Anda di halaman 1dari 9

Struktur Anatomis Genitalia Wanita- Part2

C..MEKANISME SISTEM REPRODUKSI WANITA


PUBERTAS
Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai yang bersangkutan mencapai pubertas. Tidak
seperti testis janin, ovarium janin belum berfungsi karena feminisasi sistem reproduksi wanita
secara otomatis berlangsung jika tidak terdapat sekresi testosteron tanpa memerlukan keberadaan
hormon-hormon seks wanita. Sistem reproduksi wanita tetap inaktif sejak lahir sampai pubertas,
yang terjadi pada usia sekitar sebelas tahun karena GnRH hipothalamus secara aktif ditekan oleh
mekanisme-mekanisme yang serupa dengan yang terjadi pada anak laki-laki prapubertas. Seperti
pada anak laki-laki, hilangnya pengaruh-pengaruh inhibitorik tersebut oleh mekanisme yang
belum diketahui menyebabkan dimulainya pubertas.
Sekresi estrogen yang dihasilkan oleh ovarium aktif akan menginduksi pertumbuhan dan
pematangan saluran reproduksi wanita serta perkembangan karekteristik seks sekunder wanita.
Efek estrogen yang menonjol pada perkembangan karakteristik seks sekunder tersebut adalah
mendorong penimbunan lemak di lokasi-lokasi strategis misalnya payudara dan paha sehingga
terbentuk sosok melekuk-lekuk khas wanita. Pembesaran payudara pada saat pubertas terutama
disebabkan oleh penimbunan lemak di jaringan payudara dan bukan disebabkan oleh
perkembangan fungsional kalenjar-kalenjar mamaria. Tiga perubahan pubertas lainnya pada
wanita:Pertunbuhan rambut ketiak dan pubis, lonjakan pertumbuhan pubertas, dan munculnya
libido disebabkan oleh lonjakan skresi androgen adrenal pada pubertas, bukannya sebab
estrogen. Namun, peningkatan estrogen pada masa pubertas memang menyebabkan lempeng
hipofisis menutup, sehingga tidak lagi terjadi pertambahan tinggi tubuh, serupa dengan efek
testosteron pada pria.

MENSTRUASI
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus
estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium

pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan,
endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.
Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30
hari) yaitu sebagai berikut :

Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang
dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan
menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak,
folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis.
Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang
habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan
memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak
untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi
disebut fase estrus.
Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning
(Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal

lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya
embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat
pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan
progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium
menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada
hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada
progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

Ovulasi berlaku apabila telur yang matang dilepaskan daripada ovari ke salur fallopian dan
bersedia untuk disenyawakan. Dalam masa yang sama, dinding rahim menebal sebagai
persediaan untuk menyambut kedatangan telur yang sudah disenyawakan.
Sekiranya tiada persenyawaan, dinding rahim akan gugur bersama darah dan haid terjadi.
SIKLUS MENSTRUASI
Fluktuasi kadar estrogen dan progesteron dalam sirkulasi yang terjadi selama siklus ovarium
menyebabkan perubahan-perubahan mencolok uterus. Hal ini menyebabkan timbulnya daur haid

atau siklus uterus (siklus menstruasi). Karena mencerminkan perubahan-perubahan hormon yang
terjadi selama siklus ovarium, daur haid berlangsung rata-rata 28 hari seperti siklus ovarium
walaupun dapat terjadi variasi yang cukup besar bahkan pada orang dewasa normal. Variabilitas
tersebut terutama mencerminkan perbedaan lamanya fase folikel; lama (durasi) fase luteal
hampir konstan. Menifestasi nyata perubhan siklus yang terjadi di uterus adalah pendarahan haid
yang berlangsung sekali setiap daur haid (sekali sebulan). Namun, selama siklus tersebut, terjadi
perubahan-perubahan yang kurang nyata, ketika uterus dipersiapkan untuk menerima implantasi
ovum yang dibuahi dan kemudian lapisannya dilepaskan jika tidak terjadi pembuahan (haid),
hanya untuk memperbaiki dirinya kembali dan mulai mempersiapkan diri untuk ovum yang akan
dikeluarkan pada siklus berikutnya.

