Anda di halaman 1dari 7

Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, dan Diagnosis Kanker Payudara

Oleh: David, 1006766062


Modul Praktik klinik Ilmu Bedah
Anamnesis Payudara
Keluhan yang terjadi pada payudara dapat berupa massa atau pembengkakan, nyeri, nipple
discharge, dan perubahan warna kulit payudara.1 Etiologi terjadinya kelainan tersebut dapat
dibagi menjadi kongenital, infeksi, neoplasma, trauma, dan autoimun. Pada anamnesis, keluhan
diarahkan sesuai etiologinya sesuai usia dan risiko keganasan. Pada anak, etiologi kongenital
masih mungkin mendasari kelainan yang dirasakan pada pasien. Pada wanita yang menyusui,
etiologi infeksi memiliki kecenderungan yang tinggi. Pada wanita berusia tua, etiologi keluhan
cenderung dipikirkan merupakan suatu neoplasma (tabel 1).2,3
Tabel 1. Kecenderungan kelainan dan penyakit payudara sesuai usia2
Usia
Lesi umum
Karakterstik pada pemeriksaan fisik
15-25 tahun
Fibroadenoma
Permukaan licin, kenyal, bulat, mobile,
tak nyeri
25-50 tahun
Kista
Konsistensi dari lunak ke keras, bulat,
mobile, nyeri
Perubahan fibrokistik
Nodular, ropelike
Kanker
Ireguler, keras, mobile atau immobile
Lebih dari 50 tahun Kanker hingga terbukti bukan Ireguler, keras, mobile atau immobile
Kehamilan/laktasi
Adenoma
laktasi,
kista, Ireguler, keras, mobile atau immobile
mastitis, kanker
Pada pasien dengan keluhan benjolan, gejala yang mengarahkan ke arah ganas selain dari usia
adalah adalah progresivitas ukuran benjolan yang cepat, terdapat tanda infiltasi ke kulit dan arteri
(luka atau ulkus), tanda infiltrasi ke sinus laktiferus (nipple discharge, bloody discharge, retraksi
puting), tanda infiltrasi ke ligamen Cooper (retraksi kulit atau skin dimpling), tanda infiltrasi ke
pembuluh limfatik (kulit mengerut atau peau dorange), dan gejala seperti penurunan nafsu
makan dan penurunan berat badan. Selain itu, terdapat faktor risiko yang meningkatkan kejadian
kanker payudara (tabel 2).
Tabel 2. Faktor risiko terjadinya kanker payudara2
Risiko relatif Faktor
> 4,0
Perempuan
Usia (semakin tua, semakin meningkat)
Mutasi genetik kanker payudara yang diwariskan (BRCA1 dan/atau
BRCA2)
Minimal 2 first-degree relatives dengan kanker payudara pada usia
muda
Riwayat kanker payudara sebelumnya
Densitas jaringan payudara yang tinggi

2,1 4,0

1,1 2,0

Faktor lain

Hiperplasia atipikal secara biopsi jaringan


1 first-degree relative dengan kanker payudara
Radiasi dada dosis tinggi
Densitas tulang postmenopause tinggi
Faktor yang memengaruhi sirkulasi hormon
Usia tua saat kehamilan full-term pertama (>30 tahun)
Menarke terlalu cepat (<12 tahun)
Menopause telat (>55 tahun)
Tak pernah fullterm pregnancy
Tidak pernah menyusu
Penggunaan kontrasepsi oral atau hormone replacement therapy dalam
jangka waktu lama (5-10 tahun)3
Obesitas pascamenopause
Riwayat kanker endometrium, ovarium, atau kolon
Konsumsi alkohol
Tinggi
Status sosioekonomi
Ras Yahudi

Pemeriksaan Fisik Payudara


Pemeriksaan fisik pada payudara terdiri atas inspeksi payudara, pemeriksaan aksilaris, dan
palpasi payudara. Inspeksi payudara dan pemeriksaan aksilaris dilakukan dengan cara meminta
pasien duduk, sedangkan palpasi payudara dilakukan dengan cara meminta pasien berbaring. 1,3
Pemeriksaan fisik payudara paling baik dilakukan pada 5-7 hari pascamenstruasi karena pada
kondisi premenstruasi, payudara memiliki kecenderungan untuk membengkak dan menjadi lebih
nodular akibat stimulasi estrogen.2
Inspeksi
Setelah informed consent, pasien diminta membuka pakaian atasnya hingga sisi toraks dan aksila
terlihat. Inspeksi dilakukan saat pasien duduk dan menghadap pemeriksa. 1,3 Terdapat 3 posisi
duduk untuk pemeriksaan inspeksi, yakni:

