Anda di halaman 1dari 2

Bocah 5 tahun koma sejak Januari 2015 (polisi tahan 2 dokter tersangka

malpraktek
GRESIK - Penyidik Polres Gresik akhirnya menahan dokter dan perawat yang diduga
malapraktik terhadap pasien Muhammad Gafhan Habibi (5), Senin (6/4/2015) malam.
Habibi adalah anak dari pasangan Pitono (37) dan Lilik Setiawati (35), warga Dusun Sumber,
Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas, Gresik.
Kedua dokter tersebut dr Yanuar Syam dan dr Dicy Tampubolon. Mereka dibantu dua
perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sina yang diajak praktik saat mengoperasi
Habibi di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Nyai Ageng Pinatih, Jl Abdul Karim, Gresik.
Diketahui, kasus dugaan malapraktek ini terjadi saatMuhammad Gafhan Habibi (5),
mengalami sakit spindle tumor di paha kanan. Kemudian dioperasi di RSIA Nyai Ageng
Pinatih Jl Abdul Karim pada 2 Januari 2015, atas saran dr Yanuar Syam untuk
operasi.Tanggal 3 Januari 2015 pukul 3 dini hari dibawa ke RSUD Ibnu Sina karena kondisi
kedua tangan almarhum Habibi membiru.Sampai akhirnya selama 71 hari meninggal dunia
Sabtu (14/3/2015), karena mati batang otak.
Dari penetapan tersangka tersebut, pihak Polres Gresik telah mengamankan barang bukti
berupa hasil visum, satu lembaar hasil laboratorium, 1 bendel rekam medik atas nama pasien,
kuitansi pembayaran di RSIA Nyai Ageng Pinatih.
"Dari barang bukti yang ada, hasil pemeriksaan terhadap 13 saksi, termasuk saksi ahli dan
hasil gelar perkara sampai tiga kali akhirnya ditetapkan 6 orang tersangka dalam dugaan
malpraktek di RSIA Nyai Ageng Pinatih," kata Zulpan.
Kapolres Gresik AKBP E Zulpan menyebutkan kedua dokter yang melakukan operasi yaitu
dr Yanuar Syam spesialis bedah dan dr Dicky Tampubolon spesialis anestesi dikenakan pasal
359, 361 KUHP dan atau pasal 76 Undang-undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktek
kedokteran juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, dengan ancaman penjara 5 tahun dan denda
Rp 100 juta. "Kedua dokter tidak mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) di RSIA Nyai Ageng
Pinatih, tapi nekat beroperasi.
Sementara tersangka Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Nyai Ageng Pinatih Jl
Abdul Karim, Gresik yaitu drg Achmad Zayadi dikenakan Pasal 80 Undang-undang RI
Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran juncto Pasal 359, 361 KUHP juncto 55
ayat (1) ke 1 KUHP.
Ancamannya, hukuman penjara 10 tahun dan denda maksimal Rp 300 juta, karena
membiarkan kedua dokter beroperasi padahal rumah sakitnya sudah habis izin operasinya.

Sementara, untuk tiga perawat yaitu Putra Bayu Herlangga, Masrikan dan Fitos Widyanti,
dikenakan Pasal 365, 361 Kitap Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 76
Undang-undang RI Nomor 29 Tahun 2009 tentang praktik kedokteran juncto Pasal 55 ayat
(1) ke 1 KUHP. Ancaman hukumanmnya 5 tahun dan denda Rp 100 juta.
"Dokter AZ sudah tahu kedua dokter tidak mempunyai SIP tapi nekat mengizinkan Rumah
Sakitnya ditempati untuk operasi, sedangkan tiga perawat ini ikut membantu dan ikut serta
sampai Habibi meninggal dunia," kata Zulpan.
Zulpan menambahkan, kasus yang mengakibatkan 6 tersangka terlibat yaitu karena
kelalaiannya dalam menjalankan operasi tanpa dilengkapi SIP dan pihak DirutRSIA Nyai
Ageng Pinatih mengizinkan untuk operasi. "Selain itu, ada unsur kelalaian dalam tahapan
operasi sampai korban almarhum Habibi tangannya membiru dan berujung koma sampai 71
hari sampai akhirnya meninggal dunia," kata Zulpan

Anda mungkin juga menyukai