) Untuk menghindarkan hal yang berakibat negatif, setiap alat, obat dan cara yang dipakai
sebagai pengatur kehamilan harus aman dari segi medik dan dibenarkan oleh agama, moral
dan etika.
Pasal 18
Setiap pasangan suami istri dapat menentukan pilihannya dalam merencanakan dan mengatur
jumlah anak, dan jarak antara kelahiran anak yang berlandaskan pada kesadaran dan
tanggung jawab terhadap generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Pasal 19
Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama serta kedudukan yang sederajat
dalam menentukan cara pengaturan kelahiran.
Penjelasan
Suami dan isteri harus sepakat mengenai pengaturan kehamilan dan cara yang akan dipakai
agar tujuannya tercapai dengan baik. Keputusan atau tindakan sepihak dapat menimbulkan
kegagalan atau masalah di kemudian hari. Kewajiban yang sama antara keduanya berarti
juga, bahwa apabila isteri tidak dapat memakai alat, obat dan cara pengaturan kelahiran,
misalnya karena alasan kesehatan, maka suami mempergunakan alat, obat dan cara yang
diperuntukkan bagi laki-laki.
2. Abortus Provokatus
Masalah aborsi telah dibahas di berbagai pertemuan ilmiah dalam lebih dari 3 dekade
terakhir ini, baik di tingkat nasional maupun regional, namun hingga waktu ini Rancangan
Pengaturan Pengguguran berdasarkan Pertimbangan Kesehatan belum terwujud. Secara
umum hal ini telah dicantumkan dalam undang-undang kesehatan, namun penjabarannya
belum selesai juga. Kehampaan hukum itu menyangkut pula tindakan abortus provokatus

pada kasus-kasus kehamilan karena perkosaan, kehamilan pada usia remaja putri (usia kurang
dari 16 tahun, yang belum mempunyai hak untuk menikah), kehamilan pada wanita dengan
gangguan jiwa, kegagalan kontrasepsi dan wanita dengan grande multipara.
Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup
insani (KODEKI pasal 10). Undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan
bahwa dalam keadaan darurat, sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau
janinnya, dapat dilakukan tindakan medik tertentu dan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang mempunyai keahlian, dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau
keluarganya dan dilakukan pada sarana kesehatan tertentu.
Dalam KUHP secara rinci terdapat pasal-pasal yang mengancam pelaku abortus ilegal
sebagai berkut :
a. Wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang lain melakukannya
(KUHP pasal 346, hukuman maksimum 4 tahun).
b. Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita tanpa seijinnya (KUHP pasal 347,
hukuman maksimum 12 tahun dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 15 tahun).
c. Seorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seijin wanita tersebut (KUHP
pasal 348, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita itu meninggal, hukuman
maksimum 7 tahun).
d. Dokter, Bidan atau Juru Obat yang melakukan kejahatan di atas (KUHP pasal 349,
hukuman ditambah sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya).
Dalam pasal 80 UU Kesehatan tercantum, bahwa Barang siapa dengan sengaja melakukan
tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak dalam keadaan darurat sebagai upaya
menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,- (limaratus juta
rupiah).
3. Teknologi Reproduksi Buatan
Pada tahun 1978, Steptoe & Edwards melahirkan bayi tabung pertama Louise Brown
di Inggris, hasil Fertilisasi In Vitro (FIV) dan Pemindahan Embrio (PE). Ini merupakan
terobosan yang telah mengubah dunia kedokteran terutama di bidang reproduksi manusia. Di
Indonesia, bayi tabung pertama lahir 10 tahun kemudian (1988) hasil upaya Tim Melati
RSAB Harapan Kita Jakarta. FIV dan PE merupakan upaya terakhir untuk menolong pasutri
memperoleh keturunannya, karena upaya ini memerlukan biaya yang besar, keberhasilan
take home baby yang rendah dan menyebabkan distres pada pasutri yang bersangkutan.
Selain cara FIV dan PE telah dikembangkan pula teknologi reproduksi buatan lainnya seperti
Tandur Alih Gamet atau Embrio Intra Tuba dan Suntikan Sperma Intra Sitoplasmik.
Dari segi hukum, di Indonesia telah terdapat peraturan perundang-undangan tentang
kehamilan di luar cara alami itu, yaitu bahwa cara tersebut hanya dapat dilakukan pada
pasangan suami istri yang sah, dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian
dan kewenangan untuk itu, dan pada sarana kesehatan yang memenuhi syarat (UU Kesehatan,
pasal 16). Dengan demikian, masalah donasi oosit, sperma dan embrio, masalah ibu
pengganti adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku dan juga etik kedokteran.
Dalam pasal 82 ayat (2) UU Kesehatan tersebut dinyatakan bahwa Barang siapa melakukan
upaya kehamilan di luar cara alami yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 16 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan atau pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah).
4. Bedah Plastik Selaput Dara
Wanita yang meminta dilakukan bedah plastik selaput dara umumnya berdasarkan
berbagai motif. Ada yang ingin memberi kesan kepada suaminya bahwa dirinya masih