Uterus terdiri dari dua lapisan: miometrium lapisan otot polos di sebelah luar, dan endometrium
lapisan bagian dalam yangm mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar. Esrtrogen
merangsang pertumbuhan miometrium dan endometrium. Hormon ini juga meningkatkan
sintesis reseptor progesteron di endometrium. Dengan demikian, progesteron hanya mampu
mempengaruhi endometrium setelah endometrium dipersiapkan oleh estrogen.
Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh estrogen untuk
mengubahnya menjadi lapisan yang ramah dan mengandung gbanyak nutrisi bagi ovum yang
sudah dibuahi. Di bawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan

edematosa akibat penimbunan elektrolit dan air yang mempermudah implantasi ovum yang
dibuahi. Progesteron juga mempersiapkan endometrium untuk menampung mudighah yang baru
berkembang dengan merangsang kelenjar-kelenjar endometrium agar mengeluarkan dan
menyimpan glikogen dalam jumlah yang besar dan dengan mneybabkan pertumbuhan besarbesaran pembuluh darah endometrium. Progesteron juga menurunkan kontraktilitas uterus agar
lingkungan di uterus tenang dan kondusif untuk implantasi dan pertumbuhan mudighah.

Daur haid terdiri dari 3 fase (fase menstruasi/haid, fase proliferasi, dan fase sekresi atau
progestasional). Fase menstruasi adalah fase yang paling jelas karean ditandai oleh pengeluaran
darah dan debris edometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid dianggap
sebagai awal siklus baru. Fase ini bersamaan dengan berakhirnya fase luteal ovarium dan
permulaan fase folikel. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi pebuahan dan
implantasi ovum yang dikeluarkan dari siklus sebelumnya, kadar estrogen dan progesteron turun
drastis. Karena efek netto estrogen dan progesteron adalah mempersiapkan endometrium untuk
implantasi ovum yang dibuahi, penarikan kembali kedua hormon steroid tersebut menyebabkan
lapisan endometrium yang kaya akan nutrisi dan pembuluh darah itu tidak lagi ada yang
mendukung secara hormonal. Penurunan kadar hormon-hormon ovarium itu juga merangsang
epngeluaran prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh
endometrium sehingga aliran darah ke endometrium terganggu. Penurunan pengaliran oksigen
yang terjadi menyebabkan kematian endometrium, termasuk pembuluh-pembuluh darah.
Pendarahan yang timbul melalui disintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan

endometrium yang mati kedalam lumen uterus. Pada setiap kali haid, seluruh lapisan
endometrium terlepas, kecuali satu lapisan dalam dan tipis yang terdiri dari sel-sel epitel dan
kalenjar yang akan menjadi bakal regenerasi endometrium.
Prostaglandin juga merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium. Kontraksi-kontraksi ini
membantu mengeluarkan darah dan debris endometrium dari rongga uterus melalui vagina
sebagai darah haid. Kontrasksi uterus yang kuat akibat pembentukan prostaglandin yang
berlebihan menyebabkan kejang haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita.
Jumlah rata-rata darah yang keluar setiap kali haid adalah 50-150 ml. Darah yantg mengalir
lambat melalui endometrium akan membeku di dalam rongga uterus. Fibrinolisin, suatu pelarut
fibrin yang menguraikan fibrin yang membentuk jaringan bekuan, akan bekerja pada bekuan ini.
Dengan demikian, darah haid tidak lagi membeku karena darah tersebut sudah membeku dan
sudah dicairkan setelah keluar dari vagina. Namun, apabila darah terlalu cepat mengalir keluar,
fibrinolisin mungkin belum memiliki cukup waktu untuk bekerja, sehingga darah haid dapat
membeku jiuka jumlahnya sangat banyak. Selain darah dan debris endometrium, darah haid
mengandung banyak leukosit. Sel-sel darah putih ini berperan penting dalam pertahanan
endometrium terhadap infeksi.
Haid biasanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari setelah degenerasi korpus luteum
bersamaan dengan bagian awal fase folikel ovarium. Penurunan estrogen dan progesteron akibat
degenerasi korpus luteum secara simultan menyebabkan terlepasnya endometrium (haid) dan
perkembangan folikel-folikel baru di ovarium dai bawah pengaruh hormon-hormon
gonadotropik yang kadarnya meningkat. Penurunan sekresi hormon gonad menghilangkan
inhibisi pada hipothalamus dan hipofisis anterior sehingga sekresi FSH dan LH meningkat dan
fase folikel baru kembali dimulai. Setelah lima sampai tujuh hari di bawah pengaruh FSH dan
LH, folikel-folikel yang baru berkembang mengeluarkan cukup banyak estrogen untuk
mendorong pemulihan dan pertumbuhan endometrium.
Dengan demikina, haid berhenti dan fase proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan dengan
bagia terakhir fase folikel ovarium pada saat endometrium mulai memperbaiki dirinya dan
mengalami proliferasi di bawah pengaruh estrogen yang berasal dari folikel-folikel baru yang
sedang tumbuh. Sewaktu darah haid berhenti di uterus, tertinggal satu lapisan tipis endometrium