1) Posisi pasien duduk dengan kedua lengan di samping badan

Posisi ini adalah posisi pertama yang diinstruksikan pada pasien. Pada posisi ini, periksa
kesimetrisan payudara, kelainan kulit, dan benjolan. Pada puting, periksa ukuran, bentuk,
dan kelainan puting. Jangan lupa untuk membandingkan kedua sisi payudara.
Kelainan kulit yang dapat terjadi antara lain:1,3
- Eritema
Eritema menandakan adanya proses peradangan, seperti pada infeksi atau pada
karsinoma inflamatori.
- peau dorange
Peau dorange adalah edema pada kulit payudara yang menyebabkan kulit payudara
berkeriput. Hal ini disebabkan oleh obstruksi duktus limfatik akibat infiltrasi massa
ke duktus limfatik tersebut.
- retraksi kulit (skin dimpling)
Retraksi kulit disebabkan oleh traksi abnormal dari ligamen Cooper akibat inflitrasi
neoplasma beserta respons fibrotik ke ligamen Cooper.

Kelainan pada puting antara lain inversi dan nipple discharge. Kedua hal ini disebabkan
oleh penekanan massa pada duktus laktiferus.
2) Posisi pasien duduk dengan kedua lengan diangkat ke atas
Postur ini digunakan untuk melihat sisi inferior payudara.1
3) Posisi pasien duduk dengan kedua lengan bertumpu ke pinggang

Postur ini bertujuan mengontraksikan m.pectoralis mayor. Bila terdapat skin dimpling, hal
ini menandakan fiksasi payudara ke m.pectoralis mayor. Massa yang terlihat bergerak
juga menandakan fiksasi massa tersebut ke m.pectoralis mayor.

4) Posisi pasien duduk membungkuk


Postur ini berperan untuk melihat efek gravitasi pada payudara. 1 Pada massa yang berat,
payudara jatuh lebih rendah dari payudara normal.

Palpasi
Palpasi dilakukan dengan posisi pasien berbaring dengan sanggaan di belakang punggung atas
dan tangan di belakang kepala. Pemeriksa berada di sisi kanan pasien.1

Palpasi pertama-tama dilakukan secara umum. Palpasi dilakukan dengan jari tangan ke-2 hingga
ke-4 dari kedua tangan dengan pola sistematik. Terdapat 3 pola palpasi, yakni (1) metode jaringjaring roda, yaitu palpasi yang dilakukan dari puting ke jam 12 payudara, lalu kembali ke puting
untuk mempalpasi jam 1, dan seterusnya; (2) metode lingkaran konsentrik, yaitu palpasi yang
dilakukan dari putting secara sirkuler ke batas luar payudara; (3) metode vertical strip, yaitu
palpasi yang dilakukan dengan arah vertikal (kraniokaudal atau sebaliknya) dari lateral ke
medial. Metode manapun yang dipakai, prinsip palpasi adalah mencakup seluruh batas payudara.
Payudara memiliki batas superior di sela iga ke-2, batas inferior di rigi intermammaria setinggi
sela iga ke-6, batas medial di linea sternalis, dan batas lateral di linea aksilaris anterior.2,3,4
Pada palpasi puting, periksa adanya discharge dengan menekan areola.
Bila massa terpalpasi, deskripsi massa tersebut antara lain:1,2
- Ukuran massa (dalam sentimeter)
- Permukaan
: licin, berbenjol-benjol
- Batas massa
: tegas, difus
- Konsistensi
: kenyal, padat, keras, atau fluktuasi
- Mobilitas
: dapat digerakkan (mobile) atau tidak dapat digerakkan (immobile)
- Posisi
: posisi massa pada payudara dilaporkan dengan cara payudara
dibagi 4 kuadran, yakni superolateral, superomedial, inferolateral, dan inferomedial.

Jenis massa (jinak atau ganas) dari palpasi dapat dilihat dari tabel 3.