perawan, sehingga bertujuan menyelamatkan hidup bersama suaminya, padahal pasien


pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pria lain. Di Indonesia, masalah
keperawanan di malam pertama pengantin baru dianggap penting, walaupun hal ini
sebenarnya tidak adil dalam kedudukan wanita dan pria.
Dalam hal ini hati nurani dokterlah yang menentukan sikapnya dalam menghadapi
godaan dari pasien bersangkutan. Jika robeknya selaput dara disebabkan trauma atau akibat
tindakan dilatasi dan kuretase yang dilakukan karena indikasi medik (misalnya pada kasuskasus perdarahan uterus disfungsional yang menyebabkan anemia berat dan tidak tanggap
terhadap terapi medikamentosa), maka dalam hal ini bedah plastik selaput dara masih dapat
dibenarkan.
Prosedur penanganan pelanggaran etik kedokteran
Pada tahun 1985 Rapat Kerja antara P3EK, MKEK dan MKEKG telah menghasilkan
pedoman kerja yang menyangkut para dokter antara lain sebagai berikut :
1. Pada prinsipnya semua masalah yang menyangkut pelanggaran etik diteruskan lebih
dahulu kepada MKEK.
2. Masalah etik murni diselesaikan oleh MKEK.
3. Masalah yang tidak murni serta masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk
ke P3EK propinsi.
4. Dalam sidang MKEK dan P3EK untuk pengambilan keputusan, Badan Pembela Anggota
IDI dapat mengikuti persidangan jika dikehendaki oleh yang bersangkutan (tanpa hak untuk
mengambil keputusan).
5. Masalah yang menyangkit profesi dokter atau dokter gigi akan ditangani bersama oleh
MKEK dan MKEKG terlebih dahulu sebelum diteruskan ke P3EK apabila diperlukan.
6. Untuk kepentingan pencatatan, tiap kasus pelanggaran etik kedokteran serta
penyelesaiannya oleh MKEK dilaporkan ke P3EK Propinsi.
7. Kasus-kasus pelanggaran etikolegal, yang tidak dapat diselesaikan oleh P3EK Propinsi,
diteruskan ke P3EK Pusat.
8. Kasus-kasus yang sudah jelas melanggar peraturan perundang-undangan dapat dilaporkan
langsung kepada pihak yang berwenang.
Pedoman penilaian kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran
Etik lebih mengandalkan itikad baik dan keadaan moral para pelakunya dan untuk
mengukur hal ini tidaklah mudah. Karena itu timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran
etik, selama pelanggaran itu tidak merupakan kasus-kasus pelanggaran hukum. Dalam
menilai kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran, MKEK berpedoman pada :
1. Pancasila
2. Prinsip-prinsip dasar moral umumnya
3. Ciri dan hakekat pekerjaan profesi
4. Tradisi luhur kedokteran
5. LSDI
6. KODEKI
7. Hukum kesehatan terkait
8. Hak dan kewajiban dokter
9. Hak dan kewajiban penderita
10. Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
11. Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran senior.
Selanjutnya, MKEK menggunakan pula beberapa pertimbangan berikut, yaitu :
1. Tujuan spesifik yang ingin dicapai
2. Manfaat bagi kesembuhan penderita