setebal kurang dari 1mm. Estrogen merangsang proliferasi sel pitel, kalenjar, dan pembuluh
darah di endometrium sehingga ketebalan lapisan ini dapat mencapai sampai 3 hingga 5 mm.
Fase proliferasi yang didominasi oleh estrogen berlangsung dari akhir haid sampai ovulasi.
Kadar estrogen puncak memicu lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi.
Setelah ovulasi, pada saat sebuah korpus luteu terbentuk, uterus memasuki fase sekretorik atau
progestasional yang bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum
mengeluarkan sebagian besar hormon progesteron dan estrogen. Progesteron bekerja pada
endometrium tebal yang sudah dipersiapkan oleh estrogen untuk mengubahnya menjadi jaringan
yang kaya pembuluh dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik, karena kalenjar-kalenjar
endometrium secara aktif mengeluarkan glikogen, atau fase progestasional (sebelum kehamilan),
dalam kaitannya dengan pembentukan endometrium yanag subur yang mampu menunjang
perkembangan mudighah. Jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum
berdegenerasi dan fase folikel dan fase haid kembali dimulai.

FAKTA OVULASI

Telur cuma berupaya hidup 12-24 jam selepas dilepaskan dari ovari.

Selalunya cuma satu telur sahaja yang dilepaskan setip kali ovulasi.

Ovulasi boleh dipengaruhi oleh tekanan, sakit atau kiranya terdapat gangguan pada rutin
seharian.

Sesetengah wanita mungkin mengalami pendarahan faraj semasa ovulasi.

Implantasi selalunya terjadi 6-12 hari selepas ovualsi.

Setiap wanita dilahirkan dengan berjuta-juta telur yang tidak matang yang menunggu
untuk dilepaskan.

Haid masih boleh berlaku walaupun ovulasi tidak berlaku.

Ovulasi juga masih boleh berlaku walaupun haid tidak datang.

Sesetengah wanita mungkin merasa sedikit sakit pada bawah perut semasa ovulasi terjadi.

Sekiranya telur tidak disenyawakan, ia akan diserap kedalam dinding rahim dan akan
gugur bersama-sama darah hai

Ovulasi dan luteinisasi selanjutnya folikel yang ruptur dipicu oleh peningkatan sekresi LH yang
masif dan mendadak. Lonjakan LH ini menyebabkan empat perubahan utama pada folikel:
1. Lonjakan tersebut menghentika sintesis estrogen oleh folikel
2. Memulai kembali meiosis di oosit pada folikel yang sedang berkembang, tampaknya
dengan menghambat pengeluaran oocyte maturation-inhibitng substance oleh sel-sel
granulosa. Zat ini diperkirakan menjadi penyebab terhentinya meiosis do oosit primer
setelsh oosit terbungkus di dalam sel-sel granulosa pada ovarium janin.
3. Memicu pembentukan prostaglandin spesifik yang bekerja lokal. Prostaglandin tersebut
menginduksi

ovulasi

dengan

mendorong

perubahan-perubahan

vaskular

yang

menyebabkan pembengkakan folikel dengan cepat sementara menginduksi pencernaan

dinding folikel oleh enzim-enzim. Efek-efek ini bersama-sama menyababkan rupturnya


dinding yang membungkus folikel.
4. Menyebabkan differensiasi sel-sel folikel menjadi sel-sel luteal. Karena lonjakan LH
memicu ovulasi dan luteinisasi, pembentukan korpus luteum secara otomatis mengikuti
ovulasi. Dengan demikian, lonjakan LH pada pertengahan siklus adalah titik dramatis;
menghentikan fase folikel dan memulai fase luteal.
Dua cara sekresi LH yang berbeda (sekresi tonik LH yang menyebabkan sekresi hormon
ovarium dan lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi). Tidak hanya berlangsung saat yang
berbeda dan menimbulkan efek yang berlainan pada ovarium tetapi juga dikontrol oleh
mekanisme yang berbeda. Sekresi LH tonik ditekan secara parsial oleh estrogen kadar rendah
selama fase folikel danj ditekan secara total oleh progesteron yang kadarnya meningkat selama