Anda di halaman 1dari 9

Laporan Kasus

HERPES ZOSTER

Oleh:
Dwi Ananda Thayeb
Ravel Rocky Sundah
Ririn Hardiyanti
Erina Utami Tandirerung
Pembimbing:
Prof. Dr. Herry E.J. Pandaleke, MSc, SpKK(K), FINS-DV, FAADV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO

2014
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Kasus dengan judul Herpes Zoster
Telah dikoreksi, dibacakan dan disetujui pada Juli 2014

Mengetahui,
Supervisor Pembimbing

Prof. dr. Herry E.J. Pandaleke, MSc, SpKK(K), FINS-DV.FAADV

BAB I
PENDAHULUAN

Herpes zoster atau shingles, dampa, atau cacar ular telah dikenal sejak zaman Yunani
Kuno. Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi
primer 1.
Virus varisela yang dorman diaktifkan dan timbul vesikel-vesikel meradang unilateral di
sepanjang satu dermatom. Kulit disekitarnya mengalami edema dan perdarahan. Keadaan ini
biasanya di dahului atau disertai nyeri hebat dan atau rasa terbakar. Meskipun setiap saraf dapat
terkena, tetapi saraf torakal, lumbal atau kranial paling sering terserang. Herpes zoster dapat
berlangsung selama kurang lebih tiga minggu. Nyeri timbul sesudah serangan herpes disebut
neuralgia pascaherpetika dan biasanya berlangsung selama beberapa bulan, bahkan kadangkadang sampai beberapa tahun 2.
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka
kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia.
Diperkirakan terdapat antara 2-5 per 1000 per tahun. Lebih dari 2/3 kasus berusia diatas 50 tahun
dan kurang dari 10% kasus berusia di bawah 20 tahun 3.

Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi varisela, virus
varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan mukosa ke ujung saraf sensorik
dan di transportasikan secara sentriperal melalui serabut saraf sensoris ke ganglion sensoris. Pada
ganglion terjadi terjadi infeksi laten, virus tersebut tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi,
tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Aktivasi virus zoster laten
diduga karena keadaan tertentu yang berhubungan dengan imunosuspresi dan imunitas selular
merupakan factor penting untuk pertahanan pejamu terhadap infeksi endogen 4.
Sebelum timbul gejala kulit terdapat gejala prodormal baik sitemik (demam, pusing,
malese), maupun gejala prodormal lokas (nyeri-nyeri tulang, gatal, pegal, dan sebagaimya).
Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan
dasar kulit yang eritematosa dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih,kemudian menjadi
keruh , dapat menjadi pustule dan krusta. Kadang-kadang vesikel mengandung darah dan disebut
sebagai herpes zoster hemoragik 1.
Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, kompliklasi yang terbanyak
adalah neuralgia paska herperti yaitu berupa rasa nyeri yang persisten setelah krusta terlepas.
Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia
di atas 60 tahun. Penyebaran dari ganglion yang terkena secara langsung atau lewat aliran darah
sehingga terjadi herpes zoster generalisata. Hal ini dapat terjadi oleh karena defek imunologi
karena keganasan. Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu :
mengatasi infeksi virus akut, mengatasi nyeri akut yang timbul oleh virus herpes zoster, dan
mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik. Prognosis umumnya baik 4.

BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Suku/Bangsa
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan
Status perkawinan
Tanggal pemeriksaan

II.

: Tn. H P
: Laki-laki
: 60 tahun
: Kristen Protestan
: Minahasa/Indonesia
: Perumahan Wenwin Blok B5 No.9.Desa Sea. Tumpengan
: Pensiunan PNS
: Lulusan SLTA
: Sudah menikah
: 22 Juli 2014

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Lepuh-lepuh bergerombol disertai nyeri timbul di daerah ketiak, dada dan punggung
bagian kanan
Keluhan Tambahan
Tidak ada
Riwayat Penyakit Sekarang
Lepuh-lepuh bergerombol disertai nyeri timbul di daerah ketiak, dada dan punggung
bagian kanan. Keluhan ini juga pernah dialami oleh pasien 10 tahun yang lalu dan
sembuh. Namun 1 minggu yang lalu pasien merasa demam dan diikuti rasa nyeri di
daerah ketiak. Untuk menghilangkan rasa nyerinya pasien menggunakan salep geliga.