3. Manfaat bagi kesejahteraan umum


4. Penerimaan penderita terhadap tindakan itu
5. Preseden tentang tindakan semacam itu
6. Standar pelayanan medik yang berlaku
Jika semua pertimbangan menunjukkan bahwa telah terjadi pelanggaran etik,
pelanggaran dikategorikan dalam kelas ringan, sedang atau berat, yang berpedoman pada :
1. Akibat terhadap kesehatan penderita
2. Akibat bagi masyarakat umum
3. Akibat bagi kehormatan profesi
4. Peranan penderita yang mungkin ikut mendorong terjadinya pelanggaran
5. Alasan-alasan lain yang diajukan tersangka
Bentuk-bentuk sanksi
Dalam pasal 6 PP no.30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Sipil terdapat
uraian tentang tingkat dan jenis hukuman, sebagai berikut :
1. Tingkat hukuman disiplin terdiri dari :
a. Hukuman disiplin ringan
b. Hukuman disiplin sedang, dan
c. Hukuman disiplin berat
2. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari :
a. Teguran lisan
b. Teguran tulisan, dan
c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
3. Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari :
a. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun
b. Penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun, dan
c. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun
4. Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari :
a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama satu tahun
b. Pembebasan dari jabatan
c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil,
dan
d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil
Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal, di samping pemberian hukuman sesuai peraturan
tersebut di atas, maka selanjutnya diproses ke pengadilan.
Kesimpulan
1. Profesi kedokteran adalah profesi kemanusiaan, oleh karena itu etika kedokteran harus
memegang peranan sentral bagi para dokter dalam menjalankan tugas-tugas pengabdiannya
untuk kepentingan masyarakat.
2. Bidang Obstetri Ginekologi merupakan bidang yang demikian terbuka untuk kemungkinan
penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma, sehingga rawan untuk timbulnya
pelanggaran etik kedokteran bahkan pelanggaran hukum. Karena itu diperlukan pedoman etik
dan peraturan perundang-undangan terkait yang menuntun para dokter / SpOG untuk berjalan
di jalur yang benar.
3. Sanksi terhadap pelanggaran etik kedokteran hendaknya diberikan secara tegas dan
konsisten sesuai dengan berat ringannya pelanggaran, bersifat mendidik dan mencegah
terulangnya pelanggaran yang sama pada masa depan baik oleh yang bersangkutan maupun

oleh para sejawatnya.


4. IDI bersama-sama organisasi profesi dokter spesialis dan organisasi kedokteran seminat
lainnya, hendaknya dapat meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi secara
berkesinambungan, sehinggat setiap anggotanya dan masyarakat umumnya dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan etika kedokteran.
Abortus / Terminasi Kehamilan atas Indikasi Non-Medik
Alasan-alasan untuk permintaan terminasi kehamilan
Keadaan ketakutan dan panik yang sering dialami dalam suatu kehamilan, adalah :
1. Kehamilan akibat perkosaan
2. Janin yang telah terbukti memiliki defek yang berat
3. Ibu yang dalam riwayatnya selalu menyiksa anak-anaknya
4. Tiap kehamilan yang menyebabkan emotional distress pada wanita, atau akan
mengakibatkan ketidakmampuan atau akan mempersulit kehidupan anak yang akan
dilahirkan
Semua ini mengakibatkan usaha dilakukannya terminasi kehamilan.
Hal tersebut mengakibatkan suatu konsep : abortion on demand. Keadaan ini
digunakan oleh mereka yang pro-abortus (pro-choice), karena melihatnya sebagai suatu
justifikasi (pembenaran) untuk mendahului hak dan kebutuhan wanita hamil di atas hak dan
kebutuhan si janin. Bagi mereka yang anti-abortus (pro-life), mereka juga menggunakan
keadaan tersebut sebagai alasan moral yang menyatakan bahwa kehidupan si janin lebih
penting daripada wanita yang mengandungnya.
Status dari janin (fetus)
Yang menjadi pokok persoalan dalam masalah terminasi kehamilan berupa : mana
yang lebih penting, hak si janin atau hak si wanita hamil. Untuk menjawab masalah ini, kita
harus memandang status si janin, apakah ia harus dianggap sebagai kepribadian (a person)
atau sebagai manusia (a human person).
Suatu hal yang perlu diketengahkan adalah : apakah si janin telah memiliki roh / jiwa
(soul), ya atau tidak. Tentang hal ini, ada beberapa ajaran dalam agama. Agama Katolik
berpendapat, ya, janin sudah memiliki jiwa sejak saat fertilisasi. Ada yang berpendapat,
antara lain beberapa ajaran Islam, bahwa baru pada saat kelahiran, seorang neonatus
mempunyai jiwa.
Pada waktu dilahirkan, janin telah menjadi seorang manusia, yang telah berhak akan
kewajiban moral terhadapnya. Sehingga terdapat perbedaan yang besar antara terminasi
kehamilan dan infanticide.
Terjelmanya seorang manusia memiliki dua sifat :
1. Seorang manusia mempunyai kesadaran akan dirinya, yang sebenarnya baru timbul
kemudian.
2. Seorang neonatus akan memasuki suatu lingkungan sosial, antara lain dalam keluarganya.
Sebagai kesimpulan : kelompok konservatif percaya bahwa si janin memiliki status moral
yang penuh, seperti seseorang yang telah lahir. Kelompok liberal beranggapan bahwa janin
tidak memiliki status moral.
Alasan-alasan mengapa seorang wanita memilih terminasi kehamilan (induced
abortion)
Di Amerika Serikat, seorang wanita memilih terminasi kehamilan, karena ia tidak
ingin melanjutkan kehamilannya, dengan alasan bahwa memiliki anak dalam kehidupannya
dapat mengakibatkan masalah-masalah yang kompleks, sehingga kualitas hidupnya terancam.
Alasan-alasannya, biasanya pertimbangan pragmatis, sedangkan pembenaran (justifikasinya)