Tabel 3. Karakteristik massa (jinak atau ganas) dari palpasi1


Karakteristik
Penyakit sistik
Adenoma jinak
Usia pasien
25-60 tahun
10-55 tahun
Jumlah benjolan
1 atau lebih
1
Bentuk
Bulat
Bulat

Tumor maligna
25-85 tahun
1
Irreguler

Konsistensi
Batas
Mobilitas
Nyeri
Retraksi kulit

Elastik, lunak
Tegas
Mobile
Ada
Tidak ada

Padat
Tegas
Mobile
Tidak ada
Tidak ada

Keras
Difus
Immobile
Tidak ada
Ada

Pemeriksaan aksila
Pemeriksaan ini dilakukan pada posisi pasien duduk menghadap pemeriksa dan m.pectoralis
mayor relaksasi. Agar terjadi relaksasi m.pectoralis mayor, lengan pemeriksa menyangga lengan
pasien sesuai dengan sisi yang akan diperiksa (pada pemeriksaan payudara kanan, lengan kanan
pemeriksa menyangga lengan kanan pasien). Setelah daerah aksila terlihat, letakkan ujung jari
dari tangan yang bebas ke aksila dan palpasi regio aksilaris untuk menilai apakah terdapat
perbesaran kelenjar getah bening aksilaris. Palpasi pula regio supraklavikula dan infraklavikula
untuk menilai perbesaran kelenjar getah bening regio tersebut.1,3

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk payudara antara lain mamografi, ultrasonografi (USG), dan biopsi
payudara.
Mamografi adalah pemeriksaan payudara dengan sinar X pada 2 arah pandang, yakni
kraniokaudal (CC) dan mediolateral oblik (MLO). MLO digunakan untuk melihat volume
terbesar payudara, termasuk sisi kuadran superolateral dan ekor aksilaris Spence, sedangkan CC

digunakan untuk melihat sisi medial payudara beserta kompresi payudara. Indikasi mamografi
adalah untuk mengevaluasi penemuan kelaianan payudara seperti massa payudara atau nipple
discharge. Penemuan hasil mamografi yang mengarahkan pada kecurigaan kanker payudara
adalah massa padat dengan atau tanpa nodul satelit, penebalan asimetris dari jaringan payudara,
dan mikrokalsifikasi yang berkumpul.
Pada USG, massa adalah kistik bila berbatas tegas dengan permukaan licin dan anekhoik di pusat
massa. Massa jinak biasa menunjukkan permukaan licin, berbentuk bulat atau lonjong, dengan
hipoekhoik di sentral dan batas yang tegas. Massa ganas biasa menunjukkan dinding irreguler
dengan heterogenisitas echo. Pada USG kelenjar limfatik, kelenjar limfatik yang telah terinvasi
sel kanker akan mengalami penebalan korteks, perubahan bentuk nodus menjadi membulat,
berukuran lebih dari 10 mm, dan kehilangan fatthy hilum serta hipoekhoik di sentral.
Diagnosis kanker payudara dapat ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomi, mamografi,
dan USG. Pemeriksaan patologi anatomi yang dapat digunakan antara lain fine-needle
aspiration biopsy (FNAB), core-needle biopsy, biopsi insisi, dan biopsi eksisi. Dari keempat
metode tersebut, FNAB tidak menjadi pilihan karena FNAB merupakan pemeriksaan
sitopatologi, sedangkan dengan hanya pemeriksaan histopatologi, diagnosis dapat ditegakkan.
Dari ketiga pemeriksaan histopatologi, core-needle biopsy menjadi pilihan karena komplikasinya
yang lebih rendah, scarring minimal, dan harga yang lebih murah.4
Referensi
1. Swartz MH. Textbook of physical diagnosis history and examination. 5thed.
Philadelphia: Saunders Elsevierl 2007
2. Bickley LS. The breast and axillae. Bates guide to physical examination and history
taking. 11th ed. USA: Lippincott Williams & Wilkins; 2013.
3. Hunt KK, Green MC, Buchholz TA. Ed: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM,
Mattox KL. Diseases of the breast. Sabiston textbook of surgery. 19 th ed. Philadelphia:
Saunders Elsevier; 2012.
4. Hunt KK, Robertson JFR, Bland KI. Ed: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn
DL, Hunter JG, Matthews JB, et al. The breast. Schwartzs principles of surgery. 10 th ed.
New York: McGraw-Hill; 2015.