Anda di halaman 1dari 4

Peningkatan Jumlah Kasus HIV/AIDS Akibat Penyimpangan Seksual Seks

Bebas dan Homoseksualitas


Kevin Rianto Putra
kaerpe_hehe@hotmail.com
FK UKRIDA
D1
102011294
Pendahuluan
Pada era globalisasi ini, pertukaran informasi menjadi sangat cepat dan mudah.
Informasi-informasi dari seluruh dunia juga turut mempengaruhi kebudayaan dalam negeri
khususnya dalam hal ini Indonesia. Salah satu faktor yang terpengaruh adalah gaya hidup.
Gaya hidup barat mulai mempengaruhi gaya hidup timur yang dianut oleh orang Indonesia.
Contoh dari gaya hidup tersebut adalah seks bebas dan homoseksualitas.
Seks bebas dan homoseksualitas merupakan bentuk dari penyimpangan seksual.
Perilaku seks bebas baik yang dilakukan oleh orang berorientasi seksual normal ataupun
homoseksual dapat meningkatkan resiko terjangkit penyakit HIV/AIDS. AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Orang yang terkena virus HIV bisa saja tidak
menunjukkan gejala. Setelah 5-10 tahun, orang tersebut akan menderita AIDS dimana daya
tahan tubuh orang tersebut akan melemah dan tidak mampu menjaga dirinya dari serangan
penyakit.1
Penyimpangan Seksual
Seks bebas dan homoseksualitas merupakan bentuk dari penyimpangan seksual. Seks
bebas merupakan perilaku seksual di luar nikah baik hubungan suka sama suka ataupun
dalam dunia prostitusi dan umumnya dilakukan dengan pasangan yang berbeda-beda.
Hubungan seks bebas ini bisa dilakukan oleh orang yang berorientasi seks normal ataupun
oleh kaum homoseksual. Homoseksualitas adalah sebuah istilah yang digunakan untuk suatu
orientasi seksual kepada jenis kelamin yang sama. Homoseksual yang dilakukan oleh lakilaki disebut gay dan yang dilakukan oleh perempuan disebut lesbi.2
Selain itu terdapat pula kaum waria. Kaum ini termasuk sebagai penderita
transekualisme, yaitu seseorang yang secara jasmani jenis kelaminnya jelas namun secara
psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis. Kaum ini merasa dirinya tidak
cocok dengan jenis kelaminnya khususnya laki-laki sehingga mereka cenderung memakai
1

pakaian dan atribut lain perempuan. Pakaian ini dapat membangkitkan gairah seks dari
seorang waria. Seorang waria melakukan aktivitas seksualnya sendiri meski tidak menutup
kemungkinan kaum ini melakukan hubungan seksual dengan pasangan sejenis.3
Faktor Penyebab Penyimpangan Seksual
Faktor penyebab penyimpangan seksual dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal
(faktor yang berasal dari dalam diri) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri).
Dalam faktor internal, banyak orang merasakan ketertarikan kepada sesama jenis datang
secara langsung dalam kehidupannya. Terdapat 3 fase dalam proses ini. Pada fase pertama,
orang-orang ini mulai mengenali diri dan merasakan ketertarikan pada sesama jenis. Pada
fase kedua, orang-orang ini mulai dapat terbuka dengan orang terdekatnya seperti keluarga
dan teman. Pada fase ketiga, orang-orang ini sudah terbuka sebagai gay dan lesbi. Pada faktor
internal ini juga ada kemungkinan terjadi kelainan pada otak yang mengakibatkan seseorang
suka pada sesama jenis. Secara psikologis, pola asuh yang diberikan oleh keluarga pada masa
kecil dan juga pengalaman dapat juga menjadi faktor penyebab perubahan orientasi seksual
seseorang. Seorang anak laki-laki yang diasuh secara over protektif oleh ibunya dan tinggal
jauh dari ayahnya bisa membuat anak tersebut merubah orientasi seksualnya seperti
perempuan.4,5
Faktor lingkungan menjadi salah satu faktor eksternal penyebab penyimpangan
seksual. Faktor lingkungan ini, seperti pengaruh pergaulan dan keluarga. Seseorang
heteroseksual yang hidup bersama kaum gay atau lesbi dalam waktu yang lama dan ruang
lingkup sempit bisa berubah menjadi homoseksual karena sudah terbiasa dengan tindakan
homoseksual. Dalam kehidupan sekarang ini, faktor ekonomi juga dapat menjadi penyebab
berubahnya orientasi seksual seseorang. Tingkat pendidikan yang kurang dan himpitan
ekonomi dapat membuat seseorang untuk mencari jalan pintas dengan menjadi kaum
homoseksual dan menjadi pekerja seks komersial.5
Beberapa Teori
Dalam budaya timur, kaum homoseksual tidak mendapat tempat yang layak karena
orientasi seksualnya. Di Indonesia keberadaan kaum homoseksual ini tidak diakui dan
dianggap sebagai sesuatu yang negatif oleh masyarakat. Kaum homoseksual hidup sembunyisembunyi dan tidak terbuka pada masyarakat karena takut akan mendapat penghakiman dan
pengucilan dari masyarakat.
Secara ajaran agama, kaum homoseksual dinilai sebagai sesuatu yang negatif. Ada
agama yang memandang bahwa orientasi seksual ini dosa dan ada juga yang menganggap
2