mengikutsertakan etika, moral dan juga sering sekali rasional.


Dengan bermacam-macam alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan :
1. Ia mungkin seorang yang menjadi hamil di luar pernikahan
2. Pernikahannya tidak kokoh seperti yang ia harapkan sebelumnya
3. Ia telah cukup anak, dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi
4. Janinnya ternyata telah terpapar (exposed) pada suatu substansi teratogenik.
5. Ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya
6. Ayah anak yang dikandungnya bukan pria / suami yang diidamkan untuk perkawinannya
7. Kehamilannya adalah akibat perkosaan
8. Wanita yang hamil menderita penyakit yang berat
9. Ia memiliki alasan eugenik, ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan
Indikasi-indikasi tersebut di atas dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian :
1. Alasan kesehatan
2. Alasan mental
3. Alasan cacat bawaan si janin
4. Alasan seksual
Terminasi kehamilan dipandang dari segi hukum
Amerika Serikat dan banyak negara maju, berkesimpulan bahwa seorang warga
negara berhak akan privacy, termasuk hak wanita untuk mengontrol tubuhnya. Negara
sekarang tidak lagi berintervensi atau mencegah seorang wanita memperoleh pelaksanaan
terminasi kehamilan terutama sebelum kehamilan berusia 22 minggu (WHO).
Debat mengenai abortus (terminasi kehamilan) berkisar pada seksualitas, karena di dalam
masyarakat masih banyak warga yang berpandangan sangat puritan terhadap seks.
Menurut Williams Obstetrics, 18th ed., 1989, dokter / SpOG yang berlatar belakang ilmu
kedokteran, ilmu filsafat dan teologi, tidak dapat sampai pada konsensus kapan kehidupan itu
dimulai. Pada hal tersebut, terutama dengan kemampuan ilmu yang sedang berkembang
pesat, belum dapat diperoleh jawaban.
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/12/etika-profesi-dalam-kesehatan-reproduksi/

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELANGGARAN


Pemerintah juga mengeluarkan beberapa peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan kesehatan, yaitu UU Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, yang
mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tindakan, kewenangan, sanksi, maupun
pertanggungjawaban tarhadap kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan sebagai subyek peraturan tersebut.
Menurut Pasal 1 ayat (3) UU Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, yang
dimaksud dengan Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.
Tenaga kesehatan berdasarkan Pasal 50 UU Kesehatan adalah bertugas
menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan
atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. Sedangkan mengenai ketentuan
mengenai kategori, jenis, dan kualifikasi tenaga kesehatan ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Tenaga kesehatan terdiri dari :
1. tenaga medis;

2.
3.
4.
5.
6.
7.

tenaga keperawatan dan bidan;


tenaga kefarmasian;
tenaga kesehatan masyarakat;
tenaga gizi;
tenaga keterapian fisik; dan
tenaga keteknisian medis.

http://www.lawskripsi.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=126&Itemid=126

