Anda di halaman 1dari 3

Keutamaan Shalat Witir Dan Anjuran

Untuk Mengerjakannya
Selasa, 22 Januari 2013 06:09:01 WIB
Kategori : Kitab : Shalat Tahajjud

KEUTAMAAN SHALAT WITIR DAN ANJURAN UNTUK MENGERJAKANNYA


Oleh
Muhammad bin Suud Al-Uraifi

Sesungguhnya shalat Witir memiliki keutamaan yang besar dan memiliki


urgensi yang cukup besar. Dalil yang paling kuat untuk hal itu adalah, bahwa
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, baik ketika
sedang berada di rumah ataupun dalam bepergian. Inilah dalil yang cukup jelas
mengenai betapa pentingnya shalat Witir tersebut.
Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah:
Dari Abu Bashrah al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:





.
'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala telah memberi kalian tambahan
shalat, yaitu shalat Witir, maka shalat Witirlah kalian antara waktu shalat 'Isya'
hingga shalat Shubuh.'" [HR. Ahmad].[1]
Dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


.
"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taalatelah memberi kalian tambahan
shalat, maka peliharalah dia, yaitu shalat Witir."[2]
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


.
"Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat Witir."[3]

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, "Kekasihku Shallallahu alaihi wa


sallam, mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan
hingga aku wafat; berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur
setelah shalat Witir."[4]
Dari 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
.
"Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang melakukan
shalat Witir, maka shalat Witirlah, wahai para ahli al-Qur-an."[5]
Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma berkata, "Barangsiapa shalat sunnah di
malam hari maka hendaklah ia men-jadikan akhir shalatnya adalah shalat Witir,
karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan hal itu."[6]
Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
.

"Shalat Witir adalah haq (benar adanya), maka barangsiapa yang mau, maka
berwitirlah lima raka'at, barangsiapa yang mau, berwitirlah tiga raka'at dan
barangsiapa yang mau, berwitirlah satu raka'at."[7]
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma ia menuturkan, "Bahwa Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam shalat di malam hari (shalat Tahajjud) sedang ia berbaring di
hadapannya. Bila tinggal tersisa shalat Witir yang belum dilaku-kan, beliau pun
membangunkannya, dan 'Aisyah pun lalu shalat Witir."[8]
Saya katakan, "Hadits-hadits di atas menunjukkan keutamaan shalat Witir dan
disunnahkan senantiasa menjaganya."
[Disalin dari kitab "Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahjauun" karya Muhammad
bin Su'ud al-Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh 'Abdullah al-Jibrin, Edisi
Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. HR. Ahmad dalam kitab Musnadnya, (hadits no. 6880) dan dishahihkan
oleh al-Albani dalam kitab Silsilah Ahaadiits ash-Shahiihah (hadits no. 108).
[2]. HR. Ahmad dalam kitab Musnadnya, (hadits no. 6654) dan Ibnu Abi
Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, (2/298). Hadits ini dinilai shahih oleh alAlbani dalam Irwaa-ul Ghaliil, (II/159).
[3]. HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Witr, bab Liyaj'al Aakhira Shalaatihi Witra,

(hadits no. 998) dan Muslim dalam kitab Shalaatil Musaafiriin, bab Shalaatil Laili
Matsna Matsna wal Witru Rak'atan min Aakhiril Lail, (hadits no. 751). Keduanya
meriwayatkannya dari Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhuma.
[4]. HR. Al-Bukhari dalam kitab at-Tahajjud, bab Shalaatudh Dhuha fil Hadhar,
(hadits no. 1178) dan Muslim dalam kitab, Shalaatil Musafiriin bab Istihbabi
Shalaatidh Dhuha (hadits no. 721).
[5]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah bab Istihbaabil Witr, (hadits no.
1416), at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalaah, bab Annal Witra Laisa bi Hatm,
(hadits no. 453), an-Nasa-i dalam kitab Qiyaamul Lail, bab al-Amru bil Witr,
(hadits no. 1675), Ibnu Majah dalam kitab Iqaamatish Shalaah, bab Maa Jaa-a
fil Witr, (hadits no. 1157), Ahmad dalam Musnadnya, (hadits no. 879). AtTirmidzi berkata: "Ini adalah hadits hasan." Al-Albani dalam Shahiihut Targhiib
(no. 590) mengatakan, "Hadits shahih."
[6]. HR. Muslim dalam kitab, Shalaatil Musaafiriin, bab Shalaa-til Laili Matsna
Matsna wal Witru Rak'atan min Aakhiril Lail, (hadits no. 751).
[7]. HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Kamil Witr, (hadits no.
1421), an-Nasa-i dalam kitab, Qiyaamul Lail, bab Dzikril Ikhtilaafi 'alaz Zuhri fii
Hadiitsi Abi Ayyuub fil Witr, (hadits no. 1711), Ibnu Majah dalam kitab
Iqaamatish Shalaah, bab Maa Jaa-a fil Witr bi Tsalaatsin wa Khamsin wa Sab'in
wa Tis'in, (hadits no. 1190), ath-Thahawi dalam Syarhu Maaanil Aatsar,
(I/291). Ibnu Hibban menilai hadits ini shahih, (hadits no. 2407 sebagaimana
terdapat dalam al-Ihsaan) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, (I/444) dengan
komentarnya, "Sanad hadits ini shahih" dan disepakati oleh adz-Dzahabi.