Setelah digosok salep geliga maka timbul lepuh-lepuh didaerah ketiak. Lama kelamaan
lepuh-lepuh mulai menjalar ke daerah dada dan punggung kanan disertai rasa nyeri.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat cacar air sebelumnya (+) saat kecil.
Riwayat jantung, paru, hipertensi, hati, DM, gastritis, ginjal disangkal penderita
Riwayat keluarga
Hanya pasien yang menderita penyakit seperti ini.
Riwayat alergi
Riwayat alergi makanan (-)
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat Kebiasaan
Pasien adalah seorang pensiunan PNS dan seorang kepala keluarga. Kegiatannya
Sehari-hari mengurus segala usaha-usaha yang dimilikinya dan sehari-hari sering
berpergian dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Status sosial
Rumahnya permanen, beratap seng, berdinding beton, berlantai tengel, kamar tidur 3,
kamar mandi 2, dapur 1 dihuni oleh 3 orang.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital

Kepala

: Tampak sakit sedang


: Compos mentis
: Tekanan darah
: 130/90 mmHg
Nadi
: 70 x/m
Respirasi
: 20 x/m
Suhu badan
: 36,5 C
Berat badan
: 75 kg
Tinggi badan
: 165 cm
IMT
: 27, 50 (Klasifikasi WHO 2004 preobesitas 25,00 29,99 kg/m2 )
: Conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-) ,pupil bulat isokor.

Mulut
Leher

: Caries gigi (-), beslag lidah (-)


: Trakhea letah tengah, pembesaran KGB (-)

Thorax

: Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris,


Ictus cordis tidak tampak
Palpasi :Stem fremitus kiri = kanan
Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Sonor kiri = kanan
Auskultasi : Pulmo : Sp. vesikuler, Rh (-/-), Wh (-/-)
Cor
: SI-SII normal, bising (-)

Abdomen

: Cembung, lemas, Bunyi usus (+) normal, timpani , NTE (-),

Ekstremitas

NTSP (-)
: Akral hangat, edema (-).

Status Dermatologis
Lokasi
Efloresensi

: Regio axillaris , regio thorakhalis anterior posterior dextra


:
Regio Axillaris : vesikel bergerombol dengan dasar eritematosa,
krusta (+).
Regio thorakalis anterior : vesikel bergerombol dengan dasar
eritematosa, pustula (+), krusta (+).
Regio thorakalis posterior : vesikel bergerombol dengan dasar

eritematosa, krusta (+).


Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Tzank Test.
Alat dan bahan
Alat : Handscoen, masker, skalpel, kapas, objek gelas
Bahan : Alkohol 70%, pewarna giemza, minyak imersih.

Langka pemeriksaan:
1.
2.
3.
4.
5.

Jelaskan pada pasien tujuan pemeriksaan dan cara pemeriksaan


Sediakan alat dan bahan
Pemeriksa mencuci tangan dengan sabun dengan air yang mengalir
Menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) handscoen dan masker
Memilih lesi yang akan di tes ( vesikel baru )

6. Melepaskan atap vesikel dengan scalpel


7. Membersihkan dasar vesikel yang akan dikerok dengan alcohol 70% dan membiarkan
mengering
8. Menggerok dasar vesikel dengan sisi scalpel
9. Mengoleskan atau menyebarkan material ke objek gelas dengan tekanan ringan
10. Membiarkan preparat mongering
11. Mewarnai preparat dengan bahan pewarna ( giemza/wright/metilen blue/toluidine
blue) selama 30-60 detik
12. Cuci preparat dengan air mengalir dan keringkan
13. Meneteskan minyak imersi 1-2 tetes/menutup preparat dengan cover glass dan lihat
dengan pembesaran 100x.
14. Hasil : sel raksasa berinti banyak.
Diagnosis
Diagnosis kerja
Diagnosa banding

: Herpes zoster thorakalis anterior posterior dextra


: Herpes simpleks, Dermatitis kontak alergika.

Terapi
Farmakologi

Non farmakologi

Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Qua ad sanationam

: Asiklovir 5 x 800 mg ( selasa 7-10 hari ) dewasa


Asam mefenamat 3 x 500 mg tablet
Ranitidin 2 x 150 mg tablet.
Kompres terbuka dengan NaCl 0.9% (15-30 menit)
: Hindari menggaruk
Mandi 2x Sehari
Berpakain longgar
Tidak memakai handuk dan sabun secara bergantian
: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2007.

2. Fahmi Sjaiful, Indriatmi Wresti. Infeksi Virus Herpes. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta 2002.
3. Siregar RS. Penyakit Virus. Atlas Berwarna saripati Penyakit Kulit.edisi ke-2. Jakarta:
ECG. 2005.
4. Hartadi Sumadayo S. Infeksi Virus. Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin. Jakara. Hipokrates,
2000.