ETIKA KEDOKTERAN INDONESIA


PENANGANAN DAN PELANGGARAN ETIKA DI INDONESIA
Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang sangat luas,
yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti pada informed consent, wajib
simpan rahasia kedokteran, profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek
etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma
etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau sebaliknya norma hukum yang
mengandung nilai-nilai etika.
Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar profesi
mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang diadukan tidak dapat
dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa
berbaur dengan keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.
Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar
prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum, padahal selama ini
profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap
profesional. Dengan demikian pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran
etik dan juga sekaligus pelanggaran hukum.
Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap layanan dokter
atau rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari (a) semakin
tinggi pendidikan rata-rata masyarakat sehingga membuat mereka lebih tahu tentang haknya
dan lebih asertif, (b) semakin tingginya harapan masyarakat kepada layanan kedokteran
sebagai hasil dari luasnya arus informasi, (c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan
kedokteran dan kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap layanan yang
tidak sempurna, dan (d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan sendiri.
Etik Profesi Kedokteran
Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam
bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh
penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam
bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling banyak dikenal
adalah sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan
kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of
conductbagi dokter.
World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menelorkan
sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran
Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban
terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran
Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.
Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsipprinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat

keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu
keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam
perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)
dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.
Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan
memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter,
seperti autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh informasi dan
hak membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya), beneficence
(melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan
yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme
(pengabdian profesi).
Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral
kedokteran, dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran, dengan
memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik, memberikan banyak latihan,
dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical
ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari
pembuatan keputusan medis sehari-hari. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum
tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila teladan yang diberikan para
seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan.
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan
etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga
MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain
itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di
dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan
di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit
(Makersi).
Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar hanya akan
membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi
dapat dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih
berat seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang
kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK
setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi)
kedokteran.
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa
melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan
Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin
profesi)nya. Persidangan MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas,
profesionalisme dan keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi
yang menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di kalangan
kedokteran. Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI),
lembaga yang dimandatkan untuk didirikan oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis
yang menyidangkan dugaan pelanggaran disiplin profesi kedokteran.
MKDKI bertujuan menegakkan disiplin dokter / dokter gigi dalam penyelenggaraan
praktik kedokteran. Domain atau yurisdiksi MKDKI adalah disiplin profesi, yaitu
permasalahan yang timbul sebagai akibat dari pelanggaran seorang profesional atas peraturan
internal profesinya, yang menyimpangi apa yang diharapkan akan dilakukan oleh orang
(profesional) dengan pengetahuan dan ketrampilan yang rata-rata. Dalam hal MKDKI dalam
sidangnya menemukan adanya pelanggaran etika, maka MKDKI akan meneruskan kasus

tersebut kepada MKEK.


Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses
persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya
berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh MKEK IDI, sedangkan gugatan
perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan
umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat
diperiksa oleh MKEK, dapat pula diperiksa di pengadilan tanpa adanya keharusan saling
berhubungan di antara keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh MKEK
belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya.
Persidangan MKEK bersifat inkuisitorial khas profesi, yaitu Majelis (ketua dan
anggota) bersikap aktif melakukan pemeriksaan, tanpa adanya badan atau perorangan sebagai
penuntut. Persidangan MKEK secara formiel tidak menggunakan sistem pembuktian
sebagaimana lazimnya di dalam hukum acara pidana ataupun perdata, namun demikian tetap
berupaya melakukan pembuktian mendekati ketentuan-ketentuan pembuktian yang lazim.
Dalam melakukan pemeriksaannya, Majelis berwenang memperoleh :
1. Keterangan, baik lisan maupun tertulis (affidavit), langsung dari pihak-pihak terkait
(pengadu, teradu, pihak lain yang terkait) dan peer-group / para ahli di bidangnya yang
dibutuhkan
2.Dokumen yang terkait, seperti bukti kompetensi dalam bentuk berbagai ijasah/ brevet dan
pengalaman, bukti keanggotaan profesi, bukti kewenangan berupa Surat Ijin Praktek Tenaga
Medis, Perijinan rumah sakit tempat kejadian, bukti hubungan dokter dengan rumah
sakit, hospital bylaws, SOP dan SPM setempat, rekam medis, dan surat-surat lain yang
berkaitan dengan kasusnya.
Majelis etik ataupun disiplin umumnya tidak memiliki syarat-syarat bukti seketat pada
hukum pidana ataupun perdata. Bars Disciplinary Tribunal Regulation, misalnya,
membolehkan adanya bukti yang bersifat hearsay dan bukti tentang perilaku teradu di masa
lampau. Cara pemberian keterangan juga ada yang mengharuskan didahului dengan
pengangkatan sumpah, tetapi ada pula yang tidak mengharuskannya. Di Australia, saksi tidak
perlu disumpah pada informal hearing, tetapi harus disumpah pada formal hearing (jenis
persidangan yang lebih tinggi daripada yang informal). Sedangkan bukti berupa dokumen
umumnya disahkan dengan tandatangan dan/atau stempel institusi terkait, dan pada bukti
keterangan diakhiri dengan pernyataan kebenaran keterangan dan tandatangan (affidavit).
Dalam persidangan majelis etik dan disiplin, putusan diambil berdasarkan bukti-bukti
yang dianggap cukup kuat. Memang bukti-bukti tersebut tidak harus memiliki standard of
proof seperti pada hukum acara pidana, yaitu setinggi beyond reasonable doubt, namun juga
tidak serendah pada hukum acara perdata, yaitu preponderance of evidence. Pada beyond
reasonable
doubt tingkat
kepastiannya
dianggap
melebihi
90%,
sedangkan
padapreponderance of evidence dianggap cukup bila telah 51% ke atas. Banyak ahli
menyatakan bahwa tingkat kepastian pada perkara etik dan disiplin bergantung kepada sifat
masalah yang diajukan. Semakin serius dugaan pelanggaran yang dilakukan semakin tinggi
tingkat kepastian yang dibutuhkan.5
Perkara yang dapat diputuskan di majelis ini sangat bervariasi jenisnya. Di MKEK
IDI Wilayah DKI Jakarta diputus perkara-perkara pelanggaran etik dan pelanggaran disiplin
profesi, yang disusun dalam beberapa tingkat berdasarkan derajat pelanggarannya. Di
Australia digunakan berbagai istilah seperti unacceptable conduct, unsatisfactory
professional conduct, unprofessional conduct, professional misconduct dan infamous conduct
in professional respect. Namun demikian tidak ada penjelasan yang mantap tentang istilahistilah tersebut, meskipun umumnya memasukkan dua istilah terakhir sebagai pelanggaran
yang serius hingga dapat dikenai sanksi skorsing ataupun pencabutan ijin praktik.
Putusan MKEK tidak ditujukan untuk kepentingan peradilan, oleh karenanya tidak

dapat dipergunakan sebagai bukti di pengadilan, kecuali atas perintah pengadilan dalam
bentuk permintaan keterangan ahli. Salah seorang anggota MKEK dapat memberikan
kesaksian ahli di pemeriksaan penyidik, kejaksaan ataupun di persidangan, menjelaskan
tentang jalannya persidangan dan putusan MKEK. Sekali lagi, hakim pengadilan tidak terikat
untuk sepaham dengan putusan MKEK.
Eksekusi Putusan MKEK Wilayah dilaksanakan oleh Pengurus IDI Wilayah dan/atau
Pengurus Cabang Perhimpunan Profesi yang bersangkutan. Khusus untuk SIP, eksekusinya
diserahkan kepada Dinas Kesehatan setempat. Apabila eksekusi telah dijalankan maka dokter
teradu menerima keterangan telah menjalankan putusan.
Kesimpulan
Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa masalah yang paling sering menjadi pokok
sengketa adalah kelemahan komunikasi antara dokter dengan pasien atau antara rumah sakit
dengan pasien, baik dalam bentuk komunikasi sehari-hari yang diharapkan mempererat
hubungan antar manusia maupun dalam bentuk pemberian informasi sebelum dilakukannya
tindakan dan sesudah terjadinya risiko atau komplikasi.
Pelajaran lain adalah bahwa sosialisasi nilai-nilai etika kedokteran, termasuk kode
etik profesi yang harus dijadikan pedoman berperilaku profesi (professional code of conduct),
kepada para dokter yang bekerja di Indonesia belumlah cukup memadai, sehingga
diperlukan crash-program berupa pendidikan kedokteran berkelanjutan yang agresif di
bidang etik dan hukum kedokteran, pemberian mata ajaran etik dan hukum kedokteran bagi
mahasiswa Fakultas Kedokteran sejak dini dan bersifat student-active, serta pemberian bekal
buku Kodeki bagi setiap dokter lulusan Indonesia (termasuk adaptasi).
http://www.freewebs.com/etikakedokteranindonesia/