bahwa sebenarnya tindakan seksualnya yang dianggap dosa. Namun, ada juga beberapa
agama yang memandang homoseksual lebih positif dan mengizinkan pernikahan sesama
jenis.
Secara psikologi, konferensi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia pernah
menganggap homoseksual sebagai sebuah bentuk kelainan jiwa, namun hal ini dihapuskan
pada konferensi selanjutnya. Secara psikologis, homoseksual bisa dibedakan menjadi
homoseksual yang sakit dan sehat. Homoseksual yang sakit adalah kaum homoseksul yang
takut dengan keadaan dirinya dan tertutup sedangkan homoseksual yang sehat adalah kaum
homoseksual yang dapat menerima dirinya dan terbuka kepada orang lain. Kaum
homoseksual dapat menjalin hubungan dan keluarga yang bahagia seperti layaknya kaum
heteroseksual lainnya.4
HIV/AIDS
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan penyakit menular seksual
yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Orang yang terkena virus
HIV bisa saja tidak menunjukkan gejala. Virus HIV bekerja dengan cara menghancurkan
suatu sel darah putih yang berfungsi untuk menghancurkan bakteri penyebab penyakit.
Setelah 5-10 tahun, orang tersebut akan menderita AIDS dimana daya tahan tubuh orang
tersebut akan melemah dan tidak mampu menjaga dirinya dari serangan penyakit.1,6
Seseorang yang sering melakukan seks bebas dan berganti-ganti pasangan akan lebih
mudah tertular virus HIV. Selain itu, penggunaan jarum suntik secara bergantian juga dapat
menjadi media penularan virus HIV. Seorang ibu yang sedang mengandung juga dapat
menularkan virus HIV kepada janinnya.
Penanggulangan Penyebaran HIV/AIDS dan Penyimpangan Seksual
Penanggulangan penyebaran HIV/AIDS dan penyimpangna seksual dapat dilakukan
dengan beberapa cara, seperti menerapkan prinsip ABCD, memberikan pendidikan
keagamaan kepada orang-orang yang memiliki perilaku seksual menyimpang dan
memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS.
Prinsip ABCD adalah prinsip yang digunakan untuk mencegah penyebaran virus
HIV/AIDS. ABCD terdiri dari abstinence (tidak melakukan hubungan seksual), be faithful
(setia kepada satu pasangan), condom (menggunakan kondom dalam melakukan hubungan
3

seksual) dan drugs (tidak menggunakan obat-obatan terlarang).7 Untuk orang-orang yang
memiliki penyimpangan seksual sebaiknya diberikan pengertian keagamaan dan moral agar
dapat bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Dan untuk masyarakat lainnya sebaiknya
tidak menjauhi atau menghindari orang-orang tersebut melainkan ikut memberikan dorongan
dan semangat. Penyuluhan tentang HIV/AIDS juga perlu diberikan agar masyarakat
mengetahui bahaya HIV/AIDS, cara-cara penyebaran dan pencegahannya.
Kesimpulan
Peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS sebanding dengan peningkatan jumlah kasus
penyimpangan seksual seks bebas dan homoseksualitas.
Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.

Stolley KS, Glass JE. HIV/AIDS. California : ABC-Clio; 2009. p. 3-5


Himawan AH. Bukan salah tuhan. Solo : Tiga Serangkai; 2007. h. 68
Koeswinarno. Hidup sebagai waria. Yogyakarta : LKiS; 2004. h. 12-3
Wikipedia the free encyclopedia. Homoseksualitas. 8 Oktober 2011. Diunduh dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas, 3 November 2011


5. The Boston Globe. What makes people gay?. 2005.

Diunduh

dari

http://www.phenomenologycenter.org/course/gaygene.htm, 4 November 2011


6. Ramaiah S. HIV/AIDS : health solutions. New Delhi : Sterling; 2008. p. 18
7. Nursalam. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta : Salemba
Medika; 2007. h. 165