Etika PROFESI DALAM KESEHATAN


1. Profesi kedokteran adalah profesi kemanusiaan, oleh karena itu etika kedokteran harus
memegang peranan sentral bagi para dokter dalam menjalankan tugas-tugas pengabdiannya
untuk
kepentingan
masyarakat.
2. Bidang Obstetri Ginekologi merupakan bidang yang demikian terbuka untuk kemungkinan
penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma, sehingga rawan untuk timbulnya
pelanggaran etik kedokteran bahkan pelanggaran hukum. Karena itu diperlukan pedoman etik
dan peraturan perundang-undangan terkait yang menuntun para dokter / SpOG untuk berjalan
di
jalur
yang
benar.
3. Sanksi terhadap pelanggaran etik kedokteran hendaknya diberikan secara tegas dan
konsisten sesuai dengan berat ringannya pelanggaran, bersifat mendidik dan mencegah
terulangnya pelanggaran yang sama pada masa depan baik oleh yang bersangkutan maupun
oleh
para
sejawatnya.
4. IDI bersama-sama organisasi profesi dokter spesialis dan organisasi kedokteran seminat
lainnya, hendaknya dapat meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi secara
berkesinambungan, sehinggat setiap anggotanya dan masyarakat umumnya dapat memahami,
menghayati dan mengamalkan etika kedokteran.

2.

Beda

etik

dengan

hukum

Etika kedokteran merupakan seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam


hubungannya dengan klien / pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta
merupakan bagian dari keseluruhan proses pengambilan keputusan dan tindakan medik
ditinjau
dari
segi
norma-norma
/
nilai-nilai
moral.
Hukum merupakan peraturan perundang-undangan baik pidana, perdata maupun
administrasi. Hukum kesehatan merupakan peraturan perundang-undangan yang
berhubungan langsung dengan pemeliharaan kesehatan, jadi menyangkut penyelenggara
pelayanan
kesehatan
dan
penerima
pelayanan
kesehatan.
Perbedaan
etik
dengan
hukum
adalah
:
1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi. Hukum berlaku untuk umum.
2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi. Hukum dibuat oleh suatu
kekuasaan
atau
adat.
3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercantum secara terinci dalam kitab undangundang
/
lembaran
negara.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik umumnya berupa tuntunan. Sanksi terhadap pelanggaran
hukum
berupa
tuntutan.
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang
dibentuk oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu diteruskan kepada Panitia
Pertimbangan dan Pembinaan Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen
Kesehatan
(DepKes).
Pelanggaran
hukum
diselesaikan
melalui
pengadilan.
6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik. Penyelesaian pelanggaran
hukum
memerlukan
bukti
fisik.
3.
Pelanggaran
etik
murni
Pelanggaran terhadap butir-butir LSDI dan/atau KODEKI ada yang merupakan
pelanggaran etik murni, dan ada pula yang merupakan pelanggaran etikolegal. Pelanggaran
etik tidak selalu merupakan pelanggaran hukum, dan sebaliknya, pelanggaran hukum tidak
selalu
berarti
pelanggaran
etik.
Yang
termasuk
pelanggaran
etik
murni
antara
lain
:
1. Menarik imbalan jasa yang tidak wajar dari klien / pasien atau menarik imbalan jasa dari
sejawat
dokter
dan
dokter
gigi
beserta
keluarga
kandungnya.
2.
Mengambil
alih
pasien
tanpa
persetujuan
sejawatnya.
3.
Memuji
diri
sendiri
di
depan
pasien,
keluarga
atau
masyarakat.
4.
Pelayanan
kedokteran
yang
diskriminatif.
5.
Kolusi
dengan
perusahaan
farmasi
atau
apotik.
6.
Tidak
pernah
mengikuti
pendidikan
kedokteran
berkesinambungan.
7.
Dokter
mengabaikan
kesehatannya
sendiri.
Perilaku dokter tersebut di atas tidak dapat dituntut secara hukum tetapi perlu mendapat
nasihat / teguran dari organisasi profesi atau atasannya.